KALSEL PUNYA KURA KURA PALING TERANCAM DI DUNIA

tum tum

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,28/3 (2017)- Perburuan satwa liar memang menjadi momok dan pekerjaan rumah besar bagi Indonesia, serta menjadi salah satu penyebab utama penurunan potensi keanekaragaman hayati di negara ini.
Perburuan satwa liar terjadi di seluruh kawasan Indonesia, termasuk di Kalimantan Selatan.
Tingkat kesadaran dan pengetahuan masyarakat yang masih rendah membuat aktivitas perburuan dan jual beli hewan dilindungi masih marak ditemui.
Kebanyakan masyarakat tidak mengetahui bahwa hewan-hewan yang diperjualbelikan di media sosial maupun di pasar satwa adalah spesies terancam punah dan dilindungi.
Salah satunya adalah Tum-tum atau tuntong laut (Batagur borneoensis – Callagur borneoensis).
Tidak banyak masyarakat yang mengenal hewan eksotis yang satu ini, masyarakat pada umumnya menganggap tum-tum sama seperti kura-kura kebanyakan. Padahal hewan ini adalah kura-kura yang paling terancam di dunia, kata Zainuddin seorang pemerhati lingkungan Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin.
Tum-tum merupakan primadona bagi kalangan pehobi reptile. Warna merah dan putih pada kepala indukan jantan membuat harganya kerap melambung tinggi di pasaran.
Satu indukan dewasa tum-tum dapat dibandrol dengan harga jutaan rupiah. Selain dari keeksotisannya, penyebab tingginya harga pasaran hewan ini baik pada pasar legal hingga pasar gelap disebabkan oleh sulitnya mendapatkan hewan yang satu ini.
Menurut Zainudin yang juga peneliti muda Pusat Studi dan Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia Unlam menyebutkan tum-tum adalah hewan yang sangat langka.
“Tum-tum masuk ke dalam daftar 25 jenis kura-kura paling terancam di dunia,” katanya.
Tortoise and fresswater turttle specialist group dari IUCN menyebutkan bahwa dari 25 kura-kura paling terancam di dunia tersebut, lima diantaranya adalah hewan khas Indonesia, tum-tum salah satunya.
Kura-kura khas yang dulunya banyak dijumpai di Kalimantan, khususnya di Kalimantan Selatan (Kalsel) ini juga telah masuk dalam daftar red list lembaga perlindungan hewan internasional (IUCN) dengan kategori Critically Endangered (sangat terancam) dan oleh CITES (Convention on International Trade of Endagered Species) digolongkkan dalam Appendiks II yang berarti perdagangannya harus diawasi secara ketat” tandasnya menjelaskan.
Kawasan Kalsel identik dengan lahan basah, terdapat banyak habitat yang sesuai dengan satwa eksotis ini. Tum-tum umumnya menyukai perairan berlumpur, seperti kawasan payau dan mempunyai bentang pantai.
Terdapat beberapa kawasan konservasi yang menjadi habitat alami bagi tum-tum di kalimantan.
Namun diperkirakan hewan ini lebih banyak mempunyai persebaran diluar kawasan konservasi, sehingga pengawasan terhadap tindak laku elegal seperti perburuan sulit untuk dilakukan. Sebagai spesies yang masuk dalam prioritas perlindungan satwa nasional, Tum-tum wajib untuk dijaga kelestariannya.
“Masifnya perburuan terhadap tum-tum yang berlangsung merupakan faktor utama yang dapat mendorong tum-tum ke dalam jurang kepunahan, selain dampak dari rusak dan hilangnya habitat” ujar Zainudin.
Di Kalimantan Selatan terdapat dua daerah yang diduga menjadi kawasan perburuan tum-tum, khususnya Kalimantan Selatan bagian tenggara yang merupakan daerah pantai dan kawasan mangrove.
Namun demikian hampir satu dekade ini sudah jarang diketemukan populasi dan habitat tum-tum akibat lajunya kerusakan kawasan pantai dan mangrove dari alih fungsi lahan serta perburuan liar.
Selain itu perubahan iklim yang sangat ekstrim berdampak tingginya tingkat kegagalan penetasan telur, suhu yang tinggi dapat menyebabkan telur mengalami dehidrasi sehingga gagal untuk menetas. Untuk itu diperlukan upaya konservasi yang berfokus pada peningkatan dan penyadartahuan tentang pentingnya melestarikan tum-tum dan habitatnya.
“Sinergisitas semua pihak sangat diperlukan untuk mencegah kepunahan tum-tum di Kalsel maupun kawasan lainnya. Pengawasan akan animal traficking hendaknya juga dilakukan oleh masyarakat bukan hanya pihak BKSDA atau dinas terkait saja,”tuturnya.
“Oleh karenanya edukasi dan penyadartahuan kepada masyarakat sangat perlu untuk terus menerus dilakukan” kata Amalia Rezeki, ketua Pusat Studi dan Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia Unlam, menambahkan
Upaya sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat tertang gerakan perlindungan satwa kerap dilakukannya guna memberikan informasi kepada berbagai pihak tentang pentingnya untuk melindungi satwa dilingkungan sekitar kita.
Selain dilindungi oleh dunia internasional, tum-tum juga telah dilindungi oleh undang-undang di Indonesia. Seperti UU No. 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam dan UU No. 27 tahun 2007 tentang pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
Selain itu tum-tum juga termasuk kedalam spesies prioritas nasional kategori reptil dan amfibi di Indonesia berdasarkan Permenhut No. P.57/Menhut-II/2008 tentang arahan strategis konservasi spesies nasional 2008-2018.

tum1

FKH TANAM BUAH SERAYA SEDEKAH OKSIGEN

Banjarmasin ()- Bersepeda onthel, Zany Thalux (45 tahun) seorang anggota Forum Komunitas Hijau (FKH) Banjarmasin berkeliling satu kampung ke kampung lain di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, hanya untuk tanam pohon.

BUAH
Bersama sejumlah teman di komunitas unik ini, Zany Thalux mencangkul tanah satu demi satu lubang ke lubang lain, seraya menanam pepohonan maksudnya agar lokasi kota ini dan sekitarnya menjadi rindang.

Dari sekian pepohonan hijau yang dikembangkan oleh komunitas yang beranggotakan sekitar 70 orang ini sebagian besar adalah tanaman buah lokal, seperti rambutan garuda, rambutan antalagi, kuini, mentega, kacapuri, langsat, kasturi (mangepera delmiayan kasturi), rambai padi, petai, jengkol, dan asam jawa.

Sudah beberapa lokasi dihijaukan oleh komunitas sebagian anggotanya berusia tua ini, dan dari satu lokasi aksi ke lokasi aksi lainnya menggunakan sepeda tua pula (onthel).

Sebagai contoh penamaman pohon buah di halaman masjid raya Sabilal Muhtadin, di halaman Gelanggang remaja Hasanudin HM, atau di Ruang Terbuka Hijau (RTH) milik Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bandarmasih.

Dalam upaya pengembangan tanaman lokal ini para anggota komunitas sekaligus berkampanye, menggunakan selebaran, sepanduk, pamlet, dan alat peraga yang menyebutkan menanam pohon adalah bersedekah oksigen, menanam pohon adalah beramal jariah, dan menanam pohon adalah menciptakan lingkungan sehat.

Ia menggambarkan, seandainya seseorang menanam pohon,kemudian pohon itu berusia 300 tahun, maka usia sejarah penanamnya bisa mencapai 300 tahun, selama 300 tahun pula penanamnya memperoleh amal jariah.

Sebab pohon yang ditanam itu menciptakan keteduhan, menciptakan keindahan, menyerap polutan (racun udara), pohon habitat binatang, jika pohon itu berbuah berarti ditambah amal jariahnya , itu hanya satu pohon, jika sepuluh pohon, jika seratus pohon, jika seribu pohon bisa dibayangkan berapa banyak manfaat yang diberikan oleh si penanam pohon.

Belum lagi pohon memproduksi oksigen, karena oksigen itu mahal makanya perlu disediakan di alam.Sekarang saja harga oksigen di rumah sakit minimal rp25 ribu per liter, padahal sehari seorang manusia menghirup 2.880 liter oksigen kali Rp25 ribu berarti sehari kalau beli seharga Rp72 juta.

“Makanya kami tak pernah lelah menanam pohon, dan aksi kami lakukan setiap hari Sabtu dan Minggu, karena tak sedikit anggota kami yang juga pegawai negeri sipil, pedagang, dan usahawan yang hanya waktu luang di dua hari dalam seminggu tersebut,” kata Zany Thaluk yang dikenal seorang PNS lingkungan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin ini.

Menurut kordinator lapangan FKH ini lingkungan hijau yang penuh oksigen itu perlu terutama menghadapi era pemanasan global, tanpa upaya penghijauan maka penderitaan dan penderitaan akan selalu muncul, seperti kekeringan, kebakaran hutan, banjir, serta yang terakhir serbuan asap.

“Kekeringan, banjir, dan asap sekarang ini, mungkin saja kesalahan manusia-manusia sebelumnya yang serakah merusak lingkungan, kalau itu terus dibiarkan, maka anak cucu kemudian hari akan lebih menderita lagi,” katanya.

“Sekarang saja, tiap kemarau rasanya kita ini bagaikan hidup di dalam awan saja, karena penuh asap, coba kalau tak ada rehabilitasi lingkungan, bagaimana setahun, lima tahun, atau sepuluh tahun ke depannya, mungkin asap kian pekat lagi, susah dibayangkan,” kata Zany Thalux dengan semangat.

Beranjak dari pemikian itulah, kaitan hari buah sedunia yang diperngati setiap 1 Juli ini FKH mencoba mengkampanyekan pelestarian lingkungan melalui penanaman pohon buah-buahan lokal apalagi Kalimantan dikenal banyak spicies tanaman khas yang sebagian pula sudah langka, maka perlu pelestarian.

Sementara Wakil Ketua FKH, Mohamad Ary menambahkan mengajak seluruh masyarakat tanam pohon buah buahan baik untuk konservasi hutan, peneduh, maupun buah konsumsi.

Salah satunya Asam Jawa atau Asam Kamal (tamarindus indica).

Pohon ini cocok untuk ditanam sbg konservasi lahan dan pohon peneduh. Pada lahan subur, sdh berbuah pada usia 5 thn.

Batang pohonnya cukup keras dan tumbuh besar mampu hidup hingga ratusan tahun. Buahnya mengandung senyawa kimia antara lain asam sitrat, asam anggur, asam suksinat, pectin dan gula invert.

Kulit bijinya mengandung phlobatanim dan bijinya mengandung albuminoid serta pati.

Daunnya terdapat kandungan kimia saponin, flavonoid dan kanin. Unsur-unsur yang terkandung dalam tanaman asam jawa, baik daun, kulit pohon maupun daging bijinya dapat dimanfaatkan untuk bahan obat-obatan tradisional.

Tanaman ini memiliki khasiat yang cukup banyak dalam menyembuhkan beberapa penyakit, di antaranya daun asam jawa berkhasiat untuk menurunkan kadar kolesterol darah yang tinggi, pengobatan demam, rematik, sakit kuning, cacingan, sariawan, sulit tidur atau insomnis.

Sahabat sahabat alam FKH Banjarmasin, bekerja sama dengan BP DAS mulai menanam dan membagikan pohon ini, dan bekerja sama dengan Hidayat Aziz, sdh mbagikan pohon ini kepada masyarakat untuk ditanam di tepian jalan kawasan Loksado Pegunungan Meratus, agar tebing jalan tidak lagi longsor.

Selain pohon ini, FKH juga bermimpi bisa menanam lebih banyak jenis pohon untuk kelestarian lingkungan dan penyelamatan plasma nutfah.

Kian Langka

Samlan (60 th), seorang warga Banjarmasin mengaku rindu mencicipi lagi beberapa buah Kalimantan (Borneo) yang dulunya banyak ditemukan di wilayah Kalimantan Selatan.

Tetapi kerinduan akan buah khas Borneo tersebut seringkali tak kesampaian, masalahnya buah tersebut sudah sulit diperoleh, walau mencarinya ke mana-mana termasuk ke wilayah sentra buah-buahan daerah Banua Enam (enam kabupaten Utara Kalsel) atau yang sering pula disebut wilayah Hulu sungai.

“Dulu aku sering makan buah durin merah, yang disebut Lahung, tetapi kini jangankan memakannya melihat pun sudah tak pernah lagi,” kata Mahlan saat bercerita kepada penulis.

Kerinduan akan buah-buahan lokal tersebut agaknya bukan hanya menimpa Samlan ini tetapi mungkin ratusan bahkan ribuan orang warga yang tinggal di bagian selatan pulau terbesar di tanah air ini.

Sebut saja buah yang sudah langka itu yang disebut karatongan, mahrawin, atau mantaula yang kesemuanya masih family durian (durio family).

Belum lagi jenis buah lain seperti family rambutan banyak yang sudah hampir punah, sebut saja siwau, maritam, jenis mangga-manggaan yang dulu banyak dikenal dengan sebutan asam tandui, hasam hurang, hambawang pulasan dan beberapa jenis lagi yang sulit diperoleh dipasaran.

Berdasarkan keterangan buah jenis di atas langka lantasan pohon buah-bauah tersebut terus ditebang untuk digunakan sebagai bahan baku gergajian.

Berdasarkan keterangan penduduk Desa Panggung pohon buah yang terbilang langka tersebut biasanya berbentuk besar dan tinggi, sehingga menggiurkan bagi orang untuk menebangnya dan menjadikan sebagai kayu gergajian.

“Sejak sepuluh tahun terakhir ini, kayu buah-buahan tersebut ditebang diambil kayunya untuk dijual dan untuk bahan bangunan pembangunan rumah penduduk,” kata Rusli penduduk setempat.

Perburuan kayu buah-buahan tersebut setelah kayu-kayu besar dalam hutan sudah kian langka pula, akibat penebangan kayu sebelumnya, sementara permintaan kayu untuk dijadikan vener ( bahan untuk kayu lapis) terus meningkat, setelah kayu-kayu ekonomis dalam hutan sudah sulit dicari, Bukan hanya untuk vener, kayu-kayu dari pohon buah itu dibuat papan untuk dinding rumah penduduk, atau dibuat balokan serta kayu gergajian.

Beberapa warga menyayangkan adanya tindakan oknum masyarakat yang suka melakukan penebangan kayu buah tersebut, lantaran jenis kayu ini adalah kayu yang berumur tua.

“Kalau sekarang ditanam maka mungkin 50 tahunan bahkan ratusan tahun baru kayu itu besar,” kata warga yang lain. Sebagai contoh saja, jenis pohon buah lahung yang sering ditebang adalah pohon yang ratusan tahun usianya, makanya ukuran garis tengahnya minimal satu meter.

Warga mengakui agak sulit melarang penebangan kayu pohon buah tersebut lantaran itu kemauan pemilik lahan dimana pohon itu berada, dijual dengan harga mahal, sehingga oleh pemilik lahan cara itu dianggap menguntungkan.

Pohon buah-buahan lokal Kalimantan ini banyak ditemui di wilayah adanya pemukiman penduduk daratan Pegunungan Meratus seperti di Kabupaten Balangan, Kabupaten Tabalong, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) serta Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) dikenal sebagai sentra buah-buahan lokal Kalsel.

Kawasan ini setiap musim buah memproduksi buah lokal seperti tiwadak (cempedak), durian yang kalau di kawasan setempat terdapat sekitar 30 spicies durian, rambutan sekitar 40 spicies, dan mangga-manggaan yang juga puluhan spicies.

Jenis buah yang biasanya selalu melimpah, adalah langsat terdapat beberapa spicies,rambai beberapa spicies.

Mangga-manggan saja juga banyak jenisnya sebut saja Kasturi (Mangifera casturi), Hambuku (Mangifera spp), Hambawang (Mangifera foetida), kuwini (Mangifera odorata), Ramania, tetapi populasinya terus menyusut termasuk buah lain seperti Pampakin (Durio kutejensis), Mundar (Garcinia spp), Pitanak (Nephelium spp), Tarap (Arthocarpus rigitus), Kopuan (Arthocarpus spp), Gitaan (Leukconitis corpidae), serta Rambai (Sonneratia caseolaris).

Buah tersebut di atas dulu masih banyak tumbuh di mana-mana hanya saja sekarang sudah mulai menghilang, belum terlihat upaya pelestariannya.

MENYELAMATKAN SATWA UNIK BEKANTAN MELALUI EKOWISATA LAWAHAN

Oleh Hasan Zainuddin
bekantan2

 

Banjarmasin, 13/3 (Antara) – Keprihatinan terhadap kehidupan kera Bekantan (Nasalis larvatus) begitu kuat dilontarkan masyarakat, tetapi begitu hebat pula kerusakan lingkungan oleh masyarakat yang mendesak populasi satwa endemik Kalimantan tersebut.

Berdasarkan undang-undang, satwa Bekantan termasuk dilindungi, di antaranya melalui UU Nomor 7 Tahun 1999. Walau ada aturannya, tetapi kenyataannya sampai saat ini tak ada tersangka atau pihak yang dijerat melalui aturan tersebut.

Populasi Bekantan terus menyusut akibat eksploitasi hutan, baik oleh penebangan, penambangan serta alih fungsi lahan dari hutan ke kebun kelapa sawit, serta akibat kebakaran hutan belakangan ini.

Selain itu Bekantan juga diburu oleh manusia untuk berbagai kepentingan dan secara alami satwa itu juga diburu oleh buaya muara, ular sawah, biawak, dan elang laut.

Bekantan agaknya hidup tergantung dari hutan lantaran satwa ini termasuk “leaf monkey”, hidupnya bergantung dari makanan yang berasal dari daun-daunan. Di kala dedaunan di habitatnya banyak yang rusak, saat itu pula kehidupan satwa unik tersebut terancam.

Di Provinsi Kalimantan Selatan, tadinya banyak bekantan yang terlihat di mana-mana. Kawasan khusus satwa ini adalah Pulau Kaget wilayah pinggiran Sungai Barito yang berdekatan dengan Kota Banjarmasin. Tetapi karena pulau tersebut menjadi kawasan yang dieksploitasi manusia sekarang satwa tersebut sudah susah terlihat di habitatnya yang rusak itu.

Keluhan demi keluhan terhadap populasi satwa yang juga sering disebut sebagai “kera bule” ini terus terangkat ke permukaan seperti yang terakhir di Kabupaten Kotabaru.

Seperti yang dilansir media massa, seorang pemerhati lingkungan Akhyat Fauzan mengatakan, secara tidak langsung aktivitas pertambangan di Pulau Sebuku mengancam berkurangnya populasi satwa langka Bekantan.

Aktivitas pertambangan yang tidak mempertimbangan pelestarian lingkungan menyebabkan populasi Bekantan semakin menyusut, ujar Akhyat tanpa menyebutkan jumlah populasinya dengan detail.

Menurut dia, ada perusahaan yang tidak peduli terhadap kehidupan Bekantan yang mengandalkan kawasan hutan tersebut. Akhyat khawatir apabila kawasan hutan di Pulau Sebuku habis akibat aktivitas perusahaan tambang, lantas bagaimana nasib Bekantan yang jumlahnya kini terus berkurang itu.

Sungguh ironi, Bekantan yang dulu bisa hidup bebas di alam terbuka itu kini mulai tersisih karena alamnya dijadikan tempat beraktivitas perusahaan.

Namun tak semua perusahaan semata mengambil keuntungan alam tanpa memperhatikan lingkungan. Ada sebuah perusahaan di Tapin Selatan Kabupaten Tapin justru mencadangkan dana CSR untuk menyelamatkan Bekantan.

Perusahaan tersebut PT Antang Gunung Meratus (AGM) bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Tapin untuk melakukan rehabilitasi lahan penyelamatan Bekantan, dan lahan tersebut akan dijadikan Objek Ekowisata Lawahan.

Untuk kepentingan tersebut, Pemkab Tapin menerbitkan Surat Nomor 188.45/060/KUM/2014 tentang Penetapan Kawasan Bernilai Penting bagi Konservasi Spesies Bekantan.

Pengembangan ekowisata Bekantan melalui pembentukan tim yang berasal pemerintah daerah, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Lambung Mangkurat (Unlam), WWF dan PT AGM.

“Wilayah Ekowisata Bekantan ini dibangun di lahan seluas 90 hektare di kanal PT AGM. Kami harap selain PT AGM, penyelamatan habitat Bekantan juga menggandeng perusahaan lainnya,” kata Deputi Direktur Umum PT AGM Budi Karya Yugi Budi kepada penulis saat mengunjungi lokasi tersebut awal Maret ini.

Menurut Budi Karya Yugi perusahaannya bersedia mengeluarkan uang miliaran rupiah hanya untuk konservasi lahan rawa yang rusak akibat terbakar dan merusak habitat kera yang menjadi maskot Kalsel tersebut.

“Kami kini sedang melakukan rehabilitasi di lahan rawa yang tadinya ditumbuhi hutan galam dan kayu Pulantan yang rusak akibat terbakar masa musim kemarau lalu, untuk menyelamatkan kera Bekantan itu,” katanya.

Menurut dia, biaya rehabilitasi lahan konservasi tersebut berasal dari dana CSR perusahaan untuk melakukan penghijauan, penanaman kembali bibit Galam, Pulantan, Lkut, dan tanaman hutan rawa lainnya.

Melalui penanaman kembali tersebut, pihaknya akan merehabilitasi pohon yang rusak terbakar dan kini sudah berdaun muda untuk makanan satwa Bekantan, sehingga sekitar 300 ekor bekantan di kawasan tersebut bisa diselamatkan.

Bahkan kawasan tersebut akan dijadikan lokasi ekowisata dan ternyata hal tersebut direspon oleh Pemerintah Kabupaten Tapin hingga menetapkan kawasan Desa Lawahan menjadi kawasan ekowisata.
Kawasan yang ditetapkan menjadi ekowisata oleh pemerintah setempat seluas 90 hektare, artinya jika perusahaan merehabilitasi lahan 16 hektare berarti ada luasan 74 hektare yang menjadi tanggungjawab pemerintah setempat untuk merehabilitasinya.

Untuk menjadikan kawasan tersebut sebagai wilayah ekowisata PT AGM sudah membuatkan dermaga “klotok” (perahu motor tempel) ke wilayah tersebut, sekaligus menyediakan sarana jalan kaki dan menara pantau.

“Kita ingin pengunjung tak bersentuhan langsung atau berdekatan dengan Bekantan karena satwa tersebut terlalu pemalu atau penakut dengan pengunjung. Karena itu kita sediakan menara pantau saja. Melalui menara pantau itulah pengunjung bisa menyaksikan kehidupan kera endemik ‘Pulau Borneo’ tersebut,” katanya.

Mengutip keterangan Pemkab setempat, Budi Karya Yugi menuturkan ke depan selain bisa dilalui melalui wisata susur sungai, juga akan disediakan jalan darat dari Jalan A Yani kabupaten itu hingga ke lokasi, sehingga pengunjung bisa menggunakan mobil.

Ia mengharapkan dengan adanya konservasi tersebut akan menjadikan wilayah yang berada dekat dengan kanal pengangkutan batu bara PT AGM tersebut menjadi objek wisata andalan Kabupaten Tapin, bahkan Kalsel, karena disitulah habitat Bekantan terbanyak.

Secara terpisah Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) yang dipimpin ketuanya Amalia Rezeki menyatakan kegembiraannya adanya rehabilitasi lahan rawa oleh perusahaan swasta untuk menyelamatkan satwa kera hidung besar Bekantan (Nasalis larvatus) dari kepunahan.

“Kami mengajak siapapun untuk berkomitmen menyelamatkan satwa Bekantan, dan ternyata itu sudah direspons perusahaan swasta PT AGM,” kata Amalia Rezeki kepada pers di Banjarmasin, Kamis.

Didampingi pendiri SBI Feri, Amalia Rezeki menuturkan sejak ditetapkannya Bekantan sebagai maskot Provinsi Kalimantan Selatan oleh Gubernur Kalsel, melalui persetujuan DPRD tanggal 28 Maret 1990 berarti sudah 25 tahun bekantan yang menjadi ikon kebanggaan. Namun demikian perhatian terhadap bekantan dirasakan belum optimal.

Oleh karena itu dengan adanya kesediaan swasta tersebut mengkonservasi lahan diharapkan akan memancing perusahaan lain berbuat serupa, walau dana yang digunakan melalui CSR perusahaan, tambahnya.

Pihaknya pada 28 Maret 2015 berencana mencanangkan Hari Bekantan Indonesia wilayah Kalimantan Selatan yang ditandai berbagai kegiatan.

“Kami ingin mengajak semua pihak peduli terhadap satwa langka yang menjadi ikon Kalsel tersebut melalui Hari Bekantan Indonesia,” katanya seraya menyebutkan kegiatan tersebut antara lain melakukan observasi kawasan konservasi dan pelepasliaran bekantan di habitatnya.

Selain itu adanya aksi “prusiking up sling” dari Jembatan Barito serta Festival Kelotok Hias yang akan dihadiri para petinggi Kalsel, seperti ketua DPRD, pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD), institusi perguruan tinggi, mahasiswa dan pelajar, kader konservasi, para aktivis lingkungan hidup, pecinta alam dan masyarakat sekitarnya.

Lokasi yang dipilih dalam kegiatan tersebut adalah Pulau Kaget yang merupakan habitat Bekantan, yang terdapat hutan rambai padi sebagai makanan utama satwa berbadan besar dan berhidung panjang tersebut.bekantan1

MENYAKSIKAN KERA BESAR “BEKANTAN” DI LAHAN KONSERVASI

bekantan1

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,6/3 (Antara)- ” Itu dia” kata pengemudi klotok (perahu metor tempel) seraya menunjuk ke beberapa ekor Bekantan (Nasalis larvatus) yang bergelantungan di pohon Pulantan, di kawasan lahan rawa Desa Lawahan, Kecamatan Tapin Selatan, Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan, atau sekitar 150 kilometer Utara banjarmasin.

“Wah banyak Bekantannya,” kata Erwin seorang kameraman Banjar TV seraya membidikkan kameranya ke arah kelompok kera hidung pandang endemik Pulau Kalimantan (Boeneo) tersebut.

Dengan pelan-pelan klotok merapat ke hamparan rawa yang ditumbubi Pulantan dan tanaman galam itu. “Jangan berisik,” kata pengemudi klotok itu mengingatkan, karena bekantan terlalu peka terhadap kedatangan orang.

Ternyata benar setelah melihat kedatangan rombongan yang terdiri dari wartawan yang tergabung dalam grup “pena hijau,” Forum Komunitas Hijau (FKH) , Sahabat Bekantan Indonesia (SBI), peneliti dan dari karyawan perusahaan PT Antang Gunung Meratus (AGM), itu kelompok parimata itu menjauh.

Kendati menjauh namun binatang berkulit kuning kemerahan tersebut tetap bergelantungan di atas pohon, sehingga para wartawan bisa saja mengabadikan kehidupan satwa itu melalui kamera menggunakan lensa zoom.

“Alhamdulillah, aku dapat momen yang bagus,” kata Erwin lagi seraya terus membidikkan kamera videonya ke arah kehidupan bekantan yang konon terdapat sekitar 300 ekor di kawasan yang berdekatan dengan operasi perusahaan batubara PT AGM tersebut.

Pemantauan penulis kawasan yang ada kehidupan Bekantan tersebut terlihat hutan yang rusak, kendati masih ada pohon-pohon hijau, tetapi sebagian besar sudah “meranggas,” karena lahan itu tampak bekas kebakaran.

Para kera tersebut, tampak lebih banyak berada di daratan ketimbang di atas pohon, mereka makan daun-daun pakis (kelakai) yang memang hidup merambat di daratan, dan tampak waspada terhadap kedatangan rombongan, sambil makan sambil menjauh.

Peneliti Bekantan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Profesor Hadi Sukadi Alikodra mengungkapkan bahwa sekitar 300 ekor bekantan yang hidup di sekitar kawasan pertambangan dan perkebunan sawit di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, sempat mengalami stres akibat kebakaran lahan.

Menurut Alikodra di Banjarmasin, bekantan yang sebelumnya hidup di kawasan konservasi dan ekowisata yang dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Tapin bersama perusahaan tambang PT AGM terpaksa harus mencari rumah baru untuk melanjutkan hidup.

“Pada saat kebakaran lahan, seluruh bekantan yang ada di kawasan konservasi harus lari menyeberang sungai, untuk menyelamatkan diri,” katanya.

Pada musim kemarau 2014, kebakaran lahan cukup besar terjadi di kawasan perkebunan sawit, hingga membakar puluhan hektare kawasan konservasi, tempat para bekantan tersebut hidup.

Petugas dari beberapa perusahaan yang ada di sekitar wilayah tersebut, bisa memblok beberapa bagian kawasan, sehingga tidak ikut terbakar, sehingga bisa dimanfaatkan untuk melanjutkan hidup para bekantan.

Saat ini, para bekantan tersebut, kembali hidup dan berkembang biak, di kawasan hutan Galam dan Pulantan yang ada di sepanjang pinggiran sungai di wilayah Lawahan atau Muning, Kabupaten Tapin.

Sementara peneliti Bekantan dari Universitas Lambung Mangkurat Profesor Arif Soendjoto mengatakan, kini Bekantan tersebut juga makan rumput, kemungkinan karena makanan berupa daun Pulantan dan daun Galam tidak mencukup lagi.

Mempertahankan keberadaan hewan endemik khas Kalimantan tersebut, Pemkab Tapin bersama PT AGM menyiapkan lahan untuk konservasi Bekantan.

Dalam rangka melindungi habitat Bekantan, Pemkab Tapin menerbitkan Surat Nomor 188.45/060/KUM/2014 tentang Penetapan Kawasan Bernilai Penting bagi Konservasi Spesies Bekantan.

Pengembangan ekowisata Bekantan benbentuk tim yang berasal pemerintah daerah, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Lambung Mangkurat (Unlam), WWF dan PT AGM.

“Wilayah Ekowisata Bekantan ini dibangun di lahan seluas 90 hektare di kanal PT AGM, kami harap selain PT AGM, penyelamatan habitat Bekantan juga menggandeng perusahaan lainnya,” kata Deputi Direktur Umum PT AGM Budi Karya Yugi Budi.

Menurut Budi Karya Yugi perusahaan bersedia mengeluarkan uang miliaran rupiah hanya untuk konservasi lahan rawa yang rusak akibat terbakar dan merusak habitat kera yang menjadi maskot Kalsel tersebut.

“Kami kini sedang melakukan rehabilitasi di lahan rawa yang tadinya ditumbuhi hutan galam dan kayu Pulantan yang rusak akibat terbakar masa musim kemarau lalu, untuk menyelamatkan kera Bekantan itu,” katanya.

Menurut dia, rehabilitasi di lahan konservasi tersebut adalah berasal dari dana CSR perusahaan untuk melakukan penghijauan, penanaman kembali bibit Galam, Pulantan, Lkut, dan tanaman hutan rawa lainnya.

Melalui penanaman kembali tersebut, akan merehabilitasi pohon yang rusak yang terbakar dan kini sudah berdaun muda untuk makanan satwa Bekantan, sehingga sekitar 300 ekor bekantan di kawasan tersebut bisa diselamatkan.

Bahkan kawasan tersebut akan dijadikan lokasi ekowisata dan ternyata hal tersebut direspon oleh Pemerintah Kabupaten Tapin hingga menetapkan kawasan Desa Tandui dan Lawahan menjadi kawasan ekowisata.
Kawasan yang ditetapkan menjadi ekowisata oleh pemerintah setempat seluas 90 hektare, artinya jika perusahaan merehabilitasi lahan 16 hektare berarti ada luasan 74 hektare yang menjadi tanggungjawab pemerintah setempat merehabilitasinya.

bekantan2

Untuk menjadikan kawasan tersebut sebagai wilayah ekowisata PT AGM sudah membuatkan dermaga “klotok” (perahu motor tempel) ke wilayah tersebut, sekaligus menyediakan sarana jalan kaki sekaligus menara pantau.

“Kita ingin pengunjung tak bersentuhan langsung atau berdekatan dengan Bekantan karena satwa tersebut terlalu pemalu atau penakut dengan pengunjung, karena itu kita sediakan menara pantau saja, mulai menara pantau itulah pengunjung bisa menyaksikan kehidupan kera endemik pulau Borneo tersebut,” katanya.

Mengutip keterangan Pemkab setempat, Budi Karya Yugi menuturkan kedepan selain bisa dilalui melalui wisata susur sungai, juga akan disediakan jalan darat dari Jalan A yani kabupaten itu hingga ke lokasi, sehingga pengunjung bisa pakai mobil.

Ia mengharapkan dengan adanya konservasi tersebut akan menjadikan wilayah yang berada dekat dengan kanal pengangkutan batubara PT AGM tersebut menjadi objek wisata andalan Kabupaten Tapin, bahkan Kalsel, karena disitulah habitat Bekantan terbanyak.

Secara terpisah Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) yang dipimpin ketuanya Amalia Rezeki menyatakan kegembiraannya adanya rehabilitasi lahan rawa oleh perusahaan swasta untuk menyelamatkan satwa kera hidung besar Bekantan (Nasalislarvatus) dari kepunahan.

“Kami mengajak siapapun untuk berkomitmen menyelamatkan satwa Bekantan, dan ternyata itu sudah direspons perusahaan swasta PT AGM,” kata Amalia Rezeki kepada pers di Banjarmasin, Kamis.

Didampingi pendiri SBI Feri, Amalia Rezeki menuturkan sejak ditetapkannya Bekantan sebagai maskot Provinsi Kalimantan Selatan oleh Gubernur Kalimantan Selatan, melalui persetujuan DPRD tanggal 28 Maret 1990 berarti sudah 25 tahun bekantan yang menjadi ikon kebanggaan, namun demikian perhatian terhadap bekantan dirasakan belum optimal.

Oleh karena itu dengan adanya kesediaan swasta tersebut mengkonservasi lahan diharapkan akan memancing perusahaan lain berbuat serupa, walau dana yang digunakan melalui dana CSR perusahaan, tambahnya.

lahan

MENIKMATI MAIN ULAR KEBUN BINATANG KOTA BANJARMASIN

WALIOleh Hasan Zainuddin

 

Sekelompok remaja putra sambil bergurau satu per satu memegang aneka jenis ular. Ada ular bewarna kuning, ular bewarna hitam keabu-abuan, bewarna batik, dan warna lainnya.

Sesekali ular-ular tersebut sengaja melingkar-lingkar di leher para remaja yang agaknya kalangan pencinta reptil tersebut, bahkan ada ular relatif besar yang melilit hampir seluruh tubuh seorang remaja tersebut. Kendati demikian, remaja itu tetap tersenyum ceria.

Sesekali para remaja putra tersebut mendekat ke rombongan ibu pejabat Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin yang saat berada di lokasi tersebut, Sabtu (13/9) lalu, serta-merta ibu-ibu berlari ke sana kemari ketakutan.

“Jangan memegang, untuk melihat saja sudah geli dan ngeri,” kata seorang ibu yang datang ke lokasi tersebut dalam kaitan peresmian pengoperasian Kebun Binatang “Banjar Bungas” yang dikelola Dinas Pertanian dan Perikanan Kota Banjarmasin tersebut.

