“BAGARAKAN” BUDAYA RAMADAN KIAN TERLUPAKAN

Oleh Hasan Zainuddin


Sekelompok remaja putra  berkeliling kampung seraya memukul aneka peralatan dapur, seperti panci, wajan, ember, cangkul,  jeregen, bahkan drum  hingga mengeluarkan bunyi berirama.

Sesekali mereka bersuara “sahuuuuur,” “sahuuuuur,” begitulah kebiasaan anak muda di beberapa desa provinsi Kalimantan Selatan saat bulan Ramadan.

Kegiatan yang disebut “bagarakan” (membangunkan orang tidur) tersebut sudah terbiasa dilakukan remaja putra saat membangunkan warga muslim yang ingin makan sahur.

Karenanya bagarakan hanya untuk membangunkan warga makan sahur, maka kegiatan itu dilakukan setelah waktu menunjukan pukul 02:00 dini hari hingga imzak.

“Bagarakan saat sahur ini merupakan hiburan tersendiri bagi anak muda di desa,karena itu tak pernah dilewatkan kegiatan tersebut saat Ramadan,”kata Mahlan (60 tahun) tokoh masyarakat Desa Inan Kecamatan Paringin Selatan, Kabupaten Balangan.

Menurut Mahlan, sewaktu ia masih remaja dulu tahun 60-an pernah membentuk sebuah grup bagarakan sahur di kampungnya.

Grup mereka tersebut hampir setiap malam melakukan kegiatan dari kampung yang satu ke kampung yang lain.

Saat itu, bukan hanya peralatan dapur yang menjadi media bunyi-bunyian tetapi ada yang memanfaatkan biola, babun, dan gong yang mengalunkan irama seni tradisi suku Banjar.

Kala itu hampir semua kampung di wilayah kaki Pegunungan Meratus tersebut membentuk grup bagarakan, mereka umumnya menyebutkan sebagai grup “pargum” (persatuan guring melandau).

Antara grup kampung yang satu dengan kampung yang lain selalu menampilkan grup yang terbaik, artinya dengan peralatan bunyi-bunyian yang lebih baik dan enak di didengar.

Bahkan antar grup menampilkan juga atraksi, seperti tari-tarian, seni “kuntau” (semacam pencak silat), kuda gepang, dan atraksi seni tradisi lainnya seperti lamut, madihin,atau kasidahan.

“Bahkan yang lebih seru lagi, bagarakan tidak hanya dilakukan satu grup di kampung itu saja, tetapi melibatkan juga orang tua di kampung itu, seperti dalam acara “bapangantinan” (kawin-kawinan tiruan),” kata Mahlan.

Sebab, katanya lagi, pada era tersebut acara bagarakan sahur dilakukan “bahaharatan” (semacam kontes) antara kampung yang satu dengan kampung yang lain yang dilakukan secara bergantian.

Artinya bila malam ini kampung yang satu melakukan pegelaran ke kampung yang lain, maka malam berikutnya kampung yang lain itu harus membalasnya dengan menampilkan atraksi bagarakan ke kampung yang melakukan pegelaran bagarakan terdahulu begitu seterusnya balas berbalas.

Akibat balas berbalas setiap malam itu maka grup yang satu berusaha menyajikan acara bagarakan lebih semarak, maka tak jarang bagarakan sahur tak sebatas membunyikan peralatan dapur tetapi sudah merupakan bentuk atraksi seni hiburan rakyat di saat Ramadan.

Bahkan pernah,katanya menceritakan masa lalunya, ada satu kampung membalas pertunjukan hiburan tersebut setelah lebaran,karena untuk membalas saat Ramadan keburu waktunya sudah habis, agar tidak merasa kalah mereka pun membalasnya saat hari idul fitri kedua.

Seperti atraksi seni “naga-naga-an” yang dilakukan oleh warga Pandam Kecamatan Awayan untuk membalas terhadap grup pemuda Inan Kecamatan Paringin, pada tahun sekitar tahun 65-an, tuturnya sambil tersenyum.

Menurut pengamatannya, bagarakan sahur ini masih terus berkembang hingga awal tahun 90-an, bahkan terakhir memanfaatkan peralatan bunyi-bunyian elekrtonik, seperti karaoke-an, atau pegelaran orkes dangdut.

Tetapi tambahnya, setelah waktu terus berlalu maka hiburan bagarakan sahur mulai awal tahun 90-an hingga tahun 2000-an kian terlupakan saja, walaupun masih terdengar hanya skala kecil.

Perkembangan itu setelah berbagai cara untuk memudahnya membangunkan warga untuk makan sahur, antara lain melalu pengeras suara di surau atau masjid, atau warga sudah terbiasa menggunakan bunyi alarm di handpone pribadi.

Untuk hiburan pun warga sekarang sudah kurang menyukai atraksi tradisi seperti itu lebih suka bermalas-malasan di rumah seraya menyaksikan aneka hiburan melalui layar televisi yang menyajikan atraksi seni saat sahur.

Apalagi sekarang, hampir semua jaringan televisi nasional dan televisi daerah sudah bisa direlay ke berbagai pelosok daerah melalui antena prabola yang kemudian dimodifikasi melalui jaringan kabel yang hingga sambung-menyambung ke rumah rumah penduduk.

Ditambah jaringan listrik masuk desa sudah mencapai 90 persen wilayah Kalsel, siasanya yang tak masuk listrik masuk desa bisa memasang listrik tenaga surya yang mampu menyalakan radio dan televisi di rumah penduduk terpencil sekalipun.

“Kalau dulu, jangan televisi, radio saja susah bisa didengar, maka bagarakan sahur merupakan sebuah hiburan rakyat yang sangat menyenangkan,” kata Mahlan yang merupakan pensiunan guru SDN tersebut.

 

Pelestarian
Setelah sekian lama kegiatan bagarakan sahur kurang terdengar lagi di masyarakat saat Ramadan membuat beberapa kalangan memandang perlu budaya tersebut dilestarikan agar tidak punah.

Salah satu upaya tersebut adalah dilakukan oleh Pemerintah Kota Banjarbaru, yang selalu menggelar lomba bagarakan sahur yang dirangkaikan dengan lomba tanglung (lampu hias).

Lomba di Banjarbaru tersebut, biasanya berlangsung setelah malam salikuran atau malam memasuki malam ke-21 Ramadan, dan lomba yang digagas Pemkot dengan hadiah menarik dari walikota tersebut selalu memeproleh respon oleh pemuda setempat.

Oleh karena itu, setiap lomba selalu banyak grup yang terlibat dan selalu memperoleh dukungan penonton yang melimpah ruah pula.

Selain digelar di Banjarbaru lomba bagarakan sahur juga biasanya di gelar oleh KNPI di Kota Banjarmasin, atau oleh organisasi pemuda dan lomba itupun selalu memperoleh respon.

Tetapi karena hanya lomba maka meriah disaat lomba saja, setelah itu bagarakan sahur kembali hanya tinggal kenangan saja, dan kian terlupakan.

MEMANCING CARA PEMUDA BANJARMASIN BUNUH WAKTU PUASA

Oleh Hasan Zainuddin


Beberapa orang pemuda tampak duduk beralaskan tikar di bawah pohon rindang di tengah persawahan Guntung Papuyu Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan.

Mereka di antaranya duduk sambil mendengarkan lantunan lagu dangdut dari sebuah radio yang dibawa ke lokasi tersebut.

Sementara tangan mereka begitu kosentrasi memegang dan memperhatikan alat pancing yang ditaruh persis pada beberapa lokasi empang (danau kecil) di tengah persawahan tersebut.

“Aku dapat,” kata seorang pemuda berteriak kegirangan tatkala pancingnya dimakan seekor ikan pepuyu (betok), seraya mengambilnya dan menaruh ikan tersebut ke dalam ember yang sudah disediakan.

Hobi memancing seakan muncul di saat bulan puasa ini, dan berdasarkan keterangan Imuh (23), penduduk Laksana Indan Pekauman Kota Banjarmasin ini, hampir setiap hari selama puasa ia memancing bersama kawan-kawannya satu kampung.

“Ramai sekali memancing. Kami selalu ketagihan karena asyik,” kata Imuh, pemuda pengangguran ini.

“Apanya yang asyik,” kata penulis bertanya. “Ya itu ‘jarujutnya’ (saat pancing ditarik-tarik ikan, red), dan kenikmatan seperti itu tak bisa dibeli,” kata Imuh lagi.

Menurut Imuh, saat seperti itu sulit dilukiskan kesenangannya dalam memancing, apalagi bila “jarujutnya” sering sekali terjadi, maka kian asyik saja, rasa tak ingat waktu.

“Kalau memancing itu sering dapat, rasanya waktu ini sangat singkat, saat pagi kami datang ke lokasi ini, tahu-tahu saking asyiknya hari sudah sore aja,” kata Imuh lagi, seraya disambut senyum simpul kawan-kawannya yang berada di lokasi tersebut.
“Oleh karena itu memancing saat bulan puasa sangat cocok bagi kami yang tidak memiliki pekerjaan tetap ini, untuk membunuh waktu,” tuturnya.

Menurut mereka, hasil memancing hanya untuk keperluan rumah tangga mereka saja, dan tidak diperjualbelikan, walau kadangkala hasil yang diperoleh memelebihi kebutuhan, karenanya sebagian diawetkan.

“Lumayan dapat ikan, ketimbang harus beli, lebih baik memancing, apalagi selama Ramadan ini kami tak ada kerjaan, ketimbang nganggur lebih baik mempancing,” tutur Imuh lagi.

Memancing di saat Ramadan, agaknya bukan hanya dilakukan pemuda pengangguran itu saja, tetapi hampir oleh banyak orang, seperti pekerja saat pulang kerja, atau PNS di saat hari libur Sabtu dan Minggu.

Hasil pemantauan penulis, warga yang memancing mudah terlihat di sepanjang Jalan A Yani antara Kota Banjarmasin arah ke Bandara Syamsudin Noor karena di sisi kanan dan kiri jalan merupakan persawahan di mana banyak terdapat sungai-sungai kecil.

Selain itu juga bisa dilihat warga memancing ini di jalan trans Kalimantan antara Kota Banjarmasin arah ke Kuala Kapuas.

Para pemancing juga terlihat di beberapa lokasi Sungai Barito, Sungai Martapura. Jenis ikan yang dipancing antara lain kelabau, patin, puyau, baung, lawang, dan udang.

Namun berdasarkan keterangan, mereka yang hobi memancing itu ada yang memancing hingga berjarak puluhan dan ratusan kilometer dari tempat tinggal, seperti sampai ke Aluh-Aluh, Tabunganen, Handil Suruk, bahkan hingga ke Palingkau dan Dadahub Kalimantan Tengah.

Kian ramainya warga yang berhobi memancing, menyebabkan penjualan umpan dan peralatan pancing juga kian laku.

Menurut seorang pedagang umpan pancing di Pasar Kertak Hanyar kilometer 7 Banjarmasin, dagangannya kian laku pada bulan Ramadan ini karena permintaan akan umpan itu meningkat pula.

Ibu Hasnah, pedagang umpan tersebut menuturkan hampir pasti setiap hari daganganya habis terjual, karena begitu banyaknya warga yang ingin memancing di kawasan tersebut.

Kertak Hanyar merupakan kawasan desa yang berdekatan dengan kawasan persawahan, di mana di lokasi tersebut terdapat banyak empang, danau, atau sungai-sungai kecil yang kesemuanya adalah habitat ikan.

Jenis ikan yang banyak hidup di kawasan tersebut, seperti ikan gabus, pepuyu, sepat, biawan, lele, sepat siam, patung, sanggiringan, lundu, kihung, saluang, puyau, baung, dan aneka ikan air tawar dan ikan rawa lainnya. Jenis ikan ini termasuk ikan yang mudah dipancing.

Hanya saja, lain ikan lain pula umpan pancing, makanya Ibu Hasnah menyediakan aneka umpan, seperti anak lebah madu, anak lebah tabuan, anak lebah kerawai, anak semut merah, ulat bumbung, dan kodok kecil.

“Kalau umpan ikan gabus, kodok kecil atau anak lebah tabuan, umpan ikan pepuyu anak lebah kerawai atau ulat bumbung, umpan ikan sepat anak semut merah, ikan sanggiringan umpannya anak lebah madu,” kata Ibu Hasnah.

 

Umpan Ikam Lebah Kerawai dan Lebah Tabuan

Harga umpan yang diperjualbelikan tersebut cukup bervariasi, tetapi jenis lebah kerawai lebih mahal, karena untuk satu keping ukuran kecil saja sudah Rp15 ribu, sementara anak lebah madu satu keping kecil hanya Rp10 ribu.

Sementara anak lebah tabuan, karena semuanya berukuran besar bisa mencapai Rp30 ribu per keping.

Menurut Ibu Hasnah, ia setiap hari selalu berjualan umpan pancing di kawasan tersebut, sebab suplai umpan tersebut datang dari warga berbagai lokasi pedesaan yang setiap hari hanya mencari umpan-umpan pancing ini.

“Kebiasaan warga kota memancing ini ternyata memberikan lapangan pekerjaan baru bagi sebagian warga pedesaan dengan selalu mencari umpan pancing,” kata Ibu Hasnah.

Ibu Hasnah yang selain menjual umpan pancing juga menjual peralatan pancing lainnya, seperti tali nelon, mata kail, termasuk “tantaran” (batangan bambu kecil yang dikeringkan) sebagai batang pancing.

Mengenai tantaran pun menurut ibu beranak dua tersebut didatangkan oleh warga dari desa pula yang tentu memberikan lapangan pekerjaan pula bagi warga ini, karena tantaran bisa dijual antara Rp5 hingga Rp10 ribu per batang.

Untuk batang kail ini, memang sekarang sudah ada yang menggunakan lebih modern, seperti yang terbuat dari fiber glass, mika dan bahan alumunium.

Tetapi sebagian besar warga di Banjarmasin masih menyenangi batang pancing yang terbuat dari bambu ini, karena menurut keyakinan mereka batang bambu punya berkah dan ikan lebih suka memakan umpan pancing dari batang bambu ketimbang bahan modern lainnya.

Dengan banyaknya warga senang memancing ini memunculkan perdagangan alat memancing di mana-mana, seperti yang terlihat di Pasar Lima Banjarmasin, dari peralatan pancing tradisional hingga peralatan pancing semi modern dan modern.

Penjualan alat pancing itu juga terlihat di Pasar Lama, Kayu Tangi, Teluk Dalam, Pasar Antasari, Pasar Kuripan, dan sentranya di kertak Hanyar kilometer 7 Banjarmasin ini.

Memancing ternyata bukan sekedar hobi perintang waktu puasa, tetapi juga memiliki manfaat lain bagi perekonomian masyarakat, setidaknya bagi sebagian warga sekitar Kota Banjarmasinini.

“KOLANG KALING” MAKANAN PENYEGAR BUKA PUASA

Oleh Hasan Zainuddin


Suara bergurau terdengar memecah kesunyian kawasan semak belukar di belakang pemukiman penduduk Desa Panggung Kecamatan Paringin Selatan, Kabupaten Balangan Provinsi Kalimantan Selatan.

Suara tersebut ternyata datang dari dua remaja putra kakak beradik, Ifan dan Udin warga setempat yang sedang memanjat sebatang pohon enau (aren) di lokasi tersebut.

Setandan buah enau yang disebut penduduk setempat “timbatu” diboyong ke rumah mereka, tentu saja buah yang diambil yang bewarna hijau, bukan bewarna hijau kehitaman atau kekuningan.

Yang berarti buah yang mereka ambil tersebut masih terbilang muda, kemudian buah tersebut mereka bakar dengan kayu bakar setelah beberapa saat buah itupun layu dan ada yang terlihat angus dengan warna kehitaman.

Kemudian buah yang dibakar didinginkan, serta merta mereka berdua mengambil dua buah pisau lalu satu persatu isi buah enau yang disebut kolang kaling tersebut diambil dan ditempatkan pada sebuah wadah yang diberi air kapur.

Ketika ditanya mereka menceritakan proses pengambilan kolang kaling harus melalui proses pembakaran buah enau, sebab buah enau mengandung getah yang bila terkena kulit tangan maka rasanya gatal sekali.

“Kami pernah mencoba mengambil kolang kaling tanpa proses pembakaran buah enau, maka kulit tangan kami gatal sekali, dan menyebabkan kulit merah-merah dan iritasi dan sulit diobati,” kata Ifan.

Dengan kejadian tersebut mereka pun tak berani lain main-main mengolah makanan tersebut tanpa harus dibakar.

Selain dibakar menurut mereka bisa pula dengan cara direbus dalam “kawah” (wajan besar), maksudnya sama agar menghilangkan getah dalam buah tersebut.

Setelah kolang kaling terkumpul dalam wadah khusus yang diberi air kapur, biji kolang kaling itu pun dibersihkan pula dengan mengambil benda putih di dalam kolang kaling, benda itu nantinya bisa menjadi tunas kalau buah sudah tua, tutur Udin menambahkan.

Sebab benda putih dalam kolang kaling itupun kalau tak dibuang bisa menyebabkan gatal pula bila kolang kaling dikonsumsi, tambahnya lagi.

Menurut mereka kolang kaling tersebut hanya keperluan sendiri, dan itupun sering dilakukan saat Ramadhan ini saja sementara hari-hari biasa jarang dikerjakan.

Sebab, buah kolang kaling enak untuk berbuka puasa karena sifatnya yang menyegarkan, bila dicampur dengan air santan dan sedikit “juruh” (air gula merah).

Mengkonsumsi kolang kaling berbuka puasa bukan kegemaran kedua kakak beradik yang masih duduk di bangku sekolah tersebut, tetapi juga kebanyakan warga lain di Kaki Pegunungan Meratus Kalimantan Selatan tersebut.

Oleh karena itu banyak warga di kawasan tersebut juga mencari kolang kaling ke hutan dan semak belukar, karena wilayah yang berdataran pegunungan di Kabupaten Balangan memang merupakan habitat dari pohon enau, karena itu pula kawasan tersebut merupakan sentra pembuatan gula aren.

Tetapi sebagian besar warga mencari kolang kaling hanya untuk keperluan sendiri, dan beberapa warga saja yang mencarinya untuk dijual lagi untuk menambah penghasilan keluarga.

Di Pasar Paringin ibukota Kabupaten Balangan kolang kaling terlihat banyak dijual dengan harga bervariasi sekitar Rp12 ribu per kilogram, dan disebutkan oleh penjualnya bahwa permintaan barang tersebut saat bulan puasa ini melonjak hingga seratus persen.

