PARADE BANJARMASIN SASIRANGAN FESTIVAL DIIKUTI RIBUAN PESERTA

bsf

etnik

etnik1

penuh cinta

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,()- Parade Banjarmasin Festival (BSF) yang merupakan puncak kegiatan BSF, Sabtu pagi di Banjarmasin meriah dengan diikuti ribuan peserta.
Pantauan di lapangan, menyaksikan farade tersebut diikuti bukan saja dari kalangan kalangan karyawan Pemkot Banjarmasin dan jajarannya, tetapi juga kalangan organisasi kemasyarakat, pelajar, mahasiswa, dan komunitas.
Farade berjalan kaki yang mengambil rute Jalan Lambung Mangkurat dari balaikota Jalan RE Martadinata terus ke Siring Tendean tersebut panjang peserta hampir satu kilometer.
Parade didahului oleh pemain drum band yang memainkan alatnya secara atraktif dan merekapun semuanya menggunakan kostum kain sasirangan.
Barisan kedua diiiringi oleh ibu-ibu PKK yang dipimpin Ketua PKK yang juga isteri Wali Kota Ibnu Sina, Siti Wasilah tersebut juga menggunakan kebaya sain sasirangan.
Hanya saja kelompok ibu-ibu isteri pejabat Pemkot Banjarmasin tidak berjalan kaki, tetapi menggunakan kendaraan semacam kereta, seraya mereka melambai-lambaikan tangan ke masyarakat yang menyaksikan parade tersebut.
Setelah itu baru diingi oleh para karyawan semua SKPD yang ada di Pemkot Banjarmasin, seraya mereka membawa spanduk nama SKPD masing-masing tentu dengan ajakan “YU Kita Pakai Sasirangan.”
Selain itu, juga akan kelompok pakaian Etnik yang agaknya peserta para model yang ada di Kota Banjarmasin, ada sekitar 30 pesetta pakaian etnik yang memberikan nuansa tersendiri dalam parade tersebut.
Tak kalah menarik, ratusan anak sekolah berpakaian seragam sairangan menggelar kain sepanjang ratusan meter seraya berjalan kaki mengikuti farade tersebut, kasin tersebut merupakan hasil dari olahan (menyirang) secara massal oleh mereka sendiri.
Kemudian yang cukup atraktif kelompok sepeda ontel dari Komunitas Sepeda Antik Banjarmasin (Saban), dengan aneka pakaian etnik, pakaian jadul, sneka pakaian lainnya semuanya juga menggunakan kain sasirangan.
Bahkan kelompok ontelis ini membawa pengeras suara yang cukup nyaring seraya membunyikan lagu-lagu berbahasa Banjar dengan syair syair kocak.
Farade tersebut berakhir di panggung hiburan Siring Tendean, dimana sudah menunggu puluhan pejabat, anggota DPRD Banjarmasin, serta pejabat terkait lainnya termasuk TNI dan Polri.
Aneka hiburan juga ditampilkan di panggung tersebut diantaranya Madihin Kocak oleh Anang Syahrani dan atraksi lainnya.
Dalam BSF dari 7-11 Maret ini merupakan BSF untuk kedua kali ini, menampilkan berbagai rangkaian acara untuk menyemarakan agenda wisata nasional ini.
Di antaranya menyirang oleh 150 pelajar dan 100 komunitas, lomba motif sasirangan, parade massal 4000 peserta mengambil star dari Balaikota, kemudian Fashion show, penobatan ambasador, pemilihan putri muslimah dan pemuda pelopor, bazar dan ekspo yang diikuti 50 stand dari seluruh kabupaten, kota se- Kalsel, serta forum diskusi sasirangan.

26

Iklan

WISATA SUSUR SUNGAI KARAU TEMUKAN VEGETASI EKSOTIS

hayaping1

limpasu

 

pohon binuang

batu putih

 

Oleh Hasan Zainuddin
Perahu bermesin yang ditumpangi menyusuri Sungai Karau yang dibendung tepatnya di Desa Batu Putih, Kecamatan Dusun Tengah, Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah, terus melaju dengan menyusuri aliran yang berliku-liku.

Sesekali perahu yang dikemudikan seorang pemandu wisata, Ajie, penduduk setempat, memperlambat lajunya lantaran banyak tunggul kayu yang terlihat di atas air, khawatir tertabrak, tunggul kayu itu bagian dari tanaman yang tenggelam setelah Sungai Karau bagian hulu dibendung menyebabkan sejumlah tamaman tenggelam.

