KALIMANTAN KAYA AKAN KEHIDUPAN AMFIBI

katak Oleh Hasan Zainuddin
Berbicara tentang Pulau Kalimantan tidak akan ada habisnya. Salah satu pulau terbesar di dunia, pulau yang mempunyai ekoregion tersendiri karena diapit oleh dua benua dan dua samudra, pulau yang langsung berada dibawah garis katulistiwa.
Sehingga menempatkan pulau ini pada suatu keadaan iklimatis dan geografis yang khas. Lantai hutannya selalu basah, mempunyai banyak tipe vegetasi dan bahkan eksosistem, dari dataran rendah lahan basah hingga padang tundra diketinggian tempat jauh dari permukaan laut.
Dari tanah yang kaya hingga tanah yang miskin hara. Semua keadaan tersebut mengharuskan flora-fauna yang ada terspesialiasi dan berakhir pada jalur evolusi yang rumit, hingga terbentukklah spesies-spesies yang ada hingga saat ini yang sering dijuluki dengan “Keajaiban penciptaan.”
Amfibi adalah salah satu ciptaan penuh keajaiban yang mengisi ke khasan Kalimantan. Selain nilai endemisitas pada kelompok, mamalia, burung dan fauna invertebrata, Kalimantan juga mempunyai jumlah Amfibi yang cukup banyak bahkan mempunyai ke khasan tersendiri.
Hingga tahun 2005 peneliti beranggapan bahwa di Tanah Kalimantan setidaknya terdapat 184 jenis katak dan kodok. Dengan kemajuan tekhnologi pada bidang genetika memungkinkan ditemukannya spesies baru yang semakin memperkaya jumlah dan keragaman amfibi tersebut.
Peneliti hewan melata Biodiversitas Indonesia Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, Zainudin kepada ANTARA di Banjarmasin, Sabtu mengemukan itu seraya menyebutkan dari keanekaragaman amfibi di Indonesia penduduki peringkat delapan di dunia bahkan keanekaragaman amfibi Indonesia menduduki peringkat kedua di Asia setelah China.
Sedangkan di tingkat Asia Tenggara Indonesia menduduki urutan pertama sebagai negara dengan keanekaragaman amfibi tertinggi.
Di dunia dikenal tiga bangsa yang termasuk ke dalam kelas amfibi ini, yaitu Bangsa sesilia (amfibi yang bentuknya serupa cacing), caudata (salamander), dan anura (yang kita kenal sebagai katak dan kodok).
Amfibi yang umum hidup di Indonesia adalah amfibi dari kelas anura dan sesilia, namun amfibi dari kelas sesilia ini sulit untuk ditemukan karena kebiasaannya yang hidup dalam tanah.
Amfibi memegang peranan penting bagi kelangsungan ekosistem di Indonesia, karena mereka adalah makhluk yang sangat sensitif terhadap baik dan burungnya lingkungan yang menjadi habitatnya.
“Mereka sangat baik untuk dijadikan indikator perubahan lingkungan, terlebih lingkungan perairan, amfibi adalah kelompok hewan yang sangat sensitif” ujar Zainudin di kantronya.
Dalam penjelasannya lebih lanjut mengenai amfibi disebutkan amfibi mempunyai beberapa peranan penting yang terkait langsung dengan kelangsungan suatu ekosistem, dinataranya indikator sehatnya suatu lingkungan hidup
Perubahan lingkungan sangat berdampak pada kehidupan amfibi, terlebih lingkungan perairan.
Hal ini erat kaitannya dengan siklus hidup amfibi. Amfibi mempunyai siklus hidup di air dan didarat, sehingga sering disebut hewan yang hidup di dua alam. Telur yang telah dibuahi akan menetas menjadi berudu yang tumbuh dan berkembang pada habitat perairan, selama diperairan amfibi seperti katak dan kodok akan mengalami metamorfosis sempurna untuk mencapai tahap dewasa.
Apabila kondisi lingkungan kurang baik, kemungkinan terhambatnya metamorfosis akan semakin tinggi. Sehingga bisa saja berudu katak atau kodok mati sebelum mencapai tahap dewasa.
Isu terbaru adalah bermunculannya BD atau Batrachochytrium dendrobatidis adalah spesies fungus atau jamur mikroskopis yang dapat menyebabkan sitridiomikosis pada amfibi.
Seperti yang diketahui amfibi bernapas dengan memanfaatkan tiga organ pada tubuhnya yaitu paru-paru, kulit yang basah, dan selaput pada rongga mulut, BD akan menyebabkan kulit amfibi sperti gejala terbakar.
Amfibi yang terinfeksi BD akan mati karena terganggunya sistem pernapasan mereka. Banyak jenis amfibi kita di dunia yang terancam kepunahan oleh organisme ini. BD berkembang dengan sangat baik pada lingkungan yang tidak sehat” Jelas Zainudin.
Kontroler hama pertanian dan wabah DBD Amfibi adalah pembasmi hama alami, pakan amfibi yang kebanyakan adalah serangga membuat mereka menjadi kawan yang baik bagi petani. Dengan adanya amfibi di kawasan pertanian akan menciptakan pembasmi hama wereng dan belalang secara alamiah. Selain itu ia juga mampu mengontrol perkembangan nyamuk DBD yang berpotensi membahayan manusia.
Satwa ini bernilai ekonomis Indonesia adalah salah satu ekportir daging katak terbesar di dunia, beberapa spesies katak sawah seperti Rana catesbeiana, Fejervarya cancrivora, dan Limnonectes macrodon adalah spesies yang paling banyak dimanfaatkan sebagai komoditi ekspor daging katak yang menjanjikan.
Bahkan kemampuan ekspor daging katak Indonesia bisa mencapai puluhan ton pertahunnya. Namun Zainudin menyayangkan hal tersebut menurutnya, negara kita harus belajar dari India yang berhenti menjadi pemasok daging katak terbesar di dunia. Penangkapan berlebih untuk memenuhi komoditi ekspor menyebabkan peningkatan wabah pandemi deman berdarah di negara tersebut.
“Jangan sampai itu terjadi juga pada kita, ekspor boleh saja dilakukan namun dengan kuota penangkapan yang dibatasi” Tandasnya lagi.

 

Objek wisata

Selain burung sebagai objek wisata birdwatching, amfibi dan hewan melata lain juga dapat digunakan untuk meningkatkan pendapatan suatu daerah. Wisatawan dengan minat khusus dapat mengakses jalur ekowisata hewan melata dengan kegiatan herping pada lokasi yang menjadi habitat hewan melata tersebut.
Taman Nasional Gunung Ciremai Jawa Barat misalnya menjadikan kodok darah (Leptophryne cruentata) sebagai ikon wisata herping andalan mereka. Banyak wisatawan lokasl apalagi mancanegara yang rela merogoh kocek puluhan juta untuk melihat spesies itu di habitat alaminya.
Hal ini juga coba di adopsi Zainudin dan timnya, menurutnya wisatawan mulai banyak mengunjungi Kalimantan Selatan hanya untuk mencoba sensasi herping di hutan hujan tropis kita.
Namun seperti yang kita ketahui selama ini, alih fungsi lahan untuk perkebunan kelapa sawit sangat masif di Kalimantan. Ancaman tersebut belum termasuk dari sektor pertambangan, seperti batu bara, emas, pasir, batu kars hingga batu kali.
Sebagian besar lahan Kalimantan yang berjenis lahan gambut juga selalu terbakar sepanjang tahun. Bayangkan betapa banyaknya tantangan yang harus dihadapi amfibi untuk bertahan di hutan Kalimantan. Pada dasarnya kira akan mendapat banyak keuntungan dengan adanya amfibi dilingkungan kita.
“ini adalah fakta bukan sekedar bualan saya belaka” ujar Zainudin meyakinkan.

Iklan