Sementara di pasar terbesar Banjarmasin, Pasar Sentra Antasari kolang kaling dijual antara Rp15 ribu hingga Rp16 ribu per kilogram.

Kolang kaling yang ada di wilayah Kalsel ini, ada yang dibiarkan tetap bulat putih dan kenyal seperti itu, ada pula yang dibelah-belah dua sehingga terlihat seperti kepingan.

Kemudian ada pula kolang kaling yang diberi pewarna hijau,merah, atau kuning, dan biasanya digunakan untuk bahan es campur, cendol, ronde, dan aneka minuman lainnya.

Di Kota Banjarmasin kolang kaling banyak dijual dan hampir terlihat dimana-mana, terutama di Pasar Wadai Ramadan (Ramadan Cake Fair).

Kolang kaling ditempatkan dalam toples dan biasanya berdampingan dengan toples yang berisikan irisan “bilungka batu” (timun suri) untuk es campur atau es buah.

Kolang kaling yang juga sering disebut sebagai buah atap adalah nama cemilan kenyal mempunyai rasa yang menyegarkan.
Kolang kaling yang dalam bahasa Belanda biasa disebut glibbertjesini, dibuat dari biji pohon aren (Arenga pinnata).

Berdasarkan sebuah hasil penelitian, Kolang kaling memiliki kadar air sangat tinggi, hingga mencapai 93,8 persen, hal itu yang membuat makanan ini menyegarkan bila dikonsumsi.

Dalam setiap 100 gram-nya, kolang kaling juga mengandung 0,69 gram protein, empat gram karbohidrat, serta kadar abu sekitar satu gram dan serat kasar 0,95 gram.

Selain memiliki rasa yang menyegarkan, mengonsumsi kolang kaling juga membantu memperlancar kerja saluran cerna manusia.

Kandungan karbohidrat yang dimiliki kolang kaling bisa memberikan rasa kenyang bagi orang yang mengonsumsinya, selain itu juga menghentikan nafsu makan dan mengakibatkan konsumsi makanan jadi menurun, sehingga cocok dikonsumsi sebagai makanan diet.

Manfaat lain dari makanan ini memang banyak digunakan sebagai bahan campuran beraneka jenis makanan atau minuman misalnya manisan, kolak, ronde, roti, minuman kaleng, dan bajigur dan lain sebagainya.

Sekarang muncul pula aneka produk makanan baru yang menggunakan kolang kaling sebagai bahannya seperti kolang kaling genji, kolang kaling mania, kolang kaling berjuruh.

Kolang kaling selain dapat dimanfaatkan untuk bahan aneka makanan dan minuman, kandungan seratnya juga baik untuk kesehatan.

Serat kolang kaling dan serat dari bahan makanan lain yang masuk ke dalam tubuh menyebabkan proses pembuangan air besar teratur sehingga dapat mencegah kegemukan atau obesitas.

KUE BINGKA PRIMADONA PENGANAN BUKA PUASA

Oleh Hasan Zainuddin


Hampir dipastikan setiap adanya lokasi kue atau penjualan penganan berbuka puasa di Kota Banjarmasin Ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan, selalu saja tersedia kue bingka.

“Memang kue bingka selalu dicari,” kata Kasnah seorang pedagang kue buka puasa di bilangan Jalan Sultan Adam, Banjarmasin Utara Banjarmasin.

Walau kue bingka lebih mahal ketimbang kue lain tetapi kue ini paling laku, dan itu terjadi setiap di saat adanya penjualan penganan bulan Ramadhan di Banjarmasin, kata Kasnah.

Mengutip pengakuan pembeli, Kasnah menyebutkan diminatinya jenis kue ini karena rasanya manis, dengan rasa manis maka saat berbuka puasa cepat memulihkan tenaga.

Selain itu, kata Kasnah, yang mengaku selalu berjualan kue bingka saat bulan puasa tersebut, kue bingka rasanya renyah,legit dan mudah dicerna, sehingga dinilai cocok untuk makanan berbuka puasa.

Oleh karena itu dari 41 macam kue atau penganan berbuka puasa biasanya kue bingka selalu menjadi primadona, dan dipajangpun lebih menonjol ketimbang kue-kue lain di meja jualan, tambahnya.

Tak ada yang tahu persis mulainya budaya membuat kue bingka di kalangan warga tanah Banjar Kalimantan Selatan, tetapi ada yang mengkaitkannya budaya membuat kue tersebut sudah ada sejak berdirinya kerajaan Melayu di wilayah tersebut.

Konon dulu kue bingka selalu dikaitkan dengan aroma pandan, karena selalu dicampur daun pandan, warna kue itupun selalu agak kehijauan.

Tetapi belakangan kue bingka sudah dimodifikasi, menjadi sedikitnya tujuh macam, bukan hanya dengan pandan tetapi dengan kentang, tape ketan, tape ubi, telur, bahkan belakangan sudah dicampur dengan keju dan coklat.

Berdasarkan pemantauan penulis, kue bingka tersebut bukan saja terlihat menonjol di tempat-tempat penjualan penganan skala kecil di kota Banjarmasin, tetapi jugan di sentra penjualan penganan berbuka puasa terbesar “Pasar Wadai Ramadhan” (Ramadhan Cake Fair).

Namun dari sekian lokasi penjualan kue bingka ini paling popoler dan dicari adalah bingka yang disebut Bingka Thambrin dan Bingka Bunda.

Harga kue bingka cukup bervariasi, dari hanya Rp15 ribu per buah hingga Rp50 ribu per buah, tergantung besar kecil, campuran yang meningkatkan kualitas, dan dari produksi orang tertentu.

Kue bingka adalah kue berbahan baku utama tepung terigu, santan, telur ayam, gula pasir yang bentuknya menyerupai bunga yang sedang mekar dengan enam sudut.

Menurut keterangan kue bingka bukan saja disenangi warga Suku Banjar di Tanah banjar Kalsel, tetapi juga pendatang.

Haji Thambrin seorang perajin kue bingka yang juga dikenal sebuah salon kecantikan tersebut pernah bercerita mengenai usahanya memproduksi kue khas Banjar tersebut.

Menurut pemuda warga Jalan Sultan Adam tersebut bingka tidak hanya disukai masyarakat Kalsel atau urang Banjar. Tapi banyak pula masyarakat luar daerah yang menyenangi, karena seringkali bingka produksinya dibeli pendatang dari berbagai nusantara bahwakan dibawa ke luar negeri, antara lain ke Malaysia dan Brunei Darussalam.

Selama Ramadan, Haji Thambrin memproduksi ratusan buah bingka per hari, dan mempekerjakan belasan pekerja.

41 macam

Di dalam masyarakat Suku Banjar Kalsel, kue bingka satu di antara 41 macam penganan yang secara turun temurun dibuat untuk makanan, tak hanya bulan puasa tetapi juga bulan maulud, dan hari-hari biasa.

Kue-kue olahan warga di wilayah bagian selatan pulau terbesar di Indonesia tersebut, dikenal manis-manis karena karena banyak kandungan gula putih dan gula merah seperti gula aren.

Konon kue Banjar dibuat memang harus manis karena warga setempat termasuk masyarakat pekerja yang memerlukan kalori besar, untuk bekerja di sawah, ladang, dan kerja memerlukan tenaga besar lainnya.

Kue-kue tersebut, kebanyakan memanfaatkan bahan yang mudah diperoleh di wilayah setempat, seperti tepung beras biasa, beras ketan, sagu, ubi kayu, keladi (talas), gula aren, santan kelapa, pati hampu, bahkan pati biji buah ramania.

Diantara kue-kue atau penganan tersebut tak sedikit yang bernilai magis, karena dibuat untuk salah satu persyaratan keperluan ritual.

Sebagai contoh saja, kue lamang, cingkarok, wajik, cincin, yang dibuat untuk keperluan hiasan nasi ketan, pada acara “batamat al qur’an,” yakni acara seseorang dinyatakan sudah khatam al Qur’an.

Atau kue-kue tertentu seperti sasagon, bubur habang, bubur putih untuk acara kenduri, acara tersebut digelar agar terhindari dari makhluk halus.

Bahkan ada kue-kue tertentu oleh sebagian warga dipercaya bisa membawa berkah dan dibuat sesajen bagi sebuah hajatan.

Banyaknya kue-kue hasil olahan warga Banjar ini bisa dilihat di lokasi pasar kue tahunan yang dikelola Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kota Banjarmasin “Pasar Wadai Ramadan.”
Kue-kue tradisional khas itu seperti kue amparan tatak, kraraban, lamang, cingkarok batu, wajik, kelepon, sari pangantin, sarimuka, putrisalat, cincin, untuk-untuk, gagatas, onde-onde, pare, putu mayang, laksa, kokoleh, bingka barandam, bulungan hayam, kikicak, gayam, kraraban, amparan tatak, agar-agar bagula habang, dan kue tradisonal lainnya.

Selain itu juga menggelar dagangan aneka masakan khas Kalsel, seperti gangan waluh, gangan balamak, papuyu baubar, saluang basanga, masak habang, laksa, lontong, katupat kandangan, soto banjar, gangan kecap haruan, gangan humbut, gangan rabung, pais patin, pais lais, pais baung, karih ayam, karih kambing, dan masakan lainnya.

Saat Ramadhan banyak warga Banjar yang tinggal di perantauan menyempatkan pulang kampung sekedar ingin menikmati kue-kue setempat yang dipajang di kegiatan tahunan tersebut. Di antara kue itu ada yang sulit ditemui pada waktu biasa, sehingga selain bernostalgia dengan kampung halaman juga bernostalgia mengenai makanan.

KELANGKAAN AIR BERSIH SEBUAH ANCAMAN WARGA KALSEL

Oleh Hasan Zainuddin


Banjarmasin, 22/7 (ANTARA) – Pertengahan Juli 2012 tiba-tiba air Sungai Martapura membelah Kota Banjarmasin Kalimantan Selatan berubah warna menjadi keruh pekat dan kuning kemerahan.

Setelah diteliti ternyata air sungai berhulu di Pegunungan Meratus tersebut sudah terkontaminasi kandungan partikel atau kandungan lumpur yang jumlahnya melimpah ruah.

“Kekeruhan tinggi karena partikel mencapai 5000 MTO, padahal idealnya hanya 100 MTO,” kata Direktur Perusahaan Daerah Air Minum(PDAM) Bandarmasih, Kota Banjarmasin, Muslih.

Akibat kekeruhan demikian mengganggu sistem pengolahan air bersih perusahaan air minum, antaranya limbah dihasilkan menjadi luar biasa.

Kekeruhan tinggi semacam itu sudah sering muncul bila terjadi hujan lebat di kawasan hulu, yaitu di kawasan hutan Riam Kanan, Kiam Kiwa atau Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam yang termasuk kawasan Pegunungan Meratus.

Dengan adanya kandungan partikel dalam air Sungai Martapura tersebut sudah menandakan kawasan resapan air di hulu mengalami kerusakan parah.

Kerusakan resapan air diduga penggundulan hutan, penebangan kayu, pertambangan emas, pertambangan biji besi, atau bahkan belakangan kian marak adalah pertambangan batu bara.

Hutan gundul penyebab erosi, bila hujan sedikit saja maka partikel tanah merah, pasir, dan debu dan limbah lainnya ikut larut dan masuk ke dalam sungai, terus mengalir hingga ke Kota Banjarmasin.

Menurut Muslih, kondisi kerusakan resapan air puncak Meratus merupakan sebuah ancaman kelangkaan air bersih, bukan saja warga Banjarmasin, tetapi juga warga Banjarbaru, Martapura Kabupaten Banjar, mengingat kawasan itu mengandalkan air sungai tersebut.

Bukan hanya itu, kata pengamat lingkungan yang juga Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Banjarmasin, Fajar Desira menambahkan, kerusakan puncak Pegunungan Meratus akan menyebabkan sungai-sungai di Kalsel, baik yang mengalir ke kawasan Tanah Bumbu, Tanah Laut, dan Banua Enam (enam kabupaten Utara) Kalsel akan terganggu.

Masalahnya semua sungai di Kalsel berhulu ke kawasan tersebut, dan bila kawasan puncak terganggu akhirnya seluruh wilayah Kalsel akan terganggu suplai air bersih tersebut.

Padahal sumber air bersih di Kalsel tak ada alternatif selain dari sungai.

Sebagai contoh Banjarmasin, kata Fajar Desira yang juga mantan Direktur Teknik PDAM Bandarmasih Kota Banjarmasin ini, air tanah di wilayah ini kurang baik untuk diolah air baku PDAM dengan kandungan besi dan kandungan keasaman yang sangat tinggi.

Sementara air sungai bagian hilir begitu mudah terintrusi air laut,sehingga mengandung kadar garam yang berlebihan dan tak bisa diolah air minum.

Mengandalkan air hujan, wilayah ini tak memiliki sebuah pun lokasi embung atau penampungan air hujan, dan kalau pun itu bisa dilakukan dipastikan pula tetap tidak akan mencukupi kebutuhan.

Pengambilan air Sungai Martapura selama ini dilakukan PDAM Bandarmasih dengan kapasitas 1700 liter per detik, dan mampu memproduksi air bersih terbesar di Kalsel yang melayani bukan saja warga Banjarmasin tetapi juga warga Kabupaten Barito Kuala dan Kabupaten Banjar.

Padahal suplai air Sungai Martapura seratus persen lagi mengandalkan air di kawasan resapan di Pegunungan Meratus tersebut, oleh karena itu bisa dibayangkan bila kondisi resapan air rusak lalu kemana lagi PDAM Bandarmasih harus mencari air baku, kata Fajar Desira.

Tak ada pilihan lain, bagaimana agar kawasan resapan air Pegunungan Meratus tersebut harus terpelihara dengan baik, untuk dijadikan sebagai penyangga air bersih di kawasan ini, tambahnya.

Bukti rusaknya kawasan tersebut terlihat dari kondisi bendungan Riam Kanan yang belakangan debit airnya tidak stabil lagi, bila hujan maka bendungan kebanjiran bila kemarau mudah kekeringan.

“Jika bendungan Riam Kanan dibiarkan seperti sekarang, maka debit air di lokasi itu akan terus menyusut, sehingga daerah ini akan kesulitan air,” kata Dirut PDAM Bandarmasih Kota Banjarmasin, Muslih.

Karena itu, Muslih menyarankan bendungan Riam Kanan sebaiknya dikelola semacam lembaga atau badan khusus yang fokus menjaga kelestarian lingkungan.

Lembaga tersebut misalnya menangani program penghijauan, aliran air, pembangkit listrik, dan aspek lain terkait dengan bendungan tersebut.

“Lembaga tersebut bisa saja semacam Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) atau dikelola Badan Usaha Milik Negara (BUMN),” katanya yang baru saja datang dari Korea Selatan mempelajari masalah air bersih.

Muslih mencontohkan Korea Selatan terdapat sebuah bendungan yang dikelola khusus oleh lembaga semacam BUMN yakni ‘Q-Water’ dan ternyata bendungan itu bermanfaat dalam penyediaan air di wilayah tersebut.

Penanaman Pohon
Guna mengembalikan kelestarian kawasan resapan air tersebut pihak PDAM Bandarmasih mencoba melakukan kegiatan menanam seribu pohon terdiri dari 800 pohon mahoni, 100 angsana, 100 pohon matoa.

Penanaman di kawasan resapan air di Tahura Sultan Adam, diharapkan memancing pihak lain juga melakukan hal serupa agar lingkungan wilayah ini terpelihara.

Tetapi bukan hanya rehabilitasi yang dilakukan, ia pun menghendaki adanya tindakan penyelamatan kawasan tersebut.

Kepala Dinas Kehutanan Kalsel, Rahmadi Kurdi ketika ditanya membenarkan kerusakan kawasan hutan lindung daerah tersebut setelah pencurian kayu dan pertambangan secara liar terus berlangsung di lokasi itu.

Pihaknya melakukan razia minimal satu bulan sekali untuk mengurangi kegiatan merusak hutan wilayah itu.

Disebutkannya 40 persen dari 112 ribu hektare (ha) kawasan Tahura kritis akibat pembalakan hutan, pembakaran, dan pertambangan, dan itu yang menyebabkan kawasan tersebut menjadi rusak.

Hanya saja untuk menjaga kawasan tersebut pihaknya menemui kendala kurangnya polisi hutan. Jumlah polisi hutan untuk menjaga wilayah se Kalsel 3,7 juta hektare hanya 70 orang, sehingga seorang polisi menjaga lahan sekitar 50 ribu hektare, idealnya polisi hutan di Kalsel paling sedikit 200 orang.

Melihat kenyataan tersebut berbagai pihak menyarankan ke seluruh instansi yang berkompeten untuk sama-sama berkomitmen menjaga kawasan resapan air untuk ketersediaan air berkelanjutan.

Gubernur Kalsel diharapkan bertindak tegas terhadap kegiatan penebangan dan pertambangan di lokasi tersebut.

Komitmen lain dari Gubernur Kalsel, adalah penyelamatan kawasan lindung dari aktivitas pembangunan, dan segala aktivitas lainnya seraya melakukan perbaikan sebagai penyematan sumber air.

“RAMADAN CAKE FAIR” ANTARA PELESTARIAN BUDAYA DAN WISATA

Oleh Hasan Zainuddin

Sederetan kios berornamen khas Suku Banjar berjejer di tepian Sungai Martapura atau Jalan Sudirman Kota Banjarmasin, Ibukota Provinsi Kalimantan Selatan.

Ribuan orang berjubel diantara ratusan kios yang menggelar aneka penganan, makanan, dan minuman dan jajanan untuk berbuka puasa di lokasi tersebut.

Diantara pengunjung tak sedikit yang datang diajak kalangan biro perjalanan atau agen-agen wisata untuk menimkati atraksi budaya yang hanya dilaksanalan setahun sekali pada bulan Ramadan tersebut.

“Ramadan Cake Fair (Pasar Wadai Ramadan) kota Banjarmasin ini memang sudah dipublikasi secara luas ke berbagai nusantara dan mancanegara,karena sudah masuk kalender wisata tahunan,” kata Kepala Dinas Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Kota Banjarmasin Noor Hasan.

Karena masuk kalender kepariwisataan maka kegiatan ini setiap tahun digelar, karena di lokasi ini terdapat jenis wisata kuliner, wisata keagamaan, wisata seni budaya khas, serta wisata alam.

Selain untuk kegiatan wisata, pasar wadai ramadan juga diharapkan sebagai sarana pelestarian budaya, khususnya pelestarian kekayaan budaya masyarakat setempat yang mahir mengolah aneka penganan, makanan, dan minuman khas setempat.

