SOTR, Atraksi Wisata Agama Yang Unik di Banjarmasin

Oleh Hasan Zainuddin

Berbuka puasa bersama dalam skala besar melibatkan banyak orang dengan cara yang unik, banyak digelar di mana-mana di Indonesia, dan itu sudah biasa. Tetapi acara sahur bersama dipenuhi ribuan orang di pinggiran sungai, tampaknya lebih luar biasa dan mungkin hanya ada di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Dengan keunikan tersebut maka Pemerintah Kota Banjarmasin tak ragu untuk mendukung dan bekerja sama dengan penggagas atraksi ini, pihak Satuan Polisi Air (Satpolair) Polresta Banjarmasin, kata Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina, di Balaikota Banjarmasin, Minggu (18/6).

Bagaimana tidak unik, acara sahur bersama Sahur On The River (SOTR) yang digelar empat kali selama Ramadhan 1438 Hijriah yang berakhir Minggu Dini hari, 18 Juni lalu itu selalu dipadati pengunjung. Bukan saja umat Muslim untuk santap sahur, tetapi juga warga dari agama lain ikut nimbrung sekaligus menikmati wisata sungai Kota Banjarmasin.

Seperti pada Minggu dini hari, 11 Juni 2017 di lokasi wisata sungai kawasan maskot Bekantan Tendean yang tadinya ditargetkan hanya dihadiri seribu orang jutru dipenuhi dua ribu orang lebih.

Puluhan ibu-ibu pedagang pasar terapung di lokasi tersebut lengkap dengan pakaian keseharian datang dengan menggunakan sampan pakai “talakung” (kain tutup kepala) berpupur dingin (masker) hanya untuk menyemerakkan kegiatan yang sudah dijadikan kalender pariwisa tahunan tersebut.

Mereka makan dan minum menjalankan ibadah sahur seraya mengayuh sampan yang melibatkan puluhan ibu-ibu di Pasar Terapung Siring Tendean, sekali-sekali air di gelas tumpah tatkala sampan yang ditumpangi para pedagang sayuran dan buah-buahan di lokasi pasar unik ini oleng lantaran terhantam gelombang sungai.

Dibantu lampu minyak tanah dan sedikit tersiram sinaran listrik mereka terlihat samar-samar, namun tak mengurangi keceriaan para pedagang di atas Sungai Martapura ini untuk bersantap sahur bersama dalam kegiatan Sahur On The River.

Tak hanya puluhan ibu-ibu pedagang sayuran pasar terapung yang meramaikan sahur bersama ini, tapi juga puluhan komunitas pengemudi klotok (perahu bermesin) regu pemadam kebakaran, komunitas radio amatir, pecinta lingkungan seperti Forum Komunitas Hijau, Masyarakat Peduli Sungai (Melingai), Komunitas Sepeda Antik Banjarmasin (Saban) serta ratusan lagi anggota kepolisian Polresta Banjarmasin sendiri.

Tumpahan massa yang menghadiri lokasi sahur bersama ini kembali terjadi Minggu dini hari 18 Juni di lokasi berbeda yakni Kubah Basirih, makam seorang ulama Banjarmasin yang dihadiri Wakil Kapolda Kalsel, dan ulama kharismatik KH Juhdi sekaligus memberikan tausyiah.

“Ini salah satu bentuk penanaman rasa toleransi dan kebersamaan, antara polisi dan masyarakat, dan antarwarga sendiri,” kata Kepala Satuan Polisi Air Polresta Banjarmasin AKP Untung Widodo Sst selaku penggagas kegiatan ini.

Penulis memerhatikan kegiatan ini benar-benar multi manfaat, apalagi diera sekarang di mana tingkat toleransi yang seakan mulai luntur yang bisa menggangu keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Berkumpulnya ribuan orang di satu lokasi dalam suasana kebersamaan ini bisa menjadi alat untuk lebih merekatkan lagi tali persaudaraan dan merekatkan kesatuan dan persatuan di dalam masyarakat.

Dengan tidak ada yang nyuruh dan tak ada yang memberi upah, tetapi keikutsertaan dalam sahur bersama ini hanya semangat yang terbungkus dalam nilai-nilai keagamaan serta ingin mengangkat dunia wisata setempat.

Sebagai contoh saja komunitas sepeda antik Banjarmasin (Saban) yang tak mau ketinggalan mengikuti kegiatan sahur bersama ini.

Para pecinta sepeda tua yang tergabung dalam organisasi Saban ini setiap kali acara selalu membuat janji untuk kumpul dulu di halaman Masjid Raya Sabilal Muhtadin di tengah Kota Banjarmasin.

Biasa mereka kumpul jam dua dini hari setelah itu puluhan orang menggunakan atribut seperti layaknya ontelis konvoi menuju lokasi, dan kehadiran para pecinta sepeda tua ini sangat mewarnai sahur bersama yang kemudian berbaur dengan hadirin lainnya.

Di lokasi itu terlihat tak ada kasta, padahal terdapat para pejabat, para ulama, anggota kepolisian, anggota TNI, LSM, dan komponen lainnya yang menjadi satu dalam kebersamaan, sebuah kegiatan yang dinilai banyak orang sebagai yang unik untuk NKRI.

“Tujuan acara ini untuk menjalin silaturahmi dengan warga sadar keamanan, ketertiban masyarakat (Kamtibmas) khususnya di wilayah perairan Banjarmasin,” ucap Untung Widodo.

“Kita ingin memasyarakatkan polisi dan mempolisikan masyarakat, artinya agar polisi bertindak santun dan ramah melayani masyarakat dalam menjaga keamanan dan sebaliknya masyarakat bisa menjadi polisi dengan senantiasa menjaga keamanan dalam upaya menindak kejahatan,” tambahnya.

Apalagi di Banjarmasin dari dulu dikenal adanya kejahatan di perairan, maka dengan kesatuan gerak antara polisi dan masyarakat diharapkan dapat meniadakan aksi kejahatan di perairan yang sudah jarang terdengar.

Polri lebih dituntut untuk menjalin kemitraan dengan semua unsur serta hadir di tengah-tengah masyarakat.

Yang jelas polisi selalu berharap masyarakat bisa membantu dan bekerja sama dengan pihak kepolisian dalam menjaga, menciptakan serta memelihara keamanan dan ketertiban di kota ini.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Banjarmasin Ikhsan Alhaq mengatakan kegiatan Sahur On The River itu luar biasa dan hanya ada di Banjarmasin, makanya akan dijadikan sebagai atraksi wisata.

“Kami berterima kasih kepada Satpol Air sebagai penggagas kegiatan ini walau sederhana tapi hasilnya luar biasa,” tuturnya.

Menurutnya, sahur bersama dalam wisata susur sungai merupakan model baru dalam atraksi wisata yang berada persis di lokasi destinasi wisata kawasan maskot Bekantan yang berdekatan dengan lokasi pasar terapung yang merupakan lokasi yang sudah dikenal luas di Kalsel maupun nusantara.

“Kita berharap atraksi-atraksi wisata semacam itu, harus digali dan diciptakan untuk menambah kesemarakan lokasi yang kini terus dipromosikan sebagai wisata andalan Kota Banjarmasin ini,” kata Ikhsan Alhaq.

Dalam kegiatan sahur bersama yang mulai dibudayakan di Kota Banjarmasin ini menjadi lebih menarik karena selain untuk sahur secara ramai-ramai juga disediakan arena hiburan.

Dalam setiap kali digelar sahur bersama ini selalu saja ada tampil hiburan tradisional, baik itu orkes gambus, musik panting, serta seni madihin (seni lisan) dan dalam acara terakhir selalu menampilkan musik klasik Banua Raya Shimpony yang banyak mengetengahkan lagu-lagu keagamaan dan lagu-lagu berirama Melayu.

Atraksi seni yang diselang-selingi dengan tausyiah para ulama dan wejangan pejabat termasuk wali kota ini, ternyata sudah menjadi “magnet”, sehingga selalu dihadiri pengunjung sekaligus berwisata susur sungai, karena tak sedikit pengunjung yang datang memanfaatkan sampan dan klotok.sahur

1

2

3

4

5

KALSEL PUNYA KURA KURA PALING TERANCAM DI DUNIA

tum tum

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,28/3 (2017)- Perburuan satwa liar memang menjadi momok dan pekerjaan rumah besar bagi Indonesia, serta menjadi salah satu penyebab utama penurunan potensi keanekaragaman hayati di negara ini.
Perburuan satwa liar terjadi di seluruh kawasan Indonesia, termasuk di Kalimantan Selatan.
Tingkat kesadaran dan pengetahuan masyarakat yang masih rendah membuat aktivitas perburuan dan jual beli hewan dilindungi masih marak ditemui.
Kebanyakan masyarakat tidak mengetahui bahwa hewan-hewan yang diperjualbelikan di media sosial maupun di pasar satwa adalah spesies terancam punah dan dilindungi.
Salah satunya adalah Tum-tum atau tuntong laut (Batagur borneoensis – Callagur borneoensis).
Tidak banyak masyarakat yang mengenal hewan eksotis yang satu ini, masyarakat pada umumnya menganggap tum-tum sama seperti kura-kura kebanyakan. Padahal hewan ini adalah kura-kura yang paling terancam di dunia, kata Zainuddin seorang pemerhati lingkungan Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin.
Tum-tum merupakan primadona bagi kalangan pehobi reptile. Warna merah dan putih pada kepala indukan jantan membuat harganya kerap melambung tinggi di pasaran.
Satu indukan dewasa tum-tum dapat dibandrol dengan harga jutaan rupiah. Selain dari keeksotisannya, penyebab tingginya harga pasaran hewan ini baik pada pasar legal hingga pasar gelap disebabkan oleh sulitnya mendapatkan hewan yang satu ini.
Menurut Zainudin yang juga peneliti muda Pusat Studi dan Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia Unlam menyebutkan tum-tum adalah hewan yang sangat langka.
“Tum-tum masuk ke dalam daftar 25 jenis kura-kura paling terancam di dunia,” katanya.
Tortoise and fresswater turttle specialist group dari IUCN menyebutkan bahwa dari 25 kura-kura paling terancam di dunia tersebut, lima diantaranya adalah hewan khas Indonesia, tum-tum salah satunya.
Kura-kura khas yang dulunya banyak dijumpai di Kalimantan, khususnya di Kalimantan Selatan (Kalsel) ini juga telah masuk dalam daftar red list lembaga perlindungan hewan internasional (IUCN) dengan kategori Critically Endangered (sangat terancam) dan oleh CITES (Convention on International Trade of Endagered Species) digolongkkan dalam Appendiks II yang berarti perdagangannya harus diawasi secara ketat” tandasnya menjelaskan.
Kawasan Kalsel identik dengan lahan basah, terdapat banyak habitat yang sesuai dengan satwa eksotis ini. Tum-tum umumnya menyukai perairan berlumpur, seperti kawasan payau dan mempunyai bentang pantai.
Terdapat beberapa kawasan konservasi yang menjadi habitat alami bagi tum-tum di kalimantan.
Namun diperkirakan hewan ini lebih banyak mempunyai persebaran diluar kawasan konservasi, sehingga pengawasan terhadap tindak laku elegal seperti perburuan sulit untuk dilakukan. Sebagai spesies yang masuk dalam prioritas perlindungan satwa nasional, Tum-tum wajib untuk dijaga kelestariannya.
“Masifnya perburuan terhadap tum-tum yang berlangsung merupakan faktor utama yang dapat mendorong tum-tum ke dalam jurang kepunahan, selain dampak dari rusak dan hilangnya habitat” ujar Zainudin.
Di Kalimantan Selatan terdapat dua daerah yang diduga menjadi kawasan perburuan tum-tum, khususnya Kalimantan Selatan bagian tenggara yang merupakan daerah pantai dan kawasan mangrove.
Namun demikian hampir satu dekade ini sudah jarang diketemukan populasi dan habitat tum-tum akibat lajunya kerusakan kawasan pantai dan mangrove dari alih fungsi lahan serta perburuan liar.
Selain itu perubahan iklim yang sangat ekstrim berdampak tingginya tingkat kegagalan penetasan telur, suhu yang tinggi dapat menyebabkan telur mengalami dehidrasi sehingga gagal untuk menetas. Untuk itu diperlukan upaya konservasi yang berfokus pada peningkatan dan penyadartahuan tentang pentingnya melestarikan tum-tum dan habitatnya.
“Sinergisitas semua pihak sangat diperlukan untuk mencegah kepunahan tum-tum di Kalsel maupun kawasan lainnya. Pengawasan akan animal traficking hendaknya juga dilakukan oleh masyarakat bukan hanya pihak BKSDA atau dinas terkait saja,”tuturnya.
“Oleh karenanya edukasi dan penyadartahuan kepada masyarakat sangat perlu untuk terus menerus dilakukan” kata Amalia Rezeki, ketua Pusat Studi dan Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia Unlam, menambahkan
Upaya sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat tertang gerakan perlindungan satwa kerap dilakukannya guna memberikan informasi kepada berbagai pihak tentang pentingnya untuk melindungi satwa dilingkungan sekitar kita.
Selain dilindungi oleh dunia internasional, tum-tum juga telah dilindungi oleh undang-undang di Indonesia. Seperti UU No. 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam dan UU No. 27 tahun 2007 tentang pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
Selain itu tum-tum juga termasuk kedalam spesies prioritas nasional kategori reptil dan amfibi di Indonesia berdasarkan Permenhut No. P.57/Menhut-II/2008 tentang arahan strategis konservasi spesies nasional 2008-2018.

tum1

BERANGAN-ANGAN, INAN/PANGGUNG DESA WISATA

dessaku

desaku

desaku1

 

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,25/3-2017 ()- Meniti jalan setapak dari satu hutan ke hutan lain, kemudian menelusuri sungai, naik jembatan gantung, melewati padang sawah, kentemu aneka pepohonan besar, dan diiringi bunyi burung elang, burung curiak, sesekali terdengar bunyi lutung (hirangan), ramainya bunyi katatangir, dan aneka bunyi lainnya yang membentuk “orkestra alam.”
“Sangat menyenangkan, membuat hati ini rasanya tenang sekali, kita terbiasa di kota yang bising, masuk desa rasanya hati ini damai, kapan lagi kita bang ke desa abang Desa Panggung atau Desa Inan, Kecamatan Paringin Selatan, Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan,” kata Nunuk Febriani anggota Forum Komunitas Hijau (FKH) Banjarmasin yang pertengahan Maret 2017 bertandang ke desa Panggung/Inan.
Lain lagi cerita, pak Mugeni seorang pensiunan berusia 76 tahun juga asal Kota Banjarmasin saat bertandang ke desa yang berdekatan dengan lereng Pegunungan Meratus ini, ia merasakan berada di desa jauh damai rasanya dibandingkan kota yang hiruk pikuk.
Bahkan saat berada di desa ini ia mencoba mandi di sebuah sungai, namanya sungai Pangkaranin, sekitar 500 meter dari jalan raya agak masuk ke dalam, di sungai ini ia ingin mandi berlama-lama, dan ia memisahkan diri dengan kawanan lainnya dan menyendiri.
Ternyata ia mandi di sungai yang airnya jernih tetapi warna agak ke cocacola-an itu telanjang bulat dan berendam berlama-lama di sungai itu tanpa sehelai kain pun menutup tubuhnya.
Ketika ditanya mengapa sampian telanjang apakah tak takut di gigit ular ia mengaku sama sekali tak takut diganggu binatang di sungai itu, bahkan menurutnya ia benar-benar menikmati.
Dalam pikirannya ia mencoba menjadi nenek moyang tempoe dulu tanpa ada pakaian lalu mandi di sungai yang masih alamiah seperti itu apa rasanya, lalu ia mencoba merasakan sejuk air, bagaimana rasanya resapan air alam langsung ke badan tanpa ada kain penghalang,  merasakan ditempuh arus air, seraya mendengarkan bunyi gemericik  air, bunyi semilir angin yang menerpa pepohonan, lalu ia mencoba menikmati bunyi binatang kecil di sungai itu dengan seksama, lalu buni burung di atas beterbangan, sekali bunyi kera.
“Eh ternyata dunia ini nikmat sekali, eh damai sekali, nikmat apa yang kau dustakan, asal kita benar-benar bisa menikmatinya,” kata orang tua mantan Kepala Dinas Pariwisata Kota Banjarmasin yang getol menggalakan dunia wisata di wilayah Banjarmasin dan sekitarnya.
Lain lagi cerita Mohammad Ary seorang aktivis lingkungan dan petinggi di Perguruan Tinggi Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) ini, sehari berada di kampung ini rasanya tak cukup seharusnya berminggu-minggu, tuturnya, karena melalui matanya telinganya , dan perasanaan ia cermati satu per satu di desa itu.
“Kalau melihat potensi alam, lahan yang subur, mustahil orang desa ini miskin, karena saya lihat tanaman cabai saja begitu suburnya, apalagi tanaman lain, kalau ada lahan satu hektare saja, sudah cukup kaya untuk menjalani kehidupan di desa ini, asal warga desa tidak malas bekerja menggarap lahan.
Ia mebcoba mencermati satu persatu pohon dan tanaman, semunya potensi ekonomi tinggi, banyak pohon gaharu, banyak pohon buah, dan sebagainya.
“Lihat ini ada pohon besar kusi mungkin usianya 300 tahun lebih, ini sangat bernilai sebagai warisan alam, ini kalau dipublikasikan tentu akan menarik orang datang ke desa ini, ini harus dipelihara sebagai lokasi penelitian, pendidikan, dan wisata,” kata Kepala Bagian Kerjasama Luar Negeri Unlam ini.
Sebagian orang yang pernah berkunjung ke desa ini selalu ingin mengulangi lagi kunjungannya, karena bisa menikmati suasana kampung dengan sambutan warga yang ramah, bisa merasakan bagaimana bercengkrama di “warung” dalam budaya mewarung, bisa menikmati ikut maaruah ( selamatan), sholat berjemaah di surau, atau ikut ke padang karet untuk nyadap lateks karet di kebun.
Banyak pilihan untuk merasa kehidupan yang sesungguhnya di desa ini, ada pemandian yang disebut “kolam jakatarub” ada beberapa pohon besar dengan diameter dua meter, ada sungai mengalir deras yakni sungai pitab dengan aneka kehidupannya seperti bisa menikmati mencari kijing (kerang sungai), mencari ketuyung (siput sungai), mencari daun paku (pakis) yang banyak dipantai sungai, atau bahkan mencari buah-buah hutan yang tak mungkin bisa ditemukan di perkotaan.
Bahkan beberapa kru televisi nasional, sepeti program si bolang, petualangan, makanan asal, di dol dan lainnya sudah beberapa kali melakukan liputan di desa ini, para kru televisi nasional yang datang dari Jakarta ini, meliput bagaimana memperoleh madu kelulut, atau bagaimana mencari ikan dengan cara membumbun, menantai, atau bagalau.
Lalu ada juga liputan mencari kulat karikit, kulat patiti, kulat lamak baung, kemudian mencari kijing dan sebagainya dan sudah puluhan kali liputan televisi nasional tertutama Trans7 .
Melihat potensi tersebut maka aku penulis sebagai seorang asal desa ini berkeinginan menciptakan desa ini sebagai desa wisata, tentu desa ini lebih dibenahi dan harus memperoleh dukungan semua pihak, siapa tahu desa ini kian maju dan warganya kian sejahtera.
Untuk menciptakan desa wisata desaku, yang berjarak sekitar 200 kilometer dari Banjarmasin,.atau sekitar tujuh kilometer dari Paringin ibukota Kabupaten Balangan,  tentu akses telepon dan internet harus mudah, kamudian akses jalan ke desa nyaman dan dari desa ke lokasi-lokasi yang menjadi perhatian pengunjung harus ada jalan yang mudah.
Umpamanya saja, di desa ini yang sudah dikenal, adalah lebah kalulut maka harus ada peternakan lebah kelulut ini dan alhamdulillah sudah dilakukan warga.
Lalu di desa ini ada beberapa pohon besar yang sebenarnya sangat diminati wisata makanya jalan ke arah pohon besar ini juga harus mudah, pohon besar tercatat Pohon Kusi, Pohon durian Lahung, pohon Binjai Wanyi, dan Pohon Tandui.

Lalu ada sungai-sungai kecil sebagai lokasi pemandian, ada petualangan ke gunung.
Di kampung ini masih ada kera besar yang disebut Bekantan (Nasalis larvatus), di sini ada tupai besar panjang hampir satu meter yang disebut kerawak atau tengkarawak, ada pula binatang kuung sejenis tokek tetapi sangat besar seperti kura-kura namun bisa terbang dari pohon ke pohon, di sini banyak kaluang atau kalong atau  kelalawar besar, ada pula kancil, trenggiling, dan adapula binatang Sikak bentuk persis  tupai tetapi agak hitam tak bisa naik pohon hanya di tanah.
Tanaman selain aneka anggrek dan buah-buahan juga ada banyak tanaman obat, dulu disebut telunjuk langit, ada pelungsur ular, bahkan ada tanaman beracun kecubung, jelatang, kerangka hirang, penyambung jawa, dan ratusan lain spicies tanaman langka.
Yang paling menarik di desa ini adanya danau tabat basar, dengan danau tabat besar ini jika gulma sungai atau kayapu di lokasi itu dibersihkan tentu sungainya lebih luas, lalu di lokasi ini mudah dijangkau dengan jalan darat, dibuatkan lapangan parkir kendaraan, lapangan pertunjukan jika ada pertunjukan, lalu dibuatkan rakit bambu, adan jukung atau sampan, biar siapa naik rakit atau jukung bisa membayar untuk kas desa, buatkan lokasi untuk foto selfie berbentuk amur atau tanda cinta, sehingga siapa berfoto di lokasi ini maka akan tahu itu berada di tabat basar.
Apalagi jika di dekat ini dibuatkan rumah pohon, atau rumah yang dibangun dari empat pohon  naik ke rumah pakai tangga dan dari rumah bisa melihat pemandangan di sekelilingnya. Tak usah besar yang penting di rumah ini bisa duduk dan bisa memfoto alam sekelilingnya.
Masyarakat sini sudah punya atraksi, seperti orkes dangdut, baanalan (pantul), ada jua ondel-ondel ala balangan, ada bambarungan, ada kuda gepang dan sebagainya sebagai atraksi wisata.
Sementara kuliner tentu di sini unik ada mandai, ada kulat kerikit, ada pucuk paku, kalakai, daun telunjuk langit, makanan keringnya ada rimpi pisang, ada rimpi tiwadak, keripik dan lainnya. Tinggal bagaimana membuat kerajinan tangan sebagai barang cendramata.
Jika semua ini diangan-angan kan ,  tentu adanya dukungan pemerintah dan masyarakat maka desa Panggung/Inan ini akan terwujud sebagai desa wisata.

sungaiku sungaiku1

pondok pondok1

jembatan gantung jembatan gantung1

santai pohon besar

watangan watangan1

anak hairudin lampau

Aruhan

aruh aruhan

aruhan1 aruhan2

lalapan

usung anggrek

durian panjang  butah6

buah-buahan

kasturi mundar
kepayang manggis

langsat lua

gambis

binatang

Bekantan dan Tengkarawak

bekantan tangkarawak

kulat

kulat kulat1

baulah gula habang

gula habang

mandian

danau anihing  mandian

mandian1

Kuliner

waluh mandai

Gangan walut

waluitmandai1

Rimpi tiwadak

rimpi tiwadak

petualang

sepeda

BANJARMASIN BERI KEMUDAHAN INVESTASI

Banjarmasin,15/9 (Antara)- Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin,Kalimantan Selatan, melalui Dinas Pariwisata Seni dan Budaya (Disparsenibud) setempat berjanji memberikan kemudahan berbagai hal perijinan bagi investor yang ingin berinvestasi sektor jasa kepariwisataan.
Hal tersebut tak lain agar investasi sektor kepariwisataan bisa berkembang sesuai kebutuhan sekarang, dan tujuannya tak lain adalah meningkatkan kunjungan wisman dan wisnu ke Banjarmasin, kata Kepala Bidang Pengembangan Pariwisata Disparsenibud Mohammad Khozaimi di Banjarmasin, Kamis.
Ia mencontohkan seperti kemudahan dalam perizinan pengelolaan perhotelan, hal ini bisa dilihat dari jumlah hotel yang mencapai 80 buah dengan lokasi terpusat di tengah kota dan menyebar di lokasi-lokasi strategis lainnya.
Berikutnya juga dalam perizinan usaha restauran dan rumah makan. Disparsenibud memberikan target hanya dalam waktu seminggu rekomendasi perizinan dari Disparsenibud sudah dapat diperoleh.
Harapannya dengan memberikan kemudahan-kemudahan ini para pengelola hotel dan rumah makan menjadi tertib dan termotivasi memberikan pelayanan berbasis keamanan, kenyamanan, dan berbudaya kepada wisman dan wisnu yang berkunjung ke Kota Banjarmasin.
Kota Banjarmasin dengan keeksotisan budaya sungainya menjadi aset penting dalam meningkatkan pembangunan dan potensi pariwisatanya.
Disparsenibud mulai menangkap peluang untuk menarik investor sehingga mau bekerjasama dalam mengelola potensi kota guna meningkatkan pendapatan daerah.
Harapan kedepannya adalah Banjarmasin semakin potensial dengan paket wisata susur sungai.
Sehingga diharapkan Banjarmasin memiliki fasilitas dermaga yang refresentatif dengan kapal-kapal wisata dengan daya muat lebih besar sekitar 100 orang penumpang.
Kapal-kapal ini menjadi pilihan yang menyenangkan untuk menikmati wisata susur sungai dengan menyinggahi 36 destinasi wisata di sekeliling Kota Banjarmasin.
Pengembangan selanjutnya, akan digagas konsep restoran terapung dan fungsi cottage di rumah lanting.
Toko-toko souvenir dengan desain menarik berkonstruksi terapung dan panggung di sepanjang tepian sungai, kata Khuzaimi yang juga anggota dari Masyarakat Peduli Sungai 9Melingai) ini.
Pengunjung dapat bersinggah dan berbelanja secara langsung tanpa harus keluar dari kelotok (drive thru) namun juga bisa mampir dan bersinggah sambil menikmati suasana sungai di cafe-café terapung yang didesain menyatu dengan toko-toko souvenir.
Banyak sekali mimpi dan harapan Disparsenibud yang mulai diinisiasi bersama tim desain Arsitektur Universitas Lambung Mangkurat (ULM) sebagai mitra menuju Banjarmasin yang lebih baik, beridentitas dan berbudaya sungai.
Semoga ini menjadi kenyataan yang menyenangkan, “ayo ke Banjarmasin.” katanya dengan suara agak nyaring

jimi

MECIPTAKAN MAGNET EKONOMI SUNGAI BANJARMASIN

Banjarmasin – Hamparan seluas sekitar 98 kilometer persegi itu awalnya hanyalah rawa-rawa kemudian dibelah-belah lagi tak kurang oleh 102 sungai besar dan kecil. Kali besarnya adalah Sungai Martapura yang membelah Kota Banjarmasin dan Sungai Barito yang menjadi pembatas sisi barat.
Lokasi yang dulunya konon dipenuhi hutan galam dan hutan bakung itu memang sejak 490 tahun sudah memiliki sebuah perkampungan kecil yang berdasarkan sejarah disebut Bandarmasih. Perkampungan ini kemudian berkembang menjadi kampung besar bahkan sempat ada kerajaannya.

Di kawasan ini tak ada sumber daya alam berupa bahan tambang, tak ada juga hutan hingga tak ada kayu dan hasil hutan lainnya. Yang ada hanyalah aliran sungai yang melimpah, sedikit ada persawahan yang kini sudah berubah fungsi menjadi kawasan perkotaan yang sekarang disebut Banjarmasin, ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan.

“Bagaimana kita membangun kota ini, tak ada sumber daya alam berupa tambang dan hutan, yang ada hanyalah sungai, makanya tak ada pilihan lain, kecuali sungai inilah yang akan ‘disulap’ sebagai penggerak ekonomi kota,” kata Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina.

Pernyataan wali kota itu agaknya dibarengi dengan kebijakan-kebijakan pemkot setempat, hingga semua satuan kerja perangkat daerah (SKPD) diminta harus berorientasi ke sungai dalam program kerjanya.

Geliat menganak-emaskan sungai agaknya sudah kelihatan sejak wali kota sebelumnya yang dipimpin Haji Muhidin dengan membangun siring/tepi sungai Jalan Tendean dan Jalan Sudirman serta dermaga angkutan sungai.

Sudah lebih dari Rp150 miliar dana digelontorkan untuk membangun kedua siring atau tepi/bantaran sungai tersebut, baik dari APBD setempat tetapi lebih besar dari APBN Kementerian Pekerjaan Umum.

Sekarang keberadaan siring tersebut telah memberikan arti cukup berarti yang mengubah wajah kota ke arah “kota sungai,” karena kawasan tersebut menjadi semacam “water front city”.

Di kedua siring tersebut terlihat aneka tanaman hias, lampu-lampu hias, dan lokasi (tempat) bagi wisatawan untuk bercengkerama sambil menikmati jagung bakar dan makanan khas lainnya.

Di wilayah ini terdapat pasar terapung dengan aneka barang yang dijual seperti hasil alam berupa buah-buahan, sayuran, ikan, dan lainnya dijualbelikan oleh ibu-ibu berpakaian khas menggunakan jukung (sampan).

Ada pula 80 buah “klotok” (perahu bermsin) wisata yang hilir mudik yang mengajak wisatawan menyusuri sungai dengan tarif hanya Rp5.000 per orang.

Wisata susur sungai sudah menjadi andalan merangsang wisatawan lokal dan mancanegara datang ke wilayah berjuluk “kota dengan seribu sungai” ini.

Di lokasi itu pula ada menara pandang (pantau) berlantai empat yang didalamnya menjadi lokasi pertemuan, ada stan cindera mata, dan pusat kuliner.

Belum lagi berdiri ikon kota yang disebut sebagai monumen Bekantan atau patung kera berhidung panjang (Nasalis larvatus), sehingga bagi siapapun yang berkunjung lalu berfoto dengan latar belakang patung tersebut, maka akan diketahui jika saat foto itu dibuat sedang berada di Banjarmasin.

Hampir sama seperti patung singa di kota Singapura, yang sama-sama pula mengeluarkan air mancur dari mulutnya.

Dalam upaya menciptakan sungai sebagai yang terdepan itu, Pemkot Banjarmasin kembali membangun siring lebih panjang lagi. Jika sekarang sudah dirbangun lima kilometer, kini masih dilesaikan agar menjadi 10 kilometer.

Jika sudah mencapai 10 kilometer, berdasarkan keterangan Pemkot nantinya akan dibangun lagi beberapa lokasi dan fasilitas wisata di kawasan siring, seperti ada kampung ketupat, kampung sasirangan, dan kampung iwak (ikan).
Ciptakan Gula
Keinginan untuk menjadikan sungai sebagai magnet ekonomi itu agaknya memang sudah lama, tetapi kurang didukung oleh masyarakat setempat. Terbukti sungai banyak menjadi “bak sampah”, penduduk dengan begitu mudahnya membuang sampah ke sungai.

Akibatnya sungai seakan menjadi “gudang” barang rongsokan, karena sampahnya ada yang kasur bekas, lemari kayu, sepeda bekas, kulkas rusak, kipas angin rusak, dan aneka barang rongsokan lainnya.

Belum lagi sungai mendangkal karena sidementasi, sungai diserang gulma seperti eceng gondok hingga mampet, sungai tempat buang hajat (air besar) hingga menciptakan kontaminasi baktari koliform, sungai terkontaminasi logam, keruh, bau, dan aneka persoalan lainnya.

Kemudian sungai pun tak bisa terelakan lagi menjadi permukiman khususnya di bantarannya. Akibatnya sungai menyempit dan ada pula sungai yang kemudian mati.

Bahkan yang sangat memprihatinkan semua rumah penduduk menjadikan kawasan sungai sebagai bagian belakang rumah, sementara muka rumah menghadap ke jalan raya, akibatnya merusak pemandangan dan keindahan kawasan sungai.

Sungai juga tempat industri kayu lapis, tempat industri karet, tempat industri rumah tangga lainnya, akibatnya sungai penuh dengan limbah industri, sungguh memprihatinkan.

Banyak aturan dibuat Pemkot setempat dalam upaya menyelamatkan perwajahan sungai itu agar elok, tetapi aturan tersebut hanyalah bagaikan “macan ompong.” saja.

Oleh karena itu seyogianya pemerintah berpikir tak usah “memaksa” warga setempat untuk menyelamatkan sungai dengan perda-perda, tetapi bagaimana menjadikan sungai itu bagaikan barang pemanis atau gula.

Jika sungai menjadi “gula” atau pemanis kehidupan tentu keberadaannya akan menjadi daya pikat kuat bagi kehidupan warga di wilayah yang berpenduduk sekitar 800 ribu jiwa tersebut. Mereka akan dengan sendirinya memelihara sungai lalu menjadikannya sebagai barang atau lokasi yang berharga.

Jika sungai sudah menjadi tempat beharga, maka warga sudah bisa dipastikan tidak lagi membuang sampah sembarangan ke sungai. Rumah yang tadinya membelakangi sungai bertahap akan diubah oleh pemiliknya menghadap ke sungai sehingga sungai menjadi indah.

Begitu juga berbagai dunia usaha yang tadinya tak terpikir ke sungai bisa jadi menjadikan sungai sebagai harapan baru bagi kehudupan selanjutnya.

Upaya menciptakan “gula” itu bisa dicontoh di beberapa kota besar seperti Bangkok, Singapura, Venesia Italia dan Belanda.

Umpamanya saja di sungai berdiri aneka penggerak ekonomi, selain pasar terapung. Di sungai juga banyak restauran terapung, rumah-rumah terapung, ada tempat permainan, lokasi pusat oleh-oleh, hotel terapung, ada panggung hiburan, atraksi budaya, dan aneka fasilitas wisata.

Karena itu, mulai sekarang ayo jual keberadaan sungai kepada kalangan investor, beri kemudahan berinvestasi, beri gambaran peluang potensi keuntungan. Dengan demikian investor bisa berbondong-bondong turut membangun Kota Banjarmasin menjadi sebuah wilayah yang tak kalah dengan venesia Italia. sungaisungai1

NIKMATI “PULAU PINUS” BERWISATA DI TENGAH DANAU

Oleh Hasan Zainuddin

 
Mataku tak berkedip saat pandangan terarah ke gaun panjang warna coklat kemerahan yang berjalan di tepian Pulau Pinus atau dekat bibir danau Riam Kanan, Desa Twingan Baru, Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.
Wanita yang berumur sekitar 30 tahun itu begitu asyiknya berfoto ria dengan teman-temannya, sesekali ku perhatikan ada perasaan kenal dengan wanita yang berkulit putih dan berjilbab tersebut.
Pura-pura ku juga berfoto seraya mendekat sekelompok wanita yang ternyata dari kota intan “Martapura” ini, agar bisa lebih memperhatikan wanita yang berlipstik merah keunguan ini.
Setelah ku mendekat ternyata wanita itu tampak terperanjat. “Rasanya ulun (aku) kenal dengan sampian ini, tapi dimanalah,” kata wanita ini dengan lembutnya.
“Aku juga rasa kenal,” kataku menjawab seraya berpura-pura lagi mengambil foto pemandangan indah di kawasan objek wisata andalan Kabupaten Banjar, Kalsel ini.
“Oh ingat, ingat sudah, sampian pak Hasan Zainuddin, ya kan” katanya bertanya. “Betul” kataku singkat.
Masih-masih ku mengingat-ngingat kenal dimana orang ini, wajahnya begitu akrab di perasaan ku, wah bingung ah pusing, lupa-lupa, gumamku.
“Kita kan sering ngobrol,”katanya lagi, wah wah tambah bingung aku, sering ngobrol, ngobrol dimana fikirku lagi.
“Kita kan sering ngobrol lewat inbox Facebook (FB)” katanya sambil tertawa. “Atagfirullah, ya ya ya baru aku ingat, kamu kan Dira,” kataku seraya disambut dengan anggukkan kepala beserta iringan senyum manisnya.
Tak kusangka ternyata pertemuan “kopi darat” dengan kawan FB ini justru berada di lokasi yang penuh dengan sentuhan nuansa alam Pulau Pinus di tengah Danau Riam Kanan yang dikelilingi oleh pemandangan lembah, hutan, dan Pegunungan Meratus yang tampak membiru.
Setelah ngobrol sebentar, lalu berpisah dengan iringan lambaian tangan yang lembut, tentu saja dibarengi oleh pandangan mata kawan-kawannya yang kesemuanya adalah wanita.
“Daaah,” kataku, dan “daaah” katanya pula seraya kulangkahkan kaki menuju sebuah lokasi tempat duduk yang persis berada di bawah pepohonan pinus yang menjulang tinggi di hamparan delta yang tak terlalu luas di kawasan destinasi wisata alam itu.

Wisata alam

Pulau Pinus berada di tengah danau Riam Kanan atau sebuah waduk buatan yang luasnya 8000 hektare, danau ini memiliki fungsi penting sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air, pengatur irigasi, mencegah erosi dan banjir yang merupakan bagian dari Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam.
Danau Riam Kanan terletak 65 Kilometer di sebelah Tenggara Kota Banjarmasin. Jika berangkat dari kota Banjarmasin maka melewati kota Banjarbaru menuju desa Aranio.
Kondisi jalan untuk menuju ke lokasi danau sudah cukup baik, dapat dilewati oleh kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat maupun angkutan umum pedesaan.
Penulis beserta 13 orang anggota rombongan datang ke wisata ini Minggu (17/7) lalu, selain ke Pulau Pinus juga menikmati wisata lainnya di wilayah yang dikenal sebagai kawasan penelitian, pendidikan, dan konservasi ini.
Setelah tiba di pelabuhan Aranio rombongan menyewa sebuah klotok (perahu bermesin) Rp400 ribu menyurusi danau bendungan yang dulu dibangun dengan waktu hampir 10 tahun tersebut.
Perjalanan menelan waktu sekitar satu jam itu menyusuri hanya sebagian dari luasan danau dengan tujuan Desa Tiwingan Baru.
Dalam perjalanan susur danau rombongan bisa menikmati aneka pemandangan alam yang indah, selain pepohonan yang rindang, lembah-lembah juga terlihat deretan penunungan meratus yang membiru.
Terlihat pula aktivitas nelayan dengan sampan kecil lagi memancing, menjala, dan merenggi. Akan tetapi, yang paling banyak terlihat ratusan mungkin ribuan buah keramba yang mengapung di sepanjang danau yang membiru dari sebuah bendungan yang diresmikan pada tahun 1973 oleh presiden ke-2 RI H.M. Soeharto.
Tujuan rombongan ini ke desa, terutama ada rumah penduduk yang dikontak lebih awal untuk memasakan nasi makan siang yang letak rumah persis di bibir bendungan.
Setibanya di rumah tersebut ternyata oleh tuan rumah sudah dihidangkan makan siang dengan aneka saturan alam, seperti terung rebus, daun singkong, tumun, kacang-kacangan, dengan ikan nila besar dan ikan mas besar di bakar.
Tentu saja dibarengi dengan sambal terasi yang pedas tak ketinggalan “cacapan” (bagian makanan suku Banjar) terbuat dari bawang merah, terasi bakar, irisan mangga muda, dan cabai rawit.
Ditambah lokasi persis di pelataran rumah yang menghadap kepantai danau dengan hemburan angin sepui-sepui dan suara gemercik gelombang danau yang menyentuh bibir pantai menyebabkan semua anggota rombongan makan dengan lahapnya.
“Selain masakannya memang enak, ditambah perut juga lapar, duh makannya jadi lahap, sampai-sampai perut, kok, rasa kencang,” kata Afrizaldi, anggota rombongan, seraya memperlihatkan perutnya.
Setelah istirahat sebentar sambil tiduran rombongan melanjutkan perjalanan hanya jalan kaki ke Pulau Pinus yang juga sebuah objek wisata kawasan riam kanan. Saat jalan kaki harus menyeberangi titian (jembatan kecil) panjang terbuat dari kayu ulin menyeberangi danau.
Di lokasi ini anggota sempat berfoto bersama atau sebagian lagi swafoto (selfie) sendiri-sendiri dengan latar belakang pemandangan di danau yang sudah menjadi destinasi wisata andalan Kalsel ini.
Saat di Pulau Pinus anggota rombongan menyebar ada yang meletakan tikar untuk tiduran, ada yang duduk di pandai sambil foto ada pula yang nongkrong di warung seraya menghirup segarnya air kelapa.
Berdasarkan pengamatan penulis, kawasan ini hanya ditumbuhi pohon pinus, di bawah pepohonan terasa dingin karena naung oleh kanopi-kanopi daun pinus hingga terhindar teriknya sinaran matahari.
Wisatawan saat kedatangan penulis memang tak terlalu banyak mungkin ada sekitar seratus orang, dan mereka kebanyakan duduk berkelompok sambil ngobrol seraya menikmati makanan agaknya yang sudah dibawa dari rumah.
Tapi sebagian wisatawan lagi nongkrong dan berjanda di bangku duduk yang memang banyak disediakan oleh pengelola lokasi tersebut di bibir pantai pulau menghadap ke tengah danau.
Penulis sendiri sempat pula duduk dan berfoto selfie sesekali bertegur sapa dengan rombongan wisatawan lainnya kebanyakan adalah wisatawan lokal (wilayah Kalsel).
Setelah lama di Pulau Pinus rombongan rencananya naik ke Bukit Atas sebuah lokasi paling tinggi di hamparan wisata Riam Kanan. Akan tetapi, karena waktu sudah menunjukan pukul 16.00 Wita, kemudian diputuskan untuk kembali saja.
Wilayah Riam Kanan merupakan objek wisata yang sudah dipromosikan luas ke nasional dan internasional karena selain ada bendungan, lembah, riam di objek wisata Sungai Kembang, Pulau Pinus, dan Bukit Atas, dan banyak lagi objek wisata lainnya.

 

 

BERKEMAH SAMBIL NIKMATI INDAHNYA EMBUN PAGI TAHURA

Oleh Hasan Zainuddin
Tatkala membuka mata saat bangun pagi di lokasi perkemahan Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam kawasan Riam Kanan, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan, terlihat cahaya sang surya mengintip di balik pepohonan di hutan yang memiliki “segudang” spicies tanaman ini.

Sementara gumpalan embun pagi di dedaunan pohon kawasan yang memiliki aneka spicies satwa itupun terlihat seakan “bergelinjang manja” saat tersentuh sinaran mentari pagi yang cerah.

Suara “orkestra” aneka burung dan binatang lain di kawasan seluas 112 ribu hektare kawasan Pegunungan Meratus tersebut seakan melenyapkan perasaan lelah waktu menempuh perjalanan ke kawasan itu.

“Cuaca masih terasa sangat dingin, selimut tebal masih membalut tubuhku, yang membuat ku seakan enggan beranjak dari tempat tidur di perkemahan kawasan hutan lindung tersebut,” kata Abdul Kadir seorang mahasiswa FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin jurusan sejarah ini.

Abdul Kadir yang juga bergelar Utuh Tawing ini bersama penulis dan 12 orang rombongan melakukan perkemahan di wilayah tersebut, Sabtu malam (16/7) lalu, selain menikmati suasana alam sekaligus melakukan penghijauan dengan menanam 200 bibit pohon penghijauan.

Abdul Kadir melakukan aksi hijau tersebut bersama anggota komunitas Sepeda Antik (Saban) Banjarmasin yang sekaligus pula anggota Forum Komunitas Hijau (FKH) setempat.

Rombongan datang ke lokasi yang termasuk kawasan hutan pendidikan ini hanya mengayuh sepeda tua (ontel) dengan jarak tempuh sekitar 60 kilometer dari Kota Banjarmasin, guna menunjukkan komunitas ini cinta lingkungan dengan menggunakan sarana angkutan ramah alam, untuk mengurangi produksi emisi karbon di udara dan menekan pemakaian energi yang tak bisa terbarukan.

Dalam perkemahan kelompok yang mengaku “sahabat alam” ini sempat berdikusi kecil tentang berbagai hal menyangkut kelestarian lingkungan ternasuk Tahura Sultan adam yang sebenarnya adalah kawasan “Menara Air” atau wilayah resapan air untuk sungai-sungai di wilayah paling selatan pulau trerbesar nusantara ini.

“Hutan ini terjaga, maka kehidupan kita di Banjarmasin dan sekitarnya akan terjada, tetapi jika hutan ini rusak maka tamatlah riwayat kita, karena tak akan ada lagi suplai air bersih bagi kita,” kata Zany Thaluk dalam diskusi tersebut.

Mohammad Ary yang merupakan pimpinan kelompok ini berbicara panjang lebar mengenai kelestarian lingkungan sebagai kehidupan yang berkelanjutan.

“Saat ini alam sudah rusak ditandai dengan asap, kering, kebakaran hutan saat kemarau banjir dan tanah longsor saat musim hujan, musibah itu bisa jadi akibat olah manusia-manusia sebelumnya, kita harus merehabilitasi, jika tidak maka anak cucu kita kemudian hari kian menderita,”katanya memberi wejangan.

Oleh karena, tambah Mohammad Ary, saatnya kelompok ini berkiprah walau sedikit tetapi ikut mengembalikan kerusakan alam ini, dan semoga ini menjadi motivasi bagi masyarakat luas untuk berbuat serupa.

Saban dan FKH ini sudah menanam sekitar 7000 pohon pinang, 4000 pohon trambesi, ribuan lagi kumpulan pohon aren, palam putri, palam, asam jawa, petai, jengkol pohon buah-buahan di berbagai lokasi baik di Banjarmasin dan sekitarnya sejak tujuh tahun keberadaan organisasi kecil dari kelompok pecinta liungkungan ini.

Usai diskusi di kemah dekat bibir sungai kecil di wilayah perkemahan tersebut, kelompok ini kemudian berpetulang ke tengah hutan.

“Coba kita masuk hutan, kita nikmati suasana alam di tengah kegelapan yang suasananya terdengar nyanyian suara binatang malam jangkrik dan belalang,”kata Muhammad Ari seraya mempipin perjalanan jelajah hutan tersebut.

Bermodalkan lampu sinter dan penerangan kecil di telpon genggam satu persatu lokasi hutan dan sungai dilalui, dan rombongan ingin sekali ketemu binang seperti landak, kancil, atau rusa.

Tetapi perjalanan ke hutan dimulai sekitar pukul 01:00 Wita tersebut tak berlangsung lama, karena takut ke sasar akhirnya balik ke kemah dan perasaan ingin ketemu binatang di tengah malam tak kesampaian kecuali hanya beberapa burung ditemui bertengger di dahan.
Alami Kerusakan

Tahura Sultan Adam berdasarkan catatan termasuk hutan lindung Riam Kanan, kawasan Suaka Margasatwa, dan hutan pendidikan.

Penulis sendiri beberapa waktu lalu sempat bertanya kepada Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Tahura Sultan Adam, masih dijabat Akhmad Ridhani mengakui lahan wilayahnya terjadi kerusakan.

Sekitar 30 persen lahan Tahura kini kritis, atau sekitar 40 ribu hektare dari luas keseluruhan 112 ribu hektare.

¿Kondisi tersebut sungguh merisaukan karena itu diperlukan upaya rehabilitasi,mengingat kawasan tersebut merupakan kawasan resapan air,¿ katanya saat mendampingi Bupati Banjar, Sultan Khairul Saleh kala melakukan penanaman massal bibit penghijauan di lokasi tersebut.

¿Hingga 2010 luasan lahan kritis yang sudah ditanami bibit pohon mencapai 100 hektare dan luasannya akan terus ditingkatkan untuk mengurangi banyaknya lahan kritis,¿ katanya seraya menyebutkan tanaman yang dikembangkan tersebut adalah jenis buah-buahan dan jenis kayu khas setempat, seperti ulin, kruing, sintuk dan lainnya.

Dijelaskan, terjadinya lahan kritis di kawasan Tahura bukan disebabkan penebangan liar tetapi lebih banyak akibat terjadinya kebakaran hutan sehingga membuat areal sekitarnya kritis karena tidak ditumbuhi pepohonan.

Selain akibat kebakaran hutan dan lahan, munculnya lahan kritis juga diduga pembukaan kawasan menjadi ladang dan kebun bagi sebagian masyarakat setempat untuk ditanami pohon-pohon produktif.

Dikatakannya, upaya yang dilakukan untuk mengurangi luasan lahan kritis adalah rehabilitasi lahan melalui program penanaman bibit pohon baik yang dibiayai APBD Provinsi Kalsel, APBN maupun bantuan pihak ketiga.

Pihak ketiga yang memberikan dana penghijauan di areal yang menjadi kawasan penelitian, pendidikan, dan wisata alam tersebut, selain dari donatur luar negeri juga dari berbagai perusahaan, termasuk dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Banjarmasin.

¿Setiap tahun melalui APBD Kalsel dialokasi anggaran untuk rehabilitasi lahan termasuk memanfaatkan dana APBN serta menjaring bantuan dari pihak ketiga terutama kalangan swasta,¿ ujarnya.

Ditambahkan, penanaman bibit pohon yang dibiayai APBD Kalsel setiap tahun mencapai luasan 10 hektare dan melalui APBN berhasil ditanami bibit pohon dengan luasan mencapai 40 hektare hingga 50 hektare.

¿Ke depan kami berupaya memfokuskan bantuan dari pihak ketiga sebagai bentuk partisipasi mereka terhadap upaya kepedulian lingkungan sehingga luasan lahan yang bisa ditanami lebih besar,¿ katanya.

Tahura Sultan Adam ditetapkan berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 52 Tahun 1989 secara administratif meliputi wilayah Kabupaten Banjar dan wilayah Kabupaten Tanah Laut.

Sejak tahun 2008 telah dibentuk UPT Dinas kehutanan Provinsi Kalsel Taman Hutan Raya Sultan Adam dengan Dasar Perda Nomor 6 Tahun 2008 tentang SOTK Perangkat Daerah Provinsi Kalsel dan Pergub Kalsel Nomor 8 Tahun 2008 tentang Pembentukan Tahura Sultan Adam.
Kawasan Wisata

Tahura termasuk kawasan wisata dan kawasan pendidikan karena di dalamnya terdapat hutan yang mengandung aneka jenis tanaman.

Tahura yang berekosistem hutan hujan tropika ini terdapat aneka flora dan fauna yang beberapa diantaranya spesifik Kalimantan, seperti meranti (Shorea spp), ulin (Eusideroxylon zwageri), kahingai (Santiria tomentosa).

Tanaman lain damar (Dipterocarpus spp.), pampahi (Ilexsimosa spp.), kuminjah laki (Memecylon leavigatum), keruing (Dipterocarpus grandiflorus), mawai (Caethocarpus grandiflorus), jambukan (Mesia sp.), kasai (Arthocarpus kemando), dan lain-lain.

Sedangkan faunanya terdapat bekantan (Nasalis larvatus), owa-owa (Hylobates muelleri), lutung merah (Presbytis rubicunda), beruang madu (Helarctos malayanus), rusa (Cervus unicolor), kijang merah (Muntiacus muntjak), kijang mas (Muntiacus atherodes), dan pelanduk (Tragulus javanicus).

Kemudian juga ada hewan landak (Hystrix brachyura), musang air (Cynogale benetti), macan dahan (Neofelis nebulosa), kuau/harui (Argusianus argus), rangkong badak (Buceros rhinoceros), enggang (Berenicornis comatus), elang hitam (Ictinaetus malayensis), elang bondol (Haliastur indus), raja udang sungai (Alcedo atthis), raja udang hutan (Halycon chloris), dan lain-lain.

Wilayah ini terdapat Waduk seluas lebih kurang 8.000 Ha dengan fungsi utama sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air satu-satunya di Provinsi Kalimantan Selatan. Berperan penting sebagai pengatur tata air, mencegah erosi dan banjir, sebagai objek wisata alam, danau/waduk ini memiliki bentang alam yang menarik dengan panorama danau, lembah dan bukit disekelilingnya serta untuk kegiatan olahraga air.

Objek wisata yang ada kawasan ini antara lain Pulau Pinus
Berupa pulau seluas lebih kurang tiga hektare terletak di tengah danau dapat ditempuh lebih kurang 15 menit dari Pelabuhan Tiwingan. Pulau ini didominasi oleh tanaman Pinus Merkussi.

Kemudian juga ada objek wisata Pulau Bukit Batas kurang lebih satu hektare berdekatan letaknya dengan pulau pinus, dapat ditempuh lebih kurang 30 menit dari pelabuhan Tiwingan. Seperti halnya dengan pulau pinus, kawasan ini cocok untuk rekreasi santai dan olahraga.

Lalu ada pula air terjun Surian, air terjun Batu Kumbang, dan air terjun Mandin Sawa yang sangat menunjang kegiatan Bina Cinta Alam. Dari sungai Hanaru dapat dicapai lebih kurang dua jam dengan menelusuri sungai Hanaru atau lebih kurang tiga jam melalui jalan patroli yang sudah ada.

Air Terjun Bagugur terletak di hulu sungai Tabatan. Dari desa Kalaan dapat ditempuh lebih kurang dua jam melalui jalan reboisasi dan areal bekas perladangan berpindah.

Bumi Perkemahan Awang Bangkal seluas enam hektare terletak di daerah Awang Bangkal. Tidak jauh dari jalan raya Banjarbaru ¿ Pelabuhan Tiwingan, berada didekat sungai Tambang Baru, sehingga mudah mendapatkan air. Bentang alam dari bukit disekelilingnya serta tepian sungai Tambang Baru merupakan daya tarik tersendiri.

Pusat Pengelola/Informasi di Mandiangin di daerah Mandiangin merupakan suatu komplek bangunan yaitu kantor pusat pengelola, kantor pusat informasi sumber daya alam, plaza dan bumi perkemahan. Di areal ini terdapat prasasti peresmian berdirinya Tahura Sultan Adam dan Puncak Penghijauan Nasional (PPN) ke 29 yang ditandatangani oleh Presiden RI Bapak Soeharto.

Di lokasi ini pula pusat pengelolaan hutan pendidikan Fakultas Kehutanan Unlam. Pada pengembangan selanjutnya kawasan ini dikembangkan menjadi arboretum, penangkaran satwa, taman safari, kolam renang, taman burung, bumi perkemahan dilengkapi dengan souvenir shop dan lain-lain.