KALTENG JADIKAN IKAN KERING SEBAGAI CENDERAMATA

Oleh Hasan Zainuddin
Palangkaraya,31/8 (ANTARA)-  “Ikan kering lais pak, ikan kering lais, pak ini mutu bagus, tidak asin pak, enak-enak,” kata seorang ibu setengah baya yang merupakan pedagang ikan kering kepada para pengunjung sentra penjualan ikan di pasar besar Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah (Kalteng).
“Ikan lais kering ini dari Sungai Kasongan, kalau yang ini dari Sungai Rungan Tangkiling,” kata ibu Siti, nama pedagang itu seraya menunjuk-nunjuk tumpukan ikan kering yang digelarnya di pasar tersebut.
Ibu Siti yang menggunakan “tangkuluk” (penutup kepala kain sarung) dan berbedak dingin itu pun menceritakan bahwa ikan lais (Kryptopterus) paling banyak dicari pelanggannya, karena ikan berbadan panjang dan tipis itu termasuk khas setempat dan banyak terdapat di perairan rawa, sungai, danau, dan anjir (kanal).
Mengutip pendapat para pelanggannya, ikan lais kering paling enak dibandingkan ikan jenis lainnya, makanya ikan tersebut lebih mahal dibandingkan yang lain.
Lantaran ikan kering itu begitu digemari, maka sekarang sudah diolah dengan kualitas bagus, dan dijadikan sebagai barang cenderamata bagi pendatang yang datang ke kota cantik Palangkaraya ini.
“Kita banyak memperoleh pesanan, dari kalangan hotel, pemandu wisata, atau pengelola wisata lainnya, guna memenuhi permintaan wisatawan di wilayah ini,” kata Ibu Siti, yang mengaku berasal dari Danau Panggang, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) tersebut.
Menurut dia, agar lebih menarik ikan lais kering ukuran sedang pada saat proses pengeringan diletakkan satu per satu hingga membentuk formasi melingkar atau membundar antara 20 hingga 30 ekor.
Pembentukan formasi ikan kering lais itu di saat penjemuran seperti itu menyebabkan ikan yang satu dan yang lainnya saling menempel kuat bagaikan kena lem.
Dengan formasi ikan kering yang demikian maka saat dipajang tampak begitu bagus, dan menarik dipandang para pembeli.
Kemudian agar lebih menarik lagi, disediakan alat khusus yang disebut bakul purun (tas kecil terbuat dari anyaman tanaman purun ) lalu ikan itu diletakkan di dalam bakul itu hingga mudah menjinjingnya.
“Biasanya, para wisatawan lebih suka yang sudah disediakan seperti ini,” kata ibu Siti, seraya mengangkat satu bakul purun berisi dua kilogram ikan lais kering tersebut.
Berdasarkan keterangan harga ikan kering lais paling bagus di pasar paling ramai Kalteng itu mencapai Rp60 ribu per kilogram, sementara kualitas sedang Rp50 ribu dan kualitas biasa Rp45 ribu.
Selain Ikan kering lais, ikan lainnya yang juga cukup diminati, adalah ikan kering gabus (haruan) yang disebut “garih” dengan harga Rp40 ribu untuk kualitas baik, dan Rp30 ribu kualitas sedang.
Tetapi jika ikan kering gabus lebih kecil lagi harganya hanya Rp25 ribu per kilogram, ikan sejenis gabus yang juga diminati ikan kering tauman Rp35 ribu per kg, ikan kering karandang Rp20 ribu per kg, ikan kering kihung Rp25 ribu per kg.
Ikan kering sepat Rp40 ribu per kg, ikan kering saluang Rp40 ribu perkg, ikan kering biawan Rp35 ribu per kg, ikan kering sanggang Rp30 ribu  per kg, ikan kering tapah Rp35 ribu per kg, dan banyak lagi jenis ikan kering yang dijual di Kota Palangkaraya.
Gubernur Kalimantan Tengah, Agustin Teras Narang pernah mengatakaan bahwa potensi sumber daya air  (SDA) di wilayah tersebut sangat besar, mencapai 183,2 miliar meterkubik (M3) per tahun.
Melihat potensi SDA yang begitu besar sebenarnya kalau dikelola dengan baik maka akan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat Kalteng.
SDA Kalteng itu bisa dimanfaatkan bukan saja sebagai sarana transportasi, tetapi juga sebagai sarana bahan baku air minum, irigasi persawahan, pembangkit listrik, serta sebagai kawasan penangkapan ikan dan pembudidayaa sektor perikanan.
Dijelaskannya, terdapat 11 sungai besar yang ada di Kalteng dengan panjang kurang lebih 4.625 Km dan tujuh buah anjir atau kanal sepanjang kurang lebih 122 Km.
Sebelas sungai tersebut adalah sungai besar dan terdapat puluhan bahan ratusan anak sungai yang sambung menyambung satu sama lain yang bisa dimanfaatkan sebagai lokasi penangkapan ikan oleh masyarakat.
Sungai tersebut seperti Sungai Barito dengan panjang 900 kilometer (Km) dalam 8 m dan lebar 650 m, Sungai Kapuas panjang 600 Km dalam 6 m dan lebar 500 m.
Sungai Kahayan panjang 600 Km dalam 7 m, lebar 500 m, Sungai Katingan panjang 650 Km dalam 6 m lebar 300 m, Sungai Mentaya 400 Km,  dalam 6 m lebar 400 m. Sungai Sebangau panjang 200 Km dalam 5 m, lebar 100 m, Sungai Seruyan panjang 350 Km, dalam 5 m, lebar 300 m, Sungai Arut 250 Km dalam 4 m, lebar 100 m.
Sungai lainnya, Sungai Kumai panjang 175 Km, dalam 6 m lebar 300 m, Sungai Lamandau panjang 300 Km dalam 6 m, lebar 200 m, terakhir Sungai Jelai panjang 200 Km dalam 5 m dan lebar 100 m.
Bukan hanya jumlah sungai yang begitu luas, tetapi juga banyak hamparan rawa yang mengandung kehidupan ikan rawa juga begitu besar, tercatat 1,8 juta hektare yang menyebar di Kalteng ini.
Belum lagi Kalteng di bagian selatannya memiliki garis pantai yang panjang yang juga menghasilkan ikan laut begitu besar.
Dengan potensi perairan demikian melahirkan populasi dan perkembangan ikan sungai alam yang melimpah pula, dari hasil penangkapan ikan di sungai-sungai besar itulah yang kemudian dibawa oleh pedagang hingga ke Palangkaraya, ibukota provinsi ini.
Berdasarkan data, dari Dinas Perikanan setempat, dari luasan periran di Kalteng tersebut telah memproduksi sejumlah produk ikan segar dan ikan kering.
Produksi perikanan Kalteng terdiri dari perikanan laut sebanyak 49.951,7 ton dan perikanan darat sebanyak 40.413 ton.
Dari produksi itu terdiri lagi dari perikanan umum, tambak air tawar, ikan sawah, kolam, dan keramba.
Data terakhir diperoleh dari Badan Biro Statistik (BPS) Kalteng disebutkan nelayan setempat menghasilkan ikan awetan, baik ikan laut maupun darat, ikan kering 14.582 ton, terasi 1.021 ton, udang beku 382 ton, pindang 43 ton, ikan lainnya 1.562 ton. Sementara itu, jenis awetan ikan darat terdiri dari ikan kering sebanyak 8.230 ton dan Iain-lain 93 ton.
Berdasarkan keterangan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kalteng, keberadaan produksi ikan kering Kalteng itu telah menjamin kebutuhan masyarakat setempat, bahkan mampu menyuplai ke daerah lain.

Iklan

5 Tanggapan

  1. Wah.. kepengen deh cicipin ikan-ikan di sana. Salam buat Bapak Teras Narang. Semoga ekonomi Kalteng maju terus.

  2. ik salam diusahakan disampaikan

  3. waduh, jadi pengen nyobain… ok buat infonya makasih 🙂

  4. Cendramata yang Unik 🙂

  5. wah enak ne jd pengen nikmatin. . .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: