LIKA-LIKU PENGAMBILAN AIR BAKU PDAM BANDARMASIH

Oleh Hasan Zainuddin

muslih

Banjarmasin, 14/10 (Antara) – Tanpa disadari banyak warga Banjarmasin terlihat menyalakan mesin menyedot air ledeng lalu menyemprotkan air bersih produk Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) ke pekarangan untuk menyiram tanaman.

Sementara, warga lainnya menyemprotkan air bersih PDAM Bandarmasih Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, itu ke beberapa buah mobil saat mencuci mobil di pekarangan rumahnya.

Melihat sikap warga tersebut seakan tak menyadari bahwa adanya air bersih PDAM itu terlahir dari upaya yang sulit bagi perusahaan setempat memperoleh air baku untuk diolah sebagai air bersih.

Dalam perjalanan menyisir beberapa lokasi lokasi pengambilan air baku (intake) PDAM setempat, Sabtu (12/10) lalu dapat disaksikan langsung bahwa ternyata untuk memperoleh air baku itu tak segampang yang dibayangkan, penuh lika-liku.

Pengambilan air baku untuk PDAM Bandarmasih hanya mengandalkan air Sungai Martapura yang berhulu ke Pegunungan Meratus, kata Direktur PDAM Bandarmasih Muslih ketika sama-sama menyisir lokasi intake PDAM itu.

Muslih didampingi Direktur Operasional, Yudha Ahmadi dan Humas Hj Siti Nursiah  mengakui lokasi yang terdekat pengambilan air baku itu adalah Sungai Martapura yakni intake di Desa Sungai Bilu.

Tetapi ketika sekitar 20 orang rombongan wartawan berada di lokasi tersebut memperoleh penjelasan petugas intake Sungai Bilu bahwa intake itu tak bisa beroperasi maksimal 500 liter per detik.

Masalahnya air Sungai Martapura sudah tercemar kadar garam karena intruri air laut, yang membuktikan debit air sungai itu sudah kurang dan air laut masuk ke daratan.

“Sekarang kadar garam sudah 960 miligram per liter di Sungai Martapura, mana mungkin bisa diolah air bersih karena idealnya maksimal 250 miligram per liter,” kata Muslih.

intake

Intake Sungai Tabuk

pematang panjang

Intake Pematang Panjang

Dengan kondisi demikian maka intake Sungai Bilu tak bisa lagi di harapkan untuk pemasok air baku, katanya.

Setelah lokasi tersebut rombongan menyisir lagi ke lokasi intake Pematang Panjang kapasitas 500 liter per detik, ternyata di intake tersebut juga menemui masalah, malah tak dioperasikan.

Masalahnya air baku di Pematang Panjang yang mengandalkan air di saluran Irigasi Riam Kanan mengalami kekeringan hingga setetespun tak bisa diambil air bakunya.

Menurut Direktur Operasional Yudha Ahmadi, keringnya irigasi tersebut lantaran diserang tingkat pendangkalan yang tinggi, ditambah serangan gulma yang merajalela sehingga air limpahan dari Bendungan Riam Kanan tidak sampai ke intake Pematang Panjang yang berjarak sekitar 34 kilometer tersebut.

Melihat kondisi tersebut, maka PDAM Bandarmasih kembali pasrah dan tak bisa pula mengandalkan air Irigasi sebagai air baku.

Menurut Yudha Ahmadi, memang ada sumber air lainnya yakni air tanah tetapi daerah Banjarmasin termnasuk kawasan rawa-rawa sehingga air tanah menjadi sangat asam dan kandungan besi tinggi, maka tak bisa digunakan sebagai air baku.

Andalan satu-satunya air baku adalah di Sungai Martapura di bagian hulu atau berjarak sekitar 20 kilometer dari Intake Sungai Bilu Banjarmasin, yakni berada di Kecamatan Sungai Tabuk Kabupaten Banjar.

Lokasi intake ini kapasitas cukup besar yakni 1700 liter per detik, tetapi biaya pengambilan air ini begitu mahal, kata Yudha Ahmadi.

ahmadi

Ir Yudha Ahmadi (Direktur Operasional) dan Supianor dari Humas

Bayangkan saja dengan jarak sejauh itu berapa mesin pendorong yang digunakan agar air baku sampai ke lokasi Instalasi Pengolahan Air (IPA) baik IPA di belakangan kantor pusat PDAM kilometer dua Banjarmasin, maupun IPA Jalan Pramuka.

Oleh karena itu, biaya intake Sungai Tabuk ini begitu mahal hanya untuk membayar listrik saja, tambahnya.

Bukan hanya itu kendala dihadapi intake Sungai Tabuk ini, persoalan lain terjadinya pendangkalan di Sungai Martapura wilayah tersebut, akibatnya air yang disedot pun kadangkala tak bisa maksimal karena terhalang sedemintasi lumpur yang tinggi.

“Coba lihat betapa surutnya sungai di muara intake Sungai Tabuk ini, itu semua menghalangi penyedotan air baku,” kata Yudha Ahmadi kepada penulis saat sama-sama berada di lokasi tersebut.

Menurut Yudha, sedemintasi itu terjadi lantaran hutan resapan air di Pegunungan Meratus sudah rusak aktivitas pembukaan lahan, akibatnya terjadi erosi hingga lumpur berada di gunung mudah meluncur ke sungai kemudian terbawa hingga kekawasan Sungai Tabuk tersebut.

Ke depan untuk mengatasi itu akan dilakukan pengerukan lumpur Sungai Martapura dekat intake Sungai Tabuk itu, kalau tidak maka kemungkinan intake ini tidak akan berfungsi lagi.

“Bila intake Sungai Tabuk sudah tak bisa berfungsi sama saja dengan mematikan PDAM Bandarmasih, akhirnya Banjarmasin kesulitan air bersih dan kota itu pun kemungkinan akan “mati” pula,karena akan ditinggalkan penghuninya” tuturnya mengambarkan kondisi itu.

Menurutnya lagi, kondisi Sungai Martapura tak mungkin membaik selama tak ada rehabilitasi hutan resapan air di bagian hulu sungai, kemungkinan akan lebih memburuk, bukan saja sedemintasi tetapi kemungkinan intrusi air laut pun bisa sampai ke kawasan itu.

“Bila semua itu terjadi maka “tamatlah” riwayat Kota Banjarmasin,” tutur Yudha lagi.

Kapasitas PDAM
Menurut Muslih PDAM Bandarmasih kini meningkatkan kapasitas produksi hingga mencapai 2050 liter per detik. Dengan kapasitas sebesar itu maka mampu melayani sedikitnya 200 ribu pelanggan.

Ia menyebutkan pelanggan PDAM sekarang baru tercatat 140 ribu pelanggan dan itu sudah mampu melayani sedikitnya 98 persen warga di perkotaan.

Dengan demikian, berarti masih tersedia sekitar 70 ribu pelanggan baru yang bisa di layani, oleh karena itu tak masalah seandainya kota ini kian berkembang kompleks-kompleks perumahan baru yang memerlukan air bersih dari PDAM.

Bahkan, katanya, PDAM bersedia melayani pemasangan pelanggan baru ke pinggiran kota Banjarmasin sendiri, hingga ke kabupaten tetangga.

PDAM sudah bisa melayani warga yang bermukim kawasan Kabupaten Banjar, dimana wilayanya berdekatan dengan Kota Banjarmasin, seperti Sungai Lulut, Kertak Hanyar.

Kemudian PDAM Bandarmasih juga melayani pelanggan di Kabupaten Barito Kuala, seperti di Handil Bakti dan sekitarnya, kata Muslih.

Dalam upaya memasarkan produk air bersih PDAM tersebut, sekarang juga sudah disalurkan ke Pelabuhan Trisakti Banjarmasin untuk memenuhi kapal keperluan air bersih bagi kapal-kapal yang merapat di pelabuhan tersebut.

Selama ini, kapal penumpang, maupun kapal barang dalam upaya memenuhi keperluan air bersih meminta bantuan dari pihak pengelola air bersih swasta maupun mereka mengisi persediaan saat berada di pelabuhan kota lain.

Tetapi setelah sambungan ke pelabuhan tersedia maka berapapun keperluan air bersih bagi kapal-kapal di pelabuhan sudah bisa dipenuhi, demikian Muslih.

Upaya-upaya PDAM tersebut tentu akan mudah terwujud jika sumber air baku Sungai Martapura tetap terpelihara, tetapi jika kondisi itu berubah maka upaya-upaya itu mungkin hanya tinggal kenangan, demikian Muslih.

 

siti Humas PDAM Hj Siti Nursiah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: