7

 

KEGALAUAN DJOKOPEKIK LAHIRKAN MILIARAN RUPIAH
Oleh Hasan Zainuddin
Berkaos merah bercelana hitam, lelaki berjenggut panjang putih ini begitu bersemangat menjelaskan satu persatu hasil karya lukisannya yang dipajang di areal khusus pedepokannya seluas 3,5 hektare di Dusun Sembungan Kecamatan Kesian Bantul, Yogyakarta.

“Ini ada yang mau beli lima miliar rupiah, tapi saya banderol seharga enam miliar rupiah,” kata lelaki asal Porwodadi, Grobogan, Jawa Tengah, tahun 1938 ini.

Lukisan paling besar dan dipajang paling depan galeri milik ayah delapan anak ini bagi masyarakat awam mungkin biasa-biasa saja, tetapi bagi pecinta seni lukis dan kolektor ini ternyata mengandung nilai tinggi.

Lukisan berjudul “Go to Hell Crocodile” hanya lukisan seekor buaya dengan panjang sejauh mata memandang melingkari galian tambang. Di sekelilingnya, kerumunan figur bersenjatakan bambu runcing siap dihujamkan ke tubuh si buaya.

Lukisan ini seakan menyindir banyaknya perusahaan tambang milik kapitalis asing yang menguras kekayaan di tanah air, seperti di Papua, Kalimantan, dan dimana saja.

Sementara lukisan yang lain berjudul “Zaman Edan Kesurupan” yang agaknya kebanggaan pula oleh pelukis lulusan Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), Yogyakarta, 1957-1962 ini.

Walau berkata agak terbata-bata lantaran sudah berusia lanjut, seniman berkelas internasional ini pun begitu antusias menjelaskan goresan-goresan cat lukisan “Zaman Edan Kesurupan” ini kepada penulis yang ikut dalam rombongan 13 wartawan diajak Bank Kalsel yang dipimpin Direktur Utama Bank Kalsel Juni Rif’at yang juga dikenal sebagai kolektor seni lukis.

Sambil tersenyum ia meminta para rombongan meinterpretasikan sendiri-sendiri lukisan tersebut, yang mana terlihat dalam lukisan seorang pawang dalam grup kuda lumping yang seharusnya menyembuhkan peserta kuda lumping yang sedang kesurupan justru ikut juga kesurupan.

Sementara latar belakang di dalam lukisan tersebut terlihat para penegak hukum di ruang sidang pengadilan, bahkan ada penegak hukum yang lagi sidang sedang bermesraan dengan seorang gadis.

“Ini maksudnya sebuah penegakan hukum yang berlaku sekarang ini kah, dimana seseorang yang seharusnya melakukan penegakan keadilan justru ikut bermain dalam kecurangan,” tanya anggota rombongan kepada Djokopekik.

“Ya terserah anda lah, mau artinya begitu silahkan, atau artinya yang lain juga boleh,” kata Djokopekik yang mengaku pernah menjadi penghuni Lapas Wirogunan dari 08 November 1965 sampai 1972 lantaran korban politik ini.

Galau
Dalam pembicaraan panjang lebar dengan Direktur Utama Bank Kalsel Juni Rif’at yang didampingi Pimpinan Devisi Perencanaan dan Strategis Bank kalsel Muhamad Fauzan tersebut hampir bisa disimpulkan bahwa semua lukisan Djokopekik itu lahir dari perasaan kegalauan setelah melihat kondisi masyarakat dan pemerintahan.

Dengan perasaan galau, agaknya ia tak berbicara secara terbuka melainkan dituangkan melalui goresan-goresan kuwas dengan cat-cat yang didatangkannya dari belanda.

“Saya tidak produktif membuat lukisan, dan semua hasil lukisan saya terlahir disaat hati sedang mood untuk melukis, makanya hanya ada satu dua, atau tiga saja produksi lukisan per tahun,” tuturnya seraya memperlihatkan bengkel/studio lukisan yang dirancang sedemikian rupa.

Di bengkel lukisan yang luas sekitar lima kali tiga meter tersebut dirancang dengan menggunakan mesin hedrolik yang bila menurunkan dan menaikkan lembaran kain atau kanvas yang akan dibuas lukisan.

Dengan demikian, katanya saat melukis ia tak perlu harus berdiri atau berjongkok atau menggunakan bangku bila harus melukis bagian atas, cukup kain kanvas itu yang diturun dan dinaikkan melalui mesin hidrolik dengan energi listrik tersebut.

“Saya sudah terlalu tua hingga tak cukup kuat lagi turun naik,” katanya seraya meminta kepada rombongan untuk berfoto bersama di studio yang berada di tepian sungai dengan bunyi riak air gemaricik dan hembusan angin hutan areal pedepokan tersebut.

Mendapat julukan pelukis miliaran rupiah, karena lukisannya laku bermiliar-miliar rupiah diantaranya lukisan judul berburu Celeng.

Berburu Celeng bersama dua lukisan lain, Susu Raja Celeng (1996) dan Tanpa Bunga dan Telegram Duka Cita 2000, merupakan sebuah trilogi. Trilogi ini merupakan lukisan yang paling berkesan baginya diantara 300 karya lukisnya.

Walau terbilang kaya dengan hasil karya lukisnya, tetapi tak satu pun dari delapan anaknya diarahkan untuk menggeluti dunia seni lukis ini.

“Saya tak ingin anak-anak dan cucu saya mengikuti jejak saya melukis, siapa tahu mereka tidak kesampaian, biarkanlah mereka memilih jalan hidup seperti orang kebanyakan, pedagang, pekerja kantor, buruh dan apa sajalah,” katanya.

Berdasarkan sebuah catatannya, ia tidak pernah bercita-cita menjadi pelukis, selagi muda malah bercita-cita menjadi lurah kaya dan punya gamelan, dan berputarnya waktu yang panjang akhirnya malah menjadi pelukis dan apa yang diimpikan memiliki gamelan terwujud sudah, ungkapnya.

“Saya ini berbakat kesasar, karena saya tidak diwarisi darah seni dari kedua orang tua saya. Sejak kecil saya senang melukis dan bermain sandiwara. Dulu saya memerankan tokoh Klenting Kuning dalam Ande-Ande Lumut saya yang menggambar sendiri pakaian tokoh yang saya mainkan,” tambahnya.

Membina rumah tangga dengan CH Tini Purwaningsih perempuan pilihannya. Setelah menikah, dari tahun 1970 ¿ 1987, Djokopekik beralih profesi sebagai tukang jahit untuk menyambung hidupnya, walau profesi ini tidak membuat kehidupan ekonomi keluarganya menjadi mapan.

Nasib baik akhirnya datang juga. Suatu ketika karya-kartanya dijadikan bahan penelitian untuk disertasi pelukis Astari Rasyid, yang kemudian dibaca oleh kenalan-kenalannya dari luar negeri. Pada tahun 1989 ia diikutkan dalam pameran di Amerika Serikat.

Beritanya masuk koran dan majalah, yang justru membuatnya makin terkenal. Sejak itulah para kolektor memburu lukisannya. Sampai suatu ketika ia tak mau menjualnya lagi, karena tamu-tamunya dapat setiap saat melihat dan mengaguminya.

Lukisannya oleh banyak kalangan pengamat dinilai berbeda antara satu dan lainnya. Padahal, ia mengaku bahwa teknik lukisnya dari dulu sampai sekarang sama saja.

Ia mengaku diusia yang sudah senja itu bahagia tinggal di areal pedepokan seluas itu yang dipenuhi dengan kebun, hutan kecil, dan taman-taman bunga, ditambah rumah tempat tinggal, galeri, bengkel atau studio, dan beberapa tempat santai yang berada di pinggir sungai yang dipenuhi dengan ribuan batang tanaman bambu.

Karena kepahitan yang pernah dialaminya sebagai pelukis, ia tidak mengarahkan anak-anaknya menjadi pelukis. Selain itu, ia merasa kalau seorang ayah pelukis, bila anak-anaknya juga jadi pelukis, mereka tak akan mampu melebihi sang ayah.

 

 

 

Ekonomi kreatif
Kedatangan rombongan 13 wartawan Kota Banjarmasin bersama Bank Kalsel tersebut semata ingin melihat perkembangan ekonomi kreatif di Kota Jogyakarta tersebut.

Ekonomi kreatif di saat ini menjadi alternatif dalam upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi, kata Direktur Utama (Dirut) Bank Kalsel Juni Rif’at.

Apalagi, katanya, visi dan misi yang diemban Bank Kalsel yang didirikan sejak tahun 1964 ini tak lain bagaimana keberadaan perusahaan ini bisa memajukan perekonomian wilayah yang kini berpenduduk sekitar empat juta jiwa tersebut.

Untuk menyentuh ekonomi kreatif tersebut,pihak Bank Kalsel mencoba menggandeng para wartawan yang tergabung dalam media fartner perusahaan tersebut, agar mereka bisa memberikan tulisan atau gambar, dan apa saja yang diterbitkan atau ditayangkan pada media masing-masing yang bisa memberikan gambaran mengenai pentingnya sebuah ekonomi kreatif.

Anggaplah ekonomi kreatif tersebut, berupa sendra tari, seni pertunjukan, karya lukisan, karya musik, dan seni budaya lainnya yang pada gilirannya menjadi industri yang menghasilkan pertumbuhan ekonomi.

“Kalsel sendiri kaya akan seniman, seperti seni lukis, hanya saja tidak terpopulerkan melalui sebuah pemberitaan, jika hal tersebut terjadi maka keberadaan seniman lukis di wilayah ini akan menjadi perhitungan bagi pecinta seni lukis,” kata Juni Rif’at.

Sebuah karya seni lukis, nilainya tak semata sebuah keindahan, tetapi akan menghasilkan devisa yang luar biasa bagi pertumbuhan ekonomi suatu wilayah dimana karya seni lukis itu dihasilkan.

Lihat saja kota Yogyakarta, terdapat banyak seniman lukis bertarap internasional, dan sebuah karya lukis bisa dihargai ratusan juta rupiah, bahkan miliaran rupiah dalam satu karya lukis saja.

Seperti karya lukis maestro Djokopekik yang dihargai capai Rp5 miliar per satu lukisan bagitu juga hasil karya pelukis Nasirun tak kalah mahalnya.

Untuk memberikan pengertian para wartawan yang tergabung dalam media fartner Bank Kalsel tersebut, maka oleh manajemen Bank Kalsel para wartawan tersebut diajak melihat galeri dan museum lukis milik Djokopekik dan Nasirun.

Dalam pertemuan yang berlangsung Kamis (21/8) lalu kedua pelukis ternama Yogyakarta tersebut menjelaskan bagimana sebuah kreatifitas dalam dunia ekonomi kreatif menghasilkan uang banyak dan mampu menghidupkan keluarga pelukis itu sendiri juga meningkatkan pertumbuhan ekonomi sekitarnya.

Melihat kenyataan tersebut pihak Bank Kalsel berharap Kalsel juga akan menjadi tempat bagi seniman kreatif di bidang masing-masing yang bisa membantu dongkrak ekonomi di wilayah ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: