“BAGARAKAN” BUDAYA RAMADAN KIAN TERLUPAKAN

Oleh Hasan Zainuddin


Sekelompok remaja putra  berkeliling kampung seraya memukul aneka peralatan dapur, seperti panci, wajan, ember, cangkul,  jeregen, bahkan drum  hingga mengeluarkan bunyi berirama.

Sesekali mereka bersuara “sahuuuuur,” “sahuuuuur,” begitulah kebiasaan anak muda di beberapa desa provinsi Kalimantan Selatan saat bulan Ramadan.

Kegiatan yang disebut “bagarakan” (membangunkan orang tidur) tersebut sudah terbiasa dilakukan remaja putra saat membangunkan warga muslim yang ingin makan sahur.

Karenanya bagarakan hanya untuk membangunkan warga makan sahur, maka kegiatan itu dilakukan setelah waktu menunjukan pukul 02:00 dini hari hingga imzak.

“Bagarakan saat sahur ini merupakan hiburan tersendiri bagi anak muda di desa,karena itu tak pernah dilewatkan kegiatan tersebut saat Ramadan,”kata Mahlan (60 tahun) tokoh masyarakat Desa Inan Kecamatan Paringin Selatan, Kabupaten Balangan.

Menurut Mahlan, sewaktu ia masih remaja dulu tahun 60-an pernah membentuk sebuah grup bagarakan sahur di kampungnya.

Grup mereka tersebut hampir setiap malam melakukan kegiatan dari kampung yang satu ke kampung yang lain.

Saat itu, bukan hanya peralatan dapur yang menjadi media bunyi-bunyian tetapi ada yang memanfaatkan biola, babun, dan gong yang mengalunkan irama seni tradisi suku Banjar.

Kala itu hampir semua kampung di wilayah kaki Pegunungan Meratus tersebut membentuk grup bagarakan, mereka umumnya menyebutkan sebagai grup “pargum” (persatuan guring melandau).

Antara grup kampung yang satu dengan kampung yang lain selalu menampilkan grup yang terbaik, artinya dengan peralatan bunyi-bunyian yang lebih baik dan enak di didengar.

Bahkan antar grup menampilkan juga atraksi, seperti tari-tarian, seni “kuntau” (semacam pencak silat), kuda gepang, dan atraksi seni tradisi lainnya seperti lamut, madihin,atau kasidahan.

“Bahkan yang lebih seru lagi, bagarakan tidak hanya dilakukan satu grup di kampung itu saja, tetapi melibatkan juga orang tua di kampung itu, seperti dalam acara “bapangantinan” (kawin-kawinan tiruan),” kata Mahlan.

Sebab, katanya lagi, pada era tersebut acara bagarakan sahur dilakukan “bahaharatan” (semacam kontes) antara kampung yang satu dengan kampung yang lain yang dilakukan secara bergantian.

Artinya bila malam ini kampung yang satu melakukan pegelaran ke kampung yang lain, maka malam berikutnya kampung yang lain itu harus membalasnya dengan menampilkan atraksi bagarakan ke kampung yang melakukan pegelaran bagarakan terdahulu begitu seterusnya balas berbalas.

Akibat balas berbalas setiap malam itu maka grup yang satu berusaha menyajikan acara bagarakan lebih semarak, maka tak jarang bagarakan sahur tak sebatas membunyikan peralatan dapur tetapi sudah merupakan bentuk atraksi seni hiburan rakyat di saat Ramadan.

Bahkan pernah,katanya menceritakan masa lalunya, ada satu kampung membalas pertunjukan hiburan tersebut setelah lebaran,karena untuk membalas saat Ramadan keburu waktunya sudah habis, agar tidak merasa kalah mereka pun membalasnya saat hari idul fitri kedua.

Seperti atraksi seni “naga-naga-an” yang dilakukan oleh warga Pandam Kecamatan Awayan untuk membalas terhadap grup pemuda Inan Kecamatan Paringin, pada tahun sekitar tahun 65-an, tuturnya sambil tersenyum.

Menurut pengamatannya, bagarakan sahur ini masih terus berkembang hingga awal tahun 90-an, bahkan terakhir memanfaatkan peralatan bunyi-bunyian elekrtonik, seperti karaoke-an, atau pegelaran orkes dangdut.

Tetapi tambahnya, setelah waktu terus berlalu maka hiburan bagarakan sahur mulai awal tahun 90-an hingga tahun 2000-an kian terlupakan saja, walaupun masih terdengar hanya skala kecil.

Perkembangan itu setelah berbagai cara untuk memudahnya membangunkan warga untuk makan sahur, antara lain melalu pengeras suara di surau atau masjid, atau warga sudah terbiasa menggunakan bunyi alarm di handpone pribadi.

Untuk hiburan pun warga sekarang sudah kurang menyukai atraksi tradisi seperti itu lebih suka bermalas-malasan di rumah seraya menyaksikan aneka hiburan melalui layar televisi yang menyajikan atraksi seni saat sahur.

Apalagi sekarang, hampir semua jaringan televisi nasional dan televisi daerah sudah bisa direlay ke berbagai pelosok daerah melalui antena prabola yang kemudian dimodifikasi melalui jaringan kabel yang hingga sambung-menyambung ke rumah rumah penduduk.

Ditambah jaringan listrik masuk desa sudah mencapai 90 persen wilayah Kalsel, siasanya yang tak masuk listrik masuk desa bisa memasang listrik tenaga surya yang mampu menyalakan radio dan televisi di rumah penduduk terpencil sekalipun.

“Kalau dulu, jangan televisi, radio saja susah bisa didengar, maka bagarakan sahur merupakan sebuah hiburan rakyat yang sangat menyenangkan,” kata Mahlan yang merupakan pensiunan guru SDN tersebut.

 

Pelestarian
Setelah sekian lama kegiatan bagarakan sahur kurang terdengar lagi di masyarakat saat Ramadan membuat beberapa kalangan memandang perlu budaya tersebut dilestarikan agar tidak punah.

Salah satu upaya tersebut adalah dilakukan oleh Pemerintah Kota Banjarbaru, yang selalu menggelar lomba bagarakan sahur yang dirangkaikan dengan lomba tanglung (lampu hias).

Lomba di Banjarbaru tersebut, biasanya berlangsung setelah malam salikuran atau malam memasuki malam ke-21 Ramadan, dan lomba yang digagas Pemkot dengan hadiah menarik dari walikota tersebut selalu memeproleh respon oleh pemuda setempat.

Oleh karena itu, setiap lomba selalu banyak grup yang terlibat dan selalu memperoleh dukungan penonton yang melimpah ruah pula.

Selain digelar di Banjarbaru lomba bagarakan sahur juga biasanya di gelar oleh KNPI di Kota Banjarmasin, atau oleh organisasi pemuda dan lomba itupun selalu memperoleh respon.

Tetapi karena hanya lomba maka meriah disaat lomba saja, setelah itu bagarakan sahur kembali hanya tinggal kenangan saja, dan kian terlupakan.

MEMANCING CARA PEMUDA BANJARMASIN BUNUH WAKTU PUASA

Oleh Hasan Zainuddin


Beberapa orang pemuda tampak duduk beralaskan tikar di bawah pohon rindang di tengah persawahan Guntung Papuyu Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan.

Mereka di antaranya duduk sambil mendengarkan lantunan lagu dangdut dari sebuah radio yang dibawa ke lokasi tersebut.

Sementara tangan mereka begitu kosentrasi memegang dan memperhatikan alat pancing yang ditaruh persis pada beberapa lokasi empang (danau kecil) di tengah persawahan tersebut.

“Aku dapat,” kata seorang pemuda berteriak kegirangan tatkala pancingnya dimakan seekor ikan pepuyu (betok), seraya mengambilnya dan menaruh ikan tersebut ke dalam ember yang sudah disediakan.

Hobi memancing seakan muncul di saat bulan puasa ini, dan berdasarkan keterangan Imuh (23), penduduk Laksana Indan Pekauman Kota Banjarmasin ini, hampir setiap hari selama puasa ia memancing bersama kawan-kawannya satu kampung.

“Ramai sekali memancing. Kami selalu ketagihan karena asyik,” kata Imuh, pemuda pengangguran ini.

“Apanya yang asyik,” kata penulis bertanya. “Ya itu ‘jarujutnya’ (saat pancing ditarik-tarik ikan, red), dan kenikmatan seperti itu tak bisa dibeli,” kata Imuh lagi.

Menurut Imuh, saat seperti itu sulit dilukiskan kesenangannya dalam memancing, apalagi bila “jarujutnya” sering sekali terjadi, maka kian asyik saja, rasa tak ingat waktu.

“Kalau memancing itu sering dapat, rasanya waktu ini sangat singkat, saat pagi kami datang ke lokasi ini, tahu-tahu saking asyiknya hari sudah sore aja,” kata Imuh lagi, seraya disambut senyum simpul kawan-kawannya yang berada di lokasi tersebut.
“Oleh karena itu memancing saat bulan puasa sangat cocok bagi kami yang tidak memiliki pekerjaan tetap ini, untuk membunuh waktu,” tuturnya.

Menurut mereka, hasil memancing hanya untuk keperluan rumah tangga mereka saja, dan tidak diperjualbelikan, walau kadangkala hasil yang diperoleh memelebihi kebutuhan, karenanya sebagian diawetkan.

“Lumayan dapat ikan, ketimbang harus beli, lebih baik memancing, apalagi selama Ramadan ini kami tak ada kerjaan, ketimbang nganggur lebih baik mempancing,” tutur Imuh lagi.

Memancing di saat Ramadan, agaknya bukan hanya dilakukan pemuda pengangguran itu saja, tetapi hampir oleh banyak orang, seperti pekerja saat pulang kerja, atau PNS di saat hari libur Sabtu dan Minggu.

Hasil pemantauan penulis, warga yang memancing mudah terlihat di sepanjang Jalan A Yani antara Kota Banjarmasin arah ke Bandara Syamsudin Noor karena di sisi kanan dan kiri jalan merupakan persawahan di mana banyak terdapat sungai-sungai kecil.

Selain itu juga bisa dilihat warga memancing ini di jalan trans Kalimantan antara Kota Banjarmasin arah ke Kuala Kapuas.

Para pemancing juga terlihat di beberapa lokasi Sungai Barito, Sungai Martapura. Jenis ikan yang dipancing antara lain kelabau, patin, puyau, baung, lawang, dan udang.

Namun berdasarkan keterangan, mereka yang hobi memancing itu ada yang memancing hingga berjarak puluhan dan ratusan kilometer dari tempat tinggal, seperti sampai ke Aluh-Aluh, Tabunganen, Handil Suruk, bahkan hingga ke Palingkau dan Dadahub Kalimantan Tengah.

Kian ramainya warga yang berhobi memancing, menyebabkan penjualan umpan dan peralatan pancing juga kian laku.

Menurut seorang pedagang umpan pancing di Pasar Kertak Hanyar kilometer 7 Banjarmasin, dagangannya kian laku pada bulan Ramadan ini karena permintaan akan umpan itu meningkat pula.

Ibu Hasnah, pedagang umpan tersebut menuturkan hampir pasti setiap hari daganganya habis terjual, karena begitu banyaknya warga yang ingin memancing di kawasan tersebut.

Kertak Hanyar merupakan kawasan desa yang berdekatan dengan kawasan persawahan, di mana di lokasi tersebut terdapat banyak empang, danau, atau sungai-sungai kecil yang kesemuanya adalah habitat ikan.

Jenis ikan yang banyak hidup di kawasan tersebut, seperti ikan gabus, pepuyu, sepat, biawan, lele, sepat siam, patung, sanggiringan, lundu, kihung, saluang, puyau, baung, dan aneka ikan air tawar dan ikan rawa lainnya. Jenis ikan ini termasuk ikan yang mudah dipancing.

Hanya saja, lain ikan lain pula umpan pancing, makanya Ibu Hasnah menyediakan aneka umpan, seperti anak lebah madu, anak lebah tabuan, anak lebah kerawai, anak semut merah, ulat bumbung, dan kodok kecil.

“Kalau umpan ikan gabus, kodok kecil atau anak lebah tabuan, umpan ikan pepuyu anak lebah kerawai atau ulat bumbung, umpan ikan sepat anak semut merah, ikan sanggiringan umpannya anak lebah madu,” kata Ibu Hasnah.

 

Umpan Ikam Lebah Kerawai dan Lebah Tabuan

Harga umpan yang diperjualbelikan tersebut cukup bervariasi, tetapi jenis lebah kerawai lebih mahal, karena untuk satu keping ukuran kecil saja sudah Rp15 ribu, sementara anak lebah madu satu keping kecil hanya Rp10 ribu.

Sementara anak lebah tabuan, karena semuanya berukuran besar bisa mencapai Rp30 ribu per keping.

Menurut Ibu Hasnah, ia setiap hari selalu berjualan umpan pancing di kawasan tersebut, sebab suplai umpan tersebut datang dari warga berbagai lokasi pedesaan yang setiap hari hanya mencari umpan-umpan pancing ini.

“Kebiasaan warga kota memancing ini ternyata memberikan lapangan pekerjaan baru bagi sebagian warga pedesaan dengan selalu mencari umpan pancing,” kata Ibu Hasnah.

Ibu Hasnah yang selain menjual umpan pancing juga menjual peralatan pancing lainnya, seperti tali nelon, mata kail, termasuk “tantaran” (batangan bambu kecil yang dikeringkan) sebagai batang pancing.

Mengenai tantaran pun menurut ibu beranak dua tersebut didatangkan oleh warga dari desa pula yang tentu memberikan lapangan pekerjaan pula bagi warga ini, karena tantaran bisa dijual antara Rp5 hingga Rp10 ribu per batang.

Untuk batang kail ini, memang sekarang sudah ada yang menggunakan lebih modern, seperti yang terbuat dari fiber glass, mika dan bahan alumunium.

Tetapi sebagian besar warga di Banjarmasin masih menyenangi batang pancing yang terbuat dari bambu ini, karena menurut keyakinan mereka batang bambu punya berkah dan ikan lebih suka memakan umpan pancing dari batang bambu ketimbang bahan modern lainnya.

Dengan banyaknya warga senang memancing ini memunculkan perdagangan alat memancing di mana-mana, seperti yang terlihat di Pasar Lima Banjarmasin, dari peralatan pancing tradisional hingga peralatan pancing semi modern dan modern.

Penjualan alat pancing itu juga terlihat di Pasar Lama, Kayu Tangi, Teluk Dalam, Pasar Antasari, Pasar Kuripan, dan sentranya di kertak Hanyar kilometer 7 Banjarmasin ini.

Memancing ternyata bukan sekedar hobi perintang waktu puasa, tetapi juga memiliki manfaat lain bagi perekonomian masyarakat, setidaknya bagi sebagian warga sekitar Kota Banjarmasinini.

“KOLANG KALING” MAKANAN PENYEGAR BUKA PUASA

Oleh Hasan Zainuddin


Suara bergurau terdengar memecah kesunyian kawasan semak belukar di belakang pemukiman penduduk Desa Panggung Kecamatan Paringin Selatan, Kabupaten Balangan Provinsi Kalimantan Selatan.

Suara tersebut ternyata datang dari dua remaja putra kakak beradik, Ifan dan Udin warga setempat yang sedang memanjat sebatang pohon enau (aren) di lokasi tersebut.

Setandan buah enau yang disebut penduduk setempat “timbatu” diboyong ke rumah mereka, tentu saja buah yang diambil yang bewarna hijau, bukan bewarna hijau kehitaman atau kekuningan.

Yang berarti buah yang mereka ambil tersebut masih terbilang muda, kemudian buah tersebut mereka bakar dengan kayu bakar setelah beberapa saat buah itupun layu dan ada yang terlihat angus dengan warna kehitaman.

Kemudian buah yang dibakar didinginkan, serta merta mereka berdua mengambil dua buah pisau lalu satu persatu isi buah enau yang disebut kolang kaling tersebut diambil dan ditempatkan pada sebuah wadah yang diberi air kapur.

Ketika ditanya mereka menceritakan proses pengambilan kolang kaling harus melalui proses pembakaran buah enau, sebab buah enau mengandung getah yang bila terkena kulit tangan maka rasanya gatal sekali.

“Kami pernah mencoba mengambil kolang kaling tanpa proses pembakaran buah enau, maka kulit tangan kami gatal sekali, dan menyebabkan kulit merah-merah dan iritasi dan sulit diobati,” kata Ifan.

Dengan kejadian tersebut mereka pun tak berani lain main-main mengolah makanan tersebut tanpa harus dibakar.

Selain dibakar menurut mereka bisa pula dengan cara direbus dalam “kawah” (wajan besar), maksudnya sama agar menghilangkan getah dalam buah tersebut.

Setelah kolang kaling terkumpul dalam wadah khusus yang diberi air kapur, biji kolang kaling itu pun dibersihkan pula dengan mengambil benda putih di dalam kolang kaling, benda itu nantinya bisa menjadi tunas kalau buah sudah tua, tutur Udin menambahkan.

Sebab benda putih dalam kolang kaling itupun kalau tak dibuang bisa menyebabkan gatal pula bila kolang kaling dikonsumsi, tambahnya lagi.

Menurut mereka kolang kaling tersebut hanya keperluan sendiri, dan itupun sering dilakukan saat Ramadhan ini saja sementara hari-hari biasa jarang dikerjakan.

Sebab, buah kolang kaling enak untuk berbuka puasa karena sifatnya yang menyegarkan, bila dicampur dengan air santan dan sedikit “juruh” (air gula merah).

Mengkonsumsi kolang kaling berbuka puasa bukan kegemaran kedua kakak beradik yang masih duduk di bangku sekolah tersebut, tetapi juga kebanyakan warga lain di Kaki Pegunungan Meratus Kalimantan Selatan tersebut.

Oleh karena itu banyak warga di kawasan tersebut juga mencari kolang kaling ke hutan dan semak belukar, karena wilayah yang berdataran pegunungan di Kabupaten Balangan memang merupakan habitat dari pohon enau, karena itu pula kawasan tersebut merupakan sentra pembuatan gula aren.

Tetapi sebagian besar warga mencari kolang kaling hanya untuk keperluan sendiri, dan beberapa warga saja yang mencarinya untuk dijual lagi untuk menambah penghasilan keluarga.

Di Pasar Paringin ibukota Kabupaten Balangan kolang kaling terlihat banyak dijual dengan harga bervariasi sekitar Rp12 ribu per kilogram, dan disebutkan oleh penjualnya bahwa permintaan barang tersebut saat bulan puasa ini melonjak hingga seratus persen.

Sementara di pasar terbesar Banjarmasin, Pasar Sentra Antasari kolang kaling dijual antara Rp15 ribu hingga Rp16 ribu per kilogram.

Kolang kaling yang ada di wilayah Kalsel ini, ada yang dibiarkan tetap bulat putih dan kenyal seperti itu, ada pula yang dibelah-belah dua sehingga terlihat seperti kepingan.

Kemudian ada pula kolang kaling yang diberi pewarna hijau,merah, atau kuning, dan biasanya digunakan untuk bahan es campur, cendol, ronde, dan aneka minuman lainnya.

Di Kota Banjarmasin kolang kaling banyak dijual dan hampir terlihat dimana-mana, terutama di Pasar Wadai Ramadan (Ramadan Cake Fair).

Kolang kaling ditempatkan dalam toples dan biasanya berdampingan dengan toples yang berisikan irisan “bilungka batu” (timun suri) untuk es campur atau es buah.

Kolang kaling yang juga sering disebut sebagai buah atap adalah nama cemilan kenyal mempunyai rasa yang menyegarkan.
Kolang kaling yang dalam bahasa Belanda biasa disebut glibbertjesini, dibuat dari biji pohon aren (Arenga pinnata).

Berdasarkan sebuah hasil penelitian, Kolang kaling memiliki kadar air sangat tinggi, hingga mencapai 93,8 persen, hal itu yang membuat makanan ini menyegarkan bila dikonsumsi.

Dalam setiap 100 gram-nya, kolang kaling juga mengandung 0,69 gram protein, empat gram karbohidrat, serta kadar abu sekitar satu gram dan serat kasar 0,95 gram.

Selain memiliki rasa yang menyegarkan, mengonsumsi kolang kaling juga membantu memperlancar kerja saluran cerna manusia.

Kandungan karbohidrat yang dimiliki kolang kaling bisa memberikan rasa kenyang bagi orang yang mengonsumsinya, selain itu juga menghentikan nafsu makan dan mengakibatkan konsumsi makanan jadi menurun, sehingga cocok dikonsumsi sebagai makanan diet.

Manfaat lain dari makanan ini memang banyak digunakan sebagai bahan campuran beraneka jenis makanan atau minuman misalnya manisan, kolak, ronde, roti, minuman kaleng, dan bajigur dan lain sebagainya.

Sekarang muncul pula aneka produk makanan baru yang menggunakan kolang kaling sebagai bahannya seperti kolang kaling genji, kolang kaling mania, kolang kaling berjuruh.

Kolang kaling selain dapat dimanfaatkan untuk bahan aneka makanan dan minuman, kandungan seratnya juga baik untuk kesehatan.

Serat kolang kaling dan serat dari bahan makanan lain yang masuk ke dalam tubuh menyebabkan proses pembuangan air besar teratur sehingga dapat mencegah kegemukan atau obesitas.

KUE BINGKA PRIMADONA PENGANAN BUKA PUASA

Oleh Hasan Zainuddin


Hampir dipastikan setiap adanya lokasi kue atau penjualan penganan berbuka puasa di Kota Banjarmasin Ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan, selalu saja tersedia kue bingka.

“Memang kue bingka selalu dicari,” kata Kasnah seorang pedagang kue buka puasa di bilangan Jalan Sultan Adam, Banjarmasin Utara Banjarmasin.

Walau kue bingka lebih mahal ketimbang kue lain tetapi kue ini paling laku, dan itu terjadi setiap di saat adanya penjualan penganan bulan Ramadhan di Banjarmasin, kata Kasnah.

Mengutip pengakuan pembeli, Kasnah menyebutkan diminatinya jenis kue ini karena rasanya manis, dengan rasa manis maka saat berbuka puasa cepat memulihkan tenaga.

Selain itu, kata Kasnah, yang mengaku selalu berjualan kue bingka saat bulan puasa tersebut, kue bingka rasanya renyah,legit dan mudah dicerna, sehingga dinilai cocok untuk makanan berbuka puasa.

Oleh karena itu dari 41 macam kue atau penganan berbuka puasa biasanya kue bingka selalu menjadi primadona, dan dipajangpun lebih menonjol ketimbang kue-kue lain di meja jualan, tambahnya.

Tak ada yang tahu persis mulainya budaya membuat kue bingka di kalangan warga tanah Banjar Kalimantan Selatan, tetapi ada yang mengkaitkannya budaya membuat kue tersebut sudah ada sejak berdirinya kerajaan Melayu di wilayah tersebut.

Konon dulu kue bingka selalu dikaitkan dengan aroma pandan, karena selalu dicampur daun pandan, warna kue itupun selalu agak kehijauan.

Tetapi belakangan kue bingka sudah dimodifikasi, menjadi sedikitnya tujuh macam, bukan hanya dengan pandan tetapi dengan kentang, tape ketan, tape ubi, telur, bahkan belakangan sudah dicampur dengan keju dan coklat.

Berdasarkan pemantauan penulis, kue bingka tersebut bukan saja terlihat menonjol di tempat-tempat penjualan penganan skala kecil di kota Banjarmasin, tetapi jugan di sentra penjualan penganan berbuka puasa terbesar “Pasar Wadai Ramadhan” (Ramadhan Cake Fair).

Namun dari sekian lokasi penjualan kue bingka ini paling popoler dan dicari adalah bingka yang disebut Bingka Thambrin dan Bingka Bunda.

Harga kue bingka cukup bervariasi, dari hanya Rp15 ribu per buah hingga Rp50 ribu per buah, tergantung besar kecil, campuran yang meningkatkan kualitas, dan dari produksi orang tertentu.

Kue bingka adalah kue berbahan baku utama tepung terigu, santan, telur ayam, gula pasir yang bentuknya menyerupai bunga yang sedang mekar dengan enam sudut.

Menurut keterangan kue bingka bukan saja disenangi warga Suku Banjar di Tanah banjar Kalsel, tetapi juga pendatang.

Haji Thambrin seorang perajin kue bingka yang juga dikenal sebuah salon kecantikan tersebut pernah bercerita mengenai usahanya memproduksi kue khas Banjar tersebut.

Menurut pemuda warga Jalan Sultan Adam tersebut bingka tidak hanya disukai masyarakat Kalsel atau urang Banjar. Tapi banyak pula masyarakat luar daerah yang menyenangi, karena seringkali bingka produksinya dibeli pendatang dari berbagai nusantara bahwakan dibawa ke luar negeri, antara lain ke Malaysia dan Brunei Darussalam.

Selama Ramadan, Haji Thambrin memproduksi ratusan buah bingka per hari, dan mempekerjakan belasan pekerja.

41 macam

Di dalam masyarakat Suku Banjar Kalsel, kue bingka satu di antara 41 macam penganan yang secara turun temurun dibuat untuk makanan, tak hanya bulan puasa tetapi juga bulan maulud, dan hari-hari biasa.

Kue-kue olahan warga di wilayah bagian selatan pulau terbesar di Indonesia tersebut, dikenal manis-manis karena karena banyak kandungan gula putih dan gula merah seperti gula aren.

Konon kue Banjar dibuat memang harus manis karena warga setempat termasuk masyarakat pekerja yang memerlukan kalori besar, untuk bekerja di sawah, ladang, dan kerja memerlukan tenaga besar lainnya.

Kue-kue tersebut, kebanyakan memanfaatkan bahan yang mudah diperoleh di wilayah setempat, seperti tepung beras biasa, beras ketan, sagu, ubi kayu, keladi (talas), gula aren, santan kelapa, pati hampu, bahkan pati biji buah ramania.

Diantara kue-kue atau penganan tersebut tak sedikit yang bernilai magis, karena dibuat untuk salah satu persyaratan keperluan ritual.

Sebagai contoh saja, kue lamang, cingkarok, wajik, cincin, yang dibuat untuk keperluan hiasan nasi ketan, pada acara “batamat al qur’an,” yakni acara seseorang dinyatakan sudah khatam al Qur’an.

Atau kue-kue tertentu seperti sasagon, bubur habang, bubur putih untuk acara kenduri, acara tersebut digelar agar terhindari dari makhluk halus.

Bahkan ada kue-kue tertentu oleh sebagian warga dipercaya bisa membawa berkah dan dibuat sesajen bagi sebuah hajatan.

Banyaknya kue-kue hasil olahan warga Banjar ini bisa dilihat di lokasi pasar kue tahunan yang dikelola Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kota Banjarmasin “Pasar Wadai Ramadan.”
Kue-kue tradisional khas itu seperti kue amparan tatak, kraraban, lamang, cingkarok batu, wajik, kelepon, sari pangantin, sarimuka, putrisalat, cincin, untuk-untuk, gagatas, onde-onde, pare, putu mayang, laksa, kokoleh, bingka barandam, bulungan hayam, kikicak, gayam, kraraban, amparan tatak, agar-agar bagula habang, dan kue tradisonal lainnya.

Selain itu juga menggelar dagangan aneka masakan khas Kalsel, seperti gangan waluh, gangan balamak, papuyu baubar, saluang basanga, masak habang, laksa, lontong, katupat kandangan, soto banjar, gangan kecap haruan, gangan humbut, gangan rabung, pais patin, pais lais, pais baung, karih ayam, karih kambing, dan masakan lainnya.

Saat Ramadhan banyak warga Banjar yang tinggal di perantauan menyempatkan pulang kampung sekedar ingin menikmati kue-kue setempat yang dipajang di kegiatan tahunan tersebut. Di antara kue itu ada yang sulit ditemui pada waktu biasa, sehingga selain bernostalgia dengan kampung halaman juga bernostalgia mengenai makanan.

KELANGKAAN AIR BERSIH SEBUAH ANCAMAN WARGA KALSEL

Oleh Hasan Zainuddin


Banjarmasin, 22/7 (ANTARA) – Pertengahan Juli 2012 tiba-tiba air Sungai Martapura membelah Kota Banjarmasin Kalimantan Selatan berubah warna menjadi keruh pekat dan kuning kemerahan.

Setelah diteliti ternyata air sungai berhulu di Pegunungan Meratus tersebut sudah terkontaminasi kandungan partikel atau kandungan lumpur yang jumlahnya melimpah ruah.

“Kekeruhan tinggi karena partikel mencapai 5000 MTO, padahal idealnya hanya 100 MTO,” kata Direktur Perusahaan Daerah Air Minum(PDAM) Bandarmasih, Kota Banjarmasin, Muslih.

Akibat kekeruhan demikian mengganggu sistem pengolahan air bersih perusahaan air minum, antaranya limbah dihasilkan menjadi luar biasa.

Kekeruhan tinggi semacam itu sudah sering muncul bila terjadi hujan lebat di kawasan hulu, yaitu di kawasan hutan Riam Kanan, Kiam Kiwa atau Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam yang termasuk kawasan Pegunungan Meratus.

Dengan adanya kandungan partikel dalam air Sungai Martapura tersebut sudah menandakan kawasan resapan air di hulu mengalami kerusakan parah.

Kerusakan resapan air diduga penggundulan hutan, penebangan kayu, pertambangan emas, pertambangan biji besi, atau bahkan belakangan kian marak adalah pertambangan batu bara.

Hutan gundul penyebab erosi, bila hujan sedikit saja maka partikel tanah merah, pasir, dan debu dan limbah lainnya ikut larut dan masuk ke dalam sungai, terus mengalir hingga ke Kota Banjarmasin.

Menurut Muslih, kondisi kerusakan resapan air puncak Meratus merupakan sebuah ancaman kelangkaan air bersih, bukan saja warga Banjarmasin, tetapi juga warga Banjarbaru, Martapura Kabupaten Banjar, mengingat kawasan itu mengandalkan air sungai tersebut.

Bukan hanya itu, kata pengamat lingkungan yang juga Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Banjarmasin, Fajar Desira menambahkan, kerusakan puncak Pegunungan Meratus akan menyebabkan sungai-sungai di Kalsel, baik yang mengalir ke kawasan Tanah Bumbu, Tanah Laut, dan Banua Enam (enam kabupaten Utara) Kalsel akan terganggu.

Masalahnya semua sungai di Kalsel berhulu ke kawasan tersebut, dan bila kawasan puncak terganggu akhirnya seluruh wilayah Kalsel akan terganggu suplai air bersih tersebut.

Padahal sumber air bersih di Kalsel tak ada alternatif selain dari sungai.

Sebagai contoh Banjarmasin, kata Fajar Desira yang juga mantan Direktur Teknik PDAM Bandarmasih Kota Banjarmasin ini, air tanah di wilayah ini kurang baik untuk diolah air baku PDAM dengan kandungan besi dan kandungan keasaman yang sangat tinggi.

Sementara air sungai bagian hilir begitu mudah terintrusi air laut,sehingga mengandung kadar garam yang berlebihan dan tak bisa diolah air minum.

Mengandalkan air hujan, wilayah ini tak memiliki sebuah pun lokasi embung atau penampungan air hujan, dan kalau pun itu bisa dilakukan dipastikan pula tetap tidak akan mencukupi kebutuhan.

Pengambilan air Sungai Martapura selama ini dilakukan PDAM Bandarmasih dengan kapasitas 1700 liter per detik, dan mampu memproduksi air bersih terbesar di Kalsel yang melayani bukan saja warga Banjarmasin tetapi juga warga Kabupaten Barito Kuala dan Kabupaten Banjar.

Padahal suplai air Sungai Martapura seratus persen lagi mengandalkan air di kawasan resapan di Pegunungan Meratus tersebut, oleh karena itu bisa dibayangkan bila kondisi resapan air rusak lalu kemana lagi PDAM Bandarmasih harus mencari air baku, kata Fajar Desira.

Tak ada pilihan lain, bagaimana agar kawasan resapan air Pegunungan Meratus tersebut harus terpelihara dengan baik, untuk dijadikan sebagai penyangga air bersih di kawasan ini, tambahnya.

Bukti rusaknya kawasan tersebut terlihat dari kondisi bendungan Riam Kanan yang belakangan debit airnya tidak stabil lagi, bila hujan maka bendungan kebanjiran bila kemarau mudah kekeringan.

“Jika bendungan Riam Kanan dibiarkan seperti sekarang, maka debit air di lokasi itu akan terus menyusut, sehingga daerah ini akan kesulitan air,” kata Dirut PDAM Bandarmasih Kota Banjarmasin, Muslih.

Karena itu, Muslih menyarankan bendungan Riam Kanan sebaiknya dikelola semacam lembaga atau badan khusus yang fokus menjaga kelestarian lingkungan.

Lembaga tersebut misalnya menangani program penghijauan, aliran air, pembangkit listrik, dan aspek lain terkait dengan bendungan tersebut.

“Lembaga tersebut bisa saja semacam Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) atau dikelola Badan Usaha Milik Negara (BUMN),” katanya yang baru saja datang dari Korea Selatan mempelajari masalah air bersih.

Muslih mencontohkan Korea Selatan terdapat sebuah bendungan yang dikelola khusus oleh lembaga semacam BUMN yakni ‘Q-Water’ dan ternyata bendungan itu bermanfaat dalam penyediaan air di wilayah tersebut.

Penanaman Pohon
Guna mengembalikan kelestarian kawasan resapan air tersebut pihak PDAM Bandarmasih mencoba melakukan kegiatan menanam seribu pohon terdiri dari 800 pohon mahoni, 100 angsana, 100 pohon matoa.

Penanaman di kawasan resapan air di Tahura Sultan Adam, diharapkan memancing pihak lain juga melakukan hal serupa agar lingkungan wilayah ini terpelihara.

Tetapi bukan hanya rehabilitasi yang dilakukan, ia pun menghendaki adanya tindakan penyelamatan kawasan tersebut.

Kepala Dinas Kehutanan Kalsel, Rahmadi Kurdi ketika ditanya membenarkan kerusakan kawasan hutan lindung daerah tersebut setelah pencurian kayu dan pertambangan secara liar terus berlangsung di lokasi itu.

Pihaknya melakukan razia minimal satu bulan sekali untuk mengurangi kegiatan merusak hutan wilayah itu.

Disebutkannya 40 persen dari 112 ribu hektare (ha) kawasan Tahura kritis akibat pembalakan hutan, pembakaran, dan pertambangan, dan itu yang menyebabkan kawasan tersebut menjadi rusak.

Hanya saja untuk menjaga kawasan tersebut pihaknya menemui kendala kurangnya polisi hutan. Jumlah polisi hutan untuk menjaga wilayah se Kalsel 3,7 juta hektare hanya 70 orang, sehingga seorang polisi menjaga lahan sekitar 50 ribu hektare, idealnya polisi hutan di Kalsel paling sedikit 200 orang.

Melihat kenyataan tersebut berbagai pihak menyarankan ke seluruh instansi yang berkompeten untuk sama-sama berkomitmen menjaga kawasan resapan air untuk ketersediaan air berkelanjutan.

Gubernur Kalsel diharapkan bertindak tegas terhadap kegiatan penebangan dan pertambangan di lokasi tersebut.

Komitmen lain dari Gubernur Kalsel, adalah penyelamatan kawasan lindung dari aktivitas pembangunan, dan segala aktivitas lainnya seraya melakukan perbaikan sebagai penyematan sumber air.

“RAMADAN CAKE FAIR” ANTARA PELESTARIAN BUDAYA DAN WISATA

Oleh Hasan Zainuddin

Sederetan kios berornamen khas Suku Banjar berjejer di tepian Sungai Martapura atau Jalan Sudirman Kota Banjarmasin, Ibukota Provinsi Kalimantan Selatan.

Ribuan orang berjubel diantara ratusan kios yang menggelar aneka penganan, makanan, dan minuman dan jajanan untuk berbuka puasa di lokasi tersebut.

Diantara pengunjung tak sedikit yang datang diajak kalangan biro perjalanan atau agen-agen wisata untuk menimkati atraksi budaya yang hanya dilaksanalan setahun sekali pada bulan Ramadan tersebut.

“Ramadan Cake Fair (Pasar Wadai Ramadan) kota Banjarmasin ini memang sudah dipublikasi secara luas ke berbagai nusantara dan mancanegara,karena sudah masuk kalender wisata tahunan,” kata Kepala Dinas Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Kota Banjarmasin Noor Hasan.

Karena masuk kalender kepariwisataan maka kegiatan ini setiap tahun digelar, karena di lokasi ini terdapat jenis wisata kuliner, wisata keagamaan, wisata seni budaya khas, serta wisata alam.

Selain untuk kegiatan wisata, pasar wadai ramadan juga diharapkan sebagai sarana pelestarian budaya, khususnya pelestarian kekayaan budaya masyarakat setempat yang mahir mengolah aneka penganan, makanan, dan minuman khas setempat.

Dengan adanya kegiatan tersebut maka diharapkan penganan yang sejak nenek moyang sudah ada di daratan Tanah Banjar Kalsel ini tetap tersedia untuk masyarakat setidaknya saat bulan puasa seperti sekarang ini, tuturnya.

Di Tanah Banjar, dikenal penganan aneka jenis yang disebut sebagai kue 41 macam, disamping aneka jenis makanan dan lauk-pauk yang khas pula dan itu merupakan kekayaan budaya yang hendaknya tak boleh terkikis masuknya makanan dan penganan modern.

Di lokasi pasar kue tahunan yang dikelola Pemkot Banjarmasin ini memang menggelar setidaknya 41 macam kue tradisional khas suku Banjar, di Kalsel, seperti kue amparan tatak, kraraban, lamang, cingkarok batu, wajik, kelepon, sari pangantin, sarimuka, putrisalat, dan cincin.

Kemudian juga tersedia kue untuk-untuk, gagatas,onde-onde, pare, putu mayang, laksa, kokoleh, bingka, bingka barandam, bulungan hayam, kikicak, gayam, kraraban, amparan tatak, agar-agar bagula habang, dan kue tradisonal lainnya.

Selain itu juga menggelar dagangan aneka masakan khas Kalsel, seperti gangan waluh, gangan balamak, papuyu baubar, saluang basanga, masak habang, laksa, lontong, katupat kandangan, soto banjar, gangan kecap haruan, gangan humbut, gangan rabung, pais patin, pais lais, pais baung, karih ayam, karih kambing, dan masakan lainnya.

Wakil Wali Kota Banjarmasin, Iwan Anshari ketika membuka Ramadan Cake Fair, Sabtu (21/7) mengatakan tujuan penyelanggaraan kegiatan tahunan tersebut antara lain, sebagai wahana peningkatan nilai budaya dalam pengembangan seni dan budaya dan kepariwisaraan daerah.

Juga memberikan peluang untuk terbukanya lapangan kerja, karena begitu banyak menampung para pedagang.

Kemudian lagi adalah meningkatkan roda perekonomian masyarakat Kota Banjarmasin dan menekan angka pengangguran disamping memberikan peluang kepada masyarakat untuk melakukan inovasi dan kreativitas seni dan budaya khas setempat.

Disebutkan pada lokasi Ramadan Cake Fair yang selelanggarakan Pemkot Banjarmasin ini menyediakan sedikitnya 140 kios disamping lokasi-lokasi atau lapak pedagang bakulan (pedagang memanfaatkan bakul).
Selain lokasi tersebut, di kota Banjarmasin juga terdapat puluhan lagi kegiatan serupa yang dikelola oleh masyarakat itu sendiri, yang kesemuanya menjadi daya pikat tersendiri bagi pendatang ke kota yang berjuluk kawasan seribu sungai tersebut.

Untuk menambah kesemarakan lokasi budaya dan wisata ini disediakan pula lokasi untuk hiburan tari-tarian, kasidahan, atau musik tradisional setempat, dan musik Islami lainnya.

Lokasi ini selain untuk mencari penganan berbuka puasa dan menikmati wisata tak sedikit pula orang menjadikan pasar wadai sebagai lokasi ngabuburit (menunggu bedug berbuka puasa).

Karena itu, tak heran bila ada sekelompok muda mudi berjalan santai sambil bercanda gurau berada di sana hanya untuk “membunuh waktu” hingga berbuka puasa.

Berdasarkan catatan, pasar ramadan ini sudah ada di Banjarmasin sejak tahun 70-an. Saat itu hanya kelompok-kelompok kecil saja, hingga kurang teratur dan mengganggu keindahan kota.

Mulai tahun 80-an oleh Pemko Banjarmasin pedagang itu dikumpulkan di satu lokasi, lalu dinamakan Ramadan Cake Fair.

Sejak itu pula lokasi ini dinyatakan sebagai atraksi wisata tahunan.
Untuk memperkuat lokasi ini sebagai objek wisata maka digelar pula berbagai pertunjukan rakyat, seperti madihin, lamut, jepin, dan tarian serta seni-seni tradisi lainnya.

Saat Wali Kota Banjarmasin,Kamarudin pedagang wadai ini dikumpulan menjadi satu lokasi yang pertama berada di Jalan RE Martadinata.

Dengan berkumpulnya pedagang wadai itu memperoleh sambutan positip masyarakat Umat Islam karena memudahkan mereka mencari hidangan berbuka puasa.

Tetapi respon cukup menarik justru datang dari kalangan wisatawan, dimana banyak sekali kunjungan wisatawan ke lokasi tersebut.

Akhirnya oleh Pemko Banjarmasin bahkan oleh Pemprop Kalsel, lokasi itu lebih dikembangkan yang tak sekedar tempat berjualan tetapi sebagai atraksi wisata tahunan dan atraksi budaya hingga populer sampai sekarang.

“POHON DUIT” UBAH GAYA HIDUP PETANI KARET

Oleh Hasan Zainuddin


Banjarmasin, 18/7 (ANTARA)- Nyaris setiap buah rumah di lokasi pemukiman sentra perkebunan karet rakyat Desa Panggung dan Inan Kecamatan Paringin Selatan, Kabupaten Balangan Provinsi Kalimantan Selatan terpampang antena prabola.

Padahal satu dasawarsa lalu kawasan itu masih terlihat banyak tali temali dawai sebagai alat memperkuat antena radio.

Begitu pula di banyak halaman rumah kawasan setempat terparkir aneka jenis mobil dan kendaraan roda dua aneka merk, padahal sebelumnya memiliki sebuah sepeda pun, sudah dinilai sebagai orang yang terbilang kaya.

Perubahan drastis gaya hidup warga yang berada di kaki Pegunungan Meratus tersebut terjadi setelah begitu banyak warga kian serius menggeluti perkebunan karet, dan menyulap wilayah padang alang-alang, semak belukar, gunung gundul menjadi sebuah hamparan hijau pohon karet.

Apalagi teknologi budidaya tanaman karet dari varietas kampung ke karet varietas unggul kian dikuasai, membuat warga setempat kian ketagihan menggeluti usaha yang tidak memerlukan investasi mahal dan memeras otak tersebut.

“Warga kami sekarang tidak lagi merasa rendah diri dengan orang-orang yang datang di kota, atau mereka yang berprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), karena kalau diukur tingkat penghasilan kami sudah bisa mengimbangi,” kata Pak Duar tokoh warga Inan dalam perbincangan dengan penulis.

Menurut, Duar kalau dulu bila ada orang berbaju seragam PNS maka warga desa banyak yang merasa minder bergaul, karena dinilai PNS kelompok warga yang sejahtera, sementara petani karet dinilai kelompok warga yang miskin.

Tetapi sekarang sudah tidak memandang lagi sebuah atribut PNS atau petani karet tetapi yang dinilai adalah isi kantong, tebal atau tipis, kata Duar sambil tersenyum seraya menepuk-nepuk sakunya.

Didampingi beberapa warga lain dalam obrolan saat menghadiri acara perkawinan Minggu (15/7) lalu di desa tersebut, Duar menyebutkan perubahan tersebut terjadi setelah harga karet alam terus membaik dan bertani jenis komoditi tersebut tak pernah tergerus sebuah resesi ekonomi, baik resesi ekonomi nasional maupun resesi ekonomi global.

Bahkan saat nilai rupiah anjlok ke tingkat paling rendah terhadap nilai Dolar AS di saat itu pula harga karet justru melambung melebihi harga komoditi-komoditi lain, sebab karet adalah komoditi ekspor yang harga jualnya dihitung dengan nilai mata uang Dolar AS.

Seperti masa transisi pemerintahan orde baru ke reformasi dulu dimana nilai rupiah anjlok warga setempat malah menikmati membaiknya harga karet, kata warga lain menambahkan.

Melihat kenyataan tersebut, maka banyak warga bukan saja di dua desa itu tetapi hampir seluruh kawasan Kabupaten Balangan, bahkan warga kabupaten lain di Kalimantan Selatan berlomba berkebun karet.

