MENGANGKAT KESEJAHTERAAN MELALUI BANK SAMPAH

Oleh Hasan Zainuddin


Banjarmasin,21/10 (ANTARA)- Sampah dulu dianggap musuh belakangan justru dinilai berkah lantaran memberikan nilai keuntungan besar setelah adanya program bank sampah.

Seperti terlihat di Kompleks Mahligai Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, keberadaan bank sampah mengubah kampung tadinya kotor menjadi sebuah pemukiman yang bersih, indah, dan asri.

Di lokasi itu warga diajak mengumpulkan sampah non organik, setiap barang akan dibeli sesuai harga jual yang berlaku di pengumpul barang bekas.

Misalnya kardus Rp1.000 per kilogram, besi Rp dua ribu per kilogram, kaleng Rp12 ribu per kilogram, botol kaca (kecap) Rp300 per kilogram dan banyak lagi.

Wali Kota Banjarmasin Muhidin saat pencanangan perilaku hidup bersih di lokasi itu mengaku bangga melihat pemukiman bersih dimana terdapat budaya masyarakat mengembangkan bank sampah.

Karenanya ia mengajak seluruh masyarakat membiasakan diri berperilaku hidup bersih dengan tidak membuang sampah sembarangan dan menjadikan sampah sebagai barang ekonomis.

“Saya senang melihat di pemukiman lokasi ini, terdapat bank sampah, seharusnya bank-bank sampah ini diperbanyak saja,” katanya.

Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Rusmin mengakui bahwa pihaknya memperbanyak lokasi bank sampah, sata ini baru terdapat 20 bank sampah, dan akan bertambah lagi 10 bank sampah dalam waktu dekat ini, hingga akhirnya mencapai 50 bank sampah.

Bank sampah bisa memberikan tambahan penghasilan anggota atau nasabahnya, lingkungan mereka juga terjaga kebersihannya.

Keberadaan bank sampah dinilai penting karena tumpukan sampah rumah tangga bisa dikelola di lokasi tersebut, setiap yang bernilai bisa dijual langsung sementara sampah organik akan dibuat pupuk kompos yang kemudian di paking untuk kemudian dijual pula.

“Daripada membuang sampah tidak jadi apa-apa, lebih baik dikumpulkan di bank sampah. Mengumpulkan sampah diberi uang. Bahkan bisa pinjam uang, bayarnya hanya dengan sampah,” ujarnya.

Setelah masyarakat mengumpulkan barang bekas tersebut ke bank sampah, maka nilai jualnya akan ditulis petugas di buku tabungan khusus.

Mereka yang mengumpulkan bisa mengambil uang hasil penjualan barang bekas tersebut setelah tiga bulan. Dengan cara tersebut, sampah tak lagi dibuang percuma tetapi menghasilkan uang bagi warga setempat.

Saat ini sudah ada beberapa bank sampah yang cukup aktif difungsikan, banyak dimanfaatkan masyarakat seperti terlihat di kompleks Mahligai, Kompleks Malkon Temon, serta di kawasan Sungai Andai.

Sedangkan Kepala Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Banjarmasin Hamdi menyambut gembira keberadaan bank sampah di kota ini, dan itu harus dikembangkan lebih luas lagi.

Di beberapa daerah tanah air keberadaan bank sampah sudah memberikan kesejahteraan masyarakat, sampah tak lagi dianggap masalah tetapi jutru dianggap berkah.

Di beberapa daerah, banyak warga terbantu oleh sampah melalui program bank sampah, mereka pinjan uang bayar dengan sampah, mereka mau barang elektronik bisa bayar dengan sampah, bahkan kredit kendaraan roda dua pun bisa bayar dengan sampah.

“Pokoknya sampah sudah bukan barang mencemari lingkungan lagi, tetapi barang menghasilkan rupiah,” tutur Hamdi saat pelatihan jurnalistik lingkungan di balaikota Banjarmasin.

Di beberapa daerah tanah air belakangan ini mulai ramai dikembangkan bank sampah, konon bank sampah sudah melebihi 800 lokasi secara nasional.

Menurut Kepala Dinas kebersihan dan Pertamanan Banjarmasin, Rusmin selain melalui bank sampah penanganan sampah di kota ini juga melalui cara yang disebut Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) “3R” yaitu reuse (menggunakan kembali), reduce (mengurangi), recycle (daur ulang) seperti ditujuh lokasi Banjarmasin.

Tujuh lokasi Banjarmasin itu, TPST 3R Jalan Angsana dan Cemara Raya dan Sungai Andai di wilayah Banjarmasin Utara, Simpang Jagung Banjarmasin Barat, Sungai Lulut Banjarmasin Timur, Sentra Antasari Banjarmasin Tengah, serta TPST 3R Basirih Selatan Banjarmasin Selatan.

Melalui TPST ini juga telah memberikann nilai tambah ekonomi bagi masyarakat setempat serta kalangan pemulung.

Upaya lain bahkan Pemkot Banjarmasin menerjunkan 60 petugas pengawas untuk mengawasi pembuangan sampah ke TPS agar tidak berserakan, serta membentuk komunitas warga peduli samnpah.

Jangka panjangnya terus menambah pendanaan, tenaga kerja, peralatan, serta peningkatan tehnologi serta mengelola TPA agar mampu menampung pembuangan sampah secara baik dan benar pula.

Mengenai mengelolaan sampah di Banjarmasin, Rusmin bercerita berbagai kendala mengurus sampah, bukan hanya kekurangan dana, tetapi juga kekurangan tenaga kerja, minimnya jumlah peralatan, serta kondisi alam, tetapi yang paling memusingkan adalah perilaku masyarakat itu sendiri yang selalu membuang sampah sembarangan di berbagai tempat.

“Kalau hanya mengandalkan pemerintah tanpa dukungan masyarakat sampai hari kiamat pun persoalan sampah tak akan pernah selesai di kota ini,” kata Rusmin lagi.

Sebagai contoh saja, sudah diingatkan warga membuang sampah di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) harus malam hari, nyatanya selalu membuang di siang hari.

Bahkan katanya, setelah tumpukan sampah diangkut pada pagi hari dan TPS sudah bersih, tapi hanya beberapa waktu berselang lokasi itu menggunung lagi sampah.

Bahkan bukan hanya individu warga yang membuang sampah sembarangan tetapi juga berbagai perusahaan besar seperti hotel, restauran, rumah makan, dan perusahaan lainnya yang membuang skala besar secara sembarangan pula.

Padahal sebagian besar dari 117 TPS di kota ini justru di pinggir jalan besar, dan akibatnya sampah terus meluber hingga ke tengah jalan raya dan menganggu warga kota.

“Kalau cara-cara masyarakat seperti itu terus dilakukan siapa pun pasti pusing tujuh keliling mengurus sampah ini,” kata Rusmin lagi.

Apalagi kian waktu produksi sampah volumenya terus meningkat seiring bertambahnya penduduk, dan sekarang terdata 573 ton atau 1.800 meterkubik per hari.

Bagaimana sampah sebanyak itu dibersihkan dengan peralatan dan tenaga yang masih terbatas, dengan jumlah truk angkut sampah hanya 38 buah, tosa (kendaraan roda tiga) t11 buah, padahal idealnya truk sampah minimal 125 buah.

Dengan kondisi terbatas itu maka jumlah sampah yang terangkut ke TPA 200 ton saja, sisa sampah yang tak terangkut tersebut memang ada yang diambil pemulung, dibuang ke sungai oleh oknum warga atau di daur ulang untuk pupuk organik dan sebagainya, tapi masih banyak yang tertinggal dan jumlah itulah yang terus mengotori kota ini.

“Melalui program sampah dan TPST 3R itulah sampah di Banjarmasin bisa tertangani kedepannya,” katanya.

Iklan

LEBAK SOLUSI ATASI KETAHANAN PANGAN KALSEL

Oleh Hasan Zainuddin


Banjarmasin, 13/10 (ANTARA)- Saat daerah lain mengeluh kesulitan beras musim kemarau, justru Kalsel bisa tersenyum,lantaran 150 ribu hektare lahan lebak yang tadinya tergenang air menjadi kering dan sebagian bisa ditanami padi dan subur.

Gubernur Kalsel Rudy Ariffin mengakui wilayahnya memperoleh berkah memiliki lahan semacam itu. Akibat lahan itu pula wilayahnya tak pernah mengalami defisit beras.

“Kami merasa bangga memiliki lahan lebak yang bisa dimanfaatkan untuk tanaman padi dan palawija, berkat lahan itu pula produksi padi Kalsel bisa terus ditingkatkan ” tuturnya.

Dengan memiliki lahan unik itu maka Kalsel dinyatakan sebagai salah satu daerah penyangga pangan nasional, sehingga diminta menyumbang beras untuk kebutuhan pangan nasional.

“Saya harap beban ini bisa ditanggung bersama-sama oleh kabupaten dan kota, koordinasi harus ditingkatkan, terutama memanfaatkan 500 ribu lahan wasah yang sudah ada, termasuk mencari varietas padi yang sesuai dengan lahan,” katanya.

Salah satu lahan yang bisa dimanfaatkan maksimal adalah lahan lebak yang saat kemarau dapat menguntungkan petani padi di daerah ini, karena bisa tanam padi.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Aus Al Kausar menambahkan lahan lebak Kalsel potensial meningkatkan produksi padi, seperti contoh Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) seluas delapan ribu hektare yang belum maksimal ditanami padi.

“Dengan kemarau lahan lebak bisa ditanami padi yang mampu memproduksi enam ton Gabah Kering Giling (GKG) per hektare,” katanya seraya mengatakan padi lebak bisa panen dua kali setahun.

Diakui berbagai upaya dilakukan meningkatkan produksi pangan Kalsel, selain mengandalkan lahan tadah hujan, lahan kering, dan lahan beririgasi, tetapi juga mengandalkan lahan lebak itu tadi.

“Aliran sungai menyebabkan unsur dan zat-zat yang ikut dalam air mengendap sehingga membuat tanah lahan lebak menjadi subur,” katanya.

Kendalanya di lahan seperti itu, air yang mengendap memerlukan waktu cukup lama untuk bisa kering, sehingga diperlukan teknologi untuk mengolahnya, salah satu cara dengan pompa air primer, sekunder, dan tersier dari polder.

Untuk meningkatkan kemampuan lahan lebak itu, maka Kalsel kini sedang merevitalisasi polder Alabio di Kabupaten HSU sebagai sarana mengatur tata air di lahan seperti itu.

Polder Alabio yang dibangun sejak Zaman Belanda itu diperbaiki selesai 2013, meski demikian tahun 2012 ini sistim irigasi pertanian melalui polder itu sudah bisa dimanfaatkan mengairi sawah petani.

Melalui sistem pengaturan air maka diharapkan terjadi peningkatan produksi padi, sekaligus peningkatan intensitas tanam, karena selama ini petani di daerah ini hanya bisa sekali tanam dalam satu tahun.

Polder Alabio akan mampu mengairi empat kecamatan yaitu Kecamatan Sungai Pandan, Sungai Tabukan, Babirik, dan Danau Panggang.

Polder tersebut mengairi daerah irigasi seluas enam ribu hektare dengan pola tanam padi dan palawija.
Varietas unik
Berdasarkan cacatan, di Kalsel terdapat padi unik yakni padi yang mampu bertahan hidup di lahan lebak, seperti varietas lokal yang disebut dengan “padi rintak,” dan “padi surung.” Varietas padi ini memiliki kelebihan yakni mampu mengikuti perkembangan air.

Wilayah yang banyak mengembangkan varietas padi unik ini terdapat di lahan lebak di Kabupaten HSU.

Padi varietas unik ini bukan hanya di Kabupaten HSU di kembangkan tetapi juga di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Hulu Sungai Tengah (HST) serta di wilayah Barito Kuala (Batola).

Padi rintak sudah lama diusahakan untuk pertanian Kalsel, dengan memanfaatkan menyurutnya air lahan lebak.

Memanfaatkan lahan lebak saat kemarau disebut “merintak,” sehingga bertaman padi pada kondisi tersebut dikenal sebagai tanam padi rintak, dan sawahnya adalah “sawah rintak”atau “sawah timur” karena bertiup angin timur.
Sebaliknya kondisi air lebak yang merambat naik atau mendalam pada musim hujan disebut sebagai “menyurung” sehingga bertanam padi lahan lebak pada musim hujan disebut juga sebagai “padi surung.”
Sedang sawahnya disebut “sawah surung” atau “sawah barat” karena pada musim itu bertiup angin barat.

Disebut pula sebagai padi surung lantaran padi ini mampu mengikuti ketinggian air, artinya bila air terus meninggi atau dalam maka batang padinya pun ikut lebih tinggi pula sebatas ketinggian air sehingga padi ini tak pernah tenggelam.

Melihat potensi lahan lebak yang begitu luas disamping adanya varietas padi unik tersebut sebenarnya Kalsel tak khawatir akan penyusutan lahan pertanian ber irigasi yang berada dekat perkotaan.

Menurut keterangan beberapa tahun belakangan banyak lahan pertanian di Kalsel yang beralih fungsi, atau sekitar 19 ribu hektare.

Sebagai salah satu upaya peningkatan produksi padi Kalsel, tersebut adalah mencetaklahan baru sekitar tiga ribu hektare serta pemanfaatkan lahan rawa atau lebak tersebut.

“Dengan bantuan teknologi pertanian, kita juga bisa memanfaatkan lahan lebak atau rawa monoton, untuk menanam padi, yang tingkat produktivitasnya juga cukup baik,” ujar Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalsel Aus Al Kausar.

Ia mengatakan, hingga saat ini produksi padi di daerah setempat masih surplus, oleh sebab itu, walau lahan pertanian mengalami penyusutan karena alih fungsi, tapi produksi padi terus meningkat dan masih tetap surplus.

Kesempatan lain Ketua Komisi II Bidang Ekonomi dan Keuangan DPRD Kalsel Muhammad Ihsanudin berpendapat, walau produksi padi di provinsi itu terus meningkat dan surplus, tapi perlu antisipasi dini atas kemungkinan alih fungsi lahan pertanian secara besar-besaran.

“Sebab jika tidak dilakukan antisipasi dini, lambat laun lahan pertanian semakin menyusut, sementara pembukaan sawah atau lahan pertanian baru tidak seimbang dengan penyusutan lahan pertanian di Kalsel,” kata politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut.

Ia mengemukakan perlunya pengaturan alih fungsi lahan pertanian sebaik mungkin.

“Untuk itu perlu pengaturan atas alih fungsi lahan pertanian, guna mempertahankan lahan pertanian secara abadi dan tetap terwujudnya ketangguhan ketahanan pangan, baik bagi daerah Kalsel maupun nasional,” demikian Ihsanudin.

LEDAKAN PENDUDUK YANG BESAR BERARTI KIAMAT

Oleh Hasan Zainuddin

Kemacetan Simpang Ampat Sungai Andai Banjarmasin
“Seratus tiga puluh lima juta penduduk Indonesia,” dekian salah satu bait dari lagu ciptaan penyanyi dangdut terkenal,Haji Rhoma Irama yang populer tahun 80 hingga tahun 90-an, rupanya lagu itu tak berlaku lagi di era tahun 2012-an ini.
Pasalnya sensus penduduk 2010 jumlah penduduk Indonesia sudah mencapai 237 juta jiwa yang meningkat hampir dua kali lipat, bahkan sekarang total penduduk Indonesia sesungguhnya melewati angka 240 juta jiwa.
Dari data statistik itu memperlihatkan laju pertumbuhan penduduk Indonesia begitu mengkhawatirkan, penduduk yang banyak tanpa diimbangi tingkat kemakmuran negara, hanya menciptakan persoalan sangat besar, dan itu yang terjadi di negara ini.
Berdasarkan sebuah catatan, angka laju pertumbuhan penduduk Indonesia dalam lima tahun terakhir mencapai 1,4 persen-1,5 persen per tahun. Pada periode 2000-2005, angka laju pertumbuhan penduduk bahkan berkisar 2 persen per tahun.
Bisa diprediksi dengan dengan tingkat pertumbuhan penduduk stabil di angka 1,5 persen per tahun saja, pada tahun 2057 total penduduk Indonesia sudah lebih dari 475 juta jiwa.
Jumlah penduduk yang besar itu akan menjadi celaka bila tanpa diimbangi kemampuan negara memberikan kemakmuran.
Bumi Indonesia penuh sesak dipadati manusia menjadikan ruang gerak terbatas,hingga muncul “berjuta” persoalan berasal dari manusia itu sendiri.
Misalnya saja masalah sampah yang dipastikan akan memukul balik manusia,kemacetan lalu lintas yang membuat kendaraan roda empat menjadi tidak berharga sama sekali, ketersediaan bahan pokok, dituntut menyelesaikan ketersediaan air bersih.
Jelaslah bahwa ledakan penduduk yang tak terkendali akan membuat bumi penuh sesak. Pada gilirannya, keselamatan manusia menjadi terancam. Jika demikian, masih layakkah bumi ini sebagai tempat hunian, yang berarti pula sama saja dengan kiamat.
Melihat kenyataan itulah maka memperlambat pertumbuhan penduduk Indonesia bukanlah sekadar kebutuhan, melainkan sebuah keharusan.
Tanpa strategi yang tepat dan akurat, pada 2050 Indonesia bakal menghadapi beban ganda. Di satu pihak ada ledakan penduduk usia manula yang diperkirakan sekitar 80 juta jiwa dan di lain pihak jumlah penduduk usia muda juga begitu membludak.
Persoalan yang pasti dirasakan yaitu mampukah negara memenuhi sejumlah kebutuhan dasar bagi warga khususnya, pemenuhan pangan, lapangan pekerjaan, pelayanan kesehatan, pelayanan pendidikan, perumahan serta segudang persoalan lagi di belakangnya.
Oleh karena itu bisa dibayangkan, betapa repotnya negara mengurus penduduk yang jumlahnya kian membeludak.
Indonesia perlu mewaspadai ledakan penduduk dikarenakan berdampak pada kualitas kehidupan manusia, kata kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Sugiri Syarief, seperti yang dikutif Kantor Berita ANTARA.
“Indonesia saat ini masih dalam posisi peringkat empat besar negara di dunia yang menyumbang jumlah penduduk terbesar,” kata dia dalam seminar nasional tentang kesehatan reproduksi perempuan yang di Yogyakarta, belum lama ini.
Dia mengatakan ledakan jumlah penduduk di Indonesia setiap 100 tahun naik lima kali lipat kerimbang 100 tahun sebelumnya.
“Pada Tahun 1900 jumlah penduduk mencapai 40 juta, sedangkan pada Tahun 2000 mencapaii 200 juta,” katanya.
Dia mengatakan dengan kondisi Indonesia saat ini, pihaknya memprediksi jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2100 mencapai satu miliar atau naik lima kali lipat ketimbang seratus tahun sebelumnya.
“Kalau jumlah penduduknya bertambah maka akan berdampak pada kebutuhan pangan yang besar. Indonesia bebannya akan semakin besar karena saat ini masih mengimpor beras,” kata dia lagi.
Sementara itu, untuk masalah kesehatan akan berdampak pada tingkat kematian ibu hamil dan beragam persoalan kesehatan, seperti kasus aborsi.
Ia mengatakan menekan jumlah penduduk perlu dilakukan untuk menghemat investasi pemenuhan hak dasar masyarakat, seperti, pendidikan, kesehatan, gizi, nutrisi, sandang, dan perumahan.
Selain itu, jumlah penduduk yaang bisa ditekan juga akan menghemat biaya perawatan kesehatan saat kehamilan, kelahiran, perawatan bayi dan balita.
Persoalan kesehatan selama ini menyangkut angka kematian ibu yang masih tinggi dan angka kematian balita. Kesehatan reproduksi selama ini menjadi bagian penting dari masalah kependudukan yang sulit diselesaikan.
Untuk aspek lingkungan jumlah penduduk yang bisa ditekan akan mengurangi penyediaan perumahan dan air bersih, daya tampung dan daya dukung lingkungan juga semakin tidak ideal serta bisa menimbulkan banyak masalah lingkungan, sampah, banjir, kemacetan, kesulitan akses udara atau air bersih serta isu perubahan iklim hingga bencana akibat perusakan alam.
Tuntutan atas kebutuhan dasar seperti pangan yang akhir-akhir ini semakin mahal dan sulit, jumlah lapangan kerja tidak seimbang dengan angkatan kerja baru, serta peningkatan kriminalitas akibat kebutuhan pokok yang tidak terpenuhi juga bisa menjadi dampak ledakan penduduk.
Untuk menghindari terjadinya ledakan penduduk maka diperlukan desain induk kependudukan,katanya.
Desain induk itu akan menjadi acuan kependudukan yang meliputi berbagai aspek diantaranya kualitas, kuantitas, pembangunan keluarga, mobilitas dan administrasi penduduk.
“Desain induk sangat diperlukan untuk menghindari terjadinya ledakan penduduk. Pada saat ini desain induk masih pada tahap penyusunan dan pembahasan,” katanya.
Selain itu, untuk menyikapi laju pertumbuhan penduduk juga diperlukan upaya revitalisasi keluarga berencana (KB).

Penduduk Dunia

Berdasarkan sebuah laporan, pertumbuhan penduduk di setiap negara akan berdampak pula terhadap pertumbuhan penduduk dunia secara keseluruhan.
Menurut Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB) yang menangani masalah kependudukan melaporkan bahwa pada tahun 2003 jumlah penduduk dunia 6,3 milyar.
Menurut Thomas Robert Malthus dalam Essay on the Principle of Population (1798), dikatakan bahwa ” penduduk bertambah menurut deret ukur dan bahan makanan bertambah menurut deret hitung “.
Dengan demikian pertumbuhan penduduk lebih cepat dari pada produksi makanan yang dibutuhkan. Jika hal ini terus menerus dibiarkan maka akan terjadi ledakan penduduk.
Ledakan penduduk sebagai akibat pertumbuhan penduduk yang cepat seperti itu memberikan dampak yang buruk bagi kehidupan sosial-ekonomi masyarakat dan hal inipun membuat pemerintah berusaha untuk mengatasinya ledakan penduduk tersebut.
Dampak ledakan penduduk,disebutkannyah pengangguran kian meningkat, kekurangan pangan yang menyebabkan kelaparan dan gizi rendah, kebutuhan pendidik, kesehatan dan perumahan sukar diperoleh, terjadinya polusi dan kerusakan lingkungan, serta tingkat kemiskinan semakin meningkat
Sementara upaya yang harus dilakukan antsipasi ledakan penduduk, antara lain memperluas lapangan kerja melalui industrialisasi, melaksanakan program Keluarga Berencana (KB),meningkatkan produksi pangan sesuai kebutuhan penduduk, melaksanakan program transmigrasi, serta menambah sarana pendidikan dan perumahan sederhana.
Ledakan penduduk tentu akan mengancam ketersediaan pangan, berdasarkan catatan, konsumsi perkapita beras di Indonesia masih sangat tinggi yakni 139,15 kilogram per kapita per tahun.
Sementara itu konversi lahan di Indonesia terjadi sangat cepat dari persawahan menjadi pemukiman dan lain sebagainya akibat tingginya jumlah pertumbuhan penduduk.
Selain itu, perubahan iklim yang dipicu tingginya jumlah penduduk juga mengakibatkan gagal panen dan lain sebagainya.
Penduduk banyak bisa mempengaruhi perubahan iklim, dan sebaliknya penduduk juga akan terpengaruh pada perubahan iklim yang terjadi.
Laju pertumbuhan yang tinggi akan mengakibatkan konversi lahan persahawan juga terus meningkat padahal jumlah penduduk yang tinggi juga mengakibatkan meningkatnya kebutuhan dan konsumsi akan beras.
Untuk menghindari terjadinya ancaman ketersediaan pangan maka laju pertumbuhan penduduk harus ditekan,makanya diperlukan upaya dan langkah konkret guna menurunkan laju pertumbuhan penduduk dan meningkatkan kualitas penduduk melalui berbagai program, baik dalam aspek kualitas maupun kuantitas.
Untuk menyikapi laju pertumbuhan penduduk, juga diperlukan upaya revitalisasi Keluarga Berencana.
Revitalisasi program KB
Bagaimana kondisi KB saat ini,sebagai gambaran, prevalensi penggunaan kontrasepsi selama lima tahun (2002-2007) tidak banyak mengalami perubahan.
Hanya naik sedikit dari 60,3 persen menjadi 61,4 persen. Bahkan unmet need (kebutuhan ber-KB yang tidak terlayani) dalam periode yang sama naik dari 8,6 persen menjadi 9,1 persen.
Jika kondisi ini tidak cepat ditangani, ledakan penduduk akan menjadi kenyataan dalam beberapa tahun ke depan.
Dari hasil penelitian Sri Moertiningsih Adioetomo (peneliti LD FE UI), program KB telah berhasil mengubah paradigma dalam masyarakat bahwa jumlah anak bukanlah ‘nasib’. Jumlah anak yang lebih sedikit menciptakan peluang yang lebih besar dalam mencapai keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera.
Sebelum pemerintah berperan penuh dalam pelaksanaan program KB (1970), pertumbuhan penduduk Indonesia sangat tinggi. Sebagian besar masyarakat Indonesia beranggapan bahwa semua kejadian demografis seperti peristiwa kelahiran dan kematian adalah kuasa Tuhan.
Tidak dikenal jumlah anak ideal, dan jumlah anak bukanlah hal yang pantas untuk didiskusikan.
Program Keluarga Berencana (KB) merupakan upaya pengendalian jumlah penduduk dan peningkatan kualitas keluarga Indonesia. Program KB di awal 1970-an telah berhasil mengendalikan laju pertumbuhan penduduk Indonesia, dan manfaatnya baru dapat dirasakan di awal 2000.
Indonesia berhasil ‘mencegah’ 80 juta kelahiran bayi. Program KB berhasil mengubah cara pandang masyarakat bahwa jumlah anak lebih sedikit, lebih baik.
Banyak keberhasilan program KB di era Orde Baru. Penggunaan kontrasepsi naik drastis (dari 5 persen menjadi 60 persen), jumlah anak perempuan usia subur turun (dari 5,6 persen menjadi 2,3 persen), rata-rata usia kawin pertama perempuan naik menjadi 19 tahun, menurunnya kehamilan yang tidak diinginkan, serta masih banyak keberhasilan lainnya.
Program KB jelas memiliki dampak langsung terhadap peningkatan kualitas penduduk, kesejahteraan, derajat kesehatan, dan pendidikan penduduk.
Penduduk miskin cenderung memiliki jumlah anak yang lebih banyak daripada yang tidak miskin.
Program KB dapat menjadi salah satu instrumen untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia. Oleh karenanya, program KB juga jelas berkontribusi terhadap pencapaian target millenium development goals.
Sebagai langkah nyata untuk merespons tingginya pertumbuhan penduduk, itulah maka pemerintah RI perlu segera merealisasikan revitalisasi program KB nasional.
Kata revitalisasi sendiri bermakna bahwa program KB harus dihidupkan kembali dan menjadi prioritas karena memiliki peran vital dalam pembangunan.
Pemerintah harus segera memperbaiki akses masyarakat terhadap pelayanan KB. Perlu perbaikan kompetensi teknis KB terutama di daerah, mengingat terbatasnya sumber daya manusia di daerah yang memahami teknis program KB. Sehingga, perlu perkuatan institusi KB daerah. Pemerintah harus segera membangun metode komunikasi yang efektif dalam penyebarluasan informasi tentang KB.
Hal ini penting mengingat KB bukan sekadar mengendalikan jumlah penduduk, tetapi juga membangun cara pandang masyarakat terhadap norma keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera.
Pemerintah segera melakukan tindakan nyata untuk pengelolaan penduduk dalam format program KB. Jika pemerintah memiliki anggaran yang terbatas, harus segera melibatkan pihak swasta.
Pemerintah harus mampu meyakinkan pihak swasta untuk berpartisipasi, serta bentuk partisipasi yang dibutuhkan. Satu hal yang perlu dipahami ialah membangun bangsa ini tidak bisa sendirian. Tetapi pemerintah harus menunjukkan kesungguhan agar tidak sendirian pula dalam menghadapi ancaman ledakan penduduk.

KEMARAU KINI SUDAH MENJADI SEBUAH “TRAGEDI”

Oleh Hasan Zainuddin


Banjarmasin, 6/10 (ANTARA) – Musim kemarau tak asing bagi masyarakat Indonesia, karena sudah berlangsung setiap tahun sejak berada-abad lalu.

Hanya saja kemarau dulu dan sekarang terjadi perbedaan, kemarau dulu lahan kering tetapi sekarang kemarau lebih kerontang, kalau dulu kemarau menimbulkan asap tipis sekarang kian pekat.

Panas selalu terjadi musim kemarau, tetapi sekarang panasnya kian gerah, dan banyak lagi perbedanaan lain yang dirasakan disaat perubahan iklim global sekarang ini.

“Kemarau baru sebentar sudah menyengsarakan, terutama kesulitan air bersih serta kabut asap pekat menganggu banyak aktivitas, seperti di Kalsel, kata Gubernur Kalsel Rudy Ariffin di Banjarbaru, Rabu (3/10) saat menggelar rapat dadakan dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah .

Rapat dadakan bersama perwakilan pemerintah pusat membahas serangan asap dikaitkan melakukan hujan buatan. Selain hujan buatan, juga dinilai perlu menggelar sholat istisqa (shalat minta hujan).

Gubernur mengaku sudah menyampaikan surat permohonan ke Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BPBN) agar memperoleh jatah hujan buatan.

Berdasarkan catatan, asap Kalsel adanya kebakaran semak belukar dan hutan 615 titik, kabut asap paling parah di Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Tanah Laut, dan Barito Kuala serta Kota Banjarmasin.

Kepala Dinas Kesehatan Kalsel, Rosihan Adhani mengatakan serangan kabut asap mulai mengganggu kesehatan masyarakat, ditandai peningkatan ISPA hingga 59 persen, dengan jumlah penderita ISPA setiap bulannya sebanyak 22.000 orang.

Mengatasi hal itu 10.000 masker dibagikan dari 51.000 masker yang dicadangkan, 51.000 masker sifatnya perbantuan kabupaten dan kota se Kalsel yang memerlukan tambahan,katanya.

Kepala Dinas Perhubungan Kalsel, M Tahkim, asap menganggu penerbangan bandara Syamsuddin Noor serta jalur Lalu-lintas darat dalam sepekan terakhir, lantaran jarak pandang yang pendek.

“Saat ini jadwal penerbangan selalu saja ada yang tertunda akibat asap,” katanya.

Asap tak hanya menyebabkan ganggu transportasi, tetapi juga membuat warga merasa sesak napas dan penglihatan terasa pedih saat berada di luar rumah.

Beberapa warga mengaku cepat lelah, saat melakukan aktivitas di luar rumah, karena udara pengap dan panas menyengat, kendati cuaca seakan mendung.

Cuaca ekstrim terjadi di Kalsel, ditandai meningkatnya suhu dan kelembaban udara hingga di atas standar normal, suhu dan kelembaban udara tergolong ekstrim, melebihi standar normal, ujar Miftahul Munir dari BMG.

Suhu udara normal 32 derajat celsius hingga 35 derajat celsius, jika di atas standar maka tergolong ekstrim, suhu ekstrim terukur di Banjarbaru, Banjarmasin, dan Kabupaten Banjar dengan panas 35,2 derajat celsius.
Terjadinya cuaca ekstrim di Kalsel karena curah hujan rendah sejak dua bulan lalu, curah hujan Agustus 60-70 milimeter dan September 50-100 milimeter hingga tergolong rendah dan memicu meningkatnya suhu udara dipermukaan hingga terjadi cuaca ekstrim, jelasnya.

Dampak ditimbulkan suhu udara demikian kekeringan melanda hampir seluruh kawasan, pepohonan kekurangan air mudah terbakar disamping volume air sumur berkurang.

Kawasan terpekat asap, justru berada di dekat Bandara Syamsudin Noor merupakan bandara terpadat di Kalimantan, menyebabkan tertundanya penerbangan seperti penerbangan ke Jakarta, Surabaya, dan Yogyakarta.

Manager Operasi PT Angkasa Pura I Bandara Syamsudin Noor Haruman mengatakan, jarak pandang aman bagi penerbangan minimal 400 meter saat pesawat lepas landas dan 800 meter saat pesawat mendarat.

“Jarak pandangnya buruk sekali pernah terjadi hanya lima meter sehingga sangat tidak mungkin pesawat lepas landas dan diputuskan enam penerbangan ditunda,” katanya
Kepala Dinas kehutanan Kalsel, Rahmadi menambahkan titik panas (hotspot) di wilayahnya meningkat 100 persen. Pantuan satelit NOAA-18 (ASMC) 4 September 315 titik, sekarang 615 titik.

Titik api diperkirakan terus bertambah mengingat musim hujan ditaksir akhir Oktober, atau dasarian tiga, ujar Kasi Data dan Informasi BMKG Staklim Banjarbaru Miftahul Munir.

Terkait keinginan gubernur melakukan hujan buatan, disarankan menunggu munculnya awan pembentuk hujan sehingga hujan cepat turun sesuai harapan.

“Saat ini, awan pembentuk hujan belum terbentuk di atas wilayah Kalsel sehingga tidak efektif jika hujan buatan dilakukan sekarang, lebih baik menunggu munculnya awan hujan sehingga hasilnya maksimal,” kata dia.


Perubahan Iklim
Berdasarkan sebuah catatan saat ini terjadi peningkatan konsentrasi gas-gas rumah kaca (CO2, CH4, CFC, HFC, N2O), terutama peningkatan konsentrasi CO2, di atmosfir menyebabkan terjadinya global warming (peningkatan suhu udara secara global) yang memicu terjadinya global climate change (perubahan iklim secara global).

Fenomena ini memberikan berbagai dampak yang berpengaruh penting terhadap keberlanjutan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya di planet bumi ini, di antaranya adalah pergeseran musim dan perubahan pola atau pendistribusi hujan yang memicu terjadinya banjir dan tanah longsor pada musim penghujan dan kekeringan pada musim kemarau.

Naiknya muka air laut yang berpotensi menenggelamkan pulau-pulau kecil dan banjir rob.

Perubahan iklim global sebagai implikasi dari pemanasan global mengakibatkan ketidakstabilan atmosfer di lapisan bawah terutama dekat permukaan bumi.

Pemanasan global ini disebabkan oleh meningkatnya gas-gas rumah kaca yang dominan ditimbulkan oleh industri-industri.

Pengamatan temperatur global sejak abad 19 menunjukkan adanya perubahan rata-rata temperatur yang menjadi indikator adanya perubahan iklim.

Perubahan temperatur global ini ditunjukkan dengan naiknya rata-rata temperatur hingga 0.74oC antara tahun 1906 hingga tahun 2005.

Temperatur rata-rata global ini diproyeksikan akan terus meningkat sekitar 1.8-4.0oC di abad sekarang ini, dan bahkan menurut kajian lain dalam IPCC diproyeksikan berkisar antara 1.1-6.4oC.

Perubahan iklim akibat kegiatan manusia itu meningkatnya suhu udara yang berpengaruh terhadap kondisi parameter iklim lainnya.

Perubahan iklim mencakup perubahan dalam tekanan udara, arah dan kecepatan angin, dan curah hujan.

Di Indonesia saat perubahan musim ini menyebabkan suhu rata-rata tahunan menunjukkan peningkatan 0,3 derajat Celcius sejak tahun 1990, musim hujan datang lebih lambat, lebih singkat, namun curah hujan lebih intensif sehingga meningkatkan risiko banjir.

Variasi musiman dan cuaca ekstrim diduga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama di Selatan Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

Perubahan pada kadar penguapan air, dan kelembaban tanah akan berdampak pada sektor pertanian dan ketahanan pangan. Perubahan iklim akan menurunkan kesuburan tanah sekitar 2 persen sampai dengan 8 persen.

Melihat kondisi cuaca seperti ini maka hal itu bisa dikatakan sebuah tragedi baik dimusim hujan maupun dimusim kemarau, karena itu berbagai kalangan mengharapkan kewaspadaan semua pihak menyikapi kondisi demikian

SERANGAN KABUT ASAP RISAUKAN WARGA KALSEL

Oleh Hasan Zainuddin


Banjarmasin, 1/0 (ANTARA)- Tiga kali dalam sehari Asmah bersihkan halaman rumahnya Jalan Sultan Adam Banjarmasin Kalimantan Selatan yang kotor akibat sampah ” kelalatu” (benda hitam bekas dedaunan terbakar) beterbangan dan jatuh di ke tanah.

Sementara, Judi (16) putranya yang murid SMA pergi bersepeda ke sekolah menggunakan masker menghindari serangan asap bekas kebakaran semak belukar dan hutan pinggiran Banjarmasin dan daerah lain di Kalsel.

Serangan asap menyengsarakan warga setempat bukan saja di Banjarmasin tapi juga di beberapa kota lain dan terparah di Kota Banjarbaru.

Asap di Banjarbaru, semakin pekat sejak seminggu terakhir, paling pekat Minggu (30/9).

“Saya bangun tidur dan membuka pintu, kabut asap langsung memasuki ruangan, akibatnya susah bernafas dan mata perih,” ujar Azizah warga Banjarbaru.

Munculnya asap di Banjarbaru menyelimuti kawasan pinggiran terutama sepanjang Jalan Ahmad Yani, dan menghalangi jarak pandang pengendara .

Rasyid warga Banjarbaru ingin ke Banjarmasin mengaku terjebak asap di Jalan A Yani pukul 06.00 Wita hingga pukul 07.30 Wita, jarak pandang hanya lima meter menutup pandangan ke badan jalan.

Selain ganggu pandangan dan menyakitkan mata, asap juga menimbulkan bau menyengat seperti benda habis terbakar serta membuat suhu udara lembab dan gerah.

Keluhan serupa juga diutarakan Kaspul warga Banjarmasin yang ingin mudik ke Barabai Kabupaten Hulu Sungai Tengah yang melintasi Jalan A Yani yang merupakan jalur trans Kalimantan tersebut.

“Jarak pandang hanya lima meter sehingga kami terpaksa berhenti menunggu kabut asap hilang,” ujar Kaspul.

Kawasan terpekat saat itu justru berada di dekat Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin, yang merupakan Bandara terpadat di Kalimantan.

Akibat pekatnya kabut asap menyebabkan tertundanya penerbangan pagi Sabtu (29/1) di Bandara Syamsudin Noor, sedikitnya enam penerbangan tujuan Jakarta, Surabaya dan Yogyakarta yang ditunda.

Manager Operasi PT Angkasa Pura I Bandara Syamsudin Noor Haruman mengatakan, jarak pandang aman bagi penerbangan minimal 400 meter saat pesawat lepas landas dan 800 meter saat pesawat mendarat.

“Jarak pandangnya buruk sekali hanya lima meter sehingga sangat tidak mungkin pesawat lepas landas dan diputuskan enam penerbangan ditunda,” katanya
Akibat kabut asap itu pula calon jemaah haji kloter 3 Embarkasi Banjarmasin, dianjurkan mengenakan masker.
“Seluruh jemaah diinstruksikan mengenakan masker sebelum memasuki bus dari asrama haji menuju bandara,” ujar Kepala Seksi Kesehatan PPIH Embarkasi Banjarmasin YR Patari.

Akibat gangguan kabut asap di Bandara setiap hari sejak Sabtu (29/9) hingga Senin (1/10) ada saja penerbangan yang tertunda.

Sebaran asap akibat hutan terbakar, ujar Kepala Dinas Kehutanan Kalsel Rachmadi Kurdi. Titik panas (hotspot) di provinsinya belakangan ini terus bertambah, bahkan jumlahnya meningkat 100 persen.

Pantuan satelit NOAA-18 (ASMC) 4 September terlihat 315 titik, sekarang sudah mencapai 615 titik.

“Jumlah hotspot Kalsel naik signifikan, apalagi hujan jarang sekali turun. Sementara perkiraan musim kemarau diperkirakan hingga akhir Obtober 2012,” kata Rachmadi Kurdi.

Kenyataan itu risaukan pula DPRD kalsel,hingga minta sosialisasi Peraturan Daerah (Perda) mengenai larangan pembakaran lahan atau populer disebut Perda Kalalatu lebih digalakkan lagi.

Permintaan itu disampaikan Wakil Ketua DPRD Fathurrahman berkaitan kian parahnya kabut asap di wilayah berpenduduk 3,6 juta jiwa yang terdiri 13 kabupaten/kota itu.

“Terlepas kebakaran lahan yang menimbulkan kabut asap itu karena sengaja atau tidak sengaja. Instansi pemerintah terkait, baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota di Kalsel agar lebih menggalakkan sosialisasi Perda kalalatu,” sarannya.

Berdasarkan Perda baik sengaja atau tidak sengaja dari perbuatan masyarakat yang menyebabkan kebakaran lahan, bisa dikenakan sanksi.
Bahaya asap


Kerisauan warga wajar lantaran asap bekas kebakaran hutan membahayakan kesehatan.

Berdasarkan catatan asap pembakaran menghasilkan polutan berupa partikel dan gas, partikel itu silika, oksida besi, dan alumina, gas yang dihasilkannya adalah CO,CO2,SO2,NO2, aldehid, hidrocarbon, dan fluorida.

Polutan ini, berpotensi sebagai iritan dapat menimbulkan fibrosis (kekakuan jaringan paru), pneumokoniosis, sesak napas, elergi sampai menyebabkan penyakit kanker.

Berdasarkan pedoman Depkes tentang pengendalian pencemaran udara akibat kebakaran hutan terhadap kesehatan ditetapkan katagori bahaya kebakaran hutan dan tindakan pengamanan berdasarkan ISPU.

ISPU <50 dikatagorikan baik tak ada dampak kesehatan, ISPU 51-100 dinilai sedang, juga tak ada dampak kesehatan, ISPU 101-199 sudah dikatagorikan tidak sehat.

Dalam katagori ini dapat menimbulkan iritasi pada saluran pernapasan, bagi penderita penyakit jantung gejalanya akan kian berat, pencegahannya gunakan masker aktivitas diluar rumah.

ISPU 200-299 sangat tidak sehat pada penderita ISPA, Pneumonia dan penyakit jantung akan kian berat, aktivitas rumah hendaknya dibatasi perlu persiapan ruang khusus.

ISPU 300-399 dikatagorikan berbahaya bagi penderita suatu penyakit gejalanya akan semakin serius, orang yang sehat saja akan merasa mudah lelah.

Pada katagori ini penderita penyakit ditempatkan pada ruang bebas pencemaran udara, aktivitas kantor dan sekolah harus menggunakan AC atau air purifier.

Sementara katagori terakhir sangat berbahaya ISPU 400>, saat ini berbahaya bagi semua orang, terutama balita, ibu hamil, orang tua, dan penderita gangguan pernapasan.

Dampak asap begitu luas, jangka pendek asap yang berupa bahan iritan (partikel) akibat pembakaran lahan berdampak negatif terhadap kesehatan.

Pengaruhnya dalam jangka pendek itu adalah niengiritasi saluran pernafasan dan dapat diikuti dengan infeksi saluran pernafasan sehingga timbul gejala berupa rasa tidak enak di saluran pernafasan.

Gejalanya seperti batuk, sesak nafas (pneumonia) yang dapat berakhir dengan kematian.

Selain itu asap juga mengiritasi mata dan kulit, mengganggu pernafasan penderita penyakit paru kronik seperti asma dan bronchitis alergika.

Sedang gas CO pada asap dapat juga menimbulkan sesak nafas, sakit kepala, lesu, dan tidak bergairah serta ada perasaan mual.

Dampak jangka panjang bahan-bahan mengiritasi saluran pernafasan dapat menimbulkan bronchitis kronis, emfisema, asma, kanker paru, serta pneumokoniosis.

Melihat kenyataan tersebut, perlu dilakukan pengendalian dampak asap pembakaran lahan dan hutan di wilayah ini.