WARGA LOKSADO NIKMATI “MANISNYA” HARGA KAYU MANIS

kayumanis Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin, Rombongan ekspedisi susur sungai Masyarakat Peduli Sungai (Melingai) dan Balai Wilayah Sungai (BWS) II menyususri sungai hulu Amandit bagian dari anak-anak Sunga Barito ke kewasan Loksadi, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, bagian dari Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan, pekan lalu.
Ekspedisi bertujuan melihat kondisi sungai dan hutan tersebut menysup ke pemukiman Suku Dayak Loksado dan tadinya membayangkan warga setempat masih tinggal di balai-balai (rumah adat yang dihuni puluhan kepala keluarga) dengan bangunan kayu, bambu, dan atap rumbia.
Ternyata perkiraan tersebut berbalik, karena rumah warga pedalaman itu sudah banyak yang berton, lantai berkeramik, di depan rumah dihiasi dengan antena prabola, dan kemana-mana sudah menggunakan sepeda motor, lantaran jalan ke arah sana walau kecil tapi sudah bisa dilalui pakai kendaraan roda dua tersebut.
Untuk menyusup ke pemukiman suku yang tadinya nomadin itu, rombongan harus melakukan perjalanan jauh, dari Banjarmasin ke Kandangan ibukota kabupaten, terus ke Loksado, baru kemudian pakai ojek kendaraan roda dua dengan tarif rp70 ribu per orang ke Desa Haratai.
Setibanyak di lokasi rombongan termasuk penulis melakukan pemantauan dan sekaligus melakukan pengukuran kualitas air di pe atas pegunungan tersebut, dan membawa sampel air tersebut yang kemudian untuk diteliti secara seksama.
Namun oleh petugas dari BWS II yang melakukan pengukuran awal, air di atas pegunungan itu sangat layak untuk diminum lantaran kadar keasamannya yang normal, jersih, dan sama sama sekali tak berbau.
Saat berada di kawasan tersebut penulis sempat berbincang dengan warga setempat yang pada awalnya dikira mereka hanya bekerja berladang berpindah.
Ternyata dari beberapa penuturan warga mereka sudah banyak yang meninggalkan ladang berpindah, dan kini usaha menetap dengan mengembangkan pohon kayu manis. Dan pohon tersebut mereka tanam setelah mengambil bibit yang ada dalam hutan itu sendiri.
Atas bimbingan petugas pertanian dan beberapa warga yang sempat studi banding ke Sumatera Barat, kini usaha mereka sudah membudaya sektor perkebunan kayu manis tersebut.
Setelah terjadi fluktuasi harga belakangan Warga suku Dayak Pedalaman Kalimantan Selatan, Pegunungan Meratus itu kini bisa tersenyum menikmati membaiknya harga kayu manis yang dibudidayakan mereka.
Bayah seorang ibu yang berada di beranda rumahnya sambil membersihkan kulit manis menuturkan bahwa sekarang masyarakat setempat lagi bergairah berproduksi kulit kayu manis lantaran harganya yang sekarang cukup tinggi.
“Sekarang harga kayu manis kering Rp30 ribu per kilogram, dibandingkan dengan menyadap karet hanya rp5 ribu per kilogram, jelas lebih menguntungkan mengelola kayu manis,”katanya.
Berdasarkan keterangan, warga Dayak Pedalaman Loksado ini sejak dulu dikenal sebagai peladang berpindah, namun kemudian mereka lebih memahami untuk hidup berkebun kemudian menanam karet, lalu menanam keminting (kemiri), terakhir membudidayakan kayu manis.
Selain usaha tersebut banyak juga warga setempat yang beternak babi, atau mengolah tanaman bambu menjadi barang berharga.
Menurut mereka usaha kayu manis lebih menjanjikan lantaran pemasarannya tidak sulit, setelah banyaknya pembeli berdatangan ke kampung mereka yang berjarak sekitar 30 km dari ibukota kabupaten HSS.
Namun harga kayu manis sering pula berflutuasi bahkan ada yang hanya rp8 ribu per kilogram, tetapi sekarang sudah mencapai rp30 ribu per kilogram, dengan demikian jika usaha kayu manis sehari mampu mengupas kulit kayu lalu mengeringkan sampai lima kilogram saja maka sudah mengantongi uang rp150 ribu kilogram.
Tetapi bagi pemilik lahan luas dengan kayu manis yang sudah banyak dan kayunya besar-besar, itu sehari bisa mencapai puluhan kilogram, kata Bayah.
Hasil pemantauan di lokasi tersebut memang terlihat dimana-mana warga banyak yang bekerja mengupas kalit kayu manis dari batangnya, sebagian lagi ibu-ibu kebanyakan membersihkan kulit tipis bagian luar dari kulit kayu manis itu, kemudian dijemur di halaman rumah.
Dari pemantauan banyak pula kayu manis yang sudah kering diikat-ikat per satu golongan, konon itu sudah siap di jual, dan para pembelinya datang dari kota kemudian mengangkutnya ke berbagai termasuk ke Pulau Jawa.

Kualitas Kedua
Berdasarkan catatan yang pernah di rilis Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup (BP2LHK Banjarbaru),_Kalimantan Selatan merupakan salah satu daerah pengembang tanaman kayu manis jenis C. Burmanii dengan kualitas unggulan, nomor dua setelah Sumatera.
Beberapa daerah penghasil kayu manis di Kalimantan Selatan adalah Loksado dan Padang Batung di Kabupaten Hulu Sungai Selatan yang berlokasi di sepanjang punggung Pegunungan Meratus.
Pengusahaan kayu manis di Loksado masih terbatas pada pengusahaan bagian kulit dari pohon kayu manisnya saja. Kegiatan yang dilakukan meliputi produksi, penjemuran kulit kayu manis, dan distribusi produk dari kulit kayu manis baik itu dalam bentuk gulungan (mentah) maupun sirup.
Meski demikian, sejak tahun 2010, kayu manis dari Loksado telah mendapatkan sertifikat organik SNI. Adanya sertifikasi ini cenderung berkontribusi dalam meningkatkan pendapatan petani sehingga memotivasi petani kayu manis untuk meningkatkan produktivitasnya.
Di kecamatan ini hampir sebagian besar masyarakat bermata pencaharian utama sebagai petani kayu manis. Pohon kayu manis di Loksado sebagian besar berada di luar kawasan hutan, yaitu di tanah atau kebun masyarakat yang berkembang secara sporadis dari hasil budidaya.
Pada awalnya produksi kayu manis dilakukan oleh masyarakat Dayak setempat dengan cara meramu kayu manis di dalam hutan sepenuhnya. Keberadaan pohon kayu manis di dalam hutan yang semakin langka, mendorong masyarakat Dayak untuk membudidayakannya.
Budidaya kayu manis baru dimulai sekitar tahun 2000-an dengan bantuan pemerintah daerah. Budidaya kayu manis yang dipusatkan di beberapa wilayah hutan balai adat di Kecamatan Loksado ini telah dikenal baik oleh masyarakat. Teknik penanaman dikembangkan dari biji dan cabutan anakan yang tumbuh di sekitar pohon kayu manis.
Sebelumnya kayu manis yang dipasarkan oleh masyarakat setempat berasal dari pohon kayu manis yang tumbuh alami di dalam hutan. Pohon kayu manis hanya bisa dipanen satu kali. Untuk mengambilnya, warga harus memasuki hutan belantara, berjalan hingga berjam – jam. Dari waktu ke waktu jarak yang ditempuh semakin jauh karena jumlah pohon kayu manis semakin berkurang.
Hanya saja, berbeda dengan masyarakat petani kayu manis di Kalimantan Selatan, cara pemanenan kayu manis di Jambi dan Sumatera Barat dinilai lebih lestari. Di Kalimantan Selatan, pohon kayu manis ditebang dahulu baru dikuliti, sedangkan di Jambi pemanenan dilakukan dengan menyisakanpotongan batang bawah (tunggul) yang akan dipelihara dan bisa bisa dipanen lagi 5-6 tahun kemudian.
Diinformasikan, tanaman kayu manis yang dikembangkan di Indonesia sebagian besar adalah jenis Cinnamomum burmanii Blume. Jenis kayu manis ini merupakan tanaman asli Indonesia. Hasil utama kayu manis adalah kulit batang dan dahan, sedang hasil ikutannya adalah ranting dan daun.
Komoditas ini selain digunakan sebagai rempah, hasil olahannya seperti minyak atsiri dan oleoresin banyak dimanfaatkan dalam industri-industri farmasi, kosmetik, makanan, minuman, rokok, dan sebagainya.

Iklan

BUDAYA PEMBUATAN KAPUR SIRIH PULAU SUGARA

 

1

kapur

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,- Kapur Sirih yang sering digunakan untuk berbagai keperluan tadinya dikira berasal dari batu kapur seperti kapur untuk mengecat pagar atau sejenisnya.
Tetapi setelah penulis bersama kawan-kawan dari Komunitas Sepeda Antik (Saban) Banjarmasin touring ke daerah Pulau Sugara Jelapat Berangas ketemu dengan perajin kapus sirih ini.
Ternyata kapur sirih bukan dari batu kapur melainkan berasal dari kulit kerang jenis kapah yang setelah diproses sedemikian rupa akhirnya menjadi kapur sirih yang sangat putih bersih.
Seorang perajin menuturkan,pembuatan kapus sirih di Pulau Sugara yang berada di Kabupaten Barito Kuala atau berdekatan dengan Kota Banjarmasin Provinsi Kalimantan Selatan ini sudah ada sejak zaman belanda.
Bahkan waktu dulu tahun 70-an jumlah perajin kapur sirih mungkin puluhan lokasi, tetapi sekarang tinggal dua lokasi saja lagi, lantaran perajin beralih profesi ke pembuatan sampan, industri anyaman dan industri kayu.
Yang unik dari proses pembuatan kapur sirih inilah saat kulit kerang kapah dimasukan ke kaleng atau belik, setelah diisi air atau banyu ternyata airnya menjadi panas mencapai 100 derajat silsius padahal tidak ditaruh di atas tungku api.
Dengan air yang terus mendidih maka kulit kerang tadi secara pelan-pelan menjadi hancur kemudian membentuk gumpalan-gumpalan kecil, lalu oleh perajin kumpalan kecil itu didinginkan.
Setelah itu lagi dicampur lagi dengan air lalu diaduk-aduk terus menerus sampai gumpalan kecil tadi menjadi halus, lama kelamaan akhirnya menjadi kapus sirih yang halus dan lembut dan siap dipasarkan.
Setiap belek ukuran 20 liter dijual dengan harga rp65 ribu per blek yang langsung diambil oleh pedagang pengumpul untuk dijual lagi ke berbagai wilayah di Kalsel, Kaltim, Kalteng, bahkan konon sampai ke Pulau Jawa.

Tujuh wanita perajin industri kapur sirih di Pulau Sugara saat ditemui Antara Kalsel di lokasi industri, Sabtu menuturkan, industri ini tetap bertahan karena masih banyaknya permintaan.

Permintaan bukan saja warga Barito Kuala dan Kota Banjarmasin tapi juga banyak permintaan dari daerah lain, dari Kotabaru, Kuala Kapuas, Palangkaraya Kalimantan Tengah, bahkan dari Pulau Jawa.

“Bahkan kami pernah memperoleh permintaan memproduksi seribu blek (satu blek =25 kg) per bulan, permintaan dari sebuah perusahaan perkebunan tersebut tak bisa dipenuhi,” kata Jumiati seorang dari perajin tersebut.

Mereka menyatakan hanya sanggup sekitar 500 blek per bulan, itupun jika mereka memperoleh bantuan modal dari pemerintah dan bahan baku yang berupa kulit kerang kapah mencukupi.

Menurut mereka, industri kapur sirih Pulau Sugara ini mungkin satu-satunya industri kecil yang memproduksi kapur sirih yang masih bertahan di wilayah Barito Kuala dan Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Pulau Sugara sebenarnya walau masuk Kabupaten Barito Kuala tetapi mereka mengakui sebagai warga Kota Banjarmasin, lantaran desa mereka hanya berbatas sebuah sungai kecil dengan pinggiran Kota Banjarmasin.

Menurut mereka di desa mereka terdaoat empat keluarga yang memproduksi kapur sirih secara turun temurun sejak ratusan tahun silam, dari empat keluarga itulah produksi kapus sirih yang beredar secara luas di pasaran.

Ketika ditanya soal bahan baku, disebutkan sekarang ini tak masalah, karena didatangkan dari berbagai daerah seperti dari Kuala Pembuang atau Kumai Kalimantan Tengah dengan harga Rp1 juta per ton.

Dari bahan baku satu ton bila diolah menjadi kapur bisa berjumlah dari satu ton, karena sifatnya bahan baku itu setelah diproses menjadi kapur sirih maka bisa mengembang, kata Jumiati.

Mereka berharap, perajin yang tinggal sedikit ini supaya memperoleh bantuan modal dari pemerintah, sebab jika mereka gulung tikar maka masyarakat akan kesulitan memperoleh bahan kapur sirih di pasaran.

Kapur sirih selama ini banyak digunakan untuk bahan makan sirih, penjernih air, campuran pembuat kue,  bahan aneka obat tradisional, industri kosmetika, dan aneka kegunaan lainnya.

 

Sementara hasil sebuah liputan media lain menceritakan bahwa
kapur sirih banyak dimanfaatkan sejak dahulu hingga kini, terutama dalam pengobatan herbal. Zaman dulu, kapur sirih sering digunakan dengan daun sirih dan dicampir buah pinang oleh orangtua untuk nyirih.

Saat ini, kapur sirih yang berwarna putih dan berbentuk serbuk ini lebih banyak digunakan untuk bahan baku obat herbal dan produk kecantikan. Ternyata, komoditas ini terbuat dari kulit kerang yang dibakar dan kemudian ditumbuk halus. Hingga saat ini, kapur sirih banyak dijumpai di pasar-pasar tradisional.

Salah satu tempat pembuatan kapur sirih terletak di Pulau Sugara, Kalimantan Selatan. Banyak warga di sana yang memproduksi kapur sirih sebagai mata pencarian sehari-hari. Pulau Sugara merupakan pulau kecil yang dikelilingi Sungai Barito dan Sungai Martapura. Tempat ini masuk ke dalam wilayah administrasi Kabupaten Barito Kuala, dekat dengan Kota Banjarmasin.

Letak lokasi ini hanya 20 menit dari Pasar Terapung Muara Kuin. Saat KONTAN mendatangi sentra produksi kapur sirih ini, terlihat banyak warga sibuk mengaduk adonan kapur sirih dalam ember-ember besar. Pekerja yang mengaduk justru didominasi para wanita. Ada juga yang sibuk menjemur kulit kerang dan membakar kulit kerang.
Di Pulau Segara ini, ada lebih dari 11 pengusaha pembuat kapur sirih yang sudah menjalankan usaha ini selama puluhan tahun. Bulkini Azis (30 tahun) misalnya. Dia adalah generasi ketiga yang membuat kapur sirih yang meneruskan usaha orangtuanya.

Bulkini panggilan akrabnya, tidak tahu persis kapan awalnya Pulau Segara sampai bisa menjadi sentra pembuatan kapur sirih. “Yang jelas sejak saya kecil, saya sudah terbiasa melihat orang buat kapur. Malah hingga sekarang Pulau Segara menjadi satu-satunya tempat di Kalimantan yang masih bertahan membuat kapur sirih,” katanya.

Bulkini bercerita, permintaan kapur sirih masih besar hingga kini. Bukan hanya dari Banjarmasin tapi juga sampai ke Kapuas, Palangkaraya, Samarinda, bahkan hingga ke Sulawesi dan Pulau Jawa.

Bulkini dibantu oleh empat orang karyawan membuat kapur sirih dari pukul 08.00 pagi hingga pukul 15.00 WIB. Dia bisa menghasilkan tiga sampai empat ember besar kapur sirih per hari. Satu ember beratnya sekitar 25 kg. Harga jual satu ember kapur sirih sebesar Rp 65.000.

Adonan-adonan kapur dalam ember nantinya dikumpulkan hingga mencapai minimal 300 kg, setelah itu baru dijual. Setiap dua minggu sekali, pemasok kapur sirih datang dari Banjarmasin membeli kapur-kapur sirih dari tempat ini. Bulkini bisa menghasilkan omzet hingga Rp 15 juta tiap dua minggu dari penjualan kapur sirih ini.

Suryani Isah (46 tahun), juga meneruskan usaha orangtuanya. Dia bilang, tidak jarang wisatawan datang ke Pulau Sugara sekadar untuk melihat tradisi pembuatan kapur sirih yang sudah berusia sekitar setengah abad ini.
Suryani dan ketiga karyawannya bisa menghasilkan 50 kg−70 kg adonan kapur sirih per hari. Dalam sebulan Suryani bisa menghasilkan omzet Rp 20 juta.

Tradisi nyirih merupakan warisan budaya nenek moyang Indonesia sejak dulu kala. Bagi warga Pulau Sugara, Kalimantan Selatan, nyirih merupakan simbol dari tradisi masyarakat Melayu. Bahkan, di zaman modern sekarang ini pun beberapa suku di Kalimantan seperti suku Banjar dan suku Dayak masih mempertahankan tradisi ini.

Sadikin dan istrinya Jumyati, pembuat kapur sirih di sentra ini bercerita, awalnya para generasi terdahulu membuat kapur sirih hanya untuk memenuhi kebutuhan warga Barito saja. Kemudian berkembang hingga ke Samarinda, sebab Suku Dayak suka menyirih dan menggunakan sirih sebagai ritual-ritual adat. Hingga di tahun 1980-an, baru kapur sirih mulai terkenal sampai seantero Kalimantan bahkan sekarang sudah dikirim sampai ke Jawa dan Sulawesi.

Sadikin bisa menghasilkan enam ember besar kapur sirih per hari. Penumbukan kerang didominasi kaum wanita, sebab para pria sibuk bertugas mencari kerang. Untuk memenuhi kebutuhan produksi, Sadikin dan beberapa pembuat kapur sirih lain biasanya mendatangkan bahan baku kulit kerang dari Aluh Aluh, Kuala Pembuang Satu, atau Kotawaringin, Kalimantan Tengah.

Bulkini Azis, produsen kapur sirih lainnya mengaku tidak kesulitan mencari pasokan bahan baku kerang, meski di Sungai Barito sulit mencari kulit kerang yang sesuai kriteria. Sebab kerang yang digunakan bukan kerang yang biasa dikonsumsi yang berwarna hijau.

Melainkan kerang yang berada di pasir atau dasar perairan dekat laut.
Meski aliran Sungai Barito di Pulau Sugara hampir menuju lautan, namun cangkang kerang tidak begitu keras. “Kerang paling bagus kualitasnya dari Kotawaringin dan sekitaran Pangkalan Bun karena cangkangnya tebal dan ukurannya besar,” kata Bulkini.

Dalam sebulan Bulkini bisa membutuhkan satu ton cangkang kerang untuk produksi. Pemasok mengirim kerang dengan karung-karung melalui jalur sungai. Biasanya untuk kerang dari Pangkalan Bun di antar ke Aluh Aluh. Setelah itu Bulikini membawa ke Pulau Segara.

Bulkini membeli satu ton cangkang kerang seharga Rp 1 juta-Rp 1,2 juta.
Para pembuat kapur sirih nantinya menjual produknya secara kolektif. Hal ini disebabkan para pengepul dari Banjarmasin hanya mau membeli kapur minimal 500 kg sekali datang. Sedangkan, beberapa pembuat kapur hanya bisa memproduksi 30 kg sampai 50 kg per hari.

Aneka manfaat Kapur Sirih

33 Manfaat Kapur Sirih untuk Kulit – Wajah – Kesehatan
Sponsors Link

Kandungan Kapur sirih

Dalam sebuah tulisan di internet menyebutkan manfaat kapur sirih sudah banyak diminati oleh orang tua dahulu ternyata berkhasiat. Kandungan yang dimilikinya seperti kadinen, sineol, karvakol, kavinol, dan zat samak yang baik untuk kesehatan. Maka tak ada salahnya menggunakan kapir sirih untuk mengatasi masalah kulit dan pencernaan.

Perlu anda ketahui, kandungan yang ada di kapur sirih tersebut cukup panas jika diberikan di sekitar area wajah. Jadi disarankan untuk yang memiliki wajah sensitif tidak mencoba mengoleskan ke permukaan wajahnya. Sedangkan untuk kulit normal, tidak disarankan memakai setiap hari secara terus menerus.

Manfaat kapur sirih ternyata banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, berikut ini diantaranya :

1. Mengurangi bau

Bau badan menjadi masalah yang cukup mengganggu untuk aktivitas remaja. Kepercayaan diri bahkan juga menurun ketika menyadari bahwa wangi tubuh anda sudah hilang. Berikut adalah solusi untuk mengurangi bau badan :

Potong jeruk nipis menjadi dua
Lapisi permukaan jeruk dengan sirih
Oleskan pada ketiak anda sehabis mandi
Biarkan meresap selama 5 menit
Cuci bersih bagian ketiak anda
2. Memutihkan paha

Manfaat kapur sirih ternyata juga sangat baik untuk mencerahkan kulit. Apalagi di daerah pangkal paha. Memang kebanyakan wanita memiliki kulit bersih, mulus, dan putih disekitar lengan dan lutut. Namun di daerah pangkal paha? Belum tentu.

Caranya adalah :

Kapur sirih yang sudah direndam, ditambahkan dengan jeruk nipis
Oleskan secara merata pada bagian pangkal paha dan selangkangan
Gunakan sesering mungkin, dianjurkan dipakai setelah mandi
3. Mengurangi resiko kerutan setelah melahirkan

Waktu hamil tentu membuat anda terlihat semakin lebih berisi. Sebab dalam perut anda ada nyawa kecil yang harus dilindungi. Ketika melahirkan, tentu meninggalkan bekas kerutan atau stretch mark. Untuk menghilangkannya dapat melalui ramuan sirih, yakni :

Campurlah sirih sebanyak satu sendok dengan minyak kayu putih setengah sendok
Aduk rata sampai semua benar-benar tercampur
Tambahkan jeruk nipis
Oleskan pada bagian perut setiap selesai mandi
4. Mengecilkan kutil dan tahi lalat

Kutil dan tahi lalat mampu menurunkan tingkat rasa percaya diri anda. Apalagi jika keberadaanya berada di sekitar wajah. Selain membuat risih mata memandang, kadang kutil dan tahi lalat ini juga bisa membesar. Oleh karena itu, lebih baik anda segera membuangnya. Paling tidak mengempeskanya. Caranya :

Cukup dengan satu sendok sirih, campurkan detergen
Aduk campuran tersebut hingga benar-benar tercampur
Oleskan dengan cotton buds pada kutil atau tahi lalat
Tunggulah sampai 20 menit
Bilas dengan air hangatagar mengelupas
Untuk kutil, tutuplah dengan kasa pada bagian kutil tersebut. Gantilah selama 2 hari sekali. Perhatikan apakah sudah mengecil.
5. Mencerahkan ketiak

Ketiak yang sering di cukur bulunya, lama-lama menjadi menghitam. Sebab kulit pada bagian yang melindungi ketiak mengelupas pelan-pelan secara paksa oleh alat cukur. Hal ini membuat kebingungan remaja putri yang merasa risih dengan bulu ketiaknya. Namun ia juga tak mau memiliki ketiak kusam. Solusinya gunakanlah manfaat kapur sirih untuk ketiak. Caranya :

Tuangkan satu sendok kapur sirih dengan satu sendok perasan lemon
Campurkan dengan penambahan air. Aduk sampai rata
Bersihkan ketiak anda dahulu (disarankan setelah mandi)
Oles pada bagian ketiak anda
Tunggu selama 20 menit
Bersihkan dengan air hangat dan sabun hingga benar-benar bersih
Gunakan 3 kali selama seminggu
6. Mengurangi bulu ketiak

Selain mampu mencerahkan, sirih juga mampu mengurangi atau merontokan bulu ketiak. Hal ini sering di praktekan oleh wanita Indonesia jaman dahulu. Cara dan ramuannya sama dengan yang mencerahkan ketiak.

7. Menyembuhkan sakit tenggorokan

Sakit batuk serta gatal pada tenggorokan adalah indikasi bahwa anda sudah terserang penyakit. Meski bukan penyakit parah, namun hal ini mengganggu aktivitas anda. Solusinya dengan membuat ramuan kapur sirih. Caranya :

Peraslah air jeruk nipis dalam sendok
Campurkan dengan sedikit kapur sirih
Diminum langsung
Anda juga bisa menggunakan ramuan ini :

Peras air jerusk dalam satu sendok makan
Campurkan dengan setengah sendok madu dan garam
Aduk hingga benar-benar tercampur. Lalu di saring
Minum secara rutin 2-3 kali sehari
8. Mengurangi resiko kanker

Banyak orang berasumsi bahwa kapur sirih juga mampu menghilangkan atau menyembuhkan kanker kulit. Meski belum terbukti secara klinis, tapi orang tua jaman dahulu sudah mempercayainya. Ramuanya adalah :

Tuangkan satu sendok sirih dalam wadah
Campurkan dengan deterjen
Oleskan pada kulit yang terdapat kanker
Perhatikan, lama-lama kanker akan mengurang
Ingat, hal ini belum teruji secara klinis. Jadi disarankan anda membaca banyak referensi dan mengikuti saran dokter sebelum mengaplikasikan ramuan ini.

Top Untuk Kanker

Dalam dunia pengobatan, kapur sirih banyak dimanfaatkan sejak dahulu hingga kini, terutama dalam pengobatan herbal. Zaman dulu, kapur sirih sering digunakan dengan daun pinang oleh orangtua untuk nyirih.

Kapur sirih yang berwarna putih dan berbentuk serbuk ini lebih banyak digunakan untuk bahan baku obat herbal dan produk kecantikan. Ternyata, komoditas ini bukan terbuat dari batu kapur, tapi terbuat dari kulit kerang besar dan tebal yang berada di pasir pantai, bukan kerang hijau yang biasa dikonsumsi atau dari batu koral. Proses pembuatannya dengan kulit kerang yang dibakar dan kemudian ditumbuk halus. Hingga saat ini, kapur sirih banyak dijumpai di pasar-pasar tradisional.

Ternyata ada 11 manfaat tak terduga kapur sirih untuk kehidupan sehari-hari sebagai berikut :

1. Menghaluskan kulit dari flex hitam – Bagi Anda yang ingin meghaluskan kulit dengan cara yang alami, Anda bisa mencoba menggunakan bubuk kapur sirih ini. Ada beberapa keunggulan yang bisa Anda nikmati dengan menggunakan kapur sirih. Diantaranya adalah harganya yang lebih murah dan lebih alami. Kapur sirih bisa Anda manfaatkan untuk menyamarkan flek hitam pada kulit Anda. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan kulit yang sehat, Anda bisa campurkan air kapur sirih tersebut dengan perasan jeruk nipis. Cara penggunaannya mudah, oleskan cairan tersebut pada bagian yang Anda inginkan. Barulah setelah sekitar 10 menit, basuh dengan air sampai bersih.

2. Mengurangi bau ketiak – Bau badan menjadi masalah yang cukup mengganggu untuk aktivitas remaja. Kepercayaan diri bahkan juga menurun ketika menyadari bahwa wangi tubuh anda sudah hilang. Berikut adalah solusi untuk mengurangi bau badan :

Potong jeruk nipis menjadi dua
Lapisi permukaan jeruk dengan sirih
Oleskan pada ketiak anda sehabis mandi
Biarkan meresap selama 5 menit
Cuci bersih bagian ketiak anda
3. Memutihkan paha – Manfaat kapur sirih ternyata juga sangat baik untuk mencerahkan kulit. Apalagi di daerah pangkal paha. Memang kebanyakan wanita memiliki kulit bersih, mulus, dan putih disekitar lengan dan lutut. Namun di daerah pangkal paha? Belum tentu.

Caranya adalah :

Kapur sirih yang sudah direndam, ditambahkan dengan jeruk nipis
Oleskan secara merata pada bagian pangkal paha dan selangkangan
Gunakan sesering mungkin, dianjurkan dipakai setelah mandi
4. Mengurangi resiko kerutan setelah melahirkan – Waktu hamil tentu membuat anda terlihat semakin lebih berisi. Sebab dalam perut anda ada nyawa kecil yang harus dilindungi. Ketika melahirkan, tentu meninggalkan bekas kerutan atau stretch mark. Untuk menghilangkannya dapat melalui ramuan sirih, yakni :

Campurlah sirih sebanyak satu sendok dengan minyak kayu putih setengah sendok
Aduk rata sampai semua benar-benar tercampur
Tambahkan jeruk nipis
Oleskan pada bagian perut setiap selesai mandi
5. Mengecilkan kutil dan tahi lalat – Kutil dan tahi lalat mampu menurunkan tingkat rasa percaya diri anda. Apalagi jika keberadaanya berada di sekitar wajah. Selain membuat risih mata memandang, kadang kutil dan tahi lalat ini juga bisa membesar. Oleh karena itu, lebih baik anda segera membuangnya. Paling tidak mengempeskanya. Caranya :

Cukup dengan satu sendok sirih, campurkan detergen
Aduk campuran tersebut hingga benar-benar tercampur
Oleskan dengan cotton buds pada kutil atau tahi lalat
Tunggulah sampai 20 menit
Bilas dengan air hangatagar mengelupas
Untuk kutil, tutuplah dengan kasa pada bagian kutil tersebut. Gantilah selama 2 hari sekali. Perhatikan apakah sudah mengecil.
6. Mencerahkan ketiak – Ketiak yang sering di cukur bulunya, lama-lama menjadi menghitam. Sebab kulit pada bagian yang melindungi ketiak mengelupas pelan-pelan secara paksa oleh alat cukur. Hal ini membuat kebingungan remaja putri yang merasa risih dengan bulu ketiaknya. Namun ia juga tak mau memiliki ketiak kusam. Solusinya gunakanlah manfaat kapur sirih untuk ketiak. Caranya :

Tuangkan satu sendok kapur sirih dengan satu sendok perasan lemon
Campurkan dengan penambahan air. Aduk sampai rata
Bersihkan ketiak anda dahulu (disarankan setelah mandi)
Oles pada bagian ketiak anda
Tunggu selama 20 menit
Bersihkan dengan air hangat dan sabun hingga benar-benar bersih
Gunakan 3 kali selama seminggu
7. Mengurangi bulu ketiak – Selain mampu mencerahkan, sirih juga mampu mengurangi atau merontokan bulu ketiak. Hal ini sering di praktekan oleh wanita Indonesia jaman dahulu. Cara dan ramuannya sama dengan yang mencerahkan ketiak.

8. Menyembuhkan sakit tenggorokan – Sakit batuk serta gatal pada tenggorokan adalah indikasi bahwa anda sudah terserang penyakit. Meski bukan penyakit parah, namun hal ini mengganggu aktivitas anda. Solusinya dengan membuat ramuan kapur sirih. Caranya :

Peraslah air jeruk nipis dalam sendok
Campurkan dengan sedikit kapur sirih
Diminum langsung
Anda juga bisa menggunakan ramuan ini :

Peras air jerusk dalam satu sendok makan
Campurkan dengan setengah sendok madu dan garam
Aduk hingga benar-benar tercampur. Lalu di saring
Minum secara rutin 2-3 kali sehari
9. Mengobati penyakit encok – Cara membuatnya – Ambil daun ubi kayu atau daun singkong kemudian dicampur dengan kapur sirih secukupnya kemudian diremas hingga hancur. Taburi ramuan tersebut di area yang terkena encok dan rematik.

10. Membantu untuk hal-hal darurat – Kapur sirih juga dapat mengeluarkan semut dari dalam telinga dengan cara mengoleskan kapur sirih pada bagian belakang telinga. Efek panas yang di keluarkan oleh kapur sirih dapat mengeluarkan semut dari lubang telinga anda.

11. Sebagai obat sakit perut untuk anak-anak – Ketika anak-anak kita sakit perut, segeralah menggunakan daun sirsak yang telah bercampur kapur sirih, kemudian di oleskan pada perut anak yang sakit.

Selain bisa digunakan untuk merawat kulit tubuh dan juga bisa megatasi bau ketiak, bubuk kapur sirih ini biasanya juga bisa digunakan untuk mengolah makanan supaya mendapatkan hasil tekstur makanan yang keras. Misalnya saat Anda membuat manisan buah, rendam manisan tersebut ke dalam rendaman kapur sirih untuk mendapatkan tekstur yang lebih keras. Nah, itu tadi adalah informasi singkat dari kami, selamat mencoba dan semoga bermanfaat.

2

3

4

5

 

 

KEMILAU “RED BORNEO” MAGNET KUNJUNGAN WISATAWAN KE MARTAPURA

Oleh Hasan Zainuddin

red borneo

Banjarmasin,17/3 () – Setiap sudut di Pasar Batuah Kota Martapura, ibukota Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, terlihat orang bergerombol, setelah didekati ternyata ada saja pedagang batu cincin emperan yang memperoleh perhatian pembeli.

“Ini asli Red Borneo pak, tuh ada urat-urat batu yang menyerupai burung, dan tembus pandang lagi,” kata seorang wanita setengah baya yang menggelar dagangannya di kaki lima di pusat keramaian kota yang berjuluk “kota Intan,” Martapura tersebut.

Gerombolan pembeli bukan saja terlihat di kaki lima, tetapi juga terlihat dietalasi pedagang batu cincin kecil-kecilan yang banyak digelar pinggir jalan kota “Serambi Mekkah” ini.

Bahkan di pusat pertokoan permata Cahaya Bumi Selamat (CBS) Martapura pun begitu ramainya pengunjung membeli batu permata, khususnya Red Borneo.

Pembeli bukan saja masyarakat Kalsel, tetapi didengar dari bahasanya kebanyakan dari luar Kalsel, Sulawesi, Pulau Jawa, dan Sumatera, bahkan dari Malaysia.

Memang berdasarkan keterangan kunjungan wisatawan khususnya wisatawan nusantara meningkat drastis ke Kota Martapura, setelah munculnya batu cincin “Red Borneo” (merah Kalimantan) sejak empat bulan terakhir ini.

“Sekarang banyak sekali kunjungan wisatawan, khususnya pemburu batu Red Borneo dari berbagai wilayah nusantara,” kata Alfian pemilik toko batu-batu cincin, di lokasi pertokoan Cahaya Bumi Selamat (CBS) Martapura, Senin.

Alfian menuturkan, dengan banyaknya berdatangan pemburu batu Red Borneo maka perajin hampir kewalahan mengolah batu cincin tersebut, sebab para pendatang itu bukan saja membeli untuk pribadi tetapi tak sedikit yang membeli secara borongan untuk diperdagangkan lagi di daerah asal mereka.

Mereka juga bukan saja membeli batu sudah jadi tetapi tak sedikit pula yang membeli bongkahan bebatuan Red Borneo dengan sistem per kilogram, kata Alfian didampingi pedagang lainnya Kaspul Anwar.

Menurut Alfian setelah ditemukannya Red Borneo oleh seorang penduduk di Desa Kiram atau Gunung Pematun, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, maka jenis batu permata tersebut kian terkenal saja.

Apalagi setelah kontes keindahan batu cincin Red Borneo mengalahkan batu Bacan dari Ternate, ditambah Presiden Jokowi yang konon juga memakai jenis batu cincin ini, maka membuat jenis batu yang bewarna merah tersebut kian diburu pencinta dan pengoleksi batu permata.

Dampaknya, kata mereka, Kota Martapura kian diserbu, buktinya hampir semua penginapan di kota yang berjuluk “serambi Mekkah,” ini selalu penuh oleh wisatawan, bahkan setiap even kegiatan masyarakat baik yang ada di Banjarmasin, Banjarbaru, Palangkaraya, Kuala Kapuas, maka paket kunjungan selalu Ke Martapura.

Disebutkan, Red Borneo yang banyak dicari adalah yang bewarna merah polos, tetapi yang jenis kristal atau yang tembus pandang harganya bisa capai Rp35 juta, sementara yang jenis super hanya ratusan ribu hingga sejuta rupiah per biji.

Sedangkan yang Red Borneo biasa artinya bewarna-warna itu hanya sekitar Rp50 ribu hingga Rp100 ribu per biji, kata Alfian.

Dengan maraknya pemburuan Red Borneo menyebabkan banyak warga Kota Martapura yang kini beralih profesi, jika dulu profesi kemasan, pengolah kayu pokah, buruh bangunan, sopir angkot, beralih jadi pengolah Red Borneo.

Pengolah batu bisa dilihat di Deka Pekauman, Kampung Melayu, Kramat, Kraton, Dalam Pagar dan desa-desa lainnya.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Banjar Abdul Gani Fauzie membenaran peningkatan kunjungan wisatawan.

Ia mengatakan, meningkatnya kunjungan ke Martapura dapat dilihat dari aktivitas di pertokoan CBS yang setiap hari dipenuhi pengunjung.

Kenaikan pengunjung mencapai 100 persen lebih bahkan keramaian di pusat penjualan batu pertama itu, tidak hanya pada hari libur seperti Sabtu dan Minggu.

“Biasanya pertokoan CBS Martapura hanya ramai pada hari libur Sabtu dan Minggu, tetapi sejak awal tahun setiap hari selalu ramai pengunjung yang jumlahnya ratusan orang,” ucapnya.

Menurut dia, pengunjung yang datang bukan hanya peminat maupun kolektor batu, tetapi juga masyarakat awam yang ingin mengetahui bentuk dan keunikan Red Borneo.

“Mereka umumnya melihat-lihat seperti apa batu Red Borneo. Jika tertarik warna dan keunikannya maka bisa ikut membeli baik untuk dipakai maupun dijadikan koleksi,” ujarnya.

Ditambahkan, “booming” batu Red Borneo diperkirakan bertahan lama karena batu berbeda dengan koleksi lain seperti tumbuhan maupun hewan peliharaan lainnya.

“Batu itu semakin lama disimpan semakin bagus karena selain memiliki nilai seni, juga diyakini sebagian orang bertuah sehingga cukup banyak yang mengoleksinya,” kata dia.

Kota berlian

Berdasarkan ketarangann dulu wisatawan datang ke kota “para ulama” ini kebanyakan berburu berlian, menginat daerah ini merupakan penghasil berlian, namun belakangan setelah ditemukan Red Borneo di areal pertambangan nikel dan biji besi di Desa Kiram ini maka banyak yang beruru Red Borneo.

Kota Martapura memangs ejak lama dikenal sebagai pusatnya batu mulia sehingga banyak pendatang ke kota ini hanya untuk berburu batu mulia tersebut.

Bukan hanya berlian dan Red Borneo yang dicari pendatang ke Martapura, tetapi juga aneka permata lain, seperti zamrud, yakut, merah delima, dan aneka batu permata lainnya.

Martapura bukan saja dikenal sebagai produsen batu permata tetapi juga kota ini dikenal sebagai pusat kerajinan batu permata, terdapat ratusan perajin yang menyebar lokasinya di kota ini.

“Banyak pedagang batu permata dari berbagai negara lain, seperti dari India, Birma, Thailand, Singapura, Afrika Selatan, Malaysia, bahkan dari negara Eropa datang ke Martapura membawa bahan mentah atau bahan baku batu permata,¿ kata Muksin seorang pemilik toko permata di CBS menambahkan.

Bahan baku batu permata tersebut dijual oleh pendatang dari negtara lain itu ke perajin setempat, kemudian oleh perajin setempat diolah menjadi batu cincin, batu giwang, liontin, dan jenis batu permata lainnya.

Kemudian oleh perajin hasil olahan tersebut dijual kepada para pedagang di kota ini, makanya batu permata apa saja tersedia di CBS Martapura ini, kata Muksin lagi.

Para pedagang batu permata yang menjual bahan baku tersebut keumudian uangnya dibelikan lagi berbagai jenis olahan batu permata Martapura termasuk berlian yang kemudian dijual kembali oleh mereka ke negara asal.

Pengakuan para pedagang luar daerah, Martapura sudah memiliki nama besar di kalangan pedagang permata, kalau permata di jual di daerah lain, harganya bisa turun, tetapi kalau dijual di Kota Martapura harganya bisa meningkat.

Oleh karena itu banyak kalangan pedagang permata yang selalu ingin bertransaksi di kota ini, karena banyak pemburu permata berkeliaran di kota kecil tersebut.

Akibat dari semua itu maka kawasan pertokoan CBS Martapura benar-benar menjadi magnet uang, karena setiap hari miliyaran rupiah uang beredar di kawasan ini.

Berdasarkan catatan, batu-batuan yang menjadi perhiasan yang dijual di wilayah ini antara lain akik, biduri bulan, topas, merah siam, merah daging, merah delima, cempaka, berlian, anggur, giok, intan, kuarsa, kecubung, mutiara, mata kucing, pirus, safir, yakut, zamrud, ruby,opal, spinel, bloodstone, tashmarine, quattro, dan alexandrite.

Batu permata lain yang juga terdapat di sini tetapi belum ada nama Indonesia seperti, chrysoberyl, chrysocolla, chrysoprase, hematite, jasper, kunszite, lapis lazuli, malachite, obsidian, olivine atau peridot, pyrite, tanzanite, tourmaline.

Untuk lebih mempopulerkan Red Borneo dan menambah magnet Kota Martapura maka bupati setempat Sultan Khaerul Saleh mewajibkan seluruh pejabat lingkungan pemkab setempat memakai cincin dengan batu batu mulia khas yang juga dikenal dengan nama ruby Kalimantan (natural rhodonite). ***3***

CARA BERTANI BANJAR MALAYSIA BEDA DARI BANUA

penulis

Penulis dipersawahan (Bandang) warga Banjar Sungai Manik,Malaysia

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin, 30/10 (Antara) – Cara bertani sawah warga Suku Banjar yang berada di beberapa wilayah negeri di Negara Malaysia sudah jauh berbeda bila dibandingkan cara tradisional bersawah khas Banjar di Banua atau Kalimantan Selatan, Indonesia.

“Mereka warga Banjar Malaysia sudah menggunakan sistem modern, semua sudah menggunakan mekanik,” kata Abdussamad Thalib, Pembantu Dekan Dua, Fakultas pertanian Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin, Kamis.

Hal tersebut dikemukakan Abdussamad Thalib setelah pulang dalam perjalanan mengikuti perjalanan titian muhibah 17-26 Oktober 2014 ke beberapa lokasi pemukiman suku Banjar yang tinggal ratusan tahun di negeri jiran tersebut.

Saat di Malaysia, rombongan dari Forum Silaturahmi Kulaan Banua (FSKB) yang dikoordinir oleh Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin tersebut sempat melihat cara bertani di Bagan Serai dan Sungai Manik, negeri Perak Malaysia.

Di sana rombongan berjumlah 19 orang berbincang dengan seorang tokoh masyarakat Banjar Bagan Serai, Haji Sulaiman yang kala itu menceritakan bahwa cara bertani atau yang disebut bandang warga setempat sudah tak memanfaatkan lagi cara lama masyarakat Banjar seperti layaknya di Banua (Kalimantan Selatan).

Menurut Haji Sulaiman yang mengakui nenek moyangnya dari Kelua Kabupaten Tabalong Kalsel Indonesia tersebut, petani di sana tak lagi “merincah” (menyiapkan lahan) dengan alat tajak, tak lagi “menanjang” (nanam padi) dengan alat tanjang, serta “mengatam” (panen padi) dengan ranggaman (ani-ani) seperti layaknya di Banua.

Tetapi cara kerja bandang di sana sudah semuanya pakai mekanik atau alat mesin pertanian (Alsistan), mereka hanya main perintah atau tunjuk, tak lagi bekerja sebagaimana cara bersawah tradisional.

“Badan kami tak lagi kotor untuk berjebur ke bandang, kami cukup perintahkan kepada pemakai Alsintan untuk mengerjakan semuanya, tinggal membayar upah,” tuturnya.

Mulai menyiapkan lahan sampai panen selama tiga bulan semuanya pakai mekanik, maka petani tinggal menerima jumlah padi yang dihasilkan dari alat-alat mesin tersebut.

Bahkan bertani di sini banyak memperoleh bantuan pemerintah (kerajaan) termasuk penyediaan pupuk, bahkan bila sudah panen setiap panen oleh kerajaan diberikan intensif lagi, setiap ton diperhitungkan sekitar 200 ringgit.

“Jika hasil sawah atau bandang 10 ton per hektare-nya, maka bonus kerajaan setiap ton 200 ringgit Malaysia, maka setiap ton petani akan memperoleh sekitar 2000 ringgit, jika setiap petani mengelola 10 hektare bandang maka akan memperoleh bonus kerajaan 20000 ringgit,” katanya.

Karena itu petani setempat, selain memperoleh hasil sawah untuk diri sendiri hasil itupun diperhitungkan oleh kerajaan untuk diberikan bonus, maksudnya agar petani giat bekerja untuk menghasilkan pangan bagi kemakmuran masyarakat.

Wilayah pemukiman suku Banjar yang banyak mengelola sawah tersebut, adalah wilayah Bagan Serai dan Sungai Manik ini karena wilayahnya dataran rendah yang berair dan sistem irigasinya di bantu oleh kerajaan.

Dengan cara bertani demikian maka sudah dipastikan setiap petani tampak lebih sejahtera bila dibandingkan dengan petani banua, maka jangan heran jika setiap petani sudah memiliki mobil atau yang disebut warga setempat kereta.

Kunjungan FSKB tersebut bertujuan untuk mempererat hubungan persaudaraan tersebut antara warga Banjar di Malaysia yang ditaksir sekitar dua juta jiwa dengan warga Banjar yang ada di Banua.

Selain saling mengunjungi satu sama lain, cara lain mempererat persaudaraan tersebut melalui pertemanan dan komunikasi melalui jejaring sosial, katanya seperti Facebook ada grup kulaan banjar se-dunia yang sudah beranggotakan 14 ribu orang lebih.

Kaitan saling mengunjungi tersebut sudah pernah dilakukan baik oleh kulaan Banjar Malaysia ke Banua (Kalsel) maupun kulaan Banjar Banua ke Malaysia, dan saling kunjung mengunjungi tersebut akan terus dilakukan, apalagi dari kedua belah pihak ada yang berkaitan berkeluarga.

Untuk kunjungan balasan kedua kulaan Banjar Banua yang dikoordinir Ika Unlam selain silaturahmi, wisata, serta buat dokumenter orang Banjar madam ke Malaysia.

Banyak lokasi yang dikunjungi antara lain ke Kampong Bukit Melintang yang 80 persen penduduknya orang Banjar, mengikuti kegiatan “Mini Karnival Kulaan” kegiatannya berupa demonstrasi membuat wadai (kue) Banjar, kegiatan membaca berjanji, ada penjualan produk2 usaha orang Banjar Malaysia, silaturrahmi, demonstrasi pukong (bapukung).

Ke Universitas Islam Azlan Shag bertemu dengan rektor Nordin Kurdi serta Prof Jamil Hasim yang keturunan Banjar, di Kuala Kangsar.

Rombongan juga Johor Bahru, singgah di Kantor PBM dan Koperasi Kulaan (Ko-Kulaan) di Bangi, pusat wisata negeri Melaka, mengunjungi objek wisata berupa situs warisan (heritage) yang diakui UNESCO, antara lain Pelabuhan Lama dimana terdapat Museum kapal Portugis, Benteng Portugis, Pasar Seni dan Kerajinan cendera mata.

HARGA KARET ANJLOK DAN PETANI KALSEL PUN MENJERIT

KARET

 

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin, 28/9 (Antara)- Anjloknya harga karet belakangan ini melahirkan kerisauan di kalangan petani Kalimantan Selatan, termasuk di Kabupaten Kabupaten Balangan.

Muhamad (25) petani karet desa Maradap, Kecamatan Paringin, Kabupaten Balangan, mengakui akibat turunnya harga komoditas tersebut pendapatan petani juga anjlok.

Bayangkan saja harga karet jenis lum, saat normal antara Rp15 ribu hingga Rp20 ribu per kilogram, sementara harga berlaku sekarang yang dibeli kalangan pedagang pengumpul yang datang ke kampung-kampung hanya antara Rp4 ribu-Rp5 ribu saja per kilogram.

Rendahnya harga karet tersebut melemahkan semangat kalangan petani setempat untuk mengembangkan lahan kebun karet lebih luas lagi, padahal belakangan kegairahan berkebun karet telah hidup di wilayah kaki Pegunungan Meratus tersebut.

“Kita berharap harga karet kembali membaik, seperti sedia kala agar petani kembali bergairah,” katanya.

Ia mengkhawatirkan turunnya harga karet tersebut lantaran permainan spekulan atau para pedagang pengumpul yang bersekongkol dengan para pengusaha pabrikan. Sebab, kabar yang ia peroleh harga karet tersebut ternyata cukup baik di daerah lain, seperti di Kalimantan Tengah atau bagian Indonesia lain.

Menurut dia, bila harga turun tersebut berlangsung lama dikhawatirkan akan menambah kemiskinan di kalangan penduduk Kabupaten Balangan yang merupakan wilayah kabupaten pemekaran dari Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) tersebut.

Sebab, katanya, harga berbagai kebutuhan pokok di kawasan tersebut begitu mahal, harga gula pasir saja tercatat Rp15 ribu per kilogram, sehingga harga karet yang anjlok tak mampu menutupi kebutuhan sehari-hari.

Belum lagi harga beras, ikan, dan kebutuhan lainnya terus melambung yang semua itu terus memberatkan petani setempat.

Kerisauan tentang anjloknya harga karet tersebut hampir merata di kalangan penduduk yang meyoritas berkebun karet itu.

Oleh karena itu berbagai saran dan pendapatpun bermunculkan menanggapi turunnya harga barang dagangan ekspor andalan Indonesia tersebut.

Seperti diutarakan Kadir (40) penduduk Desa Panggung, Paringin Selatan ini yang berharap adanya semacam badan atau lembaga yang bisa menjadi penyangga produksi karet alam.

Harga yang berfluktuasi yang begitu tajam belakangan ini sangat merugikan petani karet, dan karena itu diperlukan badan atau lembaga penyangga agar harga bisa stabil, kata Kadir, tokoh masyarakat yang sering disebut Bapak Anum ini.

Ia sendiri mengaku sangat sedih melihat kondisi petani karet belakangan ini yang selalu terombang-ambing oleh fluktuasinya harga karet.

Dengan harga yang turun naik begitu tajam membuat petani menjadi bingung, dan bahkan tidak sedikit ingin berpaling ke usaha lain.

Alasan mereka karet yang tadinya sebuah usaha menjanjikan kini dinilai sebuah usaha yang mengancam kehidupan, karena dengan harga semurah itu maka hasil yang diperoleh petani tidak akan sebanding dengan harga kebutuhan yang lain.

“Bayangkan saja harga satu kilogram gula pasir Rp15 ribu poer kilogram, bila harga karet hanya Rp5 ribu per kilogram berarti untuk memperoleh satu kilogram gula pasir harus menghasilkan tiga kilogram karet,” kata Kadir.

Oleh karena itu, Kadir berharap pemerintah turun tangan mengatasi harga karet tersebut, dengan membentuk sebuah badan atau lembaga semacam Depot Logistik (Dolog) yang mampu menyangga produksi beras petani.

Sebab, katanya, bila harga karet membaik maka usaha lain seperti industri rumah, bertani sawah, petambak ikan, dan usaha lainnya juga ikut bergairah karena warga punya uang dan mampu membeli produksi usaha lainnya tersebut.

Melalui badan atau lembaga, baik yang didirikan tersendiri oleh pemerintah, atau melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau di bawah departemen Perdagangan akan mempu menjaga harga karet.

Melalui badan atau lembaga tersebut, bila membeli karet petani dengan harga wajar, kemudian badan atau lembaga tersebut bisa mendirikan pabrik karet di lokasi sentra perkebunan.

Dengan demikian maka karet alam petani tidak lagi dikuasai oleh sekelompok pengusaha yang memiliki “kaki-tangan” seperti para pedagang pengumpul yang datang ke kampung-kampung.

Kelompok pengusaha dan kaki tangan serta para tengkulak itu yang selama ini mempermainkan harga karet petani, sehingga petani benar-benar tak berkutik dan pasrah menghadapi keadaan dengan anjloknya harga karet tersebut.

Menurut Kadir melalui badan yang dikelola pemerintah tersebut pula kalau perlu merubah kebiasaan hanya mengekspor karet mentah keluar negeri, tetapi menciptakan industri yang berbahan baku karet seperti ban kendaraan di dalam negeri.

Kemudian ban kendaraan tersebut yang diekspor sehingga memiliki nilai tambah yang berlipat ganga dibandingkan hanya ekspor karet mentah.

Apalagi luasan kebun Kalsel begitu memadai untuk menciptakan industri berbahan baku karet di wilayah ini.

Produsen baru

Seorang pemerhati perkaretan Indonesia Asril Sutan Amir menilai munculnya beberapa negara produsen baru di dunia menyebabkan harga karet dunia belakangan ini menjadi anjlok.

Dengan munculnya negara-negara produsen baru yang memiliki kebun karet cukup luas menyebabkan prouksi karet dunia melimpah akhirnya harga turun, kata Asril Sutan Amir yang dikenal sebagai mantan Ketua Gabungan Pengusaha Pabrik Karet Indonesia (Gabkindo) saat berada di Banjarmasin.

Asril Sutan Amir yang kini menjadi penasehat organisasi Gabkindo tersebut menyebutkan negara produsen baru tersebut, seperti Laos, Vietnam, Myanmar,dan Kamboja yang memproduksi karet cukup besar hingga menekan harga karet dunia termasuk Indonesia.

Negara produsen baru tersebut mengembangkan jenis karet unggul dengan tingkat produksi tinggi hingga 2000 kilogram per hektare per tahun, jauh lebih tinggi dari tingkat produksi karet Indonesia yang hanya rata-rata 600 kilogram per hektare per tahun.

Negara-negara tersebut juga lebih mudah memasarkan produksi karetnya terutama ke negara konsumen terbesar dunia, yakni negara Tiongkok karena dari negara mereka bisa disuplai melalui angkutan darat.

Sementara kalau karet di Indonesia harus diantarpulaukan dulu baru di kapalnya ke negara besar tersebut, kata Asril.

Selain itu, anjloknya harga karet alam dunia tersebut tak terlepas dari masih terjadinya resesi ekonomi dunia khususnya di Uni Eropah dan Amerika Serikat yang juga termasuk negara konsumen terbesar karet alam.

Kendati demikian, harga karet ke depan tetap akan membaik, lantaran kalau hanya mengandalkan hasil negara produsen baru tersebut tentu tidak akan mencukupi dengan tingkat tingginya konsumen karet alam dunia khususnya pabrik ban kendaraan bermotor.

Semakin maju sebuah negara pasti semakin tinggi pemakaian ban kendaraan bermotor dan hal itu tentu akan memberikan tingkat permintaan karet juga tinggi akhirnya akan mendongkrak harga karet tersebut.

Oleh karena itu, ia meminta kepada petani karet Indonesia tetap mengembangkan tanaman karet, seraya memperbaiki kualitas yang dihasilkan agar harga bisa lebih baik, sebab tambahnya rendahnya harga karet di Indonesia karena diproduksi secara asal-asalan bukan sesuai standar yang diinginkan pasar.

Tanggung jawab Pemprov

Di sisi lain Asril Sutan Amir meminta Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) menyelamatkan keberadaan petani karet yang belakangan hidup mereka terpuruk lantaran harga karet yang berada pada titik terendah itu.

“Kondisi karet yang murah di tingkat petani Kalsel, bisa menghapus julukan Kalsel sebagai daerah produsen karet alam Indonesia, karena itu pemerintah harus menyelamatkan kondisi tersebut,” katanya.

Berdasarkan pemantauan Gapkindo Kalsel harga karet di beberapa kabupaten produsen karet alam cukup bervariasi, yang tertinggi di Kabupaten Tanah Bumbu dengan harga antara Rp6.000 hingga Rp8.000 per kilogram, tetapi yang sangat rendah Rp3.000 hingga Rp4.000 seperti di sentra karet Kabupaten Balangan.

Walau harga bervariasi tetapi dibandingkan dengan sebelumnya harga karet tersebut anjlok, karena harga karet pernah sentuh dengan harga Rp35.000,- hingga Rp40.000,- per kilogram.

Harga karet murah tersebut memang berlaku seluruh Indonesia tetapi untuk wilayah Kalsel yang paling rendah, lantaran kualitas yang dihasilkan petani setempat sangat jelek yang dikenal dengan istilah karet lum atau karet asalan.

Kalau hal tersebut terus dibiarkan maka bisa membuyarkan keinginan masyarakat setempat untuk mengelola kebun karet, padahal tanaman karet salah satu tanaman yang sangat ramah lingkungan.

Oleh karena itu, harus ada tindakan pemerintah untuk menyelamatkan dari keterpurukan petani karet tersebut, umpamanya dengan memberikan penyuluhan agar petani karet tidak lagi memproduksi karet asalan, tetapi karet lembaran kering yang berharga mahal.

Kemudian pemerintah harus memberikan bibit gratis terhadap petani setempat untuk mengubah kebiasaan membudidayakan pohon karet lokal ke jenis karet unggul.

Karena salah satu penyebab karet Kalsel anjlok tersebut karena lateks yang dihasilkan berasal dari pohon pohon karet lokal yang tumbuh secara alamiah, bukan dari pohon karet unggul yang pembudidayaannya diberlakukan sesuai kaidah yang benar.

Menurutnya ada jenis bibit karet unggul yang murah tetapi berkualitas yakni jenis IRR dengan produksi lateks banyak berpohon besar dan memiliki tingkat kekentalan lateks yang baik dan harga bibit murah sekitar Rp6.000,- saja per batang.

Bila adanya upaya petani yang didukung pemerintah melakukan peremajaan karet dari karet lokal menjadi karet unggul, ditambah perbaikan kualitas karet yang diolah dipastikan akan merubah harga yang murah menjadi harga yang baik, petani yang terpuruk menjadi petani yang kembali makmur.

7

 

KEGALAUAN DJOKOPEKIK LAHIRKAN MILIARAN RUPIAH
Oleh Hasan Zainuddin
Berkaos merah bercelana hitam, lelaki berjenggut panjang putih ini begitu bersemangat menjelaskan satu persatu hasil karya lukisannya yang dipajang di areal khusus pedepokannya seluas 3,5 hektare di Dusun Sembungan Kecamatan Kesian Bantul, Yogyakarta.

“Ini ada yang mau beli lima miliar rupiah, tapi saya banderol seharga enam miliar rupiah,” kata lelaki asal Porwodadi, Grobogan, Jawa Tengah, tahun 1938 ini.

Lukisan paling besar dan dipajang paling depan galeri milik ayah delapan anak ini bagi masyarakat awam mungkin biasa-biasa saja, tetapi bagi pecinta seni lukis dan kolektor ini ternyata mengandung nilai tinggi.

Lukisan berjudul “Go to Hell Crocodile” hanya lukisan seekor buaya dengan panjang sejauh mata memandang melingkari galian tambang. Di sekelilingnya, kerumunan figur bersenjatakan bambu runcing siap dihujamkan ke tubuh si buaya.

Lukisan ini seakan menyindir banyaknya perusahaan tambang milik kapitalis asing yang menguras kekayaan di tanah air, seperti di Papua, Kalimantan, dan dimana saja.

Sementara lukisan yang lain berjudul “Zaman Edan Kesurupan” yang agaknya kebanggaan pula oleh pelukis lulusan Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), Yogyakarta, 1957-1962 ini.

Walau berkata agak terbata-bata lantaran sudah berusia lanjut, seniman berkelas internasional ini pun begitu antusias menjelaskan goresan-goresan cat lukisan “Zaman Edan Kesurupan” ini kepada penulis yang ikut dalam rombongan 13 wartawan diajak Bank Kalsel yang dipimpin Direktur Utama Bank Kalsel Juni Rif’at yang juga dikenal sebagai kolektor seni lukis.

Sambil tersenyum ia meminta para rombongan meinterpretasikan sendiri-sendiri lukisan tersebut, yang mana terlihat dalam lukisan seorang pawang dalam grup kuda lumping yang seharusnya menyembuhkan peserta kuda lumping yang sedang kesurupan justru ikut juga kesurupan.

Sementara latar belakang di dalam lukisan tersebut terlihat para penegak hukum di ruang sidang pengadilan, bahkan ada penegak hukum yang lagi sidang sedang bermesraan dengan seorang gadis.

“Ini maksudnya sebuah penegakan hukum yang berlaku sekarang ini kah, dimana seseorang yang seharusnya melakukan penegakan keadilan justru ikut bermain dalam kecurangan,” tanya anggota rombongan kepada Djokopekik.

“Ya terserah anda lah, mau artinya begitu silahkan, atau artinya yang lain juga boleh,” kata Djokopekik yang mengaku pernah menjadi penghuni Lapas Wirogunan dari 08 November 1965 sampai 1972 lantaran korban politik ini.

Galau
Dalam pembicaraan panjang lebar dengan Direktur Utama Bank Kalsel Juni Rif’at yang didampingi Pimpinan Devisi Perencanaan dan Strategis Bank kalsel Muhamad Fauzan tersebut hampir bisa disimpulkan bahwa semua lukisan Djokopekik itu lahir dari perasaan kegalauan setelah melihat kondisi masyarakat dan pemerintahan.

Dengan perasaan galau, agaknya ia tak berbicara secara terbuka melainkan dituangkan melalui goresan-goresan kuwas dengan cat-cat yang didatangkannya dari belanda.

“Saya tidak produktif membuat lukisan, dan semua hasil lukisan saya terlahir disaat hati sedang mood untuk melukis, makanya hanya ada satu dua, atau tiga saja produksi lukisan per tahun,” tuturnya seraya memperlihatkan bengkel/studio lukisan yang dirancang sedemikian rupa.

Di bengkel lukisan yang luas sekitar lima kali tiga meter tersebut dirancang dengan menggunakan mesin hedrolik yang bila menurunkan dan menaikkan lembaran kain atau kanvas yang akan dibuas lukisan.

Dengan demikian, katanya saat melukis ia tak perlu harus berdiri atau berjongkok atau menggunakan bangku bila harus melukis bagian atas, cukup kain kanvas itu yang diturun dan dinaikkan melalui mesin hidrolik dengan energi listrik tersebut.

“Saya sudah terlalu tua hingga tak cukup kuat lagi turun naik,” katanya seraya meminta kepada rombongan untuk berfoto bersama di studio yang berada di tepian sungai dengan bunyi riak air gemaricik dan hembusan angin hutan areal pedepokan tersebut.

Mendapat julukan pelukis miliaran rupiah, karena lukisannya laku bermiliar-miliar rupiah diantaranya lukisan judul berburu Celeng.

Berburu Celeng bersama dua lukisan lain, Susu Raja Celeng (1996) dan Tanpa Bunga dan Telegram Duka Cita 2000, merupakan sebuah trilogi. Trilogi ini merupakan lukisan yang paling berkesan baginya diantara 300 karya lukisnya.

Walau terbilang kaya dengan hasil karya lukisnya, tetapi tak satu pun dari delapan anaknya diarahkan untuk menggeluti dunia seni lukis ini.

“Saya tak ingin anak-anak dan cucu saya mengikuti jejak saya melukis, siapa tahu mereka tidak kesampaian, biarkanlah mereka memilih jalan hidup seperti orang kebanyakan, pedagang, pekerja kantor, buruh dan apa sajalah,” katanya.

Berdasarkan sebuah catatannya, ia tidak pernah bercita-cita menjadi pelukis, selagi muda malah bercita-cita menjadi lurah kaya dan punya gamelan, dan berputarnya waktu yang panjang akhirnya malah menjadi pelukis dan apa yang diimpikan memiliki gamelan terwujud sudah, ungkapnya.

“Saya ini berbakat kesasar, karena saya tidak diwarisi darah seni dari kedua orang tua saya. Sejak kecil saya senang melukis dan bermain sandiwara. Dulu saya memerankan tokoh Klenting Kuning dalam Ande-Ande Lumut saya yang menggambar sendiri pakaian tokoh yang saya mainkan,” tambahnya.

Membina rumah tangga dengan CH Tini Purwaningsih perempuan pilihannya. Setelah menikah, dari tahun 1970 ¿ 1987, Djokopekik beralih profesi sebagai tukang jahit untuk menyambung hidupnya, walau profesi ini tidak membuat kehidupan ekonomi keluarganya menjadi mapan.

Nasib baik akhirnya datang juga. Suatu ketika karya-kartanya dijadikan bahan penelitian untuk disertasi pelukis Astari Rasyid, yang kemudian dibaca oleh kenalan-kenalannya dari luar negeri. Pada tahun 1989 ia diikutkan dalam pameran di Amerika Serikat.

Beritanya masuk koran dan majalah, yang justru membuatnya makin terkenal. Sejak itulah para kolektor memburu lukisannya. Sampai suatu ketika ia tak mau menjualnya lagi, karena tamu-tamunya dapat setiap saat melihat dan mengaguminya.

Lukisannya oleh banyak kalangan pengamat dinilai berbeda antara satu dan lainnya. Padahal, ia mengaku bahwa teknik lukisnya dari dulu sampai sekarang sama saja.

Ia mengaku diusia yang sudah senja itu bahagia tinggal di areal pedepokan seluas itu yang dipenuhi dengan kebun, hutan kecil, dan taman-taman bunga, ditambah rumah tempat tinggal, galeri, bengkel atau studio, dan beberapa tempat santai yang berada di pinggir sungai yang dipenuhi dengan ribuan batang tanaman bambu.

Karena kepahitan yang pernah dialaminya sebagai pelukis, ia tidak mengarahkan anak-anaknya menjadi pelukis. Selain itu, ia merasa kalau seorang ayah pelukis, bila anak-anaknya juga jadi pelukis, mereka tak akan mampu melebihi sang ayah.

 

 

 

Ekonomi kreatif
Kedatangan rombongan 13 wartawan Kota Banjarmasin bersama Bank Kalsel tersebut semata ingin melihat perkembangan ekonomi kreatif di Kota Jogyakarta tersebut.

Ekonomi kreatif di saat ini menjadi alternatif dalam upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi, kata Direktur Utama (Dirut) Bank Kalsel Juni Rif’at.

Apalagi, katanya, visi dan misi yang diemban Bank Kalsel yang didirikan sejak tahun 1964 ini tak lain bagaimana keberadaan perusahaan ini bisa memajukan perekonomian wilayah yang kini berpenduduk sekitar empat juta jiwa tersebut.

Untuk menyentuh ekonomi kreatif tersebut,pihak Bank Kalsel mencoba menggandeng para wartawan yang tergabung dalam media fartner perusahaan tersebut, agar mereka bisa memberikan tulisan atau gambar, dan apa saja yang diterbitkan atau ditayangkan pada media masing-masing yang bisa memberikan gambaran mengenai pentingnya sebuah ekonomi kreatif.

Anggaplah ekonomi kreatif tersebut, berupa sendra tari, seni pertunjukan, karya lukisan, karya musik, dan seni budaya lainnya yang pada gilirannya menjadi industri yang menghasilkan pertumbuhan ekonomi.

“Kalsel sendiri kaya akan seniman, seperti seni lukis, hanya saja tidak terpopulerkan melalui sebuah pemberitaan, jika hal tersebut terjadi maka keberadaan seniman lukis di wilayah ini akan menjadi perhitungan bagi pecinta seni lukis,” kata Juni Rif’at.

Sebuah karya seni lukis, nilainya tak semata sebuah keindahan, tetapi akan menghasilkan devisa yang luar biasa bagi pertumbuhan ekonomi suatu wilayah dimana karya seni lukis itu dihasilkan.

Lihat saja kota Yogyakarta, terdapat banyak seniman lukis bertarap internasional, dan sebuah karya lukis bisa dihargai ratusan juta rupiah, bahkan miliaran rupiah dalam satu karya lukis saja.

Seperti karya lukis maestro Djokopekik yang dihargai capai Rp5 miliar per satu lukisan bagitu juga hasil karya pelukis Nasirun tak kalah mahalnya.

Untuk memberikan pengertian para wartawan yang tergabung dalam media fartner Bank Kalsel tersebut, maka oleh manajemen Bank Kalsel para wartawan tersebut diajak melihat galeri dan museum lukis milik Djokopekik dan Nasirun.

Dalam pertemuan yang berlangsung Kamis (21/8) lalu kedua pelukis ternama Yogyakarta tersebut menjelaskan bagimana sebuah kreatifitas dalam dunia ekonomi kreatif menghasilkan uang banyak dan mampu menghidupkan keluarga pelukis itu sendiri juga meningkatkan pertumbuhan ekonomi sekitarnya.

Melihat kenyataan tersebut pihak Bank Kalsel berharap Kalsel juga akan menjadi tempat bagi seniman kreatif di bidang masing-masing yang bisa membantu dongkrak ekonomi di wilayah ini.

50 TAHUN BANK KALSEL SAATNYA KELOLA BATUBARA

Oleh Hasan Zainuddin
bank kalsel
Askur Fakih seorang petani asal Dusun Limau, Kecamatan Panyipatan, Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan, awalnya merasa bingung menjalani hari-hari karena hasil yang diperoleh tak memadai untuk kehidupan sehari-hari.

Suatu ketika otaknya berpikir membuka usaha baru tapi terkendala modal, setelah mencari informasi ke sana kemari akhirnya memperoleh masukan adanya dana pinjaman dari Bank Kalsel. Mulailah meminjam ke lembaga perbankan lokal ini Rp4 juta mengelola industri kripik jagung, usaha itu membaik lalu kembali meminjam Rp15 juta, hingga Rp125 juta.

Dengan modal besar akhirnya industri kian besar pula produksi satu ton kripik jagung per bulan dan menghidupi sebanyak 16 karyawan, pasarnya tak sebatas Kabupaten Tanah Laut saja, tetapi sudah merambah ke berbagai wilayah .

Cerita senyuman Askuh Fakih ternyata juga dialami H solikin seorang pembudidaya jamur tiram berkat kredit ke Bank kalsel ia pun sejahtera.

Lain lagi cerita pengusaha soto Lamongan Cak Hari di Jalan Gatot Soebroto Kota Banjarmasin yang dulu hanya menjual soto menggunakan gerobak dorong, berkat pinjaman kini memiliki sebuah rumah makan Soto Lamongan yang refresentatif dan dikenal hampir seluruh antero kota ini.

Memang segudang cerita keberhasilan warga Kalsel setelah berkenalan dengan lembaga perbankan milik Pemprov Kalsel ini.

Direktur Utama Bank Kalsel Juni Rif’at mengakui 40 persen kredit lembaganya dikhususnya untuk usaha mikro dalam upaya meningkatkan perekonomian masyarakat kecil.

Disebutkannya kredit disalurkan itu kisaran Rp10 juta hingga hingga Rp200 miliar, ada yang hanya untuk tukang bakso, pedagang es kelapa, kelontongan, hingga kredit besar seperti pembiayaan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan lainnya.

Lembaganya selain membantu kredit rakyat kecil juga sebagai agen pembangunan disamping untuk memberikan kontribusi bagi pemerintah daerah.

“Itulah bedanya antara Bank Kalsel dan bank konvensional lainnya,” katanya seraya menyebutkan Bank Kalsel awalnya dibentuk hanya sebagai kas daerah dan itu bertahan hingga sekarang atau 50 tahun yang hari HUT-nya jatuh hari Selasa (25/3) ini.

Berdasar data jumlah kredit yang disalurkan bank ini Rp6 triliun, sementara tabungan masyarakat Rp2 triliun tapi jika ditotalkan termasuk deposito maka senilai Rp8 triliun.

kantor bank kalsel

Lebih Kreatif
Lembaga perbankan dimotori tenaga profesional lokal ini seharusnya berpikir tak sebatas mengembangkan usaha seakan hanya “meniru” bank konvensional tetapi hendaknya lebih kreatif hingga lebih dirasakan bukan hanya oleh pemerintah provinsi atau pemerintah 13 kabupaten dan kota se-Kalsel, tetapi oleh sekitar empat juta jiwa warga yang tinggal di wilayah ini.

Dari jumlah warga Kalsel tersebut ternyata penduduk miskin per Maret 2013 mencapai 181.739 orang (sumber BPS Kalsel) yang berarti masih ada tanggungjawab semua pihak untuk mengurangi angka kemiskinan tersebut.

Pertanyaaanya mengapa masih ada penduduk Kalsel yang miskin ? Apakah mereka tak memiliki keahlian, tak memiliki modal usaha atau daerah ini memang miskin sumberdaya alam.

Kalau itu yang terjadi tentu harus dicarikan solusinya, kalau tidak memiliki keahlian perlu ada pendidikan atau pelatihan, kalau tak ada modal maka perlu ada pinjaman.

Kemudian benarkan Kalsel kekurangan sumberdaya alam, ternyata Kalsel memiliki kekayaan yang luar biasa, bukan hanya hutan, pertanian, perairan dan kelautan, terlebih sektor pertambangan, kata seorang warga Kalsel Haji Jainuddin.

Sektor pertanian Kalsel tak kalah dibandingkan dari daerah lain ditinjau dari luas lahan dan kesuburan tanah, walau dibandingkan dengan Thailand yang dikenal sebagai produsen buah dan hasil pertanian terbesar di Asean sekalipun.

Oleh karena itu, Bank Kalsel hendaknya lebih jeli melihat potensi tersebut dengan kosentrasi melakukan pinjaman modal ke sektor pertanian melalui kreditnya.

Apalagi Kalsel memiliki aneka ragam plasma nuftah tanaman pertanian khususnya buah-buahan yang begitu eksotis dan menarik bila dikembangkan, bahkan akan menjadi mata dagangan ekspor.

Petani untuk budidaya buah-buahan tidak lagi sekadar skala pekarangan tetapi harus dijadikan mereka berusaha dengan skala kebun, seperti layaknya kebun di Pulau Jawa atau meniru gaya perkebunan buah di Australia dan Amerika Serikat yang produksinya tak hanya dimakan sebagai buah meja tetapi sudah menjadi buah ekspor dan yang dikalengkan.

Para petani buah tersebut bisa diberikan modal untuk terus berkembang, lalu dilakukan penelitian baik bagaimana cara budidaya, rekayasa genetika hingga menjadi buah yang manis dan bagus, serta penanganan pasca panen.

Dari sekian potensi memajukan Kalsel (Banua ) sektor pertambangan harus pula diperhatikan lembaga ini, dimana di Kalsel bukan saja terdapat tambang emas, intan, pasir kuarsa, nikel, biji besi, marmer, minyak bumi, dan yang lagi marak pertambangan batu bara atau “emas hitam.”

Kelola Batubara
Puluhan tahun eksploitasi “emas hitam” sudah dikerjakan di Kalsel, bahkan sejarahnya sejak zaman Belanda, tetapi apakah usaha mengeruk perut bumi melalui emas hitam itu sudah memberikan kesejahteraan masyarakat setempat, ternyata hingga kini jawabannya “tidak.”
Mengapa demikian, jawabannya mungkin saja “salah urus,” karena tak bijak melihat peluang tersebut, sehingga justru masyarakat non jauh di banua lain, Australia, Amerika, Cina, Korea dan negara lainnya yang mengambil manfaat semua itu melalui yang dinamakan investasi asing atau yang belakangan seringpula investasi luar negeri itu berlindung melalui investasi dalam negeri dengan mengatasnamakan pengusaha nasional, dengan landasan Perjanjian Kerjasama Pengembangan Pertambangan Batu Bara (PKP2KB)
Ironis memang, kehidupan masyarakat banua bak ayam kelaparan di lumbung padi, dan kondisi tersebut tak boleh dibiarkan menghantui penduduk yang tinggal di daerah paling selatan pulau terbesar nusantara ini, makanya peran Bank Kalsel yang harus kedepan dalam mengatasi persoalan ini.

Karena tambang batubara di dalam perut bumi banua Pangeran Antasari ini yang ditaksir masih tersimpan 12 miliar ton itu, sebagian besar tidak lah berada di kedalaman yang jauh, justru berada di permukaan, dengan demikian tidak ada yang sulitnya mengambil barang di atas permukaan tanah, tinggal gali dan angkut dan dijual maka sudah dapat dolar atau rupiah.

Tidak seperti tambang batubara di daerah lain yang harus melalui tambang bawah tanah (Underground Mine) yang memerlukan tehnologi atau investasi besar.

Pengambilan batubara di Kalsel tak mesti harus penambang besar dengan modal besar seperti investasi asing (PKP2KB), warga lokal pun sanggub, terbukti banyak warga Kalsel yang tadinya miskin berhasil menjadi kaya raya setelah menggali tambang ini.

Melihat kenyataan itu maka seharusnya didirikan Perusahaan Daerah (Perusda) di semua kabupaten dan kota di Kalsel khususnya terdapat deposit tambang batubaranya, atau Perusda yang didirikan oleh Pemprov Kalsel sendiri.

Dulu diakui izin tambang harus dari pemerintah pusat, tetapi diera otonomi ini ternyata ijin tambang yang disebut Kuasa Pertambangan (KP) bisa melalui kepala daerah setempat.

Karena itu KP bisa diberikan kepada Perusda atau Perusda kerjasama (joint) dengan pengusaha lokal yang diberikan KP, dan usaha tersebut bisa bermodalkan pinjaman modal oleh Bank Kalsel. Dengan cara tersebut maka hasil tambang batubara tidak bakal lari ke daerah lain tetapi justru dinikmati masyarakat Kalsel sendiri.

Bila uang beredar di Kalsel, maka berdampak sangat luas bagi peningkatan perekonomian setempat, ibaratnya ada sesorang kaya di Kalsel lantaran batubara, maka ia akan belanja beras, ikan, sayur, kerajinan, atau kebutuhan apapun tentu dari pedagang lokal pula.
Selain itu juga dipastikan akan banyak pekerja dari lokal pula, taruhlah supir, pekerja tambang, tenaga admistrasi dan lainnya yang dipekerjakan orang kaya itu. Jika banyak orang yang kaya lalu kian banyak belanja barang dan jasa maka kian banyak pula warga banua yang merasakan nikmatnya.
Belum lagi jika Perusda dari lokal itu tumbuh dan berkembang maka pemerintah di Kalsel tak perlu lagi “menjerat” warganya dengan menarik pajak sebesar-besarnya hanya untuk memperoleh pendapatan pemerintah, mereka cukup mengambil dari keuntungan Perusda Perusda tersebut dalam pembiayaan pembangunan.

Apa yang dilakukan Bank Kalsel terhadap pembiayaan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Asam-asam unit III dan IV, salah satu bukti sebenarnya Bank kalsel bisa berbuat untuk yang lebih besar termasuk membangun Perusda kelola tambang tersebut.

Berdasarkan informasi bantuan Bank Kalsel terhadap PLTU Asam-asam Rp250 miliar dari satu triliun rupiah yang diberikan oleh beberapa bank secara konsorsium.

Kemudian bila Perusda tersebut berhasil gali tambang lalu memiliki modal, seharusnya usaha mengeruk tambang harus dikurangi guna menjaga kelestarian lingkungan mengingat bahan tambang termasuk barang yang tak bisa diperbaharui. Modal itu harusnya digunakan membentuk usaha lain yang sifatnya tak merusak alam.

Konon negara tetangga Brunei Darussalam, juga menggali tambang dan minyak bumi, lalu memperoleh modal dari usaha tersebut kemudian oleh kerajaan modal itu dijadikan modal usaha di negeri sendiri juga usaha ke berbagai negara lain.

Keuntungan perusahaan tersebut kembali ke negara sebagai pendapatan negara, akhirnya pemerintah mereka tidak menarik pajak justru memberikan subsidi kepada masyarakat di sana.

Begitu juga di banua ini,jika pemerintah Kalsel bisa menjadikan hasil tambang sebagai modal usaha lain,lalu usaha lain berkembang maka keuntungannya dikembalikan ke banua lagi.

Bila hal itu sampai terjadi maka itulah sebuah “hadiah besar,” bank Kalsel terhadap banua ini.