Pohon karet varietas kampung yang tua ditebang dikonversi dengan karet varietas unggul yang tingkat produksinya besar, lahan terlantar digarap menjadi lahan karet, dan nyaris tak ada lagi lahan yang tak bernilai.

Bahkan pula lahan-lahan yang tadinya dianggap marginal, seperti rawa, lereng gunung, dan lahan kering pun semuanya diperebutkan untuk perluasan tanaman yang memproduksi bahan baku ban kendaraan bermotor tersebut.

Kepala Desa Panggung, Iyus menuturkan kegairahan berkebun karet tersebut membuat warga desanya tak sungkan lagi bertanya mengenai cara berkebun karet kepada para penyuluh pertanian, atau kepada mereka yang mengerti tentang karet.

Akibat dari usaha tersebut tak sedikit produksi karet setempat yang terus membaik karena ada satu varietas unggul yang mampu memproduksi lateks satu liter per pohon per hari.

“Bisa dibanyakkan, seandainya warga memiliki seratus pohon saja maka sudah mampu memproduksi seratus liter lateks, kalau dibekukan sudah menjadi puluhan kilogram karet jenis lum, kalau dijual karet lum dengan harga Rp10 ribu saja per kilogramnya maka sudah berapa hasil yang diperoleh petani setiap hari,” tuturnya.

Kegairahan petani tersebut telah terjadi sejak satu dasawarsa belakangan ini, hal itu mereka pun terus berkebun, apalagi harga kebun karet terus membumbung.

Satu hektare kebun karet dengan jumlah 350 pohon sekarang sudah senilai Rp100 juta, bahkan kalau bibit karet yang ditanam kualitasnya lebih baik lagi, artinya yang mampu memproduksi satu liter per pohon maka harganya akan lebih mahallagi.

Padahal menjadikan sebuah kebun dari persiapan lahan pembibitan hingga pohon bisa dipanen hanya menelan waktu empat tahun saja.

Oleh karena itu bila seorang petani memiliki kebun beberapa buah kalau hendak memiliki sebuah mobil, cukup dengan menjual satu kebun saja maka sudah bisa membeli mobil.

Apalagi sekarang banyak orang kaya di kota yang ingin berinvestasi ke kebun karet, sehingga bila ada yang ingin menjual kebun banyak yang ingin membelinya.

Oleh karena itu ada anggapan menanam sebatang pohon karet berarti sama dengan menanam sebatang “pohon duit.”
Semakin mahal harga karet semakin menikmati hasil yang diperoleh petani karet, dan sebelumnya harga karet pernah menyentuh Rp16 ribu per kilogram di saat itu pula petani karet menikmati usaha mereka dengan cara terus menabung kemudian membeli berbagai keperluan seperti mobil, sepeda motor, prabola, televisi besar dan pakaian bagus, sebagai layaknya warga kota.

Menikmati hidup dengan kebun karet tersebut banyak dirasakan masyarakat di provinsi ini,karena kebun karet merata di 13 kabupaten/kota kecuali di Kota Banjarmasin, Banjarbaru, dan Barito Kuala.

Berdasarkan data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Kalsel, sampai dengan saat ini Luas areal tanaman karet di Kalimantan Selatan mencapai 182.527 Hektare.

Luasan tersebut terdiri dari perkebunan Rakyat 182.527 Hektare dengan produksi 113.250 ton, Perkebunan Besar Swasta (PBS) 13.168 hektare dengan produksi 11.753 ton dan Perkebunan Besar Negara (PBN) 14.545 hektare dengan produksi 7.590 ton per tahun.

Kendati sekarang harga karet turun tidak menyurutkan warga untuk terus menggeluti usaha tersebut, karena mereka yakin berdasarkan pengalaman karet termasuk komoditi yang fluktuasi harga begitu sering terjadi dan diyakini harga tersebut akan kembali membaik.

buat lum
Potensi besar
Pengamat ekonomi nasional Cyrillus Harinowo Hadiwerdoyo saat berada di Banjarmasin pun memastikan harga karet akan tetap membaik di kemudian hari.

Kepastian tersebut mengingat kebutuhan karet internasional tahun mendatang masih cukup besar, sehingga pemerintah harus bisa mengambil peran membantu petani memelihara produksi karet nasional.

Menurut Harinowo saat menjadi pembicara pada seminar di kantor Bank Indonesia Banjarmasin, Senin (16/7) pemerintah harus berani membeli karet petani pada saat harga karet anjlok seperti saat ini.

“Fungsinnya seperti Bulog, yaitu melakukan pembelian beras petani pada saat harga di pasaran anjlok, begitu juga halnya dengan karet,” katanya.

Dengan demikian, kata dia, pada saat harga karet kembali beranjak naik, pemerintah bisa kembali menjual dengan harga pasaran atau minimal sama dengan pembelian harga karet ke petani.

Sehingga tambah Harinowo, stabilitas harga karet dan produksi petani bisa terjaga, kendati harga karet sedang dalam kondisi turun atau anjlok.

Hal tersebut dilakukan mengingat fluktuasi harga karet cukup besar, sehingga petani karet harus dilindungi sebagaimana petani beras.

Menurut Harinowo, kebutuhan karet internasional masih akan cukup besar, seiring dengan pertumbuhan industri mobil yang terus menggeliat.

Berdasarkan data, kata dia, pada 2012 ini saja produksi mobil meningkat hingga delapan persen menjadi 70 juta unit.

Pertumbuhan prouduksi mobil tersebut, tambah dia, akan beriringan dengan pertumbuhan produksi ban yang bahan baku utamanya tetap harus menggunakan karet alam, kendati saat ini industri karet sintetis juga cukup besar.

“Karet alam masih akan dibutuhkan sampai kapanpun karena tidak mungkin pembuatan ban seratus persen menggunakan karet sintetis,” katanya.

Sedangkan negara dengan produksi karet terbesar hanya ada tiga yaitu, Thailan, Indonesia dan Malaysia.

Dengan demikian, kata dia, prospek pasar karet Indonesia sangat besar tinggal upaya pemerintah untuk terus mendorong masyarakat memanfaatkan karet bibit unggul dan program-program peningkatan kualitas yang harus terus digalakkan.

Yang penting pula bagaimana kegairahan petani yang sudah tumbuh dan berkembang di sentra-sentra kebun karet untuk memperluas kebun mereka.

Sebagaimana diketahui, saat ini harga karet alam anjlok dari sebelumnya Rp16 ribu per kilogram menjadi Rp6 ribu hingga Rp7 ribu per kilogram, kondisi tersebut sangat memukul bila tidak ada penanganan yang serius dari pemerintah.