MENYELAMATKAN SATWA UNIK BEKANTAN MELALUI EKOWISATA LAWAHAN

Oleh Hasan Zainuddin
bekantan2

 

Banjarmasin, 13/3 (Antara) – Keprihatinan terhadap kehidupan kera Bekantan (Nasalis larvatus) begitu kuat dilontarkan masyarakat, tetapi begitu hebat pula kerusakan lingkungan oleh masyarakat yang mendesak populasi satwa endemik Kalimantan tersebut.

Berdasarkan undang-undang, satwa Bekantan termasuk dilindungi, di antaranya melalui UU Nomor 7 Tahun 1999. Walau ada aturannya, tetapi kenyataannya sampai saat ini tak ada tersangka atau pihak yang dijerat melalui aturan tersebut.

Populasi Bekantan terus menyusut akibat eksploitasi hutan, baik oleh penebangan, penambangan serta alih fungsi lahan dari hutan ke kebun kelapa sawit, serta akibat kebakaran hutan belakangan ini.

Selain itu Bekantan juga diburu oleh manusia untuk berbagai kepentingan dan secara alami satwa itu juga diburu oleh buaya muara, ular sawah, biawak, dan elang laut.

Bekantan agaknya hidup tergantung dari hutan lantaran satwa ini termasuk “leaf monkey”, hidupnya bergantung dari makanan yang berasal dari daun-daunan. Di kala dedaunan di habitatnya banyak yang rusak, saat itu pula kehidupan satwa unik tersebut terancam.

Di Provinsi Kalimantan Selatan, tadinya banyak bekantan yang terlihat di mana-mana. Kawasan khusus satwa ini adalah Pulau Kaget wilayah pinggiran Sungai Barito yang berdekatan dengan Kota Banjarmasin. Tetapi karena pulau tersebut menjadi kawasan yang dieksploitasi manusia sekarang satwa tersebut sudah susah terlihat di habitatnya yang rusak itu.

Keluhan demi keluhan terhadap populasi satwa yang juga sering disebut sebagai “kera bule” ini terus terangkat ke permukaan seperti yang terakhir di Kabupaten Kotabaru.

Seperti yang dilansir media massa, seorang pemerhati lingkungan Akhyat Fauzan mengatakan, secara tidak langsung aktivitas pertambangan di Pulau Sebuku mengancam berkurangnya populasi satwa langka Bekantan.

Aktivitas pertambangan yang tidak mempertimbangan pelestarian lingkungan menyebabkan populasi Bekantan semakin menyusut, ujar Akhyat tanpa menyebutkan jumlah populasinya dengan detail.

Menurut dia, ada perusahaan yang tidak peduli terhadap kehidupan Bekantan yang mengandalkan kawasan hutan tersebut. Akhyat khawatir apabila kawasan hutan di Pulau Sebuku habis akibat aktivitas perusahaan tambang, lantas bagaimana nasib Bekantan yang jumlahnya kini terus berkurang itu.

Sungguh ironi, Bekantan yang dulu bisa hidup bebas di alam terbuka itu kini mulai tersisih karena alamnya dijadikan tempat beraktivitas perusahaan.

Namun tak semua perusahaan semata mengambil keuntungan alam tanpa memperhatikan lingkungan. Ada sebuah perusahaan di Tapin Selatan Kabupaten Tapin justru mencadangkan dana CSR untuk menyelamatkan Bekantan.

Perusahaan tersebut PT Antang Gunung Meratus (AGM) bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Tapin untuk melakukan rehabilitasi lahan penyelamatan Bekantan, dan lahan tersebut akan dijadikan Objek Ekowisata Lawahan.

Untuk kepentingan tersebut, Pemkab Tapin menerbitkan Surat Nomor 188.45/060/KUM/2014 tentang Penetapan Kawasan Bernilai Penting bagi Konservasi Spesies Bekantan.

Pengembangan ekowisata Bekantan melalui pembentukan tim yang berasal pemerintah daerah, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Lambung Mangkurat (Unlam), WWF dan PT AGM.

“Wilayah Ekowisata Bekantan ini dibangun di lahan seluas 90 hektare di kanal PT AGM. Kami harap selain PT AGM, penyelamatan habitat Bekantan juga menggandeng perusahaan lainnya,” kata Deputi Direktur Umum PT AGM Budi Karya Yugi Budi kepada penulis saat mengunjungi lokasi tersebut awal Maret ini.

Menurut Budi Karya Yugi perusahaannya bersedia mengeluarkan uang miliaran rupiah hanya untuk konservasi lahan rawa yang rusak akibat terbakar dan merusak habitat kera yang menjadi maskot Kalsel tersebut.

“Kami kini sedang melakukan rehabilitasi di lahan rawa yang tadinya ditumbuhi hutan galam dan kayu Pulantan yang rusak akibat terbakar masa musim kemarau lalu, untuk menyelamatkan kera Bekantan itu,” katanya.

Menurut dia, biaya rehabilitasi lahan konservasi tersebut berasal dari dana CSR perusahaan untuk melakukan penghijauan, penanaman kembali bibit Galam, Pulantan, Lkut, dan tanaman hutan rawa lainnya.

Melalui penanaman kembali tersebut, pihaknya akan merehabilitasi pohon yang rusak terbakar dan kini sudah berdaun muda untuk makanan satwa Bekantan, sehingga sekitar 300 ekor bekantan di kawasan tersebut bisa diselamatkan.

Bahkan kawasan tersebut akan dijadikan lokasi ekowisata dan ternyata hal tersebut direspon oleh Pemerintah Kabupaten Tapin hingga menetapkan kawasan Desa Lawahan menjadi kawasan ekowisata.
Kawasan yang ditetapkan menjadi ekowisata oleh pemerintah setempat seluas 90 hektare, artinya jika perusahaan merehabilitasi lahan 16 hektare berarti ada luasan 74 hektare yang menjadi tanggungjawab pemerintah setempat untuk merehabilitasinya.

Untuk menjadikan kawasan tersebut sebagai wilayah ekowisata PT AGM sudah membuatkan dermaga “klotok” (perahu motor tempel) ke wilayah tersebut, sekaligus menyediakan sarana jalan kaki dan menara pantau.

“Kita ingin pengunjung tak bersentuhan langsung atau berdekatan dengan Bekantan karena satwa tersebut terlalu pemalu atau penakut dengan pengunjung. Karena itu kita sediakan menara pantau saja. Melalui menara pantau itulah pengunjung bisa menyaksikan kehidupan kera endemik ‘Pulau Borneo’ tersebut,” katanya.

Mengutip keterangan Pemkab setempat, Budi Karya Yugi menuturkan ke depan selain bisa dilalui melalui wisata susur sungai, juga akan disediakan jalan darat dari Jalan A Yani kabupaten itu hingga ke lokasi, sehingga pengunjung bisa menggunakan mobil.

Ia mengharapkan dengan adanya konservasi tersebut akan menjadikan wilayah yang berada dekat dengan kanal pengangkutan batu bara PT AGM tersebut menjadi objek wisata andalan Kabupaten Tapin, bahkan Kalsel, karena disitulah habitat Bekantan terbanyak.

Secara terpisah Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) yang dipimpin ketuanya Amalia Rezeki menyatakan kegembiraannya adanya rehabilitasi lahan rawa oleh perusahaan swasta untuk menyelamatkan satwa kera hidung besar Bekantan (Nasalis larvatus) dari kepunahan.

“Kami mengajak siapapun untuk berkomitmen menyelamatkan satwa Bekantan, dan ternyata itu sudah direspons perusahaan swasta PT AGM,” kata Amalia Rezeki kepada pers di Banjarmasin, Kamis.

Didampingi pendiri SBI Feri, Amalia Rezeki menuturkan sejak ditetapkannya Bekantan sebagai maskot Provinsi Kalimantan Selatan oleh Gubernur Kalsel, melalui persetujuan DPRD tanggal 28 Maret 1990 berarti sudah 25 tahun bekantan yang menjadi ikon kebanggaan. Namun demikian perhatian terhadap bekantan dirasakan belum optimal.

Oleh karena itu dengan adanya kesediaan swasta tersebut mengkonservasi lahan diharapkan akan memancing perusahaan lain berbuat serupa, walau dana yang digunakan melalui CSR perusahaan, tambahnya.

Pihaknya pada 28 Maret 2015 berencana mencanangkan Hari Bekantan Indonesia wilayah Kalimantan Selatan yang ditandai berbagai kegiatan.

“Kami ingin mengajak semua pihak peduli terhadap satwa langka yang menjadi ikon Kalsel tersebut melalui Hari Bekantan Indonesia,” katanya seraya menyebutkan kegiatan tersebut antara lain melakukan observasi kawasan konservasi dan pelepasliaran bekantan di habitatnya.

Selain itu adanya aksi “prusiking up sling” dari Jembatan Barito serta Festival Kelotok Hias yang akan dihadiri para petinggi Kalsel, seperti ketua DPRD, pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD), institusi perguruan tinggi, mahasiswa dan pelajar, kader konservasi, para aktivis lingkungan hidup, pecinta alam dan masyarakat sekitarnya.

Lokasi yang dipilih dalam kegiatan tersebut adalah Pulau Kaget yang merupakan habitat Bekantan, yang terdapat hutan rambai padi sebagai makanan utama satwa berbadan besar dan berhidung panjang tersebut.bekantan1

MENYAKSIKAN KERA BESAR “BEKANTAN” DI LAHAN KONSERVASI

bekantan1

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,6/3 (Antara)- ” Itu dia” kata pengemudi klotok (perahu metor tempel) seraya menunjuk ke beberapa ekor Bekantan (Nasalis larvatus) yang bergelantungan di pohon Pulantan, di kawasan lahan rawa Desa Lawahan, Kecamatan Tapin Selatan, Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan, atau sekitar 150 kilometer Utara banjarmasin.

“Wah banyak Bekantannya,” kata Erwin seorang kameraman Banjar TV seraya membidikkan kameranya ke arah kelompok kera hidung pandang endemik Pulau Kalimantan (Boeneo) tersebut.

Dengan pelan-pelan klotok merapat ke hamparan rawa yang ditumbubi Pulantan dan tanaman galam itu. “Jangan berisik,” kata pengemudi klotok itu mengingatkan, karena bekantan terlalu peka terhadap kedatangan orang.

Ternyata benar setelah melihat kedatangan rombongan yang terdiri dari wartawan yang tergabung dalam grup “pena hijau,” Forum Komunitas Hijau (FKH) , Sahabat Bekantan Indonesia (SBI), peneliti dan dari karyawan perusahaan PT Antang Gunung Meratus (AGM), itu kelompok parimata itu menjauh.

Kendati menjauh namun binatang berkulit kuning kemerahan tersebut tetap bergelantungan di atas pohon, sehingga para wartawan bisa saja mengabadikan kehidupan satwa itu melalui kamera menggunakan lensa zoom.

“Alhamdulillah, aku dapat momen yang bagus,” kata Erwin lagi seraya terus membidikkan kamera videonya ke arah kehidupan bekantan yang konon terdapat sekitar 300 ekor di kawasan yang berdekatan dengan operasi perusahaan batubara PT AGM tersebut.

Pemantauan penulis kawasan yang ada kehidupan Bekantan tersebut terlihat hutan yang rusak, kendati masih ada pohon-pohon hijau, tetapi sebagian besar sudah “meranggas,” karena lahan itu tampak bekas kebakaran.

Para kera tersebut, tampak lebih banyak berada di daratan ketimbang di atas pohon, mereka makan daun-daun pakis (kelakai) yang memang hidup merambat di daratan, dan tampak waspada terhadap kedatangan rombongan, sambil makan sambil menjauh.

Peneliti Bekantan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Profesor Hadi Sukadi Alikodra mengungkapkan bahwa sekitar 300 ekor bekantan yang hidup di sekitar kawasan pertambangan dan perkebunan sawit di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, sempat mengalami stres akibat kebakaran lahan.

Menurut Alikodra di Banjarmasin, bekantan yang sebelumnya hidup di kawasan konservasi dan ekowisata yang dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Tapin bersama perusahaan tambang PT AGM terpaksa harus mencari rumah baru untuk melanjutkan hidup.

“Pada saat kebakaran lahan, seluruh bekantan yang ada di kawasan konservasi harus lari menyeberang sungai, untuk menyelamatkan diri,” katanya.

Pada musim kemarau 2014, kebakaran lahan cukup besar terjadi di kawasan perkebunan sawit, hingga membakar puluhan hektare kawasan konservasi, tempat para bekantan tersebut hidup.

Petugas dari beberapa perusahaan yang ada di sekitar wilayah tersebut, bisa memblok beberapa bagian kawasan, sehingga tidak ikut terbakar, sehingga bisa dimanfaatkan untuk melanjutkan hidup para bekantan.

Saat ini, para bekantan tersebut, kembali hidup dan berkembang biak, di kawasan hutan Galam dan Pulantan yang ada di sepanjang pinggiran sungai di wilayah Lawahan atau Muning, Kabupaten Tapin.

Sementara peneliti Bekantan dari Universitas Lambung Mangkurat Profesor Arif Soendjoto mengatakan, kini Bekantan tersebut juga makan rumput, kemungkinan karena makanan berupa daun Pulantan dan daun Galam tidak mencukup lagi.

Mempertahankan keberadaan hewan endemik khas Kalimantan tersebut, Pemkab Tapin bersama PT AGM menyiapkan lahan untuk konservasi Bekantan.

Dalam rangka melindungi habitat Bekantan, Pemkab Tapin menerbitkan Surat Nomor 188.45/060/KUM/2014 tentang Penetapan Kawasan Bernilai Penting bagi Konservasi Spesies Bekantan.

Pengembangan ekowisata Bekantan benbentuk tim yang berasal pemerintah daerah, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Lambung Mangkurat (Unlam), WWF dan PT AGM.

“Wilayah Ekowisata Bekantan ini dibangun di lahan seluas 90 hektare di kanal PT AGM, kami harap selain PT AGM, penyelamatan habitat Bekantan juga menggandeng perusahaan lainnya,” kata Deputi Direktur Umum PT AGM Budi Karya Yugi Budi.

Menurut Budi Karya Yugi perusahaan bersedia mengeluarkan uang miliaran rupiah hanya untuk konservasi lahan rawa yang rusak akibat terbakar dan merusak habitat kera yang menjadi maskot Kalsel tersebut.

“Kami kini sedang melakukan rehabilitasi di lahan rawa yang tadinya ditumbuhi hutan galam dan kayu Pulantan yang rusak akibat terbakar masa musim kemarau lalu, untuk menyelamatkan kera Bekantan itu,” katanya.

Menurut dia, rehabilitasi di lahan konservasi tersebut adalah berasal dari dana CSR perusahaan untuk melakukan penghijauan, penanaman kembali bibit Galam, Pulantan, Lkut, dan tanaman hutan rawa lainnya.

Melalui penanaman kembali tersebut, akan merehabilitasi pohon yang rusak yang terbakar dan kini sudah berdaun muda untuk makanan satwa Bekantan, sehingga sekitar 300 ekor bekantan di kawasan tersebut bisa diselamatkan.

Bahkan kawasan tersebut akan dijadikan lokasi ekowisata dan ternyata hal tersebut direspon oleh Pemerintah Kabupaten Tapin hingga menetapkan kawasan Desa Tandui dan Lawahan menjadi kawasan ekowisata.
Kawasan yang ditetapkan menjadi ekowisata oleh pemerintah setempat seluas 90 hektare, artinya jika perusahaan merehabilitasi lahan 16 hektare berarti ada luasan 74 hektare yang menjadi tanggungjawab pemerintah setempat merehabilitasinya.

bekantan2

Untuk menjadikan kawasan tersebut sebagai wilayah ekowisata PT AGM sudah membuatkan dermaga “klotok” (perahu motor tempel) ke wilayah tersebut, sekaligus menyediakan sarana jalan kaki sekaligus menara pantau.

“Kita ingin pengunjung tak bersentuhan langsung atau berdekatan dengan Bekantan karena satwa tersebut terlalu pemalu atau penakut dengan pengunjung, karena itu kita sediakan menara pantau saja, mulai menara pantau itulah pengunjung bisa menyaksikan kehidupan kera endemik pulau Borneo tersebut,” katanya.

Mengutip keterangan Pemkab setempat, Budi Karya Yugi menuturkan kedepan selain bisa dilalui melalui wisata susur sungai, juga akan disediakan jalan darat dari Jalan A yani kabupaten itu hingga ke lokasi, sehingga pengunjung bisa pakai mobil.

Ia mengharapkan dengan adanya konservasi tersebut akan menjadikan wilayah yang berada dekat dengan kanal pengangkutan batubara PT AGM tersebut menjadi objek wisata andalan Kabupaten Tapin, bahkan Kalsel, karena disitulah habitat Bekantan terbanyak.

Secara terpisah Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) yang dipimpin ketuanya Amalia Rezeki menyatakan kegembiraannya adanya rehabilitasi lahan rawa oleh perusahaan swasta untuk menyelamatkan satwa kera hidung besar Bekantan (Nasalislarvatus) dari kepunahan.

“Kami mengajak siapapun untuk berkomitmen menyelamatkan satwa Bekantan, dan ternyata itu sudah direspons perusahaan swasta PT AGM,” kata Amalia Rezeki kepada pers di Banjarmasin, Kamis.

Didampingi pendiri SBI Feri, Amalia Rezeki menuturkan sejak ditetapkannya Bekantan sebagai maskot Provinsi Kalimantan Selatan oleh Gubernur Kalimantan Selatan, melalui persetujuan DPRD tanggal 28 Maret 1990 berarti sudah 25 tahun bekantan yang menjadi ikon kebanggaan, namun demikian perhatian terhadap bekantan dirasakan belum optimal.

Oleh karena itu dengan adanya kesediaan swasta tersebut mengkonservasi lahan diharapkan akan memancing perusahaan lain berbuat serupa, walau dana yang digunakan melalui dana CSR perusahaan, tambahnya.

lahan

MENIKMATI MAIN ULAR KEBUN BINATANG KOTA BANJARMASIN

WALIOleh Hasan Zainuddin

 

Sekelompok remaja putra sambil bergurau satu per satu memegang aneka jenis ular. Ada ular bewarna kuning, ular bewarna hitam keabu-abuan, bewarna batik, dan warna lainnya.

Sesekali ular-ular tersebut sengaja melingkar-lingkar di leher para remaja yang agaknya kalangan pencinta reptil tersebut, bahkan ada ular relatif besar yang melilit hampir seluruh tubuh seorang remaja tersebut. Kendati demikian, remaja itu tetap tersenyum ceria.

Sesekali para remaja putra tersebut mendekat ke rombongan ibu pejabat Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin yang saat berada di lokasi tersebut, Sabtu (13/9) lalu, serta-merta ibu-ibu berlari ke sana kemari ketakutan.

“Jangan memegang, untuk melihat saja sudah geli dan ngeri,” kata seorang ibu yang datang ke lokasi tersebut dalam kaitan peresmian pengoperasian Kebun Binatang “Banjar Bungas” yang dikelola Dinas Pertanian dan Perikanan Kota Banjarmasin tersebut.

Kebun binatang seluas 1,5 hektare tersebut, memang hari itu diresmikan oleh Wali Kota Banjarmasin Haji Muhidin yang didampingi Sekretaris Daerah Kota (Sekdako) setempat Zulfadlie Gajali dan para pejabat satuan kerja perangkat daerah (SKPD) pemkot setempat.

Selain ada kelompok remaja bermain ular, di lokasi tersebut juga terlihat ada sekelompok remaja putra dan putri lagi bermain satwa musang dan tupai yang tampak jinak, bahkan ada pula yang bermain dengan aneka jenis kucing dan ayam hias.

Melihat asyiknya kelompok remaja tersebut bermain ular, Wali Kota Muhidin mencoba mendekat. Pertama terlihat ekspresi mukanya rada-rada takut. Namun, setelah memegang ular agak besar bewarna kuning keputihan yang dikenal sebagai jenis ular yang disebut Ball Python tersebut, dia tampak lebih berani.

Bahkan, Wali Kota meminta para pencinta reptil untuk diberikan dua ekor sekaligus. Dengan beraninya Wali Kota memegang kedua ular tersebut, satunya dilingkarkan ke lehernya, satu lagi dimainkan di tangan kanan.

Sesekali Wali Kota mendekati para pejabat dan ibu-ibu, serta-merta lagi ibu-ibu berteriak ketakutan. Begitu pula, para pejabat lainnya ada yang takut, tetapi ada pula yang coba-coba memberanikan diri.

“Wali Kota saja berani, masa kita takberani,” kata Sekdako Banjarmasin Zulfadli Gajali seraya mengambil juga dua ekor ular, di antaranya jenis sanca batik yang juga besar.

Melihat kedua petinggi pemkot tersebut bermain ular, kian banyak saja hadirin yang berani mendekat, bahkan ular-ular tersebut menjadi ajang untuk berfoto ria.

Memang di kebun binatang yang berada dalam kota berpenduduk sekitar 700.000 jiwa tersebut terdapat zona reptil, termasuk ular di dalamnya, juga ada biawak, buaya, dan jenis reptil lainnya.

Wali Kota Muhidin merasa bangga adanya kebun binatang tersebut. Menurut dia, dengan adanya kebun binatang itu, kian menambah kesemarakan Kota Banjarmasin yang sudah dikenal sebagai kota tujuan wisata di Tanah Air.

“Saya meminta ke depan kebun binatang ini kian dilengkapi aneka koleksi satwa yang ada di Nusantara, bahkan kalau perlu ada satwa yang berasal dari luar negeri,” katanya.

Sebab, tambahnya, keberadaan sebuah kebun binatang tidak saja akan menjadi daya tarik tersendiri bagi dunia wisata sekaligus menjadi ajang pendidikan dan penelitian.

Apalagi, jika memang terwujud di lokasi ini ada penangkaran binatang Bekantan (Nasalis larvatur) yang merupakan jenis satwa langka berhidung panjang yang menjadi “maskot” bidang fauna Provinsi Kalsel.

Maskot Kalsel bidang floranya adalah tanaman kasturi (Mangifera Kasturi Delmiyana) yang jenis mangga-manggaan buahnya kecil bewarna merah kehitaman jiga sudah masak dan warna hijau selagi muda.

Berdasarkan keterangan upaya penangkaran bekantan tersebut, pihak pengelola kebun binatang akan bekerja sama dengan sebuah komunitas Bekantan Kalimantan yang dinamakan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI).

“Sahabat Bekantan Indonesia sendiri menyatakan bersedia kerja sama tersebut, bahkan suatu kebanggaan karena kian banyak yang akan mencintai satwa yang hanya hidup di Pulau Kalimantan tersebut,” kata anggota SBI Amalia.

Amalia yang berada di lokasi tersebut bersama anggota SBI lain berjanji akan menjadikan Kebun Binatang Banjar Bungas ini sebagai pusat rehabilitasi parimata jenis bekantan sekaligus sebagai objek penelitian dan pendidikan.

Amalia mengakui populasi bekantan di daratan Kalsel terus berkurang setelah banyaknya habitat mereka yang tergusur lantaran penebangan kayu dan pertambangan serta perkebunan.

Melihat kenyataan tersebut, pihak SBI berusaha menyelamatkan satwa yang juga sering disebut sebagai “kera bule” yang masih tertinggal dan juga berusaha menangkarkannya.

 

Kerja Sama KBS

Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Doyo Pudjadi kepada wartawan di Banjarmasin mengakui keberadaan kebun binatang tersebut untuk menyemarakkan dunia keparwisataan kota tersebut.

Menurut Doyo Pudjadi, kebun binatang yang terletak di Kompleks Zahri Saleh, Kelurahan Sungai Jingah, Kecamatan Banjarmasin Utara, tersebut sebagai objek wisata alternatif di kota itu.

Warga Banjarmasin agaknya lebih banyak berwisata ke pusat perbelanjaan seperti mal. “Akan tetapi, warga juga harus disediakan objek wisata yang murah meriah, ya, kebun binatang ini,” kata Doyo Pudjadi.

Mengenai kebun binatang, disebutkan bahwa pengelolaannya akan dilakukan dengan bekerja sama dengan Kebun Binatang Surabaya (KBS), terutama untuk jenis hewan-hewan tertentu yang di KBS ada kelebihan jumlahnya.

Diakuinya dalam pengelolaan dan pemeliharaan satwa, pihaknya belum begitu berpengalaman. Oleh karena itu, pengelolaan ini dikerjasamakan dengan KBS. Semoga lokasi ini lebih bisa berkembang.

Di lokasi kebun binatang ini terdapat sepuluh zona, yakni zona reptil, zona primata, zona burung, dan zona ikan, serta zona-zona lainnya yang menyebar di areal seluas 1,5 hektare.

Lokasi ini juga dilengkapi dengan tempat mandi dan toilet, tempat ibadah, warung cendera mata, serta rumah makan yang menyajikan menu serbamasakan jamur.

“Kami berharap kebun binatang ini akan menjadi pilihan masyarakat bertamasya sebagai alternatif selain ke pusat perbelanjaan atau mal,” katanya.

Lokasi ini mudah dijangkau, pertama masih dalam kota, kemudian akses jalan mudah karena jalan beraspal sampai ke lokasi. Naik angkot juga hanya sekali dari terminal kota sehingga tidak menyulitkan untuk mengunjungi lokasi tersebut.

Agar lokasi ini nyaman, sungai-sungai yang ada di lokasi ini akan dibenahi, akan dilengkapi dengan aneka tanaman hias, dan pohon-pohon peneduh yang rindang.

“Lokasi ini memang sudah terlihat rindang, hingga terasa dingin, tetapi ke depan akan ditambah lagi pohon-pohon rindang ini agar pengunjung bisa terlidungi dari panasnya sinar mentari,” tambahnya.

Pada waktu-waktu tertentu, seperti Sabtu dan Minggu, lokasi ini bisa digelar atraksi atau pertunjukan, baik seni budaya tradisional maupun atraksi wisata lainnya….

 

 

 

 

FKH BANJARMASIN MULAI WUJUDKAN “GREEN CITY”

Oleh Hasan Zainuddin

FKH
Banjarmasin, 31/1 (Antara)- Kondisi Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, yang sebelumnya terlihat gersang, kini telah berubah 180 derajat.

Perubahan drastis itu antara lain terlihat di Jalan Lambung Mangkurat, Jalan Hasannuddin, Jalan A Yani, Jalan Brigjen Hasan Basri.

Waktu itu orang jangankan berjalan kaki, naik kendaraan roda dua terasa kepanasan, tetapi sekarang jalan tersebut begitu rindang, teduh, sejuk, dan dingin sehingga orang berani berlama berteduh, berjalan kaki, atau bersepeda di kawasan itu.

“Saya begitu senang melihat kota kita yang teduh, itu berkat semua pihak termasuk Pemerintah Kota Banjarmasin yang berusaha menciptakan kota yang hijau, bukan sebuah kota yang gersang seperti waktu lalu,” kata Wakil Ketua Forum Komunitas Hijau (FKH) Banjarmasin, Mohammad Ari.

Apalagi, katanya, sesuai amanat Undang-undang No 26/2007 tentang penataan ruang, Pemkot Banjarmasin bersama warga berkomitmen melakukan pembangunan berkelanjutan, dan perlindungan lingkungan alami.

Dalam hal tata ruang 2012 Kementerian Pekerjaan Umum (PU) telah menetapkan Kota Banjarmasin sebagai kota hijau (green city) bersama 60 kota lainnya di Indonesia.

Sebagai kota hijau ada delapan atribut yang harus dilakukan oleh kota berpenduduk sekitar 700 ribu jiwa ini.

Delapan atribut tersebut seperti adanya perencanaan pembangunan yang mengarah kepada pelestarian lingkungan, ketersediaan Ruang terbuka Hijau (RTH) seluas 30 persen dari luas kota sekitar 90 kilometer persegi.
Kemudian kota ini juga harus menerapkan ramah energi atau tidak melakukan pemborosan, harus tersedianya  air bersih dan pemakaian yang terkendali, penanganan limbah dan sampah yang bagus hingga tak mencemari liungkungan.

Atribut lain, seperti pemanfaatan bangunan yang tersedia taman-taman dan penghijauan dan hemat energi, transportasi yang tidak menimbulkan banyak polusi serta hemat bahan bakar, serta peran warga setempat untuk mendukung keberadaan kota hijau tersebut.

“Kami sebagai warga masyarakat yang tergabung dalam wadah FKH tentu saja berkomitmen kuat menciptakan Banjarmasin sebagai kota hijau tersebut, agar kota ini benar-benar menjadi kota yang indah, rindang, dan sejuk hingga menjadi lokasi yang nyaman sebagai hunian,” katanya.

FKH sendiri  adalah kumpulan organisasi cinta lingkungan, seperti dari komunitas pencinta pohon, Persatuan Anggrek Indonesia (PAI), Pena Hijau, Komunitas Wartawan Banjarmasin Cinta Lingkungan, Mapala Universitas Lambung Mangkurat (Unlam), serta komunitas Sepeda Antik Banjarmasin (Saban).

Organisasi FKH sendiri sudah melakukan penghijauan dengan ribuan pohon trambesi, 2.500 pohon pinang, dan terakhir gerakan penanamaan seribu lukut (Asplenium Nidus) atau sering pula disebut tanaman paku sarang burung.

Penanaman lukut tersebut berlangsung setiap Sabtu pada tiga minggu terakhir dan hampir 800 pohon sudah ditanam, baik di Jalan Lambung Mangkuratm maupun di Jalan Pire Tenbdean atau di pohon penghijauan proyek Siring setempat.

Berdasarkan catatan, tanaman lukut  merupakan jenis tumbuhan paku populer sebagai tanaman hias halaman.

Orang Sunda menyebutnya kadaka, sementara dalam bahasa Jawa dikenal dengan kedakah. Penyebaran alaminya adalah di sabuk tropis Dunia Lama (Afrika Timur, India tropis, Indocina, Malesia, hingga pulau-pulau di Samudera Pasifik).

Paku ini mudah dikenal karena tajuknya yang besar, entalnya dapat mencapai panjang 150cm dan lebar 20cm, menyerupai daun pisang.

Peruratan daun menyirip tunggal, warna helai daun hijau cerah, dan menguning bila terkena cahaya matahari langsung. Spora terletak di sisi bawah helai, pada urat-urat daun, dengan sori tertutup semacam kantung memanjang (biasa pada Aspleniaceae).

Ental-ental yang mengering akan membentuk semacam “sarang” yang menumpang pada cabang-cabang pohon. “Sarang” ini bersifat menyimpan air dan dapat ditumbuhi tumbuhan epifit lainnya.

Setelah selesai program lukutisasi Banjarmasin, FKH sebagai pendukung program kota hijau terhadap kota yang berjuluk daratan dengan seribu sungai itu, akan melakukan kegiatan lainnya. Seperti penanaman pohon “kariwaya” (beringin) di beberapa lokasi serta penghijauan tanaman rambai padi (Soneratia sp) di tepian Sungai Kerokan Jalan Jafri Jam-jam.

Green Festival

Dalam upaya meningkatkan partisipasi masyarakat dalam mewujudkan green city tersebut maka organisasi FKH menggelar green festival di tengah Kota Banjarmasin, guna mengajak masyarakat mencintai lingkungan.

Festival yang berlangsung Minggu (1/12) lalu di lokasi objek wisata Siring Pire Tendeaan Banjarmasin tersebut dihadiri ribuan pengunjung.

Sebanyak 26 stand ikut memeriahkan festival yang pertama kali digelar oleh kalangan FKH yang terdiri dari para kelompok pencinta lingkungan tersebut.

Stand tersebut diisi oleh perajin yang mengolah kerajinan tangan dengan bahan sampah nonorganik. Kreasi daur ulang itu diikuti kelompok sekolah hijau dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM),
Kegiatan tersebut juga diisi pameran foto lingkungan hidup yang digelar oleh organisasi lingkungan Pena Hijau, serta pameran sistem kerja bank sampah.

Saat itu pula didemonstrasikan bagaimana membuat pupuk organik melalui sampah organik oleh pelaku FKH terutama dari Pak Basri yang dikenal sebagai aktivis lingkungan Banjarmasin.

Pak Basri dibantu beberapa anggota FKH mendemonstrasikan beberapa alat sederhana tentang cara pengolahan sampah menjadi pupuk organik. Dia pun mengajak pengunjung menjawab berbagai pertanyaan berkenaan dengan pelestarian lingkungan.

Bagi pengunjung yang berhasil menjawab pertanyaan maka diberikan hadiah bibit buah-buahan seperti bibit rambutan, jeruk dan aneka bibit penghijauan lainnya.

Menurut anggota FKH Banjarmasin Akhmad Arifin kegiatan tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap Kota Banjarmasin yang dinyatakan sebagai kota hijau di tanah air.

Melalui aneka kegiatan FKH nantinya diharapkan melahirkan keinginan penduduk kota mencintai lingkungan yang akhirnya kota menjadi rindah, teduh, dingin, dan indah.

FKH sendiri dikukuhkan oleh Wali Kota Banjarmasin Haji Muhdin bertepatan pada peringatan hari tata ruang.

Kegiatan FKH selain didukung Pemkot Banjarmasin juga diberikan dana kegiatan oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU) pusat.

Dengan aneka program Pemkot yang didukung FKH maka akan memudahkan pencapaian kota Banjarmasin sebagai salah satu green city di Indonesia.

koran

aneka foto kegiatan FKH

——————————–

festival  

festival green

festival2  

festival3

Festival green

kumunitas   Pengurus FKH

 lukutlukut.lukut1      

     mapala unlam      Penanaman Lukut

     pinang 

pinang        Penanaman Pinang


   rusmin      

wawancara   Wawancara televisi

MENGANGKAT POTENSI KALSEL SEBAGAI PRODUSEN OBAT HERBAL

Oleh Hasan Zainuddin


Banjarmasin,7/9 (ANTARA)- Di era tahun 80-an hingga tahun 90-an berbagai produk jamu olahan masyarakat di Provinsi Kalimantan Selatan begitu dikenal, bukan saja di wilayah sendiri bahkan diantarpulaukan.

Jamu olahan Kalsel yang terkenal tersebut, diantaranya jamu Sarigading, Jamu Pasak Bumi, Jamu Tabat Barito.

Bukan hanya jamu produk herbal olahan masyarakat Kalsel tersebut, tetapi juga saleb yang terkenal dengan nama saleb cap Dua Kokang, atau bedak mempercantik diri bagi kaum perempuan yang disebut “pupur bangkal.”
Obat-obatan herbal disebut di atas tersebut hanya yang terangkat kepermukaan, padahal masih segudang obat-obatan produk herbal olahan masyarakat di daerah paling selatan Kalimantan tersebut yang dibuat skala kecil dan tidak populer.

Melihat kenyataan tersebut telah membuktikan daratan Kalsel mengandung banyak potensi obat-obatan herbal.

Kepala Dinas Kesehatan Kalsel Rosihan Adhani kepada pers di Banjarmasin, mengakui wilayahnya merupakan gudangnya obat-obatan herbal tersebut.

Oleh karena itu Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan melalui Dinas Kesehatan mendukung pengembangan pengobatan herbal melalui pengembangan produk jamu tradisional yang berasal dari sumber daya alam lokal sebagai pengobatan alternatif.

Ia mengatakan, Kalsel merupakan konsumen jamu terbesar nasional sehingga sudah saatnya kini pemerintah dan masyarakat mengangkat citra obat tradisional tersebut.

Salah satu upaya untuk membantu mengangkat citra jamu tradisional Kalsel tersebut, kata Rosihan, kini pihaknya sedang merintis untuk memasukkan obat-obatan herbal tersebut ke dalam rumah sakit.

“Saat ini di Indonesia baru ada 36 rumah sakit yang memasukkan obat-obatan herbal sebagai pengobatan alternatif, dan Kalsel baru pada tahap merintis,” katanya.

Hal tersebut dilakukan, karena Kalsel merupakan daerah yang sangat kaya sumber daya alam berupa tumbuhan obat-obatan, bahkan salah satu kekayaan alam Kalsel berupa pasak bumi dan tabat barito kini banyak dikirim ke beberapa negara.

Di negara-negara importir tersebut, tumbuhan tersebut diolah menjadi obat yang kemudian dijual ke seluruh negara termasuk Indonesia.

“Seharusnya tumbuhan tersebut yang mengolah adalah kita dan yang mendapatkan nilai tambah ekonominya adalah warga kita pula, tetapi justru oleh negara lain,” katanya.

Dengan demikian, Rosihan berharap warga Kalsel bisa mendukung keberadaan obat-obatan herbal tersebut bisa berkembang di daerah ini.

Saat ini, tambah dia, keberadaan jamu-jamu tradisional Kalsel kalah bersaing dengan jamu luar terbukti dari 26 perusahaan jamu, kini tersisa tujuh perusahaan jamu saja.

Selain ingin mengangkat citra melalui promosi dan Dinkes juga membantu pengembangan jamu tersebut melalui SP3T yaitu sentra pengembangan pengobatan tradisional di daerah.
Tumbuhan Obat

tanaman pelungsur ular
Sementara itu Tim Peneliti dari Balai Peneletian dan Pengembangan Daerah Kalsel telah membuktikan bahwa wilayah Kalsel kaya akan sumber obat-obatan herbal demikian.

Pihak peneliti tersebut telah berhasil menemukan 177 jenis tumbuhan obat-obatan yang tersebar di tujuh kabupaten dan kota di provinsi ini.

Salah satu anggota tim Etnobotani Balitbangda Kalsel Agus Karyono pada rapat persiapan pembangunan Kebun Raya Kalsel di Banjarmasin, mengatakan 177 jenis tumbuhan obat-obatan tersebut didapat dari masyarakat setempat.

Ke-177 jenis tumbuhan obat tersebut ternyata sudah dimanfaatkan untuk pengobatan ketika ada jenis penyakit tertentu di daerah ini.

Etnobotani adalah suatu bidang ilmu yang mempelajari hubungan timbal-balik secara menyeluruh antara masyarakat lokal dan alam lingkungannya meliputi sistem pengetahuan tentang sumber daya alam tumbuhan.

“Seluruh jenis tumbuhan tersebut tetap kita berinama sesuai dengan nama yang diberikan warga asli, karena belum dilakukan penelitian secara ilmiah tentang kandungan tumbuhan tersebut,” katanya.

Nama ilmiah tumbuh-tumbuhan yang diyakini bisa menyembuhkan berbagai penyakit tersebut, kata dia, akan diberikan nama setelah melalui kajian kandungan “fitokimia” dari berbagai macam jenis tumbuhan berkhasiat untuk obat.

Menurut Agus, eksplorasi tumbuhan berkhasiat obat dilakukan di desa yang potensial memiliki sumber daya tumbuhan berkhasiat obat dengan alokasi waktu yang lebih memadai, yang dilakukan setidaknya satu dampai dua minggu di setiap lokasi.

Ketujuh kabupaten yang dilakukan sebagai tempat penelitian tersebut yaitu Kabupaten Banjar terdapat 18 jenis tumbuhan, Kabupaten Tapin sebanyak 22 jenis, Hulu Sungai Utara sebanyak 17 jenis.

Selain itu, Hulu Sungai Tengah 28 jenis, Hulu Sungai Selatan 31 jenis, Balangan 41 jenis , dan Kabupaten Tabalong 20 jenis.

“Dari beberapa desa tersebut di atas, Desa Harakit Kabupaten Tapin, Desa Malinau Kabupten HSS, Desa Kiyu Kabupaten Hulu Sungai Tengah dan Desa Misim Kabupaten Tabalong merupakan daerah yang paling potensial untuk eksplorasi,” katanya.

Selain itu, kata dia, desa yang mayoritas penduduknya Dayak terpencil dan jauh dari lingkungan perkotaan banyak mengetahui tentang jenis tumbuhan berkhasiat obat yang sudah mereka warisi secara turun temurun.
Beberapa jenis tanaman obat yang ditemukan dan telah diuji fitokimia adalah adalah sembilikan, akar bangkimut, krakatau dan haratau, nalin-nalin, akar balakatan, akar arau, bamboo buluh dan bebeberapa jenis tumbuhan obat-obatan lainnya.

Berbagai jenis tanaman obat-obatan tersebut bakal dikembangkan di kebun raya selain berbagai jenis tanaman langka lainnya di Kalsel.

DR ABDUL HARIS MUSTARI, ILMUAN PENGGALI ILMU TANI DAYAK MERATUS

 

 

Oleh Hasan Zainuddin

Dr Abdul Haris Mustari

“Ketertarikan pada tanaman padi sudah tumbuh sejak saya masih kecil dan setiap kali melihat hamparan padi menguning, hati selalu terenyuh, senang melihat malai padi kuning menunduk berat, tanda harapan bagi petani masih ada.” kata Dr. Ir. Abdul Haris Mustari, MSc.

“Saya yakin siapapun yang melihat padi sedang menguning, hatinya pasti senang, karena kesenangan pada padi bersifat universal, padi tetaplah tanaman yang terindah dan terpenting yang Tuhan ciptakan untuk umat manusia,” kata dosen Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB).
Oleh karena itu, ketika terlibat dalam penilItian tim ekspedisi Khatulistiwa di Pegunungan Meratus Provinsi Kalimantan Selatan bersama tim TNI, Haris Mustari mengaku matanya selalu tertuju pada hamparan padi menguning di lembah dan lereng Pegunungan Meratus itu.
Kebetulan dalam periode ekspedisi itu, April-Juli 2012, bertepatan dengan musim padi menguning di penjuru negeri Meratus.
Karena itu ia tertarik untuk menggali kehidupan agraris dan kearifan tradisional Dayak dalam bercocok tanam dan bagaimana mereka memperlakukan padi secara istimewa.
“Kami memang tidak punya uang, tapi kami sugih (kaya) banih (padi) ”, demikian pak Imar penduduk Pegunungan Meratus seperti dikutip Haris Mustari.
Menurut Haris kala itu Pak Imar berkisah ketika semalam suntuk saat ia dan Praka Paskhas Tugiran meminta ijin untuk menginap bersamanya di pehumaan (sawah lahan kering) di Gunung Nunungin yang sejuk di kampung Manakili, Loksado, Pegunungan Meratus.
Tujuan mereka menginap adalah menggali kearifan tradisional Dayak melalui tokoh itu. Meski singkat, tapi sangat mengesankan untuk menimba ilmu yang sangat berharga dari Pak Imar.
“Saya dengan latar belakang akademis dari suatu perguruan tinggi yang terkenal dan tertua ilmu-ilmu pertaniannya, IPB dan sempat menimba ilmu selama kurang lebih tujuh tahun di luar negeri, bagi saya ilmu yang diberikan tokoh dan masyarakat Dayak itu membuat saya semakin menundukkan kepala dan merendahkan hati,” Kata Haris Mustari.
Ternyata banyak ilmu bertani dan kearifan tradisional warisan leluhur yang sangat berguna yang tidak didapatkan di bangku kuliah, tambah Haris Mustari.
“Kami adalah Dayak Meratus, yang mewarisi hutan dan alam Pegunungan Meratus”, demikian mereka membuat identitas diri. Bagi orang Dayak, bercocok tanam adalah sumber utama penghidupan.
Penduduk asli Kalimantan ini menanam berbagai jenis tanaman seperti padi, singkong, keladi, pisang, ubi dan berbagai jenis palawija yang menunjang kehidupan sehari hari.
Dari berbagai jenis komoditi pertanian tersebut, padi adalah yang paling utama karena menjadi makanan pokok.
Padi dalam bahasa Dayak Meratus disebut banih, setiap nama padi didahului dengan kata banih. Bagi orang Dayak, padi bukan sekedar makanan pokok tetapi menjadi jenis tanaman yang disakralkan.
“Padi adalah pemberian langsung Sang Dewata atau Sang Hyang yang sangat penting bagi kami” ujar Pak Imar kepala adat di kampung Manakili.
Padi diperlakukan istimewa, mulai dari penyiapan lahan, penanaman, pemeliharaan dan pemanenan, bahkan setelah dipanen dan disimpan di lumbung, padi tetap diperlakukan istimewa.
Padi ditanam pada lahan kering dengan sistem perladangan berpindah/balik dengan rotasi bervariasi 5 – 10 tahun. Lokasi perladangan, dalam bahasa Dayak disebut Pahumaan, mulai dari dataran rendah sampai lereng-lereng terjal di perbukitan dan pegunungan, bahkan sampai kelerengan sekitar 70 derajat masih dapat dijumpai lahan penanaman padi orang Dayak.
Padi menguning dipuncak dan lereng gunung umum adalah pemandangan yang umum dijumpai di sekitar pemukiman Dayak Meratus.
Bagi orang awam atau bagi mereka yang sudah mengenal sistem pertanian menetap, perladangan berpindah dianggap sebagai pemborosan lahan, terlalu banyak areal yang dibuka sehingga mengorbankan kawasan hutan.
Tapi bagi orang Dayak yang telah mempraktekkan sistem perladangan berpindah secara turun temurun, perladangan berpindah dimaksudkan untuk menjaga kesuburan tanah dan memudahkan pembukaan lahan.
Alasannya dengan rotasi 5 – 10 tahun, lahan garapan diberi kesempatan untuk memulihkan unsur hara tanah yang diperlukan tanaman melalui dekomposisi serasah dan bahan organik.
Selain itu, agar lahan lebih mudah dikerjakan karena semak belukar yang segera tumbuh setelah padi dipanen, dalam jangka waktu 2-4 tahun masih sangat rapat dan sulit dibersihkan, sehingga harus menunggu berbagai jenis tumbuhan berkayu pioner seperti Mahang (Macaranga sp), Piper adunctum, dan jenis tumbuhan berkayu lainnya tumbuh dan terjadi suksesi alamiah membentuk hutan sekunder muda agar semak belukar seperti kirinyu, harendong, serta jenis perdu lainnya semakin berkurang.
Matahari, bulan dan bintang, merupakan pedoman bercocok tanam. Orang Dayak sering diidentikkan dengan suku yang terbelakang, penuh dengan kehidupan mistis, hidup mengembara dan berburu, namun jangan lupa bahwa orang Dayak justru sangat maju dalam metode pertaniannya, tambah Haris Mustari yang disampaikannya kepada penulis melalui email.
Mereka memanfaatkan benda-benda astronomi seperti matahari, bulan dan bintang sebagai pedoman dalam bercocok tanaman.
Secara turun temurun ilmu membaca benda-benda astronomi itu didapatkan dari para tetua dan leluhur mereka.
“Kami dapatkan ilmu ini dengan cara mengaji dari para tetua adat dan tetua kampung”, ujar Pak Imar dan Pak Utan (Damang Kecamatan Halong di Balangan).
Mengaji adalah istilah Dayak Meratus untuk berguru, jadi semua ilmu-ilmu leluhur didapatkan dengan cara berguru atau bertanya, betakun, kepada orang-orang tua.
Dengan cara itulah ilmu diwariskan, karena ilmu Dayak itu tidak tertulis melainkan melalui lisan.
Benda-benda astronomi itu menjadi pedoman kapan mulai memebersihkan lahan, membabat sisa-sisa tumbuhan dan semak belukar, kapan mulai menugal dan waktu yang cocok untuk menanam benih padi, sampai padi siap dipanen.
Bulan Juli dan Agustus adalah waktu untuk membersihkan lahan dari tumbuhan berkayu dan semak belukar, bertepatan dengan musim kemarau. Pada akhir September ketika puncak musim kemarau, dilakukan pembakaran tumbuhan dan semak belukar, kadar air tumbuhan yang telah ditebang berada pada titik terendah, karena itu lebih mudah dibakar.
Sisa pembakaran bahan organik itu nantinya menjadi pupuk alami tanaman padi dan palawija, sehingga tidak diperlukan pupuk buatan lagi.
Sejak dahulu kala orang Dayak telah menerapkan sistem pertanian organik, sistem yang belakangan ini baru digalakkan oleh orang “berpendidikan kota”.
Pada bulan September tanggal 23, matahari tepat berada pada garis khatulistiwa, nol derajat Lintang Selatan.
Bulan Oktober ketika matahari mulai bergeser ke arah selatan menjauh dari garis khatulistiwa, pertanda harus mulai menugal, yaitu membuat lubang tanam benih padi menggunakan tongkat kayu yang ujungnya runcing.
Menugal dilakukan secara gotong royong, sistem komunal yang masih lekat pada adat istiadat Dayak. Menugal dan menanam padi berlangsung hingga bulan Nopember.
Waktu menugal harus melihat posisi munculnya bola kuning Sang Mentari di pagi hari yaitu sekitar sepuluh derajat Lintang Selatan.
Pada posisi itu, matahari memberi tanda bahwa penanaman padi harus segera dimulai.
Dan posisi matahari itu sesungguhnya tidak sulit dibaca oleh orang Dayak, karena mereka menggunakan pedoman puncak-puncak gunung tertentu di lingkungan mereka dimana matahari muncul, dan ini dibaca dan diwariskan secara turun temurun.
Selain matahari, posisi bintang juga menjadi pedoman kapan mulai menanam. Ada tiga jenis bintang yang dipakai sebagai pedoman, yaitu Bintang Karantika, Bintang Baurbilah, dan Bintang Rambai.
Bintang Karantika dikenal juga dengan nama bintang tujuh karena jumlahnya tujuh buah. Bintang Baurbilah adalah bintang yang jumlahnya tiga dengan posisi selalu membentuk garis lurus.
Sedangkan Bintang Rambai selalu membentuk gugusan dan berkelompok. Ketika muncul di langit, posisi bintang-bintang itu dapat dibaca dengan baik oleh orang Dayak, misalnya waktu menanam yang baik adalah ketika bintang-bintang itu berada pada posisi kurang lebih sekitar pukul 9 di ufuk Timur.
Apabila lebih dari itu, misalnya posisi Bintang Karantika berada tepat di atas kepala (pukul 12), maka sudah terlambat untuk memulai penanaman padi, dan kemungkinan gagal karena padi akan terserang hama, demikian kepercayaan mereka.
Selain matahari dan bintang, bulanpun menjadi petunjuk bercocok tanam. Posisi bulan yang dipakai adalah ketika penanggalan bulan menunjukkan tanggal 3-14, yaitu ketika bulan lambat laun naik dan berubah dari bulan sabit ke bulan purnama.
Periode tanggal yang naik dipilih karena waktu itu adalah waktu naiknya rejeki, dan rasa optimisme yang tinggi akan keberhasilan panenan, demikian kepercayaan mereka.
Sebaliknya, ketika bentuk bulan berubah dari bulan purnama ke bulan sabit, ketika penanggalan bulan semakin tua, maka periode itu tidak dipakai untuk menanam, karena dianggap rejeki akan berkurang sejalan dengan semakin tuanya penanggalan bulan di langit.
Dan ketika ditanyakan kenapa ilmu pertanian yang menggunakan unsur astronomi yang sangat tinggi nilainya ini tidak tertulis kepada pak Imar dan Pak Utan, mereka mengatakan “Kitab Kami ada di sini”, sambil menunjuk dada dan hati, artinya ilmu-ilmu pertanian adiluhung itu ada di hati mereka.
Dan seperti halnya berbagai doa dan mantra-mantra dalam ritual Dayak tidak pernah tertulis, mereka percaya bahwa doa dan mantra-mantra yang tertulis akan berkurang kesakralannya, karena itu harus dihafalkan langsung dari tetua adat.

 

Teknik Bertani
Laki-laki menugal (melubangkan lahan untuk benih) dan perempuan memasukkan benih padi ke lubang tugal dengan jarak tanam 20cm x 20cm, dimana setiap lubang diisi 5-7 benih. Lubang tugal tidak ditutup, dibiarkan terbuka, tapi lama kelamaan lubang itu dengan sendirinya akan tertutup oleh tanah akibat aliran air hujan pada permukaan tanah.
Sebelum menanam, dilakukan ritual, yaitu membakar dupa yang dibawa mengelilingi lahan yang akan ditanami sebanyak tiga kali sambil membaca mantra yang isinya adalah doa dan permohonan kepada YMK agar hasil padi melimpah dan dapat dinikmati oleh seluruh anggota keluarga.
Varietas padi di komunitas petani Dayak Meratus sangat tinggi, tercatat minimal 28 varietas padi, baik padi biasa maupun padi pulut (lakatan).
Orang Dayak telah melestarikan berbagai varietas padi secara turun temurun karena itu lingkungan alam Dayak telah menjadi bank gen (gene pool) untuk berbagai varietas padi yang sangat penting dilestarikan karena diperlukan dalam rangka pemuliaan padi yang lebih unggul yang diperlukan manusia.
Selain padi, orang Dayak juga menanam berbagai jenis palawija dan tanaman tahunan yang menunjang kehidupan mereka.
Beberapa varietas padi yang ditanam orang Dayak diantaranya Sabai, Tampiko, Buyung, Uluran, Salak, Kanjangah, Kihung, Kalapa, Uluran, Kunyit, Briwit, dan Sabuk.
Selain padi biasa, juga ditanam padi pulut atau lakatan yaitu jenis Kariwaya, Kalatan, Harang, Samad dan Saluang.
Diantara berbagai varietas padi itu, Buyung dan Arai adalah yang paling digemari karena wangi dan enak rasanya. Semua padi yang ditanam adalah varietas lokal, umur panen enam bulan.
Bersamaan dengan penanaman padi itu, juga ditanam berbagai jenis palawija seperti singkong atau disebut gumbili, lombok, timun, labuh, kacang panjang, berbagai jenis pisang, keladi, yang kesemuanya itu menjadi makanan tambahan.
Sedangkan tanaman tahunan seperti karet, kemiri dan kayu manis ditanam pada areal yang terpisah dengan penanaman padi dan palawija.
Dan di tengah hamparan padi itu mereka juga menanam Kembang habang dan Kembang kuning (Celosia sp, famili Amaranthaceae) yang nantinya menjadi syarat untuk berbagai acara adat seperti Besambu, Mahanyari, Aruh Ganal, Aruh Bawanang, semuanya perlu Kembang itu, cerita Haris Mustari.
“Kembang habang dan Kembang kuning adalah Kembang yang diijinkan oleh Dato Adam untuk dipakai dalam acara acara adat agama Kaharingan”, ujar pak Imar ketika berkisah di suatu malam di pehumaannnya di Gunung Nunungin.
Bulan ketiga dari penanaman, yaitu sekitar bulan Januari dilakukan penyiangan rumput dan gulma pengganggu tanaman padi.
Penyiangan dilakukan dengan cara mencabut atau memotong rumput dengan parang.
Bulan Februari, ketika padi berumur 3-4 bulan, mulai keluar buah atau malai dan ini disambut dengan suka cita oleh mereka, dianggap berkah dan harus disambut dengan ritual, layaknya menyambut kelahiran bayi yang sangat dinantikan.
Acara meyambut keluarnya buah padi disebut Besambu atau Sambu Uma, artinya menyambut keluarnya buah dan malai padi.
Ketika padi mengeluarkan malai, maka ada beberapa pantangan bagi si pemilik padi yaitu tidak boleh memotong kayu hidup, tidak boleh memetik daun dan tidak boleh masuk hutan.
Pada saat itu diadakan acara adat yang disebut Aruh Adat Besambu di Balai Adat. Pada acara itu, ayam dan babi dipotong, lemang dibuat, dan Kembang habang dan kuning dipersembahkan, memohon kepada YMK agar padi berbuah lebat dan selamat sampai dapat dipanen untuk menghidupi keluarga.
Setelah lahan disiangi, dan adat Besambu telah dilaksanakan, kini tinggal menunggu padi menguning dan setelah enam bulan, buliran buliran mulai menguning, malai menunduk semakin dalam pertanda padi berisi penuh, dan suka cita bagi petani Dayak, pertanda panen tahun ini berhasil, berkah dari YMK.
Ketika padi berumur 4-5 bulan, yaitu pada bulan Maret-April, malai mulai menguning, namun belum matang.
Saatnya untuk acara adat Bawawar, yaitu selamatan di ladang, menyambut padi yang mulai menguning itu. Pada acara itu, daun aren, Kembang habang dan Kembang kuning serta berbagai sesajen dipersembahkan kepada YMK agar padi yang mulai menguning itu selamat sampai dapat dipanen.
Bulan April dan Mei, saatnya panen. Sebelum panen, dilakukan acara adat yaitu Mahanyari yang secara harfiah Mahanyari (hanyar=baru) artinya memulai panen padi pada tahun itu.
Suatu ungkapan rasa syukur yang mendalam atas melimpahnya panen tahun ini serta permohonan agar diberi keselamatan. Mahanyari dilakukan secara berkelompok atau secara idividu setiap keluarga. Mahanyari yang dilakukan secara berkelompok dan dilakukan di Balai Adat disebut Aruh.
Pada acara Mahanyari disediakan berbagai sesajen yang akan dibawa ke pehumaan di Tihang Bekambang (tiang bambu kuning yang dihiasi Kembang dan dedaunan) yang telah disiapkan.
Tihang bekambang terdiri dari tiang berupa bambu kuning, bagian paling atas melambangkan huruf atau kepala manusia yang disebut songkol.
Di bawah songkol terdapat daun sejenis palem yang disebut daun Risi dan ditambah Kembang habang.
Di bagian tengah Tihang Bekambang terdapat papan bundar berdiameter sekitar 70 cm tempat menyimpan berbagai sesajian disebut Dulang Campan yang melambangkan Bumi.
Sesajian yang disimpan di atas Dulang Campan terdiri dari darah ayam dengan wadah tempurung kelapa, wajit, minyak kelapa, dodol ketan, darah ayam, dan air kunyit.
Gulungan daun terep (Artocarpus sp), sejenis sukun hutan yang didalamnya terdapat daun mada, daun risi, buah merah yang disebut hibak, daun ribu ribu, daun binturung, daun buluh, daun sirih benaik, dan daun singgae singgae.
Balian (dukun) memulainya dengan membaca mantra berupa doa bertutur yang pada dasarnya adalah doa dan pemujaan kepada Tuhan YMK atas berkah panen padi yang diberikan.
Ayam dipotong di bawah Dulang Campan, yang dipersembahkan kepada YMK dimana darahnya dikucurkan dibawah Tihang Bekambang di tanah dan di tiang bambu kuning.
Selanjutnya ayam yang telah dipotong itu dibawa kepondok untuk dimasak dan dimakan bersama kerabat dan tetangga.
Setelah itu Balian membawa berbagai bahan sesajian dan gulungan daun terep yang berisi bermacam daun lain seperti tersebut di atas ke pondok pehumaan dan disimpan di dekat lumbung padi.
Selanjutnya para tetua kampung dan Balian membaca mantra-mantra yang isinya adalah rasa syukur dan permohonan keselamatan pada YMK atas berkah dan panen padi yang melimpah dan dapat dimakan oleh anggota keluarga dengan selamat.
Setelah itu dilakukan pembagian lemang, makanan khas Dayak. Lamang adalah beras ketan yang dicampur santan dan garam yang dimasukkan ke dalam bambu kemudian dibakar menggunakan kayu sekitar 2,5 jam.
Beras ketan (lakatan) yang digunakan sebagai bahan lamang adalah hasil panen padi yang baru dilakukan sebagai simbol bahwa hasil panen tahun itu telah dapat dinikmati.
Selanjutnya adalah acara makan bersama dengan menu berupa nasi yang disimpan dipiring, sayur ayam, sayur labuh.
Setiap yang hadir harus mencicipi makanan yang disediakan oleh tuan rumah. Nasi yang dihidangkan berupa nasi putih dari padi yang baru saja dipanen.
Acara Mahanyari adalah ungkapan rasa syukur kepada YMK dan acara berbagi makanan kepada para kerabat dan tetangga.
Selanjutnya adalah acara terakhir dari Mahanyari itu, yaitu penutupan oleh Balian dihadiri tetua kampung dan kepala keluarga.
Pada acara penutupan itu disajikan sesajian dan makanan berupa wajit, darah ayam kampung yang disimpan di tempurung, sagu, hanyangan, sumur Salaka (gelas berisi minuman warna coklat, dan hijau), sumur minyak, telur ayam kampung, belacu dan tumpi, menyan, karangan pandan, pisang, minyak kelapa yang disebut sumur minyak, kandutan atau andungan yang disebut buta atau wadah keranjang terbuat dari anyaman bambu.
Balian dan tetua membaca mantra berupa kalimat-kalimat bertutur saling berbalas diantara tetua adat dan Balian, dan acara ini dilakukan selama kurang lebih 30 menit.
Para anggota keluarga dan kerabat dekat menengadahkan tangan di depan Balian untuk menerima semacam “air berkah” dari karangan daun pandan dan diusapkan secara berulang oleh Balian kepada anggota keluarga dan kerabat dekat tuan rumah, simbol keberkahan.
Memanen Padi
Setelah acara Mahanyari, padi dipanen semuanya. Berbeda halnya ketika menugal dan menanam padi yang dilakukan secara gotong royong, panen dilakukan sendiri oleh keluarga yang bersangkutan.
Orang Dayak menggunakan kumpai (bambu kecil bulat yang sisinya ditajamkan), dan ranggaman (anai-anai) untuk memanen padi.
Bagi Dayak Meratus, memanen padi lahan kering harus menggunakan kedua alat tradisional itu, kecuali padi sawah.
Penggunaan sabit dan mesin perontok gabah tidak diperbolehkan, dianggap pemali dan tabu, dan apabila pemali itu dilanggar, akan menyebabkan sakit. Hari pertama panen harus dilakukan oleh perempuan yang sudah berkeluarga, yaitu ibu rumah tangga dari keluarga itu.
Hari kedua dan seterusnya perempuan gadis dapat membantu. Keterlibatan laki-laki diperbolehkan mulai hari keempat dan seterusnya sampai panen selesai.
Perempuan yang sedang haid tidak diperbolehkan memanen padi, dan kondisi itu juga berlaku ketika menanam, perempuan yang sedang haid tidak diperkenankan menanam jenis tanaman apapun termasuk padi.
Padi yang telah dipanen kemudian dibawa ke pondok, dikeringkan lalu dirontokkan pakai kaki yaitu dengan cara diinjak injak dan digulung gulung sehingga gabah rontok dari malainya.
Selanjutnya gabah dikeringkan, lalu dimasukkan ke Lulung. Lulung ini terbuat dari kulit kayu meranti putih berdiameter besar lebih 1 m yang dikupas dibuat melingkar.
Selanjutnya lulung disimpan di lumbung padi yang disebut Lampau. Agar gabah tidak diserang serangga perusak, mereka menggunakan bahan tradisional, yaitu daun tumbuhan sungkai (Veronema canescen) dipotong kecil-kecil kemudian dikeringkan lalu dicampurkan kedalam gabah yang disimpan pada lulung .
Dengan campuran daun sungkai itu, gabah tahan disimpan beberapa tahun, tidak dimakan dan dirusak serangga.
Orang Dayak memiliki persediaan padi yang melimpah. Beberapa keluarga Dayak bahkan memiliki persediaan padi yang disimpan 5-7 tahun yang lalu.
Padi yang baru dipanen setelah acara Mahanyari dan telah dimakan untuk pertama kali sebagi simbol bahwa hasil panen padi tahun ini telah dapat dinikmati, disimpan di lumbung, dan yang dikonsumsi sehari hari adalah padi yang dipanen beberapa tahun yang lalu.
Suatu pembelajaran mengenai sistem ketahanan pangan. Dayak memiliki ketahanan pangan yang tinggi, sehingga ucapan Pak Imar “kami tidak memiliki banyak uang, tapi kami sugih banih/padi” adalah benar adanya.
Dayak Meratus sangat jarang menjual beras, lebih baik disimpan bertahun tahun, padi dianggap sakral.
Namun demikian orang Dayak sangat ramah dan suka memberi beras, termasuk kami peserta ekspedisi, sering diberi beras oleh mereka ketika berada di kampung, terlebih ketika selesai menghadiri acara Mahanyari dan Aruh, pasti kami dibekali beras dan lamang, yang diberikan oleh orang Dayak dengan tulus.
“Kapan kembali ke Jakarta, saya akan membawakan beras Buyung, oleh-oleh dari kami” kata Rudinar dari kampung Kiyu menawarkan kepada kami peserta eskpedisi.
Beras adalah barang berharga, dan sangat layak sebagai oleh-oleh, apalagi beras Buyung yang sangat harum dan enak rasanya, demikian yang ada di benak Rudinar, pemuda yang telah menjadi guide kami mendaki Gunung Halau Halau Meratus, dan selama kami menginap di Balai Adat kampung Kiyu.

 

KAYU KHAS “ULIN” OBJEK WISATA PALANGKA RAYA

Oleh Hasan Zainuddin

Keberadaan jenis kayu khas Kalimantan yang disebut kayu Ulin (Eusideroxylon zwageri) yang masih tumbuh di hutan wilayah Kota Palangka Raya, ibukota Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) ternyata dijadikan objek wisata pemerintah kota setempat.

Seperti penuturan Kepala bidang Pariwisata, Dinas Pariwisata dan Budaya Kota cantik Palangka Raya, Anna Menur kepada ANTARA di kantornya, Palangka Raya, Senin keberadaan kayu khas tersebut justru memberikan warna kepariwisataan kota setempat.
Ternyata kehidupan pohon kayu ulin di hutan memperoleh perhatian wisatawan, bukan saja wisatawan nusantara juga wisatawan mancanegara.
Jenis kayu tersebut, menarik untuk dikunjungi lantaran memang sudah langka, hanya ada di hutan-hutan tertentu saja di Kalimantan, dan ternyata masih terdapat di hutan wilayah Palangka Raya.
Banyak pengunjung yang hanya tahu kayu ulin tersebut, setelah menjadi papan, balok, atau bahan bangunan lainnya, sementara kayu yang masih hidup tidak pernah melihatnya, makanya keberadaan kayu ulin yang masih hidup justru menarik untuk bagi mereka yang belum pernah melihat tersebut.
Pohon kayu ulin yang masih hidup itu bisa dilihat di hutan Kota Palangka Raya di wilayah objek wisata susur sungai Kahayan.
Bagi mereka yang mengikuti wisata susur sungai akan melewati kawasan hutan yang di sana terdapat pohon-pohon ulin, susur sungai itu sebuah paket wisata yang dikelola Kalimantan Tpur Destination sebuah yayasan yang bergerak di bidang promo dan penyediaan paket wisata lainnya.
Selain di kawasan wisata susur sungai, kayu ulin juga bisa dijumpai di kawasan objek wisata Bukit Tangkiling, sebuah taman wisata alam bernuansa alam perbukitan, Kecamatan Bukit Batu berjarak 34 KM dari pusat Kota Palangka Raya.
Di kawasan ini, pengunjung bukan saja bisa melihat kayu ulin juga jenis kayu khas kalimantan lainnya, seperti meranti, keruing, ramin serta ratusan spicies flora dan fauna lainnya yang susah ditemui di daerah lainn, tambahnya.
Melihat kondisi alam Palangka Raya yang demikian, maka wisata alam menjadi andalan wilayah ini disamping wisata budaya.
Sulit diperoleh
Kayu ulin merupakan jenis kayu yang tak mudah lapuk baik didalam air maupun didaratan sehingga kayu ini diburu untuk bahan bangunan, khususnya pembuatan tongkat rumah panggung yang umumnya rumah penduduk kawasan rawa Pulau kalimantan.
Akibat terus diperjualbelikan, akhirnya keberadaan kayu ulin kian sulit diperoleh dan harganya pun sudah dua hingga tiga kali lipat dibandingkan satu dasawarsa lalu.
Beberapa pemerintah daerah di wilayahnya terdapat kayu ulin sudah melarang jenis kayu ini diantar pulaukan, dalam upaya pelestarian mengingat usia kayu ini ratusan tahun baru bisa dipanen.
Akibat sulitnya berkembang biak maka jenis kayu inipun tidak ada yang bersedia membudidayakan, kedati harganya relatif mahal, akibatnya kayu ini kian habis dan populasinya terus diburu oleh mereka yang ingin mencari keuntungan pribadi.
Berdasarkan catatan, kayu ulin merupakan salah satu jenis kayu hutan tropika basah yang tumbuh secara alami di wilayah Sumatera Bagian Selatan dan Kalimantan.
Jenis ini dikenal dengan nama daerah ulin, bulian, bulian rambai, onglen, belian, tabulin dan telian.
Pohon ulin termasuk jenis pohon besar yang tingginya dapat mencapai 50 m dengan diameter samapi 120 cm, tumbuh pada dataran rendah sampai ketinggian 400 m.
Kayu ulin banyak digunakan sebagai konstruksi bangunan berupa tiang bangunan, sirap (atap kayu), papan lantai,kosen, bahan untuk banguan jembatan, bantalan kereta api dan kegunaan laiinya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 47 pengikut lainnya.