MENYELAMATKAN BORNEO MELALUI PROGRAM HOB

Oleh Hasan Zainuddin
           Palangkaraya,25/7 (ANTARA)- Berdasarkan sebuah penelitian pada periode tahun 2000-2002 setidaknya 1,2 juta hektar hutan Kalimantan (Borneo) hilang setiap tahun, lantaran pencurian kayu, alih fungsi hutan, serta  kebakaran hutan.
         Akibat dari semua itu hutan Kalimantan terus berkurang baik segi luasan maupun kualitas hutan itu sendiri.
         Saat ini hutan Kalimantan yang tersisa tidak lebih dari 50 persen dan terus berkurang pada tingkat yang makin mengkhawatirkan. Potensi alam pun menurun dan bencana lingkungan makin meluas.
         Namun, hutan yang cenderung berada dalam kondisi baik berada di daerah dataran tinggi yang kebetulan tersebar luas di sepanjang perbatasan Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam.
         Hutan di sini memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, setidaknya terdapat 40 persen hingga 50 persen jenis  flora dan fauna yang hanya dapat ditemui di Kalimantan, dan dalam 10 tahun terakhir terdapat 361 species baru ditemukan.
         Salah satu fungsi penting Jantung Kalimantan adalah sebagai menara air bagi seluruh pulau, dari kawasan ini mengalir sumber air bagi 14 dari 20 sungai utama di Pulau Kalimantan, antara lain Sungai Barito, Mahakam, dan Sungai Kapuas.
         Melihat kenyataan tersebut, menimbulkan keprihatinan banyak pihak  maka memunculkan kesepakatan tiga negara, Indonesia, Malaysia, dan negara Brunei Darussalam untuk menyelamatkan Kalimantan (Boerneo) melalui program Jantung Kalimantan atau Heart of Borneo (HOB).
         HOB dipakai oleh internasional karena Borneo merupakan sebutan internasional bagi Kalimantan. Kata Borneo bersifat lebih netral dan lebih mudah dipahami secara internasional.
         Pada 12 Pebruari 2007, tiga negara sepakat membuat deklarasi untuk mengelola secara berkelanjutan dan melindungi dataran tinggi di sepanjang perbatasan Indonesia dan Malaysia serta Brunei Darussalam.
         Deklarasi tidak akan secara optimis mengubah status legal kawasan hutan Kalimantan, atau mengurangi hak-hak masyarakat yang berada di dalamnya.
         Program HOB bukan saja melibatkan pemerintah di tiga negara tetapi juga melibatkan banyak pihak yang peduli terhadap keselamatan lingkungan Kalimantan, termasuk di dalamnya yayasan World Wide Fund For Nature (WWF).
         Penyelamatan hutan Kalimantan merupakan bagian dari program yang dilakukan WWF, demikian penuturan Pimpinan Proyek WWF Indonesia Kalteng, Rosenda CH.Kasih di Palangkaraya.
         Koordinator HOB Kalteng, Hendrik Segah ketika ditemui ANTARA di Palangkaraya, Jumat menjelaskan HOB adalah program pemanfaatan berkelanjutan dan konservasi.
         HOB bertujuan mempertahankan berkelanjutan manfaat salah satu hutan terbaik yang masih tersisa di Kalimantan bagi kesejahteraan generasi sekarang dan generasi mendatang.
         Ia menuturkan, jantung Kalimantan sebagai rumah bagi setidaknya 50 suku Dayak, dengan bahasa dan budaya yang beragam pula.
         Air, hutan, dan tanah memainkan peran penting dalam kehidupan masyarakat Kalimantan.
         Pada tahun 2003-2004, peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerja sama dengan meneliti dari Osaka City University, Kyoto University, University of Tokyo, Human dan Nature Musium ‘Hyogo, Natural History Museum’ Osaka, Jepang melakukan penelitian di Kawasan Pegunungan Muller, Kalimantan.
         Hasil temuan mereka di Hulu sungai Joloi, salah satu anak sungai Barito, di wilayah Desa Tumbang Tohan dan Tumbang Naan terdapat kurang lebih 50 jenis tanaman budidaya dan 350 jenis tumbuhan liar.
         Hanya satu jenis yang digunakan sebagai makanan pokok dan 45 jenis yang digunakan sebagai makanan tambahan.
         Sementara itu hanya 100 jenis yang digunakan sebagai tanaman obat. Suku DayaK yang tinggal di kawasan ini mayoritas yaitu Dayak Ot Danum.
         Luas cakupan wilayah kerja jantung Kalimantan di tiga negara meliputi area seluas kira-kira 22 juta hektar yang saling terhubung.
        Dari keseluruhan wilayah kerja itu, 57 persen berada di Indonesia, 42 persen di Malaysia, dan 1 persen di Brunei Darussalam.
         Terdiri dari kawasan lindung (taman nasional, cagar alam, suaka marga satwa, hutan lindung), serta kawasan budidaya non kehutanan (perkebunan, pertambangan, dan lain-lain). Kawasan lindung hanya meliputi area seluas 31 persen.
         Hasil lokakarya yang dilakukan di Provinsi dan Pusat diusulkan sebanyak 10 kabupaten di 3 propinsi Indonesia yaitu Kabupaten Sintang, Melawi dan Kapuas Hulu  Kalimantan Barat (Kalbar), Kabupaten Katingan, Gunung Mas, Barito Utara dan Murung Raya di Kalimantan Tengah (Kalteng).
         Serta Kabupaten Malinau, Nunukan dan Kutai Barat di Kalimantan Timur (Kaltim) yang menjadi wilayah program HOB (jantung Kalimantan).
         Jantung Kalimantan menghargai ijin atau konsesi yang telah diberikan oleh pemerintah dan berusaha selaras dengan rencana tata ruang wilayah dan rencana pengembangan wilayah.
         Pelaksanaan Jantung Kalimantan akan mendorong perusahaan yang beroperasi di Kalimantan untuk menerapkan pengelolaan hutan yang memberi mamfaat bagi kelangsungan usaha dan  meminimalkan dampak sosial dan lingkungan.
         Pertambangan dapat dilakukan di Jantung Kalimantan sepanjang tidak dilakukan pada  kawasan lindung dan sesuai dengan renca tata ruang serta tanpa melakukan perubahan bentang alam secara berarti.
         Jantung Kalimantan dan kabupaten konservasi merupakan inisiatif yang sama-sama mendukung upaya  pemanfaatan berkelanjutan dan konservasi, di tingkat kabupaten sementara Jantung Kalimantan bekerja dalam skala wilayah yang lebih luas.
         Diharapkan kedepan seluruh kabupaten dalam Jantung Kalimantan dapat menjadi kabupaten konservasi.
         Dalam pengamanan perbatasan, kerja sama yang dapat dilakukan Jantung Kalimantan adalah melalui patroli bersama dan upaya menegakan hukum bersama dengan tetap menghargai kedaulatan masing-masing Negara.
        Program Jantung Kalimantan Dapat digunakan sebagai salah satu alat untuk memperkuat posisi negosiasi Indonesia dalam menyelesaikan masalah perbatasan bersama dengan inisiatif lainnya.

