KALIMANTAN KAYA AKAN KEHIDUPAN AMFIBI

katak Oleh Hasan Zainuddin
Berbicara tentang Pulau Kalimantan tidak akan ada habisnya. Salah satu pulau terbesar di dunia, pulau yang mempunyai ekoregion tersendiri karena diapit oleh dua benua dan dua samudra, pulau yang langsung berada dibawah garis katulistiwa.
Sehingga menempatkan pulau ini pada suatu keadaan iklimatis dan geografis yang khas. Lantai hutannya selalu basah, mempunyai banyak tipe vegetasi dan bahkan eksosistem, dari dataran rendah lahan basah hingga padang tundra diketinggian tempat jauh dari permukaan laut.
Dari tanah yang kaya hingga tanah yang miskin hara. Semua keadaan tersebut mengharuskan flora-fauna yang ada terspesialiasi dan berakhir pada jalur evolusi yang rumit, hingga terbentukklah spesies-spesies yang ada hingga saat ini yang sering dijuluki dengan “Keajaiban penciptaan.”
Amfibi adalah salah satu ciptaan penuh keajaiban yang mengisi ke khasan Kalimantan. Selain nilai endemisitas pada kelompok, mamalia, burung dan fauna invertebrata, Kalimantan juga mempunyai jumlah Amfibi yang cukup banyak bahkan mempunyai ke khasan tersendiri.
Hingga tahun 2005 peneliti beranggapan bahwa di Tanah Kalimantan setidaknya terdapat 184 jenis katak dan kodok. Dengan kemajuan tekhnologi pada bidang genetika memungkinkan ditemukannya spesies baru yang semakin memperkaya jumlah dan keragaman amfibi tersebut.
Peneliti hewan melata Biodiversitas Indonesia Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, Zainudin kepada ANTARA di Banjarmasin, Sabtu mengemukan itu seraya menyebutkan dari keanekaragaman amfibi di Indonesia penduduki peringkat delapan di dunia bahkan keanekaragaman amfibi Indonesia menduduki peringkat kedua di Asia setelah China.
Sedangkan di tingkat Asia Tenggara Indonesia menduduki urutan pertama sebagai negara dengan keanekaragaman amfibi tertinggi.
Di dunia dikenal tiga bangsa yang termasuk ke dalam kelas amfibi ini, yaitu Bangsa sesilia (amfibi yang bentuknya serupa cacing), caudata (salamander), dan anura (yang kita kenal sebagai katak dan kodok).
Amfibi yang umum hidup di Indonesia adalah amfibi dari kelas anura dan sesilia, namun amfibi dari kelas sesilia ini sulit untuk ditemukan karena kebiasaannya yang hidup dalam tanah.
Amfibi memegang peranan penting bagi kelangsungan ekosistem di Indonesia, karena mereka adalah makhluk yang sangat sensitif terhadap baik dan burungnya lingkungan yang menjadi habitatnya.
“Mereka sangat baik untuk dijadikan indikator perubahan lingkungan, terlebih lingkungan perairan, amfibi adalah kelompok hewan yang sangat sensitif” ujar Zainudin di kantronya.
Dalam penjelasannya lebih lanjut mengenai amfibi disebutkan amfibi mempunyai beberapa peranan penting yang terkait langsung dengan kelangsungan suatu ekosistem, dinataranya indikator sehatnya suatu lingkungan hidup
Perubahan lingkungan sangat berdampak pada kehidupan amfibi, terlebih lingkungan perairan.
Hal ini erat kaitannya dengan siklus hidup amfibi. Amfibi mempunyai siklus hidup di air dan didarat, sehingga sering disebut hewan yang hidup di dua alam. Telur yang telah dibuahi akan menetas menjadi berudu yang tumbuh dan berkembang pada habitat perairan, selama diperairan amfibi seperti katak dan kodok akan mengalami metamorfosis sempurna untuk mencapai tahap dewasa.
Apabila kondisi lingkungan kurang baik, kemungkinan terhambatnya metamorfosis akan semakin tinggi. Sehingga bisa saja berudu katak atau kodok mati sebelum mencapai tahap dewasa.
Isu terbaru adalah bermunculannya BD atau Batrachochytrium dendrobatidis adalah spesies fungus atau jamur mikroskopis yang dapat menyebabkan sitridiomikosis pada amfibi.
Seperti yang diketahui amfibi bernapas dengan memanfaatkan tiga organ pada tubuhnya yaitu paru-paru, kulit yang basah, dan selaput pada rongga mulut, BD akan menyebabkan kulit amfibi sperti gejala terbakar.
Amfibi yang terinfeksi BD akan mati karena terganggunya sistem pernapasan mereka. Banyak jenis amfibi kita di dunia yang terancam kepunahan oleh organisme ini. BD berkembang dengan sangat baik pada lingkungan yang tidak sehat” Jelas Zainudin.
Kontroler hama pertanian dan wabah DBD Amfibi adalah pembasmi hama alami, pakan amfibi yang kebanyakan adalah serangga membuat mereka menjadi kawan yang baik bagi petani. Dengan adanya amfibi di kawasan pertanian akan menciptakan pembasmi hama wereng dan belalang secara alamiah. Selain itu ia juga mampu mengontrol perkembangan nyamuk DBD yang berpotensi membahayan manusia.
Satwa ini bernilai ekonomis Indonesia adalah salah satu ekportir daging katak terbesar di dunia, beberapa spesies katak sawah seperti Rana catesbeiana, Fejervarya cancrivora, dan Limnonectes macrodon adalah spesies yang paling banyak dimanfaatkan sebagai komoditi ekspor daging katak yang menjanjikan.
Bahkan kemampuan ekspor daging katak Indonesia bisa mencapai puluhan ton pertahunnya. Namun Zainudin menyayangkan hal tersebut menurutnya, negara kita harus belajar dari India yang berhenti menjadi pemasok daging katak terbesar di dunia. Penangkapan berlebih untuk memenuhi komoditi ekspor menyebabkan peningkatan wabah pandemi deman berdarah di negara tersebut.
“Jangan sampai itu terjadi juga pada kita, ekspor boleh saja dilakukan namun dengan kuota penangkapan yang dibatasi” Tandasnya lagi.

 

Objek wisata

Selain burung sebagai objek wisata birdwatching, amfibi dan hewan melata lain juga dapat digunakan untuk meningkatkan pendapatan suatu daerah. Wisatawan dengan minat khusus dapat mengakses jalur ekowisata hewan melata dengan kegiatan herping pada lokasi yang menjadi habitat hewan melata tersebut.
Taman Nasional Gunung Ciremai Jawa Barat misalnya menjadikan kodok darah (Leptophryne cruentata) sebagai ikon wisata herping andalan mereka. Banyak wisatawan lokasl apalagi mancanegara yang rela merogoh kocek puluhan juta untuk melihat spesies itu di habitat alaminya.
Hal ini juga coba di adopsi Zainudin dan timnya, menurutnya wisatawan mulai banyak mengunjungi Kalimantan Selatan hanya untuk mencoba sensasi herping di hutan hujan tropis kita.
Namun seperti yang kita ketahui selama ini, alih fungsi lahan untuk perkebunan kelapa sawit sangat masif di Kalimantan. Ancaman tersebut belum termasuk dari sektor pertambangan, seperti batu bara, emas, pasir, batu kars hingga batu kali.
Sebagian besar lahan Kalimantan yang berjenis lahan gambut juga selalu terbakar sepanjang tahun. Bayangkan betapa banyaknya tantangan yang harus dihadapi amfibi untuk bertahan di hutan Kalimantan. Pada dasarnya kira akan mendapat banyak keuntungan dengan adanya amfibi dilingkungan kita.
“ini adalah fakta bukan sekedar bualan saya belaka” ujar Zainudin meyakinkan.

Iklan

WARGA LOKSADO NIKMATI “MANISNYA” HARGA KAYU MANIS

kayumanis Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin, Rombongan ekspedisi susur sungai Masyarakat Peduli Sungai (Melingai) dan Balai Wilayah Sungai (BWS) II menyususri sungai hulu Amandit bagian dari anak-anak Sunga Barito ke kewasan Loksadi, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, bagian dari Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan, pekan lalu.
Ekspedisi bertujuan melihat kondisi sungai dan hutan tersebut menysup ke pemukiman Suku Dayak Loksado dan tadinya membayangkan warga setempat masih tinggal di balai-balai (rumah adat yang dihuni puluhan kepala keluarga) dengan bangunan kayu, bambu, dan atap rumbia.
Ternyata perkiraan tersebut berbalik, karena rumah warga pedalaman itu sudah banyak yang berton, lantai berkeramik, di depan rumah dihiasi dengan antena prabola, dan kemana-mana sudah menggunakan sepeda motor, lantaran jalan ke arah sana walau kecil tapi sudah bisa dilalui pakai kendaraan roda dua tersebut.
Untuk menyusup ke pemukiman suku yang tadinya nomadin itu, rombongan harus melakukan perjalanan jauh, dari Banjarmasin ke Kandangan ibukota kabupaten, terus ke Loksado, baru kemudian pakai ojek kendaraan roda dua dengan tarif rp70 ribu per orang ke Desa Haratai.
Setibanyak di lokasi rombongan termasuk penulis melakukan pemantauan dan sekaligus melakukan pengukuran kualitas air di pe atas pegunungan tersebut, dan membawa sampel air tersebut yang kemudian untuk diteliti secara seksama.
Namun oleh petugas dari BWS II yang melakukan pengukuran awal, air di atas pegunungan itu sangat layak untuk diminum lantaran kadar keasamannya yang normal, jersih, dan sama sama sekali tak berbau.
Saat berada di kawasan tersebut penulis sempat berbincang dengan warga setempat yang pada awalnya dikira mereka hanya bekerja berladang berpindah.
Ternyata dari beberapa penuturan warga mereka sudah banyak yang meninggalkan ladang berpindah, dan kini usaha menetap dengan mengembangkan pohon kayu manis. Dan pohon tersebut mereka tanam setelah mengambil bibit yang ada dalam hutan itu sendiri.
Atas bimbingan petugas pertanian dan beberapa warga yang sempat studi banding ke Sumatera Barat, kini usaha mereka sudah membudaya sektor perkebunan kayu manis tersebut.
Setelah terjadi fluktuasi harga belakangan Warga suku Dayak Pedalaman Kalimantan Selatan, Pegunungan Meratus itu kini bisa tersenyum menikmati membaiknya harga kayu manis yang dibudidayakan mereka.
Bayah seorang ibu yang berada di beranda rumahnya sambil membersihkan kulit manis menuturkan bahwa sekarang masyarakat setempat lagi bergairah berproduksi kulit kayu manis lantaran harganya yang sekarang cukup tinggi.
“Sekarang harga kayu manis kering Rp30 ribu per kilogram, dibandingkan dengan menyadap karet hanya rp5 ribu per kilogram, jelas lebih menguntungkan mengelola kayu manis,”katanya.
Berdasarkan keterangan, warga Dayak Pedalaman Loksado ini sejak dulu dikenal sebagai peladang berpindah, namun kemudian mereka lebih memahami untuk hidup berkebun kemudian menanam karet, lalu menanam keminting (kemiri), terakhir membudidayakan kayu manis.
Selain usaha tersebut banyak juga warga setempat yang beternak babi, atau mengolah tanaman bambu menjadi barang berharga.
Menurut mereka usaha kayu manis lebih menjanjikan lantaran pemasarannya tidak sulit, setelah banyaknya pembeli berdatangan ke kampung mereka yang berjarak sekitar 30 km dari ibukota kabupaten HSS.
Namun harga kayu manis sering pula berflutuasi bahkan ada yang hanya rp8 ribu per kilogram, tetapi sekarang sudah mencapai rp30 ribu per kilogram, dengan demikian jika usaha kayu manis sehari mampu mengupas kulit kayu lalu mengeringkan sampai lima kilogram saja maka sudah mengantongi uang rp150 ribu kilogram.
Tetapi bagi pemilik lahan luas dengan kayu manis yang sudah banyak dan kayunya besar-besar, itu sehari bisa mencapai puluhan kilogram, kata Bayah.
Hasil pemantauan di lokasi tersebut memang terlihat dimana-mana warga banyak yang bekerja mengupas kalit kayu manis dari batangnya, sebagian lagi ibu-ibu kebanyakan membersihkan kulit tipis bagian luar dari kulit kayu manis itu, kemudian dijemur di halaman rumah.
Dari pemantauan banyak pula kayu manis yang sudah kering diikat-ikat per satu golongan, konon itu sudah siap di jual, dan para pembelinya datang dari kota kemudian mengangkutnya ke berbagai termasuk ke Pulau Jawa.

Kualitas Kedua
Berdasarkan catatan yang pernah di rilis Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup (BP2LHK Banjarbaru),_Kalimantan Selatan merupakan salah satu daerah pengembang tanaman kayu manis jenis C. Burmanii dengan kualitas unggulan, nomor dua setelah Sumatera.
Beberapa daerah penghasil kayu manis di Kalimantan Selatan adalah Loksado dan Padang Batung di Kabupaten Hulu Sungai Selatan yang berlokasi di sepanjang punggung Pegunungan Meratus.
Pengusahaan kayu manis di Loksado masih terbatas pada pengusahaan bagian kulit dari pohon kayu manisnya saja. Kegiatan yang dilakukan meliputi produksi, penjemuran kulit kayu manis, dan distribusi produk dari kulit kayu manis baik itu dalam bentuk gulungan (mentah) maupun sirup.
Meski demikian, sejak tahun 2010, kayu manis dari Loksado telah mendapatkan sertifikat organik SNI. Adanya sertifikasi ini cenderung berkontribusi dalam meningkatkan pendapatan petani sehingga memotivasi petani kayu manis untuk meningkatkan produktivitasnya.
Di kecamatan ini hampir sebagian besar masyarakat bermata pencaharian utama sebagai petani kayu manis. Pohon kayu manis di Loksado sebagian besar berada di luar kawasan hutan, yaitu di tanah atau kebun masyarakat yang berkembang secara sporadis dari hasil budidaya.
Pada awalnya produksi kayu manis dilakukan oleh masyarakat Dayak setempat dengan cara meramu kayu manis di dalam hutan sepenuhnya. Keberadaan pohon kayu manis di dalam hutan yang semakin langka, mendorong masyarakat Dayak untuk membudidayakannya.
Budidaya kayu manis baru dimulai sekitar tahun 2000-an dengan bantuan pemerintah daerah. Budidaya kayu manis yang dipusatkan di beberapa wilayah hutan balai adat di Kecamatan Loksado ini telah dikenal baik oleh masyarakat. Teknik penanaman dikembangkan dari biji dan cabutan anakan yang tumbuh di sekitar pohon kayu manis.
Sebelumnya kayu manis yang dipasarkan oleh masyarakat setempat berasal dari pohon kayu manis yang tumbuh alami di dalam hutan. Pohon kayu manis hanya bisa dipanen satu kali. Untuk mengambilnya, warga harus memasuki hutan belantara, berjalan hingga berjam – jam. Dari waktu ke waktu jarak yang ditempuh semakin jauh karena jumlah pohon kayu manis semakin berkurang.
Hanya saja, berbeda dengan masyarakat petani kayu manis di Kalimantan Selatan, cara pemanenan kayu manis di Jambi dan Sumatera Barat dinilai lebih lestari. Di Kalimantan Selatan, pohon kayu manis ditebang dahulu baru dikuliti, sedangkan di Jambi pemanenan dilakukan dengan menyisakanpotongan batang bawah (tunggul) yang akan dipelihara dan bisa bisa dipanen lagi 5-6 tahun kemudian.
Diinformasikan, tanaman kayu manis yang dikembangkan di Indonesia sebagian besar adalah jenis Cinnamomum burmanii Blume. Jenis kayu manis ini merupakan tanaman asli Indonesia. Hasil utama kayu manis adalah kulit batang dan dahan, sedang hasil ikutannya adalah ranting dan daun.
Komoditas ini selain digunakan sebagai rempah, hasil olahannya seperti minyak atsiri dan oleoresin banyak dimanfaatkan dalam industri-industri farmasi, kosmetik, makanan, minuman, rokok, dan sebagainya.

PROYEK “SIRING” JADIKAN BANJARMASIN METROPOLIS

Osiring21leh Hasan Zainuddin
Banjarmasin, 25/9 (Antara) – Dulu era tahun 80-an hingga 90-an orang dengar Kota Banjarmasin, ibukota Provinsi Kalimantan Selatan, pasti bayangannya penuh dengan kekumuhan, khususnya di bantaran sungai, terutama di Sungai Martapura yang terlihat jelas di pusat kota ini.
Kesan kumuh itu bukan saja banyaknya tumpukan sampah di bantaran sungai, tetapi begitu banyak bangunan rumah pemukiman penduduk yang terbuat dari kayu beratapkan daun rumbia tak beraturan tempatnya bahkan bangunannya agak ke tengah hingga menyita kawasan sungai.
Belum lagi di sana ini terlihat rumah-rumah lanting untuk home industri dan pemukiman , jugaterdapat jamban-jamban (wc terapung), bahkan tumpukan kayu galam dan kayu gergajian di beberapa lokasi.
Tetapi sejak sepuluh tahun terakhir ini kondisi bantaran sungai tersebut berbalik 190 derajat, dimana terlihat asri,penuh dengan taman-taman dengan aneka bunga, taman bermain, pohon-pohon penghijauan, lampu-lampu hias, toilet wisata, serta aneka fasilitas wisata lainnya termasuk dermaga wisatanya.
Di lokasi itupun terdapat panggung hiburan, lokasi pasar terapung, pusat kuliner aneka khas makanan lokal seperti nasi kuning, pusat jajanan jagung bakar, dan banyak lagi kegiatan yang menggambarkan lokasi itu sebagai objek wisata di kota “seribu sungai” Banjarmasin ini.
Bahkan di lokasi bantaran sungai juga terdapat fasilitas bangunan menara pandang sehingga jika orang nasik ke menara ini akan melihat Kota Banjarmasin berpenduduk sekitar 800 ribu jiwa ini dari atas.
Pemkot pun melengkapi kawasan bantaran sungai ini dengan monumen kera besar berwarna kuning kemerahan dan berbadan besar yakni monumen Bekantan (Nasalis larvatus).
Semua tersebut tercipta berkat gencarnya Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin, melalui kantor Dinas Sumber Daya Air dan Drainase (SDA) membangun proyek siring yang menjadikan kawasan tersebut menjadi wilayah “waterfront city.”
Walau kantor SDA sekarang berdasarkan aturan pemerintah hanya bidang di bawah Dinas PU, tetapi tak menurunkan semangat Pemkot untuk terus membenahi bantaran sungai melalui proyek siring.
Seperti diakui Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina saat dialog dengan penulis pada acara panderan gardu BanjarTV, pembangunan proyek siring merupakan prioritas untuk menciptakan Banjarmasin sebagai kota metpropolis.
Masalahnya, Banjarmasin tak miliki apa-apa seperti hutan, tambang, atau lahan pertanian, tapi hanya memiliki sungai, agar kota ini maju bagaimana sungai diolah untuk mendukung ekonomi masyarakat.
Dengan dasar pemikiran tersebut Pemkot Banjarmasin didukung Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan dan Pemerintah Pusat dalam hal ini Balai Besar Wilayah Sungai Kementerian Pekerjaan Umum (PU) bertekad membenahi bantaran sungai menjadi wilayah waterfron city.

siring-sudirman
Waterfront city adalah konsep pengembangan kota di tepian air baik itu tepi pantai, sungai ataupun danau.
Pengertian “waterfront” dalam Bahasa Indonesia secara harfiah adalah daerah tepi laut, bagian kota yang berbatasan dengan air, daerah pelabuhan.
Konsep waterfront city dikembangkan mengingat Kota Banjarmasin tergolong kota yang unik dibandingkan kota dimanapun, karena terdapat sungai yang membelah kota ini dengan posisi meliuk-liuk.
Berdasartkan catatan, tak kurang dari 102 sungai membelah kota seluas sekitar 98 km persegi ini, sungai-sungai tersebut merupakan anak dari dua sungai besar yakni Sungai Barito dan Sungai Martapura.
Pak Sutjiono warga Jakarta yang pernah ke Banjarmasin dalam kaitan pertemuan dengan direksi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bandarmasih, Kota Banjarmasin pernah berkomentar keberadaan sungai di Banjarmasin merupakan berkah.
Menurutnya, sungai di Banjarmasin jika dipelihara selain bisa menjadi sumber air baku untuk air bersih juga menjadi lokasi wisata.
Lihat juga kota Bangkok Thailand, Hongkong, Nederland Belanda, Vinessia Italia, atau Singapura dimana sungai ditata sedemikian rupa hingga menjadi sebuah objek wisata yang menarik telah berhasil menciptakan kota tersebut sebagai kota tujuan wisata dunia.
Melihat kenyataan tersebut sebenarnya Kota Banjarmasin bisa mengejar kemajuan kota kota ternama di dunia tersebut, tentu dengan memanfaatkan sungai dengan sebaik-baiknya.
Apalagi Banjarmasin memiliki jumlah sungai yang melebihi dari kota-kota yang disebut di atas, sebenarnya memiliki kelebihan tersendiri, tinggal bagaimana pemerintah kota ini menciptakannya lebih menarik lagi.

Mulai 2008
Pembangunan proyek siring untuk mengubah bantaran sungai yang kumuh menjadi asri dan indah tersebut, menuru pak Muryanta mantan Kepala Dinas SDA yang sekarang menjadi kepala kantor perijinan Kota Banjarmasin itu, dimulai sejak jauh-jauh hari. Banjarmasin sudah memikirkan bagaimana kota ini menjadi metropolis dengan mengandalkan sungai tersebut.
Karena itu bertahap membenahi sungai,mulai dengan pembebasan beberapa lokasi bantaran sungai yang kumuh menjadi sebuah kawasan pertamanan yang indah.
“Lihat saja tepian Sungai Martapura, baik yang di Jalan Sudirman, Jalan Piere Tendean, setelah dibebaskan dari pemukiman kumuh, sekarang sudah menjadi kawasan wisata yang menarik dan menjadi ikon kota,”tuturnya.
Kawasan yang akan dijadikan proyek siring di Banjarmasin tersebut sepanjang lima kilometer, kawasan tersebut akan menjadi Water Front City.
Karena di lokasi tersebut akan ditambah dengan fasiltas perkotaan, berupa pusat kuliner, pusat cendramata, pusat informasi wisata, pusat hiburan dan kedai-kedai atau cafe kecil yang menyemakan kota ini.
Kemudian Pemkot Banjarmasin juga bertahap pembebasan tepian Sungai Kerokan, Sungai Teluk Dalam, Sungai Kuripan, Sungai Jalan Veteran dan beberapa lokasi lain yang sudah menghabiskan dana tak sedikit.
Belum lagi pembangunan fasilitas berkaitan dengan kepariwisataan sungai tersebut, seperti penataan bantaran sungai dalam upaya menciptakan keindahan itu.
Pembenahan sungai tersebut karena arah pembangunan berkelanjutan kota ini yang dicanangkan sejak tahun 2009 lalu adalah berbasis sungai.
Menurutnya karena arah pembangunan berkelanjutan berbasis sungai maka tak ada pilihan lain selain bagaimana agar sungai-sungai yang banyak membelah kota ini bisa menjadi daya tarik ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat ke depannya.
Kemudian Pemkot juga membangun sejumlah dermaga pada titik strategis menghidupkan kepariwisataan sungai tersebut.
Dermaga dimaksud juga mengembalikan kejayaan angkutan sungai Kota Banjarmasin, seperti lokasi siring sungai Jalan Tendean dan Ujung Murung.
“Kalau di Banjarmasin ini terdapat 15 jembatan berarti yang kita bangun dermaga nantinya sebanyak 15 buah,” tutur Muryanta.
Maksudnya dengan adanya dermaga dekat jembatan itu maka akan memudahkan masyarakat bepergian kemana-mana, baik melalui angkutan sungai maupun angkutan darat.
Mereka yang melalui angkutan sungai bisa singgah di dermaga dekat jembatan kemudian bepergian lagi lewat angkutan darat kemana mereka mau, dengan demikian maka menghidupkan angkutan sungai maupun angkutan darat, tambahnya.
Berkat dari upaya tersebut ternyata Banjarmasin sekarang ini sudah menjadi destinasi wisata yang diminati, bahkan tak kurang dari lima ribu pengunjung setiap minggunya mendatangi kawasan bantaran sungai yang dulu kumuh yang menjadi menjadi kawasan wisata sungai dan Pemkot Banjarmasin pun bertekad menjadi kota ini sebagai kota terindah di Indonesia.

TUPAI TERKECIL DUNIA ADA DI PEGUNUNGAN MERATUS

 

 

tupai

Oleh Hasan Zainuddin
Pegunungan Meratus wilayah Provinsi Kalimantan Selatan yang termasuk hutan tropis basah bukan saja sebagai wilayah yang memproduksi oksigen bagi dunia ternyata juga mengandung keanekaragaman hayati flora dan fauna.
“Salah satu yang mengejutkan ternyatan di Pegunungan Meratus Kalsel ini terdapat seekor satwa unik dan langka, yakni tupai terkecil di dunia,”jelas Zainudin Basriansyah Peneliti Muda Pusat Studi & Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia (Biodiversitas Indonesia) -Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, Senin.
Disebutkannya, Kalimantan adalah pulau dengan kekayaan yang masih menjadi misteri hingga kini. Pasalnya hari demi hari terus saja ditemukan berbagai macam hal yang membuat kita tercengang.
Penemuan habitat baru bagi Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) yang secara ilmiah tidak pernah dilaporkan terdistribusi di wilayah Kalimantan Selatan beberapa tahun belakangan adalah suatu hal menggembirakan sekaligus memprihatinkan. Pasalnya lokasi yang menjadi habitat penemuan telah beralih fungsi.
Kalimantan mempunyai nilai endemisitas tersendiri dibandingkan dengan pulau-pulau lainnya di Indonesia. Hasil laporan ekoregion Kalimantan pada tahun 2011 menyatakan bahwa Kalimantan sangat kaya akan keberadaan mamalianya. Baik mamalia kecil hingga mamalia besar dapat ditemukan di Pulau ini.
Hingga kini tercatat sebanyak 222 jenis mamalia hidup disalah satu pulau terbesar ini, bahkan 44 jenis diantaranya endemik Kalimantan dan tidak dapat ditemui di daerah lain.
Ekspedisi Susur Sungai DAS Barito 2017 yang kolaborasi antara Masyarakat Peduli Sungai (Melingai) dan Balai Wilayah Sungai (BWS) II pada hari kedua pada tgl 16 September 2017 lalu berhasil menemukan keberadaan tupai terkecil di dunia.
Tupai terkecil yang berhasil ditemukan tersebut adalah sepesies Bornean pigmy squirrel atau dalam bahasa latin disebut (Exilisciurus exilis).
“Tupai jenis ini tersebar diseluruh Kalimantan, khususnya pada habitat >1000 meter dari permukaan laut. Meski persebarannya luas, namun hingga kini jenis ini secara ekologi masih menjadi misteri bagi peneliti” jelas Zainudin Basriansyah yang turut dalam tim ekspedisi tersebut.
Menurutnya , hingga saat ini terdapat enam subspesies tupai kecil di Asia, tiga dari subspesies itu terdistribusi di Borneo bahkan dua di antaranya bersifat endemik atau hanya dapat ditemukan di wilayah Kalimantan saja.
Tupai kecil yang ditemukan adalah satu dari dua spesies endemik tersebut. Dengan banyaknya jumlah spesies tupai kecil yang ada di wilayah Kalimantan maka Kalimantan berhak menyandang gelar sebagai tempat yang menjadi pusat informasi biologis dan ekologis tupai kecil di dunia.
“Data biologis maupun ekologis spesies E exilis ini masih sangat minim, sehingga temuan ini bisa kita jadikan dasar untuk melakukan riset lebih lanjut untuk menguak misteri dari kehidupan tupai terkecil di dunia ini” Pungkas Zainudin gembira.
Panjang total tubuh spesies ini hanya 73 mm dengan berat mencapai 17 gr. Pantas kiranya dia menyabet gelar tupai terkecil di dunia. Tubuhnya yang kecil dan ramping membuatnya mempunyai manuver yang gesit dan cepat diantara pepohonan dan lantai hutan. Hal tersebut menjadi suatu tantangan tersendiri bagi Tim peneliti untuk medokumentasikan temuan itu dengan baik.
Spesies ini adalah spesies dengan spesialisasi habitat di hutan dataran rendah. Temuan pada habitat lain bahwa ia mampu hidup hingga ketinggian 1.700 mdpl. Meski aktif di siang hari, jenis ini cukup sulit ditemukan pada habitat yang terusik.
“Jenis ini sebenarnya cenderung jinak dan bergerak mendekati kami, saat di temukan. Namun pergerakannya yang cepat menjadi hambatan tersendiri bagi kami mengingat kondisi tofografis lokasi temuan berada pada lembah berbatu besar dan licin” ungkap Zainudin.
Spesies ini banyak beraktivitas disiang menjelang sore hari, namun kami menemukan spesies ini pada pagi menjelang siang hari, kondisi saat itu lebih lembab karena hujan baru saja reda. Spesies ini diketemukan memakan sperpihan lumut kerak dan serangga kecil di bebatuan dan lantai hutan.
Spesies E. exilis ini adalah spesialis pemakan serpihan kulit dari batang pohon dan beberapa serangga kecil. Namun jenis ini bukanlah ancaman bagi kelestarian pohon dihutan pasalnya ia hanya mengkonsumsi permukaan bagian luar dari kulit pohon saja.
Hasil penelitian di Sumatera bahwa tupai-tupai pemakan serpihan kayu ini mengkonsumsi 17 jenis dari 41 keluarga pohon dari lokasi penelitian tersebut. Umumnya tumbuhan dari famili Euphobiaceae dan Fabaceae yang cenderung mempunyai getah.
“Kami mencoba menghubungkan temuan ini dengan masyarakat lokal sekitar, suku dayak meratus menyebut spesies E. exilis dengan istilah Kurahing dan mereka kerap melihat spesies ini mengkonsumsi getah yang keluar dari batang pohon. Ini adalah hal yang wajar dan bisa di tolelir “, kata Zainudin.
Pada dasarnya 3 bagian terluar suatu batang pohon terdiri atas lapisan selulosa, lignin dan suberin atau lilin yang menyelimuti permukaan batang suatu tanaman. Tiga bagian tersebut tidak dapat dikonsumsi begitu saja oleh suatu spesies jika mereka tidak mempunyai modifikasi atau cara khusus pada sistem pencernaanya.
“Temuan ini akan kami jadikan informasi awal mengenai habitat dan sebaran tupai terkecil di dunia tersebut, dan kami harap habitat yang menjadi temuan tetap terjaga kelestariannya mengingat spesies unik ini sangat mudah untuk terusik dengan bisingnya kehadiran manusia didaerah teritorinya”, jelas Ferry F. Hoesain penanggung jawab tim ekspedisi.
Meski spesies ini sangat mengagumkan, perlindungan terhadap tupai terkecil didunia ini masih belum jelas, bahkan status perlindungan yang dibuat oleh Lembaga Konservasi Internasional IUCN ( International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) cenderung turun. Pada tahun 1996 spesies ini berstatus Least concern ( kurang diperhatikan) dan pada tahun 2008 menurun statusnya menjadi Data deficient akibat kurangnya data mengenai spesies unik ini.
Di Indonesia juga tidak jauh berbeda, tidak ada UU yang mengatur perlindungan spesies ini. “Kita harus segera melengkapi data mengenai biologis maupun ekologis spesies eksotik ini, agar status perlindungannya dapat ditingkatkan”, kata Zainudin
Disisi lain Ferry berharaf Dalam upaya tersebut ia meminta kerjasama semua pemangku kepentingan didaerah ini, untuk terus turut menjaga kelestarian lingkungan yang menjadi habitat tupai terkecil tersebut. Ancaman utamanya adalah alih fungsi lahan baik dibidang perkebunan maupun pertambangan dan juga pembukaan lahan ladang berpindah serta kebakaran hutan.

BANJARMASIN MENUJU KOTA SUNGAI TERINDAH BERMOTTO “BAIMAN”

sungai banjarmasin.
Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin, “Saya tadi ke pasar terapung Lok Baintan, kemudian naik klotok menyusuri sungai, dari arah Banjarmasin, saya lihat sungainya sudah bersih dan indah sekali,” kata Wali Kota Solok, Sumatera Barat, H Zul Elfian saat menemui Wali Kota Banjarmasin H Ibnu Sina, di rumah dinas Wali Kota Banjarmasin, Jumat (22/9) tadi.
Wali Kota Solok inipun mengakui penataan sungai di Kota Banjarmasin sangat rapi. Mendengar pujian itu, Ibnu Sina hanya tersenyum. Kemudian menjelaskan, salah satu program Pemkot Banjarmasin sampai tahun 2025 adalah menjadikan Kota Banjarmasin sebagai Kota Sungai Terindah di Indonesia.
Tak hanya itu, orang nomor satu di kota berjuluk seribu sungai ini juga menerangkan tentang tata cara menjaga dan melestarikan sungai.
“Kami di sini memiliki kapal sapu-sapu. Jadi kalau ada sampah kiriman yang masuk peraiaran sungai Kota Banjarmasin, kapal itu langsung membersihkannya,” jelasnya.
Wali Kota Solok H Zul Elfian, berkunjung ke Kota Banjarmasin untuk melihat langsung keindahan sungai yang ada di kota berslogan Baiman ini.
“Kami ke Banjarmasin untuk sharing dengan Wali Kota Banjarmasin tentang penataan sungai. Di daerah kami juga banyak sungai. Makanya kami mengunjungi Banjarmasin,” ujarnya.
Pujian dari wali kota Solok tersebut merupakan pujian kesekian kalinya dari mereka-mereka yang sudah mengunjungi kota dengan julukan “kota seribu sungai” Banjarmasin tersebut.
Banjarmasin yang seluas sekitar 98 kilometer persegi ini memang memiliki 102 sungai yang membelah wilayah daratannya yang 60 cintemeter di bawah permukaan air laut saat air pasang dalam tersebut.
Tak ada kota lain di manapun di tanah air ini yang memiliki sungai sebanyak itu, apalagi terdapat dua sungai besar Barito dan Sungai Martapura, telah menjadikan wilayah yang dibangun sejak 491 tahun silam tersebut diselimuti oleh perairan. Hari jadi kota ini jatuh per 24 September.
Dengan dipenuhi perairan praktis Kota Banjarmasin tak memiliki sumber daya alam berupa hutan, maupun tambang, yang ada adalah sungai.
Kendati demikian tak membuat Kota Banjarmasin yang kini berpenduduk hampir 800 ribu jiwa tersebut merasa pesimis membangun kota ini, malah sebaliknya perairan yang luas itu dinilai sebagai berkah, makanya oleh Pemkot Banjarmasin yang dikomandani Wali Kota Ibnu Sina dan Wakil Wali Kota Hermansyah bertekad menjadikan sungai-sungai tersebut menjadi magnet ekonomi.
“Kita ingin menjadikan Kota Banjarmasin sebagai kota sungai terindah di Indonesia,” katanya kepada penulis saat dialog panderan gardu BanjarTV, beberapa hari lalu.
Bagaimana caranya menjadikan Kota Banjarmasin sebagai kota sungai terindah, salah satunya apa yang sudah dilakukan dengan pembangunan siring bantaran Sungai Martapura baik yang ada di Jalan Pire Tendean maupun di Jalan Sudirman yang sudah menghabiskan dana puluhan miliar rupiah.
Rencananya panjang siring yang berada di pusat kota yang mayoritas penduduk beragama Muslim ini adalah sepanjang lima kilometer, dengan panjang itu maka kawasan tersebut akan jadi semacam “Water Front City.” kata Ibnu Sina.
Untuk mendukung keindahan sungai-sungai tersebut, tambahnya banyak fasilitas yang dibangun dan rencana akan dibangun terus, salah satu yang sudah dibangun adalah dermaga Pasar Terapung Tendean dan terbukti kawasan ini menjadi ikon wisata yang setiap minggu didatangi tak kurang dari lima ribu pengunjung.
Selain terdapat ratusan jukung menjual aneka barang dagangan di pasar terapung yang didominasi oleh pedagang ibu-ibu berpakaian khas bertopi lebar (tanggui) dan berpupur dingin (masker tebal) hingga menjadi daya tarik bagi pendatang juga terdapat pula sedikitnya 80 buah klotok.
Klotok atau perahu bermesin ini menyediakan wisata susur Sungai Martapura dengan tarif relatif murah hanya Rp5000,- per sekali naik, dan jumlah itupun kadangkala tak mencukupi oleh begitu banyaknya permintaan wisatawan lokal dan wisatawan nusantara dan mancanegara untuk ikut susur sungai tersebut.
Kedepannya setiap siring akan dilengkapi pula oleh dermaga untuk turun naik penumpang klotok, tentu saja dermaga kontruksi beton tersebut akan dihubungkan oleh moda transportasi darat, tambah Ibnu Sina.
Hal lain menambah kesemarakan Siring Sungai tersebut setelah dibangunnya monumen kera besar endemik Kalimantan, takni kera Bekantan (Nasalislarvatus) ukuran besar, sehingga bagi siapa saja yang datang ke Banjarmasin lalu berfoto dengan latar belakang monumen Bekantan maka orang akan tahu kalau itu di Banjarmasin.
Kemudian di tepian sungai ini pula dilengkapi oleh rumah lanting- rumah lanting terapung yang diberi cat warna warni hingga bagaikan pelangi, dan begitu pula rumah di bantaran sungai diberi cat warna warni pula, terutama di kawasan kampung Seberang Masjid.
Fasilitas lain yang memperindah sungai setempat adanya kawasan industri kain sasirangan sekaligus lokasi penjualannya sebagai barang cendramata (souvenir) bagi wisatawan seperti yang ada di Sungai Jingah dan Kampung Seberang Masjid.
Tiap-tiap jembatan yang menyeberangi sungai kedepannya akan dibuat melengkung sehingga memudahkan kapal atau klotok hilir mudik menikmati wisata sungai ini,
apalagi di beberapa lokasi juga terdapat pusat-pusat kuliner yang menjajakan makanan khas Banjar “Soto Banjar,” “Nasi Kuning,” dan kue-kue Suku Banjar yang dikenal dengan istilah wadai 41 macam.
Taman-taman kota pun terus dibenahi di bantaran sungai tersebut, serta lampu-lampu hias sehingga menambah kesemarakan di saat malam hari khususnya di kawasan Siring Tendean.
“Lihat saja di kawasan Siring Tendean banyak ruang terbuka hijau yang teduh, sejuk, dan banyak tempat-tempat duduk, sehingga warga bisa bercengkrama seraya membaca buku atau menikmati aneka kuliner yang terdapat di kawasan itu,” kata Wakil Wali Kota Herman Syah menambahkan.
Tepian sungai ini juga terdapat Pusat Pelelangan Ikan (TPI) ikan air tawar dan kedepannya lokasi itu ditambah dengan pusat jajakan ikan bakar, silahkan nantinya bagi pengunjung pilih sendiri ikan di TPI lalu dibakar di lokasi itu, untuk menikmati ikan-ikan sungai seperti ikan haruan, pepuyu, sapat siam, lele, adungan, kelabau, baung, lampam, puyau, jelawat, pipih, patin, bakut, dan aneka ikan lainnya.
Tentu saja hal itu tak akan lengkap jika keamanannya terganggu, makanya kawasan-kawasan yang menjadi destinasi wisata sungai itu harus dijaga 24 jam baik oleh kepolisian, wakar-wakar yang dipilih, atau oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).
Dengan fasilitas-fasilitas tersebut kini telah mengangkat derajat kepariwisataan sungai Banjarmasin, dan belakangan Banjarmasin sudah menjadi incaran wisatawan, bahkan kegiatan-kegiatan skala nasional baik oleh masyarakat, swasta, dan pemerintah sudah seringkali digelar di Banjarmasin seraya menikmati wisata susur sungai tersebut.

Baiman

Mengenai Motto kota “Baiman” (barasih dan nyaman) itu sudah menjadi tekad, Pemkot menghendaki kota ini bersih dari sampah, baik di jalan raya, perkantoran, pasar, pemukiman, terutama sungai harus bersih.
Oleh karena itu Pemkot akan mengerahkan segala upaya melalui petugas kebersihan yang disebut “pasukan kuning” untuk selalu siap siaga menyapu kawasan-kawasan tersebut agar bebas dari sampah.
Untuk mendukung kebersihan tersebut Pemkot pun terus membenahi fasilitasnya seperti Tempat Pembungan Akhir (TPA) sampah, Tempat Pembuangan Sementara (TPS), termasuk menambah personil pasukan kuning dan armada-armada pengangkut sampah seperti truk, maupun armada lainnya.
Bukan itu saja, Pemkot kini berusaha menumbuhkembangkan komunitas-komunitas peduli lingkungan yang oriantasinya bagaimana kota ini menjadi bersih dan hijau, terutama melalui Forum Komunitas Hijau (FKH), maupun Masyarakat Peduli Sungai (Melingai).
Berkat upaya-upaya yang dilakukan tersebut, akhirnya selama dua tahun terakhir Banjarmasin memperoleh penghargaan kota terbersih Adipura, makanya Pemkot segera akan membangun tugu Adipura itu, kata Herman Syah.
Selain Adipura Banjarmasin juga telah meraih penghargaan kota sehat, lantaran kondisi kota yang bersih, aman, dan sehat untuk dihuni penduduk yang dicapai melalui terselenggaranya penerapan beberapa tatanan dengan kegiatan yang terintegrasi yang disepakati masyarakat dan pemerintah daerah.
Indikator kota sehat, antara lain melibatkan semua potensi masyarakat dalam forum dan Pokja kota sehat sebagai penggerak kegiatan-kegiatan, melakukan advokasi konsep kota sehat kepada penentu kebijakan, mengembangkan kota sehat yang sesuai dengan visi misi serta potensi daerah, mengembangkan informasi dan promosi yang tepat, serta meningkatkan potensi ekonomi.
“Tatanan kota sehat terdapat permukiman, sarana, dan prasarana umum, lalu lintas tertib, dan pelayanan transportasi, hutan sehat, serta kawasan industri dan perkantoran sehat,” tambahnya.
Penghargaan lainnya seperti kota layak anak, kota yang peduli terhadap perlindungan konsumen, kota dengan pelayanan publik yang baik, meraih WTP, pelaporan keuangan yang baik, serta beberapa penghargaan lainnya.
“Bukan saja kota dan lingkungan yang bersih, tetapi hati kita-kita juga harus bersih,” kata Herman Syah berkelakar.
Sementara motto kota yang nyaman, disebutkan oleh Hermansyah, kini terus dibenahi segala macam fasilitas pelayanan publik, dan memcetak PNS yang handal, serta mengedepankan pelayanan masyarakat, sehingga masyarakat di Banjarmasin nyaman dalam berurusan.
Selain itu masyarakat juga akan nyaman ingin beribat, masyaraikat nyaman untuk bersekolah, dan masyarakat juga nyaman dalam berusaha. Dengan upaya-upaya tersebut sehingga Banjarmasin yang bertekad menjadi Kota Sungai Terindah di Indonesia dengan motto “Baiman.” bisa terwujud.

DAS BARITO TAK SEJAYA DULU LAGI

 

barito
Oleh Hasan Zainuddin

Ekspedisi Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito telah usai dilaksanakan selama empat hari yang dilakukan oleh kelompok pecinta lingkungan Masyarakat Peduli Sungai (Melingai) serta Balai Wilayah Sungai (BWS) II dan peneliti melakukan observasi terhadap kondisi sungai terpanjang di Kalimantan Selatan tersebut.
Selain melakukan pengamatan dan pengambilan sampel air dari DAS Barito bagian hilir hingga hulu, tim ekspedisi juga memantau daerah aliran sungai yang terkait langsung dengan sungai Barito. Anak–anak sungai, sumber mata air yang bermuara ke sungai Barito turut menjadi titik fokus dalam ekspedisi ini.
Perjalanan sejauh 500 km lebih dari Banjarmasin menuju Puruk Cahu telah dilakukan untuk melihat kondisi Sungai Barito yang berhulu di lembah Pegunungan Muller dan bermuara di Laut jawa ini.
Sungai dengan panjang 909 kilometer yang mempunyai enam anak sungai utama ini mempunyai lebar rata-rata sepanjang 600-800 meter. Sungai Barito memegang peranan besar dalam peradaban masyarakat banua, baik dari segi kebudayaan, keagamaan, hingga perekonomian. Perannya sebagai tol perairan tentu tidak dapat digerus oleh kamajuan zaman.
Namun sangat disayangkan, keadaan Sungai Barito sudah tidak sejaya masa lalunya. Deforestasi kawasan sempadan sungai, abrasi, pendangkalan, pencemaran hingga hilangnya kawasan penyangga dan penampung air Sungai Barito sudah mencapai ambang batasnya.
“Selain kondisi perairannya, tim kami juga melakukan observasi pada indikator-indikator lain yang turut mempengaruhi kondisi sungai itu sendiri. Kondisi hutan, kenanekaragaman hayatinya, hingga kehidupan masyarakat bataran sungai juga turut kami kaji” ujar Ketua Ekspedisi DAS Barito 2017, Mohammad ARY.
Hasil observasi menunjukkan bahwa keadaan sungai barito saat ini sedang kritis. Sampah, cemaran dari kegiatan industri dan pertambangan diduga menjadi penyebab memburuknya kondisi sungai barito.
Kondisi tersebut tidak hanya terjadi pada aliran utama sungai barito, melainkan sudah terjadi pada anak-anak sungai hingga sumber-sumber air yang mengairi Sungai Barito itu sendiri.
Titik pengambilan sampel pada sungai Martapura, Riam Kiwa, Riam Kanan, Hantakan, Sungai Mahe dan beberapa sungai lainnya sepanjang Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah yang menunjukkan hasil yang mencengangkan.
“Kondisi keadaan air sungai yang berwarna keruh pekat, berbau amis, hingga rasa yang telah berubah merupakan indikasi utama bahwa sungai-sungai tersebut sudah tercemar,” kata Mohammad ARY.
“Tentunya hal ini akan kami kuatkan dengan hasil laboratorium dari sampel-sampel air yang telah kami kumpulkan pada setiap titik pengamatan”, tandas Ferry Hoesain selaku penanggung jawab tim ekspedisi menjelaskan keadaan Sungai Barito yang telah memprihatinkan.
“Tak luput kami juga menghimpun berbagai data dari pemerintah daerah terkait mengenai hasil pemantauan rutin mereka terhadap kualitas air DAS barito, kami harap ini akan menjadi satu kesatuan data yang mendukung temuan kami di lapangan” tambahnya lagi.
Selain sampel air dan kondisi kawasan sempadan sungai, data mengenai indikator biologis lingkungan darat dan perairan juga merupakan data utama yang dikumpulkan oleh tim peneliti. Dalam penentuan standar baku mutu dan kualitas air yang diperoleh dari sungai, terdapat setidaknya tiga indikator utama yang harus dikumpulkan, yaitu kondisi fisik, kimiawi dan biologis.
Untuk indikator fisik dan kimiawi dapat diacu berdasarkan standar baku mutu yang telah ada, sedangkan pemantauan terhadap indikator biologis harus dilakukan dengan prosedur yang berbeda.
“Indikator biologis yang terkait dengan sungai tentu sangat banyak sehingga memerlukan fokus dan waktu yang cukup lama. Pemantauan keadaan lingkungan, seperti keadaan vegetasi, flora dan fauna yang ada disekitar kawasan DAS terlebih yang menjadi bioindikator pencemaran harus diamati sedetail mungkin” jelas Zainudin Peneliti Muda Biodiversitas Indonesia yang juga tergabung dalam tim ekpedisi.
“Spesies bioindikator inilah yang dapat memberikan penjelasan kepada kita mengenai hasil pengukuran indikator fisik dan kimiawi lingkungan perairan yang telah diperoleh sebelumnya” ujarnya menerangkan.
Sungai yang sehat tentunya tidak terlepas pengaruhnya dari lingkungan dan keadaan ekosistem disekitarnya. Sampai saat ini kondisi sungai yang tercemar tidak bisa dilepaskan oleh kegiatan manusia.
Bahkan dapat dikatakan kondisi cemaran akan bertambah tinggi seiring dengan dekatnya sungai tersebut dengan pemukiman. Sebagai pengguna nomer satu masyarakat tentunya harus sadar bahwa menurunnya kualitas air yang mereka gunakan tidak terlepas dari kebiasaan buruk mereka dalam mengolah lingkungan.
Masyarakat tentunya harus faham betul tentang betapa pentingnya peran sungai terhadap kehidupan. Dengan demikian pencemaran yang dapat memperburuk kondisi sungai dapat diminimalisir.
Peran masyarakat menjadi penentu utama dalam memperbaiki dan menjaga sungai. Sungai sebagai nadi kehidupan, jalur perkembangan peradaban, dan bukti kemajuan zaman harus menjadi nilai-nilai yang dianut masyarakat dalam menumbuhkan kepeduliannya terhadap kelestarian sungai.

Usaha Ekonomi

Dalam perjalanan lima hari tim Melingai dan BWS yang tercatat 10 orang tersebut menyempatkan beraudensi dengan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Murung Raya (Mura) Kalimantan Tengah, Pujo Sarwono.
Dalam pengakuannya kepada tim bahwa Sungai Barito terutama bagian hulu sekarang sudah “sekarat” karena banyaknya digunakan oleh masyarakat untuk tempat usaha ekonomi, seperti pertambangan pasir serta pertambangan emas.
Jalur Sungai Barito Jarak antara Puruk Cahu-Sungai Kunyit dalam perjalanan sekitar tiga jam menggunakan spead boat ditemukan tak kurang dari seribu usaha ekonomi rakyat yang mengandalkan sungai tersebut.
Menurut Pujo Sarwono dengan adanya usaha ekonomi rakyat tersebut tentu telah merusak kondisi air Sungai Barito karena pasti terkontaminasi dengan bahan-bahan kimia yang biasa digunakan dalam usaha pertambangan, seperti mercuri.
Kondisi itu terjadi lantaran masyarakat menilai lebih menguntungkan usaha di sungai ketimbang di darat dalam upaya mencari sesuap nasi.
Masalah usaha rakyat hanya peladang berpindah, sementara pemerintah melarang mereka membakar lahan, sementara menyadap karet belakangan hargta komoditi itu terus turun tak mencukupi kebutuhan.
Mencari kayu pun akan bermasalah dengan hukum, akibatnya mereka lari ke sungai dan “menguyak-nguyak” dasar sungai untuk mencari butiran emas.
Padahal solusinya, kata Pujo tumbuhkanlah usaha rakyat di darat, umpamanya saja jika mereka dilarang berladang berpindah, maka cetaklah persawahan lahan kering di kawasan tersebut, sepertin yang ada di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Karena di lokasi ini hanya ada lahan kering tak ada lahan basah yang bisa diolah pertanian, padahal perhitungannya takmahal hanya sekitar rp25 juta per hektare dalam upaya mencetak sawah lahan kering tersebut.
“Saya yakin jika usaha ekonomi rakyat di darat seperti bertani lahan kering ini berkembang mereka tidak akan terjun ke sungai untuk mencari sesuap nasi, akhirnya sungai bisa terpelihara,” kata Pujo Sarwono.
Dalam kegiatan yang bertajuk “Ekspedisi Susur Sungai 2017” tersebut sekaligus untuk melakukan pengukuran kualitas air terhadap beberapa sungai yanbg termasuk bagian dari aliran Sungai Barito.
Susur sungai itu sendiri berlangsung mulai Jumat (15/9) hingga Senin Malam (18/9) diikuti oleh sepuluh anggota tim yang bertugas melakukan pengukuran kualitas air dan pengamatan terhadap kondisi hutan, sungai secara ekonologi maupun morfologinya.
Hasil dari kegiatan ini sebagai bahan awal yang nantinya dibawa ke dalam forum diskusi saat Kongres Sungai Indonesia (KSI) III yang dijadwalkan berlangsung di Banjarmasin, 1-4 November 2017 nanti.
Dalam perjalanan malam dan siang tersebut dimulai dari kawasan Sungai Tapin di PipItak Jaya, sekaligus melihat kawasan pembangunan Bendungan Pipitak Jaya dan kawasan yang rencana ditenggelamkan, di wilayah Kabupaten Tapin ini.
Dalam kegiatan di kawasan ini anggota tim juga melakukan pengukuran kualitas air sekaligus mengambil sampel air yang nantinya akan dibawa secara seksama ke laboratorium di Banjarmasin untuk mengetahui secara rinci kualitas sebenarnya.
Setelah di Pipitak Jaya tim ekspedisi melalui jalur hutan terus menuju Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, dan tim melakukan penjelajahan hutan di wilayah ini, selain melakukan pengukuran kualitas dan pengambilan sampel air untuk juga di bawa ke Banjarmasin.
Dalam penjelajahan di Hutan Loksado, banyak ditemukan aneka spicies tanaman khas hutan tropis basah, aneka tanaman bambu, aneka anggrek, aneka satwa termasuk beberapa katak yang terbilang langka, kata Zainuddin seorang peneliti reftil Universitas Lambung Mangkurat yang ikut dalam rombongan tersebut.
Saat di Loksado rombongan mengunjungi pemukiman Suku Dayak Loksado berbincang mengenei kehidupan mereka yang ternyata mereka cukup sejahtera dengan hasil budidaya kayu manis, kemiri, dan karet.
Setelah di Loksado tim terus meluncur tetap melalui jalan hutan ke kawasan Hantakan Kabupaten Hulu Sungai Tengah, dalam perjalanan pun terlihat masih banyak lahan hutan yang lebat, perladangan berpindah, dan kebun-kebun rakyat.
Di Hantakan pun rombongan mnelakukan pengukuran kualitas air sekaligus mengambil sampel air untuk diteliti lagi.
Setelah di Hantakan, tim terus ke Paringin mengambil contoh air sungai Balangan, dan terus ke Tanjung Tabalong, juga melakukan kegiatan yang sama kaitan dengan air.
Setelah ditanjung rombongan terus ke Sungai Barito Kota Muara Teweh juga mengambil samp;el air sungai setempat sekaligus menikmati wisata kampung pelangi.
Yakni kampung dengan rumah-rumah lanting di atas air yang bercat mencolok warna warni.
Selanjut ke Puruk Cahu, rombongan pun sempat beraudensi dengan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Murung raya (Mura) Kalteng pak Pujo dan memperoleh penjelasan mengenai kondisi air Sungai Barito yang menurutnya sudah mulai rusak akibat ribuan aktivitas penambangan pasir dan emas di hulu sungai tersebut.
Pak Pujo berharap pemerintah mengembangkan ekonomi rakyat di darat umpamanya mengembangkan pertanian gogo di dataran tinggi agar ekonomi rakyat meningkat sehingga mereka tidak lari untuk mencari rejeki ke sungai.
Dalam perjalanan tersebut menurut ketua tim Mohammad Ary cukup puas ada yang diperoleh sebagai gambaran di KSI nanti, dan dari itu akan ada deklarasi sungai menjadi beranda depan, dan akan memperjuangkan adanya lembaga khusus mengurusi sungai Badan Restorasi Sungai semacam Badan Restorasi Gambut.

MELINGAI DAN BWS EKSPEDISI SUNGAI

 

eksOleh Hasan Zainuddin

Banjarmasin ()- Sebuah organisasi lingkungan Masyarakat Peduli Sungai (Melingai) bersama Balai Wilayah Sungai (BWS) II, melakukan penjelajahan hutan sekaligus susur sungai untuk mengetahui kondisi sebenarnya saat ini mengenai hutan dan air.

Dalam kegiatan yang bertajuk “Ekspedisi Susur Sungai 2017” tersebut sekaligus untuk melakukan pengukuran kualitas air terhadap beberapa sungai yanbg termasuk bagian dari aliran Sungai Barito, kata ketua tim kegiatan Mohammad Ary, Rabu.
Susur sungai itu sendiri berlangsung mulai Jumat (15/9) hingga Senin Malam (18/9) diikuti oleh delapan anggota tim yang bertugas melakukan pengukuran kualitas air dan pengamatan terhadap kondisi hutan, sungai secara ekonologi maupun morfologinya.
Hasil dari kegiatan ini sebagai bahan awal yang nantinya dibawa ke dalam forum diskusi saat Kongres Sungai Indonesia (KSI) III yang dijadwalkan berlangsung di Banjarmasin, 1-4 November 2017 nanti.
Dalam perjalanan malam dan siang tersebut dimulai dari kawasan Sungai Tapin di PipItak Jaya, sekaligus melihat kawasan pembangunan Bendungan Pipitak Jaya dan kawasan yang rencana ditenggelamkan, di wilayah Kabupaten Tapin ini.
Dalam kegiatan di kawasan ini anggota tim juga melakukan pengukuran kualitas air sekaligus mengambil sampel air yang nantinya akan dibawa secara seksama ke laboratorium di Banjarmasin untuk mengetahui secara rinci kualitas sebenarnya.
Setelah di Pipitak Jaya tim ekspedisi melalui jalur hutan terus menuju Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, dan tim melakukan penjelajahan hutan di wilayah ini, selain melakukan pengukuran kualitas dan pengambilan sampel air untuk juga di bawa ke Banjarmasin.
Dalam penjelajahan di Hutan Loksado, banyak ditemukan aneka spicies tanaman khas hutan tropis basah, aneka tanaman bambu, aneka anggrek, aneka satwa termasuk beberapa katak yang terbilang langka, kata Zainuddin seorang peneliti reftil Universitas Lambung Mangkurat yang ikut dalam rombongan tersebut.
Saat di Loksado rombongan mengunjungi pemukiman Suku Dayak Loksado berbincang mengenei kehidupan mereka yang ternyata mereka cukup sejahtera dengan hasil budidaya kayu manis, kemiri, dan karet.
Setelah di Loksado tim terus meluncur tetap melalui jalan hutan ke kawasan Hantakan Kabupaten Hulu Sungai Tengah, dalam perjalanan pun terlihat masih banyak lahan hutan yang lebat, perladangan berpindah, dan kebun-kebun rakyat.
Di Hantakan pun rombongan mnelakukan pengukuran kualitas air sekaligus mengambil sampel air untuk diteliti lagi.
Setelah di Hantakan, tim terus ke Paringin mengambil contoh air sungai Balangan, dan terus ke Tanjung Tabalong, juga melakukan kegiatan yang sama kaitan dengan air.
Setelah ditanjung rombongan terus ke Sungai Barito Kota Muara Teweh juga mengambil samp;el air sungai setempat sekaligus menikmati wisata kampung pelangi.
Yakni kampung dengan rumah-rumah lanting di atas air yang bercat mencolok warna warni.
Selanjut ke Puruk Cahu, rombongan pun sempat beraudensi dengan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Murung raya (Mura) Kalteng pak Pujo dan memperoleh penjelasan mengenai kondisi air Sungai Barito yang menurutnya sudah mulai rusak akibat ribuan aktivitas penambangan pasir dan emas di hulu sungai tersebut.
Pak Pujo berharap pemerintah mengembangkan ekonomi rakyat di darat umpamanya mengembangkan pertanian gogo di dataran tinggi agar ekonomi rakyat meningkat sehingga mereka tidak lari untuk mencari rejeki ke sungai.
Dalam perjalanan tersebut menurut ketua tim Mohammad Ary cukup puas ada yang diperoleh sebagai gambaran di KSI nanti, dan dari itu akan ada deklarasi sungai menjadi beranda depan, dan akan memperjuangkan adanya lembaga khusus mengurusi sungai Badan Restorasi Sungai semacam Badan Restorasi Gambut.