PASAR WADAI PALANGKARAYA SURGA PENIKMAT PENGANAN TRADISI

Oleh Hasan Zainuddin
Palangkaraya,22/8 (ANTARA)- Sinar mentari masih berada di atas langit, menandakan bunyi tabuhan beduk sebagai tanda berbuka puasa bagi umat Muslim masih lama, namun kawasan Jalan Ais Nasution di lapangan Sasana Mantikai Palangkaraya, Kalimantan Tengah, sudah terlihat ramai.
Transaksi pun mulai terjadi di lokasi Pasar Wadai (pasar kue) yang muncul di bulan Ramadhan ini, bahkan tambah sore lokasi ini tambah berjejal yang membuktikan keberadaan pasar ini diminati pengunjung.
Kebaradaan pasar yang dibangun dengan konstruksi khas masyarakat Dayak Kalteng itu bukan saja sebagai lokasi transaksi penganan dan makanan tetapi sekaligus sebagai lokasi pelestarian budaya.
Bahkan belakangan oleh Pemerintah Provinsi Kalteng sudah dijadikan aset wisata tahunan yang terus dipromosikan ke berbagai wilayah.
Pasar wadai ini pula dinilai mampu menjadi magnet memancing lebih banyak wisatawan untuk datang ke kota yang pernah dirancang oleh Presiden Soekarno sebagai ibukota negara pengganti Jakarta tersebut.
Wakil Gubernur Kalteng Haji Achmad Diran saat membuka atraksi wisata tahunan pada hari pertama bulan puasa tahun ini mengakui pasar Wadai bernilai bagi dunia wisatawan lantaran muncul tahunan dan unik.
Hal lain yang bisa diambil manfaat keberadaan pasar Wadai adalah memberikan peluang kepada masayarakat untuk melaksanakan invonasi dan pengembangan kreativitas seni dan budaya lokal yang bermanfaat bagi dunia kepariwisataan.
Apalagi di pasar  ini terdapat aneka penganan tradisional baik yang berasal dari masyarakat Dayak Kalteng sendiri maupun penganan yang berasal dari masyarakat Banjar Kalimantan Selatan .
Di lokasi yang dikelola Lembaga Ketahanan Kelurahan (LKK) Kota Palangkaraya itu setiap harinya memang selalu padat bagi mereka yang menyukai penganan tradisional.
Mereka myang berbelanja di kawasan berada di jantung kota cantik Palangkaraya itu bukan saja yang benar-benar mencari penganan dan makanan berbuka puasa tetapi tak sedikit masyarakat non muslin pun berada di wilayah itu untuk berburu penganan atau makanan yang disukai.
Apalagi sebagian besar penganan dan makanan yang dijajakan para pedagang pada lokasi yang terdapat sekitar ratusan kios itu kebanyakan sulit dicari di hari biasanya dan hanya muncul di saat atraksi tersebut digelar.
Di lokasi pasar tahunan memang menggelar setidaknya 41 macam kue tradisional seperti kue amparan tatak, kraraban, lamang, cingkarok batu, wajik, kelepon, sari pangantin, sarimuka, putrisalat, cincin, untuk-untuk, gagatas,onde-onde, pare, putu mayang, laksa, kokoleh,bingka, bingka barandam, bulungan hayam, kikicak, gayam, kraraban, amparan tatak, agar-agar bagula habang, dan kue tradisonal lainnya.
Selain itu juga menggelar dagangan aneka masakan khas, seperti gangan waluh, gangan balamak, papuyu baubar, saluang basanga, masak habang, laksa, lontong, katupat kandangan, soto banjar, gangan kecap haruan, gangan humbut, gangan rabung, pais patin, pais lais, pais baung, karih ayam, karih kambing, dan masakan lainnya.
Lebih khas lagi, makanan tradisional Kalteng berupa mumbut rotan yang disebut singkah, daun singkong santan dan kue-kue Dayak Lainnya.
Tak ketinggalan pula tersaji makanan dari luar Kalimantan seperti gudeg Jawa, kerak telur, pecel lele, rendang Padang, dan makanan-makanan nasional lainnya, guna memenuhi selera warga kota Palangkaraya yang hedrogen dengan penduduk sekitar 190 ribu jiwa itu.
Di antara penganan yang dijual belikan itu seringkali dibuat hanya kebutuhan ritual atau kebutuhan kenduri karena diyakini kue-kue itu kalau dimakan diyakini akan membawa berkah.
Lihat saja penganan yang disebut kue cangkarok, kue lamang, bubur, cinncin, yang biasanya sebagai makanan sesaji ritual.
Penganan itu banyak yang sudah hilang setelah kian banyaknya penganan modern dan makanan kecil siap saji bermunculan, tetapi juga akibat kue-kue kering dan makanan kecil yang diproduksi perusahaan besar di Pulau Jawa.
?Lihat saja makanan kecil, kue kering, snack, mie instan, kacang-kacang keluaran perusahaan besar seperti PT Indofood menyebar hingga ke pelosok pedesaan yang mendesak makanan khas asli daerah setempat,? kata Aminah, pedagang kue tradisional
Pasar Wadai Ramadhan,  di Palangkaraya ini sebenarnya bukan hanya di kawasan itu tetapi juga bermunculan di kawasan lain seperti di Jalan Tjilik Riwut, Jalanj Set Aji, Jalan RTA Milono dan wilayah lainnya.
Bagi warga Palangkaraya, tak lengkap rasanya jika tak mengunjungi Pasar Wadai, karena pasar itu hanya ada pada bulan Ramadhan.
Penganan atau kue tradisional itu pula yang menjadi daya pikat setiap pengunjung terutama penikmat makanan tradisional untuk datang ke Pasar Wadai. Bahkan, banyak pengujung dari luar daerah datang ke lokasi ini hanya ingin berwisata kuliner di Pasar kebanggaan warga Palangkaraya itu.
Selain berburu makanan tradisional, ada juga warga Palangkaraya datang ke Pasar Wadai sekadar jalan-jalan sambil menunggu beduk ditabuh sebagai tanda buka puasa telah tiba (ngabuburit).
Bahkan menjadi lokasi kawula muda untuk “cuci mata” sekaligus sebagai berwisata.
“Saya suka datang ke pasar wadai sambil menunggu bedug buka puasa, bila sudah berada di lokasi ini tak serasa waktu terus berlalu hingga buka puasa,” kata Sarwani seorang pemuda penduduk setempat.
Melihat fungsi ganda keberadaan pasar wadai ini, maka wajar bila berbagai kalangan berharap pada tahun-tahun mendatang kebaradaan ini lebih dikemas lagi sebagai daya pikat kota.

Iklan

Satu Tanggapan

  1. Bulan Ramadhan memang penuh berkah ya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: