KEBUN RAYA BANUA KEMBANGKAN TANAMAN BERKHASIAT

Oleh Hasan Zainuddin

images

 

 

Kebun Raya Banua yang dibangun Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan seluas 100 hektare di kawasan Kota Banjarbaru akan difokuskan bagi pengembangan pembudidayaan tanaman berkhasiat.

Lokasi yang berada di sekitar kompleks perkantoran Pemerintah Provinsi Kalsel itu nantinya menjadi sarana pelestarian tanaman berkhasiat dan tanaman khas dari 13 kabupaten dan kota yang ada di provinsi paling selatan Kalimantan ini.

Seperti penuturan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Provinsi Kalsel Suriatinah, saat pencanangan pemanfaatan Kebun Raya Banua, Rabu (13/2) untuk mewujudkan lokasi tersebut sebagai tempat pelestarian tanaman berkhasiat maka selama tahun 2012 pihaknya sudah melakukan identifikasi jenis tumbuhan berkhasiat obat.

Identifikasi tanaman berkhasiat obat tersebut berada di enam kabupaten di Provinsi Kalsel, seperti Kabupaten Banjar, Tapin, Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Tengah, Balangan, dan Kabupaten Tabalong.

Dari hasil identifikasi itu ditemukan adanya 121 jenis tanaman khas Kalimantan yang masing-masing memiliki khasiat.
Pada 2013 ini, kata dia, akan dilakukan eksplorasi lebih intensif untuk mengetahui lebih dalam mengenai jenis tanaman khas Kalimantan, dan manfaatnya.

Saat ini, beberapa tanaman berkhasiat mulai dikembangkan melalui upaya persemaian bibit tumbuhan di Balai Pengkajian dan Pengembangan Pertanian Terpadu Tambang Ulang Kabupaten Tanah Laut. Selain itu, Kalsel juga mendapatkan bantuan berupa koleksi tanaman dari Kebun Raya Bogor.

Sementara Wakil Gubernur Kalsel, Rudy Resnawan saat bersamaan mengatakan, pembangunan kebun raya adalah inisiatif dari Pemprov Kalsel sendiri, dan terdapat tiga aspek yang dihasilkan di lokasi itu, yakni aspek pendidikan, kesehatan, dan pariwisata.

“Kebun raya ini bisa menjadi sarana pembelajaran, selain itu juga bisa menjadi destinasi wisata yang murah dan mudah diakses, sehingga kebun raya bisa jadi tujuan wisata baru,” katanya seraya menjelaskan Pembangunan Kebun Raya Banua dimulai Februari 2013, diawali pada lahan seluas delapan hektare.

Kepala Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor, Mustaid Siregar yang hadir pada pencanganan tersebut menambahkan, kebun raya sangat pas untuk dijadikan sarana pendidikan dan penelitian.

“Potensi tersebut harus terus dijaga, sehingga ke depan harus dibangun kepedulian bahwa kebun raya bukan hanya milik Pemprov Kalsel saja tetapi juga milik masyarakat,” katanya.

Pihak swasta, tambah dia, juga bisa diundang untuk berpartisipasi, mengembangkan potensi kekayaan hayati Kalsel tersebut.

Pencanangan kebun raya daerah milik Pemprov Kalsel itu dilakukan oleh Wakil Gubernur Kalsel Rudy Resnawan di Kantor Sekretariat Daerah Pemprov Kalsel, Jalan Aneka Tambang, Banjarbaru.

Selain dihadiri beberapa pejabat Pemprov Kalsel, pencanangan dihadiri oleh beberapa pejabat dari Kementerian Negara Riset dan Teknologi antara lain Staf Khusus Menteri Negara Riset dan Teknologi Bidang Media dan Daerah Gusti Nurpansyah.

Berdasarkan keterangan kebun raya di Kalsel ini lebih luas dari Kebun Raya Bogor yang hanya 85 hektare.

Bila Kebun Raya Bogor bisa menampung 12 ribu jenis tanaman, apalagi Kebun Raya Banua dengan luas 100 hektare, tentunya bisa menampung lebih banyak lagi jenis tanaman langka dan obat-obatannya.
Konon dalam pengembangan Kebun Raya Banua ini akan memperoleh pendampingan dari para ahli Kebun Raya Bogor dan sejumlah ilmuwan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia LIPI Kakarta, guna pembinaan SDM guna eksplorasi potensi hutan Kalsel dan juga memberikan pelatihan.

Bahkan kebun raya ini akan memperoleh masukan dari Kementerian Pekerjaan Umum untuk penataan kawasan yang ideal mengenai tata ruang kebun raya tersebut.

Kebun Raya Banua dibentuk berdasarkan Peraturan Gubernur Kalsel, terdiri lima blok, blokk A seluas 29,76 hektare sebelah utara, Blok B seluas 7,87 hektare sebelah barat, Blok C seluas 36,43 hektare sebelah barat, Blok D seluas 11,41 hektare sebelah selatan dan Blok E seluas 35,66 hektar sebelah timur.

Kebun ini akan menyimpan koleksi tumbuhan berkhasiat obat, misalnya ulin (kayu besi) yang berkhasiat menghitamkan rambut, tanaman Cempaka Cina di Kabupaten Hulu Sungai Utara berkhasiat sebagai obat sakit panas dalam, bisul dan dan sakit kepala.

Tanaman Kumpai Maling yang ditemukan di Desa Malinau, Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, daunnya berkhasiat untuk mengobat luka luar. Penawar Seribu yang tumbuh di Desa Mayanau, Desa Juh dan Desa Mauya Kabupaten Balangan, umbinya berkhasiat ampuh sebagai penawar racun, muntah darah dan sakit liver.
Obat Herbal
Era tahun 80-an hingga tahun 90-an berbagai produk jamu olahan masyarakat di provinsi ini begitu dikenal, bukan saja di wilayah sendiri bahkan diantarpulaukan.

Jamu olahan Kalsel yang terkenal tersebut, diantaranya jamu Sarigading, Jamu Pasak Bumi, Jamu Tabat Barito.

Bukan hanya jamu produk herbal olahan masyarakat Kalsel tersebut, tetapi juga salep yang terkenal dengan nama salep cap Dua Kokang, atau bedak mempercantik diri bagi kaum perempuan yang disebut “pupur bangkal”.

Obat-obatan herbal disebut di atas tersebut hanya yang terangkat kepermukaan, padahal masih segudang obat-obatan produk herbal olahan masyarakat Kalsel yang dibuat skala kecil dan tidak populer yang membuktikan wilayah ini “gudangnya” obat herbal.

Kepala Dinas Kesehatan Kalsel Rosihan Adhani belum lama ini pernah mengakui daratan ini kaya bahan obat herbal, makanya pemerintah mendukung pengembangan produk jamu tradisional yang berasal dari sumber daya alam lokal sebagai pengobatan alternatif.

Ia mengatakan, Kalsel merupakan konsumen jamu terbesar nasional sehingga sudah saatnya kini pemerintah dan masyarakat mengangkat citra obat tradisional tersebut.

Menurutnya Kalsel saatnya mengangkat potensi obat-obatan itu kepermukaan, mengingat 95 persen bahan baku obat berasal dari luar negeri.

“Kami sudah tertinggal dari Cina dan Korea dalam pengembangan obat tradisional. Sehingga kita ingin mempopulerkan potensi obat herbal, seperti Pasak Bumi, Tabat Barito, Sarang Semut jangan samapi dipatenkan negara lain dan kita akhirnya hanya jadi penonton dan konsumen saja,” ujarnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: