HARGA BAWANG RISAUKAN WARGA BANJARMASIN

Oleh Hasan Zainuddin

bawang2
Banjarmasin,17/3 (Antara)- “Berapa harga bawang merah ini,” kata seorang pembeli kepada seorang pedagang sayuran di bilangan Pasar Sungai Andai, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin Kalimantan Selatan.

“Rp14 ribu, seperempat kilogram,” kata pedagang tersebut, “wah tetap mahal ya berarti Rp56 ribu per kilogram” kata pembeli lagi.

Harga bawang merah mahal di kota berpenduduk sekitar 700 ribu jiwa tersebut memang sudah berlaku sepekan belakangan ini, dan itu melahirkan berbagai kerisauan banyak pihak, terutama kalangan ibu rumah tangga dan pedagang makanan di kota setempat.

Pasalnya, sudah hampir dipastikan bawang merah selalu menjadi bahan untuk bumbu masak makanan khas setempat, seperti soto Banjar, lontong, nasi kuning, rawon, ketupat kandangan,laksa, dan makanan khas Banjar lainnya.

Salah satu jenis makanan yang wajib menggunakan bawang merah adalah sambal terasi, tanpa bawang merah maka makanan ini benar-benar seperti tidak berarti apa-apa.

bawang1

“Nih gara-gara harga bawang merah mahal,kami terpaksa menyajikan sambal terasi tidak sebanyak biasanya kepada para konsumen kami, guna menekan kerugian,” kata Mahmudah seorang pemilik warung makanan khas Banjar di bilangan Kayu Tangi Banjarmasin.

Dalam makanan khas Banjar, seperti makanan ikan bakar seperti papuyu baubar, paisan patin, haruan panggang, gangan asam haruan, yang disajikan bersama gangan waluh, gangan humbut, gangan tungkul, tarung bajarang dan pucuk gumbili bajarang wajib ada sambal terasi.

Dengan mahalnya harga bahan yang didatangkan dari Pulau Jawa tersebut membuat persoalan baru di kalangan para pedagang makanan yang berada di wilayah yang berjuluk “kota seribu sungai” tersebut.

Persoalan juga dihadapai kalangan ibu rumah tangga, setelah harga bawang merah mahal maka porsi uang yang akan dibelikan ke bahan lain menjadi berkurang.

“Repot juga ya, setelah harga bawang merah naik maka porsi beli ikan dikurangi, sebab mau tak mau kita tetap beli bawang,” kata Nor Aida ibu rumah tangga di ilangan Sungai Andai.

Kenaikan harga bawang tersebut telah membuka mata banyak pihak bahwa komoditi tersebut begitu sangat berarti yang harus dicarikan solusi dalam pembudidayannya agar tidak terpaku pada produksi daerah tertentu saja.

Apalagi lahan untuk pembudidayaan bawang merah sebanarnya begitu luas di berbagai daerah tinggal bagaimana masyarakat dengan dorongan pemerintah bisa berkomitmen mengembangkan komoditi tersebut.

Di wilayah Kalimantan Selatan sendiri memang belum terdengar adanya petani mengembangkan pertanian tersebut, karena selama ini terjebak oleh kebiasaan membeli bawang dari Pulau Jawa khususnya brebes atau dari Nusa Tenggara Barat (NTB).

Padahal alam Kalsel berdasarkan keterangan relatif ideal untuk tanaman yang disebut sudah dikenal oleh bangsa Mesir kuno sejak 5.000 tahun silam itu.

Sebagai contoh saja, lahan di Kapuas Murung Kalimantan Tengah yang berjarak sekitar 40 kilometer dari Banjarmasin berbahasil mengembangkan bawang merah.

Kepala Seksi Pengembangan Buah dan Sayuran Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (Distantura) Kabupaten Kapuas, Teguh Setio Utomo di Kuala Kapuas, mengatakan hasil inisiasi yang telah dilakukan di wilayah setempat memiliki lahan yang cocok untuk tanaman bawang merah ((Allium ascolonicum L).

“Agroklimat di Kecamatan Kapuas Murung cocok untuk bawang merah, karena tanahnya hampir sama pada sentra bawang merah di Brebes Jawa Tengah dengan produktivitas bawang merah yang cukup bagus dalam setiap hektarnya antara 6-7 ton per hektar,” katanya.

Hanya saja, katanya, karena bawang merah ini merupakan produk sayuran yang tidak tahan lama disimpan karena kadar air tinggi maka dalam pengembangannya masih banyak terdapat kendala.

Kendala yang dihadapi oleh petani di Kecamatan Kapuas Murung yakni teknologi penyimpanan bawang merah masih sederhana karena hanya melalui proses penjemuran untuk pengeringan dan disimpan.

“Yang lebih parahnya, produktivitas bawang merah akan turun jika penanamannya dilakukan pada musim hujan, karena tidak tahan terhadap hama dan penyakit yakni layu daun sehingga ini yang menyebabkan budidayanya cukup rumit untuk dikerjakan oleh petani,” katanya.

Ia juga mengatakan tanah di Kabupaten Kapuas memang cocok untuk budidaya bawang merah serta bawang daun, namun tidak cocok untuk budidaya bawang putih.

Sehingga untuk mencukupi kebutuhan bawang merah maupun bawang putih maka dipasok dari luar daerah yang dampaknya ketika terjadi lonjakan harga tidak dapat distabilkan dari produksi bawang merah yang ada di Kabupaten Kapuas karena sifatnya masih inisiasi dan tidak dalam skala besar.

Lain lagi cerita di Desa Sungai Gohong, Kecamatan Bukit Batu, Palangkaraya, atau sekitar 140 Km dari Banjarmasin dimana petani setempat mencoba mengembangkan bawang merah ternyata berhasil dengan produksi hampir 10 ton per hektare setiap tahun.

Melihat keberhasilan itu bisa menjadi inspirasi warga lainnya yang alam sama termasuk Kalsel yang memiliki lahan terlantar sekitar 500 ribu hektare mengembangkan komoditi tersebut.
Distribusi

310306-18-Tiga petani pilih bawang merah untuk jadikan benih
Berdasarkan sebuah tulisan karya mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjary, Kalsel menjadi salah satu daerah yang saat ini terus dikembangkan, dengan luas sekitar 3.753.052 hektare atau 37.530 km2.

Dengan luas demikian sangatlah potensial terutama sektor pertanian menjadi salah satu sektor yang memiliki prospek besar untuk meningkatkan ekonomi daerah selain pertambangan dan perdagangan.

Namun meskipun potensial, dari sisi pemenuhan kebutuhan beberapa komoditas saat ini masih menempati jajaran belakang yang artinya
penyediaan akan komoditas tersebut masih tergantung dengan daerah lain khususnya Jawa, misalnya untuk kebutuhan sayur-sayuran jenis bawang.

Di Kalsel pada tahun 2008 rata-rata pengeluaran masyarakat untuk
sayuran termasuk juga bawang sebesar Rp13.704,- per kapita per bulan.
Jumlah tersebut naik 9,04 persen dari tahun 2007 yang sebesar Rp 12.465,- per kapita per bulan.

Dibandingkan pengeluaran masyarkat terhadap bahan konsumsi yang lain misalnya daging, rata-rata per kapita per bulannya pada tahun 2008 di Kalsel hanya Rp5.875,- dan buah-buahan Rp12.322,-.

Selama ini pasokan bawang merah yang masuk ke Kalsel berasal
dari Bima dan Jawa. Di Jawa sentra-sentra produksi bawang merah adalah Brebes, Cirebon, Kendal, Nganjuk dan Probolingo.

Hasil survei tahun 2010, responden menyatakan pengiriman selain dari Bima juga dari surabaya. Sedangkan bawang putih dipasok terutama dari Wonosobo dan Malang lewat Surabaya.

Bawang merah yang diperdagangkan di wilayah Banjarmasin khususnya dan Kalsel pada umumnya dipasok dari Jawa (Surabaya) dan Nusa Tenggara Barat (Bima).

Dari Banjarmasin inilah komoditas tersebut menyebar ke seluruh wilayah Kalsel.

Pembelian bawang merah yang di lakukan oleh pedagang besar
di Banjarmasin berkisar antara 27,83 – 36,13 ton per bulan.
Tingginya permintaan bawang merah di masyarakat selain memang untuk bumbu dapur juga untuk kesehatan.

Penelitian kesehatan menyebutkan bawang merah bisa mencegah kanker karena kandungan sulfurnya. Umbi lapisnya mengandung zat-zat seperti protein, lemak, kalsium, fosfor, besi, vitamin B1 dan C.

Bawang merah mengandung kalori, karbohidrat, lemak, protein, dan serat makanan. Serat makanan dalam bawang merah adalah serat makanan yang larut dalam air, disebut oligofruktosa.

Kandungan vitamin bawang merah adalah vitamin A, vitamin B1 (tiamin), vitamin B2 (G, riboflavin), vitamin B3 (niasin), dan vitamin C. Bawang merah juga memiliki kandungan mineral di antaranya adalah belerang, besi, klor, fosfor, kalium, kalsium, magnesium, natrium, silikon, iodium, oksigen, hidrogen, nitrogen, dan zat vital nongizi yang disebut air.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: