ECENG GONDOK GANGGU “KOTA SERIBU SUNGAI” BANJARMASIN

Oleh Hasan Zainuddin

ilung
Serangan gulma berupa eceng gondok menjadi gangguan serius di sejumlah sungai di Kota Banjarmasin, ibukota Provinsi Kalimantan Selatan, terutama musim hujan berkepanjangan belakangan ini yang dibarengi dengan banjir di kawasan hulu sungai.

Eceng gondok (Eichhornia crassipes) bukan saja terlihat di sungai Martapura dan Sungai Barito tetapi juga terlihat di hampir 74 sungai yang ada di kawasan yang berjuluk “kota seribu sungai” tersebut.

Keberadaan tanaman yang konon berasal dari Sungai Amazon tersebut benar-benar merepotkan kota yang sebagian besar wilayahnya perairan, karena serangan gulma ini bahkan mematikan beberapa sungai kecil.

eceng-gondok

Eceng gondok larut di atas air kadang kala menumpuk di lokasi tertentu dan menyita hampir separu sungai, dan bahkan beberapa kali tumpukannya nyangkut di dua jembatan terbesar kota ini, Jembatan Antasari dan Jembatan Pasar Lama.

Nyangkutnya tumpukan eceng gondok beberapa waktu lalu pernah menggunung peraktis menuputi sungai dan mamatikan angkutan air di kawasan tersebut.

“Kala itu saya sangat kasihan melihat para pemilik “klotok” (jenis angkutan penumpang sungai) yang biasanya beroperasi di jalur Sungai Martapura terpaksa menghentikan usaha mereka karena sungai tertutup,” kata Abdullah, warga setempat.

Banyak pihak merasa prihatin serangan eceng gondok itu hingga beberapa organisasi masyarakat (ormas) pun turun membersihkan sungai.

Pemkot Banjarmasin,Kalimantan Selatan melalui Dinas Sumberdaya Air dan Drainase (SDA) memang mengakui kerepotan menangani eceng gondok.

Menurut Kepala Dinas sda, Ir Muryanta serangan eceng gondok di banyak sungai di Banjarmasin, hingga sungai kotor bahkan banyak yang menyempit dan mendangkal dan selain menganggu keindahan juga mengganggu arus lalu-lintas sungai daerah setempat.

Di Banjarmasin terdapat 104 jumlah sungai dan hingga kini sekitar 74 sungai masih berfungsi, oleh karena itu perlu dijada dan dipelihara agar sungai tersebut tidak sampai mati seperti sungai sebelumnya.

Apalagi Banjarmasin dikembangkan menjadi sebuah kota berbasis kota wisata sungai, karena sungai Banjarmasin salah satu magnet memancing wisatawan ke kota ini.

Guna membenahi wisata sungai tersebut berbagai upaya sudah dilakukan, seperti pembuatan siring sungai penuh dengan taman-taman, warung kuliner, lanting, kedai terapung, rumah terapung, lokasi pasar terapung, dermaga, dan sejumlah armada wisata air yang disediakan pemerintah setempat.

“Jika sungai yang menjadi andalan pembangunan kota berpenduduk sekitar 700 ribu jiwa ini tak terpelihara, sulit mengembangkan menjadi sebuah wilayah kepariwisataan yang dikendaki,”katanya.

Guna mengurangi serangan eceng gondok tersebut, Pemkot Banjarmasin terus menyiwa kapal pembersih gulma dan sampah sungai dengan dana yang begitu besar setiap tahunnya.

“Kapal pembersih gulma dan sampah tersebut setiap hari bekerja, dan sekitar 60 ton 70 ton eceng gondok dibersihkan dari sungai per harinya,” kata Muryanta.

Menurut Muryanta, saat musim penghujan ini jumlah eceng gondok tersebut walau terus dibersihkan tetapi tetap saja banyak dipermukaan air sungai, karena bila satu lokasi di bersihkan maka tak lama datang lagi hamparan eceng gondok itu, karena terbawa arus yang datang dari berbagai penjuru sungai.

Lain hal disaat kemarau bila satu lokasi dibersihkan maka lokasi itu dalam waktu tertentu tetap bersih, karena pergerakan air tidak sederas seperti penghujan.

“Kami benar-benar kerepotan olah eceng gondok ini,bayangkan saja satu lokasi yang sudah bersih dari serangan eceng gondok pada keesokan harinya lokasi itu sudah penuh lagi dari tanaman itu, karena terbawa larut oleh arus air yang datang dari hulu sungai,”tuturnya.

Ditanya keberadaan kapal pembersih gulma disebutkannya sewaan dari seorang pengusaha di Kota ini yang berhasil mengubah sebuah kapal biasa menjadi sebuah pembersih gulma hingga bermanfaat untuk merevitalisasi sungai.

ilung dijembatan

Eceng Gondok nyangkut di jembatan
Bikin Perangkap
Selain tetap menyewa kapal pembersih eceng gondok yang disebut kapal “sapu-sapu” Pemkot Banjarmasin pun berencana membuat alat perangkap eceng gondok yang larut di sungai tersebut.

Menurut Muryanta, perangkap eceng gondok itu akan dibuat di permukaan air Sungai Martapura, tepatnya di kawasan ada tikungan aliran sungai sehingga tanaman air yang larut ini bisa teperangkap.

Alat itu bukan perangkap sederhana terbuat dari bambu yanga dibentangkan di atas sungai, tetapi dibuatnya dengan teknologi cukup modern dengan tiang beton.

“Ini masih kami perhitungkan, tapi pastinya tiang pancangnya dari beton. Kalau pelampungnya bisa terbuat dari besi atau karet, Sebab kalau alat biasa saja saja tidak mungkin tahan lama,” tuturnya.

Dijelaskan anggaran yang dialokasikan untuk mewujudkan program mengatasi masalah sampah sungai kiriman dari hulu sungai ini sekitarr Rp800 juta.

Selain akan membangun itu, pihaknya juga akan memohon tim pembebasan lahan Pemkot untuk penyediaan lahan pembuangan sampah eceng gondok di sekitar Banua Anyar itu, agar tidak terlalu jauh membuangnya.

Sebab, hasil buangan tanaman yang pertama kali ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang ilmuwan bernama Carl Friedrich Philipp von Martius, seorang ahli botani berkebangsaan Jerman pada tahun 1824 tersebut akan dikelola.

Eceng gondok bermanfaat untuk dijadikan pupuk, makanya rencanakan yang terperangkap di alat itu tidak dibuang begitu saja, tapi akan dimanfaatkan dan diolah sebagai pupuk kompos, terangnya.

“Silahkan bila ada yang berminat mengelola sampah eceng gondok menjadi barang berharga, selain dib uat pupuk kompos tanaman itu juga bisa dibuat bahan industri dan punya prospek cerah,” kata Muryanta.

Untuk mengurangi serangan eceng gondok itu harus ada perubahan pradiga, eceng gondok yang selama ini dianggap gulma harus menjadi barang beharga dikemudian hari.http://www.youtube.com/watch?v=ZTyr1qvMVJE

Bila tidak demikian maka sulit menangkal serangan tanaman tersebut karena memiliki kecepatan tumbuh yang tinggi dengan mudah menyebar melalui saluran air ke badan air lainnya.

sapu2

Kapal sapu2 pembersih eceng gondok

PENULARAN HIV/AIDS “MENGUSIK” WARGA KALSEL

Oleh Hasan Zainuddin

aids
Warga Penghuni wilayah paling selatan pulau terbesar Indonesia Kalimantan, kini kian terusik penularan penyakit Human Immunodeficiency Virus (HIV) and Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS), padahal belakangan kian gencar penanggulangan berbagai penyakit menular lainnya guna menuju masyarakat sehat.

Terungkapnya penyakit tersebut tentu menimbulkan tanda tanya besar banyak pihak mengingat wilayah ini termasuk wilayah agamis.

Mengapa penyakit yang sebagian besar berjangkit di lokasi pristitusi merebak di wilayah yang sebenarnya “mengharamkan” lokalisasi.

Kasus HIV/AIDS menimbulkan dugaan adanya praktek pristitusi terselubung di tempat-tempat terselubung pula, yang menerpa wilayah ini, dan ditengarai selain ditempat hiburan malam, perhotelan, kafe-kafe, lokasi karaoke atau bahkan di lokasi pertambangan batubara yang menjamur di wilayah Kalsel.

Konon banyak pekerja tambang berasal dari luar daerah bekerja di Kalsel tanpa isteri,kemudian “jajan” ke lokasi “remang-remang” ilegal dekat tambang, atau lokasi lain yang bisa menyebarkan penularan panyakit menakutkan itu.

Penularan ini pula diduga akibat kian merebaknya penyalahgunaan narkoba melalui jarum suntik, serta kegiatan seks yang menyimpang.

Peningkatan jumlah penderita HIV/AIDS di Kalsel ternyata menjadi sorotan Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi.
Saat mengunjungi Banjarmasin (27/2) lalu menyatakan jika angka tersebut terus meningkat, maka akan menjadi bencana bagi Kalsel.

“Ini merisaukan, kalau HIV/AIDS tidak dikendalikan, maka capaian pengurangan penyakit menular lainnya tidak berguna,” ujarnya dihadapan Gubernur Kalsel H Rudy Ariffin dan jajaran kesehatan setempat.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Kalsel, dari 2002 hingga 2012, angka kasus HIV/AIDS sudah menembus melebihi angka 200 kasus, dan Itupun diduga, masih banyak kasus HIV/AIDS yang belum terdata.

Padahal dalam kasus penyakit tersebut biasanya satu orang yang terdata diduga masih ada sepuluh orang lainnya yang terjangkit tapi belum diketahui,dengan demikian tentu mengusik ketentraman warga yang selama ini sudah merasa agak “aman” dengan kian berkurangnya serangan penyakit, TBC, DBD, malaria, dan penyakit menular lainnya.

Apalagi berdasarkan data kasus HIV/AIDS justru paling banyak menular dikalangan generasi muda yang sebenarnya menjadi pemegang tongkat estapet pembangunan wilayah 13 kabupaten dan kota serta berpenduduk 3,6 juta jiwa itu.

Yang merisaukan pula kasus HIV/AIDS di Kalsel juga menyerang ibu rumah tangga, yang sebenarnya kelompok yang jauh darikegiatan yang bisa menularkan HIV/AIDS.

Kasus HIV di Kalimantan Selatan tertinggi terdapat pada remaja usia produktif yang berumur antara 20-29 tahun yaitu mencapai 50 persen dari total kasus HIV hingga Desember 2012 sebanyak 325 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan Akhmad Rusdianyah di Banjarmasin, Kamis mengatakan, berdasarkan estimasi Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) nasional pada 2009, di Kalimantan Selatan terdapat 948 orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

“Sejak 2002 sampai dengan Desember 2012 sudah ditemukan atau dilaporkan HIV/AIDS sebanyak 587 kasus atau 61,9 persen dari estimasi yang ditetapkan tersebut,” katanya.

Khusus HIV/AIDS, kata dia, prosentase kumulatif HIV tertinggi pada kelompok umur 20-29 tahun, sebanyak 40,6 persen, selanjutnya umur 30-39 tahun sebanyak 18,6 persen, dan 40-49 senbanyak 4,9 persen.

Dari 325 kasus HIV tersebut, sebanyak 68,3 persen terjadi pada perempuan, terutama pada penjaja seks komersial sebanyak 183 kasus, 17,8 persen pada laki-laki dan sisanya 13,9 persen tidak diketahui.

Selanjutnya, yang sangat memprihatinkan, penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh tersebut kini juga sudah menyerang ibu rumah tangga dengan kasus yang telah ditemukan sebanyak 18 orang.

Penyakit ini juga ditemukan pada warga binaan sebanyak 44 orang dan tenaga non profesional 22 kasus.

Jumlah kasus HIV tertinggi, tambah Rusdiansyah, di Kabupaten Tanah Bumbu sebanyak 149 kasus, Kota Banjarmasin 68 kasus, Banjarbaru, 36 kasus, Kotabaru 16 kasus dan Kabupaten Banjar 13 kasus.

Sedangkan untuk AIDS, sampai dengan Desember 2012 mencapai 262 kasus, dengan kasus tertinggi terjadi pada ibu rumah tangga sebanyak 41 kasus, tenaga non profesional 34 kasus, penjaja seks 18 kasus dan lain-lain 9 kasus.

Daerah terbanyak penderita AIDS yaitu, Banjarmasin, 121 kasus, Banjarbaru, 25 kasus, Tanah Bumbu 25 kasus, Kotabaru, 16 kasus, dan Tabalong sebanyak 13 kasus.

Menurut Rusdiansyah, faktor resiko penularan AIDS tertinggi adalah hubungan seks tidak aman yaitu 88,2 persen dan melalui jarum suntik narkoba dan lainnya sebanyak 11,7 persen.

aids1

Pencegahan
Pihak Dinas Kesehatan Kalsel sendiri selalu melakukan penyuluhan agar penyakit tersebut tidak meluas, terutama penyuluhan di kalangan pelajar,mahasiswa, dan masyarakat umum, khususnya mereka yang beresiko tinggi terjangkit virus yang belum ada obatnya tersebut.

Bahkan di Kalsel dan beberapa kabupaten dan kota di wilayah ini membentuk sebuah lembaga khusus menanggulangi penyakit ini yaitu Komisi Penanggulangan Aids (KPA) , serta lembaga lainnya.

Kota Banjarmasin yang juga banyak kasus HIV/AIDS sudah mengantisipasi penularan tersebut dengan berbagai cara, salah satunya mengkhususnya sebuah Puskesmas untuk melakukan perawatan penyakit tersebut.

Puskesmas yang dipilih melakukan penanganan penyakitHIV/AIDS adalah Puskesmas Pekauman, dimana petugasnya dilatih mengenai penangananh HIV/AIDS serta dilengkapi dengan berbagai peralatan.

Di Banjarmasin sendiri penanggulangan penyakit HIV/AIDS terlihat kian gencar saja, dengan melakukan sosialisasi terhadap masyarakat luas hingga ke daerah pinggiran, ke tempat hiburan malam, lembaga pemasyarakatan, serta pengambilan simpel darah.

Untuk mencegah penularan penyakit ini di Banjarmasin, yakni membentuk aturan melalui Perda.

“¿Melihat sudah banyaknya warga Banjarmasin terjangkit HIV/AIDS, maka dipandang perlu adanya aturan berupa Perda guna menangkal penyakit itu,¿ kata anggota DPRD Banjarmasin, M Dafik As¿ad.

DPRD Kalsel juga tak tinggal diam, bersama instansi/pihak terkait akan membahas masalah HIV/AIDS. “Ya nanti kita bicarakan dengan pimpinan dewan atau ketua komisi, untuk mengundang instansi/pihak terkait permasalahan HIV/AIDS,” ujar Wakil Ketua Komisi IV bidang kesra DPRD Kalsel H Budiman Mustafa.

Kasus HIV/AIDS ini juga mencuat kepermukaan saat seminar kependudukan kerjasama antara Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Kalsel dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) setempat.

Dalam seminar tersebut meminta BKKBN meningkatkan perannya terutama menggalakan pemakaian kondom, atau memberikan penyuluhan yang lebih gencar lagi mengenai kesehatan alat produksi (Kespro).

Kepala BKKBN Kalsel, Sunarto mengakui masalah HIV/AIDS telah menjadi perhatian, tetapi porsi program penanggulangan penyakit tersebut relatif agak kecil dibandingkan program lainnya.

Masalah pemakaian kondom atau KB pria bagian dari upaya penanggulangan penyakit HIV/AIDS, begitu juga mengenai masalah-masalah kesehatan reproduksi yang selalu ditekankan terjangkitnya penyakit kelamin termasuk HIV/ADIS