KAPET DAS KAKAB KAWASAN “MAGNET” EKONOMI PERKUAT KALTENG

      Oleh Hasan Zainuddin
          Palangkaraya,30/3 (ANTARA)- Masyarakat Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) boleh jadi merasa iri dengan ketertinggalan wilayahnya dibandingkan dengan wilayah Barat Indonesia.
         Ketertinggalan Kalteng dibandingkan dengan wilayah Barat Indonesia lantaran, wilayah ini terkesan kurang mendapat perhatian pemerintah pusat, kata Gubernur Kalteng, Teras Narang saat rapat kerja membahas percepatan pembangunan Kawasan ekonomi terpadu (Kapet) Daerah Aliran sungai (DAS) Kahayan, Kapuas, dan Barito (Kakab), beberapa hari lalu.
         Teras Narang yang mantan anggota DPR-RI ini mencontohkan peredaran uang ratusan triliunan rupiah 85 persen hanya berada sekitar Jakarta 15 persen lainnya di  daerah lainnya.
         “Kalau peredaran 15 persen di luar Jakarta, lalu uang yang beradar di Kalteng ini berarti hanya seberapa, mungkin hanya tetesannya saja saja,” katanya.
         Melihat ketimpangan tersebut maka wajar daerah lain termasuk Kalteng mulai berbenah diri dengan menggali berbagai potensi yang ada agar pertumbuhan ekonominya bisa maju.
         Salah satu yang dilakukan adalah membentuk kawasan “magnet” yang bisa memancing pertumbuhan ekonomi wilayah ini yakni Kapet DAS Kakab.
         Kapet DAS Kakab meliputi wilayah Kota Palangkaraya ibukota provinsi Kalteng, Kabupaten Pulang Pisau (Pulpis), Kabupaten Kapuas, serta Kabupaten Barito selatan (Barsel) seluas 27.673 Km2
atau 18 persen luas Kalteng.
        Dalam rapat kerja tersebut terungkap ternyata dari 13 Kapet yang ada di tanah air ternyata DAS Kakab termasuk yang belum maju.
        Teras Narang sendiri merasa miris melihat kondisi DAS kakab yang dinilai pasif itu. Ia mengakui dari 13 lokasi kapet yang ada di tanah air sebanyak enam kapet di antaranya dinilai ‘memble’.
       Dari enam lokasi kapet yang dinilai pasif tersebut salah satunya adalah Kapet DAS Kakab.
       Menurut Teras Narang, kondisi tersebut tidak boleh terus dibiarkan oleh karena itu harus dilakukan tindakan nyata dalam percepatan pembangunan kawasan terebut.
       Melalui rapat kerja ini, pintanya harus dilakukan indentifikasi berbagai permasalahan yang memperlambat pembangunan Kapet itu.
       Selain itu harus dicarikan solusi dan berbagai potensi yang bisa menunjang dalam upaya percepatannya, terutama apa yang dilakukan Badan pengelola Kepet untuk menyampaikan pertimbangan teknis kepada Satuan kerja Perangkat daerah (SKPD) untuk menggali berbagai potensi ekonomi di wilayah tersebut.
       Menurut Teras Narang yang harus pula diupayakan adalah melakukan langkah yang bersinergi, antara semua pihak, serta melakukan sinkroniasi, harmonisasi, baik ditingkat privinsi, kota maupun kabupaten.
       Percepatan pembangunan Kapet DAS Kakab tersebut agar wilayah tersebut memiliki peranan nyata dan strategi dalam upaya memacu pertumbuhan wilayah Kalteng.
       Menurut Gubernur program yang harus dilakukan dalam upaya membangun Kapet tidak usah yang muluk-muluk dulu, tetapi tindakan sederhana yang nyata mampu mengembangkan ekonomi di wilayah itu sesuai dengan kemampuan masyarakat serta potensi sumberdaya alam yang tersedia.
        Ia menunjuk Kota Palangkaraya, yang perlu cepat digali adalah pengembangan komoditi jagung seperti yang udah berhasil dikembangkan di kawasan pertanian Kalampangan, Kabupaten Kapuas yang sudah dikenal sebagai lumbung padi harus kosentrasi swasembada beras, Barito Selatan (Barsel) yang punya rawa luas kembangkan ternak kerbau rawa.
        “Kita butuh sedikitnya 5000 ekor hewan besar potong  per tahun, dan itu harus dipenuhi melalui penernakan kerbau rawa di Barsel itu,” katanya.
        Kabupaten Pulang Pusau yang sudah dicanangkan oleh pemerintah pusat sebagai pusat pembudidayaan ikan patin dan hasil ujicoba berhasil baik, maka untuk sementara tak ada pilihan lain, ya komoditi itu harus dikembangkan.
        Setelah pengembangan ekonomi yang sederhana itu berhasil baik dikembangkan barulah, Kapet DAS kakab melirih investasi yang lain, baik pertambangan, perdagangan, industri, usaha transportasi, serta usaha-usaha ekonomi lainnya.
         “Kalau bisa tak sekadar memproduksi komoditinya saja tetapi bagaimana sampai pada tingkat pendistribusian, bahkan kepada industri hilirnya dengan mengembangkan industri yang berbahan baku komoditi yang dikembangkan itu,” kata Teras Narang.
         Menurut Teras Narang dalam upaya menumbuhkan “magnet” ekonomi itu yang pula dilakukan adalah penyediaan infrastruktur, seperti jalan, jembatan, pelabuhan, bagaimana komoditi bisa dipasarkan kalau infrastrukturnya tidak tersedia.
         Oleh karena itu ia berharap pemerintah pusat bisa melihat permasalahan tersebut, kemudian mengucurkan sejumlah dana dalam upaya percepatan pembangunan Kapet DAS Kakab itu.
         Diacara yang sama, terungkap pula bahwa tahun 2009 dukungan infrastruktur pengembangan 13 lokasi di Indonesia senilai Rp2,7 triliun.
         Dalam makalah yang disampaikan Wahyono Bintarto dari Ditjen Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum (PU) disebutkan dukungan infrastruktur itu terdiri dari bidang Bina Marga (BM), Cipta Karya
(CK), dan Sumber Daya Air (SDA).
        Sedangkan dukungan infrastruktur tahun 2010 yang merupakan sinkronisasi program-program Ditjen Jenderal BM, CK, dan SDA serta penajaman perioritas pengembangan investasi pada wilayah yang
diprioritaskan untuk dikembangkan di Kapet periode 2010 Rp2,1 triliun.
        Dijelaskan, Kapet yang memperoleh dukungan infrastruktur bidang
ke-PU-an pengembangan Kapet tahun 2009 tersebut adalah Kapet BAD anggaran Rp97,8 miliar, Kapet Khatulistiwa Rp88,1 miliar,    Kapet Sasamba Rp848,8 miliar, Kapet Batulicin Rp139,7 miliar serta
   Kapet Manado Bitung Rp173,1 miliar, Kapet Palapas Rp275,02 miliar, Kapet Bank Sejahtera Sultra Rp105,1 miliar, serta Kapet Pare-pare Rp300,4 miliar,  Kapet Bima Rp157,07miliar, Kapet Mbay Rp59,9 miliar, Kapet Seram Rp176,4 miliar serta Kapet Biak Rp186,4 miliar.
        Kapet Kakab Kalteng sendiri memperoleh Rp131,2 miliar dengan rincian BM Rp51,8 miliar SDA Rp61,8 miliar serta bidang CK Rp17,5 miliar.
        Sementara itu Wakil Ketua Pelaksana Badan Pengelola (BP) Kapet DAS Kakab, Tegah Pahor,ST, menyebutkan wilayah itu disebutkan kawasan strategis, makanya oleh pemerintah telah ditetapkan sebagai kawasan
strategis nasional ditinjau dari sudut kepentingan perekonomian.
        Wilayah itu dinyatakan sebagai wilayah bagi kepentingan perekonomian sebagaimana tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 26 tahun 2008 tentang Rencana Tata ruang Nasional, katanya.
       Sebagai Kawasan strategis nasional maka diharapkan Kapet DAS Kakab menjadi pusat pertumbuhan ekonomi (growth center) dan dapat menggerakkan pertumbuhan ekonomi di wilayah sekitarnya pula.
       Potensi yang bakal menunjang perekonomian setempat di antaranya yakni di bidang pertanian termasuk tanaman pangan, perkebunan, perikanan dan peternakan, dan pertambangan serta industri dan
pariwisata.
       Dengan meningkatnya pembangunan kawasan setempat diharapkan dapat mengangkat pendapatan masyarakat di wilayah tersebut. 
 
  Satu kawasan Kapet DAS Kakab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: