KALSEL BERTEKAD TERUS PEMASOK BERAS NASIONAL

Oleh Hasan Zainuddin Banjarmasin, 19/10 (ANTARA) – Sudah kebiasaan di saat daerah lain kesulitan beras lantaran kekeringan musim kemarau, justru Kalimantan Selatan tetap punya banyak persediaan bahan pokok tersebut. Pasalnya, di saat musim kering sekitar 150 ribu hektare lahan lebak yang tadinya tergenang air cukup dalam menjadi kering. Dari luas 150.000 hektare lahan lebak itu saat musim kering bisa ditanami padi sekitar 90 ribu hektare dan lahannya relatif cukup subur pula. Gubernur Kalimantan Selatan (Kalsel) Rudy Ariffin mengakui wilayahnya memperoleh berkah memiliki lahan semacam itu. Akibat lahan itu pula wilayahnya tak pernah mengalami defisit beras. “Kita merasa bangga memiliki lahan lebak yang bisa dimanfaatkan untuk tanaman padi dan plawija, berkat lahan itu pula produksi padi Kalsel bisa terus ditingkatkan hingga 1,9 juta ton per tahun,” tuturnya. Seluruh kabupaten di Kalimantan Selatan siap meningkatkan produksi padi untuk memenuhi target nasional surplus beras 10 juta ton pada 2014. Rencana peningkatan produksi padi tersebut disepakati dalam penandatanganan kerja sama antara Gubernur Kalimantan Selatan Rudy Ariffin dengan bupati pada 13 kabupaten dan kota di Banjarmasain. Menurut gubernur, Kalsel sebagai salah satu daerah penyangga pangan nasional diminta partisipasinya untuk menyumbang beras sebanyak 7 persen dari target stok beras nasional sebanyak 10 juta ton hingga 2014 tersebut. Dengan demikian, kata gubernur, Kalsel mendapatkan jatah untuk menyumbang stok beras nasional sebanyak 700 ribu ton hingga 2014. “Saya harap beban ini bisa ditanggung bersama-sama oleh kabupaten dan kota di Kalsel, sehingga koordinasi masing-masing kabupaten harus ditingkatkan,” katanya. Koordinasi tersebut antara lain dengan melakukan pertemuan dan penandatanganan kerja sama untuk bersama-sama mengupayakan peningkatan produksi padi sesuai dengan kemampuan masing-masing daerah. Menurut dia, beras nasional telah mengalami surplus sekitar 4 juta ton, namun jumlah tersebut masih belum bisa memenuhi kebutuhan pangan nasional karena tidak seimbang dengan pertumbuhan jumlah penduduk. Berdasarkan hal tersebut, agar Indonesia tidak lagi mengimpor bahan pangan dari negara lain, mau tidak mau seluruh provinsi harus meningkatkan produksi padi. Beberapa kabupaten di Kalsel kini melaksanakan panen padi jenis unggul dengan kualitas produksi jauh lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Sementara itu Kepala Dinas Pertanian Kalsel, Sriyono mengatakan, pada 2011 diprediksi produksi padi Kalsel jauh lebih tinggi dibanding 2009 yang mencapai 1,98 juta ton dimana saat itu merupakan puncak panen tertinggi di Kalsel. Optimisme bahwa produksi padi 2011 lebih tinggi dibanding 2009 karena daerah-daerah yang menghadapi musim panen saat ini merupakan daerah lumbung padi di Kalsel. Seperti di HSU, diperkirakan sekitar 26 ribu hektare padi yang siap dipanen dengan padi bibit unggul. Selain itu, HSU merupakan daerah yang produksi per hektarenya lebih tinggi atau di atas rata-rata produksi padi di daerah lain. Diperkirakan, pada 2011 ini produksi padi Kalsel bisa mencapai lebih dari 2 juta ton, sehingga mampu menjadi daerah penyumbang ketahanan pangan nasional. Lahan lebak Untuk meningkatkan produksi beras Kalsel itu, daerah ini bukan saja mengandalkan lahan tadah hujan, lahan kering, dan lahan beririgasi tetapi juga mengandalkan lahan lebak. lahan lebak memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh daerah lain. Di saat daerah lain paceklik justru lahan lebak panen, produksinya justru lebih tinggi, seperti terlihat pada panen di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) yang mencapai tujuh ton per hektare, kata Gubernur Kalsel. “Aliran sungai menyebabkan unsur dan zat-zat yang ikut dalam air mengendap sehingga membuat tanah lahan lebak menjadi subur,” katanya. Kendalanya di lahan seperti itu, air yang mengendap memerlukan waktu cukup lama untuk bisa kering, sehingga diperlukan teknologi untuk mengolahnya, salah satu cara dengan pompa air primer, sekunder, dan tersier dari polder yang kini sedang dalam proses pembangunan. Untuk meningkatkan kemampuan lahan lebak itu, maka Kalsel merevitalisasi polder Alabiodi Kabupaten Hulu Sungai Utara sebagai sarana mengatur tata air di lahan seperti itu. Pembangunan revitalisasi polder Alabio yang merupakan proyek tahun jamak atau multi year dijadwalkan akan selesai 2013 meski di tahun 2012 sistim irigasi pertanian melalui polder itu sudah bisa dimanfaatkan mengairi sawah petani. Melalui sistem pengaturan air maka diharapkan terjadi peningkatan produksi padi, sekaligus peningkatan intensitas tanam, karena selama ini petani di daerah ini hanya bisa sekali tanam dalam satu tahun. Menurut Kepala Dinas PU setempat, Ediyannor rehabilitasi proyek polder Alabio dimulai pada tahun 2009 hingga 2011 dengan paket pengerjaan berupa rehabilitasi saluran primer dan sekunder yang baru selesai 59,02 persen. Selain dibangun atas bantuan luar negeri melalui JBIC ( Japan for International Cooperation), proyek multi year yang memerlukan dana ratusan milyar ini juga bersumber dari dana APBN. Pembangunan yang berasal dari APBN tersebut meliputi, perbaikan saluran, penggantian pompa 10 unit berupa 5 unit saluran pemberi dan 5 unit saluran pembuang. Polder Alabio akan mampu mengairi empat kecamatan yaitu Kecamatan Sungai Pandan, Sungai Tabukan, Babirik, dan Danau Panggang. Polder tersebut mengairi daerah irigasi seluas 6.000 hektare dengan pola tanam padi dan palawija, karena begitu luasnya lahan yang diairi oleh irigasi ini, maka polder Alabio merupakan salah satu sistem irigasi yang terbesar secara nasional, tuturnya. Gubernur meminta kepala daerah di 13 kabupaten dan kota lebih cerdas menyiasati peningkatan produksi berasnya, walau dimusim yang ekstrim sekalipun seperti belakangan ini. Salah satu siasat itu adalah mencari terobosan baru untuk menghindari terjadinya gagal panen dan lainnya, terutama memaksimalkan penanaman pada lawan sawah Kalsel yang seluas sekitar 500 ribu hektare lebih. “Bagi daerah yang tanahnya rawa dan tidak bisa ditanam sebaiknya mencari dan membuka lahan yang masih memungkinkan untuk menanam padi,” katanya. Selain itu, kata dia, perlu juga mencari varietas padi baru yang mungkin bagus ditanam di lahan rawa, dan mampu bertahan di lahan ber air dalam . “Wilayah kita ini terdapat padi yang mampu bertahan hidup di air dalam seperti lahan lebak yang disebut “padi surung.” Varietas padi ini kelebihannya mampu mengikuti ketinggian air,” katanya. Padi itu disebut padi “surung” karena kenaikan batang padi mengikuti tingkat ketinggian air, bila permukaan air tinggi maka batang padi inipun ikut naik sehingga tidak mati, katanya. “Dengan berbagai siasat tersebut maka kita akan mempertahankan posisi Kalsel sebagai salah satu daerah       penyangga pangan nasional,” tuturnya . Wilayah yang banyak mengembangkan varietas padi surung itu memang di kawasan lahan lebak HSU. Padi yang juga disebut “rintak” diproduksi di wilayah tersebut sekitar 170 ribu ton per tahun. Padi varietas unik ini bukan hanya di Kabupaten HSU di kembangkan tetapi juga di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Hulu Sungai Tengah (HST) serta di wilayah Barito Kuala (Batola). Bila melihat kesungguhan Kalsel memperbaiki sitem pertaniannya dengan memanfaatkan semaksimal potensi yang ada termasuk lahan lebak maka bukan mimpi Kalsel mempu mendukung ketahanan pangan nasional.

Iklan

Satu Tanggapan

  1. salam kenal..sukses slalu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: