“PWR” BUKTI KENTALNYA TOLERANSI BERAGAMA

1

Oleh Hasan Zainuddin
Di antara orang berjilbab, bersarung, berkopiah haji, dan berbaju koko, tak sedikit pengunjung Pasar Wadai Ramadhan (PWR) atau Ramadhan Cake Fair (RCF) yang digelar setiap Ramadhan di Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan, yang bermata sipit dan berkulit putih, atau yang berhidung mancung datang membeli penganan di lokasi tersebut.
Belum lagi, kadangkala berbaur juga pembeli berbaju biarawati, atau yang berkepala gundul dan berpakaian kuning-kuning ikut berjubel di tengah ribuan pengunjung pasar yang hanya muncul setiap bulan Ramadhan itu.
Selain itu, kedatangan sekelompok wisatawan bule yang dipandu para peramuwisata yang seringkali berbaur di tengah keramaian pasar penganan itu, membuktikan bahwa PWR bukanlah untuk kepentingan satu golongan agama saja.
“Banyak pembeli kue khas Banjar yang dikenal dengan kue 41 macam adalah orang-orang Cina,” kata Ibu Maspah, seorang dari ratusan pemilik kios dagangan di pasar wadai Ramadhan yang berada di bilangan Jalan RE Martadinata, depan balaikota Banjarmasin itu.
“Orang Cina biasanya berani membeli agak mahal dagangan saya, sehingga saya bisa lebih untung, ” kata Ibu Maspah.
Didingar dari cara bicaranya kebanyakan orang Cina yang berbelanja ke pasar wadai tersebut adalah mereka yang memang sudah lama tinggal di Banjarmasin, serta kota-kota lain di Kalsel, umumnya mereka adalah orang kaya dan dari kalangan pedagang.
Namun, berdasarkan keterangan, mereka orang Cina itu tak sedikit mengajak keluarga mereka dari Pulau Jawa serta daerah lain khusus datang menikmati penganan khas Kalsel di pasar tersebut.
Sementara kedatangan kalangan wisatawan mancanegara (Wisman) yang mengenakan pakaian celana pendek, kaos senglet, kaos oblong, baik wisman pria dan wanita tak masalah berada di lokasi ini.
Bahkan ada dari mereka setelah membeli penganan langsung menyantap di lokasi itu juga, tidak mengerti bahwa saat itu lagi bulan puasa, namun oleh masyarakat setempat hal itu dimaklumi saja.
Menurut para pedagang, akibat banyaknya pendatang non-muslim di lokasi itu menyebabkan harga penganan dan masakan lebih mahal dibandingkan di tempat lain, dan berapa pun banyaknya barang dagangan hampir bisa dipastikan akan habis terjual.
Deobora (35), warga Banjarmasin yang beragama Kresten, mengaku dia selalu menunggu kehadiran pasar Ramadhan ini, karena momen ini benar-benar memberikan kesenangan bagi keluarganya.
“Keluarga kami hampir tiap hari membeli makanan di pasar Ramadhan tersebut, banyak pilihan makanan, begitu juga penganan aneka ragam, sulit didapati hari lain,” kata Deobora yang dikenal sebagai seorang PNS di lingkungan Pemko Banjarmasin tersebut.
Memang Pemkot Banjarmasin sendiri membangun lokasi destinasi wisata tahunan saat Ramadhan ini bukan semata untuk umat Islam, tetapi diciptakan untuk semua golongan, bahkan dijadikan kalender kepariwisataan tahunan yang terus dipublikasikan ke dunia luar sebagai andalan kepariwisataan Kalsel.
Banyak fungsi di pasar ini selain sebagai objek wisata, juga sebagai lokasi ngabuburit (menunggu bedug berbuka puasa), serta sebagai sarana pelestarian budaya.
Karena itu, tak heran bila ada sekelompok muda mudi berjalan santai sambil bercanda gurau berada di sana hanya untuk ngabuburit.
Atau, sekelompok wisman begitu asyik membidik-bidikan kamera ke para pedagang atau pembeli yang sedang bertransaksi di lokasi itu, sedangkan yang lain ikut berjubel begitu asyik mencari-cari kue-kue tradisional yang juga hanya muncul pada saat digelarnya pasar tersebut.
Selain penganan dan makanan di sana terdapat sekitar 41 macam kue khas dan tradisonal Suku Banjar, bahkan banyak di antaranya sebenarnya adalah kue-kue yang langka.
Sebagai objek wisata maka keberadaan pasar ini pun diciptakan sedemikian rupa bernuansa budaya Suku Banjar yang merupakan suku terbesar di daratan Kalsel.
Menurut keterangan pasar ramadhan ini sudah ada di Banjarmasin sejak tahun 70-an. Saat itu hanya kelompok-kelompok kecil saja, hingga kurang teratur dan mengganggu keindahan kota.
Mulai tahun 80-an oleh Pemkot Banjarmasin pedagang itu dikumpulkan di satu lokasi, lalu dinamakan Pasar Wadai Ramadhan (Ramadhan Cake Fair). Sejak itu pula lokasi ini dinyatakan sebagai atraksi wisata tahunan.
Untuk memperkuat lokasi ini sebagai objek wisata maka digelar pula berbagai pertunjukan rakyat, seperti kesenian tradisional, seperti madihin, lamut, rebana, jepin, dan tarian serta seni-seni tradisi lainnya.
Setiap pertunjukan selalu saja memperoleh sambutan hangat dari masyarakat, terutama kawula muda yang berdatangan bukan saja dari Kota Banjarmasin sendiri tetapi dari kota sekitarnya. Seperti tahun ini, lokasi pertunjukan persis di tengah pasar sehingga memudahkan pengunjung untuk menikmati seni tradisi tersebut.
Pasar Wadai ini tidak hanya dimaksudkan untuk melestarikan seni budaya setempat, tetapi juga untuk melestarikan penganan tradisional khas Kalsel.
“Banyak penganan (kue) yang hampir punah lantaran jarang ditemui di hari biasa, bisa ditemukan pada saat pegelaan pasar Ramdahan ini, yang membuktikan kegiatan tahunan ini mampu melestarikan budaya membuat penganan tersebut,” kata Kepala Bidang Pengembangan Pariwisata, Dinas Pariwisata dan Budaya Kota Banjarmasin, Jimmie Khuzain.
Masyarakat suku Banjar yang tinggal di Kalsel dikenal sebagai masyarakat yang memiliki kekayaan budaya khususnya penganan tradisional, namun beberapa jenis penganan tersebut kini nyaris punah.
Menurut keterangan terdapat 41 macam penganan tradisional Suku Banjar yang dikenal selama ini, tetapi tak sedikit penganan tradisional itu yang tak lagi terdata dan diketahui.
Dari 41 macam itu saja mungkin belasan yang nyaris punah, dan penganan itu muncul bila ada hajatan, kenduri, atau acara ritual lainnya di masyarakat Suku Banjar.
Penganan tradisional yang nyaris punah itu antara lain seperti kue kelalapon, kue kakikicak, sasagon, cucur, wajik, cangkarok batu, bubur habang, bubur putih, apam habang, apam putih, bingka barandam, garigit, ilat sapi, dan wadai satu.
Di antara penganan tersebut seringkali dibuat hanya kebutuhan ritual atau kebutuhan kenduri karena diyakini kue-kue itu kalau dimakan diyakini akan membawa berkah.
Penganan itu hilang setelah kian banyaknya penganan modern dan makanan kecil siap saji bermunculan, tetapi juga akibat kue-kue kering dan makanan kecil yang diproduksi perusahaan besar di Pulau Jawa.

 

Satu Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: