SANG MAESTRO LAGU BANJAR ITU TELAH TIADA

Oleh Hasan Zainuddin

anang

“Kotabaru, gunungnya Ba’ mega, Ba’ mega, umbak manampur di sala karang Umbak, manampur di sala karang. Batamu lawanlah adinda, Adinda iman di dada, rasa malayang Iman di dada, rasa malayang,” demikian satu bait lagu Banjar berjudul Paris Barantai yang diciptakan sang maestro lagu Banjar, Haji Anang Ardiansyah.

Lagu Paris Barantai yang sudah menasional tersebut merupakan salah satu dari 103 lagu ciptaan seniman besar asal Provinsi Kalimantan Selatan itu yang melegenda. Semua ciptaan seniman ini hampir seluruhnya melegenda.

Ciptaan semacam itu tak mungkin ada lagi, karena seniman yang masa hidupnya juga berkarier di dunia militer tersebut, kini telah menghembuskan napas terakhirnya Jumat (7/8) pukul 01:10 WIB.

Jumat pagi, hampir semua status di media sosial Facebook yang diikuti warga Kota Banjarmasin memuat kalimat “Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun” yang menyatakan berpulang ke rahmatullah untuk Anang Ardiansyah.

Dengan demikian, kematian maestro pecinta lagu Banjar yang lahir di Banjarmasin, 3 Mei 1938 itupun cepat menyebar, dan pernyataan turut berduka cita pun terus tertulis dari banyak status media sosial itu.

Meninggalnya penyanyi sekaligus pencipta lagu khas etnis yang banyak tinggal di wilayah Kalimantan bagian Selatan tersebut menimbulkan duka yang mendalam di banyak kalangan, sehingga kabar kematiannya begitu cepat menyebar.

Menurut Riswan Rifandi, putra almarhum, ayahnya menghembuskan napasnya di Rumah Sakit (RS) Suaka Insan di ruang ICU karena penyakit stroke.

“Ayah memang mengalami komplikasi,” ujarnya seraya menyebutkan bahwa almarhum ayahnya disemayamkan di tempat peristirahatan terakhirnya di makam keluarga Guntung Lua, Banjarbaru.

“Kami sekeluarga memohon maaf dan keikhlasannya bagi seluruh lapisan masyarakat, jika dalam pergaulan beliau ada kekhilafan,” ucap Riswan yang mantan wartawan dan kini menjadi seorang pendidik tersebut.

Meninggalnya sang maestro ini cukup membuat kaget para pekerja seni di Kalsel, terbukti hampir semua seniman daerah dan pejabat daerah melayat ke rumah duka.

Salah satunya, Koordinator Karya Cipta Indonesia (KCI) wilayah Kalimantan Selatan Hesly Junianto yang menyatakan figur H Anang Adriansyah sebagai seniman daerah yang namanya sudah menasional, hingga kematiannya menjadi duka semua penggiat seni.

“Sebab beliau bisa kita katakan bapaknya seniman lagu Banjar, sebab karya ciptanya memang hampir tidak ada duanya, baik lirik maupun syairnya,” kata mantan Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Kota Banjarmasin itu.

Pihaknya di KCI, kata Hesly, sudah mendaftarkan semua lagu ciptaan sang maestro ke daftar karya cipta Indonesia sebagai hak paten yang ada nilai royalti.

“Insya-Allah, pada Desember 2015, royalti ciptaan lagu H Anang sudah mulai keluar, bahkan ini berjalan hingga tujuh turunan warisnya,” tuturnya.

Sementara seorang seniman muda yang juga pencipta lagu Banjar Jimmy Huzain mengaku kehilangan seorang panutan setelah meninggalnya H Anang Ardiansyah.

“Beliau (Anang Ardiansyah) sebagai penginspirasi musik Banjar, saya pun mencipta lagu banyak belajar dari beliau, kita sangat kehilangan sosoknya,” ujar pencipta lagu dengan hits berjudul “Sungaiku” itu saat melayat ke rumah duka di Jalan Banjar Indah Permai, Komplek Mahoni, Banjarmasin.

Diakui Jimmy, panggilan akrabnya, dirinya bisa menelurkan sekitar 32 buah lagu yang terkumpul di tiga album belakangan ini terciptanya itu banyak terinspirasi dari lagu-lagu Anang Ardiansyah yang hampir semuanya hits dan melegenda.

“Kita akui, semua lagu pak Anang Ardiansyah baik lirik maupun syairnya tidak ada duanya, hingga wajar kalau melegenda,” ujarnya.

Dikatakan dia, lagu-lagu Anang Ardiansyah banyak bercerita tentang sejarah banjar dan khazanah kebudayaan masyarakatnya yang dirangkai dalam syair-syair yang luar biasa indah dan tertata diungkapkan dengan Bahasa Banjar yang fasih.

“Yang saya ingat pesan beliau, ciptalah lagu daerah dengan menggali khazanah budaya dan daerah ini atau tentang sejarah, sehingga lagu itu bisa dikenang dan didendangkan dari masa ke masa,” tuturnya.

Pesan itu, aku Jimmy, yang menjadi inspirasinya dalam menciptakan berbagai karya lagu berbahasa banjar saat ini, hingga sudah terkumpul 32 buah lagu dalam tiga album yang sudah dilempar ke pasaran.

“Saya terinspirasi juga bercita-cita seperti beliau bisa menciptakan ratusan buah lagu hits, yang hingga kini terus didendangkan, bahkan sudah menasional,” ujarnya.

Mencipta sejak SMA

Berdasarkan catatan Wikipedia, Anang Ardiansyah mulai mencipta lagu sejak SMA. Ketika itu ia merantau ke Malang, Jawa Timur pada tahun 1957 untuk belajar di SMA Islam Malang setelah menempuh SD dan SMP di Banjarmasin. Setahun kemudian Anang pindah ke Surabaya.

Di kota ini dia bergabung dengan Orkes Melayu Rindang Banua yang dipimpin dokter Sarkawi. Orkes ini merupakan kumpulan pemuda Kalimantan yang tergabung dalam Kerukunan Keluarga Kalimantan.

Sebelum bergabung dalam band itu, ia meraih juara harapan seriosa Lomba Nyanyi Langgam di Malang. Di sinilah mereka belajar membuat lagu banjar.

Saat itu belum ada lagu Kalimantan (Kalsel) yang diciptakan dengan iringan musik band. Saat itu, Anang dan teman-teman band-nya mengawali debutnya dengan membuat lagu banjar dari gubahan lagu-lagu rakyat berupa pantun.

Setelah digubah, jadilah lagu-lagu banjar baru dan bisa diterima warga. Band-nya sering membawakannya saat diundang mengisi acara perkawinan. Begitu seringnya membawakan lagu banjar, Rindang Banua menjadi terkenal di Surabaya dan Banjarmasin.

Band ini terangkat namanya tahun 1959 saat lagu Paris Barantai masuk rekaman piringan hitam yang dikerjakan di Lokananta, Solo, Jawa Tengah.

Selain berkesenian, Anang juga memiliki karier panjang pada jajaran militer hingga berpangkat kolonel. Seniman Kalsel ini masuk TNI tahun 1962 setelah lulus Sekolah Calon Perwira (Secapa) di Banjarmasin pada 1961.

Selama hampir 30 tahun bergabung dengan TNI, Anang bertugas ke berbagai daerah, seperti Bandung, Cirebon, Surabaya, Makassar, dan Balikpapan. Terakhir dia bertugas di Banjarmasin.

Selama bertugas pun, dia terus membuat lagu banjar. Saat bertugas di Kalimantan Timur, Anang sempat menciptakan lagu untuk daerah setempat, seperti Balikpapan, Sarung Samarinda, Di Hunjuran Mahakam, Di Panajam Kita Badapat, dan Apo Kayan. Lagu-lagu itu direkamnya dalam kaset pada 1987 dengan judul Curiak.

Selesai di militer (dengan jabatan terakhir sebagai pemeriksa di Inspektorat Daerah Militer VI/Tanjungpura, Balikpapan), tahun 1992 Anang membentuk kelompok musik Tygaroon’s Group dan mendirikan Tygaroon’s Mini Studio. Dari studio itulah beberapa album lagu banjar dihasilkannya.

Kegiatan berkesenian mulai menurun ketika Anang terjun di dunia politik. Periode 1999-2004, ia menjabat Wakil Ketua DPRD Hulu Sungai Utara dan Ketua Dewan Pengurus Daerah Partai Golkar Kabupaten Hulu Sungai Utara hingga karier berkeseniannya pun menurun hingga akhirnya seniman senior itu pun tiada. Tinggal, lagu-lagunya yang akan menemani masyarakat.

BANJARMASIN DIJADIKAN WISATA DUNIA BAGAIKAN VENESIA

Oleh Hasan Zainuddin

pasar terapung

Bersantai di pinggir sungai Jalan Pire Tendean sambil menikmati jagung bakar menjadi pilihan sebagian warga untuk berekreasi di daerah yang berjuluk “kota seribu sungai”, Banjarmasin.

Sementara warga lainnya, memilih menikmati masakan atau kuliner khas Suku Banjar, soto banjar di warung Abang Amat atau soto bawah jembatan banua hanyar sambil menikmati musik panting jenis musik tradisional setempat.

Tidak sedikit pula warga justru memilih berziarah di makam Habib Basirih atau mengunjungi masjid tertua, Masjid Sultan Suriansyah, sebagai objek wisata keagamaannya, yang juga merupakan bagian dari wisata sungai di kota tua tersebut.

Para pendatang bahkan dari mancanegara lebih banyak memilih bercengkrama di Pasar Terapung Sungai Barito atau ke Pasar terapung Lokbaintan serta pasar Terapung buatan di depan Siring Pire Tendean.

Bagi wisatawan yang suka dengan binatang kota ini juga menyediaan objek wisata air, yaitu ke Pulau Kembang, tempat ratusan bahkan mungkin ribuan ekor kera abu-abu berekor panjang yang terbilang jinak dan bersahabat dengan wisatawan.

Wisatawan juga bisa menyaksikan bekantan (Nasalis larvatus) atau hidung panjang yang ada di Pulau Kaget, tidak jauh dari kota yang telah bertekad menjadikan keberadaan air sebagai modal utama membangun kepariwisataan itu.

Susur sungai menggunakan kelotok (perahu bermesin) atau spead boat juga sering kali menjadi pilihan wisatawan mengelilingi kota seraya menyaksikan aktivitas warga, seperti mandi, cuci, dan bersikat gigi di atas lanting.

Ada juga di antara mereka yang melihat industri perkayuan dan industri rumah tangga yang relatif banyak mereka temui di pesisir sungai, seperti di Desa Berangas, Alalak, Kuin, dan di Desa Mantuil.

Melihat kelebihan-kelebihan objek wisata itu membuat Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin memanfaatkannya sungai sebagai daya pikat bagi para pendatang, khususnya wisatawan dan juga investasi.

Kota Banjarmasin, Ibu Kota Provinsi Kalimantan Selatan, dinilai memiliki keunikan tersendiri dibandingkan kota mana pun di dunia ini karena kota yang hanya 92 kilometer persegi ini dibelah oleh sedikitnya 102 sungai.

Melihat kenyataan tersebut maka oleh pemkot dan pemprov setempat bertekad menjadikan kota ini kota wisata air. Bahkan, pemerintah Kementerian Pekerjaan Umum relatif banyak mengeluarkan dana untuk menciptakan wilayah ini menjadi wisata air berkelas dunia.

Untuk mewujudkan hal itu, kata Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Banjarmasin Fajar Desira, Kemen-PU dan sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) membentuk sebuah tim yang diturunkan ke Banjarmasin.

Tim terdiri atas beberapa orang itu sudah tiga kali meninjau dua lokasi di Banjarmasin, yakni Sungai Kelayan dan Sungai Kerokan, Jalan Jafri Zamzam, untuk diubah menjadi lokasi wisata sungai melalui program yang dinamaman Kemitraan Habitat.

Tim itu juga sudah beberapa kali melakukan kordinasi dan pertemuan dengan berbagai pihak di Banjarmasin, terakhir awal Agustus 2015.

Menurut Fajar, Banjarmasin harus bersyukur terpilih menjadi lokasi program Kemitraan Habitat tersebut karena wilayah ini dinilai unik. Kota lain yang juga menjadi pilihan, yakni Kota Malang (Jawa Timur) dan Bogor (Jawa Barat) karena kedua kota tersebut juga dinilai memiliki krasteristik kota yang unik.

Mengingat Banjarmasin memiliki banyak sungai, kota ini akan diciptakan benar-benar menjadi sebuah kota sungai di Indonesia. Dengan demikian, akan jelas arah pembangunan kota ini sehingga semua harus berkomitmen membangun kota ini menjadi kota pariwisata sungai.

Sungai, kata Fajar, bukan saja sebagai lokasi drainase dan sumber air minum, melainkan juga sebagai transportasi, komunikasi, dan sebagai objek perekonomian masyarakat, khususnya pariwisata.

Dalam upaya menciptakan program Kemitraan Habitat teresebut, pemerintah akan mengajak banyak kalangan, termasuk pengusaha, aktivis lingkungan, LSM, dan banyak organisasi lain yang berkomitmen menjadikan kota ini sebagai ikon kota sungai di Tanah Air.

Apalagi, pembangunan Kota Banjarmasin dalam sepuluh terakhir ini sudah banyak mengarah untuk mewujujdkan kota sungai tersebut, seperti pembangunan siring, fasilitas wisata sungai, termasuk pembuatan pasar terapung yang mulai mengubah wajah kota berpenduduk sekitar 800.000 jiwa ini menjadi kota pariwisata tersebut.

Program Kemitraan Habitat tersebut memfasilitasi penyelenggaraan permukiman dan perkotaan yang sedang dilaksanakan oleh masyarakat, termasuk dunia usaha mendorong terjadinya percepatan pembangunan dan pengembangan permukiman dan perkotaan di Indonesia yang lebih layak huni dan berkelanjutan.

Secara terpisah Kepala Dinas Sungai dan Drainase Kota Banjarmasin Muryanta mengatakan bahwa pemkot setempat telah menjadikan sungai sebagai modal untuk membangun kemajuan kota.

“Kami akan menjadikan sungai sebagai magnet ekonomi kota. Oleh karena itu, kami akan terus benahi sungai,” katanya.

Menurut Muryanta, wilayah kota minim sumber daya alam karena hampir tidak ditemukan potensi tambang maupun hutan dan hanya sedikit lahan pertanian.
Wilayahnya hampir semua dialiri oleh sungai besar dan kecil. Sungai besar, seperti Sungai Barito dan Sungai Martapura.

Kalau membangun kota mengandalkan potensi lain yang minim, jelas tidak mungkin. Oleh karena itu, potensi yang ada saja untuk meraih kemajuan tersebut.

“Kami akan menjadikan sungai sebagai penggerak ekonomi kota. Oleh karena itu, tidak ada pilihan lain bagaimana sungai-sungai tersebut menjadi daya tarik bagi kepariwisataan ke depan,” katanya.

Ia mencontohkan dua kota yang terbilang maju menjadikan sungai sebagai daya pikat ekonomi, seperti Denpasar atau Yogyakarta.

Begitu pula, kota lain di luar negeri, seperti Bangkok, Hong Kong, atau Venesia Italia, bahkan sekarang Malaysia mulai ikut-ikut membenahi sungai sebagai daya pihak ekonomi tersebut.
Melihat kenyataan itu, wajar bila Pemkot Banjarmasin bertekad menjadikan sungai sebagai daya pikat kepariwisataan dan keinginan tersebut agaknya memperoleh tanggapan positif dari Pemerintah Provinsi Kalsel maupun pemerintah pusat.

Untuk menjadikan wisata sungai, menurut dia, sudah miliar rupiah dana untuk pembangunan siring dan dermaga untuk fasilitas wisata di Jalan Sudirman dan Jalan Pire Tendean yang telah terbukti memberikan keindahan kota. Di kedua siring tersebut terlihat aneka tanaman hias, lampu-lampu hias, dan lokasi (tempat) bagi wisatawan untuk bercengkrama sambil menikmati jagung bakar dan makanan khas lainnya.

Untuk siring, akan dibangun sepanjang 10 kilometer. Akan tetapi, sekarang sudah terbangun sekitar 5 kilometer. Lokasi siring akan dijadikan aneka wisata, seperti wisatra kuliner, pusat cendera mata, permainan sungai, pasar terapung, dan restoran terapung.

Di siring pula, sekarang sedang dibangun sarana olahraga, sarana bermain sepeda, dan sedang dibangun monumen (patung) maskot Kalsel, bekantan atau kera hidung panjang (Nasalis larvatus), diharapkan menjadi ikon kota bagaikan patung singa di Singapura.

Dengan semua upaya tersebut, ke depan Banjarmasin sudah bisa menjadi objek wisata dunia bagaikan Venesia, Italia.