KONVERSI MITAN KE GAS TAMBAH DERITA RAKYAT

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,18/2 (ANTARA)- “Hampir dua bulan ini kami sulit cari elpiji, minyak tanah (mitan) sulit didapat, walaupun ada harganya sudah Rp10 ribu per liter, kayu bakar sudah habis di hutan,lalu kami masak pakai apa, kemana kami harus mengadu,” kata beberapa ibu di bilangan Sungai Andai Banjarmasin, Kalimantan selatan.
Keluhan serupa bukan saja terdengar di kalangan  ibu-ibu Banjarmasin tetapi hampir terdengar juga di beberapa wilayah Kalsel yang berpenduduk sekitar 3,6 juta jiwa dengan jumlah 13 kabupaten dan kota tersebut.
Derita ibu-ibu di Banjarmasin tersebut agaknya masuk akal, hampir selama dua bulan elpiji langka, dan walau ada harganya sampai rp25 ribu per tabung tiga kilogram.
Banyak alasan yang dikeluarkan pihak PT Pertamina menyikapi keluhan rakyat tersebut, antaranya dikatakan jalan darat antara Balikpapan ke Banjarmasin menjadi kendala angkutan elpiji.
Aalasan Pertamina tersebut menurut beberapa warga terkesan mengada-ada,pasalanya transportasi darat kedua wilayah tersebut, tampaknya normal-normal saja, terbukti puluhan bus antar provinsi dan angkutan lainnya tak pernah mengalami hambatan.
Terakhir disebutkan persediaan elpiji mengalami kekurangan sehingga kebutuhan elpiji harus didatangkan dari Provinsi Riau.
Bagaimanapun alasan yang dikeluarkan Pertamina, telah membuktikan kebijakan konversi mitan ke elpiji benar-benar tidak siap segalanya,yang berujung kepada penderitaan rakyat.
Untuk mengatasi kelangkaan elpiji tersebut pihak Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin meminta Pertamina melakukan Operasi Pasar (OP).
Ketua Satgas konversi mitan ke gas elpiji Kota Banjarmasin, Bambang Budiyanto kepada pers di Balaikota Banjarmasin membenarkan sekarang sedang dilakukan OP elpiji untuk mengurangi keresahan warga setelah akhir-akhir ini alami kelangkaan gas elpiji.
Akibat kelangkaan elpiji menyebabkan harga melambung capai Rp25 ribu per tabung 3 kg, padahal Harga Eceran Tertinggi (HET) ditetapkan pemerintah cuma Rp15.500,- per tabung.
Walau harganya mahal tetapi tetap saja elpiji sulit diperoleh masyarakat, sementara harga mitan sudah melambung pula mencapai Rp10 ribu hingga belasan ribu rupiah per liter,padahal HET mitan di Banjarmasin adalah Rp 3.050 per liter.
OP pasar tersebut dilakukan sembilan agen elpiji yang dipercayai Pertamina untuk mensuplai  bahan bakar itu kepangkalan-pangkalan elpiji di 52 kelurahan.
“Kita terus pantau OP elpiji tersebut, dan bila ada yang menjual di atas harga HET Rp15.500,- maka Pemkot akan memberikan sanksi bagi pangkalan yang menjual melebihi ketentuan tersebut,” kata Bambang Budiyanto yang juga Asisten II Bidang Ekonomi Pemkot Banjarmasin tersebut.
Sementara elpiji di tabung 12 kg HET Rp95 ribu per tabung, tapi yang di OP kan hanya tabung 3 kg,katanya.
Ketika ditanya bentuk sanksi terhadap pangkalan yang menjual gas melebihi HET, ia menyebutkan bila terbukti  menjual elpiji melehi HET maka sanksinya Pencabutan Hubungan Usaha (PHU), dan pangkalan tak boleh lagi menjual elpiji.
Dengan adanya OP tersebut diharapkan pasaran elpiji kembali normal dan masyarakat mudah memperoleh gas dengan harga normal sesuai HET Rp15.500, per tabung, tambahnya.
Kendati menurut Bambang sudah dilakukan OP elpiji dan ancaman sanksi bagi yang menjual gas di atas harga HET, tetapi ternyata sekarang kondisi di pasaran tetap saja langka, dan harganya walau tak sampai Rp25 ribu lagi per tabung, tetapi tetap saja mahal dibandingkan HET.
Melihat kondisi demikian telah merisaukan banyak pihak termnasuk
Gubernur Kalimantan Selatan H Rudy Ariffin, yang kemudian meminta pemerintah menunda pencabutan subsidi mitan terutama di provinsinya.
Menurut Gubernur Kalsel kepada pers di gedung DPRD Kalsel, sebagian besar masyarakat masih belum siap dengan konversi mitan ke gas elpiji.
Selain itu, persiapan dari operator pemerintah, untuk konversi mitan ke elpij juga terkesan belum siap betul, seperti harga jual gas elpiji, terutama pada tabung isi tiga kilogram yang masih tak stabil dan terkadang kosong.
“Dengan pertimbangan atas beberapa hal tersebut, pemerintah hendaknya tetap menyalurkan mitan bersubsidi agar tidak menimbulkan keresahan masyarakat,” pintanya.
“Kita menyambut positif terhadap program konversi mitan ke elpiji, tapi hendaknya dilakukan sosialsasi yang berkelanjutan dan lebih mantap lagi, serta persiapan-persiapan secara matang terlebih dahulu,” kata Rudy Ariffin.
Rudy Ariffin juga mengaku sepakat dengan usulan Ketua Himpunan Swasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswanamigas) Addy Choiruddin yang meminta Pertamina agar mitan bersubsidi yang ditarik di beberapa daerah untuk dikembalikan lagi agar mitan murah tetap tersedia
Pihaknya sudah meminta kepada Pertamina untuk serius menangani permasalahan gas elpiji di Kalsel. Ia khawatir, melambungnya harga gas elpiji di pasaran akan mempengaruhi kestabilan ekonomi daerah.
“Beberapa waktu lalu kita sudah minta perhatian kepada Pertamina. Kita monitor harga elpiji 12 kilogram di atas Rp150 ribu bahkan ada yang Rp195ribu. Minyak tanah di atas Rp9 ribu, saya sudah meminta kepada Pertamina untuk segera melakukan pemulihan harga,” tegasnya.
Permasalahan kelangkaan gas dan melambungnya harga, menurut Rudy, tak lepas dari kegagalan program konversi gas di Kalsel.
Melihat kkenyataan tersebut, berbagai kalangan meminta pemerintah mempertimbangkan kembali konversi mitan ke elpiji, dan kalau konversi  itu tetap harus dilakukan dengan berbagai pertimbangan kepentingan negara seharusnya rakyat jangan sampai menderita seperti sekarang ini.

Rplika

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: