KAYU “ULIN” AKANKAH TINGGAL KENANGAN

Oleh Hasan Zainuddin


Beberapa orang warga menggali tanah di bilangan Desa Inan Kecamatan Paringin Selatan, Kabupaten Balangan Provinsi Kalimantan Selatan untuk mengeluarkan sebatang kayu yang terbenam di kawasan tersebut.

Kayu yang terbenam tersebut ternyata jenis kayu ulin (Eusideroxylon zwageri) yang diperkirakan berabad-abad berada dalam tanah yang dalamnya sekitar dua meter dari permukaan tanah.

Sementara pekerja yang lain juga berusaha memotong sebatang kayu ulin yang juga diperkirakan berusia berabad-abad yang berada di dasar Sungai Pitap anak Sungai Balangan yang kondisi airnya tak terlalu dalam.

Walau warga bersusah payak menggali dan memotong kayu berusia tua tersebut tetapi terus dilakukan, mengingat untuk membeli jenis kayu yang disebut juga sebagai kayu besi itu sekarang sudah terlalu mahal bagi kantong warga setempat, lantaran sudah sulit diperoleh.

Dari dua kejadian tersebut telah menimbulkan banyak pertanyaan dikalangan masyarakat setempat, mengapa di kawasan tersebut begitu banyak kayu ulin, sementara jenis kayu tersebut tak pernah terlihat lagi dalam beberapa dasawarsa terakhir ini.

“Sebagian besar warga di kampung kami tahu tentang kayu ulin hanya dari bahan bangunan yang sudah jadi, tetapi tak pernah melihat bentuk kayu ulin yang masih tumbuh,”kata Nurfansyah warga setempat.

Warga setempat kebanyakan memperoleh kayu ulin dari kayu yang terpendam dalam tanah atau yang ada di dasar sungai, kualitasnya sangat baik, kuat dan warnanya menghitam bagaikan besi, kata Nurfansyah.

 tunggul2 ulin

Menurut Nurfansyah di kawasan tersebut begitu banyak terlihat tunggul (bekas tebangan) kayu ulin di sepanjang Sungai Pitap, dan tunggul-tunggul tersebut sudah ada sejak lama dan diperkirakan ratusan tahun.

“Menurut bapak saya, selagi dia masih kecil tunggul-tunggul kayu ulin tersebut sudah ada seperti itu, padahal usia bapak saya 80-an tahun, dan sekarang sudah meninggal,” kata Nurfansyah.

Mengenai tunggul-tunggul kayu ulin tersebut juga sering dilontarkan warga yang berpergian menyusuri trans Kalimantan antara Banjarmasin ke arah Batulicin Kabupaten Tanah Bumbu, sebab di kawasan Jorong, atau Kintap Kabupaten Tanah Laut yang dilintasi trans Kalimantan tersebut banyak terlihat tunggul-tunggul kayu ulin.

Dengan banyaknya tunggul kayu ulin tersebut juga membuktikan bahwa dulunya kawasan tersebut merupakan hutan ulin, tetapi sekarang berubah menjadi semak belukar dan padang alang-alang.

Jenis kayu ulin tersebut banyak dimanfaatkan warga untuk membuat pondasi (tongkat) rumah, tiang bangunan, sirap (atap kayu), papan lantai,kosen, bahan untuk banguan jembatan, bantalan kereta api dan kegunaan lain yang memerlukan sifat-sifat khusus awet dan kuat.

Kayu ini seringkali digunakan lantai tempat pemandian atau cuci, sebab jenis kayu ini tak akan lapuk walau bertahun-tahun kena air atau panas.

Karena jenis kayu tersebut banyak dicari warga maka kian sulit diperoleh walaupun ada harganya sudah selangit.

Di Kota Banjarmasin sendiri memang masih banyak terlihat penjual kayu menjual jenis kayu tersebut, tetapi persediaanya selalu terbatas.

Menurut pedagang Haji Sandri, jenis bahan bangunan yang terbuat dari kayu ulin yang belakangan masih banyak ditemukan di Banjarmasin atau daerah lain di Kalsel, bukan lagi hasil tebangan baru melainkan kayu ulin bekas hasil tebangan lama yang sudah tersimpan bertahun-tahun.

“Dulu kayu ulin yang masih berupa balokan atau berbentuk pohon di potong-potong dengan panjang sekitar tiga hingga empat meter lalu balokan itu potong-potong lagi sehingga menjadi persegi empat dengan panjang tetap sekitar tiga hingga empat meter,” katanya.

Sisa-sisa potongan kayu itulah yang sekarang dibuat lagi menjadi bahan bangunan seperti ini, katanya seraya memperlihatkan beberapa kayu gergajian hasil olahan kayu sisa tersebut.

“Bukti kayu ulin ini sisa, lihat saja warna kayunya sudah ada yang agak kehitaman, ada bekas tanaman lumut (tumbuhan air) ada bekas gergajian, bekas terbakar, dan tanda-tanda lainnya,” katanya.

Walau kayu ini berjenis ulin bekas olahan tetapi tetap saja diminati karena kualitas kayu ini kuat dan baik, sehingga untuk jenis bahan bangunan papan saja harganya sekarang sudah mencapai Rp80 ribu per keping, padahal dulu paling banter hanya Rp20 ribu per keping.

Mahalnya harga itu selain memang kian langka juga untuk mengangkut kayu tersebut dari lokasi penggergajian di Bilangan Liang Anggang sekitar 60 kilometer dari Banjarmasin ke arah Banjarmasin sering dipersoalkan pihak aparat sebab kayu tersebut dilarang diantarpulaukan ,akibatnya banyak pedagang yang takut membawa kayu tersebut.

Berdasarkan keterangan yang ia peroleh kayu lin tersebut, berasal dari tebangan lama di wilayah Kabupaten tanah Laut, Tanah Bumbu, serta Kabupaten Kotabaru atau wlayah pesisir Timur Kalsel.


Mulai Punah
Berbagai pihak menduga jenis kayu tersebut sudah mulai punah walau ada pihak lain menyatakan masih terdapat hutan kayu ulin di kawasan Pegunungan Meratus yang lokasinya sulit terjangkau manusia.

Bahkan Tim Ekspedisi Khatulistiwa 2012 Koordinator Wilayah 08 Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) Kalimantan Selatan yang menjelajahi kawasan Pegunungan Meratus tak pernah menjumpai hutan kayu ulin di kawasan tersebut.

“Dari hasil penjelajahan tim hanya menemukan beberapa pohon kayu ulin saja,” kata Mayor Sus Komaruddin didampingi beberapa peneliti dan tim lainnya di Hantakan HST, sekitar 190 Km Utara Banjarmasin.

Walau tim tak menemukan hutan kayu ulin tetapi mereka menemukan beberapa pohon kayu ulin di puncak gunung.

Selain itu mereka juga menemukan sebuah kampung yang disebut “Kampung Ulin Bajanggut” yang di kampung tersebut masih tumbuh satu pohon kayu ulin setinggi 30 meter dan diameter batang pohon 120 sentimeter.

Pohon kayu ulin tersebut agaknya dipelihara warga Dayak Meratus dan dikeramatkan yang berada di Desa Kiyu.

Dari beberapa bekas tebangan kayu ulin, diperkirakan kawasan tersebut diperkirakan tadinya merupakan hutan kayu ulin yang terus ditebang sehingga tinggal beberapa batang yang masih utuh.

Walau tak menemukan hutan kayu ulin tetapi tim masih menemukan hutan kayu ekonomis lainnya, seperti kayu meranti atau yang disebut pohon damar putih atau damar hitam.

Berdasarkan catatan, kayu ulin merupakan salah satu jenis kayu hutan tropika basah yang tumbuh secara alami di wilayah Sumatera Bagian Selatan dan Kalimantan.

Jenis ini dikenal dengan nama daerah ulin, bulian, bulian rambai, onglen, belian, tabulin dan telian.

Pohon ulin termasuk jenis pohon besar yang tingginya dapat mencapai 50 m dengan diameter samapi 120 cm, tumbuh pada dataran rendah sampai ketinggian 400 m.

Kayu tersebut sulit dibudidayakan, dan walaupun bisa tanaman ini akan b isa ditebang kayunya setelah berusia ratusan tahun sehingga tak ada orang yang mau mengembangkan jenis kayu tersebut.

Berdasarkan penelitian ulin ternyata tak sekadar bernilai ekonomis tinggi dari nilai kayunya. Lebih dari itu, kayu khas hutan tropis juga bisa dijadikan obat-obatan.

Manfaat ganda kayu ulin terdapat pada tiga jenis bagian dari kayu itu bisa dimanfaatkan untuk obat-obatan yaitu daun muda, esktrak biji, dan buahnya.

Dengan terus ditebang dan dicar tanpa ada yang bersedia membudidayakan maka sudah bisa ditaksir kedepan kayu ini hanya tinggal kenangan saja.

 

Iklan

FLUKTUASI HARGA KARET RISAUKAN PETANI KALSEL

Oleh Hasan Zainuddin


Paringin, Kalsel 8/7 (ANTARA)- Kalangan Petani Karet di sentra perkebunan karet alam Kabupaten Balangan Provinsi Kalimantan Selatan dalam dua bulan terakhir ini mengeluh lantaran harga karet di tingkat petani anjlok melebihi 50 persen.
Didon, 25 tahun petani setempat, di desa Inan Kecamatan Paringin Kabupaten Balangan, Minggu menyatakan akibat turunnya harga ketingkat bawah tersebut menyebabkan pendapatan petani juga anjlok.
Bayangkan saja harga karet jenis lum, saat normal antara Rp10 ribu hingga Rp12 ribu per kilogram, sementara harga berlaku yang dibeli kalangan pedagang pengumpul yang datang ke kampung-kampung belakangan ini hanya Rp5 ribu saja per kilogram.
Rendahnya harga karet tersebut melemahkan semangat kalangan petani setempat untuk mengembangkan lahan kebun karet luas lagi, padahal belakangan kegairahan berkebun karet telah hidup di wilayah kaki Pegunungan Meratus tersebut.
“Kita berharap harga karet kembali membaik, seperti sedia kala agar petani kembali bergairah,” katanya.
Ia mengkhawatirkan turunnya harga karet tersebut lantaran permainan spekulan atau para pedagang pengumpul yang bersekongkol dengan para pengusaha pabrikan.
Sebab kabar yang ia peroleh harga karet tersebut ternyata cukup baik di daerah lain, seperti di Kalimantan Tengah atau bagian Indonesia lain.
Menurutnya bila harga turun tersebut berlangsung lama dikhawatirkan akan menambah kemiskinan di kawasan pemukiman penduduk kabupaten Balangan yang merupakan wilayah kabupaten pemekaran dari Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) tersebut.
Sebab tambahnya, berbagai kebutuhan pokok di kawasan tersebut begitu mahal, harga gula pasir saja tercatat Rp15 ribu per kilogram, sehingga harga karet yang anjlok tak mampu menutupi kebutuhan sehari-hari.
Belum lagi harga beras, ikan, dan kebutuhan lainnya terus melambung yang semua itu terus memberatkan petani setempat.
Kerisauan tentang anjloknya harga karet tersebut hampir merata di kalangan penduduk yang meyoritas berkebun karet itu.
Oleh karena itu berbagai saran dan pendapatpun bermunculkan menanggapi turunnya harga barang dagangan ekspor andalan Indonesia tersebut.
Seperti diutarakan AbdulKadir penduduk Desa Panggung, Paringin Selatan ini yang berharap adanya semacam badan ataulembaga yang bisa menjadi penyangga produksi karet alam.
Harga yang berfluktuasi yang begitu tajam belakangan ini sangat merugikan petani karet,karena itu diperlukan badan atau lembaga menyangga agar harga bisa stabil, kata Abdul Kadir tokoh masyarakat yang sering disebut Bapak Anum ini.
Ia sendiri mengaku sangat sedih melihat kondisi petani karet belakangan ini yang selalu terombang-ambing oleh fluktuasinya harga karet.

Buat Lum
Dengan harga yang turun naik begitu tajam membuat petani menjadi bingung, di sisi lain sudah bergairah menggeluti kebun karet dan meninggalkan usaha lain dengan harapan hidup lebih sejahtera.
Alasan menggeluti karet karena dinilai menguntungkan setelah sekian lama karet tak terpengaruh oleh resesi ekonomi, baik ekonomi dunia maupun resesi ekonomi nasional.
Selain itu bertani karet lebih mudah dan murah investasi disamping mampu memperbaiki lingkungan yang rusak akibat penggundulan hutan tidak bertanggungjawab.
Dengan pertimbangan tersebut membuat banyak lahan terlantar digarap jadi kebun karet, lahan kebun lain bahkan kebun buah-buhan dikonversi jadi kebun karet.
Di sisi lain, harga sering turun naik tak menentu dan sekarang berada pada titik terendah Rp5 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp12 ribu per kilogram untuk jenis karet lum, yaitu jenis karet yang diproduksi petani setempat.
Dengan harga yang begitu rendah tersebut membuat banyak petani ingin berpaling lagi ke usaha lain.
Alasan mereka karet yang tadinya sebuah usaha menjanjikan kini dinilai sebuah usaha yang mengancam kehidupan, karena dengan harga Rp5 ribu per kilogram maka hasil yang diperoleh petani tidak akan sebanding dengan harga kebutuhan yang lain.
“Bayangkan saja harga satu kilogram gula pasir Rp15 ribu poer kilogram, bila harga karet hanya Rp5 ribu per kilogram berarti untuk memperoleh satu kilogram gula pasir harus menghasilkan tiga kilogram karet,” kata Abdul Kadir.
Oleh karena itu, Abdul Kadir berharap pemerintah turun tangan mengatasi harga karet tersebut, dengan membentuk sebuah badan atau lembaga semacam Depot Logistik (Dolog) yang mampu menyangga produksi beras petani.
Sebab tambahnya, bila harga karet membaik maka usaha lain seperti industri rumah, bertani sawah, petambak ikan, dan usaha lainnya juga ikut bergairah karena warga punya uang dan mampu membeli mahal produksi usaha lainnya tersebut.
Melalui badan atau lembaga, baik yang didirikan tersendiri oleh pemerintah, atau melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau dibawah departemen Perdagangan akan mempu menjaga harga karet.
Melalui badan atau lembaga tersebut, bila membeli karet petani dengan harga wajar, kemudian badan atau lembaga tersebut bisa mendirikan pabrik karet di lokasi sentra perkebunan.
Dengan demikian maka karet alam petani tidak lagi dikuasai oleh sekelompok pengusaha yang memiliki “kaki-tangan” seperti para pedagang pengumpul yang datang ke kampung-kampung.
Kelompok pengusaha dan kaki tangan serta para tengkulak itu yang selama ini mempermainkan harga karet petani, sehingga petani benar-benar tak berkutik dan pasrah menghadapi keadaan dengan anjloknya harga karet tersebut.
Menurut Abdul Kadir melalui badan yang dikelola pemerintah tersebut pula kalau perlu merubah kebiasaan hanya mengekspor karet mentah keluar negeri, tetapi menciptakan industri yang berbahan baku karet seperti ban kendaraan di dalam negeri.
Kemudian ban kendaraan tersebut yang diekspor sehingga memiliki nilai tambah yang berlipat ganga dibandingkan hanya ekspor karet mentah.
Apalagi luasan kebun Kalsel begitu memadai untuk menciptakan industri berbahan baku karet di wilayah ini.
Berdasarkan data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Kalsel, sampai dengan saat ini Luas areal tanaman karet di Kalimantan Selatan mencapai 182.527 Hektare.
Luasan tersebut terdiri dari perkebunan Rakyat 182.527 Hektare dengan produksi 113.250 ton, Perkebunan Besar Swasta (PBS) 13.168 hektare dengan produksi 11.753 ton dan Perkebunan Besar Negara (PBN) 14.545 hektare dengan produksi 7.590 ton per tahun.
Bila pemerintah mau serius memperhatikan keluhan petani karet maka kedua belah pihak akan diuntungkan, disisi lain petani akan terselamtkan dengan harga karet terus membaik, disisi lain pemerintah bisa memperoleh keuntungan dengan meraih devisa ekspor industri dari bahan karet tersebut.

Timbang karet lum

PDAM BANDARMASIH UBAH KAMPUNG KOLERA JADI METROPOLIS

Oleh Hasan Zainuddin


Di era sebelum tahun 90-an masih banyak terlihat berkeliaran pedagang air menggunakan gerobak menjajakan air bersih berjerigan masuk kampung Kota Banjarmasin Kalimantan Selatan.

Pemandangan itu kini sudah tak pernah terlihat lagi, lantaran air bersih mudah diperoleh warga berpenduduk sekitar 700 ribu jiwa tersebut.

Sebelumnya wilayah ini sering dilanda penyakit muntah berak (muntaber) atau diare, lantaran warga mengkonsumsi air sungai yang tercemar bakteri, terutama di saat musim kemarau.

Bahkan kota ini sempat dijuluki kampung kolera setelah sekian banyak warga yang terkena penyakit itu, dan ledakan jumlah penderita terus terjadi setiap musim kemarau pernah rumah sakit tak mampu menampung pasien lantaran terkena kolera.

Persoalan itu dipicu kelangkaan ketersediaan air bersih di kawasan sebenarnya kaya sumber daya air karena dialiri 104 sungai.

Hanya saja air daerah ini tak aman konsumsi setelah mudahnya intrusi air laut lalu airnya asin, kadar keasaman yang tinggi serta tercemar limbah yang begitu tinggi, bahkan hasil penelitian mengandung bakteri coliform atas ambang batas.

Melihat persoalan itulah, melalui perusahaan milik pemerintah kota setempat yakni Perusahaan daerah Air Minum (PDAM) Bandarmasih, berbagai upaya menyediakan air bersih bagi masyarakat.

Bertahap membangun fasilitas, mulai pembangunan mini treatment, sumur bor, reservoir, Instalasi Pengolahan Air (IPA), intake, serta jaringan perpipaan , baik pipa besar tranmisi untuk air baku , maupun pipa-pipa kecil hingga ke pelanggan.

Berkat upaya gigih dibantu semua pihak termasuk pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah kota itu sendiri melalui penyertaan modal akhirnya prestasi PDAM Bandarmasih gemilang yang mengatasi kelangkaan air bersih di wilayah seribu sungai itu.

Instalasi Pengolahan Air

Seperti diakui Direktur Pengembangan Air Minum, Ditjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum, Danni Sutjiono pelayanan air bersih Banjarmasin terbaik di Indonesia.

“Kita patut berterima kasih kepada Direksi dan seluruh karyawan PDAM Bandarmasih berhasil meningkatkan pelayanan air bersih hingga terbaik di tanah air,”kata Danni Sutjiono kepada wartawan di Banjarmasin.

Danni Sutjiono berada di Banjarmasin dalam kaitan menghadiri pertemuan pembahasan untuk menjadikan PDAM Bandarmasih, Kota Banjarmasin sebagai pilot proyek dalam pelayanan air minum.

Disebutkannya tingkat pelayanan air bersih Kota ini 98 persen lebih, prestasi gemilang melebihi prestasi PDAM lainnya di tanah air.

Sementara pelayanan perpipaan PDAM rata-rata nasional di perkotaan hanya sekitar 70 persen.

Sedangkan rata-rata pelayanan air bersih secara nasional sekarang ini hanya sekitar 50 persen, tambahnya seraya meminta prestasi PDAM Bandarmasih ditingkatkan sesuai rencana 100 persen penduduk setempat.

Direktur PDAM Bandarmasih, Ir Muslih gembira pihaknya mampu mengatasi persoalan air bersih hingga teriakan warga kesulitan air dan jeritan berjangkitnya kolera tak terdengar lagi.

Disebutkannya perusahaannya kini berhasil meningkatkan kapasitas produksi hingga mencapai 2050 liter per detik, dengan kapasitas itu mampu melayani sedikitnya 200 ribu pelanggan, bila pelanggan sekarang 130 ribu pelanggan, berarti masih tersedia sambungan baru 70 ribu pelanggan.

“Bila sekarang terlayani 98 persen warga kota, dengan kemampuan itu maka bisa 100 persen, bahkan mampu melayani sebagian warga Kabupaten Banjar, dan warga Kabupaten Barito Kuala yang berdekatan dengan Kota Banjarmasin,”katanya.

Dengan kemampuan PDAM mengatasi persoalan air bersih tersebut seringkali perusahaannya memperoleh penghargaan dari pemerintah pusat dan menjadi objek studi banding kota-kota lain di tanah air.

Meningkatkan kemampuan tersebut menyebabkan keuntungannya juga meningkat yang berdasarkan hasil audit Rp5,5 miliar 2011 tahun sebelumnya Rp4,5 miliar.

Sedangkan pendapatan juga membaik, berasal dari pendapatan air dan non air, untuk pendapatan air tahun 2011 tercatat Rp137,3 miliar lebih besar dibandingkan tahun 2010 hanya Rp119,8 miliar,katanya.

Sementara pendapatan non air Rp26,9 miliar lebih besar dari tahun sebelumnya yang tercatat Rp20,3 miliar, kemudian pendapatan lain-lain Rp2,004 miliar lebih besar dari tahun sebelumnya Rp1,9 miliar.

Dengan demikian jumlah pendapatan pada tahun 2011 sebanyak Rp166,2 miliar yang lebih besar dari tahun 2010 yang senilai Rp142,1miliar,katanya lagi.

Bukti kinerja perusahaan juga membaik bila dilihat cakupan pelayanan 98,36 persen, kehilangan air 26,27 persen, rasio karyawan per seribu pelanggan 2,44persen, serta jumlah sambungan pelanggan yang sudah mencapai 136.576 sambungan.

Aspek keuangan juga dinilai meningkat menjadi 29,25 persen sebelumnya 28,50 persen, aspek operasional 25,53persen sebelumnya 24,68 persen,aspek administarsi 14,58 persen sebelumnya 12.08 persen.

Dengan demikian hasil audit menyimpulkan jumlah kinerja 69,37 persen atau berklasifikasi kinerja baik, sebelumnya walau juga dinilai baik tetapi nilai kinerja 65,26 persen,katanya didampingi Humas PDAM Siti Nursiah.

Berbagai kalangan di Banjarmasin merasa gembira kian membaiknya kinerja PDAM yang berhasil menyediakan air bersih secara cukup yang kini berdampak terhadap pembangunan dimana air merupakan sarana vital.

Air bersih yang cukup membuat hidup warga menjadi sehat, memancing usaha industri dan perdagangan, bahkan belakangan berbagai investasi skala besar juga mulai menuju ke kota Banjarmasin yang dikatakan bagaikan gadis seksi yang menjadi perhatian banyak orang.

Direksi PDAM Bandarmasih,Kota Banjarmasin

KOTA TANJUNG DENGAN RATUSAN SUMUR MINYAK

Oleh Hasan Zainuddin


Bagi mereka yang tinggal di kawasan Banua Enam (Enam Kabupaten ) Utara Provinsi Kalimantan Selatan, mungkin begitu mudah menentukan arah Kota Tanjung,ibukota Kabupaten Tabalong.
Pasalnya bila malam hari kota Tanjung mudah dikenali arahnya karena di kota ini ada obor api menjulang tinggi memancarkan cahaya memerah yang berasal dari gas yang keluar dari tambang minyak bumi.
Populernya kota ini tak sebatas penghasil madu alam dan buah langsat, namun keberadaan minyak bumi yang berada di dalam tanah di wilayah yang bergelar “Bumi SarabaKawa” tersebut.
Kota Tanjung ibukota Kabupaten Tabalong, sebuah kabupaten paling utara provinsi Kalimantan Selatan, yang berbatasan dengan provinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah.
Bagian utara kabupten ini merupakan daerah tinggi yang bergunung-gunung, terusan dari pegunungan Meratus, sedangkan bagian selatan lebih rendah dan datar, serta sebagian berawa.
Kabupaten Tabalong ini cukup kaya dengan hasil alam, seperti perkebunan karet, buah-buahan musiman, serta pertambangan.
Bahkan Tabalong paling dikenal dengan tambang minyak buminya khususnya daerah Murung Pudak.
Legenda tentang terciptanya nama Tabalong menurut hikayat lisan dari mulut ke mulut bahwa sebutan Tabalong bermula dari para perambah hutan yang mencari ladang dan huma hingga kakinya terinjak duri Tataba, Tataba sejenis pohon yang seluruh batangya penuh berduri keras.
Jenis tanaman ini mempunyai akar tunjang dan berbuah hanya menjadi makanan burung-burung hutan. Para perambah hutan tersebut menjerit (dalam bahasa Banjar Hulu, dikatakan jerit sama artinya dengan Tahalulung atau bahasa Indonesia melolong).
Karena kesakitan terkena duri-duri Tataba, inilah akhirnya menjadi penyebutan Tabalong hingga sebutan itu melekat hingga sekarang.
Bukan lantaran hikayat atau masalah lain yang menjadi kawasan ini penting bukan saja di provinsi Kalimantan Selatan tetapi Indonesia.
Kabupaten yang terletak di wilayah ujung Kalimantan Selatan ini merupakan daerah penghasil minyak mentah yang awal pengeborannya dilakukan perusahaan Belanda, tahun 1898.
Sebagai daerah penghasil minyak, tak heran jika kabupaten dengan bahasa yang memiliki langgam dinilai unik itu memiliki ratusan sumur yang tersebar di sejumlah wilayah.
Diantaranya wilayah Tanjung Raya, Warukin Tengah, Warukin Selatan, Dahor, Tepian Timur hingga Kambitin.
Data di PT Pertamina Unit Bisnis EP Tanjung, untuk kecamatan Murung Pudak saja jumlah sumur mencapai 164 buah, ditambah 100 sumur di Tanjung Raya, 11 sumur Warukin Selatan, 6 sumur Warukin Tengah, 8 sumur di Tepian Timur dan 2 sumur di Kambitin.
Struktur minyak Tanjung, Warukin, Dahor dan Kambitin sendiri baru ditemukan sekitar tahun 1939 dan sempat diambil alih Jepang sejak 1942 hingga 1945.
Walau struktur minyak telah ditemukan era 1930-an namun pemasangan pipa penyalur minyak mentah dari Tanjung ke Balikpapan (Kalimantan Timur) baru rampung akhir 1961, itu pun setelah diambil alih Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) dari tangan Jepang.
Jadi kalau dihitung usianya, pipa penyalur minyak dengan diameter 20 inci dari Tanjung ke Balikpapan sepanjang sekitar 240 kilometer usianya mencapai 49 tahun.
Pihak PT Pertamina EP Tanjung pun mengakui kalau diusianya tersebut banyak pipa penyalur yang rawan bocor karena itu kegiatan penggantian pipa terus dilakukan secara bertahap.
Kepala Bagian Humas PT Pertamina Tanjung, Noor Erfansyah mengatakan dari jalur pipa pertamina kota Tanjung – Penajam (Kalimatan Timur) ada sekitar 10 titik yang rawan bocor karena faktor usia.
Namun banyaknya aktifitas masyarakat atau pemukiman di atas pipa penyalur menyebabkan penyisipan dan penggantian pipa selalu tertunda, sampai akhirnya terjadi tragedi tumpahan minyak mentah di Kampung Maliau Desa Garagata Kecamatan Jaro, Tabalong beberapa waktu lalu.
“Pipa pertamina yang ada memang peninggalan jaman Jepang dan dari faktor usia rata-rata di atas 30 tahun karena itu banyak titik perpipaan yang rawan bocor,” ujar Erfansyah.
Salah satunya di stasiun booster I Batu Butok, ujar Erfansyah, 10 titik lokasi pipa yang harus segera diganti yakni kilometer 49 Solan (Tabalong), kilometer 53,4 Batu Babi, Kilometer 63 Maliri, Kilometer 63 Ramubia, kilometer 63,8 Tiwau, kilometer 85,6 Gunung Raja (Serakit), kilometer 88,5 Busui, kilometer 93,7 Songka, kilometer 100 Batu Kajang dan kilometer 104,5 Setiu.
“Selain stasiun booster I Batu Butok, pelaksanaan penggantian pipa juga akan dilakukan di stasiun booster II Long Ikis, namun tahap awal kita fokuskan ke sepuluh titik tersebut,” jelasnya.
Sebelumnya untuk perawatan perpipaan yang ada di Tanjung hingga Balikpapan merupakan tanggungjawab Talisman Ltd yakni sejak Agustus 1994.
Kemudian 10 Nopember 2004 kontrak Enhanced Oil Recovery (EOR) dengan Talisman Energy Ltd berakhir dan sekarang lapangan Tanjung Raya, Warukin Selatan, Warukin Tengah, Dahor dan Kambitin bernama PT Pertamina EP Tanjung.
“Dulu pipa-pipa kita ditangani Balikpapan langsung sekarang semuanya diambil alih PT Pertamina EP Tanjung,” jelas Wasto, pengawas perpipaan wilayah Tanjung-Penajam Kaltim.
Pasca kebocoran pipa di Maliau, pihak Pertamina pun jadi lebih memperhatikan kehandalan maupun kelayakan pipa peyalur baik yang menuju Balikpapan maupun pipa dari sumur ke stasiun penampungan di Desa Manunggul Tanjung.
Bahkan 2011 ditargetkan jalur perpipaan milik Pertamina bisa bebas dari pemukiman sehingga meminimalkan resiko kebocoran akibat aktifitas warga.
Jika di Kampung Maliau, Desa Garagata Kecamatan Jaro, Pertamina mengklaim warga setempat telah menggunakan lahan milik perusahaan sebaliknya sejumlah warga Desa Masukau Kecamatan Murung Pudak mengaku tinggal di tanah sendiri, meski jaraknya sangat dekat dengan pipa-pipa milik Pertamina.
Thamrin misalnya, warga RT 5 Desa Masukau mengaku sudah menetap sejak 40 tahun lalu dan tanah yang ditempatinya peninggalan nenek moyangnya.
““Sejak kecil saya sudah tinggal di sini dan pipa-pipa pertamina sudah melintasi Desa Masukau namun waktu itu jumlahnya tak sebanyak sekarang,” jelas Thamrin.
Ia menuturkan waktu dulu pipa pertamina yang melintasi Desa Masukau berukuran kecil dan ditanam di dalam tanah, sehingga belum mengganggu aktifitas warga.
Sekarang pipa dengan diameter 20 inci lebih membentang di pinggir jalan sehingga warga harus membuat jembatan khusus untuk bisa melintasinya.
“Lihat saja pipa-pipa besar dan kecil menumpuk jadi satu sehingga untuk melintasinya kami harus menggunakan tangga khusus,” ujar Marlina, warga Desa Masukau lainnya.
Warga yang tinggal di sekitar pipa tua pun kerap dihantui perasaan takut karena pipa penyalur gas terkadang bocor sehingga mereka takut untuk melakukan aktifitas memasak.
“Biasanya kalau sudah tercium bau gas kita langsung lapor pertamina, sambil menunggu ditambal kita pun belum berani memasak,” ujar Harli, ketua RT 5 Desa Masukau.
Tak ada yang tahu sampai kapan Harli maupun warga yang tinggal di sekitar jalur perpipaan milik PT Pertamina akan bertahan ? Yang pasti mereka harus tetap waspada karena sewaktu-waktu jiwa bisa melayang.
Tertibkan Jalur Pipa Migas
Perkembangan kota Tanjung dan sekitarnya menjadi pemukiman khususnya sepanjang jalur pipa migas, tak bisa dielakkan.
Pihak Pertamina EP Tanjung pun tak mau disalahkan terkait keluhan warga sekitar jalur migas, sebaliknya warga bersikeras bertahan tinggal di sana meski dapat membahayakan jiwa.
Karliansyah (55), Kepala Desa Kasiau kecamatan Murung Pudak menuturkan warga yang tinggal di sekitar jalur pipa kebanyakan warga pendatang, seperti dari kabupaten tetangga Hulu Sungai Tengah (HSU) dan Hulu Sungai Utara (HSU).
Semula warga tinggal di sekitar jalur pipa migas, untuk bertani, karena sekitar lahan sekitar pipa dianggap tak bertuan sehingga mereka tempati hingga sekarang.
“Seingat saya sekitar 1970-an, mulai muncul warga pendatang yang bercocok tanam di sekitar jalur pipa, karena dianggap lahan tak bertuan akhirnya mereka tempati hingga sekarang,” jelas Karliansyah.
Karliansyah menilai kenyataan ini perlu menjadi perhatian serius bagi Pertamina dengan menertibakan jalur pipa khususnya di wilayah pemukiman, misalnya dengan membenamkan beberapa bagian pipa agar tak mengganggu aktifitas warga.
Kegiatan penertiban jalur pipa migas sebenarnya sudah dilakukan Pertamina EP Tanjung khususnya untuk pipa tua yang rawan bocor.
Tercatat sepanjang 232 kilometer pipa penyaluran migas dari lapangan Tanjung (Kalimantan Selatan) menuju kilang Balikpapan (Kalimantan Timur) yang menjadi target penertiban pada 2012.
“Sebelum menertiban jalur pipa migas, Pertamina melakukan sosialisasi di wilayah sasaran sehinga masyarakat maupun pemerintah daerah setempat bisa memahaminya karena terkait keselamatan kerja dan masyarakat sekitar,”jelas Ruspandi, staf humas Pertamina EP Tanjung.
Kegiatan sosialisasi terkait pembenahan pipa penyaluran gas sudah dilaksanakan di sejumlah wilayah, diantaranya Kecamatan Murung Pudak, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan dan Kecamatan Batu Sopang, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur.
Untuk wilayah Tabalong, pembenahan jalur pipa migas dari Desa Manunggul Kecamatan Murung Pudak hingga Kabupaten Penajam, Kalimantan Timur.
Penertiban pipa mengacu pada Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 300 Tahun 1997 tentang keselamatan kerja pipa penyaluran minyak dan gas bumi.
Dimana jarak aman yang ditetapkan, yakni 20 meter dari kanan dan kiri pipa penyaluran migas sepanjang Tabalong – Penajam yang dibangun sejak 1958 dan dioperasikan 1961.
“Jarak aman yang ditetapkan adalah 20 meter dari kanan dan kiri pipa, jadi ada larangan mendirikan bangunan maupun tanaman keras di sekitarnya,” jelas Pengawas Utama Stasiun Booster I Batu Butok, Chandra Sutrisno.

ULAR GUA SATWA MELATA UNIK PENGHUNI MERATUS

Oleh Hasan Zainuddin


Pegunungan Meratus di wilayah Provinsi Kalimantan Selatan menyimpan banyak misteri berkaitan dengan keberadaan flora maupun fauna, di antaranya sejenis ular yang habitatnya berada di dalam gua pegunungan tersebut.

Ular tersebut berhasil ditemukan oleh Tim Ekspedisi Khatulistiwa yang menjelajah kawasan Pegunungan Meratus, belum lama ini.

Tim penjelajah dan peneliti pertama kali menjumpai Ular Gua tersebut di Gua Liang Hadangan Hulu Sungai Tengah (HST) pada 16 April 2012, kata Mayor Sus Komaruddin Pajarah Sub Korwil 08/HST kepada Antara Banjarmasin, Kamis.

Penelitian kedua mreka lakukan di Gua Gunung Ranauan Loksado Hulu Sungai Selatan pada 23 Mei 2012.

Pada penjelajahan dan penelitian tahap ketiga, tim peneliti yang dipimpin Kapten Pasukan Efendi Hermawan kembali menemukan ular gua di Gua Liang Bantai Gunung Haliang Kampung Pasiratan Desa Marajai pada 13 Juni 2012. Serta di Gua Gunung Batu Laki di Kampung Sawang Desa Uren Kecamatan Halong Kabupaten Balangan pada 18 Juni 2012.

“Ketika memasuki Gua Haliang, Tim Penjelajahan dan Penelitian Sub Korwil 08/HST didampingi Damang Kecamatan Halong Pak Utan (50), karena menurut penduduk setempat Gua Haliang dianggap keramat sehingga seseorang yang masuk gua hendaknya ditemani oleh tetua adat atau orang tua yang cukup banyak pengalaman” katanya, mengutip keterangan Kapten Pasukan Efendi Hermawan.

“Setelah memasuki gua dan menjumpai ular ketiga, Pak Ujar mengatakan wah ular-ular itu adalah penjaga gua dan bukan sembarang ular, kita harus cepat keluar, karena akan datang ular yang lebih besar, sebesar naga,” ujar Kapten Pasukan Efendi Hermawan menirukan.

Sementara menurut Dr Abdul Haris Mustari, dosen pada Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan IPB, yang sejak awal sudah tergabung dalam tim Penjelajah dan Peneliti Ekspedisi Khatulistiwa 2012 Sub Korwil 08/HST, panjang Ular Gua dapat mencapai 2,5 meter.

Namun yang ditemukan oleh Tim Eskpedisi Khatulistiwa di Gua Haliang panjangnya 1,8 meter, nama ilmiahnya adalah Elaphe taeniura ridleyi dan bukan endemik Kalimantan.

Penyebarannya satwa ini meliputi Thailand, Semenanjung Malaya dan Kalimantan.

Disebutkannya, ular penghuni gua karena ular ini habitatnya adalah gua, terutama pada bagian atas mulut gua, pada zona terang dan zone gelap. Makanan utamanya adalah berbagai jenis kelelawar penghuni gua seperti Kelelawar Ladam Kalimantan (Rhinolopus borneensis), dan jenis kelelawar lain yang juga merupakan penghuni gua.

Haris menjelaskan, gambaran morfologi ular yang ditemukan yaitu bagian depan bewarna coklat kekuningan, bagian tengah sampai ujung ekor bewarna hitam dengan garis vertebral (sepanjang tulang belakang) berwarna kuning.
Ular tersebut pertama kali ditemukan sekitar 20 meter dari mulut gua ke arah dalam pada bagian atas gua.
Namun karena merasa agak terusik, ular gua tersebut turun dan merayap di dinding gua. Pada awalnya hanya ditemukan dua ekor ular pasangan jantan dan betina, dan pasanga ular itu sedang birahi (estrus) dan melakukan perkawinan.
Sebenarnya ular gua bukan termasuk ular yang sangat mematikan, tetapi karena penampakannya yang cukup menyeramkan ditambah lagi ukuran tubuhnya yang cukup besar, bertemu dengannya tetaplah membuat merinding bulu roma, ujar Haris.
Haris menambahkan, secara ekologi, ular penghuni gua sangat penting karena merupakan pengendali populasi kelelawar gua sehingga tidak terjadi ledakan populasi.

Dengan populasi yang terkendali, populasi kelelawar penghuni gua tetap sehat karena jumlahnya yang senantiasa sesuai dengan daya dukung lingkungan (carrying capacity).

Tambahan lagi individu kelelawar yang dimangsa oleh ular tersebut adalah individu yang lemah, sakit atau tua. Sehingga individu yang tersisa adalah yang sehat.

Dengan demikian, individu-individu kelelawar yang sehat itu akan dapat melangsungkan hidupnya karena ruang dan makan tersedia cukup banyak karena adanya pengendalian populasi yang dilakukan oleh ular penghuni gua tersebut.

Populasi kelelawar yang sehat diperlukan oleh umat manusia, terutama petani di sekitar hutan dan gunung, karena kelelawar penghuni gua adalah pemangsa serangga (insctivor), sehingga sangat membantu petani agar tidak terjadi ledakan hama serangga yang sangat merugikan petani.

Karena itu baik populasi ular gua maupun populasi kelelawar penghuni gua harus tetap dijaga kelestariannya agar senantiasa terjadi keseimbangan ekosistem, katanya.

Sementara di Poskotis Tim Ekspedisi Khatulistiwa 2012, Wadan Sub Korwil 08/HST Mayor Inf Ardian Triwasana mengatakan, temuan tim penjelajah dan peneliti yang telah berhasil menjumpai jenis ular di beberapa gua sekitar kawasan Pegunungan Maratus akan dilaporkan ke komando atas untuk diadakan penelitian lebih lanjut.

“Mudah-mudahan akan menjadi temuan baru di Kalimantan Selatan, sehingga akan menambah perbendaharaan jenis hewan melata di Kalimantan Selatan,” kata Wadan Sub Korwil 08/HST Mayor Inf Ardian Triwasana.

Dengan adanya temuan Ular Gua maka kian bertambah temuan dari Tim Ekspedisi Khatulistiwa konwil 08 ini.

Kawasan yang menjadi target penjelajahan dan penelitian personil tim beranggotakan 118 tentara dan sipil ini adalah Pegunungan Meratus yang merupakan kawasan pegunungan yang membelah Provinsi Kalimantan Selatan yang membentang sepanjang sekitar 600 km persegi dari arah tenggara dan membelok ke arah utara hingga perbatasan Kalimantan Timur.

Satu per satu tanaman dan satwa yang dinilai unik dalam kegiatan mulai Rabu, 11 April 2012 ini diperhatikan dan terakhir seperti diungkapkan Mayor (Sus) Komaruddin terdapat 193 temuan.

“Sebanyak 72 temuan penjelajahan dan penelitian tahap pertama dan 121 tahap kedua,” katanya.

Ia menyebutkan temuan tersebut antara lain bidang fauna seperti aneka jenis ular, aneka jenis kodok, aneka jenis kadal, aneka jenis tokek, aneka jenis burung, kera, tupai, bajing, musang, iguana dan satwa lainya.

Bidang flora antara lain aneka jenis anggrek, aneka jenis jamur, aneka jenis pohon meranti, kayu ulin, agathis, aneka jenis kantong semar, aneka jenis tanaman obat antara lain, Seluang Belum dan lain sebagainya.

Mayor Komaruddin mengatakan Pulau Kalimantan yang merupakan salah satu pulau besar di dunia dan merupakan paru-paru dunia menjadi sasaran tim ekspedisi yang memerlukan penanganan optimal.

“Kalimantan memiliki kekayaan alam dan mineral melimpah yang belum terjamah manusia, namun kondisi alamnya menurun dan beberapa satwanya hampir punah, sehingga perlu ditangani secara baik oleh kita semua” ujarnya.

HUTAN MERATUS SURGA BAGI KEHIDUPAN KUPU-KUPU

Oleh Hasan Zainuddin
Suasana hutan yang selalu berembun dengan aliran sungai jernih dan bebatuan dihiasi aneka tumbuhan berbunga di Pegunungan Meratus Provinsi Kalimantan Selatan ternyata surga bagi kehidupan kupu-kupu.

Kawasan yang paling diminati tinggal dan berkembangnya binatang cantik ini adalah di Gnung Batu Basar, atau Gunung Halau-halau Kecamatan Batang Alai Timur Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), kata Ahmad Arifin seorang pemandu wisata senior Kalimantan Selatan.

“Kawasan Pegunungan Meratus, khususnya di kawasan tertinggi wilayah itu, yaitu Gunung Halau-halau 1898 dari permukaan laut, merupakan objek petualangan wisatawan mancanegara,” katanya.

Bahkan, kata Ahmad Arifin pernah dua orang wisatawan berasal dari Jepang yang ternyata kolektor kupu-kupu mendatangi kawasan tersebut, dan mereka sempat mengambil begitu banyak foto kupu-kupu daerah tersebut dan ada beberapa jenis yang dibawa mereka pulang.
“Kolektor tersebut mempunyai kiat tersendiri memancing kupu-kupu untuk hinggap hanya dengan menempatkan selembar kain handuk agak basah di suatu tempat, entah diberi pengharum atau cairan tertentu sehingga kupu-kupu senang hinggap di kain handuk tersebut,” katanya.

Lokasi yang dipilih kolektor kupu-kupu asal Jepang ini sebuah tempat dimana terdapat aliran sungai dengan hutan tidak terlalu lebat dan agak terbuka dengan sinar matahari yang cukup.

Lokasi yang dipilih tersebut terbukti begitu banyak kupu-kupu beterbangan, dan sebagian besar kupu-kupu dengan bentuk sayap beraneka warna.

Menurut penuturan wisatawan Jepang tersebut,mereka akan publikasikan kawasan tersebut sebagai kawasan objek wisata menarik,lantaran terdapat puluhan bahkan ratusan spicies kupu-kupu.

Setelah kedatangan wisatawan Jepang tersebut menyusul lagi beberapa grup wisatawan mancanegara khususnya dari Eropa berpetualang di Pegunungan Meratus.

Wisatawan eropa ini bukan hanya ingin melihat kupu-kupu, tetapi juga ingin melihat aneka jenis burung, aneka jenis serangga, aneka jenis monyet, dan binatang melata disamping jenis hutan tropis basah dan kehidupan masyarakat Dayak Pedalaman kawasan tersebut.

Berdasarkan data Pegunungan Meratus yang merupakan kawasan pegunungan yang membelah Provinsi Kalimantan Selatan yang membentang sepanjang sekitar 600 kilometerpersegi dari arah tenggara dan membelok ke arah utara hingga perbatasan Kalimantan Timur.

Di sepanjang Pegunungan Meratus ini memang kaya akan kandungan plora dan fauna.

Pegunungan ini menjadi bagian dari delapan kabupaten di Provinsi Kalimantan Selatan yaitu Hulu Sungai Tengah (HST), Balangan, Hulu Sungai Selatan (HSS), Tabalong, Kotabaru, Tanah Laut, Banjar dan Tapin.

Pegunungan Meratus merupakan kawasan berhutan yang bisa dikelompokkan sebagai hutan pegunungan rendah.

Kawasan ini memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dengan beberapa vegetasi dominan.

Vegetasi dominan tersebut seperti Meranti Putih (Shorea spp), Meranti Merah (Shorea spp), Agathis (Agathis spp), Kanari (Canarium dan Diculatum BI), Nyatoh (Palaquium spp), Medang (Litsea sp), Durian (Durio sp), Gerunggang (Crotoxylon arborescen BI), Kempas (Koompassia sp), Belatung (Quercus sp).
Menurut Ahmad Arifin yang sekarang sudah menjadi PNS di lingkungan Pemprov Kalsel untuk menuju Gunung Halau-halau kawasan tertinggi Meratus tersebut tidaklah terlalu sulit.

Dari Kota Barabai ibukota Kabupaten HST menuju Kota Birayang, kemudian sekitar 30 Km ke arah Batutangga, dan dari Batutangga baru berjalan kaki sekitar satu hari.


60 Species
Sebuah kegiatan tim Ekspedisi Khatulistiwa 2012 Sub Korwil 08/HST di kawasan Pegunungan Meratus di Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan Kalsel adalah menemukan puluhan spicies kupu-kupu.

Berdasarkan laporan Mayor Sus Komaruddin Pajarah Sub Korwil 08/HST yang disampaikan kepada ANTARA menyebutkan tim ekspedisi berhasil mendokumentasikan 60 jenis kupu-kupu di Kampung Sawang Desa Uren Kecamatan Halong Kabupaten Balangan pada penjelajahan dan penelitian tahap ketiga di minggu pertama.

Penjelajahan dan penelitian Tim Ekspedisi Khatulistiwa 2012 Sub Korwil 08/HST tersebut adalah tahap ketiga pada minggu pertama mulai berlangsung sejak Rabu (13/6) sampai dengan Selasa (19/6).

Penjelajahan tersebut juga melibatkan peneliti Dr Abdul Haris Mustari, dosen pada Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan IPB yang dibantu oleh Kapten Psk Efendi Hermawan dan Praka Tugiran.

Menurut Abdul Haris Mustari, seperti dikutip Komaruddin dari 60 jenis kupu-kupu yang ditemukan terdapat dua jenis kupu-kupu yang dilindungi oleh pemerintah RI serta termasuk dalam daftar appendix 2 CITES (Convention of International Trade on Endangered Species).

Kupu-kupu dimaksud yaitu kupu-kupu sayap burung (Troides andromache) dan kupu kupu Brook (Trogonoptera brookiana).
Penyebaran Troides andromache terbatas di Kalimantan bagian utara dan timur. Sedangkan penyebaran Trogonoptera brookiana meliputi Kalimantan, Pulau Natuna dan Sumatera.

Jenis lain yang cukup langka yaitu Pachliopta aristolochiae, Papilio nephelus, dan Papilio memnon.

Haris menambahkan bentang alam Pegunungan Meratus sangat penting untuk kehidupan berbagai jenis kupu-kupu karena kondisi alamnya yang khas, terdapat beragam jenis tumbuhan berbunga, aliran air jernih yang bersumber langsung dari mata air pegunungan, terdapat air terjun serta adanya tebing-tebing karst atau batu kapur khas Pegunungan Meratus.
Habitat kupu-kupu adalah hutan primer dan sekunder, katanya seraya menyebutkan ketika matahari mulai terik sekitar pukul 9 pagi, kupu-kupu mulai mengepakkan sayapnya mencari sari bunga dan nektar, dan aktivitas kupu-kupu itu berlangsung hingga pukul 14.00.
Setelah itu jenis serangga ini mulai mengurangi aktivitasnya menjelang sore hari. Karena itu waktu terbaik untuk melihat kupu-kupu beraktivitas di habitat aslinya adalah pada periode waktu tersebut di atas.
Lama hidup (Life span) kupu-kupu sangat singkat bervariasi dari yang hanya hidup beberapa hari sampai kupu-kupu yang berumur 3 bulan, kata Haris.
Penyerbukan
Haris menjelaskan secara ekologi, keberadaan kupu-kupu sangat penting karena berperan sebagai penyerbuk berbagai jenis tumbuhan berbunga.
Tanpa kupu-kupu, penyerbukan tidak akan berlangsung sehingga akan berpengaruh terhadap regenerasi tumbuhan maupun regenerasi hutan.
Karena itu jenis serangga cantik ini dapat menjadi indikator kesehatan lingkungan. Habitat yang memiliki keragaman kupu-kupu tinggi berarti memiliki keragaman tumbuhan yang tinggi pula.
Kupu-kupu sangat peka akan perubahan lingkungan baik kondisi vegetasi maupun tingkat pencemarannya. Keragaman jenis kupu-kupu yang tinggi hanya dapat dijumpai pada habitat yang sehat serta masih asri. Setiap jenis kupu-kupu memiliki kesukaan bunga tertentu terutama tumbuhan dari famili Aristolochiacea dan Rutaceae, tuturnya.

“Secara ekonomi, kupu-kupu sangat penting karena dapat menjadi obyek wisata yang sangat menarik. Bahkan di berbagai daerah seperti di Maros Sulawesi Selatan, berbagai jenis kupu-kupu dikembangbiakkan untuk dijadikan souvenir dalam bentuk spesimen (awetan kupu) yang disimpan dalam bingkai, yang cukup mahal harganya.” katanya.

Selain itu fungsinya sebagai penyerbuk bunga selain secara ekologi, juga penting secara ekonomi karena berbagai bunga dan buah dapat dinikmati manusia karena peran penting kupu-kupu.
Sementara di Poskotis Tim Ekspedisi Khatulistiwa 2012, Wadan Sub Korwil 08/HST Mayor Inf Ardian Triwasana mengatakan, tim peneliti yang berhasil mendokumentasikan sebanyak 60 jenis kupu-kupu di lokasi penjelajahan tahap ketiga, saat ini akan dikirim ke Posko Utama Cijantung Jakarta untuk dilaksanakan penelitian lebih lanjut.

“Mudah-mudahan temuan-temuan ini akan menambah perbendaharaan taksa serangga di Kalimantan Selatan,” tegas Wadan Sub Korwil 08/HST Mayor Inf Ardian Triwasana.

 

SEKS BEBAS REMAJA SEBUAH KERISAUAN

 

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,24/6 (ANTARA)- Hampir sebagian besar dari 64 juta penduduk remaja Indonesia belakangan ini memiliki alat komunikasi handpone (HP) dan sebagian besar pula dari HP tersebut mampu mengakses internet.
“Sudah bisa dibayangkan kalau seorang remaja memiliki alat komunikasi yang mampu mengakses internet, siapa yang disalahkan bila remaja itu mengakses situs porno,” kata pejabat Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), pusat.
Deputi Bidang Advodkasi,Penggerakan dan Informasi (Adpin) BKKBN Hardiyanto saat berada di Banjarmasin, mengakui keberadaan remaja belakangan ini kian merisaukan saja.
Bukan HP saja remaja dengan mudah mengakses berbagai informasi dunia tetapi juga laptop, komputer, serta peralatan elektronik lainnya yang mudah akses jaringan internet, disamping media-media lain yang beredar bebas.
“Dimanapun remaja berada termasuk dalam kamar sendirian, siapa yang bisa menangkal agar remaja tidak menyaksikan tayangan film dan gambar porno,”katanya saat berada di Banjarmasin menghadiri acara Hari Keluarga Nasional (Harganas) tingkat Kalsel.
Kerisauan pejabat BKKBN tersebut, besar kemungkinan sudah merata di Indonesia, tak terkecuali di Banjarmsin ibukota Provinsi Kalimantan Selatan sendiri.
Seperti penuturan Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin, Hj Diah R Praswasti, angka seks bebas kalangan remaja menunjukkan peningkatan yang mencengahkan.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan setempat hingga akhir 2011 ada peningkatan persalinan remaja. Dari sebanyak 50 orang pada 2010, melonjak menjadi 235 orang pada 2011.
Data lainnya terjadi pada kasus KTD (Kehamilan yang tidak diinginkan), dari 35 orang 2010, melonjak menjadi 220 orang pada 2011.
Data tersebut berdasarkan acuan dari 26 Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) setempat bekerjasama dengan Unit Kesehatan Sekolah (UKS).
] Semua itu untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) di seluruh Kota Banjarmasin, dengan rentang usia dari sembilan tahun hingga 19 tahun.
Hj Diah menerangkan setiap Puskesmas membina UKS yang ada di setiap sekolah. Kemudian hasilnya didapat dari laporan setiap UKS kepada Puskesmas dan dievaluasi Dinkes Kota Banjarmasin.
Dari perkembangan seks bebas tersebut terimplikasi terhadap perkembangan penyakit yang menakutkan yakni Aids/Hiv.
“Berdasarkan data kumpulan dari 26 Puskesmas yang tersebar se Kota Banjarmasin dan telah dievaluasi Dinkes,” ujarnya.
“Serangan Aids di kota ini juga meningkat dan itu sungguh merisaukan hingga memerlukan kewaspadaan kita semua untuk menanggulanginya,” katanya.
Yang cukup merisaukan pula penyakit yang menakutkan tersebut sudah menjalar ke kalangan usia remaja yaitu pelajar, tambahnya lagi tanpa merinci pelajar mana yang terkena penyakit tersebut.
Berdasarkan data yang dihimpun dari petugas di lapangan warga Banjarmasin yang terkena Aids 33 orang dan terinveksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) tercatat 52 orang.
Mereka yang terbanyak terjangkit penyakit yang pernah menghebohkan dunia tersebut,adalah kelompok yang memang beresiko tinggi yaitu Pekerja Seks Komersial (PSK).
Selain itu mereka yang berprilaku seks menyimpang seperti homoseks, lesbian, serta prilaku bebas lainnya disamping jarum suntik, obat-obatan terlarang, dan akibat lainnya.
Pihak Dinkes Banjarmasin sendiri selalu melakukan penyuluhan agar penyakit tersebut tidak meluas, terutama penyuluhan di kalangan pelajar,mahasiswa, dan masyarakat umum. Adis.
Melihat kenyataan tersebut membuat Wali Kota Banjarmasin Haji Muhidin juga menjadi risau dan meminta semua pihak melakukan pengawasan terhadap perilaku remaja tersebut.
“Saya menghimbau kepada orang tua, guru, ataupun masyarakat untuk mengawasi anak-anak kita, sebab jumlah remaja yang mengalami kasus ini semakin meningkat,” katanya lagi.
Menurutnya, pengawasan tidak hanya pada lingkungan rumah, namun juga di lingkungan sekolah, seperti para guru atau pun masyarakat umum yang kebetulan melihat hal-hal ganjil dilakukan oleh remaja hendaknya diawasi hingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
“Misalnya, jika melihat dua remaja yang sengaja duduk di tempat remang-remang dan gelap segera ditegur, jangan sampai mereka terperosok ke hal-hal yang dilarang agama,”kata Muhidin.
Dia pun berencana agar Dinas Pendidikan juga menyiapkan program khusus untuk ini yakni melakukan ceramah agama untuk siswa SMP dan SMA. Program ini dimaksudkan untuk meberikan gambaran bahaya serta dampak dari pergaulan bebas.
“Nantinya kita juga anggarkan untuk program ini, sebab kita akan menggunakan tokoh agama atau alim ulama yang nanti keliling ke sekolah-sekolah tiap minggu untuk memberikan nasihat agama kepada murid-murid,”kata Muhidin.
Untuk tempat-tempat yang mungkin rentan terjadinya seks bebas oleh remaja, perlu diawasi pula, seperti warnet, maka Pemkot pun akan melakukan razia terhadap lokasi tersebut.
Misalnya ada warnet buka 24 jam dan banyak remaja yang nongkrong di situ, Pemkot melalui Satpol PP akan melakukan razia, karena seperti alporan yang diterima para remaja mudah melakukan hal-hal yang tak lazim di tempat itu.


Tiga Persoalan Besar
Menurut Deputi Adpin BKKBN, Drs Hardiyanto terdapat tiga persoalan besar yang menghadang remaja Indonesia.
Tiga persoalan besar tersebut selain masalah seks bebas pranikah, penyalahgunaan narkotika, dan berjangkitnya penyakit hiv/aids.
Padahal penduduk remaja sekarang ini begitu banyak dari 237 juta jiwa penduduk Indonesia 30 persen atau 64 juta jiwa diantaranya adalah usia remaja atau usia 10 hingga 24 tahun.
Kelompok remaja tersebut sedang galau menghadapi tiga persoalan besar tersebut, lantaran berbagai informasi belakangan yang sekarang sulit dibendung yang mempengaruhi tingkat perilaku remaja itu sendiri.
Oleh karena itu BKKBN sekarang ini mencoba mencari solusi menghadapi tiga persoalan tersebut, dengan mengembangkan apa yang disebut Remaja Berencana (Rebre),yakni pendidikan refproduksi agar mereka mengerti dan tahu apa yang baik dan tidak baik.
Dengan mengetahui persoalan remaja diharapkan mereka mengerti bahwa kawin muda itu tidak baik, dan berusaha sekolah setinggi mungkin sebelum memasuki jenjang pernikahan.
Masalahnya kawin dini menjadi persoalan dalam kemudian karena kesehatan refproduksi wanita masih belum baik, sementara laki-lakinya belum bisa bertanggungjawab.
Kalau ibu muda yang masih rawan melahirkan itu bisa menimbulkan kematian ibu lahir atau kematian bayi lahir.
“Apa mau setelah kawin dan punya anak, ditinggalkan begitu saja oleh pasangan laki-lakinya, sementara perempuan remaja yang sudah punya anak dan tidak ada kerjaan mau kemana membawa kehidupan itu, akhirnya semua jadi berentakan dan menjadi beban keluarga dan masyarakat,” tuturnya.
Pusat Informasi Pelayanan (PIP) remaja juga dibentuk BKKBN agar para meraja saling curhat mengenai refproduksi, sehingga melalui PIP mereka bisa mengetahui bahayanya pergaulan bebas, narkotika, dan hiv/aids.
Di lokasi PIP remaja tersebut BKKBN menyediakan seorang tenaga konsuling yang memberikan bimbingan terhadap remaja dalam menghadapi tiga persoalan tersebut.
Dari PIP remaja maka akan melahirkan remaja berencana yang mengerti menghadapi kehidupan kedepan, dan PIP remaja bisa dikembangkan di sekolah, madrasah, pesantren, di dalam masyarakat umum, dan kelompok dimana banyak terdapat remaja.
Seluruh indonesia tidak kurang dari 20 ribu PIP remaja yang sudah dibentuk, dan bisa dijadikan alat pengembangan pemikiran remaja menghadapi tiga persoalan besar yang dihadapi remaja tersebut, katanya.