ATRAKSI JUKUNG HIAS BANJARMASIN SEBUAH HIBURAN TAHUNAN

hias Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin, Hampir semua jalanan di pusat Kota Banjarmasin, Ibukota Provinsi Kalimantan Selatan, pada Sabtu malam (30/9) macet, karena saat itu semua warga kota ingin menyaksikan lomba jukung hias tanglong yang dipusatkan di Kota Martapura, persis pusat kota.
Atraksi yang digelar setiap tahun rangkaian hari jadi (Harjad) kota yang kini 2017 sudah berusia 491 tahun tersebut, selalu saja menjadi perhatian warga Banjarmasin dan sekitarnya, bahkan oleh para pendatang baik yang berasal dari Pulau Jawa, Sumatera, bahkan dari Malaysia.
Khususnya para pendatang keturunan Etnes Banjar yang sudah lama bermukim di berbagai wilayah nusantara dan mancanegara itu.
Atraksi yang berlangsung tahun ini pengunjungnya lebih membludak lagi, lantaran untuk menonton atraksi tersebut tak sesulit tahun-tahun sebelumnya setelah hampir seluruh bantaran sungai di kawasan tersebut sudah terbuka dan bebas dari pemukiman dan bangunan fisik lainnya.
Hal tersebut terjadi setelah belakangan ini Pemkot setempat mengenjot pekerjaan Siring sungai yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas tersebut layaknya “Water Front City” yang memiliki lapangan hijau yang terbuka arah ke sungai.
Apalagi atraksi lomba jukung hias yang berpusat di panggung terapung depan bangunan Menara Pandang tersebut dilengkapi dengan aneka lampu hias, lampu laser, dan aneka ornamen yang bernuansa budaya yang kesemuanya dilengkapi kerlap-kerlip lampu hias pula.
Panggung terapung pun kali ini lebih meriah setelah adanya band yang menampilkan artis-artis lokal bahkan juga artis nasional, gisel idol, yang ikut menyaksikan atraksi budaya dan atraksi wisata tersebut.
Belum lagi hiburan musik tradisional yang disebut “Musik Panting” yang seniman nya mendayu-dayu menyanyikan lagu-lagu berbahasa Banjar.
Atraksi seni mewarnai hiburan rakyat tersebut adalah tarian-tarian oleh seniman tari yang tampil bukan di panggung tapi justru di atas atap sebuah kapal motor yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga penampilan itu kian atraktif saja.
Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina dan Wakil Wali Kota Hermansyah, terlihat begitu gembira saat membuka lomba yang sudah diagendakan dan dipopulerkan ke antereo negeri sebagai destenasi wisata andalan kota yang mayoritas bermusim waga lokal etnes Banjar itu.
Wali Kota Ibnu Sina pun menyebutkan atraksi ini salah satu upaya dan keinginan Pemkot setempat sebagai kota sungai terindah di nusantara.
“Belum ada di Indonesia yang disebut sebuah kota sungai, kita memiliki 102 sungai dan kini kian dibenahi sehingga wajar jika kita menobatkan diri sebagai kota sungai terindah di indonesia,” katanya seraya ditepuk tangan hadirin termasuk pada pejabat SKPD lingkup Pemkot Banjarmasin, dan unsur Muspida.
Sementara Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Kota Banjarmasin Ikhsan Alhaq selaku penanggungjawab acara tersebut melaporkan bahwa lomba diikuti 31 peserta baik perahu bermesin mapun perahu tak bermesin.
Bagi mereka masing-masing kelompok memperebutkan hadiah puluhan juta rupiah plus piagam penghargaan, mereka dianjurkan memodifikasi sedemikian rupa perahu hiasnya tentu dengan sarat harus ada keseimbangan hiasan dan lampu layaknya tanglong dan tingkat kreativitasnya.
Menurut Ikhsan Alhaq yang dikendaki kreativitas perahu hias yang menampulkan suseuatu yang unik, menggambarkan rumah adat, menggambarkan binatang, atau bahkan yang melambangkan lokasi-lokasi wisata dunia, umpamanya ada bentuk perahu menara eiffel Paris.
Menurutnya kedepan atraksi ini kalau bisa tak lagi hanya menampilkan peserta lokal, tetapi regianal bahkan bisa menasional.
Menurut Ikhsan Alhaq, lomba jukung hias ini semestinya dari dulu hingga sekarang jangan seperti itu saja, harusnya lebih kreasi, lebih inovasi, dan lebih menarik, bukan saja bagi masyarakat setempat tetapi oleh para pendatang, khususnya wisatawan.
Jika lomba jukung hias tanglong ini kian menarik maka Pemkot Banjarmasin kian gencar lagi mempromosikan, dan akan menjadi kalender wisata tahunan yang diandalkan, tambahnya.
“Kita ingin nanti yang diundang bukan saja pendayung lokal dengan jukung hias tanglong dari Banjarmasin dan sekitarnya, kalau perlu kita undang secara nasional dimana daerah-daerah di indonesia dikenal ada sungainya,” katanya.
Seperti diundang warga Palembang, Makassar, beberapa kota di Jawa dan Sumatera lainnya, kalau perlu dibuka oleh Menteri Pariwisata, bahkan kalau lebih akbar lagi bisa di bukoa oleh Presiden.
Makanya mulai sekarang ayulah para seniman, para pembuat atau perajin perahu, dan pemerhati lainnya untuk bersama-sama mendesain lomba ini lebih akbar lagi, terutama mendesain bentuk perahu yang dilombakan agar lebih menarik.
Sebab jika even ini dikenal luas banyak sekali implikasinya, seperti banyaknya wisatawan hingga berdampak bagi perhotelan dan resuaran dan pedagang cendmata serta angkutan.
Kemudian perajin perahu juga pasti kian banyak pesasan sehingga tingkat kesejahteraan mereka bisa menikkat pula, demikian Ikhsan Alhaq.

Terang Benderang

Dalam atraksi di kota seluas 98 kilometer persegi dan berpenduduk sekitar 800 ribu jiwa tersebut telah mengubah sebuah Sungai Martaputa yang tadinya hanya gelap atau remang-remang kini menjadi terang benderang.
Dimana-mana terlihat perahu besar bermesin aneka lampu hias dan kreativitas tanglung berbentuk rumah banjar, berbentuk jembatan barito, berbentuk ikan kelabau, berbentuk perahu gandengan, berbentuk masjid, dan enaka bentuk lainnya.
Bahkan yang menjadi perhatian ada sebuah perahu berhias berbentuk binatang naga, terbuat dari botol kemasan bekas dan bahan bekas yang terbuat dari pelastik lainnya.
Apalagi bentuk binatang naga tersebut begitu mencolong warna lampunya dan kerlap kerlip seakan naga tersebut hidup dan bergerak, dengan demikian menjadi peserta ini di nobatkan oleh Wali Kota Ibnu Sina dan pejabat lainnya sebagai peserta favorit untuk perahu bermesin.
Satu lagi dikelompok perahu tak bermsenin dengan tema perahu gandengan juga memperoleh penilaian sebagai peserta favorit pula lantaran juga memanfdaatkan limbah pelastik menjadi perahu.
Setiap kali perahu hias itu yang dinilai bagus selalu disambut riuh rendah dan tepuk tangan oleh hadirin yang diperkirakan mencapai 10 ribu lebih yang memadati lokasi Siring Tendean dan Siring Sudirman.
Setelah lima dewan juri yang terdiri dari empat seniman dan seorang jurnalis tersebut maka keluar sebagai juara pertama untuk perahu hias bermesin dengan undian urut satu, sedangkan juara pertama untuk perahu hias tak bermesin jatuh ke nomor urut sebelas.
Selain juata satu, dua. dan tiga juga ada juara harapan satu sampai juara harapan tiga.
Melihat atraksi yang demikian ramai maka wali kota pun merasa puas dan yakin jika kedepan wilayahkan bakal menjadi sebuah kota sungai terindah di tanah air.

Iklan

BANJARMASIN MENUJU KOTA SUNGAI TERINDAH BERMOTTO “BAIMAN”

sungai banjarmasin.
Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin, “Saya tadi ke pasar terapung Lok Baintan, kemudian naik klotok menyusuri sungai, dari arah Banjarmasin, saya lihat sungainya sudah bersih dan indah sekali,” kata Wali Kota Solok, Sumatera Barat, H Zul Elfian saat menemui Wali Kota Banjarmasin H Ibnu Sina, di rumah dinas Wali Kota Banjarmasin, Jumat (22/9) tadi.
Wali Kota Solok inipun mengakui penataan sungai di Kota Banjarmasin sangat rapi. Mendengar pujian itu, Ibnu Sina hanya tersenyum. Kemudian menjelaskan, salah satu program Pemkot Banjarmasin sampai tahun 2025 adalah menjadikan Kota Banjarmasin sebagai Kota Sungai Terindah di Indonesia.
Tak hanya itu, orang nomor satu di kota berjuluk seribu sungai ini juga menerangkan tentang tata cara menjaga dan melestarikan sungai.
“Kami di sini memiliki kapal sapu-sapu. Jadi kalau ada sampah kiriman yang masuk peraiaran sungai Kota Banjarmasin, kapal itu langsung membersihkannya,” jelasnya.
Wali Kota Solok H Zul Elfian, berkunjung ke Kota Banjarmasin untuk melihat langsung keindahan sungai yang ada di kota berslogan Baiman ini.
“Kami ke Banjarmasin untuk sharing dengan Wali Kota Banjarmasin tentang penataan sungai. Di daerah kami juga banyak sungai. Makanya kami mengunjungi Banjarmasin,” ujarnya.
Pujian dari wali kota Solok tersebut merupakan pujian kesekian kalinya dari mereka-mereka yang sudah mengunjungi kota dengan julukan “kota seribu sungai” Banjarmasin tersebut.
Banjarmasin yang seluas sekitar 98 kilometer persegi ini memang memiliki 102 sungai yang membelah wilayah daratannya yang 60 cintemeter di bawah permukaan air laut saat air pasang dalam tersebut.
Tak ada kota lain di manapun di tanah air ini yang memiliki sungai sebanyak itu, apalagi terdapat dua sungai besar Barito dan Sungai Martapura, telah menjadikan wilayah yang dibangun sejak 491 tahun silam tersebut diselimuti oleh perairan. Hari jadi kota ini jatuh per 24 September.
Dengan dipenuhi perairan praktis Kota Banjarmasin tak memiliki sumber daya alam berupa hutan, maupun tambang, yang ada adalah sungai.
Kendati demikian tak membuat Kota Banjarmasin yang kini berpenduduk hampir 800 ribu jiwa tersebut merasa pesimis membangun kota ini, malah sebaliknya perairan yang luas itu dinilai sebagai berkah, makanya oleh Pemkot Banjarmasin yang dikomandani Wali Kota Ibnu Sina dan Wakil Wali Kota Hermansyah bertekad menjadikan sungai-sungai tersebut menjadi magnet ekonomi.
“Kita ingin menjadikan Kota Banjarmasin sebagai kota sungai terindah di Indonesia,” katanya kepada penulis saat dialog panderan gardu BanjarTV, beberapa hari lalu.
Bagaimana caranya menjadikan Kota Banjarmasin sebagai kota sungai terindah, salah satunya apa yang sudah dilakukan dengan pembangunan siring bantaran Sungai Martapura baik yang ada di Jalan Pire Tendean maupun di Jalan Sudirman yang sudah menghabiskan dana puluhan miliar rupiah.
Rencananya panjang siring yang berada di pusat kota yang mayoritas penduduk beragama Muslim ini adalah sepanjang lima kilometer, dengan panjang itu maka kawasan tersebut akan jadi semacam “Water Front City.” kata Ibnu Sina.
Untuk mendukung keindahan sungai-sungai tersebut, tambahnya banyak fasilitas yang dibangun dan rencana akan dibangun terus, salah satu yang sudah dibangun adalah dermaga Pasar Terapung Tendean dan terbukti kawasan ini menjadi ikon wisata yang setiap minggu didatangi tak kurang dari lima ribu pengunjung.
Selain terdapat ratusan jukung menjual aneka barang dagangan di pasar terapung yang didominasi oleh pedagang ibu-ibu berpakaian khas bertopi lebar (tanggui) dan berpupur dingin (masker tebal) hingga menjadi daya tarik bagi pendatang juga terdapat pula sedikitnya 80 buah klotok.
Klotok atau perahu bermesin ini menyediakan wisata susur Sungai Martapura dengan tarif relatif murah hanya Rp5000,- per sekali naik, dan jumlah itupun kadangkala tak mencukupi oleh begitu banyaknya permintaan wisatawan lokal dan wisatawan nusantara dan mancanegara untuk ikut susur sungai tersebut.
Kedepannya setiap siring akan dilengkapi pula oleh dermaga untuk turun naik penumpang klotok, tentu saja dermaga kontruksi beton tersebut akan dihubungkan oleh moda transportasi darat, tambah Ibnu Sina.
Hal lain menambah kesemarakan Siring Sungai tersebut setelah dibangunnya monumen kera besar endemik Kalimantan, takni kera Bekantan (Nasalislarvatus) ukuran besar, sehingga bagi siapa saja yang datang ke Banjarmasin lalu berfoto dengan latar belakang monumen Bekantan maka orang akan tahu kalau itu di Banjarmasin.
Kemudian di tepian sungai ini pula dilengkapi oleh rumah lanting- rumah lanting terapung yang diberi cat warna warni hingga bagaikan pelangi, dan begitu pula rumah di bantaran sungai diberi cat warna warni pula, terutama di kawasan kampung Seberang Masjid.
Fasilitas lain yang memperindah sungai setempat adanya kawasan industri kain sasirangan sekaligus lokasi penjualannya sebagai barang cendramata (souvenir) bagi wisatawan seperti yang ada di Sungai Jingah dan Kampung Seberang Masjid.
Tiap-tiap jembatan yang menyeberangi sungai kedepannya akan dibuat melengkung sehingga memudahkan kapal atau klotok hilir mudik menikmati wisata sungai ini,
apalagi di beberapa lokasi juga terdapat pusat-pusat kuliner yang menjajakan makanan khas Banjar “Soto Banjar,” “Nasi Kuning,” dan kue-kue Suku Banjar yang dikenal dengan istilah wadai 41 macam.
Taman-taman kota pun terus dibenahi di bantaran sungai tersebut, serta lampu-lampu hias sehingga menambah kesemarakan di saat malam hari khususnya di kawasan Siring Tendean.
“Lihat saja di kawasan Siring Tendean banyak ruang terbuka hijau yang teduh, sejuk, dan banyak tempat-tempat duduk, sehingga warga bisa bercengkrama seraya membaca buku atau menikmati aneka kuliner yang terdapat di kawasan itu,” kata Wakil Wali Kota Herman Syah menambahkan.
Tepian sungai ini juga terdapat Pusat Pelelangan Ikan (TPI) ikan air tawar dan kedepannya lokasi itu ditambah dengan pusat jajakan ikan bakar, silahkan nantinya bagi pengunjung pilih sendiri ikan di TPI lalu dibakar di lokasi itu, untuk menikmati ikan-ikan sungai seperti ikan haruan, pepuyu, sapat siam, lele, adungan, kelabau, baung, lampam, puyau, jelawat, pipih, patin, bakut, dan aneka ikan lainnya.
Tentu saja hal itu tak akan lengkap jika keamanannya terganggu, makanya kawasan-kawasan yang menjadi destinasi wisata sungai itu harus dijaga 24 jam baik oleh kepolisian, wakar-wakar yang dipilih, atau oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).
Dengan fasilitas-fasilitas tersebut kini telah mengangkat derajat kepariwisataan sungai Banjarmasin, dan belakangan Banjarmasin sudah menjadi incaran wisatawan, bahkan kegiatan-kegiatan skala nasional baik oleh masyarakat, swasta, dan pemerintah sudah seringkali digelar di Banjarmasin seraya menikmati wisata susur sungai tersebut.

Baiman

Mengenai Motto kota “Baiman” (barasih dan nyaman) itu sudah menjadi tekad, Pemkot menghendaki kota ini bersih dari sampah, baik di jalan raya, perkantoran, pasar, pemukiman, terutama sungai harus bersih.
Oleh karena itu Pemkot akan mengerahkan segala upaya melalui petugas kebersihan yang disebut “pasukan kuning” untuk selalu siap siaga menyapu kawasan-kawasan tersebut agar bebas dari sampah.
Untuk mendukung kebersihan tersebut Pemkot pun terus membenahi fasilitasnya seperti Tempat Pembungan Akhir (TPA) sampah, Tempat Pembuangan Sementara (TPS), termasuk menambah personil pasukan kuning dan armada-armada pengangkut sampah seperti truk, maupun armada lainnya.
Bukan itu saja, Pemkot kini berusaha menumbuhkembangkan komunitas-komunitas peduli lingkungan yang oriantasinya bagaimana kota ini menjadi bersih dan hijau, terutama melalui Forum Komunitas Hijau (FKH), maupun Masyarakat Peduli Sungai (Melingai).
Berkat upaya-upaya yang dilakukan tersebut, akhirnya selama dua tahun terakhir Banjarmasin memperoleh penghargaan kota terbersih Adipura, makanya Pemkot segera akan membangun tugu Adipura itu, kata Herman Syah.
Selain Adipura Banjarmasin juga telah meraih penghargaan kota sehat, lantaran kondisi kota yang bersih, aman, dan sehat untuk dihuni penduduk yang dicapai melalui terselenggaranya penerapan beberapa tatanan dengan kegiatan yang terintegrasi yang disepakati masyarakat dan pemerintah daerah.
Indikator kota sehat, antara lain melibatkan semua potensi masyarakat dalam forum dan Pokja kota sehat sebagai penggerak kegiatan-kegiatan, melakukan advokasi konsep kota sehat kepada penentu kebijakan, mengembangkan kota sehat yang sesuai dengan visi misi serta potensi daerah, mengembangkan informasi dan promosi yang tepat, serta meningkatkan potensi ekonomi.
“Tatanan kota sehat terdapat permukiman, sarana, dan prasarana umum, lalu lintas tertib, dan pelayanan transportasi, hutan sehat, serta kawasan industri dan perkantoran sehat,” tambahnya.
Penghargaan lainnya seperti kota layak anak, kota yang peduli terhadap perlindungan konsumen, kota dengan pelayanan publik yang baik, meraih WTP, pelaporan keuangan yang baik, serta beberapa penghargaan lainnya.
“Bukan saja kota dan lingkungan yang bersih, tetapi hati kita-kita juga harus bersih,” kata Herman Syah berkelakar.
Sementara motto kota yang nyaman, disebutkan oleh Hermansyah, kini terus dibenahi segala macam fasilitas pelayanan publik, dan memcetak PNS yang handal, serta mengedepankan pelayanan masyarakat, sehingga masyarakat di Banjarmasin nyaman dalam berurusan.
Selain itu masyarakat juga akan nyaman ingin beribat, masyaraikat nyaman untuk bersekolah, dan masyarakat juga nyaman dalam berusaha. Dengan upaya-upaya tersebut sehingga Banjarmasin yang bertekad menjadi Kota Sungai Terindah di Indonesia dengan motto “Baiman.” bisa terwujud.

DAS BARITO TAK SEJAYA DULU LAGI

 

barito
Oleh Hasan Zainuddin

Ekspedisi Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito telah usai dilaksanakan selama empat hari yang dilakukan oleh kelompok pecinta lingkungan Masyarakat Peduli Sungai (Melingai) serta Balai Wilayah Sungai (BWS) II dan peneliti melakukan observasi terhadap kondisi sungai terpanjang di Kalimantan Selatan tersebut.
Selain melakukan pengamatan dan pengambilan sampel air dari DAS Barito bagian hilir hingga hulu, tim ekspedisi juga memantau daerah aliran sungai yang terkait langsung dengan sungai Barito. Anak–anak sungai, sumber mata air yang bermuara ke sungai Barito turut menjadi titik fokus dalam ekspedisi ini.
Perjalanan sejauh 500 km lebih dari Banjarmasin menuju Puruk Cahu telah dilakukan untuk melihat kondisi Sungai Barito yang berhulu di lembah Pegunungan Muller dan bermuara di Laut jawa ini.
Sungai dengan panjang 909 kilometer yang mempunyai enam anak sungai utama ini mempunyai lebar rata-rata sepanjang 600-800 meter. Sungai Barito memegang peranan besar dalam peradaban masyarakat banua, baik dari segi kebudayaan, keagamaan, hingga perekonomian. Perannya sebagai tol perairan tentu tidak dapat digerus oleh kamajuan zaman.
Namun sangat disayangkan, keadaan Sungai Barito sudah tidak sejaya masa lalunya. Deforestasi kawasan sempadan sungai, abrasi, pendangkalan, pencemaran hingga hilangnya kawasan penyangga dan penampung air Sungai Barito sudah mencapai ambang batasnya.
“Selain kondisi perairannya, tim kami juga melakukan observasi pada indikator-indikator lain yang turut mempengaruhi kondisi sungai itu sendiri. Kondisi hutan, kenanekaragaman hayatinya, hingga kehidupan masyarakat bataran sungai juga turut kami kaji” ujar Ketua Ekspedisi DAS Barito 2017, Mohammad ARY.
Hasil observasi menunjukkan bahwa keadaan sungai barito saat ini sedang kritis. Sampah, cemaran dari kegiatan industri dan pertambangan diduga menjadi penyebab memburuknya kondisi sungai barito.
Kondisi tersebut tidak hanya terjadi pada aliran utama sungai barito, melainkan sudah terjadi pada anak-anak sungai hingga sumber-sumber air yang mengairi Sungai Barito itu sendiri.
Titik pengambilan sampel pada sungai Martapura, Riam Kiwa, Riam Kanan, Hantakan, Sungai Mahe dan beberapa sungai lainnya sepanjang Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah yang menunjukkan hasil yang mencengangkan.
“Kondisi keadaan air sungai yang berwarna keruh pekat, berbau amis, hingga rasa yang telah berubah merupakan indikasi utama bahwa sungai-sungai tersebut sudah tercemar,” kata Mohammad ARY.
“Tentunya hal ini akan kami kuatkan dengan hasil laboratorium dari sampel-sampel air yang telah kami kumpulkan pada setiap titik pengamatan”, tandas Ferry Hoesain selaku penanggung jawab tim ekspedisi menjelaskan keadaan Sungai Barito yang telah memprihatinkan.
“Tak luput kami juga menghimpun berbagai data dari pemerintah daerah terkait mengenai hasil pemantauan rutin mereka terhadap kualitas air DAS barito, kami harap ini akan menjadi satu kesatuan data yang mendukung temuan kami di lapangan” tambahnya lagi.
Selain sampel air dan kondisi kawasan sempadan sungai, data mengenai indikator biologis lingkungan darat dan perairan juga merupakan data utama yang dikumpulkan oleh tim peneliti. Dalam penentuan standar baku mutu dan kualitas air yang diperoleh dari sungai, terdapat setidaknya tiga indikator utama yang harus dikumpulkan, yaitu kondisi fisik, kimiawi dan biologis.
Untuk indikator fisik dan kimiawi dapat diacu berdasarkan standar baku mutu yang telah ada, sedangkan pemantauan terhadap indikator biologis harus dilakukan dengan prosedur yang berbeda.
“Indikator biologis yang terkait dengan sungai tentu sangat banyak sehingga memerlukan fokus dan waktu yang cukup lama. Pemantauan keadaan lingkungan, seperti keadaan vegetasi, flora dan fauna yang ada disekitar kawasan DAS terlebih yang menjadi bioindikator pencemaran harus diamati sedetail mungkin” jelas Zainudin Peneliti Muda Biodiversitas Indonesia yang juga tergabung dalam tim ekpedisi.
“Spesies bioindikator inilah yang dapat memberikan penjelasan kepada kita mengenai hasil pengukuran indikator fisik dan kimiawi lingkungan perairan yang telah diperoleh sebelumnya” ujarnya menerangkan.
Sungai yang sehat tentunya tidak terlepas pengaruhnya dari lingkungan dan keadaan ekosistem disekitarnya. Sampai saat ini kondisi sungai yang tercemar tidak bisa dilepaskan oleh kegiatan manusia.
Bahkan dapat dikatakan kondisi cemaran akan bertambah tinggi seiring dengan dekatnya sungai tersebut dengan pemukiman. Sebagai pengguna nomer satu masyarakat tentunya harus sadar bahwa menurunnya kualitas air yang mereka gunakan tidak terlepas dari kebiasaan buruk mereka dalam mengolah lingkungan.
Masyarakat tentunya harus faham betul tentang betapa pentingnya peran sungai terhadap kehidupan. Dengan demikian pencemaran yang dapat memperburuk kondisi sungai dapat diminimalisir.
Peran masyarakat menjadi penentu utama dalam memperbaiki dan menjaga sungai. Sungai sebagai nadi kehidupan, jalur perkembangan peradaban, dan bukti kemajuan zaman harus menjadi nilai-nilai yang dianut masyarakat dalam menumbuhkan kepeduliannya terhadap kelestarian sungai.

Usaha Ekonomi

Dalam perjalanan lima hari tim Melingai dan BWS yang tercatat 10 orang tersebut menyempatkan beraudensi dengan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Murung Raya (Mura) Kalimantan Tengah, Pujo Sarwono.
Dalam pengakuannya kepada tim bahwa Sungai Barito terutama bagian hulu sekarang sudah “sekarat” karena banyaknya digunakan oleh masyarakat untuk tempat usaha ekonomi, seperti pertambangan pasir serta pertambangan emas.
Jalur Sungai Barito Jarak antara Puruk Cahu-Sungai Kunyit dalam perjalanan sekitar tiga jam menggunakan spead boat ditemukan tak kurang dari seribu usaha ekonomi rakyat yang mengandalkan sungai tersebut.
Menurut Pujo Sarwono dengan adanya usaha ekonomi rakyat tersebut tentu telah merusak kondisi air Sungai Barito karena pasti terkontaminasi dengan bahan-bahan kimia yang biasa digunakan dalam usaha pertambangan, seperti mercuri.
Kondisi itu terjadi lantaran masyarakat menilai lebih menguntungkan usaha di sungai ketimbang di darat dalam upaya mencari sesuap nasi.
Masalah usaha rakyat hanya peladang berpindah, sementara pemerintah melarang mereka membakar lahan, sementara menyadap karet belakangan hargta komoditi itu terus turun tak mencukupi kebutuhan.
Mencari kayu pun akan bermasalah dengan hukum, akibatnya mereka lari ke sungai dan “menguyak-nguyak” dasar sungai untuk mencari butiran emas.
Padahal solusinya, kata Pujo tumbuhkanlah usaha rakyat di darat, umpamanya saja jika mereka dilarang berladang berpindah, maka cetaklah persawahan lahan kering di kawasan tersebut, sepertin yang ada di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Karena di lokasi ini hanya ada lahan kering tak ada lahan basah yang bisa diolah pertanian, padahal perhitungannya takmahal hanya sekitar rp25 juta per hektare dalam upaya mencetak sawah lahan kering tersebut.
“Saya yakin jika usaha ekonomi rakyat di darat seperti bertani lahan kering ini berkembang mereka tidak akan terjun ke sungai untuk mencari sesuap nasi, akhirnya sungai bisa terpelihara,” kata Pujo Sarwono.
Dalam kegiatan yang bertajuk “Ekspedisi Susur Sungai 2017” tersebut sekaligus untuk melakukan pengukuran kualitas air terhadap beberapa sungai yanbg termasuk bagian dari aliran Sungai Barito.
Susur sungai itu sendiri berlangsung mulai Jumat (15/9) hingga Senin Malam (18/9) diikuti oleh sepuluh anggota tim yang bertugas melakukan pengukuran kualitas air dan pengamatan terhadap kondisi hutan, sungai secara ekonologi maupun morfologinya.
Hasil dari kegiatan ini sebagai bahan awal yang nantinya dibawa ke dalam forum diskusi saat Kongres Sungai Indonesia (KSI) III yang dijadwalkan berlangsung di Banjarmasin, 1-4 November 2017 nanti.
Dalam perjalanan malam dan siang tersebut dimulai dari kawasan Sungai Tapin di PipItak Jaya, sekaligus melihat kawasan pembangunan Bendungan Pipitak Jaya dan kawasan yang rencana ditenggelamkan, di wilayah Kabupaten Tapin ini.
Dalam kegiatan di kawasan ini anggota tim juga melakukan pengukuran kualitas air sekaligus mengambil sampel air yang nantinya akan dibawa secara seksama ke laboratorium di Banjarmasin untuk mengetahui secara rinci kualitas sebenarnya.
Setelah di Pipitak Jaya tim ekspedisi melalui jalur hutan terus menuju Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, dan tim melakukan penjelajahan hutan di wilayah ini, selain melakukan pengukuran kualitas dan pengambilan sampel air untuk juga di bawa ke Banjarmasin.
Dalam penjelajahan di Hutan Loksado, banyak ditemukan aneka spicies tanaman khas hutan tropis basah, aneka tanaman bambu, aneka anggrek, aneka satwa termasuk beberapa katak yang terbilang langka, kata Zainuddin seorang peneliti reftil Universitas Lambung Mangkurat yang ikut dalam rombongan tersebut.
Saat di Loksado rombongan mengunjungi pemukiman Suku Dayak Loksado berbincang mengenei kehidupan mereka yang ternyata mereka cukup sejahtera dengan hasil budidaya kayu manis, kemiri, dan karet.
Setelah di Loksado tim terus meluncur tetap melalui jalan hutan ke kawasan Hantakan Kabupaten Hulu Sungai Tengah, dalam perjalanan pun terlihat masih banyak lahan hutan yang lebat, perladangan berpindah, dan kebun-kebun rakyat.
Di Hantakan pun rombongan mnelakukan pengukuran kualitas air sekaligus mengambil sampel air untuk diteliti lagi.
Setelah di Hantakan, tim terus ke Paringin mengambil contoh air sungai Balangan, dan terus ke Tanjung Tabalong, juga melakukan kegiatan yang sama kaitan dengan air.
Setelah ditanjung rombongan terus ke Sungai Barito Kota Muara Teweh juga mengambil samp;el air sungai setempat sekaligus menikmati wisata kampung pelangi.
Yakni kampung dengan rumah-rumah lanting di atas air yang bercat mencolok warna warni.
Selanjut ke Puruk Cahu, rombongan pun sempat beraudensi dengan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Murung raya (Mura) Kalteng pak Pujo dan memperoleh penjelasan mengenai kondisi air Sungai Barito yang menurutnya sudah mulai rusak akibat ribuan aktivitas penambangan pasir dan emas di hulu sungai tersebut.
Pak Pujo berharap pemerintah mengembangkan ekonomi rakyat di darat umpamanya mengembangkan pertanian gogo di dataran tinggi agar ekonomi rakyat meningkat sehingga mereka tidak lari untuk mencari rejeki ke sungai.
Dalam perjalanan tersebut menurut ketua tim Mohammad Ary cukup puas ada yang diperoleh sebagai gambaran di KSI nanti, dan dari itu akan ada deklarasi sungai menjadi beranda depan, dan akan memperjuangkan adanya lembaga khusus mengurusi sungai Badan Restorasi Sungai semacam Badan Restorasi Gambut.

BANJARMASIN DIJADIKAN WISATA DUNIA BAGAIKAN VENESIA

Oleh Hasan Zainuddin

pasar terapung

Bersantai di pinggir sungai Jalan Pire Tendean sambil menikmati jagung bakar menjadi pilihan sebagian warga untuk berekreasi di daerah yang berjuluk “kota seribu sungai”, Banjarmasin.

Sementara warga lainnya, memilih menikmati masakan atau kuliner khas Suku Banjar, soto banjar di warung Abang Amat atau soto bawah jembatan banua hanyar sambil menikmati musik panting jenis musik tradisional setempat.

Tidak sedikit pula warga justru memilih berziarah di makam Habib Basirih atau mengunjungi masjid tertua, Masjid Sultan Suriansyah, sebagai objek wisata keagamaannya, yang juga merupakan bagian dari wisata sungai di kota tua tersebut.

Para pendatang bahkan dari mancanegara lebih banyak memilih bercengkrama di Pasar Terapung Sungai Barito atau ke Pasar terapung Lokbaintan serta pasar Terapung buatan di depan Siring Pire Tendean.

Bagi wisatawan yang suka dengan binatang kota ini juga menyediaan objek wisata air, yaitu ke Pulau Kembang, tempat ratusan bahkan mungkin ribuan ekor kera abu-abu berekor panjang yang terbilang jinak dan bersahabat dengan wisatawan.

Wisatawan juga bisa menyaksikan bekantan (Nasalis larvatus) atau hidung panjang yang ada di Pulau Kaget, tidak jauh dari kota yang telah bertekad menjadikan keberadaan air sebagai modal utama membangun kepariwisataan itu.

Susur sungai menggunakan kelotok (perahu bermesin) atau spead boat juga sering kali menjadi pilihan wisatawan mengelilingi kota seraya menyaksikan aktivitas warga, seperti mandi, cuci, dan bersikat gigi di atas lanting.

Ada juga di antara mereka yang melihat industri perkayuan dan industri rumah tangga yang relatif banyak mereka temui di pesisir sungai, seperti di Desa Berangas, Alalak, Kuin, dan di Desa Mantuil.

Melihat kelebihan-kelebihan objek wisata itu membuat Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin memanfaatkannya sungai sebagai daya pikat bagi para pendatang, khususnya wisatawan dan juga investasi.

Kota Banjarmasin, Ibu Kota Provinsi Kalimantan Selatan, dinilai memiliki keunikan tersendiri dibandingkan kota mana pun di dunia ini karena kota yang hanya 92 kilometer persegi ini dibelah oleh sedikitnya 102 sungai.

Melihat kenyataan tersebut maka oleh pemkot dan pemprov setempat bertekad menjadikan kota ini kota wisata air. Bahkan, pemerintah Kementerian Pekerjaan Umum relatif banyak mengeluarkan dana untuk menciptakan wilayah ini menjadi wisata air berkelas dunia.

Untuk mewujudkan hal itu, kata Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Banjarmasin Fajar Desira, Kemen-PU dan sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) membentuk sebuah tim yang diturunkan ke Banjarmasin.

Tim terdiri atas beberapa orang itu sudah tiga kali meninjau dua lokasi di Banjarmasin, yakni Sungai Kelayan dan Sungai Kerokan, Jalan Jafri Zamzam, untuk diubah menjadi lokasi wisata sungai melalui program yang dinamaman Kemitraan Habitat.

Tim itu juga sudah beberapa kali melakukan kordinasi dan pertemuan dengan berbagai pihak di Banjarmasin, terakhir awal Agustus 2015.

Menurut Fajar, Banjarmasin harus bersyukur terpilih menjadi lokasi program Kemitraan Habitat tersebut karena wilayah ini dinilai unik. Kota lain yang juga menjadi pilihan, yakni Kota Malang (Jawa Timur) dan Bogor (Jawa Barat) karena kedua kota tersebut juga dinilai memiliki krasteristik kota yang unik.

Mengingat Banjarmasin memiliki banyak sungai, kota ini akan diciptakan benar-benar menjadi sebuah kota sungai di Indonesia. Dengan demikian, akan jelas arah pembangunan kota ini sehingga semua harus berkomitmen membangun kota ini menjadi kota pariwisata sungai.

Sungai, kata Fajar, bukan saja sebagai lokasi drainase dan sumber air minum, melainkan juga sebagai transportasi, komunikasi, dan sebagai objek perekonomian masyarakat, khususnya pariwisata.

Dalam upaya menciptakan program Kemitraan Habitat teresebut, pemerintah akan mengajak banyak kalangan, termasuk pengusaha, aktivis lingkungan, LSM, dan banyak organisasi lain yang berkomitmen menjadikan kota ini sebagai ikon kota sungai di Tanah Air.

Apalagi, pembangunan Kota Banjarmasin dalam sepuluh terakhir ini sudah banyak mengarah untuk mewujujdkan kota sungai tersebut, seperti pembangunan siring, fasilitas wisata sungai, termasuk pembuatan pasar terapung yang mulai mengubah wajah kota berpenduduk sekitar 800.000 jiwa ini menjadi kota pariwisata tersebut.

Program Kemitraan Habitat tersebut memfasilitasi penyelenggaraan permukiman dan perkotaan yang sedang dilaksanakan oleh masyarakat, termasuk dunia usaha mendorong terjadinya percepatan pembangunan dan pengembangan permukiman dan perkotaan di Indonesia yang lebih layak huni dan berkelanjutan.

Secara terpisah Kepala Dinas Sungai dan Drainase Kota Banjarmasin Muryanta mengatakan bahwa pemkot setempat telah menjadikan sungai sebagai modal untuk membangun kemajuan kota.

“Kami akan menjadikan sungai sebagai magnet ekonomi kota. Oleh karena itu, kami akan terus benahi sungai,” katanya.

Menurut Muryanta, wilayah kota minim sumber daya alam karena hampir tidak ditemukan potensi tambang maupun hutan dan hanya sedikit lahan pertanian.
Wilayahnya hampir semua dialiri oleh sungai besar dan kecil. Sungai besar, seperti Sungai Barito dan Sungai Martapura.

Kalau membangun kota mengandalkan potensi lain yang minim, jelas tidak mungkin. Oleh karena itu, potensi yang ada saja untuk meraih kemajuan tersebut.

“Kami akan menjadikan sungai sebagai penggerak ekonomi kota. Oleh karena itu, tidak ada pilihan lain bagaimana sungai-sungai tersebut menjadi daya tarik bagi kepariwisataan ke depan,” katanya.

Ia mencontohkan dua kota yang terbilang maju menjadikan sungai sebagai daya pikat ekonomi, seperti Denpasar atau Yogyakarta.

Begitu pula, kota lain di luar negeri, seperti Bangkok, Hong Kong, atau Venesia Italia, bahkan sekarang Malaysia mulai ikut-ikut membenahi sungai sebagai daya pihak ekonomi tersebut.
Melihat kenyataan itu, wajar bila Pemkot Banjarmasin bertekad menjadikan sungai sebagai daya pikat kepariwisataan dan keinginan tersebut agaknya memperoleh tanggapan positif dari Pemerintah Provinsi Kalsel maupun pemerintah pusat.

Untuk menjadikan wisata sungai, menurut dia, sudah miliar rupiah dana untuk pembangunan siring dan dermaga untuk fasilitas wisata di Jalan Sudirman dan Jalan Pire Tendean yang telah terbukti memberikan keindahan kota. Di kedua siring tersebut terlihat aneka tanaman hias, lampu-lampu hias, dan lokasi (tempat) bagi wisatawan untuk bercengkrama sambil menikmati jagung bakar dan makanan khas lainnya.

Untuk siring, akan dibangun sepanjang 10 kilometer. Akan tetapi, sekarang sudah terbangun sekitar 5 kilometer. Lokasi siring akan dijadikan aneka wisata, seperti wisatra kuliner, pusat cendera mata, permainan sungai, pasar terapung, dan restoran terapung.

Di siring pula, sekarang sedang dibangun sarana olahraga, sarana bermain sepeda, dan sedang dibangun monumen (patung) maskot Kalsel, bekantan atau kera hidung panjang (Nasalis larvatus), diharapkan menjadi ikon kota bagaikan patung singa di Singapura.

Dengan semua upaya tersebut, ke depan Banjarmasin sudah bisa menjadi objek wisata dunia bagaikan Venesia, Italia.

BANDARA INTERNASIONAL SOLUSI LONJAKAN ANGKUTAN UDARA KALSEL

Oleh Hasan Zainuddin

foto_600kantor-cabang-bandar-udara-internasional-syamsuddin-noor-mr-admin-77d4970a39ac632d6d2ed5c0b2e81bf94dc99c01syamsudin-noor
Banjarmasin, 30/9 (Antara) – Perkembangan angkutan udara melalui Bandar Udara Syamsudin Noor Banjarmasin, Kalimantan Selatan, begitu pesat seiring dengan perkembangan pembangunan dan dunia investasi di wilayah tersebut.

Meningkatnya perkembangan angkutan udara bisa dilihat dari pergerakan pesawat lepas landas dan mendarat di Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin, tahun 2013 sebanyak 32.083 dengan pertumbuhan 14 persen per tahun.

Sementara pergerakan penumpang datang maupun berangkat di Bandara Syamsudin Noor tercatat 3.848.263 orang, kata Kabid Lalu lintas Udara Finas Perhubungan Kalsel Ismail di kantornya Banjarmasin, Selasa.

Dengan jumlah pergerakan penumpang sebanyak itu pada tahun 2013 berarti ada pertumbuhan sebanyak 17,5 persen per tahun.

Melihat pertumbuhan pergerakan pesawat dan penumpang begitu besar di Bandara Syamsudin Noor tersebut menunjukan bahwa kapasitas Bandara tersebut belakangan ini tidak ideal lagi dalam upaya memberikan pelayahan yang baik dan nyaman.

Bandara itu sekarang hanya mampu menampung pergerakan penumpang sekitar satu juta penumpang saja per tahun, tetapi pada tahun 2013 sudah mencapai 3.848.263 orang.

Untuk jumlah masyarakat Kalsel yang ingin beribadah umrah ke Tanah Suci Mekkah saja yang harus melewati Bandara Syamsudin Noor terus meningkat pula.

Data tahun 2014 (Januari hingga Juli) warga yang berangkat umrah melalui Bandara tersebut sudah mencapai 11.598 orang suatu jumlah yang luar biasa banyaknya, atau rata-rata ada 1.656 orang per bulan berangkat umrah melalui lokasi ini.

“Jika diasumsikan mereka yang berangkat umrah sebanyak itu menggunakan pesawat besar jenis Airbus 330, maka dapat melakukan penerbangan lima kali penerbangan setiap bulannya,” katanya.

Belum lagi jumlah penerbangan haji. Jumlah mereka yang sudah mendaftar haji di Kalsel begitu membludak mungkin ratusan ribu orang, bagi yang ingin berangkat haji dan mendaftar sekarang itu antrean atau daftar tunggu hingga 24 tahun kedepan.

Potensi wisata yang juga begitu besar memasuki wilayah Kalsel via Bandara Syamsudin Noor. Berdasarkan data yang diambil dari Dinas Pariwisata Kalsel potensi wisata besar karena jumlah wisatawan dari mancanegara tahun 2013 sebanyak 25.503 orang.

Tentu saja jumlah wisatawan mancanegara tersebut akan lebih meningkat jika adanya rute penerbangan internasional langsung ke Banjarmasin.

Melihat kenyataan tersebut sudah sewajarnya Bandara tersebut Udara dikembangkan lebih luas lagi, terutama berbagai fasilitas, seperti terminal keberangkatan, terminal kedatangan, serta adanya lokasi untuk petugas imigrasi, kepabianan, serta karantina.

Jika semua sudah terwujud dengan baik maka wajar jika Bandara ini menjadi sebuah Bandara internasional.

Bandara internasional

Melihat perkembangan Bandara Syamsudin yang begitu pesat telah melahirkan keprihatinan banyak pihak dan kemudian berkeinginan untuk mengembangkan bandara tersebut dari Bandara domestik menjadi internasional.

Kepala Seksi Penerbangan Udara M Arief Dishub Kalsel menambahkan keinginan untuk menjadikan Bandara Syamsudin Noor menjadi Bandara internasional begitu kuat menyusul meningkatnya jumlah penumpang dan penerbangan, selain meningkatnya pertumbuhan ekonomi yang rata-rata di atas lima persen.

Dasar menjadikan bandara tersebut sebagai bandara internasional bisa dilihat dari Peraturan Menteri Perhubungan nomor KM 11 tahun 2010 tentang Tatanan Kebandarudaraan Nasional yang menyebutkan penggunaan Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin sebagai Bandara Internasional Haji.

Selain itu ada juga Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 69 tahun 2013 tentang Tatanan Kebandarudaraan Nasional yang menyebutkan penggunaan Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin sebagai bandara domistik.

Melihat kenyataan tersebut, pada tahun 2012 Pemerintah Provinsi Kalse) membuat analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) pengembangan Bandara Syamsudin Noor yang dirancang dijadikan bandara internasional.

Itu telah disahkan dengan dikeluarkannya Keputusan Menteri Lingkungan Hidupnomor 416 2013 tentang Izin Lingkungan Kegiatan Pengembangan Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin.

Rencana induk pengembangan Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin telah disahkan oleh Menteri Perhubungan melalui Keputusan Menteri Perhubungan nomot KP 27 tahun 2012.

Semua itu dilakukan setelah diketahui Bandara ini sejak tahun 2004 menjadi embarkasi haji untuk jemaah haji Kalsel dan Kalimantan Tengah (Kalteng).

Selain itu ada keseriusan Changi Airport Group untuk membuka rute penerbangan Singapura-Banjarmasin dan dinyatakan dengan mengundang pertemuan di Hotel Indonesia Kempinsky Jakarta tanggal 3 September 2014 antara Pemerintah Provinsi Kalsel dan beberapa airline yang siap menerbangi rute tersebut.

Hal lain adanya keinginan maskapai penerbangan Air Asia yang membuka rute penerbangan langsung Kuala Lumpur- Banjarmasin.

Melihat kenyataan itulah maka PT Angkasa Pura I sudah menjadwalkan pelaksanaan “groundbreaking” pembangunan terminal baru yang direncanakan pada pertengahan bulan Oktober 2014, seiring dalam proses pembangunan kelengkapan fasilitas CIQ (custom, immigration, quarantine) disiapkan dalam terminal transisi (renovasi terminal existing).

Kemudian Pemerintah Provinsi Kalsel telah pula berkoordinasi dengan Kantor Imigrasi Kelas I Banjarmasin, Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Banjarmasin Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin, Balai Karantina Ikan Kelas II Syamsudin Noor dan KPP Bea Cukai Tipe Madya Pabean B Banjarmasin untuk melengkapi fasilitas CIQ, sebagai pendukung menjadi bandara internasional, dimana semuanya menyatakan kesiapannya.

“Kalau terminal kedatangan dan keberangkatan direnovasi dengan standar bandara internasional, ditambah adanya fasilitas CIQ, maka bandara ini sudah bisa dinyatakan bandara internasional,” kata M Arief didampingi staf yang lain Hasby.

Menyinggung rencana pengembangan Bandara Syamsudin Noor disebutkankanya sesuai rencana induk prakiraan permintaan kebutuhan pelayanan penumpang dan kargo, sesuai Keputusan Menteri Perhubungan nomor KP 27 tahun 2012 tertanggal 6 Januari 2012.

Berdasarkan data yang diperoleh penulis menunjukkan rencana pengembangan bandara tersebut dilakukan secara bertahap.

Sebagai contoh saja antara lain landasan pacu (runway) eksisting 2010 2500×45 meter fasee I dan pada fese II menjadi 3.000×45 m2. Strip landas pacu (runway strip) 2740×300 m2 fase I dan pad afase II menjadi 3240×300 m2.

Penumpang per tahun internasional 14.990 jadi 26.844, penumpang domistik 2.576.471 m2 pada fase I menjadi 4.865.549 fase II menjadi 6.635.099 penumpang, transit 32.879 fase I 288.410 fase II menjadi 369.189.

Pergerakan pesawat internasional per tahun fase I 375 buah menjadi 671 pada fase II, pesawat domestik eksisting 2010 22.236 fase I 45.159 dan pada fase II 60.237 pesawat, kargo 22.297 ton per tahun pada fase I menjadi 44.000 ton dan fase II 60.000 ton per tahun.

Kemudian pesawat terbesar jenis B 767 fase I dan II bisa didarati B 747, landas hubung (taxiway) eksisting 2010 empat buah, fase I menjadi lima buah dan fase II jadi enam buah.

Bangunan terminal penumpang 9.043 m2 fase I menjadi 6.600 dan fase II jadi 50.00) m2, bangunan VI dari 150 jadi 400 m2, areal parkir publik 4.579 jadi 36,153 m2 dan kemudian fase II jadi 52.554 m2, areal parkir roda dua dari 330 jadi 495 m2, areal parkir taksi 2.764 m2 jadi 3.386 m2, areal parkir bus 1.250 m2, shelter taksi 800 jadi 1.200 m2, shelter bus 800 menjadi 1.200 m2.

Kantor administrasi 776 jadi 2.000 m2, menara pengawas lalu lintas udara 36 m2, kantor operasi 475 jadi 1.100 dan 1.300 m2, balai pertemuan 1.200 m2, fasilitas BMG 72 jadi 1.100 m2, “apron service building” 589 jadi 1.200 m2, “GSE maintenance” 2,800 m2, kantor administrator bandara 600 m2, fasilitas CIQ 2.000 m2, fasilitas ibadah (masjid) 2.500 m2, gardu PLN 200mk2.

Kemudian, gardu Telkom 200 m2, kantin karyawan 300 m2, bangunan sumber air 49 jadi 600 m2, “airport maintenance building” 554 men jadi 600 m2, poliklinik 300 m,2 bengkel kerja mekanikal dan elektrikal 600 m2, bangunan jasa boga (katering) 3.000 m2.

Walau ada keinginan kuat mengubah bandara ini menjadi bandara internasional ternyata pelaksanaannua tak segampang yang dibayangkan. Sebagai contoh, orosesnya terkendala alotnya pembebasan lahan masyarakat. Baru sebagian yang dibebaskan dari luas lahan 108 hektere yang akan dibebaskan.

Kendati adanya berbagai permasalah namun jika semua pihak sepakat untuk menciptakan bandara tersebut sebagai bandara internasional, maka kendala tersebut akan mudah diatasi sehingga daerah ini akan maju dan menjadi diperhitungkan baik secara nasional maupun internasional.

“LOMBA ANGKAT LUMPUR” TUMBUHKAN SEMANGAT SELAMATKAN SUNGAI

6

Oleh Hasan Zainuddin

 

Banjarmasin,18/9 (Antara)- Satu kelompok terdiri dari enam orang ibu berbaju kaos bercelana panjang begitu bersemangat masuk sungai, lalu tangan mereka begitu cekatan mengeruk lumpur di dasar sungai menggunakan sebuah keranjang rotan, lalu mengangkatnya ke bak sebuah truk yang sudah disediakan di dekat lokasi tersebut.
Tak peduli bedak putih yang berada di wajah para ibu tersebut berubah menghitam setelah hampir seluruh tubuh berlumuran lumpur warna hitam berasal dari sungai Jalan A Yani depan gedung RRI Banjarmasin.
Diiringi suara musik dangdut dari pengeras suara, para ibu-ibu tersebut terus bekerja sambil mengangkat lumpur dengan sesekali berjoget mengiringi irama musik yang dibunyikan panitia penyelanggara dalam lomba angkat lumpur yang kini sudah dibudayakan di wilayah yang berjuluk “kota dengan seribu sungai,” (city with a thousand rivers).
Kelompok ibu-ibu ini satu dari 32 kelompok yang menjadi peserta dalam kegiatan lumba angkat lumpur tahun 2014 yang diselenggarakan Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin, Kalimantan selatan, bekerjasama dengan TNI AL Banjarmasin, pada Minggu (14/9) lalu.
Lomba sendiri dibuka dibuka Komandan Lanal Banjarmasin Letkol Laut (P) Haris Bima Bayuseto didampingi oleh Wali Kota Banjarmasin H Muhidin.
Wali kota Banjarmasin menyatakan terus membudayakan lumba angkat lumpur ini, karena dengan lumba ini selain akan merevitalisasi sungai sekaligus akan menanamkan kecintaan sekitar 700 ribu poenduduk kota untuk memelihara sungai.
“Kedepan lumba angkat lumpur akan ditingkatkan lagi pesertanya diundang 52 kelurahan, kalau perlu akan memperoleh penghargaan MURI,” kata wali kota.
Dalam lomba keluar juara Kelompok PMK Sinar Daha berhak Rp10 juta rupiah, disusul kelompok Maya Daha Rp7,5 juta, lalu ketiga Kelompok Ikan Haruan Rp5 juta,tiga kelompok ini juga berhak atas tropy.
Lomba kaitan memperingati hari jadi Kota Banjarmasin ke- 448 dan HUT TNI AL ke- 69 tersebut bertujuan agar masyarakat lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan disekitarnya, khususnya memelihara sungai.

 

Revitalisasi Sungai

 

 

 

Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Drainase (SDA) Banjarmasin Muryanta yang ikut dalam kelompok lomba dengan tersengal-sengal menahan nafas lantaran kelelahan merasa gembira melihat antusias ratusan orang peserta dalam lomba ini.
“Ini tampaknya paling ramai dibandingkan dengan lumba angkat lumpur dari tahun-tahun sebelum-sebelumnya, moga kedepan kian ramai lagi,” kata Muryanta yang kelompoknya dari kantor SDA tidak memperoleh kemenangan dalam lomba tersebut.
Menurutnya,lumba ini berdampak positif dalam upaya pemerintah mensosialisasikan kebersihan sungai, karena kepedulian masyarakat memelihara sungai kunci sukses menghidupkan kembali keberadaan sungai sebagai sarana transportasi, drainase, dan kelestarian lingkungan hidup.
Di Banjarmasin sendiri terdapat 105 sungai besar dan kecil, yang besar Sungai Barito dan Sungai Martapura, dari jumlah itu sebanyak 30 persen sungai-sungai tersebut sudah mati karena sendimentasi, diserang gulma, dan karena tersita oleh pemukiman penduduk dan pembangunan perkotaan.
Apalagi kedepan dalam kebijakan Pemkot setempat akan menjadikan sungai sebagai urat nadi perekonomian, mengingat wilayah ini tidak memiliki sumberdaya alam seperti hutan, tambang, pertanian, perkebunan, dan lainnya.
Salah satu yang dipilih mendongkrak ekonomi adalah sungai, makanya sungai harus dihidupkan lagi sebagai sarana transportasi, khususnya dibenahi untuk dunia kepariwisataan mengingat kota ini sudah dikenal luas sebagai kota wisata sungai di tanah air.
Upaya membenahi sungai tersebut sudah dilakukan Pemkot Banjarmasin melalui kantor SDA yang menghabiskan dana sudah ratusan miliar rupiah lebih yang dilakukan secara bertahap.
Mulai dengan pembebasan beberapa lokasi bantaran sungai yang kumuh menjadi sebuah kawasan pertamanan yang indah.
“Lihat saja tepian Sungai Martapura, baik yang di Jalan Sudirman, Jalan Piere Tendean, setelah dibebaskan dari pemukiman kumuh, sekarang sudah menjadi kawasan wisata yang menarik dan menjadi ikon kota,”tuturnya.
Kemudian Pemkot Banjarmasin juga bertahap pembebasan tepian Sungai Kerokan, Sungai Teluk Dalam, Sungai Kuripan, Sungai Jalan Veteran dan beberapa lokasi lain yang sudah menghabiskan dana tak sedikit itu.
Pembenahan sungai tersebut karena arah pembangunan berkelanjutan kota ini yang dicanangkan sejak tahun 2009 lalu adalah berbasis sungai.
Dengan arah pembangunan berkelanjutan berbasis sungai maka tak ada pilihan lain selain bagaimana agar sungai-sungai bisa menjadi daya tarik ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat.
Pemkot juga membangun sejumlah dermaga pada titik strategis menghidupkan kepariwisataan sungai tersebut. Dermaga dimaksud juga mengembalikan kejayaan angkutan sungai Kota Banjarmasin, seperti lokasi siring sungai Jalan Tendean dan Ujung Murung.
“Kalau di Banjarmasin ini terdapat 15 jembatan berarti yang kita bangun dermaga nantinya sebanyak 15 buah,” tutur Muryanta.
Maksudnya dengan adanya dermaga dekat jembatan itu maka akan memudahkan masyarakat bepergian kemana-mana, baik melalui angkutan sungai maupun angkutan darat.
Mereka yang melalui angkutan sungai bisa singgah di dermaga dekat jembatan kemudian bepergian lagi lewat angkutan darat kemana mereka mau, dengan demikian maka menghidupkan angkutan sungai maupun angkutan darat, tambahnya.
Mengenai pembangunan siring sebagai lokasi “waterforont city” menuju kota metropolis akan memanjang hingga lima kilometer, yang diyakininya selesai 10 tahun, padahal target sebelumnya itu baru bisa dikerjakan selama 25 tahun.
Optimistis mampu merampungkan proyek tersebut didasari dengan kenyataan yang ada selama lima tahun terakhir ini saja sudah dibangun tiga kilometer. Tiga kilometer tersebut seperti sepanjang siring di Jalan Piere Tendean, eks SMP-6, serta Jalan Sudirman.
Tinggal penyelasaian antara Siring eks SMP 6 ke pekapuran hingga ke Jalan RK Ilir tepatnya hingga Tempat Pendaratan Ikan (TPI) air tawar Jalan RK Ilir,tambahnya.
Tiga kilometer proyek siring tersebut sudah menghabiskan dana sedikitnya Rp75 miliar, sebagian besar atau Rp60 miliar berasal dari dana APBN melalui Balai Besar Sungai Kementerian PU, sisanya melalui APBD Pemprov Kalsel, serta APBD Kota Banjarmasin.
Untuk menyelasaikan sepanjang lima kilometer proyek siring tersebut maka dibutuhkan dana sedikitnya Rp150 miliar lagi, katanya seraya menyebutkan bahwa proyek siring dikerjakan sejak tahun 2008.
“Kami akan lanjutkan pembangunan siring Sungai Martapura, agar kota kita tambah indah dan nyaman, hingga nantinya terdapat pusat kuliner ketupat seperti di Pekapuran serta pusat cendramata kain Sasirangan di kampung Seberang Masjid,” tambah Muryanta.
Apalagi sekarang sedang diselesaikan proyek menara pandang Rp14 miliar berlantai empat yang berarsitektur khas budaya Banjar di lokasi siring Pire Tendean menambah kesemarakan kota yang berada paling selatan pulau terbesar nusantara ini.
Kawasan lain yang segera dibenahi wisata sungai sebagai sentra kuliner, yakni di Desa Pekapuran, khususnya ketupat mengingat di lokasi tersebut banyak sekali perajin makanan tersebut. Jika terbangun siring mempermudah wisatawan mendatangi sentra kuliner ketupat baik melalui sungai maupun melalui darat.
Pembangunan siring Desa Pekapuran tak masalah karena dana akan diperoleh bantuan Balai Besar Sungai Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Tinggal bagaimana mendanai pembebasan terhadap bangunan lama atau pemukiman penduduk wilayah itu, antara Jembatan Dewi terus ke Pekapuran atau menmyambung siring terdahulu.
Di Desa Pekapuran banyak perajin ketupat menyebar di lingkungan RT 1, RT 2, RT 3, RT 4, RT 5, RT 6, hingga lingkungan RT 7. Tadinya membuat ketupat hanya penduduk asli setempat, tetapi setelah potensi ekonomi membuat ketupat begitu menjanjikan sehingga belakangan banyak pendatang yang juga ikut-ikutan menjadi perajin ketupat.
Di desa tersebut bukan saja mereka yang hanya mengayam daun kelapa dan daun nifah menjadi kulit ketupat, tetapi tak sedikit yang menjadi pedagang grosir, pedagang eceran, sampai mereka yang bertindak sebagai pencari bahan baku daun kelapa dan daun nifah.
Kawasan tersebut ramai pengunjung untuk membeli ketupat, apalagi jika menjelang idul Fitri dan Idul Adha.
Selain itu Pemkot juga membangun wisata bantaran sungai Desa Seberang Masjid
sebagai kawasan cendramata Kain Sasirangan, serta pusat souvenir lainhya.
Bila semua fasilitas wisata sungai dibenahi termasuk penyediaan sarana angkutan seperti kapal-kapal wisata, spead boat, klotok, dan pembenahan pasar terapung, pemukiman terapung, industri terapung, dan kehidupan sungai lainnya ditambah akomodasi penginapan yang memadai maka akan mewujudkan sungai sebagai penggerak ekonomi masyarakat melalui dunia kepariwisataan.

 

2 cren

PELABUHAN INDONESIA BAIK PERKUAT IKON NEGARA MARITIM
Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin()- Negara Indonesia yang memiliki belasan ribu buah pulau hingga negara ini berjuluk sebagai negara maritim di dunia.
Anak bangsa ini pun sejak dulu dikenal pula sebagai bangsa pelaut, lantaran banyak anak bangsa ini yang mencari penghidupan di laut.
Namun julukan sebagai negara maritim tak diimbangi dengan kemajuan tehnologi menggali potensi kelautan, termasuk meningkatkan dunia kepelabuhanan yang tangguh yang bisa mendongkrak kemakmuran masyarakatnya.
Image pelabuhan Indonesia selama ini memang buruk, puluhan tahun keberadaan pelabuhan Indonesia tidak pernah maksimal dalam pengelolaannya. Kapasitas pelabuhan kalah dari pelabuhan negeri tetangga.
Kelemahan itu justru menjadi berkah buat bagi negara lain khususnya negara-negara tetangga. Potensi devisa menguap ke negara-negara lain yang bertetangga dengan Indonesia.
Potensi kepalabuhanan Indonesia begitu besar, dua pertiga wilayah Indonesia berupa perairan, posisi negeri ini berada di persilangan rute perdagangan dunia, yang bisa memberikan peluang emas untuk sebuah kemajuan bangsa.
Tetapi kenyataan yang ada bangsa ini tetap saja menjadi sebuah negara tertinggal, sebagai negara maritim sudah selayaknya bangsa ini menggali potensi kepelabuhanan yang maksimal, setidaknya untuk memudahkan berbagai produk ekonomi termasuk produk kelautan dan perikanan, pertanian, perkebunan, pertambangan, ke berbagai negara lain.
Gimana mau mensuplai produk ekonomi seperti tersebut di atas untuk bongkar muat saja harus antri berhar-hari bahkan berminggu-minggu, sehingga kalau mengapalkan sebuah produk pertanian seperti buah saja, maka sempat busuk ditempat sebelum sampai ke tujuan.
Sebuah data diperoleh dari World Economic Forum dalam laporan ‘The Global Competitiveness Report 2011-2012’ menyebutkan, kualitas infrastruktur pelabuhan Indonesia buruk. Berada di peringkat ke-103.
Dibanding negara anggota ASEAN lainnya, Indonesia jauh tertinggal. Malaysia saja menempati urutan ke-15, Singapura peringkat pertama, dan Thailand ke-47.
Rendahnya rating pelabuhan Indonesia tidak terlepas akibat pelayanan bongkar muat barang yang tidak efektif dan efisien. Padahal, pelabuhan sebagai image perekonomian negara di mata dunia internasional.
Ambil saja contoh pelabuhan Trisakti Banjarmasin, Kalimantan Selatan, dimana untuk bongkar muat harus rela dan bersabar antri berhari-hari bahkan berminggu-minggu, lantaran kapasitas pelabuhan yang tidak mampu menampung kapal sandar secara bersamaan, sehingga kapal harus menunggu giliran.
Untuk menunggu giliran begitu lama tentu menelan biaya tinggi bagi operasional sebuah kapal, sehingga lokasi ini bukan sebuah pelabuhan yang menjadi pilihan bagi usaha bongkar muat bagi perkapalan.
Kondisi yang terjadi di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin bisa jadi sebuah cerminan dunia kepelabuhanan rata-rata di Indonesia, yang sejak dulu dikatakan sebagai negara maritim tersebut.
Itu baru persoalan kapasitas pelabuhan, belum lagi persoalan lain yang terjadi di Trisakti Banjarmasin, dimana lokasi pelabuhan ini berada di aliran sungai yang dangkal yakni Sungai Barito.
Kondisi buruk di Sungai Barito berada di alur muara sungai yang terjadi pendangkalan akibat sendimentasi lumpur yang parah, setelah terjadi kerusakan hutan di hulu sungai yang membawa partikel lumpur ke sungai terus larut ke muara hingga terjadi pendangkalan tersebut.
Puluhan miliar bahkan ratusan miluar rupiah, hanya untuk mengeruk lumpur di muara sungai agar kapal bisa lalu-lalang di pelabuhanm tersebut, kalau tidak dikeruk jangan harap pelabuhan ini bisa hidup sebagai pintu gerbang perekonomian Kalimantan.
trisakti

Sejarah

Berdasarkan sejarahnya keberadaan Pelabuhan Banjarmasin dikenal sejak abad XIV dan letak pelabuhannya ditepi Sungai Barito dengan nama Marapian, kemudian berpindah ke Marabahan dan berpindah lagi ke sungai Martapura dengan nama Pelabuhan Martapura.
Pada tahun 1925 dikeluarkan beslit Gubernur Jenderal No 19 tanggal 25 Nopember 1925 yang kemudian diperbaiki dengan beslit No 14 tanggal 17 Oktober 1938 Staatblad No 616/1938 pengukuhan pengelolaan Pelabuhan Martapura (Lama).
Pada tahun 1961 mulai dibangun Pelabuhan Trisakti di Sungai Barito, mengingat daya tampung Pelabuhan Martapura (Lama) tidak memadai lagi.
Pada tanggal 10 September 1965 diresmikan pemakaian Pelabuhan baru dengan nama Pelabuhan Trisakti Banjarmasin atau disebut Pelabuhan Banjarmasin.
Daerah lingkungan kerja pelabuhan perairan sluas 95 hektare, daerah lingkungan kepentingan pelabuhan perairan 115 hektare, dan ditetapkan dengan SK bersama Menteri Perhubungan dan Menteri Dalam Negeri No 14 tahun 1990.
Pelabuhan Trisakti berada di belahan kota Banjarmasin ibukota Propinsi Kalimantan Selatan, terletak di tepi Sungai Barito,sekitar 20 mil dari muara Sungai Barito pada posisi 03″ 20″ 18″ LS, 114″ 34″ 48″ BT.
Pelabuhan Banjarmasin merupakan pendukung utama transportasi laut yang secara langsung maupun tidak langsung berperan aktif dalam pembangunan ekonomi Propinsi Kalimantan Selatan.
Perkembangan pelabuhan ini memang terus meningkat, fasilitas pun terus dibangun, seperti dermaga terminal penumpang kontruksi beton 80 meter, dermaga trisakti lama 750 meter, dermaga Martapura Baru 350 meter, dermaga petikemas baru 265 meter, dermaga petikemas 240 meter, dermaga trisakti baru 120 meter.
Arus kedatangan kapal sampai tahun 2013 lalu sebanyak 17.253 unit, arus barang 8.265.935 ton, arus petikemas 387.954 box dan 428.478 teus, arus penumpang 148.923 orang.
Realisasi arus kapal pada tahun 2013 di Pelabuhan Banjarmasin meningkat 8-9 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dimana tahun 2013 tercatat sebanyak 17.253 unit kapal dengan berat mencapai 98.181.591 Gross Tonage (GT).
Sedangkan realisasi khusus kapal jenis petikemas pada tahun 2013 meningkat 10 persen (dalam satuan unit) dan meningkat 78 persen (dalam satuan GT) dibandingkan tahun sebelumnya, dimana realisasi arus kapal jenis petikemas tahun 2013 tercatat 1.137 unit dengan berat mencapai 7.207.642 GT.
“Ini yang menunjukkan terjadi peningkatan arus barang yang masuk maupun keluar melalui Pelabuhan Banjarmasin,” terang General Manager PT Pelindo III Cabang Banjarmasin, Hengki Jajang Herasmana.
Ia mengakui perusahaannya tersebut akan terus mengembangkan Pelabuhan Trisakti Banjarmasin ke arah yang lebih baik, sebagai upaya peningkatan ikon negara maritim.
Salah satu pengembangan terbaru penambahan pembangunan dermaga petikemas sepanjang 265 M x 34,5 m oleh kontraktor PT Wijaya Karya yang pemancangan perdananya dilakukan pada 13 April 2012 lalu dioperasikan, setelah diresmikan oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pada acara peresmian proyek MP3EI di Banjarbaru pada tanggal 23 Oktober 2013 lalu.
Ketua Asosiasi Perusahaan Bongkar Muat Indonesia (APBMI) Kalimantan Selatan Jumadri Masrun mengapresiasi perkembangan Pelabuhan Trisakti Banjarmasin.
Dengan adanya tambahan fasilitas ini tentunya waktu tunggu kapal dapat semakin ditekan, diwaktu dulu kala, waktu tunggu kapal sempat mencapai 7 hari maka nantinya dapat ditekan.

 

 

 

Alternatif

Walaupun perkembangan Pelabuhan Trisakti Banjarmasin menunjukkan peningkatan, tetapi jika melihat perkembangan kota Banjarmasin dan sekitarnya yang begitu pesat, maka kedepan kondisi pelabuhan Trisakti seakan tidak bakal mampu lagi menampung kegiatan bongkar muat tersebut, apalagi kondisi pelabuhan ini termasuk berada di areal kota yang padat penduduknya.
Persoalan alur Sungai Barito yang kian lama kian deras sendimentasinya, maka pelabuhan ini bukan menjadi pilihan pelabuhan baik kedepan.
Pelindo III Banjarmasin yang merupakan bagian Pelindo III yang berpusat di Surabaya sudah selayaknya memikirkan bagaimana transformasi kinerja Pelabuhan terbesar di Kalimantan ini bisa memberikan tantangan di masa depan.
Kalau memang letak kondisi pelabuhan sudah tidak layak lagi berada di lokasi tersebut kenapa tidak dicarikan alternatif lain yang lebih menjamin kelancaran arus kapal tanpa terhalang lagi oleh sempit alur Sungai Barito.
Selain itu, pelabuhan yang ideal tak jauh dari pusat ekonomi, khususnya pusat industri, pusat hasil perkebunan, pertambangan, dan sektor pertanian lainnya.
Salah satu lokasi yang ideal sebagai tempat pelabuhan laut di wilayah ini adalah kawasan Kabupaten Tanah laut yang berjarak sekitar puluhan kilometer saja dari Banjarmasin, karena lokasi ini berada di tepian Laut Jawa, hingga tidak perlu masuk sungai lagi.
Lokasi yang direncanakan sebagai alternatif pelabuhan baru tersebut memang ada beberapa lokasi salah satunya berada di Pantai Swarangan, Kecamatan Jorong.
Alternatif lain pengembangan Pelabuhan alam Batulicin Kabupaten Tanah Bumbu Timur Kalsel, walau agak jaug dari Banjarmasin tetapi berpotensi pengembangan ekonomi prov insi ini.
Pelabuhan Batulicin adalah pelabuhan yang terletak ditepian Selat Makasar tak jauh dari Laut Jawa yang menjadi jalur alternatif pelayaran internasional menghubungkan Samudra Indonesia dan Samudra Pasifik.
Untuk menjadi sebuah pelabuhan modern memang harus berada di lokasi pelabuhan alam bukan buatan, artinya ditepian laut yang berair dalam, kemudian harus adanya pusat transportasi darat yang bagus arah ke berbagai penjuru terutama ke lokasi kosentrasi perekonomian masyarakat.
Hal yang tak kalah penting tentu aneka peralatan kepelabuhanan yang canggih, lapangan penumpukan peti kemas yang luas, pergudangan yang memadai, hingga kerja bisa cepat dan mudah yang memungkinkan bongkar muat barang baik secara manual (curah) maupun peti kemas secara nyaman.
Peralatan yang harus diperhatikan tentu aneka macam seperti keberadaan kapal tunda, speed boat, crane darat, spreader, forklift, top loader, reach stacker, wheel loader, excavator, dump truck, conveyer, dan aneka peralatan lainnya yang mendukung kelancaran pelabuhan tersebut.
Bila semua peralatan ini bisa tersedia dengan baik ditambah manajemen yang baik oleh sumberdaya manusia (SDM) yang berkualitas pula, maka kinerja pelabuhan terbesar Kalimantan ini akan bisa menjawab tantangan masa yang datang.