BKSDA BERUPAYA UNGKAP KEBERADAAN KIJANG EMAS

Oleh Hasan Zainuddin
kijang

Banjarmasin,21/3 () – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan kini berusaha keras memastikan keberadaan satwa unik dan langka kijang emas yang onon berada di wilayah kerjanya.
Kasie Konservasi Wilayah II Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalsel, Ridwan saat berbincang dengan penulis di Banjarmasin, Rabu mengakui pihaknya merasa penasaran dengan keberadaan binatang tersebut.
“Kita memastikan keberadaannya, karena berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat, kijang emas itu memang ada di wilayah ini,” katanya.
Untuk memastikan keberadaan tersebut, pihak BKSDA Kalsel telah memasang sebanyak enam buah kamera pengintai binatang di beberapa lokasi dimana perkiraan satwa itu berada.
Alat kamera tersebut memang dinilai kurang mencukupi untuk mengintai satwa itu, karena idealnya minimal 30 kamera, tetapi karena harganya mahal maka hanya bisa dipasang enam buah.
“Tahu ga harga kamera itu sangat mahal sekitar rp30 juta per unit, bayangkan kalau harus menyediakan 30 unit maka dana yang harus dikeluarkan minimal rp1 miliar,” tambahnya.
Kendati mahal, pihak BKSDA akan menambah kamera tersebut sebanyak 10 unit lagi untuk mengetahui keberadaan kijang emas serta satwa-satwa yang ada di wilayah ini.
Namun pemasangan sudah berlangsung dua bulan belakangan ini belum terekam adanya gambar di kamera yang memastikan keberadannya.
Tetapi biasanya pemasangan akan menelan waktu enam bulan untuk bisa mengetahui ada tidaknya satwa yang menjadi perbincangan tersebut, tuturnya.
Berdasarkan catatan, gonjang ganjing adanya kehidupan kijang emas atau juga disebut kijang kuning (Muntiacus atherodes) di kawasan Pegunungan Meratus wilayah Kalimantan Selatan sering terdengar, tetapi agak sulit membuktikan keberadaan satwa tersebut.
Walau dari cerita dari mulut ke mulut konon berasal dari tetua warga setempat membenarkan adanya satwa khas tersebut, namun pihak instansi yang berwenang di provinsi ini tak ada satu yang mengulas tentang kijang tersebut.
Bahkan sebuah tulisan yang dilansir oleh media Dinas Kehutanan Tabalong Kalimantan Selatan, yang mengutip keterangan Menteri Kehutanan menyebutkan bukan tidak ada tetapi tak terbukti ada binatang yang banyak membuat orang penasaran ingin melihatnya itu.
Pernyataan tersebut segera ditindaklanjuti oleh Sub Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalsel yang menugaskan tim kecil untuk mencari keberadaan kijang kuning di bagian selatan Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam dan tidak ditemukan jejak ataupun wujudnya.
Meskipun demikian, upaya yang telah dilakukan tentunya mendapat perhatian bagi sekelompok kecil masyarakat yang berusaha untuk menemukan jejak atau wujudnya.

Iklan

WALHI : 335,88 KM SUNGAI KALSEL JADI LUBANG TAMBANG

Oleh Hasan Zainuddin

walhibws
Banjarmasin (20/3-2018)- Fakta spasial menyebutkan sepanjang 335,88 kilometer sungai di wilayah Provinsi Kalimantan berubah menjadi lubang tambang, dan itu sungguh mengkhawatirkan bagi kelestarian sumber daya air.
Hal tersebut diungkapkan Direktur Eksekutif Walhi Kalsel Kisworo Dwi Cahyono di Banjarmasin Selasa, saat memberikan paparan dalam seminar “Selamatkan Alam Untuk Air.”
Dalam seminar dalam rangkaian Hari Air Dunia yang diselenggarakan Balai Wilayah Sungai (BWS) II Kalimantan tersebut, Walhi Kalsel mengungkapkan pula lebih dari 5.600 kilometer sungai di Kalsel melintas dan berasal dari hutan, terutama hutan tropis Pegunungan Meratus.
Namun disayangkan sebanyak 41 persen hutan Meratus dan hutan lainnya di Kalsel, saat ini juga terdapat izin tambang, katanya dalam makalah “Menyelamatkan Air Menyelamatkan Kehidupan.”
Selain itu, tambahnya, faksa spasial lainnya di ekosistem karst menunjukkan, luas pegunungan karst di Kalsel mencapai 610.766 hektare, dari luas tersebut sebanyak 356.552 hektare di antaranya di kawasan tersebut kini dibebani izin tambang.
Kemudian hutan Kalsel mencapai 984.791 hektare, dan sebanyak 399.000 hektare hutan itu saat ini juga dibebani izin tambang.
Diungkapkan pula total izin tambang di Kalsel 1,2juta hektare atau 33 persen dari luas Kalsel 3,7 juta hektare, dan total izin perkebunan kelapa sawit 618,7 ribu hektare atau sekitar 17 persen luas Kalsel.
Akibat dari sektor pertambangan tersebut tentu mencemari air sungai sebagai sumber kehidupan.
Pernah terjadi satu hektare tanah longsor di Desa Kintap Tanah Laut akibat lubang tambang dekat sungai, terjadi menjelang Idul Fitri terbukti kejadian tersebut pencemaran tambang mengotori air sungai.
Dalam paparan tersebut terungkap pula pertambangan batubara meracuni air di Kalsel dan melecehkan hukum Indonesi9a (Greenpeace Indonesia).
Seminar yang berlangsung sehari itu diikuti 100 peserta dari kalangan pecinta lingkungan, mapala, mahasiswa, akademisi, serta perwakilan berbagai instansi yang terkait.

Balitbanghut Banjarbaru Teliti Pohon Raksasa

Oleh Hasan Zainuddin

pohon

Banjarmasin ()- Pihak tim dari Balai Penelitian dan Pengembangan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Banjarbaru, terjun ke Desa Mentoyan, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan, untuk melakukan penelitian terhadap keberadaan pohon raksasa.

Seorang peneliti utama dari instansi tersebut, Syaifudin S Hut kepada Antara, di Halong 230 Km Utara Banjarmasin, Jumat mengakui timnya diterjunkan ke lokasi tersebut, atas perintah Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Perintah tersebut, keluar setelah tersebar berita ditemukannya sebuah pohon berukuran besar besar oleh kalangan anak muda pecinta lingkungan Forum Komunitas Hijau (FKH) Balangan beberapa waktu lalu.

Untuk memastikan keberadaan pohon besar yang berpotensi sebagai objek wisata, penelitian, dan objek pendidikan tersebut maka diterjunkanlah tim yang terdiri dari dia sendiri serta dua peneliti lainnya.

Kedua peneliti tersebut yakni Edy Suryanto, dan Akhmad Ali Musthofa, dibantu oleh pemuda FKH Balangan sebagai pemandu jalan ke kawasan tersebut.

Tim ini dibantu berbagai peralatan melakukan melakukan pengukuran, disamping mencari anakannya untuk dikembangbiakan di areal instansi mereka di Banjarbaru.

Penelitian tersebut pada hari Kamis (15/3) menelan waktu beberapa jam, di wilayah tersebut dan sempat menjadi perhatian warga setempat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa banir pohon tersebut dengan ukuran 25,7 meter atau untuk mengelilingi pohon ini memerlukan setidaknya 15 orang berpegangan tangan.

Tinggi batang tanpa cabang 16,5 meter, tinggi banir 16 meter, tinggi keseluruhan 42 meter, diameter pohon tanpa banir 203 centemeter.

Yang unik, getah pohon ini bewarna merah darah, dan terdapat semacam damar diantara kulit pohon yang terkelopas.
Pohon berada di RT 1 Desa Mentoyan. Warga setempat menyebut pohon Jalamu sejenis pohon kenari.

Mereka berharap pohon tersebut terpelihara dengan baik karena itu adalah warisan alam yang sangat langka, sebagai objek wisata, objek penelitian, dan objek pendidikan di kemudian hari.

Balitbanghut Teliti Pohon Buah Lahung

Oleh Hasan Zainuddin

lahung

lahung1

Banjarmasin () – Pihak tim dari Balai Penelitian dan Pengembangan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Banjarbaru, terjun ke Desa Panggung, Kecamatan Paringin Selatan, Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan, untuk melakukan penelitian terhadap keberadaan pohon lahung (durio dulcis).

Seorang peneliti utama dari instansi tersebut, Syaifudin S Hut kepada Antara, melalui WhatsApp (WA) Senin, mengakui timnya terjun ke lokasi tersebut, untuk melakukan penelitian keberadaan pohon yang mulai langka itu, maksudnya untuk pelestarian.

Eksplorasi tersebut berlangsung minggu lalu bersama anggota Forum Komunitas Hijau (FKH) setempat.

Tim yang terdiri dari dia sendiri serta dua peneliti lainnya. Kedua peneliti tersebut yakni Edy Suryanto, dan Akhmad Ali Musthofa, dibantu oleh pemuda FKH Balangan sebagai pemandu jalan ke kawasan tersebut.

Tim ini dibantu berbagai peralatan melakukan melakukan pengukuran terhadap sebuah pohon lahung besar yang ada di desatersebut, disamping mencari anakannya untuk dikembangbiakan di areal instansi mereka di Banjarbaru.

Berdasarkan penelitian tim pohon lahung besar yang berada di hutan yang terdapat perkebunan karet itu berdiameter 112 cm, lebar tajuk 26,92 meter, tinggi batang bebas cabang 16 meter, tinggi total 37 meter, dan tinggi banir 5 meter.

Sementara itu pemerhati buah endemik Kalimantan, Hanif Wicaksono melalui FB-nya menjelaskan buah lahung sejenis durian, tetapi kulit warna merah kehitaman dengan duri lancip dan panjang.

Bagi beberapa orang yang baru merasakan durian lahung akan sangat wajar bila merasa aneh. hal ini seperti melihat orang barat yang baru mencoba durian.

Ada kesan aneh yg susah dijelaskan. bahkan beberapa orang pun mendeskripsikan lahung mempunyai aroma seperti aerosol, alkohol, mint, bahkan pembersih lantai.

Memang tidak memungkiri lahung punya bau unik yg khas, tetapi tidak semua lahung beraroma keras.

Pada dasarnya buah lahung itu manis sesuai namanya “dulcis” yang berarti manis. lahung seperti durian punya banyak sekali varian. beberapa varian lahung mempunyai aroma yg lebih lembut dan rasa yang manis krimi tanpa bau yang mencolok seperti lahung.

Meski rata2 lahung berwarna putih banyak juga lahung yang mempunyai daging buah berwarna kuning hingga oranye. Dari berdaging tipis hingga tebal.

Durio dulcis di Kalsel termasuk spesies yang diketahui paling sering mengalami silang alami (hybrid) selain pampakin (D kutejensis).

Hal ini kemungkinan karena masa pembungaan lahung yg lebih awal daripada spesies durio lain.