Di kiri dan kanan sungai dipenuhi oleh vegetasi yang konon sebagian adalah tanaman khas setempat, yang memekarkan bebungaan yang indah dan harum, buah-buah yang bisa dimakan, serta aneka manfaat yang memberikan keuntungan bagi warga setempat.

Dalam perjalanan susur sungai selama sekitar dua jam, penulis menikmati pemandangan kiri kanan yang penuh dengan tanaman hutan, disertai bunyi-bunyi binatang kecil di hutan, burung, dan suara kera yang melahirkan “simponi” alam.

Udara terasa sejuk walau perjalanan sudah menjelang tengah hari. Terik matahari walau menyirami bumi, tapi seakan tak terasa panas lantaran perasaan terus menikmati pemandangan dan suasana alam yang eksotis.

Sesekali penulis meminta pemandu Ajie untuk memperlambat perahu kecilnya lantaran terlihat ada pohon yang buahnya bergelantungan, ada warna hijau dan warna kuning keemasan.

“Stop, stop,” kataku (penulis), “ada apa” kata Ajie, “aku lihat buah unik,” kataku, “oh ya” kata Ajie lagi.

Lalu perahu kecil itu dimatikan mesinnya, pelan-pelan meminggir dan merapat ke tepian, tempat sebatang pohon tegak berdiri penuh dengan buah-buah.

Buah tersebut menurut Ajie, namanya limpasu (Baccaurea Lanceolata), bagi penduduk setempat buah unik yang bisa dimakan tersebut kebanyakan dibuat kosmetika berupa pupur dingin (bedak) setelah dicampur dengan tepung beras.

Menurut Ajie lagi, buah itu banyak digunakan untuk membuat sambal lantaran rasanya yang asam agak khas, hingga jika dibuat sambal untuk makan akan memunculkan selera makan.

Kegunaan lain, bisa untuk mengusir tikus di sawah, setelah umpan tikus dicampur dengan racikan buah tersebut, maka tikus tak akan mengganggu lagi sawah penduduk setempat, konon setelah termakan buah itu gigi tikus akan terasa ngilu sehingga tak mampu lagi menyerang padi di sawah.

Menurut Ajie lagi, buah itu bagus jika digunakan langsung untuk membersihkan muka, untuk menghilangkan flek-flek hitam di wajah.

Caranya cari buah yang masak warna kuning lalu dibelah ambil bagian kulit langsung disapukan ke muka berulang-ulang, insya allah, flek di wajah akan hilang.

Lantaran terasa asam maka buah itupun sering pula digunakan oleh penduduk setempat, untuk membekukan lateks karet yang baru di sadap dari pohon karet, untuk mempermudah hasil sadapan karet dari kebun ke rumah untuk dijual.

Bahkan berdasarkan sebuah catatan yang diperoleh penulis buah Limpasu merupakan antioksidan (anti-radikal bebas). Semakin matang, semakin berkurang Vitamin C di dalamnya. Buah tersebut juga mengandung karbohidrat tinggi.

Di beberapa daerah di Kalteng, seperti di Sampit, limpasu kerap jadi sumber rasa masam pada Juhu Ansem (masakan tradisional). Mereka yang sekarang berusia 50-an ke atas mungkin pernah merasakan makanan tersebut.

Kalau untuk obat sebagian masyarakat Kalimantan menggunakan limpasu sebagai obat meriang. Bagian ini direbus kemudian airnya digunakan untuk mandi.

Bukan hanya limpasu yang banyak tumbuh di tepian sungai yang konon berhulu ke Pegunungan Meratus (Muller dan Schwaner) tersebut, tetapi juga banyak tumbuh pohon yang disebut “Hayaping” bentuknya menyerupai enau atau aren, tetapi pohonnya kecil, buahnya juga bisa digunakan untuk makanan serupa kolang-kaling.

Namun bunganya sangat bagus, bungkul bunga bewarna merah kehitaman, jika mekar bunganya bewarna kuning agak jingga.

Konon warga setempat sering memanfaatkan pohon eksotis ini adalah untuk sayuran setelah pohon bagian atas dibelah maka terdapat isi pohon yang muda disebut “humbut.”
Humbut itulah yang dibuat sayuran untuk aneka makanan, dan dibuat sayur bening juga terasa nikmat dan lezat.

Bahkan jika warga hajatan kawinan dan selamatan lainnya memanfaatkan humbut dari tanaman ini dibuat makanan untuk sesajian tamu yang datang.

Hutan kiri kanan itu juga terdapat aneka spicies rotan, ada yang disebut rotan paikat, rotan manau, rotan walaung, rotan gambis, dan jenis rotan lainnya yang tampak tumbuh merambat di bagian pepohonan kawasan setempat.

Vegetasi yang lain terlihat aneka palem-palamen, selain tanaman hayaping tadi juga terlihat enau, rumbia, pinang hutan, risi, timputuk yang kesemuanya memperkaya vegetasi kawasan yang banyak dihuni warga pedalaman tersebut.

Bahkan dalam perjalanan itu terlihat beberapa jenis kayu ekonomis, seperti ulin, sintuk, meranti, bangkirai, sungkai,mahoni, trambesi, dan aneka tanaman lagi.

Tak ketinggalan terlihat pohon buah-buahan endemik Kalimantan, family durian, (Durio) seperti buah lahung, karantungan, mahrawin, pembakin, mantaula, dan aneka jenis asam-asaman (Mangefera) , hambawang, kelipisan, rawa-rawa, kasturi, tandui, dan lainnya.

Dan terdapat dua buah pohon yang sangat besar yang merupakan peninggalan atau warisan alam yang masih tersisa, yang disebut sebagai pohon Binuang.

Saking besarnya kayu binuang tersebut, memerlukan antara enam hinmgga delapan orang untuk bisa memeluknya.

Di bawah pohon tersebut penulis dan ajie sempat mengambil foto bersama secara selfie menggunakan kamera HP dan fotonya sempat di shere melalui media sosial Facebook, dan memperoleh jempol sangat banyak.

Bukan hanya aneka tanaman yang ada di kawasan tersebut, menurut Ajie pula banyak binatang dan satwa kawasan hutan itu, terutama pilanduk (kancil) kijang (rusa), trenggiling, lutong, kera abu-abu, bahkan Bekantan (Nasalis larvatus).

Belum lagi ada tupai, aneka burung elang, murai, pipit, kutilang, dan aneka burung yang melahirkan bunyi-bunyian di belantara tersebut.

Air yang tetang di kawasan tersebut konon juga terdapat buaya, tetapi belum pernah terdengar yang menyambar atau memangsa manusia, dan ikan-ikan juga banyak, dan banyak yang kena pancing adalah ikan baung, ikan bancir, sanggang, adungan, tilan, sanggiringan, saluang, dan banyak lagi yang lain.

Makanya terlihat di kiri dan kanan sungai banyak warga pedalaman yang meunjun (memancing ikan) dan memasang banjur.

Melihat kekhasan kawasan tersebut wajar jika pemerintah setempat menjadikan kawasan tersebut sebagai kawasan wisata susur sungai dan petualangan yang tentu akan memuaskan pengunjungnya.

Apalagi untuk menuju kawasan ini mudah saja atau sekitar 10 kilometer dari Kota Ampah, bisa menggunakan roda empat dan roda dua, dan untuk menyusuri bendungan ini hingga ke hulunya tersedia puluhan perahu bermesin di kawasan Desa Batu Putih.

BSF ANGKAT KEBERADAAN KAIN SASIRANGAN AGAR MENDUNIA

Oleh Hasan Zainuddin

Banjarmasin, Seorang wanita tinggi semampai berdiri di depan sebuah bangunan tua di tepian Siring Tendean, banyak mata pengunjung yang memadati kawasan objek wisata andalan Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, itu yang tertuju ke arah wanita yang agaknya menunggu teman-temannya yang mengikuti kegiatan “Banjarmasin Sasirangan Festival” (BSF) yang digelar 7-11 Maret 2018 ini.

Sesekali wanita tersebut membetul-betulkan letak gaun kain khas Suku Banjar yang dikenakannya itu karena serpihan angin, senyum khas wanita itu seakan padu dengan motif kain sasirangan yang dominan bewarna hijau tersebut.

“Oh sungguh cantik,” kata seorang pemuda yang dari tadi memperhatikan gerak gerik wanita yang ditaksir berusia 20 tahun itu.

Kegiatan BSF yang berpusat di Menara Pandang Siring Tendean, kawasan wisata susur sungai kota seribu sungai tersebut pada tahun ini bertemakan “Sasirangan to The World.”

Pemerintah dan masyarakat Kota Banjarmasin tak ingin kain kebanggaan warga yang menghuni bagian selatan pulau terbesar tanah air tersebut, cuma cukup untuk dinikmati warga setempat, kain ini harus go internasional dan dikenal ke manca negara.

Oleh karena itu berbagai upaya dilakukan pemerintah dan warga setempat guna mengangkat citra khasanah kain yang lahir dari proses budaya nenek moyang setempat, yang dalam sejarahnya kain ini hanya sebatas sebagai peralatan pengobatan.

Dalam BSF 2018 menawarkan aneka acara yang dijamin memanjakan wisatawan. Ada parade budaya unik, kegiatan religi, expo, hingga forum diskusi. Bahkan

Sebagai daya tarik, panitia juga menghadirkan artis Terry Putri. Untuk memperkuat nilai kain adat Banjar ini, saat kegiatan BSF juga ada atraksi unik yakni menyirang (mengerjakan kain sasirangan) sepanjang 250 meter melibatkan ratusan pelajar.

Festival juga akan memilih duta sasirangan 2018, memilih putri muslimah sasirangan hingga Pemuda Pelopor. Selain itu bagi anak-anak, silahkan mengikuti lomba mewarna untuk PAUD. Nuansa religius juga dibangun melalui kasidah dan hadrah.

Semua potensi yang dimiliki Banjarmasin atau Kalimantan Selatan agaknya akan ditampilkan dalam BSF, makanya panitia juga akan menggelar bazaar dan expo, kata Assiten II Sekdako Banjarmasin Drs Hamdi saat berbincang dengan penulis.

Menurut Hamdi festival 2018 akan dikemas berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, kemasannya lebih segar, dan juga melibatkan publik figur, seperti artis Terry Putri yang juga berasal dari Banjarmasin ini. Ia mengakui adanya upaya Pemkot mengangkat lebih tinggi keberadaan kain yang selama ini sudah menjadi barang cendramata bagi wisatawan yang datang ke ibukota provinsi Kalsel itu.

Menurut Hamdi yang juga Ketua panitia BSF keberadaan sasirangan selama ini belum memuaskan semua pihak, terutama kalangan wisatawan mancanegara, lantaran pewarna yang digunakan sebagian besar adalah bahan kimia sehingga warna menjadi mencolok dan kurang alamiah.

Oleh karena itu upaya kedepan bagaimana kain sasirangan ini diproduksi dengan proses pewarna dari bahan sumberdaya alam setempat yang mudah saja dicari, selain biaya tidak mahal, namun produk sasirangan itu akan berharga mahal, lantaran diminati.

Kedepan kain sasirangan akan mempergunakan pewarna berasal dari daun-daunan, buah, dan kayu, seperti kunyit untuk membuat kain jadi berwarna kuning, kayu ulin untuk warna coklat atau merah marun, warna biru menggunakan daun indigo, warga ungu berasal dari buah balangkasua, dan banyak lain pewarna alam yang tersedia di kawasan ini.

Motifnya pun akan terus diperbaharui dan diperkaya dari selama ini yang dikenal dengan motif Iris Pudak, Kambang Raja, Bayam Raja, Kulit Kurikit, Ombak Sinapur Karang, Bintang Bahambur, Sari Gading, Kulit Kayu, Naga Balimbur, Jajumputan, Turun Dayang, Kambang Tampuk Manggis, Daun Jaruju, Kangkung Kaombakan, Sisik Tanggiling, dan Kambang Tanjung.

“Kita yakin jika semua kian khas ini pakai pewarna alamiah pasti lebih lembut, dan akan memancing lebih banyak lagi pembeli untuk memiliki dan pengunakan kain kebanggaan masyarakat Kalsel itu, khususnya dari luar negeri,”kata Hamdi.

Bila kebaradaan kain ini sudah lebih terangkat kepermukaan harapannya tak sekedar dipakai saat ada acara resmi saja, tak sekadar jadi barang cendramata, tetapi akan menjadi mata dagangan antarpulau bahkan jadi mata dagangan ekspor, dan hal itu bukan saja akan meningkatkan kontribusi pendapatan daerah yang lebih penting bagaimana mendongkrak penghasilan para perajin yang pada gilirannya mensejahterakan masyarakat luas.

Kain Pengobatan
Berdasarkan berbagai catatan atau cerita rakyat yang berkembang di masyarakat suku Banjar, kain ini sudah ada sejak abad XII sampai XIV saat wilayah ini dikuasai oleh Kerajaan Dipa.

Kain sasirangan pertama kali di buat yaitu manakala Patih Lambung Mangkurat bertapa 40 hari 40 malam di atas lanting balarut banyu (di atas rakit mengikuti arus sungai).

Menjelang akhir tapa nya, rakit Patih tiba di daerah Rantau kota Bagantung. Dilihatnya seonggok buih dan dari dalam buih terdengar suara seorang wanita, wanita itu adalah Putri Junjung Buih yang kelak menjadi Raja di Banua ini.

Tetapi ia baru muncul ke permukaan kalau syarat-syarat yang dimintanya dipenuhi, yaitu sebuah istana Batung yang diselesaikan dalam sehari dan kain dapat selesai sehari yang ditenun dan dicalap atau diwarnai oleh 40 orang putri dengan motif wadi/padiwaringin.

Itulah kain calapan/sasirangan yang pertama kali dibuat dan sering disebut oleh masyarakat sebagai batik sandang yang disebut Kain Calapan yang kemudian dikenal dengan nama Kain Sasirangan.

Itulah sejarah singkat asal usul kain sasirangan. Arti kata sasirangan sendiri di ambil dari kata “sa” yang berarti “satu” dan “sirang” yang berarti “jelujur”. Sesuai dengan proses pembuatannya, Di jelujur, di simpul jelujurnya kemudian di celup untuk pewarnaannya.

Sasirangan menurut tetua adat Banjar dulunya di pakai untuk pengobatan orang sakit, dan juga di gunakan sebagai laung (ikat kepala adat Banjar), Kakamban (serudung), udat (kemben), babat (ikat pinggang), tapih bahalai (sarung untuk perempuan) dan lain sebagainya. Kain ini juga di pakai untuk upacara-upacar adat Banjar.

Sekarang Sasirangan bukan lagi di peruntukkan hanya untuk spiritual, tapi sudah jadi pakaian kegiatan sehari-hari.

Pemerintahan Kalimantan Selatan, Sasirangan di sejajarkan dengan batik. Peraturan Gubernur Kalimantan Selatan 91 tahun 2009 tentang standaarisasi Pakaian Dinas pegawai Negeri sipil di lingkungan Pemprov Kalsel.

Pegawai negri sipil dibebaskan memilih untuk memakai Sasirangan atau pun Batik di hari yang sudah di tentukan, bahkan ada pemerintah kabupaten dan kota tertentu justru mewajibkan pemakaian kain khas ini padawaktu tertentu.fb

MARAJAI SELAMATKAN BUAH KHAS KALIMANTAN YANG TERSISA

12345678

Oleh Hasan Zainuddin
Paringin,()- Kian maraknya perkebunan kelapa sawit dan kebun karet unggul di berbagai daratan Provinsi Kalimantan Selatan, telah mengubah kondisi hutan yang beraneka ragam buah-buahan khas setempat, menjadi kawasan kedua jenis tanaman tersebut.
Belum lagi adanya penambangan batubara yang mengupas lahan yang di atasnya berhutan dengan aneka buah-buahan tersebut, telah menghilangkan ratusan spicies pelasma nuftah yang sebenarnya sangat bernilai jika terus dilestarikan.
Tadinya dari 1,7 juta hektare lahan hutan di Kalsel, kondisinya terus menurun seiring berkembangnya perkebunan kedua komoditi yang menjadi andalan ekonomi tersebut.
Belum lagi sekitar 700 ribu hektare lahan yang kering kerontang akibat kebakaran hutan dan eksploitasi lainnya menyebabkan populasi buah-buahan endemik pulau terbesar di tanah itu terus menyUsut.
Berkurangnya kayu-kayu hutan membuat sebagian warga setempat terus menebang kayu dari pohon buah-buahan itu sekadar hanya untuk memenuhi kebutuhan KAYU pembuatan rumah, pondok, dan bangunan lainnya.
Belum lagi adanya warga yang menebang pohon buah untuk dijadikan veener sebagai bahan pelapis dalam plywood (kayu lapis) untuk kebutuhan ekspos.
Berbagai tindakan tersebut terus menghilangkan keaneka ragaman hayati berupa buah-buahan tersebut, sehingga dikhawatirkan beberapa jenis buah akan hilang, karena sekarang sudah mulai langka.
Berdasarkan catatan untuk jenis durian saja di Kalimantan Ini terdapat sekitar 40 jenis, dari semua itu sebagian terbilang unik dan tak ada di daerah lain.
Sebagai contoh di Kalsel ini ada durian yang kulitnya kuning keemesan dan isi buah juga kuning keemasan yang disebut penduduk setempat “pampakin” atau di Kaltim disebut buah lai (Durio kutejensis).
Kemudian ada pula durian berkulit merah kehitaman berduri panjang-panjang, isi warna putih warna biji hitam, rasanya khas yang disebut lahung ((durio dulcis) .
Ada lagi durian perpaduan antara durian biasa dengan pampakin yang disebut mantaula, lain lagi durian bulat kecil dengan duri panjang dan besar, isisnya warna kuning dan tebal disebut karatongan.
Satu lagi yang disebut mahrawin (Durio oxleyanus) bentuknya persis karatongan tetapi warna kulit lebih hijau dan bulu yang runcing lebih pendek-pendek.
Semua jenis durian tersebut, konon, hanya ada di Kalimantan, karena tak pernah ditemukan tumbuh di luar dari habitat aslinya pulau Kalimantan.
Menurut pemerhati buah-buahan Kalimantan, Hanif Wicaksono, Kalimantan memang surga bagi tanaman buah, hanya saja sekarang populasinya terus menurun akibat eksploitasi lahan yang terus meningkat untuk berbagai kepentingan.
Menurut dia, akibat kian menghilangnya jenis buah Kalimantan ini menimbulkan banyak keprihatinan yang mendalam akan lenyapnya kekayaan alam tersebut.
Tak sedikit orang di luar Kalimantan, seperti dari Pulau Jawa yang merasa terpanggil untuk menyelamatkan plasma nutfah tersebut, lalu membeli biji-biji buahan tersebut.
Hanif sendiri yang pekerjaannya adalah penyuluh program Keluarga Berancana (KB) dan desa binaannya adalah Desa Marajai, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan, Kalsel, dan kebetulan ia mendalami masalah buah-buahan Kalimantan ini merasaterpanggil untuk mengajak warga desa binaanya menggalakan pembudidayaan lagi buah-buah tersebut.
Ketika bersama penulis, Hanif Wicaksono yang didampingi Kepala Desa Marajai Adi Setiawan yang lebih populer dipanggil Adi Balangan mencoba menelusuri kawasan hutan setempat yang dipenuhi tanaman buah endemik Kalimantan.
Tim kecil yang juga diiikuti oleh pengelola Kebun Raya Balangan tersebut menemukan sebuah kawasan yang banyak ditemui buah-buahan yang khas tersebut.
Untuk sejenis buah tarap saja di desa tersebut terdapat delapan jenis, kata Hanif Wicaksono seraya menunjuk beberapa pohon yang ada di kawasan yang termasuk Pegunungan Meratus itu atau sekitar 250 Km Utara Banjarmasin.
Buah tarap sejenis pohon buah dari marga pohon nangka (Artocarpus) bentuknya seperti bola kaki, berbulu warna hijau jika mentah dan warna merah jika matang, isinya dengan banyak biji kecil dan rasanya khas.
Jenis lain yang menyerupai tarap ditemukan dikawasan itu adalah binturung (arctictis binturong), Ada pula s yang disebut kulidang ((Artocarpus lanceifolius roxb), puyian (Artocarpus rigidus) dan lainnya
“Kita bersyukur masih ada lokasi lahan yang ditumbuhi aneka buah-buah khas Kalimantan, karena tidak dijadikan kebun karet unggul dan sawit sebagaimana lahan-lahan lainnya di wilayah ini,” kata Hanif Waicaksono.
Lantaran masih tersedianya pohon-pohon buah itu maka Marajai merupakan wilayah penghasil buah-buahan jenis langka itu yang banyak dijual belikan, baik ke ibukota kecamatan, ibukota kabupaten bahkan ke daerah-daerah lainnya.
Untuk jenis durian saja mungkin wilayah Marajai yang paling banyak memberikan kontribusi bagi pedagang durian di Balangan, tambah Hanif yang dianggukan pula Kepala desa.
Apalagi durian di Marajai aneka spicies, ada durian berkulit merah, durian kuning , durian hhijau tua, berduri, dan durian berkulit warna agak jingga.
Buah lainnya yang teridentifikasi di desa bagian dari Pegunungan Meratus ini adalah Silulung (Baccaurea angulata) maritam (Nephelium ramboutan-ake) bumbunau (Aglaia laxiflora), babuku ( Dimocarpus longan subspecies malesianus),luying/luing (Scutinanthe brunnea).
Kemudian juga ada buah kapul (Baccaurea macrocarpa), kalangkala (Litsea garciae),gitaan / tampirik ( Willughbeia angustifolia) dan kumbayau ( Dacroydes rostrata).
Kepala Desa Marajai Adi Setiawan berjanji akan mengajak pemilik lahan buah-buahan tersebut untuk merawat dan mengembangkannnya lebih luas lagi tumbuhan tersebut agar desa mereka bisa menjadi sentra buah-buahan endemik Kalimantan yang mulai langka itu.
Bahkan oleh kepala desa kawasan ini akan dijadikan agrowisata buah-buahan endemik Kalimantan yang akan terus dipromosikan ke berbagai daerah.***3***

KADAR KEASAMAN SUNGAI BANJARMASIN MENINGKAT

sungai

Hasan Zainuddin
Banjarmasin,()- Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin, Kalimantan Selatan, mengakui tingkat kadar keasaman air sungai yang ada di wilayah kota tersebut belakangan ini meningkatkat drastis.
Bahkan ada satu titik wilayah sungai tepatnya air sungai depan Rumas Sakit Ansari Saleh, atau yang lebih dikenal sebagai Sungai Awang itu kadar keasamannya sangat pekat, kata Asisten II Sekdako Banjarmasin Drs H Hamdi kepada wartawan di Banjarmasin, Senin.
Hamdi mengutarakan tersebut mendampingi Wakil Wali Kota Hermansyah dan Sekdako Hamli Kursani dalam acara jumpa pers dua tahun kepempimpinan Wali Kota Ibnu Sina dan Wakil Wali Kota Hermansyah di balaikota.
Menurut Hamdi berdasarkan penelitian air sungai di depan Ansari Saleh tersebut tingkat pH hanya tiga, padahal idealnya air sungai itu tingkat pH adalah tujuh, berarti sangat asam.
Memang wilayah Banjarmasin dengan wilayah bergambaut tingkat keasaman air sungai memang tinggi, namun seharusnya tetap toleransi, tetapi melihat kenyataan sekarang sampai pH tiga berarti sudah ada yang kurang beres terhadap lingkungan wilayah ini.
Hamdi memperkirakan tingginya tingkat keasaman tersebut tidak terlepas dari eksploitasi lahan gambut sekitar Banjarmasin, umpananya dijadikan lahan-lahan sawit dan lahan persawahan atau pemukiman.
Dengan pembukaan lahan gambut secara besar-besaran wilayah Banjarmasin dan sekitarnya itulah yang menyebabkan lapisan pirit lahan gambut yang sangat asam keluar kemana-mana dan menumpuk wilayah Sungai Awang.
Kalau melihat kadar keasaman sepekat tersebut maka air itu jangankan untuk minum, untuk kehidupan ikan saja akan susah di sungai tersebut.
Iatu hanya kadar keasaman yang mempengaruhi kualitas air di Banjarmasin, belum lagi gangguan kualitas lainnya seperti kandungan bakteri coli yang sangat tinggi yang mencapai belasan ribu PPM padahal idealnya hanya 250 PPM.
Termasuk tingkat kekekuran yang sangat keruh yang menandakan sungai wilayah Banjarmasin terkontaminasi lumpur akibat erosi dan kerusakan hutan wilayah hulu.
Oleh karena itu untuk meningkatkan kualitas air sungai di Banjarmasin tidak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah setempat saja, melainkan harus melibatkan banyak pihak diantara pemerintah kabupaten dan kota yang ada di wilayah ini.

Merajai Halong Masih Miliki Koleksi Buah-buahan Kalimantan

 

 

1.23

Hasan Zainuddin

Desa Marajai, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan, masih memiliki sejumlah pohon pohonan buah langka endemik Kalimantan.

Pemerhati buah khas Kalimantan Hanif Wicakcono bersama Kepala Desa Marajai Adi Setiawan kepada Antara di Halong, Senin membenarkan desa Marajai masih banyak tumbuh pohon-pohonan buah khas Kalimantan yang sekarang sudah mulai langka.

“Kita bersyukur masih ada lokasi lahan yang ditumbuhi aneka buah-buah khas Kalimantan, karena tidak dijadikan kebun karet unggul dan sawit sebagaimana lahan-lahan lainnya di wilayah ini,” kata Hanif Waicaksono.

Lantaran masih tersedianya pohon-pohon buah itu maka Marajai merupakan wilayah penghasil buah-buahan jenis langka itu yang banyak dijual belikan, baik ke ibukota kecamatan, ibukota kabupaten bahkan ke daerah-daerah lainnya.

Untuk jenis durian saja mungkin wilayah Marajai yang paling banyak memberikan kontribusi bagi pedagang durian di Balangan.

Apalagi durian di Marajai aneka spicies, ada durian berkulit merah yang disebut lahung (durio dulcis) ada durian kuning yang disebut mantaula (Durio kutejensis), ada durian berkuli warha hijau tua, berduri lancip panjang yang disebut mahrawin (Durio oxleyanus), dan aneka jenis durian lainnya.

Ada pula sembilan jenis tarap-tarapan, seperti kulidang ((Artocarpus lanceifolius roxb), puyian (Artocarpus rigidus) dan lainnya.

Buah lainnya yang teridentifikasi di desa bagian dari Pegunungan Meratus tersebut adalah Silulung (Baccaurea angulata) maritam (Nephelium ramboutan-ake) bumbunau (Aglaia laxiflora), babuku ( Dimocarpus longan subspecies malesianus),luying/luing (Scutinanthe brunnea).

Kemudian juga ada buah kapul (Baccaurea macrocarpa),kalangkala (Litsea garciae),gitaan / tampirik ( Willughbeia angustifolia) dan kumbayau ( Dacroydes rostrata).

Kepala Desa Marajai Adi Setiawan berjanji akan mengajak pemilik lahan buah-buahan tersebut untuk merawat dan mengembangkannnya lebih luas lagi tumbuhan tersebut agar desa mereka bisa menjadi sentra buah-buahan endemik Kalimantan yang mulai langka itu.

Desa Marajai, Kecamatan Halong, berpenduduk 197 KK dengan jumlah penduduk 578 jiwa.?

Merajai Desa Wisata Halong Balangan

 

 

merajai

Hasan Zainuddin

Desa Marajai, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan, oleh masyarakat setempat akan dijadikan desa wisata alam dan buah-buahan.

Kepala Desa Marajai Adi Setiawan kepada Antara di Halong, Senin membenarkan desa Marajai akan dijadikan wisata lantaran kondisi alam yang pantas menjadi sebuah kunjungan wisatawan disamping ada kekayaan desa berupa pohon buah-buahan endemik Kalimantan.

“Desa kami memiliki hutan, riam berair deras, gunung, sungai air jernih, budaya masyarakat Dayak, serta ada kebun buah-buahan khas Kalimantan,” kata Adi Setiawan.

Melihat potensi tersebut, maka wajar warga ingin menjadikan desa mereka sebagai desa wisata, apalagi untuk menuju desa ini mudah saja dapat dikunjungi dengan kendaraan roda empat, tambahnya.

Yang menjadi andalan wisata desa ini lantaran masih tersedianya pohon-pohon buah mulai langka, produksinya yang dijual-belikan baik ke ibukota kecamatan, ibukota kabupaten bahkan ke daerah-daerah lainnya.

Untuk jenis durian saja mungkin wilayah Marajai yang paling banyak memberikan kontribusi bagi pedagang durian di Balangan.

Apalagi durian di Marajai aneka spicies, ada durian berkulit merah yang disebut lahung (durio dulcis) ada durian kuning yang disebut mantaula (Durio kutejensis), ada durian berkuli warha hijau tua, berduri lancip panjang yang disebut mahrawin (Durio oxleyanus), dan aneka jenis durian lainnya.

Ada pula sembilan jenis tarap-tarapan, seperti kulidang ((Artocarpus lanceifolius roxb), puyian (Artocarpus rigidus) dan lainnya. Kemudian juga ada buah kapul (Baccaurea macrocarpa),kalangkala (Litsea garciae),gitaan / tampirik ( Willughbeia angustifolia) dan kumbayau ( Dacroydes rostrata).

Buah lainnya yang teridentifikasi di desa bagian dari Pegunungan Meratus tersebut adalah Silulung (Baccaurea angulata) maritam (Nephelium ramboutan-ake) bumbunau (Aglaia laxiflora), babuku ( Dimocarpus longan subspecies malesianus),luying/luing (Scutinanthe brunnea).

Untuk menjadikan desa itu sebagai deswa wisata maka mereka mendatangkan seorang relawan yang memotivasi masyarakat agar menjada alam dan memelihara tumbuh-tumhuhan khususnya buah sebagai aset wisata.

Relawan dimaksud adalah Jumali Wahyono Perwito atau yang dikenal dengan sapaan Mas Jiwo Pogog, lantaran yang bersangkutan sudah mampu merubah desa tandus Pogog, lereng gunung Wonogiri, Jawa Tengah, menjadi desa wisata melalui pengembangan durian Muntong.

Kedatangan Mas Jiwo Pogog ke desa Pegunungan Meratus tersebut berkat bantuan Hanif Wicaksono seorang karyawan BKKBN yang meikhlaskan diri menjadi pemerhati dan relawan pengembangan buah-buahan Desa Marajai.

Desa Marajai, Kecamatan Halong, berpenduduk 197 KK dengan jumlah penduduk 578 jiwa./f