PENGANAN BERBAHAYA ANCAM WARGA SAAT RAMADAN

Oleh Hasan Zainuddin


Banjarmasin,8/8 (ANTARA)- Aneka penganan berupa kue beraneka warna mencolok menarik perhatian setiap pengunjung Pasar Wadai Ramadan (Ramadan Cake Fair) di Kota Banjarmasin.
Padahal dibalik keindahan kue-kue bewarna tersebut tergandung bahan berbahaya seperti pewarna tekstil yang mengancam kesehatan masyarakat, kata Kepala Balai Pengawasan Obat dan Makanan (Bali POM) Kalimantan Selatan, Dewi Prawitasari.
Hal tersebut terungkap dalam dialog antara Dewi Prawitasari bersama Wali Kota Banjarmasin, Haji Muhidin di ruang kerja wali kota balaikota Banjarmasin, Selasa (7/8).
Menurut Dewi, selama Ramadan ini bermunculan produk penganan yang dijual untuk berbuka puasa, dan diolah semenarik mungkin termasuk menggunakan bahan pewarna berbahaya tersebut.
“Hasil penelitian kami ketika tiga kali turun ke lapangan selama Ramadan di beberapa titik pasar Kota Banjarmasin memang cukup banyak kue menggunakan zat pewarna berbahaya tersebut,” katanya.
Pewarna berbahaya dimaksud adalah rhodamin B yang biasa disebut penduduk lokal “Kasumba.”
Bukan hanya pewarna berbahaya yang ditemukan pada kue dan makanan yang banyak dijual saat Ramadan ini, tetapi juga pemanis buatan, pengawet.
Bahan berbahaya yang ditemukan Balai POM pada penganan dan makanan di pasar Ramadan tersebut selain rodhamin B, juga ada boraks, pormalin, dan methanyl yellow.
Pemanis buatan ditemukan penggunaan berlebihan pada kue bingka barandam, pengawet tertdapat pada bakso dan makanan ringan anak-anak.
Berdasarkan hasil pendataan Balai POM setempat sedikitnya 491 tempat pembuatan produk makanan di Kota Banjarmasin yang harus diwaspadai, dan mereka perlu pembinaan.
Masalahnya muncul produk dengan bahan berbahaya tersebut boleh jadi ketidak tahuan saja, makanya diperlukan penyuluhan.
Padahal banyak saja bahan yang manfaatnya sama untuk produk makanan dan minuman tersebut tetapi tidak merusak kesehatan bagi yang mengkonsumsinya.
Seperti pewarna itu banyak dijual di toko bahan makanan dengan botol-botol kecil bertuliskan “pewarna untuk makanan,” dengan harga Rp2500, per botol, harga ini memang lebih mahal ketimbang pewarna berbahaya yang disebut kasumba yang hanya Rp500,-per saset plastik.
Oleh karena itu, Balai POM mengajak pihak Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin bekerjasama untuk memerangi pemanfaatkan bahan berbahaya pada makanan dan minuman tersebut, dengan selalu melakukan pengawasan sekaligus penyuluhan.
Apa saja hukuman bagi produsen pangan yang masih saja menggunakan bahan berbahaya, seperti formalin umpamanya, itu bisa dipidanakan lima tahun penjara atau denda Rp600 juta.
Apalagi katanya, wali kota berdasarkan PP No 28 tahun 2004 tentang keamanan mutu dan gizi pangan berhak melakukan pengawasan terhadap produk makanan dan minuman serta berhak memberikan sanksi terhadap yang memproduk bahan makanan dan minuman yang dinilai berbahaya bagi kesehatan itu.
“Kami Balai POM mengajak Pemkot Banjarmasin untuk bersama-sama mengawasi dan mensosialisasi mengenai bahan berbahaya tersebut dengan berbagai kegiatan, seperti penyuluhan, pelatihan, atau bentuk lomba dan kontes makanan minuman tanpa bahan berbahaya,” tuturnya.
Wali Kota Haji Muhidin menyambut gembira tawaran Balai POM mencegah bersama-sama penggunaan bahan berbahaya pada makanan tersebut.
“Saya baru tahu kalau pewarna kasumba itu berbahaya, padahal waktu orang tua saya dulu juga menggunakan kasumba membuat sirup, ditambah pengharum panili enak sekali sirup tersebut apalagi bila minum dengan es,” kata wali kota sambil tersenyum.
Menurutnya, kebiasaan-kebiasaan berbahaya di kalangan masyarakat tersebut selayaknya diberitahukan, baik melalui penyuluhan dan sosialisasi oleh instansi berwenang maupun melalui tulisan dan visual wartawan di media cetak dan elekstronik.
Menurutnya Pemkot sendiri melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) selalu melakukan pembinaan terhadap industri kecil makanan dan minuman tersebut.
Kemudian Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan Banjarmasin juga telah melakukan pembinaan terhadap penjual jajanan anak sekolah, dan memberikan stiker bagi penjual yang menyajikan jajanan aman dari bahan berbahaya.
Tetapi bila pembinaan tersebut disinergikan dengan Balai POM maka usaha Pemkot tersebut tentu lebih baik lagi, tutur wali kota.

Dampak Kesehatan

Berdasarkan sebuah tulisan, kontaminasi zat berbahaya pada produk pangan menandakan lemahnya pengawasan pangan pasar, dan kontaminasi tersebut jelas berbahaya bagi kesehatan.
Umpamanya saja bila terkontaminasi melamin seperti pada produk susu akan menggangu sistem kerja pencernaan dan ginjal.
Kemudian makanan mengandung formalin, formalin biasanya digunakan sebagai bahan antiseptik, germisida dan pengawet.
Fungsinya formalin sering diselewengkan untuk bahan pengawet makanan dengan alasan karena biaya lebih murah seperti mengawetkan ikan, dengan sebotol kecil dapat mengawetkan ikan secara praktis tanpa harus memakai batu es.
Formalin biasanya sering ditemukan pada makanan produk industri rumahan, karena mereka tidak terdaftar di BPOM setempat.
Biasanya makanan yang tidak diberi bahan pengawet seringkali tidak akan tahan lebih dalam 12 jam.
Formalin juga dipakai untuk menimbulkan warna produk menjadi lebih cerah. Sehingga juga banyak di pakai dalam produk rumah tangga, seperti piring, gelas dan mangkok yang berasal dari plastik atau melamin.
Bila piring atau gelas itu terkena makanan atau minuman panas maka bahan formalin yang terdapat dalam wadah itu akan larut, tapi bila digunakan untuk keadaan makanan dan minuman yang dingin sebenarnya tidak berbahaya.
Namun, akan sangat berbahaya bila wadah-wadah ini dipakai untuk menaruh kopi, the, atau makanan yang berkuah panas.
Formalin masuk kedalam tubuh manusia melalui dua jalan yakni pernapasan dan mulut. Sebetulnya kita setiap hari menghirup formalin dari lingkungkan sekitar yang dihasilkan oleh asap knalpot dan pabrik yang mengandung formalin, mau tidak mau akan menghisapnya.
Formalin juga dapat menyebabkan kanker (zat yang bersifat karsinogenik). Bila terhirup formalin dapat menyebabkan iritasi pada hidung dan tenggorokan, gangguan pernapasan, rasa terbakar pada hidung dan tenggorokan serta batuk, kerusakan pada sistem saluran pernapasan bisa menganggu paru-paru berupa pneumonia (radang paru-paru) atau edema paru (pembengkakan paru).
Bila terkena kulit dapat menimbulkan perubahan warna, kulit menjadi merah, mengeras, mati rasa dan rasa terbakar. Apabila terkena mata menimbulkan iritasi, memerah, rasanya sakit dan gatal-gatal.
Bila konsentrasi tinggi maka menyebabkan pengeluaran air mata yang hebat dan kerusakan pada lensa mata.
Kemudian boraks merupakan senyawa yang bisa memperbaiki tekstur makanan sehingga menghasilkan rupa yang bagus pada makanan seperti bakso dan kerupuk.
Bakso yang menggunakan boraks memiliki kekenyalan yang kas yang berbeda dari bakso yang menggunakan banyak daging, sehingga terasa renyah dan disukai serta tahan lama.
Sedang kerupuk yang mengandung boraks kalau digoreng akan mengembang dan empuk, teksturnya bagus dan renyah.
Dalam industri boraks dipakai untuk mengawetkan kayu, anti septic kayu dan pengontrol kecoa. Bahaya boraks terhadap kesehatan diserap melalui usus, kulit yang rusak dan selaput lender.
Jika dikonsumsi dalam jangka waktu lama atau berulang-ulang akan memiliki efek toksik. Pengaruh kesehatan secara akut adalah muntah dan diare. Dalam jangka waktu panjang dapat menyebabkan gangguan pencernaan, nafsu makan menurun, anemia, rambut rontok, dan kanker.
Pemanis Buatan hanya digunakan pada pangan rendah kalori dan pangan tanpa penambahan gula, namun kenyatannya banyak ditemukan pada produk permen, jelly dan minuman yang mengandung pemanis buatan. Dan ini juga bukan hanya ditemukan pada merk-merk terkenal, tapi juga pada produk yang beriklan ditelevisi.
Bukan Cuma mengandung konsentrasi tinggi, tapi produk ini juga berupaya menyembunyikan sesuatu. Beberapa produk bahkan juga tidak mencantumkan batas maksimum penggunaan pemanis buatan Aspartam.
Pemakaian Aspartam berlebihan memicu kanker dan leukimia pada tikus, bahkan pada dosis pemberian Aspartam hanya 20mg/Kg BB.
Zat pewarna alami sudah dikenal sejak dulu dalam industri makanan untuk meningkatkan daya tarik produk makanan sehingga konsumen tergugah untuk membelinya.
Namun celakanya ada juga penyalahgunaan dengan adanya pewarna buatan yang tidak diizinkan untuk digunakan sebagai zat adiktif. Contoh yang sering ditemui adalah penggunaan bahan pewarna rhodamin B, yaitu zat pewarna yang lazim digunakan dalam industri tekstil, namun digunakan dalam zat pewarna makanan.
Berbagai penelitian dan uji telah membuktikan bahwa penggunaan zat makanan ini dapat menyebabkan kerusakan pada organ hati.

Walikota berdialog dengan Kepala Balai POM dan dihadiri sejumlah wartawan

BALAI POM INGATKAN WARGA MAKANAN KANDUNG BORAKS
Banjarmasin,11/8 (ANTARA)- Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (Balai POM) Banjarmasin mengingatkan warga kota setempat untuk berhati-hati terhadap makanan yang diduga mengandung boraks.
Pasalnya dalam tiga kali melakukan pengawasan kelapangan di kota Banjarmasin, ternyata terdapat makanan yang mengandung bahan kimia berbahaya tersebut, kata Kepala Balai POM Banjarmasin, Dewi Prawitasari, Sabtu.
Ia menyebutkan, makanan di Banjarmasin yang diketahui mengandung boraks tersebut adalah pentol baso, kerupuk, dan makanan ringan anak-anak.
Sebab bila seseorang mengkonsumsi makanan mengandung boraks maka bisa mengalami gangguan kesehatan, antara lain nafsu makan hilang, gangguan pencernaan, diare, sakit perut, sakit kepala dan gangguan kesehatan lainnya.
Boraks adalah senyawa berbentuk kristal, warna putih, tidak berbau dan stabil pada suhu dan tekanan normal.
Boraks merupakan senyawa kimia berbahaya untuk pangan dengan nama kimia natrium tetraborat yang dapat dijmumpai dalam bentuk padat dan jika larut dalam air akan menjadi natrium hidroksida dan asam borat.
Boraks atau asam borat merupakan bahan untuk pembuatan deterjen, mengurangi kesadaran air dan bersifat antiseptik. Boraks merupakan bahan yang dilarang digunakan untuk pangan.
Menurutnya makanan yang mengandung bahan tersebut dapat saja dihindari dengan cara mengenalinya seperti pentol baso, teksturnya sangat kenyal, warnya tidak kecoklatan seperti penggunaan daging namun lebih cendrung keputihan.
Terhadap kerupuk, teksturnya sangat renyah dan dapat memberikan sara getir, terhadap mie basah teksturnya sangat kenyal, biasanya mie lebih mengkilat, tidak lengket, dan tidak cepat putus.
Berdasarkan aturan, penyalahgunaan boraks dalam pangan dapat membahayakan keselamatan konsumen dan karena itu dapat diancam dengan pidana penjara atau denda ratusan juta rupiah.

 

 

BALAI POM INGATKAN WARGA MAKANAN KANDUNG FORMALIN
Banjarmasin,12/8 (ANTARA)- Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (Balai POM) Banjarmasin mengingatkan warga kota setempat untuk berhati-hati terhadap makanan yang diduga mengandung formalin.
Pasalnya saat Balai POM melakukan pengawasan ternyata terdapat makanan yang mengandung bahan kimia berbahaya tersebut, kata Kepala Balai POM Banjarmasin, Dewi Prawitasari, Minggu.
Ia menyebutkan, beberapa jenis pangan telah ditemukan menggunakan formalin sebagaipengawet pangan, seperti mie basah,tahu, baso, ayam, dan ikan serta beberapa hasillaut lainnya.
Sebab bila seseorang mengkonsumsi makanan mengandung formalin maka bisa mengalami gangguan kesehatan, antara lain nafsu makan hilang, gangguan pencernaan, diare, sakit perut, sakit kepala dan gangguan kesehatan lainnya.
Formalin adalah larutan yang tidak bewarna dan baunya sangat menusuk. Di dalam formalin terkandung sekitar 37 persen formaldehid dalam air. Biasanya ditambahkan metanol hingga 15 persen sebagai pengawet.
Formalin digunakan sebagai bahan perekat untuk kayu lapis dan desinfektan untuk peralatan rumah sakit serta untuk pengawet mayat . Formalin dilarang untuk pengawet makanan.
Formalin sangat berbahaya jika terhirup, mengenai kulit dan tertelan. Akibat yang ditimbulkan dapat berupa luka bakar pada kulit, iritasi pada saluran pernapasan, reaksi alergi dan bahaya kanker pada manusia.
Bila tertelan formalin sebanyak 30 ml (sekitar dua sendok makan) maka akan menyebabkan kematian.
Menurutnya produsen pangan yang masih menggunakan formalin bisa jadi karena pengetahunnya tidak memadai mengenai bahasa bahan tersebut, atau karena tingkat kesadaran kesehatan masyarakat yang rendah.
Deteksi formalin secara kualitatif maupun kuantitatif secara akurat hanya dapat dilakukan di laboratorium dengan menggunakan pereaksi kimia.
Tetapi untuk mengetahui bahan pangan pangan mengandung formalin dengan ciri seperti mie basah tidak rusak sampai tiga hari pada suhur kamar 25 derajat celsius, dan bertahan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es 10 derajat selsius.’
Sementara untuk tahu terlihat terlalu keras, kenyal namun tidak padat, bau formalin tercium menyengat.
Ciri terhadap ikan asin tidak dihinggapi lalat, tak rusak hingga satu bulan pada suhu kamar 25 derajat selsius, bersih cerah dan tak berbau ikan asin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: