UPACARA “SIMAH LAUT” SEBUAH ATRAKSI BUDAYA KOTIM

Oleh Hasan Zainuddin


Masyarakat Provinsi Kalimantan Tengah (Kalten) hususnya yang bermukim di pesisir Laut Jawa memiliki sebuah upacara yang disebut “simah laut” yang berpotensi sebagai objek wisata di kawasan tersebut.
Upacara “simah laut” merupakan salah satu tradisi masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) sebuah atraksi budaya yang kini kian dipopulerkan sebagai objek wisata Kalteng, kata Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalteng, Aida Meyarti, di Palangkaraya, Rabu.
Atraksi tersebut dinilai unik dan menarik yang mampu menarik kunjungan wisatawan, oleh arena itu upacara tahunan ini dijadikan kalender kepariwisataan wilayah tersebut.
Banyak brosur, famplet, dan catatan mengenai atraksi yang berlokasi di pantai wisata Ujung Pandaran tersebut, catatan itu kini sudah diterbitkan kemudian dibagikan kebiro perjalanan, hotel dan restauran, serta agen-agen kepariwisataan lainnya agar upacara tersebut dikenal luas.
Kegiatan berbau ritual tersebut berlangsung di komunitas masyarakat yang yang menetap di tepi laut sebagai nelayan atau petani, terutama yang berdomisili di Desa Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit.
Mengutip sebuah keterangan, Aida Meyarti menyebutkan maksud dari kata “Simah Laut” yaitu suatu upaya pendakatan masyarakat terhadap laut gaib dengan maksud supaya segenap unsur yang menghuni laut dapat di ajak berkompromi dan bersikap ramah terhadap mereka.
“Jadi jelaslah, bahwa Upacara “simah Laut” merupalan suatu acara ritual sebagai wujud kepercayaan dan ketaatan terhadap kekuatan natural dan supranatural yang di yakini mempunyai pengaruh langsung terhadap situasi dan kondisi sosial masyarakat setempat, terutama masyarakat nelayan,” katanya.
Pengaruh tersebut diyakini akan bersifat positif pabila upacara akan dilaksanakan dan sebaliknya akan bersifat negatif pabila upacara tidak dilaksanakan.
Oleh sebab itulah, masyarakat Desa Ujung Pandaran meyakini bahwa apabila mereka melaksanakan upacara ini maka mereka juga akan mendapat imbalan dari hasil laut seperti tangkapan ikan.
Berdasarkan sebuah catatan kepariwisataan yang diterbitkan Dinas Tenaga Kerja dan Pariwisata Kabupaten Kotim menyebutkan upacara serupa “simah laut” sama tuanya dengan adat istiadat lainnya yang tumbuh dan berkembang sejak jaman pra sejarah.
Berawal dari kepedulian suatu masyarakat terhadap keselamatan dan kesejahteraan hidup mereka dalam suatu wilayah, kemudian berkembang ke arah kepedulian terhadap alam dan lingkungan yang nyata dan yang gaib disekitar mereka, selanjutnya berkembang menjadi suatu tradisi adat istiadat.
Upacara “simah laut” yang dilaksanakan oleh Masyarakat Desa Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit, telah tumbuh dan berkembang sejak puluhan tahun lampau sebagai lanjutan tradisi yang berkembang sebelumnya di desa-desa asal penduduk Desa Ujung Pandaran.
Tidak ada legenda asli Desa Ujung Pandaran yang menjadi latar pelaksanaanupacara ini.
Penduduk Desa Ujung Pandaran sendiri berasal dari desa-desa tepi laut sekitar Tanjung Puting dan Pagatan. Mereka mengadopsi langsung tradisi ini dari tempat asal mereka.
Upacara “simah laut” di Desa Ujung Pandaran biasanya dilaksanakan sekali dalam setahun dalam setiap permulaan musim barat yakni antara bulan Oktober atau Nopember.
Sehari sebelum upacara berlangsung penduduk kampung mempersiapkan berbagai keperluan upacara.
Kaum lelaki mendirikan tenda, membuat sebentuk bangunan kecil sebagai tempat meletakan sesaji (ancak) dan membuat perahu kecil/rakit.
Sedangkan para wanita sibuk membuat aneka jenis panganan untuk sesaji yang terdiri dari kue-kue tradisional seperti cucur, apam, bubur putih, bubur merah, wajik, dll.
Sebagian lagi membuat bumbu untuk memasak daging dari hewan korban. Upacara diawali pada pagi hari dengan penyembalihan ayam dan hewan korban berupa kambing atau sapi sesuai dengan kemampuan. Bagian kepala hewan korban tersebut di buang ketengah laut, sedangkan bagian daging dimasak dan nantinya dimakan bersama-sama oleh penduduk kampung dan pengunjung yang hadir.
Setelah Shalat Dzuhur upacara dilanjutkan, ditandai dengan adanya iring-iringan penduduk membawa sesaji (ancak) yang berisi berbagai penganan ketempat upacara yang berada ditepi pantai.
Sesaji diletakan disuatu tempat khusus yang di sediakan, kemudian dibacakan doa yang dipimpin oleh seorang tetya adat. Sesaji lalu dimasukan kedalam perahu kecil/rakit tersebut dilarung ketangah laut.
Setelah seluruh rangkaian upacara selesai, masyarakat Desa Ujung Pandaran dan pengunjung memasuki masa pali (pantangan) yang berlangsung selama 3 (tiga) hari.
Selama masa pali ini masyarakat dilarang melakukan kegiatan di laut termasuk menangkap ikan. Bagi masyarakat yang melanggar pali akan dikenakan sanksi/denda pelanggaran sesuai ketentuan adat setempat.
Pada masa pali ini konon diyakini akan timbul keanehan-keanehan, munculnya berbagai jenis ikan yang ada di dalam laut seakan memberikan isyarat bahwa dimasa yang akan datang rejeki yang akan dituai masyarakat sebanyak apa yang tampak dalam isyarat/petunjuk keajaiban alam yang terjadi pada masa pali tersebut.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: