BANJARMASIN BERUPAYA MENGHINDAR DARI JULUKAN “KOTA BANJIR”

kapal sapu2

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,2/11 (ANTARA)- Kota Banjarmasin, ibukota Provinsi Kalimantan Selatan, bisa berjuluk sebuah kota banjir, bila kondisi sungai yang kian rusak terus dibiarkan tanpa adanya perbaikan.
Pengamat perkotaan Bachtiar Noor Graddip, kepada wartawan di Balaikota Banjarmasin, Rabu  mengatakan jika keadaan sungai wilayah ini tak ditangani secara cepat dan cermat, tidak menutup kemungkinan debit air sungai yang terus naik lambat laun akan tumpah kedaratan.
Permukaan air laut belakangan ini kian naik menyusul terjadinya perubahan iklim yang ektrim, sehingga air laut pun akan masuk ke sungai, bila sungai tidak tertangani dengan baik maka permukaan air sungai pun akan meningkat tajam.
Padahal kian banyak sungai di wilayah yang berjuluk “kota seribu sungai” ini  yang mengalami pendangkalan akibat sidementasi dan akibat tercemar limbah rumah tangga dan industri.
Belum lagi gulma air terus menyerang sungai di Banjarmasin hingga sungai kurang berfungsi semestinya, sementara kawasan resapan air yang dulu masih luas setelah kian majunya pembangunan maka wilayah resapan air kian berkurang.
Bila kondisi demikian terus dibiarkan tak tertutup kemungkinan air sungai akan masuk ke daratan lalu kota ini menjadi sebuah “kota banjir.” tuturnya.
Apalagi daratan Banjarmasin yang sekarang ini kurang tertangani seperti sistem drainasenya, hingga bila hujan sedikit saja sudah kebanjiran maka kian memperparah kondisi kota ini.
Ancaman banjir itu kini kian terlihat dimana di beberapa wilayah Banjarmasin yang tahun-tahun sebelumnya tidak pernah terendam sekarang sudah sering terendam.
Oleh sebab itu, bila kondisi tersebut tak ada perbaikan maka sepuluh tahun kedepan maka Banjarmasin kian sering mengalami kebanjiran.
Bachtiar mengungkapkan, dari penelitian ITB mengenai sungai Banjarmasin, air pasang yang masuk kesungai setiap saatnya mengalami peningkatan bahkan menjadi jutaan kubik.
“Bayangkan saja, kalau tidak diimbangi dengan kedalaman sungai-sungai yang ada, tentunya menjadi ancaman besar hal ini,” ujarnya.
Apalagi hasil sebuah penelitian yang menyatakan daratan Kota kota ini kian di bawah permukaan air laut, terutama di saat air pasang dalam hingga sebagian besar wilayah daratan kini terendam.
Dari dulu daratan kota Banjarmasin saat air pasang terdalam sudah berada 16 cintemeter di bawah permukaan air laut, apalagi sekarang perumukaan air laut terus meningkat menyusul perubahan iklim, maka kondisi daratan kota ini kian di bvawah lagi, kata Kepala Dinas Sungai dan Drainase kota setempat, Muryanta.
Menurutnya kalau tidak tertangani jangankan rentang waktu sepuluh tahun mungkin beberapa tahun kedepan saja kota ini akan “calap” (terendam).
Agar kota yang hampir seluruh wilayah rawa-rawa ini tidak kebanjiran diperlukan upaya perbaikan keberadaan sungai dan drainase.
“Kalau ketinggian permukaan laut yang terus meningkat belakangan ini tak bisa ditangkal oleh siapapun, hal itu memang sudah kondisi alam yang rusak, yang penting bagaimana kota ini tidak terlalu lama terendam akibat dari dampak perubahan alam itu,” tuturnya.
Sekarang   ini, tambahnya, bila air pasang dalam maka sebagian besar wilayah daratan kota terendam air, tetapi setelah air laut surut wilayah ini masih terendam lantaran air tidak cepat turun ke kelaut karena sungai-sungai yang ada sudah rusak.
Ada 105 sungai di Banjarmasin, yang masih agak baik tinggal 74 buah, sisanya sudah mati atau rusak akibat sidementasi, sampah, dan limbah rumah tangga, limbah industri, dan limbah alam.
Bila kondisi ini tetap dibiarkan sementara permukaan air laut terus menaik maka akhirnya kota ini akan terendam.
Oleh Karena itu melalui instansinya dilakukan perbaikan sungai melalui pengerukan, penambahan dan perbaikan saluran drainase.
Dari upaya pengerukan selama ini baru sekitar tiga persen yang berhasil diperbaiki masih banyak lokasi sungai yang harus dikeruk dan diperdalam agar sirkulasi air laut yang masuk ke dataran perkotaan bisa lancar.
Untuk memperbaiki sungai yang ada di wilayah ini diperlukan dana cukup besar, umpamanya untuk pembelian kapal-kapal keruk, kapala-kapal pembersih sungai, dan penambahan sistem drainase. “Kalau perhitungan kita dana yang dibutuh Rp3,8 tiliun,” tutur Muryanta.
Dana itu Rp3,3 triliun untuk perbaikan sungai dan Rp524 miliar untuk pembangunan dan perbaikan sistem drainasinya.
Walau dana masih terbatas, tapi Pemkot Banjarmasin tidak akan menyerah untuk menormalisasi sungai, apapun dilakukan termasuk menyewa sebuah kapal modifikasi untuk mengeruk sungai-sungai tersebut.
Ia bersyukur, ada seorang pengusaha di Kota ini yang  berhasil mengubah sebuah kapal biasa menjadi sebuah kapal pengeruk lumpur, hingga bermanfaat untuk merevitalisasi sungai-sungai kota setempat.
Selain memodifikasi kapal menjadi kapal keruk pengusaha tersebut juga berhasil memodifikasi kapal biasa menjadi sebuah kapal pembersih gulma dan sampah sungai dan kapal modifikasi itupun juga disewa Pemkot Banjarmasin, tutur Muryanta.
Kedua kapal itu sudah diberi nama masing-masing untuk kapal keruk disebut “kapal biuku,” sedangkan kapal pembersih gulma dan sampah disebut “kapal sapu-sapu,” tambahnya lagi.
Menurut Muryanta, kapal hasil modifikasi tersebut sangat bermanfaat dalam upaya  kota Banjarmasin mengembalikan fungsi-fungsi sungai mengingat sudah banyak sungai yang mati lantaran sidementasi dan sampah.
Melalui alat-alat modifikasi itu sungai-sungai kian dilebarkan didalami, sehingga begitu juga terhadap sungai yang mati akan dikeruk hingga kembali menjadi sungai yang hidup.
Menurut Muryanta kapal hasil modifikasi itu telah menyita banyak perhatian pemerintah kota lain di Indonesia, terutama untuk pembersihan sungai, bahkan pemerintah Kota Medan ingin membeli kapal modifikasi tersebut.
Sebab tambahnya, untuk mencari kapal keruk kecil yang mampu masuk ke sungai-sungai kecil seperti di Banjarmasin tidak ada yang jual, baik kita cari kenegara manapun, yang dikenal selama ini kapal keruk besar untuk pengerulan sungai-sungai besar atau permukaan sungai di laut.
Kapal hasil modifikasi itu adalah kapal tungkang yang digabung dengan sebuah alat berat semacam eksavator.
Pengerukan dengan kapal itu sudah dilakukan di Sungai Pekapuran, Sungai Kelayan, Sungai Teluk Dalam, Sungai Pekauman, Sungai Miai, Sungai Miai, dan banyak lagi sungai yang terus dilebarkan dan diperdalam.
Selain melebarkan dan memperdalam sungai, Pemkot juga telah banyak membebaskan lahan pemukiman di bantaran sungai untuk memfungsikan sungai tersebut.
Pembebasan pemukiman bantaran sungai itu seperti di Jalan Veteran, Jalan Jafri zam-zam, Jalan Kuripan, Jalan Pire Tendean, Jalan Pasar Lama, Jalan teluk Dalam dan banyak lagi lokasi lainnya.
Melihat begitu gigihnya Pemkot Banjarmasin menormalisasi sungai dan drainase, banyak warga optimistis kota ini tak bakal tenggelam seperti banyak ramalan sebelumnya.

Iklan

3 Tanggapan

  1. nice artikelnya…

  2. sampah penyebab utamanya, sudah menjadi tradisi membuang sampah di sungai, itu yang harus menjadi PR buat kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: