KETURUNAN BANJAR DI MALAYSIA JADI MELAYU BARU

muhamad Isa

Penulis berada di rumah Muhamad Isa, di Teluk Intan
Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin, 27/10 (Antara) – Keturunan atau zuriah Suku Banjar Kalimantan Selatan yang tinggal di Malaysia dan kiprahnya mulai kelihatan di berbagai sektor kehidupan di negara tetangga itu bisa menjadi generasi Melayu Baru.
Hal tersebut diutarakan seorang tokoh masyarakat Banjar di Teluk Intan, Negeri Perak Malaysia, Muhamad Isa, kata anggota Forum Silatuhami Kulaan Banjar Banua (FSKB) Mohamad Ary di Banjarmasin, Kalsel, Senin, sepulang negeri jiran itu.
Dalam perbincangan dengan Mohamad Isa yang juga dikenal sebagai guru dan anggota pemerhati sejarah Malaysia tersebut di rumahnya di Malaysia pekan lalu, dikatakan sekarang keturunan suku Banjar Kalimantan Selatan setelah puluhan bahkan ratusan tahun banyak yang melakukan kawin silang.
Banyak suku Banjar yang kawin dengan sesama Banjar atau kawin silang dengan suku melayu Malaysia, dengan suku Jawa Minang, Bugis dan lainnya yang kini populasinya berkembang pesat dan menjadi sebuah kekuatan baru yang disebut Melayu Baru.
Keturunan mereka ini sekarang berlomba menimba ilmu di berbagai lembaga pendidikan dan banyak di antara mereka yang sudah menjadi kamum intelektual, baik di pemerintahan, akademisi, politik, olahragawan, seniman, bahkan usahawan.
Bahkan posisi kelompok ini dinilai sebuah kekuatan baru dan menjadi saingan kuat dari kelompok lain yang juga dikenal kuat di negeri tersebut, seperti kelompok keturunan India muslim, yang di antaranya terdapat Mahathir Mohamad.
Berdasarkan keterangan di antara keturunan Banjar yang sudah berkiprah di negara tersebut, seperti Menteri Besar Johor Datuk Seri Hj Mohamad Khalid Nordin, penyanyi Malaysia Sarimah Ibrahim, mantan Kepala Kepolisian Tan Sri Musa Dato’ Hj Hassan, Malik Noor merupakan juara bina badan Asia peringkat heavyweight sebanyak 6 kali.
Kemudian juga ada nama Datuk Jamal Abdilah bintang film dan penyanyi, Datuk Puad Zarkashi mantan Menteri Pendidikan Malaysia, dan beberapa lagi.
Mohamad Ary berada di Malaysia bersama 19 orang anggota Forum Silaturahmi Kulaan Banjar Banua untuk berjumpa dengan Pertubuhan Banjar Malaysia di beberapa lokasi permukiman Suku Banjar.
Di antaranya berkunjung ke Bukit Melintang, Began Serai, Began Datuk, Sungai Manik, Ayer Hitam Batu Pahat, Malaka, Johor Baru, Sekudai, Selangor, dan beberapa lokasi lagi.
Tujuannya hanya untuk menjalin tali silatruhami antara suku Banjar di Kalimantan selatan dengan suku Banjar yang sudah puluhan bahkan ratusan tahun bermukim dan menjadi warga negara Malaysia tersebut.
Dalam kunjungan tersebut kedua belah pihak sepakat saling eratkan persaudaraan dan saling mengunjungi satu sama lain.

Iklan

KULAAN BANJAR BANUA ERATKAN PERSAUDARAAN DENGAN KULAAN MALAYSIA

erat

Banjarmasin, (Antaranews Kalsel)- Forum Silaturahmi Kulaan Banjar Banua (Kalimantan Selatan), sepakat mengeratkan tali persaudaraan dengan Pertubuhan Banjar Malaysia setelah melakukan pertemuan di negara jiran tersebut.

Anggota Forum Silaturahmi Kulaan Banjar Banua (FSKB) , Mohamad Ary di Banjarmasin sepulangnya dari Malaysia, Senin menuturkan, setelah melakukan perjalanan selama sembilan hari banyak pengalaman yang didapat dalam upaya menyambangi pemukiman-pemukiman Suku Banjar yang berada di negeri seberang tersebut.

Rombongan FSKB sebanyak 19 orang menyambangi beberapa pemukiman Suku Banjar yang ada di Malaysia, baik yang berada di negeri simbilan, negeri Malaka, Johor Bahru, Perak, Penang, dan Selangor.

Bahkan dalam beberapa kali pertemuan antara kedua belah pihak sepakat menjalin persaudaraan yang lebih dekat, dengan tujuan eratkan hubungan kekeluargaan yang selama ini agak terputus, sekaligus sebagai wadah atau wahana bagi siapa saja kedua belah pihak untuk mencari juriat di dua negara berbeda tersebut.

Menurut Mohamad Ary, banyak Suku Banjar yang sudah lama bermukim di Malaysia ingin mencari juriat keluarga yang ada di banua asal Kalimantan selatan, tetapi setelah hubungan lama terputus sekarang sudah kehilangan jejak untuk mencari juriat tersebut.

Atau sebaliknya warga Banua di kalsel yang sudah kehilangan jejak untuk mencari juriat keluarga yang madam (merantau) ke Malaysia puluhan bahkan ratusan tahun silam.

Melalui FSKB dan Kulaan Malaysia inilah akan menjadi jembatan bagi mereka yang terputus hubungan keluarga tersebut untuk saling mengetahui kedua belah pihak, dan kalau perlu dipertemukan.

Sebagai Contoh saja, Pak Mdnoh Rahidin keturunan Banjar kalsel yang lama tinggal di Negeri Malaka, sampai menitikan air mata setelah bertemu dengan rombongan FSKB seraya berharap dengan pertemuan ini akan terbuka jalan untuk mencari juriat keluarga yang berada di Desa Paran Kabupaten Balangan Kalsel.

Sebab ia tahu cerita keluarga hanya dari almarhum ayahnya yang sudah lama meninggal dunia, dan ayahnya berpesan ia harus mencari juriat keluarga yang ada di Indonesia, tetapi untuk mencarinya ia sendiri tidak mengerti harus bagaimana karena tak pernah ke Indonesia, apalagi ke Kalsel.

Banyak cerita yang hampir sama dengan Mdnoh Rahidin ini yang semuanya berharap bisa mengetahui pihak keluarga satu sama lain yang berada di dua negara serumpun ini, setelah puluhan tahun bahkan ratusan tahun tak ada pernah kontak lagi.

Dalam kunjungan FSKB tersebut, beberapa lokasi kawasan pemukiman Suku Banjar di Malaysia, seperti di Bukit Malintang Negeri Sembilan, Sungai Manik, Began Serai, Bagan Datuk negeri Perak, dan beberapa lokasi lagi.

Dalam kunjungan tersebut rombongan FSKB disambut dengan hangat para warga di beberapa lokasi tersebut, bahkan sempat menyaksikan festival budaya Banjar di Bukit Melintang.

Berdasarkan keterangan warga Banjar di Malaysia sekitar dua juta orang, namun yang terdata sekitar sejuta orang dan beberapa diantaranya terkenal sebagai pejabat dan artis di negara dihuni antar bangsa tersebut.

Diantara orang Banjar di Malaysia terkenal adalah Menteri Besar Johor Datuk Seri Hj Mohamad Khalid Nordin, penyanyi malaysia Sarimah Ibrahim, mantan Kepala Kepolian Malaysia Tan Sri Musa Dato` Hj Hassan, Malik Noor merupakan Juara Bina Badan Asia peringkat heavyweight sebanyak 6 kali .

Selain itu juga ada nama Sri Norian Mai juga mantan Ketua Polis Negara Malaysia yang keenam, bintang film, dan penyanyi Datuk Jamal Abdillah, serta Datuk Puad Zarkashi mantan Menteri Pendidikan Malaysia.

“LOMBA ANGKAT LUMPUR” TUMBUHKAN SEMANGAT SELAMATKAN SUNGAI

6

Oleh Hasan Zainuddin

 

Banjarmasin,18/9 (Antara)- Satu kelompok terdiri dari enam orang ibu berbaju kaos bercelana panjang begitu bersemangat masuk sungai, lalu tangan mereka begitu cekatan mengeruk lumpur di dasar sungai menggunakan sebuah keranjang rotan, lalu mengangkatnya ke bak sebuah truk yang sudah disediakan di dekat lokasi tersebut.
Tak peduli bedak putih yang berada di wajah para ibu tersebut berubah menghitam setelah hampir seluruh tubuh berlumuran lumpur warna hitam berasal dari sungai Jalan A Yani depan gedung RRI Banjarmasin.
Diiringi suara musik dangdut dari pengeras suara, para ibu-ibu tersebut terus bekerja sambil mengangkat lumpur dengan sesekali berjoget mengiringi irama musik yang dibunyikan panitia penyelanggara dalam lomba angkat lumpur yang kini sudah dibudayakan di wilayah yang berjuluk “kota dengan seribu sungai,” (city with a thousand rivers).
Kelompok ibu-ibu ini satu dari 32 kelompok yang menjadi peserta dalam kegiatan lumba angkat lumpur tahun 2014 yang diselenggarakan Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin, Kalimantan selatan, bekerjasama dengan TNI AL Banjarmasin, pada Minggu (14/9) lalu.
Lomba sendiri dibuka dibuka Komandan Lanal Banjarmasin Letkol Laut (P) Haris Bima Bayuseto didampingi oleh Wali Kota Banjarmasin H Muhidin.
Wali kota Banjarmasin menyatakan terus membudayakan lumba angkat lumpur ini, karena dengan lumba ini selain akan merevitalisasi sungai sekaligus akan menanamkan kecintaan sekitar 700 ribu poenduduk kota untuk memelihara sungai.
“Kedepan lumba angkat lumpur akan ditingkatkan lagi pesertanya diundang 52 kelurahan, kalau perlu akan memperoleh penghargaan MURI,” kata wali kota.
Dalam lomba keluar juara Kelompok PMK Sinar Daha berhak Rp10 juta rupiah, disusul kelompok Maya Daha Rp7,5 juta, lalu ketiga Kelompok Ikan Haruan Rp5 juta,tiga kelompok ini juga berhak atas tropy.
Lomba kaitan memperingati hari jadi Kota Banjarmasin ke- 448 dan HUT TNI AL ke- 69 tersebut bertujuan agar masyarakat lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan disekitarnya, khususnya memelihara sungai.

 

Revitalisasi Sungai

 

 

 

Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Drainase (SDA) Banjarmasin Muryanta yang ikut dalam kelompok lomba dengan tersengal-sengal menahan nafas lantaran kelelahan merasa gembira melihat antusias ratusan orang peserta dalam lomba ini.
“Ini tampaknya paling ramai dibandingkan dengan lumba angkat lumpur dari tahun-tahun sebelum-sebelumnya, moga kedepan kian ramai lagi,” kata Muryanta yang kelompoknya dari kantor SDA tidak memperoleh kemenangan dalam lomba tersebut.
Menurutnya,lumba ini berdampak positif dalam upaya pemerintah mensosialisasikan kebersihan sungai, karena kepedulian masyarakat memelihara sungai kunci sukses menghidupkan kembali keberadaan sungai sebagai sarana transportasi, drainase, dan kelestarian lingkungan hidup.
Di Banjarmasin sendiri terdapat 105 sungai besar dan kecil, yang besar Sungai Barito dan Sungai Martapura, dari jumlah itu sebanyak 30 persen sungai-sungai tersebut sudah mati karena sendimentasi, diserang gulma, dan karena tersita oleh pemukiman penduduk dan pembangunan perkotaan.
Apalagi kedepan dalam kebijakan Pemkot setempat akan menjadikan sungai sebagai urat nadi perekonomian, mengingat wilayah ini tidak memiliki sumberdaya alam seperti hutan, tambang, pertanian, perkebunan, dan lainnya.
Salah satu yang dipilih mendongkrak ekonomi adalah sungai, makanya sungai harus dihidupkan lagi sebagai sarana transportasi, khususnya dibenahi untuk dunia kepariwisataan mengingat kota ini sudah dikenal luas sebagai kota wisata sungai di tanah air.
Upaya membenahi sungai tersebut sudah dilakukan Pemkot Banjarmasin melalui kantor SDA yang menghabiskan dana sudah ratusan miliar rupiah lebih yang dilakukan secara bertahap.
Mulai dengan pembebasan beberapa lokasi bantaran sungai yang kumuh menjadi sebuah kawasan pertamanan yang indah.
“Lihat saja tepian Sungai Martapura, baik yang di Jalan Sudirman, Jalan Piere Tendean, setelah dibebaskan dari pemukiman kumuh, sekarang sudah menjadi kawasan wisata yang menarik dan menjadi ikon kota,”tuturnya.
Kemudian Pemkot Banjarmasin juga bertahap pembebasan tepian Sungai Kerokan, Sungai Teluk Dalam, Sungai Kuripan, Sungai Jalan Veteran dan beberapa lokasi lain yang sudah menghabiskan dana tak sedikit itu.
Pembenahan sungai tersebut karena arah pembangunan berkelanjutan kota ini yang dicanangkan sejak tahun 2009 lalu adalah berbasis sungai.
Dengan arah pembangunan berkelanjutan berbasis sungai maka tak ada pilihan lain selain bagaimana agar sungai-sungai bisa menjadi daya tarik ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat.
Pemkot juga membangun sejumlah dermaga pada titik strategis menghidupkan kepariwisataan sungai tersebut. Dermaga dimaksud juga mengembalikan kejayaan angkutan sungai Kota Banjarmasin, seperti lokasi siring sungai Jalan Tendean dan Ujung Murung.
“Kalau di Banjarmasin ini terdapat 15 jembatan berarti yang kita bangun dermaga nantinya sebanyak 15 buah,” tutur Muryanta.
Maksudnya dengan adanya dermaga dekat jembatan itu maka akan memudahkan masyarakat bepergian kemana-mana, baik melalui angkutan sungai maupun angkutan darat.
Mereka yang melalui angkutan sungai bisa singgah di dermaga dekat jembatan kemudian bepergian lagi lewat angkutan darat kemana mereka mau, dengan demikian maka menghidupkan angkutan sungai maupun angkutan darat, tambahnya.
Mengenai pembangunan siring sebagai lokasi “waterforont city” menuju kota metropolis akan memanjang hingga lima kilometer, yang diyakininya selesai 10 tahun, padahal target sebelumnya itu baru bisa dikerjakan selama 25 tahun.
Optimistis mampu merampungkan proyek tersebut didasari dengan kenyataan yang ada selama lima tahun terakhir ini saja sudah dibangun tiga kilometer. Tiga kilometer tersebut seperti sepanjang siring di Jalan Piere Tendean, eks SMP-6, serta Jalan Sudirman.
Tinggal penyelasaian antara Siring eks SMP 6 ke pekapuran hingga ke Jalan RK Ilir tepatnya hingga Tempat Pendaratan Ikan (TPI) air tawar Jalan RK Ilir,tambahnya.
Tiga kilometer proyek siring tersebut sudah menghabiskan dana sedikitnya Rp75 miliar, sebagian besar atau Rp60 miliar berasal dari dana APBN melalui Balai Besar Sungai Kementerian PU, sisanya melalui APBD Pemprov Kalsel, serta APBD Kota Banjarmasin.
Untuk menyelasaikan sepanjang lima kilometer proyek siring tersebut maka dibutuhkan dana sedikitnya Rp150 miliar lagi, katanya seraya menyebutkan bahwa proyek siring dikerjakan sejak tahun 2008.
“Kami akan lanjutkan pembangunan siring Sungai Martapura, agar kota kita tambah indah dan nyaman, hingga nantinya terdapat pusat kuliner ketupat seperti di Pekapuran serta pusat cendramata kain Sasirangan di kampung Seberang Masjid,” tambah Muryanta.
Apalagi sekarang sedang diselesaikan proyek menara pandang Rp14 miliar berlantai empat yang berarsitektur khas budaya Banjar di lokasi siring Pire Tendean menambah kesemarakan kota yang berada paling selatan pulau terbesar nusantara ini.
Kawasan lain yang segera dibenahi wisata sungai sebagai sentra kuliner, yakni di Desa Pekapuran, khususnya ketupat mengingat di lokasi tersebut banyak sekali perajin makanan tersebut. Jika terbangun siring mempermudah wisatawan mendatangi sentra kuliner ketupat baik melalui sungai maupun melalui darat.
Pembangunan siring Desa Pekapuran tak masalah karena dana akan diperoleh bantuan Balai Besar Sungai Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Tinggal bagaimana mendanai pembebasan terhadap bangunan lama atau pemukiman penduduk wilayah itu, antara Jembatan Dewi terus ke Pekapuran atau menmyambung siring terdahulu.
Di Desa Pekapuran banyak perajin ketupat menyebar di lingkungan RT 1, RT 2, RT 3, RT 4, RT 5, RT 6, hingga lingkungan RT 7. Tadinya membuat ketupat hanya penduduk asli setempat, tetapi setelah potensi ekonomi membuat ketupat begitu menjanjikan sehingga belakangan banyak pendatang yang juga ikut-ikutan menjadi perajin ketupat.
Di desa tersebut bukan saja mereka yang hanya mengayam daun kelapa dan daun nifah menjadi kulit ketupat, tetapi tak sedikit yang menjadi pedagang grosir, pedagang eceran, sampai mereka yang bertindak sebagai pencari bahan baku daun kelapa dan daun nifah.
Kawasan tersebut ramai pengunjung untuk membeli ketupat, apalagi jika menjelang idul Fitri dan Idul Adha.
Selain itu Pemkot juga membangun wisata bantaran sungai Desa Seberang Masjid
sebagai kawasan cendramata Kain Sasirangan, serta pusat souvenir lainhya.
Bila semua fasilitas wisata sungai dibenahi termasuk penyediaan sarana angkutan seperti kapal-kapal wisata, spead boat, klotok, dan pembenahan pasar terapung, pemukiman terapung, industri terapung, dan kehidupan sungai lainnya ditambah akomodasi penginapan yang memadai maka akan mewujudkan sungai sebagai penggerak ekonomi masyarakat melalui dunia kepariwisataan.

 

KEKHASAN “PASAR WADAI RAMADHAN” BANJARMASIN MULAI MEMUDAR

Oleh Hasan Zainuddin

 

 

 

 

 

pintu gerbangpasar wadai

gue
Waktu dulu jika siapapun bergambar (berfoto) di lokasi Pasar Wadai Ramadhan (Ramadhan Cake Fair) Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, sudah bisa dipastikan hampir semua orang tahu kalau itu berada di Pasar Wadai Ramadhan (PWR) Banjarmasin.

Pasalnya, bangunan pasar PWR berarsitektur khas Banjar, seperti rumah adat Banjar “bubungan tinggi” atau “gajah baliku.”
Begitu juga bahan yang digunakan untuk bangunan PWR terbuat dari bahan lokal yang khas seperti kayu hutan, kayu ulin, atap sirap, atap rumbia, dinding daun nipah, umbul-umbul dengan hiasan daun kelapa (nyiur).

Apalagi di lokasi PWR biasanya diberikan ukiran atau lukisan dengan ornamen budaya Banjar menambah kekentalan suasana budaya yang menceriminkan lokasi tersebut berada di tanah Banjar, kawasan paling selatan pulau terbesar tanah air ini.

“Saya masih ada foto Pasar Wadai Ramadhan yang dulu sangat eksotis, dan itu kenang-kenangan yang tak terlupakan,” kata Husain Abdullah seorang warga Malaysia keturunan Banjar via sosial media.

“Apakah kondisi Pasar Wadai Ramadhan masih seperti yang dulu,” tanyanya seraya berharap Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin, dalam hal ini Dinas Pariwisata Budaya Pemuda dan Olahraga konsisten dengan tujuan awal berdirinya PWR tersebut.

Tujuan awal berdirinya PWR selain untuk menyediakan warga Muslim mencari penganan dan makanan untuk berbuka puasa juga sebagai pelestarian budaya khususnya kuliner suku Banjar, sekaligus sebagai atraksi wisata tahunan yang mengosong keunikan budaya nenek moyang setempat.

Salah seorang warga Kota Banjarmasin, Haji jainudin menyayangkan beberapa tahun belakangan kondisi PWR tidak seperti dulu lagi, seakan kehilangan keasliannya, dimana bangunan kios-kios yang tadinya kental budaya Banjar sekarang sudah berubah banyak, karena didominasi oleh tenda-tenda kain.

“Lihat saja pintu gerbang masuk ke Pasar Wadai Ramadhan yang sekarang tidak menggambarkan kekhasan budaya Banjar, kalau tidak ada tulisan Banjarmasin di pintu gerbang itu, maka bagi siapa yang mengambil foto tidak akan tahu kalau di situ Pasar Wadai Ramadhan,” kata Haji jainudin.

3

Pasar terapung sampingpasar wadai

Pintu gerbang PWR sekarang hanya kain putih yang dibentuk seperti pintu gerbang masuk lalu di atasnya bertuliskan “Pasar Wadai dan Banjarmasin Fair.”
Kalau dulu pintu gerbang dibentuk sedemikian rupa dari bahan-bahan lokal dengan ukiran dan lukisan nuansa budaya Banjar yang kental.

Begitu juga bangunan kios-kiosnya yang sekarang sudah berbentuk modern, serta tenda-tenda kain yang sudah mengurangi kekhasan budaya tersebut.

Bahkan barang yang dijualpun beraneka ragam tidak lagi semata penganan dan makanan tetapi aneka barang dan kebutuhan hingga kendaraan bermotor.

“Padahal namanya pasar wadai, tapi banyak yang dijual di sana bukan dari wadai (penganan), ada mainan anak-anak, ada aneka tasbeh, batu permata, pakaian, barang elektronik, aneka tas, hingga kendaraan bermotor,” kata Marjuki warga setempat menambahkan.

Khas dan Unik
Dalam pidato Gubernur Kalimantan Selatan Rudy Ariffin saat membuka PWR Banjarmasin, Minggu (29/6) menyatakan bahwa PWR sebuah sarana pelestarian budaya sekaligus objek wisata tahunan.

Bahkan Gubernur Kalsel yang didampingi Wakil Wali Kota Banjarmasin Irwan Anshari masih yakin di lokasi itu dijual kue aneh-aneh dan unik karena tidak dijual di pasaran pada hari-hari biasa di wilayah Kota Banjarmasin, kecuali mencarinya hingga ke Cempaka Kota Martapura, Kabupaten Banjar.

Menurut gubernur kue-kue yang muncul di PWR saat bulan Ramadhan tersebut termasuk kue-kue khas atau kue tradisional suku Banjar yang sering digunakan saat-saat tertentu, seperti untuk selamatan atau kenduri.

Ia menggambarkan seperti kue tradisional khas Banjar yang disebut wadai 41 macam, karena itu bagi siapa saja ingin menikmati kue-kue khas tersebut silahkan datang di bulan Ramadhan ke PWR yang selalu berada di tepian Sungai Martapura atau Jalan Sudirman.

“Saya sendiri sudah sembilan kali membuka Pasar Wadai Ramadhan Banjarmasin ini, dan selalu rame dikunjungi termasuk pendatang atau wisatawan mancanegara,” kata Rudy Ariffin yang dua kali menjabat Gubernur Kalsel tersebut.

Apa yang dikatakan Gubernur Kalsel tersebut ternyata agak beda dibandingkan kenyataan yang ada, dimana untuk mencari kue tradisional yang aneh-aneh dan unik hampir tidak dijumpai lagi.

Berdasarkan catatan, wadai 41 macam wadai suku Banjar yang bisa dinikmati terutama untuk berbuka puasa diantaranya apa yang disebut wadai cincin, wajik, cucur, cingkaruk, kayu apu, sasunduk lawang, kakoleh, putri selat, kalepon buntut, laksa, apam balambar (apem basah), apam putih, dan pais sagu.

Kemudian, wadai putri bekunjang, bingka tapai, aloha, bingka kentang, amparan tatak, intalu (telur) keruang, apam habang (apem merah), jaring baras (beras), gagauk, rangai, kararaban, gagati, wadai sari, petah, kulit langsat, bubur baayak, kakicak.

Wadai (kue) karingnya dulu ada yang disebut walatih, sasagun, wadai satu, wadai sagu, ginjil, garigit, talipuk, ilat sapi, dan lainnya sekarangpun tersisih oleh kue kering modern seperti ciki-cikian atau kue kering buatan pabrik besar seperti produksi Garuda Food dan Indo Food.

Begitu juga masakan dan penganan tampak makanan modern cukup mendominasi, lihat saja ada makanan Kebab dari Turki, Roti Maryam dari Arab Saudi, ayam goreng ala Kentucky Fried Chicken (KFC), pizza hut, dan aneka makanan modern lainnya.

Walau makanan tradisional khas Banjar masih tersedia, seperti garih balamak, gangan waluh, gangan kaladi, tumis tarung, papuyu baubar, haruan baubar, gangan kecap, cacapan asam, iwak bapais, gangan balamak, gangan asam kapala patin, pucuk gumbili bajarang, dan lainnya.

Sementara Wakil Wali Kota Banjarmasin, Irwan Anshari melaporkan Ramadhan Cake Fair yang sudah dibudayakan sejak tahun 1985 tersebut tetap bertujuan untuk pelestarian budaya, sekaligus sebagai atraksi wisata.

Hanya saja pada tahun ini agak berbeda dibandingkan dengan tahun sebelumnya, karena dalam tahun ini melibatkan dunia usaha dan Usaha Kecil Menengah (UKM) yang bukan saja dari Banjarmasin tetapi dari berbagai daerah di Kalsel, bahkan UKM dari beberapa kota Pulau Jawa dan Sumatera.

Bahkan dalam tahun ini beberapa stand untuk perusahaan kendaraan bermotor yang mempromosikan produk terbaru mereka.

“Jumlah stand sebanyak 184 unit, 140 unit diantaranya untuk pedagang penganan atau kue dan masakan, 17 unit untuk UKM nasional dari berbagai daerah di tanah air, selebihnya untuk perusahaan kendaraan bermotor yang mempromosikan produk terbaru mereka,” kata Irwan Anshari.

Sebelumnya Kepala Bidang Promosi Wisata Dinas Pariwisata Budaya Olahraga dan Pemuda Banjarmasin, Mujiat mengakui untuk tahun ini terjadi perubahan sesuai dengan tuntutan jaman, dan bukan hanya Ramadhan Cake Fair tetapi juga ada Ramadhan Fair karena digunakan untuk berbagai perdagangan barang ekonomi diluar makanan.

Menurut dia, lokasinya pun dimodifikasi sedemikian rupa, sehingga lokasi kuliner sebagai pelestarian budaya suku Khas Banjar terpisah dibandingkan dengan lokasi pemasaran produk UKM dari luar Kalsel dan lokasi promosi berbagai perusahaan kendaraan bermotor.

Belum lagi adanya lapak-lapak atau lokasi khusus untuk berjualan aneka barang mainan anak-anak, dan barang dagangan lainnya, seperti tempat jualan tasbih, baju koko, songkok, dan aneka busana muslim, termasuk pula di dalamnya pusat penjualan batu permata, dan souvenir lainnya.

“Kita berharap tahun ini lebih meriah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, karena keterlibatan pihak perusahaan besar dan UKM di luar Kalsel,” kata Mujiat seraya menyebutkan bangunan lokasi itu ada yang hanya terbuat dari bahan lokal seperti kayu tetapi ada pula berupa tenda-tenda besar.

udang

Udang di pasar wadai

bingka

kue bingka

wadai

Wadai Habang

wadai2

Wadai Amparan Tatak

IPA PULAU BROMO SENYUMAN 400 KK WARGA TRISOLIR

Oleh Hasan Zainuddin

bromo

Tak pernah sedikitpun terbayangkan dibenak Raudah (40) ibu dua anak warga Ujung Benteng Pulau Bromo Kelurahan Mantuil Kecamatan Banjarmasin Selatan Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, ini bakal bisa minum dan memanfaatkan air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bandarmasih kota setempat.

Pasalnya lokasi tempat tinggal mereka jauh di pesisir Sungai Barito walau berdekatan dengan Kabupaten Barito Kuala (Batola) namun secara geografis masih masuk wilayah Kota Banjarmasin, untuk kemana-mana apalagi ke pusat harus menggunakan angkutan sungai seperti jukung (sampan) atau klotok (perahu bermesin).

“Kami turun temurun hanya memanfaatkan air Sungai Barito yang keruh dan asin ini untuk keperluan air minum dan keperluan lainnya, syukur sekarang kami sudah bisa menikmati air bersih PDAM Bandarmasih,” kata Raudah saat menggendung seorang anak bungsunya.

Hanya saja,katanya untuk diminum air sungai tersebut dieendapkan dulu dalam wadah besar lalu diberi obat pembersih seperti tawas, rasanya tidak enak agak payau, tetapi karena tak ada pilihan maka tetap saja air itu digunakan.

Namun disaat kemarau air sungai begitu asin maka air sungai tak bisa diolah menjadi air minum karena kadar garamnya terlalu tinggi,sehingga warga setempat harus mencarinya ke sana kemari atau menunggu pedagang air bersih keliling pakai perahu dengan harga Rp1500 per jeregen.

“Kebiasaan tersebut sudah turun temurun hingga kehidupan yang dilalui hanya menggunakan air sungai itu, dan makanya sungguh tak disangka sekarang kok berdiri Instalasi Pengolahan Air (IPA) di kampung kami. Alhamdulilah,” kata Raudah sambil tersenyum.

Senyuman ibu Raudah tersebut agaknya satu dari senyuman 400 jiwa warga Pulau Bromo yang sejak dulu mendambakan air bersih PDAM, dan sekarang sudah kesampaian.
air
Direktur PDAM Bandarmasih Kota Banjarmasin Ir Muslih ketika bersama Wali Kota Banjarmasin Haji Muhidin mengunjungi IPA Pulau Bromo tersebut kepada penulis mengatakan pihaknya mencoba membangun IPA mengolah air asin menjadi air bersih yang tawar.

Keinginan tersebut sudah lama, pertimbangannya untuk mencoba mengolah air asin menjadi air tawar sebagai alternatif jika sumber air baku yang tawar berasal sungai terus berkurang dikemudian hari.

Masalahnya air baku PDAM Bandarmasih sekarang dengan produksi sekitar 2000 liter per detik semuanya dari air Sungai Martapura di kawasan Sungai Tabuk, namun debit air di kawasan tersebut sekarang berkurang seiring kerusakan hutan resapan air di Pegunungan Meratus.

Sementara air tanah di wilayah Banjarmasin yang berawa-rawa tidak bisa digunakan sebagai air baku, lantaran kadar keasaman yang tinggi disamnping terdapat kandungan besi yang juga tinggi.

Pilihan kedepan tentu mengolah air asin di Sungai Barito menjadi air tawar, ujicobanya yang berada di IPA Pulau Bromo ini, katanya seraya menyebutkan pembangunan IPA tersebut merupakan bantuan dari pemerintah pusat dan organisasi Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (Perpamsi).

Pertimbangan kedua perusahaannya bertekad bisa melayani air bersih 100 persen penduduk wilayah perkotaan walau mereka berada di lokasi terpencil dan terisolir sekalipun.

“Kita sudah banyak melakukan perbaikan sistem perpipaan, baik pipa besar dan pipa kecil ke daerah-daerah pelosok atau pinggiran Banjarmasin, maksudnya agar tidak ada lagi warga yang menjarit kesulitan air bersih”` kata Muslih.

Sementara di Pulau Bromo yang berada di kepulauan tengah Sungai Barito ini agak sulit dibangun perpipaan makanya dipertimbangan membangun IPA kecil dengan memanfaatkan air asin menjadi air bersih.

“Kita sudah membangun IPA skala kecil dengan kapasitas 0,5 liter per detik untuk pengolahan air laut menjadi air bersih di Pulau Bromo, dan cara tersebut merupakan yang kedua di Indonesia setelah sebelumnya dibangun skala kecil di Pulau Madura, Jawa Timur,”katanya.

Peresmian pemakaian IPA yang berlokasi di pemukiman tepian Sungai Barito tersebut dilakukan Wali Kota Banjarmasin Haji Muhidin seusai perayaan puncak HUT ke-41, Senin (18/2).

Dengan kapasitas itu diharapkan bisa melayani penduduk setempat yang terisolir itu disamping diharapkan mampu melayani kebutuhan air bersih kapal yang hilir mudik di kawasan perairan tersebut.

“Dengan keberhasilan pengelolaan IPA mengolah air laut jadi air bersih ini maka merupakan angin segar bagi perusahaan air minum kedepan yang selama ini kesulitan memperoleh air baku, dan kapasitas di lokasi Pulau Bromo itupun akan dinaikan hingga minimal lima liter per detik,” katanya seraya menjelaskan sistem IPA tersebut dengan “Reverse Osmosis Treatment.”

Hanya saja untuk sementara biaya pengolahan air laut menjadi air tawar ini relatif cukup mahal atau sekitar Rp7.500,- per meter kubik, padahal harga jual air bersih PDAM Bandarmasih Kota Banjarmasin, hanya Rp3.000,- per meterkubik.

Oleh karena itu, pengoperasian IPA di Pulau Bromo tersebut maka akan disubsidi oleh kantor pusat PDAM setempat, katanya.

air tabung

Sambungan MBR

Wali Kota Banjarmasin Haji Muhidin yang datang bersama para pejabat di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin merasa bangga PDAM yang merupakan perusahaan milik Pemkot setempat berhasil mewujudkan keinginan warganya non jauh dari pusat kota bisa menikmati air bersih.

“Bapak dan ibu apakah senang dengan adanya IPA air bersih ini,” kata Haji Muhidin di hadapan ratusan warga terpencil yang sebagian besar petani dan nelayan tersebut. “Tentu senang pak,” kata warga serentak seraya bertepuk tangan kepada wali kota.

Hanya saja, kata warga mereka tak mampu membayar biaya sambungan baru PDAM yang senilai Rp800 ribu itu. “Kami hanya berpenghasilan kecil mana mungkin kami bisa membayar sambungan baru senilai Rp800 ribu,” kata seorang bapak-bapak tua.

Mendengar keluhan tersebut, wali kota yang sempat berbisik dengan Direktur PDAM Bandarmasih Ir Muslih lalu berkata, “jangan khawatir kami akan memberikan kerirangan bagi warga di sini jika ingin memasang sambungan baru PDAM,” kata wali kota lagi.

Lalu wali kota menjelaskan bahwa Pemkot Banjarmasin melalui PDAM setempat telah memperoleh bantuan dari Pemerintah Australia untuk penyediaan air bersih dengan cara memberikan subsidi biaya sambungan baru Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).

“Melalui sambungan baru MBR warga hanya dikenakan Rp150 ribu, tidak dengan tarif normal Rp800 ribu,” kata wali kota menggunakan pengeras suara, seraya disambut tepuk tangan lagi oleh masyarakat setempat.

Sementara biaya pemakaian air bersih diberlakukan sama dengan tarif PDAM Bandarmasih lainnya yakni Rp3000 per meter kubik air.

Berdasarkan pemantauan penulis kondisi masyarakat Pulau Bromo memang cukup memprihatinkan selain kondisi rumah mereka yang begitu sederhanya hanya berbahan dasar kayu dan atap seng atau atap daun rumbia, juga rumah mereka tidak mempunyai jalan darat.

Semua jalan antara rumah ke rumah atau jalan utama merupakan titian atau jembatan kecil yang sambung menyambung dengan kondisi kontruksi juga memprihatinkan, lantaran titian atau jembatan terbuat dari kayu ulin (kayu besi) tersebut banyak yang miring, berlubang, ada bagian-bagian kayu yang terlepas.

Jalan utama masyarakat berupa titian atau jembatan panjang itu 1500 meter, hanya 20 meter yang baik itupun dibantu pembangunannya oleh PDAM Bandarmasih karena berdekatan dengan IPA Bromo tersebut.

Pada kesempatan pertemuan tersebut warga sekaligus meminta bantuan wali kota memperbaiki jalan yang rusak tersebut, mendengar keluhan tersebut wali kota menyatakan akan memperbaikinya secara bertahap.

“Sekarang ada dana Rp500 juta, saya harap masyarakat merundingkannya dengan pihak kecamatan bagaimana memanfaatkan dana tersebut untuk membangun sebagian dulu jalan utama yang merupakan titian atau jembatan yang rusak tersebut,” kata wali kota.

Mendengar jawaban tersebut sekali lagi masyarakat bertepuk tangan seraya menyatakan terimakasih kepada walikota karena beberapa periode walikota terdahulu tak pernah memperhatikan keluhan masyarakat tersebut.

masyarakat

anak bromo

OPERASI BIBIR SUMBING KEMBALIKAN SENYUM ANAK INDONESIA

Oleh Hasan Zainuddin

Sesekali tangan Muhamad Ikhsan (7 bulan) yang berada digendongan ibu kandungnya Sadiah (40 tahun) warga Puntik Kabupaten Barito Kuala (Batola) menjamah buku catatan yang ada di tangan aku (penulis), bahkan mulut dengan kondisi bibir sumbing berusaha mengigit kertas buku itu.

Namun sang ibu yang berpenampilan sederhana berusaha mencegah upaya bayinya menggigit buku catatan itu, akhirnya sang bayi menangis.

Di sela-sela acara pengobatan dan operasi gratis bibir sumbing di  di klinik bedah pelastik (Darplastic Beauty by Design) Jalan Hidayatullah Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, ibu Sadiah menceritakan kegalauan hatinya melihat putra kesayangan itu menderita penyakit kelainan bawaan.

“Aku benar-benar tak nyangka setelah anak ini lahir ternyata bibirnya sumbing” kata Saadiah yang tinggal di kawasan persawahan non jauh dari perkotaan.

Walau anak ini cacat, ia mengaku sangat menyayanginya dengan segala daya ia membesarkan anak itu hingga tampak sehat.

Tetapi untuk mengoperasi agar anaknya sehat seperti orang normal rasanya tak terbayangkan, karena dalam fikirannya pasti biaya mahal dimana bisa memperoleh uang semahal itu, sementara usaha tani keluarganya hanya bisa dinikmati menghidupi hari demi hari yang dilalui saja.

Suatu hari Sadiah mengakui dikabari tetangga yang datang dari Kota Banjarmasin (berjarak 30 Km dari desanya) bahwa tetangga itu terbaca pengumuman dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bandarmasih Kota Banjarmasin dalam rangka memperingati HUT Ke-41 perusahaan itu yang ingin membantu operasi bibir sumbing bagi anak tak mampu.

Setelah mendengar kabar tersebut sertamerta keluarga ini berangkat ke Banjarmasin dan mendaftarkan anaknya Muhamad Iksan sebagai peserta  operasi bibir sumbing kersajama antara PDAM dengan sebuah program sosial dari yayasan Tempo Scan yang berpusat di Jakarta.

Akhirnya Muhamad Iksan bersama 16 anak bibir sumbing lainnya berkumpul di klinik tersebut pada hari Jumat (14/2) untuk menjalani operasi bibir sumbing oleh para dokter ahli di klinik yang baru beberapa bulan membuka usaha di ibukota provinsi Kalsel tersebut.

Menurut Direktur PDAM Bandarmasih Ir Muslih, keterlibatan perusahaannya untuk membantu operasi bibir sumbing ini merupakan yang pertama kali, dan kemungkinan akan dilanjutkan pada tahun-tahun mendatang.

Setelah diumumkan adanya operasi bibir sumbing tersebut banyak warga yang mendaftarkan untuk ikut kegiatan tersebut sehingga pesertanya cukup banyak, tetapi setelah dilihat berbagai petimbangan terutama tingkat kondisi anak maka yang diputuskan bisa dioperasi hanya 16 anak saja.

“Kami memang sudah lama ingin menggelar operasi bibir sumbing ini, tetapi itu harus ditangani dengan seksama oleh para ahlinya, saat ini kebetulan ada perusahaan lain yakni Tempo Scan juga mengadakan hal serupa maka kegiatan digabungkan saja,” kata Muslih seraya menyebutkan bakti sosial donor darah merupakan yang sering dilakukan perusahannya.

Saat operasi dilaksanakan, petugas terlihat mendata satu per satu dari ke-16 anak bibir sumbing dari keluarga tak mampu itu. Bahkan satu per satu anak penderita bibir sumbing beserta keluarganya di ambil fotonya oleh petugas dari Tempo Scan.

Banyak cerita pilu yang terdengar dari mulut para keluarga miskin ini, bahkan seorang ibu yang masih terbilang muda usia warga Teluk Dalam banjarmasin mengakui kesedihan yang mendalam seteleh melihat anak pertamanya mengalami kelainan bawaan tersebut.

Bahkan yang lebih menyakitkan setelah bayi yang lahir cacat bawaan berupa bibir sumbing itu sang suami lari dari rumah dan hingga kini tidak tahu lagi dimana batang hidungnya.

operasi-bibir-sumbing-pdam

Direktur PDAM, Ir Muslih (foto Salmah)

Kembalikan Senyuman
Operation Head CSR Center Tempo Scan Pacific Tbk, Iris Herani secara terpisah menuturkan bakti sosial dalam bentuk operasi gratis bagi kelainan bawaan seperti bibir sumbing sudah termaktub dalam program CSR mereka “Indonesia Tersenyum.”
“Lewat Indonesia Tersenyum, untuk bibir sumbing saja, sudah ada 400 anak dari seluruh Indonesia yang telah kami bantu. 16 anak yang dioperasi hari ini, memang bantuan yang terhitung sedikit bagi warga Banjarmasin,” ujarnya.

Indonesia Tersenyum tidak hanya mengkhususkan diri pada kelainan bawaan seperti bibir sumbing, tetapi juga penyakit lainnya.

Panyakit lainnya dimaksud seperti kelainan tidak terbentuknya anus, kelainan saluran kencing, penyumbatan cairan di kepala (hidrocephalus congenital), kelainan jantung bawaan, kelainan saluran pencernaan, hernia kongenital, kelainan ginjal, bibir sumbing, tidak ada langitan, jari-jari dempet, katarak kongenital, dan lain-lain.

Total sudah ada 1700 anak dengan kelainan bawaan yang telah dibantu Indonesia Tersenyum, tuturnya.

Program Sosial Indonesia Tersenyum (PSIT) dicanangkan pada tanggal 17 Juni 2007 dengan misi untuk memberikan bantuan kesehatan kepada golongan masyarakat ekonomi lemah yang buah hatinya yaitu anak-anak maupun balita memiliki kelainan bawaan pada organ tubuh maupun anggota tubuhnya baik secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi masa depan mereka.

Jenis kelainan bawaan yang dimaksud adalah kelainan bawaan yang dapat dikoreksi atau diperbaiki dengan tindakan operasi/invasif .

Bekerja sama dengan berbagai rumah sakit pemerintah dan swasta di seluruh Indonesia, hingga akhir Desember 2013 PSIT telah melakukan bantuan kepada para anak Indoensia tersebut.

Untuk semakin memudahkan masyarakat dalam mengajukan bantuan, PSIT mengoperasionalkan Kantor Perwakilan Unit Kabupaten Bekasi Ceria dan Unit Kota Bekasi Ceria yang telah dibuka secara resmi pada November 2012.

“Masyarakat dapat mengajukan permohonan bantuan kepada Indonesia Tersenyum dengan melengkapi  persyaratan yaitu usia anak yang memerlukan bantuan operasi di bawah 15 tahun, mengisi formulir surat permohonan dan surat pernyataan, melengkapi dengan foto copy KTP orang tua anak, kartu keluarga, akte kelahiran anak, dan persyaratan lainnya,” ujar Iris Herani.

Sementara di Banjarmasin ada kantor perwakilan yayasan Tempo Scan yakni Jalan Pelabuhan Timur No 14 Banjarmasin, demikian Iris Herani.

MENGUAT UPAYA MEMADUKAN KEKUATAN PEMERINTAH DAN KESULTANAN

Oleh Hasan Zainuddin

mawah daud
Banjarmasin, 18/11 (Antara) – Kondisi bangsa Indonesia belakangan ini dinilai tidak maju-maju dibandingkan negara lain dituding sebagai akibat tidak menghormatinya nilai-nilai budaya yang berakar dalam sistem kerajaan atau kesultanan yang sudah lama berkembang di Nusantara.

Seperti yang diutarakan seorang pengamat politik Marwah Daud Ibrahim menilai bangsa Indonesia bisa bangkit dan maju jika menghormati kerajaan dan kesultanan se-Nusantara.

Banyak negara di dunia yang sangat maju karena mereka menghormati kerajaan, kata pengamat yang pernah digelari “bintang dari Timnur” saat berbicara dalam simposium sejarah budaya kerapatan raja sultan se-Borneo dalam rangkaian memperingati Milad Kesultanan Banjar ke-509, Jumat (15/11) lalu.

Ia mencontohkan, Jepang negara maju begitu menghormati kaisarnya, begitu juga Inggris dan Belanda mereka punya ratu dan raja, atau lihat tetangga Malaysia dan Thailand punya Perdana Menteri tapi tetap punya raja yang dihormati.

Marwah Daud Ibrahim mencontohkan bagaimana Jepang atau Inggris menjadi bangsa yang besar dan kerajaannya masih eksis sampai sekarang.
Sistem pemerintah yang masih mempertahankan sistem kerajaan ternyata menjadi kebanggaan dan raja sangat dicintai dan dihormati oleh rakyatnya.

Demikian pula dengan Thailand atau Malaysia, oleh karena itu menurut Marwah Daud Ibrahim yang juga sebagai Ketua Presedium ICMI ini perlu dicari format tentang hubungan yang jelas untuk dituangkan dalam ketentuan hukum positif terkait hubungan antara kerajaan dan kesultanan dengan negara.

Di era millenium ini peradaban dunia sangat bergantung pada ide kreatif, maka budaya menjadi satu-satunya pembeda satu bangsa dengan bangsa lainnya.

Nilai-nilai kehidupan yang dibungkus oleh budaya disamping menjadi pembeda juga menjadi benteng sekaligus sumber inspirasi bagi industri berbasis ide kreatif.

Keterbatasan kapasitas pemerintah dalam pelestarian, pemanfaatan, dan pengembangan budaya menjadikan keraton, kerajaan dan kesultanan sebagai pelaku utama dalam pelestarian, pemanfaatan serta pengembangan budaya tersebut.

Untuk itu dalam rangka Milad Kesultanan Banjar 509 menjadi barometer kembalinya pelestarian budaya se-Borneo, katanya.

Dalam kegiatan yang dihadiri kesultanan se-Kalimantan itu, Marwah Daud Ibrahim menyatakan sudah saatnya tokoh kerajaan dan kesultanan Nusantara yang memiliki pengaruh riil di masyarakat diposisikan di tempat yang tepat dan diajak memberikan kontribusi terbaiknya sebagai modal sosial dan budaya bagi bangsa.

“Sudah lama saya berfikir harusnya diupacara kenegaraan, seperti pelantikan presiden, upacara hari kemerdekaan 17 Agustus, rapat paripurna DPR-RI yang dihadiri para teladan, duta besar, dan para veteran pantas pula jika perwakilan para raja dan sultan dan ratu se Nusantara diundang dengan pakaian kebesaran masing-masing,” katanya.

Demikian pula di setiap upacara provinsi dan kabupaten perwakilan kerajaan dan kesultanan setempat diajak hadir dengan pakaian adat kebesarannya. Leluluhur mereka memberikan goresan dan jejak penting dalam kebudayaan dan pengembangan agama dan peradaban Nusantara.

Selain itu, perwakilan kerajaan atau kesultanan sebaiknya juga diikutkan dalam perwakilan pemerintahan.

“Kita perlu melakukan pembicaraan secara baik-baik dengan raja dan sultan Nusantara, untuk membangun pola relasi yang menjadikan mereka subjek terhormat, seperti festival kraton nusantara, dan bukannya sebagai objek penderita.

Menurut dia, bangsa ini akan menjadi jaya pada 2045 jika menghormati budaya dan adat istiadat yang berkembang di dalam kerajaan dan kesultanan serta akar budaya di dalam masyarakat luas.
Apalagi jika bangsa ini akan memadukan tiga hal yakni akar tradisi dari bangsa, agama, serta kemajuan tehnologi.

“Marilah kita belajar dari alam, justru biji harus membusuk dulu, sebelum muncul kecambah baru,” katanya.

Kemudian simaklah kitab suci Al Quran surat Al-Insyirah 5-6, Allah SWT mengingatkan bahwa “sesungguhnya dalam kesulitan ada kemudahan.”
“Saya yakin, dengan selalu memikirkan impian besar dan visi cemerlang tentang masa depan bangsa, dengan perjuangan, kerja sama dan kontribusi kita semua, dan atas berkat rahmat Tuhan YME, Insya Allah, Indonesia akan Bangkit Berjaya, bermartabat dan disegani,” katanya.

Keinginan kuat memadukan kekuatan pemerintahan dengan kerajaan di Nusantara juga datang dari wakilkesultanan itu sendiri.

simposium
Wakil Sultan di DPD
Seorang wakil kesultanan Kutai Kertanegara, Dr HAPM Haryanto Bachroel yang bergelar Pangeran Harry Gondo Prawiro mengharapkan pemerintah mengakomodir keinginan mereka agar Dewan Perwakilan Daerah (DPD) diwakili mereka para raja dan sultan yang ada di Nusantara.

“Biarkan para anggota DPR-RI di isi orang-orang politik, tetapi DPD sebaiknya diisi oleh para raja-raja atau sultan,” kata Harry Gondo Prawiro.

Ia bersama beberapa raja dan sultan se-Borneo berada di Martapura, untuk menghadiri berbagai kegiatan Milad ke-509 Kesultanan Banjar, dan menghadiri simposium mengenai Kesultanan Borneo.

Menurutnya keinginan demikian sudah disampaikan kepada pemerintah, saat pertemuan dengan Wakil Presiden Bodiono, DPR-RI komisi II, bahkan kepada Presiden SBY.

Menurutnya keinginan tersebut sudah direspon pemerintah dan sekarang sedang diproses, tetapi tidak bisa secepat itu direalisasikan dan perlu pemikiran lagi.

Menurutnya, para sultan dan raja tersebut dilibatkan dalam pemerintahan karena mereka lebih tahu kondisi rakyatnyadi daerah, sementara daerah yang tidak memiliki kesultanan dan raja maka wakil DPD bisa dipilih para tokoh masyarakat atau tokoh adat.

Kemudian agar para raja atau sultan yang berada di pemerintahan tersebut lebih bermakna, mereka bisa diikutkan dalam Lemhanas, sehingga mengerti tentang kenegaraan yang sesuai dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), tambahnya.

Menurutnya, sebuah negara ini akan kuat jika memadukan kekuatan pemerintahan dengan kekuataan kesultanan yang masih mengakar dan menyebar di berbagai daerah Nusantara.

Apalagi jika melihat perjalanan atau perilaku bangsa sekarang seakan sudah tak sesuai lagi dengan ajaran adat istiadat,karena itu untuk kedepan sudah saatnya memadukan kekuatan pemerintahan dengan adat istiadat yang berakar di masyarakat, khsusnya yang berkembang dalam kesultanan atau raja-raja Nusantara.

Simposium tersebut bagian dari kegiatan Milad ke-509 Kesultanan Banjar, yang dimeriahkan aneka kegiatan, termasuk musyawarah agung yang diikuti para raja dan sultan se-Borneo.

Dalam musyarakat agung tersebut berbagai persoalan dibahas dalam upaya memajukan bangsa dan negara Indonesia ini sekaligus mencari solusi terbaik agar negara ini bisa setara dengan negara maju di dunia.

Persoalan yang dibahas seperti permasalahan infrastruktur, ekonomi, ketidakadilan politik bagi Pulau Borneo dan kurangnya upaya pelestarian dan pengembangan budaya.

Melihat persoalan tersebut akhirnya mendorong para raja dan sultan se-Borneo menghimpun diri menyamakan visi dan menyatukan langkah untuk membangun Borneo dalam Gerbang Borneo (Gerakan Membangun Borneo Raya).

Dalam musyawarah agung yang dihelat para raja dan sultan se-Borneo sepakat membentuk wadah yang dinamakan “Kerapatan Borneo” dan dengan proses musyawarah maka secara aklamasi,
Dalam musyawarah para sultan dan raja se Borneo memutuskan memilih Sultan Banjar, sultan H Khairul Saleh sebagai sekretaris jenderal kerapatan borneo dengan sebutan “Yang Dipertuan Agung.”
Jabatan tersebut dipercayakan kepada sultan banjar yang juga sebagai Bupati Banjar Kalsel tersebut untuk masa bakti selama dua tahun ke depan.

Sebagai Yang Dipertuan Agung, Sultan Banjar tersebut akan mengkoordinasikan berbagai langkah konsolidasi organisasi maupun aktivitas kerapatan raja atau sultan selanjutnya.

Sultan Banjar sendiri menyatakan segera melaksanakan rapat kerja yang tempatnya akan ditentukan kemudian, akan tetapi untuk sekretariat tetap ditempatkan di Kota Banjarmasin ibukota provinsi Kalimantan Selatan.

kerajaan-banjar

para-raja-borneo

para-taja

kesultanan