“RAMADAN CAKE FAIR” ANTARA PELESTARIAN BUDAYA DAN WISATA

Oleh Hasan Zainuddin

Sederetan kios berornamen khas Suku Banjar berjejer di tepian Sungai Martapura atau Jalan Sudirman Kota Banjarmasin, Ibukota Provinsi Kalimantan Selatan.

Ribuan orang berjubel diantara ratusan kios yang menggelar aneka penganan, makanan, dan minuman dan jajanan untuk berbuka puasa di lokasi tersebut.

Diantara pengunjung tak sedikit yang datang diajak kalangan biro perjalanan atau agen-agen wisata untuk menimkati atraksi budaya yang hanya dilaksanalan setahun sekali pada bulan Ramadan tersebut.

“Ramadan Cake Fair (Pasar Wadai Ramadan) kota Banjarmasin ini memang sudah dipublikasi secara luas ke berbagai nusantara dan mancanegara,karena sudah masuk kalender wisata tahunan,” kata Kepala Dinas Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Kota Banjarmasin Noor Hasan.

Karena masuk kalender kepariwisataan maka kegiatan ini setiap tahun digelar, karena di lokasi ini terdapat jenis wisata kuliner, wisata keagamaan, wisata seni budaya khas, serta wisata alam.

Selain untuk kegiatan wisata, pasar wadai ramadan juga diharapkan sebagai sarana pelestarian budaya, khususnya pelestarian kekayaan budaya masyarakat setempat yang mahir mengolah aneka penganan, makanan, dan minuman khas setempat.

Dengan adanya kegiatan tersebut maka diharapkan penganan yang sejak nenek moyang sudah ada di daratan Tanah Banjar Kalsel ini tetap tersedia untuk masyarakat setidaknya saat bulan puasa seperti sekarang ini, tuturnya.

Di Tanah Banjar, dikenal penganan aneka jenis yang disebut sebagai kue 41 macam, disamping aneka jenis makanan dan lauk-pauk yang khas pula dan itu merupakan kekayaan budaya yang hendaknya tak boleh terkikis masuknya makanan dan penganan modern.

Di lokasi pasar kue tahunan yang dikelola Pemkot Banjarmasin ini memang menggelar setidaknya 41 macam kue tradisional khas suku Banjar, di Kalsel, seperti kue amparan tatak, kraraban, lamang, cingkarok batu, wajik, kelepon, sari pangantin, sarimuka, putrisalat, dan cincin.

Kemudian juga tersedia kue untuk-untuk, gagatas,onde-onde, pare, putu mayang, laksa, kokoleh, bingka, bingka barandam, bulungan hayam, kikicak, gayam, kraraban, amparan tatak, agar-agar bagula habang, dan kue tradisonal lainnya.

Selain itu juga menggelar dagangan aneka masakan khas Kalsel, seperti gangan waluh, gangan balamak, papuyu baubar, saluang basanga, masak habang, laksa, lontong, katupat kandangan, soto banjar, gangan kecap haruan, gangan humbut, gangan rabung, pais patin, pais lais, pais baung, karih ayam, karih kambing, dan masakan lainnya.

Wakil Wali Kota Banjarmasin, Iwan Anshari ketika membuka Ramadan Cake Fair, Sabtu (21/7) mengatakan tujuan penyelanggaraan kegiatan tahunan tersebut antara lain, sebagai wahana peningkatan nilai budaya dalam pengembangan seni dan budaya dan kepariwisaraan daerah.

Juga memberikan peluang untuk terbukanya lapangan kerja, karena begitu banyak menampung para pedagang.

Kemudian lagi adalah meningkatkan roda perekonomian masyarakat Kota Banjarmasin dan menekan angka pengangguran disamping memberikan peluang kepada masyarakat untuk melakukan inovasi dan kreativitas seni dan budaya khas setempat.

Disebutkan pada lokasi Ramadan Cake Fair yang selelanggarakan Pemkot Banjarmasin ini menyediakan sedikitnya 140 kios disamping lokasi-lokasi atau lapak pedagang bakulan (pedagang memanfaatkan bakul).
Selain lokasi tersebut, di kota Banjarmasin juga terdapat puluhan lagi kegiatan serupa yang dikelola oleh masyarakat itu sendiri, yang kesemuanya menjadi daya pikat tersendiri bagi pendatang ke kota yang berjuluk kawasan seribu sungai tersebut.

Untuk menambah kesemarakan lokasi budaya dan wisata ini disediakan pula lokasi untuk hiburan tari-tarian, kasidahan, atau musik tradisional setempat, dan musik Islami lainnya.

Lokasi ini selain untuk mencari penganan berbuka puasa dan menikmati wisata tak sedikit pula orang menjadikan pasar wadai sebagai lokasi ngabuburit (menunggu bedug berbuka puasa).

Karena itu, tak heran bila ada sekelompok muda mudi berjalan santai sambil bercanda gurau berada di sana hanya untuk “membunuh waktu” hingga berbuka puasa.

Berdasarkan catatan, pasar ramadan ini sudah ada di Banjarmasin sejak tahun 70-an. Saat itu hanya kelompok-kelompok kecil saja, hingga kurang teratur dan mengganggu keindahan kota.

Mulai tahun 80-an oleh Pemko Banjarmasin pedagang itu dikumpulkan di satu lokasi, lalu dinamakan Ramadan Cake Fair.

Sejak itu pula lokasi ini dinyatakan sebagai atraksi wisata tahunan.
Untuk memperkuat lokasi ini sebagai objek wisata maka digelar pula berbagai pertunjukan rakyat, seperti madihin, lamut, jepin, dan tarian serta seni-seni tradisi lainnya.

Saat Wali Kota Banjarmasin,Kamarudin pedagang wadai ini dikumpulan menjadi satu lokasi yang pertama berada di Jalan RE Martadinata.

Dengan berkumpulnya pedagang wadai itu memperoleh sambutan positip masyarakat Umat Islam karena memudahkan mereka mencari hidangan berbuka puasa.

Tetapi respon cukup menarik justru datang dari kalangan wisatawan, dimana banyak sekali kunjungan wisatawan ke lokasi tersebut.

Akhirnya oleh Pemko Banjarmasin bahkan oleh Pemprop Kalsel, lokasi itu lebih dikembangkan yang tak sekedar tempat berjualan tetapi sebagai atraksi wisata tahunan dan atraksi budaya hingga populer sampai sekarang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: