MERASAKAN KECETA CEPAT NAIK BUKIT BENDERA PENANG MALAYSIA

aku1 Oleh Hasan Zainuddin
Telinga terasa berat seperti layaknya naik pesawat terbang di kala kereta cepat yang membawa rombongan Forum Silaturahmi Kulaan banjar Banua (FSKB) dan penumpang lainnya termasuk penulis menaiki Bukit Bendera yang ada di Kota Penang, negeri Penang, Malaysia.
Hanya saja gerbong yang ditumpangi tersebut terlalu sesak oleh pengunjung, sehingga pandangan tak leluasa melihat kiri dan kanan yang berada di tengah hutan lebat bukit yang menjadi objek wisata andalan tanah Melayu tersebut.
Dari perjalanan naik kereta listrik cepat dari bawah ke puncak Bukit Bendera setinggi 830 meter itu, gerbong beberapa kali berhenti, saat itu tampak suasana alam hutan yang masih alami, aneka tanaman hutan seperti layaknya hutan tropis yang ada di Banua (Kalimantan Selatan).
Selain itu juga tampak Kota Penang dari kejauhan dimana terdapat sebuah bangunan semacam menara tinggi yang menjadi ikon kota, serta air laut yang membiru dan pantai di kota yang didominasi penduduk etnis Tionghoa, Melayu, dan India tersebut.
Dari puncak, para wisatawan bisa menikmati pemandangan ke bawah seluruh pulau bahkan juga ke seberang laut
Berdasarkan catatan, Bukit Bendera merupakan sebuah kawasan parlemen di negara bagian Pulau Pinang, negara Malaysia.
Pulau Pinang yang dihubungkan dengan sebuah jembatan menyeberangi laut sekitar 25 kilometer ini terletak di antara negeri Kedah dengan negeri Perak di utara Semenanjung Malaysia.
Bukit bendera setinggi mendekati satu kilometer di atas Georgetown, puncak Bukit Bendera (Bahasa Inggris: Penang Hill) menyediakan tempat nyaman yang memungkinkan wisatawan menikmati sejuknya puncak bukit yang penuh dengan pepohonan.
Hutan di kiri dan kanan rel kereta cepat tersebut terlihat aneka tanaman pakis, palm-palman, enau, risi, serta aneka pohon yang selayaknya ada di hutan tropis.
Bukit ini secara umum bersuhu 15-25 derajat celsius, di lokasi ini terdapat taman yang menyenangkan, pondok bergaya tua, restoran, kuil, serta Masjid Muslim di puncaknya.
Bukit Pulau Penang ini sebenarnya juga digelari Bukit Strawberi karena penghasil buah stroberi, lokasi ini dengan kondisi alam dan suhu ternyata ideal bagi pengembangan buah stroberi.
Tadinya penulis agak enggan ikut naik kereta listrik cepat ke bukit ini, karena pengunjung begitu berjejal, selain itu ada perasaan ngeri atau takut, karena tampak rel keretanya begitu menanjak tajam ke atas.
Ada pikiran jika gerbong kereta listrik amblas atau jatuh pasti akan menimbulkan mala petaka besar, karena akan jatuh ke bawah yang begitu dalam.
Tetapi setelah semua anggota FSKB ikut membeli tiket, lalu penulis tinggal sendirian di bawah ada perasaan rugi, akhirnya penulis pun ikut berjejal antri beli tiket seharga RM 30,- per orang.
Karena beli tiket belakangan akhirnya penulis terpisah dengan rombongan, tetapi setelah sampai kepuncak akhirnya terkumpul lagi dengan rombongan.
Ketika sampai di puncak seluruh pengunjung turun dari kereta listrik tersebut, dan ternyata di puncak terdapat hamparan daratan yang luas semacam lapangan basket, dan terdapat banyak kendaraan roda dua atau sepeda motor.
Semua itu menimbulkan keheranan di pikiran penulis, dari mana kendaraan roda itu bisa lewat menaiki bukit hingga berada di lokasi yang begitu tinggi tersebut?
Di puncak tersebut juga ada bangunan dua lantai, di dalamnya terdapat rumah makan aneka makanan dan minuman, serta toko-toko barang-barang cendramata, serta kantor-kantor petugas.
Dari ratusan bahkan ribuan pengunjung yang berjejal di puncak bukit tersebut tampak terlihat aneka bangsa, ada yang berkulit putih bermata sipit, berkulit hitam bermata galak, ada bule, ada yang berjilbab, ada yang berpakaian minim, dan semuanya menyatu di lokasi tersebut.
Saat di puncak perut terasa lapar dan dahaga, hampir semua anggota rombongan FSKB mencari makanan untuk mengobati rasa haus dan lapar, lalu memesan makanan dan minum. Tadinya dikira makanan dan minuman di lokasi tersebut mahal, tetapi setelah melihat tarif yang ada di menu-menu makanan dan minuman ternyata relatif murah, seperti nasi goreng hanya RM5,- atau sekitar Rp20 ribu.
Anggota rombongan FSKB terpencar duduknya, ada duduk dimeja tengah dan yang asyik ngobrol dengan orang Melayu, ada pula yang duduk meja sudut ngobrol dengan wisatawan bule, bahkan ada pula yang ngobrol dengan wisatawan India yang duduk bagian belakang.
Melihat objek wisata ini menimbulkan komentar pengunjung yang menyatakan Malaysia itu memang hebat dalam mengemas wisatanya.
Setelah hampir dua jam menikmati puncak Bukit Bendera, rombongan sepakat turun. Dalam perjalanan turun terasa lebih nyaman hingga sampai ke bawah.
Kunjungan FSKB selama di Malaysia beberapa objek wisata di kunjungi selain di Bukit Bendera juga ke Melaka River Cruise, Negeri Melaka.

Persaudaraan

Rombongan FSKB datang ke Malaysia dalam kaitan lawatan dan silaturahmi ke pemukiman Suku Banjar asal Kalsel yang sudah puluhan bahkan ratusan tahun tinggal di negeri tersebut.
Dalam kunjungan FSKB tersebut, beberapa lokasi kawasan pemukiman Suku Banjar di Malaysia, seperti di Bukit Malintang Negeri Sembilan, Sungai Manik, Began Serai, Bagan Datuk negeri Perak, dan beberapa negeri termasuk di Penang.
FSKB sepakat mengeratkan tali persaudaraan dengan Pertubuhan Kulaan Banjar Malaysia setelah melakukan pertemuan di negara jiran tersebut.
Anggota FSKB, Mohamad Ary yang juga ketua rombongan dalam perjalanan muhibah ini menuturkan, setelah melakukan perjalanan selama sembilan hari 17-26 Oktober 2014 banyak pengalaman yang didapat dalam upaya menyambangi pemukiman-pemukiman Suku Banjar yang berada di negeri seberang tersebut.
Dalam beberapa kali pertemuan antara kedua belah pihak sepakat menjalin persaudaraan yang lebih dekat, dengan tujuan eratkan hubungan kekeluargaan yang selama ini agak terputus, sekaligus sebagai wadah atau wahana bagi siapa saja dikedua belah pihak untuk mencari juriat di dua negara berbeda tersebut.
Menurut Mohamad Ary, banyak Suku Banjar yang sudah lama bermukim di Malaysia ingin mencari juriat keluarga yang ada di banua asal Kalimantan selatan, tetapi setelah hubungan lama terputus sekarang sudah kehilangan jejak untuk mencari juriat tersebut.
Atau sebaliknya warga Banua di kalsel yang sudah kehilangan jejak pula untuk mencari juriat keluarga yang madam (merantau) ke Malaysia puluhan bahkan ratusan tahun silam.
Melalui FSKB dan Kulaan Malaysia inilah akan menjadi jembatan bagi mereka yang terputus hubungan keluarga tersebut untuk saling mengetahui kedua belah pihak, dan kalau perlu dipertemukan.
Sebagai Contoh saja, Pak Mdnoh Rahidin keturunan Banjar Kalsel yang lama tinggal di Negeri Malaka, yang sempat menitikkan air mata setelah bertemu dengan rombongan FSKB tersebut.
Sebab ia tahu cerita keluarga hanya dari almarhum ayahnya yang sudah lama meninggal dunia, dan ayahnya berpesan ia harus mencari juriat keluarga yang ada di Indonesia, tetapi untuk mencarinya ia sendiri tidak mengerti harus bagaimana karena tak pernah ke Indonesia, apalagi ke Kalsel.
Dalam kunjungan tersebut rombongan FSKB disambut dengan hangat para warga di beberapa lokasi tersebut, bahkan sempat menyaksikan festival budaya Banjar di Bukit Melintang.
Rombongan juga sempat bertemu dengan Mr Craig orang Amerika Serikat yang tinggal di Malaysia yang ternyata mendalami dan mahir bahasa Banjar.
Rombongan juga bertemu dengan tokoh masyarakat Banjar batu pahat, Jaini Musa yang ingin bertemu dengan para juriatnya yang berada di Kalsel.
Bahkan dalam perjalanan muhibah ini rombongan FSKB ikut dalam parade mobil Kulaan Adventure Team ke lokasi wisata peranginan.
Kemudian bertemu dengan para pengerusi koperasi Kulaan Banjar Malaysia di Bangi,Johor, Mohamad Saleh dan Kamar Mohamad Zaman dan beberapa pengerusi koperasi lainnya.
Di Bukit Melintang, rombongan sempat menjenguk dua orang sepuh Suku Banjar yang sudah ujur dengan usia hampir satu abad yang dipercaya sebagai sepuh Suku Banjar yang dulunya membuka hutan wilayah Bukit Melintang sebagai kawasan pemukiman Suku Banjar.
FSKB juga bertemu dengan Rektor Universitas Islam Azlan Shah Nordin Kardi asli suku Banjar, serta Prof Jamil Hasim yang juga keturunan Banjar asal Lampihong, sepakat melakukan kerjasam pendidikan dengan FSKB yang sebagian anggotanya adalah anggota Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin.
Rompongan juga disambut hangat kulaan Banjar Malaysia di Desa Sungai Manik yang 80 persen penduduknya juga sebagai petani padi atau disebut pekerja bandang adalah orang Banjar yang membuka lahan sejak ratusan tahun silam. ***3***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: