ZAINAL BETA INGIN SATUKAN TANAH INDONESIA DI ATAS KANVAS

beta

Aku Penulis dengan Zainal Beta sang pelukis

Oleh Hasan Zainuddin
Sesekali matanya menerawang sementaratara telunjuk tangannya sesekali juga di putar-putar, saat diwawancarai penulis di lokasi pameran lukisan seniman lukis Kota Makassar, di ibukota Provinsi Sulawesi Selatan tersebut, Minggu (2/4).
“Saya ingin sekali menyatukan tanah-tanah di Indonesia di atas kanvas melalui sebuah lukisan,” kata Zaenal Beta (56) sang piawai melukis di kanvas dengan menggunakan bahan tanah liat.
Namun keinginan tersebut belum pernah tercapai, tetapi pelukis beraliran ekspresionis berharap ada pihak yang bersedia mensponsorinya mewujudkan cita-cita yang sudah lama terpendam tersebut.
Tetapi menyatukan tanah di Sulawesi Selatan (Sulsel) tanah kelahirannya sudah ia lakukan, dan sudah tak terhitung jumlah lukisan di atas kanvas melalui media tanah liat, setelah mulai berkarya 1980.
Ibu jarinya menunjuk beberapa lukisan di galeri lukisan kawasan Benteng Fort Rotterdam, Makassar, di antara sekian lukisannya, sudah banyak yang dikoleksi orang trermasuk kolektor dari Belanda, Jerman, Rusia, Perancis, Australia, dan banyak lagi kolektor dari berbagai negara membeli karya yang langka tersebut.
Ia menyebutkan, melukis dengan media tanah liat memang tak ada dalam teori, itu muncul secara tak sengaja, ketika ia masih remaja menemukan sebuah kertas yang jatuh ke tanah, setelah tanah di atas kerja disapu ternyata menurutnya mengandung sebuah objek di si kertas tersebut.
Mulai saat itulah ia berpikir ingin memunculkan sebuah karya lukis yang bedea dengan orang lain, jika orang lain memanfaatkan cat untuk sebuah lukisan di atas kanvas, ia justru memanfaatkan warna tanah untuk media lukisannya.
Oleh sebab itu, bukan kuwas yang digunakan untuk mewujudkan sebuah karya lukisannya tetapi justru hanya sebuah bilah yang terbuat dari bambu, katanya berbincang dengan penulis.
Penulis sendiri berada di Kota Makassar untuk menghadiri Musyawarah Nasional (Munas) Komunitas Sepeda Tua Indonesia (Kosti), sekaligus ikut ngontel bareng bersama ribuan onthelis lainnya.
Menuruit Zainal tadinya lukisannya tak pernah dihiraukan orang lantaran tak lazim dilakukan seniman, tetapi setelah ia mengikuti sebuah pameran di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta tahun 1986, mulai saat itulah dikenal dan diakui.
Pengakuan hasil karya seni Zainal Beta itu pun setelah maestro lukis Indonesia Affandi mengetahui adanya lukisan dengan tanah liat, maka sang maestro itu pun datang menyempatkan diri ke TIM menyaksikan lukisan karya Zainal Beta ini.
Setelah meyaksikan itulah maka keluar pengakuan dari Affandi bahwa lukisan Zaenal beta istemewa yang tak ada dimana pun di dunia ini.
“Ketika itu, Pak Affandi datang ke pameran lalu memuji karya saya, beliau menggelari saya sebagai professor lukis Indonesia, sedangkan dirinya hanya doktor, dia bilang begitu karena dia belum pernah melihat sebelumnya ada pelukis menggunakan tanah liat selain saya, saya dianggap penemu lukisan tanah liat,” ujar Zaenal sambil tersenyum.
Menurut Zaenal Beta setelah itu lah lukisannya diakui sebuah karya seni yang terus digelutinya hingga sekarang dan terus berinovasi dengan aneka warna tanah liat.
Ketika ditanya dari mana ada tanah liat yang diperoleh untuk melengkapi warga sebuah karya lukisnya, ia menyebutkan sementara ini hanya dari Sulsel saja paling jauh dari Luwo sebuah daerah terjauh di wilayah provinsinya.
Warna tanah di Sulsel sendiri ada 20 warna, merah, coklat, hijau, hitam, putih abu-abu dan sebagainya, kecuali warna biru yang tidak ada.
Dari aneka warna tanah tersebut hampir bisa dipastikan ia bisa menjadikan sebuah karya lukis bagaikan karya yang berasal dari media cat minyak atau cat air, oleh karena itu ia selalu optimis bisa mewujudkan sebuah lukisan sebagaimana yang diinginkan kalangan pecinta seni lukis.
Tentu saja untuk menciptakan sebuah lukisan itu ia tak sembarangan memanfaatkan tanah liat tersebut, harus dilakukan persiapan bahan dari tanah liat dengan memilih tanah liat yang halus. Lalu dicampur dengan air yang kemudian disaring untuk mendapatkan karakter tanah liat dengan warna yang pas di kanvas.
Kebanyakan karya Zaenal Beta yang identik dengan nilai budaya khas Sulsel, seperti lukisan Perahu Phinisi, lukisan senja dan rumah arsitektur Bugis-Makassar atau budaya lokasl lainnya, sehingga banyak lukisannya yang menghiasi dinding-dinding hotel berbintang di Makassar. Karyanya juga menjadi buruan kolektor lukisan yang datang berkunjung ke Makassar.
Pria berambut gondrong asal Sungguminasa, Kabupaten Gowa ini, tidak pelit membagi ilmunya. Di sanggar lukisnya, Zaenal tekun mengajari murid-muridnya, dari usia kanak-kanak hingga orang dewasa.
Zaenal juga aktif di komunitas Indonesia seniman lainnya yang rutin berkumpul di benteng tempat Pangeran Diponegoro ditahan oleh Belanda tersebut.
Kalau kebetulan sedang jalan-jalan di Benteng Fort Rotterdam, tidak ada salahnya untuk singgah di galerinya. Bagi yang hendak mengoleksi karyanya, Zaenal menjual lukisan tanah liatnya dengan harga yang ramah di kantong pelancong.
Ketika ditanya penurus karyanya, ia menyebutkan dua anaknya sudah pula menggeluti profesi tersebut, tetapi ia pun rela mengajarkan ilmunya atas kamampuannya kepada pelukis-pelukis muda di wilayah tersebut, atau kepada siapa saja yang ingin belajar.
Ketika di tanya lagi cita-citanya dengan ekspresi wajah berharap, ia ingin sekali melakukan karya lukisnya tak hanya di Indonesia, melainkan ke luar negeri, agar karya-karyanya lebih dikenal secara mendunia.
Oleh karena itu ia berharap pemerintah, bisa membantu ia atas nama Bangsa Indonesia memperkenalkan Indonesia melalui sebuah karya lukis unik ini ke belahan dunia lain.

Zaenal-Beta

“MELINGAI” IKUT SELAMATKAN AIR MUKA BUMI

bumi

Oleh Hasan Zainuddin
Dengan bermandikan lumpur delapan anak muda yang tergabung dalam kelompok pencinta lingkungan, Masyarakat Peduli Sungai (Melingai), terus bekerja mengangkat sampah dan lumpur saat lomba angkat lumpur diselanggarakan Balai Wilayah Sungai (BWS) II.
Kelompok ini bergabung dengan 40 kelompok lainnya dalam kegiatan yang berlangsung di Sungai Teluk Dalam Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Rabu, 22 Maret lalu.
“Kami tak terlalu butuh jembatan layang. Kami tidak terlalu butuh hotel mewah dan mal atau pusat perbelanjaan yang gemerlapan. Yang kami butuhkan justru sungai yang baik dengan persediaan air bersih yang cukup. Oleh karena itulah pembangunan untuk kehidupan yang sesungguhnya,” kata Zany Thalux, anggota kelompok Melingai.
“Buat apa bangunan fisik mewah kalau air bersih tidak ada sama saja dengan bunuh diri. Makanya, kami bertekad menyelamatkan persediaan air di muka bumi ini,” katanya saat diwawancarai beberapa kru televisi dari TVRI, Antaranews TV, dan BanjarTV usai lomba angkat lumpur yang dibuka Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina.
Dalam lomba angkat lumpur yang diselanggarakan BWS bekerja sama dengan Pemkot Banjarmasin, Korem 101 Antasari, dan Kodam Mulawarman itu diikuiti 400 peserta atau 40 kelompok kaitan Hari Air Sedunia ke-25. Peserta lomba terdiri atas kalangan berbagai komunitas, kelompok pencinta lingkungan, masyarakat cinta sungai, regu pemadam kebakaran, pelajar, mahasiswa, dan kelompok masyarakat lainnya.
Semangat dari pencinta lingkungan “Melingai” tersebut agaknya berasalasan karena Banjarmasin yang dikenal sebagai “kota seribu sungai” tersebut kini kondisi sungainya sudah memprihatinkan, dari 150 sungai yang ada sebelumnya tinggal 102 sungai, karena selebihnya sudah mati lantaran simentasi, terkena pengembangangan perkotaan, gulma, serta sampah rumah tangga dan limbah.
Kandungan bakteri e-coli sungai Banjarmasin yang berhulu di Pegunungan Meratus tersebut sudah sangat memprihatinkan lantaran mencapai belasan ribu PPM, idealnya kandungan bakteri tersebut di air sungai hanya 250 PPM saja.
Itu lantaran air sungai tercemar berat tinjua manusia setelah penanganan sanitasi di kota berpenduduk sekitar 800.000 jiwa itu tidak tertangani dengan baik, sementara Perusahaan Daerah Pengolahan Air Limbah (PD Pal) hanya mampu merekrut 5 persen pelanggan dari jumlah penduduk.
Rusaknya sungai di Banjarmasin juga ditandai dengan intrusi air laut yang begitu jauh ke hulu sungai yang menandakan areal resapan air atau kesmen area di Pegunungan Meratus sudah rusak akibat penebangan kayu secara liar dan penambangan, akhirnya debet air berkurang sehingga tekanan ke hilir melemah dan tekanan air laut ke hulu sungai kian kuat.
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bandarmasih Kota Banjarmasin sering kali mengeluarkan keluhan menyusul kian menyusutnya persediaan air baku untuk diolah menjadi air bersih di perusahaan tersebut.
“Dalam sejarah tak pernah air laut intrusi jauh ke hulu di Sungai Martapura yang selama ini menjadi sumber bahan baku air PDAM kami, sekarang sudah sampai ke Sungai Tabuk, padahal Sungai Tabuk adalah lokasi terbesar pengambilan air baku perusahaan kami,” kata Direktur PDAM Bandarmasih, Ir Muslih.
Kerisauan akan minimnya persediaan air tersebut terus mengemuka di kalangan masyarakat karena berdasarkan catatan jumlah air tawar di dunia ini hanya 3 persen dibandingkan air laut, dan dari 3 persen air tawar tersebut hanya 3 persen saja yang bisa dimanfaatkan untuk air minum, yakni air permukaan seperti air sungai itu.
Oleh karena itu, jika air permukaan yang berada di aliran sungai tersebut rusak, air bersih akan menjadi rebutan. Dikhawatirkan air bersih akan lebih mahal ketimbang dengan bahan bakar minyak (BBM). Dikhawatirkan pula ke depan peperangan antarnegara atau bangsa boleh jadi karena merebutkan persediaan air bersih.
Pencinta lingkungan, seperti “Melingai”, berkeinginan mempertahankan persediaan air sungai sebagai air minum itu lebih penting dari segala-galanya karena kehidupan apa pun di dunia ini ada ketergantungan pada air.
Melingai yang dibentuk oleh kalangan pencinta lingkungan di kota sungai ini tadinya hanya beberapa orang saja. Namun, sekarang makin banyak yang terlibat dalam kelompok ini yang selalu melakukan kegiatan atau aksi lingkungan setiap Sabtu atau Minggu.
Kegiatannya, antara lain, membersihkan sampah yang mengapung di sungai, membersihkan selokan dan drainase, serta penanaman pohon penghijauan di bantaran sungai, membersihkan gulma sungai, tidak kurang dari 7.000 pohon sudah ditanam, termasuk memperindah sungai-sungai kecil dengan tanaman teratai.
Dengan komitmen demikianlah, Melingai pun tak ingin ketertinggalan dalam lomba angkat lumpur yang tujuannya selain merehabilitasi sungai, juga sebagai kegiatan edukasi kepada masyarakat untuk sama-sama memelihara sungai.

Air Limbah
Pada peringatan Hari Air Sedunia kali ini bertema “Air dan Air Limbah” yang keinginannya mengajak semua pihak mempertahankan ketersediaan air dan pengelolaan air limbah secara baik sebagai investasi kehidupan ke depan.
Berdasarkan catatan, salah satu dari 17 target Sustainable Development Goals (SDG 20130) memastikan akses air bersih dan sanitasi untuk semua. Sekarang ini kelangkaan air berdampak pada 40 persen orang di seluruh dunia, lebih dari 663 juta orang hidup tanpa pasokan air bersih dekat dengan rumahnya.
Angka itu diperkirakan kian mengkhawatirkan seiring dengan kian bertambahnya penduduk bumi ini. Pada tahun 2050, penduduk bumi ditaksir sembilan miliar orang. Diperkirakan pula satu di antara empat orang akan terdampak oleh kekurangan air.
Indonesia banyak tantangan penyediaan air baku untuk air bersih dan pengelolaan air limbah, cakupan pelayanan baru sekitar 70 persen. Maka, diperlukan daya dukung air baku yang besar.
Pelayanan air minum jaringan perpiaan masih 20 persen. Itu pun sebagian besar berada di perkotaan. Kondisi ini disebabkan insfrastruktur yang ada belum dimanfaatkan secara optimal dan kurang maksimalnya pemasangan pipa distribusi dan sambungan rumah.
Kondisi diperparah adanya pencemaran air, pengelolaan daerah tangkapan air yang kurang baik, dan fenomena perubahan iklim. Perubahan iklim terbukti memengaruhi siklus air sehingga memperpanjang kemarau, meningkatnya intensitas hujan, dan menaikkan permukaan alur sehingga meningkatkan kawasan banjir dan kekeringan.
Dari sisi suplai air baku, dihadapkan tantangan degradasi DAS di daerah hulu, menurunnya debit pada sumber-sumber air, dan tingginya laju sidimentasi pada tumpungan-tumpungan air, seperti bendungan, embung, danau, dan situ.
Selain itu, kualitas air makin rendah akibat tingginya tingkat pencemaran pada sungai dan sumber-sumber air lainnya.
Melihat kenyataan tersebut sudah selayaknya seluruh masyarakat memelihara sumber-sumber air yang ada di muka bumi ini dan membentuk kelompok-kelompok kepedulian terhadap lingkungan hidup, seperti memelihara hutan sebagai kawasan resapan air, menjaga sungai sebagai tempat penyimpanan air, dan melakukan rehabiltasi melalui gerakan penanaman pohon, pembersihan sungai, hingga setidaknya ke depan mengurangi keluhan mengenai ketersediaan air bersih ini.
Melingai Kota Banjarmasin yang kini sudah beranggotakan ratusan orang selalu melakukan aksi-aksi untuk menyentuh perasaan masyarakat agar ikut berkiprah memelihara lingkungan, khususnya menjaga sungai agar tidak dikotori oleh limbah-limbah, tak membuang sampah sembarangan, jangan pula menebang pohon kawasan resapan air karena ketersediaan air bersih sebenarnya itulah pembangunan dan kehidupan yang sesungguhnya.

BERANGAN-ANGAN, INAN/PANGGUNG DESA WISATA

dessaku

desaku

desaku1

 

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,25/3-2017 ()- Meniti jalan setapak dari satu hutan ke hutan lain, kemudian menelusuri sungai, naik jembatan gantung, melewati padang sawah, kentemu aneka pepohonan besar, dan diiringi bunyi burung elang, burung curiak, sesekali terdengar bunyi lutung (hirangan), ramainya bunyi katatangir, dan aneka bunyi lainnya yang membentuk “orkestra alam.”
“Sangat menyenangkan, membuat hati ini rasanya tenang sekali, kita terbiasa di kota yang bising, masuk desa rasanya hati ini damai, kapan lagi kita bang ke desa abang Desa Panggung atau Desa Inan, Kecamatan Paringin Selatan, Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan,” kata Nunuk Febriani anggota Forum Komunitas Hijau (FKH) Banjarmasin yang pertengahan Maret 2017 bertandang ke desa Panggung/Inan.
Lain lagi cerita, pak Mugeni seorang pensiunan berusia 76 tahun juga asal Kota Banjarmasin saat bertandang ke desa yang berdekatan dengan lereng Pegunungan Meratus ini, ia merasakan berada di desa jauh damai rasanya dibandingkan kota yang hiruk pikuk.
Bahkan saat berada di desa ini ia mencoba mandi di sebuah sungai, namanya sungai Pangkaranin, sekitar 500 meter dari jalan raya agak masuk ke dalam, di sungai ini ia ingin mandi berlama-lama, dan ia memisahkan diri dengan kawanan lainnya dan menyendiri.
Ternyata ia mandi di sungai yang airnya jernih tetapi warna agak ke cocacola-an itu telanjang bulat dan berendam berlama-lama di sungai itu tanpa sehelai kain pun menutup tubuhnya.
Ketika ditanya mengapa sampian telanjang apakah tak takut di gigit ular ia mengaku sama sekali tak takut diganggu binatang di sungai itu, bahkan menurutnya ia benar-benar menikmati.
Dalam pikirannya ia mencoba menjadi nenek moyang tempoe dulu tanpa ada pakaian lalu mandi di sungai yang masih alamiah seperti itu apa rasanya, lalu ia mencoba merasakan sejuk air, bagaimana rasanya resapan air alam langsung ke badan tanpa ada kain penghalang,  merasakan ditempuh arus air, seraya mendengarkan bunyi gemericik  air, bunyi semilir angin yang menerpa pepohonan, lalu ia mencoba menikmati bunyi binatang kecil di sungai itu dengan seksama, lalu buni burung di atas beterbangan, sekali bunyi kera.
“Eh ternyata dunia ini nikmat sekali, eh damai sekali, nikmat apa yang kau dustakan, asal kita benar-benar bisa menikmatinya,” kata orang tua mantan Kepala Dinas Pariwisata Kota Banjarmasin yang getol menggalakan dunia wisata di wilayah Banjarmasin dan sekitarnya.
Lain lagi cerita Mohammad Ary seorang aktivis lingkungan dan petinggi di Perguruan Tinggi Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) ini, sehari berada di kampung ini rasanya tak cukup seharusnya berminggu-minggu, tuturnya, karena melalui matanya telinganya , dan perasanaan ia cermati satu per satu di desa itu.
“Kalau melihat potensi alam, lahan yang subur, mustahil orang desa ini miskin, karena saya lihat tanaman cabai saja begitu suburnya, apalagi tanaman lain, kalau ada lahan satu hektare saja, sudah cukup kaya untuk menjalani kehidupan di desa ini, asal warga desa tidak malas bekerja menggarap lahan.
Ia mebcoba mencermati satu persatu pohon dan tanaman, semunya potensi ekonomi tinggi, banyak pohon gaharu, banyak pohon buah, dan sebagainya.
“Lihat ini ada pohon besar kusi mungkin usianya 300 tahun lebih, ini sangat bernilai sebagai warisan alam, ini kalau dipublikasikan tentu akan menarik orang datang ke desa ini, ini harus dipelihara sebagai lokasi penelitian, pendidikan, dan wisata,” kata Kepala Bagian Kerjasama Luar Negeri Unlam ini.
Sebagian orang yang pernah berkunjung ke desa ini selalu ingin mengulangi lagi kunjungannya, karena bisa menikmati suasana kampung dengan sambutan warga yang ramah, bisa merasakan bagaimana bercengkrama di “warung” dalam budaya mewarung, bisa menikmati ikut maaruah ( selamatan), sholat berjemaah di surau, atau ikut ke padang karet untuk nyadap lateks karet di kebun.
Banyak pilihan untuk merasa kehidupan yang sesungguhnya di desa ini, ada pemandian yang disebut “kolam jakatarub” ada beberapa pohon besar dengan diameter dua meter, ada sungai mengalir deras yakni sungai pitab dengan aneka kehidupannya seperti bisa menikmati mencari kijing (kerang sungai), mencari ketuyung (siput sungai), mencari daun paku (pakis) yang banyak dipantai sungai, atau bahkan mencari buah-buah hutan yang tak mungkin bisa ditemukan di perkotaan.
Bahkan beberapa kru televisi nasional, sepeti program si bolang, petualangan, makanan asal, di dol dan lainnya sudah beberapa kali melakukan liputan di desa ini, para kru televisi nasional yang datang dari Jakarta ini, meliput bagaimana memperoleh madu kelulut, atau bagaimana mencari ikan dengan cara membumbun, menantai, atau bagalau.
Lalu ada juga liputan mencari kulat karikit, kulat patiti, kulat lamak baung, kemudian mencari kijing dan sebagainya dan sudah puluhan kali liputan televisi nasional tertutama Trans7 .
Melihat potensi tersebut maka aku penulis sebagai seorang asal desa ini berkeinginan menciptakan desa ini sebagai desa wisata, tentu desa ini lebih dibenahi dan harus memperoleh dukungan semua pihak, siapa tahu desa ini kian maju dan warganya kian sejahtera.
Untuk menciptakan desa wisata desaku, yang berjarak sekitar 200 kilometer dari Banjarmasin,.atau sekitar tujuh kilometer dari Paringin ibukota Kabupaten Balangan,  tentu akses telepon dan internet harus mudah, kamudian akses jalan ke desa nyaman dan dari desa ke lokasi-lokasi yang menjadi perhatian pengunjung harus ada jalan yang mudah.
Umpamanya saja, di desa ini yang sudah dikenal, adalah lebah kalulut maka harus ada peternakan lebah kelulut ini dan alhamdulillah sudah dilakukan warga.
Lalu di desa ini ada beberapa pohon besar yang sebenarnya sangat diminati wisata makanya jalan ke arah pohon besar ini juga harus mudah, pohon besar tercatat Pohon Kusi, Pohon durian Lahung, pohon Binjai Wanyi, dan Pohon Tandui.

Lalu ada sungai-sungai kecil sebagai lokasi pemandian, ada petualangan ke gunung.
Di kampung ini masih ada kera besar yang disebut Bekantan (Nasalis larvatus), di sini ada tupai besar panjang hampir satu meter yang disebut kerawak atau tengkarawak, ada pula binatang kuung sejenis tokek tetapi sangat besar seperti kura-kura namun bisa terbang dari pohon ke pohon, di sini banyak kaluang atau kalong atau  kelalawar besar, ada pula kancil, trenggiling, dan adapula binatang Sikak bentuk persis  tupai tetapi agak hitam tak bisa naik pohon hanya di tanah.
Tanaman selain aneka anggrek dan buah-buahan juga ada banyak tanaman obat, dulu disebut telunjuk langit, ada pelungsur ular, bahkan ada tanaman beracun kecubung, jelatang, kerangka hirang, penyambung jawa, dan ratusan lain spicies tanaman langka.
Yang paling menarik di desa ini adanya danau tabat basar, dengan danau tabat besar ini jika gulma sungai atau kayapu di lokasi itu dibersihkan tentu sungainya lebih luas, lalu di lokasi ini mudah dijangkau dengan jalan darat, dibuatkan lapangan parkir kendaraan, lapangan pertunjukan jika ada pertunjukan, lalu dibuatkan rakit bambu, adan jukung atau sampan, biar siapa naik rakit atau jukung bisa membayar untuk kas desa, buatkan lokasi untuk foto selfie berbentuk amur atau tanda cinta, sehingga siapa berfoto di lokasi ini maka akan tahu itu berada di tabat basar.
Apalagi jika di dekat ini dibuatkan rumah pohon, atau rumah yang dibangun dari empat pohon  naik ke rumah pakai tangga dan dari rumah bisa melihat pemandangan di sekelilingnya. Tak usah besar yang penting di rumah ini bisa duduk dan bisa memfoto alam sekelilingnya.
Masyarakat sini sudah punya atraksi, seperti orkes dangdut, baanalan (pantul), ada jua ondel-ondel ala balangan, ada bambarungan, ada kuda gepang dan sebagainya sebagai atraksi wisata.
Sementara kuliner tentu di sini unik ada mandai, ada kulat kerikit, ada pucuk paku, kalakai, daun telunjuk langit, makanan keringnya ada rimpi pisang, ada rimpi tiwadak, keripik dan lainnya. Tinggal bagaimana membuat kerajinan tangan sebagai barang cendramata.
Jika semua ini diangan-angan kan ,  tentu adanya dukungan pemerintah dan masyarakat maka desa Panggung/Inan ini akan terwujud sebagai desa wisata.

sungaiku sungaiku1

pondok pondok1

jembatan gantung jembatan gantung1

santai pohon besar

watangan watangan1

anak hairudin lampau

Aruhan

aruh aruhan

aruhan1 aruhan2

lalapan

usung anggrek

durian panjang  butah6

buah-buahan

kasturi mundar
kepayang manggis

langsat lua

gambis

binatang

Bekantan dan Tengkarawak

bekantan tangkarawak

kulat

kulat kulat1

baulah gula habang

gula habang

mandian

danau anihing  mandian

mandian1

Kuliner

waluh mandai

Gangan walut

waluitmandai1

Rimpi tiwadak

rimpi tiwadak

petualang

sepeda

“MELINGAI” IKUT LOMBA ANGKAT LUMPUR SELAMATKAN AIR

https://wordpress.com/stats/day/hasanzainuddin.wordpress.com

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,22/3 (Antara)- “Kami tak terlalu berharap adanya jembatan layang, kami tidak terlalu butuh hotel mewah dan mal atau pusat perbelanjaan yang gemerlapan. Yang kami butuhkan justru sungai yang baik dengan persediaan air bersih yang cukup, karena itulah pembangunan untuk kehidupan,” kata sekelompok pemuda sebagai peserta lomba angkat lumpur.
“Buat apa bangunan fisik mewah kalau air bersih tidak ada, karena hal itu sama saja dengan bunuh diri, makanya kami bertekad menyelamatkan persediaan air di muka bumi ini,” kata kelompok pemuda dari komunitas Masyarakat Peduli Sungai (Melingai) Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, yang jadi peserta, saat diwawancarai beberapa kru televisi dari TVRI, Antaranews TV, dan BanjarTV usai lomba angkat lumpur yang dibuka Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina tersebut.
Dalam lomba angkat lumpur yang diselanggarakan Balai Wilayah Sungai Kalimantan II bekerjasama dengan Pemkot Banjarmasin, Korem 101 Antasari, dan Kodam Mulawarman tersebut diikuiti 400 peserta dibagi dalam 40 kelompok, salah satunya adalah peserta dari Melingai Banjarmasin tersebut.
Lomba yang berlangsung di Sungai Teluk Dalam Kota Banjarmasin tersebut dalam kaitan Hari Air Sedunia ke-25 yang jatuh pada tanggal 22 Maret 2017 hari Rabu ini. Tampak kemeriahan dan semangat dari para peserta yang terdiri dari kalangan berbagai komunitas, kelompok pecinta lingkungan, masyarakat cinta sungai, regu pemadam kebakaran, pelajar, mahasiswa, dan kelompok masyarakat lainnya.
Semangat dari pecinta lingkungan “Melingai” tersebut agaknya berasalasan karena Banjarmasin yang dikenal sebagai “kota seribu sungai” tersebut kini kondisi sungainya sudah memprihatinkan, dari 150 sungai yang ada sebelumnya, kini tinggal 102 sungai, karena selebihnya sudah mati lantaran sidementasi, terkena pengembangangan perkotaan, gulma, dan smpah rumah tangga dan limbah.
Kandungan bakteri koliform di sungai Banjarmasin yang berhulu di Pegunungan Meratus tersebut sudah sangat memprihatinkan, lantaran mencapai belasan ribu PPM, idealnya kandungan bakteri tersebut di air sungai hanya 250 PPM saja.
Itu lantaran air sungai tercemar berat tinja manusia setelah penanganan sanitasi di kota berpenduduk sekitar 800 ribu jiwa itu tidak tertangani dengan baik, sementara Perusahaan Daerah Pengolahan Air Limbah (PD Pal) hanya mampu merekrut lima persen pelanggan dari jumlah penduduk keseluruhan.
Rusaknya sungai di Banjarmasin juga ditandai dengan intrusi air laut yang begitu jauh ke hulu sungai yang menandakan areal resapan air atau kesmen area di Pegunungan Meratus sudah rusak akibat penebangan kayu secara liar dan penambangan, akhirnya debet air berkurang sehingga tekanan ke hilir melemah dan tekanan air laut ke hulu sungai kian menguat.
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bandarmasih, Kota Banjarmasin, sudah seringkali mengeluarkan keluhan menyusul kian menyusutnya persediaan air baku untuk diolah menjadi air bersih di perusahaan tersebut.
“Dalam sejarah tak pernah air laut intrusi jauh ke hulu di Sungai Martapura yang selama ini menjadi sumber bahan baku air PDAM kami, sekarang sudah sampai ke Sungai Tabuk, padahal Sungai Tabuk adalah lokasi terbesar pengambilan air baku perusahaan kami,” kata Direktur PDAM Bandarmasih, Ir Muslih.
Kerisauan akan minimnya persediaan air tersebut terus mengemuka di kalangan masyarakat, karena berdasarkan catatan jumlah air tawar di dunia ini hanya tiga persen dibandingkan air laut, dan dari tiga persen air tawar tersebut hanya tiga persen saja yang bisa dimanfaatkan untuk air minum, yakni air permukaan seperti air sungai itu.
Oleh karena itu, jika air permukaan yang berada di aliran sungai tersebut rusak maka air bersih akan menjadi rebutan, dan dikhawatirkan air bersih akan lebih mahal ketimbang dengan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan dikhawatirkan pula kedepan peperangan antarnegara atau bangsa boleh jadi karena merebutkan persediaan air bersih ini saja.
Makanya, oleh pecinta lingkungan seperti “Melingai” ini keinginan mempertahankan persediaan air sungai sebagai air minum itu lebih penting dari segala-galanya, karena kehidupan apapun di dunia ini pasti ada ketergantungan dengan persoalan air ini.
“Melingai” yang dibentuk oleh kalangan pecinta lingkungan di kota sungai ini, tadinya hanya beberapa orang saja, namun sekarang semakin banyak yang terlibat dalam kelompok ini yang selalu melakukan kegiatan atau aksi lingkungan setiap hari Sabtu atau Minggu.
Kegiatannya antara lain membersihkan sampah yang mengapung di sungai, membersihkan selokan dan drainase, serta penanaman pohon penghijauan di bantaran sungai, membersihkan gulma sungai, tak kurang dari 7000 pohon sudah ditanam, termasuk memperindah sungai-sungai kecil dengan tanaman teratai.
Dengan komitmen demikianlah maka “Melingai” pun tak ingin ketertinggalan dalam lomba angkat lumpur yang tujuannya selain merehabilitasi sungai sekaligus sebagai kegiatan edukasi kepada masyarakat untuk sama-sama memelihara sungai.

Air dan Air Limbah

Pada peringatan hari air se-dunia kali ini bertema “air dan air limbah” yang keinginannya mengajak semua pihak mempertahankan ketersediaan air dan pengelolaan air limbah secara baik sebagai investasi kehidupan ke depan.
Berdasarkan catatan, salah satu dari 17 target Sustainable Development Goals (SDG 20130) memastikan akses air bersih dan sanitasi untuk semua. Sekarang ini kelangkaan air berdampak pada 40 persen orang di seluruh dunia, lebih dari 663 juta orang hidup tanpa pasokan air bersih dekat dengan rumahnya.
Angka itu diperkirakan kian mengkhawatirkan seiring kian bertambahnya penduduk bumi ini, tahun 2050 penduduk bumi ditaksir sembilan miliar orang. Diperkirakan pula satu di antara empat orang akan terdampak oleh kekurangan air.
Indonesia banyak tantangan penyediaan air baku untuk air bersih dan pengelolaan air limbah, cakupan pelayanan baru sekitar 70 persen maka diperlukan daya dukung air baku yang besar.
Pelayanan air minum jaringan perpipaan masih 20 persen itupun sebagian besar berada di perkotaan. Kondisi ini disebabkan insfrastruktur yang ada belum dimanfaatkan secara optimal dan kurang maksimalnya pemasangan pipa distribusi dan sambungan rumah.
Kondisi diperparah adanya pencemaran air, pengelolaan daerah tangkapan air yang kurang baik, dan fenomena perubahan iklim. Perubahan iklim terbukti mempengaruhi siklus air sehingga memperpanjang kemarau, meningkatnya intensitas hujan, dan menaikan permukaan alur sehingga meningkatkan kawasan banjir dan kekeringan.
Dari sisi suplai air baku, dihadapkan tantangan degradasi DAS di daerah hulu, menurunnya debit pada sumber-sumber air, dan tingginya laju sidimentasi pada tumpungan-tumpungan air, seperti bendungan, embung, danau, dan situ.
Selain itu kualitas air semakin rendah akibat tingginya tingkat pencemaran pada sungai dan sumber-sumber air lainnya.
Melihat kenyataan tersebut sudak selayaknya seluruh masyarakat memelihara sumber-sumber air yang ada di muka bumi ini, dan membentuk kelompok-kelompok kepedulian terhadap lingkungan hidup, seperti memelihara hutan sebagai kawasan resapan air, menjaga sungai sebagai tempat penyimpanan air, dan melakukan rehabilitasi melalui gerakan penanaman pohon, pembersihan sungai hingga setidaknya kedepan mengurangi keluhan mengenai ketersediaan air bersih ini.
“Melingai” dari Kota Banjarmasin yang kini sudah beranggotakan ratusan orang selalu melakukan aksi-aksi untuk menyentuh perasaan masyarakat agar ikut berkiprah memelihara lingkungan, khususnya menjaga sungai agar tidak dikotori oleh limbah-limbah, tak membuang sampah sembarangan, jangan pula menebang pohon kawasan resapan air karena ketersediaan air bersih sebenarnya itulah pembangunan dan kehidupan yang sesungguh-sungguhnya. ***4****1234

https://www.facebook.com/groups/1418569291713085/

MADAM KA BANUA URANG: MIGRASI DAN PERUBAHAN SOSIAL DALAM KALANGAN ORANG BANJAR DI MALAYSIA

saleh lamri

 

Dr. Mohamed Salleh Lamry
Universiti Kebangsaan Malaysia

Abstrak
Orang Banjar dari Kalimantan Selatan (Kalsel) telah keluar merantau atau madam secara beramai-ramaike Malaysia (Malaya atau Tanah Melayu waktu itu) pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Sebahagian besar daripada mereka merupakan “perantau hilang” iaitu perantau yang terus menetap di perantauan dan tidak pulang lagi ke Kalsel. Di Malaysia mereka membuka “kampung Banjar” dan meneruskan cara hidup Banjar sebagaimana di Kalsel. Walau bagaimanapun, selepas berlalunya waktu lebih 100 tahun, kinidapat diperhatikan telah berlaku pelbagai perubahan dalam cara hidup keturunan mereka di perantauan.Mereka telah berubah menjadi Banjar Baru, walaupun perubahan itu belumlah menyeluruh.Di Malaysia perubahan sosial ini berlaku terutamanya sebagai kesan dari dasar dan rancangan pembangunan kerajaan, di samping ada juga kerana pengaruh persekitaran, termasuk pengaruh globalisasi. Oleh itu, makalah ini ingin menghuraikan tiga perkara: a) Sejarah migrasi orang Banjar ke Malaysia, b) Pelestarian cara hidup Banjar dalam kalangan orang Banjar generasi awal, dan c) Perubahan sosial dalam kalangan orang Banjar di Malaysia masa kini. Makalah ini terutamanya ditulis berdasarkan kajian perpustakaan dan pemerhatian di beberapa buah kampung Banjar di Malaysia, khasnya di daerah Sabak Bernam, Selangor dan di beberapa taman perumahan di kota Kuala Lumpur.

PENDAHULUAN
Orang Banjar yang berasal dari Kalimantan Selatan (Kalsel) dipercayai telah berada di Malaysia (khasnya di Semenanjung Malaysia atau Tanah Melayu) sejak akhir abad ke-19. Kini keturunan mereka, bersama dengan keturunan suku lain dari Indonesia, seperti Jawa, Minangkabau, Mandailing, Rawa, Bugis, Boyan (Bawean) dan lain-lain, dan keturunan pendatang dari China dan India, merupakan sebahagian daripada rakyat Malaysia yang berjumlah kira-kira 26 juta orang.
Orang Banjar yang berhijrah ke Semenanjung Malaysia (seterusnya disebut Malaysia saja) bertumpu ke tiga negeri bahagian: Perak, Selangor dan Johor. Sebahagian daripadamereka ada yang pernah tinggal di tempat lain, seperti Kuala Tungkal (Jambi), Tembilahan (Riau) atau Deli (Sumut) terlebih dahulu sebelum berpindah ke Malaysia, tetapi lebih banyak lagi yang terus datang ke Malaysia.
Sebagaimana orang Banjar yang berhijrah ke tempat lain, kebanyakan orang Banjar yang berhijrah ke Malaysia adalah “perantau hilang”, iaitu perantau yang terus menetap di Malaysia dan tidak pulang lagi ke Kalsel. Mereka diterima oleh kerajaan penjajah Inggeris pada masa itu sebagai sebahagian daripada bangsa Melayu atau bumiputera Malaysia.Dengan itu, anak cucu mereka kini secara automatis menjadi rakyat atau warganegara Malaysia.
Orang Banjar generasi awal, yang tinggal di perkampungan mereka sendiri (kampung Banjar) hidup sebagai petani sara diri (subsistence farmer), tentu saja membawa dan mengekalkan cara hidup atau budaya Banjar apabila mereka menetap di Malaysia. Akan tetapi, dengan berlalunya waktu lebih seratus tahun, tidak dapatdinafikantelah terdapat pelbagai perubahan yang agak ketara dalam kehidupan orang-orang keturunan Banjar masa kini. Walaupun perubahan itu belum menyeluruh, kita mungkin boleh mengatakan mereka telah mengalami perubahan identiti dan telah berubah daripada Banjar Lama menjadi Banjar Baru.
Oleh yang demikian, dalam makalah ini saya akan membincangkan tiga perkara: a) Sejarah migrasi orang Banjar ke Malaysia, b) Pelestarian budaya Banjar atau cara hidup Banjar dalam kalangan orang Banjar generasi awal, dan b) Perubahan sosial dan identiti dalam kalangan orang Banjar masa kini.
Mengenai ketiga-tiga perkara di atas sebenarnya belum ada kajian yang komprehensif dan terperinci. Oleh itu mengenai perkara pertama, saya terpaksa bergantung kepada bahan bacaan yang boleh diperolehi, yang kebetulan tidaklah begitu banyak. Mengenai perkara kedua dan ketiga pula, saya banyak bergantung kepada pengamatan saya sendiri secara umum, pengalaman hidup sebagai seorang anak Banjar, dan pengamatan terbatas di beberapa buah kampung di daerah Sabak Bernam, Selangor dan kota Kuala Lumpur di Malaysia.

MIGRASI KE TANAH MELAYU
Migrasi sebelum 1874
Sebelum tahun 1874 ada satu peristiwa penting yang berlaku di Kalsel, iaitu kerajaan Banjar telah dihapuskan oleh Belanda pada tahun 1860. Tahun 1874 pula ialah tahun permulaan Inggeris campur tangan dalam pemerintahan Tanah Melayu (Mohamed Salleh Lamry 2005).
Mengikut Zulfa Jamalie (2010) pada tahun 1861 berlaku perlawanan terhadap Belanda di bawah pimpinan Penghulu Abdul Rashid di Kalua, Tabalong, Amuntai dan sekitarnya yang lingkup gerakannya meliputi Banua Lima. Setelah Penghulu Abdul Rashid terbunuh, pengikut beliau terus dikejar oleh Belanda. Dengan itu, pengikut beliau terpaksa melarikan diri secara beramai-ramai terutamanya ke Tungkal dan Inderagiri, dan kemudiannya ke Tanah Melayu. Jumlah orang Banjar yang berhijrah ke Tanah Melayu sebelum tahun 1874 ini tidak dapat dipastikan, tetapi dipercayai tidaklah begitu banyak. Antara tempat tumpuan mereka ialah negeri Johor yang dekat dengan pulau Sumatera.Di situ mereka membuka hutan dan menubuhkan kampung mereka sendiri atau kampung Banjar.

Migrasi Selepas Tahun 1874
Selepas tahun 1874, iaitu pada akhir abad ke-19 dan lebih jelas lagi pada awal ke-20 migrasi secara beramai-ramai telah berlaku dari Kalsel ke Malaysia. Hal ini terbukti kerana pada tahun 1911 sudah ada 21, 227 orang Banjar di Tanah Melayu. Menjelang tahun 1921, jumlah mereka meningkat hampir 80 persen menjadi 37,848 orang. Pada tahun 1931 jumlah mereka meningkat lagi menjadi 45,351 orang dan terus melonjak menjadi 62,356 orang pada tahun 1947 (Tunku Shamsul Bahrin 1964: 151).

Faktor migrasi
Migrasi orang Banjar selepas tahun 1874 ini biasanya dikaitkan dengan dua faktor utama, iaitu faktor penolak di Kalsel dan faktor penarik di Tanah Melayu.
Mengikut Tajuddinnoor Ghanie (2004) pada tahun 1905 Sultan Muhammad Seman raja Banjar ketika itu mati shahid di tangan pasukan tentera Belanda.Orang Banjar terpaksa melarikan diri, kerana tidak mahu hidup di bawah pemerintan Belanda.Mereka berhijrah lagi secara besar-besaran ke pulau Sumatera, kemudian sebahagiannya berhijrah ke Malaysia. Ini merupakan satufaktor penolak di Kalsel.
Seterusanya setelah kerajaan Banjar dikuasai oleh Belanda, satu faktor penting yang mendorong orang-orang Banjar meninggalkan tanah air mereka ialah tekanan dan penindasan oleh penjajah Belanda. Sebagaimana yang dirumuskan oleh Tunku Shamsul Baharin (1964), pelbagai cukai yang membebankan, yang dikenakan oleh pemerintah Belanda, seperti cukai kerja (labour tax), cukai tanah, cukai poll dan cukai peribadi (cukai ke atas rumah, perabot dan lain-lain), telah menolak orang Banjar supaya meninggalkan tanah air mereka. Dengan itu, mereka berhijrah ke Sumatera kemudian ke Tanah Melayu, atau berhijrah terus ke Tanah Melayu.Ini satu lagi faktor penolak di Kalsel.
Pada masa yang sama, ada pula satu faktor penarik di Tanah Melayu, iaitu faktor ekonomi. Setelah Inggeris campur tangan dalam pemerintahan Tanah Melayu, terdapat pelbagai peluang ekonomi yang boleh menarik orang-orang dari Indonesia, termasuk orang Banjar datang ke Tanah Melayu. Pada peringkat awalnya, di Tanah Melayu ada peluang pekerjaan, seperti membuat parit, di estet-estet orang Inggeris. Orang Banjar dikatakan disukai kerana mereka cekap membuat kerja tersebut.Selepas itu, Inggeris membukakan peluang ekonomi kepada orang-orang yang datang dari Indonesia dengan memperkenalkan tanaman wang (terutamanya getah), memberi kemudahan untuk mendapat tanah dan melayan orang Indonesia sebagai Bumiputera atau orang Melayu.
Tunku Shamsul Baharin (1964: 47-49) menegaskan faktor ekonomi sebagai faktor yang penting ini dengan menyatakan bahawa peluang ekonomi yang terdapat di Tanah Melayu, khasnya peluang memiliki tanah yang disediakan dengan pengairan oleh kerajaan penjajah Inggeris adalah satu faktor yang menarik orang Indonesia, termasuk orang Banjar datang ke Tanah Melayu
Oleh itu, mulai awal abad ke-20 banyak orang Banjar yang terus berhijrah ke Tanah Melayu. Hal iniditegaskan oleh Hasan Basri (1988:47) yang menyatakan bahawa Tanah Melayu adalah tumpuan utama penghijrahan orang Banjar pada masa itu, di samping Tungkal dan Inderagiri.
Orang Banjar yang bermigrasi ke Tanah Melayu selepas tahun 1874 ini tidak tersebar secara merata di semua negeri bahagian. Mereka lebih tertumpu kepada tiga buah negeri, iaitu Perak, Selangor dan Johor. Oleh itu, pada tahun 1911, sebanyak81 peratus orang Banjar berada di Perak, 13.5 peratus di Selangor dan 3.7 peratus di Johor. Pada tahun 1947 pula 54.8 peratus orang Banjar berada di Perak, 23.0 peratus di Selangor dan 19.3 peratus di Johor (Tunku Shamsul Bahrin, 1964: 152).
Pada peringkat negeri bahagian itu pula, mereka terutamanya bertumpu di kawasan pantai. Misalnya di Perak mereka bertumpu di Bagan Datoh (kawasan kelapa) dan Bagan Serai dan Sungai Manik (kawasan padi). Di Johor mereka bertumpu di Batu Pahat dan Muar yang merupakan kawasan kelapa atau getah.Di Selangor pula, mereka bertumpu di Kuala Langat dan Kuala Selangor (kawasan getah) dan Sabak Bernam dan Tanjung Karang (kawasan padi). Keadaan demikian masih kekal hingga kini, kecuali di Perak orang Banjar di Bagan Datoh sudah banyak berpindah ke kawasan padi, dan di Johor pula tanaman kelapa dan getah sudah banyak diganti dengan kelapa sawit.

Tempat asal migran
Satu perkara yang patut diberi perhatian apabila kita membincangkan migrasi orang Banjar ke Tanah Melayu ialah tempat asal mereka di Kalsel. Walaupun migran Banjar datang dari pelbagai tempat, tetapi dengan melihat orang-orang Banjar yang berada di Malaysia masa kini jelas sekali bahawa majoritinya adalah dari kawasan yang kini dikenali sebagai Hulu Sungai. Dengan perkataan lain, mereka datang dari kawasan kampung di sekitar pekan Kandangan, Negara, Barabai, Amuntai, Kalua dan Tanjung yang kini terletak dalam kabupaten Hulu Sungai Utara, Tengah dan Selatan.
Oleh yang demikian, pada peringkat awal kedatangan mereka dahulu, orang Banjar di Tanah Melayu sering memperkenalkan diri mereka berasaskan tempat asal mereka datang. Misalnya di Kerian Perak, majoriti orang Banjar di situ ialah orang Kalua. Akan tetapi, ada juga puak lain, seperti orang Amuntai, Barabai, Alai, Negara, Kandangan, Rantau dan Martapura yang tinggal bersama-sama di kawasan tersebut, walaupun tidak begitu ramai. Di Bagan Serai, Perak terdapat puak Tanjung, Barabai dan Kandangan. Di kawasan Sabak Bernam, Selangor, selain daripada puak Kalua, terdapat juga puak Alai, Negara, Amuntai dan Kandangan.Di Johor pula majoritnya adalah daripada puak Kalua.
Pada masa ini perbezaan mengikut puak ini sudah kurang ditekankan oleh orang Banjar di Malaysia. Bagaimanapun, dari segi loghat dan pertuturan masih terdapat perbezaan yang agak ketara antara puak Kalua, dengan puak Alai, Barabai dan Kandangan apabila mereka bercakap Banjar.

Pola dan proses migrasi
Berdasarkan huraian di atas, sekurang-kurangnya ada dua pola yang umum bagaimana proses migrasi orang-orang Banjar ke Tanah Melayu. Pertama, mereka berhijrah ke pulau Sumatera terlebih dahulu, khasnya ke Tungkal (Jambi) dan Tembilahan (Inderagiri Hilir). Setelah tinggal untuk satu waktu, mereka mengambil keputusan berhijrah ke Tanah Melayu. Oleh kerana Johor ialah negeri Melayu yang paling dekat dengan Tungkal dan Tembilahan, maka Johorlah yang menjadi tumpuan mereka apabila mereka berhijrah ke Tanah Melayu.Antara mereka, ada yang terus menetap di Johor, dan ada yang berpindah lagi ke negeri Melayu yang lain. Pola migrasi jenis ini meliputi orang-orang yang terawal bermigrasi dari Banjar dan orang-orang yang bermigrasi pada awal abad ke-20. Mungkin termasuk juga dalam golongan ini orang-orang yang datang ke pulau Sumatera sebagai pedagang, walaupun maklumat mengenainya tidak begitu jelas. Ketika penulis (Mohamed Salleh Lamry, 1992) membuat kajian mengenai orang Banjar di Selangor pada tahun 1990, penulis menemui beberapa orang tua yang menyatakan bahawa mereka pernah tinggal di Kuala Tungkal sebelum berpindah ke Selangor.
Kedua, mereka bermigrasi terus ke Tanah Melayu. Pola migrasi jenis ini terutamanya melibatkan orang-orang Banjar yang bermigrasi ke Tanah Melayu pada awal abad ke-20. Dari Kalsel mereka umumnya menaiki kapal saudagar dan mendarat di Singapura. Sebahahagian daripada mereka menetap di Johor yang berhampiran dengan Singapura.Sebahagian lagi, yang mungkin lebih ramai meneruskan pelayaran dan mendarat di Pulau Pinang. Mereka bertumpu ke negeri Melayu yang lain, khasnya Perak dan Selangor. Sebab itu pada mulanya orang Banjar di Johor tidaklah begitu banyak, jika dibandingkan dengan orang Banjar di Perak dan Selangor.
Selain daripada dua pola yang tersebut, sebenarnya ada lagi dua pola dan proses migrasi yang lain, yang dilalui oleh orang-orang Banjar, walaupun mungkin tidaklah melibatkan migran yang ramai. Pertama, melibatkan orang-orang Banjar yang terus bermigrasi dan menetap di Tanah Melayu. Akan tetapi, kerana sebab-sebab yang tertentu, khasnya kerana faktor ekonomi, mereka meninggalkan Tanah Melayu. Mereka tidak pulang ke Kalsel, tetapi berpindah lagi ke pulau Sumatera, khasnya ke Kuala Tungkal danTembilahan. Hal ini khususnya berlaku pada zaman meleset pada tahun 1930-an. Banyak pekebun kecil getah Banjar di Johor yang terlibat dengan kemelesetan ekonomi itu berpindah dari Johor, sama ada ke negeri Melayu yang lain, khasnya Perak dan Selangor di mana mereka boleh bertanam padi, ataupun ke Kuala Tungkal dan Tembilahan.
Satu pola lagi melibatkan orang-orang Banjar yang mulanya berhjrah ke pulau Sumatera, kemudian berhijrah lagi ke Tanah Melayu. Apabila berlaku kemelesetan ekonomi tadi, atau kerana faktor-faktor lain, mereka pulang semula ke pulau Sumatera, iaitu ke Kuala Tungkal, ke Tembilahan dan mungkin juga ke Sumut, tetapi tidak pulang ke Kalsel (Mohamed Salleh Lamry 2005).

Migrasi dalaman di Tanah Melayu
Tadi kita telah lihat bahawa walaupun pada peringkat awalnya sebahagian orang Banjar bertumpu ke negeri Johor apabila mereka datang ke Tanah Melayu, tetapi nampaknya hanya sebahagian kecil sahaja yang terus menetap di negeri tersebut. Berdasarkan banci penduduk tahun 1911, kita dapat lihat bahawa pada masa itu 81 peratus orang Banjar adalah berada di negeri Perak dan hanya 3.7 peratus yang berada di Johor. Ini bermakna kebanyakan orang Banjar yang mendarat di Johor itu telah meneruskan perjalanan mereka ke Perak dan memilih menetap di Perak, bukan di Johor.
Bagaimanapun, menjelang tahun 1921, orang Banjar di Johor bertambah dengan banyaknya, iaitu dari 782 orang pada tahun 1911 menjadi 8,365 orang pada tahun 1921. Ini menunjukkan pada tahun 1921, Johor mendapat tambahan penduduk Banjar yang ramai, sama seperti negeri Perak yang penduduk Banjarnya juga bertambah dari 17,368 pada tahun 1911 kepada 24, 766 (Tunku Shamsul Baharin 1964: 152).
Menjelang tahun 1931, banyak orang Banjar dari Perak berpindah ke Selangor dan Johor, kerana kedua-dua negeri itu mengalami pembangunan ekonomi yang lebih pesat berbanding dengan negeri Perak. Dengan itu, pada tahun 1931 orang Banjar di Perak berkurangan dan tinggal 21,862 orang sahaja , sementara orang Banjar di Selangor meningkat menjadi 6,315 dan di Johor meningkat menjadi 15, 492 orang.
Namun, antara tahun 1931 hingga 1947, di samping berpindah ke pulau Sumatera, banyak pula orang Banjar dari negeri Johor, khasnya dari daerah Batu Pahat, berpindah lagi ke Perak dan Selangor. Sebabnya tidak lain, kerana pada zaman meleset tahun 1930-an itu, mereka tidak boleh bergantung kepada tanaman getah. Untuk mengelakkan diri daripada kelaparan, mereka berpindah ke kawasan padi di daerah Kerian dan daerah Hilir Perak (iaitu di Sungai Manik) di Perak dan ke daerah Kuala Selangor (iaitu di Tanjung Karang), di Selangor. Ini menyebabkan pada tahun 1947 orang Banjar di Johor merosot kepada 12,049 orang sahaja, sementara di Perak meningkat kembali menjadi 34,186 orang dan di Selangor meningkat menjadi 14, 322 orang.
Sementara itu, dari semasa ke semasa ada juga perpindahan orang Banjar dalam negeri yang sama. Misalnya, di Selangor pada tahun 1911, majoriti orang Banjar adalah berada di daerah Kuala Langat. Di situ mereka mengusahakan penanaman getah Akan tetapi menjelang tahun 1921, sebahagian daripada mereka berpindah ke daerah Kuala Selangor di mana mereka boleh bertanam padi di kawasan padi Tanjung Karang. Jadi pada tahun 1921, di negeri Selangor majoriti orang Banjar berada di daerah Kuala Selangor, tidak lagi di daerah Kuala Langat.
Salah sebuah kampung di daerah Sabak Bernam, Selangor yang penduduk awalnya terdiri daripada orang Banjar ialah Kampung Tengah. Di kampung itu penduduknya mengusahakan kebun kelapa. Apabila kawasan pertanian padi di buka di Mukim Pancang Pedena di daerah Sabak Bernam pada tahun 1932, sebahagian penduduknya telah meninggalkan kampung itu untuk menyertai penanaman padi di kawasan padi yang baru dibuka itu.
Di negeri Perak pula, pada peringkat awalnya banyak orang Banjar bertumpu di Bagan Datuk dalam daerah Hilir Perak.Di situ mereka mengusahakan pertanian kelapa. Apabila kawasan pertanian padi di buka di Sungai Manik (dalam daerah Hilir Perak juga) pada tahun 1930-an, sebahagian besar daripada mereka telah berpindah ke Sungai Manik, dan hanya golongan minoriti orang Banjar yang terus tinggal di Bagan Datuk.

Berakhirnya migrasi ke Tanah Melayu
Migrasi orang Banjarke Tanah Melayu berlaku ketika Kalsel berada di bawah penjajahanBelanda danTanah Melayu di bawah penjajahan Inggeris. Ketika itu nampaknya tidak ada halangan daripada pihak Belanda untuk orang Banjar meninggalkan tanah air mereka, dan pihak penjajah Inggeris pula menerima orang-orang Banjar untuk bekerja di ladang-ladang pemodal Inggeris atau membuka tanah untuk pertanian, sama ada untuk penanaman kelapa, getah dan padi.
Migrasi orang Banjar ke Tanah Melayu boleh dikatakan terhenti pada masa Perang Dunia Kedua, oleh kerana kesukaran perhubungan dan kesukaran hidup pada masa itu. Migrasi itu berkurangan dan berakhir apabila Indonesia dan Malaysia wujud sebagai dua negara merdeka yang berasingan selepas peperangan tersebut. Antara sebabnya yang utama adalah antara tahun 1948 hingga 1960 Malaysia berada dalam keadaan darurat, iaitu menghadapi pemberontakan bersenjata yang dilancarkan oleh Parti Komunis Malaya, dan kehidupan rakyatnya pun berada dalam keadaan susah. Ini tentu tidak menarik orang Banjaruntuk datang lagi ke Malaysia.
Mulai tahun 1970-an hingga kini memang ramai sekali orang Indonesia yang datang ke Malaysia untuk bekerjaan di pelbagai sektor pekerjaan, sehingga mencapai jumlah 2 hingga 3 juta orang. Mereka terutamanya bekerja sebagai buruh di perkebunan, buruh binaan, dan pembantu rumah. Akan tetapi kebanyakan yang datang itu ialah orang-orang dari Jawa, Madura dan Pulau Bawean. Orang Banjar agaknya tidak tertarik dengan pekerjaan tersebut. Jika ada yang tertarik, mereka mungkinpergi ke Sarawak dan Sabah yang lebih dekat dengan Kalsel, dan hampir tidak ada yang datang ke Semenanjung Malaysia (Mohamed Salleh Lamry 2005).

PELESTARIAN CARA HIDUP BANJAR
Orang-orang Banjar generasi awal(khasnya generasi pertama dan kedua)umumnya telah membawa dan mengekalkan cara hidup Banjar apabila mereka berada di Tanah Melayu. Hal ini dapat diperhatikan dari beberapa aspek cara hidup orang-orang Banjar di daerah Sabak Bernam, Selangor sebagaimana yang dipaparkan di bawah ini (Mohamed Salleh Lamry 2005, 2010).

Tinggal di Kampung Banjar dan meneruskan kehidupan sebagai petani sara diri
Pada awal abad ke-20, iaitu antara tahun 1900 hingga 1920-an beberapa kelompok orang Banjar dari Kalsel telah datang ke Selangor dan membuka beberapa kampung di daerah Sabak Bernam. Pada mulanya mereka membuka hutan dan membuat kebun kelapa. Apabila kerajaan membuka kawasan pertanian padi di Mukim Pancang Pedena dalam daerah tersebut pada tahun 1930, sebahagian besar daripada mereka telah berpindah ke kawasan padi sebagaimana yang ada sekarang.
Ketika mereka berada di kawasan asal (kawasan kelapa) dan kemudian berada di kawasan padi, semua orang Banjar generasi awal ini tinggal di kampung mereka sendiri, iaitu Kampung Banjar, yang terpisah dari kampung suku lain. Dengan itu, mereka lebih banyak berinterakasi sesama Banjar yang tinggal sekampung dengan mereka. Hanya pada masa-masa tertentu mereka berinteraksi dengan suku lain, seperti orang Jawa, Bugis dan Kampar di pasar atau di masjid yang terletak di luar kampung mereka.
Dalam kampung mereka sendiri,mereka meneruskan kehidupan sebagai petani sara diri. Bagi merekayang bertanam tanaman wang seperti kelapa, orientasi pertanian mereka masih untuk sara diri, walaupun sebahagian kelapa itu untuk jualan. Bagi merekayang bertanam padi pula,padi yang mereka hasilkan pada mulanya memang untuk penggunaan sendiri. Mereka terus bertani mengikut cara lama, bergantung kepada tenaga manusia dan alat-alat lama seperti tajak dan cangkul. Jadi kebanyakan daripada mereka hanya berpindah tempat tinggal dari Kalsel ke Malaysia, tetapi masih meneruskan kehidupan sebagai petani tradisional seperti di tempat asal mereka. Mungkin kehidupan mereka di Malaysia lebih senang sedikit, kerana mereka ada tanah sendiri yang mereka buka mengikut kemampuan masing-masing, tetapi status mereka masih tetap sebagai petani tradisional.

Berkomunikasi dalam Bahasa Banjar
Sebagai orang Banjar yang tinggal di kampung sendiri dan terpisah dari kampung suku lain, bahasa yang di gunakan oleh orang Banjar di Sabak Bernam untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari tentu sahaja bahasa Banjar. Mereka hanya perlu menggunakan bahasa lain, khasnya bahasa Melayu, jika sekali sekala mereka berinteraksi dengan imigran Indonesia yang lain di pasar atau di masjid di kampung lain, atau dengan orang Cina di pasar atau di kedai runcit orang Cina.
Bahasa Banjarpula memang mereka ajar atau sosialisasikan kepada anak-anak mereka dalam kehidupan sehari-hari. Jadi sekurang-kurangnya sehingga generasi ketiga orang Banjar di Malaysia memang boleh berbahasa Banjar dengan fasih dan menggunakan bahasa Banjar dalam interaksi sesama mereka.
Berbanding dengan unsur kebudayaan yang lain, ketika itu bahasa Banjar jelas merupakan unsur kebudayaan yang terpenting, kerana ia merupakan salah satu ciri yang menjadi identiti orang Banjar dan yang membezakan orang Banjar daripada imigran Indonesia yang lain.

Berkahwin Sesama Banjar
Oleh kerana mereka tinggal di kampung mereka sendiri, dan kurang berinteraksi dengan suku lain, maka sebagai kesannya, dalam kalangan orang Banjar generasi awal di Sabak Bernam perkahwinan anak orang Banjar hanya berlaku dengan anak orang Banjar juga. Orang Banjar generasi pertama dan kedua khasnya memang hampir tidak ada yang berkahwin dengan suku lain.

Generasi Awal yang Buta Huruf
Orang-orang Banjar generasi pertama di Sabak Bernam pada umumnya tidak bersekolah semasa mereka di Kalsel. Oleh itu mereka kekal sebagai orang-orang yang buta huruf selepas mereka berada di Tanah Melayu.
Pada tahun-tahun permulaan mereka berada di Malaysia, orang Banjar di Sabak Bernam memang menghadapi kesukaran untuk menghantar anak mereka ke sekolah Melayu, iaitu sekolah rendah kerajaan yang ada ketika itu, yang boleh dianggap sebagai tempat “pendidikan moden”. Ini kerana sekolah itu umumnya hanya ada di kampung lama yang agak jauh dari kampung mereka. Oleh itu, kebanyakan anak migran Banjar, atau orang Banjar generasi kedua di Malaysia umumnya memang tidak bersekolah dan “buta huruf” seperti ibu bapa mereka.
Kebanyakan kampung Banjar di Sabak Bernam hanya mempunyai sekolah Melayu selepas perang dunia kedua. Ini bermakna hanya orang Banjar generasi ketiga yang dapat peluang belajar di sekolah tersebut dan tidak lagi merupakan orang-orang yang buta huruf.
Walau bagaimanapunm sejak awalnya orang Banjar di Sabak Bernam kelihatan menunjukkan minat yang kuat terhadap “pendidikan tradisional”, iaitu pendidikan agama Islam. Dengan itu, sebahagian kecil daripada mereka yang berkemampuan telah menghantar anak mereka ke sekolah agama atau ke sekolah pondok yang terdapat di tempat lain, atau malah di negeri bahagian yang lain, walaupun agak jauh dari tempat tinggal mereka.

Memelihara Adat dan Upacara Keagamaan
Memang sudah dimaklumi bahawa agama Islam yang dianut oleh orang Banjar merupakan satu lagi ciri identiti mereka. Oleh itu, dalam kalangan orang Banjar generasi pertama dan kedua di Sabak Bernam memang dapat dilihat dengan jelas pegangan mereka yang kuat kepada adat dan upacara keagamaan, khasnya adat dan upacara keagamaan yang berkaitan dengan daur hidup. Oleh itu ada pelbagai upacara yang berkaitan dengan kehamilan, kelahiran, masa kanak-kanak, menjelang dewasa, perkahwinan dan kematian, seperti yang tesenarai dalam M.Suriansyah Ideham (2007) terus dipelihara dan dipertahankan oleh semua keluarga Banjar.
Di samping itu, beberapa peristiwa penting dalam sejarah Islam, seperti Israk Mikraj dan kelahiran Nabi Muhamad (Maulud Nabi) mereka sambut pada tiap-tiap tahun, di masjid atau surau kampung mereka. Antara acara sambutan itu termasuklah ceramah oleh seorang tokoh agama tempatan dan makan bersama oleh penduduk sesebuah kampung.

Memelihara Kesenian Banjar
Dengan penghijrahan mereka ke Malaysia, dipercayai banyak kesenian rakyat Banjar yang di bawa oleh orang Banjar ke Sabak Bernam. Antaranya ialah seni sastera lisan seperti Dundam dan Madihin dan seni suara seperti Baahui. Dundam yang merupakan seni bercerita, seperti penglipur lara di kalangan orang Melayu, diadakan pada majlis-majlis tertentu, seperti perkahwinan dan berkhatan. Madihin yang merupakan rangkaian pantun dan syair dinyanyikan pada majlis perkahwinan dan majlis keramaian yang lain. Baahui pula seperti acara berbalas pantun masa kini, mereka adakan ketika mereka berkumpul mengirik padi, iaitu melepaskan padi dari tangkainya. Jadi acara Baahui memang sesuai mereka teruskan, apabila di Malaysia juga mereka hidup sebagai pesawah padi.
Selain itu, ada satu lagi kesenian Banjar yang dipercayai pernah wujud di Sabak Bernam, iaitu seni teater yang disebut Wayang Banjar. Wayang Banjar yang dimainkan di daerah ini dikatakan agak mirip dengan wayang kulit Jawa.
Masih termasuk dalam bidang kesenian, antara unsur kebudayaan Banjar yang kekal di Sabak Bernam dan tempat-tempat lain ialah seni masakan dan minuman. Di antara pelbagai kuih dan masakan itu, ada satu jenis kuih yang disebut wadai kiping.Wadai kiping dibuat daripada tepung pulut yang diadun dengan air panas dan sedikit garam.Ia dibulatkan sebesar duit lima sen, kemudian dimasak dengan santan dan gula merah. Di samping itu, ada juga makanan yang disebut wadi, iaitu ikan (biasanya ikan sepat) yang diperam dengan garam, beras goreng, asam gelugur dan gula merah. Wadi boleh disimpan lama dan biasanya dihidangkan dalam musim menuai dan musim kemarau.

PERUBAHAN SOSIAL
Setelah berlalunya waktu lebih seratus tahun, dan orang Banjar di Malaysia sekarang sekurang-kurangnya sudah sampai ke generasi kelima, maka tidak dapat dinafikan banyak perubahan telah berlaku dalam cara hidup orang Banjar di perantauan. Sebahagian daripada perubahan itu jelas merupakan kesan daripada dasar dan rancangan pembangunan kerajaan, walaupun ada juga yang merupakan kesan atau pengaruh dari persekitaran sosial dan globalisasi (Mohamed Salleh Lamry 2013).

Menjadi Petani Moden
Selepas Malaysia mencapai kemerdekaan pada tahun 1957, terutamanya antara tahun 1960-an dan 1980-an, kerajaan Malaysia telah melancarkan rancangan pembangunan desa yang sangat pesat. Antara unsur utama rancangan itu adalah penyampaian pelbagai kemudahan asas (infrastruktur) fizikal dan sosial, seperti jalan raya, balai raya atau dewan orang ramai, klinik kesihatan, sekolah, bekalan air bersih (air paip) dan api elektrik ke seluruh negara, termasuk ke kampung-kampung orang Banjar.
Pembangunan yang sangat pesat ini jelas sekali dapat diperhatikan di daerah Sabak Bernam. Dengan itu, kampung-kampung orang Banjar di daerah ini, yang dahulunya “mundur” dan terpencil telah menjadi kawasan yang “maju” dan terbuka dan mempunyai perhubungan yang mudah dengan kawasan bandar.
Dalam rangka pembangunan desa itu juga, kerajaan telah melancarkan rancangan pemodenan pertanian dengan menyampaikan pelbagai bantuan dan kemudahan.Di bawah rancangan itu para petani padi dianjurkan menanam padi dua kali setahun dengan menggunakan benih baru, racun rumput dan racun serangga.Penanaman padi tidak lagi bergantung kepada air hujan, kerana sudah ada sistem tali air dan perparitan yang disediakan oleh kerajaan. Para petani tidak lagi bergantung kepada tajak dan cangkul, kerana sejak tahun 1950-an sudah ada mesen pembajak kecil yang terkenal dengan namaKobuta untuk membajak sawah. Dalam beberapa tahun terakhir, proses penanaman padi, dari menabur benih hingga menuai, semuanya dilakukan dengan menggunakan jentera. Jadi untuk menanam padi tidak perlu lagi bergotong royong dan bergantung kepada tenaga manusia. Di samping itu, ada pula Persatuan Peladang, iaitu satu organisasi yang ditubuhkan oleh kerajaan untuk menyalurkan pelbagai bantuan dan kemudahan kepada para petani, seperti menjual baja dengan harga subsidi.
Pelaksanaan rancangan pemodenan pertanian ini dapat dilihat dengan jelas di daerah Sabak Bernam. Bersama-sama dengan kawasan padi Tanjung dalam daerah Kuala Selangor, yang sebahagian penduduknya juga terdiri daripada orang Banjar, Sabak Bernam merupakan salah satu kawasan pertanian yang terawal diperkenalkan dengan rancangan pemodenan tersebut. Dengan itu, petani padi di Sabak Bernam kini boleh dianggap sebagai petani moden.
Bagi petani yang mengusahakan tanaman getah pula, mereka digalakkan menanam semula dengan bantuan kerajaan, jika getah mereka telah tua. Hal ini terutamanya dapat dilihat dalam kalangan pekebun kecil getah Banjar di beberapa kampung di Perak, Selangor dan Johor. Begitu juga ada bantuan daripada kerajaan dalam bentuk subsidi, untuk petani yang ingin menanam kelapa sawit dan koko. Dengan itu, pekebun kelapa sawit dan koko dari suku Banjar di daerah Sabak Bernam, Selangor dan di daerah Hilir Perak, Perak, misalnya dapat melibatkan diri dengan rancangan pemodenan pertanian tersebut.
Sementara itu, mulai tahun 1956 hingga 1970-an kerajaan telah membuka rancangan pembangunan tanah untuk menempatkan semula petani miskin yang tidak bertanah di beberapa negeri bahagian. Rancangan itu diwujudkan di kawasan hutan yang baru dibuka dan dikendalikan oleh sebuah agensi kerajaan yang diberi nama Federal Land Development Authority (FELDA).
Di bawah rancangan itu setiap peserta diberi tanah yang ditanami dengan getah atau kelapa sawit, yang keluasannya antara 4 hingga 4.9 hektar dan sebuah rumah secara percuma . Akan tetapi, pekerjaaan membuka hutan dan menanam tanaman itu, yang dilakukan oleh kontraktor, dikira sebagai hutang yang perlu dibayar dalam masa 15 tahun.
Oleh kerana orang Banjar generasi ketiga di daerah Sabak Bernam ramai juga yang tidak mempunyai tanah, maka sejumlah yang agak besar daripada mereka telah berhijrah ke kawasan pembangunan tanah itu, yang kebanyakannya terletak di negeri bahagian Selangor, Perak dan Pahang. Mereka mengerjakan sendiri tanah yang telah mengeluarkan hasil, yang diperuntukan kepada mereka, tetapi pemasaran hasil pertanian mereka dikendalikan oleh pihak FELDA.
Sebagai petani yang memiliki kebun getah atau kelapa sawit, pendapatan mereka memang tidak stabil, kerana dipengaruhi oleh turun naik harga di pasaran dunia. Bagaimanapun, ketika harga getah dan kelapa sawit berada di paras yang tinggi, pendapatan mereka sangat lumayan sehingga mereka mampu membesarkan rumah, membeli kereta, dan pelbagai peralatan rumah. Ketika pendapatan mereka terlalu merosot, kerajaan akan menolong mereka dengan memberi pinjaman bagi menampung kehidupan mereka.
Kini setelah lebih 50 tahun berlalu, orang-orang Banjar dari Sabak Bernam dan tempat-tempat lainyang menyertai rancangan pembangunan tanah FELDA itu telah berubah menjadi petani moden yang hidup senang dan makmur. Setiap tahun pula kini pihak FELDA telah memberi wang bonus kepada mereka, khasnya ketika menjelang hari raya. Sebahagian daripada mereka telah bertukar pekerjaan, misalnya menjadi peniaga atau pengusaha. Sebahagian lagi, khasnya yang telah tua, boleh hidup santai dengan mengupah buruh dari Indonesia untuk mengerjakan tanah mereka.
Jadi, di bawah rancangan pemodenan pertanian yang dianjurkan oleh kerajaan, orang Banjar yang masih berada di sektor pertanian, sama ada di kampung tradisional atau di tanah rancangan FELDA sudah berubah dari petani tradisional menjadi petani moden. Mereka umumnya sudah menikmati kehidupan yang lebih baik, walaupun barangkali belum sepenuhnya mengorientasikan pertanian mereka sebagai perniagaan.

Melibatkan Diri dengan Pendidikan Moden dan Bermobiliti ke Kelas Menengah
Sejak Malaysia mencapai kemerdekaan, pendidikan moden di Malaysia telah berkembang dengan pesat. Sekolah Menengah Kebangsaan (bahasa pengantarnya bahasa Melayu) yang tidak wujud pada zaman penjajahan telah muncul dan berkembang mulai awal tahun 1960-an. Sekolah tersebut mulanya didirikan di bandar besar, kemudian ke pekan kecil, seperti pekan Sabak dan Sungai Besar di daerah Sabak Bernam.Universiti Kebangsaan yang merupakan kemuncak persekolahan aliran Melayu atau kebangsaan pula telah ditubuhkan pada tahun 1970.
Dalam hal ini orang Banjar di Sabak Bernam memahami bahawa pendidikan moden mempunyai nilai ekonomi. Maknanyaanak mereka yang mendapat pendidikan moden mudah mendapat kerja yang mempunyai status yang agak tinggi (khasnya di sektor awam), dan mudah mendapat pandapatan yang agak lumayan.
Oleh itu, seperti anak kaum lain, selepas kemerdekaan pada tahun 1957, sebilangan besar anak orang Banjar di Sabak Bernam sudah menceburkan diri dalam pendidikan moden, sekurang-kurangnya hingga ke peringkat menengah. Mereka yang pandai dan terpilih melanjutkan pelajaran pula hingga ke peringkat universiti.
Selepas tahun 1970, khasnya antara tahun 1970-an hingga 1980-an, di bawah Dasar Ekonomi Baru (DEB) kerajaan telah menghantar ribuan anak-anak Melayu (termasuk anak Banjar) belajar ke luar negara dengan biasiswa kerajaan. Tidak ada data tentang jumlah anak orang Banjar, tapi dipercayai jumlah anak Banjar dari Sabak Bernam dan tempat lain yang mendapat faedah dari dasar kerajaan ini adalah besar.Penghantaran anak-anak Melayu ke luar negara ini berlanjutan sampai sekarang, walaupun jumlahnya telah dikurangkan.
Dalam keadaan demikian, minat orang Banjar di Sabak Bernam dan tempat lain terhadap pendidikan tradisional boleh dikatakan telah merosot. Apatah lagi di Malaysia pendidikan tradisional dalam bentuk sekolah pondok memang telah merosot berbanding dengan masa yang lalu.
Sementara itu, dengan bantuan dan kemudahan kerajaan, memang ada usaha untuk memodenkan sekolah aliran agama Islam. Kerajaan telah mendirikan banyak juga sekolah menengah agama yang moden, yang membolehkan lepasan sekolah itu melanjutkan pelajaran di Fakulti Pengajian Islam di universiti tempatan atau di universiti di Timur Tengah, seperti Universiti Al-Azhar dan Universiti Madinah.
Hari ini hampir setiap daerah di Malaysia, termasuk daerah Sabak Bernam mempunyai sekurang-kurangnya sebuah sekolah menengah agama. Sekolah aliran agama ini juga diminati oleh anak-anak Banjar. Oleh itu, walaupun tidak ada data tentang jumlah anak Banjar yang belajar di sekolah menengah agama, tetapi di negeri-negeri yang penduduknya banyak terdiri daripada orang Banjar, seperti Perak, Selangor dan Johor, jumlah anak Banjar yang belajar di sekolah menengah agama adalah agak besar juga.
Oleh yang demikian, dengan perkembangan pendidikan moden, anak-anak Banjardi Sabak Benam kini lebih memilih pendidikan moden, yang merupakan pendidikan arus perdana, sama ada aliran kebangsaan atau agama, dan sama ada di dalam negara atau di luar negara.
Dengan penglibatan anak Banjar Sabak Bernam dengan pendidikan moden, maka sejak awal tahun 1970-an telah berlaku mobiliti sosial yang sangat pesat di kalangan anak-anak Banjar, seperti di kalangan anak-anak “suku Melayu” yang lain. Anak-anak Banjar yang belajar setakat sekolah menengah umumnya telah bermobiliti ke kelas “menengah rendah”, apabila mereka dapat bekerja di sektor awam sebagai kerani, guru, jururawat, askar dan polis pangkat rendah. Mereka yang berkelulusan universiti pula bermobliti ke kelas “menengah tengah” apabila mereka dapat bekerja sebagai guru siswazah, doktor, peguam, arkitek, pengurus, pegawai tadbir, pensyarah universiti dan sebagainya, sama ada di sektor awam atau swasta.
Dalam hubungan ini patut disebut bahawa kini sudah banyak orang Banjar di Malaysia yang berpangkat besar, iaitu memegang jawatan tinggi dalam pelbagai bidang pekerjaan, yang boleh pula dianggap sudah bermobiliti ke ke kelas menengah atas. Misalnya, rektor sebuah universiti di Malaysia kini adalah orang Banjar. Ketua Polis Negara Malaysia juga dahulunya orang Banjar. Malah terdapat puluhan profesor kanan di pelbagai universiti di Malaysia yang terdiri daripada orang Banjar.
Sementara itu, orang Banjar di Malaysia yang menjadi pengusaha yang berjaya juga sudah ramai bilangannya.Malah ada yang boleh dianggap sebagai tokoh korporat.Mereka bergerak dalam pelbagai bidang industri, seperti perkapalan, perladangan kelapa sawit, perkhidmatan kesihatan (membuka hospital atau pusat kesihatan), makanan halal, kosmetik, dan lain-lain.Jadi mereka pun sudah bermobiliti ke kelas menengah juga.
Dengan bermobiliti ke kelas menengah, gaya hidup mereka juga tentu berbeza daripada gaya hidup datuk nenek mereka, orang Banjar generasi pertama dan kedua dahulu. Perbezaan gaya hidup itu sekurang-kurangnya boleh dilihat dari segi pemilikan rumah dan barang-barang material dan interaksi sosial yang lebih luas.

Berhijrah ke Bandar
Di Malaysia kebanyakan sekolah menengah yang baik, termasuk yang mempunyai asrama penuh, terdapat di bandar, sama ada di ibu negara atau di ibu negeri bahagian. Hampir semua universiti juga terletak di bandar, termasuk di “bandar baru” (kawasan desa yang dibangunkan menjadi bandar secara terancang).
Oleh itu, kebanyakan anak Banjar yang pandai dan mahu belajar di sekolah menengah yang baik, termasuk dari Sabak Bernam, mesti meninggalkan kampung dan berpindah ke bandar. Mereka yang mahu melanjutkan pelajaran ke peringkat universiti pula memang tidak ada pilihan, kecuali berpindah ke bandar. Setelah tamat belajar pula, mereka biasanya terus tinggal di bandar, kerana kebanyakan peluang pekerjaan terdapat di bandar.
Dengan demikian, kebanyakan anak orang Banjar dari daerah Sabak Bernam dan tempat lain, dari generasi ketiga hingga kelima kini tinggal di bandar dan telah menjadi orang bandar, sama ada mereka bekerja di sektor awam (kerajaan), swasta ataupun bekerja sendiri sebagai pengusaha. Yang tinggal di kampung majoritinya ialah orang tua, saki-baki generasi kedua, dan sebahagian generasi ketiga, yang bekerja di sektor pertanian atau perniagaan kecil.
Orang Banjar yang berhijrah ke bandar umumnya tinggal di kawasan perumahan yang disebut “taman” (garden), iaitu sebuah komuniti baru, yang umumnya mempunyai pelbagai kemudahan: masjid (paling kurang surau), sekolah, pusat komersal (paling kurang kedai dan pasar raya), klinik dan sebagainya. “Taman perumahan” merupakan tempat tinggal utama penduduk bandar Malaysia masa kini, sama ada di bandar besar atau di bandar kecil. Di situ orang Banjar tinggal bersama, malah berjiran dengan suku Melayu yang lain dan dengan bangsa Malaysia yang lain (Cina dan India). Mereka sudah keluar dari kampung Banjar dan tinggal dalam komuniti baru yang dihuni oleh pelbagai suku dan bangsa (Mohamed Salleh Lamry 2013).

Berkahwin dengan Suku Lain
Dengan bekerja dan tinggal di bandar, orang Banjar yang berasal dari kampung-kampung di Sabak Bernam dan tempat lain, yang dahulunya banyak berinteraksi sesama Banjar saja, kini sudah terdedah kepada pergaulan yang lebih luas dengan suku dan bangsa lain. Sama ada di sekolah atau di tempat kerja, kawan mereka tidak lagi terhad kepada orang Banjar, tetapi meliputi orang-orang daripada pelbagai suku dan bangsa.
Oleh itu, apabila tiba saatnya untuk mereka memilih pasangan hidup, pilihan mereka tidak lagi terhad kepada orang Banjar. Orang Banjar generasi ketiga dan seterusnya, yang bekerja dan tinggal di bandar, memang sudah ramai yang berkahwin dengan suku lain. Perkahwinan dengan suku lain sudah menjadi perkara biasa, dan mungkin sama banyak, kalau pun tidak lebih banyak, daripada perkahwinan sesama Banjar.
Perkahwinan dengan suku lain ini memang ada kesan negatifnya jika dilihat dari segi penggunaan dan pelestarian bahasa Banjar. Biasanya orang Banjar yang berkahwin dengan suku lain, akan menggunakan bahasa Melayu untuk berkomunikasi dalam keluarga mereka. Mereka tidak mengajar bahasa Banjar atau bahasa pasangan mereka kepada anak-anak mereka. Dengan itu, anak-anak mereka tidak terdedah kepada bahasa Banjar dan akan termasuk dalam golongan yang tidak pandai bercakap Banjar.

Kemerosotan Penggunaan Bahasa Banjar
Pemerhatian saya di daerah Sabak Bernam dan pengalaman saya menunjukkan bahawa anak-anak orang Banjar yang kedua-dua ibu bapanya orang Banjar dan menggunakan bahasa Banjar dalam kehidupan sehari-hari, umumnya boleh bercakap Banjar pada zaman kanak-kanak dan remaja mereka, kerana terdedah kepada bahasa Banjar sejak mereka kecil.
Akan tetapi, apabila mereka bersekolah di bandar dari peringkat menengah hingga ke peringkat universiti dan bekerja di bandar selama berpuluh tahun, bahasa Banjar tidak lagi mereka gunakan, kecuali jika mereka balik ke kampung. Dalamberkomunikasi dengan kawan, guru dan rakan sekerja mereka, bahasa yang mereka gunakan ialah bahasa Melayu, dan ada kalanya bahasa Inggeris. Dengan itu, kemahiran mereka menggunakan bahasa Banjar mula merosot.
Kini ramai orang Banjar dari golongan muda, khasnya generasi keempat dan kelima yang tidak boleh bercakap bahasa Banjar dengan fasih. Malah ada juga yang sudah tidak boleh bercakap Banjar, walaupun mungkin masih merupakan golongan kecil. Mereka yang pernah belajar di luar negeri pula mungkin boleh bercakap Inggeris, Arab, Jepun atau Perancis, tetapi tidak fasih lagi bercakap Banjar, atau lebih malang, ada yang tidak boleh lagi bercakap Banjar.
Jika dicampurkan dengan anak-anak hasil perkahwinan campur, yang di rumah, di sekolah dan di tempat kerja hanya bercakap Melayu dan sejak kecil tidak pernah diajar bahasa Banjar, maka kini semakin ramailah orang-orang keturunan Banjar yang tidak boleh lagi bercakap Banjar dengan fasih.

Meninggalkan Adat, tetapi Meningkatkan Amalan Agama
Orang-orang Banjar yang kini telah bermobiliti ke kelas menengah dan tinggal di kota seperti Kuala Lumpurkhasnya, mungkin telah meninggalkan beberapa upacara yang berkaitan dengan daur ulang. Misalnya beberapa upacara mandi bagi perempuan yang hamil dan memberi nama bagi anak yang lahir mungkin sudah ditinggalkan. Bagaimanapun, beberapa upacara yang lebih berkaitan dengan agama, seperti upacara akikah anak, berkorban lembu atau kambing pada masa hari raya haji semakin banyak yang melakukannya. Begitu juga kenduri tahlil bagi ibu bapa yang diadakan di kampung asal mereka. Ini terutamanya berkaitan dengan kemampuan mereka dari segi kewangan. Sambutan israk mikraj dan sambutan maulud di surau dan masjid juga terus bersemarak, kerana banyak yang mampu memberi derma dan sumbangan dari segi kewangan.
Pada masa yang sama semakin ramai pula orang Banjar kelas menengah di kota yang berulang-ulang mengerjakan ibadah umrah dan haji, dan bersembahyang secara berjemaah di surau dan masjid. Jadi kesedaran beragama dalam kalangan orang Banjar di kota jelas semakin meningkat, walaupun mereka telah berpindah ke kota dan menjadi orang kota (Mohamed Salleh 2013).

Berkunjung ke Kalsel
Jika orang Banjar generasi pertama dan kedua,kebanyakannya tidak pernah pulang ke Kalsel, antara lain kerana masalah kewangan, generasi ketiga dan keempat yang telah bermobiliti ke kelas menengah ramai yang telah berkunjung ke Kalsel selewat-lewatnya mulai awal tahun 2,000-an. Ini tentunya berkaitan dengan kemampuan mereka dari segi kewangan. Orang-orang Banjar dari Sabak Bernam memang sudah ramai yang berkunjung ke Kalsel dalam tempoh 20 tahun belakangan ini. Pada masa yang sama, sebuah organisasi orang Banjar di Malaysia, iaitu Pertubuhan Banjar Malaysia (PBM), sudah beberapa kali membawa rombongan ke Kalsel, antaranya ketika diadakan Aruh Ganal pada tahun 2000 dan Kongres Budaya Banjar Ke-2 di Banjarmasin pada tahun 2010.
Walau bagaimanapun, di samping menghadiri acara-acara tertentu, tujuan utama orang Banjar Malaysia berkunjung ke Kalsel adalah untuk menemui keluarga dan melancong sahaja. Setakat ini belum ada usaha untuk mengadakan kerjasama dalam bidang perniagaan atau bidang lain antara mereka dengan orang Banjar di Kalsel.

KESIMPULAN
Orang Banjar dari Kalsel telah bermigrasi ke Malaysia dalam jumlah yang besar, terutamanya selepas Inggeris campurtangan dalam pemerintahan Malaya atau Tanah Melayu pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Mereka melakukan migrasi itu terutamanya kerana pelbagai tekanan yang mereka hadapi di Kalsel, dan kerana tertarik dengan peluang ekonomi yang terbuka luas di Tanah Melayu. Mereka memilih menetap di Tanah Melayu dan tidak kembali lagi ke Kalsel. Di Tanah Melayu mereka membuka kampung Banjar, meneruskan kehidupan sebagai petani sara diri dan melestarikan cara hidup Banjar yang mereka bawa dari Kalsel.
Namun, keturunan mereka atau cucu cicit mereka yang sekarang telah menjadi “bangsa Melayu” dan warganegara Malaysia, sudah mengalami pelbagai perubahan, sama ada dari segi pendidikan, pekerjaan, status sosial, gaya hidup dan cara hidup pada umumnya.Ada beberapa beberapa unsur cara hidup Banjar atau budaya Banjar yang sudah mereka tinggalkan atau tidak amalkan lagi. Antara yang paling ketara ialah kemerosotan dalam penggunaan bahasa Banjar.
Dengan berlakunya pelbagai perubahan itu identiti orang Banjar di Malaysia juga telah mengalami perubahan. Mereka yang masih tinggal di kampung dan mereka yang telah berpindah ke kawasan pembangunan tanah (FELDA) telah berubah daripada petani tradisional yang miskin menjadi petani moden yang hidup makmur. Mereka yang berpindah ke bandar telah menjadi pegawai kerajaan dan syarikat swasta, dari peringkat rendah hingga peringkat tinggi. Di samping itu, ada juga yang menjadi pengusaha sederhana dan besar.Dengan itu, mereka semua telah bermobiliti ke kelas menengah, dan sudah ramai yang mampu berkunjung ke Kalsel. Ada di antara mereka yang tidak boleh lagi bercakap Banjar, walaupun mereka mungkin pandai berbahasa Inggeris atau bahasa lain.
Dengan berlakunya pelbagai perubahan sebagaimana yang dinyatakan di atas, khasnya dari segi pendidikan, pekerjaan, status sosial dan gaya hidup itu, jelaslah ciri-ciri orang Banjar di Malaysia kini telah banyak berubah. Oleh yang demikian, kita mungkin boleh mengatakan bahawa orang Banjar di Malaysia kini secara amnya sudah mengalami perubahan identiti, iaitu berubah dari Banjar Lama menjadi Banjar Baru, walaupun perubahan itu belumlah menyeluruh.
Sebagaimana yang dinyatakan di atas, sebahagian besar daripada perubahan sosial ini terutamanya berlaku sebagai kesan daripada dasar dan rancangan pembangunan kerajaan. Namun, ada juga perubahan yang berlaku kerana pengaruh keadaan persekitaran atau lingkungan sosial di mana mereka berada, di samping pengaruh globalisasi.

RUJUKAN
Cek Mat. 1981/82. Sejarah Kedatangan Orang-Orang Banjar: Satu Kajian Kes diDaerah Sabak Bernam, Selangor. Tesis B.A. Universiti KebangsaanMalaysia.
Fuziah Mohd.Ali. 1979. Sejarah Penghijrahan, Penempatan dan Kegiatan Orang Banjar di Krian 1870-an – 1960-an. Tesis B.A. Universiti KebangsaanMalaysia.
Ghazali Basri. 1974/75. Sejarah Suku Banjar di Semenanjung Tanah Melayu:
Satu Tinjauan Umum: Mini Tesis B.A, Universiti Malaya.
Hasan Basri. 1988. Perpindahan Orang Banjar ke Surakarta: Kasus Migrasi
Inter-Etnis di Indonesia. Prisma.No.3.
M.Suriansyah Ideham, et.al. 2007. Urang Banjar dan Kebudayaannya.
Banjarmasin: Balitbangda Provinsi Kalimantan Selatan.
Mochtar Naim. 1984. Merantau: Pola Migrasi Suku Minangkabau. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.
Mohamad Reduan Aslie.1977. Masyarakat Suku Banjar di Malaysia. Mastika.
Julai.
Mohamed Salleh Lamry. 1992. Orang Banjar di Selangor: Penghijrahan dan Pola
Kehidupan di Rantau. Laporan Penyelidikan yang Dikemukakan kepada
Centre National de la Recherche Scentifique, Paris.
Mohamed Salleh Lamry. 2005. Dari Kalimantan Selatan ke Semenanjung
Malaysia: Migrasi Orang Banjar pada Dua Zaman. Dalam Abdul Halim Ali
(pnyt.) Borneo-Kalimantan 2005: Transformasi Sosial Masyarakat Pesisir
Borneo-Kalimantan. Kuching: Institut Pengajian Asia Timur.
Mohamed Salleh Lamry. 2010. Sejarah Orang Banjar dan Pola Pemertahanan
Kebudayaan Banjar di Perantauan, Khususnya di Malaysia. Kertas Kerja
untukKongres Budaya Banjar Ke-2, Banjarmasin, 4-7 April.
Mohamed Salleh Lamry. 2013. Perubahan Sosial dan Identiti Masyarakat Banjar di Malaysia:
Sebuah Tinjau Umum. Seri Alam. Bil. 10.
Mohamed Salleh Lamry. 2013. Perubahan Kebudayaan di Kalangan Orang Banjar Kota di
Malaysia. Dalam Taufik Arabain dan Rasta Albanjari (ed.) Merawat Adat. Banjarmasin:
UPT Taman Budaya Kalsel dan Pustaka Banua,
Musa Mantrak. 1977. Masyarakat Banjar di Semenanjung. Dian.Jilid 17.
Sulaiman Masri. 1967. Masyarakat Mendatang: Masyarakat Banjar di Sungai
Leman. Tesis B.A. Universiti Malaya.
Tajuddinnoor Ganie. 2004. Konstruksi Identitas Etnis Banjar di Kalimantan
Selatan (bahagian 3)
http://www.radarbanjar.com/berita/index.asp?Berita=Opini&id=47177
(Dirujuk pada 21 Mei 2005)
Tunku Shamsul Bahrin.1964.The Indonesia in Malaya. Tesis M.A. Unversity of
Sheffield.
Zulfa Jamalie (2010). Tranformasi Budaya Madam (Beberapa Catatan Pinggir)

saleh

 

“SAHUR BERSAMA” BUDAYA BARU ERATKAN TALI SILATURAHMI

rudy ariffin

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,3/7-2016 ()- Saling salam-salaman dan peluk-pelukan lalu duduk saling berhadap-hadapan seraya ngobrol dan sedikit sambutan setelah itu doa lalu makan secara bersama-sama pula.

Itulah budaya sahur bersama yang sudah tujuh kali dilakukan oleh Rudy Ariffin selagi masih menjabat gubernur Kalimantan Selatan dua periode, ketika tibanya bulan Ramadhan dengan kalangan wartawan di wilayah paling selatan pulau terbesar nusantara ini.

“Saya kangen ketemu teman-teman wartawan, kebetulan saya juga terima SMS yang menanyakan masih adakah sahur bersama dengan wartawan, walau saya sudah tak lagi Gubernur Kalsel, saya jawab tentu tahun ini tetap ada,” kata mantan gubernur Kalsel Rudy Ariffin seraya disambut tepuk tangan sekitar 50 wartawan yang hadir dalam acara sahur bersama tersebut.

Sahur bersama dengan mantan orang nomor satu di Kalsel itu berlangsung Minggu (3/7) dini hari di kediamannya di Kota Banjarbaru, sekitar 40 Km Utara Banjarmasin.

“Insya Allah jika ada umur, sahur bersama semacam ini tetap kita gelar di tahun-tahun mendatang, saya senang cara-cara ini karena mampu meningkatkan tali silaturahmi, dan bisa mencairkan kebuntuan komunikasi diantara kita,” kata Ketua DPW PPP Kalsel tersebut yang meletakan jabatan selalu gubernur Kalsel sekitar delapan bulan lalu.

Hadir kala itu Ketua PWI Kalsel Faturahman serta seluruh unsur pengurus PWI dan sejumlah wartawan, disamping datang pula anggota DPR RI dua periode, HM Aditya Mufti Ariffin dari PPP asal daerah pemilihan provinsi Kalsel yang juga putra dari Rudy Ariffin.

Selain itu terlihat pula Wali Kota dan Wakil Wali Kota Banjarbaru, Komandan Kodim Kabupaten Banjar, serta Kapolres Kota Banjarbaru dan Kabupaten Banjar.

Rupanya, gaya kepemimpinan Rudy Ariffin dengan menggelar atraksi sahur bersama dengan berbagai unsur masyarakat tersebut, belakangan menjadi trend baru, sehingga bukan saja digelar di kalangan pejabat, tetapi juga sudah merasuki budaya di kalangan pengusaha, tokoh masyarakat, dan komunitas.

Bahkan Gubernur Kalsel periode 2016-2020 Haji Sahbirin Noor melanjutkan budaya tersebut dan menggelar sahur bersama pula dengan wartawan pada Selasa (28/6) lalu.

Dalam acara sahur tersebut Gubernur mengaku gembira bisa bertatap muka dengan hampir seluruh wartawan yang ada di Banjarmasin, hingga saling mengenal satu sama lain, dan saling tukar pendapat.

Karena menurutnya pers mempunyai peran besar dalam pelaksanaan dan menyukseskan pembangunan, seraya mengharapkan agar insan pers di Kalsel terus meningkatkan peran dan partisipasi untuk kemajuan pembangunan dan masyarakat daerah ini khususnya.

Begitu juga tanpa pers sulit untuk memotivasi atau mengajak masyarakat supaya bersama-sama pula mamajukan banua Kalsel agar masyarakatnya lebih sejahtera, tuturnya didampingi Wakil Gubernur setempat H Rudy Resnawan, pada acara sahur yang digelar di rumah dinas Jalan R Soeprapto Kota Banjarmasin tersebut.
Atraksi wisata

Bertemu masyarakat dan seraya makan sahur bersama yang sudah sering dilakukan gubernur Kalsel itu kini juga sudah dilakukan beberapa kali oleh Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina.

Bahkan Ibnu Sina setiap kali acara sahur bersama dengan para pejabat lingkup Pemkot setempat, dengan unsur kepolisian, serta komunitas sekaligus bertindak sebagai penceramah dan Imam Sholat Subuh.

“Saya bahagia bisa bertemu semua kalangan saat sahur bersama, banyak keluhan masyarakat yang disampaikan untuk perbaikan di kota ini, dan itu saya tampung dan saya akan perhatikan untuk menjadikan kota Banjarmasin sesuai motto “Baiman” atau barasih wan nyaman,” kata wali kota dari unsur partai politik PKS ini.

Berdasarkan catatan, Wali Kota Ibnu Sina menghadiri sahur bersama dengan pihak Sapol Air Polresta Banjarmasin, dan bersama pedagang pasar terapung, bersama komunitas lingkungan, terakhir bersama Balakar 654, sebuah organisasi regu pemadam kebakaran di kota Banjarmasin.

Saat menghadiri “Sahur On The River” (SOTR) III atau Sahur Susur Sungai yang oleh Satuan Polisi Air (Sapol air) Polresta Banjarmasin Sabtu (25/6) dinihari lalu wali kota menilai acara ini memiliki keunikan, sahur bersama dengan ratusan orang, di tepian sungai, di lokasi objek wisata keagamaan lagi.

Menurut dia, SOTR ini semestinya lebih sering dibudayakan. Bukan saja untuk meningkatkan tali silaturahmi, tetapi merupakan salah satu bentuk syiar agama. Yang tidak kalah penting, SOTR di kota seribu sungai ini menjadi atraksi wisata yang tak ada ditemui di belahan banua manapun.

“Saya sudah banyak tanya, tak ada seorang pun menjumpai acara sahur bersama, di lokasi pinggiran sungai yang dihadiri ratusan orang,” kata Ibnu Sina lagi.

Ke depan, kata dia, Pemkot akan melibatkan diri dalam kegiatan semacam ini, dan bahkan mungkin akan menjadi kalender kepriwisataan yang di tawarkan kepada wisatawan, khususnya wisatawan keagamaan.

“Ayu kita menikmati wisata sungai dengan menyusuri kehidupan air, seraya makan sahur bersama,” kata Ibnu Sina dengan nada ajakan.***4***

MENIKMATI SAHUR SUSUR SUNGAI DINI HARI RAMADHAN

Oleh Hasan Zainuddin20160625wali

Menikmati warung soto terapung di Sungai Martapura, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, seraya memancing udang dan ikan sudah merupakan kebiasaan sebagian warga setempat.
Lalu menikmati makan aneka santapan kuliner khas Suku Banjar berupa laksa, katupat kandangan, putu mayang, lapat, lontong, puracit, kokoleh, pundut nasi, dan nasi kuning di pasar terapung kawasan Jalan Pierre Tendean mulai jadi tren di kalangan pendatang.

Berbelanja sayuran berupa daun singkong, jantung pisang, kacang panjang, umbut kelapa, keladi, daun pakis, labu, karawila dan aneka sayuran lainnya merupakan kenikmatan tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke pasar terapung di kota dengan penduduk sekitar 800 ribu jiwa ini.

Dibantu siraman sinar lampu minyak tanah dan sedikit terkena sinaran lampu listrik jalanan, pembeli dan penjual bisa bertransaksi, walau kadangkala harus hati-hati lantaran perahu bisa oleng dihantam riak gelombang sungai yang berhulu ke kawasan Pegunungan Meratus tersebut.

“Ayo ke Banjarmasin, kota yang `barasih wan nyaman` (Baiman/bersih dan nyaman, red),” kata Wali Kota Ibnu Sina saat menghadiri atraksi wisata susur sungai yang disebut Sahur On The River (SOTR) III atau Sahur Susur Sungai yang oleh Satuan Polisi Air (Sapol air) Polresta Banjarmasin, di lokasi Kubah Basirih, Sabtu (26/6) dini hari.

Wali kota memuji kotanya memiliki anugerah yang tidak dipunyai oleh kota manapun di dunia, karena dibelah oleh sedikitnya 102 sungai, besar dan kecil.

Dengan kelebihan itu, maka Banjarmasin memiliki keunggulan bila ingin menjadikan sungai sebagai objek wisata, dimanapun di dunia ini jika sungai dijadikan objek wisata maka wisatawannya akan berdatangan.

Sebagai contoh, kota Bangkok yang menjajakan sungai sebagai objek wisatanya, Hongkong, Venesia Italia, Belanda dan kawasan lain lagi.

Oleh karena itu, Pemkot Banjarmasin bersama masyarakat bertekad menjadikan pariwisata sungai Kota Banjarmasin sebagai destinasi unggulan melalui berbagai budaya, atraksi, dan kegiatan yang nuansanya bisa menjadi destinasi wisata.

“Saya melihat atraksi SOTR III ini ada keunikan, sahur bersama dengan ratusan orang, di tepian sungai, di lokasi objek wisata keagamaan lagi,” kata Ibnu Sina saat menghadiri SOTR III di kubah Basirih, Sabtu (25/6) dini hari.

Melihat keunikan ini wajar jika ke depan cara-cara seperti itu lebih dibudayakan, bukan saja untuk meningkatkan tali silaturahmi, tetapi merupakan salah satu bentuk syiar agama.

Satu hal yang tak kalah penting, khususnya di “kota seribu sungai,” Banjarmasin, dengan adanya pergelaran semacam ini menjadi atraksi wisata yang tak ditemui di belahan benua manapun.

“Saya sudah banyak tanya, tak ada seorang pun menjumpai acara sahur bersama di lokasi pinggiran sungai yang dihadiri ratusan orang,” kata Ibnu Sina.

Oleh karena itu, ke depan Pemkot Banjarmasin akan melibatkan diri dalam kegiatan semacam ini. Bahkan mungkin kegiatan ini akan dijadikan kalender kepariwisataan yang ditawarkan kepada wisatawan, khususnya wisatawan keagamaan.

“Ayo kita menikmati wisata sungai dengan menyusuri kehidupan air, seraya makan sahur bersama,” kata Ibnu Sina dengan nada ajakan.

Menurutnya, acara ini akan dipublikasikan luas kepada masyarakat setiap Ramadhan, dan lokasinya pun bisa diperbanyak, bukan hanya satu lokasi tetapi di beberapa lokasi.

Dalam acara Sahur Susur Sungai tersebut selain makan sahur bersama, Satuan Polisi Perairan Polresta Banjarmasin juga melakukan sosialisasi kepada nelayan atau masyarakat untuk tidak melakukan penangkapan ikan dengan cara yang dilarang atau “Illegal Fishing”.

“Acara sahur susur sungai ini ketiga kalinya kami laksanakan dan kegiatan intinya menjaga Kamtibmas masyarakat pinggiran sungai seraya beribadah puasa selama Ramadhan dengan benar,” kata Kasat Polair Polresta Banjarmasin AKP Untung Widodo.

Kegiatan sahur susur sungai ini sudah yang ketiga kalinya selama Ramadhan tahun ini, pertama di pasar terapung kawasan Jalan Pierre Tendean bekerja sama dengan PT Mitra Bahtera Segara Sejati (MBSS), kata Untung Widodo.

Saat mulai menyusuri sungai pihak Satpolair dan PT MBSS membagikan nasi kotak kepada para nelayan pemancing ikan yang ada di sungai tersebut.

“Kami bagikan nasi kotak kepada para nelayan itu agar nanti mereka bisa sahur dan berpuasa,” tutur pria yang akrab dengan awak media itu.

Tujuan acara ini untuk menjalin silaturahim dengan warga sadar keamanan, ketertiban masyarakat (Kamtibmas) khususnya di wilayah perairan Banjarmasin, ucapnya.

Bukan itu saja, Polri juga lebih dituntut untuk menjalin kemitraan dengan semua unsur serta hadir di tengah-tengah masyarakat, untuk kebersamaan.

Kegiatan ini selain untuk mempererat tali silaturahim dengan pedagang pasar terapung, komunitas kelotok (perahu) wisata, pecinta lingkungan, agar semakin terjalin keakraban dan mendukung tugas tugas kepolisian untuk menciptakan keamanan dan ketertiban.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Banjarmasin Iwan Fitriady mengatakan kegiatan Sahur On The River itu luar biasa dan baru pertama kali dilakukan.

“Kami berterimakasih kepada Satpol Air sebagai penggagas pertama kali kegiatan ini walau sederhana tapi hasilnya luar biasa,” tuturnya.

“Kita berharap atraksi-atraksi wisata semacam itu digali dan diciptakan untuk menambah kesemarakan lokasi yang kini terus dipromosikan sebagai wisata andalan kota Banjarmasin,” kata Iwan Fitriady.

Pasar terapung adalah lokasi objek wisata andalan yang dikunjungi hampir lima ribuan orang setiap minggu, lokasi ini menarik lantaran kekhasan tersendiri di mana para pedagang mengenakan kostum tradisional dengan bertopi lebar (tanggui) berjualan di lokasi tersebut.

Sementara lokasi terakhir Kubah Basirih merupakan tempat ziarah umat Islam yang bukan saja dari Kalsel, tetapi dari Pulau Jawa, Sumatera, bahkan dari Malaysia.

Karena di lokasi tersebut adalah wilayah pemakaman ulama-ulama besar sebelumnya yang mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat Kota Banjarmasin. ***4***