Balitbanghut Banjarbaru Teliti Pohon Raksasa

Oleh Hasan Zainuddin

pohon

Banjarmasin ()- Pihak tim dari Balai Penelitian dan Pengembangan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Banjarbaru, terjun ke Desa Mentoyan, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan, untuk melakukan penelitian terhadap keberadaan pohon raksasa.

Seorang peneliti utama dari instansi tersebut, Syaifudin S Hut kepada Antara, di Halong 230 Km Utara Banjarmasin, Jumat mengakui timnya diterjunkan ke lokasi tersebut, atas perintah Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Perintah tersebut, keluar setelah tersebar berita ditemukannya sebuah pohon berukuran besar besar oleh kalangan anak muda pecinta lingkungan Forum Komunitas Hijau (FKH) Balangan beberapa waktu lalu.

Untuk memastikan keberadaan pohon besar yang berpotensi sebagai objek wisata, penelitian, dan objek pendidikan tersebut maka diterjunkanlah tim yang terdiri dari dia sendiri serta dua peneliti lainnya.

Kedua peneliti tersebut yakni Edy Suryanto, dan Akhmad Ali Musthofa, dibantu oleh pemuda FKH Balangan sebagai pemandu jalan ke kawasan tersebut.

Tim ini dibantu berbagai peralatan melakukan melakukan pengukuran, disamping mencari anakannya untuk dikembangbiakan di areal instansi mereka di Banjarbaru.

Penelitian tersebut pada hari Kamis (15/3) menelan waktu beberapa jam, di wilayah tersebut dan sempat menjadi perhatian warga setempat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa banir pohon tersebut dengan ukuran 25,7 meter atau untuk mengelilingi pohon ini memerlukan setidaknya 15 orang berpegangan tangan.

Tinggi batang tanpa cabang 16,5 meter, tinggi banir 16 meter, tinggi keseluruhan 42 meter, diameter pohon tanpa banir 203 centemeter.

Yang unik, getah pohon ini bewarna merah darah, dan terdapat semacam damar diantara kulit pohon yang terkelopas.
Pohon berada di RT 1 Desa Mentoyan. Warga setempat menyebut pohon Jalamu sejenis pohon kenari.

Mereka berharap pohon tersebut terpelihara dengan baik karena itu adalah warisan alam yang sangat langka, sebagai objek wisata, objek penelitian, dan objek pendidikan di kemudian hari.

Iklan

Balitbanghut Teliti Pohon Buah Lahung

Oleh Hasan Zainuddin

lahung

lahung1

Banjarmasin () – Pihak tim dari Balai Penelitian dan Pengembangan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Banjarbaru, terjun ke Desa Panggung, Kecamatan Paringin Selatan, Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan, untuk melakukan penelitian terhadap keberadaan pohon lahung (durio dulcis).

Seorang peneliti utama dari instansi tersebut, Syaifudin S Hut kepada Antara, melalui WhatsApp (WA) Senin, mengakui timnya terjun ke lokasi tersebut, untuk melakukan penelitian keberadaan pohon yang mulai langka itu, maksudnya untuk pelestarian.

Eksplorasi tersebut berlangsung minggu lalu bersama anggota Forum Komunitas Hijau (FKH) setempat.

Tim yang terdiri dari dia sendiri serta dua peneliti lainnya. Kedua peneliti tersebut yakni Edy Suryanto, dan Akhmad Ali Musthofa, dibantu oleh pemuda FKH Balangan sebagai pemandu jalan ke kawasan tersebut.

Tim ini dibantu berbagai peralatan melakukan melakukan pengukuran terhadap sebuah pohon lahung besar yang ada di desatersebut, disamping mencari anakannya untuk dikembangbiakan di areal instansi mereka di Banjarbaru.

Berdasarkan penelitian tim pohon lahung besar yang berada di hutan yang terdapat perkebunan karet itu berdiameter 112 cm, lebar tajuk 26,92 meter, tinggi batang bebas cabang 16 meter, tinggi total 37 meter, dan tinggi banir 5 meter.

Sementara itu pemerhati buah endemik Kalimantan, Hanif Wicaksono melalui FB-nya menjelaskan buah lahung sejenis durian, tetapi kulit warna merah kehitaman dengan duri lancip dan panjang.

Bagi beberapa orang yang baru merasakan durian lahung akan sangat wajar bila merasa aneh. hal ini seperti melihat orang barat yang baru mencoba durian.

Ada kesan aneh yg susah dijelaskan. bahkan beberapa orang pun mendeskripsikan lahung mempunyai aroma seperti aerosol, alkohol, mint, bahkan pembersih lantai.

Memang tidak memungkiri lahung punya bau unik yg khas, tetapi tidak semua lahung beraroma keras.

Pada dasarnya buah lahung itu manis sesuai namanya “dulcis” yang berarti manis. lahung seperti durian punya banyak sekali varian. beberapa varian lahung mempunyai aroma yg lebih lembut dan rasa yang manis krimi tanpa bau yang mencolok seperti lahung.

Meski rata2 lahung berwarna putih banyak juga lahung yang mempunyai daging buah berwarna kuning hingga oranye. Dari berdaging tipis hingga tebal.

Durio dulcis di Kalsel termasuk spesies yang diketahui paling sering mengalami silang alami (hybrid) selain pampakin (D kutejensis).

Hal ini kemungkinan karena masa pembungaan lahung yg lebih awal daripada spesies durio lain.