Dengan adanya kegiatan tersebut maka diharapkan penganan yang sejak nenek moyang sudah ada di daratan Tanah Banjar Kalsel ini tetap tersedia untuk masyarakat setidaknya saat bulan puasa seperti sekarang ini, tuturnya.

Di Tanah Banjar, dikenal penganan aneka jenis yang disebut sebagai kue 41 macam, disamping aneka jenis makanan dan lauk-pauk yang khas pula dan itu merupakan kekayaan budaya yang hendaknya tak boleh terkikis masuknya makanan dan penganan modern.

Di lokasi pasar kue tahunan yang dikelola Pemkot Banjarmasin ini memang menggelar setidaknya 41 macam kue tradisional khas suku Banjar, di Kalsel, seperti kue amparan tatak, kraraban, lamang, cingkarok batu, wajik, kelepon, sari pangantin, sarimuka, putrisalat, dan cincin.

Kemudian juga tersedia kue untuk-untuk, gagatas,onde-onde, pare, putu mayang, laksa, kokoleh, bingka, bingka barandam, bulungan hayam, kikicak, gayam, kraraban, amparan tatak, agar-agar bagula habang, dan kue tradisonal lainnya.

Selain itu juga menggelar dagangan aneka masakan khas Kalsel, seperti gangan waluh, gangan balamak, papuyu baubar, saluang basanga, masak habang, laksa, lontong, katupat kandangan, soto banjar, gangan kecap haruan, gangan humbut, gangan rabung, pais patin, pais lais, pais baung, karih ayam, karih kambing, dan masakan lainnya.

Wakil Wali Kota Banjarmasin, Iwan Anshari ketika membuka Ramadan Cake Fair, Sabtu (21/7) mengatakan tujuan penyelanggaraan kegiatan tahunan tersebut antara lain, sebagai wahana peningkatan nilai budaya dalam pengembangan seni dan budaya dan kepariwisaraan daerah.

Juga memberikan peluang untuk terbukanya lapangan kerja, karena begitu banyak menampung para pedagang.

Kemudian lagi adalah meningkatkan roda perekonomian masyarakat Kota Banjarmasin dan menekan angka pengangguran disamping memberikan peluang kepada masyarakat untuk melakukan inovasi dan kreativitas seni dan budaya khas setempat.

Disebutkan pada lokasi Ramadan Cake Fair yang selelanggarakan Pemkot Banjarmasin ini menyediakan sedikitnya 140 kios disamping lokasi-lokasi atau lapak pedagang bakulan (pedagang memanfaatkan bakul).
Selain lokasi tersebut, di kota Banjarmasin juga terdapat puluhan lagi kegiatan serupa yang dikelola oleh masyarakat itu sendiri, yang kesemuanya menjadi daya pikat tersendiri bagi pendatang ke kota yang berjuluk kawasan seribu sungai tersebut.

Untuk menambah kesemarakan lokasi budaya dan wisata ini disediakan pula lokasi untuk hiburan tari-tarian, kasidahan, atau musik tradisional setempat, dan musik Islami lainnya.

Lokasi ini selain untuk mencari penganan berbuka puasa dan menikmati wisata tak sedikit pula orang menjadikan pasar wadai sebagai lokasi ngabuburit (menunggu bedug berbuka puasa).

Karena itu, tak heran bila ada sekelompok muda mudi berjalan santai sambil bercanda gurau berada di sana hanya untuk “membunuh waktu” hingga berbuka puasa.

Berdasarkan catatan, pasar ramadan ini sudah ada di Banjarmasin sejak tahun 70-an. Saat itu hanya kelompok-kelompok kecil saja, hingga kurang teratur dan mengganggu keindahan kota.

Mulai tahun 80-an oleh Pemko Banjarmasin pedagang itu dikumpulkan di satu lokasi, lalu dinamakan Ramadan Cake Fair.

Sejak itu pula lokasi ini dinyatakan sebagai atraksi wisata tahunan.
Untuk memperkuat lokasi ini sebagai objek wisata maka digelar pula berbagai pertunjukan rakyat, seperti madihin, lamut, jepin, dan tarian serta seni-seni tradisi lainnya.

Saat Wali Kota Banjarmasin,Kamarudin pedagang wadai ini dikumpulan menjadi satu lokasi yang pertama berada di Jalan RE Martadinata.

Dengan berkumpulnya pedagang wadai itu memperoleh sambutan positip masyarakat Umat Islam karena memudahkan mereka mencari hidangan berbuka puasa.

Tetapi respon cukup menarik justru datang dari kalangan wisatawan, dimana banyak sekali kunjungan wisatawan ke lokasi tersebut.

Akhirnya oleh Pemko Banjarmasin bahkan oleh Pemprop Kalsel, lokasi itu lebih dikembangkan yang tak sekedar tempat berjualan tetapi sebagai atraksi wisata tahunan dan atraksi budaya hingga populer sampai sekarang.

“POHON DUIT” UBAH GAYA HIDUP PETANI KARET

Oleh Hasan Zainuddin


Banjarmasin, 18/7 (ANTARA)- Nyaris setiap buah rumah di lokasi pemukiman sentra perkebunan karet rakyat Desa Panggung dan Inan Kecamatan Paringin Selatan, Kabupaten Balangan Provinsi Kalimantan Selatan terpampang antena prabola.

Padahal satu dasawarsa lalu kawasan itu masih terlihat banyak tali temali dawai sebagai alat memperkuat antena radio.

Begitu pula di banyak halaman rumah kawasan setempat terparkir aneka jenis mobil dan kendaraan roda dua aneka merk, padahal sebelumnya memiliki sebuah sepeda pun, sudah dinilai sebagai orang yang terbilang kaya.

Perubahan drastis gaya hidup warga yang berada di kaki Pegunungan Meratus tersebut terjadi setelah begitu banyak warga kian serius menggeluti perkebunan karet, dan menyulap wilayah padang alang-alang, semak belukar, gunung gundul menjadi sebuah hamparan hijau pohon karet.

Apalagi teknologi budidaya tanaman karet dari varietas kampung ke karet varietas unggul kian dikuasai, membuat warga setempat kian ketagihan menggeluti usaha yang tidak memerlukan investasi mahal dan memeras otak tersebut.

“Warga kami sekarang tidak lagi merasa rendah diri dengan orang-orang yang datang di kota, atau mereka yang berprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), karena kalau diukur tingkat penghasilan kami sudah bisa mengimbangi,” kata Pak Duar tokoh warga Inan dalam perbincangan dengan penulis.

Menurut, Duar kalau dulu bila ada orang berbaju seragam PNS maka warga desa banyak yang merasa minder bergaul, karena dinilai PNS kelompok warga yang sejahtera, sementara petani karet dinilai kelompok warga yang miskin.

Tetapi sekarang sudah tidak memandang lagi sebuah atribut PNS atau petani karet tetapi yang dinilai adalah isi kantong, tebal atau tipis, kata Duar sambil tersenyum seraya menepuk-nepuk sakunya.

Didampingi beberapa warga lain dalam obrolan saat menghadiri acara perkawinan Minggu (15/7) lalu di desa tersebut, Duar menyebutkan perubahan tersebut terjadi setelah harga karet alam terus membaik dan bertani jenis komoditi tersebut tak pernah tergerus sebuah resesi ekonomi, baik resesi ekonomi nasional maupun resesi ekonomi global.

Bahkan saat nilai rupiah anjlok ke tingkat paling rendah terhadap nilai Dolar AS di saat itu pula harga karet justru melambung melebihi harga komoditi-komoditi lain, sebab karet adalah komoditi ekspor yang harga jualnya dihitung dengan nilai mata uang Dolar AS.

Seperti masa transisi pemerintahan orde baru ke reformasi dulu dimana nilai rupiah anjlok warga setempat malah menikmati membaiknya harga karet, kata warga lain menambahkan.

Melihat kenyataan tersebut, maka banyak warga bukan saja di dua desa itu tetapi hampir seluruh kawasan Kabupaten Balangan, bahkan warga kabupaten lain di Kalimantan Selatan berlomba berkebun karet.

Pohon karet varietas kampung yang tua ditebang dikonversi dengan karet varietas unggul yang tingkat produksinya besar, lahan terlantar digarap menjadi lahan karet, dan nyaris tak ada lagi lahan yang tak bernilai.

Bahkan pula lahan-lahan yang tadinya dianggap marginal, seperti rawa, lereng gunung, dan lahan kering pun semuanya diperebutkan untuk perluasan tanaman yang memproduksi bahan baku ban kendaraan bermotor tersebut.

Kepala Desa Panggung, Iyus menuturkan kegairahan berkebun karet tersebut membuat warga desanya tak sungkan lagi bertanya mengenai cara berkebun karet kepada para penyuluh pertanian, atau kepada mereka yang mengerti tentang karet.

Akibat dari usaha tersebut tak sedikit produksi karet setempat yang terus membaik karena ada satu varietas unggul yang mampu memproduksi lateks satu liter per pohon per hari.

“Bisa dibanyakkan, seandainya warga memiliki seratus pohon saja maka sudah mampu memproduksi seratus liter lateks, kalau dibekukan sudah menjadi puluhan kilogram karet jenis lum, kalau dijual karet lum dengan harga Rp10 ribu saja per kilogramnya maka sudah berapa hasil yang diperoleh petani setiap hari,” tuturnya.

Kegairahan petani tersebut telah terjadi sejak satu dasawarsa belakangan ini, hal itu mereka pun terus berkebun, apalagi harga kebun karet terus membumbung.

Satu hektare kebun karet dengan jumlah 350 pohon sekarang sudah senilai Rp100 juta, bahkan kalau bibit karet yang ditanam kualitasnya lebih baik lagi, artinya yang mampu memproduksi satu liter per pohon maka harganya akan lebih mahallagi.

Padahal menjadikan sebuah kebun dari persiapan lahan pembibitan hingga pohon bisa dipanen hanya menelan waktu empat tahun saja.

Oleh karena itu bila seorang petani memiliki kebun beberapa buah kalau hendak memiliki sebuah mobil, cukup dengan menjual satu kebun saja maka sudah bisa membeli mobil.

Apalagi sekarang banyak orang kaya di kota yang ingin berinvestasi ke kebun karet, sehingga bila ada yang ingin menjual kebun banyak yang ingin membelinya.

Oleh karena itu ada anggapan menanam sebatang pohon karet berarti sama dengan menanam sebatang “pohon duit.”
Semakin mahal harga karet semakin menikmati hasil yang diperoleh petani karet, dan sebelumnya harga karet pernah menyentuh Rp16 ribu per kilogram di saat itu pula petani karet menikmati usaha mereka dengan cara terus menabung kemudian membeli berbagai keperluan seperti mobil, sepeda motor, prabola, televisi besar dan pakaian bagus, sebagai layaknya warga kota.

Menikmati hidup dengan kebun karet tersebut banyak dirasakan masyarakat di provinsi ini,karena kebun karet merata di 13 kabupaten/kota kecuali di Kota Banjarmasin, Banjarbaru, dan Barito Kuala.

Berdasarkan data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Kalsel, sampai dengan saat ini Luas areal tanaman karet di Kalimantan Selatan mencapai 182.527 Hektare.

Luasan tersebut terdiri dari perkebunan Rakyat 182.527 Hektare dengan produksi 113.250 ton, Perkebunan Besar Swasta (PBS) 13.168 hektare dengan produksi 11.753 ton dan Perkebunan Besar Negara (PBN) 14.545 hektare dengan produksi 7.590 ton per tahun.

Kendati sekarang harga karet turun tidak menyurutkan warga untuk terus menggeluti usaha tersebut, karena mereka yakin berdasarkan pengalaman karet termasuk komoditi yang fluktuasi harga begitu sering terjadi dan diyakini harga tersebut akan kembali membaik.

buat lum
Potensi besar
Pengamat ekonomi nasional Cyrillus Harinowo Hadiwerdoyo saat berada di Banjarmasin pun memastikan harga karet akan tetap membaik di kemudian hari.

Kepastian tersebut mengingat kebutuhan karet internasional tahun mendatang masih cukup besar, sehingga pemerintah harus bisa mengambil peran membantu petani memelihara produksi karet nasional.

Menurut Harinowo saat menjadi pembicara pada seminar di kantor Bank Indonesia Banjarmasin, Senin (16/7) pemerintah harus berani membeli karet petani pada saat harga karet anjlok seperti saat ini.

“Fungsinnya seperti Bulog, yaitu melakukan pembelian beras petani pada saat harga di pasaran anjlok, begitu juga halnya dengan karet,” katanya.

Dengan demikian, kata dia, pada saat harga karet kembali beranjak naik, pemerintah bisa kembali menjual dengan harga pasaran atau minimal sama dengan pembelian harga karet ke petani.

Sehingga tambah Harinowo, stabilitas harga karet dan produksi petani bisa terjaga, kendati harga karet sedang dalam kondisi turun atau anjlok.

Hal tersebut dilakukan mengingat fluktuasi harga karet cukup besar, sehingga petani karet harus dilindungi sebagaimana petani beras.

Menurut Harinowo, kebutuhan karet internasional masih akan cukup besar, seiring dengan pertumbuhan industri mobil yang terus menggeliat.

Berdasarkan data, kata dia, pada 2012 ini saja produksi mobil meningkat hingga delapan persen menjadi 70 juta unit.

Pertumbuhan prouduksi mobil tersebut, tambah dia, akan beriringan dengan pertumbuhan produksi ban yang bahan baku utamanya tetap harus menggunakan karet alam, kendati saat ini industri karet sintetis juga cukup besar.

“Karet alam masih akan dibutuhkan sampai kapanpun karena tidak mungkin pembuatan ban seratus persen menggunakan karet sintetis,” katanya.

Sedangkan negara dengan produksi karet terbesar hanya ada tiga yaitu, Thailan, Indonesia dan Malaysia.

Dengan demikian, kata dia, prospek pasar karet Indonesia sangat besar tinggal upaya pemerintah untuk terus mendorong masyarakat memanfaatkan karet bibit unggul dan program-program peningkatan kualitas yang harus terus digalakkan.

Yang penting pula bagaimana kegairahan petani yang sudah tumbuh dan berkembang di sentra-sentra kebun karet untuk memperluas kebun mereka.

Sebagaimana diketahui, saat ini harga karet alam anjlok dari sebelumnya Rp16 ribu per kilogram menjadi Rp6 ribu hingga Rp7 ribu per kilogram, kondisi tersebut sangat memukul bila tidak ada penanganan yang serius dari pemerintah.

GOTONG ROYONG KENTAL PADA PERKAWINAN ADAT BALANGAN

Oleh Hasan Zainuddin
Suara canda ria terdengar memecah suasana kesunyian dini hari Minggu (15/7)di Desa Pulauwanin Kecamatan Paringin Selatan,Kabupaten Balangan Provinsi Kalimantan Selatan.

Canda ria tersebut datang dari puluhan pemuda dan orang tua laki-laki di lokasi “pengawahan” (menanak nasi dengan wajan besar) di tempat acara perkawinan adat Kabupaten Balangan di desa tersebut.

Puluhan orang dengan berselimutkan sarung dan berjaket serta menggunakan songkok (kupiah) asyik bercanda ria seraya bersama-sama mengerjakan memasak nasi untuk menyiapkan hidangan perkawinan salah saru warga desa itu akan digelar pada hari Minggu.

Sementara canda ria lain terdengar pula tak jauh dari lokasi itu setelah puluhan orang gadis dan orang tua perempuan secara bersama-sama pula mengerjakan “penyambalan” (membuat sambal dan ramuan ) untuk hidangan acara serupa.

Hidangan yang disediakan pada pesta tersebut memang beraneka ragam, tetapi yang tidak ketinggalan adalah nasi dan “gangan waluh bagarih” (gulai labu campur ikan kering gabus).

Mengawah

Memang begitulah kebiasaan warga di dekat Pegunungan Meratus tersebut saat mengerjakan acara perkawinan, agar acara yang digelar cukup besar itu terasa ringan.

Perkawinan tersebut dilangsungkan oleh Keluarga Armuji setelah putranya Khairudian menyunting gadis di desa lain, kemudian menggelar acara perkawinan di rumah keluarga tersebut.

Menurut, Armuji sendiri, nilai gotong rotong tersebut tidak semata terlihat saat hari pelaksanaan perkawinan saja tetapi jauh-hari hari sudah terlihat begitu kental.

manyambal

Karena untuk menggelar acara perkawinan adat setempat menelan waktu lama, mulai dari acara “batatampanan” (pinangan), kemudian dilanjutkan dengan pernikahan hingga perta perkawinan sendiri.

Setiap proses perkawinan selalu melibatkan warga untuk selalu bergotong goyong.

Sebagai contoh saja, saat batatampanan biasanya penyelanggara perkawinan menghadirkan para ibu-ibu kedua belah pihak dan saat itu disajikan makanan khas setempat disebut wadai “gayam.”
Untuk membuat penganan itu para ibu-ibu setempat selalu bergotong royong membuatnya.

Kemudian untuk menghadapi pesta perkawinan dengan menghadirkan hidangan yang begitu banyak memerlukan kayu bakar tak sedikit.

Lantaran di kawasan tersebut masih memanfaatkan kayu bakar maka warga pun dengan bergotong royong mencari kayu bakar yang ada di hutan-hutan kemudian dikumpulkan satu per satu sehingga tumpukan kayu bakar menggunung.

Acara mencari kayu bakar bersama-sama tersebut disebut oleh warga setempat dengan “mengayu.” Acara itupun tentu dibarengi dengan makan-makan bersama, seperti nasi campur dengan “garinting” (ikan kering) ditambah sedikit sayuran.

Kemudian juga acara “bakumpulan” (berkumpul) warga desa untuk membahas tugas-tugas yang dieman warga desa saat pesta nanti, ada yang bertugas menunggu tamu, bertugas mencuci piring, bertugas mengawah, bertugas “menggangan” (membuat sayuran berkuah), bertugas menyediakan sajian, bertugas lain-lainnya.

bakakambangan

Dalam acara bakumpulan itu pula diputuskan untuk menggelar jenis hiburan jenis apa saat hari “H” pesta perkawinan, kata Kepala Desa Panggung, Iyus yang desanya juga sering menggelar acara serupa.

Menurut Iyus, jenis hiburan yang sering ditampilan saat pesta adat tersebut antara lain, “baurkes” (orkes melayu), kasidahan, karaoke, madihin, bakisah, bawayang (wayang kulit), bamanda (seni tradisi serupa lenong) atau jenis seni lainnya.

Untuk membayar biaya hiburan tersebut 70 persen dibebankan kepada hasil gotong royong masyarakat, baru 30 persen ditanggung penyelanggara, kata Iyus.

Mengupas kelapa

Untuk membangun panggung hiburan itupun seratus persen hasil gotong royong warga desa, seperti menyediakan batang nyiur untuk tiang panggung, atap rumbia, atau bambu, rotan, dan lantai papan.

Sementara rumah mempelai pun biasanya dihiasi dengan aneka hiasan atau bunga-bunga yang disebut “kakambangan.”
Untuk membuat kakambangan itupun dikerjakan seratus persen gotong royong oleh pemuda dan pemudi setempat.

Mengenai biaya perkawinan disebutkan oleh Iyus, itu merupakan hasil gotong royong warga pula dengan sistem menyerupai arisan.
Umpamanya seperti ini, bila seorang warga menggelar acara perkawinan maka warga lain membantu uang Rp100 ribu, maka disaat warga lain itu menggelar acara serupa maka warga menggelar acara terdahulu harus membayar pula dengan nilai sama Rp100 ribu.

Begitu pula bila warga membantu sekarung beras maka nantinya harus dibayar sekarung beras, sekarung gula dibayar sekarung gula, bantu kelapa bayar kelapa, bantu sayuran berupa umbut nyiur haru dibayar umbut nyiur, begitu seterusnya, walau hal itu tak ada perjanjian tertulis tetapi harus dipenuhi karena hal itumerupakan sebuah etika saja, kata Iyus.

Penyajian makanan saat pesta perkawinan biasanya dibagi dua kelompok, kelompok pertama pada pagi hari khusus menyediakan makan warga sekampung.

Kelompok kedua biasanya agak siang hari untuk para undangan yang datang dari kampung-kampung lain, katanya lagi.

Melihat nilai kegotong royongan tersebut maka walau biaya perkawinan adat Kabupaten Balangan dirasa relatif besar tetapi oleh banyak pengalaman hal itu dinilai menjadi ringan-ringan saja.

memasak wadai gayam

MEMOLES “KOTA SUNGAI” BANJARMNASIN JADI METROPOLIS

Oleh Hasan Zainuddin


“Sangat elok” demikian kata Abdul Malik seorang pelancong asal Bagan Serai Malaysia setelah mengamati banyak sungai yang banyak membelah-belah wilayah Kota Banjarmasin, ibukota Provinsi Kalimantan Selatan.

“Kota ini akan menjadi sangat indah dan menarik jika pemerintah setempat mampu mengubah keberadaan sungai menjadi lebih baik, lebih hidup, dan berfungsi sebagaimana mestinya,” kata Abdul Malik yang datang ke “Tanah Banjar,” yang menurut pengakuannya merupakan tanah leluluhurnya tersebut.

Menurut Abdul Malik banyak kota-kota di dunia menjadi terkenal setelah mengeksploitasi sungai menjadi sebuah kawasan menarik bagi kepariwisataan dan keindahan kota.

Ia mencontohkan Singapura, Bangkok, Venesia, Nederland, Sindey, dan banyak lagi kota metropolis lainnya.

Seharusnya Banjarmasin tak susah menuju sebuah kota metropilis serupa jika piawai memberdayakan sungai sungai ini.

Senada dengan Abdul Malik, Direktur Pengembangan Air Minum, Ditjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum, Danni Sutjiono saat datang ke Banjarmasin awal Juli 2012 lalu menilai Banjarmasin sebuah kota unik yang tak dimiliki daerah lain.

“Kota ini seharusnya bersyukur banyaknya sungai yang melingkari berbagai wilayah dan kalau itu dimanfaatkan akan memberikan kontribusi besar terhadap kemajuan kota ini,”kata Danni Sutjiono.

Sutjiono berada di Banjarmasin dalam kaitan pertemuan dengan direksi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bandarmasih, Kota Banjarmasin.

Menurutnya, sungai di Banjarmasin dipelihara agar bisa menjadi sumber air baku PDAM sehingga ketersediaan air bersih mencukupi untuk kebutuhan masyarakat.

Bila sebuah kota dengan ketersediaan air bersih mencukupi dipastikan kota tersebut akan menjadi hunian dan perkembangan perkotaan yang nyaman,lantaran air bersih sarana vital kehidupan termasuk menarik investasi.

“Lihat Kota Singapura yang tidak memiliki sumberdaya alam tetapi mampu menyediakan air bersih dengan cukup dan fasilitas lainnya akhirnya kota tersebut menjadi kota metropolis,” katanya.

Lihat juga kota Bangkok, dimana sungai ditata sedemikian rupa hingga menjadi sebuah objek wisata yang menarik telah berhasil menciptakan kota tersebut sebagai kota tujuan wisata dunia.

Melihat kenyataan tersebut sebenarnya Kota Banjarmasin bisa mengejar kemajuan kedua kota ternama di dunia tersebut, tentu dengan memanfaatkan sungai dengan sebaik-baiknya.

Apalagi Banjarmasin memiliki jumlah sungai yang melebihi dari kota-kota yang disebut di atas, sebenarnya memiliki kelebihan tersendiri, tinggal bagaimana pemerintah kota ini menciptakannya lebih menarik lagi.

“Kelebihan kota ini adalah keberadaan pasar terapung yang alami yang tidak ditemui daerah lain,” katanya.

Selain Pasar Terapung, Banjarmasin juga memiliki kampung terapung, industri berbasis sungai, pemukiman di bantaran sungai, dan aneka budaya berkaitan dengan sungai yang semuanya menjadi daya pikat bagi semua orang.

“Sementara Kota Bangkok memang terdapat pasar terapung tetapi hasil ciptaan untuk wisataan bukan tumbuh dan berkembang alamiah seperti di Banjarmasin,” tuturnya.

Berdasarkan catatan, Banjarmasin memiliki sedikitnya 104 sungai besar dan kecil dan 74 sungai diantaranya masih berfungsi sebagaimana mestinya, sementara sisanya sudah mati lantaran mendangkal,menyempit, dan akibat limbah rumah tangga dan industri disamping diserang gulma.

Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Banjarmasin, Ir Fajar Desira ketika diminta komentarnya tentang pemanfaatkan sungai tersebut mengakui arah pembangunan kota ini adalah memanfaatkan sungai untuk meningkatkan ekonominya.

Wilayah Banjarmasin seluas 72 kilometer persegi minim sumber daya alam karena hampir tidak ditemukan potensi tambang maupun hutan dan hanya sedikit lahan pertanian.
Sementara wilayahnya hampir semua dialiri sungai besar dan kecil, Sungai Besar tercatat seperti Sungai Barito dan Sungai Martapura.

Kalau membangun kota mengandalkan potensi lain yang minim jelas tidak mungkin, karena itu potensi yang ada saja digunakan untuk meraih kemajuan tersebut.

“Tak ada pilihan lain bagaimana sungai-sungai tersebut menjadi daya tarik bagi kepariwisataan ke depan,” katanya.

Senada dengan itu, Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Drainase Muryanta menyebutkan jauh-jauh hari Banjarmasin sudah memikirkan bagaimana kota ini menjadi metropolis dengan mengandalkan sungai tersebut.

Karena itu bertahap membenahi sungai,mulai dengan pembebasan beberapa lokasi bantaran sungai yang kumuh menjadi sebuah kawasan pertamanan yang indah.

“Lihat saja tepian Sungai Martapura, baik yang di Jalan Sudirman, Jalan Pire Tendean, setelah dibebaskan dari pemukiman kumuh, sekarang sudah menjadi kawasan wisata yang menarik dan menjadi ikon kota,”tuturnya.

Kemudian Pemkot Banjarmasin juga bertahap pembebasan tepian Sungai Kerokan, Sungai Teluk Dalam, Sungai Kuripan, Sungai Jalan Veteran dan beberapa lokasi lain yang sudah menghabiskan dana tak sedikit.

Belum lagi pembangunan fasilitas berkaitan dengan kepariwisataan sungai tersebut, seperti penataan bantaran sungai dalam upaya menciptakan keindahan itu.

Pembenahan sungai tersebut karena arah pembangunan berkelanjutan kota ini yang dicanagkan sejak tahun 2009 lalu adalah berbasis sungai.

Menurut Muryanta karena arah pembangunan berkelanjutan berbasis sungai maka tak ada pilihan bagaimana agar sungai-sungai yang banyak membelah kota ini bisa menjadi daya tarik ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat ke depannya.

Untuk penataan bantaran sungai tahun anggaran 2011 lalu telah menghabiskan sedikitnya Rp17 miliar, seperti pekerjaan seperti penguatan tebing sungai di Ujung Murung, Jalan Sudirman dekat Pasar Lama.

Pekerjaan penataran bantaran sungai ini terus dilanjutkan tahun 2012 bahkan pada tahun-tahun kedepannya, agar kota ini benar-benar indah lantaran sungai.

Kemudian Pemkot juga membangun sejumlah dermaga pada titik strategis menghidupkan kepariwisataan sungai tersebut.Dermaga dimaksud juga mengembalikan kejayaan angkutan sungai, seperti lokasi siring sungai Jalan Tendean dan Ujung Murung.

“Kalau di Banjarmasin ini terdapat 15 jembatan berarti yang kita bangun dermaga nantinya sebanyak 15 buah,” tutur Muryanta.

Maksudnya dengan adanya dermaga dekat jembatan itu maka akan memudahkan masyarakat bepergian kemana-mana, baik melalui angkutan sungai maupun angkutan darat.

Mereka yang melalui angkutan sungai bisa singgah di dermaga dekat jembatan kemudian bepergian lagi lewat angkutan darat kemana mereka mau, dengan demikian maka menghidupkan angkutan sungai maupun angkutan darat, tambahnya.

Keberadaan dermaga itu akan memperkuat keberadaan pariwisata air sebab orang akan mudah bepergian kemana-mana melalui air, harapannya Banjarmasin bisa menjadi kota mertropolis menarik seperti layaknya Bangkok di Thailand, Hongkong, atau Vinesia Italia, demikian Muryanta.

KAYU “ULIN” AKANKAH TINGGAL KENANGAN

Oleh Hasan Zainuddin


Beberapa orang warga menggali tanah di bilangan Desa Inan Kecamatan Paringin Selatan, Kabupaten Balangan Provinsi Kalimantan Selatan untuk mengeluarkan sebatang kayu yang terbenam di kawasan tersebut.

Kayu yang terbenam tersebut ternyata jenis kayu ulin (Eusideroxylon zwageri) yang diperkirakan berabad-abad berada dalam tanah yang dalamnya sekitar dua meter dari permukaan tanah.

Sementara pekerja yang lain juga berusaha memotong sebatang kayu ulin yang juga diperkirakan berusia berabad-abad yang berada di dasar Sungai Pitap anak Sungai Balangan yang kondisi airnya tak terlalu dalam.

Walau warga bersusah payak menggali dan memotong kayu berusia tua tersebut tetapi terus dilakukan, mengingat untuk membeli jenis kayu yang disebut juga sebagai kayu besi itu sekarang sudah terlalu mahal bagi kantong warga setempat, lantaran sudah sulit diperoleh.

Dari dua kejadian tersebut telah menimbulkan banyak pertanyaan dikalangan masyarakat setempat, mengapa di kawasan tersebut begitu banyak kayu ulin, sementara jenis kayu tersebut tak pernah terlihat lagi dalam beberapa dasawarsa terakhir ini.

“Sebagian besar warga di kampung kami tahu tentang kayu ulin hanya dari bahan bangunan yang sudah jadi, tetapi tak pernah melihat bentuk kayu ulin yang masih tumbuh,”kata Nurfansyah warga setempat.

Warga setempat kebanyakan memperoleh kayu ulin dari kayu yang terpendam dalam tanah atau yang ada di dasar sungai, kualitasnya sangat baik, kuat dan warnanya menghitam bagaikan besi, kata Nurfansyah.

 tunggul2 ulin

Menurut Nurfansyah di kawasan tersebut begitu banyak terlihat tunggul (bekas tebangan) kayu ulin di sepanjang Sungai Pitap, dan tunggul-tunggul tersebut sudah ada sejak lama dan diperkirakan ratusan tahun.

“Menurut bapak saya, selagi dia masih kecil tunggul-tunggul kayu ulin tersebut sudah ada seperti itu, padahal usia bapak saya 80-an tahun, dan sekarang sudah meninggal,” kata Nurfansyah.

Mengenai tunggul-tunggul kayu ulin tersebut juga sering dilontarkan warga yang berpergian menyusuri trans Kalimantan antara Banjarmasin ke arah Batulicin Kabupaten Tanah Bumbu, sebab di kawasan Jorong, atau Kintap Kabupaten Tanah Laut yang dilintasi trans Kalimantan tersebut banyak terlihat tunggul-tunggul kayu ulin.

Dengan banyaknya tunggul kayu ulin tersebut juga membuktikan bahwa dulunya kawasan tersebut merupakan hutan ulin, tetapi sekarang berubah menjadi semak belukar dan padang alang-alang.

Jenis kayu ulin tersebut banyak dimanfaatkan warga untuk membuat pondasi (tongkat) rumah, tiang bangunan, sirap (atap kayu), papan lantai,kosen, bahan untuk banguan jembatan, bantalan kereta api dan kegunaan lain yang memerlukan sifat-sifat khusus awet dan kuat.

Kayu ini seringkali digunakan lantai tempat pemandian atau cuci, sebab jenis kayu ini tak akan lapuk walau bertahun-tahun kena air atau panas.

Karena jenis kayu tersebut banyak dicari warga maka kian sulit diperoleh walaupun ada harganya sudah selangit.

Di Kota Banjarmasin sendiri memang masih banyak terlihat penjual kayu menjual jenis kayu tersebut, tetapi persediaanya selalu terbatas.

Menurut pedagang Haji Sandri, jenis bahan bangunan yang terbuat dari kayu ulin yang belakangan masih banyak ditemukan di Banjarmasin atau daerah lain di Kalsel, bukan lagi hasil tebangan baru melainkan kayu ulin bekas hasil tebangan lama yang sudah tersimpan bertahun-tahun.

“Dulu kayu ulin yang masih berupa balokan atau berbentuk pohon di potong-potong dengan panjang sekitar tiga hingga empat meter lalu balokan itu potong-potong lagi sehingga menjadi persegi empat dengan panjang tetap sekitar tiga hingga empat meter,” katanya.

Sisa-sisa potongan kayu itulah yang sekarang dibuat lagi menjadi bahan bangunan seperti ini, katanya seraya memperlihatkan beberapa kayu gergajian hasil olahan kayu sisa tersebut.

“Bukti kayu ulin ini sisa, lihat saja warna kayunya sudah ada yang agak kehitaman, ada bekas tanaman lumut (tumbuhan air) ada bekas gergajian, bekas terbakar, dan tanda-tanda lainnya,” katanya.

Walau kayu ini berjenis ulin bekas olahan tetapi tetap saja diminati karena kualitas kayu ini kuat dan baik, sehingga untuk jenis bahan bangunan papan saja harganya sekarang sudah mencapai Rp80 ribu per keping, padahal dulu paling banter hanya Rp20 ribu per keping.

Mahalnya harga itu selain memang kian langka juga untuk mengangkut kayu tersebut dari lokasi penggergajian di Bilangan Liang Anggang sekitar 60 kilometer dari Banjarmasin ke arah Banjarmasin sering dipersoalkan pihak aparat sebab kayu tersebut dilarang diantarpulaukan ,akibatnya banyak pedagang yang takut membawa kayu tersebut.

Berdasarkan keterangan yang ia peroleh kayu lin tersebut, berasal dari tebangan lama di wilayah Kabupaten tanah Laut, Tanah Bumbu, serta Kabupaten Kotabaru atau wlayah pesisir Timur Kalsel.


Mulai Punah
Berbagai pihak menduga jenis kayu tersebut sudah mulai punah walau ada pihak lain menyatakan masih terdapat hutan kayu ulin di kawasan Pegunungan Meratus yang lokasinya sulit terjangkau manusia.

Bahkan Tim Ekspedisi Khatulistiwa 2012 Koordinator Wilayah 08 Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) Kalimantan Selatan yang menjelajahi kawasan Pegunungan Meratus tak pernah menjumpai hutan kayu ulin di kawasan tersebut.

“Dari hasil penjelajahan tim hanya menemukan beberapa pohon kayu ulin saja,” kata Mayor Sus Komaruddin didampingi beberapa peneliti dan tim lainnya di Hantakan HST, sekitar 190 Km Utara Banjarmasin.

Walau tim tak menemukan hutan kayu ulin tetapi mereka menemukan beberapa pohon kayu ulin di puncak gunung.

Selain itu mereka juga menemukan sebuah kampung yang disebut “Kampung Ulin Bajanggut” yang di kampung tersebut masih tumbuh satu pohon kayu ulin setinggi 30 meter dan diameter batang pohon 120 sentimeter.

Pohon kayu ulin tersebut agaknya dipelihara warga Dayak Meratus dan dikeramatkan yang berada di Desa Kiyu.

Dari beberapa bekas tebangan kayu ulin, diperkirakan kawasan tersebut diperkirakan tadinya merupakan hutan kayu ulin yang terus ditebang sehingga tinggal beberapa batang yang masih utuh.

Walau tak menemukan hutan kayu ulin tetapi tim masih menemukan hutan kayu ekonomis lainnya, seperti kayu meranti atau yang disebut pohon damar putih atau damar hitam.

Berdasarkan catatan, kayu ulin merupakan salah satu jenis kayu hutan tropika basah yang tumbuh secara alami di wilayah Sumatera Bagian Selatan dan Kalimantan.

Jenis ini dikenal dengan nama daerah ulin, bulian, bulian rambai, onglen, belian, tabulin dan telian.

Pohon ulin termasuk jenis pohon besar yang tingginya dapat mencapai 50 m dengan diameter samapi 120 cm, tumbuh pada dataran rendah sampai ketinggian 400 m.

Kayu tersebut sulit dibudidayakan, dan walaupun bisa tanaman ini akan b isa ditebang kayunya setelah berusia ratusan tahun sehingga tak ada orang yang mau mengembangkan jenis kayu tersebut.

Berdasarkan penelitian ulin ternyata tak sekadar bernilai ekonomis tinggi dari nilai kayunya. Lebih dari itu, kayu khas hutan tropis juga bisa dijadikan obat-obatan.

Manfaat ganda kayu ulin terdapat pada tiga jenis bagian dari kayu itu bisa dimanfaatkan untuk obat-obatan yaitu daun muda, esktrak biji, dan buahnya.

Dengan terus ditebang dan dicar tanpa ada yang bersedia membudidayakan maka sudah bisa ditaksir kedepan kayu ini hanya tinggal kenangan saja.