IKAN KERING SEJAHTERAKAN WARGA KALSEL

Oleh Hasan Zainuddin

iwak karing
Bila kebetulan berkunjung ke Banjarmasin, khususnya ke Pasar Ahad Kertak Hanyar akan melihat sederetan ibu-ibu berjualan ikan kering sepat, haruan, biawan,pepuyu dan aneka ikan kering air tawar lainnya.

Dari lokasi inilah biasanya banyak pengunjung membeli ikan kering untuk oleh-oleh lantaran produksi ikan kering di lokasi ini terkenal tawar tidak asin.

Banyak pendatang ke Banjarmasin selain bertamasya juga hanya mencari ikan kering air tawar atau air rawa produksi setempat, dan konon sangat diminati warga yang berada di Pulau Jawa khususnya Jakarta.

Ibu Siti, seorang pedagang ikan kering di Pasar Kertak Hanyar mengakui tingginya minat pembeli terhadap dagangannya, tetapi yang paling ramai pembelinya pada hari Minggu.

Selain banyak menjual secara eceran di Pasar kertak Hanyar, Ibu Siti juga melayani pesanan.

“Kami banyak memperoleh pesanan, dari kalangan hotel, pemandu wisata, atau pengelola wisata lainnya, guna memenuhi permintaan wisatawan di wilayah ini,” kata Ibu Siti.

Menurut dia, agar lebih menarik ikan gabus atau sepat kering ukuran sedang pada saat proses pengeringan diletakkan satu per satu hingga membentuk formasi melingkar antara 20 hingga 30 ekor.

Pembentukan formasi ikan kering kering itu di saat penjemuran seperti itu menyebabkan ikan yang satu dan yang lainnya saling menempel kuat bagaikan kena lem.

-ikan sepat

Dengan formasi ikan kering yang demikian maka saat dipajang tampak begitu bagus, dan menarik dipandang para pembeli.

Kemudian agar lebih menarik lagi, disediakan alat khusus yang disebut bakul purun (tas kecil terbuat dari anyaman tanaman purun) lalu ikan itu diletakkan di dalam bakul itu hingga mudah menjinjingnya.

“Biasanya, para wisatawan lebih suka yang sudah disediakan seperti ini,” kata ibu Siti, seraya mengangkat satu bakul purun berisi dua kilogram ikan kering tersebut.

Menurut Masdulhak tak heran bila produk ikan kering ini menjadi bagian dari daya tarik wisatawan ke Kalsel.

Banyak wisatawan nusantara yang datang secara rombongan ke Banjarmasin menyempatkan diri minta antarkan kelokasi penjualan ikan kering seperti ke Pasar Ahad Kertak Hanyar, ke Pasar Sentra Antasari, ke Pasar Lima, atau Ke lokasi Pasar Lama.

Para pendatang tersebut agaknya lebih meminati membeli ikan kering ketimbang oleh-oleh lain, seperti kain, makanan ringan, kerajinan, atau buah-buahan.

Menurut banyak penuturan pendatang, kata Masdulhak, ikan air tawar yang dikeringkan produksi Kalsel itu lebih enak, khususnya ikan gabus kering dan sepat kering.

“Konon ikan kering itu hanya digoreng saja, lalu makan nasi bersama sayur bening, terasa nikmat,”kata Masdulhak meniru penuturan wisatawan.

Oleh karena itu sebuah kesempatan bagi mereka saat datang ke Kalsel membeli ikan kering dengan jumlah relatif banyak agar bisa dimanfaatkan lama atau dibagi-bagi lagi ke tetangga setelah datang ke kampung mereka.

Melihat tingginya minat pembeli ikan air tawar kering itu menimbulkan kegairahan petani atau nelayan berproduksi ikan kering,hal itu bisa dilihat di sentra-sentra perikanan air tawar, seperti di kawasan Kertak Hanyar, Gambut, Aluh-aluh, Sungai Tabuk Kabupaten Banjar.

iwak karing1

Atau daerah rawa Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kabupaten Tanah Laut dan Barito Kuala, sehingga meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Harga ikan kering setempat memang bervariasi tetapi di Banjarmasin, ikan kering gabus kualitas baik Rp60 ribu per kilogram tetapi kualitas sedang Rp40 ribu per kilogram, sementara harga sepat kering Rp40 ribu per kilogram ukuran baik dan Rp30 ribu per kilogram ukuran sedang.
Sentra HSU
Sentra produk ikan kering terbesar di Kalsel justru berada di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) karena kawasan tersebut memiliki kawasan rawa monoton sekitar 40 ribu hektare yang kesemuanya berpotensi menghasilkan ikan air tawar tersebut.

Menurut Wahyudi petugas seorang Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Perikanan HSU, produk ikan kering setempat sungguh diminati, dan pemasarannya hingga kenegri jiran Malaysia.

Menurutnya produk ikan kering HSU yang diolah oleh kelompok petani beberapa lokasi, melalui para pedagang banyak diantarpulaukan ke berbagai kota besar di tanah air,seperti Surabaya, Bandung, dan Jakarta.

Ia mencontohkan, salah satu lokasi sentra produksi ikan kering HSU, adalah Desa Pajukungan, yang pemasarannya bahkan sudah mencapai Pulau Jawa yang kemudian diteruskan penjualannya hingga ke Negeri Jiran Malaysia tersebut.

Para pelaku usaha pengolahan ikan kering yang memiliki modal besar di desa ini sudah lama melakukan penjajakan pemasaran Ikan kering ke beberapa kota di Pulau Jawa, seperti Jakarta, Bandung dan Surabaya.

“Dari Kota Bandung oleh pedagang setempat produk ikan kering ini kemudian dipasarkan hingga ke wilayah Malaysia” Ujarnya lagi.

Sebelum berdirinya Kelompok Pengolahan dan Pemasaran Ikan (KPPI) Usaha Bersama Desa Pajukungan Hulu pada April 2011, warga masih sendiri-sendiri dalam pengolahan dan pemasaran ikan kering, terkadang dijual kepada pedagang pengumpul dengan keuntungan kecil.

Namun sejak Kelompok Usaha Bersama berdiri, warga bisa turut menikmati keuntungan pemasaran yang lebih baik lagi.

Pada awalnya berdirinya kelompok ini hanya bertujuan untuk memanfaatkan satu unit gudang pengolahan perikanan beserta peralatannya bantuan dari Dinas Perikanan HSU yang saat itu sempat terbengkalai karena kurang dimanfaatkan tani nelayan setempat.

Namun melihat potensi perikanan yang cukup besar di Desa Pajukungan Hulu dan sekitarnya, membuat sejumlah tokoh masyarakat setempat tertantang untuk memanfaatkan gudang pengolahan perikanan tersebut dengan kelompok pengolahan dan pemasaran ikan ‘Usaha Bersama’.

Menurut pihak pengelolanya, selain berhasil memanfaatkan gudang bantuan pemerintah, melalui usaha ini juga membuka lapangan kerja
masyarakat setempat yang memang memiliki keahlian turun temurun dalam hal pengolahan ikan kering.

“Dengan adanya kelompok ini juga turut membantu kegiatan pasca panen sebagai upaya meningkatkan kualitas dan nilai tambah produk
perikanan sehingga semakin meningkatkan pendapatan masyarakat” ujar Ketua kelompok H Khairan.

Karena bahan baku ikan mudah di dapat, khususnya ikan gabus dan ditunjang tenaga kerja dan pemasaran yang sudah terbuka lebar
khususnya ke Pulau Jawa membuat KPPI Usaha Bersama cukup berkembang.

Bahkan oleh Dinas Perikanan dan Peternakan HSU dijadikan wakil pada penilaian UKM Pengolahan hasil perikanan tingkat Kalimantan Selatan dan berhasil menyabet juara III pada 2012 kemaren.

Kini aktivitas pengolahan ikan kering menjadi salah satu mata pencaharian utama warga Desa Pajukungan Hulu, setiap memasuki Maret – September aktivitas warga yang menjemur ikan sudah menjadi pemandangan yang biasa setiap memasuki desa ini.

Jalan desa yang semestinya diperuntukan bagi sarana transportasi bertambah fungsi menjadi areal penjemuran ikan mengingat terbatasnya
pematang yang bisa dijadikan tempat untuk penjemuran ikan.

Sementara bahan baku ikan untuk di olah menjadi ikan kering tidak sulit di dapat, meski terkadang untuk mendapatkan kualitas ikan yang lebih bagus para pengusaha ikan kering di desa ini juga mendatangkan bahan baku ikan dari luar Kabupaten HSU seperti dari Propinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah.

Peluang usaha dari KPPI Usaha Bersama ini semakin terbantu dengan adanya Fasilitas Gudang Pendingin (Cold Storage) milik Dinas Perikanan HSU sehingga dapat membantu produksi ikan kering selama satu tahun penuh.

Khairan lebih jauh memaparkan, perbandingan ikan segar setelah menjadi ikan asin adalah 3:1 misal dalam 21 ton ikan segar yang di olah dalam satu bulan menghasilkan ikan kering seberat hanya 7 ton.

Keuntungan yang diperoleh pada penjualan di pasar lokal berkisar Rp37 juta hingga Rp50 juta per bulan dan akan semakin meningkat apabila semakin banyak permintaan dari luar daerah.

Namun Khairan mengaku masalah permodalan menjadi hal klasik yang dihadapi UKM di mana pun, termasuk KPPI Usaha Bersama Desa Pajukungan Hulu Kecamatan Babirik ini.

Sebagian besar modal, katanya masih berasal dari pinjaman pihak ketiga, sehingga keuntungan yang didapat tidak maksimal karena harus
berbagi keuntungan dengan penyandang modal.

Dari Dinas Perikanan dan Peternakan HSU telah membantu memberikan modal melalui pinjaman Usaha Pelayanan Pengembangan (UPP) Usaha Perikanan namun masih dalam jumlah kecil.

Berdasarkan catatan, dengan luasnya kawasan perairan air tawar atau rawa Kalsel memberi peluang peningkatan produksi perikanan yang bisa memberikan kesejahteraan, dan produksi ikan tersebut tercatat sekitar empat ribu ton ikan gabus per tahun dan sekitar lima ribu ton ikan sepat per tahun.

iwak karing2

MENGEREM PENULARAN HIV/AIDS MELALUI KONDOM

Oleh Hasan Zainuddin

colored condoms - farbige kondome
Sejumlah wartawan peserta workshop peliputan dan penulisan berita HIV/AIDS diminta memegang masing-masing sebuah kondom.

Seorang peserta putri yang berstatus gadis, begitu seksama memperhatikan bentuk kondom yang tebuat dari karet itu. Sesekali ia tersenyum, lalu memegang kondom.

“Kondom ini kemungkinan sudah pernah dipakai,” kata putri yang mengaku baru menggeluti dunia wartawan di salah satu media di Banjarmasin tersebut.

“Tidak pernah dipakai, kondom itu baru,” kata Syaiful Harahap yang dikenal sebagai pemimpin redaksi situs online http://www.Aidsindonesia.com.

“Tapi ini kok ada cairannya yang masih melekat,” kata putri sambil tertawa, “Itu cairan pelicin, jadi kalau kondom ini digunakan bisa lancar,” kata Syaiful yang dalam pelatihan itu bertindak sebagai narasumber.

“Apa benar kondom ini aman dari penularan HIV/AIDS,” kata Anang, peserta lainnya. “Ya lah kan ini dirancang untuk kuat menahan cairan air mani laki-laki agar tidak bersentuhan dengan cairan vagina perempuan,” kata Syaiful Harahap pula.

Selain diperlihatkan kondom untuk laki-laki yang bentuknya memanjang ada kantungan kecil di ujung kondom itu, juga diperlihatkan kondom perempuan bentuknya seperti tanaman kantong semar.

“Kalau ini buatan Indonesia, memang kata pemakainya agak ada rasa kurang enak, kalau ini kondom perempuan buatan luar negeri, katanya sih enakan kalau dipakainya, sayangnya kondom buatan luar negeri ini sulit dicari di tempat kita,” kata Syaiful Harahap.

Untuk memperkenalkan aneka jenis kondom tersebut, penyelanggara workshop, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kalsel membentuk beberapa kondom seperti balon-balon dengan aneka warna warni, peserta dipersilahkan memperhatikan kondom-kondom tersebut.

Workshop 2-4 April 2013 di Banjarmasin yang diikuti 19 utusan media massa cetak dan elektronik serta utusan pemerintah yang ada di kota ini, guna meningkatkan pengetahuan wartawan tentang HIV/AIDS sehingga bisa menulis berita dan reportase yang komprehensif dan menjadikan berita HIV/Aids sebagai berita rutin di media massa.

Menurut berbagai catatan, HIV adalah salah satu virus yang hidup di dalam tubuh manusia.

Virus adalah jasad renik yang tidak dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop biasa, hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop elektron, yang menyebabkan dan menularkan penyakit pada manusia, flora dan fauna.

kondom wanita

kondom wanita

HIV (Human Immunodeficency Virus) termasuk jenis retrovirus (virus yang hanya bisa berkembang biak di sel-sel darah putih manusia) yang menyebabkan (kondisi) AIDS (Aqcuired Immune Deficiency Syndrom)
AIDS adalah kondisi bukan penyakit yang terjadi pada seseorang yang sudah tertular HIV karena kerusakan sistem kekebalan tubuh dirusak HIV yakni kondisi seseorang yang sudah tertular HIV (secara statistik terjadi antara 5-15 tahun setelah tertular) yang ditandai dengan beberapa jenis penyakit (disebut infeksi oportunistik), seperti jamur, sariawan, diare, TB, dll, yang sangat sulit disembuhkan.

HIV dalam jumlah yang dapat ditularkan (hanya) terdapat dalam cairan darah (laki-laki dan perempuan), air mani (laki-laki, dalam sperma tidak ada HIV), serta cairan vagina (perempuan) dan Air Susu Ibu (ASI).

HIV juga bisa tertular melalui transfusi darah yang mengandung HIV
menerima cangkok organ tubuh yang mengandung HIV, menggunakan jarum suntik, jarum tindik, jarum tattoo, jarum akupunktur, alat-alat kesehatan yang terkontaminasi darah yang mengandung HIV, air susu ibu (ASI) yang mengandung HIV.

Salah satu alasan mengapa HIV sangat berbahaya jika sudah masuk ke dalam tubuh adalah HIV akan masuk ke dalam sel-sel darah putih dan menjadikannya sebagai pabrik untuk memproduksi HIV baru.

Setiap hari HIV rata-rata memproduksi 10 miliar (10.000.000.000) sampai 1 triliun (1.000.000.000.000) virus (HIV) baru.

HIV yang baru diproduksi itu kemudian mencari sel darah putih lagi dan kembali memproduksi HIV baru.

Menurut narasumber yang juga mantan wartawan surat kabar Sinar Harapan itu, penularan HIV didominasi melalui hubungan seks yaitu melalui air mani dan cairan vagina.

Tetapi walau diketahui salah satu pasangan mengidap HIV bila menggunakan kondom tenbtu tidak akan tertular, asal pemakaiannya secara benar, jangan sampai robek.

Apalagi kondom sekarang terbuat dari karet walau lembut tapi tak mudah robek, beda dari kondom yang dulu berasal dari bahan usus binatang.

“Bila seorang pasangan mengidap HIV, jangan takut berhubungan seks asal pakai kondom, makanya penderita HIV jangan dikucilkan, biarkan ia hidup sebagaimana mestinya,” kata Syaiful.

Apalagi terinfeksi HIV bukanlah vonis mati, AIDS dapat dicegah dengan pengobatan antiretroviral atau ARV. Pengobatan ARV menekan laju perkembangan virus HIV di dalam tubuh sehingga seorang terinfeksi HIV dapat kembali sehat atau bebas gejala, namun virus HIV masih ada di dalam tubuh dan tetap menularkan virus tersebut.

Penularan HIV kebanyakan setelah penderita HIV melakukan hubungan seks dengan orang lain, kemudian orang lain terinfeksi lalu melakukan hubungan seks lagi dengan orang lainnya, begitu seterusnya sehingga penularan HIV terus berlanjut.

Orang yang terinfeksi virus HIV biasanya tak merasa apa-apa, karena bisa terasa bila sudah terkena AIDS, di mana tingkat kekebalan tubuh menurut yaitu antara jarak lima hingga 15 tahun setelah terinfeksi HIV.

“Bila seseorang terkena influinza (flu) tak sembuh-sembuh maka patut dicurigai terinfeksi HIV, begitu juga jika diare tak sembuh-sembuh perlu tes darah untuk mengetahui apakah di tubuhnya sudah ada virus HIV,” kata narasumber kelahiran Sumatera Utara tersebut.

Ia mencontohkan penularan HIV melalui suami yang sudah terinfeksi HIV melakukan hubungan seks dengan isterinya, kemudian istrinya terinfeksi lalu menularkan ke anak bayinya melalui ASI.

Atau bisa jadi isteri itu cerai dengan suami yang terinfeksi, kemudian ia kawin laki dengan laki-laki lain hingga laki-laki lain terinfeksi.

“Berdasarkan keterangan KPA, ada seorang pengusaha beristri enam dan ternyata keenam isterinya itu terinfeksi, kemudian dari enam isterinya itu ada yang diceraikan, kemudian kawin dengan laki-laki lain, maka laki-laki lain yang menjadi suami baru itu pun terinfeksi,” ujarnya.

Ada lagi cerita seorang wanita pelacur setelah melayani tamunya terinfeksi HIV lalu pelacur itu terinfeksi HIV, setelah itu lantaran pelacur itu cantik maka dia melayani puluhan tamu laki-laki setiap minggu, maka sudah bisa dibayangkan bagaimana penularan HIV tersebut.

Melihat kasus di atas di mana perempuan terjangkit bisa pula menjangkiti bayi yang baru lahir, bila ia memiliki beberapa anak maka sudah berapa yang terinfeksi.

Selain itu bisa dibayangkan jika ada sepuluh ibu rumah tangga yang terjangkit berarti ia mempunyai suami sepuluh orang juga berarti sudah ada 20 yang terjangkit.

Kemudian jika ada 10 bayi terjangkit karena ia memiliki ayah dan ibu berarti sudah ada 30 orang yang terjangkit, dan mudah menghitungkan dan jika yang terjangkit itu ribuan maka sudah berapa yang terjangkit, tuturnya.
Melihat kian merebaknya penyakit HIV/AIDS sudah selayaknya semua lapisan masyarakat menjahui kegiatan yang bisa menularkan penyakit mamatikan tersebut.

WARTAWAN BERPERAN MENEKAN PENULARAN AIDS

Oleh Hasan Zainuddin

2

“Alya” seorang waria dan sekretaris pengurus komunitas waria Kota Banjarmasin tak malu-malu menceritakan delapan tahun hubungannya dengan pasangannya yang menurutnya laki-laki muda, termasuk hubungan seks.

Sementara puluhan wartawan yang mengikuti workshop mengenai HIV/Aids di Banjarmasin 2-4 April 2013 itu, tertawa terpingkal-pingkal jika dari alur cerita yang disampaikan begitu lucu.

Sementara seorang staf Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Kalsel, menceritakan pula adanya penderita AIDS di Kalsel menimpa seorang lelaki yang beristeri dua, hingga kedua isteri ikut mengidap penyakit itu.

Lalu diceritakan pula adanya seorang Penjaja Seks Komersial (PSK) di lokalisasi menderita AIDS lalu melayani konsumen laki-lakinya bergonta ganti.

“Terus terus, gali saja apa yang menarik yang bisa dikaitkan dengan potensi penularan Aids,” kata Saiful Harahap seorang narasumber dalam workshop yang diselanggarakan KPA Kalsel bekerjasama dengan Bidang Kesra Kantor Pemprop Kalsel tersebut.

Menggali berbagai keterangan dari mereka yang berpotensi tertular AIDS atau sumber-sumberlainnya sesuatu yang baik diketahui wartawan,kemudian diolah berita lalu disiarkan, dengan demikian masyarakat mengerti bagaimana penularan Aids lalu menghindarinya, kata pemimpin redaksi situs online www. Aidsindonesia.com
“Wartawan melalui pemberitaannya berperan besar untuk menekan penularan penyakit itu,” katanya saat workshop peliputan dan penulisan berita HIV/Aids yang komprehensif untuk wartawan guna mendorong penanggulangan Aids di Kalsel.

Mantan wartawan senior surat kabar Sinar Harapan itu menyebutkan dengan peran demikian pemerintah hendaknya memberdayakan wartawan dalam penanganan kasus yang mengkhawatirkan ini.

HIV/AIDS sangatlah berbahaya, sampai saat ini belum ditemukan obatnya, bahkan negara yang maju seperti Amerika Serikat dan China tidak mampu menemukan obat akan penyakit ini, salah satu yang efektif adalah menghindari kegiatan yang memiliki resiko terjangkit.

“Kita perlu mencegah penyakit HIV/Aids sebelum penyakit ini menyerang kita,” katanya
Caranya adalah mengungkap penomena penularan HIV/AIDS seperti di wilayah Kalsel ini yang sudah tergolong tinggi.

Berdasarkan laporan KPA Kalsel jumlah kasus HIV/AIDS wilayah inii 2002- 2012 tercatat 587 kasus.

Koordinator Sekretariat KPA Kalsel, Nursalin, saat pembukaan kegiatan itu menjelaskan rincian kasus HIV 2002 empat kasus, 2003 lima kasus, 2004 tujuh kasus, 2005 sebesar 20 kasus, 2006 sebanyak 16 kasus, 2007 sebanyak 35 kasus, 2008 sembilan kasus, 2009 sebesar 23 kasus, 2010 sebesar 35 kasus, 2011 sebanyak 51 kasus, dan 2012 sebesar 120 kasus dengan jumlah komulatif 325 kasus.

Persentasi HIV tertinggi kelompok umur 20-29 tahun 40,6 persen, usia 30-39 tahun 18,6 persen, dan usia 40-49 tahun 4,9 persen. Persentasi pada laki-laki 17,8 persen perempuan 68,3 persen dan sisanya 13,9 persen adalah tidak diketahui.

Jumlah kasus HIV tertinggi penjaja seks 183 kasus, warga binaan pemasyarakatan 44 kasus, tenaga non profesional 22 kasus, dan ibu rumah tangga 18 kasus.

Daerah tertinggi HIV tertinggi adalah Tanah Bumbu 149 kasus, Kota Banjarmasin 68 kasus, Kota Banjarbaru 36 kasus, Kotabaru 16 kasus, dan Kabupaten Banjar 13 kasus.

Sedangkan kasus AIDS tahun 2006 dilaporkan 10 kasus, 2007 18 kasus, 2008 23 kasus, 2009 28 kasus, 2010 38 kasus, 2011 65 kasus, dan 2012 80 kasus dengan jumlah 262 kasus.

Persentasi terkena usia, tertinggi 30-39 tahun 38,2 persen, 20-29 tahun 35,3 persen, dan 40-49 tahun 15,3 persen, persentasi pada laki-laki 62,2 persen dan perempuan 37,8persen, tambahnya.

Kasus AIDS tertinggi pada ibu rumah tangga 41 kasus,non profesional 34 kasus, penjaja seks 18 kasus,dan lain-lain sembilan kasus.

Jumlah kasus Aids terbanyak dilaporkan di Kota Banjarmasin 121 kasus, Kota Banjarbaru 25 kasus, Kabupaten Tanah Bumbu 25 kasus,Kabupaten Kotabaru 16 kasus, serta Kabupaten Tabalong 13 kasus.

Mengenai situasi HIV/AIDS triwulan IV,Oktober-Desember 2012 lalu disebutkannya kasus HIV tertinggi kelompok umur 20-29 tahun atau 50 persen, diikuti kelompok usia 30-39 tahun 31,25persen, dan kelompok 40-49 tahun 12,5persen.

Rasio HIV antara perempuan dan laki-laki adalah1,2 :1 dan persentasi faktor resiko HIV tertinggi adalah hubungan seks tidak aman 93,6 persen, prinatal 6,25 persen.

Jumlah kasus HIV tertinggi dilaporkan di Kota Banjarmasin, enam orang,Kabupaten Tanah Bumbu lima orang, Kota Banjarbaru dua orang, dan sekorang lagi di Kabupaten Kotabaru.

Sementara kasus Aids periode Oktober-Desember 2012 dilaporkan 17 kasus, persentasi tertinggi usia 30-39 tahun 47,1persen, diikuti kelompok usia 20-29 tahun 41,2persen, dan kelompok usia 40-49 tahun 11,8 persen.

Rasio kasus AIDS antara laki-laki dan perempuan 1,1 :1 dan jumlah kasus tertinggi Kota Banjarmasin empat orang, Kabupaten Tanah Bumbu empat orang,Kotabaru tiga orang, Kabupaten Banjar dua orang, Barito Kuala seorang, Tabalong seorang, serta Kota Banjarbaru seorang
Terungkap pula selain penderita terdapat 41 kasus mengenai ibu rumah tangga serta tujuh kasus terhadap bayi.

Menurut Saiful, AIDS bisa juga dikatakan bukan penyakit hanyalah kondisi terjadi pada seseorang yang sudah tertular HIV karena kerusakan sistem kekebalan tubuh.
Hubungan seks
Kondisi seseorang yang sudah tertular HIV (secara statistik terjadi antara 5-15 tahun setelah tertular) yang ditandai dengan beberapa jenis penyakit (disebut infeksi oportunistik), seperti jamur, sariawan, diare, TB yang sangat sulit disembuhkan
HIV dalam jumlah yang dapat ditularkan (hanya) terdapat dalam
Cairan darah (laki-laki dan perempuan) air mani (laki-laki, dalam sperma tidak ada HIV) cairan vagina (perempuan) air susu ibu (ASI).

Salah satu alasan mengapa HIV sangat berbahaya jika sudah masuk ke dalam tubuh adalah HIV akan masuk ke dalam sel-sel darah putih dan menjadikannya sebagai pabrik untuk memproduksi HIV baru.

Setiap hari HIV rata-rata memproduksi 10 miliar (10.000.000.000) sampai 1 trilun (1.000.000.000.000) virus (HIV) baru.

HIV yang baru diproduksi itu kemudian mencari sel darah putih lagi dan kembali memproduksi HIV baru.

Melihat tinggi kasus penyakit ini di Kalsel,ini harus ditungkap agar masyarakat mengerti dan tahu lalu menghindari hal-hal yang bisa tertular AIDS.

Biasanya,katanya, pertumbuhan penyakit ini kebanyakan melalui hubungan seks, dari seorang laki-laki terjangkit kepada perempauan, dan perempuan terjangkit jika berhubungan seks lagi dengan laki-laki lain maka laki-laki lain juga terjangkit, terus demikian.

Perempuan terjangkit bisa pula menjangkiti bayi yang baru lahir, dengan demikian maka HIV/AIDS terus menular.

Maka sudah bisa dibayangkan jiga ada sepuluh ibu rumah tangga yang terjangkit berarti ia mempunyai suami sepuluh orang juga berarti sudah ada 20 yang terjangkit.

Kemudian jika ada 10 bayi terjangkit karena ia memiliki ayah dan ibu berarti sudah ada 30 orang yang terjangkit, dan mudah menghitungkan dan jika yang terjangkit itu ribuan maka sudah berapa yang trerjangkit, tuturnya.
Menurutnya lagi seseorang bisa tertular HIV, jika melakukan hubungan seksual, di dalam atau di luar nikah, dengan orang yang sudah tertular HIV (HIV-positif) dengan kondisi alat kelamin laki-laki bersentuhan langsung dengan alat kelamin perempuan.

Kemudian bisa pula menerima transfusi darah yang mengandung HIV
menerima cangkok organ tubuh yang mengandung HIV, menggunakan jarum suntik, jarum tindik, jarum tattoo, jarum akupunktur, alat-alat kesehatan yang terkontaminasi darah yang mengandung HIV menyusui air susu ibu (ASI) yang mengandung HIV. katanya.

Dalam kegiatan tersebut para peserta selain diminta bertanya ke berbagai pihak juga diajak mengunjungi lokasisasi Pembatuan kilometer 17 Kabupaten Banjar.

Dengan penggalian kberbagai sumber dari wartawan diharapkan akan terungkap misteri penomena penyebaran Aids dengan demikian diharapkan akan mampu mencari solusi terbaik menekan penyakit tersebut.