MARAJAI SELAMATKAN BUAH KHAS KALIMANTAN YANG TERSISA

12345678

Oleh Hasan Zainuddin
Paringin,()- Kian maraknya perkebunan kelapa sawit dan kebun karet unggul di berbagai daratan Provinsi Kalimantan Selatan, telah mengubah kondisi hutan yang beraneka ragam buah-buahan khas setempat, menjadi kawasan kedua jenis tanaman tersebut.
Belum lagi adanya penambangan batubara yang mengupas lahan yang di atasnya berhutan dengan aneka buah-buahan tersebut, telah menghilangkan ratusan spicies pelasma nuftah yang sebenarnya sangat bernilai jika terus dilestarikan.
Tadinya dari 1,7 juta hektare lahan hutan di Kalsel, kondisinya terus menurun seiring berkembangnya perkebunan kedua komoditi yang menjadi andalan ekonomi tersebut.
Belum lagi sekitar 700 ribu hektare lahan yang kering kerontang akibat kebakaran hutan dan eksploitasi lainnya menyebabkan populasi buah-buahan endemik pulau terbesar di tanah itu terus menyUsut.
Berkurangnya kayu-kayu hutan membuat sebagian warga setempat terus menebang kayu dari pohon buah-buahan itu sekadar hanya untuk memenuhi kebutuhan KAYU pembuatan rumah, pondok, dan bangunan lainnya.
Belum lagi adanya warga yang menebang pohon buah untuk dijadikan veener sebagai bahan pelapis dalam plywood (kayu lapis) untuk kebutuhan ekspos.
Berbagai tindakan tersebut terus menghilangkan keaneka ragaman hayati berupa buah-buahan tersebut, sehingga dikhawatirkan beberapa jenis buah akan hilang, karena sekarang sudah mulai langka.
Berdasarkan catatan untuk jenis durian saja di Kalimantan Ini terdapat sekitar 40 jenis, dari semua itu sebagian terbilang unik dan tak ada di daerah lain.
Sebagai contoh di Kalsel ini ada durian yang kulitnya kuning keemesan dan isi buah juga kuning keemasan yang disebut penduduk setempat “pampakin” atau di Kaltim disebut buah lai (Durio kutejensis).
Kemudian ada pula durian berkulit merah kehitaman berduri panjang-panjang, isi warna putih warna biji hitam, rasanya khas yang disebut lahung ((durio dulcis) .
Ada lagi durian perpaduan antara durian biasa dengan pampakin yang disebut mantaula, lain lagi durian bulat kecil dengan duri panjang dan besar, isisnya warna kuning dan tebal disebut karatongan.
Satu lagi yang disebut mahrawin (Durio oxleyanus) bentuknya persis karatongan tetapi warna kulit lebih hijau dan bulu yang runcing lebih pendek-pendek.
Semua jenis durian tersebut, konon, hanya ada di Kalimantan, karena tak pernah ditemukan tumbuh di luar dari habitat aslinya pulau Kalimantan.
Menurut pemerhati buah-buahan Kalimantan, Hanif Wicaksono, Kalimantan memang surga bagi tanaman buah, hanya saja sekarang populasinya terus menurun akibat eksploitasi lahan yang terus meningkat untuk berbagai kepentingan.
Menurut dia, akibat kian menghilangnya jenis buah Kalimantan ini menimbulkan banyak keprihatinan yang mendalam akan lenyapnya kekayaan alam tersebut.
Tak sedikit orang di luar Kalimantan, seperti dari Pulau Jawa yang merasa terpanggil untuk menyelamatkan plasma nutfah tersebut, lalu membeli biji-biji buahan tersebut.
Hanif sendiri yang pekerjaannya adalah penyuluh program Keluarga Berancana (KB) dan desa binaannya adalah Desa Marajai, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan, Kalsel, dan kebetulan ia mendalami masalah buah-buahan Kalimantan ini merasaterpanggil untuk mengajak warga desa binaanya menggalakan pembudidayaan lagi buah-buah tersebut.
Ketika bersama penulis, Hanif Wicaksono yang didampingi Kepala Desa Marajai Adi Setiawan yang lebih populer dipanggil Adi Balangan mencoba menelusuri kawasan hutan setempat yang dipenuhi tanaman buah endemik Kalimantan.
Tim kecil yang juga diiikuti oleh pengelola Kebun Raya Balangan tersebut menemukan sebuah kawasan yang banyak ditemui buah-buahan yang khas tersebut.
Untuk sejenis buah tarap saja di desa tersebut terdapat delapan jenis, kata Hanif Wicaksono seraya menunjuk beberapa pohon yang ada di kawasan yang termasuk Pegunungan Meratus itu atau sekitar 250 Km Utara Banjarmasin.
Buah tarap sejenis pohon buah dari marga pohon nangka (Artocarpus) bentuknya seperti bola kaki, berbulu warna hijau jika mentah dan warna merah jika matang, isinya dengan banyak biji kecil dan rasanya khas.
Jenis lain yang menyerupai tarap ditemukan dikawasan itu adalah binturung (arctictis binturong), Ada pula s yang disebut kulidang ((Artocarpus lanceifolius roxb), puyian (Artocarpus rigidus) dan lainnya
“Kita bersyukur masih ada lokasi lahan yang ditumbuhi aneka buah-buah khas Kalimantan, karena tidak dijadikan kebun karet unggul dan sawit sebagaimana lahan-lahan lainnya di wilayah ini,” kata Hanif Waicaksono.
Lantaran masih tersedianya pohon-pohon buah itu maka Marajai merupakan wilayah penghasil buah-buahan jenis langka itu yang banyak dijual belikan, baik ke ibukota kecamatan, ibukota kabupaten bahkan ke daerah-daerah lainnya.
Untuk jenis durian saja mungkin wilayah Marajai yang paling banyak memberikan kontribusi bagi pedagang durian di Balangan, tambah Hanif yang dianggukan pula Kepala desa.
Apalagi durian di Marajai aneka spicies, ada durian berkulit merah, durian kuning , durian hhijau tua, berduri, dan durian berkulit warna agak jingga.
Buah lainnya yang teridentifikasi di desa bagian dari Pegunungan Meratus ini adalah Silulung (Baccaurea angulata) maritam (Nephelium ramboutan-ake) bumbunau (Aglaia laxiflora), babuku ( Dimocarpus longan subspecies malesianus),luying/luing (Scutinanthe brunnea).
Kemudian juga ada buah kapul (Baccaurea macrocarpa), kalangkala (Litsea garciae),gitaan / tampirik ( Willughbeia angustifolia) dan kumbayau ( Dacroydes rostrata).
Kepala Desa Marajai Adi Setiawan berjanji akan mengajak pemilik lahan buah-buahan tersebut untuk merawat dan mengembangkannnya lebih luas lagi tumbuhan tersebut agar desa mereka bisa menjadi sentra buah-buahan endemik Kalimantan yang mulai langka itu.
Bahkan oleh kepala desa kawasan ini akan dijadikan agrowisata buah-buahan endemik Kalimantan yang akan terus dipromosikan ke berbagai daerah.***3***

Iklan

KADAR KEASAMAN SUNGAI BANJARMASIN MENINGKAT

sungai

Hasan Zainuddin
Banjarmasin,()- Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin, Kalimantan Selatan, mengakui tingkat kadar keasaman air sungai yang ada di wilayah kota tersebut belakangan ini meningkatkat drastis.
Bahkan ada satu titik wilayah sungai tepatnya air sungai depan Rumas Sakit Ansari Saleh, atau yang lebih dikenal sebagai Sungai Awang itu kadar keasamannya sangat pekat, kata Asisten II Sekdako Banjarmasin Drs H Hamdi kepada wartawan di Banjarmasin, Senin.
Hamdi mengutarakan tersebut mendampingi Wakil Wali Kota Hermansyah dan Sekdako Hamli Kursani dalam acara jumpa pers dua tahun kepempimpinan Wali Kota Ibnu Sina dan Wakil Wali Kota Hermansyah di balaikota.
Menurut Hamdi berdasarkan penelitian air sungai di depan Ansari Saleh tersebut tingkat pH hanya tiga, padahal idealnya air sungai itu tingkat pH adalah tujuh, berarti sangat asam.
Memang wilayah Banjarmasin dengan wilayah bergambaut tingkat keasaman air sungai memang tinggi, namun seharusnya tetap toleransi, tetapi melihat kenyataan sekarang sampai pH tiga berarti sudah ada yang kurang beres terhadap lingkungan wilayah ini.
Hamdi memperkirakan tingginya tingkat keasaman tersebut tidak terlepas dari eksploitasi lahan gambut sekitar Banjarmasin, umpananya dijadikan lahan-lahan sawit dan lahan persawahan atau pemukiman.
Dengan pembukaan lahan gambut secara besar-besaran wilayah Banjarmasin dan sekitarnya itulah yang menyebabkan lapisan pirit lahan gambut yang sangat asam keluar kemana-mana dan menumpuk wilayah Sungai Awang.
Kalau melihat kadar keasaman sepekat tersebut maka air itu jangankan untuk minum, untuk kehidupan ikan saja akan susah di sungai tersebut.
Iatu hanya kadar keasaman yang mempengaruhi kualitas air di Banjarmasin, belum lagi gangguan kualitas lainnya seperti kandungan bakteri coli yang sangat tinggi yang mencapai belasan ribu PPM padahal idealnya hanya 250 PPM.
Termasuk tingkat kekekuran yang sangat keruh yang menandakan sungai wilayah Banjarmasin terkontaminasi lumpur akibat erosi dan kerusakan hutan wilayah hulu.
Oleh karena itu untuk meningkatkan kualitas air sungai di Banjarmasin tidak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah setempat saja, melainkan harus melibatkan banyak pihak diantara pemerintah kabupaten dan kota yang ada di wilayah ini.

Merajai Halong Masih Miliki Koleksi Buah-buahan Kalimantan

 

 

1.23

Hasan Zainuddin

Desa Marajai, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan, masih memiliki sejumlah pohon pohonan buah langka endemik Kalimantan.

Pemerhati buah khas Kalimantan Hanif Wicakcono bersama Kepala Desa Marajai Adi Setiawan kepada Antara di Halong, Senin membenarkan desa Marajai masih banyak tumbuh pohon-pohonan buah khas Kalimantan yang sekarang sudah mulai langka.

“Kita bersyukur masih ada lokasi lahan yang ditumbuhi aneka buah-buah khas Kalimantan, karena tidak dijadikan kebun karet unggul dan sawit sebagaimana lahan-lahan lainnya di wilayah ini,” kata Hanif Waicaksono.

Lantaran masih tersedianya pohon-pohon buah itu maka Marajai merupakan wilayah penghasil buah-buahan jenis langka itu yang banyak dijual belikan, baik ke ibukota kecamatan, ibukota kabupaten bahkan ke daerah-daerah lainnya.

Untuk jenis durian saja mungkin wilayah Marajai yang paling banyak memberikan kontribusi bagi pedagang durian di Balangan.

Apalagi durian di Marajai aneka spicies, ada durian berkulit merah yang disebut lahung (durio dulcis) ada durian kuning yang disebut mantaula (Durio kutejensis), ada durian berkuli warha hijau tua, berduri lancip panjang yang disebut mahrawin (Durio oxleyanus), dan aneka jenis durian lainnya.

Ada pula sembilan jenis tarap-tarapan, seperti kulidang ((Artocarpus lanceifolius roxb), puyian (Artocarpus rigidus) dan lainnya.

Buah lainnya yang teridentifikasi di desa bagian dari Pegunungan Meratus tersebut adalah Silulung (Baccaurea angulata) maritam (Nephelium ramboutan-ake) bumbunau (Aglaia laxiflora), babuku ( Dimocarpus longan subspecies malesianus),luying/luing (Scutinanthe brunnea).

Kemudian juga ada buah kapul (Baccaurea macrocarpa),kalangkala (Litsea garciae),gitaan / tampirik ( Willughbeia angustifolia) dan kumbayau ( Dacroydes rostrata).

Kepala Desa Marajai Adi Setiawan berjanji akan mengajak pemilik lahan buah-buahan tersebut untuk merawat dan mengembangkannnya lebih luas lagi tumbuhan tersebut agar desa mereka bisa menjadi sentra buah-buahan endemik Kalimantan yang mulai langka itu.

Desa Marajai, Kecamatan Halong, berpenduduk 197 KK dengan jumlah penduduk 578 jiwa.?

Merajai Desa Wisata Halong Balangan

 

 

merajai

Hasan Zainuddin

Desa Marajai, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan, oleh masyarakat setempat akan dijadikan desa wisata alam dan buah-buahan.

Kepala Desa Marajai Adi Setiawan kepada Antara di Halong, Senin membenarkan desa Marajai akan dijadikan wisata lantaran kondisi alam yang pantas menjadi sebuah kunjungan wisatawan disamping ada kekayaan desa berupa pohon buah-buahan endemik Kalimantan.

“Desa kami memiliki hutan, riam berair deras, gunung, sungai air jernih, budaya masyarakat Dayak, serta ada kebun buah-buahan khas Kalimantan,” kata Adi Setiawan.

Melihat potensi tersebut, maka wajar warga ingin menjadikan desa mereka sebagai desa wisata, apalagi untuk menuju desa ini mudah saja dapat dikunjungi dengan kendaraan roda empat, tambahnya.

Yang menjadi andalan wisata desa ini lantaran masih tersedianya pohon-pohon buah mulai langka, produksinya yang dijual-belikan baik ke ibukota kecamatan, ibukota kabupaten bahkan ke daerah-daerah lainnya.

Untuk jenis durian saja mungkin wilayah Marajai yang paling banyak memberikan kontribusi bagi pedagang durian di Balangan.

Apalagi durian di Marajai aneka spicies, ada durian berkulit merah yang disebut lahung (durio dulcis) ada durian kuning yang disebut mantaula (Durio kutejensis), ada durian berkuli warha hijau tua, berduri lancip panjang yang disebut mahrawin (Durio oxleyanus), dan aneka jenis durian lainnya.

Ada pula sembilan jenis tarap-tarapan, seperti kulidang ((Artocarpus lanceifolius roxb), puyian (Artocarpus rigidus) dan lainnya. Kemudian juga ada buah kapul (Baccaurea macrocarpa),kalangkala (Litsea garciae),gitaan / tampirik ( Willughbeia angustifolia) dan kumbayau ( Dacroydes rostrata).

Buah lainnya yang teridentifikasi di desa bagian dari Pegunungan Meratus tersebut adalah Silulung (Baccaurea angulata) maritam (Nephelium ramboutan-ake) bumbunau (Aglaia laxiflora), babuku ( Dimocarpus longan subspecies malesianus),luying/luing (Scutinanthe brunnea).

Untuk menjadikan desa itu sebagai deswa wisata maka mereka mendatangkan seorang relawan yang memotivasi masyarakat agar menjada alam dan memelihara tumbuh-tumhuhan khususnya buah sebagai aset wisata.

Relawan dimaksud adalah Jumali Wahyono Perwito atau yang dikenal dengan sapaan Mas Jiwo Pogog, lantaran yang bersangkutan sudah mampu merubah desa tandus Pogog, lereng gunung Wonogiri, Jawa Tengah, menjadi desa wisata melalui pengembangan durian Muntong.

Kedatangan Mas Jiwo Pogog ke desa Pegunungan Meratus tersebut berkat bantuan Hanif Wicaksono seorang karyawan BKKBN yang meikhlaskan diri menjadi pemerhati dan relawan pengembangan buah-buahan Desa Marajai.

Desa Marajai, Kecamatan Halong, berpenduduk 197 KK dengan jumlah penduduk 578 jiwa./f

POPULASI BINATANG SADU DI PEDALAMAN KALSEL MENURUN

sadu

Sadu tertabrak mobil di jalan raya

Banjarmasin,23/2-18 ()Populasi binatang Sadu di pedalaman Kalimantan Selatan, dalam sepuluh tahun belakangan ini terjadi penurunan yang drastis.
Penurunan populasi binatang Sadu tersebut diperkirakan ada kaitannya dengan kian rusaknya alam lingkungan, kata Adie, seorang anggota organisasi pecinta lingkungan, di Kabupaten Balangan, Jumat.
Menurut Adie yang biasa dipanggil Didun tersebut, sudah jarang terlihat binatang Sadu itu berkeliaran di perkampungan, padahal dulu hampir terlihat setiap malam.
Sebab binatang yang biasa mengeluarkan bau khas yang menyengat tersebut termasuk binatang malam, dan siang hari tak pernah dijumpai binatang ini, ia akan keluar sarang pada malam hari untuk mencari makan.
Binatang yang postur tubuhnya kecil seperti kucing tetapi bentuknya menyerupai babi itu bila terancam bahaya mengeluarkan bau yang sangat menyengat, yang oleh warga setempat bau itu dikeluarkan melalui kentutnya.
Bahkan saking kuat bau yang menyengat itulah yang menjadi senjata ampuhnya untuk melindungi diri dari ancaman bahaya, terutama dari binatang buas.
Adie sendiri menyayangkan kian menurunnya populasi satwa unik tersebut, karena keberadaannya adalah memperkaya kehidupan satwa yang termasuk dalam kekayaan sumberdaya alam setempat.
Belum lama ini masih terlihat Sadu di Desa Panggung, Kecamatan Paringin Selatan, Balangan, namun sayangnya kemunculannya justru baha bagi binatang itu karena tertabrak mobil dan tergeletak di jalan dan mati.
Walau saat tertabrak sempat mengeluarkan bau menyengat sehingga satu kampung menjadi ribut akibat bau menyengat itu, akhirnya oleh seoranbg warga sadu yang mati tertabrak itu dibuang ke sungai agar mengurangi bau yang menggangu warga tersebut.
Berdasarkan wikipedia, Sadu adalah Mydaus javanensis (sebelumnya disebut Mydaus meliceps) adalah sigung yang habitat aslinya di Indonesia bagian barat, Kalimantan, dan Malaysia.
Hewan mamalia yang dapat mengeluarkan bau busuk jika terganggu ini termasuk ke dalam suku Mephitidae.
Dalam bahasa lokal dikenal juga sebagai teledu, telegu, kesensedu, kensedu, sadu / sa’at (bahasa Banjar) dan lain-lain. Dalam bahasa Inggris, hewan ini dikenal sebagai Indonesian stink badger, Malayan stink badger, Malay badger,
Mamalia bertubuh kecil dengan panjang kepala dan tubuh antara 370-520 mm dan ekor pendek 34-38 mm. Kakinya pendek, tungkai belakang bagian bawah antara 64-70 mm, dan bermoncong panjang.[4]
Tubuh Mydaus javanensis tertutupi rambut yang panjang dan lebat. Warnanya hitam atau coklat tua, dengan garis belang putih memanjang bagian atas tubuh dari tengah kepala hingga ekor. Berat badannya berkisar antara 1,4-3,6 kg.[5] Bentuk dan panjang garis putih di punggungnya itu bervariasi dari tempat ke tempat
Mydaus javanensis merupakan binatang nokturnal yang penyendiri, dan mencari makanannya di tanah (terestrial) dan menggalinya dengan menggunakan cakar dan moncongnya.
Mangsanya, di antaranya, adalah cacing tanah dan tempayak serangga (misalnya tonggeret). Hewan ini bersifat omnivora memangsa aneka jenis katak, ular, tikus, burung, dan telur. Mydaus javanensis juga memakan buah-buahan, akar, jamur, dan dedaunan.

TUPAI RAKSASA BALANGAN SUDAH MULAI MENGHILANG

tupaitupai1Paringin,20/2 (-) Tupai raksasa yang biasa disebut oleh warga Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan, sebagai tangkarawak kini sudah mulai menghilang di wilayah tersebut.
“Kami tidak tahu mengapa tupai yang panjangnya bisa mencapai satu meter itu menghilang, di hutan wilayah ini,” kata Adie, seorang anggota pecinta lingkungan, Desa Panggung, Kecamatan Paringin Selatan, Kabupaten balangan, Selasa.
Menurut Adie, dulunya tupai yang bewarna kulit kuning kecoklatan tersebut sering terlihat berlompatan di dahan-dahan pohon, dan mengeluarkan bunyi atau suara yang khas.
Tetapi sejak sepuluh tahun terakhir ini tupai yang rakus menyantap buah-buahan ini, jarang terlihat, bahkan sulit sekali kalau ingin menyaksikan keberadaan satwa endemik Kalimantan tersebut.
“Mungkin lantaran dianggap hama, karena suka menyerang tanaman kebun buah masyarakat, maka tupai itu banyak yang diburu sehingga populasinya menjadi turun drastis,” katanya.
Padahal kebedaraan satwa tersebut memperkaya keanekaragaman hayati setempat, dan bisa dipromosikan sebagai kawasan wisata yang menarik, karena binatang itu selain unik dan langka dan sangat eksotis bila dipublikasikan kepada wisatawan.
Oleh karena itu, kata Adie yang dikenal sebagai anggota pecinta lingkungan Forum Komunitas Hija (FKH) tersebut, pihaknya berusaha mencari lokasi hutan yang masih ada satwa tersebut.
Salah satu lokasi yaitu hutan Watangan, Desa Panggung, itupun jika ingin menyaksikannya harus berjalan pelan-pelan dan mengedap-endap, sebab bila tahu ada kedatangan orang maka satwa itupun akan lari kencang menjauh.
Tetapi jika ingin melihat secara dekat, menurut Adie, ada salah satu warga yang memelihara binatang tersebut yaitu di Desa Wangkili, Kecamatan Awayan.
Warga tersebut menurutnya ceritanya secara tak sengaja menemukan anak tangkarawak yang jatuh dari pohon dan ditinggalkan induknya, karena merasa kasihan lalu dipelihara dan sekarang sudah mulai besar atau setengah dewasa dan ditempatkan dalam satu kurungan besar di depan rumah.
Menurut cerita lagi, binatang yang menjadi peliharaan tersebut pernah lepas tetapi tak mau menjauh dan masuk lagi ke dalam sanggar, karena tak terbiasa mencari makan sendiri di hutan.

FKH BALANGAN INGIN MILIKI KEBUN TANAMAN OBAT

Paringin, ()-Para aktivis lingkungan hidup yang tergabung dalam Forum Komunitas Hijau (FKH) Citra Sanggam, Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan, berkeinginan memiliki kebun sendiri yang menampung aneka tanaman obat yang ada di wilayah setempat.

“Kami memiliki lahan sekitar setengah hektare, dan lahan tersebut rencananya kita tanami berbagai koleksi tanaman hutan yang berpotensi obat-obatan, atau juga tanaman obat yang sudah dikenal luas,” kata anggota FKH Citra Sanggam, Adie atau yang lebih dikenal dengan sebutan Didun, di Desa Panggung, Paringin Selatan, Kamis.

Oleh karena itu, katanya belum lama ini mereka selama dua hari keluar masuk hutan setempat, semata ingin mengidentfikasi tanaman hutan yang berpotensi obat sekaligus mengambil bibit untuk dibudidayakan di lahan FKH di desa setempat.

Dalam penjelajahan hutan tersebut mereka menemukan tanaman yang disebut Kamandrah (Croton Tigliun L), tanaman ini berdasarkan pengalaman tetuha kampung bahari banyak digunakan untuk obat pencahar perut.

Yakni biji buah ini setelah diminum maka seisi perut keluar melalui berak-berak terus sehingga perut dinilai bersih dari aneka racun, dan untuk menghentikan berak warga meminum air larutan kerak nasi.

Makanya biji buah itu akan disemai lalu dikembangkan dilahan itu, kemudian mereka juga menemukan tanaman cambai jenis tanaman merambai persis sirih, tetapi daunnya lebih lebar dan memiliki buah yang warna buah merah.

Tanaman yang juga menyerupai sejenis cabe puyang dulu sering digunakan buahnya untuk mengusir masuk angin, dan daunnya untuk penyakit “menyamak” (seperti sesak napas).

Kemudian anggota FKH juga menemukan tanaman Kakajar yang biasanya tanaman ini digunakan untuk sakit pinggang.

Ada puluhan tanaman hutan yang mereka temukan, antaranya telunjuk langit, pelungsur ular, kerangka hirang, jelatang, dan beberapa jenis lainnya, dan bibitnya dibawa ke kampung dan akan ditanam dikebun lingkungan itu.

Tapi satu yang mereka cari tetapi tak diketemukan lagi di hutan Balangan yaitu pohon Ipuh, ipoh atau upas (Antiaris toxicaria) adalah sejenis pohon anggota suku Moraceae.

Pada masa lalu, pohon ini sangat terkenal karena getahnya yang sangat beracun, yang digunakan untuk meracuni mata panah (Gr. toxicon: racun panah), mata tombak, untuk berburu hewan.

Pohon ipoh yang juga disebut pohon upas adalah pohon besar dengan ketinggian bisa mencapai 40 m serta kayunya putih dan ringan. Dahan-dahannya, Karena getah kulit pohonnya mengandung racun, maka orang menamakan racunnya sebagai upas.

“Pokoknya apa saja tanaman hutan yang diperkirakan mengandung bahan obat-obatan akan dikoleksi di kebun FKH, biar nanti menjadi bahan penelitian dan lahan pendidikan bagi masyarakat, khususnya pelajar dan mahasiswa,” kata Adie.
obat