SATU SEPEDA SEJUTA SAUDARA DIBUKTIKAN DI BANGKOK

Oleh Hasan Zainuddin

gue

ku mencoba sepeda tua di Bangkok
Tak terbayangkan bisa terbang ke Bangkok, ibukota negara Thailand, namun berkat hoby sepeda tua lalu berkumpul di komunitas sepeda antik Banjarmasin (Saban) dan tiap minggu rely di wilayah Banjarmasin.
Tadinya aku tak terlalu suka naik sepeda apalgi sepeda tua (onthel) tetapi setelah bertemu banyak kawan dikomunitas ini akhirnya ku membeli sepeda, dan ternyata bersepeda bukan saja berolahraga namun ternyata melahirkan banyak kawan.
Lantaran ikut komunitas tersebut akhirnya Saban melalui Komunitas Sepeda Tua Indonesia (Kosti) yang berpusat di Jakarta mengundang anggota Saban bergabung dengan mereka untuk muhibah ke komuitas sepeda tua di Bangkok Thailand.
Ringkas cerita, akhirnya anggota Saban sebanyak enam orang berangkat ke Bangkok via Jakarta, rombongan Kosti yang berasal dari berebagai wilayah Indonesia sebelum terbang ke Bangkok berkumpul di terminal keberangkatan Internasional di Bandara Soekarno Hatta.
Dimpimpin oleh Aleks Setiawan kemudian rombongan terbang ke Bangkok dengan transir di Bandara Changi Internasional Singapura.
Setibanya di Bangkok dibantu oleh warga Bangkok berbangsa India, namun mahir berbhasa Melayu itu rombongan memperoleh sebuah penginapan sederhana, milik pengusaha India Muslim.
Sebelum ke Penginapan rombongan Kosti sekitar 50 orang sempat berkumpul dulu dengan rombongan Kosti lain yang berangkat secara berlainan penerbangan, kemudian pimpinan rombongan diambil alih oleh Fahmi Saimima, Yakni Sekjen Kosti yang terlebih dahulu terbang ke Kota Bangkok.
Rombongan muat dalam sebuah bus bertingkat yang dikemudikan oleh seorang warga Bangkok terurunan Bangsa Thai.
Uniknya bus ini dengan juru kemudi sang suami kemudian karnetnya seorang isteri, sehingga dua sejoli inilah yang membawa kemi ke mana-mana di Bangkok, dengan tujuan utama adalah lokasi komunitas sepeda tua di kota ibukota Thailand tersebut.
Sebelum bertemu dengan para komunitas rombonga diajak oleh Fami Saimima bertamasya ke berbagai lokasi termasuk ke objek wisata, atau pasar malam untuk yakni Asiatique The Riverfront.

gue1

Ku di pasar malam
Di sini rombongan selain makam malam juga sempat berbelanja berbagai oleh-oleh serta menikmati sungai Bangkok di waktu malam.
Di lokasi ini pula terlihat begitu ramai oleh wisatawan barat terutama yang berada di kafe-kafe yang berjejer di sepanjang jalan kawasan objek wisata malam ini.
Selain ke pasar malam rombongan keesok harinya dibawa pula ke Pasar Chatuchak yang terkenal di kota ini, karena luasnya yang belasan hektare dan apa saja ada dijual di lokasi ini, baik barang pecah belah, pakaian, elektornik, hingga ke alat pertanian dan tanaman seperti anggrek.
Berada di pasar yang paling besar di kota Bangkok ini rombongan sempat berbelanja, dan rombongan kesulitan berkomunikasi lantaran kebanyakan pedagang hanya pandai berbahasa setempat, sehingga seringkali transaksi berbahasa isyarat.
Harga-harga di lokasi inipun terbilang murah, lantaran kurs uang Thailand dibandingkan rupiah tidak terlalu mahal, yakni satu baht thai sama dengan rp400,-
Setelah puas berbelanja di pasar tersebut rombongan kemudian berwisaya ke berbagai tempat peribadatan orang Thailand yaitu kuil-kuil yang berada di tepian sungai Chao Phraya.

gue2

ku di tepian sungai Bangkok
Sore harinya berkunjung ke komunitas sepeda tua yang berada di kota ini disini rombongan kosti disambut oleh teman-teman di Thailand dengan aneka sepeda tua termasuk dua buah sepeda tertua yang ada di kota Bangkok.
Yakni dua sepeda dengan memiliki lingkarang ban yang besar di depan dan kecil di belakang,peserta dari Indonesia sempat menaiki sepeda tua tersebut.
Dilokasi tersebut rombongan disajikan makanan khas Indonesia yakni masakan Jawa serta enak kue-kue juga khas dai Indonesia yang konon oleh panitia di sana sengaja didatangkan orang Indonesia memasak makanan tersebut.

 

gue3bersama ary

Komunitas Sepeda Tua Jangan Disepelekan

Bersepeda tua bukan komunitas murahan, bukan komunitas orang pinggiran, tetapi komunitas yang memiliki jaringan kuat bukan saja di tanah air tetapi ke seluruh dunia.

Sebagai contoh para pecinta sepeda tua yang tergabung dalam Komunitas Sepeda Tua Indonesia (Kosti) memprogramkan lawatan ke komunitas pecinta sepeda tua yang ada di negara Rusia.

Program berangkat ke Rusia tersebut pada tahun 2017, kata Sekjen Kosti pusat Fahmi Saimima kepada Antara Kalsel, Selasa.

Menurut dia para pecinta sepeda Indonesia sudah berpengalaman memberangkatkan duta mereka ke berbagai belahan dunia, yang terakhir 28-30 November 2015 ke Bangkok negara Thailand dengan jumlah sekitar 50 orang.

Rombongan pecinta sepeda tua Indonesia ke Thailand tersebut dari berbagai daerah di tanah air, termasuk enam orang berasal dari Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Sebelum ke Thailand anggota Kosti ini sudah pula tiga kali ke negara Malaysia, tambahnya seraya menyebutkan bahwa keberadaan pecinta sepeda tua Indonesia tak bisa dipandang “sebelah mata,” lagi bagi pecinta sepeda tua dunia,lantaran komunitasnya terbesar di Indonesia.

Kosti juga sudah memberangkatkan anggotanya ke IVCA Congres & Rally 2015 di kota Solvesborg, Swedia.

“Sejak tahun 2012 di Gent Belgia, lalu di tahun 2013 di Republik Ceko, dan 2014 lalu di Hungaria kita selalu hadir mengibarkan sang saka Merah Putih.” katanya.

Kosti akan menggelar Kongres Sepeda Tua tahun 2018 di Ubud Provinsi Bali yang bakal dihadiri sedikitnya 35 negara, dan konferensi sepeda tua di Bandung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: