LEBARAN BERIKAN BERKAH WARGA KAMPUNG KETUPAT

Oleh Hasan Zainuddin


Sekelompok gadis memainkan jemarinya mengayam daun kelapa dan daun nipah muda hingga menjadi kulit ketupat yang disebut “urung”.

Sementara para ibu-ibu begitu asyiknya merebus kulit ketupat yang sudah diisi dengan beras hingga menjadi ketupat matang yang siap dijual kepada pembeli yang datang dari berbagai penjuru.

Begitulah kesibukan para gadis dan ibu-ibu yang berada di “kampung ketupat” desa Sungai Baru atau Jalan Pekapuran Kota Banjarmasin, ibukota provinsi Kalimantan Selatan.

Kesibukan kian terlihat menjelang Lebaran yang seperti sekarang ini, karena permintaan akan kulit ketupat maupun ketupat yang sudah masak meningkat tiga kali lipat dibandingkan hari biasanya.

Permintaan ketupat meningkat menyusul kian digemarinya makanan yang berbahan ketupat saat suguhan tamu Idul Fitri.

“Permintaan kulit ketupat maupun ketupat yang sudah matang meningkat tajam menjelang Idul Fitri, hampir-hampir kami kewalahan menerima pesanan tersebut,” kata Acil Nurul perajin ketupat saat ditemui bekerja di kampung ketupat, Sabtu.

Menurut Acil Nurul, bila hari biasanya satu keluarganya hanya membuat 200 buah ketupat masak, tetapi karena banyaknya permintaan maka pembuatan menjadi 700 buah per hari.

“Kalau keluarga kami masih mending hanya 700 buah, kalau keluarga perajin yang lain bisa sampai 3.000 hingga 4.000 buah per perhari,”kata Acil Nurul seraya menunjuk beberapa lokasi pusat penjualan ketupat di kawasan padat penduduk tersebut.
Sebab, tambahnya, permintaan bukan datang dari Kota Banjarmasin ini saja tetapi ada yang datang dari Kota Banjarbaru, Martapura, Marabahan dan kota-kota lain di Kalsel, bahkan datang dari Kota Kuala Kapuas Kalimantan Tengah.

Ketupat masak dijual dengan harga Rp3.000 per buah, sementara kalau kulit ketupat disebut urung hanya dijual Rp5 ribu per 10 buah.

“Kalau kami mampu menjual 700 buah ketupat masak per hari dikalikan Rp3.000,- maka per hari kami memperoleh uang Rp2.100.000,-per hari, kalau dikurangi biaya produksi maka keuntungannya sekitar Rp1 juta per hari,” kata Acil Nurul.

Keuntungan tersebut hanya beberapa hari ini saja saat menjelang Lebaran, tetapi usai lebaran biasanya pasarannya biasa-biasa lagi seperti sedia kala yaitu sekitar 200 buah per hari.

Ketupat tersebut dibeli oleh masyarakat sebagai bahan makanan khas seperti soto Banjar, katupat batumis, katupat kandangan, campuran makan sate, gado-gado, maupun untuk bahan makanan lainnya.

Menurut Acil Nurul yang ditemani putrinya, mereka sekeluarga merupakan perajin yang bertindak sebagai grosir, hasil olahan mereka diambil oleh pedagang eceran yang menggelar dagangan lagi di beberapa lokasi di kota ini.

“Kami di kampung ketupat ini hanya sebagai perajin, kemudian dibeli atau dipesan oleh pedagang eceran, bila kami jual Rp3.000 per biji, maka pedagang eceran menjual lagi antara Rp3.500,- hingga Rp4.000,- per buah,” katanya.

Lihat saja di berbagai lokasi penjualan ketupat di Banjarmasin ini seperti di jalan A Yani, Jalan Pire Tendean, Jalan kelayan dan daerah lainnya hampir dipastikan mereka mengambil ketupat tersebut dari perajin kampung ketupat, kata Acil Nurul.
Sejak zaman Jepang
Menurut keterangan keberadaan kampung ketupat sebagai sentra perajin ketupat memang sudah lama berlangsung, dan konon sejak zaman penjajahan Jepang dulu.

Mulyadi (60) tahun penduduk asli setempat menuturkan, kebiasaan warga membuat ketupat itu sudah terjadi turun temurun, hampir tak ada yang tahu persis sejak mulainya kebiasaan tersebut.

“Kakek saja yang bernama Datok Elok pernah bercerita sejak ia kecil kebiasaan membuat ketupat sudah ada di kampung tersebut, yang berarti jelas sudah ratusan tahun,” kata Mulyadi.

Menurut Mulyadi, Datok Elok merupakan tetuha kampung yang membangun Desa Sungai Baru, karena itu hampir seluruh perajin ketupat di lingkungan itu sebagian besar adalah keturunan Datok Elok.

Jumlah perajin ketupat di kampung ketupat sudah sulit di hitung jumlahnya, karena menyebar di lingkungan RT 1, RT 2, RT 3, RT 4, RT 5, RT 6, hingga lingkungan RT 7.

Tadinya mereka yang membuat ketupat hanyalah penduduk asli setempat, tetapi setelah potensi ekonomi membuat ketupat begitu menjanjikan sehingga belakangan banyak pendatang yang juga ikut-ikutan menjadi perajin ketupat.

Banyak pendatang dari Jawa dan Madura yang sekarang menjadi perajin ketupat, kata Mulyadi.

Menurut Mulyadi yang mengaku sejak kecil sudah tinggal di kawasan tersebut usaha membuat ketupat memberikan lapangan pekerjaan terhadap banyak orang.

Bukan saja mereka yang hanya mengayam daun kelapa dan daun nifah menjadi kulit ketupat, tetapi tak sedikit yang menjadi pedagang grosir, pedagang eceran, sampai mereka yang bertindak sebagai pencari bahan baku daun kelapa dan daun nifah.

Untuk daun muda kelapa muda lantaran belakangan ini sudah mulai sulit diperoleh, maka banyak yang didatangkan dari daerah lain, begitu pula untuk daun muda tanaman nifah (tanaman pantai) didatangkan lebih jauh lagi.

Daun nipah ini didatangkan oleh pencarinya dari Tanipah, wilayah pesisir laut Jawa, yang dibeli oleh perajin dengan harga Rp15 ribu per ikat, satu ikat bisa menjadi 300 buah kulit ketupat,” kata Mulyadi.

Sementara daun muda kelapa juga Rp15 ribu per ikat dengan hasil yang bisa diolah lebih banyak lagi jumlah ketupatnya, karena biasanya ketupat dari daun kelapa maka lebih kecil dibandingkan dengan ketupat daun nipah.

Menurut Mulyadi, para perajin ketupat tersebut selain panen saat lebaran Idul Fitri juga biasanya panen saat lebaran Idul Adha, tetapi juga bisa meningkat saat Imlek, atau hari Natal.

Sementara pada hari-hari biasa kebanyakan perajin hanya memenuhi para pemilik warung maran, restauran, dan pesanan pribadi untuk keperluan rumah tangga.

 

Iklan

Satu Tanggapan

  1. Reblogged this on pasifo98.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: