NIKMATI “PULAU PINUS” BERWISATA DI TENGAH DANAU

Oleh Hasan Zainuddin

 
Mataku tak berkedip saat pandangan terarah ke gaun panjang warna coklat kemerahan yang berjalan di tepian Pulau Pinus atau dekat bibir danau Riam Kanan, Desa Twingan Baru, Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.
Wanita yang berumur sekitar 30 tahun itu begitu asyiknya berfoto ria dengan teman-temannya, sesekali ku perhatikan ada perasaan kenal dengan wanita yang berkulit putih dan berjilbab tersebut.
Pura-pura ku juga berfoto seraya mendekat sekelompok wanita yang ternyata dari kota intan “Martapura” ini, agar bisa lebih memperhatikan wanita yang berlipstik merah keunguan ini.
Setelah ku mendekat ternyata wanita itu tampak terperanjat. “Rasanya ulun (aku) kenal dengan sampian ini, tapi dimanalah,” kata wanita ini dengan lembutnya.
“Aku juga rasa kenal,” kataku menjawab seraya berpura-pura lagi mengambil foto pemandangan indah di kawasan objek wisata andalan Kabupaten Banjar, Kalsel ini.
“Oh ingat, ingat sudah, sampian pak Hasan Zainuddin, ya kan” katanya bertanya. “Betul” kataku singkat.
Masih-masih ku mengingat-ngingat kenal dimana orang ini, wajahnya begitu akrab di perasaan ku, wah bingung ah pusing, lupa-lupa, gumamku.
“Kita kan sering ngobrol,”katanya lagi, wah wah tambah bingung aku, sering ngobrol, ngobrol dimana fikirku lagi.
“Kita kan sering ngobrol lewat inbox Facebook (FB)” katanya sambil tertawa. “Atagfirullah, ya ya ya baru aku ingat, kamu kan Dira,” kataku seraya disambut dengan anggukkan kepala beserta iringan senyum manisnya.
Tak kusangka ternyata pertemuan “kopi darat” dengan kawan FB ini justru berada di lokasi yang penuh dengan sentuhan nuansa alam Pulau Pinus di tengah Danau Riam Kanan yang dikelilingi oleh pemandangan lembah, hutan, dan Pegunungan Meratus yang tampak membiru.
Setelah ngobrol sebentar, lalu berpisah dengan iringan lambaian tangan yang lembut, tentu saja dibarengi oleh pandangan mata kawan-kawannya yang kesemuanya adalah wanita.
“Daaah,” kataku, dan “daaah” katanya pula seraya kulangkahkan kaki menuju sebuah lokasi tempat duduk yang persis berada di bawah pepohonan pinus yang menjulang tinggi di hamparan delta yang tak terlalu luas di kawasan destinasi wisata alam itu.

Wisata alam

Pulau Pinus berada di tengah danau Riam Kanan atau sebuah waduk buatan yang luasnya 8000 hektare, danau ini memiliki fungsi penting sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air, pengatur irigasi, mencegah erosi dan banjir yang merupakan bagian dari Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam.
Danau Riam Kanan terletak 65 Kilometer di sebelah Tenggara Kota Banjarmasin. Jika berangkat dari kota Banjarmasin maka melewati kota Banjarbaru menuju desa Aranio.
Kondisi jalan untuk menuju ke lokasi danau sudah cukup baik, dapat dilewati oleh kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat maupun angkutan umum pedesaan.
Penulis beserta 13 orang anggota rombongan datang ke wisata ini Minggu (17/7) lalu, selain ke Pulau Pinus juga menikmati wisata lainnya di wilayah yang dikenal sebagai kawasan penelitian, pendidikan, dan konservasi ini.
Setelah tiba di pelabuhan Aranio rombongan menyewa sebuah klotok (perahu bermesin) Rp400 ribu menyurusi danau bendungan yang dulu dibangun dengan waktu hampir 10 tahun tersebut.
Perjalanan menelan waktu sekitar satu jam itu menyusuri hanya sebagian dari luasan danau dengan tujuan Desa Tiwingan Baru.
Dalam perjalanan susur danau rombongan bisa menikmati aneka pemandangan alam yang indah, selain pepohonan yang rindang, lembah-lembah juga terlihat deretan penunungan meratus yang membiru.
Terlihat pula aktivitas nelayan dengan sampan kecil lagi memancing, menjala, dan merenggi. Akan tetapi, yang paling banyak terlihat ratusan mungkin ribuan buah keramba yang mengapung di sepanjang danau yang membiru dari sebuah bendungan yang diresmikan pada tahun 1973 oleh presiden ke-2 RI H.M. Soeharto.
Tujuan rombongan ini ke desa, terutama ada rumah penduduk yang dikontak lebih awal untuk memasakan nasi makan siang yang letak rumah persis di bibir bendungan.
Setibanya di rumah tersebut ternyata oleh tuan rumah sudah dihidangkan makan siang dengan aneka saturan alam, seperti terung rebus, daun singkong, tumun, kacang-kacangan, dengan ikan nila besar dan ikan mas besar di bakar.
Tentu saja dibarengi dengan sambal terasi yang pedas tak ketinggalan “cacapan” (bagian makanan suku Banjar) terbuat dari bawang merah, terasi bakar, irisan mangga muda, dan cabai rawit.
Ditambah lokasi persis di pelataran rumah yang menghadap kepantai danau dengan hemburan angin sepui-sepui dan suara gemercik gelombang danau yang menyentuh bibir pantai menyebabkan semua anggota rombongan makan dengan lahapnya.
“Selain masakannya memang enak, ditambah perut juga lapar, duh makannya jadi lahap, sampai-sampai perut, kok, rasa kencang,” kata Afrizaldi, anggota rombongan, seraya memperlihatkan perutnya.
Setelah istirahat sebentar sambil tiduran rombongan melanjutkan perjalanan hanya jalan kaki ke Pulau Pinus yang juga sebuah objek wisata kawasan riam kanan. Saat jalan kaki harus menyeberangi titian (jembatan kecil) panjang terbuat dari kayu ulin menyeberangi danau.
Di lokasi ini anggota sempat berfoto bersama atau sebagian lagi swafoto (selfie) sendiri-sendiri dengan latar belakang pemandangan di danau yang sudah menjadi destinasi wisata andalan Kalsel ini.
Saat di Pulau Pinus anggota rombongan menyebar ada yang meletakan tikar untuk tiduran, ada yang duduk di pandai sambil foto ada pula yang nongkrong di warung seraya menghirup segarnya air kelapa.
Berdasarkan pengamatan penulis, kawasan ini hanya ditumbuhi pohon pinus, di bawah pepohonan terasa dingin karena naung oleh kanopi-kanopi daun pinus hingga terhindar teriknya sinaran matahari.
Wisatawan saat kedatangan penulis memang tak terlalu banyak mungkin ada sekitar seratus orang, dan mereka kebanyakan duduk berkelompok sambil ngobrol seraya menikmati makanan agaknya yang sudah dibawa dari rumah.
Tapi sebagian wisatawan lagi nongkrong dan berjanda di bangku duduk yang memang banyak disediakan oleh pengelola lokasi tersebut di bibir pantai pulau menghadap ke tengah danau.
Penulis sendiri sempat pula duduk dan berfoto selfie sesekali bertegur sapa dengan rombongan wisatawan lainnya kebanyakan adalah wisatawan lokal (wilayah Kalsel).
Setelah lama di Pulau Pinus rombongan rencananya naik ke Bukit Atas sebuah lokasi paling tinggi di hamparan wisata Riam Kanan. Akan tetapi, karena waktu sudah menunjukan pukul 16.00 Wita, kemudian diputuskan untuk kembali saja.
Wilayah Riam Kanan merupakan objek wisata yang sudah dipromosikan luas ke nasional dan internasional karena selain ada bendungan, lembah, riam di objek wisata Sungai Kembang, Pulau Pinus, dan Bukit Atas, dan banyak lagi objek wisata lainnya.

 

 

Iklan

BERKEMAH SAMBIL NIKMATI INDAHNYA EMBUN PAGI TAHURA

Oleh Hasan Zainuddin
Tatkala membuka mata saat bangun pagi di lokasi perkemahan Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam kawasan Riam Kanan, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan, terlihat cahaya sang surya mengintip di balik pepohonan di hutan yang memiliki “segudang” spicies tanaman ini.

Sementara gumpalan embun pagi di dedaunan pohon kawasan yang memiliki aneka spicies satwa itupun terlihat seakan “bergelinjang manja” saat tersentuh sinaran mentari pagi yang cerah.

Suara “orkestra” aneka burung dan binatang lain di kawasan seluas 112 ribu hektare kawasan Pegunungan Meratus tersebut seakan melenyapkan perasaan lelah waktu menempuh perjalanan ke kawasan itu.

“Cuaca masih terasa sangat dingin, selimut tebal masih membalut tubuhku, yang membuat ku seakan enggan beranjak dari tempat tidur di perkemahan kawasan hutan lindung tersebut,” kata Abdul Kadir seorang mahasiswa FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin jurusan sejarah ini.

Abdul Kadir yang juga bergelar Utuh Tawing ini bersama penulis dan 12 orang rombongan melakukan perkemahan di wilayah tersebut, Sabtu malam (16/7) lalu, selain menikmati suasana alam sekaligus melakukan penghijauan dengan menanam 200 bibit pohon penghijauan.

Abdul Kadir melakukan aksi hijau tersebut bersama anggota komunitas Sepeda Antik (Saban) Banjarmasin yang sekaligus pula anggota Forum Komunitas Hijau (FKH) setempat.

Rombongan datang ke lokasi yang termasuk kawasan hutan pendidikan ini hanya mengayuh sepeda tua (ontel) dengan jarak tempuh sekitar 60 kilometer dari Kota Banjarmasin, guna menunjukkan komunitas ini cinta lingkungan dengan menggunakan sarana angkutan ramah alam, untuk mengurangi produksi emisi karbon di udara dan menekan pemakaian energi yang tak bisa terbarukan.

Dalam perkemahan kelompok yang mengaku “sahabat alam” ini sempat berdikusi kecil tentang berbagai hal menyangkut kelestarian lingkungan ternasuk Tahura Sultan adam yang sebenarnya adalah kawasan “Menara Air” atau wilayah resapan air untuk sungai-sungai di wilayah paling selatan pulau trerbesar nusantara ini.

“Hutan ini terjaga, maka kehidupan kita di Banjarmasin dan sekitarnya akan terjada, tetapi jika hutan ini rusak maka tamatlah riwayat kita, karena tak akan ada lagi suplai air bersih bagi kita,” kata Zany Thaluk dalam diskusi tersebut.

Mohammad Ary yang merupakan pimpinan kelompok ini berbicara panjang lebar mengenai kelestarian lingkungan sebagai kehidupan yang berkelanjutan.

“Saat ini alam sudah rusak ditandai dengan asap, kering, kebakaran hutan saat kemarau banjir dan tanah longsor saat musim hujan, musibah itu bisa jadi akibat olah manusia-manusia sebelumnya, kita harus merehabilitasi, jika tidak maka anak cucu kita kemudian hari kian menderita,”katanya memberi wejangan.

Oleh karena, tambah Mohammad Ary, saatnya kelompok ini berkiprah walau sedikit tetapi ikut mengembalikan kerusakan alam ini, dan semoga ini menjadi motivasi bagi masyarakat luas untuk berbuat serupa.

Saban dan FKH ini sudah menanam sekitar 7000 pohon pinang, 4000 pohon trambesi, ribuan lagi kumpulan pohon aren, palam putri, palam, asam jawa, petai, jengkol pohon buah-buahan di berbagai lokasi baik di Banjarmasin dan sekitarnya sejak tujuh tahun keberadaan organisasi kecil dari kelompok pecinta liungkungan ini.

Usai diskusi di kemah dekat bibir sungai kecil di wilayah perkemahan tersebut, kelompok ini kemudian berpetulang ke tengah hutan.

“Coba kita masuk hutan, kita nikmati suasana alam di tengah kegelapan yang suasananya terdengar nyanyian suara binatang malam jangkrik dan belalang,”kata Muhammad Ari seraya mempipin perjalanan jelajah hutan tersebut.

Bermodalkan lampu sinter dan penerangan kecil di telpon genggam satu persatu lokasi hutan dan sungai dilalui, dan rombongan ingin sekali ketemu binang seperti landak, kancil, atau rusa.

Tetapi perjalanan ke hutan dimulai sekitar pukul 01:00 Wita tersebut tak berlangsung lama, karena takut ke sasar akhirnya balik ke kemah dan perasaan ingin ketemu binatang di tengah malam tak kesampaian kecuali hanya beberapa burung ditemui bertengger di dahan.
Alami Kerusakan

Tahura Sultan Adam berdasarkan catatan termasuk hutan lindung Riam Kanan, kawasan Suaka Margasatwa, dan hutan pendidikan.

Penulis sendiri beberapa waktu lalu sempat bertanya kepada Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Tahura Sultan Adam, masih dijabat Akhmad Ridhani mengakui lahan wilayahnya terjadi kerusakan.

Sekitar 30 persen lahan Tahura kini kritis, atau sekitar 40 ribu hektare dari luas keseluruhan 112 ribu hektare.

¿Kondisi tersebut sungguh merisaukan karena itu diperlukan upaya rehabilitasi,mengingat kawasan tersebut merupakan kawasan resapan air,¿ katanya saat mendampingi Bupati Banjar, Sultan Khairul Saleh kala melakukan penanaman massal bibit penghijauan di lokasi tersebut.

¿Hingga 2010 luasan lahan kritis yang sudah ditanami bibit pohon mencapai 100 hektare dan luasannya akan terus ditingkatkan untuk mengurangi banyaknya lahan kritis,¿ katanya seraya menyebutkan tanaman yang dikembangkan tersebut adalah jenis buah-buahan dan jenis kayu khas setempat, seperti ulin, kruing, sintuk dan lainnya.

Dijelaskan, terjadinya lahan kritis di kawasan Tahura bukan disebabkan penebangan liar tetapi lebih banyak akibat terjadinya kebakaran hutan sehingga membuat areal sekitarnya kritis karena tidak ditumbuhi pepohonan.

Selain akibat kebakaran hutan dan lahan, munculnya lahan kritis juga diduga pembukaan kawasan menjadi ladang dan kebun bagi sebagian masyarakat setempat untuk ditanami pohon-pohon produktif.

Dikatakannya, upaya yang dilakukan untuk mengurangi luasan lahan kritis adalah rehabilitasi lahan melalui program penanaman bibit pohon baik yang dibiayai APBD Provinsi Kalsel, APBN maupun bantuan pihak ketiga.

Pihak ketiga yang memberikan dana penghijauan di areal yang menjadi kawasan penelitian, pendidikan, dan wisata alam tersebut, selain dari donatur luar negeri juga dari berbagai perusahaan, termasuk dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Banjarmasin.

¿Setiap tahun melalui APBD Kalsel dialokasi anggaran untuk rehabilitasi lahan termasuk memanfaatkan dana APBN serta menjaring bantuan dari pihak ketiga terutama kalangan swasta,¿ ujarnya.

Ditambahkan, penanaman bibit pohon yang dibiayai APBD Kalsel setiap tahun mencapai luasan 10 hektare dan melalui APBN berhasil ditanami bibit pohon dengan luasan mencapai 40 hektare hingga 50 hektare.

¿Ke depan kami berupaya memfokuskan bantuan dari pihak ketiga sebagai bentuk partisipasi mereka terhadap upaya kepedulian lingkungan sehingga luasan lahan yang bisa ditanami lebih besar,¿ katanya.

Tahura Sultan Adam ditetapkan berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 52 Tahun 1989 secara administratif meliputi wilayah Kabupaten Banjar dan wilayah Kabupaten Tanah Laut.

Sejak tahun 2008 telah dibentuk UPT Dinas kehutanan Provinsi Kalsel Taman Hutan Raya Sultan Adam dengan Dasar Perda Nomor 6 Tahun 2008 tentang SOTK Perangkat Daerah Provinsi Kalsel dan Pergub Kalsel Nomor 8 Tahun 2008 tentang Pembentukan Tahura Sultan Adam.
Kawasan Wisata

Tahura termasuk kawasan wisata dan kawasan pendidikan karena di dalamnya terdapat hutan yang mengandung aneka jenis tanaman.

Tahura yang berekosistem hutan hujan tropika ini terdapat aneka flora dan fauna yang beberapa diantaranya spesifik Kalimantan, seperti meranti (Shorea spp), ulin (Eusideroxylon zwageri), kahingai (Santiria tomentosa).

Tanaman lain damar (Dipterocarpus spp.), pampahi (Ilexsimosa spp.), kuminjah laki (Memecylon leavigatum), keruing (Dipterocarpus grandiflorus), mawai (Caethocarpus grandiflorus), jambukan (Mesia sp.), kasai (Arthocarpus kemando), dan lain-lain.

Sedangkan faunanya terdapat bekantan (Nasalis larvatus), owa-owa (Hylobates muelleri), lutung merah (Presbytis rubicunda), beruang madu (Helarctos malayanus), rusa (Cervus unicolor), kijang merah (Muntiacus muntjak), kijang mas (Muntiacus atherodes), dan pelanduk (Tragulus javanicus).

Kemudian juga ada hewan landak (Hystrix brachyura), musang air (Cynogale benetti), macan dahan (Neofelis nebulosa), kuau/harui (Argusianus argus), rangkong badak (Buceros rhinoceros), enggang (Berenicornis comatus), elang hitam (Ictinaetus malayensis), elang bondol (Haliastur indus), raja udang sungai (Alcedo atthis), raja udang hutan (Halycon chloris), dan lain-lain.

Wilayah ini terdapat Waduk seluas lebih kurang 8.000 Ha dengan fungsi utama sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air satu-satunya di Provinsi Kalimantan Selatan. Berperan penting sebagai pengatur tata air, mencegah erosi dan banjir, sebagai objek wisata alam, danau/waduk ini memiliki bentang alam yang menarik dengan panorama danau, lembah dan bukit disekelilingnya serta untuk kegiatan olahraga air.

Objek wisata yang ada kawasan ini antara lain Pulau Pinus
Berupa pulau seluas lebih kurang tiga hektare terletak di tengah danau dapat ditempuh lebih kurang 15 menit dari Pelabuhan Tiwingan. Pulau ini didominasi oleh tanaman Pinus Merkussi.

Kemudian juga ada objek wisata Pulau Bukit Batas kurang lebih satu hektare berdekatan letaknya dengan pulau pinus, dapat ditempuh lebih kurang 30 menit dari pelabuhan Tiwingan. Seperti halnya dengan pulau pinus, kawasan ini cocok untuk rekreasi santai dan olahraga.

Lalu ada pula air terjun Surian, air terjun Batu Kumbang, dan air terjun Mandin Sawa yang sangat menunjang kegiatan Bina Cinta Alam. Dari sungai Hanaru dapat dicapai lebih kurang dua jam dengan menelusuri sungai Hanaru atau lebih kurang tiga jam melalui jalan patroli yang sudah ada.

Air Terjun Bagugur terletak di hulu sungai Tabatan. Dari desa Kalaan dapat ditempuh lebih kurang dua jam melalui jalan reboisasi dan areal bekas perladangan berpindah.

Bumi Perkemahan Awang Bangkal seluas enam hektare terletak di daerah Awang Bangkal. Tidak jauh dari jalan raya Banjarbaru ¿ Pelabuhan Tiwingan, berada didekat sungai Tambang Baru, sehingga mudah mendapatkan air. Bentang alam dari bukit disekelilingnya serta tepian sungai Tambang Baru merupakan daya tarik tersendiri.

Pusat Pengelola/Informasi di Mandiangin di daerah Mandiangin merupakan suatu komplek bangunan yaitu kantor pusat pengelola, kantor pusat informasi sumber daya alam, plaza dan bumi perkemahan. Di areal ini terdapat prasasti peresmian berdirinya Tahura Sultan Adam dan Puncak Penghijauan Nasional (PPN) ke 29 yang ditandatangani oleh Presiden RI Bapak Soeharto.

Di lokasi ini pula pusat pengelolaan hutan pendidikan Fakultas Kehutanan Unlam. Pada pengembangan selanjutnya kawasan ini dikembangkan menjadi arboretum, penangkaran satwa, taman safari, kolam renang, taman burung, bumi perkemahan dilengkapi dengan souvenir shop dan lain-lain.

 

MERASAKAN NIKMATNYA PIJITAN BUTIRAN AIR TERJUN TAMBELA

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin, 15/7 (Antara)- Dengan memeramkan mata seraya duduk di dasar sungai yang agak surut yang bisa di didera arus atau butiran air terjun kecil di Sungai Kembang, Desa Tambela, Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan, sesuatu yang sulit digambarkan dengan kata-kata.
“Pokoknya terasa enak banget,” kata wisatawan lokal Risky ketika bersama penulis menikmati sejuknya udara kawasan bendungan Riam Kanan yang masuk jajaran Pegunungan Meratus di wilayah paling selatan pulau terbesar nusantara ini.
Menurut Risky seorang kameraman sebuah usaha rumah produksi, ingin rasanya berlama-lama mandi di lokasi yang persis berada di tengah lembah dengan ratusan spicies tumbuhan kawasan yang boleh dikatakan semacam “puncak” di bogor tersebut.
“Sambil memejamkan mata lalu hati kita layangkan ke suatu hal yang mengingat-ngingat masa indah, seraya diterpa butiran air , duuuuh rasanya hati ini senang sekali,” kata Risky lagi.
Penulis sendiri merasakan begitu segarnya mandi di tengah suasana hutan dengan suara gemuruh air berarus deras di lokasi bebatuan, kicauan burung, dan suara angin yang menerpa pepohonan.
Kata Risky coba duduk persis di lokasi yang tepat dijatuhi butiran atau gumpalan air terjun yang kena bagian belakang tubuh, pasti merasakan badan terasa dipijit-pijit, setelah itu badan rasa enteng atau ringan.
Memang hal itu benar dan banyak dilakukan oleh pengunjung yang masih berjejal di lokasi tersebut walau sudah sepekan musim lebaran ini.
Penulis dan Risky sendiri adalah dua dari sekitar 15 anggota rombongan wisata keluarga yang mengunjungi kawasan wisata Riam Kanan kawasan Pegunungan yang berdekatan dengan Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam tersebut.
Salah satu yang dikunjungi adalah kawasan wisata Sungai Kembang, Desa Tambela, yang merupakan subuah sungai atau riam yang terletak hanya 64 kilometer dari Kota Banjarmasin. Kawasan ini termasuk wilayah perkemahan, pusat penelitian, dan kawasan konservasi alam.
Untuk mencapai kawasan ini sangat mudah, kalau dari pusat ibukota provinsi Kalsel Banjarmasin, bisa dengan roda empat atau roda dua, dengan rute ke banjarbaru lalu ke bundaran dekat kota Martapura, kemudian arah ke Aranio atau Waduk Riam Kanan, sebelum mencapai waduk sudah ketemu lokasi ini.
Objek wisata Sungai Kembang termasuk wisata yang murah, dengan tiket masuk hanya Rp4.000,- itupun hanya bagi orang dewasa.

Wisata Riam Kanan

Bagi mereka yang suka berpetualang seraya menikmati objek-objek wisata wisata alam maka tak salah jika tujuannya adalah kawasan wisata Riam Kanan, karena selain adanya Sungai Kembang masih sederat objek wisata lainnya.
Seperti rombongan penulis yang melakukan wisata bersama keluarga, setibanya di pelabuhan Aranio lalu mencarter sebuah klotok (perahu bermotor) dengan tarif Rp400 ribu per buah menyusuri danau bendungan yang dibangun dengan waktu hampir sepuluh tahun tersebut.
Perjalanan menelan waktu sekitar satu jam itu menyusuri hanya sebagian dari luasan danau sekitar 10 ribu hektare tersebut dengan tujuan Desa Tiwingan Baru.
Dalam perjalanan susur danau rombongan bisa menikmati aneka pemandangan alam yang indah, selain pepohonan yang rindang, lembah-lembah juga terlihat deretan penunungan meratus yang membiru.
Terlihat pula aktivitas nelayan dengan sampan kecil lagi memancing, menjala, dan merenggi.
Tetapi yang paling banyak terlihat ratusan mungkin ribuan buah keramba yang mengapung di sepanjang danau yang membiru dari sebuah bendungan yang diresmikan tahun 1973 oleh Presiden Soeharto.
Tujuan rombongan ini ke desa terutama ada rumah penduduk yang dikontak lebih awal untuk memasakan nasi makan siang yang letak rumah persis di bibir bendungan.
Setibanya di rumah tersebut ternyata oleh tuan rumah sudah dihidangkan makan siang dengan aneka saturan alam seperti terung rebus, daun singkong, tumun, kacang-kacangan, dengan ikan nila besar dan ikan mas besar di bakar.
Tentu saja dibarengi dengan sambal terasi yang pedas tak ketinggalan “cacapan” (bagian makanan suku Banjar) terbuat dari bawang merah, terasi bakar, irisan mangga muda, dan cabe rawit.
Ditambah lokasi persis di pelataran rumah yang menghadap kepantai danau dengan hemburan angin sepui-sepui dan suara gemericik gelombang danau yang menyentuh bibirpantai, menyebabkan semua anggota rombongan makan dengan lahapnya.
“Selain masakannya memang enak, ditambah perut juga lapar, duuuh makannya jadi lahap, sampai-sampai perut kok rasa kencang,” kata Afrizaldi seorang anggota rombongan seraya memperlihatkan perutnya.
Setelah istirahat sebentar sambil tiduran rombongan melanjutkan perjalanan hanya jalan kaki ke pulau pinus yang juga sebuah objek wisata kawasan riam kanan. Saat jalan kaki harus menyeberangai titian (jembatan kecil) panjang terbuat dari kayu ulin menyeberangi danau.
Di lokasi ini anggota sempat berfoto bersama atau sebagian lagi selfie sendiri-sendiri dengan latar belakang pemandangan di danau yang sudah menjadi destinasi wisata andalan Kalsel ini.
Begitu pula setibanya di pulau pinus anggota rombongan menyebar ada yang melatakan tikar untuk tiduran, ada yang duduk di pandai sambil fot0 ada pula yang nongkrong di warung seraya menghirup segarnya air kelapa.
Setelah lama di pulau pinus rombongan rencananya naik ke Bukit Atas sebuah lokasi paling tinggi di hamparan wisata Riam Kanan, tetapim karena waktu sudah menunjukan pukul 16:00 Wita, kemudian diputuskan untuk kembali saja.
Wilayah Riam Kanan merupakan objek wisata yang sudah dipromosikan luas ke nasional dan internasional, karena selain ada bendungan, lembah, riam di objek wisata Sungai Kembang, Pulau Pinus, dan Bukit Atas.
Kemudian kawasan ini ada juga terdapat objek wisata yang banyak dikunjungi pula seperti Lembah Kahung, bumi perkemahan Awang Bangkal, Mandiangin, serta Tahura Sultan Adam. ***4***1

FKH TANAM BUAH SERAYA SEDEKAH OKSIGEN

Banjarmasin ()- Bersepeda onthel, Zany Thalux (45 tahun) seorang anggota Forum Komunitas Hijau (FKH) Banjarmasin berkeliling satu kampung ke kampung lain di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, hanya untuk tanam pohon.

BUAH
Bersama sejumlah teman di komunitas unik ini, Zany Thalux mencangkul tanah satu demi satu lubang ke lubang lain, seraya menanam pepohonan maksudnya agar lokasi kota ini dan sekitarnya menjadi rindang.

Dari sekian pepohonan hijau yang dikembangkan oleh komunitas yang beranggotakan sekitar 70 orang ini sebagian besar adalah tanaman buah lokal, seperti rambutan garuda, rambutan antalagi, kuini, mentega, kacapuri, langsat, kasturi (mangepera delmiayan kasturi), rambai padi, petai, jengkol, dan asam jawa.

Sudah beberapa lokasi dihijaukan oleh komunitas sebagian anggotanya berusia tua ini, dan dari satu lokasi aksi ke lokasi aksi lainnya menggunakan sepeda tua pula (onthel).

Sebagai contoh penamaman pohon buah di halaman masjid raya Sabilal Muhtadin, di halaman Gelanggang remaja Hasanudin HM, atau di Ruang Terbuka Hijau (RTH) milik Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bandarmasih.

Dalam upaya pengembangan tanaman lokal ini para anggota komunitas sekaligus berkampanye, menggunakan selebaran, sepanduk, pamlet, dan alat peraga yang menyebutkan menanam pohon adalah bersedekah oksigen, menanam pohon adalah beramal jariah, dan menanam pohon adalah menciptakan lingkungan sehat.

Ia menggambarkan, seandainya seseorang menanam pohon,kemudian pohon itu berusia 300 tahun, maka usia sejarah penanamnya bisa mencapai 300 tahun, selama 300 tahun pula penanamnya memperoleh amal jariah.

Sebab pohon yang ditanam itu menciptakan keteduhan, menciptakan keindahan, menyerap polutan (racun udara), pohon habitat binatang, jika pohon itu berbuah berarti ditambah amal jariahnya , itu hanya satu pohon, jika sepuluh pohon, jika seratus pohon, jika seribu pohon bisa dibayangkan berapa banyak manfaat yang diberikan oleh si penanam pohon.

Belum lagi pohon memproduksi oksigen, karena oksigen itu mahal makanya perlu disediakan di alam.Sekarang saja harga oksigen di rumah sakit minimal rp25 ribu per liter, padahal sehari seorang manusia menghirup 2.880 liter oksigen kali Rp25 ribu berarti sehari kalau beli seharga Rp72 juta.

“Makanya kami tak pernah lelah menanam pohon, dan aksi kami lakukan setiap hari Sabtu dan Minggu, karena tak sedikit anggota kami yang juga pegawai negeri sipil, pedagang, dan usahawan yang hanya waktu luang di dua hari dalam seminggu tersebut,” kata Zany Thaluk yang dikenal seorang PNS lingkungan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin ini.

Menurut kordinator lapangan FKH ini lingkungan hijau yang penuh oksigen itu perlu terutama menghadapi era pemanasan global, tanpa upaya penghijauan maka penderitaan dan penderitaan akan selalu muncul, seperti kekeringan, kebakaran hutan, banjir, serta yang terakhir serbuan asap.

“Kekeringan, banjir, dan asap sekarang ini, mungkin saja kesalahan manusia-manusia sebelumnya yang serakah merusak lingkungan, kalau itu terus dibiarkan, maka anak cucu kemudian hari akan lebih menderita lagi,” katanya.

“Sekarang saja, tiap kemarau rasanya kita ini bagaikan hidup di dalam awan saja, karena penuh asap, coba kalau tak ada rehabilitasi lingkungan, bagaimana setahun, lima tahun, atau sepuluh tahun ke depannya, mungkin asap kian pekat lagi, susah dibayangkan,” kata Zany Thalux dengan semangat.

Beranjak dari pemikian itulah, kaitan hari buah sedunia yang diperngati setiap 1 Juli ini FKH mencoba mengkampanyekan pelestarian lingkungan melalui penanaman pohon buah-buahan lokal apalagi Kalimantan dikenal banyak spicies tanaman khas yang sebagian pula sudah langka, maka perlu pelestarian.

Sementara Wakil Ketua FKH, Mohamad Ary menambahkan mengajak seluruh masyarakat tanam pohon buah buahan baik untuk konservasi hutan, peneduh, maupun buah konsumsi.

Salah satunya Asam Jawa atau Asam Kamal (tamarindus indica).

Pohon ini cocok untuk ditanam sbg konservasi lahan dan pohon peneduh. Pada lahan subur, sdh berbuah pada usia 5 thn.

Batang pohonnya cukup keras dan tumbuh besar mampu hidup hingga ratusan tahun. Buahnya mengandung senyawa kimia antara lain asam sitrat, asam anggur, asam suksinat, pectin dan gula invert.

Kulit bijinya mengandung phlobatanim dan bijinya mengandung albuminoid serta pati.

Daunnya terdapat kandungan kimia saponin, flavonoid dan kanin. Unsur-unsur yang terkandung dalam tanaman asam jawa, baik daun, kulit pohon maupun daging bijinya dapat dimanfaatkan untuk bahan obat-obatan tradisional.

Tanaman ini memiliki khasiat yang cukup banyak dalam menyembuhkan beberapa penyakit, di antaranya daun asam jawa berkhasiat untuk menurunkan kadar kolesterol darah yang tinggi, pengobatan demam, rematik, sakit kuning, cacingan, sariawan, sulit tidur atau insomnis.

Sahabat sahabat alam FKH Banjarmasin, bekerja sama dengan BP DAS mulai menanam dan membagikan pohon ini, dan bekerja sama dengan Hidayat Aziz, sdh mbagikan pohon ini kepada masyarakat untuk ditanam di tepian jalan kawasan Loksado Pegunungan Meratus, agar tebing jalan tidak lagi longsor.

Selain pohon ini, FKH juga bermimpi bisa menanam lebih banyak jenis pohon untuk kelestarian lingkungan dan penyelamatan plasma nutfah.

Kian Langka

Samlan (60 th), seorang warga Banjarmasin mengaku rindu mencicipi lagi beberapa buah Kalimantan (Borneo) yang dulunya banyak ditemukan di wilayah Kalimantan Selatan.

Tetapi kerinduan akan buah khas Borneo tersebut seringkali tak kesampaian, masalahnya buah tersebut sudah sulit diperoleh, walau mencarinya ke mana-mana termasuk ke wilayah sentra buah-buahan daerah Banua Enam (enam kabupaten Utara Kalsel) atau yang sering pula disebut wilayah Hulu sungai.

“Dulu aku sering makan buah durin merah, yang disebut Lahung, tetapi kini jangankan memakannya melihat pun sudah tak pernah lagi,” kata Mahlan saat bercerita kepada penulis.

Kerinduan akan buah-buahan lokal tersebut agaknya bukan hanya menimpa Samlan ini tetapi mungkin ratusan bahkan ribuan orang warga yang tinggal di bagian selatan pulau terbesar di tanah air ini.

Sebut saja buah yang sudah langka itu yang disebut karatongan, mahrawin, atau mantaula yang kesemuanya masih family durian (durio family).

Belum lagi jenis buah lain seperti family rambutan banyak yang sudah hampir punah, sebut saja siwau, maritam, jenis mangga-manggaan yang dulu banyak dikenal dengan sebutan asam tandui, hasam hurang, hambawang pulasan dan beberapa jenis lagi yang sulit diperoleh dipasaran.

Berdasarkan keterangan buah jenis di atas langka lantasan pohon buah-bauah tersebut terus ditebang untuk digunakan sebagai bahan baku gergajian.

Berdasarkan keterangan penduduk Desa Panggung pohon buah yang terbilang langka tersebut biasanya berbentuk besar dan tinggi, sehingga menggiurkan bagi orang untuk menebangnya dan menjadikan sebagai kayu gergajian.

“Sejak sepuluh tahun terakhir ini, kayu buah-buahan tersebut ditebang diambil kayunya untuk dijual dan untuk bahan bangunan pembangunan rumah penduduk,” kata Rusli penduduk setempat.

Perburuan kayu buah-buahan tersebut setelah kayu-kayu besar dalam hutan sudah kian langka pula, akibat penebangan kayu sebelumnya, sementara permintaan kayu untuk dijadikan vener ( bahan untuk kayu lapis) terus meningkat, setelah kayu-kayu ekonomis dalam hutan sudah sulit dicari, Bukan hanya untuk vener, kayu-kayu dari pohon buah itu dibuat papan untuk dinding rumah penduduk, atau dibuat balokan serta kayu gergajian.

Beberapa warga menyayangkan adanya tindakan oknum masyarakat yang suka melakukan penebangan kayu buah tersebut, lantaran jenis kayu ini adalah kayu yang berumur tua.

“Kalau sekarang ditanam maka mungkin 50 tahunan bahkan ratusan tahun baru kayu itu besar,” kata warga yang lain. Sebagai contoh saja, jenis pohon buah lahung yang sering ditebang adalah pohon yang ratusan tahun usianya, makanya ukuran garis tengahnya minimal satu meter.

Warga mengakui agak sulit melarang penebangan kayu pohon buah tersebut lantaran itu kemauan pemilik lahan dimana pohon itu berada, dijual dengan harga mahal, sehingga oleh pemilik lahan cara itu dianggap menguntungkan.

Pohon buah-buahan lokal Kalimantan ini banyak ditemui di wilayah adanya pemukiman penduduk daratan Pegunungan Meratus seperti di Kabupaten Balangan, Kabupaten Tabalong, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) serta Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) dikenal sebagai sentra buah-buahan lokal Kalsel.

Kawasan ini setiap musim buah memproduksi buah lokal seperti tiwadak (cempedak), durian yang kalau di kawasan setempat terdapat sekitar 30 spicies durian, rambutan sekitar 40 spicies, dan mangga-manggaan yang juga puluhan spicies.

Jenis buah yang biasanya selalu melimpah, adalah langsat terdapat beberapa spicies,rambai beberapa spicies.

Mangga-manggan saja juga banyak jenisnya sebut saja Kasturi (Mangifera casturi), Hambuku (Mangifera spp), Hambawang (Mangifera foetida), kuwini (Mangifera odorata), Ramania, tetapi populasinya terus menyusut termasuk buah lain seperti Pampakin (Durio kutejensis), Mundar (Garcinia spp), Pitanak (Nephelium spp), Tarap (Arthocarpus rigitus), Kopuan (Arthocarpus spp), Gitaan (Leukconitis corpidae), serta Rambai (Sonneratia caseolaris).

Buah tersebut di atas dulu masih banyak tumbuh di mana-mana hanya saja sekarang sudah mulai menghilang, belum terlihat upaya pelestariannya.

“SAHUR BERSAMA” BUDAYA BARU ERATKAN TALI SILATURAHMI

rudy ariffin

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,3/7-2016 ()- Saling salam-salaman dan peluk-pelukan lalu duduk saling berhadap-hadapan seraya ngobrol dan sedikit sambutan setelah itu doa lalu makan secara bersama-sama pula.

Itulah budaya sahur bersama yang sudah tujuh kali dilakukan oleh Rudy Ariffin selagi masih menjabat gubernur Kalimantan Selatan dua periode, ketika tibanya bulan Ramadhan dengan kalangan wartawan di wilayah paling selatan pulau terbesar nusantara ini.

“Saya kangen ketemu teman-teman wartawan, kebetulan saya juga terima SMS yang menanyakan masih adakah sahur bersama dengan wartawan, walau saya sudah tak lagi Gubernur Kalsel, saya jawab tentu tahun ini tetap ada,” kata mantan gubernur Kalsel Rudy Ariffin seraya disambut tepuk tangan sekitar 50 wartawan yang hadir dalam acara sahur bersama tersebut.

Sahur bersama dengan mantan orang nomor satu di Kalsel itu berlangsung Minggu (3/7) dini hari di kediamannya di Kota Banjarbaru, sekitar 40 Km Utara Banjarmasin.

“Insya Allah jika ada umur, sahur bersama semacam ini tetap kita gelar di tahun-tahun mendatang, saya senang cara-cara ini karena mampu meningkatkan tali silaturahmi, dan bisa mencairkan kebuntuan komunikasi diantara kita,” kata Ketua DPW PPP Kalsel tersebut yang meletakan jabatan selalu gubernur Kalsel sekitar delapan bulan lalu.

Hadir kala itu Ketua PWI Kalsel Faturahman serta seluruh unsur pengurus PWI dan sejumlah wartawan, disamping datang pula anggota DPR RI dua periode, HM Aditya Mufti Ariffin dari PPP asal daerah pemilihan provinsi Kalsel yang juga putra dari Rudy Ariffin.

Selain itu terlihat pula Wali Kota dan Wakil Wali Kota Banjarbaru, Komandan Kodim Kabupaten Banjar, serta Kapolres Kota Banjarbaru dan Kabupaten Banjar.

Rupanya, gaya kepemimpinan Rudy Ariffin dengan menggelar atraksi sahur bersama dengan berbagai unsur masyarakat tersebut, belakangan menjadi trend baru, sehingga bukan saja digelar di kalangan pejabat, tetapi juga sudah merasuki budaya di kalangan pengusaha, tokoh masyarakat, dan komunitas.

Bahkan Gubernur Kalsel periode 2016-2020 Haji Sahbirin Noor melanjutkan budaya tersebut dan menggelar sahur bersama pula dengan wartawan pada Selasa (28/6) lalu.

Dalam acara sahur tersebut Gubernur mengaku gembira bisa bertatap muka dengan hampir seluruh wartawan yang ada di Banjarmasin, hingga saling mengenal satu sama lain, dan saling tukar pendapat.

Karena menurutnya pers mempunyai peran besar dalam pelaksanaan dan menyukseskan pembangunan, seraya mengharapkan agar insan pers di Kalsel terus meningkatkan peran dan partisipasi untuk kemajuan pembangunan dan masyarakat daerah ini khususnya.

Begitu juga tanpa pers sulit untuk memotivasi atau mengajak masyarakat supaya bersama-sama pula mamajukan banua Kalsel agar masyarakatnya lebih sejahtera, tuturnya didampingi Wakil Gubernur setempat H Rudy Resnawan, pada acara sahur yang digelar di rumah dinas Jalan R Soeprapto Kota Banjarmasin tersebut.
Atraksi wisata

Bertemu masyarakat dan seraya makan sahur bersama yang sudah sering dilakukan gubernur Kalsel itu kini juga sudah dilakukan beberapa kali oleh Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina.

Bahkan Ibnu Sina setiap kali acara sahur bersama dengan para pejabat lingkup Pemkot setempat, dengan unsur kepolisian, serta komunitas sekaligus bertindak sebagai penceramah dan Imam Sholat Subuh.

“Saya bahagia bisa bertemu semua kalangan saat sahur bersama, banyak keluhan masyarakat yang disampaikan untuk perbaikan di kota ini, dan itu saya tampung dan saya akan perhatikan untuk menjadikan kota Banjarmasin sesuai motto “Baiman” atau barasih wan nyaman,” kata wali kota dari unsur partai politik PKS ini.

Berdasarkan catatan, Wali Kota Ibnu Sina menghadiri sahur bersama dengan pihak Sapol Air Polresta Banjarmasin, dan bersama pedagang pasar terapung, bersama komunitas lingkungan, terakhir bersama Balakar 654, sebuah organisasi regu pemadam kebakaran di kota Banjarmasin.

Saat menghadiri “Sahur On The River” (SOTR) III atau Sahur Susur Sungai yang oleh Satuan Polisi Air (Sapol air) Polresta Banjarmasin Sabtu (25/6) dinihari lalu wali kota menilai acara ini memiliki keunikan, sahur bersama dengan ratusan orang, di tepian sungai, di lokasi objek wisata keagamaan lagi.

Menurut dia, SOTR ini semestinya lebih sering dibudayakan. Bukan saja untuk meningkatkan tali silaturahmi, tetapi merupakan salah satu bentuk syiar agama. Yang tidak kalah penting, SOTR di kota seribu sungai ini menjadi atraksi wisata yang tak ada ditemui di belahan banua manapun.

“Saya sudah banyak tanya, tak ada seorang pun menjumpai acara sahur bersama, di lokasi pinggiran sungai yang dihadiri ratusan orang,” kata Ibnu Sina lagi.

Ke depan, kata dia, Pemkot akan melibatkan diri dalam kegiatan semacam ini, dan bahkan mungkin akan menjadi kalender kepriwisataan yang di tawarkan kepada wisatawan, khususnya wisatawan keagamaan.

“Ayu kita menikmati wisata sungai dengan menyusuri kehidupan air, seraya makan sahur bersama,” kata Ibnu Sina dengan nada ajakan.***4***