MENIKMATI SOTO BANJAR SAMBIL WISATA SUSUR SUNGAI

Oleh Hasan Zainuddin

2

http://www.youtube.com/watch?v=Gi3eJkEoscQ

Banjarmasin, 13/3 (Antara) – Menyusuri Sungai Martapura, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan menggunakan “klotok” (angkutan kota di perairan) seraya menikmati kuliner khas setempat, soto Banjar merupakan salah satu kegiatan wisata yang belakangan ini kian digandrungi
“Menikmati kuliner sambil menyaksikan pemandangan Sungai Martapura dengan aneka budaya sungainya, tak terasa sepiring soto ditambah 10 tusuk sate ayam ludes dimakan,” kata seorang wisatawan lokal, Aprizal warga Jalan Laksana Intan,Kelurahan Kelayan Selatan, Banjarmasin.

Menurut dia, biasanya ia makan tak pernah sebanyak itu, tetapi di tengah suasana yang menyenangkan seperti itu ditambah lezatnya soto membuat makan menjadi lahap, ” tutur Aprizal yang berwisata bersama isteri , putrinya dan keluarga yang lain.

Belakangan ada kecendrungan wisatawan menikmati wisata susur sungai sambil menikmati berbagai kuliner khas kota yang berjuluk “kota seribu sungai” tersebut.

Mereka datang ke Banjarmasin baik perorangan maupun grup kemudian mendatangi warung-warung kuliner, setelah itu menyewa sebuah klotok lalu bepergian susur sungai selama satu jam atau lebih sambil makan dan minum di dalam angkutan sungai tersebut.
Seperti pemantauan penulis di rumah makan Soto Abang Amat, Banua Anyar, Selasa (12/3) begitu banyak wisatawan nusantara memenuhi lokasi yang berada di tepian Sungai Martapura tersebut.

Di lokasi rumah makan yang berada di perkampungan padat penduduk tersebut, wisatawan bisa makan dan minum sambil dihibur kesenian lokal, musik panting.

Bahkan pengunjung juga diajak berjoget ria diiringi irama musik panting dengan lagu-lagu berbahasa Banjar.

Pernah beberapa waktu lalu, Ahmad Mukhlis Yusuf (MY) saat masih menjabat Direktur Utama LKBN “Antara” datang bersama isterinya dan beberapa kerabatnya mengunjungi Soto Abang Amat. Setelah makan lalu ikut bergabung dengan pengunjung lain berjoget diiringi irama lagu-lagu lokal di rumah makan soto tersebut.

“Tolong ambil potret saya lagi ikut berjoget untuk kenang-kenangan,” kata MY kepada penulis waktu itu.

Hembusan angin dan bunyi riak gelombang Sungai Martapura dan suasana lingkungan perairan yang asri menambah keasyikan para pengunjung untuk mencicipi hidangan makanan yang didominasi lontong, telur, dan ayam kampung tersebut.

Dari sekian pengunjung tersebut ada yang lebih memilih menikmati kuliner seraya dihibur musik panting, ada pula yang lebih memilih hidangan dimasukan ke dalam klotok lalu makan di dalam klotok seraya menikmati wisata susur sungai.

Seperti keluarga Aprizal ini, memilih makan dan minum di dalam klotok lalu berlayar selama satu jam rute rumah makan Soto Banjar Abang Amat Banua Anyar ke lokasi kawasan wisata sungai Siring Tendean pusat kota Banjarmasin pulang-pergi.

Selama perjalanan sungai tersebut wisatawan bisa menyaksikan aneka budaya sungai, seperti warung-awrung terapung, rumah terapung, industri terapung, dan suasana Kota Banjarmasin di pinggir sungai.

Pengunjung bisa menyaksikan budaya lainnya dimana warga setempat berada di “lanting” (tempat khusus mandi dan cuci di atas sungai) mandi, mencuci, sikat gigi, bahkan ada yang sambil buang hajat besar di jamban yang ada di lanting tersebut.

Terus ada pula warga yang asyik memancing, mencari kerang sungai, atau menyaksikan sekumpulan anak-anak sedang berenang ke sana-kemari dan bermain di permukaan air.

Memang di Banjarmasin, banyak rumah penduduk halamannya tidak menghadap ke daratan, tetapi menghadap ke sungai, karena tak punya halamann daratan, anak-anak yang suka bermain, merekapun terpaksa bermain di air.

Tarif klotok rute Banua Anyar-Siring Tendean hanya Rp100.000,- tetapi bila rute lebih jauh seperti Banua Anyar-Pasar terapung, banua Anyar-Pulau kembang Rp200.000,- kata, Rahmadi pemilik klotok
yang mangkal di kawasan tersebut.

Terdapat sekitar sepuluh buah klotok mangkal dan yang siap melayani rute wisata susur sungai di rumah makan Soto Amang Amat tersebut.

panting

 

Musik panting di rumah makan Abang Amat

Di Banjarmasin selain rumah makan Soto Abang Amat masih ada beberapa lokasi untuk penikmat kuliner seraya wisata susur sungai, seperti rumah makan Soto Bawah Jembatan, rumah Makan Yana Yani di Sungai Jingah, atau rumah patin, Pasar Lima.
Dibenahi

Kepala Dinas Kebudayaan,Pemuda, dan Pariwisata Kota Banjarmasin Norhasan berjanji membenahi wisata susur sungai itu, dengan membuat paket wisata agar memudahkan wisatawan menikmati keunikan wisata perairan tersebut.

“Kita susun rute wisata perairan mulai dari dermaga wisata air balaikota Banjarmasin menuju arah makam habieb Basirih, Pasar Terapung, Makam Sultan Suriansyah, terus ke Pulau Kembang,” kata Norhasan.http://www.youtube.com/watch?v=UIlfSmNYuJ4

Kemudian dilanjutkan Pasar Terapunghttp://www.youtube.com/watch?v=BcBiWZMGLGs, Pulau Kaget, Pulau Bakut, industri perkayuan Alalak, terus ke rumah makan soto, kekampung sasirangan, kampung katupat, masjid Raya Sabilal Muhtadin, Pasar lima kembali ke dermaga balaikota, katanya.

Banjarmasin juga akan membangun fasilitas penjualan cendaramata, kawasan kuliner yang mudah dijangkau jalan darat dan air,ditambah ketersediaan tenaga pramu wisata hingga memudahkan wisatawan memperoleh pemandu menyusuri paket-paket tersebut.

Susur sungai menggunakan “klotok” (perahu bermesin) atau spead oat juga seringkali menjadi pilihan wisatawan mengelilingi kota berpenduduk sekitar 800 ribu jiwa itu.

Untuk mendukung wisata susur sungai Pemkot Banjarmasin menyediakan dua buah kapal wisata air yang cukup besar, ditambah beberapa perahu kecil yang bisa menyusuri sungai-sungai kecil di tengah pemukiman penduduk yang padat.

Para wisatawan, khususnya dari mancanegara, tertarik menyaksikan berbagai kehidupan sungai di pemukiman padat penduduk itu sebuah keunikan tersendiri karena tak ditemui di negara mereka.

Oleh karena itu keunikan itulah yang menjadi daya pikat dan terus dijual ke wisatawan, tambahnya.

Melihat kelebihan-kelebihan objek wisata itu membuat pemerintah setempat memanfaatkannya sungai sebagai daya pikat bagi para pendatang, khususnya wisatawan dan juga investasi.

Kepala Dinas Sungai dan Drainase Kota Banjarmasin, Ir Muryanta mengakui Pemkot setempat menjadikan sungai sebagai modal untuk membangun kemajuan kota.

“Kami menjadikan sungai magnet ekonomi karena itu terus dibenahi sungainya,” katanya seraya menjlesakan wilayah ini 72 kilometer persegi minim sumber daya alam karena hampir tidak ditemukan potensi tambang maupun hutan dan hanya sedikit lahan pertanian.

Sementara wilayahnya hampir semua dialiri oleh sungai besar dan kecil, Sungai Besar tercatat seperti Sungai Barito dan Sungai Martapura.

Jumlah sungai kecil yang membelah Kota Banjarmasin tercatat 104 sungai dan sebanyak 74 sungai masih berfungsi baik yang bisa dijadikan objek wisata.

Kalau membangun kota mengandalkan potensi lain yang minim jelas tidak mungkin karena itu, potensi yang ada saja digunakan untuk meraih kemajuan tersebut.

“Kami akan menjadikan sungai sebagai penggerak ekonomi kota, oleh karena itu tak ada pilihan lain bagaimana sungai-sungai tersebut menjadi daya tarik bagi kepariwisataan ke depan,” katanya.

Melihat kenyataan itu maka wajar bila Pemkot Banjarmasin bertekad menjadikan sungai sebagai daya pikat kepariwisataan, katanya.

1234567891011121314151617

PENULARAN HIV/AIDS “MENGUSIK” WARGA KALSEL

Oleh Hasan Zainuddin

aids
Warga Penghuni wilayah paling selatan pulau terbesar Indonesia Kalimantan, kini kian terusik penularan penyakit Human Immunodeficiency Virus (HIV) and Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS), padahal belakangan kian gencar penanggulangan berbagai penyakit menular lainnya guna menuju masyarakat sehat.

Terungkapnya penyakit tersebut tentu menimbulkan tanda tanya besar banyak pihak mengingat wilayah ini termasuk wilayah agamis.

Mengapa penyakit yang sebagian besar berjangkit di lokasi pristitusi merebak di wilayah yang sebenarnya “mengharamkan” lokalisasi.

Kasus HIV/AIDS menimbulkan dugaan adanya praktek pristitusi terselubung di tempat-tempat terselubung pula, yang menerpa wilayah ini, dan ditengarai selain ditempat hiburan malam, perhotelan, kafe-kafe, lokasi karaoke atau bahkan di lokasi pertambangan batubara yang menjamur di wilayah Kalsel.

Konon banyak pekerja tambang berasal dari luar daerah bekerja di Kalsel tanpa isteri,kemudian “jajan” ke lokasi “remang-remang” ilegal dekat tambang, atau lokasi lain yang bisa menyebarkan penularan panyakit menakutkan itu.

Penularan ini pula diduga akibat kian merebaknya penyalahgunaan narkoba melalui jarum suntik, serta kegiatan seks yang menyimpang.

Peningkatan jumlah penderita HIV/AIDS di Kalsel ternyata menjadi sorotan Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi.
Saat mengunjungi Banjarmasin (27/2) lalu menyatakan jika angka tersebut terus meningkat, maka akan menjadi bencana bagi Kalsel.

“Ini merisaukan, kalau HIV/AIDS tidak dikendalikan, maka capaian pengurangan penyakit menular lainnya tidak berguna,” ujarnya dihadapan Gubernur Kalsel H Rudy Ariffin dan jajaran kesehatan setempat.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Kalsel, dari 2002 hingga 2012, angka kasus HIV/AIDS sudah menembus melebihi angka 200 kasus, dan Itupun diduga, masih banyak kasus HIV/AIDS yang belum terdata.

Padahal dalam kasus penyakit tersebut biasanya satu orang yang terdata diduga masih ada sepuluh orang lainnya yang terjangkit tapi belum diketahui,dengan demikian tentu mengusik ketentraman warga yang selama ini sudah merasa agak “aman” dengan kian berkurangnya serangan penyakit, TBC, DBD, malaria, dan penyakit menular lainnya.

Apalagi berdasarkan data kasus HIV/AIDS justru paling banyak menular dikalangan generasi muda yang sebenarnya menjadi pemegang tongkat estapet pembangunan wilayah 13 kabupaten dan kota serta berpenduduk 3,6 juta jiwa itu.

Yang merisaukan pula kasus HIV/AIDS di Kalsel juga menyerang ibu rumah tangga, yang sebenarnya kelompok yang jauh darikegiatan yang bisa menularkan HIV/AIDS.

Kasus HIV di Kalimantan Selatan tertinggi terdapat pada remaja usia produktif yang berumur antara 20-29 tahun yaitu mencapai 50 persen dari total kasus HIV hingga Desember 2012 sebanyak 325 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan Akhmad Rusdianyah di Banjarmasin, Kamis mengatakan, berdasarkan estimasi Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) nasional pada 2009, di Kalimantan Selatan terdapat 948 orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

“Sejak 2002 sampai dengan Desember 2012 sudah ditemukan atau dilaporkan HIV/AIDS sebanyak 587 kasus atau 61,9 persen dari estimasi yang ditetapkan tersebut,” katanya.

Khusus HIV/AIDS, kata dia, prosentase kumulatif HIV tertinggi pada kelompok umur 20-29 tahun, sebanyak 40,6 persen, selanjutnya umur 30-39 tahun sebanyak 18,6 persen, dan 40-49 senbanyak 4,9 persen.

Dari 325 kasus HIV tersebut, sebanyak 68,3 persen terjadi pada perempuan, terutama pada penjaja seks komersial sebanyak 183 kasus, 17,8 persen pada laki-laki dan sisanya 13,9 persen tidak diketahui.

Selanjutnya, yang sangat memprihatinkan, penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh tersebut kini juga sudah menyerang ibu rumah tangga dengan kasus yang telah ditemukan sebanyak 18 orang.

Penyakit ini juga ditemukan pada warga binaan sebanyak 44 orang dan tenaga non profesional 22 kasus.

Jumlah kasus HIV tertinggi, tambah Rusdiansyah, di Kabupaten Tanah Bumbu sebanyak 149 kasus, Kota Banjarmasin 68 kasus, Banjarbaru, 36 kasus, Kotabaru 16 kasus dan Kabupaten Banjar 13 kasus.

Sedangkan untuk AIDS, sampai dengan Desember 2012 mencapai 262 kasus, dengan kasus tertinggi terjadi pada ibu rumah tangga sebanyak 41 kasus, tenaga non profesional 34 kasus, penjaja seks 18 kasus dan lain-lain 9 kasus.

Daerah terbanyak penderita AIDS yaitu, Banjarmasin, 121 kasus, Banjarbaru, 25 kasus, Tanah Bumbu 25 kasus, Kotabaru, 16 kasus, dan Tabalong sebanyak 13 kasus.

Menurut Rusdiansyah, faktor resiko penularan AIDS tertinggi adalah hubungan seks tidak aman yaitu 88,2 persen dan melalui jarum suntik narkoba dan lainnya sebanyak 11,7 persen.

aids1

Pencegahan
Pihak Dinas Kesehatan Kalsel sendiri selalu melakukan penyuluhan agar penyakit tersebut tidak meluas, terutama penyuluhan di kalangan pelajar,mahasiswa, dan masyarakat umum, khususnya mereka yang beresiko tinggi terjangkit virus yang belum ada obatnya tersebut.

Bahkan di Kalsel dan beberapa kabupaten dan kota di wilayah ini membentuk sebuah lembaga khusus menanggulangi penyakit ini yaitu Komisi Penanggulangan Aids (KPA) , serta lembaga lainnya.

Kota Banjarmasin yang juga banyak kasus HIV/AIDS sudah mengantisipasi penularan tersebut dengan berbagai cara, salah satunya mengkhususnya sebuah Puskesmas untuk melakukan perawatan penyakit tersebut.

Puskesmas yang dipilih melakukan penanganan penyakitHIV/AIDS adalah Puskesmas Pekauman, dimana petugasnya dilatih mengenai penangananh HIV/AIDS serta dilengkapi dengan berbagai peralatan.

Di Banjarmasin sendiri penanggulangan penyakit HIV/AIDS terlihat kian gencar saja, dengan melakukan sosialisasi terhadap masyarakat luas hingga ke daerah pinggiran, ke tempat hiburan malam, lembaga pemasyarakatan, serta pengambilan simpel darah.

Untuk mencegah penularan penyakit ini di Banjarmasin, yakni membentuk aturan melalui Perda.

“¿Melihat sudah banyaknya warga Banjarmasin terjangkit HIV/AIDS, maka dipandang perlu adanya aturan berupa Perda guna menangkal penyakit itu,¿ kata anggota DPRD Banjarmasin, M Dafik As¿ad.

DPRD Kalsel juga tak tinggal diam, bersama instansi/pihak terkait akan membahas masalah HIV/AIDS. “Ya nanti kita bicarakan dengan pimpinan dewan atau ketua komisi, untuk mengundang instansi/pihak terkait permasalahan HIV/AIDS,” ujar Wakil Ketua Komisi IV bidang kesra DPRD Kalsel H Budiman Mustafa.

Kasus HIV/AIDS ini juga mencuat kepermukaan saat seminar kependudukan kerjasama antara Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Kalsel dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) setempat.

Dalam seminar tersebut meminta BKKBN meningkatkan perannya terutama menggalakan pemakaian kondom, atau memberikan penyuluhan yang lebih gencar lagi mengenai kesehatan alat produksi (Kespro).

Kepala BKKBN Kalsel, Sunarto mengakui masalah HIV/AIDS telah menjadi perhatian, tetapi porsi program penanggulangan penyakit tersebut relatif agak kecil dibandingkan program lainnya.

Masalah pemakaian kondom atau KB pria bagian dari upaya penanggulangan penyakit HIV/AIDS, begitu juga mengenai masalah-masalah kesehatan reproduksi yang selalu ditekankan terjangkitnya penyakit kelamin termasuk HIV/ADIS

MENGANGKAT KESEJAHTERAAN MELALUI BANK SAMPAH

Oleh Hasan Zainuddin


Banjarmasin,21/10 (ANTARA)- Sampah dulu dianggap musuh belakangan justru dinilai berkah lantaran memberikan nilai keuntungan besar setelah adanya program bank sampah.

Seperti terlihat di Kompleks Mahligai Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, keberadaan bank sampah mengubah kampung tadinya kotor menjadi sebuah pemukiman yang bersih, indah, dan asri.

Di lokasi itu warga diajak mengumpulkan sampah non organik, setiap barang akan dibeli sesuai harga jual yang berlaku di pengumpul barang bekas.

Misalnya kardus Rp1.000 per kilogram, besi Rp dua ribu per kilogram, kaleng Rp12 ribu per kilogram, botol kaca (kecap) Rp300 per kilogram dan banyak lagi.

Wali Kota Banjarmasin Muhidin saat pencanangan perilaku hidup bersih di lokasi itu mengaku bangga melihat pemukiman bersih dimana terdapat budaya masyarakat mengembangkan bank sampah.

Karenanya ia mengajak seluruh masyarakat membiasakan diri berperilaku hidup bersih dengan tidak membuang sampah sembarangan dan menjadikan sampah sebagai barang ekonomis.

“Saya senang melihat di pemukiman lokasi ini, terdapat bank sampah, seharusnya bank-bank sampah ini diperbanyak saja,” katanya.

Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Rusmin mengakui bahwa pihaknya memperbanyak lokasi bank sampah, sata ini baru terdapat 20 bank sampah, dan akan bertambah lagi 10 bank sampah dalam waktu dekat ini, hingga akhirnya mencapai 50 bank sampah.

Bank sampah bisa memberikan tambahan penghasilan anggota atau nasabahnya, lingkungan mereka juga terjaga kebersihannya.

Keberadaan bank sampah dinilai penting karena tumpukan sampah rumah tangga bisa dikelola di lokasi tersebut, setiap yang bernilai bisa dijual langsung sementara sampah organik akan dibuat pupuk kompos yang kemudian di paking untuk kemudian dijual pula.

“Daripada membuang sampah tidak jadi apa-apa, lebih baik dikumpulkan di bank sampah. Mengumpulkan sampah diberi uang. Bahkan bisa pinjam uang, bayarnya hanya dengan sampah,” ujarnya.

Setelah masyarakat mengumpulkan barang bekas tersebut ke bank sampah, maka nilai jualnya akan ditulis petugas di buku tabungan khusus.

Mereka yang mengumpulkan bisa mengambil uang hasil penjualan barang bekas tersebut setelah tiga bulan. Dengan cara tersebut, sampah tak lagi dibuang percuma tetapi menghasilkan uang bagi warga setempat.

Saat ini sudah ada beberapa bank sampah yang cukup aktif difungsikan, banyak dimanfaatkan masyarakat seperti terlihat di kompleks Mahligai, Kompleks Malkon Temon, serta di kawasan Sungai Andai.

Sedangkan Kepala Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Banjarmasin Hamdi menyambut gembira keberadaan bank sampah di kota ini, dan itu harus dikembangkan lebih luas lagi.

Di beberapa daerah tanah air keberadaan bank sampah sudah memberikan kesejahteraan masyarakat, sampah tak lagi dianggap masalah tetapi jutru dianggap berkah.

Di beberapa daerah, banyak warga terbantu oleh sampah melalui program bank sampah, mereka pinjan uang bayar dengan sampah, mereka mau barang elektronik bisa bayar dengan sampah, bahkan kredit kendaraan roda dua pun bisa bayar dengan sampah.

“Pokoknya sampah sudah bukan barang mencemari lingkungan lagi, tetapi barang menghasilkan rupiah,” tutur Hamdi saat pelatihan jurnalistik lingkungan di balaikota Banjarmasin.

Di beberapa daerah tanah air belakangan ini mulai ramai dikembangkan bank sampah, konon bank sampah sudah melebihi 800 lokasi secara nasional.

Menurut Kepala Dinas kebersihan dan Pertamanan Banjarmasin, Rusmin selain melalui bank sampah penanganan sampah di kota ini juga melalui cara yang disebut Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) “3R” yaitu reuse (menggunakan kembali), reduce (mengurangi), recycle (daur ulang) seperti ditujuh lokasi Banjarmasin.

Tujuh lokasi Banjarmasin itu, TPST 3R Jalan Angsana dan Cemara Raya dan Sungai Andai di wilayah Banjarmasin Utara, Simpang Jagung Banjarmasin Barat, Sungai Lulut Banjarmasin Timur, Sentra Antasari Banjarmasin Tengah, serta TPST 3R Basirih Selatan Banjarmasin Selatan.

Melalui TPST ini juga telah memberikann nilai tambah ekonomi bagi masyarakat setempat serta kalangan pemulung.

Upaya lain bahkan Pemkot Banjarmasin menerjunkan 60 petugas pengawas untuk mengawasi pembuangan sampah ke TPS agar tidak berserakan, serta membentuk komunitas warga peduli samnpah.

Jangka panjangnya terus menambah pendanaan, tenaga kerja, peralatan, serta peningkatan tehnologi serta mengelola TPA agar mampu menampung pembuangan sampah secara baik dan benar pula.

Mengenai mengelolaan sampah di Banjarmasin, Rusmin bercerita berbagai kendala mengurus sampah, bukan hanya kekurangan dana, tetapi juga kekurangan tenaga kerja, minimnya jumlah peralatan, serta kondisi alam, tetapi yang paling memusingkan adalah perilaku masyarakat itu sendiri yang selalu membuang sampah sembarangan di berbagai tempat.

“Kalau hanya mengandalkan pemerintah tanpa dukungan masyarakat sampai hari kiamat pun persoalan sampah tak akan pernah selesai di kota ini,” kata Rusmin lagi.

Sebagai contoh saja, sudah diingatkan warga membuang sampah di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) harus malam hari, nyatanya selalu membuang di siang hari.

Bahkan katanya, setelah tumpukan sampah diangkut pada pagi hari dan TPS sudah bersih, tapi hanya beberapa waktu berselang lokasi itu menggunung lagi sampah.

Bahkan bukan hanya individu warga yang membuang sampah sembarangan tetapi juga berbagai perusahaan besar seperti hotel, restauran, rumah makan, dan perusahaan lainnya yang membuang skala besar secara sembarangan pula.

Padahal sebagian besar dari 117 TPS di kota ini justru di pinggir jalan besar, dan akibatnya sampah terus meluber hingga ke tengah jalan raya dan menganggu warga kota.

“Kalau cara-cara masyarakat seperti itu terus dilakukan siapa pun pasti pusing tujuh keliling mengurus sampah ini,” kata Rusmin lagi.

Apalagi kian waktu produksi sampah volumenya terus meningkat seiring bertambahnya penduduk, dan sekarang terdata 573 ton atau 1.800 meterkubik per hari.

Bagaimana sampah sebanyak itu dibersihkan dengan peralatan dan tenaga yang masih terbatas, dengan jumlah truk angkut sampah hanya 38 buah, tosa (kendaraan roda tiga) t11 buah, padahal idealnya truk sampah minimal 125 buah.

Dengan kondisi terbatas itu maka jumlah sampah yang terangkut ke TPA 200 ton saja, sisa sampah yang tak terangkut tersebut memang ada yang diambil pemulung, dibuang ke sungai oleh oknum warga atau di daur ulang untuk pupuk organik dan sebagainya, tapi masih banyak yang tertinggal dan jumlah itulah yang terus mengotori kota ini.

“Melalui program sampah dan TPST 3R itulah sampah di Banjarmasin bisa tertangani kedepannya,” katanya.

LEDAKAN PENDUDUK YANG BESAR BERARTI KIAMAT

Oleh Hasan Zainuddin

Kemacetan Simpang Ampat Sungai Andai Banjarmasin
“Seratus tiga puluh lima juta penduduk Indonesia,” dekian salah satu bait dari lagu ciptaan penyanyi dangdut terkenal,Haji Rhoma Irama yang populer tahun 80 hingga tahun 90-an, rupanya lagu itu tak berlaku lagi di era tahun 2012-an ini.
Pasalnya sensus penduduk 2010 jumlah penduduk Indonesia sudah mencapai 237 juta jiwa yang meningkat hampir dua kali lipat, bahkan sekarang total penduduk Indonesia sesungguhnya melewati angka 240 juta jiwa.
Dari data statistik itu memperlihatkan laju pertumbuhan penduduk Indonesia begitu mengkhawatirkan, penduduk yang banyak tanpa diimbangi tingkat kemakmuran negara, hanya menciptakan persoalan sangat besar, dan itu yang terjadi di negara ini.
Berdasarkan sebuah catatan, angka laju pertumbuhan penduduk Indonesia dalam lima tahun terakhir mencapai 1,4 persen-1,5 persen per tahun. Pada periode 2000-2005, angka laju pertumbuhan penduduk bahkan berkisar 2 persen per tahun.
Bisa diprediksi dengan dengan tingkat pertumbuhan penduduk stabil di angka 1,5 persen per tahun saja, pada tahun 2057 total penduduk Indonesia sudah lebih dari 475 juta jiwa.
Jumlah penduduk yang besar itu akan menjadi celaka bila tanpa diimbangi kemampuan negara memberikan kemakmuran.
Bumi Indonesia penuh sesak dipadati manusia menjadikan ruang gerak terbatas,hingga muncul “berjuta” persoalan berasal dari manusia itu sendiri.
Misalnya saja masalah sampah yang dipastikan akan memukul balik manusia,kemacetan lalu lintas yang membuat kendaraan roda empat menjadi tidak berharga sama sekali, ketersediaan bahan pokok, dituntut menyelesaikan ketersediaan air bersih.
Jelaslah bahwa ledakan penduduk yang tak terkendali akan membuat bumi penuh sesak. Pada gilirannya, keselamatan manusia menjadi terancam. Jika demikian, masih layakkah bumi ini sebagai tempat hunian, yang berarti pula sama saja dengan kiamat.
Melihat kenyataan itulah maka memperlambat pertumbuhan penduduk Indonesia bukanlah sekadar kebutuhan, melainkan sebuah keharusan.
Tanpa strategi yang tepat dan akurat, pada 2050 Indonesia bakal menghadapi beban ganda. Di satu pihak ada ledakan penduduk usia manula yang diperkirakan sekitar 80 juta jiwa dan di lain pihak jumlah penduduk usia muda juga begitu membludak.
Persoalan yang pasti dirasakan yaitu mampukah negara memenuhi sejumlah kebutuhan dasar bagi warga khususnya, pemenuhan pangan, lapangan pekerjaan, pelayanan kesehatan, pelayanan pendidikan, perumahan serta segudang persoalan lagi di belakangnya.
Oleh karena itu bisa dibayangkan, betapa repotnya negara mengurus penduduk yang jumlahnya kian membeludak.
Indonesia perlu mewaspadai ledakan penduduk dikarenakan berdampak pada kualitas kehidupan manusia, kata kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Sugiri Syarief, seperti yang dikutif Kantor Berita ANTARA.
“Indonesia saat ini masih dalam posisi peringkat empat besar negara di dunia yang menyumbang jumlah penduduk terbesar,” kata dia dalam seminar nasional tentang kesehatan reproduksi perempuan yang di Yogyakarta, belum lama ini.
Dia mengatakan ledakan jumlah penduduk di Indonesia setiap 100 tahun naik lima kali lipat kerimbang 100 tahun sebelumnya.
“Pada Tahun 1900 jumlah penduduk mencapai 40 juta, sedangkan pada Tahun 2000 mencapaii 200 juta,” katanya.
Dia mengatakan dengan kondisi Indonesia saat ini, pihaknya memprediksi jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2100 mencapai satu miliar atau naik lima kali lipat ketimbang seratus tahun sebelumnya.
“Kalau jumlah penduduknya bertambah maka akan berdampak pada kebutuhan pangan yang besar. Indonesia bebannya akan semakin besar karena saat ini masih mengimpor beras,” kata dia lagi.
Sementara itu, untuk masalah kesehatan akan berdampak pada tingkat kematian ibu hamil dan beragam persoalan kesehatan, seperti kasus aborsi.
Ia mengatakan menekan jumlah penduduk perlu dilakukan untuk menghemat investasi pemenuhan hak dasar masyarakat, seperti, pendidikan, kesehatan, gizi, nutrisi, sandang, dan perumahan.
Selain itu, jumlah penduduk yaang bisa ditekan juga akan menghemat biaya perawatan kesehatan saat kehamilan, kelahiran, perawatan bayi dan balita.
Persoalan kesehatan selama ini menyangkut angka kematian ibu yang masih tinggi dan angka kematian balita. Kesehatan reproduksi selama ini menjadi bagian penting dari masalah kependudukan yang sulit diselesaikan.
Untuk aspek lingkungan jumlah penduduk yang bisa ditekan akan mengurangi penyediaan perumahan dan air bersih, daya tampung dan daya dukung lingkungan juga semakin tidak ideal serta bisa menimbulkan banyak masalah lingkungan, sampah, banjir, kemacetan, kesulitan akses udara atau air bersih serta isu perubahan iklim hingga bencana akibat perusakan alam.
Tuntutan atas kebutuhan dasar seperti pangan yang akhir-akhir ini semakin mahal dan sulit, jumlah lapangan kerja tidak seimbang dengan angkatan kerja baru, serta peningkatan kriminalitas akibat kebutuhan pokok yang tidak terpenuhi juga bisa menjadi dampak ledakan penduduk.
Untuk menghindari terjadinya ledakan penduduk maka diperlukan desain induk kependudukan,katanya.
Desain induk itu akan menjadi acuan kependudukan yang meliputi berbagai aspek diantaranya kualitas, kuantitas, pembangunan keluarga, mobilitas dan administrasi penduduk.
“Desain induk sangat diperlukan untuk menghindari terjadinya ledakan penduduk. Pada saat ini desain induk masih pada tahap penyusunan dan pembahasan,” katanya.
Selain itu, untuk menyikapi laju pertumbuhan penduduk juga diperlukan upaya revitalisasi keluarga berencana (KB).

Penduduk Dunia

Berdasarkan sebuah laporan, pertumbuhan penduduk di setiap negara akan berdampak pula terhadap pertumbuhan penduduk dunia secara keseluruhan.
Menurut Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB) yang menangani masalah kependudukan melaporkan bahwa pada tahun 2003 jumlah penduduk dunia 6,3 milyar.
Menurut Thomas Robert Malthus dalam Essay on the Principle of Population (1798), dikatakan bahwa ” penduduk bertambah menurut deret ukur dan bahan makanan bertambah menurut deret hitung “.
Dengan demikian pertumbuhan penduduk lebih cepat dari pada produksi makanan yang dibutuhkan. Jika hal ini terus menerus dibiarkan maka akan terjadi ledakan penduduk.
Ledakan penduduk sebagai akibat pertumbuhan penduduk yang cepat seperti itu memberikan dampak yang buruk bagi kehidupan sosial-ekonomi masyarakat dan hal inipun membuat pemerintah berusaha untuk mengatasinya ledakan penduduk tersebut.
Dampak ledakan penduduk,disebutkannyah pengangguran kian meningkat, kekurangan pangan yang menyebabkan kelaparan dan gizi rendah, kebutuhan pendidik, kesehatan dan perumahan sukar diperoleh, terjadinya polusi dan kerusakan lingkungan, serta tingkat kemiskinan semakin meningkat
Sementara upaya yang harus dilakukan antsipasi ledakan penduduk, antara lain memperluas lapangan kerja melalui industrialisasi, melaksanakan program Keluarga Berencana (KB),meningkatkan produksi pangan sesuai kebutuhan penduduk, melaksanakan program transmigrasi, serta menambah sarana pendidikan dan perumahan sederhana.
Ledakan penduduk tentu akan mengancam ketersediaan pangan, berdasarkan catatan, konsumsi perkapita beras di Indonesia masih sangat tinggi yakni 139,15 kilogram per kapita per tahun.
Sementara itu konversi lahan di Indonesia terjadi sangat cepat dari persawahan menjadi pemukiman dan lain sebagainya akibat tingginya jumlah pertumbuhan penduduk.
Selain itu, perubahan iklim yang dipicu tingginya jumlah penduduk juga mengakibatkan gagal panen dan lain sebagainya.
Penduduk banyak bisa mempengaruhi perubahan iklim, dan sebaliknya penduduk juga akan terpengaruh pada perubahan iklim yang terjadi.
Laju pertumbuhan yang tinggi akan mengakibatkan konversi lahan persahawan juga terus meningkat padahal jumlah penduduk yang tinggi juga mengakibatkan meningkatnya kebutuhan dan konsumsi akan beras.
Untuk menghindari terjadinya ancaman ketersediaan pangan maka laju pertumbuhan penduduk harus ditekan,makanya diperlukan upaya dan langkah konkret guna menurunkan laju pertumbuhan penduduk dan meningkatkan kualitas penduduk melalui berbagai program, baik dalam aspek kualitas maupun kuantitas.
Untuk menyikapi laju pertumbuhan penduduk, juga diperlukan upaya revitalisasi Keluarga Berencana.
Revitalisasi program KB
Bagaimana kondisi KB saat ini,sebagai gambaran, prevalensi penggunaan kontrasepsi selama lima tahun (2002-2007) tidak banyak mengalami perubahan.
Hanya naik sedikit dari 60,3 persen menjadi 61,4 persen. Bahkan unmet need (kebutuhan ber-KB yang tidak terlayani) dalam periode yang sama naik dari 8,6 persen menjadi 9,1 persen.
Jika kondisi ini tidak cepat ditangani, ledakan penduduk akan menjadi kenyataan dalam beberapa tahun ke depan.
Dari hasil penelitian Sri Moertiningsih Adioetomo (peneliti LD FE UI), program KB telah berhasil mengubah paradigma dalam masyarakat bahwa jumlah anak bukanlah ‘nasib’. Jumlah anak yang lebih sedikit menciptakan peluang yang lebih besar dalam mencapai keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera.
Sebelum pemerintah berperan penuh dalam pelaksanaan program KB (1970), pertumbuhan penduduk Indonesia sangat tinggi. Sebagian besar masyarakat Indonesia beranggapan bahwa semua kejadian demografis seperti peristiwa kelahiran dan kematian adalah kuasa Tuhan.
Tidak dikenal jumlah anak ideal, dan jumlah anak bukanlah hal yang pantas untuk didiskusikan.
Program Keluarga Berencana (KB) merupakan upaya pengendalian jumlah penduduk dan peningkatan kualitas keluarga Indonesia. Program KB di awal 1970-an telah berhasil mengendalikan laju pertumbuhan penduduk Indonesia, dan manfaatnya baru dapat dirasakan di awal 2000.
Indonesia berhasil ‘mencegah’ 80 juta kelahiran bayi. Program KB berhasil mengubah cara pandang masyarakat bahwa jumlah anak lebih sedikit, lebih baik.
Banyak keberhasilan program KB di era Orde Baru. Penggunaan kontrasepsi naik drastis (dari 5 persen menjadi 60 persen), jumlah anak perempuan usia subur turun (dari 5,6 persen menjadi 2,3 persen), rata-rata usia kawin pertama perempuan naik menjadi 19 tahun, menurunnya kehamilan yang tidak diinginkan, serta masih banyak keberhasilan lainnya.
Program KB jelas memiliki dampak langsung terhadap peningkatan kualitas penduduk, kesejahteraan, derajat kesehatan, dan pendidikan penduduk.
Penduduk miskin cenderung memiliki jumlah anak yang lebih banyak daripada yang tidak miskin.
Program KB dapat menjadi salah satu instrumen untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia. Oleh karenanya, program KB juga jelas berkontribusi terhadap pencapaian target millenium development goals.
Sebagai langkah nyata untuk merespons tingginya pertumbuhan penduduk, itulah maka pemerintah RI perlu segera merealisasikan revitalisasi program KB nasional.
Kata revitalisasi sendiri bermakna bahwa program KB harus dihidupkan kembali dan menjadi prioritas karena memiliki peran vital dalam pembangunan.
Pemerintah harus segera memperbaiki akses masyarakat terhadap pelayanan KB. Perlu perbaikan kompetensi teknis KB terutama di daerah, mengingat terbatasnya sumber daya manusia di daerah yang memahami teknis program KB. Sehingga, perlu perkuatan institusi KB daerah. Pemerintah harus segera membangun metode komunikasi yang efektif dalam penyebarluasan informasi tentang KB.
Hal ini penting mengingat KB bukan sekadar mengendalikan jumlah penduduk, tetapi juga membangun cara pandang masyarakat terhadap norma keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera.
Pemerintah segera melakukan tindakan nyata untuk pengelolaan penduduk dalam format program KB. Jika pemerintah memiliki anggaran yang terbatas, harus segera melibatkan pihak swasta.
Pemerintah harus mampu meyakinkan pihak swasta untuk berpartisipasi, serta bentuk partisipasi yang dibutuhkan. Satu hal yang perlu dipahami ialah membangun bangsa ini tidak bisa sendirian. Tetapi pemerintah harus menunjukkan kesungguhan agar tidak sendirian pula dalam menghadapi ancaman ledakan penduduk.

KEMARAU KINI SUDAH MENJADI SEBUAH “TRAGEDI”

Oleh Hasan Zainuddin


Banjarmasin, 6/10 (ANTARA) – Musim kemarau tak asing bagi masyarakat Indonesia, karena sudah berlangsung setiap tahun sejak berada-abad lalu.

Hanya saja kemarau dulu dan sekarang terjadi perbedaan, kemarau dulu lahan kering tetapi sekarang kemarau lebih kerontang, kalau dulu kemarau menimbulkan asap tipis sekarang kian pekat.

Panas selalu terjadi musim kemarau, tetapi sekarang panasnya kian gerah, dan banyak lagi perbedanaan lain yang dirasakan disaat perubahan iklim global sekarang ini.

“Kemarau baru sebentar sudah menyengsarakan, terutama kesulitan air bersih serta kabut asap pekat menganggu banyak aktivitas, seperti di Kalsel, kata Gubernur Kalsel Rudy Ariffin di Banjarbaru, Rabu (3/10) saat menggelar rapat dadakan dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah .

Rapat dadakan bersama perwakilan pemerintah pusat membahas serangan asap dikaitkan melakukan hujan buatan. Selain hujan buatan, juga dinilai perlu menggelar sholat istisqa (shalat minta hujan).

Gubernur mengaku sudah menyampaikan surat permohonan ke Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BPBN) agar memperoleh jatah hujan buatan.

Berdasarkan catatan, asap Kalsel adanya kebakaran semak belukar dan hutan 615 titik, kabut asap paling parah di Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Tanah Laut, dan Barito Kuala serta Kota Banjarmasin.

Kepala Dinas Kesehatan Kalsel, Rosihan Adhani mengatakan serangan kabut asap mulai mengganggu kesehatan masyarakat, ditandai peningkatan ISPA hingga 59 persen, dengan jumlah penderita ISPA setiap bulannya sebanyak 22.000 orang.

Mengatasi hal itu 10.000 masker dibagikan dari 51.000 masker yang dicadangkan, 51.000 masker sifatnya perbantuan kabupaten dan kota se Kalsel yang memerlukan tambahan,katanya.

Kepala Dinas Perhubungan Kalsel, M Tahkim, asap menganggu penerbangan bandara Syamsuddin Noor serta jalur Lalu-lintas darat dalam sepekan terakhir, lantaran jarak pandang yang pendek.

“Saat ini jadwal penerbangan selalu saja ada yang tertunda akibat asap,” katanya.

Asap tak hanya menyebabkan ganggu transportasi, tetapi juga membuat warga merasa sesak napas dan penglihatan terasa pedih saat berada di luar rumah.

Beberapa warga mengaku cepat lelah, saat melakukan aktivitas di luar rumah, karena udara pengap dan panas menyengat, kendati cuaca seakan mendung.

Cuaca ekstrim terjadi di Kalsel, ditandai meningkatnya suhu dan kelembaban udara hingga di atas standar normal, suhu dan kelembaban udara tergolong ekstrim, melebihi standar normal, ujar Miftahul Munir dari BMG.

Suhu udara normal 32 derajat celsius hingga 35 derajat celsius, jika di atas standar maka tergolong ekstrim, suhu ekstrim terukur di Banjarbaru, Banjarmasin, dan Kabupaten Banjar dengan panas 35,2 derajat celsius.
Terjadinya cuaca ekstrim di Kalsel karena curah hujan rendah sejak dua bulan lalu, curah hujan Agustus 60-70 milimeter dan September 50-100 milimeter hingga tergolong rendah dan memicu meningkatnya suhu udara dipermukaan hingga terjadi cuaca ekstrim, jelasnya.

Dampak ditimbulkan suhu udara demikian kekeringan melanda hampir seluruh kawasan, pepohonan kekurangan air mudah terbakar disamping volume air sumur berkurang.

Kawasan terpekat asap, justru berada di dekat Bandara Syamsudin Noor merupakan bandara terpadat di Kalimantan, menyebabkan tertundanya penerbangan seperti penerbangan ke Jakarta, Surabaya, dan Yogyakarta.

Manager Operasi PT Angkasa Pura I Bandara Syamsudin Noor Haruman mengatakan, jarak pandang aman bagi penerbangan minimal 400 meter saat pesawat lepas landas dan 800 meter saat pesawat mendarat.

“Jarak pandangnya buruk sekali pernah terjadi hanya lima meter sehingga sangat tidak mungkin pesawat lepas landas dan diputuskan enam penerbangan ditunda,” katanya
Kepala Dinas kehutanan Kalsel, Rahmadi menambahkan titik panas (hotspot) di wilayahnya meningkat 100 persen. Pantuan satelit NOAA-18 (ASMC) 4 September 315 titik, sekarang 615 titik.

Titik api diperkirakan terus bertambah mengingat musim hujan ditaksir akhir Oktober, atau dasarian tiga, ujar Kasi Data dan Informasi BMKG Staklim Banjarbaru Miftahul Munir.

Terkait keinginan gubernur melakukan hujan buatan, disarankan menunggu munculnya awan pembentuk hujan sehingga hujan cepat turun sesuai harapan.

“Saat ini, awan pembentuk hujan belum terbentuk di atas wilayah Kalsel sehingga tidak efektif jika hujan buatan dilakukan sekarang, lebih baik menunggu munculnya awan hujan sehingga hasilnya maksimal,” kata dia.


Perubahan Iklim
Berdasarkan sebuah catatan saat ini terjadi peningkatan konsentrasi gas-gas rumah kaca (CO2, CH4, CFC, HFC, N2O), terutama peningkatan konsentrasi CO2, di atmosfir menyebabkan terjadinya global warming (peningkatan suhu udara secara global) yang memicu terjadinya global climate change (perubahan iklim secara global).

Fenomena ini memberikan berbagai dampak yang berpengaruh penting terhadap keberlanjutan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya di planet bumi ini, di antaranya adalah pergeseran musim dan perubahan pola atau pendistribusi hujan yang memicu terjadinya banjir dan tanah longsor pada musim penghujan dan kekeringan pada musim kemarau.

Naiknya muka air laut yang berpotensi menenggelamkan pulau-pulau kecil dan banjir rob.

Perubahan iklim global sebagai implikasi dari pemanasan global mengakibatkan ketidakstabilan atmosfer di lapisan bawah terutama dekat permukaan bumi.

Pemanasan global ini disebabkan oleh meningkatnya gas-gas rumah kaca yang dominan ditimbulkan oleh industri-industri.

Pengamatan temperatur global sejak abad 19 menunjukkan adanya perubahan rata-rata temperatur yang menjadi indikator adanya perubahan iklim.

Perubahan temperatur global ini ditunjukkan dengan naiknya rata-rata temperatur hingga 0.74oC antara tahun 1906 hingga tahun 2005.

Temperatur rata-rata global ini diproyeksikan akan terus meningkat sekitar 1.8-4.0oC di abad sekarang ini, dan bahkan menurut kajian lain dalam IPCC diproyeksikan berkisar antara 1.1-6.4oC.

Perubahan iklim akibat kegiatan manusia itu meningkatnya suhu udara yang berpengaruh terhadap kondisi parameter iklim lainnya.

Perubahan iklim mencakup perubahan dalam tekanan udara, arah dan kecepatan angin, dan curah hujan.

Di Indonesia saat perubahan musim ini menyebabkan suhu rata-rata tahunan menunjukkan peningkatan 0,3 derajat Celcius sejak tahun 1990, musim hujan datang lebih lambat, lebih singkat, namun curah hujan lebih intensif sehingga meningkatkan risiko banjir.

Variasi musiman dan cuaca ekstrim diduga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama di Selatan Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

Perubahan pada kadar penguapan air, dan kelembaban tanah akan berdampak pada sektor pertanian dan ketahanan pangan. Perubahan iklim akan menurunkan kesuburan tanah sekitar 2 persen sampai dengan 8 persen.

Melihat kondisi cuaca seperti ini maka hal itu bisa dikatakan sebuah tragedi baik dimusim hujan maupun dimusim kemarau, karena itu berbagai kalangan mengharapkan kewaspadaan semua pihak menyikapi kondisi demikian

SPAM REGIONAL “BANJARBAKULA” SOLUSI AIR MINUM KALSEL

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin, 25/9 (ANTARA) – Persoalan air minum kini menghantui warga Provinsi Kalimantan Selatan, lantaran persediaan tidak sebanding dengan kebutuhan masyarakat wilayah tersebut.

Menteri Pekerjaan Umum Joko Kirmanto saat kunjungan ke Banjarmasin, Senin (24/9) menyatakan pihaknya telah mencermati kondisi pelayanan air minum di wilayah paling selatan Pulau Kalimantan ini.

Menurut dia, capaian pelayanan air minum di Kalsel sampai dengan penghujung tahun 2011, tingkat akses aman air minum masyarakat wilayah ini baru mencapai 51,79 persen, sedikit di bawah rata-rata nasional sebesar 53,26 persen.

Dengan jumlah penduduk sekitar 3,6 juta jiwa, berarti penduduk yang belum memiliki akses aman air minum di Provinsi Kalsel sebanyak 1,7 juta jiwa.

Di sisi lain, sasaran MDGs tahun 2015 untuk Provinsi Kalimantan Selatan adalah tingkat akses aman air minum sebesar 70 persen.

Dengan demikian, dalam kurun waktu 2,5 (dua setengah) tahun ke depan pemerintah provinsi dan kabupaten-kota di Kalsel perlu menyediakan tambahan akses aman air minum bagi 600 ribu jiwa.

Melihat kenyataan tersebut maka diperlukan kerja keras antara pemerintah daerah di Kalsel untuk melakukan tambahan pelayanan air minum tersebut.

“Sistem penyediaan air minum untuk Kota Banjarmasin dan lima Instalasi air Ibukota Kecamatan (IKK) di Kalsel yang akan kita resmikan pemanfaatannya hari ini akan menambah kapasitas produksi air minum sebesar 600 liter per detik,” katanya saat meresmikian proyek air bersih Kalsel di Banjarmasin tersebut.

Proyek air diresmikan SPAM Banjarmasin 500 liter per detik (l/D) menjadi 1000 l/d, IKK Paringin Selatan, Kabupaten Balangan 20 l/d, IKK Tabukan Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) 20 l/d, IKK Babirik HSU 20 l/d, IKK Hatungun Kabupaten Tapin 20 l/d dan IKK Hantakan Kabupaten HST 20 l/d.

Kedatangan Menteri PU didampingi Dirjen Cipta Karya selain meresmikan proyek air bersih sekaligus menghadiri peringatan puncak hari jadi Kota Banjarmasin ke-486 di halaman balaikota setempat.

Menurut Menteri PU, adanya penambahan fasilitas air minum 600 liter per detik tersebut berarti akan menyumbang peningkatan pelayanan air minum sampai dengan 48.000 sambungan rumah atau tambahan pelayanan bagi 240.000 jiwa.

Dengan target MDGs Provinsi Kalsel sebesar 600 ribu jiwa, tambahan pelayanan tersebut masih jauh dari sasaran. Oleh karenanya diperlukan upaya yang lebih serius guna percepatan peningkatan pelayanan air minum ke depan.

“Kami yakin apabila ada komitmen yang kuat dari Pemerintah Daerah hal tersebut bisa terwujud.” katanya didampingi Wakil Gubernur Kalsel, Rudy Resnawan.

Sebagai contoh nyata adalah Kota Banjarmasin yang saat ini pelayanan air minumnya sudah mencapai 98,7 persen, keberhasilan itu tak terlepas dari tingginya komitmen pemerintah setempat dalam meningkatkan pelayanan air minum yang tercermin dari komitmen pendanaan dari daerah baik melalui alokasi pendanaan APBD maupun memanfaatkan pinjaman perbankan.

Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan melalui Peraturan Presiden Nomor 29 tahun 2009 tentang Pemberian Jaminan dan Subsidi Bunga Oleh Pemerintah Pusat Dalam Rangka Percepatan Penyediaan Air Minum.

Saat ini telah ada komitmen dari Perbankan Nasional sebesar Rp4,36 triliun, katanya lagi.

“Saya mengapresiasi komitmen PDAM Bandarmasih yang didukung Pemerintah Kota dan DPRD Kota Banjarmasin untuk memanfaatkan fasilitas tersebut dan hasil pembangunannya akan kita resmikan hari ini,” tuturnya.

Ini adalah contoh yang baik bagi 13 pemerintah kabupaten dan kota lain di Kalsel sebagai pembelajaran dalam pelayanan air minum di masing-masing wilayah.

Ia juga berharap Pemerintah Kota Banjarmasin dan PDAM Bandarmasih dapat berbagi pengalaman kepada pemerintah daerah dan PDAM lain khususnya di Provinsi Kalsel.

PDAM Bandarmasih diharapkan dapat berperan aktif sebagai “Center Of Excellence” di Kalsel untuk dapat memacu kinerja pelayanan air minum oleh PDAM di provinsi ini.


SPAM Regional
Kehadiran Menteri PU bersama rombongan tersebut sekaligus juga menyaksikan penandatangan MoU lima pimpinan daerah di Kalsel untuk mengerjakan Sistem Pengolahan Air Minum (SPAM) Regonal “Banjarbakula.”
Banjarbakula singkatan dari Banjarmasin, Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Kabupaten Barito Kuala, dan Kabupaten Tanah Laut.

Menteri PU Joko Kirmanto sendiri mendukung inisiatif mengembangkan SPAM regional Banjarbakula.

Menurut Joko Kirmanto, untuk pemenuhan kebutuhan air minum diperlukan jaminan ketersediaan air baku dengan kuantitas dan kualitas yang memadai.

Pemerintah pusat, provinsi, maupun pemerintah kota dan kabupaten sesuai dengan kewenangannya berkewajiban melakukan hal tersebut melalui langkah operasional yang meliputi perlindungan daerah tangkapan air, manajemen terpadu daerah aliran sungai, serta mengendalikan pencemaran air.

Penertiban izin penggunaan air serta upaya antisipasi penyediaan sumber air baku untuk masa yang akan datang, katanya.

Dengan keterbatasan air baku yang tersedia di masing-masing Kabupaten dan kota maka pemerintah pusat sangat mendukung adanya inisiatif untuk mengembangkan SPAM regional Banjarbakula.

Semua itu untuk menjawab pemenuhan kebutuhan air minum yang lebih merata dengan pemanfaatan bersama sumber air baku di wilayah ini.

Ia berharap agar Pemerintah provinsi berperan aktif dalam mengkoordinasikan dan memberikan kontribusi APBD untuk mewujudkan SPAM regional dimaksud.

Wakil Gubernur Kalsel, Rudy Resnawan sendiri mmenyebutkan kerjasama regional melalui SPAM memperoleh dukungan penuh Pemprov Kalsel, karena itu segera akan direalisasikan.

Hanya saja ia belum bisa menyebutkan di mana tempat SPAM tersebut dibangun, yang jelas bukan di Banjarmasin dan kemungkinan di Kabupaten Banjar lantaran di sana ada Bendungan dan Irigasi Riam Kanan sebagai penyedia air baku.

Menurut dia, SPAM tersebut akan dikelola Pemprov Kalsel, tetapi dalam pendistribusian air minum curah akan dilakukan oleh PDAM di lima daerah masing-masing.

Dengan adanya SPAM diharapkan penyediaan air minum di lima daerah Kalsel tersebut lebih merata, tidak lagi seperti sekarang hanya didominasi Banjarmasin.

Menurut Rudy Resnawan, tanpa SPAM, Banjarmasin yang sekarang pelayanan air minum pun dalam lima dan 10 tahun ke depan akan kesulitan mencari air baku, karena persoalan utama adalah bagaimana air baku yang terus tersedia.

Berbagai kalangan menilai walau SPAM terbentuk tetapi kalau tidak adanya pemeliharaan wilayah resapan air maka SPAM pun tak akan berhasil.

Salah satu cara terpelihara resapan air di kawasan Bendungan Riam Kanan adalah bagaimana menyelamatkan hutan kawasan bendungan yang masuk Hutan Pegunungan Meratus yang belakangan ini kian rusak saja akibat adanya pemukiman penduduk, penebangan hutan, dan pertambangan batubara.

Oleh karena itu ada saran agar Bendungan Riam Kanan dikelola secara profesional, oleh semacam lembaga khusus atau badan, tanpa pemeliharaan bendungan maka semua keinginan itu akan sia-sia belaka.

PERNIKAHAN DINI, ANCAMAN BESAR KEHIDUPAN SOSIAL KALSEL

Oleh Hasan Zainuddin

Banjarmasin, 17/9 ()- Seorang perempuan muda berambut bercat pirang, dengan pakaian minor sambil mengisap sebatang rokok duduk di warung Jalan A Yani dekat Hotel Banjarmasin Internasional (HBI).
Ketika didekati ia bertanya “bapak naikkah?” Penulis bingung harus menjawab apa, karena tak mengerti apa yang dimaksud naik.
Ketika ditanya apa maksudnya, lalu gadis berkulit putih berusia sekitar 19 tahun itu menjelaskan maksud naik itu alah masuk ke dalam diskotik yang ada di HBI tersebut.
Secara panjang lebar ia bercerita, Lisa (nama samaran) hampir tiap malam masuk diskotik, sebagai wanita penghibur tamu di dunia gemerlap (dugem), ya sekedar menambah penghasilan setelah menjanda hampir dua tahun lalu.
Dengan seorang anak hasil perkawinan dengan pasangan sama-sama muda usia, kehidupan yang menjanda sekarang ini bisa dikatakan morat-marit, tak ada orang yang bisa memberikan nafkah dalam kehidupannya termasuk mantan suaminya yang sekarang tak tahu lagi ujung rimbanya.
Ujung-ujungnya setelah kebingungan Lisa pun terjerumus ke dalam dunia malam. “Yah lumayan tiap malam, ada saja uang tip yang diberikan tamu di diskotik,” tutur Lisa tanpa malu-malu.
Menurut Lisa, di dalam dunia gemerlap, ia tak sendiri bahkan puluhan atau ratusan dan mungkin juga ribuan orang yang nasibnya serupa, yakni terjun ke dunia malam setelah menjadi korban dari perceraian yang sebelumnya nikah dini.
Berdasarkan ceritanya, dia bersama teman-temannya umumnya adalah janda muda yang mencari sesuap nasi dengan berjingkrak ria di diskotik, peramusaji di ruang karaoke, pelayan di meja biliar, pub, cafe, bahkan ada dari mereka yang bertindak lebih jauh lagi sebagai wanita panggilan.
Keberadaan wanita muda yang sudah menjadi binal tersebut,agaknya dimanfaatkan pengusaha hiburan malam, dengan memberikan fasilitas masuk gratis bagi mereka pada malam tertentu, maksudnya agar tempat hiburan tersebut dipenuhi wanita malam, hingga memancing lebih banyak pengujung pria.
Akhirnya sudah bisa dipastikan tempat-tempat hiburan malam seperti yang ada di Banjarmasin seakan-akan tak mampu lagi menampung pengunjung yang selalu memludak seperti yang terlihat di Diskotik HBI,Grand Plaza, dan Diskotik Aria Barito.
“Aku heran, wilayah  kita ini adalah daerah yang agamis, tetapi kok begitu maraknya tempat-tempat seperti itu,” kata seorang warga kota Banjarmasin.
Berarti penanganan sosial di daerah ini ada yang salah yang harus dicarikan solusi terbaik, tambah warga kota.

Pernikahan Dini
Banyak batasan mengenai arti pernikahan dini, tetapi secara umum disebutkan pernikahan dini adalah pernikahan manusia masih remajaatau masa peralihan antara masa anak-anak ke dewasa.
Saat pernikahan mereka bisa dikatakana bukan lagi anak, baik bentuk badan, sikap dan cara berpikir serta bertindak, namun bukan pula orang dewasa yang telah matang berfikir.
Angka pernikahan dini atau pernikahan pada usia dibawah yang dianjurkan ternyata masih tinggi di Kalimantan Selatan (Kalsel). Bahkan angka tersebut tertinggi di Indonesia.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalsel Rosihan Adhani kepada wartawan pernah mengungkapkan, angka pernikahan dini di Kalsel mencapai 9 persen.
Angka tersebut merupakan angka pasangan yang menikah pada usia di bawah 15 tahun.
Menurut data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) Kalsel diatas angka rata-rata nasional, ucapnya.
Angka pernikahan dini nasional sendiri hanya 4,8 persen. Jumlah tersebut jauh dibandingkan dengan Kalsel.
Menurut Rosihan, tingginya angka pernikahan dini di Kalsel disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya faktor ekonomi dan budaya, atau lantaran tidak mampu melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, banyak diantara pelajar yang memilih menikah.
Fakta tersebut, lanjut Rosihan, cukup mengkhawatirkan, pasalnya usia menikah yang terlalu muda membuat risiko kesehatan terutama untuk ibu dan bayi.
“Ini penyumbang angka kematian bayi dan ibu, menikah kan perlu kesiapan fisik dan kalau usia terlalu dini tidak baik,” katanya.
Menurut Rosehan Adhani selain berisiko terhadap kesehatan, menikah terlalu dini juga membuat pasangan kerap mengalami kesulitan ekonomi. Akhirnya, banyak anak pasangan yang menikah dini tidak mendapat asupan gizi yang memadai, bahkan pola asuh anak juga kerap tidak diperhatikan.
“Makanya dianjurkan menikah usia 20 tahun untuk perempuan dan usia 25 untuk laki-laki, harapannya sudah siap fisik dan mental termasuk soal ekonomi,” tandasnya.
Sekadar diketahui, berdasarkan data Riskesdas tahun 2010 yang dirilis Kementerian Kesehatan RI, Kalimantan Selatan ternyata membukukan “prestasi” yang cukup mencengangkan. Provinsi dengan penduduk lebih dari 3,6 juta jiwa ini ternyata menempati urutan pertama angka pernikahan dini di Indonesia.
Angka pernikahan dini Kalsel menempati urutan pertama di Indonesia dan mengalahkan Jawa Barat yang pada tahun sebelumnya menempati urutan pertama. Angka umur perkawinan secara nasional masing-masing berbeda-beda.
Untuk umur 10-14 tahun tercatat sebanyak 4,8 persen pasangan menikah di usia ini. Yang cukup mencengangkan adalah perkawinan usia 15-19 tahun yang merupakan angka tertinggi yakni 41,9 persen.
Untuk usia 20-24 tahun, tercatat angka perkawinan sebanyak 33,6 persen.

Angka Perceraian
Dengan banyaknya kasus pernikahan dini di wilayah paling Selatan pulau terbesar tanah ini menyebabkan juga seringnya terjadi perceraian.
Tingkat perceraian di Kalimantan Selatan dalam setiap tahunnya cukup tinggi, kata Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Kalsel Abdul Halim Ahmad di Banjarmasin.
Menurut dia, selama 2010 jumlah perceraian di Kalsel tidak kurang dari empat ribu kasus, yang terjadi pada pihak swasta maupun pegawai negeri sipil (PNS) bahkan guru.
“Jumlah perceraian tersebut masih cukup tinggi, dengan berbagai sebab dan alasan,” katanya.
Salah satu penyebab terjadinya perceraian, tambah dia, antara lain karena masalah ekonomi baik karena ekonomi kurang maupun ekonomi yang membaik.
Selain itu, kata dia, juga karena perkawinan di bawah umur sehingga menyebabkan seseorang belum terlalu siap menghadapi persoalan rumah tangga yang terjadi.
Untuk menekan angka perceraian tersebut, kata dia, pihaknya akan melakukan sosialisasi masalah perkawinan melalui badan penasehatan perkawinan.
“Pasangan yang akan menikah akan kita berikan penyuluhan dan bimbingan, begitu juga yang ingin melakukan cerai akan dilakukan mediasi, sehingga persoalan yang dihadapi tidak harus berakhir pada perpisahan,” katanya.
Sementara data BKKBN Kalsel selama 2009 menunjukkan bahwa jumlah janda atau duda yang belum menikah kembali sebanyak 156.835 orang atau 15,82 persen dari 991.641 keluarga.
Dari jumlah tersebut, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) merupakan kabupaten paling banyak jumlah janda atau dudanya yaitu 21,58 persen.
Disusul Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) sebanyak 21,31 persen dan Hulu Sungai Utara (HSU) sebanyak 19,42 persen.
Banyaknya jumlah janda atau duda di Kalsel tersebut, kemungkinan dipicu karena tingginya pernikahan di bawah umur.
Namun tidak menutup kemungkinan tingkat perceraian akibat menikah di bawah umur lebih rentan terjadi, karena pasangan belum matang dalam menghadapi persoalan rumah tangga.
Berdasarkan hasil survei demografi kesehatan Indonesia (SDKI) tingkat pernikahan di bawah umur Kalsel cukup tinggi.
Berdasarkan hasil SDKI 2009, pasangan yang menikah di bawah umur 20 tahun sebanyak 32.483 orang dari total pasangan usia subur sebanyak 732.206.


SEKS BEBAS REMAJA SEBUAH KERISAUAN

Oleh Hasan Zainuddin


Banjarmasin,17/9 ()- Hampir sebagian besar dari 64 juta penduduk remaja Indonesia belakangan ini memiliki alat komunikasi handpone (HP) dan sebagian besar pula dari HP tersebut mampu mengakses internet.
“Sudah bisa dibayangkan kalau seorang remaja memiliki alat komunikasi yang mampu mengakses internet, siapa yang disalahkan bila remaja itu mengakses situs porno,” kata pejabat Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), pusat.
Deputi Bidang Advodkasi,Penggerakan dan Informasi (Adpin) BKKBN Hardiyanto saat berada di Banjarmasin, mengakui keberadaan remaja belakangan ini kian merisaukan saja.
Bukan HP saja remaja dengan mudah mengakses berbagai informasi dunia tetapi juga laptop, komputer, serta peralatan elektronik lainnya yang mudah akses jaringan internet, disamping media-media lain yang beredar bebas.
“Dimanapun remaja berada termasuk dalam kamar sendirian, siapa yang bisa menangkal agar remaja tidak menyaksikan tayangan film dan gambar porno,”katanya saat berada di Banjarmasin menghadiri acara Hari Keluarga Nasional (Harganas) tingkat Kalsel.
Kerisauan pejabat BKKBN tersebut, besar kemungkinan sudah merata di Indonesia, tak terkecuali di Banjarmsin ibukota Provinsi Kalimantan Selatan sendiri.
Seperti penuturan Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin, Hj Diah R Praswasti, angka seks bebas kalangan remaja menunjukkan peningkatan yang mencengahkan.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan setempat hingga akhir 2011 ada peningkatan persalinan remaja. Dari sebanyak 50 orang pada 2010, melonjak menjadi 235 orang pada 2011.
Data lainnya terjadi pada kasus KTD (Kehamilan yang tidak diinginkan), dari 35 orang 2010, melonjak menjadi 220 orang pada 2011.
Data tersebut berdasarkan acuan dari 26 Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) setempat bekerjasama dengan Unit Kesehatan Sekolah (UKS).
] Semua itu untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) di seluruh Kota Banjarmasin, dengan rentang usia dari sembilan tahun hingga 19 tahun.
Hj Diah menerangkan setiap Puskesmas membina UKS yang ada di setiap sekolah. Kemudian hasilnya didapat dari laporan setiap UKS kepada Puskesmas dan dievaluasi Dinkes Kota Banjarmasin.
Dari perkembangan seks bebas tersebut terimplikasi terhadap perkembangan penyakit yang menakutkan yakni Aids/Hiv.


“Berdasarkan data kumpulan dari 26 Puskesmas yang tersebar se Kota Banjarmasin dan telah dievaluasi Dinkes,” ujarnya.
“Serangan Aids di kota ini juga meningkat dan itu sungguh merisaukan hingga memerlukan kewaspadaan kita semua untuk menanggulanginya,” katanya.
Yang cukup merisaukan pula penyakit yang menakutkan tersebut sudah menjalar ke kalangan usia remaja yaitu pelajar, tambahnya lagi tanpa merinci pelajar mana yang terkena penyakit tersebut.
Berdasarkan data yang dihimpun dari petugas di lapangan warga Banjarmasin yang terkena Aids 33 orang dan terinveksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) tercatat 52 orang.
Mereka yang terbanyak terjangkit penyakit yang pernah menghebohkan dunia tersebut,adalah kelompok yang memang beresiko tinggi yaitu Pekerja Seks Komersial (PSK).
Selain itu mereka yang berprilaku seks menyimpang seperti homoseks, lesbian, serta prilaku bebas lainnya disamping jarum suntik, obat-obatan terlarang, dan akibat lainnya.
Pihak Dinkes Banjarmasin sendiri selalu melakukan penyuluhan agar penyakit tersebut tidak meluas, terutama penyuluhan di kalangan pelajar,mahasiswa, dan masyarakat umum. Adis.
Melihat kenyataan tersebut membuat Wali Kota Banjarmasin Haji Muhidin juga menjadi risau dan meminta semua pihak melakukan pengawasan terhadap perilaku remaja tersebut.
“Saya menghimbau kepada orang tua, guru, ataupun masyarakat untuk mengawasi anak-anak kita, sebab jumlah remaja yang mengalami kasus ini semakin meningkat,” katanya lagi.
Menurutnya, pengawasan tidak hanya pada lingkungan rumah, namun juga di lingkungan sekolah, seperti para guru atau pun masyarakat umum yang kebetulan melihat hal-hal ganjil dilakukan oleh remaja hendaknya diawasi hingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
“Misalnya, jika melihat dua remaja yang sengaja duduk di tempat remang-remang dan gelap segera ditegur, jangan sampai mereka terperosok ke hal-hal yang dilarang agama,”kata Muhidin.
Dia pun berencana agar Dinas Pendidikan juga menyiapkan program khusus untuk ini yakni melakukan ceramah agama untuk siswa SMP dan SMA. Program ini dimaksudkan untuk meberikan gambaran bahaya serta dampak dari pergaulan bebas.
“Nantinya kita juga anggarkan untuk program ini, sebab kita akan menggunakan tokoh agama atau alim ulama yang nanti keliling ke sekolah-sekolah tiap minggu untuk memberikan nasihat agama kepada murid-murid,”kata Muhidin.
Untuk tempat-tempat yang mungkin rentan terjadinya seks bebas oleh remaja, perlu diawasi pula, seperti warnet, maka Pemkot pun akan melakukan razia terhadap lokasi tersebut.
Misalnya ada warnet buka 24 jam dan banyak remaja yang nongkrong di situ, Pemkot melalui Satpol PP akan melakukan razia, karena seperti alporan yang diterima para remaja mudah melakukan hal-hal yang tak lazim di tempat itu.
Tiga Persoalan Besar
Menurut Deputi Adpin BKKBN, Drs Hardiyanto terdapat tiga persoalan besar yang menghadang remaja Indonesia.
Tiga persoalan besar tersebut selain masalah seks bebas pranikah, penyalahgunaan narkotika, dan berjangkitnya penyakit hiv/aids.
Padahal penduduk remaja sekarang ini begitu banyak dari 237 juta jiwa penduduk Indonesia 30 persen atau 64 juta jiwa diantaranya adalah usia remaja atau usia 10 hingga 24 tahun.
Kelompok remaja tersebut sedang galau menghadapi tiga persoalan besar tersebut, lantaran berbagai informasi belakangan yang sekarang sulit dibendung yang mempengaruhi tingkat perilaku remaja itu sendiri.
Oleh karena itu BKKBN sekarang ini mencoba mencari solusi menghadapi tiga persoalan tersebut, dengan mengembangkan apa yang disebut Remaja Berencana (Rebre),yakni pendidikan refproduksi agar mereka mengerti dan tahu apa yang baik dan tidak baik.
Dengan mengetahui persoalan remaja diharapkan mereka mengerti bahwa kawin muda itu tidak baik, dan berusaha sekolah setinggi mungkin sebelum memasuki jenjang pernikahan.
Masalahnya kawin dini menjadi persoalan dalam kemudian karena kesehatan refproduksi wanita masih belum baik, sementara laki-lakinya belum bisa bertanggungjawab.
Kalau ibu muda yang masih rawan melahirkan itu bisa menimbulkan kematian ibu lahir atau kematian bayi lahir.
“Apa mau setelah kawin dan punya anak, ditinggalkan begitu saja oleh pasangan laki-lakinya, sementara perempuan remaja yang sudah punya anak dan tidak ada kerjaan mau kemana membawa kehidupan itu, akhirnya semua jadi berentakan dan menjadi beban keluarga dan masyarakat,” tuturnya.
Pusat Informasi Pelayanan (PIP) remaja juga dibentuk BKKBN agar para meraja saling curhat mengenai refproduksi, sehingga melalui PIP mereka bisa mengetahui bahayanya pergaulan bebas, narkotika, dan hiv/aids.
Di lokasi PIP remaja tersebut BKKBN menyediakan seorang tenaga konsuling yang memberikan bimbingan terhadap remaja dalam menghadapi tiga persoalan tersebut.
Dari PIP remaja maka akan melahirkan remaja berencana yang mengerti menghadapi kehidupan kedepan, dan PIP remaja bisa dikembangkan di sekolah, madrasah, pesantren, di dalam masyarakat umum, dan kelompok dimana banyak terdapat remaja.
Seluruh indonesia tidak kurang dari 20 ribu PIP remaja yang sudah dibentuk, dan bisa dijadikan alat pengembangan pemikiran remaja menghadapi tiga persoalan besar yang dihadapi remaja tersebut, katanya.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 53 pengikut lainnya.