SAMPAH PERSOALAN RUWET BANJARMASIN

Oleh Hasan Zainuddin


Banjarmasin, 28/9 (ANTARA) – Mungkin saja kesan pertama bagi siapa saja yang pertama kali mengunjungi Kota Banjarmasin, ibukota provinsi Kalimantan Selatan adalah “kotor”.

Sebab di beberapa lokasi jalan raya pintu masuk ke dalam kota berpenduduk lebih dari 720 ribu jiwa ini adalah tumpukan sampah yang meluber hingga menyita jalan dan menganggu arus lalu-lintas.

Gubernur Kalsel, Rudy Ariffin sendiri pernah berkata kota ini benar-benar kotor dan meminta instansi terkait mencarikan solusi atau formula dalam menangani sampah itu.

“Banjarmasin kini menuju kota metropolitan yang seharusnya menjadikan sampah sebuah persoalan yang serius harus dituntaskan,” katanya.

Ia berharap sampah ke depan tidak lagi menjadi sebuah persoalan tetapi justru menjadi sebuah berkah yang memberikan nilai ekonomis dan lapangan kerja bagi penduduknya.

Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Banjarmasin, Haji Rusmin saat jumpa pers di balaikota mengaku selalu berkerut kening mencari solusi mengatasi sampah itu.

“Seandainya kalian pernah merasakan bagaimana ruwetnya mengurus sampah di Banjarmasin, maka kalian tak akan menyalahkan kami bila melihat kota ini penuh sampah,” kata Rusmin didampingi beberapa stafnya kepada wartawan.

Lalu ia bercerita berbagai kendala mengurus sampah, bukan hanya kekurangan dana, tetapi juga kekurangan tenaga kerja, minimnya jumlah peralatan, serta kondisi alam, tetapi yang paling memusingkan adalah perilaku masyarakat itu sendiri yang selalu membuang sampah sembarangan di berbagai tempat.

“Kalau hanya mengandalkan pemerintah tanpa dukungan masyarakat sampai hari kiamat pun persoalan sampah tak akan pernah selesai di kota ini,” kata Rusmin lagi.

Sebagai contoh saja, sudah diingatkan warga membuang sampah di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) harus malam hari, nyatanya selalu membuang di siang hari.

Bahkan katanya, setelah tumpukan sampah diangkut pada pagi hari dan TPS sudah bersih, tapi hanya beberapa waktu berselang lokasi itu menggunung lagi sampah.

Bahkan bukan hanya individu warga yang membuang sampah sembarangan tetapi juga berbagai perusahaan besar seperti hotel, restauran, rumah makan, dan perusahaan lainnya yang membuang skala besar secara sembarangan pula.

Padahal sebagian besar dari 117 TPS di kota ini justru di pinggir jalan besar, dan akibatnya sampah terus meluber hingga ke tengah jalan raya dan menganggu warga kota.

“Kalau cara-cara masyarakat seperti itu terus dilakukan siapa pun pasti pusing tujuh keliling mengurus sampah ini,” kata Rusmin lagi.

Apalagi kian waktu produksi sampah volumenya terus meningkat seiring bertambahnya penduduk, dan sekarang terdata 573 ton atau 1.800 meterkubik per hari.

Bagaimana sampah sebanyak itu dibersihkan dengan peralatan dan tenaga yang masih terbatas, dengan jumlah truk angkut sampah hanya 38 buah, tosa (kendaraan roda tiga) t11 buah, padahal idealnya truk sampah minimal 125 buah.

Dengan kondisi terbatas itu maka jumlah sampah yang terangkut ke TPA 200 ton saja, sisa sampah yang tak terangkut tersebut memang ada yang diambil pemulung, dibuang ke sungai oleh oknum warga atau di daur ulang untuk pupuk organik dan sebagainya, tapi masih banyak yang tertinggal dan jumlah itulah yang terus mengotori kota ini.

Kondisi geografis Banjarmasin pun tak mendukung untuk menjadi sebuah kota yang bersih lantaran berada 60 cm berada di bawah permukaan air laut di saat air laut pasang dalam.

Dengan kondisi geografis semacam itu, maka sampah di sungai sering kali masuk ke daratan saat air pasang dalam dan saat air surut sampah tertinggal di daratan akibatnya kotor dimana-mana.

Ketika ditanya mengapa TPS selalu berada di pinggir jalan, Rusmin menyebutkan itu sudah berlangsung sekian lama, mengingat kota ini adalah kota tua yang dibangun tidak dirancang sebagaimana mestinya dan kota ini berkembang secara alamiah.

Dengan kota seluas 98 kilometer persegi itu berkembang seperti itu akhirnya dalam tata kota tak ada lokasi yang khusus untuk sampah, dan sampah berdasarkan kebiasaan selalu ditumpuk TPS pinggir jalan lalu diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Bila sekarang TPS pinggir jalan tersebut ingin dipindah ke dalam gang atau agak ke dalam selalu saja, diprotes warga habis-habisan dan kalau itu dipaksakan bila menimbulkan bentrok, akhirnya pemerintah menyerah lagi dengan kondisi seperti itu.


Bank Sampah
Wali Kota Banjarmasin, Muhidin saat pencanangan perilaku hidup bersih di bilangan Kompleks Mahligai Banjarmasin mengakui agak malu untuk ikut berkompetisi merebut piala Adipura bila melihat kondisi kota semacam itu.

Oleh karenanya ia mengajak seluruh masyarakat membiasakan diri berperilaku hidup bersih dengan tidak membuang sampah sembarangan dan menjadikan sampah sebagai barang ekonomis.

“Saya senang melihat di pemukiman lokasi ini, terdapat bank sampah, seharusnya bank-bank sampah ini diperbanyak saja,” katanya.

Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Rusmin mengakui bahwa pihaknya memperbanyak lokasi bank sampah, sata ini baru terdapat 20 bank sampah, dan akan bertambah lagi 10 bank sampah dalam waktu dekat ini, hingga akhirnya mencapai 50 bank sampah.

Bank sampah bisa memberikan tambahan penghasilan anggota atau nasabahnya, lingkungan mereka juga terjaga kebersihannya.

Keberadaan bank sampah dinilai penting karena tumpukan sampah rumah tangga bisa dikelola di lokasi tersebut, setiap yang bernilai bisa dijual langsung sementara sampah organik akan dibuat pupuk kompos yang kemudian di paking untuk kemudian dijual pula.

“Daripada membuang sampah tidak jadi apa-apa, lebih baik dikumpulkan di bank sampah. Mengumpulkan sampah diberi uang. Bahkan bisa pinjam uang, bayarnya hanya dengan sampah,” ujarnya.

Berdasarkan keterangan melalui program bank sampah, masyarakat diajak untuk mengumpulkan sampah-sampah non organik. Setiap barang akan dibeli sesuai harga jual yang berlaku di pengumpul barang bekas.

Misalnya kardus Rp 1.000 per kilogram, besi Rp 2 ribu per kilogram, kaleng Rp 12 ribu per kilogram, botol kaca (kecap) Rp 300 per kilogram dan banyak lagi.

Setelah masyarakat mengumpulkan barang bekas tersebut ke bank sampah, maka nilai jualnya akan ditulis petugas di buku tabungan khusus.

Mereka yang mengumpulkan bisa mengambil uang hasil penjualan barang bekas tersebut setelah tiga bulan. Dengan cara tersebut, sampah tak lagi dibuang percuma tetapi menghasilkan uang bagi warga setempat.

Saat ini sudah ada beberapa bank sampah yang cukup aktif difungsikan, banyak dimanfaatkan masyarakat seperti terlihat di kompleks Mahligai, Kompleks Malkon Temon, serta di kawasan Sungai Andai.

Solusi persampahan lainnya melalui program yang disebut Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) “3R” yaitu reuse (menggunakan kembali), reduce (mengurangi), recycle (daur ulang) seperti ditujuh lokasi Banjarmasin.

Tujuh lokasi Banjarmasin itu, TPST 3R Jalan Angsana dan Cemara Raya dan Sungai Andai di wilayah Banjarmasin Utara, Simpang Jagung Banjarmasin Barat, Sungai Lulut Banjarmasin Timur, Sentra Antasari Banjarmasin Tengah, serta TPST 3R Basirih Selatan Banjarmasin Selatan.

Melalui TPST ini juga telah memberikann nilai tambah ekonomi bagi masyarakat setempat serta kalangan pemulung.

Upaya lain bahkan Pemkot Banjarmasin menerjunkan 60 petugas pengawas untuk mengawasi pembuangan sampah ke TPS agar tidak berserakan, serta membentuk komunitas warga peduli samnpah.

Jangka panjangnya terus menambah pendanaan, tenaga kerja, peralatan, serta peningkatan tehnologi serta mengelola TPA agar mampu menampung pembuangan sampah secara baik dan benar pula.

SPAM REGIONAL “BANJARBAKULA” SOLUSI AIR MINUM KALSEL

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin, 25/9 (ANTARA) – Persoalan air minum kini menghantui warga Provinsi Kalimantan Selatan, lantaran persediaan tidak sebanding dengan kebutuhan masyarakat wilayah tersebut.

Menteri Pekerjaan Umum Joko Kirmanto saat kunjungan ke Banjarmasin, Senin (24/9) menyatakan pihaknya telah mencermati kondisi pelayanan air minum di wilayah paling selatan Pulau Kalimantan ini.

Menurut dia, capaian pelayanan air minum di Kalsel sampai dengan penghujung tahun 2011, tingkat akses aman air minum masyarakat wilayah ini baru mencapai 51,79 persen, sedikit di bawah rata-rata nasional sebesar 53,26 persen.

Dengan jumlah penduduk sekitar 3,6 juta jiwa, berarti penduduk yang belum memiliki akses aman air minum di Provinsi Kalsel sebanyak 1,7 juta jiwa.

Di sisi lain, sasaran MDGs tahun 2015 untuk Provinsi Kalimantan Selatan adalah tingkat akses aman air minum sebesar 70 persen.

Dengan demikian, dalam kurun waktu 2,5 (dua setengah) tahun ke depan pemerintah provinsi dan kabupaten-kota di Kalsel perlu menyediakan tambahan akses aman air minum bagi 600 ribu jiwa.

Melihat kenyataan tersebut maka diperlukan kerja keras antara pemerintah daerah di Kalsel untuk melakukan tambahan pelayanan air minum tersebut.

“Sistem penyediaan air minum untuk Kota Banjarmasin dan lima Instalasi air Ibukota Kecamatan (IKK) di Kalsel yang akan kita resmikan pemanfaatannya hari ini akan menambah kapasitas produksi air minum sebesar 600 liter per detik,” katanya saat meresmikian proyek air bersih Kalsel di Banjarmasin tersebut.

Proyek air diresmikan SPAM Banjarmasin 500 liter per detik (l/D) menjadi 1000 l/d, IKK Paringin Selatan, Kabupaten Balangan 20 l/d, IKK Tabukan Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) 20 l/d, IKK Babirik HSU 20 l/d, IKK Hatungun Kabupaten Tapin 20 l/d dan IKK Hantakan Kabupaten HST 20 l/d.

Kedatangan Menteri PU didampingi Dirjen Cipta Karya selain meresmikan proyek air bersih sekaligus menghadiri peringatan puncak hari jadi Kota Banjarmasin ke-486 di halaman balaikota setempat.

Menurut Menteri PU, adanya penambahan fasilitas air minum 600 liter per detik tersebut berarti akan menyumbang peningkatan pelayanan air minum sampai dengan 48.000 sambungan rumah atau tambahan pelayanan bagi 240.000 jiwa.

Dengan target MDGs Provinsi Kalsel sebesar 600 ribu jiwa, tambahan pelayanan tersebut masih jauh dari sasaran. Oleh karenanya diperlukan upaya yang lebih serius guna percepatan peningkatan pelayanan air minum ke depan.

“Kami yakin apabila ada komitmen yang kuat dari Pemerintah Daerah hal tersebut bisa terwujud.” katanya didampingi Wakil Gubernur Kalsel, Rudy Resnawan.

Sebagai contoh nyata adalah Kota Banjarmasin yang saat ini pelayanan air minumnya sudah mencapai 98,7 persen, keberhasilan itu tak terlepas dari tingginya komitmen pemerintah setempat dalam meningkatkan pelayanan air minum yang tercermin dari komitmen pendanaan dari daerah baik melalui alokasi pendanaan APBD maupun memanfaatkan pinjaman perbankan.

Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan melalui Peraturan Presiden Nomor 29 tahun 2009 tentang Pemberian Jaminan dan Subsidi Bunga Oleh Pemerintah Pusat Dalam Rangka Percepatan Penyediaan Air Minum.

Saat ini telah ada komitmen dari Perbankan Nasional sebesar Rp4,36 triliun, katanya lagi.

“Saya mengapresiasi komitmen PDAM Bandarmasih yang didukung Pemerintah Kota dan DPRD Kota Banjarmasin untuk memanfaatkan fasilitas tersebut dan hasil pembangunannya akan kita resmikan hari ini,” tuturnya.

Ini adalah contoh yang baik bagi 13 pemerintah kabupaten dan kota lain di Kalsel sebagai pembelajaran dalam pelayanan air minum di masing-masing wilayah.

Ia juga berharap Pemerintah Kota Banjarmasin dan PDAM Bandarmasih dapat berbagi pengalaman kepada pemerintah daerah dan PDAM lain khususnya di Provinsi Kalsel.

PDAM Bandarmasih diharapkan dapat berperan aktif sebagai “Center Of Excellence” di Kalsel untuk dapat memacu kinerja pelayanan air minum oleh PDAM di provinsi ini.


SPAM Regional
Kehadiran Menteri PU bersama rombongan tersebut sekaligus juga menyaksikan penandatangan MoU lima pimpinan daerah di Kalsel untuk mengerjakan Sistem Pengolahan Air Minum (SPAM) Regonal “Banjarbakula.”
Banjarbakula singkatan dari Banjarmasin, Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Kabupaten Barito Kuala, dan Kabupaten Tanah Laut.

Menteri PU Joko Kirmanto sendiri mendukung inisiatif mengembangkan SPAM regional Banjarbakula.

Menurut Joko Kirmanto, untuk pemenuhan kebutuhan air minum diperlukan jaminan ketersediaan air baku dengan kuantitas dan kualitas yang memadai.

Pemerintah pusat, provinsi, maupun pemerintah kota dan kabupaten sesuai dengan kewenangannya berkewajiban melakukan hal tersebut melalui langkah operasional yang meliputi perlindungan daerah tangkapan air, manajemen terpadu daerah aliran sungai, serta mengendalikan pencemaran air.

Penertiban izin penggunaan air serta upaya antisipasi penyediaan sumber air baku untuk masa yang akan datang, katanya.

Dengan keterbatasan air baku yang tersedia di masing-masing Kabupaten dan kota maka pemerintah pusat sangat mendukung adanya inisiatif untuk mengembangkan SPAM regional Banjarbakula.

Semua itu untuk menjawab pemenuhan kebutuhan air minum yang lebih merata dengan pemanfaatan bersama sumber air baku di wilayah ini.

Ia berharap agar Pemerintah provinsi berperan aktif dalam mengkoordinasikan dan memberikan kontribusi APBD untuk mewujudkan SPAM regional dimaksud.

Wakil Gubernur Kalsel, Rudy Resnawan sendiri mmenyebutkan kerjasama regional melalui SPAM memperoleh dukungan penuh Pemprov Kalsel, karena itu segera akan direalisasikan.

Hanya saja ia belum bisa menyebutkan di mana tempat SPAM tersebut dibangun, yang jelas bukan di Banjarmasin dan kemungkinan di Kabupaten Banjar lantaran di sana ada Bendungan dan Irigasi Riam Kanan sebagai penyedia air baku.

Menurut dia, SPAM tersebut akan dikelola Pemprov Kalsel, tetapi dalam pendistribusian air minum curah akan dilakukan oleh PDAM di lima daerah masing-masing.

Dengan adanya SPAM diharapkan penyediaan air minum di lima daerah Kalsel tersebut lebih merata, tidak lagi seperti sekarang hanya didominasi Banjarmasin.

Menurut Rudy Resnawan, tanpa SPAM, Banjarmasin yang sekarang pelayanan air minum pun dalam lima dan 10 tahun ke depan akan kesulitan mencari air baku, karena persoalan utama adalah bagaimana air baku yang terus tersedia.

Berbagai kalangan menilai walau SPAM terbentuk tetapi kalau tidak adanya pemeliharaan wilayah resapan air maka SPAM pun tak akan berhasil.

Salah satu cara terpelihara resapan air di kawasan Bendungan Riam Kanan adalah bagaimana menyelamatkan hutan kawasan bendungan yang masuk Hutan Pegunungan Meratus yang belakangan ini kian rusak saja akibat adanya pemukiman penduduk, penebangan hutan, dan pertambangan batubara.

Oleh karena itu ada saran agar Bendungan Riam Kanan dikelola secara profesional, oleh semacam lembaga khusus atau badan, tanpa pemeliharaan bendungan maka semua keinginan itu akan sia-sia belaka.

“KAUKAH,” KAYU ARAB JADI BARANG INDUSTRI MARTAPURA

Oleh Hasan Zainuddin


Bila anda diberi cinderamata oleh seorang yang baru pulang dari ibadah haji di tanah suci Mekkah, Arab Saudi berupa tasbih terbuat dari kayu kaukah atau Fuqaha bisa jadi tasbih tersebut buatan perajin dari Kota Martapura Kalimantan selatan.

Pasalnya, jumlah kerajinan kayu kaukah dari Martapura begitu besar jumlahnya dibawa ke kota suci Mekkah, oleh para pedagang Martapura kemudian dijual di berbagai lokasi di tanah suci tersebut, kata Maslan seorang pedagang kerajinan kayu Kaukah Kota Martapura.

Ketika ditemui di kios kecilnya di bilangan Pasar Cahaya Bumi Selamat, Martapura ibukota Kabupaten Banjar yang dikenal pula sebagai kota intan atau kota santri, Maslan didampingi istrinya bercerita banyak mengenai kerajinan kaukah setempat.

Berdasarkan ceritanya, kerajinan kayu tersebut mulai berkembang di kota permata tersebut sejak enam tahun belakangan ini disaat kian banyak saja masyarakat khususnya umat Muslim mencari barang kerajinan tersebut.

Tadinya hanya satu dua orang perajin membuat tasbih dari kaukah, tetapi kewalahan memenuhi begitu besarnya pesanan, akhirnya kerajinan tersebut terus berkembang dan lokasi sentra kerajinan kayu kaukah seperti yang terlihat di kawasan Teluk Selong, Kampung Kramat, Kampung Melayu,Pasayangan, dan di bilangan Kraton kota Martapura.

Bahkan belakangan kayu kaukah tak sebatas dibuat tasbih untuk alat beribadah tetapi dibuat kerajinan lainnya, seperti gelang, kalung, cincin, manik-manik, dan aneka barang cinderamata lainnya.

Usaha kerajinan kayu kaukah dinilai oleh perajin menguntungkan pasalnya harganya relatif mahal, untuk sebuah tasbih ukuran sedang dengan kualitas kayu dan cara mengerjakannya rapi dan bagus bisa terjual Rp75 ribu per buah.

Apalagi kerajinan kayu kaukah tampaknya untuk tanah air hanya dilakoni oleh perajin Martapura, sehingga permintaan datang dari berbagai penjuru tanah air.

“Bahkan banyak pedagang atau wisatawan datang ke Martapura khusus mencari kerajinan kaukah,” kata Maslan yang mengaku sudah lama menggeluti jualan jenis kerajinan tersebut.

Di Kota Martapura sendiri, begitu banyak pusat penjualan kerajinan tersebut, sebab pembeli bukan saja membeli hitungan buah, tetapi juga hitungan besar bahkan ada yang membeli lalu membawa kerajinan tersebut pakai kontainer, tujuannya ke berbagai penjuru tanah air tetapi juga ke Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam dan terbanyak dibawa ke Mekkah dan Madinah.

“Kalau bapak pergi ke kawasan Madinah, di lingkungan perkebunan kurma, di sana sebagian besar pedagang tasbih kayu kaukah berasal dari Martapura,” kata Maslan.

Sementara di berbagai pesolok kota Madinah dan Mekkah, juga banyak pedagang kecil yang menggelar dagangan kayu kaukah di pondokan jemaah haji adalah pedagang asal Martapura.

Bahkan tasbih kayu kaukah buatan Martapura mampu bersaing dengan produk tasbih kayu kaukah buatan Turki di berbagai supermarket di kedua kota suci Umat Islam tersebut.

Sementara Muslim seorang kayu kaukah di bilangan pasar yang sama Kota Martapura menuturkan pula, sebenarnya kayu kaukah bukanlah kayu yang berasal dari daerah setempat melainkan kayu yang khusus didatangkan dari kawasan Timur Tengah.

“Tak sedikit kayu kaukah yang didatangkan dari Arab Saudi oleh para pedagang Martapura, kemudian bahan mentah kayu kaukah tersebut baru diolah di kota ini, kemudian hasil olahan tersebut dikembalikan lagi dengan jumlah besar ke Arab Saudi,”kata Muslim.

Dari Timur Tengah
Kayu kaukah mentah didatangkan dari Timur Tengah dengan cara di packing dan dimasukkan ke dalam beberapa kontainer, kemudian oleh perajin di buat tasbih dan aneka kerajinan lagi kemudian hasil kerajinan itu dipaking dan diekspor lagi ke berbagai negara,khususnya ke Arab Saudi,” tambah muslim.

Jenis kayu mentah kaukah, bentuknya keras sekeras kayu ulinm(kayu besi) tetapi warnanya seperti kayu jati, kata Muslim seraya memperlihatkan beberapa potong kayu kaukah yang oleh warga setempat disebut pula buah kaukah.

Menurutnya, kayu ini tak sebatas untuk tasbih dan hiasan tetapi tak sedikit yang menggunakan jenis kayu ini sebagai kayu kramat, kayu pembawa berkah, kayu pembuang sial, dan kayu pengusir setan.

Kepercayaan semacam itu tak terlepas dari sejarah kayu kaukah itu sendiri dalam kehidupan para nabi yang hidup beribu tahun lalu.

Bahkan berdasarkan sejarahnya kapal Nabi Nuh, tongkat Nabi Musa, tongkat Nabi Sulaiman, dan tasbih Nabi Muhamad SAW terbuat dari kayu ini, kata Muslim seraya memperlihatkan sebuah kertas foto copy yang bertuliskan ulasan sejarah kayu kaukah.

Dengan latar belakang demikian maka kayu ini benar-benar dikeramatkan dan dicari, seperti dianggap mampu menghalau hantu jembalang, sekiranya anak kecil dirasuki iblis digosokkan kebagian dahinya untuk mengusir setan tersebut.

Kayu ini juga dinilai dapat menghilangkan sakit gigi dengan merendamkan kedalam air dikumur kemudian diminum, jika dipakai di badan dengan syarat bersentuhan kebagian kulit sekiranya digigit atau disengat binatang berbisa seperti ular dan sebagaimanya Insya Allah selamat, kata Muslim.

Apabila tergigit binatang-binatang tersebut maka letakkan kayu kaukah pada lokasi yang tergigit hingga hilang segala bisanya.

Jika kayu kaukah dipakai oleh seseorang maka seseorang tersebut konon akan selalu disayang dan orang pada senang, kemudian sekiranya sakit kepala bisa digosokkan kebagian yang sakit.

Apabila sakit tenggorokan seperti tongsil, guami dan sejenisnya kayu direndam kedalam air kemudian airnya diminum.

Begitu juga bila sakit urat atau otot kemudian digosokkan hingga sakitnya hilang, tambahnya.

“Apabila kita memakai Kayu kaukah kemudian terkena air panas atau percikan minyak panas Insya Allah hanya akan kepanasan sekejab saja dan kulit kita tidak akan melepuh” katanya meyakinkan.

Apabila kayu ini kemudian ada orang yang ingin mencelakakan pemakainya Insya Allah tidak akan jadi,kemudian apabila kayu ini didekatkan kepada ular atau ular sendok maka ular akan menjauh.

Apabila anak-anak terkena serangan demam maka rendamkan ke dalam air dan dan airnya diminum maka panas badannya akan turun.

Tidak seperti cincin logam lainnya cincin kayu kaukah tidak akan pudar termakan waktu basah maupun panas tetap mengkilap, disamping manfaat-manfaat lainnya, itulah keistemewaan kayu ini, tuturnya.

Ciri dari kerajinan kayu kaukah semakin lama semakin mengkilap warnanya, kalau diletakan ke air maka akan tenggelam.

Berdasarkan cerita banyak kemujizatan saat kayu kaukah digunakan seperti saat Nabi Musa Alaihi Salam yang bisa membelah laut merah saat dikejar pasukan tentara kerajaan Firaun.

Kayu ini juga pernah digunakan Nabi Nuh AS untuk membuat bahan dasar kapal dan bisa menyelamatkan beliau dari arus banjir bandang.
Pohon kaukah yang langka ini konon hanya terdapat di Turki, Mesir, Iran, dan Nigeria.

Kayu langka ini juga memiliki aroma khas dan selalu berminyak. Bentuknya keras dan mengkilap seperti batu. Buah dari pohon yang tingginya bisa mencapai puluhan meter ini tidak akan jatuh sebelum pohonnya berumur 40 tahun.

Kayu ini adalah kayu langka yang dilindungi oleh sejumlah pemerintahan Timur Tengah, banyak tumbuh di bukit Sinai, hutan kecil dekat Istambul, perkampungan tepi sungai Nil, dan sejumlah desa di Nigeria.

Beberapa ulama Islam beranggapan bahwa kayu kaukah adalah salah satu mukjizat para nabi yang masih tersisa saat ini.

MANIK-MANIK BORNEO TAK SEKADAR HIASAN

Oleh Hasan Zainuddin


Manik-manik yang terbuat dari batu-batuan, tulang, bijian-bijian, dan plastik dengan aneka bentuk, berukuran kecil yang tengahnya dilubangi untuk dirangkai dengan benang sehingga menjadi hiasan memperindah sebuah benda atau bahkan sebagai alat mempercantik diri.

Apalagi bagi masyarakat suku Dayak Kalimantan (Borneo), manik-manik sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari untuk menghias mulai dari baju khas daerah setempat dan aksesoris pelengkapnya, seperti gelang, kalung, hiasan di kepala dan sebagainya .

Namun keberadaan benda yang dalam bahasa Inggris disebut “bead” ternyata bagi masyarakat di pulau terbesar Indonesia Kalimantan bukan sekadar hiasan, tetapi banyak digunakan untuk kepentingan lain seperti diolah jimat atau sebagai alat penolak bala.

Manik-manik dinilai benda sakral hingga juga dijadikan sarana upacara adat, sarana pengobatan, bekal kematian, sebagai alat tukar atau mas kawin bahkan manik-manik bisa melambangkan status sosial bagi pemiliknya.

Melihat begitu bernilai sebuah manik-manik bagi masyarakat Kalimantan maka oleh beberapa museum di pulau tersebut dipamerkan puluhan “masterpiece” manik-manik .

Busri seorang pegawai Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru, Kalimantan selatan saat menjaga pameran manik-manik se-Borneo di museum tersebut mengakui manik-manik banyak menjadi perhatian.

Karena itu saat pameran manik-manik se Borneo tanggal 8-16 September 2012 maka banyak pertanyaan mengenai keberadaan manik-manik, khususnya para pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum sebab dalam pameran tersebut disediakan waktu untuk interaktif.

Pameran yang dibuka Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata Kalsel Mohandas H Hendrawan tersebut diikuti oleh museum Kalbar, museum Mulawarman Kaltim, museum Bala Kalteng, museum Sabah Kinibalu Malaysia, museum Tun Abdul Razak Serawak.

Selain itu diikuti museum Kuching Serawak, museum Arkaib Negara Brunei Darussalam, museum Kapuas raya Kabupaten Sintang Kalbar, Balai Pelestarian Nilai Sejarah dan Tradisi Pontianak, serta tuan rumah mueseum Lambung Mangkurat Banjarbaru Kalsel.

Pameran di museum Lambung Mangkurat Banjarbaru tersebut merupakan pameran yang ketiga, yang pertama di museum Pontianak Kalbar tahun 2010.

“Dengan adanya pameran manik-manik ini telah menjadi salah satu ajang perekat persaudaraan antarbangsa,”kata Mohandas.

Sementara menurut Pejabat Fungsional Pamong Budaya Ahli Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru Rusniadi mengatakan diselenggarakan pameran ini sebagai salah satu upaya untuk menyamakan visi antara museum Borneo juga untuk mengangkat citra budaya Kalimantan ke ajang Internasional.

Selain itu, sebagai upaya mengenalkan budaya Borneo kepada generasi muda, sehingga kelestariannya tidak tergerus oleh budaya barat yang kini mulai menggempur Indonesia.

Perhiasan manik-manik, diangkat menjadi salah satu tema karena kerajinan tangan tersebut menjadi salah satu simbol perekat bagi budaya Kalimantan, karena hampir seluruh simbol daerah Kalimantan selalu memanfaatkan manik-manik sebagai perhiasan.

Manik-manik tersebut biasanya dimanfaatkan sebagai pemanis baju adat, sebagai perhiasan wanita suku dayak, sebagai hiasan dinding, hiasan gerabah bahkan perkembangannya kini manik-manik juga dimanfaatkan untuk tas, dompet, dan sarung telepon genggam maupun tempat pensil atau pulpen.

Keindahan manik ini tergantung pada bahan yang dipakai, bentuk, zat warna, serta teknik pembuatannya.

Berdasarkan catatan, manik-manik memang dibuat dari aneka bahan yang banyak dikenal seperti dari batu-batuan, kaca, keramik,logam,kerang, tulang, gading,kayu, getah kayu, biji-bijian, merjan, dan bahan lainnya.

Manik-manik termasuk benda sejarah paling tua, karena berdasarkan manik yang ditemukan ada yang terbuat dari bahan campuran seperti yang ditemukan di Tell Arpachiyah Mesopotamia (4000 SM) terbuat dari bahan batu kapur dan manik terbuat dari batu peninggalan dinasti Firaun.

Menurutnya sejarahnya manik-manik paling tua ditemukan di Perancis, di situs arkeologi La Quina sekitar 38.000 SM.

Sedangkan pusat awal pembuatan manik-manik berada di Mesopotamia dan Mesir sekitar 65.000 SM. Sedangkan di Indonesia manik-manik konon sudah ada sejak prasejarah, yakni masa berburu setelah ditemukannya manik-manik tua dalam goa di Sampung Jawa Timur.
Manfaat manik-manik
Berdasarkan catatan, untuk memahami maksud dan arti warna batu pada manik-manik Dayak sebenarnya tergantung warna manik itu sendiri, manik-manik yang dihadirkan dalam setiap upacara tradisional Suku Dayak umumnya berwarna merah, hijau, kuning, biru dan putih.

Setiap warna memiliki arti dan keistimewaan berbeda-beda, sebab itulah dalam masyarakat Dayak, jika warna manik batu merah maka ini merupakan simbol makna semangat hidup, jika manik batu warna biru memiliki makna sumber kekuatan dari segala penjuru yang tidak mudah luntur.

Jika warna kuning maka makna simbolisasi manik batu ini menggambarkan keagungan dan keramat, kemudian jika warna sebuah manik batu adalah hijau ini memiliki makna kelengkapan dan intisari alam semesta, sedangkan jika warna manik batu adalah putih maka ia simbolisasi sebuah makna gambaran lambang kesucian iman seseorang kepada sang pencipta.

Selain makna warna manik batu Suku Dayak tersebut yang berbeda, untuk manik-manik jenis batu, bahan asal yang digunakan biasanya adalah kornelin, batuan hablur, onix, akik bergaris, kalsedon maupun kecubung.

Dalam pandangan masyarakat Suku Dayak, manik batu yang terbuat dari bahan batu kecubung maupun akik dipercaya memiliki keistimewaan magis didalamnya.

Pada bagian butiran manik akik yang mempunyai gambar palang tapak jalak misalnya, dipercaya akan menjamin pemakainya selamat sampai ke tujuan setiap melakukan perjalanan jauh sehingga sangat cocok dijadikan cinderamata.

Sedangkan pada manik batu akik dengan gambar garis merah dan putih (sardoniks) dipercaya dapat membuat si pemakai manik batu tersebut kebal terhadap peluru.

Secara umum, pemakaian manik-manik batu berbahan batu akik juga dapat menyembuhkan orang sakit serta membawa keberhasilan panen bagi para petani.

Demikian halnya dengan penggunaan manik batu berbahan batu kecubung, benda ini juga dipercaya dapat membantu penyembuhan penyakit, penawar racun akibat serangan hewan berbisa serta luka bakar bagi pemakainya.

Manik-manik digunakan sebagai penolak bala, pemiliknya bisa terhindar dari gangguan roh jahat atau makluk halus, digunakan untuk upacara adat karena manik-manik dinilai punya kekuatan, digunakan untuk pengobatan manik-manik dinilai mampu mengusir kekuatan jahat.

Kelangkaan manik-manik memiliki nilai tinggi, sehingga akan meninggikan derajat atau status pemiliknya, lantaran manik-manik memiliki kekuatan karena itu juga dijadikan sebagai bekal kematian.

 

PERNIKAHAN DINI, ANCAMAN BESAR KEHIDUPAN SOSIAL KALSEL

Oleh Hasan Zainuddin

Banjarmasin, 17/9 ()- Seorang perempuan muda berambut bercat pirang, dengan pakaian minor sambil mengisap sebatang rokok duduk di warung Jalan A Yani dekat Hotel Banjarmasin Internasional (HBI).
Ketika didekati ia bertanya “bapak naikkah?” Penulis bingung harus menjawab apa, karena tak mengerti apa yang dimaksud naik.
Ketika ditanya apa maksudnya, lalu gadis berkulit putih berusia sekitar 19 tahun itu menjelaskan maksud naik itu alah masuk ke dalam diskotik yang ada di HBI tersebut.
Secara panjang lebar ia bercerita, Lisa (nama samaran) hampir tiap malam masuk diskotik, sebagai wanita penghibur tamu di dunia gemerlap (dugem), ya sekedar menambah penghasilan setelah menjanda hampir dua tahun lalu.
Dengan seorang anak hasil perkawinan dengan pasangan sama-sama muda usia, kehidupan yang menjanda sekarang ini bisa dikatakan morat-marit, tak ada orang yang bisa memberikan nafkah dalam kehidupannya termasuk mantan suaminya yang sekarang tak tahu lagi ujung rimbanya.
Ujung-ujungnya setelah kebingungan Lisa pun terjerumus ke dalam dunia malam. “Yah lumayan tiap malam, ada saja uang tip yang diberikan tamu di diskotik,” tutur Lisa tanpa malu-malu.
Menurut Lisa, di dalam dunia gemerlap, ia tak sendiri bahkan puluhan atau ratusan dan mungkin juga ribuan orang yang nasibnya serupa, yakni terjun ke dunia malam setelah menjadi korban dari perceraian yang sebelumnya nikah dini.
Berdasarkan ceritanya, dia bersama teman-temannya umumnya adalah janda muda yang mencari sesuap nasi dengan berjingkrak ria di diskotik, peramusaji di ruang karaoke, pelayan di meja biliar, pub, cafe, bahkan ada dari mereka yang bertindak lebih jauh lagi sebagai wanita panggilan.
Keberadaan wanita muda yang sudah menjadi binal tersebut,agaknya dimanfaatkan pengusaha hiburan malam, dengan memberikan fasilitas masuk gratis bagi mereka pada malam tertentu, maksudnya agar tempat hiburan tersebut dipenuhi wanita malam, hingga memancing lebih banyak pengujung pria.
Akhirnya sudah bisa dipastikan tempat-tempat hiburan malam seperti yang ada di Banjarmasin seakan-akan tak mampu lagi menampung pengunjung yang selalu memludak seperti yang terlihat di Diskotik HBI,Grand Plaza, dan Diskotik Aria Barito.
“Aku heran, wilayah  kita ini adalah daerah yang agamis, tetapi kok begitu maraknya tempat-tempat seperti itu,” kata seorang warga kota Banjarmasin.
Berarti penanganan sosial di daerah ini ada yang salah yang harus dicarikan solusi terbaik, tambah warga kota.

Pernikahan Dini
Banyak batasan mengenai arti pernikahan dini, tetapi secara umum disebutkan pernikahan dini adalah pernikahan manusia masih remajaatau masa peralihan antara masa anak-anak ke dewasa.
Saat pernikahan mereka bisa dikatakana bukan lagi anak, baik bentuk badan, sikap dan cara berpikir serta bertindak, namun bukan pula orang dewasa yang telah matang berfikir.
Angka pernikahan dini atau pernikahan pada usia dibawah yang dianjurkan ternyata masih tinggi di Kalimantan Selatan (Kalsel). Bahkan angka tersebut tertinggi di Indonesia.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalsel Rosihan Adhani kepada wartawan pernah mengungkapkan, angka pernikahan dini di Kalsel mencapai 9 persen.
Angka tersebut merupakan angka pasangan yang menikah pada usia di bawah 15 tahun.
Menurut data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) Kalsel diatas angka rata-rata nasional, ucapnya.
Angka pernikahan dini nasional sendiri hanya 4,8 persen. Jumlah tersebut jauh dibandingkan dengan Kalsel.
Menurut Rosihan, tingginya angka pernikahan dini di Kalsel disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya faktor ekonomi dan budaya, atau lantaran tidak mampu melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, banyak diantara pelajar yang memilih menikah.
Fakta tersebut, lanjut Rosihan, cukup mengkhawatirkan, pasalnya usia menikah yang terlalu muda membuat risiko kesehatan terutama untuk ibu dan bayi.
“Ini penyumbang angka kematian bayi dan ibu, menikah kan perlu kesiapan fisik dan kalau usia terlalu dini tidak baik,” katanya.
Menurut Rosehan Adhani selain berisiko terhadap kesehatan, menikah terlalu dini juga membuat pasangan kerap mengalami kesulitan ekonomi. Akhirnya, banyak anak pasangan yang menikah dini tidak mendapat asupan gizi yang memadai, bahkan pola asuh anak juga kerap tidak diperhatikan.
“Makanya dianjurkan menikah usia 20 tahun untuk perempuan dan usia 25 untuk laki-laki, harapannya sudah siap fisik dan mental termasuk soal ekonomi,” tandasnya.
Sekadar diketahui, berdasarkan data Riskesdas tahun 2010 yang dirilis Kementerian Kesehatan RI, Kalimantan Selatan ternyata membukukan “prestasi” yang cukup mencengangkan. Provinsi dengan penduduk lebih dari 3,6 juta jiwa ini ternyata menempati urutan pertama angka pernikahan dini di Indonesia.
Angka pernikahan dini Kalsel menempati urutan pertama di Indonesia dan mengalahkan Jawa Barat yang pada tahun sebelumnya menempati urutan pertama. Angka umur perkawinan secara nasional masing-masing berbeda-beda.
Untuk umur 10-14 tahun tercatat sebanyak 4,8 persen pasangan menikah di usia ini. Yang cukup mencengangkan adalah perkawinan usia 15-19 tahun yang merupakan angka tertinggi yakni 41,9 persen.
Untuk usia 20-24 tahun, tercatat angka perkawinan sebanyak 33,6 persen.

Angka Perceraian
Dengan banyaknya kasus pernikahan dini di wilayah paling Selatan pulau terbesar tanah ini menyebabkan juga seringnya terjadi perceraian.
Tingkat perceraian di Kalimantan Selatan dalam setiap tahunnya cukup tinggi, kata Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Kalsel Abdul Halim Ahmad di Banjarmasin.
Menurut dia, selama 2010 jumlah perceraian di Kalsel tidak kurang dari empat ribu kasus, yang terjadi pada pihak swasta maupun pegawai negeri sipil (PNS) bahkan guru.
“Jumlah perceraian tersebut masih cukup tinggi, dengan berbagai sebab dan alasan,” katanya.
Salah satu penyebab terjadinya perceraian, tambah dia, antara lain karena masalah ekonomi baik karena ekonomi kurang maupun ekonomi yang membaik.
Selain itu, kata dia, juga karena perkawinan di bawah umur sehingga menyebabkan seseorang belum terlalu siap menghadapi persoalan rumah tangga yang terjadi.
Untuk menekan angka perceraian tersebut, kata dia, pihaknya akan melakukan sosialisasi masalah perkawinan melalui badan penasehatan perkawinan.
“Pasangan yang akan menikah akan kita berikan penyuluhan dan bimbingan, begitu juga yang ingin melakukan cerai akan dilakukan mediasi, sehingga persoalan yang dihadapi tidak harus berakhir pada perpisahan,” katanya.
Sementara data BKKBN Kalsel selama 2009 menunjukkan bahwa jumlah janda atau duda yang belum menikah kembali sebanyak 156.835 orang atau 15,82 persen dari 991.641 keluarga.
Dari jumlah tersebut, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) merupakan kabupaten paling banyak jumlah janda atau dudanya yaitu 21,58 persen.
Disusul Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) sebanyak 21,31 persen dan Hulu Sungai Utara (HSU) sebanyak 19,42 persen.
Banyaknya jumlah janda atau duda di Kalsel tersebut, kemungkinan dipicu karena tingginya pernikahan di bawah umur.
Namun tidak menutup kemungkinan tingkat perceraian akibat menikah di bawah umur lebih rentan terjadi, karena pasangan belum matang dalam menghadapi persoalan rumah tangga.
Berdasarkan hasil survei demografi kesehatan Indonesia (SDKI) tingkat pernikahan di bawah umur Kalsel cukup tinggi.
Berdasarkan hasil SDKI 2009, pasangan yang menikah di bawah umur 20 tahun sebanyak 32.483 orang dari total pasangan usia subur sebanyak 732.206.


SEKS BEBAS REMAJA SEBUAH KERISAUAN

Oleh Hasan Zainuddin


Banjarmasin,17/9 ()- Hampir sebagian besar dari 64 juta penduduk remaja Indonesia belakangan ini memiliki alat komunikasi handpone (HP) dan sebagian besar pula dari HP tersebut mampu mengakses internet.
“Sudah bisa dibayangkan kalau seorang remaja memiliki alat komunikasi yang mampu mengakses internet, siapa yang disalahkan bila remaja itu mengakses situs porno,” kata pejabat Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), pusat.
Deputi Bidang Advodkasi,Penggerakan dan Informasi (Adpin) BKKBN Hardiyanto saat berada di Banjarmasin, mengakui keberadaan remaja belakangan ini kian merisaukan saja.
Bukan HP saja remaja dengan mudah mengakses berbagai informasi dunia tetapi juga laptop, komputer, serta peralatan elektronik lainnya yang mudah akses jaringan internet, disamping media-media lain yang beredar bebas.
“Dimanapun remaja berada termasuk dalam kamar sendirian, siapa yang bisa menangkal agar remaja tidak menyaksikan tayangan film dan gambar porno,”katanya saat berada di Banjarmasin menghadiri acara Hari Keluarga Nasional (Harganas) tingkat Kalsel.
Kerisauan pejabat BKKBN tersebut, besar kemungkinan sudah merata di Indonesia, tak terkecuali di Banjarmsin ibukota Provinsi Kalimantan Selatan sendiri.
Seperti penuturan Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin, Hj Diah R Praswasti, angka seks bebas kalangan remaja menunjukkan peningkatan yang mencengahkan.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan setempat hingga akhir 2011 ada peningkatan persalinan remaja. Dari sebanyak 50 orang pada 2010, melonjak menjadi 235 orang pada 2011.
Data lainnya terjadi pada kasus KTD (Kehamilan yang tidak diinginkan), dari 35 orang 2010, melonjak menjadi 220 orang pada 2011.
Data tersebut berdasarkan acuan dari 26 Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) setempat bekerjasama dengan Unit Kesehatan Sekolah (UKS).
] Semua itu untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) di seluruh Kota Banjarmasin, dengan rentang usia dari sembilan tahun hingga 19 tahun.
Hj Diah menerangkan setiap Puskesmas membina UKS yang ada di setiap sekolah. Kemudian hasilnya didapat dari laporan setiap UKS kepada Puskesmas dan dievaluasi Dinkes Kota Banjarmasin.
Dari perkembangan seks bebas tersebut terimplikasi terhadap perkembangan penyakit yang menakutkan yakni Aids/Hiv.


“Berdasarkan data kumpulan dari 26 Puskesmas yang tersebar se Kota Banjarmasin dan telah dievaluasi Dinkes,” ujarnya.
“Serangan Aids di kota ini juga meningkat dan itu sungguh merisaukan hingga memerlukan kewaspadaan kita semua untuk menanggulanginya,” katanya.
Yang cukup merisaukan pula penyakit yang menakutkan tersebut sudah menjalar ke kalangan usia remaja yaitu pelajar, tambahnya lagi tanpa merinci pelajar mana yang terkena penyakit tersebut.
Berdasarkan data yang dihimpun dari petugas di lapangan warga Banjarmasin yang terkena Aids 33 orang dan terinveksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) tercatat 52 orang.
Mereka yang terbanyak terjangkit penyakit yang pernah menghebohkan dunia tersebut,adalah kelompok yang memang beresiko tinggi yaitu Pekerja Seks Komersial (PSK).
Selain itu mereka yang berprilaku seks menyimpang seperti homoseks, lesbian, serta prilaku bebas lainnya disamping jarum suntik, obat-obatan terlarang, dan akibat lainnya.
Pihak Dinkes Banjarmasin sendiri selalu melakukan penyuluhan agar penyakit tersebut tidak meluas, terutama penyuluhan di kalangan pelajar,mahasiswa, dan masyarakat umum. Adis.
Melihat kenyataan tersebut membuat Wali Kota Banjarmasin Haji Muhidin juga menjadi risau dan meminta semua pihak melakukan pengawasan terhadap perilaku remaja tersebut.
“Saya menghimbau kepada orang tua, guru, ataupun masyarakat untuk mengawasi anak-anak kita, sebab jumlah remaja yang mengalami kasus ini semakin meningkat,” katanya lagi.
Menurutnya, pengawasan tidak hanya pada lingkungan rumah, namun juga di lingkungan sekolah, seperti para guru atau pun masyarakat umum yang kebetulan melihat hal-hal ganjil dilakukan oleh remaja hendaknya diawasi hingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
“Misalnya, jika melihat dua remaja yang sengaja duduk di tempat remang-remang dan gelap segera ditegur, jangan sampai mereka terperosok ke hal-hal yang dilarang agama,”kata Muhidin.
Dia pun berencana agar Dinas Pendidikan juga menyiapkan program khusus untuk ini yakni melakukan ceramah agama untuk siswa SMP dan SMA. Program ini dimaksudkan untuk meberikan gambaran bahaya serta dampak dari pergaulan bebas.
“Nantinya kita juga anggarkan untuk program ini, sebab kita akan menggunakan tokoh agama atau alim ulama yang nanti keliling ke sekolah-sekolah tiap minggu untuk memberikan nasihat agama kepada murid-murid,”kata Muhidin.
Untuk tempat-tempat yang mungkin rentan terjadinya seks bebas oleh remaja, perlu diawasi pula, seperti warnet, maka Pemkot pun akan melakukan razia terhadap lokasi tersebut.
Misalnya ada warnet buka 24 jam dan banyak remaja yang nongkrong di situ, Pemkot melalui Satpol PP akan melakukan razia, karena seperti alporan yang diterima para remaja mudah melakukan hal-hal yang tak lazim di tempat itu.
Tiga Persoalan Besar
Menurut Deputi Adpin BKKBN, Drs Hardiyanto terdapat tiga persoalan besar yang menghadang remaja Indonesia.
Tiga persoalan besar tersebut selain masalah seks bebas pranikah, penyalahgunaan narkotika, dan berjangkitnya penyakit hiv/aids.
Padahal penduduk remaja sekarang ini begitu banyak dari 237 juta jiwa penduduk Indonesia 30 persen atau 64 juta jiwa diantaranya adalah usia remaja atau usia 10 hingga 24 tahun.
Kelompok remaja tersebut sedang galau menghadapi tiga persoalan besar tersebut, lantaran berbagai informasi belakangan yang sekarang sulit dibendung yang mempengaruhi tingkat perilaku remaja itu sendiri.
Oleh karena itu BKKBN sekarang ini mencoba mencari solusi menghadapi tiga persoalan tersebut, dengan mengembangkan apa yang disebut Remaja Berencana (Rebre),yakni pendidikan refproduksi agar mereka mengerti dan tahu apa yang baik dan tidak baik.
Dengan mengetahui persoalan remaja diharapkan mereka mengerti bahwa kawin muda itu tidak baik, dan berusaha sekolah setinggi mungkin sebelum memasuki jenjang pernikahan.
Masalahnya kawin dini menjadi persoalan dalam kemudian karena kesehatan refproduksi wanita masih belum baik, sementara laki-lakinya belum bisa bertanggungjawab.
Kalau ibu muda yang masih rawan melahirkan itu bisa menimbulkan kematian ibu lahir atau kematian bayi lahir.
“Apa mau setelah kawin dan punya anak, ditinggalkan begitu saja oleh pasangan laki-lakinya, sementara perempuan remaja yang sudah punya anak dan tidak ada kerjaan mau kemana membawa kehidupan itu, akhirnya semua jadi berentakan dan menjadi beban keluarga dan masyarakat,” tuturnya.
Pusat Informasi Pelayanan (PIP) remaja juga dibentuk BKKBN agar para meraja saling curhat mengenai refproduksi, sehingga melalui PIP mereka bisa mengetahui bahayanya pergaulan bebas, narkotika, dan hiv/aids.
Di lokasi PIP remaja tersebut BKKBN menyediakan seorang tenaga konsuling yang memberikan bimbingan terhadap remaja dalam menghadapi tiga persoalan tersebut.
Dari PIP remaja maka akan melahirkan remaja berencana yang mengerti menghadapi kehidupan kedepan, dan PIP remaja bisa dikembangkan di sekolah, madrasah, pesantren, di dalam masyarakat umum, dan kelompok dimana banyak terdapat remaja.
Seluruh indonesia tidak kurang dari 20 ribu PIP remaja yang sudah dibentuk, dan bisa dijadikan alat pengembangan pemikiran remaja menghadapi tiga persoalan besar yang dihadapi remaja tersebut, katanya.

PENYAKIT GIGI DAN MULUT ANCAMAM WARGA KALSEL

Oleh Hasan Zainuddin


Banjarmasin, 14/9 (ANTARA) – Permasalahan penyakit gigi dan mulut di Provinsi Kalimatan Selatan (Kalsel) cukup tinggi di Indonesia, yaitu 18,7 persen, indeks gigi berlubang di wilayah ini 6,83 persen.

“Ini menandakan bahwa rata-rata orang Kalsel setiap orangnya memiliki 7 gigi yang bermasalah,” kata Ketua Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Drg Zaura Anggraini, MDS.
Kondisi tersebut bisa terjadi karena rendahnya pola kebiasaan menyikat gigi dengan cara dan di waktu yang tepat, katanya.

“Dari 29,2 persen penduduk Kalsel hanya 21,2 persen yang mendapat perawatan gigi.

Padahal, gigi berlubang yang tidak ditangani dengan benar bisa menyebabkan kelainan pada organ tubuh lain seperti jantung.

Gigi dan gusi bisa menjadi gerbang masuknya bakteri dan kuman yang bisa memperparah penyakit sistemik, seperti stroke dan jantung.

Karena itulah perawatan gigi secara benar dan teratur perlu dilakukan untuk mencegah masuknya berbagai kuman.

Perihal ancaman penyakit gigi tersebut diakui Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin, Drg Diah R Praswasti di sela-sela demonstrasi sikat gigi massal peringati Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) 2012 di SDN Kebun Bunga 5 Banjarmasin, Rabu (12/9).

Menurut data 2010 menunjukkan, jumlah siswa di Kota Banjarmasin yang menderita karies gigi sudah sebesar 46,1 persen, pada 2011 menjadi 50,7 persen.

“Coba bayangkan, setengah dari seluruh pelajar yang ada di Kota Banjarmasin ibukota Provinsi Kalsel memiliki karies gigi,” ujarnya.

Berdasarkan data itu dari semua penduduk, hanya tujuh persen saja yang mengetahui bagaimana cara menyikat gigi yang baik dan benar, dengan frekuensi yang tepat, yakni minimal selama dua menit.

Oleh sebab itu, lanjut Diah, Banjarmasin ikut serta dalam BKGN dengan mengadakan acara sikat gigi massal diharapkan dapat mendidik siswa dan masyarakat bagaimana menyikat gigi yang benar.

Menurut Diah, dengan kian meningkatnya penyakit gigi dan mulut maka diperlukan kegiatan untuk menekan peningkatan kasus penyakit tersebut.

Pada acara demonstrasi massal sikat gigi dibantu Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) dan Persatuan Perawat Gigi Indonesia (PPGI) Cabang Banjarmasin, selain memberikan penyuluhan, juga mengadakan praktek pemeriksaan gigi siswa gratis.

Wakil Wali Kota Banjarmasin, Iwan Anshari pun ikut bersama puluhan anak SD mendemontrasikan cara menyikat gigi dengan benar pada acara tersebut.

Sebelumnya Kepala Dinas Kesehatan Kalsel, drg Rosehan Adhani mengakui pula mayoritas warga Kalsel mengalami penyakit gigi dan mulut. Sebanyak 83,4 persen orang Kalsel alami karies atau gigi berlubang dan hanya 10,3 persen warga yang berprilaku benar menggosok gigi.

Menurut data Dinkes Kalsel, proporsi penduduk bermasalah gigi dan mulut mencapai 29,9 persen dengan rata-rata kerusakan gigi sebanyak tujuh buah perorang. Angka ini jauh di atas rata-rata nasional yang hanya 4,85 gigi per orang.

Serta jumlah warga Kalsel sekitar tiga juta jiwa lebih yang mendapatkan perawatan gigi dari tenaga medis cuma 21,1 persen
Di sisi lain, jumlah dokter gigi di Kalsel hanya lima orang untuk 100.000 penduduk, dan belum adanya pendidikan kedokteran gigi.

Banyaknya warga yang menderita penyakit gigi dan mulut tersebut memang banyak menimbulkan pertanyaan di kalangan masyarakat,apakah karena memang kesadaran merawat gigi rendah atau ada persoalan lain.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin Diah R Praswasti sendiri mengakui memang ada masalah lain dalam kesehatan gigi, lantaran kandungan kalsium dalam air di Kalsel nol persen, sehingga kalsium hanya bisa diperoleh dari makanan yang lain.

Kalsium diperlukan dalam tubuh khususnya untuk kekuatan tulang dan gigi, katanya.

Banyaknya kerusakan gigi dan mulut tersebut ada juga pihak yang menduga akibat pola makan warga Kalsel yang salah seperti kebiasaan mengkonsumsi makanan dengan kadar gula tinggi.

Atau suka mengkonsumsi makanan fermentasi, seperti terasi, ikan dengan kadar garam yang disebut “wadi” atau “pakasam.” dan makanan fermentasi lainnya.

Belum lagi kebiasaan warga yang suka minum air teh selagi panas, atau suka minuman dengan sangat dingin.

Melihat kenyataan tersebut, akhirnya Pemprop Kalsel mengambil keputusan untuk mendirikan sebuah rumah sakit khusus perawatan gigi dan mulut, termasuk mendirikan program studi kedokteran gigi Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin.

Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) di Jalan Veteran Banjarmasin, yang kini hampir 50 persen bangunan fisiknya sudah rampung.

Lokasi pembangunan RSGM terbilang strategis karena dekat dengan RSUD Ulin Banjarmasin, yangmerupakan rumah sakit pendidikan bagi Program Studi Kedokteran Umum.

Dana yang diinvestasikan untuk pembangunan RSGM yang dirancang enam lantai tersebut seluruhnya dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kalsel yang senilai lebih dari Rp500 miliar tersebut.

Dengan adanya rumah sakit yang representatif ditambah program studi kedokteran gigi di Kalsel itu diharapkan persoalan penyakit gigi dan mulut tidak lagi menjadi sebuah ancaman kesehatan warga setempat.

“STIKER” CEGAH JAJANAN SEKOLAH DARI BAHAN BERBAHAYA

Oleh Hasan Zainuddin

foto :www.zonatya.blog
Anak-anak yang terus menerus mengkonsumsi jajanan berbahaya yang dijual di sekolah akan menghadapi ancaman ingkat kecerdasan terus menurun, dan berakibat pada kualitas sumber daya manusia bangsa ke depan.

“Jajanan yang banyak dijual di sekolah-sekolah terus dikonsumsi anak-anak, dan ternyata jajanan tersebut mengandung bahan berbahaya, maka lama kelamaan kesehatan anak terganggu, dan akan mempengaruhi sistem kecerdasan anak,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin, Diah R Praswasti.

Soal jajanan, keliatannya sepele, tetapi mengandung dampak yang sangat besar, baik individu warga, masyarakat, bahkan bangsa dan negara, karena itu persoalan ini harus dituntaskan, kata Diah R Praswasti.

Melihat kenyataan itulah, Dinkes Banjarmasin mengambil sebuah program mengatasi jajanan sekolah yang disebut program “stiker jajanan”.

Program tersebut adalah dengan mendata para pedagang kecil jajanan yang biasa mangkal di sekolah-sekolah, kemudian pedagang tersebut diberikan penyuluhan dan dibina melalui pelatihan kemudian setelah mengerti lalu mereka menjual jajanan dengan bebas bahan berbahaya.

“Bagi pedagang yang dinyatakan menjual jajanan yang sudah bebas bahan berbahaya itulah yang kemudian diberikan stiker, sehingga baik petugas kesehatan, balai Pengawasan Obat dan Makanan (POM), serta anak sekolah itu sendiri bisa membedakan mana pedagang aman, dan mana pedagang yang mengkhawatirkan,” katanya seraya menunjukan bentuk stiker tersebut.

Berdasarkan pendataan Dinkes setempat, terdapat 895 pedagang jajanan anak sekolah yang mangkal di halaman 310 gedung Sekolah dasar (SD) di Banjarmasin.

Dari jumlah pedagang tersebut sebanyak 682 pedagang sudah menempelkan stiker yang membuktikan mereka tidak menjual makanan berbahaya, Sementara jumlah stiker yang dibagikan sudah 1156 lembar.

Menurut Diah, hal itu dilakukan karena beberapa kali dilakukan penelitian pihak Dinkes, Balai POM ternyata banyak jajanan yang mengandung bahan berbahaya seperti pengawet, pemanis, pewarna, dan bahan berbahaya lainnya.

Bahan berbahaya tersebut seperti rodhamin B, boraks, formalin, dan pemanis buatan, tambahnya lagi.

“Kita tak ingin masyarakat terserang penyakit lantaran mengkonsumsi makanan yang kurang sehat itu, sebab tambahnya dengan menghindari jajanan sembarangan melindungi dari serangan Penyakit Bawaan Makanan (PBM), seperti keracunan atau infeksi,” tutur Diah.

Sebelumnya pihak Balai POM Banjarmasin mengakui bukan hanya jajanan sekolah yang mengandung bahan berbahaya tetapi juga makanan dan minuman yang dijual secara umum di masyarakat.

Balai POM mencontohkan aneka penganan berupa kue beraneka warna mencolok menarik perhatian pembeli, padahal dibalik keindahan kue-kue bewarna tersebut terkandung bahan berbahaya seperti pewarna tekstil yang mengancam kesehatan masyarakat.

Kepala Balai Pengawasan Obat dan Makanan (Bali POM) Banjarmasin, Dewi Prawitasari dalam dialog dengan Wali Kota Banjarmasin, Muhidin belum lama ini mengakui adanya produk makanan mengandung bahan berbahaya tersebut.

Bukan hanya pewarna berbahaya yang ditemukan pada kue dan makanan yang dijual belikan tetapi juga pemanis buatan, pengawet, yaitu rodhamin B, boraks, formalin, dan methanyl yellow.

Pemanis buatan ditemukan penggunaan berlebihan pada kue bingka barandam, pengawet terdapat pada bakso dan makanan ringan anak-anak.

Berdasarkan hasil pendataan Balai POM setempat sedikitnya 491 tempat pembuatan produk makanan di Kota Banjarmasin yang harus diwaspadai, dan mereka perlu pembinaan.

Masalahnya muncul produk dengan bahan berbahaya tersebut boleh jadi ketidaktahuan saja, makanya diperlukan penyuluhan.

Padahal banyak saja bahan yang manfaatnya sama untuk produk makanan dan minuman tersebut tetapi tidak merusak kesehatan bagi yang mengkonsumsinya.

“Kami Balai POM mengajak Pemkot Banjarmasin untuk bersama-sama mengawasi dan mensosialisasi mengenai bahan berbahaya tersebut dengan berbagai kegiatan, seperti penyuluhan, pelatihan, atau bentuk lomba dan kontes makanan minuman tanpa bahan berbahaya,” tuturnya.

 

foto :Intisari
Dampak Kesehatan
Berdasarkan catatan, kontaminasi zat berbahaya pada produk pangan menandakan lemahnya pengawasan dan kontaminasi tersebut jelas berbahaya bagi kesehatan.

Umpamanya makanan mengandung formalin jelas merusak, formalin biasanya digunakan sebagai bahan antiseptik, germisida dan pengawet.

Fungsinya formalin sering diselewengkan untuk bahan pengawet makanan dengan alasan karena biaya lebih murah seperti mengawetkan ikan, dengan sebotol kecil dapat mengawetkan ikan secara praktis tanpa harus memakai batu es.

Biasanya makanan yang tidak diberi bahan pengawet seringkali tidak akan tahan lebih dalam 12 jam.

Formalin masuk ke dalam tubuh manusia melalui dua jalan yakni pernapasan dan mulut.

Sebetulnya setiap hari menghirup formalin dari lingkungan sekitar yang dihasilkan oleh asap knalpot dan pabrik yang mengandung formalin, formalin juga dapat menyebabkan kanker (zat yang bersifat karsinogenik).

Kemudian boraks merupakan senyawa yang bisa memperbaiki tekstur makanan sehingga menghasilkan rupa yang bagus pada makanan seperti bakso dan kerupuk.

Bakso yang menggunakan boraks memiliki kekenyalan yang kas yang berbeda dari bakso yang menggunakan banyak daging, sehingga terasa renyah dan disukai serta tahan lama.

Sedang kerupuk yang mengandung boraks kalau digoreng akan mengembang dan empuk, teksturnya bagus dan renyah.

Dalam industri boraks dipakai untuk mengawetkan kayu, anti septic kayu dan pengontrol kecoa. Bahaya boraks terhadap kesehatan diserap melalui usus, kulit yang rusak dan selaput lender.

Jika dikonsumsi dalam jangka waktu lama atau berulang-ulang akan memiliki efek toksik. Pengaruh kesehatan secara akut adalah muntah dan diare.

Dalam jangka waktu panjang dapat menyebabkan gangguan pencernaan, nafsu makan menurun, anemia, rambut rontok, dan kanker.

Pemanis Buatan hanya digunakan pada pangan rendah kalori dan pangan tanpa penambahan gula, namun kenyatannya banyak ditemukan pada produk permen, jelly dan minuman yang mengandung pemanis buatan.

Beberapa produk juga tidak mencantumkan batas maksimum penggunaan pemanis buatan Aspartam. Pemakaian Aspartam berlebihan memicu kanker dan leukimia pada tikus, bahkan pada dosis pemberian Aspartam hanya 20mg/Kg BB.

Zat pewarna alami sudah dikenal sejak dulu dalam industri makanan untuk meningkatkan daya tarik produk makanan sehingga konsumen tergugah untuk membelinya.

Namun celakanya ada juga penyalahgunaan dengan adanya pewarna buatan yang tidak diizinkan untuk digunakan sebagai zat adiktif. Contoh yang sering ditemui adalah penggunaan bahan pewarna rhodamin B, yaitu zat pewarna yang lazim digunakan dalam industri tekstil, namun digunakan dalam zat pewarna makanan.

Berbagai penelitian dan uji telah membuktikan bahwa penggunaan zat makanan ini dapat menyebabkan kerusakan pada organ hati.

Melihat dampak yang mengerikan terhadap bahan berbahaya pada makanan tersebut sudah selayaknya pemerintah dengan caranya sendiri mampu melindungi konsumen dari bahan tersebut.