AKTIVITAS PASAR TERAPUNG KIAN MERISAUKAN

Oleh Hasan Zainuddin

apung

Beberapa wisatawan mengakui agak kecewa setelah mengunjungi Pasar terapung (Floating Market) di Sungai Barito Banjarmasin, Kalimantan Selatan, lantaran aktivitas yang berada di atas sungai itu benar-benar berkurang.

“Saya pernah lihat kegiatan pasar terapung seperti di televisi swasta nasional RCTI yang ditayangkan berulang-ulang, oh begitu ramainya kegiatan pasar tersebut, tetapi setelah saya melihat sendiri, kok tidak seperti dalam tayangan RCTI Oke itu,” kata Hamzah, asal Jakarta.

Walau aktivitas pasar terapung tidak semarak dulu lagi, tetapi ia tetap merasa senang bisa berkunjung ke pasar tersebut.

“Tetap asyik dan menarik, dan saya bersama teman tetap puas berwisata sungai ke kawasan tersebut, seraya menikmati wisata susur sungai Martapura, dan Sungai Barito yang eskotik dan indah,” kata Hamzah seorang karyawan swasta.

Dengan berwisata susur sungai ke pasar terapung, ia merasakan nikmatnya kuliner khas soto Banjar, katupat balamak, lamang, nasi kuning, nasi pundut dan aneka makanan lainnya.

Dengan berwisata unik itu pula, mampu menikmati belanja makan dan minum di atas air seraya menyaksikan pemandangan hilir mudik aneka angkutan sungai, dan pemandangan sungai Barito lainnya.

Berdasarkan keterangan, aktivitas pasar yang satu-satunya berada di atas air di Indonesia itu belakangan tidak seperti itu lagi, karena sudah jauh berkurang baik jumlah pelaku transaksi di pasar itu maupun waktu kegiatannya yang sekarang hanya tinggal beberapa jam saja.

Para pedagang pasar terapung menyebutkan berkurangnya aktivitas di pasar tersebut lantaran prasarana darat ke berbagai pelosok desa di Banjarmasin dan daerah sekitarnya termasuk wilayah Kabupaten Barito Kuala sudah mulai membaik.

Dengan tersedianya jalan darat itu maka banyak pedagang yang tadinya memanfaatkan transportasi sungai berpindah ke daratan, dan mereka tidak lagi menggunakan sampan (perahu) melainkan menggunakan kendaraan roda dua yaitu sepeda motor.

Apalagi sekarang ini warga begitu mudah memperoleh sepeda motor setelah kian maraknya penawaran kendaraan tersebut dengan sistem kredit. Dengan sebuah sepeda motor para pedagang mudah mendatangi pasar grosir kemudian mudah lagi menjajakan dagangan masuk kampung keluar kampung melalui sarana modern itu.

Penyebab lainnya begitu banyak aktivitas kapal angkutan yang melintasi kawasan pasar terapung perairan Desa Kuin dan Alalak itu.

Beberapa buah kapal penyebarangan untuk mengangkut penumpang umum dan karyawan perusahaan antara Desa Kuin ke Handil Subarjo Kabupaten Barito Kuala bolak-balik melintas persis di tengah pasar terapung.

Tidak jarang kapal itu begitu kencang jalannya melahirkan gelombang air yang besar, dengan demikian pengguna jukung kecil yang biasanya paling banyak di pasar terapung itu menjadi takut terhantam gelombang itu, karena bila tidak hati-hati bisa tenggelam.

Ahmad Ariffin, seorang pemandu wisata menyayangkan berkurangnya aktivitas pasar terapung yang sudah begitu luas dikenal di kalangan wisatawan tersebut.

“Keberadaan pasar terapung itu telah menjejajarkan kepariwisataan Banjarmasin dengan kota lain seperti Bangkok, Hongkong, Venesia Italia,atau Amsterdam Belanda yang sama-sama memiliki pasar terapung,” katanya.

Bahkan pasar terapung Banjarmasin memiliki kelebihan tersendiri, lantaran kemunculannya secara almiah bukan rekayasa, pasar itu ada sesuai kebutuhan warga sekitarnya dan barang dagangan yang dijualpun adalah hasil alam seperti sayur-sayuran, buah-buahan, dan hasil pertanian lainnya termasuk kebutuhan pokok.

Keunikan lainnya, para pelaku di pasar ini didominasi ibu-ibu tua yang mengayuh jukung dengan dagangan aneka hasil pertanian,kemudian mengenakan pakaian sehari-hari dan bertopi besar yang disebut Tanggui.

Melihat keunikan itulah maka wajar jika menjadi magnet bagi wisatawan karena itu setiap kedatangan wisatawan baik secara perorangan maupun secara grup selalu saja minta rute kunjungan ke pasar terapung, kata Ahmad Arifin.

Oleh karena itu, wajar bila hal itu menimbulkan kerisauan banyak pihak setelah melihat aktivitas pasar terapung yang terus berkurang belakangan ini, dan bila tak ada upaya penyelamatan maka dikhawatirkan pasar yang khas tersebut akan hilang dan tinggal cerita saja lagi.

M Nur Sya'bani

Penyelamatan
Melihat kenyataan tersebut, maka banyak pihak yang merasa terpanggil untuk menyelamatkan keberadaan pasar terapung tersebut, diantaranya pemerintah itu sendiri dengan memberikan bantuan modal kepada para pelaku di pasar itu melalui koperasi.

Selain itu, pemerintah pusat melalui Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) juga pernah membantu sebuah kapal wisata yang refresentatif yang bisa digunakan untuk para wisatawan ke areal tersebut.

Bahkan pemerintah membangunkan sebuah dermaga wisata di tempat itu sekaligus membangun sebuah tempat penginapan agar wisatawan bisa menyaksikan kegiatan pasar terapung lebih awal setelah menginap di penginapan sederhana tersebut.

Pemprov Kalsel sendiri sudah beberapa kali menggelar festival pasar terapung, maksudnya tak lain agar kecintaan masyarakat terhadap pasar tersebut tetap lestari dengan demikian maka aktivitas itu diharapkan tidak berkurang.

Tak ketinggal Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin yang berusaha menyelamatkan pasar terapung melalui penyemarakan wisata susur sungai dengan menyediakan beberapa kapal wisata sungai yang representatif.

Belakangan Pemkot mencoba membentuk sebuah lokasi pasar terapung buatan yang bukan lagi berada di lokasi asal tetapi di pusat kota Banjarmasin sendiri, yakni di depan taman siring Sungai Martapura.

Pasar terapung buatan tersebut diagendakan hanya sekali seminggu yakni pada tiap hari minggu, dan harapanya lokasi itu bisa mengurangi kekecewaan jika wisatawan tidak lagi menemukan kesemarakan di pasar terapung aslinya Sungai Barito.

Pasar terapung buatan tersebut dibuka Wali Kota Banjarmasin, Haji Muhidin Minggu (10/2 ) lalu dengan mengumpulkan sedikitnya 60 pedaganga menggunakan sampan yang hilir mudik di sungai depan masjid Raya Sabilal Muhtadin tersebut.

Para pedagang tersebut diberikan subsidi, sehingga seandainya dagangan mereka kurang laku di lokasi baru tersebut,mereka tetap memperoleh keuntungan dari pemberian subsidi tersebut.

Menurut Muhidin aktivitas pasar buatan seminggu sekali ini tidak bermaksud merubah atau mematikan dimana tempat aslinya pasar terapung di Kuin atau di Lokbaintan Kabupaten Banjar, karena di dua tempat itu tidak mungkin di hilangkan lantaran sudah mendunia.

Sementara Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, Olahraga (Kadisbudparpora) Kota Banjarmasin Drs H Norhasan mengatakan pasar terapung di Sungai Martapura ini adalah untuk menghidupkan wisata pasar terapung di dua tempat aslinya.

“Kami tak ingin kebiasaan unik jual beli warga di pinggiran sungai yang hanya ada di daerah kita ini memudar, karena saat ini mulai banyak ditinggalkan pelakunya padahal menjadi wisata yang sudah mendunia,” katanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: