OPERASI BIBIR SUMBING KEMBALIKAN SENYUM ANAK INDONESIA

Oleh Hasan Zainuddin

Sesekali tangan Muhamad Ikhsan (7 bulan) yang berada digendongan ibu kandungnya Sadiah (40 tahun) warga Puntik Kabupaten Barito Kuala (Batola) menjamah buku catatan yang ada di tangan aku (penulis), bahkan mulut dengan kondisi bibir sumbing berusaha mengigit kertas buku itu.

Namun sang ibu yang berpenampilan sederhana berusaha mencegah upaya bayinya menggigit buku catatan itu, akhirnya sang bayi menangis.

Di sela-sela acara pengobatan dan operasi gratis bibir sumbing di  di klinik bedah pelastik (Darplastic Beauty by Design) Jalan Hidayatullah Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, ibu Sadiah menceritakan kegalauan hatinya melihat putra kesayangan itu menderita penyakit kelainan bawaan.

“Aku benar-benar tak nyangka setelah anak ini lahir ternyata bibirnya sumbing” kata Saadiah yang tinggal di kawasan persawahan non jauh dari perkotaan.

Walau anak ini cacat, ia mengaku sangat menyayanginya dengan segala daya ia membesarkan anak itu hingga tampak sehat.

Tetapi untuk mengoperasi agar anaknya sehat seperti orang normal rasanya tak terbayangkan, karena dalam fikirannya pasti biaya mahal dimana bisa memperoleh uang semahal itu, sementara usaha tani keluarganya hanya bisa dinikmati menghidupi hari demi hari yang dilalui saja.

Suatu hari Sadiah mengakui dikabari tetangga yang datang dari Kota Banjarmasin (berjarak 30 Km dari desanya) bahwa tetangga itu terbaca pengumuman dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bandarmasih Kota Banjarmasin dalam rangka memperingati HUT Ke-41 perusahaan itu yang ingin membantu operasi bibir sumbing bagi anak tak mampu.

Setelah mendengar kabar tersebut sertamerta keluarga ini berangkat ke Banjarmasin dan mendaftarkan anaknya Muhamad Iksan sebagai peserta  operasi bibir sumbing kersajama antara PDAM dengan sebuah program sosial dari yayasan Tempo Scan yang berpusat di Jakarta.

Akhirnya Muhamad Iksan bersama 16 anak bibir sumbing lainnya berkumpul di klinik tersebut pada hari Jumat (14/2) untuk menjalani operasi bibir sumbing oleh para dokter ahli di klinik yang baru beberapa bulan membuka usaha di ibukota provinsi Kalsel tersebut.

Menurut Direktur PDAM Bandarmasih Ir Muslih, keterlibatan perusahaannya untuk membantu operasi bibir sumbing ini merupakan yang pertama kali, dan kemungkinan akan dilanjutkan pada tahun-tahun mendatang.

Setelah diumumkan adanya operasi bibir sumbing tersebut banyak warga yang mendaftarkan untuk ikut kegiatan tersebut sehingga pesertanya cukup banyak, tetapi setelah dilihat berbagai petimbangan terutama tingkat kondisi anak maka yang diputuskan bisa dioperasi hanya 16 anak saja.

“Kami memang sudah lama ingin menggelar operasi bibir sumbing ini, tetapi itu harus ditangani dengan seksama oleh para ahlinya, saat ini kebetulan ada perusahaan lain yakni Tempo Scan juga mengadakan hal serupa maka kegiatan digabungkan saja,” kata Muslih seraya menyebutkan bakti sosial donor darah merupakan yang sering dilakukan perusahannya.

Saat operasi dilaksanakan, petugas terlihat mendata satu per satu dari ke-16 anak bibir sumbing dari keluarga tak mampu itu. Bahkan satu per satu anak penderita bibir sumbing beserta keluarganya di ambil fotonya oleh petugas dari Tempo Scan.

Banyak cerita pilu yang terdengar dari mulut para keluarga miskin ini, bahkan seorang ibu yang masih terbilang muda usia warga Teluk Dalam banjarmasin mengakui kesedihan yang mendalam seteleh melihat anak pertamanya mengalami kelainan bawaan tersebut.

Bahkan yang lebih menyakitkan setelah bayi yang lahir cacat bawaan berupa bibir sumbing itu sang suami lari dari rumah dan hingga kini tidak tahu lagi dimana batang hidungnya.

operasi-bibir-sumbing-pdam

Direktur PDAM, Ir Muslih (foto Salmah)

Kembalikan Senyuman
Operation Head CSR Center Tempo Scan Pacific Tbk, Iris Herani secara terpisah menuturkan bakti sosial dalam bentuk operasi gratis bagi kelainan bawaan seperti bibir sumbing sudah termaktub dalam program CSR mereka “Indonesia Tersenyum.”
“Lewat Indonesia Tersenyum, untuk bibir sumbing saja, sudah ada 400 anak dari seluruh Indonesia yang telah kami bantu. 16 anak yang dioperasi hari ini, memang bantuan yang terhitung sedikit bagi warga Banjarmasin,” ujarnya.

Indonesia Tersenyum tidak hanya mengkhususkan diri pada kelainan bawaan seperti bibir sumbing, tetapi juga penyakit lainnya.

Panyakit lainnya dimaksud seperti kelainan tidak terbentuknya anus, kelainan saluran kencing, penyumbatan cairan di kepala (hidrocephalus congenital), kelainan jantung bawaan, kelainan saluran pencernaan, hernia kongenital, kelainan ginjal, bibir sumbing, tidak ada langitan, jari-jari dempet, katarak kongenital, dan lain-lain.

Total sudah ada 1700 anak dengan kelainan bawaan yang telah dibantu Indonesia Tersenyum, tuturnya.

Program Sosial Indonesia Tersenyum (PSIT) dicanangkan pada tanggal 17 Juni 2007 dengan misi untuk memberikan bantuan kesehatan kepada golongan masyarakat ekonomi lemah yang buah hatinya yaitu anak-anak maupun balita memiliki kelainan bawaan pada organ tubuh maupun anggota tubuhnya baik secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi masa depan mereka.

Jenis kelainan bawaan yang dimaksud adalah kelainan bawaan yang dapat dikoreksi atau diperbaiki dengan tindakan operasi/invasif .

Bekerja sama dengan berbagai rumah sakit pemerintah dan swasta di seluruh Indonesia, hingga akhir Desember 2013 PSIT telah melakukan bantuan kepada para anak Indoensia tersebut.

Untuk semakin memudahkan masyarakat dalam mengajukan bantuan, PSIT mengoperasionalkan Kantor Perwakilan Unit Kabupaten Bekasi Ceria dan Unit Kota Bekasi Ceria yang telah dibuka secara resmi pada November 2012.

“Masyarakat dapat mengajukan permohonan bantuan kepada Indonesia Tersenyum dengan melengkapi  persyaratan yaitu usia anak yang memerlukan bantuan operasi di bawah 15 tahun, mengisi formulir surat permohonan dan surat pernyataan, melengkapi dengan foto copy KTP orang tua anak, kartu keluarga, akte kelahiran anak, dan persyaratan lainnya,” ujar Iris Herani.

Sementara di Banjarmasin ada kantor perwakilan yayasan Tempo Scan yakni Jalan Pelabuhan Timur No 14 Banjarmasin, demikian Iris Herani.

BANJARMASIN “DIHANTUI” KESULITAN AIR BERSIH

Oleh Hasan Zainuddin

air bersih
Banjarmasin,2/10 (ANTARA)- Banjarmasin sebagai ibukota seribu sungai tidak identik dengan mudahnya warga mendapatkan air bersih, bahkan perkiraan lima tahun kedepan wilayah yang berada di delta Tatas ini memasuki tahapan krisis air bersamaan dengan memburuknya resapan disekitar sungai Martapura.

Direktur Utama Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bandarmasih Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Ir Muslih, di Banjarmasin, Selasa mengakui masalah ketersediaan air bersih jadi pemikiran perusahaannya.

muslih

 

Ir Muslih

 

Ketersediaan air bersih perusahaannya belakangan ini tergantung dengan Sungai Martapura yang berhulu ke Sungai Riam Kanan dan Sungai Riam Kiwa.

Padahal kedua sungai itu sudah mengalami pendangkalan akibat erosi setelah kawasan resapan air rusak lantaran banyaknya aktivitas di wilayah tersebut.

Bukti alam sudah rusak bisa dilihat kondisi bendungan Riam Kanan, dimana saat hujan sedikit saja maka sudah mengalami kebanjiran, dan bila kemarau debit air cepat sekali menyusut.

“Kalau alam di sekitar itu masih baik maka turun naik debit air di bendungan itu tidak terlalu besar, musim kemarau atau musim penghujan biasanya debit air tidak terlalu berpengaruh,” tuturnya.

riamkanan_800_600

 

Bendungan Riam Kanan menyusut

 

Tetapi sekarang ini turun naik debit air di bendungan Riam Kanan begitu drastis seakan tak ada lagi wilayah resapan air yang mampu menahan jumlah debit air tersebut.

Kalau kondisi tersebut terus berlanjut maka lima tahun kedepan air bersih akan sulit diperoleh,karena bila debit air di hulu sungai Martapura terus menyusut maka air laut akan masuk kedaratan dan terjadi kontaminasi kadar garam yang tinggi akhirnya air Sungai Martapura tersebut tak bisa diolah air minum.

Bila mengandalkan air tanah untuk wilayah ini tidak bisa diolah air minum karena kandungan besi dan asam terlalu tinggi, tuturnya.

Oleh karena itu, Muslih berharap semua pihak yang merasa prihatin kondisi tersebut, harus ikut memikirkan bagaimana agar resapan air di hulu sungai terpelihara, syukur-syukur kalau direhabilitasi.

Untuk mengatasi persoalan jangka pendek, PDAM Banjarmasin merencanakan membangun embung (penampungan air) skala besar dalam upaya persediaan air di musim kemarau.

Menurutnya rencana sudah cukup lama tetapi kini bertekad untuk direalisasikan, dan PDAM sudah miliki desain mengenai pembangunan embung tersebut dan kini berusaha mencari peluang dana ke pemerintah pusat dalam mewujudkan keinginan tersebut.

Selain berharap bantuan pemerintah PDAM juga mencoba melobi pemerintah provinsi Kalsel disamping mencari dana sendiri untuk kepentingan tersebut.

Bila dana sudah tersedia diharapkan tahun 2014 sudah mulai mengerjakan proyek tersebut dan pada tahun-tahun berikutnya embung yang berlokasi di Sungai Tabuk itu berfungsi sebagaimana mestinya yaitu penyangga kebutuhan air baku.

Kerusakan lingkungan

gue

Aku (penulis) di Tahura Sultan Adam
untuk ketersediaan air Sungai Martapura tergantung dari ketersediaan air di areal Pegunungan Meratus yakni di Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam seluas 112 ribu hektare.

Tahura ini diakui sudah mengalami kerusakan lantaran kebakaran hutan, dan ditengarai juga akibat adanya penebangan kayu secara liar dan usaha pertambangan ilegal, dan kegiatan pemukiman.

Menurut Muslih kerusakan lingkungan di hulu bisa dilihat dari juga tingkat kekeruhan air Sungai Martapura yang begitu tinggi lantaran partikel lumpur dalam air yang pekat.

Tingkat kekeruhan air sungai yang ideal untuk diolah menjadi air bersih hanya 50 hingga 100 mto per liter, tetapi hasil laboratorium ternyata air Sungai Martapura pernah mencapai 500 hingga 1000 mto, malah kasus tertinggi capai 5000 mto per liter,kata Muslih.

Akibat kerusakan hutan di hulu sungai, menyebabkan terjadi erosi dan bila terjadi hujan sedikit saja maka partikel tanah merah, pasir, dan debu dan lainnya ikut larut dan masuk ke dalam sungai terus mengalir kemuara hingga ke Banjarmasin.

Keluhan serupa bukan saja dirasakan PDAM Banjarmasin, tetapi juga PDAM di Kota Martapura Kabupaten Banjar, serta PDAM Kota Banjarbaru.

Bahkan menurut perkiraan, bila tidak ada upaya perbaikan kawasan Tahura yang dianggap sebagai wilayah “menara air” Kalsel itu, maka lima atau sepuluh tahun ke depan wilayah ini akan kesulitan memperoleh air bersih untuk air minum.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Tahura Sultan Adam, Akhmad Ridhani di lokasi Tahura Sabtu belum lama ini mengakui lahan wilayahnya terjadi kerusakan.

Sekitar 30 persen lahan Tahura kini kritis, atau sekitar 40 ribu hektare dari luas keseluruhan 112 ribu hektare.

“Kondisi tersebut sungguh merisaukan karena itu diperlukan upaya rehabilitasi,mengingat kawasan tersebut merupakan kawasan resapan air,” katanya saat mendampingi Bupati Banjar, Sultan Khairul Saleh melakukan penanaman massal bibit penghijauan di lokasi tersebut.

Selain akibat kebakaran hutan dan lahan, munculnya lahan kritis juga diduga pembukaan kawasan menjadi ladang dan kebun bagi sebagian masyarakat setempat untuk ditanami pohon-pohon produktif.

Ketika ditanya adanya pemukiman di tengah hutan lindung Tahura tersebut, disebutkan terdapat 7000 jiwa di 12 desa penduduk. Penduduk sulit direlokasi ke luar kawasan masalahnya sudah turun temurun sebelum ditetapkannnya kawasan Tahura sebagai hutan lindung.

Walau perkampungan tersebut sulit dipindahkan tetapi keberadaan penduduk dinilai tidak merusak lingkungan, bahkan dinilai masih melestarikan lingkungan dengan tidak merusak hutan.

“Agar penduduk tidak merusak lingkungan,mereka dirangkul untuk memperbaiki lingkungan, seperti mereka dibiarkan berkebun tetapi kebun yang baik untuk kawasan resapan air, seperti perkebunan buah-buahan, kebun karet, serta reboisasi hutan”, katanya.

Menurut Muslih untuk mengatasi persoalan air bersih ke depan selain harus dilakukan rehabilitasi kawasan air juga perlu penanganan terhadap Bendungan Riam Kanan yang selama ini menjadi kunci ketersediaan air tawar untuk diproduksi air bersih.

Oleh karena itu ia menyarankan Bendungan Riam Kanan tersebut dikelola badan khusus agar lebih terpelihara dengan baik.

“Jika bendungan Riam Kanan dibiarkan seperti sekarang, debit air di lokasi itu akan terus menyusut, sehingga daerah ini pasti akan kesulitan air,” katanya lagi.

Bendungan Riam Kanan sebaiknya dikelola semacam lembaga atau badan khusus yang fokus menjaga kelestarian lingkungan, misalnya menangani program penghijauan, aliran air, pembangkit listrik dan aspek lain terkait dengan bendungan tersebut.

“Lembaga tersebut bisa saja semacam badan usaha milik daerah (BUMD) atau dikelola badan usaha milik negara (BUMN),” katanya.

Ia mencontohkan di Korea Selatan ada bendungan yang dikelola khusus oleh lembaga semacam BUMN yakni ¿Q-Water¿ dan ternyata bendungan itu bermanfaat dalam penyediaan air di wilayah tersebut.

“Pemerintah provinsi dan kabupaten diharapkan lebih serius memikirkan bendungan Riam Kanan, karena masalah air bersih vital bagi kehidupan masyarakat,” katanya.

kantor Kantor PDAM Bandarmasih

MENGEREM PENULARAN HIV/AIDS MELALUI KONDOM

Oleh Hasan Zainuddin

colored condoms - farbige kondome
Sejumlah wartawan peserta workshop peliputan dan penulisan berita HIV/AIDS diminta memegang masing-masing sebuah kondom.

Seorang peserta putri yang berstatus gadis, begitu seksama memperhatikan bentuk kondom yang tebuat dari karet itu. Sesekali ia tersenyum, lalu memegang kondom.

“Kondom ini kemungkinan sudah pernah dipakai,” kata putri yang mengaku baru menggeluti dunia wartawan di salah satu media di Banjarmasin tersebut.

“Tidak pernah dipakai, kondom itu baru,” kata Syaiful Harahap yang dikenal sebagai pemimpin redaksi situs online http://www.Aidsindonesia.com.

“Tapi ini kok ada cairannya yang masih melekat,” kata putri sambil tertawa, “Itu cairan pelicin, jadi kalau kondom ini digunakan bisa lancar,” kata Syaiful yang dalam pelatihan itu bertindak sebagai narasumber.

“Apa benar kondom ini aman dari penularan HIV/AIDS,” kata Anang, peserta lainnya. “Ya lah kan ini dirancang untuk kuat menahan cairan air mani laki-laki agar tidak bersentuhan dengan cairan vagina perempuan,” kata Syaiful Harahap pula.

Selain diperlihatkan kondom untuk laki-laki yang bentuknya memanjang ada kantungan kecil di ujung kondom itu, juga diperlihatkan kondom perempuan bentuknya seperti tanaman kantong semar.

“Kalau ini buatan Indonesia, memang kata pemakainya agak ada rasa kurang enak, kalau ini kondom perempuan buatan luar negeri, katanya sih enakan kalau dipakainya, sayangnya kondom buatan luar negeri ini sulit dicari di tempat kita,” kata Syaiful Harahap.

Untuk memperkenalkan aneka jenis kondom tersebut, penyelanggara workshop, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kalsel membentuk beberapa kondom seperti balon-balon dengan aneka warna warni, peserta dipersilahkan memperhatikan kondom-kondom tersebut.

Workshop 2-4 April 2013 di Banjarmasin yang diikuti 19 utusan media massa cetak dan elektronik serta utusan pemerintah yang ada di kota ini, guna meningkatkan pengetahuan wartawan tentang HIV/AIDS sehingga bisa menulis berita dan reportase yang komprehensif dan menjadikan berita HIV/Aids sebagai berita rutin di media massa.

Menurut berbagai catatan, HIV adalah salah satu virus yang hidup di dalam tubuh manusia.

Virus adalah jasad renik yang tidak dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop biasa, hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop elektron, yang menyebabkan dan menularkan penyakit pada manusia, flora dan fauna.

kondom wanita

kondom wanita

HIV (Human Immunodeficency Virus) termasuk jenis retrovirus (virus yang hanya bisa berkembang biak di sel-sel darah putih manusia) yang menyebabkan (kondisi) AIDS (Aqcuired Immune Deficiency Syndrom)
AIDS adalah kondisi bukan penyakit yang terjadi pada seseorang yang sudah tertular HIV karena kerusakan sistem kekebalan tubuh dirusak HIV yakni kondisi seseorang yang sudah tertular HIV (secara statistik terjadi antara 5-15 tahun setelah tertular) yang ditandai dengan beberapa jenis penyakit (disebut infeksi oportunistik), seperti jamur, sariawan, diare, TB, dll, yang sangat sulit disembuhkan.

HIV dalam jumlah yang dapat ditularkan (hanya) terdapat dalam cairan darah (laki-laki dan perempuan), air mani (laki-laki, dalam sperma tidak ada HIV), serta cairan vagina (perempuan) dan Air Susu Ibu (ASI).

HIV juga bisa tertular melalui transfusi darah yang mengandung HIV
menerima cangkok organ tubuh yang mengandung HIV, menggunakan jarum suntik, jarum tindik, jarum tattoo, jarum akupunktur, alat-alat kesehatan yang terkontaminasi darah yang mengandung HIV, air susu ibu (ASI) yang mengandung HIV.

Salah satu alasan mengapa HIV sangat berbahaya jika sudah masuk ke dalam tubuh adalah HIV akan masuk ke dalam sel-sel darah putih dan menjadikannya sebagai pabrik untuk memproduksi HIV baru.

Setiap hari HIV rata-rata memproduksi 10 miliar (10.000.000.000) sampai 1 triliun (1.000.000.000.000) virus (HIV) baru.

HIV yang baru diproduksi itu kemudian mencari sel darah putih lagi dan kembali memproduksi HIV baru.

Menurut narasumber yang juga mantan wartawan surat kabar Sinar Harapan itu, penularan HIV didominasi melalui hubungan seks yaitu melalui air mani dan cairan vagina.

Tetapi walau diketahui salah satu pasangan mengidap HIV bila menggunakan kondom tenbtu tidak akan tertular, asal pemakaiannya secara benar, jangan sampai robek.

Apalagi kondom sekarang terbuat dari karet walau lembut tapi tak mudah robek, beda dari kondom yang dulu berasal dari bahan usus binatang.

“Bila seorang pasangan mengidap HIV, jangan takut berhubungan seks asal pakai kondom, makanya penderita HIV jangan dikucilkan, biarkan ia hidup sebagaimana mestinya,” kata Syaiful.

Apalagi terinfeksi HIV bukanlah vonis mati, AIDS dapat dicegah dengan pengobatan antiretroviral atau ARV. Pengobatan ARV menekan laju perkembangan virus HIV di dalam tubuh sehingga seorang terinfeksi HIV dapat kembali sehat atau bebas gejala, namun virus HIV masih ada di dalam tubuh dan tetap menularkan virus tersebut.

Penularan HIV kebanyakan setelah penderita HIV melakukan hubungan seks dengan orang lain, kemudian orang lain terinfeksi lalu melakukan hubungan seks lagi dengan orang lainnya, begitu seterusnya sehingga penularan HIV terus berlanjut.

Orang yang terinfeksi virus HIV biasanya tak merasa apa-apa, karena bisa terasa bila sudah terkena AIDS, di mana tingkat kekebalan tubuh menurut yaitu antara jarak lima hingga 15 tahun setelah terinfeksi HIV.

“Bila seseorang terkena influinza (flu) tak sembuh-sembuh maka patut dicurigai terinfeksi HIV, begitu juga jika diare tak sembuh-sembuh perlu tes darah untuk mengetahui apakah di tubuhnya sudah ada virus HIV,” kata narasumber kelahiran Sumatera Utara tersebut.

Ia mencontohkan penularan HIV melalui suami yang sudah terinfeksi HIV melakukan hubungan seks dengan isterinya, kemudian istrinya terinfeksi lalu menularkan ke anak bayinya melalui ASI.

Atau bisa jadi isteri itu cerai dengan suami yang terinfeksi, kemudian ia kawin laki dengan laki-laki lain hingga laki-laki lain terinfeksi.

“Berdasarkan keterangan KPA, ada seorang pengusaha beristri enam dan ternyata keenam isterinya itu terinfeksi, kemudian dari enam isterinya itu ada yang diceraikan, kemudian kawin dengan laki-laki lain, maka laki-laki lain yang menjadi suami baru itu pun terinfeksi,” ujarnya.

Ada lagi cerita seorang wanita pelacur setelah melayani tamunya terinfeksi HIV lalu pelacur itu terinfeksi HIV, setelah itu lantaran pelacur itu cantik maka dia melayani puluhan tamu laki-laki setiap minggu, maka sudah bisa dibayangkan bagaimana penularan HIV tersebut.

Melihat kasus di atas di mana perempuan terjangkit bisa pula menjangkiti bayi yang baru lahir, bila ia memiliki beberapa anak maka sudah berapa yang terinfeksi.

Selain itu bisa dibayangkan jika ada sepuluh ibu rumah tangga yang terjangkit berarti ia mempunyai suami sepuluh orang juga berarti sudah ada 20 yang terjangkit.

Kemudian jika ada 10 bayi terjangkit karena ia memiliki ayah dan ibu berarti sudah ada 30 orang yang terjangkit, dan mudah menghitungkan dan jika yang terjangkit itu ribuan maka sudah berapa yang terjangkit, tuturnya.
Melihat kian merebaknya penyakit HIV/AIDS sudah selayaknya semua lapisan masyarakat menjahui kegiatan yang bisa menularkan penyakit mamatikan tersebut.

JAMBAN KOMUNAL SOLUSI PENCEMARAN TINJA SUNGAI MARTAPURA

Oleh Hasan Zainuddin

jamban
Banjarmasin, 20/3 (Antara) – Kondisi air Sungai Martapura, baik di wilayah Kabupaten Banjar, maupun di wilayah Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan yang terlihat bersih tidak berarti bisa langsung dikonsumsi tanpa direbus terlebih sebab bisa-bisa terkena diare.

Masalahnya kandungan bakteri e-coli di sungai yang berhulu di Pegunungan Meratus dan bermuara di Sungai Barito Kota Banjarmasin tersebut begitu tinggi setelah tercemar berat kotoran manusia (tinja).

Hal itu terjadi setelah sekian lamanya kebiasaan (budaya) masyarakat membuang air besar ke sungai, lalu bermunculanlah ratusan bahkan ribuan buah jamban terapung di sisi kanan dan kiri sungai yang menjadi tumpuan kehidupan masyarakat setempat itu.

Masyarakat sudah terbiasa masuk jamban lalu membuang air besar dengan mudah jatuh ke sungai, dengan mudah pula memanfaatkan air sungai untuk membersihkan badan setelah buang hajat tersebut.

“Lihat saja di tengah kota Martapura, hingga ke Desa Lok Baintan terdapat deretan jamban terapung di atas air, jumlahnya sudah mencapai 2800 buah,” kata Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman Banjar, Boyke W Triestianto ST MT ketika berkunjung ke kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam, Sabtu (16/3).

Boyke mendampingi Bupati Banjar, Sultan KhairulSaleh bersama puluhan wartawan yang tergabung dalam komunitas “pena hijau” untuk melakukan penanaman bibit penghijauan di lokasi hutan lindung tersebut.

Menurut Boyke, dengan jumlah jamban terapung sebanyak itu bila satu jamban setiap harinya dipakai untuk buang air besar antara 10 hingga 15 penduduk maka kawasan tersebut setiap harinya tercemar antara 10 hingga 14 ton tinja manusia.

jamban

Itu hanya kawasan tersebut padahal jamban terapung juga terlihat dimana-mana di sungai Martapura itu, maka sudah bisa dibayangkan berapa besar pencemaran tinja terhadap lingkungan di kawasan itu, wajar bila kawasan tersebut begitu tinggi kandungan baktari e-koli.

Berdasarkan catatan, Escherichia coli, atau biasa disingkat E. coli, adalah salah satu jenis spesies utama bakteri gram negatif. Pada umumnya, bakteri yang ditemukan oleh Theodor Escherich ini dapat ditemukan dalam usus besar manusia.

Secara terpisah, Kepala Perusahaan Daerah (PD) Pengolahan Air Limbal (PAL) Banjarmasin, Muh Muhidin membenarkan kandungan baktari coli di sungai Martapura,khususnya di Banjarmasin sudah tercatat 16000 PPM, sementara batas baku mutu hanya 30 PPM, begitu tingginya pencemaran tinja di wilayah ini.

Hal itu karena kebiasaan masyarakat yang tinggal di bantaran Sungai Martapura membuang seenaknya tinja ke sungai, sehingga air yang mengalir ke Banjarmasin ini tercemar bakteri yang berasal tinja tersebut.

Kasus diakibatkan pencemaran e-coli, berdasarkan data Dinas Kesehatan Kalsel, menunjukan kasus diare terjadi pada 7,71/1000 penduduk dengan angka kematian 0,27/100.000 penduduk.

Kepala Bidang Pemantauan dan Pemulihan Badan Lingkungan Hidup Daerah Pemerintah Provinsi Kalsel, Ninuk Murtini, pernah pula mengatakan mengatakan dari hasil pemeriksanaan kondisi air sungai beberapa titik hasilnya sebagian besar air sungai tercemar dengan rata-rata kandungannya di atas ambang batas.

Bukan hanya e-coli, pencemaran sungai tersebut antara lain, untuk kandungan mangan atau Mn seharusnya hanya 0,1 miligram tapi berdasarkan hasil penelitian di Sungai Barito mencapai 0,3135 miligram atau jauh di atas ambang batas.

Titik terparah berada di Sungai Barito di sekitar Pasar Gampa Marabahan, Kabupaten Barito Kuala, selain itu di Hilir Pulau Kaget mencapai 0,2097 miligram dan Hulu Kuripan atau di sekitar kantor Bupati Barito Kuala mencapai 0.2029 miligram.

Menurut Ninuk pemeriksanaan tidak hanya dilakukan di Sungai Barito tetapi di sungai lainnya dengan total pengambilan sampel sebanyak 29 titik yaitu enam titik di sungai Barito, enam titik sungai Martapura dan tujuh titik di Sungai Negara.

Dengan kondisi tercemar itu,S maka bisa jadi salah satu pemicu timbulnya penyakit lainnya seperti autis, gangguan saraf, dan ginjal.
Seribu Jamban

jamban komunal

Jamban komunal
Melihat tingkat pencemaran tinja yang sudah mengancam kesehatan warga tersebut, telah melahirkan keinginan banyak pihak untuk mencarikan solusinya antara lain melalui program pembangunan jamban komunal.

Jamban komunal adalah jamban umum yang bisa digunakan secara bersama oleh warga membuang air besar, tetapi letaknya di daratan bukan di sungai, di lokasi pemukiman yang berpenduduk dengan kepadatan sedang sampai tinggi 300-500 orang per hektare.

Menurut, Kepala Dinas Perumahan dan Pemukiman Kabupaten Banjar Boyke pihaknya sudah menganggar sejumlah dana untuk pembuatan jamban sekaligus MCK komunal di beberapa tempat.

Selain itu pihaknya juga memperoleh dana dari sumbangan pemerintah Australia sebesar Rp1,2 miliar dalam upaya penanggulangan jamban tersebut.

Pemerintah Provinsi Kalsel sendiri segera pula membangun seribu jamban di daratan untuk mengatasi masalah tingginya pencemaran bakteri e-coli yang berasal dari tinja manusia.

Wakil Gubernur Kalsel, Rudy Resnawan di Banjarmasin menyatakan selama ini pihaknya telah mengkampanyekan agar masyarakat tidak membuang air besar di sungai, tetapi kampanye tersebut belum bisa maksimal karena tidak dibarengi dengan aksi pembangunan jamban rumah tangga di daratan.

“Selama ini jamban keluarga dibangun dengan biaya masyarakat sendiri, sehingga banyak warga yang enggan untuk melaksanakan program tersebut,” katanya.

Banyaknya masyarakat yang memilih membangun jamban di atas sungai dengan biaya lebih murah tersebut, membuat pencemaran di sungai masih sulit diatasi.

Dengan demikian, tambah Wagub, pada 2013 ini Pemprov Kalsel mengalokasikan dana dari APBD sebesar Rp1,5 miliar untuk pembangunan jamban keluarga dengan harapan masyarakat tidak lagi membuang air besar di sungai.

Selain itu, jamban keluarga tersebut juga akan dilengkapi dengan pompa air, sehingga tidak ada alasan lagi bagi masyarakat tidak ada air sehingga jamban tidak bisa digunakan.

“Tidak jarang begitu dibangunkan jamban masyarakat tetap memilih ke sungai dengan alasan tidak ada air, saya harap alasan tersebut sudah tidak ada lagi,” katanya.

Program pembangunan seribu jamban ini, merupakan salah satu upaya pemerintah untuk menjaga kesehatan masyarakat melalui minimalisasi pencemaran sungai dari bakteri yang disebabkan oleh sampah rumah tangga dan bakteri e-coli.

Sebagaimana diketahui, sungai merupakan tumpuan hidup masyarakat Banjarmasin sejak dulu hingga sekarang, hampir sebagian besar kegiatan warga Banjarmasin tidak terlepas dari sungai.

Kegiatan tersebut mulai dari mencuci, memasak, mandi, transportasi hingga kegiatan ekonomi dilakukan di sungai.

Dengan adanya program seribu jamban komunal ditambah berbagai kampanye lingkungan dan kebersihan sungai diharapkan budaya jamban yang melahirkan pencemaran bakteri e-coli di Sungai Martapura dan Barito Kalsel bisa teratasi.

PENULARAN HIV/AIDS “MENGUSIK” WARGA KALSEL

Oleh Hasan Zainuddin

aids
Warga Penghuni wilayah paling selatan pulau terbesar Indonesia Kalimantan, kini kian terusik penularan penyakit Human Immunodeficiency Virus (HIV) and Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS), padahal belakangan kian gencar penanggulangan berbagai penyakit menular lainnya guna menuju masyarakat sehat.

Terungkapnya penyakit tersebut tentu menimbulkan tanda tanya besar banyak pihak mengingat wilayah ini termasuk wilayah agamis.

Mengapa penyakit yang sebagian besar berjangkit di lokasi pristitusi merebak di wilayah yang sebenarnya “mengharamkan” lokalisasi.

Kasus HIV/AIDS menimbulkan dugaan adanya praktek pristitusi terselubung di tempat-tempat terselubung pula, yang menerpa wilayah ini, dan ditengarai selain ditempat hiburan malam, perhotelan, kafe-kafe, lokasi karaoke atau bahkan di lokasi pertambangan batubara yang menjamur di wilayah Kalsel.

Konon banyak pekerja tambang berasal dari luar daerah bekerja di Kalsel tanpa isteri,kemudian “jajan” ke lokasi “remang-remang” ilegal dekat tambang, atau lokasi lain yang bisa menyebarkan penularan panyakit menakutkan itu.

Penularan ini pula diduga akibat kian merebaknya penyalahgunaan narkoba melalui jarum suntik, serta kegiatan seks yang menyimpang.

Peningkatan jumlah penderita HIV/AIDS di Kalsel ternyata menjadi sorotan Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi.
Saat mengunjungi Banjarmasin (27/2) lalu menyatakan jika angka tersebut terus meningkat, maka akan menjadi bencana bagi Kalsel.

“Ini merisaukan, kalau HIV/AIDS tidak dikendalikan, maka capaian pengurangan penyakit menular lainnya tidak berguna,” ujarnya dihadapan Gubernur Kalsel H Rudy Ariffin dan jajaran kesehatan setempat.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Kalsel, dari 2002 hingga 2012, angka kasus HIV/AIDS sudah menembus melebihi angka 200 kasus, dan Itupun diduga, masih banyak kasus HIV/AIDS yang belum terdata.

Padahal dalam kasus penyakit tersebut biasanya satu orang yang terdata diduga masih ada sepuluh orang lainnya yang terjangkit tapi belum diketahui,dengan demikian tentu mengusik ketentraman warga yang selama ini sudah merasa agak “aman” dengan kian berkurangnya serangan penyakit, TBC, DBD, malaria, dan penyakit menular lainnya.

Apalagi berdasarkan data kasus HIV/AIDS justru paling banyak menular dikalangan generasi muda yang sebenarnya menjadi pemegang tongkat estapet pembangunan wilayah 13 kabupaten dan kota serta berpenduduk 3,6 juta jiwa itu.

Yang merisaukan pula kasus HIV/AIDS di Kalsel juga menyerang ibu rumah tangga, yang sebenarnya kelompok yang jauh darikegiatan yang bisa menularkan HIV/AIDS.

Kasus HIV di Kalimantan Selatan tertinggi terdapat pada remaja usia produktif yang berumur antara 20-29 tahun yaitu mencapai 50 persen dari total kasus HIV hingga Desember 2012 sebanyak 325 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan Akhmad Rusdianyah di Banjarmasin, Kamis mengatakan, berdasarkan estimasi Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) nasional pada 2009, di Kalimantan Selatan terdapat 948 orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

“Sejak 2002 sampai dengan Desember 2012 sudah ditemukan atau dilaporkan HIV/AIDS sebanyak 587 kasus atau 61,9 persen dari estimasi yang ditetapkan tersebut,” katanya.

Khusus HIV/AIDS, kata dia, prosentase kumulatif HIV tertinggi pada kelompok umur 20-29 tahun, sebanyak 40,6 persen, selanjutnya umur 30-39 tahun sebanyak 18,6 persen, dan 40-49 senbanyak 4,9 persen.

Dari 325 kasus HIV tersebut, sebanyak 68,3 persen terjadi pada perempuan, terutama pada penjaja seks komersial sebanyak 183 kasus, 17,8 persen pada laki-laki dan sisanya 13,9 persen tidak diketahui.

Selanjutnya, yang sangat memprihatinkan, penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh tersebut kini juga sudah menyerang ibu rumah tangga dengan kasus yang telah ditemukan sebanyak 18 orang.

Penyakit ini juga ditemukan pada warga binaan sebanyak 44 orang dan tenaga non profesional 22 kasus.

Jumlah kasus HIV tertinggi, tambah Rusdiansyah, di Kabupaten Tanah Bumbu sebanyak 149 kasus, Kota Banjarmasin 68 kasus, Banjarbaru, 36 kasus, Kotabaru 16 kasus dan Kabupaten Banjar 13 kasus.

Sedangkan untuk AIDS, sampai dengan Desember 2012 mencapai 262 kasus, dengan kasus tertinggi terjadi pada ibu rumah tangga sebanyak 41 kasus, tenaga non profesional 34 kasus, penjaja seks 18 kasus dan lain-lain 9 kasus.

Daerah terbanyak penderita AIDS yaitu, Banjarmasin, 121 kasus, Banjarbaru, 25 kasus, Tanah Bumbu 25 kasus, Kotabaru, 16 kasus, dan Tabalong sebanyak 13 kasus.

Menurut Rusdiansyah, faktor resiko penularan AIDS tertinggi adalah hubungan seks tidak aman yaitu 88,2 persen dan melalui jarum suntik narkoba dan lainnya sebanyak 11,7 persen.

aids1

Pencegahan
Pihak Dinas Kesehatan Kalsel sendiri selalu melakukan penyuluhan agar penyakit tersebut tidak meluas, terutama penyuluhan di kalangan pelajar,mahasiswa, dan masyarakat umum, khususnya mereka yang beresiko tinggi terjangkit virus yang belum ada obatnya tersebut.

Bahkan di Kalsel dan beberapa kabupaten dan kota di wilayah ini membentuk sebuah lembaga khusus menanggulangi penyakit ini yaitu Komisi Penanggulangan Aids (KPA) , serta lembaga lainnya.

Kota Banjarmasin yang juga banyak kasus HIV/AIDS sudah mengantisipasi penularan tersebut dengan berbagai cara, salah satunya mengkhususnya sebuah Puskesmas untuk melakukan perawatan penyakit tersebut.

Puskesmas yang dipilih melakukan penanganan penyakitHIV/AIDS adalah Puskesmas Pekauman, dimana petugasnya dilatih mengenai penangananh HIV/AIDS serta dilengkapi dengan berbagai peralatan.

Di Banjarmasin sendiri penanggulangan penyakit HIV/AIDS terlihat kian gencar saja, dengan melakukan sosialisasi terhadap masyarakat luas hingga ke daerah pinggiran, ke tempat hiburan malam, lembaga pemasyarakatan, serta pengambilan simpel darah.

Untuk mencegah penularan penyakit ini di Banjarmasin, yakni membentuk aturan melalui Perda.

“¿Melihat sudah banyaknya warga Banjarmasin terjangkit HIV/AIDS, maka dipandang perlu adanya aturan berupa Perda guna menangkal penyakit itu,¿ kata anggota DPRD Banjarmasin, M Dafik As¿ad.

DPRD Kalsel juga tak tinggal diam, bersama instansi/pihak terkait akan membahas masalah HIV/AIDS. “Ya nanti kita bicarakan dengan pimpinan dewan atau ketua komisi, untuk mengundang instansi/pihak terkait permasalahan HIV/AIDS,” ujar Wakil Ketua Komisi IV bidang kesra DPRD Kalsel H Budiman Mustafa.

Kasus HIV/AIDS ini juga mencuat kepermukaan saat seminar kependudukan kerjasama antara Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Kalsel dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) setempat.

Dalam seminar tersebut meminta BKKBN meningkatkan perannya terutama menggalakan pemakaian kondom, atau memberikan penyuluhan yang lebih gencar lagi mengenai kesehatan alat produksi (Kespro).

Kepala BKKBN Kalsel, Sunarto mengakui masalah HIV/AIDS telah menjadi perhatian, tetapi porsi program penanggulangan penyakit tersebut relatif agak kecil dibandingkan program lainnya.

Masalah pemakaian kondom atau KB pria bagian dari upaya penanggulangan penyakit HIV/AIDS, begitu juga mengenai masalah-masalah kesehatan reproduksi yang selalu ditekankan terjangkitnya penyakit kelamin termasuk HIV/ADIS

LEDAKAN PENDUDUK YANG BESAR BERARTI KIAMAT

Oleh Hasan Zainuddin

Kemacetan Simpang Ampat Sungai Andai Banjarmasin
“Seratus tiga puluh lima juta penduduk Indonesia,” dekian salah satu bait dari lagu ciptaan penyanyi dangdut terkenal,Haji Rhoma Irama yang populer tahun 80 hingga tahun 90-an, rupanya lagu itu tak berlaku lagi di era tahun 2012-an ini.
Pasalnya sensus penduduk 2010 jumlah penduduk Indonesia sudah mencapai 237 juta jiwa yang meningkat hampir dua kali lipat, bahkan sekarang total penduduk Indonesia sesungguhnya melewati angka 240 juta jiwa.
Dari data statistik itu memperlihatkan laju pertumbuhan penduduk Indonesia begitu mengkhawatirkan, penduduk yang banyak tanpa diimbangi tingkat kemakmuran negara, hanya menciptakan persoalan sangat besar, dan itu yang terjadi di negara ini.
Berdasarkan sebuah catatan, angka laju pertumbuhan penduduk Indonesia dalam lima tahun terakhir mencapai 1,4 persen-1,5 persen per tahun. Pada periode 2000-2005, angka laju pertumbuhan penduduk bahkan berkisar 2 persen per tahun.
Bisa diprediksi dengan dengan tingkat pertumbuhan penduduk stabil di angka 1,5 persen per tahun saja, pada tahun 2057 total penduduk Indonesia sudah lebih dari 475 juta jiwa.
Jumlah penduduk yang besar itu akan menjadi celaka bila tanpa diimbangi kemampuan negara memberikan kemakmuran.
Bumi Indonesia penuh sesak dipadati manusia menjadikan ruang gerak terbatas,hingga muncul “berjuta” persoalan berasal dari manusia itu sendiri.
Misalnya saja masalah sampah yang dipastikan akan memukul balik manusia,kemacetan lalu lintas yang membuat kendaraan roda empat menjadi tidak berharga sama sekali, ketersediaan bahan pokok, dituntut menyelesaikan ketersediaan air bersih.
Jelaslah bahwa ledakan penduduk yang tak terkendali akan membuat bumi penuh sesak. Pada gilirannya, keselamatan manusia menjadi terancam. Jika demikian, masih layakkah bumi ini sebagai tempat hunian, yang berarti pula sama saja dengan kiamat.
Melihat kenyataan itulah maka memperlambat pertumbuhan penduduk Indonesia bukanlah sekadar kebutuhan, melainkan sebuah keharusan.
Tanpa strategi yang tepat dan akurat, pada 2050 Indonesia bakal menghadapi beban ganda. Di satu pihak ada ledakan penduduk usia manula yang diperkirakan sekitar 80 juta jiwa dan di lain pihak jumlah penduduk usia muda juga begitu membludak.
Persoalan yang pasti dirasakan yaitu mampukah negara memenuhi sejumlah kebutuhan dasar bagi warga khususnya, pemenuhan pangan, lapangan pekerjaan, pelayanan kesehatan, pelayanan pendidikan, perumahan serta segudang persoalan lagi di belakangnya.
Oleh karena itu bisa dibayangkan, betapa repotnya negara mengurus penduduk yang jumlahnya kian membeludak.
Indonesia perlu mewaspadai ledakan penduduk dikarenakan berdampak pada kualitas kehidupan manusia, kata kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Sugiri Syarief, seperti yang dikutif Kantor Berita ANTARA.
“Indonesia saat ini masih dalam posisi peringkat empat besar negara di dunia yang menyumbang jumlah penduduk terbesar,” kata dia dalam seminar nasional tentang kesehatan reproduksi perempuan yang di Yogyakarta, belum lama ini.
Dia mengatakan ledakan jumlah penduduk di Indonesia setiap 100 tahun naik lima kali lipat kerimbang 100 tahun sebelumnya.
“Pada Tahun 1900 jumlah penduduk mencapai 40 juta, sedangkan pada Tahun 2000 mencapaii 200 juta,” katanya.
Dia mengatakan dengan kondisi Indonesia saat ini, pihaknya memprediksi jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2100 mencapai satu miliar atau naik lima kali lipat ketimbang seratus tahun sebelumnya.
“Kalau jumlah penduduknya bertambah maka akan berdampak pada kebutuhan pangan yang besar. Indonesia bebannya akan semakin besar karena saat ini masih mengimpor beras,” kata dia lagi.
Sementara itu, untuk masalah kesehatan akan berdampak pada tingkat kematian ibu hamil dan beragam persoalan kesehatan, seperti kasus aborsi.
Ia mengatakan menekan jumlah penduduk perlu dilakukan untuk menghemat investasi pemenuhan hak dasar masyarakat, seperti, pendidikan, kesehatan, gizi, nutrisi, sandang, dan perumahan.
Selain itu, jumlah penduduk yaang bisa ditekan juga akan menghemat biaya perawatan kesehatan saat kehamilan, kelahiran, perawatan bayi dan balita.
Persoalan kesehatan selama ini menyangkut angka kematian ibu yang masih tinggi dan angka kematian balita. Kesehatan reproduksi selama ini menjadi bagian penting dari masalah kependudukan yang sulit diselesaikan.
Untuk aspek lingkungan jumlah penduduk yang bisa ditekan akan mengurangi penyediaan perumahan dan air bersih, daya tampung dan daya dukung lingkungan juga semakin tidak ideal serta bisa menimbulkan banyak masalah lingkungan, sampah, banjir, kemacetan, kesulitan akses udara atau air bersih serta isu perubahan iklim hingga bencana akibat perusakan alam.
Tuntutan atas kebutuhan dasar seperti pangan yang akhir-akhir ini semakin mahal dan sulit, jumlah lapangan kerja tidak seimbang dengan angkatan kerja baru, serta peningkatan kriminalitas akibat kebutuhan pokok yang tidak terpenuhi juga bisa menjadi dampak ledakan penduduk.
Untuk menghindari terjadinya ledakan penduduk maka diperlukan desain induk kependudukan,katanya.
Desain induk itu akan menjadi acuan kependudukan yang meliputi berbagai aspek diantaranya kualitas, kuantitas, pembangunan keluarga, mobilitas dan administrasi penduduk.
“Desain induk sangat diperlukan untuk menghindari terjadinya ledakan penduduk. Pada saat ini desain induk masih pada tahap penyusunan dan pembahasan,” katanya.
Selain itu, untuk menyikapi laju pertumbuhan penduduk juga diperlukan upaya revitalisasi keluarga berencana (KB).

Penduduk Dunia

Berdasarkan sebuah laporan, pertumbuhan penduduk di setiap negara akan berdampak pula terhadap pertumbuhan penduduk dunia secara keseluruhan.
Menurut Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB) yang menangani masalah kependudukan melaporkan bahwa pada tahun 2003 jumlah penduduk dunia 6,3 milyar.
Menurut Thomas Robert Malthus dalam Essay on the Principle of Population (1798), dikatakan bahwa ” penduduk bertambah menurut deret ukur dan bahan makanan bertambah menurut deret hitung “.
Dengan demikian pertumbuhan penduduk lebih cepat dari pada produksi makanan yang dibutuhkan. Jika hal ini terus menerus dibiarkan maka akan terjadi ledakan penduduk.
Ledakan penduduk sebagai akibat pertumbuhan penduduk yang cepat seperti itu memberikan dampak yang buruk bagi kehidupan sosial-ekonomi masyarakat dan hal inipun membuat pemerintah berusaha untuk mengatasinya ledakan penduduk tersebut.
Dampak ledakan penduduk,disebutkannyah pengangguran kian meningkat, kekurangan pangan yang menyebabkan kelaparan dan gizi rendah, kebutuhan pendidik, kesehatan dan perumahan sukar diperoleh, terjadinya polusi dan kerusakan lingkungan, serta tingkat kemiskinan semakin meningkat
Sementara upaya yang harus dilakukan antsipasi ledakan penduduk, antara lain memperluas lapangan kerja melalui industrialisasi, melaksanakan program Keluarga Berencana (KB),meningkatkan produksi pangan sesuai kebutuhan penduduk, melaksanakan program transmigrasi, serta menambah sarana pendidikan dan perumahan sederhana.
Ledakan penduduk tentu akan mengancam ketersediaan pangan, berdasarkan catatan, konsumsi perkapita beras di Indonesia masih sangat tinggi yakni 139,15 kilogram per kapita per tahun.
Sementara itu konversi lahan di Indonesia terjadi sangat cepat dari persawahan menjadi pemukiman dan lain sebagainya akibat tingginya jumlah pertumbuhan penduduk.
Selain itu, perubahan iklim yang dipicu tingginya jumlah penduduk juga mengakibatkan gagal panen dan lain sebagainya.
Penduduk banyak bisa mempengaruhi perubahan iklim, dan sebaliknya penduduk juga akan terpengaruh pada perubahan iklim yang terjadi.
Laju pertumbuhan yang tinggi akan mengakibatkan konversi lahan persahawan juga terus meningkat padahal jumlah penduduk yang tinggi juga mengakibatkan meningkatnya kebutuhan dan konsumsi akan beras.
Untuk menghindari terjadinya ancaman ketersediaan pangan maka laju pertumbuhan penduduk harus ditekan,makanya diperlukan upaya dan langkah konkret guna menurunkan laju pertumbuhan penduduk dan meningkatkan kualitas penduduk melalui berbagai program, baik dalam aspek kualitas maupun kuantitas.
Untuk menyikapi laju pertumbuhan penduduk, juga diperlukan upaya revitalisasi Keluarga Berencana.
Revitalisasi program KB
Bagaimana kondisi KB saat ini,sebagai gambaran, prevalensi penggunaan kontrasepsi selama lima tahun (2002-2007) tidak banyak mengalami perubahan.
Hanya naik sedikit dari 60,3 persen menjadi 61,4 persen. Bahkan unmet need (kebutuhan ber-KB yang tidak terlayani) dalam periode yang sama naik dari 8,6 persen menjadi 9,1 persen.
Jika kondisi ini tidak cepat ditangani, ledakan penduduk akan menjadi kenyataan dalam beberapa tahun ke depan.
Dari hasil penelitian Sri Moertiningsih Adioetomo (peneliti LD FE UI), program KB telah berhasil mengubah paradigma dalam masyarakat bahwa jumlah anak bukanlah ‘nasib’. Jumlah anak yang lebih sedikit menciptakan peluang yang lebih besar dalam mencapai keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera.
Sebelum pemerintah berperan penuh dalam pelaksanaan program KB (1970), pertumbuhan penduduk Indonesia sangat tinggi. Sebagian besar masyarakat Indonesia beranggapan bahwa semua kejadian demografis seperti peristiwa kelahiran dan kematian adalah kuasa Tuhan.
Tidak dikenal jumlah anak ideal, dan jumlah anak bukanlah hal yang pantas untuk didiskusikan.
Program Keluarga Berencana (KB) merupakan upaya pengendalian jumlah penduduk dan peningkatan kualitas keluarga Indonesia. Program KB di awal 1970-an telah berhasil mengendalikan laju pertumbuhan penduduk Indonesia, dan manfaatnya baru dapat dirasakan di awal 2000.
Indonesia berhasil ‘mencegah’ 80 juta kelahiran bayi. Program KB berhasil mengubah cara pandang masyarakat bahwa jumlah anak lebih sedikit, lebih baik.
Banyak keberhasilan program KB di era Orde Baru. Penggunaan kontrasepsi naik drastis (dari 5 persen menjadi 60 persen), jumlah anak perempuan usia subur turun (dari 5,6 persen menjadi 2,3 persen), rata-rata usia kawin pertama perempuan naik menjadi 19 tahun, menurunnya kehamilan yang tidak diinginkan, serta masih banyak keberhasilan lainnya.
Program KB jelas memiliki dampak langsung terhadap peningkatan kualitas penduduk, kesejahteraan, derajat kesehatan, dan pendidikan penduduk.
Penduduk miskin cenderung memiliki jumlah anak yang lebih banyak daripada yang tidak miskin.
Program KB dapat menjadi salah satu instrumen untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia. Oleh karenanya, program KB juga jelas berkontribusi terhadap pencapaian target millenium development goals.
Sebagai langkah nyata untuk merespons tingginya pertumbuhan penduduk, itulah maka pemerintah RI perlu segera merealisasikan revitalisasi program KB nasional.
Kata revitalisasi sendiri bermakna bahwa program KB harus dihidupkan kembali dan menjadi prioritas karena memiliki peran vital dalam pembangunan.
Pemerintah harus segera memperbaiki akses masyarakat terhadap pelayanan KB. Perlu perbaikan kompetensi teknis KB terutama di daerah, mengingat terbatasnya sumber daya manusia di daerah yang memahami teknis program KB. Sehingga, perlu perkuatan institusi KB daerah. Pemerintah harus segera membangun metode komunikasi yang efektif dalam penyebarluasan informasi tentang KB.
Hal ini penting mengingat KB bukan sekadar mengendalikan jumlah penduduk, tetapi juga membangun cara pandang masyarakat terhadap norma keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera.
Pemerintah segera melakukan tindakan nyata untuk pengelolaan penduduk dalam format program KB. Jika pemerintah memiliki anggaran yang terbatas, harus segera melibatkan pihak swasta.
Pemerintah harus mampu meyakinkan pihak swasta untuk berpartisipasi, serta bentuk partisipasi yang dibutuhkan. Satu hal yang perlu dipahami ialah membangun bangsa ini tidak bisa sendirian. Tetapi pemerintah harus menunjukkan kesungguhan agar tidak sendirian pula dalam menghadapi ancaman ledakan penduduk.

KEMARAU KINI SUDAH MENJADI SEBUAH “TRAGEDI”

Oleh Hasan Zainuddin


Banjarmasin, 6/10 (ANTARA) – Musim kemarau tak asing bagi masyarakat Indonesia, karena sudah berlangsung setiap tahun sejak berada-abad lalu.

Hanya saja kemarau dulu dan sekarang terjadi perbedaan, kemarau dulu lahan kering tetapi sekarang kemarau lebih kerontang, kalau dulu kemarau menimbulkan asap tipis sekarang kian pekat.

Panas selalu terjadi musim kemarau, tetapi sekarang panasnya kian gerah, dan banyak lagi perbedanaan lain yang dirasakan disaat perubahan iklim global sekarang ini.

“Kemarau baru sebentar sudah menyengsarakan, terutama kesulitan air bersih serta kabut asap pekat menganggu banyak aktivitas, seperti di Kalsel, kata Gubernur Kalsel Rudy Ariffin di Banjarbaru, Rabu (3/10) saat menggelar rapat dadakan dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah .

Rapat dadakan bersama perwakilan pemerintah pusat membahas serangan asap dikaitkan melakukan hujan buatan. Selain hujan buatan, juga dinilai perlu menggelar sholat istisqa (shalat minta hujan).

Gubernur mengaku sudah menyampaikan surat permohonan ke Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BPBN) agar memperoleh jatah hujan buatan.

Berdasarkan catatan, asap Kalsel adanya kebakaran semak belukar dan hutan 615 titik, kabut asap paling parah di Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Tanah Laut, dan Barito Kuala serta Kota Banjarmasin.

Kepala Dinas Kesehatan Kalsel, Rosihan Adhani mengatakan serangan kabut asap mulai mengganggu kesehatan masyarakat, ditandai peningkatan ISPA hingga 59 persen, dengan jumlah penderita ISPA setiap bulannya sebanyak 22.000 orang.

Mengatasi hal itu 10.000 masker dibagikan dari 51.000 masker yang dicadangkan, 51.000 masker sifatnya perbantuan kabupaten dan kota se Kalsel yang memerlukan tambahan,katanya.

Kepala Dinas Perhubungan Kalsel, M Tahkim, asap menganggu penerbangan bandara Syamsuddin Noor serta jalur Lalu-lintas darat dalam sepekan terakhir, lantaran jarak pandang yang pendek.

“Saat ini jadwal penerbangan selalu saja ada yang tertunda akibat asap,” katanya.

Asap tak hanya menyebabkan ganggu transportasi, tetapi juga membuat warga merasa sesak napas dan penglihatan terasa pedih saat berada di luar rumah.

Beberapa warga mengaku cepat lelah, saat melakukan aktivitas di luar rumah, karena udara pengap dan panas menyengat, kendati cuaca seakan mendung.

Cuaca ekstrim terjadi di Kalsel, ditandai meningkatnya suhu dan kelembaban udara hingga di atas standar normal, suhu dan kelembaban udara tergolong ekstrim, melebihi standar normal, ujar Miftahul Munir dari BMG.

Suhu udara normal 32 derajat celsius hingga 35 derajat celsius, jika di atas standar maka tergolong ekstrim, suhu ekstrim terukur di Banjarbaru, Banjarmasin, dan Kabupaten Banjar dengan panas 35,2 derajat celsius.
Terjadinya cuaca ekstrim di Kalsel karena curah hujan rendah sejak dua bulan lalu, curah hujan Agustus 60-70 milimeter dan September 50-100 milimeter hingga tergolong rendah dan memicu meningkatnya suhu udara dipermukaan hingga terjadi cuaca ekstrim, jelasnya.

Dampak ditimbulkan suhu udara demikian kekeringan melanda hampir seluruh kawasan, pepohonan kekurangan air mudah terbakar disamping volume air sumur berkurang.

Kawasan terpekat asap, justru berada di dekat Bandara Syamsudin Noor merupakan bandara terpadat di Kalimantan, menyebabkan tertundanya penerbangan seperti penerbangan ke Jakarta, Surabaya, dan Yogyakarta.

Manager Operasi PT Angkasa Pura I Bandara Syamsudin Noor Haruman mengatakan, jarak pandang aman bagi penerbangan minimal 400 meter saat pesawat lepas landas dan 800 meter saat pesawat mendarat.

“Jarak pandangnya buruk sekali pernah terjadi hanya lima meter sehingga sangat tidak mungkin pesawat lepas landas dan diputuskan enam penerbangan ditunda,” katanya
Kepala Dinas kehutanan Kalsel, Rahmadi menambahkan titik panas (hotspot) di wilayahnya meningkat 100 persen. Pantuan satelit NOAA-18 (ASMC) 4 September 315 titik, sekarang 615 titik.

Titik api diperkirakan terus bertambah mengingat musim hujan ditaksir akhir Oktober, atau dasarian tiga, ujar Kasi Data dan Informasi BMKG Staklim Banjarbaru Miftahul Munir.

Terkait keinginan gubernur melakukan hujan buatan, disarankan menunggu munculnya awan pembentuk hujan sehingga hujan cepat turun sesuai harapan.

“Saat ini, awan pembentuk hujan belum terbentuk di atas wilayah Kalsel sehingga tidak efektif jika hujan buatan dilakukan sekarang, lebih baik menunggu munculnya awan hujan sehingga hasilnya maksimal,” kata dia.


Perubahan Iklim
Berdasarkan sebuah catatan saat ini terjadi peningkatan konsentrasi gas-gas rumah kaca (CO2, CH4, CFC, HFC, N2O), terutama peningkatan konsentrasi CO2, di atmosfir menyebabkan terjadinya global warming (peningkatan suhu udara secara global) yang memicu terjadinya global climate change (perubahan iklim secara global).

Fenomena ini memberikan berbagai dampak yang berpengaruh penting terhadap keberlanjutan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya di planet bumi ini, di antaranya adalah pergeseran musim dan perubahan pola atau pendistribusi hujan yang memicu terjadinya banjir dan tanah longsor pada musim penghujan dan kekeringan pada musim kemarau.

Naiknya muka air laut yang berpotensi menenggelamkan pulau-pulau kecil dan banjir rob.

Perubahan iklim global sebagai implikasi dari pemanasan global mengakibatkan ketidakstabilan atmosfer di lapisan bawah terutama dekat permukaan bumi.

Pemanasan global ini disebabkan oleh meningkatnya gas-gas rumah kaca yang dominan ditimbulkan oleh industri-industri.

Pengamatan temperatur global sejak abad 19 menunjukkan adanya perubahan rata-rata temperatur yang menjadi indikator adanya perubahan iklim.

Perubahan temperatur global ini ditunjukkan dengan naiknya rata-rata temperatur hingga 0.74oC antara tahun 1906 hingga tahun 2005.

Temperatur rata-rata global ini diproyeksikan akan terus meningkat sekitar 1.8-4.0oC di abad sekarang ini, dan bahkan menurut kajian lain dalam IPCC diproyeksikan berkisar antara 1.1-6.4oC.

Perubahan iklim akibat kegiatan manusia itu meningkatnya suhu udara yang berpengaruh terhadap kondisi parameter iklim lainnya.

Perubahan iklim mencakup perubahan dalam tekanan udara, arah dan kecepatan angin, dan curah hujan.

Di Indonesia saat perubahan musim ini menyebabkan suhu rata-rata tahunan menunjukkan peningkatan 0,3 derajat Celcius sejak tahun 1990, musim hujan datang lebih lambat, lebih singkat, namun curah hujan lebih intensif sehingga meningkatkan risiko banjir.

Variasi musiman dan cuaca ekstrim diduga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama di Selatan Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

Perubahan pada kadar penguapan air, dan kelembaban tanah akan berdampak pada sektor pertanian dan ketahanan pangan. Perubahan iklim akan menurunkan kesuburan tanah sekitar 2 persen sampai dengan 8 persen.

Melihat kondisi cuaca seperti ini maka hal itu bisa dikatakan sebuah tragedi baik dimusim hujan maupun dimusim kemarau, karena itu berbagai kalangan mengharapkan kewaspadaan semua pihak menyikapi kondisi demikian