AIR SUNGAI KALSEL SUDAH ANCAM KESEHATAN

Oleh Hasan Zainuddin


Banjarmasin, 29/8 (ANTARA) – Air Sungai Barito dan Sungai Martapura Provinsi Kalimantan Selatan yang selama ini menjadi tumpuan kehidupan warga, sekarang ini telah menjadi ancaman akibat limbah yang telah merusak kualitas air di kedua sungai tersebut.

Kondisi air tercemar logam berat dan sampah menjadi salah satu pemicu timbulnya penyakit autis, gangguan saraf, dan ginjal, kata Kepala Bidang Pemantauan dan Pemulihan Badan Lingkungan Hidup Daearah (BLHD) Kalsel, Ninuk Murtini di Banjarmasin.

Hasil pemeriksanaan air di beberapa titik hasilnya sebagian besar air sungai tercemar rata-rata di atas ambang batas.

Pencemaran antara lain, kandungan mangan atau Mn seharusnya hanya 0,1 miligram tapi di Sungai Barito April 2012 mencapai 0,3135 miligram.

Titik terparah berada di Sungai Barito di sekitar Pasar Gampa Marabahan Kabupaten Barito Kuala, selain itu di Hilir Pulau Kaget mencapai 0,2097 miligram dan Hulu Kuripan atau di sekitar kantor Bupati Barito Kuala mencapai 0.2029 miligram.

Menurut Ninuk pemeriksanaan tidak hanya dilakukan di Sungai Barito tetapi di sungai lainnya dengan total pengambilan sampel sebanyak 29 titik yaitu enam titik di sungai Barito, enam titik sungai Martapura dan tujuh titik di Sungai Negara.

“Hasil dari 29 titk yang kita ambil Mn-nya berada di atas ambang batas,” katanya.

Tingginya kandungan mangan dalam air yang disebabkan aktivitas pertambangan dan alam tersebut, bila tidak dilakukan pengolahan dengan baik sebelum dikonsumsi bisa menimbulkan berbagai penyakit tersebut.

Ciri air yang mengandung mangan cukup tinggi antara lain rasanya anyir dan berbau, serta akan menimbulkan noda-noda kuning kecoklatan pada peralatan dan pakaian yang dicuci.

Meskipun ion kalsium, ion magnesium, ion besi dan ion mangan diperlukan oleh tubuh namun air yang banyak mengandung ion-ion tersebut tidak baik untuk dikonsumsi, karena dalam jangka panjang akan menimbulkan kerusakan pada ginjal, dan hati.

“Tubuh kita hanya memerlukan ion-ion tersebut dalam jumlah yang sangat sedikit sedikit sekali. Kalsium untuk pertumbuhan tulang dan gigi, mangan dan magnesium merupakan zat yang membantu kerja enzim, besi dibutuhkan untuk pembentukan sel darah merah,” katanya.

Bukan hanya Mangan, hampir semua ion dalam air sungai Kalsel termasuk ecoli atau coliform juga melampaui ambang batas sangat tinggi, seperti ecoli yang di antaranya berasal dari tinja manusia, seharusnya hanya 100 miligram kini mencapai maksimal 5.800 miligram.

Kondisi tersebut, menyebabkan penyakit diare, muntaber dan berbagai penyakit lainnya, yang biasanya akan terlihat dalam waktu cepat.

Sedangkan penyakit ginjal atau saraf baru bisa terdeteksi selama sepuluh tahun.

“Namun untuk air PDAM biasanya sudah dilakukan pengolahan jadi layak dikonsumsi, hanya saja biaya pengolahannya jauh lebih mahal,” katanya.

Beberapa waktu lalu Kepala Dinas Kesehatan Kalsel Drg.Rosihan Adhani,MS mengimbau warga agar tidak mengkonsumsi air begitu saja tanpa melalui proses pengolahan yang benar.

Contohnya bila air dikonsumsi tanpa proses yang baik bisa terjadi kecacatan terhadap bayi maupun warga, karena air sudah tercemar limbah pertambangan emas dan penambangan batubara skala besar di hulu-hulu sungai.

Dari hasil survei yang dilakukan Dinas Kesehatan Kalsel penyakit berbasis lingkungan masih merupakan masalah kesehatan terbesar masyarakat.

Hal tersebut tercermin dari masih tingginya kejadian seperti keracunan dan timbulnya penyakit yang berbasis lingkungan demikian.

Kondisi ini disebabkan masih buruknya kondisi sanitasi dasar terutama air bersih dan penggunaan jamban keluarga yang tidak memperhatikan ketentuan kesehatan.

Data survei dilakukan Dinkes, kematian bayi di Kalsel rata-rata disebabkan karena buruknya kondisi lingkungan.

Penyakit akibat faktor lingkungan tersebut diantaranya, Asma 2,5 persen, Pneumena 16,4 persen, Diare 11,4 persen, tetanus 4,7 persen, ISPA 3,9 persen, Ensefalitis 2,5 persen, Bronchitis 2,5 dan Emfisema 2,5 persen.

Sebaiknya sebelum air yang tercemar limbah tersebut di konsumsi maka terlebih dahulu di endapkan baru kemudian di rebus hingga mendidih 100 drajat celcius selama satu menit, dengan demikian diharapkan bakteri yang ada dalam air tercemar tersebut bisa mati.

Warga Banjarmasin dan warga lain di Kalsel terutama tinggal di pinggiran sungai masih sangat tergantung dengan keberadaan sungai untuk melakukan aktivitas sehari-hari baik itu, mandi, mencuci memasak dan membuang air besar.

Budaya warga yang masih banyak membuang air besar ke sungai melalui budaya jamban yang menyebabkan kandungan bakteri ecoli sangat tinggi.

Bila air yang tercemar bakteri ecoli dikonsumsi tanpa proses pemanasan yang sesuai maka bisa menimbulkan penyakit diare serta infeksi pencernaan.

Bukti demikian bisa dilihat dikala air PDAM macet pada musim kemarau dan banyak warga mengandalkan air sungai untuk makan dan minum maka akhirnya sering terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit diare di kota Banjarmasin.


Pencemaran Tinggi
Kantor Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Banjarmasin sendiri juga mengungkapkan akibat begitu tingginya tingkat pencemaran limbah di sungai maka kandungan oksigen dalam air Sungai Barito dan Martapura terus berkurang.

Akibat dari kandungan oksigen dalam air (DO) terus berkurang maka beberapa jenis ikan air Sungai Martapura kini menghilang.

Hasil penelitian ternyata kandungan oksigen dalam air tersebut di bawah ambang batas. Sebagai contoh saja, kandungan udara dalam air yang ideal 6 miligram (Mg) per liter, tetapi nyatanya di sepuluh titik lokasi yang diteliti kondisinya sudah memprihatinkan.

Akibatnya banyak ikan yang tidak bisa lagi bernapas lantaran oksigen yang kurang itu.

Berkurangnya oksigen tersebut tersebut karena begitu tingginya tingkat pencemaran di sungai, seperti pencemaran limbah rumah tangga, limbah industri, serta limbah alam lainnya.

Masyarakat Banjarmasin terbiasa membuang sampah ke sungai, sementara 23 industri kayu dan industri lainnya skala besar di pinggir sungai juga dinyatakan positip mencemari air dikedua sungai tersebut.

Pencemaran limbah demikian mengakibatkan limbah itu harus diproses oleh jasad organik dalam air. Jasad-jasad dalam air yang memproses limbah air tersebut ternyata memerlukan oksigen cukup besar pula akhirnya jumlah oksigen di dalam air terus berkurang.

Dampak kian berkurangnya jumlah oksigen tersebut adalah menghilangnya beberapa jenis ikan terutama ikan khas Sungai Martapura seperti kelabau, sanggang, lampam, jelawat, dan ikan puyau.

Berdasarkan penelitian tersebut kandungan oksigen di dalam air sungai yang diteliti seperti di Sungai Basirih kandungan udaranya mencapai 5,36 Mg/L, air Sungai Mantuil 5,8 Ml/L, air Sungai pelambuan 5,8 Mg/L, air Sungai Kuin Cerucuk 4,8 Mg/L, air Sungai Kayutangi 4,78,Ml/L, air Sungai Banua Anyar 4,79 Ml/L, air Sungai Bilu 5,03 Ml/L, air Sungai Baru 4,74 Ml/L, serta air Sungai Muara Kelayan 4,79 Ml/L.

Sungai-sungai kecil yang diteliti itu merupakan anak sungai Martapura, sedangkan Sungai Martapura sendiri adalah bagian dari Sungai Barito.

Selain kandungan udara yang terus berkurang ternyata kandungan besi juga ternyata terlalu tinggi, idealnya hanyalah 0,3 Ml/l.

Hasil penelitian kandungan besi yang ada seperti di sungai Basisih terdapat kandungan besi 1,1 Mg/L, air Sungai Mantuil 1,91 Mg/L, air Sungai Pelamuan 1,5 Mg/, air Sungai Suaka Insan 1,65 Mg/L, air Sungai Kuin Cerucok 2,08 Mg/L, di air Saungai Kayutangi 1,76 Mg/L, dan air Sungai banua Anyar 1,84 Mg/L.

Berdasarkan catatan lain bukan hanya kandungan besi, yang tinggi di sungai Banjamasin juga kandungan logam berat lainnya yang kalau tidak diantisipasi berbahaya bagi kesehatan, seperti kandungan tembaga, maupun kandungan timah hitam.

Melihat kondisi sungai yang demikian, maka berbagai kalangan menganjurkan agar pemerintah lebih serius menangani sungai dan membuat peraturan daerah (Perda) tentang sungai yang memberikan sanksi berat kepada warga maupun industri membuang limbah ke sungai.

KEMILAU PERMATA “KOTA INTAN” MAGNET WISATAWAN

Oleh Hasan Zainuddin

 

Bupati Banjar,Pangeran Khairul Saleh sedang mendeteksi kualitas Intan

 


“Kalau tidak berkunjung ke Kota Martapura, rasanya kurang sempurna dalam kunjungan ke Banjarmasin,” kata Ketua Komisi I bidang hukum dan pemerintahan DPRD Kalsel H Achmad Bisung kepada tamunya Komisi I DPRD Sumatera Selatan (Sumsel).

“Kota intan,” Martapura Ibukota Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan salah satu kota tujuan wisata di provinsi ini lantaran selain terdapatnya pendulangan intan tradisional, juga memiliki sebuah lokasi sentra penjualan batu permata terbesar di Indonesia.

Lokasi pasar yang disebut sentra penjualan batu permata tersebut yaitu pertokoan Cahaya Bumi Selamat Martapura (CBSM) yang terdapat ratusan kios khusus menjual batu permata, sekaligus diramaikan ratusan lagi pedagang kali lima juga menjual batu permata tersebut.

“Komisi I DPRD Kalsel walau tidak membidangi industri dan perdagangan, serta kepariwisataan, tetapi juga ikut mempromosikan wisata permata Martapura, yang berada sekitar 40 kilometer utara Banjarmasin,” kata Achmad Bisung.

Makanya kalau tidak sampai ke Martapura, namanya bukan ke tanah Banjar (sebutan umum daerah Kalsel sejak tempo dulu),” tambahnya.

Ketua Komisi I DPRD Kalsel itu mengatakan, di Martapura terdapat beragam jenis permata dari batu-batuan hasil pendulangan masyarakat setempat.

Permata itu dari harga termurah atau Rp5.000 per biji sampai termahal mencapai jutaan rupiah seperti intan berlian. Bahkan untuk intan berlian per biji ada yang mencapai ratusan juta rupiah, ujar politisi senior Partai Demokrat tersebut.

“Bapak dan ibu bisa memilih permata jenis apa saja, sesuai harga sebagai oleh-oleh buat istri atau keluarga,” lanjut mantan Wakil Ketua Komisi III bidang pembangunan dan infrastruktur DPRD Kalsel yang juga membidangi pertambangan dan energi itu.

“Jadi mumpung ke Kalsel, sempatkan mampirke Martapura yang juga mendapat julukan sebagai Serambi Mekkah Kalsel,” katanya berpromosi.

Bupati Banjar, Ir Gusti Khairul Saleh dalam beberapa kesempatan selalu menyatakan, pusat pertokoan CBSM merupakan kebanggaan kabupatennya dan kebanggaan Provinsi Kalsel.
“Bahkan boleh jadi CBSM menjadi kebanggaan Indonesia, karena lokasi itu sudah begitu dikenal di luar negeri, khususnya kalangan pedagang batu permata intan, masalahnya intan Martapura memiliki kualitas sangat tinggi dan banyak dicari penggemar batu mulia tersebut,” katanya.

Pemerintahnya menjadinya CBSM sebagai objek wisata andalan, yang selalu dipromosikan melalui berbagai famplet dan brosur baik yang disebarkan Pemkab Banjar, maupun Pemprov Kalsel.

Melihat kekhasan objek wisata itu, maka sudah dipastikan baik pejabat negara, maupun pejabat pemerintah provinsi dan kabupaten di tanah air bila berkunjung ke Banjarmasin atau ke Kalsel selalu mengunjungi CBSM.

Menurut, Muksin seorang pedagang di pertokoan CBSM, bukan hanya pejabat yang selalu berkjunjung ke lokasi tersebut tetapi tak sedikit kalangan artis yang datang khusus mencari berlian.

Mengutip keterangan kalangan selebriti, Muksin menuturkan para artis tersebut belum berbangga hati bila tidak menggunakan cincin atau liontin bermata berlian Martapura.

Kelebihan berlian Martapura karena putih bening dan bersih, sehingga berkilau atau bersinar kalau digunakan sebagai batu perhiasan, berliannya lebih bening ketimbang berlian dari luar negeri yang biasanya warnanya agak kecoklatan atau warna “cocacola”, atau ada bercak hitam yang disebut “batahi lalat”.
Pedagang dari Negara Lain
Bukan hanya berlian yang dicari pendatang ke Martapura, tetapi juga aneka permata lain, seperti zamrud, yakut, merah delima, dan aneka batu permata lainnya.

Masalahnya, Martapura selain memiliki perajin berlian juga ratusan perajin batu permata yang lain.

“Banyak pedagang batu permata dari berbagai negara lain, seperti dari India, Birma, Thailand, Singapura, Afrika Selatan, Malaysia, bahkan dari negara Eropa datang ke Martapura membawa bahan baku batu permata,” kata Muksin.

Bahan baku batu permata tersebut dijual oleh mereka ke perajin setempat, kemudian oleh perajin setempat diolah menjadi batu cincin, batu giwang, liontin, dan jenis batu permata lainnya.

Oleh karena itu batu permata apa saja tersedia di CBSM Martapura ini, karena bahan baku yang datang dari berbagai penjuru.

Para pedagang batu permata yang menjual bahan baku tersebut keumudian uangnya dibelikan lagi berbagai olaharan batu permata Martapura termasuk berlian yang kemudian dijual kembali oleh mereka ke negara asal.

Pengakuan para pedagang permata, Martapura sudah memiliki nama besar di kalangan pedagang permata, kalau permata di jual di daerah lain, harganya bisa turun tetapi kalau dijual di Martapura harganya bisa selangit.

Oleh karena itu banyak kalangan pedagang permata yang selalu ingin bertransaksi di kota ini, karena banyak pemburu permata berkeliaran di kota kecil tersebut.

Berdasarkan keterangan pedagang yang lain, kawasan pertokoan SBSM Martapura benar-benar menjadi magnet uang, karena setiap hari miliyaran rupiah uang beredar di kawasan ini.

Ratusan jenis batu permata olahan dari bumi orang Banjar ini diburu warga dari berbagai kota di Indonesia, dan negara lain.

Engkon seorang pemilik kios mengaku setiap hari dirinya dapat menjual puluhan jenis batu permata. Dari penjualan tersebut memperoleh omset antara Rp5 juta hingga Rp10 juta rupiah per hari.
Transaksi Di Pinggiran
Kelebihan lain wilayah ini juga terdapat lokasi-lokasi tertentu di pinggiran CBSM yang terdapat kegiatan transaksi berlian dan batu permata lainya dengan omset tak sedikit.

“Kalau nanti kalian lihat di belakang pasar ada orang yang asyik duduk-duduk seperti tidak ada kerjaan, jangan salah sangka, mereka itu bukan gelandangan tetapi justru orang-orang kaya,” kata seorang pemandu wisata kepada tamunya.

Di kantong mereka penuh dengan batu-batu berlian, yang kalau diuangkan bisa mencapai miliaran rupiah, tambah pemandu wisata tersebut lagi kepada tamunya.

Seorang wisatawan pun pernah bercerita saat sampai di CBSM bergegas menuju belakang pasar membuktikan ucapan pemandu wisata tersebut.

Ternyata benar saja, terlihat seorang pemuda sedang duduk di antara motor-motor yang sedang diparkir sambil memegang sebuah kaca pembesar untuk melihat batu intan atau batu permata lain yang sudah digosok.

Mengukur karat batu permata di CBSM dengan cara memasukkan batu berlian itu ke lubang-lubang pada sebuah pelat besi untuk mengukur nilai karatnya.

Setelah selesai meneliti batu permata, pemuda itu mengembalikan ke seorang bapak berusia paruh baya yang sedang berbincang dengan empat orang rekannya di teras sebuah toko yang tutup.

Di sudut lain, seorang pedagang sedang melihat-lihat batu intan menggunakan kaca pembesar. Untuk melihat apakah ada cacat atau retakan di batu intan yang masih mentah itu.

Karena bila ada cacat akan mempengaruhi harga jualnya, rupanya pedagang itu sedang bertransaksi dengan pendulang batu intan tradisional yang setelah berhasil mendulang lalu datang ke lokasi kaki lima itu untuk dijual.

Berdasarkan keterangan pedagang permata kaki lima tersebut memang lebih suka berdagang seperti itu dibandingkan bila harus menyewa toko, dan itu malah menjadikan Pasar Intan CBSM menjadi lokasi transaksi berbeda.

Keunikan ini menjadi daya tarik untuk para wisatawan berkunjung ke Kota Martapura.

Berbagi jenis batu permata yang dibentuk menjadi perhiasan berupa gelang, kalung, cincin, hingga bros dan bentuk hisanan cendramata lainya dijual di kawasan pertokoan CBS ini.

Aneka batu-batuan yang menjadi perhiasan, antara lain akik, biduri bulan, topas, merah siam, merah daging, merah delima, cempaka, berlian, anggur, giok, intan, kuarsa, kecubung, mutiara, mata kucing, pirus, safir, yakut, zamrud, ruby,opal, spinel, bloodstone, tashmarine, quattro, dan alexandrite.

Batu permata lain yang juga terdapat di sini tetapi belum ada nama Indonesia seperti, chrysoberyl, chrysocolla, chrysoprase, hematite, jasper, kunszite, lapis lazuli, malachite, obsidian, olivine atau peridot, pyrite, tanzanite, tourmaline, dan zircon.

Kelebihan lain Kota Martapura, adalah kota santri lantaran banyak sekali pesantren di kota ini yang paling terkenal adalah pesantren Darussalam.

Objek wisata ziarah juga banyak di daerah ini seperti makam makam KH Muhammad Zaini Abdul Ghani, makam Syeh Muhamad Arsyah Al Banjari, serta masjid Al Koramah.

perajin batu cincin

DOMINASI “APAM BERAS” HIDANGAN LEBARAN MULAI TERGESER

Oleh Hasan Zainuddin

Kue apam
Banjarmasin, 20/8 (ANTARA) – Sederetan toples berisi aneka makanan seperti biskuit, manisan, dan gula-gula berjejer di meja tamu sebuah rumah penduduk di Desa Inan Kecamatan Paringin Paringin Selatan, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan.

Sementara, sebuah piring beralaskan daun pisang yang berisi penganan khas setempat, berupa “apam beras”, juga disediakan pemilik rumah di saat lebaran Idul Fitri tahun 1433 Hijriah ini.

Kondisi demikian agaknya membuktikan bahwa kini telah terjadi sedikit pergeseran dominasi hidangan lebaran di kawasan kaki Pegunungan Meratus tersebut, dari dominasi penganan apam beras ke makanan yang lebih modern yang banyak diperjualbelikan di supermarket, minimarket atau pasar lainnya.

“Sekarang aneka macam biskuit, aneka manisan, dan gula-gula mudah diperoleh dan harganya relatif terjangkau, sehingga kami juga menyediakan aneka makanan modern tersebut,” kata Supian, penduduk setempat.

Masuknya kue-kue modern tersebut setelah berbagai kemajuan juga dirasakan di kawasan yang dikenal sebagai wilayah perkebunan karet alam itu, terutama jaringan jalan yang mulus sampai ke desa-desa termasuk terang benderang listrik masuk desa, sehingga pemasaran kue modern sampai ke wilayah itu.

Tetapi keberadaan kue khas apam beras tetap selalu ada, dan itu seakan harus disediakan, sebab kue tersebut dinilai lebih sakral dan bermakna, katanya.

Menurut Ibu Hasnah, penduduk setempat membuat kue itu tak terlalu susah, caranya adalah beras direndam ke dalam air satu malam, kemudian ditumbuk di dalam lesung menggunakan alu.

Agar beras tersebut lebih halus kemudian beras yang sudah ditumbuk disaring dengan alat khusus yang disebut “ayakan” hingga menghasilkan tepung beras yang lembut.

Tepung beras kemudian dicampur air secukupnya, lalu diberi kapur dan ragi, serta beberapa bahan lainnya, kemudian diaduk rata, setelah itu barulah dikamir (permentasi) satu malam.

Setelah adonan dibiarkan dipermentasi satu malam bila dinilai sudah kamir atau “rawap” (pengembang), barulah adonan tersebut dimasak dengan cara dikukus dalam panci besar.

Caranya, adonan dimasukkan dalam wadah khusus yang disebut cipir, lalu dimasukkan ke dalam panci besar yang berisikan air, tentu saja adonan di dalam cipir tak sampai terkena air.

Lalu panci besar tersebut ditaruh ke atas tungku untuk dimasak menggunakan bahan bakar berupa kayu bakar, dan dibiarkan beberapa saat. Bila sudah matang baru apam baras tersebut diambil dan dibungkus dengan daun pisang atau daun keladi (talas), kata Ibu Hasnah.

Setelah semua dinilai siap barulah kue apam dihidangkan kepada para tamu, atau bisa pula menjadi sovenir bagi pendatang ke kampung tersebut, sebagai oleh-oleh pulang.
Kue Sakral

dua kue dinilai sakral
Bukan hanya apam beras yang harus tersedia pada hidangan lebaran itu, tetapi bagi warga tertentu juga harus menyediakan tapai ketan, dan aneka kue tradisional lainnya.

Kue apem terbagi dua lagi, yaitu jenis apam beras warna merah dan apem beras bewarna putih.

Kue apem bewarna merah diberi gula merah, sementara apam beras putih tak diberi gula. Namun, untuk menikmati kue apam warna putih harus disediakan cairan gula merah (juruh) atau sirup.

Menurut Supian, hidangan kue apam seakan harus ada karena kue itu yang paling banyak dicari para pendatang dari kota.

Para perantau yang pulang kampung biasanya datang dari Kota Banjarmasin dan daerah lain di Kalsel, maupun yang datang dari kota lain Samarinda, Balikpapan (Kaltim), Palangkaraya, Kuala Kapuas, Sampit (Kalteng), bahkan dari Pulau Jawa dan Sumatra.

Para perantau datang ke kampung saat lebaran selain sungkeman kepada orang tua, sanak famili sekaligus juga berziarah ke makam orang tua atau sanak famili yang sudah meningal dunia.

Para pendatang yang umumnya berhasil mengadu nasib di kota itu rindu kampung halaman sekaligus bernostalgia mencicipi berbagai hidangan khas setempat terutama di saat musim lebaran.

Kerinduan semacam itu itu biasanya mampu menyingkirkan penganan atau biskuit serta makanan kecil yang dibuat secara modern.

Pada saat itu, menu yang dinikmati mereka justru kue-kue tradisional setempat yang seperti apam baras.

Kue apam yaitu satu kue tradisional yang dibuat melalui hasil permentasi kemudian dikukus dan dihidangkan setelah dibubuhi berbagai campuran.

Bukan hanya kue apam yang dihidangkan penduduk setempat yang mayoritas beragama Islam tersebut, tetapi juga kue-kue tradisional yang lain.

Bahkan kue tradisional lainnya itu termasuk kue langka yang biasanya hanya dibuat saat lebaran atau acara-acara kenduri yang bersifat sakral.

Taruhlah kue tradisional dimaksud seperti kue lemper, kue cucur, lemang, tapei ketan atau tapei ubi kayu, cingkarok batu, pupudak, gagatan, bulungan hayam, kikicak, kraraban, pais waluh, dan lainnya.

Ada di antara kue yang dihidangkan itu dinilai sakral dan tak sembarang orang boleh membuatnya.

Sebab dalam pembuatannya kalau tidak mengindahkan kaidah yang sudah dipercayai dan berlaku di kawasan tersebut maka pembuat kue itu bisa kualat.

Kue yang bersifat sakral tersebut, seperti lemang, wajik, bubur habang, bubur putih, cucur, serta kue sasagon.

Kue-kue ini oleh nenek moyang dulu dibuat dan digunakan untuk suguhan acara tertentu, seperti acara pengobatan untuk pasien yang sakit.

“Tak bisa dipungkiri kepercayaan nenek moyang di kawasan pedalaman Kalimantan Selatan ini masih kental nuansanya dan mempengaruhi budaya warga hingga sekarang, karena nenek moyang warga setempat sebelum masuknya Islam adalah beraliran animesme kaharingan,” kata seorang penduduk setempat.

Seorang pemudik lebaran dari Banjarmasin Abumansyur menyatakan bahagia ketika pulang kampung, karena ia bisa bernostalgia mencicipi kue-kue zaman dulu

LEBARAN BERIKAN BERKAH WARGA KAMPUNG KETUPAT

Oleh Hasan Zainuddin


Sekelompok gadis memainkan jemarinya mengayam daun kelapa dan daun nipah muda hingga menjadi kulit ketupat yang disebut “urung”.

Sementara para ibu-ibu begitu asyiknya merebus kulit ketupat yang sudah diisi dengan beras hingga menjadi ketupat matang yang siap dijual kepada pembeli yang datang dari berbagai penjuru.

Begitulah kesibukan para gadis dan ibu-ibu yang berada di “kampung ketupat” desa Sungai Baru atau Jalan Pekapuran Kota Banjarmasin, ibukota provinsi Kalimantan Selatan.

Kesibukan kian terlihat menjelang Lebaran yang seperti sekarang ini, karena permintaan akan kulit ketupat maupun ketupat yang sudah masak meningkat tiga kali lipat dibandingkan hari biasanya.

Permintaan ketupat meningkat menyusul kian digemarinya makanan yang berbahan ketupat saat suguhan tamu Idul Fitri.

“Permintaan kulit ketupat maupun ketupat yang sudah matang meningkat tajam menjelang Idul Fitri, hampir-hampir kami kewalahan menerima pesanan tersebut,” kata Acil Nurul perajin ketupat saat ditemui bekerja di kampung ketupat, Sabtu.

Menurut Acil Nurul, bila hari biasanya satu keluarganya hanya membuat 200 buah ketupat masak, tetapi karena banyaknya permintaan maka pembuatan menjadi 700 buah per hari.

“Kalau keluarga kami masih mending hanya 700 buah, kalau keluarga perajin yang lain bisa sampai 3.000 hingga 4.000 buah per perhari,”kata Acil Nurul seraya menunjuk beberapa lokasi pusat penjualan ketupat di kawasan padat penduduk tersebut.
Sebab, tambahnya, permintaan bukan datang dari Kota Banjarmasin ini saja tetapi ada yang datang dari Kota Banjarbaru, Martapura, Marabahan dan kota-kota lain di Kalsel, bahkan datang dari Kota Kuala Kapuas Kalimantan Tengah.

Ketupat masak dijual dengan harga Rp3.000 per buah, sementara kalau kulit ketupat disebut urung hanya dijual Rp5 ribu per 10 buah.

“Kalau kami mampu menjual 700 buah ketupat masak per hari dikalikan Rp3.000,- maka per hari kami memperoleh uang Rp2.100.000,-per hari, kalau dikurangi biaya produksi maka keuntungannya sekitar Rp1 juta per hari,” kata Acil Nurul.

Keuntungan tersebut hanya beberapa hari ini saja saat menjelang Lebaran, tetapi usai lebaran biasanya pasarannya biasa-biasa lagi seperti sedia kala yaitu sekitar 200 buah per hari.

Ketupat tersebut dibeli oleh masyarakat sebagai bahan makanan khas seperti soto Banjar, katupat batumis, katupat kandangan, campuran makan sate, gado-gado, maupun untuk bahan makanan lainnya.

Menurut Acil Nurul yang ditemani putrinya, mereka sekeluarga merupakan perajin yang bertindak sebagai grosir, hasil olahan mereka diambil oleh pedagang eceran yang menggelar dagangan lagi di beberapa lokasi di kota ini.

“Kami di kampung ketupat ini hanya sebagai perajin, kemudian dibeli atau dipesan oleh pedagang eceran, bila kami jual Rp3.000 per biji, maka pedagang eceran menjual lagi antara Rp3.500,- hingga Rp4.000,- per buah,” katanya.

Lihat saja di berbagai lokasi penjualan ketupat di Banjarmasin ini seperti di jalan A Yani, Jalan Pire Tendean, Jalan kelayan dan daerah lainnya hampir dipastikan mereka mengambil ketupat tersebut dari perajin kampung ketupat, kata Acil Nurul.
Sejak zaman Jepang
Menurut keterangan keberadaan kampung ketupat sebagai sentra perajin ketupat memang sudah lama berlangsung, dan konon sejak zaman penjajahan Jepang dulu.

Mulyadi (60) tahun penduduk asli setempat menuturkan, kebiasaan warga membuat ketupat itu sudah terjadi turun temurun, hampir tak ada yang tahu persis sejak mulainya kebiasaan tersebut.

“Kakek saja yang bernama Datok Elok pernah bercerita sejak ia kecil kebiasaan membuat ketupat sudah ada di kampung tersebut, yang berarti jelas sudah ratusan tahun,” kata Mulyadi.

Menurut Mulyadi, Datok Elok merupakan tetuha kampung yang membangun Desa Sungai Baru, karena itu hampir seluruh perajin ketupat di lingkungan itu sebagian besar adalah keturunan Datok Elok.

Jumlah perajin ketupat di kampung ketupat sudah sulit di hitung jumlahnya, karena menyebar di lingkungan RT 1, RT 2, RT 3, RT 4, RT 5, RT 6, hingga lingkungan RT 7.

Tadinya mereka yang membuat ketupat hanyalah penduduk asli setempat, tetapi setelah potensi ekonomi membuat ketupat begitu menjanjikan sehingga belakangan banyak pendatang yang juga ikut-ikutan menjadi perajin ketupat.

Banyak pendatang dari Jawa dan Madura yang sekarang menjadi perajin ketupat, kata Mulyadi.

Menurut Mulyadi yang mengaku sejak kecil sudah tinggal di kawasan tersebut usaha membuat ketupat memberikan lapangan pekerjaan terhadap banyak orang.

Bukan saja mereka yang hanya mengayam daun kelapa dan daun nifah menjadi kulit ketupat, tetapi tak sedikit yang menjadi pedagang grosir, pedagang eceran, sampai mereka yang bertindak sebagai pencari bahan baku daun kelapa dan daun nifah.

Untuk daun muda kelapa muda lantaran belakangan ini sudah mulai sulit diperoleh, maka banyak yang didatangkan dari daerah lain, begitu pula untuk daun muda tanaman nifah (tanaman pantai) didatangkan lebih jauh lagi.

Daun nipah ini didatangkan oleh pencarinya dari Tanipah, wilayah pesisir laut Jawa, yang dibeli oleh perajin dengan harga Rp15 ribu per ikat, satu ikat bisa menjadi 300 buah kulit ketupat,” kata Mulyadi.

Sementara daun muda kelapa juga Rp15 ribu per ikat dengan hasil yang bisa diolah lebih banyak lagi jumlah ketupatnya, karena biasanya ketupat dari daun kelapa maka lebih kecil dibandingkan dengan ketupat daun nipah.

Menurut Mulyadi, para perajin ketupat tersebut selain panen saat lebaran Idul Fitri juga biasanya panen saat lebaran Idul Adha, tetapi juga bisa meningkat saat Imlek, atau hari Natal.

Sementara pada hari-hari biasa kebanyakan perajin hanya memenuhi para pemilik warung maran, restauran, dan pesanan pribadi untuk keperluan rumah tangga.

 

BERSEPEDA MOTOR MUDIK LEBARAN SEBUAH KESENANGAN

Oleh Hasan Zainuddin


Mengendarai sepeda motor bersama keluarga, istri dan dua anak serta beberapa buah tas berisi pakaian dengan jarak tempuh 210 kilometer dari Banjarmasin ke kampung halaman sudah terbiasa di saat pulang mudik Lebaran.

Padahal saat balik mudik tentu sepeda motor bertambah beban, selain keluarga dan tas pakaian masih ada setandan pisang, kelapa, dan sayuran yang ikut bergelantungan.

“Kalau dipikir-pikir sebelumnya tak akan mampu mengendarai sepeda motor dengan beban seperti itu, tetapi setelah dijalani kok enteng-enteng saja,” kata Abu Mansyur penduduk Kota Banjarmasin yang pulang kampung ke Desa Panggung, Kecamatan Paringin Selatan, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan.

Bahkan berkendaraan sepeda motor saat-saat seperti itu, merupakan sebuah tantangan, dan keasyikan tersendiri yang menyenangkan hati, kata Abu Mansur yang mengaku setiap tahun pulang kampung tersebut.

Kebiasaan mudik lebaran menggunakan sepeda motor belakangan ini seakan menjadi trend baru, sehingga seminggu sebelum dan sesudah lebaran terlihat jalan trans Kalimantan, khususnya antara Kota Banjarmasin, ibukota Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) ke arah kawasan Banua Enam (enam kabupaten Utara Kalsel) atau yang sering disebut kawasan hulu sungai dipenuhi konvoi sepeda motor.

Apalagi jarak tempuh antara dua wilayah tersebut relatif tak jauh, paling jauh hanyalah ke Kabupaten Tabalong sekitar 250 kilometer Banjarmasin, ditambah dengan kondisi jalan yang mulus beraspal maka naik sepeda motor menjadi pilihan, dan waktu tempuh hanya beberapa jam saja.

“Ketimbang harus naik angkutan darat roda empat yang tarifnya kian mahal, dan harus berjubel pula mendingan naik sepeda motor sendiri, selain murah meriah, santai, bahkan ada rekreasinya,” kata Abu Mansyur.

Bayangkan saja bila seorang pemudik yang harus menggunakan angkutan kendaraan roda empat harus beberapa tempat dilalui, mulai dari rumah ke terminal angkutan kota dulu, dari terminal angkutan kota baru ke terminal induk.

Dari terminal induk di Banjarmasin itu bisa jadi akan beberapa kali singgah di terminal lainnya, baru sampai ke terminal tujuan di kota yang dituju.

Sampai di terminal di kota yang dituju harus mencari angkutan lagi baru sampai ke rumah, paling tidak mencari ojek, akibatnya selain menelan waktu lama biaya yang dikeluarkan sangat mahal.

Ambil contoh saja, kalau naik angkutan umum dari Banjarmasin ke desanya Panggung Kecamatan Paringin, mungkin satu orang bisa mengeluarkan dana minimal Rp75 ribu, bayangkan kalau satu keluarga empat orang berarti uang harus keluar Rp300 ribu, kalau pulang pergi berarti harus tersedia uang Rp600 ribu.

Dibandingkan kalau hanya menggunakan sepeda motor, tinggal mengisi bensin sepuluh liter Rp45 ribu itu sudah bisa pulang pergi berarti biaya yang harus dikeluarkan sangat murah, biaya lainnya bisa dipergunakan untuk bersedekah ke sanak famili di kampung, kata Abu Mansyur lagi.

Mengingat pertimbangan itulah maka berkendaraan mudik Lebaran sekarang menjadi banyak pilihan pemudik di Kalsel.

Apalagi, kata pemudik yang lain Aliansyan yang tujuannya ke Tanjung Kabupaten tabalong sejak beberapa tahun belakangan ini mentradisikan pulang lebaran berkonvoi ria.

Naik sepeda motor mudik banyak kelebihannya, antara lain pemudik tak mesti harus menjadwalkan waktu keberangkatan, bila sudah siap maka sudah bisa berangkat, baik pagi, siang, bahkan malam hari sekalipun.

Sementara kalau ingin naik angkutan darat atau angkutan sungai maka untuk jurusan tertentu biasanya ada jam tertentu pula keberangkatannya, makanya harus menyesuaikan jam keberangkatan tersebut.

Kelebihan lain kalau naik sepeda motor perjalanan bisa diatur sedemikian rupa, kalau sudah lelah bisa beristirahat dulu di kawasan tertentu yang nyaman, seperti singgah di perkebunan karet cukup beralaskan tikar seadanya maka bisa tiduran sekeluarga, setelah merasa segar lagi baru perjalanan dilanjutkan.
Kesetiakawanan
Biasanya dalam mudik Lebaran, banyak sekali yang menggunakan sepeda motor seperti muatan satu keluarga tersebut, sehingga ada perasaan kesetiakawanan antar pemudik.

Saling janjian berangkat, saling janjian lokasi istirahat, bahkan saling janjian bantu membantu bila ada persoalan di jalan menjadi sebuah ikatan antar pemudik.

“Dalam perjalanan mudik lebaran itu, biasanya ada sepeda motor pemudik yang ngadat atau mogok, maka secara bersama-sama pemudik untuk memperbaikinya, yang satu biasanya membawa peralatan kunci, yang lain membawa peralatan tambal ban, bahkan ada yang membawa pompa angin dan sebagainya,” kata Aliansyah.

Sementara Abdul Fatah seorang bujangan yang sudah membudayakan pulang kampung naik sepeda motor menyatakan rasa senangnya kalau mudik lebaran tersebut, masalahnya tambahnya biasanya ia bersama-sama teman satu kelompok tiga sampai lima orang janjian berangkat ke kampung halaman.

Tetapi dalam perjalanan mereka tak semata tancap gas menuju kampung, tetapi justru menyinggahi lokasi-lokasi objek-objek wisata yang dilalui.

“Kami biasanya sebelum sampai ke kampung di Paringin, Kabupaten Balangan menyempatkan dulu singgah ke sungai Batu Benawa untuk rekreasi, atau ke beberapa objek wisata lain,” kata Abdul Fatah.

“Biasanya dalam perjalanan singgah di hamparan pepohonan rindang sekitar Binuang, dan satu kelompok menggelar kemah dan sempat beberapa jam istirahat di sana bahkan biasanya kalau pulang lagi ke Banjarmasin singgah lagi di sana sempat saja menggelar acara masak-masak sehingga sungguh menyenangkan,” katanya.

Kalau cerita pemudik yang lain bersepeda motor karena mudah singgah dimana saja apalagi ia suka sekali dalam perjalanan melakukan ziarah ke kubur para ulama.

Makanya dalam perjalanan biasanya ia bersama keluarga mampir ziarah di beberapa kuburan yang dinilai kramat, seperti makam Datuk Kelampaian, atau yang lebih dikenal makam Syekh Muhamad Arsyad Al Banjari, atau maka ke makam guru sekumpul yang dikenal dengan makam KH Zainie Ganie.

Setelah itu, menyinggahi makam Datu Sanggul di Kabupaten Tapin, dan lokasi-lokasi ziarah lainnya, disamping singgah di masjid-masjid tua dinilai kramat untuk shalat, sehingga dalam kegiatan mudik lebaran ini tak sekedar pulang kampung tetapi ada nilai keagamaan yang diperoleh dalam tradisi tersebut, tambahnya.

Setibanya di kampung halaman lalu ingin kemana-mana lagi mengunjungi sanak famili mengucapkan selamat Lebaran menjadi mudah dengan kendaraan sendiri, tak perlu harus cari angkutan lagi.

Kian ramainya konvoi kendaraan bermotor mudik lebaran sekarang ini selain memang jalan sudah tersambung kemana-mana juga tingkat kesejahteraan masyarakat kian membaik.

Dengan tingkat kesejahteraan yang membaik sehingga sebagian besar keluarga di Kalsel belakangan ini memiliki sarana sepeda motor.

Apalagi belakangan ini berbagai dealer sepeda motor begitu kian gencarnya mempromosikan dagangannya serta mempermudah penjualan kendaraan roda dua itu dengan cara sistem kredit, tanpa uang muka pula, akhirnya jumlah kepemilikan sepeda motor warga Kalsel kian tak terbendung.

Hanya saja kendaraan yang dimiliki oleh warga Kalsel sebagian besar jenis bebek, sedikit sekali sepeda motor jenis lainnya.

Pihak Dinas Perhubungan Kalsel mengakui bahwa jumlah pemudik lebaran di wilayah Kalsel ini baik yang meninggalkan Kalsel maupun antar daerah di propinsi ini terus meningkat.

Jumlah pemudik lebaran di Kalsel per tahun diperkirakan 1,85 juta orang dan dari jumlah itu sebanyak 1,3 juta orang memanfaatkan mudik lebaran melalui jalur darat.

Dari 1,3 juta pemudik lebaran di Kalsel itu ditaksir 80 ribu orang pemudik menggunakan trend baru dengan memanfaatkan sepeda motor.

 

PENGANAN BERBAHAYA ANCAM WARGA SAAT RAMADAN

Oleh Hasan Zainuddin


Banjarmasin,8/8 (ANTARA)- Aneka penganan berupa kue beraneka warna mencolok menarik perhatian setiap pengunjung Pasar Wadai Ramadan (Ramadan Cake Fair) di Kota Banjarmasin.
Padahal dibalik keindahan kue-kue bewarna tersebut tergandung bahan berbahaya seperti pewarna tekstil yang mengancam kesehatan masyarakat, kata Kepala Balai Pengawasan Obat dan Makanan (Bali POM) Kalimantan Selatan, Dewi Prawitasari.
Hal tersebut terungkap dalam dialog antara Dewi Prawitasari bersama Wali Kota Banjarmasin, Haji Muhidin di ruang kerja wali kota balaikota Banjarmasin, Selasa (7/8).
Menurut Dewi, selama Ramadan ini bermunculan produk penganan yang dijual untuk berbuka puasa, dan diolah semenarik mungkin termasuk menggunakan bahan pewarna berbahaya tersebut.
“Hasil penelitian kami ketika tiga kali turun ke lapangan selama Ramadan di beberapa titik pasar Kota Banjarmasin memang cukup banyak kue menggunakan zat pewarna berbahaya tersebut,” katanya.
Pewarna berbahaya dimaksud adalah rhodamin B yang biasa disebut penduduk lokal “Kasumba.”
Bukan hanya pewarna berbahaya yang ditemukan pada kue dan makanan yang banyak dijual saat Ramadan ini, tetapi juga pemanis buatan, pengawet.
Bahan berbahaya yang ditemukan Balai POM pada penganan dan makanan di pasar Ramadan tersebut selain rodhamin B, juga ada boraks, pormalin, dan methanyl yellow.
Pemanis buatan ditemukan penggunaan berlebihan pada kue bingka barandam, pengawet tertdapat pada bakso dan makanan ringan anak-anak.
Berdasarkan hasil pendataan Balai POM setempat sedikitnya 491 tempat pembuatan produk makanan di Kota Banjarmasin yang harus diwaspadai, dan mereka perlu pembinaan.
Masalahnya muncul produk dengan bahan berbahaya tersebut boleh jadi ketidak tahuan saja, makanya diperlukan penyuluhan.
Padahal banyak saja bahan yang manfaatnya sama untuk produk makanan dan minuman tersebut tetapi tidak merusak kesehatan bagi yang mengkonsumsinya.
Seperti pewarna itu banyak dijual di toko bahan makanan dengan botol-botol kecil bertuliskan “pewarna untuk makanan,” dengan harga Rp2500, per botol, harga ini memang lebih mahal ketimbang pewarna berbahaya yang disebut kasumba yang hanya Rp500,-per saset plastik.
Oleh karena itu, Balai POM mengajak pihak Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin bekerjasama untuk memerangi pemanfaatkan bahan berbahaya pada makanan dan minuman tersebut, dengan selalu melakukan pengawasan sekaligus penyuluhan.
Apa saja hukuman bagi produsen pangan yang masih saja menggunakan bahan berbahaya, seperti formalin umpamanya, itu bisa dipidanakan lima tahun penjara atau denda Rp600 juta.
Apalagi katanya, wali kota berdasarkan PP No 28 tahun 2004 tentang keamanan mutu dan gizi pangan berhak melakukan pengawasan terhadap produk makanan dan minuman serta berhak memberikan sanksi terhadap yang memproduk bahan makanan dan minuman yang dinilai berbahaya bagi kesehatan itu.
“Kami Balai POM mengajak Pemkot Banjarmasin untuk bersama-sama mengawasi dan mensosialisasi mengenai bahan berbahaya tersebut dengan berbagai kegiatan, seperti penyuluhan, pelatihan, atau bentuk lomba dan kontes makanan minuman tanpa bahan berbahaya,” tuturnya.
Wali Kota Haji Muhidin menyambut gembira tawaran Balai POM mencegah bersama-sama penggunaan bahan berbahaya pada makanan tersebut.
“Saya baru tahu kalau pewarna kasumba itu berbahaya, padahal waktu orang tua saya dulu juga menggunakan kasumba membuat sirup, ditambah pengharum panili enak sekali sirup tersebut apalagi bila minum dengan es,” kata wali kota sambil tersenyum.
Menurutnya, kebiasaan-kebiasaan berbahaya di kalangan masyarakat tersebut selayaknya diberitahukan, baik melalui penyuluhan dan sosialisasi oleh instansi berwenang maupun melalui tulisan dan visual wartawan di media cetak dan elekstronik.
Menurutnya Pemkot sendiri melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) selalu melakukan pembinaan terhadap industri kecil makanan dan minuman tersebut.
Kemudian Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan Banjarmasin juga telah melakukan pembinaan terhadap penjual jajanan anak sekolah, dan memberikan stiker bagi penjual yang menyajikan jajanan aman dari bahan berbahaya.
Tetapi bila pembinaan tersebut disinergikan dengan Balai POM maka usaha Pemkot tersebut tentu lebih baik lagi, tutur wali kota.

Dampak Kesehatan

Berdasarkan sebuah tulisan, kontaminasi zat berbahaya pada produk pangan menandakan lemahnya pengawasan pangan pasar, dan kontaminasi tersebut jelas berbahaya bagi kesehatan.
Umpamanya saja bila terkontaminasi melamin seperti pada produk susu akan menggangu sistem kerja pencernaan dan ginjal.
Kemudian makanan mengandung formalin, formalin biasanya digunakan sebagai bahan antiseptik, germisida dan pengawet.
Fungsinya formalin sering diselewengkan untuk bahan pengawet makanan dengan alasan karena biaya lebih murah seperti mengawetkan ikan, dengan sebotol kecil dapat mengawetkan ikan secara praktis tanpa harus memakai batu es.
Formalin biasanya sering ditemukan pada makanan produk industri rumahan, karena mereka tidak terdaftar di BPOM setempat.
Biasanya makanan yang tidak diberi bahan pengawet seringkali tidak akan tahan lebih dalam 12 jam.
Formalin juga dipakai untuk menimbulkan warna produk menjadi lebih cerah. Sehingga juga banyak di pakai dalam produk rumah tangga, seperti piring, gelas dan mangkok yang berasal dari plastik atau melamin.
Bila piring atau gelas itu terkena makanan atau minuman panas maka bahan formalin yang terdapat dalam wadah itu akan larut, tapi bila digunakan untuk keadaan makanan dan minuman yang dingin sebenarnya tidak berbahaya.
Namun, akan sangat berbahaya bila wadah-wadah ini dipakai untuk menaruh kopi, the, atau makanan yang berkuah panas.
Formalin masuk kedalam tubuh manusia melalui dua jalan yakni pernapasan dan mulut. Sebetulnya kita setiap hari menghirup formalin dari lingkungkan sekitar yang dihasilkan oleh asap knalpot dan pabrik yang mengandung formalin, mau tidak mau akan menghisapnya.
Formalin juga dapat menyebabkan kanker (zat yang bersifat karsinogenik). Bila terhirup formalin dapat menyebabkan iritasi pada hidung dan tenggorokan, gangguan pernapasan, rasa terbakar pada hidung dan tenggorokan serta batuk, kerusakan pada sistem saluran pernapasan bisa menganggu paru-paru berupa pneumonia (radang paru-paru) atau edema paru (pembengkakan paru).
Bila terkena kulit dapat menimbulkan perubahan warna, kulit menjadi merah, mengeras, mati rasa dan rasa terbakar. Apabila terkena mata menimbulkan iritasi, memerah, rasanya sakit dan gatal-gatal.
Bila konsentrasi tinggi maka menyebabkan pengeluaran air mata yang hebat dan kerusakan pada lensa mata.
Kemudian boraks merupakan senyawa yang bisa memperbaiki tekstur makanan sehingga menghasilkan rupa yang bagus pada makanan seperti bakso dan kerupuk.
Bakso yang menggunakan boraks memiliki kekenyalan yang kas yang berbeda dari bakso yang menggunakan banyak daging, sehingga terasa renyah dan disukai serta tahan lama.
Sedang kerupuk yang mengandung boraks kalau digoreng akan mengembang dan empuk, teksturnya bagus dan renyah.
Dalam industri boraks dipakai untuk mengawetkan kayu, anti septic kayu dan pengontrol kecoa. Bahaya boraks terhadap kesehatan diserap melalui usus, kulit yang rusak dan selaput lender.
Jika dikonsumsi dalam jangka waktu lama atau berulang-ulang akan memiliki efek toksik. Pengaruh kesehatan secara akut adalah muntah dan diare. Dalam jangka waktu panjang dapat menyebabkan gangguan pencernaan, nafsu makan menurun, anemia, rambut rontok, dan kanker.
Pemanis Buatan hanya digunakan pada pangan rendah kalori dan pangan tanpa penambahan gula, namun kenyatannya banyak ditemukan pada produk permen, jelly dan minuman yang mengandung pemanis buatan. Dan ini juga bukan hanya ditemukan pada merk-merk terkenal, tapi juga pada produk yang beriklan ditelevisi.
Bukan Cuma mengandung konsentrasi tinggi, tapi produk ini juga berupaya menyembunyikan sesuatu. Beberapa produk bahkan juga tidak mencantumkan batas maksimum penggunaan pemanis buatan Aspartam.
Pemakaian Aspartam berlebihan memicu kanker dan leukimia pada tikus, bahkan pada dosis pemberian Aspartam hanya 20mg/Kg BB.
Zat pewarna alami sudah dikenal sejak dulu dalam industri makanan untuk meningkatkan daya tarik produk makanan sehingga konsumen tergugah untuk membelinya.
Namun celakanya ada juga penyalahgunaan dengan adanya pewarna buatan yang tidak diizinkan untuk digunakan sebagai zat adiktif. Contoh yang sering ditemui adalah penggunaan bahan pewarna rhodamin B, yaitu zat pewarna yang lazim digunakan dalam industri tekstil, namun digunakan dalam zat pewarna makanan.
Berbagai penelitian dan uji telah membuktikan bahwa penggunaan zat makanan ini dapat menyebabkan kerusakan pada organ hati.

Walikota berdialog dengan Kepala Balai POM dan dihadiri sejumlah wartawan

BALAI POM INGATKAN WARGA MAKANAN KANDUNG BORAKS
Banjarmasin,11/8 (ANTARA)- Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (Balai POM) Banjarmasin mengingatkan warga kota setempat untuk berhati-hati terhadap makanan yang diduga mengandung boraks.
Pasalnya dalam tiga kali melakukan pengawasan kelapangan di kota Banjarmasin, ternyata terdapat makanan yang mengandung bahan kimia berbahaya tersebut, kata Kepala Balai POM Banjarmasin, Dewi Prawitasari, Sabtu.
Ia menyebutkan, makanan di Banjarmasin yang diketahui mengandung boraks tersebut adalah pentol baso, kerupuk, dan makanan ringan anak-anak.
Sebab bila seseorang mengkonsumsi makanan mengandung boraks maka bisa mengalami gangguan kesehatan, antara lain nafsu makan hilang, gangguan pencernaan, diare, sakit perut, sakit kepala dan gangguan kesehatan lainnya.
Boraks adalah senyawa berbentuk kristal, warna putih, tidak berbau dan stabil pada suhu dan tekanan normal.
Boraks merupakan senyawa kimia berbahaya untuk pangan dengan nama kimia natrium tetraborat yang dapat dijmumpai dalam bentuk padat dan jika larut dalam air akan menjadi natrium hidroksida dan asam borat.
Boraks atau asam borat merupakan bahan untuk pembuatan deterjen, mengurangi kesadaran air dan bersifat antiseptik. Boraks merupakan bahan yang dilarang digunakan untuk pangan.
Menurutnya makanan yang mengandung bahan tersebut dapat saja dihindari dengan cara mengenalinya seperti pentol baso, teksturnya sangat kenyal, warnya tidak kecoklatan seperti penggunaan daging namun lebih cendrung keputihan.
Terhadap kerupuk, teksturnya sangat renyah dan dapat memberikan sara getir, terhadap mie basah teksturnya sangat kenyal, biasanya mie lebih mengkilat, tidak lengket, dan tidak cepat putus.
Berdasarkan aturan, penyalahgunaan boraks dalam pangan dapat membahayakan keselamatan konsumen dan karena itu dapat diancam dengan pidana penjara atau denda ratusan juta rupiah.

 

 

BALAI POM INGATKAN WARGA MAKANAN KANDUNG FORMALIN
Banjarmasin,12/8 (ANTARA)- Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (Balai POM) Banjarmasin mengingatkan warga kota setempat untuk berhati-hati terhadap makanan yang diduga mengandung formalin.
Pasalnya saat Balai POM melakukan pengawasan ternyata terdapat makanan yang mengandung bahan kimia berbahaya tersebut, kata Kepala Balai POM Banjarmasin, Dewi Prawitasari, Minggu.
Ia menyebutkan, beberapa jenis pangan telah ditemukan menggunakan formalin sebagaipengawet pangan, seperti mie basah,tahu, baso, ayam, dan ikan serta beberapa hasillaut lainnya.
Sebab bila seseorang mengkonsumsi makanan mengandung formalin maka bisa mengalami gangguan kesehatan, antara lain nafsu makan hilang, gangguan pencernaan, diare, sakit perut, sakit kepala dan gangguan kesehatan lainnya.
Formalin adalah larutan yang tidak bewarna dan baunya sangat menusuk. Di dalam formalin terkandung sekitar 37 persen formaldehid dalam air. Biasanya ditambahkan metanol hingga 15 persen sebagai pengawet.
Formalin digunakan sebagai bahan perekat untuk kayu lapis dan desinfektan untuk peralatan rumah sakit serta untuk pengawet mayat . Formalin dilarang untuk pengawet makanan.
Formalin sangat berbahaya jika terhirup, mengenai kulit dan tertelan. Akibat yang ditimbulkan dapat berupa luka bakar pada kulit, iritasi pada saluran pernapasan, reaksi alergi dan bahaya kanker pada manusia.
Bila tertelan formalin sebanyak 30 ml (sekitar dua sendok makan) maka akan menyebabkan kematian.
Menurutnya produsen pangan yang masih menggunakan formalin bisa jadi karena pengetahunnya tidak memadai mengenai bahasa bahan tersebut, atau karena tingkat kesadaran kesehatan masyarakat yang rendah.
Deteksi formalin secara kualitatif maupun kuantitatif secara akurat hanya dapat dilakukan di laboratorium dengan menggunakan pereaksi kimia.
Tetapi untuk mengetahui bahan pangan pangan mengandung formalin dengan ciri seperti mie basah tidak rusak sampai tiga hari pada suhur kamar 25 derajat celsius, dan bertahan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es 10 derajat selsius.’
Sementara untuk tahu terlihat terlalu keras, kenyal namun tidak padat, bau formalin tercium menyengat.
Ciri terhadap ikan asin tidak dihinggapi lalat, tak rusak hingga satu bulan pada suhu kamar 25 derajat selsius, bersih cerah dan tak berbau ikan asin.

DR ABDUL HARIS MUSTARI, ILMUAN PENGGALI ILMU TANI DAYAK MERATUS

 

 

Oleh Hasan Zainuddin

Dr Abdul Haris Mustari

“Ketertarikan pada tanaman padi sudah tumbuh sejak saya masih kecil dan setiap kali melihat hamparan padi menguning, hati selalu terenyuh, senang melihat malai padi kuning menunduk berat, tanda harapan bagi petani masih ada.” kata Dr. Ir. Abdul Haris Mustari, MSc.

“Saya yakin siapapun yang melihat padi sedang menguning, hatinya pasti senang, karena kesenangan pada padi bersifat universal, padi tetaplah tanaman yang terindah dan terpenting yang Tuhan ciptakan untuk umat manusia,” kata dosen Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB).
Oleh karena itu, ketika terlibat dalam penilItian tim ekspedisi Khatulistiwa di Pegunungan Meratus Provinsi Kalimantan Selatan bersama tim TNI, Haris Mustari mengaku matanya selalu tertuju pada hamparan padi menguning di lembah dan lereng Pegunungan Meratus itu.
Kebetulan dalam periode ekspedisi itu, April-Juli 2012, bertepatan dengan musim padi menguning di penjuru negeri Meratus.
Karena itu ia tertarik untuk menggali kehidupan agraris dan kearifan tradisional Dayak dalam bercocok tanam dan bagaimana mereka memperlakukan padi secara istimewa.
“Kami memang tidak punya uang, tapi kami sugih (kaya) banih (padi) ”, demikian pak Imar penduduk Pegunungan Meratus seperti dikutip Haris Mustari.
Menurut Haris kala itu Pak Imar berkisah ketika semalam suntuk saat ia dan Praka Paskhas Tugiran meminta ijin untuk menginap bersamanya di pehumaan (sawah lahan kering) di Gunung Nunungin yang sejuk di kampung Manakili, Loksado, Pegunungan Meratus.
Tujuan mereka menginap adalah menggali kearifan tradisional Dayak melalui tokoh itu. Meski singkat, tapi sangat mengesankan untuk menimba ilmu yang sangat berharga dari Pak Imar.
“Saya dengan latar belakang akademis dari suatu perguruan tinggi yang terkenal dan tertua ilmu-ilmu pertaniannya, IPB dan sempat menimba ilmu selama kurang lebih tujuh tahun di luar negeri, bagi saya ilmu yang diberikan tokoh dan masyarakat Dayak itu membuat saya semakin menundukkan kepala dan merendahkan hati,” Kata Haris Mustari.
Ternyata banyak ilmu bertani dan kearifan tradisional warisan leluhur yang sangat berguna yang tidak didapatkan di bangku kuliah, tambah Haris Mustari.
“Kami adalah Dayak Meratus, yang mewarisi hutan dan alam Pegunungan Meratus”, demikian mereka membuat identitas diri. Bagi orang Dayak, bercocok tanam adalah sumber utama penghidupan.
Penduduk asli Kalimantan ini menanam berbagai jenis tanaman seperti padi, singkong, keladi, pisang, ubi dan berbagai jenis palawija yang menunjang kehidupan sehari hari.
Dari berbagai jenis komoditi pertanian tersebut, padi adalah yang paling utama karena menjadi makanan pokok.
Padi dalam bahasa Dayak Meratus disebut banih, setiap nama padi didahului dengan kata banih. Bagi orang Dayak, padi bukan sekedar makanan pokok tetapi menjadi jenis tanaman yang disakralkan.
“Padi adalah pemberian langsung Sang Dewata atau Sang Hyang yang sangat penting bagi kami” ujar Pak Imar kepala adat di kampung Manakili.
Padi diperlakukan istimewa, mulai dari penyiapan lahan, penanaman, pemeliharaan dan pemanenan, bahkan setelah dipanen dan disimpan di lumbung, padi tetap diperlakukan istimewa.
Padi ditanam pada lahan kering dengan sistem perladangan berpindah/balik dengan rotasi bervariasi 5 – 10 tahun. Lokasi perladangan, dalam bahasa Dayak disebut Pahumaan, mulai dari dataran rendah sampai lereng-lereng terjal di perbukitan dan pegunungan, bahkan sampai kelerengan sekitar 70 derajat masih dapat dijumpai lahan penanaman padi orang Dayak.
Padi menguning dipuncak dan lereng gunung umum adalah pemandangan yang umum dijumpai di sekitar pemukiman Dayak Meratus.
Bagi orang awam atau bagi mereka yang sudah mengenal sistem pertanian menetap, perladangan berpindah dianggap sebagai pemborosan lahan, terlalu banyak areal yang dibuka sehingga mengorbankan kawasan hutan.
Tapi bagi orang Dayak yang telah mempraktekkan sistem perladangan berpindah secara turun temurun, perladangan berpindah dimaksudkan untuk menjaga kesuburan tanah dan memudahkan pembukaan lahan.
Alasannya dengan rotasi 5 – 10 tahun, lahan garapan diberi kesempatan untuk memulihkan unsur hara tanah yang diperlukan tanaman melalui dekomposisi serasah dan bahan organik.
Selain itu, agar lahan lebih mudah dikerjakan karena semak belukar yang segera tumbuh setelah padi dipanen, dalam jangka waktu 2-4 tahun masih sangat rapat dan sulit dibersihkan, sehingga harus menunggu berbagai jenis tumbuhan berkayu pioner seperti Mahang (Macaranga sp), Piper adunctum, dan jenis tumbuhan berkayu lainnya tumbuh dan terjadi suksesi alamiah membentuk hutan sekunder muda agar semak belukar seperti kirinyu, harendong, serta jenis perdu lainnya semakin berkurang.
Matahari, bulan dan bintang, merupakan pedoman bercocok tanam. Orang Dayak sering diidentikkan dengan suku yang terbelakang, penuh dengan kehidupan mistis, hidup mengembara dan berburu, namun jangan lupa bahwa orang Dayak justru sangat maju dalam metode pertaniannya, tambah Haris Mustari yang disampaikannya kepada penulis melalui email.
Mereka memanfaatkan benda-benda astronomi seperti matahari, bulan dan bintang sebagai pedoman dalam bercocok tanaman.
Secara turun temurun ilmu membaca benda-benda astronomi itu didapatkan dari para tetua dan leluhur mereka.
“Kami dapatkan ilmu ini dengan cara mengaji dari para tetua adat dan tetua kampung”, ujar Pak Imar dan Pak Utan (Damang Kecamatan Halong di Balangan).
Mengaji adalah istilah Dayak Meratus untuk berguru, jadi semua ilmu-ilmu leluhur didapatkan dengan cara berguru atau bertanya, betakun, kepada orang-orang tua.
Dengan cara itulah ilmu diwariskan, karena ilmu Dayak itu tidak tertulis melainkan melalui lisan.
Benda-benda astronomi itu menjadi pedoman kapan mulai memebersihkan lahan, membabat sisa-sisa tumbuhan dan semak belukar, kapan mulai menugal dan waktu yang cocok untuk menanam benih padi, sampai padi siap dipanen.
Bulan Juli dan Agustus adalah waktu untuk membersihkan lahan dari tumbuhan berkayu dan semak belukar, bertepatan dengan musim kemarau. Pada akhir September ketika puncak musim kemarau, dilakukan pembakaran tumbuhan dan semak belukar, kadar air tumbuhan yang telah ditebang berada pada titik terendah, karena itu lebih mudah dibakar.
Sisa pembakaran bahan organik itu nantinya menjadi pupuk alami tanaman padi dan palawija, sehingga tidak diperlukan pupuk buatan lagi.
Sejak dahulu kala orang Dayak telah menerapkan sistem pertanian organik, sistem yang belakangan ini baru digalakkan oleh orang “berpendidikan kota”.
Pada bulan September tanggal 23, matahari tepat berada pada garis khatulistiwa, nol derajat Lintang Selatan.
Bulan Oktober ketika matahari mulai bergeser ke arah selatan menjauh dari garis khatulistiwa, pertanda harus mulai menugal, yaitu membuat lubang tanam benih padi menggunakan tongkat kayu yang ujungnya runcing.
Menugal dilakukan secara gotong royong, sistem komunal yang masih lekat pada adat istiadat Dayak. Menugal dan menanam padi berlangsung hingga bulan Nopember.
Waktu menugal harus melihat posisi munculnya bola kuning Sang Mentari di pagi hari yaitu sekitar sepuluh derajat Lintang Selatan.
Pada posisi itu, matahari memberi tanda bahwa penanaman padi harus segera dimulai.
Dan posisi matahari itu sesungguhnya tidak sulit dibaca oleh orang Dayak, karena mereka menggunakan pedoman puncak-puncak gunung tertentu di lingkungan mereka dimana matahari muncul, dan ini dibaca dan diwariskan secara turun temurun.
Selain matahari, posisi bintang juga menjadi pedoman kapan mulai menanam. Ada tiga jenis bintang yang dipakai sebagai pedoman, yaitu Bintang Karantika, Bintang Baurbilah, dan Bintang Rambai.
Bintang Karantika dikenal juga dengan nama bintang tujuh karena jumlahnya tujuh buah. Bintang Baurbilah adalah bintang yang jumlahnya tiga dengan posisi selalu membentuk garis lurus.
Sedangkan Bintang Rambai selalu membentuk gugusan dan berkelompok. Ketika muncul di langit, posisi bintang-bintang itu dapat dibaca dengan baik oleh orang Dayak, misalnya waktu menanam yang baik adalah ketika bintang-bintang itu berada pada posisi kurang lebih sekitar pukul 9 di ufuk Timur.
Apabila lebih dari itu, misalnya posisi Bintang Karantika berada tepat di atas kepala (pukul 12), maka sudah terlambat untuk memulai penanaman padi, dan kemungkinan gagal karena padi akan terserang hama, demikian kepercayaan mereka.
Selain matahari dan bintang, bulanpun menjadi petunjuk bercocok tanam. Posisi bulan yang dipakai adalah ketika penanggalan bulan menunjukkan tanggal 3-14, yaitu ketika bulan lambat laun naik dan berubah dari bulan sabit ke bulan purnama.
Periode tanggal yang naik dipilih karena waktu itu adalah waktu naiknya rejeki, dan rasa optimisme yang tinggi akan keberhasilan panenan, demikian kepercayaan mereka.
Sebaliknya, ketika bentuk bulan berubah dari bulan purnama ke bulan sabit, ketika penanggalan bulan semakin tua, maka periode itu tidak dipakai untuk menanam, karena dianggap rejeki akan berkurang sejalan dengan semakin tuanya penanggalan bulan di langit.
Dan ketika ditanyakan kenapa ilmu pertanian yang menggunakan unsur astronomi yang sangat tinggi nilainya ini tidak tertulis kepada pak Imar dan Pak Utan, mereka mengatakan “Kitab Kami ada di sini”, sambil menunjuk dada dan hati, artinya ilmu-ilmu pertanian adiluhung itu ada di hati mereka.
Dan seperti halnya berbagai doa dan mantra-mantra dalam ritual Dayak tidak pernah tertulis, mereka percaya bahwa doa dan mantra-mantra yang tertulis akan berkurang kesakralannya, karena itu harus dihafalkan langsung dari tetua adat.

 

Teknik Bertani
Laki-laki menugal (melubangkan lahan untuk benih) dan perempuan memasukkan benih padi ke lubang tugal dengan jarak tanam 20cm x 20cm, dimana setiap lubang diisi 5-7 benih. Lubang tugal tidak ditutup, dibiarkan terbuka, tapi lama kelamaan lubang itu dengan sendirinya akan tertutup oleh tanah akibat aliran air hujan pada permukaan tanah.
Sebelum menanam, dilakukan ritual, yaitu membakar dupa yang dibawa mengelilingi lahan yang akan ditanami sebanyak tiga kali sambil membaca mantra yang isinya adalah doa dan permohonan kepada YMK agar hasil padi melimpah dan dapat dinikmati oleh seluruh anggota keluarga.
Varietas padi di komunitas petani Dayak Meratus sangat tinggi, tercatat minimal 28 varietas padi, baik padi biasa maupun padi pulut (lakatan).
Orang Dayak telah melestarikan berbagai varietas padi secara turun temurun karena itu lingkungan alam Dayak telah menjadi bank gen (gene pool) untuk berbagai varietas padi yang sangat penting dilestarikan karena diperlukan dalam rangka pemuliaan padi yang lebih unggul yang diperlukan manusia.
Selain padi, orang Dayak juga menanam berbagai jenis palawija dan tanaman tahunan yang menunjang kehidupan mereka.
Beberapa varietas padi yang ditanam orang Dayak diantaranya Sabai, Tampiko, Buyung, Uluran, Salak, Kanjangah, Kihung, Kalapa, Uluran, Kunyit, Briwit, dan Sabuk.
Selain padi biasa, juga ditanam padi pulut atau lakatan yaitu jenis Kariwaya, Kalatan, Harang, Samad dan Saluang.
Diantara berbagai varietas padi itu, Buyung dan Arai adalah yang paling digemari karena wangi dan enak rasanya. Semua padi yang ditanam adalah varietas lokal, umur panen enam bulan.
Bersamaan dengan penanaman padi itu, juga ditanam berbagai jenis palawija seperti singkong atau disebut gumbili, lombok, timun, labuh, kacang panjang, berbagai jenis pisang, keladi, yang kesemuanya itu menjadi makanan tambahan.
Sedangkan tanaman tahunan seperti karet, kemiri dan kayu manis ditanam pada areal yang terpisah dengan penanaman padi dan palawija.
Dan di tengah hamparan padi itu mereka juga menanam Kembang habang dan Kembang kuning (Celosia sp, famili Amaranthaceae) yang nantinya menjadi syarat untuk berbagai acara adat seperti Besambu, Mahanyari, Aruh Ganal, Aruh Bawanang, semuanya perlu Kembang itu, cerita Haris Mustari.
“Kembang habang dan Kembang kuning adalah Kembang yang diijinkan oleh Dato Adam untuk dipakai dalam acara acara adat agama Kaharingan”, ujar pak Imar ketika berkisah di suatu malam di pehumaannnya di Gunung Nunungin.
Bulan ketiga dari penanaman, yaitu sekitar bulan Januari dilakukan penyiangan rumput dan gulma pengganggu tanaman padi.
Penyiangan dilakukan dengan cara mencabut atau memotong rumput dengan parang.
Bulan Februari, ketika padi berumur 3-4 bulan, mulai keluar buah atau malai dan ini disambut dengan suka cita oleh mereka, dianggap berkah dan harus disambut dengan ritual, layaknya menyambut kelahiran bayi yang sangat dinantikan.
Acara meyambut keluarnya buah padi disebut Besambu atau Sambu Uma, artinya menyambut keluarnya buah dan malai padi.
Ketika padi mengeluarkan malai, maka ada beberapa pantangan bagi si pemilik padi yaitu tidak boleh memotong kayu hidup, tidak boleh memetik daun dan tidak boleh masuk hutan.
Pada saat itu diadakan acara adat yang disebut Aruh Adat Besambu di Balai Adat. Pada acara itu, ayam dan babi dipotong, lemang dibuat, dan Kembang habang dan kuning dipersembahkan, memohon kepada YMK agar padi berbuah lebat dan selamat sampai dapat dipanen untuk menghidupi keluarga.
Setelah lahan disiangi, dan adat Besambu telah dilaksanakan, kini tinggal menunggu padi menguning dan setelah enam bulan, buliran buliran mulai menguning, malai menunduk semakin dalam pertanda padi berisi penuh, dan suka cita bagi petani Dayak, pertanda panen tahun ini berhasil, berkah dari YMK.
Ketika padi berumur 4-5 bulan, yaitu pada bulan Maret-April, malai mulai menguning, namun belum matang.
Saatnya untuk acara adat Bawawar, yaitu selamatan di ladang, menyambut padi yang mulai menguning itu. Pada acara itu, daun aren, Kembang habang dan Kembang kuning serta berbagai sesajen dipersembahkan kepada YMK agar padi yang mulai menguning itu selamat sampai dapat dipanen.
Bulan April dan Mei, saatnya panen. Sebelum panen, dilakukan acara adat yaitu Mahanyari yang secara harfiah Mahanyari (hanyar=baru) artinya memulai panen padi pada tahun itu.
Suatu ungkapan rasa syukur yang mendalam atas melimpahnya panen tahun ini serta permohonan agar diberi keselamatan. Mahanyari dilakukan secara berkelompok atau secara idividu setiap keluarga. Mahanyari yang dilakukan secara berkelompok dan dilakukan di Balai Adat disebut Aruh.
Pada acara Mahanyari disediakan berbagai sesajen yang akan dibawa ke pehumaan di Tihang Bekambang (tiang bambu kuning yang dihiasi Kembang dan dedaunan) yang telah disiapkan.
Tihang bekambang terdiri dari tiang berupa bambu kuning, bagian paling atas melambangkan huruf atau kepala manusia yang disebut songkol.
Di bawah songkol terdapat daun sejenis palem yang disebut daun Risi dan ditambah Kembang habang.
Di bagian tengah Tihang Bekambang terdapat papan bundar berdiameter sekitar 70 cm tempat menyimpan berbagai sesajian disebut Dulang Campan yang melambangkan Bumi.
Sesajian yang disimpan di atas Dulang Campan terdiri dari darah ayam dengan wadah tempurung kelapa, wajit, minyak kelapa, dodol ketan, darah ayam, dan air kunyit.
Gulungan daun terep (Artocarpus sp), sejenis sukun hutan yang didalamnya terdapat daun mada, daun risi, buah merah yang disebut hibak, daun ribu ribu, daun binturung, daun buluh, daun sirih benaik, dan daun singgae singgae.
Balian (dukun) memulainya dengan membaca mantra berupa doa bertutur yang pada dasarnya adalah doa dan pemujaan kepada Tuhan YMK atas berkah panen padi yang diberikan.
Ayam dipotong di bawah Dulang Campan, yang dipersembahkan kepada YMK dimana darahnya dikucurkan dibawah Tihang Bekambang di tanah dan di tiang bambu kuning.
Selanjutnya ayam yang telah dipotong itu dibawa kepondok untuk dimasak dan dimakan bersama kerabat dan tetangga.
Setelah itu Balian membawa berbagai bahan sesajian dan gulungan daun terep yang berisi bermacam daun lain seperti tersebut di atas ke pondok pehumaan dan disimpan di dekat lumbung padi.
Selanjutnya para tetua kampung dan Balian membaca mantra-mantra yang isinya adalah rasa syukur dan permohonan keselamatan pada YMK atas berkah dan panen padi yang melimpah dan dapat dimakan oleh anggota keluarga dengan selamat.
Setelah itu dilakukan pembagian lemang, makanan khas Dayak. Lamang adalah beras ketan yang dicampur santan dan garam yang dimasukkan ke dalam bambu kemudian dibakar menggunakan kayu sekitar 2,5 jam.
Beras ketan (lakatan) yang digunakan sebagai bahan lamang adalah hasil panen padi yang baru dilakukan sebagai simbol bahwa hasil panen tahun itu telah dapat dinikmati.
Selanjutnya adalah acara makan bersama dengan menu berupa nasi yang disimpan dipiring, sayur ayam, sayur labuh.
Setiap yang hadir harus mencicipi makanan yang disediakan oleh tuan rumah. Nasi yang dihidangkan berupa nasi putih dari padi yang baru saja dipanen.
Acara Mahanyari adalah ungkapan rasa syukur kepada YMK dan acara berbagi makanan kepada para kerabat dan tetangga.
Selanjutnya adalah acara terakhir dari Mahanyari itu, yaitu penutupan oleh Balian dihadiri tetua kampung dan kepala keluarga.
Pada acara penutupan itu disajikan sesajian dan makanan berupa wajit, darah ayam kampung yang disimpan di tempurung, sagu, hanyangan, sumur Salaka (gelas berisi minuman warna coklat, dan hijau), sumur minyak, telur ayam kampung, belacu dan tumpi, menyan, karangan pandan, pisang, minyak kelapa yang disebut sumur minyak, kandutan atau andungan yang disebut buta atau wadah keranjang terbuat dari anyaman bambu.
Balian dan tetua membaca mantra berupa kalimat-kalimat bertutur saling berbalas diantara tetua adat dan Balian, dan acara ini dilakukan selama kurang lebih 30 menit.
Para anggota keluarga dan kerabat dekat menengadahkan tangan di depan Balian untuk menerima semacam “air berkah” dari karangan daun pandan dan diusapkan secara berulang oleh Balian kepada anggota keluarga dan kerabat dekat tuan rumah, simbol keberkahan.
Memanen Padi
Setelah acara Mahanyari, padi dipanen semuanya. Berbeda halnya ketika menugal dan menanam padi yang dilakukan secara gotong royong, panen dilakukan sendiri oleh keluarga yang bersangkutan.
Orang Dayak menggunakan kumpai (bambu kecil bulat yang sisinya ditajamkan), dan ranggaman (anai-anai) untuk memanen padi.
Bagi Dayak Meratus, memanen padi lahan kering harus menggunakan kedua alat tradisional itu, kecuali padi sawah.
Penggunaan sabit dan mesin perontok gabah tidak diperbolehkan, dianggap pemali dan tabu, dan apabila pemali itu dilanggar, akan menyebabkan sakit. Hari pertama panen harus dilakukan oleh perempuan yang sudah berkeluarga, yaitu ibu rumah tangga dari keluarga itu.
Hari kedua dan seterusnya perempuan gadis dapat membantu. Keterlibatan laki-laki diperbolehkan mulai hari keempat dan seterusnya sampai panen selesai.
Perempuan yang sedang haid tidak diperbolehkan memanen padi, dan kondisi itu juga berlaku ketika menanam, perempuan yang sedang haid tidak diperkenankan menanam jenis tanaman apapun termasuk padi.
Padi yang telah dipanen kemudian dibawa ke pondok, dikeringkan lalu dirontokkan pakai kaki yaitu dengan cara diinjak injak dan digulung gulung sehingga gabah rontok dari malainya.
Selanjutnya gabah dikeringkan, lalu dimasukkan ke Lulung. Lulung ini terbuat dari kulit kayu meranti putih berdiameter besar lebih 1 m yang dikupas dibuat melingkar.
Selanjutnya lulung disimpan di lumbung padi yang disebut Lampau. Agar gabah tidak diserang serangga perusak, mereka menggunakan bahan tradisional, yaitu daun tumbuhan sungkai (Veronema canescen) dipotong kecil-kecil kemudian dikeringkan lalu dicampurkan kedalam gabah yang disimpan pada lulung .
Dengan campuran daun sungkai itu, gabah tahan disimpan beberapa tahun, tidak dimakan dan dirusak serangga.
Orang Dayak memiliki persediaan padi yang melimpah. Beberapa keluarga Dayak bahkan memiliki persediaan padi yang disimpan 5-7 tahun yang lalu.
Padi yang baru dipanen setelah acara Mahanyari dan telah dimakan untuk pertama kali sebagi simbol bahwa hasil panen padi tahun ini telah dapat dinikmati, disimpan di lumbung, dan yang dikonsumsi sehari hari adalah padi yang dipanen beberapa tahun yang lalu.
Suatu pembelajaran mengenai sistem ketahanan pangan. Dayak memiliki ketahanan pangan yang tinggi, sehingga ucapan Pak Imar “kami tidak memiliki banyak uang, tapi kami sugih banih/padi” adalah benar adanya.
Dayak Meratus sangat jarang menjual beras, lebih baik disimpan bertahun tahun, padi dianggap sakral.
Namun demikian orang Dayak sangat ramah dan suka memberi beras, termasuk kami peserta ekspedisi, sering diberi beras oleh mereka ketika berada di kampung, terlebih ketika selesai menghadiri acara Mahanyari dan Aruh, pasti kami dibekali beras dan lamang, yang diberikan oleh orang Dayak dengan tulus.
“Kapan kembali ke Jakarta, saya akan membawakan beras Buyung, oleh-oleh dari kami” kata Rudinar dari kampung Kiyu menawarkan kepada kami peserta eskpedisi.
Beras adalah barang berharga, dan sangat layak sebagai oleh-oleh, apalagi beras Buyung yang sangat harum dan enak rasanya, demikian yang ada di benak Rudinar, pemuda yang telah menjadi guide kami mendaki Gunung Halau Halau Meratus, dan selama kami menginap di Balai Adat kampung Kiyu.