SANG MAESTRO LAGU BANJAR ITU TELAH TIADA

Oleh Hasan Zainuddin

anang

“Kotabaru, gunungnya Ba’ mega, Ba’ mega, umbak manampur di sala karang Umbak, manampur di sala karang. Batamu lawanlah adinda, Adinda iman di dada, rasa malayang Iman di dada, rasa malayang,” demikian satu bait lagu Banjar berjudul Paris Barantai yang diciptakan sang maestro lagu Banjar, Haji Anang Ardiansyah.

Lagu Paris Barantai yang sudah menasional tersebut merupakan salah satu dari 103 lagu ciptaan seniman besar asal Provinsi Kalimantan Selatan itu yang melegenda. Semua ciptaan seniman ini hampir seluruhnya melegenda.

Ciptaan semacam itu tak mungkin ada lagi, karena seniman yang masa hidupnya juga berkarier di dunia militer tersebut, kini telah menghembuskan napas terakhirnya Jumat (7/8) pukul 01:10 WIB.

Jumat pagi, hampir semua status di media sosial Facebook yang diikuti warga Kota Banjarmasin memuat kalimat “Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun” yang menyatakan berpulang ke rahmatullah untuk Anang Ardiansyah.

Dengan demikian, kematian maestro pecinta lagu Banjar yang lahir di Banjarmasin, 3 Mei 1938 itupun cepat menyebar, dan pernyataan turut berduka cita pun terus tertulis dari banyak status media sosial itu.

Meninggalnya penyanyi sekaligus pencipta lagu khas etnis yang banyak tinggal di wilayah Kalimantan bagian Selatan tersebut menimbulkan duka yang mendalam di banyak kalangan, sehingga kabar kematiannya begitu cepat menyebar.

Menurut Riswan Rifandi, putra almarhum, ayahnya menghembuskan napasnya di Rumah Sakit (RS) Suaka Insan di ruang ICU karena penyakit stroke.

“Ayah memang mengalami komplikasi,” ujarnya seraya menyebutkan bahwa almarhum ayahnya disemayamkan di tempat peristirahatan terakhirnya di makam keluarga Guntung Lua, Banjarbaru.

“Kami sekeluarga memohon maaf dan keikhlasannya bagi seluruh lapisan masyarakat, jika dalam pergaulan beliau ada kekhilafan,” ucap Riswan yang mantan wartawan dan kini menjadi seorang pendidik tersebut.

Meninggalnya sang maestro ini cukup membuat kaget para pekerja seni di Kalsel, terbukti hampir semua seniman daerah dan pejabat daerah melayat ke rumah duka.

Salah satunya, Koordinator Karya Cipta Indonesia (KCI) wilayah Kalimantan Selatan Hesly Junianto yang menyatakan figur H Anang Adriansyah sebagai seniman daerah yang namanya sudah menasional, hingga kematiannya menjadi duka semua penggiat seni.

“Sebab beliau bisa kita katakan bapaknya seniman lagu Banjar, sebab karya ciptanya memang hampir tidak ada duanya, baik lirik maupun syairnya,” kata mantan Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Kota Banjarmasin itu.

Pihaknya di KCI, kata Hesly, sudah mendaftarkan semua lagu ciptaan sang maestro ke daftar karya cipta Indonesia sebagai hak paten yang ada nilai royalti.

“Insya-Allah, pada Desember 2015, royalti ciptaan lagu H Anang sudah mulai keluar, bahkan ini berjalan hingga tujuh turunan warisnya,” tuturnya.

Sementara seorang seniman muda yang juga pencipta lagu Banjar Jimmy Huzain mengaku kehilangan seorang panutan setelah meninggalnya H Anang Ardiansyah.

“Beliau (Anang Ardiansyah) sebagai penginspirasi musik Banjar, saya pun mencipta lagu banyak belajar dari beliau, kita sangat kehilangan sosoknya,” ujar pencipta lagu dengan hits berjudul “Sungaiku” itu saat melayat ke rumah duka di Jalan Banjar Indah Permai, Komplek Mahoni, Banjarmasin.

Diakui Jimmy, panggilan akrabnya, dirinya bisa menelurkan sekitar 32 buah lagu yang terkumpul di tiga album belakangan ini terciptanya itu banyak terinspirasi dari lagu-lagu Anang Ardiansyah yang hampir semuanya hits dan melegenda.

“Kita akui, semua lagu pak Anang Ardiansyah baik lirik maupun syairnya tidak ada duanya, hingga wajar kalau melegenda,” ujarnya.

Dikatakan dia, lagu-lagu Anang Ardiansyah banyak bercerita tentang sejarah banjar dan khazanah kebudayaan masyarakatnya yang dirangkai dalam syair-syair yang luar biasa indah dan tertata diungkapkan dengan Bahasa Banjar yang fasih.

“Yang saya ingat pesan beliau, ciptalah lagu daerah dengan menggali khazanah budaya dan daerah ini atau tentang sejarah, sehingga lagu itu bisa dikenang dan didendangkan dari masa ke masa,” tuturnya.

Pesan itu, aku Jimmy, yang menjadi inspirasinya dalam menciptakan berbagai karya lagu berbahasa banjar saat ini, hingga sudah terkumpul 32 buah lagu dalam tiga album yang sudah dilempar ke pasaran.

“Saya terinspirasi juga bercita-cita seperti beliau bisa menciptakan ratusan buah lagu hits, yang hingga kini terus didendangkan, bahkan sudah menasional,” ujarnya.

Mencipta sejak SMA

Berdasarkan catatan Wikipedia, Anang Ardiansyah mulai mencipta lagu sejak SMA. Ketika itu ia merantau ke Malang, Jawa Timur pada tahun 1957 untuk belajar di SMA Islam Malang setelah menempuh SD dan SMP di Banjarmasin. Setahun kemudian Anang pindah ke Surabaya.

Di kota ini dia bergabung dengan Orkes Melayu Rindang Banua yang dipimpin dokter Sarkawi. Orkes ini merupakan kumpulan pemuda Kalimantan yang tergabung dalam Kerukunan Keluarga Kalimantan.

Sebelum bergabung dalam band itu, ia meraih juara harapan seriosa Lomba Nyanyi Langgam di Malang. Di sinilah mereka belajar membuat lagu banjar.

Saat itu belum ada lagu Kalimantan (Kalsel) yang diciptakan dengan iringan musik band. Saat itu, Anang dan teman-teman band-nya mengawali debutnya dengan membuat lagu banjar dari gubahan lagu-lagu rakyat berupa pantun.

Setelah digubah, jadilah lagu-lagu banjar baru dan bisa diterima warga. Band-nya sering membawakannya saat diundang mengisi acara perkawinan. Begitu seringnya membawakan lagu banjar, Rindang Banua menjadi terkenal di Surabaya dan Banjarmasin.

Band ini terangkat namanya tahun 1959 saat lagu Paris Barantai masuk rekaman piringan hitam yang dikerjakan di Lokananta, Solo, Jawa Tengah.

Selain berkesenian, Anang juga memiliki karier panjang pada jajaran militer hingga berpangkat kolonel. Seniman Kalsel ini masuk TNI tahun 1962 setelah lulus Sekolah Calon Perwira (Secapa) di Banjarmasin pada 1961.

Selama hampir 30 tahun bergabung dengan TNI, Anang bertugas ke berbagai daerah, seperti Bandung, Cirebon, Surabaya, Makassar, dan Balikpapan. Terakhir dia bertugas di Banjarmasin.

Selama bertugas pun, dia terus membuat lagu banjar. Saat bertugas di Kalimantan Timur, Anang sempat menciptakan lagu untuk daerah setempat, seperti Balikpapan, Sarung Samarinda, Di Hunjuran Mahakam, Di Panajam Kita Badapat, dan Apo Kayan. Lagu-lagu itu direkamnya dalam kaset pada 1987 dengan judul Curiak.

Selesai di militer (dengan jabatan terakhir sebagai pemeriksa di Inspektorat Daerah Militer VI/Tanjungpura, Balikpapan), tahun 1992 Anang membentuk kelompok musik Tygaroon’s Group dan mendirikan Tygaroon’s Mini Studio. Dari studio itulah beberapa album lagu banjar dihasilkannya.

Kegiatan berkesenian mulai menurun ketika Anang terjun di dunia politik. Periode 1999-2004, ia menjabat Wakil Ketua DPRD Hulu Sungai Utara dan Ketua Dewan Pengurus Daerah Partai Golkar Kabupaten Hulu Sungai Utara hingga karier berkeseniannya pun menurun hingga akhirnya seniman senior itu pun tiada. Tinggal, lagu-lagunya yang akan menemani masyarakat.

MERATAPI NASIB LAGU BANJAR DI KAMPUNG SENDIRI

Oleh Hasan Zainuddin

Jimmy Huzain.

Jimmy Huzain

Sudah beberapa lokasi tempat penjualan kaset di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan yang dikunjungi Abdullah (55 th) warga Tembilan Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau, tetapi belum juga berhasil membeli kaset lagu-lagu berbahasa Banjar, atau istilah setempat lagu Banjar.

Padahal Abdullah yang berasal dari Tembilahan keturunan dari Suku banjar itu ingin membawa beberapa kaset lagu Banjar ke kampung halamannya yang merupakan kota dengan komunitas terbesar Suku banjar di Pulau Sumatera tersebut.

“Saya ingin membawa kaset lagu Banjar ke Tembilahan,karena banyak kerabat di sana yang minta bawakan sebagai oleh-oleh kaset lagu Banjar tersebut,”kata Abdullah yang nenek moyangnya berasal dari Desa Kelua, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) Kalsel itu.

Tetapi berkat di Kota Banjarmasin ini banyak kerabat akhirnya melalui kerabat itulah ia berhasil mengantongi beberapa kaset lagu Banjar, berdasarkan keterangan kerabatnya terebut kaset-kaset lagu Banjar itu hanya berada di pertokoan kawasan Cempaka, itupun lokasinya berada agak ke dalam.

Abdullah sendiri merasa heran, mengapa kaset lagu Banjar di daratan tanah Banjar wilayah paling selatan Pulau Kalimantan ini sulit sekali diperoleh.

Beda jika berada di tanah Minang Sumatera Barat, bila ingin membeli kaset lagu suku tersebut mudah sekali, begitu juga jika berada di beberapa wilayah Pulau Jawa atau tanah Sunda mudah sekali kalau ingin memperoleh kaset lagu daerah tersebut.
Seorang seniman Banjar yang juga dikenal sebagai pencipta lagu-lagu berbahasa Banjar Jemmy Huzain mengakui kalau kaset lagu daerah setempat memang sulit diperoleh karena berbagai sebab.
Sebab utama adalah sulitnya memproduksi lagu Banjar ke dalam kaset untuk dikomersilkan.

Persoalan yang sering dihadapi pencipta lagu Banjar saat lagu-lagu tersebut diproduksi untuk dikomersialkan, harus membayar pajak cukup besar, setiap lagu dikenakan Rp1.250 bila satu kaset terdapat sepuluh lagu maka yang harus dibayar pajaknya Rp12.500.

Jika kaset yang diproduksi seribu buah saja berarti pajak yang harus dibayar produsen lagu tersebut Rp12.500.000, berarti cukup besar, itu hanya untuk bayar pajak, belum lagi biaya yang lain relatif besar pula.

“Kalau melihat biaya sebesar itu, siapa pun pencipta lagu dengan modal kecil seperti saya ini sulit untuk berkarya,” kata pencipta lagu Banjar “Aku Kada Baung,” tersebut.http://www.youtube.com/watch?v=ood-fFp9I_M

Akibat itu pula, maka hampir dipastikan kaset-kaset lagu Banjar tidak ada dijualbelikan di toko-toko kaset berlabel pajak, kecuali ada di kaki lima.

Padahal untuk meningkatkan nilai lagu-lagu Banjar tersebut, seharusnya di setiap toko kaset mudah diperoleh oleh peminatnya, jangan seperti sekarang untuk mencari kaset di toko kaset dipastikan lagu Banjar hampir tak ditemui, katanya.

Menurutnya untuk meningkatkan produksi lagu Banjar tersebut harus ada peran pemerintah setempat.
Kalau pemerintah daerah peduli sebaiknya pemerintah setempat harus menganggarkan dana untuk membantu penciptaan lagu Banjar itu, umpamanya membantu soal pajak sajalah tak usah soal yang lain, karena itu sudah meringankan beban para seniman mengembangkan lagu daerah tersebut.

Kepada seniman juga seharusnya diberikan penghargaan yang memadai agar merangsang seniman lain untuk berkreasi seperti yang terjadi pada seniman-seniman di daerah lain seperti di Pulau Jawa.
Kurang dihargai
Beberapa masalah yang dihadapi sehingga keberadaan lagu Banjar tidak bisa menjadi “tuan” di kampungnya sendiri, kata seorang yang juga pencipta lagu Banjar, Drs Noor Hasan seraya menyebutkan bahwa lagu Banjar kurang dihargai di kampung sendiri.

Warga Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan dinilai kurang menghargai karya-karya lagu daerah berbahasa Banjar, sehingga kurang menggairahkan seniman lagu setempat untuk lebih berkreasi.

Ia menambahkan seringkali ciptaan lagu daerah tersebut setelah dirilis tak laku di pasaran, yang membuktikan apresiasi warga terhadap lagu itu kurang.

“Saya sendiri sering mencipta lagu, kemudian dibuat album, dan sering ketemu kenalan atau teman,mereka lebih banyak ingin meminta kaset album itu kepada aku, bukan berusaha mencari atau membeli kaset itu di tempat menjual kaset tersebut,” kata Noor Hasan.

Menurut Hasan ia sendiri tidak pelit untuk memberikan kaset itu, tetapi hal itu membuktikan penghargaan terhadap karya cipta itu kurang.

Lihat saja kaset-kaset Didi Kempot yang berbahasa Jawa ketika dirilis langsung laris manis di pasaran, karena warga di Pulau Jawa menghargai karya seni daerah.

“Seni dan bisnis kadangkala sulit dipisahkan, gimana seni bisa berkembang baik kalau bisnis seninya juga kurang berkembang baik,” tutur Noor Hasan yang mengakui telah puluhan buah mencipta lagu-lagu daerah berbahasa Banjar.

Noor Hasan yang kini menjabat sebagai Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kota Banjarmasin tersebut berharap kedepannya apresiasi terhadap lagu daerah itu kian berkembang.

Oleh karena itu, melalui instansinya ia meminta kepada pemilik hotel dan restauran, rumah makan, cafe-cafe, dan lokasi dimana banyak orang berkumpul sering diputar lagu-lagu daerah.

“Saya meminta peran pengusaha tempat hiburan, cafe, rumah makan, restauran dan fasilitas kepariwisataan lainnya untuk lebih sering memutar lagu-lagu daerah maksudnya agar pengunjung di lokasi tersebut merasakan nuansa kedaerahannya,” katanya.

Baik Noor Hasan maupun Jemmy Huzain sepakat harus ada “gerakan” yang mampu mengangkat keberadaan lagu banjar menjadi “raja” di kampungnya sendiri.

“Kalau tidak ada gerakan semacam itu dikhawatirkan lagu Banjar kian terpinggirkan oleh lagu-lagu daerah lain, lagu nasional bahkan oleh lagu-lagu dari negara Barat,”kata Jemmy Huzain kepada penulis di balaikota Banjarmasin.

Gerakan tersebut seharusnya dimulai oleh kalangan pemerintah provinsi setempat yang diikuti oleh gerakan pemerintah kabupaten dan kota yang ada di wilayah Kalsel.

“Saya sering menyaksikan, di kala pertemuan,silaturahmi atau sebuah resepsi,pejabat Kalsel sendiri suka sekali membawakan lagu-lagu Barat, bukannya lagu daerah sendiri, padahal lagu Barat itu kan kurang dimengerti syairnya, dan itu membuktikan bahwa pejabat kurang berkeinginan memasyarakatkan lagu daerah sendiri” kata Jemmy Huzain.

Gerakan tersebut dengan cara menggelorakan lagu-lagu Banjar disetiap kesempatan, baik di hotel-hotel, restauran, di terminal pelabuhan, Bandara, atau tempat-tempat keramaian lainnya.

Atau selalu menyajikan lagu daerah Kalsel itu pada setiap kesempatan pertemuan, resepsi perkawinan, resepsi perpisahan, ulang tahun, ramah tamah, dan kegiatan lainnya.

Melalui gerakan tersebut juga diharapkan sesering mungkin diadakan lomba-lomba nyanyi berbahasa Banjar, baik di lingkungan sekolah, perguruan tinggi,perkumpulan, komunitas, dan saat peringatan hari-hari besar nasional seperti acara peringatan kemerdekaan RI.

“Bahkan kalau perlu, ada semacam peraturan daerah (Perda) yang mengharuskan pada kegiatan semacam itu selalu menyajikan lagu Banjar itu,” tutur Jemmy Huzain.
Dimulai 1959
Bagi masyarakat di luar tanah Banjar, mungkin sering saja mendengar lagu Banjar, karena ada dua buah lagu yang terkenal secara nasional dan sering dinyanyikan kalangan artis ibukota.

Kedua lagu tersebut adalah “Ampar-Ampar Pisang”http://www.youtube.com/watch?v=4fUpY32qEmQ ciptaan Thamrin tapi dirilis oleh Hamiedan AC dan lagu “Paris Barantai” ,http://www.youtube.com/watch?v=797rK4gedl0 ciptaan H. Anang Ardiansyah merupakan dua lagu yang menjadi kiblat dalam mencipta lagu daerah Banjar.

Hal ini karena kedua lagu inilah yang pertama kali direkam dan dikenal banyak orang.

anang ardiansyah

Haji Anang Ardiansyah

Pencipta lagu Banjar sekaligus penyanyinya yang paling terkenal adalah haji Anang Ardiansyah.

Berdasarkan sebuah catatan, Haji Anang Ardiansyah memulai mencipta lagu sejak SMA, Ketika merantau ke Malang, Jawa Timur pada tahun 1957 untuk belajar di SMA Islam Malang setelah menepuh SD dan SMP di Banjarmasin.

Setahun kemudian Anang pindah ke Surabaya, di kota ini dia bergabung dengan Orkes Melayu Rindang Banua yang dipimpin dokter Sarkawi.

Orkes ini kumpulan pemuda Kalimantan yang tergabung dalam Kerukunan Keluarga Kalimantan, di sinilah belajar membuat lagu banjar dari gubahan lagu-lagu rakyat berupa pantun.
Setelah digubah, jadilah lagu-lagu banjar baru dan bisa diterima warga setelah itu sering membawakannya saat diundang mengisi acara perkawinan.

Begitu seringnya membawakan lagu Banjar, grup Rindang Banua menjadi terkenal di Surabaya dan Banjarmasin. Grup ini terangkat namanya tahun 1959 saat lagu Paris Barantai masuk rekaman piringan hitam yang dikerjakan Lokananta di Solo.

aku kada baung

GOTONG ROYONG KENTAL PADA PERKAWINAN ADAT BALANGAN

Oleh Hasan Zainuddin
Suara canda ria terdengar memecah suasana kesunyian dini hari Minggu (15/7)di Desa Pulauwanin Kecamatan Paringin Selatan,Kabupaten Balangan Provinsi Kalimantan Selatan.

Canda ria tersebut datang dari puluhan pemuda dan orang tua laki-laki di lokasi “pengawahan” (menanak nasi dengan wajan besar) di tempat acara perkawinan adat Kabupaten Balangan di desa tersebut.

Puluhan orang dengan berselimutkan sarung dan berjaket serta menggunakan songkok (kupiah) asyik bercanda ria seraya bersama-sama mengerjakan memasak nasi untuk menyiapkan hidangan perkawinan salah saru warga desa itu akan digelar pada hari Minggu.

Sementara canda ria lain terdengar pula tak jauh dari lokasi itu setelah puluhan orang gadis dan orang tua perempuan secara bersama-sama pula mengerjakan “penyambalan” (membuat sambal dan ramuan ) untuk hidangan acara serupa.

Hidangan yang disediakan pada pesta tersebut memang beraneka ragam, tetapi yang tidak ketinggalan adalah nasi dan “gangan waluh bagarih” (gulai labu campur ikan kering gabus).

Mengawah

Memang begitulah kebiasaan warga di dekat Pegunungan Meratus tersebut saat mengerjakan acara perkawinan, agar acara yang digelar cukup besar itu terasa ringan.

Perkawinan tersebut dilangsungkan oleh Keluarga Armuji setelah putranya Khairudian menyunting gadis di desa lain, kemudian menggelar acara perkawinan di rumah keluarga tersebut.

Menurut, Armuji sendiri, nilai gotong rotong tersebut tidak semata terlihat saat hari pelaksanaan perkawinan saja tetapi jauh-hari hari sudah terlihat begitu kental.

manyambal

Karena untuk menggelar acara perkawinan adat setempat menelan waktu lama, mulai dari acara “batatampanan” (pinangan), kemudian dilanjutkan dengan pernikahan hingga perta perkawinan sendiri.

Setiap proses perkawinan selalu melibatkan warga untuk selalu bergotong goyong.

Sebagai contoh saja, saat batatampanan biasanya penyelanggara perkawinan menghadirkan para ibu-ibu kedua belah pihak dan saat itu disajikan makanan khas setempat disebut wadai “gayam.”
Untuk membuat penganan itu para ibu-ibu setempat selalu bergotong royong membuatnya.

Kemudian untuk menghadapi pesta perkawinan dengan menghadirkan hidangan yang begitu banyak memerlukan kayu bakar tak sedikit.

Lantaran di kawasan tersebut masih memanfaatkan kayu bakar maka warga pun dengan bergotong royong mencari kayu bakar yang ada di hutan-hutan kemudian dikumpulkan satu per satu sehingga tumpukan kayu bakar menggunung.

Acara mencari kayu bakar bersama-sama tersebut disebut oleh warga setempat dengan “mengayu.” Acara itupun tentu dibarengi dengan makan-makan bersama, seperti nasi campur dengan “garinting” (ikan kering) ditambah sedikit sayuran.

Kemudian juga acara “bakumpulan” (berkumpul) warga desa untuk membahas tugas-tugas yang dieman warga desa saat pesta nanti, ada yang bertugas menunggu tamu, bertugas mencuci piring, bertugas mengawah, bertugas “menggangan” (membuat sayuran berkuah), bertugas menyediakan sajian, bertugas lain-lainnya.

bakakambangan

Dalam acara bakumpulan itu pula diputuskan untuk menggelar jenis hiburan jenis apa saat hari “H” pesta perkawinan, kata Kepala Desa Panggung, Iyus yang desanya juga sering menggelar acara serupa.

Menurut Iyus, jenis hiburan yang sering ditampilan saat pesta adat tersebut antara lain, “baurkes” (orkes melayu), kasidahan, karaoke, madihin, bakisah, bawayang (wayang kulit), bamanda (seni tradisi serupa lenong) atau jenis seni lainnya.

Untuk membayar biaya hiburan tersebut 70 persen dibebankan kepada hasil gotong royong masyarakat, baru 30 persen ditanggung penyelanggara, kata Iyus.

Mengupas kelapa

Untuk membangun panggung hiburan itupun seratus persen hasil gotong royong warga desa, seperti menyediakan batang nyiur untuk tiang panggung, atap rumbia, atau bambu, rotan, dan lantai papan.

Sementara rumah mempelai pun biasanya dihiasi dengan aneka hiasan atau bunga-bunga yang disebut “kakambangan.”
Untuk membuat kakambangan itupun dikerjakan seratus persen gotong royong oleh pemuda dan pemudi setempat.

Mengenai biaya perkawinan disebutkan oleh Iyus, itu merupakan hasil gotong royong warga pula dengan sistem menyerupai arisan.
Umpamanya seperti ini, bila seorang warga menggelar acara perkawinan maka warga lain membantu uang Rp100 ribu, maka disaat warga lain itu menggelar acara serupa maka warga menggelar acara terdahulu harus membayar pula dengan nilai sama Rp100 ribu.

Begitu pula bila warga membantu sekarung beras maka nantinya harus dibayar sekarung beras, sekarung gula dibayar sekarung gula, bantu kelapa bayar kelapa, bantu sayuran berupa umbut nyiur haru dibayar umbut nyiur, begitu seterusnya, walau hal itu tak ada perjanjian tertulis tetapi harus dipenuhi karena hal itumerupakan sebuah etika saja, kata Iyus.

Penyajian makanan saat pesta perkawinan biasanya dibagi dua kelompok, kelompok pertama pada pagi hari khusus menyediakan makan warga sekampung.

Kelompok kedua biasanya agak siang hari untuk para undangan yang datang dari kampung-kampung lain, katanya lagi.

Melihat nilai kegotong royongan tersebut maka walau biaya perkawinan adat Kabupaten Balangan dirasa relatif besar tetapi oleh banyak pengalaman hal itu dinilai menjadi ringan-ringan saja.

memasak wadai gayam