NIKMATI “PULAU PINUS” BERWISATA DI TENGAH DANAU

Oleh Hasan Zainuddin


Mataku tak berkedip saat pandangan terarah ke gaun panjang warna coklat kemerahan yang berjalan di tepian Pulau Pinus atau dekat bibir danau Riam Kanan, Desa Twingan Baru, Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.
Wanita yang berumur sekitar 30 tahun itu begitu asyiknya berfoto ria dengan teman-temannya, sesekali ku perhatikan ada perasaan kenal dengan wanita yang berkulit putih dan berjilbab tersebut.
Pura-pura ku juga berfoto seraya mendekat sekelompok wanita yang ternyata dari kota intan “Martapura” ini, agar bisa lebih memperhatikan wanita yang berlipstik merah keunguan ini.
Setelah ku mendekat ternyata wanita itu tampak terperanjat. “Rasanya ulun (aku) kenal dengan sampian ini, tapi dimanalah,” kata wanita ini dengan lembutnya.
“Aku juga rasa kenal,” kataku menjawab seraya berpura-pura lagi mengambil foto pemandangan indah di kawasan objek wisata andalan Kabupaten Banjar, Kalsel ini.
“Oh ingat, ingat sudah, sampian pak Hasan Zainuddin, ya kan” katanya bertanya. “Betul” kataku singkat.
Masih-masih ku mengingat-ngingat kenal dimana orang ini, wajahnya begitu akrab di perasaan ku, wah bingung ah pusing, lupa-lupa, gumamku.
“Kita kan sering ngobrol,”katanya lagi, wah wah tambah bingung aku, sering ngobrol, ngobrol dimana fikirku lagi.
“Kita kan sering ngobrol lewat inbox Facebook (FB)” katanya sambil tertawa. “Atagfirullah, ya ya ya baru aku ingat, kamu kan Dira,” kataku seraya disambut dengan anggukkan kepala beserta iringan senyum manisnya.
Tak kusangka ternyata pertemuan “kopi darat” dengan kawan FB ini justru berada di lokasi yang penuh dengan sentuhan nuansa alam Pulau Pinus di tengah Danau Riam Kanan yang dikelilingi oleh pemandangan lembah, hutan, dan Pegunungan Meratus yang tampak membiru.
Setelah ngobrol sebentar, lalu berpisah dengan iringan lambaian tangan yang lembut, tentu saja dibarengi oleh pandangan mata kawan-kawannya yang kesemuanya adalah wanita.
“Daaah,” kataku, dan “daaah” katanya pula seraya kulangkahkan kaki menuju sebuah lokasi tempat duduk yang persis berada di bawah pepohonan pinus yang menjulang tinggi di hamparan delta yang tak terlalu luas di kawasan destinasi wisata alam itu.

Wisata alam

Pulau Pinus berada di tengah danau Riam Kanan atau sebuah waduk buatan yang luasnya 8000 hektare, danau ini memiliki fungsi penting sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air, pengatur irigasi, mencegah erosi dan banjir yang merupakan bagian dari Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam.
Danau Riam Kanan terletak 65 Kilometer di sebelah Tenggara Kota Banjarmasin. Jika berangkat dari kota Banjarmasin maka melewati kota Banjarbaru menuju desa Aranio.
Kondisi jalan untuk menuju ke lokasi danau sudah cukup baik, dapat dilewati oleh kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat maupun angkutan umum pedesaan.
Penulis beserta 13 orang anggota rombongan datang ke wisata ini Minggu (17/7) lalu, selain ke Pulau Pinus juga menikmati wisata lainnya di wilayah yang dikenal sebagai kawasan penelitian, pendidikan, dan konservasi ini.
Setelah tiba di pelabuhan Aranio rombongan menyewa sebuah klotok (perahu bermesin) Rp400 ribu menyurusi danau bendungan yang dulu dibangun dengan waktu hampir 10 tahun tersebut.
Perjalanan menelan waktu sekitar satu jam itu menyusuri hanya sebagian dari luasan danau dengan tujuan Desa Tiwingan Baru.
Dalam perjalanan susur danau rombongan bisa menikmati aneka pemandangan alam yang indah, selain pepohonan yang rindang, lembah-lembah juga terlihat deretan penunungan meratus yang membiru.
Terlihat pula aktivitas nelayan dengan sampan kecil lagi memancing, menjala, dan merenggi. Akan tetapi, yang paling banyak terlihat ratusan mungkin ribuan buah keramba yang mengapung di sepanjang danau yang membiru dari sebuah bendungan yang diresmikan pada tahun 1973 oleh presiden ke-2 RI H.M. Soeharto.
Tujuan rombongan ini ke desa, terutama ada rumah penduduk yang dikontak lebih awal untuk memasakan nasi makan siang yang letak rumah persis di bibir bendungan.
Setibanya di rumah tersebut ternyata oleh tuan rumah sudah dihidangkan makan siang dengan aneka saturan alam, seperti terung rebus, daun singkong, tumun, kacang-kacangan, dengan ikan nila besar dan ikan mas besar di bakar.
Tentu saja dibarengi dengan sambal terasi yang pedas tak ketinggalan “cacapan” (bagian makanan suku Banjar) terbuat dari bawang merah, terasi bakar, irisan mangga muda, dan cabai rawit.
Ditambah lokasi persis di pelataran rumah yang menghadap kepantai danau dengan hemburan angin sepui-sepui dan suara gemercik gelombang danau yang menyentuh bibir pantai menyebabkan semua anggota rombongan makan dengan lahapnya.
“Selain masakannya memang enak, ditambah perut juga lapar, duh makannya jadi lahap, sampai-sampai perut, kok, rasa kencang,” kata Afrizaldi, anggota rombongan, seraya memperlihatkan perutnya.
Setelah istirahat sebentar sambil tiduran rombongan melanjutkan perjalanan hanya jalan kaki ke Pulau Pinus yang juga sebuah objek wisata kawasan riam kanan. Saat jalan kaki harus menyeberangi titian (jembatan kecil) panjang terbuat dari kayu ulin menyeberangi danau.
Di lokasi ini anggota sempat berfoto bersama atau sebagian lagi swafoto (selfie) sendiri-sendiri dengan latar belakang pemandangan di danau yang sudah menjadi destinasi wisata andalan Kalsel ini.
Saat di Pulau Pinus anggota rombongan menyebar ada yang meletakan tikar untuk tiduran, ada yang duduk di pandai sambil foto ada pula yang nongkrong di warung seraya menghirup segarnya air kelapa.
Berdasarkan pengamatan penulis, kawasan ini hanya ditumbuhi pohon pinus, di bawah pepohonan terasa dingin karena naung oleh kanopi-kanopi daun pinus hingga terhindar teriknya sinaran matahari.
Wisatawan saat kedatangan penulis memang tak terlalu banyak mungkin ada sekitar seratus orang, dan mereka kebanyakan duduk berkelompok sambil ngobrol seraya menikmati makanan agaknya yang sudah dibawa dari rumah.
Tapi sebagian wisatawan lagi nongkrong dan berjanda di bangku duduk yang memang banyak disediakan oleh pengelola lokasi tersebut di bibir pantai pulau menghadap ke tengah danau.
Penulis sendiri sempat pula duduk dan berfoto selfie sesekali bertegur sapa dengan rombongan wisatawan lainnya kebanyakan adalah wisatawan lokal (wilayah Kalsel).
Setelah lama di Pulau Pinus rombongan rencananya naik ke Bukit Atas sebuah lokasi paling tinggi di hamparan wisata Riam Kanan. Akan tetapi, karena waktu sudah menunjukan pukul 16.00 Wita, kemudian diputuskan untuk kembali saja.
Wilayah Riam Kanan merupakan objek wisata yang sudah dipromosikan luas ke nasional dan internasional karena selain ada bendungan, lembah, riam di objek wisata Sungai Kembang, Pulau Pinus, dan Bukit Atas, dan banyak lagi objek wisata lainnya. ***4***

Satu Tanggapan

  1. […] melalui NIKMATI “PULAU PINUS” BERWISATA DI TENGAH DANAU — Warta Putra Balangan […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: