LAPISAN GAMBUT KALTENG JADI KAWASAN PRODUK IKAN

Oleh Hasan Zainuddin

Siapa sangka lapisan gambut tebal dengan kadar keasaman air tinggi di Desa Garung,  Kabupaten Pulang Pisau, Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) berubah jadi kawasan produk ikan patin.
“Itu berkat kemauan kuat masyarakat, memanfaatkan tehnologi sederhana merubah lahan marginal itu menjadi lahan produktif bagi budidaya ikan,” kata Direktur Usaha Budidaya Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), Dr.Lenny Syafei,MS.
Dr.Lenny Syafei, berada di Kalteng, mendampingi Sekjen DKP, Dr Syamsul Maarif panen perdana ikan patin sistem kolam di lahan gambut proyek lahan gambut (PLG) sejuta hektare.
Menurut Lenny Syafei, gambut tak masalah jadi lahan budidaya ikan, tinggal buat kolam kedalaman 2,5 m hingga  menemukan tanah liat, dibubuhi kapur kurangi keasaman, ditaburi pupuk kandang tumbuhkan kehidupan plankton. Bila plankton berkembang ikan bisa hidup, plankton makanan ikan.
Pemberian kapur untuk pengapuran dasar digunakan jenis kapur tohor Ca (OH)2 tujuan basmi penyakit, dan menaikkan pH air dari 3 menjadi 5 atau 6.
Pemberian pupuk kandang dilakukan dengan menebarkan merata di kolam, sebagian diapungkan, seminggu kemudian diberikan pupuk UREA dan NPK yang di berikan secara bersamaan untuk menumbuhkan makanan alami di kolam.
Dipilihnya ikan patin, karena ikan jenis ini dinilai mudah beradaptasi dan mampu  hidup pada perairan yang memiliki kadar DO (Disolved Oxygen) dan pH yang rendah.
Pembudidayaan ikan patin di PLG mulai 2008,  sudah dimanfaatkan pemeliharaan ikan 18 buah, kolam patin 12 buah, nila, dan lele masing-masing tiga kolam.
Melihat keberhasilan merubah lahan gambut jadi lahan produktif ikan itu, maka DKP bersedia berikan dana usaha itu, agar PLG yang sebelumnya diproyeksikan sebagai sentra tanaman pangan menjadi sentra produk ikan.
“Kita ada Rp300 miliar kredit ketahanan pangan bagi pengembangan pembudidayaan ikan di Kalteng ini,” kata Lenny Syafei.
keberhasilan di Desa Garung menjadi contoh pengembangan gambut lainnya di wilayah ini.
Bupati Pulang Pisau, Moh Amur gembira lahan wilayahnya  yang asam itu bisa diolah kolam ikan, maka ia bertekad memperluas kawasan budidaya agar Pulang Pisau jadi sentra produk ikan patin terbesar Kalteng.
“Kita akan terus dorong pembudidaya memperlebar usahanya, kita juga bantu alat berat untuk buat kolam, karena agaknya membuat kolam tak bisa hanya pakai tenaga manusia, maka perlu alat berat,” kata Amur.
Dalam panen ikan patin, beberapa ton ikan ukuran setengah hingga dua kilogram per ekor terangkat, kemudian ikan itu dibagikan ke masyarakat yang ikut menyaksikan keberhasilan tersebut.
Di kolam-kolam lain yang tidak dipanen terlihat banyaknya ikan patin baik kecil dan besar.
Kolam ikan bagian dari Instalasi Budidaya Ikan Lahan Gambut Pulang Pisau, Balai Budidaya Air Tawar Mandiangin.
Instalasi itu didirikan karena adanya Instruktur Presiden No. 2 tahun 2007 Percepatan Rehabilitasi dan Revitalisasi PLG yang dibuka sejak orde baru.
Menurut Sekjen DKP,  empat program harus daksanakan rehabilitasi PLG, konservasi, budidaya, pemberdayaan masyarakat lokal, dan tranmigran, serta koordinasi dan evaluasi.
Perikanan salah satu dalam program yang harus dilaksanakan sebagai bagian dari upaya percepatan perbaikan PLG.
DKP melalui salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya yaitu Balai Budidaya Air Tawar Mandiangin mewujudkan dukungan dengan membangun Instalasi Budidaya Ikan Lahan Gambut di Desa Garung ini.
Adanya instalasi ini diharapkan minat masyarakat dan pembudidaya ikan untuk mengembangkan usahanya di bidang perikanan kian meningkat sehingga dapat meningkatkan penghasilan dan kesejahteraan mereka.
Jenis budidaya ikan patin, komoditas unggulan di bidang perikanan budidaya yang mempunyai prospek sangat baik.
Ikan patin sebagaimana komoditas ikan budidaya lainnya merupakan sumber omega 3 yang sangat tinggi, bagus bagi pertumbuhan otak manusia.
Mengkonsumsi ikan patin rutin bermanfaat peningkatan gizi dan meningkatkan kecerdasan bangsa.
Budidaya ikan patin merupakan lapangan usaha sangat menjanjikan, ikan patin dapat diusahakan dengan modal kecil dan dapat keuntungan besar, dibudidayakan intensif, hemat lahan dan air, tutur Sekjen DKP.
Hadir panen ikan itu Dirjen Perikanan Budidaya,Dr Made Nurdjana, beberapa direktur DKP, serta Wakil Gubernur Kalteng, HM Diran.
HM Diran meminta perbankan terlibat pengembangan budidaya, dengan berikan modal kepada pembudidaya agar Kalteng benar-benar bisa menjadi sentra produk budidaya ikan lahan gambut terbesar tanah air.
Dirjen Perikanan Budidaya, Dr Made Nurdjana menambahkan, permintaan ikan dunia kian meningkat, karenaya budidaya berprospek.
Konsumsi ikan dunia meningkat setelah dipercayainya makan ikan menyehatkan, peluang ekspor ikan itu harus dimanfaatkan pembudidaya lahan gambut Kalteng ini.
Made Nurdjana menguraikan permintaan konsumsi ikan patin dunia, terbesar adalah Jepang, Amerika, dan Eropa.
Pemenuhan ikan patin dunia didominasi Vietnam satu juta ton per tahun, tapi konsumen tak puas hanya satu negara produsen, mereka melirik produksi ikan patin Indonesia, tutur Made Nurdjana.
Hanya diingatkan permintaan ikan patin dunia hanya dagingnya bewarna putih tidak daging merah, budidaya di perairan mengalir.
Daging patin warna merah kurang disukai, padahal daging warna merah biasanya budidaya di air tak mengalir seperti kolam yang ada di Desa Garung Kalteng ini.     Karena itu, Made Nurdjana memberikan tip agar daging ikan warna putih, setelah beberapa bulan di kolam baru dipindahkan ke air mengalir, setelah dua bulan baru panen, maka daging ikan berubah putih.
Ia pun memberikan tip lagi, pembudidayaan ikan harus dipadukan dengan budidaya sayuran, dan hortikulkultura, hingga hasil diperoleh rakyat besar.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: