KALSEL PUNYA KURA KURA PALING TERANCAM DI DUNIA

tum tum

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,28/3 (2017)- Perburuan satwa liar memang menjadi momok dan pekerjaan rumah besar bagi Indonesia, serta menjadi salah satu penyebab utama penurunan potensi keanekaragaman hayati di negara ini.
Perburuan satwa liar terjadi di seluruh kawasan Indonesia, termasuk di Kalimantan Selatan.
Tingkat kesadaran dan pengetahuan masyarakat yang masih rendah membuat aktivitas perburuan dan jual beli hewan dilindungi masih marak ditemui.
Kebanyakan masyarakat tidak mengetahui bahwa hewan-hewan yang diperjualbelikan di media sosial maupun di pasar satwa adalah spesies terancam punah dan dilindungi.
Salah satunya adalah Tum-tum atau tuntong laut (Batagur borneoensis – Callagur borneoensis).
Tidak banyak masyarakat yang mengenal hewan eksotis yang satu ini, masyarakat pada umumnya menganggap tum-tum sama seperti kura-kura kebanyakan. Padahal hewan ini adalah kura-kura yang paling terancam di dunia, kata Zainuddin seorang pemerhati lingkungan Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin.
Tum-tum merupakan primadona bagi kalangan pehobi reptile. Warna merah dan putih pada kepala indukan jantan membuat harganya kerap melambung tinggi di pasaran.
Satu indukan dewasa tum-tum dapat dibandrol dengan harga jutaan rupiah. Selain dari keeksotisannya, penyebab tingginya harga pasaran hewan ini baik pada pasar legal hingga pasar gelap disebabkan oleh sulitnya mendapatkan hewan yang satu ini.
Menurut Zainudin yang juga peneliti muda Pusat Studi dan Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia Unlam menyebutkan tum-tum adalah hewan yang sangat langka.
“Tum-tum masuk ke dalam daftar 25 jenis kura-kura paling terancam di dunia,” katanya.
Tortoise and fresswater turttle specialist group dari IUCN menyebutkan bahwa dari 25 kura-kura paling terancam di dunia tersebut, lima diantaranya adalah hewan khas Indonesia, tum-tum salah satunya.
Kura-kura khas yang dulunya banyak dijumpai di Kalimantan, khususnya di Kalimantan Selatan (Kalsel) ini juga telah masuk dalam daftar red list lembaga perlindungan hewan internasional (IUCN) dengan kategori Critically Endangered (sangat terancam) dan oleh CITES (Convention on International Trade of Endagered Species) digolongkkan dalam Appendiks II yang berarti perdagangannya harus diawasi secara ketat” tandasnya menjelaskan.
Kawasan Kalsel identik dengan lahan basah, terdapat banyak habitat yang sesuai dengan satwa eksotis ini. Tum-tum umumnya menyukai perairan berlumpur, seperti kawasan payau dan mempunyai bentang pantai.
Terdapat beberapa kawasan konservasi yang menjadi habitat alami bagi tum-tum di kalimantan.
Namun diperkirakan hewan ini lebih banyak mempunyai persebaran diluar kawasan konservasi, sehingga pengawasan terhadap tindak laku elegal seperti perburuan sulit untuk dilakukan. Sebagai spesies yang masuk dalam prioritas perlindungan satwa nasional, Tum-tum wajib untuk dijaga kelestariannya.
“Masifnya perburuan terhadap tum-tum yang berlangsung merupakan faktor utama yang dapat mendorong tum-tum ke dalam jurang kepunahan, selain dampak dari rusak dan hilangnya habitat” ujar Zainudin.
Di Kalimantan Selatan terdapat dua daerah yang diduga menjadi kawasan perburuan tum-tum, khususnya Kalimantan Selatan bagian tenggara yang merupakan daerah pantai dan kawasan mangrove.
Namun demikian hampir satu dekade ini sudah jarang diketemukan populasi dan habitat tum-tum akibat lajunya kerusakan kawasan pantai dan mangrove dari alih fungsi lahan serta perburuan liar.
Selain itu perubahan iklim yang sangat ekstrim berdampak tingginya tingkat kegagalan penetasan telur, suhu yang tinggi dapat menyebabkan telur mengalami dehidrasi sehingga gagal untuk menetas. Untuk itu diperlukan upaya konservasi yang berfokus pada peningkatan dan penyadartahuan tentang pentingnya melestarikan tum-tum dan habitatnya.
“Sinergisitas semua pihak sangat diperlukan untuk mencegah kepunahan tum-tum di Kalsel maupun kawasan lainnya. Pengawasan akan animal traficking hendaknya juga dilakukan oleh masyarakat bukan hanya pihak BKSDA atau dinas terkait saja,”tuturnya.
“Oleh karenanya edukasi dan penyadartahuan kepada masyarakat sangat perlu untuk terus menerus dilakukan” kata Amalia Rezeki, ketua Pusat Studi dan Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia Unlam, menambahkan
Upaya sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat tertang gerakan perlindungan satwa kerap dilakukannya guna memberikan informasi kepada berbagai pihak tentang pentingnya untuk melindungi satwa dilingkungan sekitar kita.
Selain dilindungi oleh dunia internasional, tum-tum juga telah dilindungi oleh undang-undang di Indonesia. Seperti UU No. 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam dan UU No. 27 tahun 2007 tentang pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
Selain itu tum-tum juga termasuk kedalam spesies prioritas nasional kategori reptil dan amfibi di Indonesia berdasarkan Permenhut No. P.57/Menhut-II/2008 tentang arahan strategis konservasi spesies nasional 2008-2018.

tum1

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: