MANIK-MANIK BORNEO TAK SEKADAR HIASAN

Oleh Hasan Zainuddin


Manik-manik yang terbuat dari batu-batuan, tulang, bijian-bijian, dan plastik dengan aneka bentuk, berukuran kecil yang tengahnya dilubangi untuk dirangkai dengan benang sehingga menjadi hiasan memperindah sebuah benda atau bahkan sebagai alat mempercantik diri.

Apalagi bagi masyarakat suku Dayak Kalimantan (Borneo), manik-manik sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari untuk menghias mulai dari baju khas daerah setempat dan aksesoris pelengkapnya, seperti gelang, kalung, hiasan di kepala dan sebagainya .

Namun keberadaan benda yang dalam bahasa Inggris disebut “bead” ternyata bagi masyarakat di pulau terbesar Indonesia Kalimantan bukan sekadar hiasan, tetapi banyak digunakan untuk kepentingan lain seperti diolah jimat atau sebagai alat penolak bala.

Manik-manik dinilai benda sakral hingga juga dijadikan sarana upacara adat, sarana pengobatan, bekal kematian, sebagai alat tukar atau mas kawin bahkan manik-manik bisa melambangkan status sosial bagi pemiliknya.

Melihat begitu bernilai sebuah manik-manik bagi masyarakat Kalimantan maka oleh beberapa museum di pulau tersebut dipamerkan puluhan “masterpiece” manik-manik .

Busri seorang pegawai Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru, Kalimantan selatan saat menjaga pameran manik-manik se-Borneo di museum tersebut mengakui manik-manik banyak menjadi perhatian.

Karena itu saat pameran manik-manik se Borneo tanggal 8-16 September 2012 maka banyak pertanyaan mengenai keberadaan manik-manik, khususnya para pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum sebab dalam pameran tersebut disediakan waktu untuk interaktif.

Pameran yang dibuka Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata Kalsel Mohandas H Hendrawan tersebut diikuti oleh museum Kalbar, museum Mulawarman Kaltim, museum Bala Kalteng, museum Sabah Kinibalu Malaysia, museum Tun Abdul Razak Serawak.

Selain itu diikuti museum Kuching Serawak, museum Arkaib Negara Brunei Darussalam, museum Kapuas raya Kabupaten Sintang Kalbar, Balai Pelestarian Nilai Sejarah dan Tradisi Pontianak, serta tuan rumah mueseum Lambung Mangkurat Banjarbaru Kalsel.

Pameran di museum Lambung Mangkurat Banjarbaru tersebut merupakan pameran yang ketiga, yang pertama di museum Pontianak Kalbar tahun 2010.

“Dengan adanya pameran manik-manik ini telah menjadi salah satu ajang perekat persaudaraan antarbangsa,”kata Mohandas.

Sementara menurut Pejabat Fungsional Pamong Budaya Ahli Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru Rusniadi mengatakan diselenggarakan pameran ini sebagai salah satu upaya untuk menyamakan visi antara museum Borneo juga untuk mengangkat citra budaya Kalimantan ke ajang Internasional.

Selain itu, sebagai upaya mengenalkan budaya Borneo kepada generasi muda, sehingga kelestariannya tidak tergerus oleh budaya barat yang kini mulai menggempur Indonesia.

Perhiasan manik-manik, diangkat menjadi salah satu tema karena kerajinan tangan tersebut menjadi salah satu simbol perekat bagi budaya Kalimantan, karena hampir seluruh simbol daerah Kalimantan selalu memanfaatkan manik-manik sebagai perhiasan.

Manik-manik tersebut biasanya dimanfaatkan sebagai pemanis baju adat, sebagai perhiasan wanita suku dayak, sebagai hiasan dinding, hiasan gerabah bahkan perkembangannya kini manik-manik juga dimanfaatkan untuk tas, dompet, dan sarung telepon genggam maupun tempat pensil atau pulpen.

Keindahan manik ini tergantung pada bahan yang dipakai, bentuk, zat warna, serta teknik pembuatannya.

Berdasarkan catatan, manik-manik memang dibuat dari aneka bahan yang banyak dikenal seperti dari batu-batuan, kaca, keramik,logam,kerang, tulang, gading,kayu, getah kayu, biji-bijian, merjan, dan bahan lainnya.

Manik-manik termasuk benda sejarah paling tua, karena berdasarkan manik yang ditemukan ada yang terbuat dari bahan campuran seperti yang ditemukan di Tell Arpachiyah Mesopotamia (4000 SM) terbuat dari bahan batu kapur dan manik terbuat dari batu peninggalan dinasti Firaun.

Menurutnya sejarahnya manik-manik paling tua ditemukan di Perancis, di situs arkeologi La Quina sekitar 38.000 SM.

Sedangkan pusat awal pembuatan manik-manik berada di Mesopotamia dan Mesir sekitar 65.000 SM. Sedangkan di Indonesia manik-manik konon sudah ada sejak prasejarah, yakni masa berburu setelah ditemukannya manik-manik tua dalam goa di Sampung Jawa Timur.
Manfaat manik-manik
Berdasarkan catatan, untuk memahami maksud dan arti warna batu pada manik-manik Dayak sebenarnya tergantung warna manik itu sendiri, manik-manik yang dihadirkan dalam setiap upacara tradisional Suku Dayak umumnya berwarna merah, hijau, kuning, biru dan putih.

Setiap warna memiliki arti dan keistimewaan berbeda-beda, sebab itulah dalam masyarakat Dayak, jika warna manik batu merah maka ini merupakan simbol makna semangat hidup, jika manik batu warna biru memiliki makna sumber kekuatan dari segala penjuru yang tidak mudah luntur.

Jika warna kuning maka makna simbolisasi manik batu ini menggambarkan keagungan dan keramat, kemudian jika warna sebuah manik batu adalah hijau ini memiliki makna kelengkapan dan intisari alam semesta, sedangkan jika warna manik batu adalah putih maka ia simbolisasi sebuah makna gambaran lambang kesucian iman seseorang kepada sang pencipta.

Selain makna warna manik batu Suku Dayak tersebut yang berbeda, untuk manik-manik jenis batu, bahan asal yang digunakan biasanya adalah kornelin, batuan hablur, onix, akik bergaris, kalsedon maupun kecubung.

Dalam pandangan masyarakat Suku Dayak, manik batu yang terbuat dari bahan batu kecubung maupun akik dipercaya memiliki keistimewaan magis didalamnya.

Pada bagian butiran manik akik yang mempunyai gambar palang tapak jalak misalnya, dipercaya akan menjamin pemakainya selamat sampai ke tujuan setiap melakukan perjalanan jauh sehingga sangat cocok dijadikan cinderamata.

Sedangkan pada manik batu akik dengan gambar garis merah dan putih (sardoniks) dipercaya dapat membuat si pemakai manik batu tersebut kebal terhadap peluru.

Secara umum, pemakaian manik-manik batu berbahan batu akik juga dapat menyembuhkan orang sakit serta membawa keberhasilan panen bagi para petani.

Demikian halnya dengan penggunaan manik batu berbahan batu kecubung, benda ini juga dipercaya dapat membantu penyembuhan penyakit, penawar racun akibat serangan hewan berbisa serta luka bakar bagi pemakainya.

Manik-manik digunakan sebagai penolak bala, pemiliknya bisa terhindar dari gangguan roh jahat atau makluk halus, digunakan untuk upacara adat karena manik-manik dinilai punya kekuatan, digunakan untuk pengobatan manik-manik dinilai mampu mengusir kekuatan jahat.

Kelangkaan manik-manik memiliki nilai tinggi, sehingga akan meninggikan derajat atau status pemiliknya, lantaran manik-manik memiliki kekuatan karena itu juga dijadikan sebagai bekal kematian.

 

Iklan

“HUMA BETANG” SIMBOL KERUKUNAN WARGA KALTENG

 

 

 
Oleh Hasan Zainuddin

 

“Huma Betang” adalah dalam istilah sehari-hari “rumah besar” yang dihuni banyak orang dengan beragam agama dan kepercayaan tetapi tetap rukun nan damai.

Sehingga Huma Betang adalah sebuah simbol dan filosofis kehidupan masyarakat di Kalimantan Tengah (Kalteng) seperti yang terlihat di Kota Palangka Raya, Ibukota Provinsi Kalteng, kata Wali Kota Palangka Raya, Riban Satia.

Ketika menerima kunjungan Dirut LKBN Antara, Ahmad Mukhlis Yusuf beserta rombongan di rumah jabatannya (Kamis 2/8), Riban Satia bercerita banyak mengenai konsep kerukunan Huma Betang dalam adat masyarakat Dayak Kalteng.

Adapun rumah besar dimaksud bila diartikan secara luas sekarang ini, tentu tidak sebatas sebuah rumah, tetapi sudah sebuah wilayah, atau kawasan yakni se-Kalimantan Tengah.

“Kami sudah terbiasa hidup rukun dan damai dalam sebuah rumah besar, di saat ada perayaan agama Islam seperti Idul Fitri, warga agama lain di rumah itu ikut pula merayakannya, begitu juga saat Natal atau perayaan agama Kaharingan, warga muslim juga ikut merayakannya,” kata Riban Satia.

Susana seperti itu sudah terlihat sejak lama sejak adanya rumah betang yang merupakan rumah adat dan khas Suku Dayak di Kalimantan Tengah.

Mereka yang hidup di “rumah betang” ini terdapat berbagai ragam kepercayaan apakah ia masih menganut kepercayaan lama yang di di Kalimantan Tengah “Kaharingan” atau ada pula yang sudah berpindah pada kepercayaan lain seperti Islam maupun kristen.

Melalui konsep huma betang itu pula berbagai program pembangunan di wilayah ini diterapkan, artinya masyarakat diajak secara toleran dan bahu membahu membangun wilayah.

“Berkat konsep itu pula, Palangka Raya dan wilayah Kalteng lainnya kini terus bisa berkembang,” tuturnya lagi.

Dalam “huma betang” tidak pernah terjadi perselisihan yang berarti kerena tingkat kekeluargaan atau kekerabatan yang sangat tinggi.

Hal senada juga diutarakan budayawan sekaligus Guru Besar Universitas Palangka Raya (Unpar) Prof Norsanie Darlan dalam sebuah seminar.

Menurut guru besar pendidikan luar sekolah tersebut, bila suatu saat mereka di rumah betang mengadakan upacara “Tiwah” suatu acara yang sangat sakral suatu penghormatan terhadap leluruh, semua yang ada di rumah betang mendukung kegiatan tersebut.

Walau anak cucu mereka sudah berubah kepercayaan, namun rasa saling menghormati sangat tinggi, sehingga mereka rela untuk mengorbankan harta untuk mengadakan upacara pembongkaran makam leluhur, kemudian tulang belulangnya dibersihkan dan di simpan pada sebuah sandung yang mereka buat secara bergotong royong.

Dengan filosofi “Huma Betang” ini maka mereka tidak pernah menolak kehadiran tamu dari mana saja untuk tinggal di rumah betang, sejauh tamu tersebut mengikuti filosofi “di mana langit di junjung di situ bumi di injak”.
Penuh Toleran
Toleran merupakan sikap budaya yang dikembangkan dalam pembangunan masyarakat untuk menunjukkan sikap saling menghargai dan menghormati aktivitas yang dilakukan oleh orang lain.

Toleransi muncul di kalangan masyarakat Dayak yang juga disebut dengan kearifan lokal di huma Betang ini, seperti perbedaan kepercayaan antara anak dengan orang tua, kakak dan adik, atau terhadap mereka yang ada di sekitarnya.

Budaya yang sudah turun temurun, yaitu jika sekelompok warga mau melaksanakan upacara ritual keagamaan, maka bagi penganut agama atau kepercayaan lain, ikut bersiapkan berbagai bahan, berupa beras, ayam, minyak goreng, garam dan lain-lain.

Agar para penganut kepercayaan beda turut merasakan segala suka cita mereka dalam kebersamaan.

Namun cara memasak dipersilakan untuk dimasak oleh kelompok itu sendiri. Terlebih hal ini terhadap para tamu yang datang ke desa mereka, katanya.

Umumnya masyarakat Dayak penuh toleransi ini, terjadi pergeseran hanyalah terjadi belakangan ini saja atau antara 10-15 tahun terakhir.
Pergeseran budaya ini dipengaruhi oleh kemajuan kota dan modernisasi saja, katanya dalam sebuah seminar diselenggarakan MPR-RI bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Palangka Raya (UMP) .

Sebagai contoh bila seorang anak di pedalaman yang mau sekolah ke kota khususnya di Palangka Raya lantaran dulu sulit mencari rumah kost, maka anak tersebut dititipkan kepada keluarga yang tinggal di Palangka Raya.
Keluarga yang dititipi anak tersebut bisa memang keluarga sedarah atau keturunan, atau bisa juga hanya sebatas keluarga sekampung, tetangga, atau hanya satu wilayah bahkan hanya kenalan saja.

Dengan toleransi yang sangat tinggi, maka anak yang ikut tinggal, di rumah tersebut tidak pernah membayar sewa, kata Norsanie Darlan.

Toleransi di sini juga tidak memandang beda kepercayaan yang dianut oleh warga yang tinggal dalam satu rumah, dengan penuh tenggang rasa dan tolong menolong.

“Di sinilah salah satu toleransi filosafi Huma Betang kita,” kata Norsanie Darlan dosen kelahiran Anjir tersebut.

Rumah kost belakangan memang mulai berdiri karena banyaknya anak yang datang dari kota lain di luar provinsi Kalimantan Tengah, untuk melanjutkan pendidikan terutama kuliah.

Sehingga mereka pendatang usia muda dari luar ini, mau tidak mau harus mencari tempat tinggal antara 4 – 5 tahun ke depan, akibat kebutuhan tersebut maka berdirilah rumah-rumah kost untuk kaum pendatang tersebut.

Sementara itu berdasarkan sebuah tulisan, filosofi Rumah Betang berkaitan erat dengan azas kekeluargaan yang diciptakan oleh leluhur suku Dayak.

Menurut sebuah cerita dahulu semua orang Dayak tinggal secara terpisah satu sama lainnya, sangat sulit berhubungan dan memantau keadaan masing-masing.

Oleh karena itu tetuha masyarakat Dayak merasa perlu memperhatikan sanak saudara-saudaranya. Untuk mempertemukan semua anggota keluarga yang terpisah-pisah, terbit sebuah ide. Yakni membangun rumah agar mempermudah hubungan antar sesama anggota yang sebelumnya berjauh-jauhan.

Rumah itu dibuat memanjang untuk menampung jumlah keluarga yang seiring waktu semakin bertambah, saat itulah penamaan Rumah Panjang atau Rumah Betang tercipta.

Seiring berjalannya waktu, mereka menyadari pentingnya membangun sebuah hubungan antar sesama manusia, sesuai dengan prinsip hidup leluhur mereka yaitu saling membantu sesama manusia menjadi sebuah nilai kemanusiaan yang bersahaja.

Mereka mulai menciptakan aturan-aturan tentang tata krama kehidupan bermasyarakat yang baik, itulah awal mula terciptanya hukum adat.

Hingga saat ini, azas kekeluargaan itu masih melekat dalam kehidupan keluarga yang sekarang menghuni ruah betang.

Secara garis besar, semua penghuni rumah betang merupakan sebuah keluarga besar yang berasal dari satu pertalian keturunan darah yang sama.

Keluarga yang besar ini memiliki hirarki adat yang tersusun ke dalam struktur lembaga adat Dayak, ada tetua adat yang mengetahui semua hal yang berkaitan dengan budaya rumah betang, ada juga penanggung jawab rumah betang, kepala desa, sekretaris desa semuanya juga berkumpul menjadi satu di dalam Rumah Betang.

 

KAYU KHAS “ULIN” OBJEK WISATA PALANGKA RAYA

Oleh Hasan Zainuddin

Keberadaan jenis kayu khas Kalimantan yang disebut kayu Ulin (Eusideroxylon zwageri) yang masih tumbuh di hutan wilayah Kota Palangka Raya, ibukota Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) ternyata dijadikan objek wisata pemerintah kota setempat.

Seperti penuturan Kepala bidang Pariwisata, Dinas Pariwisata dan Budaya Kota cantik Palangka Raya, Anna Menur kepada ANTARA di kantornya, Palangka Raya, Senin keberadaan kayu khas tersebut justru memberikan warna kepariwisataan kota setempat.
Ternyata kehidupan pohon kayu ulin di hutan memperoleh perhatian wisatawan, bukan saja wisatawan nusantara juga wisatawan mancanegara.
Jenis kayu tersebut, menarik untuk dikunjungi lantaran memang sudah langka, hanya ada di hutan-hutan tertentu saja di Kalimantan, dan ternyata masih terdapat di hutan wilayah Palangka Raya.
Banyak pengunjung yang hanya tahu kayu ulin tersebut, setelah menjadi papan, balok, atau bahan bangunan lainnya, sementara kayu yang masih hidup tidak pernah melihatnya, makanya keberadaan kayu ulin yang masih hidup justru menarik untuk bagi mereka yang belum pernah melihat tersebut.
Pohon kayu ulin yang masih hidup itu bisa dilihat di hutan Kota Palangka Raya di wilayah objek wisata susur sungai Kahayan.
Bagi mereka yang mengikuti wisata susur sungai akan melewati kawasan hutan yang di sana terdapat pohon-pohon ulin, susur sungai itu sebuah paket wisata yang dikelola Kalimantan Tpur Destination sebuah yayasan yang bergerak di bidang promo dan penyediaan paket wisata lainnya.
Selain di kawasan wisata susur sungai, kayu ulin juga bisa dijumpai di kawasan objek wisata Bukit Tangkiling, sebuah taman wisata alam bernuansa alam perbukitan, Kecamatan Bukit Batu berjarak 34 KM dari pusat Kota Palangka Raya.
Di kawasan ini, pengunjung bukan saja bisa melihat kayu ulin juga jenis kayu khas kalimantan lainnya, seperti meranti, keruing, ramin serta ratusan spicies flora dan fauna lainnya yang susah ditemui di daerah lainn, tambahnya.
Melihat kondisi alam Palangka Raya yang demikian, maka wisata alam menjadi andalan wilayah ini disamping wisata budaya.
Sulit diperoleh
Kayu ulin merupakan jenis kayu yang tak mudah lapuk baik didalam air maupun didaratan sehingga kayu ini diburu untuk bahan bangunan, khususnya pembuatan tongkat rumah panggung yang umumnya rumah penduduk kawasan rawa Pulau kalimantan.
Akibat terus diperjualbelikan, akhirnya keberadaan kayu ulin kian sulit diperoleh dan harganya pun sudah dua hingga tiga kali lipat dibandingkan satu dasawarsa lalu.
Beberapa pemerintah daerah di wilayahnya terdapat kayu ulin sudah melarang jenis kayu ini diantar pulaukan, dalam upaya pelestarian mengingat usia kayu ini ratusan tahun baru bisa dipanen.
Akibat sulitnya berkembang biak maka jenis kayu inipun tidak ada yang bersedia membudidayakan, kedati harganya relatif mahal, akibatnya kayu ini kian habis dan populasinya terus diburu oleh mereka yang ingin mencari keuntungan pribadi.
Berdasarkan catatan, kayu ulin merupakan salah satu jenis kayu hutan tropika basah yang tumbuh secara alami di wilayah Sumatera Bagian Selatan dan Kalimantan.
Jenis ini dikenal dengan nama daerah ulin, bulian, bulian rambai, onglen, belian, tabulin dan telian.
Pohon ulin termasuk jenis pohon besar yang tingginya dapat mencapai 50 m dengan diameter samapi 120 cm, tumbuh pada dataran rendah sampai ketinggian 400 m.
Kayu ulin banyak digunakan sebagai konstruksi bangunan berupa tiang bangunan, sirap (atap kayu), papan lantai,kosen, bahan untuk banguan jembatan, bantalan kereta api dan kegunaan laiinya.

UPACARA “SIMAH LAUT” SEBUAH ATRAKSI BUDAYA KOTIM

Oleh Hasan Zainuddin


Masyarakat Provinsi Kalimantan Tengah (Kalten) hususnya yang bermukim di pesisir Laut Jawa memiliki sebuah upacara yang disebut “simah laut” yang berpotensi sebagai objek wisata di kawasan tersebut.
Upacara “simah laut” merupakan salah satu tradisi masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) sebuah atraksi budaya yang kini kian dipopulerkan sebagai objek wisata Kalteng, kata Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalteng, Aida Meyarti, di Palangkaraya, Rabu.
Atraksi tersebut dinilai unik dan menarik yang mampu menarik kunjungan wisatawan, oleh arena itu upacara tahunan ini dijadikan kalender kepariwisataan wilayah tersebut.
Banyak brosur, famplet, dan catatan mengenai atraksi yang berlokasi di pantai wisata Ujung Pandaran tersebut, catatan itu kini sudah diterbitkan kemudian dibagikan kebiro perjalanan, hotel dan restauran, serta agen-agen kepariwisataan lainnya agar upacara tersebut dikenal luas.
Kegiatan berbau ritual tersebut berlangsung di komunitas masyarakat yang yang menetap di tepi laut sebagai nelayan atau petani, terutama yang berdomisili di Desa Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit.
Mengutip sebuah keterangan, Aida Meyarti menyebutkan maksud dari kata “Simah Laut” yaitu suatu upaya pendakatan masyarakat terhadap laut gaib dengan maksud supaya segenap unsur yang menghuni laut dapat di ajak berkompromi dan bersikap ramah terhadap mereka.
“Jadi jelaslah, bahwa Upacara “simah Laut” merupalan suatu acara ritual sebagai wujud kepercayaan dan ketaatan terhadap kekuatan natural dan supranatural yang di yakini mempunyai pengaruh langsung terhadap situasi dan kondisi sosial masyarakat setempat, terutama masyarakat nelayan,” katanya.
Pengaruh tersebut diyakini akan bersifat positif pabila upacara akan dilaksanakan dan sebaliknya akan bersifat negatif pabila upacara tidak dilaksanakan.
Oleh sebab itulah, masyarakat Desa Ujung Pandaran meyakini bahwa apabila mereka melaksanakan upacara ini maka mereka juga akan mendapat imbalan dari hasil laut seperti tangkapan ikan.
Berdasarkan sebuah catatan kepariwisataan yang diterbitkan Dinas Tenaga Kerja dan Pariwisata Kabupaten Kotim menyebutkan upacara serupa “simah laut” sama tuanya dengan adat istiadat lainnya yang tumbuh dan berkembang sejak jaman pra sejarah.
Berawal dari kepedulian suatu masyarakat terhadap keselamatan dan kesejahteraan hidup mereka dalam suatu wilayah, kemudian berkembang ke arah kepedulian terhadap alam dan lingkungan yang nyata dan yang gaib disekitar mereka, selanjutnya berkembang menjadi suatu tradisi adat istiadat.
Upacara “simah laut” yang dilaksanakan oleh Masyarakat Desa Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit, telah tumbuh dan berkembang sejak puluhan tahun lampau sebagai lanjutan tradisi yang berkembang sebelumnya di desa-desa asal penduduk Desa Ujung Pandaran.
Tidak ada legenda asli Desa Ujung Pandaran yang menjadi latar pelaksanaanupacara ini.
Penduduk Desa Ujung Pandaran sendiri berasal dari desa-desa tepi laut sekitar Tanjung Puting dan Pagatan. Mereka mengadopsi langsung tradisi ini dari tempat asal mereka.
Upacara “simah laut” di Desa Ujung Pandaran biasanya dilaksanakan sekali dalam setahun dalam setiap permulaan musim barat yakni antara bulan Oktober atau Nopember.
Sehari sebelum upacara berlangsung penduduk kampung mempersiapkan berbagai keperluan upacara.
Kaum lelaki mendirikan tenda, membuat sebentuk bangunan kecil sebagai tempat meletakan sesaji (ancak) dan membuat perahu kecil/rakit.
Sedangkan para wanita sibuk membuat aneka jenis panganan untuk sesaji yang terdiri dari kue-kue tradisional seperti cucur, apam, bubur putih, bubur merah, wajik, dll.
Sebagian lagi membuat bumbu untuk memasak daging dari hewan korban. Upacara diawali pada pagi hari dengan penyembalihan ayam dan hewan korban berupa kambing atau sapi sesuai dengan kemampuan. Bagian kepala hewan korban tersebut di buang ketengah laut, sedangkan bagian daging dimasak dan nantinya dimakan bersama-sama oleh penduduk kampung dan pengunjung yang hadir.
Setelah Shalat Dzuhur upacara dilanjutkan, ditandai dengan adanya iring-iringan penduduk membawa sesaji (ancak) yang berisi berbagai penganan ketempat upacara yang berada ditepi pantai.
Sesaji diletakan disuatu tempat khusus yang di sediakan, kemudian dibacakan doa yang dipimpin oleh seorang tetya adat. Sesaji lalu dimasukan kedalam perahu kecil/rakit tersebut dilarung ketangah laut.
Setelah seluruh rangkaian upacara selesai, masyarakat Desa Ujung Pandaran dan pengunjung memasuki masa pali (pantangan) yang berlangsung selama 3 (tiga) hari.
Selama masa pali ini masyarakat dilarang melakukan kegiatan di laut termasuk menangkap ikan. Bagi masyarakat yang melanggar pali akan dikenakan sanksi/denda pelanggaran sesuai ketentuan adat setempat.
Pada masa pali ini konon diyakini akan timbul keanehan-keanehan, munculnya berbagai jenis ikan yang ada di dalam laut seakan memberikan isyarat bahwa dimasa yang akan datang rejeki yang akan dituai masyarakat sebanyak apa yang tampak dalam isyarat/petunjuk keajaiban alam yang terjadi pada masa pali tersebut.

PESONA TNTP KALTENG BAGI WISMAN

Oleh Hasan Zainuddin

Beberapa sungai meliuk-liuk di kawasan hutan bergambut, kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), dan sedkit wilayah berada di kabupaten lain di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng).
Kalangan wisatawan khususnya dari Mancanegara Wisman), menyusuri sungai-sungai itu, seraya mencermati keanekaragaman hayati yang hidup dan berkembang di kawasan yang sudah dikenal di mancanegara ini.
Bukan hanya ratusan bahkan ribuan spicies flora yang menjadi perhatian wisatawan tetapi yang lebih menarik lagi adalah kehidupan ratusan spicies satwa, diantaranya khas Kalimantan, seperti orangutan, bekantan, uwa-uwa, burung enggang, dan spicieas langka dan dilindungi lainnya.
Melihat kekayaan flora dan fauna itulah yang menyebabkan kawasan seluas sekitar 400 ribu hektare itu menjadi daya tarik bagi wisatawan.
Pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kalteng menyatakan keberadaan TNTP jadi tujuan utama Wisatawan Mancanegara (Wisman) ke Kalteng.
Keistimewaan TNTP karena terdapat camp Leakey, lokasi rehabilitasi kehidupan ratusan ekor satwa orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus), kata Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalteng, Aida Meyarti.SH, Rabu.
Keberadaan objek ini sudah begitu dikenal luas di kalangan Wisman khususnya yang suka berpetualang dan mencintai kehidupan satwa unik yang dilindungi ini.
Selain orangutan di TNTP juga ada monyet lainnya, seperti Bekantan (Nasalis larvatus) yang kehidupannya juga memiliki nilai jual yang tinggi bagi Wisman.
Oleh karena itu Disbudpar Kalteng menjadikan TNTP sebagai lokasi andalan, yang selalu dipromosikan guna menarik lebih besar lagi kunjungan Wisman, katanya tanpa ingat jumlah secara rinci Wisman ke TNTP setiap tahunnya namun terbanyak dibandingkan daerah lainnya.
Berdasarkan penuturan Wisman ke lokasi TNTP, katanya Aida Miyartie adalah menyaksikan perilaku sosial orangutan. Perilaku sosial satwa itu jadi atraksi menarik, bagaimana mereka saling mengintimidasi, cara makan, pola penjelajahan, kemamilan, bersarang, dan perilaku lainnya.
Sisi lain, cerita tentang perebutan wilayah teritori kekuasaan orangutan, dan silsilah keturunannya di Cam Leakey selalu menjadi perhatian Wisman ke lokasi itu, kata Aida Meyarti,SH.
Silsilah kekuasaan ini memunculkan beberapa nama orangutan yang cukup terkenal, seperti Kosasih, Tom, Siswi, dan nama lain-lainnya.
Sejarahnya berdirinya camp leakey disebutkannya tahun 1971, ketika itu Prof.DR.Birutte Galdikas bersama suaminya Rod Brindamour melakukan penelitian mengenai orangutan di camp WSilkey (belakang Cam Leakey sekarang).
Nama Leakey sendiri diambil dari nama belakang seorang paleoantropogist dari Kenya. Louis Leakey yang tak lain adalah guru besar Prof.DR.Birutte Galdikas sendiri.
Sebagai penghargaan Dr.Birutte kepada sang guru besarnya, maka memberikan nama camp tersebut sebagai nama guru besar tersebut.
Bertahun-tahun DR.Birutte Galdikas melakukan penelitian perilaku orangutan di lokasi ini, sampai akhirnya Camp Leakey dijadikan tempat release orangutan, sekitar 200 ekor orangutan telah dilepaskan di TNTP.
Pada tahun 1995 pemerintah Indonesia melarang pelepasliaran orangutan di wilayah hutan yang telah memiliki populasi orangutan liar seperti TNTP, sehingga saat ini aktivitas yang dilakukan Camp Laekey hanya terbatas pada research dan pemberian makanan pada orangutan eks rehabilitan.
Bukan hanya kehidupan satwa yang jadi perhatian Wisman ke lokasi ini, tetapi juga terdapatnya beberapa jenis hutan sekaligus berbagai kehidupan flora dan fauna menghiasi TNTP.
Berdasarkan kepala Balai TNTP, Ir Gunung Wallestein Sinaga melalui sebuah buku terbitannya mengatakan TNTP memiliki delapan tipe hutan yang berpotensi jadi objek wisata petualangan dan penelitian.
Jenis hutan tersebut antaranya hutan dipterocarpus tanah kering (dry land dipterocarp Forest) mencakup 40,50 persen luas TNTP, jenis pohon yang mendominasi di hutan demikian adalah shorea, myristica, castanopsis, lithocarpus, xylopia, dan scorodocarpus.
Kemudian hutan rawa campuran perifer (Peripheral mixed swamp forest) sekitar 20 persen TNTP, hutan rawa gambut ramin (Ramin peat swamp), yang terdapat hampir di seluruh pinggir kawasan TNTP dan sebagian besar sudah rusak karena pohon raminnya banyak ditebang.
Hutan rawa transisional (Transitiona swamp forest) salah satu tipe hutan rawa yang penting yang dicirikan oleh tumbuhnya castanopsis, casuarina sumatrana, schiima, tetramerista, durio acutifolis, eugenia dan sejenis meranti yang disebut damar batu.
Hutan lainnya, adalah hutan shorea balangeran (shorea balangeran forest) yang didominasi oleh pohon shorea balangeran (blangeran) yang banyak dijumpai di pinggiran rawa gambut dan disepajang batas banjir TNTP, tambahnya.
Hutan kerangas, yaitu tipe hutan yang tumbuh diatas tanah berpasir putih, jenis pohon yang banyak dijumpai di hutan seperti ini, dacrydium, eugenia, castanopsis, hopea, shima dan lain-lain.
Hutan pesisir pantai dan bakau (mangrove and coastal forest) serta hutan skunder yang menghiasi kawasan TNTP seluas 270.040 hektare ini.
Kawasan TNTP merupakan objek wisata alam yang paling banyak dimnati wisatawan yang suka menyaksikan kehidupan satwa.
Keistemewaan lain lagi wilayah ini adalah ditetapkannya kawasan suaka margasatwa TNTP sebagai “cagar Biosfer.”
Cagar biosfer adalah situs yang ditunjuk oleh berbagai negara melalui kerjasama dengan program “MAB” (Man and Biosphere)-Unesco untuk memprosikan keanekaragaman hayati dan pembangunan berkelanjutan berdasarkan pada upaya masyarakat lokal dan ilmu pengetahun.
Karakteristik utama cagar ini adalah pengelolaan dengan sistem zonasi, focus pada arah pendekatan berbagai pemangku kepentingan, mengintegrasikan keanekaragaman budaya dengan keanekaragaman hayati, terutama peran pengetahuan tradisional dalam pengelolaan ekosistem, serta berpartisipasi dalam jaringan dunia.
Dengan demikian TNTP masuk dalam jaringan cagar biosphere dunia yang telah mencapai lebih dari 400 situs di 94 negara.

KALTENG JADIKAN IKAN KERING SEBAGAI CENDERAMATA

Oleh Hasan Zainuddin
Palangkaraya,31/8 (ANTARA)-  “Ikan kering lais pak, ikan kering lais, pak ini mutu bagus, tidak asin pak, enak-enak,” kata seorang ibu setengah baya yang merupakan pedagang ikan kering kepada para pengunjung sentra penjualan ikan di pasar besar Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah (Kalteng).
“Ikan lais kering ini dari Sungai Kasongan, kalau yang ini dari Sungai Rungan Tangkiling,” kata ibu Siti, nama pedagang itu seraya menunjuk-nunjuk tumpukan ikan kering yang digelarnya di pasar tersebut.
Ibu Siti yang menggunakan “tangkuluk” (penutup kepala kain sarung) dan berbedak dingin itu pun menceritakan bahwa ikan lais (Kryptopterus) paling banyak dicari pelanggannya, karena ikan berbadan panjang dan tipis itu termasuk khas setempat dan banyak terdapat di perairan rawa, sungai, danau, dan anjir (kanal).
Mengutip pendapat para pelanggannya, ikan lais kering paling enak dibandingkan ikan jenis lainnya, makanya ikan tersebut lebih mahal dibandingkan yang lain.
Lantaran ikan kering itu begitu digemari, maka sekarang sudah diolah dengan kualitas bagus, dan dijadikan sebagai barang cenderamata bagi pendatang yang datang ke kota cantik Palangkaraya ini.
“Kita banyak memperoleh pesanan, dari kalangan hotel, pemandu wisata, atau pengelola wisata lainnya, guna memenuhi permintaan wisatawan di wilayah ini,” kata Ibu Siti, yang mengaku berasal dari Danau Panggang, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) tersebut.
Menurut dia, agar lebih menarik ikan lais kering ukuran sedang pada saat proses pengeringan diletakkan satu per satu hingga membentuk formasi melingkar atau membundar antara 20 hingga 30 ekor.
Pembentukan formasi ikan kering lais itu di saat penjemuran seperti itu menyebabkan ikan yang satu dan yang lainnya saling menempel kuat bagaikan kena lem.
Dengan formasi ikan kering yang demikian maka saat dipajang tampak begitu bagus, dan menarik dipandang para pembeli.
Kemudian agar lebih menarik lagi, disediakan alat khusus yang disebut bakul purun (tas kecil terbuat dari anyaman tanaman purun ) lalu ikan itu diletakkan di dalam bakul itu hingga mudah menjinjingnya.
“Biasanya, para wisatawan lebih suka yang sudah disediakan seperti ini,” kata ibu Siti, seraya mengangkat satu bakul purun berisi dua kilogram ikan lais kering tersebut.
Berdasarkan keterangan harga ikan kering lais paling bagus di pasar paling ramai Kalteng itu mencapai Rp60 ribu per kilogram, sementara kualitas sedang Rp50 ribu dan kualitas biasa Rp45 ribu.
Selain Ikan kering lais, ikan lainnya yang juga cukup diminati, adalah ikan kering gabus (haruan) yang disebut “garih” dengan harga Rp40 ribu untuk kualitas baik, dan Rp30 ribu kualitas sedang.
Tetapi jika ikan kering gabus lebih kecil lagi harganya hanya Rp25 ribu per kilogram, ikan sejenis gabus yang juga diminati ikan kering tauman Rp35 ribu per kg, ikan kering karandang Rp20 ribu per kg, ikan kering kihung Rp25 ribu per kg.
Ikan kering sepat Rp40 ribu per kg, ikan kering saluang Rp40 ribu perkg, ikan kering biawan Rp35 ribu per kg, ikan kering sanggang Rp30 ribu  per kg, ikan kering tapah Rp35 ribu per kg, dan banyak lagi jenis ikan kering yang dijual di Kota Palangkaraya.
Gubernur Kalimantan Tengah, Agustin Teras Narang pernah mengatakaan bahwa potensi sumber daya air  (SDA) di wilayah tersebut sangat besar, mencapai 183,2 miliar meterkubik (M3) per tahun.
Melihat potensi SDA yang begitu besar sebenarnya kalau dikelola dengan baik maka akan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat Kalteng.
SDA Kalteng itu bisa dimanfaatkan bukan saja sebagai sarana transportasi, tetapi juga sebagai sarana bahan baku air minum, irigasi persawahan, pembangkit listrik, serta sebagai kawasan penangkapan ikan dan pembudidayaa sektor perikanan.
Dijelaskannya, terdapat 11 sungai besar yang ada di Kalteng dengan panjang kurang lebih 4.625 Km dan tujuh buah anjir atau kanal sepanjang kurang lebih 122 Km.
Sebelas sungai tersebut adalah sungai besar dan terdapat puluhan bahan ratusan anak sungai yang sambung menyambung satu sama lain yang bisa dimanfaatkan sebagai lokasi penangkapan ikan oleh masyarakat.
Sungai tersebut seperti Sungai Barito dengan panjang 900 kilometer (Km) dalam 8 m dan lebar 650 m, Sungai Kapuas panjang 600 Km dalam 6 m dan lebar 500 m.
Sungai Kahayan panjang 600 Km dalam 7 m, lebar 500 m, Sungai Katingan panjang 650 Km dalam 6 m lebar 300 m, Sungai Mentaya 400 Km,  dalam 6 m lebar 400 m. Sungai Sebangau panjang 200 Km dalam 5 m, lebar 100 m, Sungai Seruyan panjang 350 Km, dalam 5 m, lebar 300 m, Sungai Arut 250 Km dalam 4 m, lebar 100 m.
Sungai lainnya, Sungai Kumai panjang 175 Km, dalam 6 m lebar 300 m, Sungai Lamandau panjang 300 Km dalam 6 m, lebar 200 m, terakhir Sungai Jelai panjang 200 Km dalam 5 m dan lebar 100 m.
Bukan hanya jumlah sungai yang begitu luas, tetapi juga banyak hamparan rawa yang mengandung kehidupan ikan rawa juga begitu besar, tercatat 1,8 juta hektare yang menyebar di Kalteng ini.
Belum lagi Kalteng di bagian selatannya memiliki garis pantai yang panjang yang juga menghasilkan ikan laut begitu besar.
Dengan potensi perairan demikian melahirkan populasi dan perkembangan ikan sungai alam yang melimpah pula, dari hasil penangkapan ikan di sungai-sungai besar itulah yang kemudian dibawa oleh pedagang hingga ke Palangkaraya, ibukota provinsi ini.
Berdasarkan data, dari Dinas Perikanan setempat, dari luasan periran di Kalteng tersebut telah memproduksi sejumlah produk ikan segar dan ikan kering.
Produksi perikanan Kalteng terdiri dari perikanan laut sebanyak 49.951,7 ton dan perikanan darat sebanyak 40.413 ton.
Dari produksi itu terdiri lagi dari perikanan umum, tambak air tawar, ikan sawah, kolam, dan keramba.
Data terakhir diperoleh dari Badan Biro Statistik (BPS) Kalteng disebutkan nelayan setempat menghasilkan ikan awetan, baik ikan laut maupun darat, ikan kering 14.582 ton, terasi 1.021 ton, udang beku 382 ton, pindang 43 ton, ikan lainnya 1.562 ton. Sementara itu, jenis awetan ikan darat terdiri dari ikan kering sebanyak 8.230 ton dan Iain-lain 93 ton.
Berdasarkan keterangan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kalteng, keberadaan produksi ikan kering Kalteng itu telah menjamin kebutuhan masyarakat setempat, bahkan mampu menyuplai ke daerah lain.

PASAR WADAI PALANGKARAYA SURGA PENIKMAT PENGANAN TRADISI

Oleh Hasan Zainuddin
Palangkaraya,22/8 (ANTARA)- Sinar mentari masih berada di atas langit, menandakan bunyi tabuhan beduk sebagai tanda berbuka puasa bagi umat Muslim masih lama, namun kawasan Jalan Ais Nasution di lapangan Sasana Mantikai Palangkaraya, Kalimantan Tengah, sudah terlihat ramai.
Transaksi pun mulai terjadi di lokasi Pasar Wadai (pasar kue) yang muncul di bulan Ramadhan ini, bahkan tambah sore lokasi ini tambah berjejal yang membuktikan keberadaan pasar ini diminati pengunjung.
Kebaradaan pasar yang dibangun dengan konstruksi khas masyarakat Dayak Kalteng itu bukan saja sebagai lokasi transaksi penganan dan makanan tetapi sekaligus sebagai lokasi pelestarian budaya.
Bahkan belakangan oleh Pemerintah Provinsi Kalteng sudah dijadikan aset wisata tahunan yang terus dipromosikan ke berbagai wilayah.
Pasar wadai ini pula dinilai mampu menjadi magnet memancing lebih banyak wisatawan untuk datang ke kota yang pernah dirancang oleh Presiden Soekarno sebagai ibukota negara pengganti Jakarta tersebut.
Wakil Gubernur Kalteng Haji Achmad Diran saat membuka atraksi wisata tahunan pada hari pertama bulan puasa tahun ini mengakui pasar Wadai bernilai bagi dunia wisatawan lantaran muncul tahunan dan unik.
Hal lain yang bisa diambil manfaat keberadaan pasar Wadai adalah memberikan peluang kepada masayarakat untuk melaksanakan invonasi dan pengembangan kreativitas seni dan budaya lokal yang bermanfaat bagi dunia kepariwisataan.
Apalagi di pasar  ini terdapat aneka penganan tradisional baik yang berasal dari masyarakat Dayak Kalteng sendiri maupun penganan yang berasal dari masyarakat Banjar Kalimantan Selatan .
Di lokasi yang dikelola Lembaga Ketahanan Kelurahan (LKK) Kota Palangkaraya itu setiap harinya memang selalu padat bagi mereka yang menyukai penganan tradisional.
Mereka myang berbelanja di kawasan berada di jantung kota cantik Palangkaraya itu bukan saja yang benar-benar mencari penganan dan makanan berbuka puasa tetapi tak sedikit masyarakat non muslin pun berada di wilayah itu untuk berburu penganan atau makanan yang disukai.
Apalagi sebagian besar penganan dan makanan yang dijajakan para pedagang pada lokasi yang terdapat sekitar ratusan kios itu kebanyakan sulit dicari di hari biasanya dan hanya muncul di saat atraksi tersebut digelar.
Di lokasi pasar tahunan memang menggelar setidaknya 41 macam kue tradisional seperti kue amparan tatak, kraraban, lamang, cingkarok batu, wajik, kelepon, sari pangantin, sarimuka, putrisalat, cincin, untuk-untuk, gagatas,onde-onde, pare, putu mayang, laksa, kokoleh,bingka, bingka barandam, bulungan hayam, kikicak, gayam, kraraban, amparan tatak, agar-agar bagula habang, dan kue tradisonal lainnya.
Selain itu juga menggelar dagangan aneka masakan khas, seperti gangan waluh, gangan balamak, papuyu baubar, saluang basanga, masak habang, laksa, lontong, katupat kandangan, soto banjar, gangan kecap haruan, gangan humbut, gangan rabung, pais patin, pais lais, pais baung, karih ayam, karih kambing, dan masakan lainnya.
Lebih khas lagi, makanan tradisional Kalteng berupa mumbut rotan yang disebut singkah, daun singkong santan dan kue-kue Dayak Lainnya.
Tak ketinggalan pula tersaji makanan dari luar Kalimantan seperti gudeg Jawa, kerak telur, pecel lele, rendang Padang, dan makanan-makanan nasional lainnya, guna memenuhi selera warga kota Palangkaraya yang hedrogen dengan penduduk sekitar 190 ribu jiwa itu.
Di antara penganan yang dijual belikan itu seringkali dibuat hanya kebutuhan ritual atau kebutuhan kenduri karena diyakini kue-kue itu kalau dimakan diyakini akan membawa berkah.
Lihat saja penganan yang disebut kue cangkarok, kue lamang, bubur, cinncin, yang biasanya sebagai makanan sesaji ritual.
Penganan itu banyak yang sudah hilang setelah kian banyaknya penganan modern dan makanan kecil siap saji bermunculan, tetapi juga akibat kue-kue kering dan makanan kecil yang diproduksi perusahaan besar di Pulau Jawa.
?Lihat saja makanan kecil, kue kering, snack, mie instan, kacang-kacang keluaran perusahaan besar seperti PT Indofood menyebar hingga ke pelosok pedesaan yang mendesak makanan khas asli daerah setempat,? kata Aminah, pedagang kue tradisional
Pasar Wadai Ramadhan,  di Palangkaraya ini sebenarnya bukan hanya di kawasan itu tetapi juga bermunculan di kawasan lain seperti di Jalan Tjilik Riwut, Jalanj Set Aji, Jalan RTA Milono dan wilayah lainnya.
Bagi warga Palangkaraya, tak lengkap rasanya jika tak mengunjungi Pasar Wadai, karena pasar itu hanya ada pada bulan Ramadhan.
Penganan atau kue tradisional itu pula yang menjadi daya pikat setiap pengunjung terutama penikmat makanan tradisional untuk datang ke Pasar Wadai. Bahkan, banyak pengujung dari luar daerah datang ke lokasi ini hanya ingin berwisata kuliner di Pasar kebanggaan warga Palangkaraya itu.
Selain berburu makanan tradisional, ada juga warga Palangkaraya datang ke Pasar Wadai sekadar jalan-jalan sambil menunggu beduk ditabuh sebagai tanda buka puasa telah tiba (ngabuburit).
Bahkan menjadi lokasi kawula muda untuk “cuci mata” sekaligus sebagai berwisata.
“Saya suka datang ke pasar wadai sambil menunggu bedug buka puasa, bila sudah berada di lokasi ini tak serasa waktu terus berlalu hingga buka puasa,” kata Sarwani seorang pemuda penduduk setempat.
Melihat fungsi ganda keberadaan pasar wadai ini, maka wajar bila berbagai kalangan berharap pada tahun-tahun mendatang kebaradaan ini lebih dikemas lagi sebagai daya pikat kota.