heart-of-borneo-hob-wwf

Ratusan Spesies Baru di Jantung Borneo

Peneliti WWF menemukan sekitar 120 spesies baru di Borneo. Temuan tersebut disampaikan WWF dalam laporan tentang kawasan hutan hujan tropis yang masuk ke wilayah Malaysia, Indonesia, dan Brunei. Pada 2007, pemerintah tiga negara mencanangkan area seluas 220 ribu km persegi itu sebagai Heart of Borneo.

“Kami sudah menemukan rata-rata tiga spesies baru per bulan dan sekitar 123 dalam tiga tahun terakhir, dan setidaknya 600 spesies baru dalam 15 tahun terakhir,” kata kepala program Heart of Borneo WWF Adam Tomasek.

“Temuan ini menunjukkan kekayaan hayati di Borneo dan bahwa ada kemungkinan temuan masa depan yang dapat membantu penyembuhan penyakit seperti kanker, AIDS, dan berkontribusi pada kehidupan keseharian kita,” tambahnya.

Heart of Borneo adalah rumah bagi 10 spesies primata, lebih dari 350 burung, 150 reptil dan amfibi, serta sekitar 10 ribu jenis tumbuhan yang tidak ditemukan di lokasi lain di dunia, menurut laporan tersebut.

Beberapa temuan tersebut adalah katak berkepala rata sepanjang 7 cm, dinamai “Barbourula kalimantanensis”. Spesies ini ditemukan pada 2008. Ia bernafas sepenuhnya lewat kulit karena tidak memiliki paru-paru.

Pada tahun yang sama peneliti juga menemukan “Phobaeticus chani”, serangga terpanjang di dunia, dengan total 36 cm. Hanya tiga ekor spesies ini yang pernah tercatat.

Temuan menarik lainnya adalah siput berbuntut panjang yang menggunakan ‘panah cinta’ terbuat dari kalsium karbonat untuk menyuntikkan hormon pada pasangannya demi meningkatkan peluang reproduksi.

WWF meminta pemerintah tiga negara untuk lebih sensitif mengembangkan potensi ekonomi di area tersebut. “Kami tahu, tidak mungkin untuk tidak mengembangkan pertambangan, perkebunan kelapa sawit, dan penebangan di area tersebut,” kata Tomasek. “Yang kami inginkan adalah keseimbangan,” tambahnya.(AFP/Yahoo! News)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: