UTUNG, ATLET CACAT BALANGAN TERUS BERENANG MENGEJAR KESEJAHTERAAN

Oleh Hasan Zainuddin


Banjarmasin,8/9 ()- Berjalan saja susah,apalagi untuk bekerja menyadap karet atau bersawah seperti temannya sekampungnya di Desa Panggung, Kabupaten Balangan Provinsi Kalimantan Selatan, sekitar 210 kilometer dari Banjarmasin.

Begitulah keaadaan Ahmat Rijali (23 tahun) seorang pemuda cacat, dengan kaki buntung sejak lahir 2 Desember 1989 tersebut hingga membuat hidupnya serba kekurangan, namun dalam benaknya tersimpan tekad bahwa cacat bukanlah awal “kiamat” bagi masa depan kehidupannya.

Tinggal di kampung kawasan lereng Pegunungan Meratus, Ahmat Rijali yang oleh warga kampung di panggil Utung tersebut mencoba bertahan hidup dalam kondisi miskin.

Utung sejak kecil memang sudah yatim, ibunya Siti Jubaidah meninggal dunia, sementara ayahnya Aspiani (60 tahun) seorang buruh sadap karet dengan kondisi miskin tak mampu membuat anak-anaknya sejahtera.

Dengan kondisi miskin Utung anak ketiga dari empat bersaudara hanya mampu bersekolah hingga lulus Sekolah Dasar (SD), hatinya ingin sekali sekolah ke lanjutan lebih tinggi tapi apa daya tak punya biaya.

“Jangankah sekolah untuk makan setiap hari saja susah,” kata Utung sambil memegang kakinya yang kedua-duanya cacat tersebut.

“Saya pernah diajak teman untuk minta-minta sedekah (mengemis) di masjid-masjid dan pasar agar memperoleh uang, tetapi ajakan ini berdasarkan hati nurani, saya tak mau, selain malu juga penilaian saya pekerjaan tersebut agak nista,” tambahnya.

Hari demi hari dilalui Utung dengan kehidupan seadanya, guna menopang kehidupannya, ia mencoba bekerja dengan memancing ikan, atau menangkap ikan dengan cara “menyumpit.”
Menyumpit yakni menangkap ikan dengan cara berenang di air deras atau menyelam untuk menangkap ikan dengan dibantu alat atau senjata yang disebut sumpit.

Ia pun terlihat berenang ke sana kemari di Sungai Pitap, anak Sungai Balangan yang berair deras dan berhulu ke Pegunungan Meratus.

Melihat kebiasanya berenang itulah yang kemudian diketahui oleh seorang pengurus organisasi atlet cacat Kabupaten Balangan, dokter Ferry.

Oleh dokter ferry Utung diajak untuk bergabung dengan atlet cacat se Kabupaten Balangan, lalu dilatih berenang di kolam renang Tanjung ibukota Kabupaten Tabalong, tetangga Kabupatan Balangan.

Melalui latihan itulah kemudian Utung diikutkan dalam kejuaraan daerah atlet Cacat se Kalsel di Kotabaru, dan berhasil berprestasi meraih medali.

Atas prestasi demikian oleh dokter Ferry, Utung diikutkan dengan kelompok atlet cacat yang tergabung dalam National Paralympic Committee (NPC), lalu latihan selama tujuh bulan di kolam renang Jebres dan Manahan Solo Jawa Tengah.

Selama di Solo Utung bersama puluhan atlet renang yang juga cacat fisik memperoleh bimbingan empat pelatih, Devi, Ratih, Handoko dan Gatot.

Setelah dinilai handal, Utung kemudian diikutkan dalam arena Para Games di Kota Solo tahun 2011.

Dalam Kejuaraan yang dibuka Wakil Presiden Boediono yang diikuti sebelas negara Asean itu, Utung berhasil meraih medali perunggu di nimor renang 50 meter gaya punggung kelas s8, katu tempuh 41.11 detik.

Sementara peraih emas diraih atlet Vietnam dengan waktu 39.10 dan peraih perak direbut atlet Thailand, Wongnongth Aphum Paibun waktu 40.91 detik.

“Waktu itu, saya pertama kali bergabung dengan begitu banyak atlet dari begitu banyak negara, ada rasa mender, dan gugup, sehingga saat bertanding gagal meraih emas, padahal saat latihan di Kota Solo tersebut, waktu yang saya tempuh selalu lebih baik,” katanya ketika ditemui saat latihan di kolam Renang Gelanggang Remaja Hasanudin HM Banjarmasin, Sabtu (8/9).

Utung yang kini bersama 10 atlet renang lainnya terus melakukan latihan intensif, lantaran ia oleh KONI Kalsel dipilih untuk mewakili daerah ini ke Pekan Paralimpic Nasional (Peparnas) XIV tahun 2012.

Peparnas XIV tahun 2012 diselenggarakan dua minggu setelah selesai pelaksanaan Pekan Olah Raga Nasional (PON) atau tepatnya pada tanggal 7 s/d 12 Oktober 2012 mendatang juga di Pekanbaru, Riau.

“Saya tak ingin gagal lagi, seperti Pra Games, saya ingin meraih medali emas,” tuturnya.

Sebab tambahnya, bila nanti berhasil berprestasi maka begitu banyak ajang kejuaraan yang terus menantinya, dan bila berhasil juara tentu memperoleh bonus dan hadiah akan menantinya , yang akan membuatnya hidup sejahtera.

“Saya sudah mikir, pekerjaan apa yang bisa saya kerjakan agar kehidupan nanti bisa sejahtera dengan kondisi fisik seperti ini, tak ada pilihan kecuali berenang dan berenang,”tambahnya dengan suara miris.

Oleh karena itu, menghadapi Papernas ia pun kosentrasi latihan, sebelum di Gelanggang Remaja Hasanudin Banjarmasin beberapa bulan sebelumnya juga terus latihan berenang di kolam Renang Banjarbaru melalui bimbingan KONI dan NPC Kalsel.

Dalam latihan yang dibimbing tiga pelatih, antaranya Imuk dan Maki tersebut Utung terjun gaya punggung 50 meter, gaya punggung 100 meter, gaya bebas 50 meter dan gaya kupu-kupou 50 meter.

“Saya pernah merasakan pemberian bonus saat saya peroleh medali Perunggu Rp5 juta dari KONI Kalsel, dan Rp5 juta lagi dari Pemkab Balangan hingga punya uang Rp10 juta, “katanya.

Satu hal yang belum kesampaian dalam cita-citanya adalah keinginannya memperbaiki rumah ayahnya yang juga tempat tinggalnya yang reot di desanya, terutama bagian “padu” (rumah bagian belakang) yang sekarang mau roboh.

“Tolong doa saja, agar di Peparnas XIV saya berhasil meraih medali emas lalu dapat bonus lagi, sehingga bisa memperbaiki rumah di kampung,” tuturnya tersenyum.

AHMAT RIJALI

ALAMAT :DESA  PANGGUNG KECAMATAN  PARINGIN  SELATAN

KABUPATEN  BALANGAN, PROVINSI  KALIMNANTAN  SELATAN

NO HP AHMAT RIJALI ATAU UTUNG : 081251758347

——————————————————

ATLET CACAT BALANGAN RAIH EMAS PEPARNAS

Utung, peraih medali emas pertama kontingen Kalsel di Peparnas Riau, ia memperoleh ucapan selamat dari Ketua Umum KONI Kalsel,Haji Sulaiman HB, seperti yang dilansir di beberapa penerbitan di Banjarmasin.
    Banjarmasin, () Hari pertama peparnas (pekan paralympic nasional) 14 di riau tgl 7- 13 oktober 2012…ahmad rijali perenang asal kabupaten balangan meraih medali emas di kelas S8 gaya punggung 100 meter,dengan waktu 1 menit 20 detik memecahkan rekor nasional atas namanya sendiri.
    Ahmad rijali dilatih oleh trio pelatih NPC (national paralympic commitee) Kalsel maki,imuh,ating dlm pelatda di banjarbaru kalsel, kata Dokter Ferry Kuntono, pembina atlet cacat Balangan visa telpon dari Pekanbaru Riau, Selasa malam.
    sementara di hari ke2 peparnas ,ahmad rijali meraih perunggu di kelas S8 gaya punggung 50 meter, medali emas guntur(kaltim),sementara perak direbut perenang tuan rumah riau chandra.yang juga rekannya selama di pelatnas paragames solo 2012..
    Hasil ini sangat membanggakan dan diharapkan memotivasi atlet paralympic kabupaten Balangan.
    “Kami mengucapkan terimakasih kepada pemerintah provinsi Kalsel, KONI kalsel serta NPC kalsel atas dukungan yg luar biasa kepada atllet NPC Kalsel dalam Peparnas ini,” kata Ferry Kuntono yang juga dokter NPC.
     Selama persiapan menuju Pelatda Peparnas di Kalsel kami mendapat dukungan dan support dari Bupati Balangan dan wakil serta Ketua KONI balangan, demikian menurut dr ferry (dokter klasifikasi NPC Kalsel) yg juga merupakan PNS kabupaten Balangan.
     Ahmad rijali masih berpeluang  menambah medali dikelas S8 pada 2 nomer gaya bebas 50 mtr dan bebas 100 mtr yg akan di ikutinya.
Pada hari ketiga, dikelas s8  gaya punggung 50 meter Ahmad Rijali kembali persembahkan emas bagi kontingan Kalsel di Peparnas Riau,perak diraih Ilham dari Jabar dan Perunggu Erliansyah dari Kalbar.
     Dengan demikian Ahmad Rijali sudah menyabet dua medali emas dan dua perunggu di arena yang dibuka oleh Wakil Presiden, Budiono tersebut

AHMAD RIJALI SUMBANG EMAS LEWAT PEPARNAS
Beberapa kali Ketua KONI Kalsel Haji Sulaiman HB memeluk erat Ahmad Rijali (23 th) atlet penyandang cacat pertama bagi kontingen Kalimantan Selatan meraih medali emas cabang renang di arena Pekan Paralympic Nasional (Peparnas) Pekan Baru Riau.

Sementara Ahmad Rijali sendiri dengan mata berkaca-kaca beberapa kali pula mencium tangan Hali Leman sebutan dari Haji Sulaiman HB, seperti yang terlihat dalam tayangan Duta TV Banjarmasin dan beberapa telvisi lokal Banjarmasin lainnya.

Pemberitaan lainnya juga terlihat di beberapa harian di ibukota Kalsel itu yang menyajikan Pemberitaan Ahmad Rijali bersama Haji Leman.

“Saya bangga, walau mereka cacat dan serba keterbatasan, tetapi semangat mereka luar biasa untuk mengharumkan nama daerah Kalsel, dan itu harus dihargai,” kata Haji Leman yang dikenal sebagai seorang pengusaha sukses di Kalsel dan juga Ketua Umum Golkar Kalsel tersebut.

Melihat perjuangan atlet cacat itulah, Haji Leman berjanji memberikan bonus yang bisa membahagiakan mereka.

Dokter Ferry Kuntono pembina atlet cacat yang dihubungi melalui telepon menuturkan, Ahmad Rijali perenang asal Kabupaten Balangan meraih medali emas di kelas S8 gaya punggung 100 meter dengan waktu 1 menit 20 detik memecahkan rekor nasional.

Ahmad Rijali kembali meraih emas di hari ketiga dikelas S8 gaya punggung 50 meter, perak diraih Ilham dari Jabar, dan Perunggu Erliansyah dari Kalbar.

sementara di hari ke-2 Peparnas, Ahmad meraih perunggu di kelas S8 gaya punggung 50 meter, medali emas diraih Guntur (Kaltim), sementara perak direbut Chandra perenang tuan rumah Riau yang juga rekannya selama di Pelatnas Paragames Solo 2012.

Hasil ini sangat membanggakan dan diharapkan memotivasi atlet paralympic kabupaten Balangan.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Provinsi Kalsel, KONI kalsel serta NPC Kalsel, Bupati Balangan atas dukungan yang luar biasa kepada atllet NPC Kalsel dalam Peparnas ini,” kata Ferry Kuntono yang juga dokter NPC yang juga pengurus organisasi atlet cacat Kabupaten Balangan.

Menurut dia keinginan Ahmad Rijali meraih emas begitu besar makanya setiap hari selalu saja latihan.

Sedangkan Ahmad Rijali ketika dihubungi via telpon menyatakan gembira atas keberhasilan tersebut sehingga akan memacu semangat untuk terus berlatih.

“Masih banyak kejuaraan lain menunggu, baik kejuaraan nasional maupun kejuaraan Asean,” ujarnya.

ATLET BALANGAN SUMBANGKAN PERAK PARA GAMES MYANMAR
Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,19/1 (Antara)- Seorang atlet renang yang berasal dari Desa Inan Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan, kembali mengharumkan Indonesia setelah berhasil menyumbangkan satu perak dan dua perunggu di arena Asean Para Games 2014 di negara Myanmar.

Atlet Balangan yang menyumbangkan tiga medali di arena Para Games tersebut, adalah Akhmad Rijali, demikian Akhmad Rijali via SMS dari kota Nay Pyi Taw Myanmar ke ANTARA Cabang Banjarmasin, Minggu.

Menurut keterangannya, medali pertama yang diperolehnya adalah medali perunggu dalam kejuaraan yang diikuti beberapa negara di Asean tersebut.

Hari pertama itu Rabu tanggal 15 Januari 2014 dalam pertandingan renang di nomor punggung 100 meter, Ahmad Rijali mengaku hanya bisa meraih medali perunggu dengan waktu 01.28.63 sedangkan medali emas diraih perenang Vietnam dengan nama Dang ketepatan waktu 01.26.16.

Sementara juara dua atau peraih perak dimemangkan atlet dari Thailand dengan Wong dengan waktu 01.28.29.

Hari kedua 50 meter gaya punggung juara i (emas) dari Vietnam dengan nama Dang waktu 00.38.34 kemudian perak diraih Akhmah Rijali (Indonesia) waktu 00.39.46, dan perunggu diraih Wong (Thailand) catatan waktu 00.40.22.

Kemudian pertandingan hari ketiga 100 meter gaya bebas emas diraih Ilham (Indonesia) waktu 01.13.55, perak Tien Yu (Malaysia) 01.15.46, dan perunggu Akhmad Rijali waktu 01.16.74.

Menurut putra pasangan Supaini dan Jubaidah ini sebelum berangkat ke Nyanmar mewakili Indonesia ia bersama atlet cacat lainnya dari Indonesia dilatih secara intensif di Solo selama enam bulan.
Mereka memperoleh latihan oleh pelatihnya yakni bapak Dimin dan Bapak Handoko, katanya.

Sebelumnya dalam kejuaraan serupa di Solo Jawa Tengah (Indonesia) tahun 2011 lalu, Akhmad Rijali hanya bisa menyumbangkan perunggu.
Dalam kejuraan yang kala itu dibuka Wakil Presiden Boediono Ahmad Rijali meraih perunggu dicabang renang 50 meter gaya punggung kelas s8 waktu tempuh 41.11 detik.

Sementara peraih emas kala itu atlet Vietnam dengan waktu 39.10 dan peraih perak direbut atlet Thailand, Wongnongth Aphum Paibun waktu 40.91 detik.

Berdasarkan catatan Para Games diikuti atlet dari negara-negara ASEAN – Brunei, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, Timor Leste, dan Vietnam

amat1

 

amat

Bersama Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Roy Suryo

Iklan

MENGANGKAT POTENSI KALSEL SEBAGAI PRODUSEN OBAT HERBAL

Oleh Hasan Zainuddin


Banjarmasin,7/9 (ANTARA)- Di era tahun 80-an hingga tahun 90-an berbagai produk jamu olahan masyarakat di Provinsi Kalimantan Selatan begitu dikenal, bukan saja di wilayah sendiri bahkan diantarpulaukan.

Jamu olahan Kalsel yang terkenal tersebut, diantaranya jamu Sarigading, Jamu Pasak Bumi, Jamu Tabat Barito.

Bukan hanya jamu produk herbal olahan masyarakat Kalsel tersebut, tetapi juga saleb yang terkenal dengan nama saleb cap Dua Kokang, atau bedak mempercantik diri bagi kaum perempuan yang disebut “pupur bangkal.”
Obat-obatan herbal disebut di atas tersebut hanya yang terangkat kepermukaan, padahal masih segudang obat-obatan produk herbal olahan masyarakat di daerah paling selatan Kalimantan tersebut yang dibuat skala kecil dan tidak populer.

Melihat kenyataan tersebut telah membuktikan daratan Kalsel mengandung banyak potensi obat-obatan herbal.

Kepala Dinas Kesehatan Kalsel Rosihan Adhani kepada pers di Banjarmasin, mengakui wilayahnya merupakan gudangnya obat-obatan herbal tersebut.

Oleh karena itu Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan melalui Dinas Kesehatan mendukung pengembangan pengobatan herbal melalui pengembangan produk jamu tradisional yang berasal dari sumber daya alam lokal sebagai pengobatan alternatif.

Ia mengatakan, Kalsel merupakan konsumen jamu terbesar nasional sehingga sudah saatnya kini pemerintah dan masyarakat mengangkat citra obat tradisional tersebut.

Salah satu upaya untuk membantu mengangkat citra jamu tradisional Kalsel tersebut, kata Rosihan, kini pihaknya sedang merintis untuk memasukkan obat-obatan herbal tersebut ke dalam rumah sakit.

“Saat ini di Indonesia baru ada 36 rumah sakit yang memasukkan obat-obatan herbal sebagai pengobatan alternatif, dan Kalsel baru pada tahap merintis,” katanya.

Hal tersebut dilakukan, karena Kalsel merupakan daerah yang sangat kaya sumber daya alam berupa tumbuhan obat-obatan, bahkan salah satu kekayaan alam Kalsel berupa pasak bumi dan tabat barito kini banyak dikirim ke beberapa negara.

Di negara-negara importir tersebut, tumbuhan tersebut diolah menjadi obat yang kemudian dijual ke seluruh negara termasuk Indonesia.

“Seharusnya tumbuhan tersebut yang mengolah adalah kita dan yang mendapatkan nilai tambah ekonominya adalah warga kita pula, tetapi justru oleh negara lain,” katanya.

Dengan demikian, Rosihan berharap warga Kalsel bisa mendukung keberadaan obat-obatan herbal tersebut bisa berkembang di daerah ini.

Saat ini, tambah dia, keberadaan jamu-jamu tradisional Kalsel kalah bersaing dengan jamu luar terbukti dari 26 perusahaan jamu, kini tersisa tujuh perusahaan jamu saja.

Selain ingin mengangkat citra melalui promosi dan Dinkes juga membantu pengembangan jamu tersebut melalui SP3T yaitu sentra pengembangan pengobatan tradisional di daerah.
Tumbuhan Obat

tanaman pelungsur ular
Sementara itu Tim Peneliti dari Balai Peneletian dan Pengembangan Daerah Kalsel telah membuktikan bahwa wilayah Kalsel kaya akan sumber obat-obatan herbal demikian.

Pihak peneliti tersebut telah berhasil menemukan 177 jenis tumbuhan obat-obatan yang tersebar di tujuh kabupaten dan kota di provinsi ini.

Salah satu anggota tim Etnobotani Balitbangda Kalsel Agus Karyono pada rapat persiapan pembangunan Kebun Raya Kalsel di Banjarmasin, mengatakan 177 jenis tumbuhan obat-obatan tersebut didapat dari masyarakat setempat.

Ke-177 jenis tumbuhan obat tersebut ternyata sudah dimanfaatkan untuk pengobatan ketika ada jenis penyakit tertentu di daerah ini.

Etnobotani adalah suatu bidang ilmu yang mempelajari hubungan timbal-balik secara menyeluruh antara masyarakat lokal dan alam lingkungannya meliputi sistem pengetahuan tentang sumber daya alam tumbuhan.

“Seluruh jenis tumbuhan tersebut tetap kita berinama sesuai dengan nama yang diberikan warga asli, karena belum dilakukan penelitian secara ilmiah tentang kandungan tumbuhan tersebut,” katanya.

Nama ilmiah tumbuh-tumbuhan yang diyakini bisa menyembuhkan berbagai penyakit tersebut, kata dia, akan diberikan nama setelah melalui kajian kandungan “fitokimia” dari berbagai macam jenis tumbuhan berkhasiat untuk obat.

Menurut Agus, eksplorasi tumbuhan berkhasiat obat dilakukan di desa yang potensial memiliki sumber daya tumbuhan berkhasiat obat dengan alokasi waktu yang lebih memadai, yang dilakukan setidaknya satu dampai dua minggu di setiap lokasi.

Ketujuh kabupaten yang dilakukan sebagai tempat penelitian tersebut yaitu Kabupaten Banjar terdapat 18 jenis tumbuhan, Kabupaten Tapin sebanyak 22 jenis, Hulu Sungai Utara sebanyak 17 jenis.

Selain itu, Hulu Sungai Tengah 28 jenis, Hulu Sungai Selatan 31 jenis, Balangan 41 jenis , dan Kabupaten Tabalong 20 jenis.

“Dari beberapa desa tersebut di atas, Desa Harakit Kabupaten Tapin, Desa Malinau Kabupten HSS, Desa Kiyu Kabupaten Hulu Sungai Tengah dan Desa Misim Kabupaten Tabalong merupakan daerah yang paling potensial untuk eksplorasi,” katanya.

Selain itu, kata dia, desa yang mayoritas penduduknya Dayak terpencil dan jauh dari lingkungan perkotaan banyak mengetahui tentang jenis tumbuhan berkhasiat obat yang sudah mereka warisi secara turun temurun.
Beberapa jenis tanaman obat yang ditemukan dan telah diuji fitokimia adalah adalah sembilikan, akar bangkimut, krakatau dan haratau, nalin-nalin, akar balakatan, akar arau, bamboo buluh dan bebeberapa jenis tumbuhan obat-obatan lainnya.

Berbagai jenis tanaman obat-obatan tersebut bakal dikembangkan di kebun raya selain berbagai jenis tanaman langka lainnya di Kalsel.

MEMPERELOK KOTA BANJARMASIN MELALUI PENATAAN SUNGAI

Oleh Hasan Zainuddin


Banjarmasin,6/9 (ANTARA)- “Coba kita berdiri di malam hari di Jembatan Merdeka atau Jembatan Pangeran Antasari, pandang ke arah sungai, begitu eloknya kota Banjarmasin ini,” kata Asisten II Bidang pembangunan, Bambang Budiyanto, kepada wartawan.

Coba pula dibayangkan Kota Banjarmasin era tahun 90-an di saat masih kumuhnya bantaran sungai, maka kota ini begitu jelek.

Tetapi coba lihat sekarang setelah bantaran sungai dibenahi melalui pembangunan siring yang kemudian dipenuhi dengan taman-taman bunga dan pohon hijau serta dan lampu hias, maka begitu terasa eloknya.

“Melihat kenyataan tersebut maka pembenahan sungai yang dilakukan secara bertahap oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin dan dibantu pemerintah pusat dan pemerintah provinsi sudah menunjukkan hasil,” katanya saat memimpin jumpa pers berkenaan hari jadi Kota Banjarmasin.

Menurut dia, bila sudah menyadari pembenahan sungai melahirkan suatu keindanan dan kenyamanan, selayaknya seluruh warga mendukung upaya pemerintah dalam pembenahan sungai tersebut.

Apalagi arah pembangunan Kota Banjarmasin yang berjuluk “kota seribu sungai” tersebut benar-benar berbasis sungai maka tak ada pilihan kecuali bekerja keras dalam pembenahan sungai.

Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Drainase Banjarmasin, Ir Muryanta dalam kesempatan yang sama membenarnya instansinya dibebani mengubah kota Banjarmasin yang kumuh menjadi sebuah kota sungai yang elok.

“Dulu hampir semua bantaran sungai kumuh, dan tak enak dipandang, sekarang lihat bantaran Sungai Martapura Jalan Pire Tendean dan Jalan Sudirman sudah rapi dan tertata begitu bagus, semua hasil dari tekad mengubah kekumuhan menjadi keindahan,” katanya.

Menurut dia, ke depan semua bantaran sungai akan ditata, permukiman kumuh akan dibebaskan dirombak menjadi kawasan siring sungai yang penuh dengan pertamanan dan lampu-lampu hias.

“Sekarang bantaran sungai yang kumuh telah berhasil diubah menjadi kawasan bersih sepanjang dua kilometer, masih begitu panjang yang harus dirombak lagi,” katanya.

Melihat panjangnya bantaran sungai Banjarmasin yang masih terlihat kumuh maka diperlukan dana besar untuk membebaskan kawasan tersebut agar menjadi sebuah kawasan yang elok, dan ditaksir sedikitnya membutuhkan dana Rp500 miliar.

“Kita lakukan secara bertahap, sekarang masih dalam pembenahan bantaran sungai Jalan Pire Tendean dan membutuhkan dana Rp50 miliar, dan baru ke lokasi-lokasi lain lagi, termasuk kawasan Pasar Lama hingga ke Sungai Jingah,” kata Muryanta yang didampingi Kepala Dinas Bina Marga, M Amin MT.

Bukan hanya bantaran Sungai Martapura yang memperoleh pembenahan, tetapi juga bantaran sungai-sungai kecil dalam kota, seperti Sungai Veteran, Sungai Kuripan, Sungai Teluk Dalam, Sungai Miai, Sungai Pangeran, dan sungai lainnya.

Bahkan untuk sungai Jalan Veteran dan Teluk Dalam menjadi lokasi percontohan pembenahan sungai ke depan, sebab sebelah kanan dan kiri sungai akan dibangun jalan.

Sebagai contoh sungai di tepian di Jalan Veteran sudah ada jalan tetapi di seberangnya juga harus dibangunkan jalan lagi. Karena itu lokasi bangunan yang dibolehkan harus 14 meter jaraknya dari sungai.

Setelah dibangunkan jalan di sisi kiri dan kanan sungai barulah nanti dibuatkan jembatan, tetapi jembatan berada di lokasi yang tepat.

“Karena itu pemkot melarang keras setiap ada bangunan rumah atau rumah dan toko (ruko) selalu membangun jembatan sendiri-sendiri, karena kalau itu terjadi maka keberadaan sungai sebagai sarana lalu lintas air menjadi tidak berarti,” kata Muryanta.

Menurut dia, beberapa lokasi sungai di Banjarmasin terlihat begitu banyak jembatan penyeberangan, akhirnya selain merusak keindahan juga menghilangkan fungsi sungai.

“Tadinya data sungai di Banjarmasin sebanyak 105 sungai, tetapi setelah didata ulang ternyata ada 150 sungai, yang kesemuanya itu harus dibenahi, baik bantaran sungainya, serangan sampah dan gulma serta sidimentasinya,” tutur Muryanta.

Takad pembenahan sungai tersebut tak lain karena kekayaan Kota Banjarmasin agaknya terletak pada sungai sungai tersebut, karena wilayah ini minim sumberdaya alam seperti tambang, hutan, dan pertanian.
“Bila kota ini mau maju, maka solusinya adalah memanfaatkan sungai-sungai tersebut sebagai magnet ekonomi, khususnya kepariwisataan,” tutur Muryanta.

 

contoh sungai yang rusak

Sementara Kepala Dinas Bina Marga, M Amin, menambahkan untuk mendukung pembangunan berbasis sungai tersebut, maka pihaknya pun melakukan berbagai upaya pembangunan dengan mengedepankan keberadaan sungai.

“Dalam pembangunan jembatan saja, semuanya akan dibuat melengkung, artinya dengan melengkung maka sungai-sungai berada di bawah jembatan akan tetap berfungsi sebagai sarana lalu-lintas air,” tutur M Amin.

Bukan hanya jembatan kecil yang tercatat hampir 400 buah, juga jembatan besar pun nantinya dibuat melengkung, setidaknya ketinggiannya mencapai lima meter dari permukaan air saat pasang dalam, tuturnya.

Berdasarkan rencana ke depan, dan sudah memperoleh dukungan pemerintah, jembatan Pangeran Anatasri yang selama ini menjadi ikon kota pun akan dirombak menjadi sebuah jembatan melengkung.

Kemudian jembatan besar lainnya, adalah Jembatan Dewi, Jembatan Pasar Lama, Jembatan Merdeka akan dibangun ulang lebih tinggi lagi, agar kapal-kapal bisa lewat melalui bawah jembatan tersebut, kata M Amins.

Dukungan sebuah kota sungai tersebut juga muncul dari Dinas Perhubungan setempat yang mulai sekarang membangun sebanyak mungkin dermaga angkutan sungai baik di Sungai Martapura, Sungai Barito maupun di sungai kecil lainnya.

Berdasarkan keterangan setiap adanya jembatan baik jembatan besar maupun jembatan kecil selalu akan dibangunkan dermaga angkutan sungai.

Dengan demikian, orang bepergian di kota ini bisa enak melalui jalan darat, tetapi enak pula kalau harus naik angkutan sungai.

Sementara Dinas Pariwisata yang paling berkepentingan dengan pembenahan wisata air, juga tak mau kalah membuat program pembenahan wisata sungai, dengan membuat lokasi-lokasi wisata baru berbasis sungai termasuk membuat pasar terapung buatan di perairan Pulau Insan.

Bukan hanya itu, Dinas Pariwisata pun akan membuat paket wisata di kota ini lebih banyak mengarahkan kunjungan ke objek wisata sungai tersebut.

Direktur Pengembangan Air Minum, Ditjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum, Danni Sutjiono saat berada kota ini beberapa waktu lalu mnilai Banjarmasin akan menjadi sebuah kota metropolis, jika berhasil memanfaatkan sungai sebaik-baiknya.

“Kota Banjarmasin, adalah kota yang unik dikelilingi dan dibelah-belah sungai besar dan kecil, jika sungai itu dimanfaatkan maksimal akan memberikan kontribusi besar terhadap kemajuan kota ini,” kata Danni Sutjiono.

Menurut dia, sungai di Banjarmasin perlu dipelihara agar bisa menjadi daya pikat wisata dan sarana lalu lintas air di samping sumber air baku PDAM sehingga ketersediaan air bersih mencukupi untuk kebutuhan masyarakat.

Bila sebuah kota dengan ketersediaan air bersih mencukupi dipastikan kota tersebut akan menjadi hunian dan perkembangan perkotaan yang nyaman, lantaran air bersih merupakan sarana vital dalam kehidupan.

“Lihat Kota Singapura yang tidak memiliki sumberdaya alam tetapi mampu menyediakan air bersih dengan cukup dan fasilitas lainnya akhirnya kota tersebut menjadi kota metropolis,” katanya.

Lihat juga kota Bangkok, di mana sungai ditata sedemikian rupa hingga menjadi sebuah objek wisata yang menarik, dan bahkan telah berhasil menciptakan kota tersebut sebagai kota tujuan wisata dunia.

Melihat kenyataan tersebut sebenarnya Kota Banjarmasin bisa mengejar kemajuan kedua kota ternama di dunia tersebut, tentu dengan memanfaatkan sungai dengan sebaik-baiknya.

Apalagi Banjarmasin memiliki jumlah sungai yang melebihi dari kota-kota yang disebut di atas, sebenarnya memiliki kelebihan tersendiri, tinggal bagaimana pemerintah kota ini menciptakannya lebih menarik lagi.