Kebun binatang seluas 1,5 hektare tersebut, memang hari itu diresmikan oleh Wali Kota Banjarmasin Haji Muhidin yang didampingi Sekretaris Daerah Kota (Sekdako) setempat Zulfadlie Gajali dan para pejabat satuan kerja perangkat daerah (SKPD) pemkot setempat.

Selain ada kelompok remaja bermain ular, di lokasi tersebut juga terlihat ada sekelompok remaja putra dan putri lagi bermain satwa musang dan tupai yang tampak jinak, bahkan ada pula yang bermain dengan aneka jenis kucing dan ayam hias.

Melihat asyiknya kelompok remaja tersebut bermain ular, Wali Kota Muhidin mencoba mendekat. Pertama terlihat ekspresi mukanya rada-rada takut. Namun, setelah memegang ular agak besar bewarna kuning keputihan yang dikenal sebagai jenis ular yang disebut Ball Python tersebut, dia tampak lebih berani.

Bahkan, Wali Kota meminta para pencinta reptil untuk diberikan dua ekor sekaligus. Dengan beraninya Wali Kota memegang kedua ular tersebut, satunya dilingkarkan ke lehernya, satu lagi dimainkan di tangan kanan.

Sesekali Wali Kota mendekati para pejabat dan ibu-ibu, serta-merta lagi ibu-ibu berteriak ketakutan. Begitu pula, para pejabat lainnya ada yang takut, tetapi ada pula yang coba-coba memberanikan diri.

“Wali Kota saja berani, masa kita takberani,” kata Sekdako Banjarmasin Zulfadli Gajali seraya mengambil juga dua ekor ular, di antaranya jenis sanca batik yang juga besar.

Melihat kedua petinggi pemkot tersebut bermain ular, kian banyak saja hadirin yang berani mendekat, bahkan ular-ular tersebut menjadi ajang untuk berfoto ria.

Memang di kebun binatang yang berada dalam kota berpenduduk sekitar 700.000 jiwa tersebut terdapat zona reptil, termasuk ular di dalamnya, juga ada biawak, buaya, dan jenis reptil lainnya.

Wali Kota Muhidin merasa bangga adanya kebun binatang tersebut. Menurut dia, dengan adanya kebun binatang itu, kian menambah kesemarakan Kota Banjarmasin yang sudah dikenal sebagai kota tujuan wisata di Tanah Air.

“Saya meminta ke depan kebun binatang ini kian dilengkapi aneka koleksi satwa yang ada di Nusantara, bahkan kalau perlu ada satwa yang berasal dari luar negeri,” katanya.

Sebab, tambahnya, keberadaan sebuah kebun binatang tidak saja akan menjadi daya tarik tersendiri bagi dunia wisata sekaligus menjadi ajang pendidikan dan penelitian.

Apalagi, jika memang terwujud di lokasi ini ada penangkaran binatang Bekantan (Nasalis larvatur) yang merupakan jenis satwa langka berhidung panjang yang menjadi “maskot” bidang fauna Provinsi Kalsel.

Maskot Kalsel bidang floranya adalah tanaman kasturi (Mangifera Kasturi Delmiyana) yang jenis mangga-manggaan buahnya kecil bewarna merah kehitaman jiga sudah masak dan warna hijau selagi muda.

Berdasarkan keterangan upaya penangkaran bekantan tersebut, pihak pengelola kebun binatang akan bekerja sama dengan sebuah komunitas Bekantan Kalimantan yang dinamakan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI).

“Sahabat Bekantan Indonesia sendiri menyatakan bersedia kerja sama tersebut, bahkan suatu kebanggaan karena kian banyak yang akan mencintai satwa yang hanya hidup di Pulau Kalimantan tersebut,” kata anggota SBI Amalia.

Amalia yang berada di lokasi tersebut bersama anggota SBI lain berjanji akan menjadikan Kebun Binatang Banjar Bungas ini sebagai pusat rehabilitasi parimata jenis bekantan sekaligus sebagai objek penelitian dan pendidikan.

Amalia mengakui populasi bekantan di daratan Kalsel terus berkurang setelah banyaknya habitat mereka yang tergusur lantaran penebangan kayu dan pertambangan serta perkebunan.

Melihat kenyataan tersebut, pihak SBI berusaha menyelamatkan satwa yang juga sering disebut sebagai “kera bule” yang masih tertinggal dan juga berusaha menangkarkannya.

 

Kerja Sama KBS

Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Doyo Pudjadi kepada wartawan di Banjarmasin mengakui keberadaan kebun binatang tersebut untuk menyemarakkan dunia keparwisataan kota tersebut.

Menurut Doyo Pudjadi, kebun binatang yang terletak di Kompleks Zahri Saleh, Kelurahan Sungai Jingah, Kecamatan Banjarmasin Utara, tersebut sebagai objek wisata alternatif di kota itu.

Warga Banjarmasin agaknya lebih banyak berwisata ke pusat perbelanjaan seperti mal. “Akan tetapi, warga juga harus disediakan objek wisata yang murah meriah, ya, kebun binatang ini,” kata Doyo Pudjadi.

Mengenai kebun binatang, disebutkan bahwa pengelolaannya akan dilakukan dengan bekerja sama dengan Kebun Binatang Surabaya (KBS), terutama untuk jenis hewan-hewan tertentu yang di KBS ada kelebihan jumlahnya.

Diakuinya dalam pengelolaan dan pemeliharaan satwa, pihaknya belum begitu berpengalaman. Oleh karena itu, pengelolaan ini dikerjasamakan dengan KBS. Semoga lokasi ini lebih bisa berkembang.

Di lokasi kebun binatang ini terdapat sepuluh zona, yakni zona reptil, zona primata, zona burung, dan zona ikan, serta zona-zona lainnya yang menyebar di areal seluas 1,5 hektare.

Lokasi ini juga dilengkapi dengan tempat mandi dan toilet, tempat ibadah, warung cendera mata, serta rumah makan yang menyajikan menu serbamasakan jamur.

“Kami berharap kebun binatang ini akan menjadi pilihan masyarakat bertamasya sebagai alternatif selain ke pusat perbelanjaan atau mal,” katanya.

Lokasi ini mudah dijangkau, pertama masih dalam kota, kemudian akses jalan mudah karena jalan beraspal sampai ke lokasi. Naik angkot juga hanya sekali dari terminal kota sehingga tidak menyulitkan untuk mengunjungi lokasi tersebut.

Agar lokasi ini nyaman, sungai-sungai yang ada di lokasi ini akan dibenahi, akan dilengkapi dengan aneka tanaman hias, dan pohon-pohon peneduh yang rindang.

“Lokasi ini memang sudah terlihat rindang, hingga terasa dingin, tetapi ke depan akan ditambah lagi pohon-pohon rindang ini agar pengunjung bisa terlidungi dari panasnya sinar mentari,” tambahnya.

Pada waktu-waktu tertentu, seperti Sabtu dan Minggu, lokasi ini bisa digelar atraksi atau pertunjukan, baik seni budaya tradisional maupun atraksi wisata lainnya….

 

 

 

 

FKH BANJARMASIN MULAI WUJUDKAN “GREEN CITY”

Oleh Hasan Zainuddin

FKH
Banjarmasin, 31/1 (Antara)- Kondisi Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, yang sebelumnya terlihat gersang, kini telah berubah 180 derajat.

Perubahan drastis itu antara lain terlihat di Jalan Lambung Mangkurat, Jalan Hasannuddin, Jalan A Yani, Jalan Brigjen Hasan Basri.

Waktu itu orang jangankan berjalan kaki, naik kendaraan roda dua terasa kepanasan, tetapi sekarang jalan tersebut begitu rindang, teduh, sejuk, dan dingin sehingga orang berani berlama berteduh, berjalan kaki, atau bersepeda di kawasan itu.

“Saya begitu senang melihat kota kita yang teduh, itu berkat semua pihak termasuk Pemerintah Kota Banjarmasin yang berusaha menciptakan kota yang hijau, bukan sebuah kota yang gersang seperti waktu lalu,” kata Wakil Ketua Forum Komunitas Hijau (FKH) Banjarmasin, Mohammad Ari.

Apalagi, katanya, sesuai amanat Undang-undang No 26/2007 tentang penataan ruang, Pemkot Banjarmasin bersama warga berkomitmen melakukan pembangunan berkelanjutan, dan perlindungan lingkungan alami.

Dalam hal tata ruang 2012 Kementerian Pekerjaan Umum (PU) telah menetapkan Kota Banjarmasin sebagai kota hijau (green city) bersama 60 kota lainnya di Indonesia.

Sebagai kota hijau ada delapan atribut yang harus dilakukan oleh kota berpenduduk sekitar 700 ribu jiwa ini.

Delapan atribut tersebut seperti adanya perencanaan pembangunan yang mengarah kepada pelestarian lingkungan, ketersediaan Ruang terbuka Hijau (RTH) seluas 30 persen dari luas kota sekitar 90 kilometer persegi.
Kemudian kota ini juga harus menerapkan ramah energi atau tidak melakukan pemborosan, harus tersedianya  air bersih dan pemakaian yang terkendali, penanganan limbah dan sampah yang bagus hingga tak mencemari liungkungan.

Atribut lain, seperti pemanfaatan bangunan yang tersedia taman-taman dan penghijauan dan hemat energi, transportasi yang tidak menimbulkan banyak polusi serta hemat bahan bakar, serta peran warga setempat untuk mendukung keberadaan kota hijau tersebut.

“Kami sebagai warga masyarakat yang tergabung dalam wadah FKH tentu saja berkomitmen kuat menciptakan Banjarmasin sebagai kota hijau tersebut, agar kota ini benar-benar menjadi kota yang indah, rindang, dan sejuk hingga menjadi lokasi yang nyaman sebagai hunian,” katanya.

FKH sendiri  adalah kumpulan organisasi cinta lingkungan, seperti dari komunitas pencinta pohon, Persatuan Anggrek Indonesia (PAI), Pena Hijau, Komunitas Wartawan Banjarmasin Cinta Lingkungan, Mapala Universitas Lambung Mangkurat (Unlam), serta komunitas Sepeda Antik Banjarmasin (Saban).

Organisasi FKH sendiri sudah melakukan penghijauan dengan ribuan pohon trambesi, 2.500 pohon pinang, dan terakhir gerakan penanamaan seribu lukut (Asplenium Nidus) atau sering pula disebut tanaman paku sarang burung.

Penanaman lukut tersebut berlangsung setiap Sabtu pada tiga minggu terakhir dan hampir 800 pohon sudah ditanam, baik di Jalan Lambung Mangkuratm maupun di Jalan Pire Tenbdean atau di pohon penghijauan proyek Siring setempat.

Berdasarkan catatan, tanaman lukut  merupakan jenis tumbuhan paku populer sebagai tanaman hias halaman.

Orang Sunda menyebutnya kadaka, sementara dalam bahasa Jawa dikenal dengan kedakah. Penyebaran alaminya adalah di sabuk tropis Dunia Lama (Afrika Timur, India tropis, Indocina, Malesia, hingga pulau-pulau di Samudera Pasifik).

Paku ini mudah dikenal karena tajuknya yang besar, entalnya dapat mencapai panjang 150cm dan lebar 20cm, menyerupai daun pisang.

Peruratan daun menyirip tunggal, warna helai daun hijau cerah, dan menguning bila terkena cahaya matahari langsung. Spora terletak di sisi bawah helai, pada urat-urat daun, dengan sori tertutup semacam kantung memanjang (biasa pada Aspleniaceae).

Ental-ental yang mengering akan membentuk semacam “sarang” yang menumpang pada cabang-cabang pohon. “Sarang” ini bersifat menyimpan air dan dapat ditumbuhi tumbuhan epifit lainnya.

Setelah selesai program lukutisasi Banjarmasin, FKH sebagai pendukung program kota hijau terhadap kota yang berjuluk daratan dengan seribu sungai itu, akan melakukan kegiatan lainnya. Seperti penanaman pohon “kariwaya” (beringin) di beberapa lokasi serta penghijauan tanaman rambai padi (Soneratia sp) di tepian Sungai Kerokan Jalan Jafri Jam-jam.

Green Festival

Dalam upaya meningkatkan partisipasi masyarakat dalam mewujudkan green city tersebut maka organisasi FKH menggelar green festival di tengah Kota Banjarmasin, guna mengajak masyarakat mencintai lingkungan.

Festival yang berlangsung Minggu (1/12) lalu di lokasi objek wisata Siring Pire Tendeaan Banjarmasin tersebut dihadiri ribuan pengunjung.

Sebanyak 26 stand ikut memeriahkan festival yang pertama kali digelar oleh kalangan FKH yang terdiri dari para kelompok pencinta lingkungan tersebut.

Stand tersebut diisi oleh perajin yang mengolah kerajinan tangan dengan bahan sampah nonorganik. Kreasi daur ulang itu diikuti kelompok sekolah hijau dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM),
Kegiatan tersebut juga diisi pameran foto lingkungan hidup yang digelar oleh organisasi lingkungan Pena Hijau, serta pameran sistem kerja bank sampah.

Saat itu pula didemonstrasikan bagaimana membuat pupuk organik melalui sampah organik oleh pelaku FKH terutama dari Pak Basri yang dikenal sebagai aktivis lingkungan Banjarmasin.

Pak Basri dibantu beberapa anggota FKH mendemonstrasikan beberapa alat sederhana tentang cara pengolahan sampah menjadi pupuk organik. Dia pun mengajak pengunjung menjawab berbagai pertanyaan berkenaan dengan pelestarian lingkungan.

Bagi pengunjung yang berhasil menjawab pertanyaan maka diberikan hadiah bibit buah-buahan seperti bibit rambutan, jeruk dan aneka bibit penghijauan lainnya.

Menurut anggota FKH Banjarmasin Akhmad Arifin kegiatan tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap Kota Banjarmasin yang dinyatakan sebagai kota hijau di tanah air.

Melalui aneka kegiatan FKH nantinya diharapkan melahirkan keinginan penduduk kota mencintai lingkungan yang akhirnya kota menjadi rindah, teduh, dingin, dan indah.

FKH sendiri dikukuhkan oleh Wali Kota Banjarmasin Haji Muhdin bertepatan pada peringatan hari tata ruang.

Kegiatan FKH selain didukung Pemkot Banjarmasin juga diberikan dana kegiatan oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU) pusat.

Dengan aneka program Pemkot yang didukung FKH maka akan memudahkan pencapaian kota Banjarmasin sebagai salah satu green city di Indonesia.

koran

aneka foto kegiatan FKH

——————————–

festival  

festival green

festival2  

festival3

Festival green

kumunitas   Pengurus FKH

 lukutlukut.lukut1      

     mapala unlam      Penanaman Lukut

     pinang 

pinang        Penanaman Pinang


   rusmin      

wawancara   Wawancara televisi

MENGANGKAT POTENSI KALSEL SEBAGAI PRODUSEN OBAT HERBAL

Oleh Hasan Zainuddin


Banjarmasin,7/9 (ANTARA)- Di era tahun 80-an hingga tahun 90-an berbagai produk jamu olahan masyarakat di Provinsi Kalimantan Selatan begitu dikenal, bukan saja di wilayah sendiri bahkan diantarpulaukan.

Jamu olahan Kalsel yang terkenal tersebut, diantaranya jamu Sarigading, Jamu Pasak Bumi, Jamu Tabat Barito.

Bukan hanya jamu produk herbal olahan masyarakat Kalsel tersebut, tetapi juga saleb yang terkenal dengan nama saleb cap Dua Kokang, atau bedak mempercantik diri bagi kaum perempuan yang disebut “pupur bangkal.”
Obat-obatan herbal disebut di atas tersebut hanya yang terangkat kepermukaan, padahal masih segudang obat-obatan produk herbal olahan masyarakat di daerah paling selatan Kalimantan tersebut yang dibuat skala kecil dan tidak populer.

Melihat kenyataan tersebut telah membuktikan daratan Kalsel mengandung banyak potensi obat-obatan herbal.

Kepala Dinas Kesehatan Kalsel Rosihan Adhani kepada pers di Banjarmasin, mengakui wilayahnya merupakan gudangnya obat-obatan herbal tersebut.

Oleh karena itu Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan melalui Dinas Kesehatan mendukung pengembangan pengobatan herbal melalui pengembangan produk jamu tradisional yang berasal dari sumber daya alam lokal sebagai pengobatan alternatif.

Ia mengatakan, Kalsel merupakan konsumen jamu terbesar nasional sehingga sudah saatnya kini pemerintah dan masyarakat mengangkat citra obat tradisional tersebut.

Salah satu upaya untuk membantu mengangkat citra jamu tradisional Kalsel tersebut, kata Rosihan, kini pihaknya sedang merintis untuk memasukkan obat-obatan herbal tersebut ke dalam rumah sakit.

“Saat ini di Indonesia baru ada 36 rumah sakit yang memasukkan obat-obatan herbal sebagai pengobatan alternatif, dan Kalsel baru pada tahap merintis,” katanya.

Hal tersebut dilakukan, karena Kalsel merupakan daerah yang sangat kaya sumber daya alam berupa tumbuhan obat-obatan, bahkan salah satu kekayaan alam Kalsel berupa pasak bumi dan tabat barito kini banyak dikirim ke beberapa negara.

Di negara-negara importir tersebut, tumbuhan tersebut diolah menjadi obat yang kemudian dijual ke seluruh negara termasuk Indonesia.

“Seharusnya tumbuhan tersebut yang mengolah adalah kita dan yang mendapatkan nilai tambah ekonominya adalah warga kita pula, tetapi justru oleh negara lain,” katanya.

Dengan demikian, Rosihan berharap warga Kalsel bisa mendukung keberadaan obat-obatan herbal tersebut bisa berkembang di daerah ini.

Saat ini, tambah dia, keberadaan jamu-jamu tradisional Kalsel kalah bersaing dengan jamu luar terbukti dari 26 perusahaan jamu, kini tersisa tujuh perusahaan jamu saja.

Selain ingin mengangkat citra melalui promosi dan Dinkes juga membantu pengembangan jamu tersebut melalui SP3T yaitu sentra pengembangan pengobatan tradisional di daerah.
Tumbuhan Obat

tanaman pelungsur ular
Sementara itu Tim Peneliti dari Balai Peneletian dan Pengembangan Daerah Kalsel telah membuktikan bahwa wilayah Kalsel kaya akan sumber obat-obatan herbal demikian.

Pihak peneliti tersebut telah berhasil menemukan 177 jenis tumbuhan obat-obatan yang tersebar di tujuh kabupaten dan kota di provinsi ini.

Salah satu anggota tim Etnobotani Balitbangda Kalsel Agus Karyono pada rapat persiapan pembangunan Kebun Raya Kalsel di Banjarmasin, mengatakan 177 jenis tumbuhan obat-obatan tersebut didapat dari masyarakat setempat.

Ke-177 jenis tumbuhan obat tersebut ternyata sudah dimanfaatkan untuk pengobatan ketika ada jenis penyakit tertentu di daerah ini.

Etnobotani adalah suatu bidang ilmu yang mempelajari hubungan timbal-balik secara menyeluruh antara masyarakat lokal dan alam lingkungannya meliputi sistem pengetahuan tentang sumber daya alam tumbuhan.

“Seluruh jenis tumbuhan tersebut tetap kita berinama sesuai dengan nama yang diberikan warga asli, karena belum dilakukan penelitian secara ilmiah tentang kandungan tumbuhan tersebut,” katanya.

Nama ilmiah tumbuh-tumbuhan yang diyakini bisa menyembuhkan berbagai penyakit tersebut, kata dia, akan diberikan nama setelah melalui kajian kandungan “fitokimia” dari berbagai macam jenis tumbuhan berkhasiat untuk obat.

Menurut Agus, eksplorasi tumbuhan berkhasiat obat dilakukan di desa yang potensial memiliki sumber daya tumbuhan berkhasiat obat dengan alokasi waktu yang lebih memadai, yang dilakukan setidaknya satu dampai dua minggu di setiap lokasi.

Ketujuh kabupaten yang dilakukan sebagai tempat penelitian tersebut yaitu Kabupaten Banjar terdapat 18 jenis tumbuhan, Kabupaten Tapin sebanyak 22 jenis, Hulu Sungai Utara sebanyak 17 jenis.

Selain itu, Hulu Sungai Tengah 28 jenis, Hulu Sungai Selatan 31 jenis, Balangan 41 jenis , dan Kabupaten Tabalong 20 jenis.

“Dari beberapa desa tersebut di atas, Desa Harakit Kabupaten Tapin, Desa Malinau Kabupten HSS, Desa Kiyu Kabupaten Hulu Sungai Tengah dan Desa Misim Kabupaten Tabalong merupakan daerah yang paling potensial untuk eksplorasi,” katanya.

Selain itu, kata dia, desa yang mayoritas penduduknya Dayak terpencil dan jauh dari lingkungan perkotaan banyak mengetahui tentang jenis tumbuhan berkhasiat obat yang sudah mereka warisi secara turun temurun.
Beberapa jenis tanaman obat yang ditemukan dan telah diuji fitokimia adalah adalah sembilikan, akar bangkimut, krakatau dan haratau, nalin-nalin, akar balakatan, akar arau, bamboo buluh dan bebeberapa jenis tumbuhan obat-obatan lainnya.

Berbagai jenis tanaman obat-obatan tersebut bakal dikembangkan di kebun raya selain berbagai jenis tanaman langka lainnya di Kalsel.