“SUSUR SUNGAI” BENTUK WISATA UNIK KALTENG

Oleh Hasan Zainuddin
Berada di sebuah kapal yang berlayar menyusuri sungai yang jernih, membelah suasana hutan bergambut, sesekali melintas di kawasan perkampungan masyarakat Dayak, sebuah bentuk wisata baru di Kalimantan Tengah (Kalteng).
Wisata susur sungai belakangan ini semakin diminati oleh warga setempat, karena unik dan khas.
Dalam perjalanan menyusuri sungai itu, wisatawan antara lain dapat menjumpai tanaman khas daerah ini, seperti rasau (jenis pandan) yang menghijau, dan berbagai satwa pulau terbesar di tanah air itu.
Satwa yang sering dijumpai melalui perjalanan di atas air ini seperti orangutan (Pongo pygmaeus), bekantan (Nasalis larvatus), uwa-uawa (Hylobates sp), lutong, kera abu-abu, dan biawak.
Dari beberapa lokasi wisata susur sungai paling diandalkan bagi kepariwisataan Kalteng adalah susur Sungai Rungan-Kahayan Kota Palangkaraya, kata Kepala Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Provinsi Kalteng, Sadar Ardi, di Palangkaraya, Jumat.
Hampir tiap hari, ada saja rombongan pengunjung yang datang untuk menikmati wisata susur sungai.
Mereka dibawa menyusuri Sungai Rungan dan Kahayan menggunakan kapal wisata yang telah disediakan.
Kapal yang dioperasikan berbahan kayu Ulin (kayu besi) bertingkat dua memiliki kamar tidur dengan pendingin ruangan, bar, disertai ‘live’ musik serta tempat bersantai di lantai atas.
Paket wisata tersebut menawarkan objek-objek wisata alam, bukan saja melihat hutan rawa gambut, tumbuhan kayu ulin, kayu balngeran, juga ke lokasi pemancingan, atraksi burung elang, habitat orangutan di Pulau Kaja, dan situs sejarah Dayak yaitu sandung Temanggung Lawak Surapati.
Paket wisata yang ditawarkan cukup terjangkau yaitu mulai Rp750 ribu untuk 10 orang, sudah termasuk suguhan makanan ringan. Biaya tergantung rute yang dipilih serta jumlah anggota rombongan, kata Sadar Ardi.
Wisata yang mulai digagas sejak 2008 itu makin diminati masyarakat. Banyak instansi yang menyuguhkan wisata ini bagi tamu mereka dari luar Kalteng.
Pengunjung lokal Kalteng juga makin banyak yang menggunakan kapal wisata susur sungai, kata Sadar Ardi.
Berdasarkan sebuah catatan, Kalteng memiliki sedikitnya sebelas sungai besar dengan panjang rata-rata ratusan kilometer, ditambah geografis dan karateristik yang kaya akan hutan tropis dan budaya.
Dengan mencermati pangsa pasar wisatawan dan mancanegara dan wisatawan nusantara yang kini mulai kecendrungan menyukai wisata petualangan maka tampaknya jenis susur sungai merupakan pilihan tepat bagi wilayah ini.
Kepala Bidang Parwisata, Disbudpar Kota Palangkaraya, Anna Menur menyatakan objek wisata susur sungai jadi ikon wisata setempat, makanya terus dipromosikan.
Promosi wisata susur sungai bukan saja melalui media massa, cetak maupun elektronik, tetapi juga melalui biro perjalanan, bahkan ke agen-agen penerbangan.
Pihak Pemko Palangkaraya melalui Disbudpar kini mencetak ratusan bahkan ribuan eksemplar buku saku kepawisataan Palangaraya yang di antaranya mempromosikan wisata susur sungai tersebut.
Selain itu, Pemko juga menerbitkan brosur, pamflet mengenai wisata susur sungai.
Susur sungai dirancang bagi wisatawan yang mencintai alam linkungai serta kehidupan sungai di wilayah Kalteng, khususnya di Palangkaraya.
“Bila anda ke kota kami, kota cantik Palangkaraya tidak akan terasa lengkap tanpa adanya sensasi petualangan susur sungai, di mana anda dapat menyaksikan alam pulau Kalimantan yang sungguh eksotis,” kata Anna Menur.
Aida Meyarti,SH dari Dinas Pariwisata Kalteng mengatakan, selain susur sungai Rungan-Kahayan juga kini dipromosikan susur sungai Sekonyer di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar).
Sungai Sekonyer jalur sungai ke areal Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), yang di dalamnya terdapat lokasi rehabilitasi satwa langka orangutan.
Kelebihan Sungai Sekonyer lantaran miliki pemandangan alam lingkungan yang indah juga di sana terdapat spesies binatang yang unik dan menarik.
Seperti di Sungai Kumai bagian dari jalur Sungai Sekonyer terdapat jenis pesut, selain itu juga terdapat satwa yang disebut masyarakat setempat sebagai satwa dugong-dugong.
Dugong-dugong juga dikenal sebagai sapi laut, karena habitatnya adalah diareal rumput laut di muara sungai.
Selain itu perjalanan jalur Sungai sekonyer dengan kelotok (perahu motor tempel) wisata, perjalanan akan melalui kawasan mangrove didominasi pohon bakau (Rhizophora spp), pohon pidada (Sonneratia spp) yang menumbuhkan akar napas (pneumatophore).
Pohon lain dijalur wisata itu kendeka (Bruguiera spp), serta pohon nirih (Xylocarpus spp).
Mengutip sebuah catatan, Sungai Buaya adalah nama asli Sungai Sekonyer, nama Sikonyer diambil dari nama sebuah kapal yaitu kapal Sikuner. Nama asli kapal tersebut diubah berdasarkan bahasa Melayu menjadi Sekonyer.
Ceritanya, pada masa kolonial Belanda di muara Sungai Buaya berlabuhlah sebuah kapal perompak atau bajak laut.
Kapal itu tenggelam tepat di muara Sungai Buaya ditembak oleh seorang bernama Bujang dengan sebuah meriam kecil bernama “palembang” milik seorang tokoh agama Islam, “Kyai Gede.”
Meriam hanya dapat ditembakkan oleh keturunan Kyai Gede atau salah seorang suku keturunan Dayak Gambu, oleh penduduk sekitar kemudian nama Sekonyer ini sering dipakai untuk menyebut nama asli dari Sungai Buaya itu.
Perjalanan jalur sungai ini kemudian menemui kawasan tanaman nipah (Nypa fruticans Wurmb) lalu kawasan pohon rasau, kemudian terus ke Tanjung Harapan Desa Sekonyer, Pesalat tempat pendidikan konservasi, wisata Pondok Tanggui, Pondok Ambung, Muara Ali, Danau Panjang hingga camp Leakey lokasi rehabilitasi orangutan.
Guna menanamkan lagi kecintaan masyarakat Kalteng dan Kalimantan Selatan (Kalsel) terhadap angkutan air itu, maka sebuah harian yang terbit di Banjarmasin, yakni Banjarmasin Post menggelar kegiatan susur sungai Barito-Kahayan.
Kegiatan ini menurut tulisan di harian tersebut untuk melestarikan budaya sungai yang mulai ditinggalkan masyarakat Kalsel dan Kalteng karena perkembangan transportasi darat dan udara.
Selain itu, Banjarmasin Post ingin mengajak warga di dua provinsi bertetangga ini mengingat kembali sejarah transportasi di dua sungai utama tersebut.
Barito dan Kahayan merupakan urat nadi masyarakat Kalsel dan Kalteng sejak masa penjajahan. Apalagi, sejak kedua sungai dihubungkan oleh sejumlah anjir (kanal) seperti Anjir Serapat.
Kedua sungai ini memang memiliki sejarah sebagai jalur perdagangan kedua provinsi, kata Aida..
Pada era era 50-an, banyak saudagar Banjarmasin membawa barang ke daerah hulu Sungai Barito dan Kahayan. Selanjutnya dari hulu sungai, mereka membawa bahan-bahan alam seperti rotan ke Banjarmasin. Rute ini ini mereka lalui selama berhari-hari.
Ini tidak hanya dilakukan pedagang dari Banjarmasin, tetapi juga dari hulu Sungai Kahayan dan Barito. Biasanya mereka berlabuh di tepian Sungai Martapura Banjarmasin.
Selain tinggal di kapal, mereka biasanya menginap di Hotel Sinar Amandit dan Mess Candi Agung yang ada di tepi Sungai Martapura.
Sekarang banyak generasi muda yang tidak mengetahui sejarah tersebut. Mereka tahunya dari Banjarmasin (Kalsel) ke Palangkaraya (Kalteng) menggunakan jalur darat hanya beberapa jam saja.
Agar mereka tidak melupakan sejarah, maka harian itu bekerjasama pihak pemerintah kabupaten Kapuas, Pulang Pisau, dan Kota Palangkaraya Kalteng menggelar Susur Sungai Barito-Kahayan diikuti 54 peserta dari akademisi, sejarawan, pencinta lingkungan, dan sejumlah wartawan, beberapa hari lalu.
Dan kini, wisata susur sungai bukan hanya sekedar menyajikan keunikan kepariwisataan Kalteng saja, melainkan juga untuk mengenang kebiasaan warga setempat tempo dulu, yang selalu bepergian menggunakan angkutan air.

Klotok, salah satu angkutan wisata susur sungai

Lokasi wisata susur sungai

Iklan

KENAIKAN TDL DISUASANA JERITAN PEMADAMAN LISTRIK WARGA KALTENG

Oleh Hasan Zainuddin
Palangkaraya, 11/7 (ANTARA) – Nyaris tiap hari pemadaman listrik terjadi di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.
Hampir tiap hari pula keluhan dilontarkan warga melalui media massa mapun langsung ke Perusahaan Listrik Negara (PLN) setempat.
Walau kritikan bertubi-tubi ke PLN, tak merubah keadaan, “byar peat” terus terjadi, malah keluar kebijakan Kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL).
Tak urung masyarakat yang sudah meradang tambah meradang setelah kenaikan TDL, akhirnya diwakili mahasiswa turun kejalan untuk berunnjuk rasa.
Mereka Gerakan Mahasiswa (Gema) berunjuk rasa, Kamis (8/7), mendatangi kantor Gubernur Kalteng, Kota Palangkaraya,  disambut Wakil Gubernur Kalteng, Achmad Diran dan pejabat lainnya, mereka menuntut pembatalan kenaikan TDL.
Mereka adalah gabungan BEM Universitas Palangkaraya (Unpar), BEM Universitas Muhammadiyah, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), KAMMI Cabang Palangkaraya, Himpunan Mahasiswa Pulang Pisau dan Slankers Club Palangkaraya.
Pengunjukrasa minta pemerintah memanfaatkan Sumber Daya Alam (SDA) mengurangi krisis listrik dengan membangun pembangkit sendiri, serta berupaya perbaiki pembangkit yang ada kurangi krisis listrik.
Aksi juga meminta mereformasi birokrasi PT PLN Cabang Palangkaraya, dan meminta pemerintah bertanggungjawab krisis listrik di provinsi ini.
Selain menyampaikan tuntutannya, pengunjukrasa menyodorkan solusi berupa kontrak politik serta pernyataan sikap kepada manajemen PLN cabang Palangkaraya.
Mereka juga mendesak pimpinan PT PLN setempat menangani krisis listrik melanda Kalteng, khususnya Palangakaraya, sebab mereka menilai kinerja PLN belum maksimal mengatasi krisis listrik.
Diantara tuntutan lainnya yang diajukan pengunjuk rasa berbunyi stop pemadaman listrik, tingkatkan kualitas pelayanan listrik masyarakat, transparansi biaya pemasangan listrik baru, PT PLN harus bertanggung jawab atas kerusakan barang elektronik masyarakat akibat pemadaman listrik.
Tuntutan lainnya efisiensi penghematan energi listrik di kantor pemerintahan, mendesak pimpinan PT PLN Palangkaraya untuk mengundurkan diri dari jabatannya jika target pada bulan Agustus 2010 mendatang listrik tak mencukupi.
Pengunjukrasa menyatakan jika tuntutan mereka tidak di penuhi akan melakukan aksi lanjutan yang lebih besar lagi.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Gubernur Kalteng, Achmad Diran menyatakan pemerintah daerah berusaha dengan meminta PLN menyelesaikan krisis listrik baik secara langsung maupun melalui surat.
Akan tetapi Diran juga mengatakan bahwa tuntutan poin satu tentang pembatalan kenaikan TDL adalah kebijakan pusat, bukan wewenang pemerintah daerah. Meski begitu ia berjanji menyampaikan usulan pengunjuk rasa  ke pemerintah pusat.
Menejer Cabang PLN Palangkaraya, Taufik Eko, menyatakan  seringnya pemadaman listrik di wilayah ini dikarenakan kemampuan daya wilayah setempat pas-pasan, sementara konsumsi masyarakat terus meningkat, sehingga terjadi defisit listrik 14,6 megawatt (MW).
Kebutuhan listrik Palangkaraya mencapai 29,6 MW sedangkan yang terpenuhi 15 MW, melalui pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Kahayan 5,4 MW dan sewa genset 9,6 MW.
Guna menenuhi kekurangan tersebut PLN Kalteng menambah daya dengan meminta kepada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Asam-asam Kalimantan Selatan (Kalsel), melalui sistem jaringan interkoneksi Kalselteng.
“Upaya mengatasi listrik PLN menambah pembangkik beberapa unit hingga Agustus 2010 akan ada daya 25 MW yang berarti tinggal defisit sekitar 4 MW, diharapkan mengurangi pemadaman listrik di masyarakat,” Taufik Eko.
Gubernur Kalteng, Agustis Teras Narang, menyatakan  wilayahnya sangat membutuhkan tambahan pembangkit listrik dalam upaya memenuhi kebutuhan listrik seiring kian berkembangnya wilayah ni.
“Cukup ironis, Pulau Kalimantan termasuk Kalteng  merupakan penghasil batubara sebagai bahan bakar pembangkit listrik justru kekurangan tenaga listrik,” katanya.
Sebesar 94 persen kebutuhan batubara untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Pulau Jawa dan Pulau Bali, didatangkan dari Pulau Kalimantan.
Padahal sebagai wilayah yang relatif tertinggal di bandingkan Pulau Jawa dan Bali.
Sudah sewajarnya Kalteng diberikan berbagai faslitas dalam upaya mengejar ketertinggalan, bukan sebaliknya kekayaannya dikeruk tetapi wlayah ini dibiarkan terus tertinggal.
Gubernur Kalteng ini juga mengeluhkan molornya pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Pulang Pisau yang berada di provinsi itu.
Rencana membangun PLTU Pulang Pisau bagian dari rencana pembangunan pembangkit 10 ribu MW secara nasional, Kalteng kebagian 2 kali 65 MW melalui PLTU Pulang pisau itu, tetapi rencana itu sampai sekarang tak ada tanda-tanda terealisasi, padahal sudah diketahui masyarakat luas.
Melihat keinginan begitu kuat warga Kalteng memiliki pembangkit sendiri, maka rencana pembangunan PLTU harus direalisasikan.
Kenyataan kian defisitnya daya listrik memunculkan berbagai prakarsa untuk menciptakan daya listrik baru di wilayah Kalteng ini seperti yang diinginkan Dinas Pertambangan dan Energi setempat.

Energi alternatif
Cangkang kelapa sawit yang dikenal bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan energi listrik mulai dilirik oleh Distamben Kalteng.
Saat ini banyak perusahaan perkebunan kelapa sawit menghasilkan limbah berupa cangkang kelapa sawit.
Menurut Kepala Distamben, Yulian Taruna pihaknya  mulai menjajaki  sejumlah perusahaan perkebunan kelapa sawit untuk tujuan itu.
Mereka berharap ada kerjasama untuk memanfaatkan listrik biomassa sehingga bisa membantu mengatasi masalah kelistrikan setempat.
“Kami sedang berkoordinasi dengan sejumlah perkebunan kelapa sawit terkait kemungkinan pemanfaatan cangkang sawit untuk menghasilkan listrik biomassa. Perkebunan kelapa sawit di daerah kita kan cukup banyak, kalau itu berhasil, maka listrik yang dihasilkan membantu mengatasi masalah kelistrikan kita,” katanya.
Menurutnya, banyak sumber energi lain yang bisa dimanfaatkan menjadi listrik, seperti tanaman jarak.
Namun hasil pemantauan pihaknya di sejumlah daerah, pemanfaatan tanaman jarak untuk menghasilkan listrik juga masih menemui banyak kendala.
Potensi pemanfaatan listrik biomassa dari cangkang kelapa sawit di Kalteng dinilai sangat besar.
Karena itu, potensi itu harus dimanfaatkan dengan baik. Pemerintah daerah akan terbantu jika ada perkebunan yang memproduksi listrik biomassa dan ikut memasok ke masyarakat.
Meski demikian, Yulian mengakui, pembangunan  PLTU saat ini cukup mudah dibangun di Kalteng. Apalagi, sumber batu bara yang digunakan untuk bahan bakar PLTU, cukup banyak di Kalteng.
“Memang untuk sementara ini, pembangunan PLTU yang sangat memungkinkan. Makanya, kita mengusulkan kepada pemerintah pusat, maupun diusahakan oleh daerah sendiri. Tapi kalau biomassa itu bisa kita usahakan, tentu sangat bagus,” kata Yulian Taruna.
Seperti diketahui, listrik biomassa sudah banyak dimanfaatkan perusahaan perkebunan kelapa sawit di sejumlah daerah di Indonesia. Selain dimanfaatkan untuk energi listrik, limbah sawit juga bisa diolah lagi menjadi pupuk kompos dan gas metan.
Sebagai gambaran sederhana, proses mengolah limbah sawit menjadi energi listrik 6 megawatt, dibutuhkan tabung besar berkapasitas 38 ton yang kuat untuk menerima panas hasil pembakaran pada suhu 380 derajat celsius. Selain itu, juga dibutuhkan sebuah turbin uap berkapasitas 6.000 kilowatt.
Listrik biomassa mulai diterapkan perusahaan perkebunan Sumatera Selatan. Listrik yang dihasilkan digunakan untuk kebutuhan di perkantoran, perumahan dan penerangan jalan perusahaan.
Kelebihan listrik yang dihasilkan juga bisa dipasok ke masyarakat. Pemanfaatan listrik biomassa itu juga akan mengurangi ancaman pencemaran lingkungan, karena limbah perusahaan justru dimanfaatkan untuk hal positif.
Potensi kelistrikan lain adalah tenaga matahari, seperti warga tinggal di empat Kabupaten  mengharapkan bantuan pemerintah  menyediakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
PLTS tersebut diharapkan sebagai alternatif fasilitas penerangan warga sebagai pengganti kekurangan tenaga listrik di kawasan tersebut.
Warga yang mengharapkan bantuan PLTS tersebut menyebar di desa-desa empat kabupaten  Kabupaten Barito Utara (Barut), Kabupaten Barito Selatan (Barsel), Kabupaten Barito Timur (Bartim), serta warga di Kabupaten Murung raya (Mura).
Temuan mengenai keluhan tenaga listrik tersebut, setelah pihak anggota DPRD Daerah Pemilihan (Davil) IV melakukan kunjungan masa reses ke wilayah empat kabupaten tersebut.
Persoalan listrik hampir semua dirasakan di desa di Kecamatan-Kecamatan yang ada di empat Kabupaten itu.
Warga mengeluhkan masalah ini dan banyak usul dari warga di desa-desa menginginkan bantuan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Menurut laporan DPRD Kalteng sebenarnya masih banyak sumber daya alam yang potensial untuk membangun pembangkit listrik seperti Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) kecil-kecilan cukup untuk menerangi beberapa desa yang berdekatan,
Oleh karena itu pihak DPRD Kalteng menyerahkan persoalan itu kepada dinas terkait untuk mengadakan pendataan dan survei apakah air terjun yang ada bisa digunakan untuk pembangunan PLTA sederhana tersebut.
Diharapkan sumber daya alam seperti air terjun yang ada di kawasan tersebut bisa dijadikan PLTA, bila berbagai potensi kelistrikan Kalteng bisa dimanfaatkan maka diharapkan persoalan listrik di wilayah ini bisa teratasi, demikian seorang Anggota DPRD Kalteng menyatakan.