PARADE BANJARMASIN SASIRANGAN FESTIVAL DIIKUTI RIBUAN PESERTA

bsf

etnik

etnik1

penuh cinta

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,()- Parade Banjarmasin Festival (BSF) yang merupakan puncak kegiatan BSF, Sabtu pagi di Banjarmasin meriah dengan diikuti ribuan peserta.
Pantauan di lapangan, menyaksikan farade tersebut diikuti bukan saja dari kalangan kalangan karyawan Pemkot Banjarmasin dan jajarannya, tetapi juga kalangan organisasi kemasyarakat, pelajar, mahasiswa, dan komunitas.
Farade berjalan kaki yang mengambil rute Jalan Lambung Mangkurat dari balaikota Jalan RE Martadinata terus ke Siring Tendean tersebut panjang peserta hampir satu kilometer.
Parade didahului oleh pemain drum band yang memainkan alatnya secara atraktif dan merekapun semuanya menggunakan kostum kain sasirangan.
Barisan kedua diiiringi oleh ibu-ibu PKK yang dipimpin Ketua PKK yang juga isteri Wali Kota Ibnu Sina, Siti Wasilah tersebut juga menggunakan kebaya sain sasirangan.
Hanya saja kelompok ibu-ibu isteri pejabat Pemkot Banjarmasin tidak berjalan kaki, tetapi menggunakan kendaraan semacam kereta, seraya mereka melambai-lambaikan tangan ke masyarakat yang menyaksikan parade tersebut.
Setelah itu baru diingi oleh para karyawan semua SKPD yang ada di Pemkot Banjarmasin, seraya mereka membawa spanduk nama SKPD masing-masing tentu dengan ajakan “YU Kita Pakai Sasirangan.”
Selain itu, juga akan kelompok pakaian Etnik yang agaknya peserta para model yang ada di Kota Banjarmasin, ada sekitar 30 pesetta pakaian etnik yang memberikan nuansa tersendiri dalam parade tersebut.
Tak kalah menarik, ratusan anak sekolah berpakaian seragam sairangan menggelar kain sepanjang ratusan meter seraya berjalan kaki mengikuti farade tersebut, kasin tersebut merupakan hasil dari olahan (menyirang) secara massal oleh mereka sendiri.
Kemudian yang cukup atraktif kelompok sepeda ontel dari Komunitas Sepeda Antik Banjarmasin (Saban), dengan aneka pakaian etnik, pakaian jadul, sneka pakaian lainnya semuanya juga menggunakan kain sasirangan.
Bahkan kelompok ontelis ini membawa pengeras suara yang cukup nyaring seraya membunyikan lagu-lagu berbahasa Banjar dengan syair syair kocak.
Farade tersebut berakhir di panggung hiburan Siring Tendean, dimana sudah menunggu puluhan pejabat, anggota DPRD Banjarmasin, serta pejabat terkait lainnya termasuk TNI dan Polri.
Aneka hiburan juga ditampilkan di panggung tersebut diantaranya Madihin Kocak oleh Anang Syahrani dan atraksi lainnya.
Dalam BSF dari 7-11 Maret ini merupakan BSF untuk kedua kali ini, menampilkan berbagai rangkaian acara untuk menyemarakan agenda wisata nasional ini.
Di antaranya menyirang oleh 150 pelajar dan 100 komunitas, lomba motif sasirangan, parade massal 4000 peserta mengambil star dari Balaikota, kemudian Fashion show, penobatan ambasador, pemilihan putri muslimah dan pemuda pelopor, bazar dan ekspo yang diikuti 50 stand dari seluruh kabupaten, kota se- Kalsel, serta forum diskusi sasirangan.

26

WISATA SUSUR SUNGAI KARAU TEMUKAN VEGETASI EKSOTIS

hayaping1

limpasu

 

pohon binuang

batu putih

 

Oleh Hasan Zainuddin
Perahu bermesin yang ditumpangi menyusuri Sungai Karau yang dibendung tepatnya di Desa Batu Putih, Kecamatan Dusun Tengah, Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah, terus melaju dengan menyusuri aliran yang berliku-liku.

Sesekali perahu yang dikemudikan seorang pemandu wisata, Ajie, penduduk setempat, memperlambat lajunya lantaran banyak tunggul kayu yang terlihat di atas air, khawatir tertabrak, tunggul kayu itu bagian dari tanaman yang tenggelam setelah Sungai Karau bagian hulu dibendung menyebabkan sejumlah tamaman tenggelam.

Di kiri dan kanan sungai dipenuhi oleh vegetasi yang konon sebagian adalah tanaman khas setempat, yang memekarkan bebungaan yang indah dan harum, buah-buah yang bisa dimakan, serta aneka manfaat yang memberikan keuntungan bagi warga setempat.

Dalam perjalanan susur sungai selama sekitar dua jam, penulis menikmati pemandangan kiri kanan yang penuh dengan tanaman hutan, disertai bunyi-bunyi binatang kecil di hutan, burung, dan suara kera yang melahirkan “simponi” alam.

Udara terasa sejuk walau perjalanan sudah menjelang tengah hari. Terik matahari walau menyirami bumi, tapi seakan tak terasa panas lantaran perasaan terus menikmati pemandangan dan suasana alam yang eksotis.

Sesekali penulis meminta pemandu Ajie untuk memperlambat perahu kecilnya lantaran terlihat ada pohon yang buahnya bergelantungan, ada warna hijau dan warna kuning keemasan.

“Stop, stop,” kataku (penulis), “ada apa” kata Ajie, “aku lihat buah unik,” kataku, “oh ya” kata Ajie lagi.

Lalu perahu kecil itu dimatikan mesinnya, pelan-pelan meminggir dan merapat ke tepian, tempat sebatang pohon tegak berdiri penuh dengan buah-buah.

Buah tersebut menurut Ajie, namanya limpasu (Baccaurea Lanceolata), bagi penduduk setempat buah unik yang bisa dimakan tersebut kebanyakan dibuat kosmetika berupa pupur dingin (bedak) setelah dicampur dengan tepung beras.

Menurut Ajie lagi, buah itu banyak digunakan untuk membuat sambal lantaran rasanya yang asam agak khas, hingga jika dibuat sambal untuk makan akan memunculkan selera makan.

Kegunaan lain, bisa untuk mengusir tikus di sawah, setelah umpan tikus dicampur dengan racikan buah tersebut, maka tikus tak akan mengganggu lagi sawah penduduk setempat, konon setelah termakan buah itu gigi tikus akan terasa ngilu sehingga tak mampu lagi menyerang padi di sawah.

Menurut Ajie lagi, buah itu bagus jika digunakan langsung untuk membersihkan muka, untuk menghilangkan flek-flek hitam di wajah.

Caranya cari buah yang masak warna kuning lalu dibelah ambil bagian kulit langsung disapukan ke muka berulang-ulang, insya allah, flek di wajah akan hilang.

Lantaran terasa asam maka buah itupun sering pula digunakan oleh penduduk setempat, untuk membekukan lateks karet yang baru di sadap dari pohon karet, untuk mempermudah hasil sadapan karet dari kebun ke rumah untuk dijual.

Bahkan berdasarkan sebuah catatan yang diperoleh penulis buah Limpasu merupakan antioksidan (anti-radikal bebas). Semakin matang, semakin berkurang Vitamin C di dalamnya. Buah tersebut juga mengandung karbohidrat tinggi.

Di beberapa daerah di Kalteng, seperti di Sampit, limpasu kerap jadi sumber rasa masam pada Juhu Ansem (masakan tradisional). Mereka yang sekarang berusia 50-an ke atas mungkin pernah merasakan makanan tersebut.

Kalau untuk obat sebagian masyarakat Kalimantan menggunakan limpasu sebagai obat meriang. Bagian ini direbus kemudian airnya digunakan untuk mandi.

Bukan hanya limpasu yang banyak tumbuh di tepian sungai yang konon berhulu ke Pegunungan Meratus (Muller dan Schwaner) tersebut, tetapi juga banyak tumbuh pohon yang disebut “Hayaping” bentuknya menyerupai enau atau aren, tetapi pohonnya kecil, buahnya juga bisa digunakan untuk makanan serupa kolang-kaling.

Namun bunganya sangat bagus, bungkul bunga bewarna merah kehitaman, jika mekar bunganya bewarna kuning agak jingga.

Konon warga setempat sering memanfaatkan pohon eksotis ini adalah untuk sayuran setelah pohon bagian atas dibelah maka terdapat isi pohon yang muda disebut “humbut.”
Humbut itulah yang dibuat sayuran untuk aneka makanan, dan dibuat sayur bening juga terasa nikmat dan lezat.

Bahkan jika warga hajatan kawinan dan selamatan lainnya memanfaatkan humbut dari tanaman ini dibuat makanan untuk sesajian tamu yang datang.

Hutan kiri kanan itu juga terdapat aneka spicies rotan, ada yang disebut rotan paikat, rotan manau, rotan walaung, rotan gambis, dan jenis rotan lainnya yang tampak tumbuh merambat di bagian pepohonan kawasan setempat.

Vegetasi yang lain terlihat aneka palem-palamen, selain tanaman hayaping tadi juga terlihat enau, rumbia, pinang hutan, risi, timputuk yang kesemuanya memperkaya vegetasi kawasan yang banyak dihuni warga pedalaman tersebut.

Bahkan dalam perjalanan itu terlihat beberapa jenis kayu ekonomis, seperti ulin, sintuk, meranti, bangkirai, sungkai,mahoni, trambesi, dan aneka tanaman lagi.

Tak ketinggalan terlihat pohon buah-buahan endemik Kalimantan, family durian, (Durio) seperti buah lahung, karantungan, mahrawin, pembakin, mantaula, dan aneka jenis asam-asaman (Mangefera) , hambawang, kelipisan, rawa-rawa, kasturi, tandui, dan lainnya.

Dan terdapat dua buah pohon yang sangat besar yang merupakan peninggalan atau warisan alam yang masih tersisa, yang disebut sebagai pohon Binuang.

Saking besarnya kayu binuang tersebut, memerlukan antara enam hinmgga delapan orang untuk bisa memeluknya.

Di bawah pohon tersebut penulis dan ajie sempat mengambil foto bersama secara selfie menggunakan kamera HP dan fotonya sempat di shere melalui media sosial Facebook, dan memperoleh jempol sangat banyak.

Bukan hanya aneka tanaman yang ada di kawasan tersebut, menurut Ajie pula banyak binatang dan satwa kawasan hutan itu, terutama pilanduk (kancil) kijang (rusa), trenggiling, lutong, kera abu-abu, bahkan Bekantan (Nasalis larvatus).

Belum lagi ada tupai, aneka burung elang, murai, pipit, kutilang, dan aneka burung yang melahirkan bunyi-bunyian di belantara tersebut.

Air yang tetang di kawasan tersebut konon juga terdapat buaya, tetapi belum pernah terdengar yang menyambar atau memangsa manusia, dan ikan-ikan juga banyak, dan banyak yang kena pancing adalah ikan baung, ikan bancir, sanggang, adungan, tilan, sanggiringan, saluang, dan banyak lagi yang lain.

Makanya terlihat di kiri dan kanan sungai banyak warga pedalaman yang meunjun (memancing ikan) dan memasang banjur.

Melihat kekhasan kawasan tersebut wajar jika pemerintah setempat menjadikan kawasan tersebut sebagai kawasan wisata susur sungai dan petualangan yang tentu akan memuaskan pengunjungnya.

Apalagi untuk menuju kawasan ini mudah saja atau sekitar 10 kilometer dari Kota Ampah, bisa menggunakan roda empat dan roda dua, dan untuk menyusuri bendungan ini hingga ke hulunya tersedia puluhan perahu bermesin di kawasan Desa Batu Putih.

BSF ANGKAT KEBERADAAN KAIN SASIRANGAN AGAR MENDUNIA

Oleh Hasan Zainuddin

Banjarmasin, Seorang wanita tinggi semampai berdiri di depan sebuah bangunan tua di tepian Siring Tendean, banyak mata pengunjung yang memadati kawasan objek wisata andalan Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, itu yang tertuju ke arah wanita yang agaknya menunggu teman-temannya yang mengikuti kegiatan “Banjarmasin Sasirangan Festival” (BSF) yang digelar 7-11 Maret 2018 ini.

Sesekali wanita tersebut membetul-betulkan letak gaun kain khas Suku Banjar yang dikenakannya itu karena serpihan angin, senyum khas wanita itu seakan padu dengan motif kain sasirangan yang dominan bewarna hijau tersebut.

“Oh sungguh cantik,” kata seorang pemuda yang dari tadi memperhatikan gerak gerik wanita yang ditaksir berusia 20 tahun itu.

Kegiatan BSF yang berpusat di Menara Pandang Siring Tendean, kawasan wisata susur sungai kota seribu sungai tersebut pada tahun ini bertemakan “Sasirangan to The World.”

Pemerintah dan masyarakat Kota Banjarmasin tak ingin kain kebanggaan warga yang menghuni bagian selatan pulau terbesar tanah air tersebut, cuma cukup untuk dinikmati warga setempat, kain ini harus go internasional dan dikenal ke manca negara.

Oleh karena itu berbagai upaya dilakukan pemerintah dan warga setempat guna mengangkat citra khasanah kain yang lahir dari proses budaya nenek moyang setempat, yang dalam sejarahnya kain ini hanya sebatas sebagai peralatan pengobatan.

Dalam BSF 2018 menawarkan aneka acara yang dijamin memanjakan wisatawan. Ada parade budaya unik, kegiatan religi, expo, hingga forum diskusi. Bahkan

Sebagai daya tarik, panitia juga menghadirkan artis Terry Putri. Untuk memperkuat nilai kain adat Banjar ini, saat kegiatan BSF juga ada atraksi unik yakni menyirang (mengerjakan kain sasirangan) sepanjang 250 meter melibatkan ratusan pelajar.

Festival juga akan memilih duta sasirangan 2018, memilih putri muslimah sasirangan hingga Pemuda Pelopor. Selain itu bagi anak-anak, silahkan mengikuti lomba mewarna untuk PAUD. Nuansa religius juga dibangun melalui kasidah dan hadrah.

Semua potensi yang dimiliki Banjarmasin atau Kalimantan Selatan agaknya akan ditampilkan dalam BSF, makanya panitia juga akan menggelar bazaar dan expo, kata Assiten II Sekdako Banjarmasin Drs Hamdi saat berbincang dengan penulis.

Menurut Hamdi festival 2018 akan dikemas berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, kemasannya lebih segar, dan juga melibatkan publik figur, seperti artis Terry Putri yang juga berasal dari Banjarmasin ini. Ia mengakui adanya upaya Pemkot mengangkat lebih tinggi keberadaan kain yang selama ini sudah menjadi barang cendramata bagi wisatawan yang datang ke ibukota provinsi Kalsel itu.

Menurut Hamdi yang juga Ketua panitia BSF keberadaan sasirangan selama ini belum memuaskan semua pihak, terutama kalangan wisatawan mancanegara, lantaran pewarna yang digunakan sebagian besar adalah bahan kimia sehingga warna menjadi mencolok dan kurang alamiah.

Oleh karena itu upaya kedepan bagaimana kain sasirangan ini diproduksi dengan proses pewarna dari bahan sumberdaya alam setempat yang mudah saja dicari, selain biaya tidak mahal, namun produk sasirangan itu akan berharga mahal, lantaran diminati.

Kedepan kain sasirangan akan mempergunakan pewarna berasal dari daun-daunan, buah, dan kayu, seperti kunyit untuk membuat kain jadi berwarna kuning, kayu ulin untuk warna coklat atau merah marun, warna biru menggunakan daun indigo, warga ungu berasal dari buah balangkasua, dan banyak lain pewarna alam yang tersedia di kawasan ini.

Motifnya pun akan terus diperbaharui dan diperkaya dari selama ini yang dikenal dengan motif Iris Pudak, Kambang Raja, Bayam Raja, Kulit Kurikit, Ombak Sinapur Karang, Bintang Bahambur, Sari Gading, Kulit Kayu, Naga Balimbur, Jajumputan, Turun Dayang, Kambang Tampuk Manggis, Daun Jaruju, Kangkung Kaombakan, Sisik Tanggiling, dan Kambang Tanjung.

“Kita yakin jika semua kian khas ini pakai pewarna alamiah pasti lebih lembut, dan akan memancing lebih banyak lagi pembeli untuk memiliki dan pengunakan kain kebanggaan masyarakat Kalsel itu, khususnya dari luar negeri,”kata Hamdi.

Bila kebaradaan kain ini sudah lebih terangkat kepermukaan harapannya tak sekedar dipakai saat ada acara resmi saja, tak sekadar jadi barang cendramata, tetapi akan menjadi mata dagangan antarpulau bahkan jadi mata dagangan ekspor, dan hal itu bukan saja akan meningkatkan kontribusi pendapatan daerah yang lebih penting bagaimana mendongkrak penghasilan para perajin yang pada gilirannya mensejahterakan masyarakat luas.

Kain Pengobatan
Berdasarkan berbagai catatan atau cerita rakyat yang berkembang di masyarakat suku Banjar, kain ini sudah ada sejak abad XII sampai XIV saat wilayah ini dikuasai oleh Kerajaan Dipa.

Kain sasirangan pertama kali di buat yaitu manakala Patih Lambung Mangkurat bertapa 40 hari 40 malam di atas lanting balarut banyu (di atas rakit mengikuti arus sungai).

Menjelang akhir tapa nya, rakit Patih tiba di daerah Rantau kota Bagantung. Dilihatnya seonggok buih dan dari dalam buih terdengar suara seorang wanita, wanita itu adalah Putri Junjung Buih yang kelak menjadi Raja di Banua ini.

Tetapi ia baru muncul ke permukaan kalau syarat-syarat yang dimintanya dipenuhi, yaitu sebuah istana Batung yang diselesaikan dalam sehari dan kain dapat selesai sehari yang ditenun dan dicalap atau diwarnai oleh 40 orang putri dengan motif wadi/padiwaringin.

Itulah kain calapan/sasirangan yang pertama kali dibuat dan sering disebut oleh masyarakat sebagai batik sandang yang disebut Kain Calapan yang kemudian dikenal dengan nama Kain Sasirangan.

Itulah sejarah singkat asal usul kain sasirangan. Arti kata sasirangan sendiri di ambil dari kata “sa” yang berarti “satu” dan “sirang” yang berarti “jelujur”. Sesuai dengan proses pembuatannya, Di jelujur, di simpul jelujurnya kemudian di celup untuk pewarnaannya.

Sasirangan menurut tetua adat Banjar dulunya di pakai untuk pengobatan orang sakit, dan juga di gunakan sebagai laung (ikat kepala adat Banjar), Kakamban (serudung), udat (kemben), babat (ikat pinggang), tapih bahalai (sarung untuk perempuan) dan lain sebagainya. Kain ini juga di pakai untuk upacara-upacar adat Banjar.

Sekarang Sasirangan bukan lagi di peruntukkan hanya untuk spiritual, tapi sudah jadi pakaian kegiatan sehari-hari.

Pemerintahan Kalimantan Selatan, Sasirangan di sejajarkan dengan batik. Peraturan Gubernur Kalimantan Selatan 91 tahun 2009 tentang standaarisasi Pakaian Dinas pegawai Negeri sipil di lingkungan Pemprov Kalsel.

Pegawai negri sipil dibebaskan memilih untuk memakai Sasirangan atau pun Batik di hari yang sudah di tentukan, bahkan ada pemerintah kabupaten dan kota tertentu justru mewajibkan pemakaian kain khas ini padawaktu tertentu.fb