EKOSISTEM AIR “COCACOLA” SEBANGAU HABITAT FLORA FAUNA

Aku saat menyusuri sungai di TN Sebangau

air warna cocacola

Oleh Hasan Zainuddin
Palangkaraya, 4/8 (ANTARA)- Dua buah ‘spead boat’ meluncur begitu kencang menyusuri sungai yang berliku-liku di Taman Nasional (TN) Sebangau, Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng).
Puluhan wartawan nasional dan lokal yang berada di sarana air yang cepat itu, ramai-ramai membidikkan kameranya, baik kamera video maupun kamera foto. Fokus bidikan kamera tertutama keberadaan sungai yang di sisi kiri dan kanannya dipenuhi dengan tanaman rasau (sejenis pandan) dan tampak menghijau.
Sesekali kamera diarakan ke burung elang yang beterbangan di wilayah itu, kemudian juga ke binatang lutong yang melompat dari satu pohon ke pohon lain.
Permukiman penduduk yang juga terdapat di beberapa lokasi sungai kawasan rawa gambut itu menjadi objek menarik foto-foto wartawan media cetak dan elektronika ini.
Tetapi ketertarikan para wartawan ini lebih terhadap kondisi air yang dilewati dalam perjalanan dalam kurun waktu sekitar satu jam ke arah pusat rehabilitasi TN Sabangau dari Kereng Bangkirai Palangkaraya.
“Wah, ini perjalanan yang mengasyikkan, dan belum pernah aku mengalami perjalanan seperti ini,” kata Depri, wartawan Kompas Biro Kalsel, seraya membidikkan kamera fotonya.
Dalam perjalanan wisata dalam kaitan kegiatan semiloka perubahan iklim yang membahas manfaat hutan gambut TN Sebangau sebagai penekan pemanasan global yang diselenggarakan WWF-Indonesia itu, sejumlah wartawan nasional dan lokal sempat pula menanamkan pohon penghijauan.
Para partawan begitu antusias mendengar berbagai penjelasan dari WWF-Indonesia mengenai ekosistem rawa gambut Sebangau. Mereka juga menyaksikan tanaman anggrek, tanaman galam, tanaman balangeran dan aneka tanaman dan binatang di wilayah itu.
Dalam wisata itu ada wartawan yang kemudian mengeluarkan alat pancing lalu memancing setelah melihat  banyaknya ikan berkeliaran di kawasan tersebut.
Hanya saja dari pertama turun ke spead boat hingga sampai ke pusat rehabilitasi TN Sebangau, kalangan wartawan ini agak terheran melihat warna air di wilayah itu bagaikan ‘cocacola’.
Walau airnya bewarna bagaikan ‘cocacola’ atau air teh, tetapi air itu merupakan habitat puluhan spesies ikan.
Koordinator Konservasi TN Sebangau, Adventus Panda, ketika bersama sejumlah wartawan menyusuri sungai tersebut mengakui air yang demikian menjadi tempat hidup dan berkembangnya banyak ikan.
Tetapi ikan yang hidup dan berkembang di perairan demikian kebanyakan jenis ikan tertentu seperti ikan tauman, kihung, mihau, karandang, bakut, yang kesemuanya famili ikan gabus.
“Ikan-ikan mirip gabus (Channa striata) ini banyak sekali di sungai ini, sehingga menjadi mata pencarian penduduk sekitar TN Sebangau,” kata Adventus Panda.
Ikan lainnya, adalah lais, tapah, patung, sepat, kapar, pepuyu, dan sejumlah ikan rawa gambut lainnya.
Ia mengakui TN Sebangau memiliki keanekaragaman hayati, baik flora maupun fauna, tetapi yang unik adalah ekosistem air bagaikan ‘cocacola’ itu.
“Ekosistem yang unik itulah yang menyebabkan TN Sebangau Kalteng berpotensi dijadikan kawasan ekowisata,” katanya.
Air TN Sebangau bewarna demikian, akibat dari proses pelapukan bahan organik lahan hutan bergambut.
Berdasarkan catatan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Idonesia (LIPI) pada 2006 meneliti TN Sebangau, dan menyatakan di lokasi ini terdapat 808 jenis tumbuhan yang mengandung khasiat obat.
TN Sebangau juga merupakan habitat sejumlah satwa, seperti burung enggang, beruang madu (Helarctos malayanus), rusa (Cervus unicolor), kijang (Muntiacus atheroides), kancil (tragulus Javanicus), macan dahan (neofelis nebulosa), tupai (tupaia spp), loris (Nycticebus coucang), serta satwa lainnya dengan spicies induk orangutan (Pongo pygmaeus).
Hasil survei dan penelitian tahun 2006 itu menemukan 6000-9000 ekor orangutan menghuni kawasan ini.
Mengutip hasil penelitian atau studi hutan rawa gambut Universitas Palangkaraya (Unpar), terdapat sedikitnya 106 jenis tumbuh-tumbuhan yang ada di wilayah itu, di antaranya adalah tumbuhan asli Kalimantan.
Tumbuhan asli Kalimantan itu, antara lain ramin (Gonystilus bancanus), jelutung (Dyera costulata), balangeran (Shorea belangeran) bintangur (Colophyllum sclerophyllum),  meranti (Shorea spp), nyatoh (Palaquium spp), keruing (Dipterocarpus spp), agathis (Agathis spp), menjalin (Xanthophyllum spp).
Selain itu terdapat 116 spicies burung, di antaranya burung khas Kalimantan, burung enggang.
Juga terdapat 35 jenis mamalia yang ada di kawasan itu selain orangutan juga ada bekantan (nasalis larvatus) merupakan satwa kera hidung besar yang hanya ada di Pulau terbesar di nusantara itu.
Masih ada pula kera lain yaitu lutung, owa-owa (Hylobates agilis), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), kera abu-abu, dan beberapa jenis lainnya.
Jenis anggrek terdapat anggrek hitam (Coelogyne pandurata), serta tanaman liar kantung semar (Nepenthes ampullaria) di  samping anggrek lainnya.
Kekhasan lain TN Sabangau terdapat laboratorium alam hutan rawa gambut yang dikelola Pusat kerjasama Internasioal Pengelolaan Gambut Tropika (Cimtrop) Univeritas Palangkaraya (Unpar) sebagai lembaga riset yang memfokuskan penelitian di bidang pengelolaan hutan rawa gambut.
Potensi wisata lain di taman nasional ini ialah keberadaan alamnya, terdapat jeram, lembah, serta danau-danau.
TN Sebangau memiliki luas sekitar 568.700 hektare terletak di antara Sungai Sebangau dan Sungai Katingan. Secara administrasi wilayah ini merupakan bagian dari Kabupaten Katingan, Kabupaten Pulang Pisau, dan Kota Palangkaraya.
Terhitung 19 Oktober 2004, kawasan Sebangau, ditunjuk pemerintah sebagai Taman Nasional (TN) melalui SK Menhut No. 423/Menhut-II/2004.
Kawasan itu merupakan hutan rawa gambut yang masih tersisa di Kalteng setelah gagalnya Proyek  Lahan Gambut (PLG) sejuta hektare pada 1995.
Kegiatan wisata yang bisa dinikmati di kawasan itu, antara lain menjelajah hutan rawa gambut dengan cara mengitari alur sungai, mengamati flora dan fauna yang unik dan khas, mendaki bukit, berenang di sungai, atau melihat adat istiadat dan budaya Suku Dayak, seperti acara “tiwah.”
Konsep WWF
Melihat keanekaragaman hayati di wilayah TN Sebangau maka wilayah itu berpotensi besar menjadi objek ekowisata dunia, oleh karena itu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) WWF Indonesia telah pula menawarkan konsep pengembangan ekowisata di TN Sebangau.
Konsep Ekowisata yang ditawarkan WWF Indonesia tersebut berbasis masyarakat, kata Pimpinan Projek Konservasi Sebangau WWF-Indonesia Rosenda Ch Kasih.
Konsep tersebut penggabungan antara konsep “community based tourism” dan “ecotourism”. Dibuat untuk mengangkat pengembangan ekonomi tanpa melupakan konsep pembangunan berkelanjutan, dengan berakar pada potensi lokal, katanya.
Dalam pengelolaannya harus dilaksanakan secara bertanggung jawab di tempat-tempat alami, secara ekonomi harus berkelanjutan dan memberikan manfaat langsung kepada masyarakat setiap generasi.
Dalam pemahaman tersebut, ketika ekowisata dikembangkan maka potensi Sumber Daya Alam (SDA) maupun budaya  harus dipandang sebagai aset dan minimal harus ada empat pilar yang harus diusung.
Empat pilar tersebut, kata Rosenda Ch Kasih, yaitu konservasi, ekonomi, pendidikan, dan partisipasi masyarakat itu sendiri.
WWF Indonesia melihat kawasan Sebangau merupakan kawasan konservasi sebagai pelestarian alam, di kawasan itu tumbuh beribu jenis flora dan menjadi habitat hidup berbagai satwa dengan spesies kunci orangutan.
Di sekeliling TN Sebangau diinteraksi oleh keragaman budaya khas masyarakat Suku Dayak Kalteng dengan kehidupan tradisionalnya dalam memanfaatkan SDA tersebut.
Dalam upaya melakukan kegiatan ekowisata di Sebangau, WWF Indonesia mengembangkannya dengan berbasis masyarakat, karena masyarakatlah yang harus menjadi salah satu pelaku kegiatan ini.
“Mereka harus memiliki nilai dan porsi tawar yang setara dengan pihak lain, ketika ekowisata ini dibangun dan dikembangkan, masyarakat tak boleh hanya menjadi objek dari pengembangan, tetapi harus menjadi pemilik dari kegiatan ekowisata,” demikian Rosenda Ch Kasih.

Air TN Sebangau warna cocacola

Iklan

Satu Tanggapan

  1. ah ,air apa tuh colacola tapi apa kan bias di minum……..???
    mungkin karena bisa saja ada orang penduduk aslinya minum………….????tapi apakan sehat………???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: