KALTENG TAWARKAN EKOWISATA UNIK SEBANGAU

 Oleh Hasan Zainuddin
         Taman Nasional (TN) Sebangau Kalimantan Tengah (Kalteng) memiliki keanekaragaman hayati, baik flora maupun fauna, tetapi yang unik  adanya ekosistem air hitam.
        “Ekosistem yang unik itulah yang menyebabkan TN Sebangau Kalteng berpotensi dijadikan kawasan ekowisata,” kata Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kalteng, Aida Meyarti.
        Ekosistem air hitam merupakan akibat dari proses pelapukan bahan organik lahan hutan bergambut. Kawasan itu dinilai unik untuk menarik wisatawan.
        Keunikan itulah yang ditonjolkan untuk memprosikan kawasan TN Sebangau sebagai kawasan objek wisata, dan ternyata memang direspons wisatawan mancanegara.
        Ekosistem itu memberikan manfaat kehidupan, baik tumbuhan maupun binatang.
        Lembaga Ilmu Pengetahuan Idonesia (LIPI) pada 2006 meneliti TN Sebangau, dan menapati bahwa di sana terdapat 808 jenis tumbuhan yang mengandung khasiat obat.
        TN Sebangau juga merupakan habitat sejumlah satwa, seperti burung enggang, beruang madu (Helarctos malayanus), rusa (Cervus unicolor), kijang (Muntiacus atheroides), kancil (tragulus Javanicus), macan dahan (neofelis nebulosa), tupai (tupaia spp), loris (Nycticebus coucang), serta satwa lainnya dengan spicies induk orangutan (Pongo pygmaeus).
        Hasil survei dan penelitian tahun 2006 itu menemukan 6000-9000 ekor orangutan menghuni kawasan ini.
        Mengutip hasil penelitian atau studi hutan rawa gambut Universitas Palangkaraya (Unpar), terdapat sedikitnya 106 jenis tumbuh-tumbuhan yang ada di wilayah itu, di antaranya adalah tumbuhan asli Kalimantan.
        Tumbuhan asli Kalimantan itu, antara lain ramin (Gonystilus bancanus), jelutung (Dyera costulata), balangeran (Shorea belangeran) bintangur (Colophyllum sclerophyllum),  meranti (Shorea spp), nyatoh (Palaquium spp), keruing (Dipterocarpus spp), agathis (Agathis spp), menjalin (Xanthophyllum spp).
        Selain itu terdapat 116 spicies burung, di antaranya burung khas Kalimantan, burung enggang.
        Sementara 35 jenis mamalia yang ada di kawasan itu selain orangutan juga ada bekantan (nasalis larvatus) merupakan satwa kera hidung besar yang hanya ada di Pulau terbesar di nusantara itu.
        Masih ada pula kera lain yaitu lutung, owa-owa (Hylobates agilis), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), kera abu-abu, dan beberapa jenis lainnya.
        Sementara jenis ikan rawa yang banyak terdapat di areal ini antara lain gabus (Channa striata), lele (Clarias sp), papuyu (Anabas testudineus), kapar (Belontia hesselti), sambaling (Betta sp), gurami (Helostoma temminckii), karandang (Channa pleuropthalmus), tapah (Wallago leeri), dan banyak lagi spesies lainnya.
        Anggrek hitam (Coelogyne pandurata), serta tanaman liar kantung semar (Nepenthes ampullaria) serta anggrek lainnya juga terdapat di sana.
        Kekhasan lain TN Sabangau terdapat laboratorium alam hutan rawa gambut yang dikelola Pusat kerjasama Internasioal Pengelolaan Gambut Tropika (Cimtrop) Univeritas Palangkaraya (Unpar) sebagai lembaga riset yang memfokuskan penelitian di bidang pengelolaan hutan rawa gambut.
        Potensi wisata lain di taman nasional ini ialah keberadaan alamnya, terdapat jeram, lembah, serta danau-danau.
        TN Sebangau memiliki luas sekitar 568.700 hektare terletak di antara Sungai Sebangau dan Sungai Katingan.
        Secara administrasi merupakan bagian dari Kabupaten Katingan, Kabupaten Pulang Pisau, dan Kota Palangkaraya.
        Kawasan itu merupakan hutan rawa gambut yang masih tersisa di Kalteng setelah gagalnya Proyek  Lahan Gambut (PLG) sejuta hektare pada 1995.
        Kegiatan wisata yang bisa dinikmati di kawasan itu, antara lain menjelajah hutan rawa gambut dengan cara mengitari alur sungai, mengamati flora dan fauna yang unik dan khas, mendaki bukit, berenang di sungai, atau melihat adat istiadat dan budaya Suku Dayak, seperti acara “tiwah”.
   
             Konsep WWF
   Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) WWF Indonesia telah pula menawarkan konsep pengembangan ekowisata di TN Sebangau.

        Konsep Ekowisata yang ditawarkan WWF Indonesia tersebut berbasis masyarakat, kata Pimpinan Projek Konservasi Sebangau WWF-Indonesia Rosenda Ch Kasih.

        Konsep tersebut penggabungan antara konsep “community based tourism” dan “ecotourism”. Dibuat untuk mengangkat pengembangan ekonomi tanpa melupakan konsep pembangunan berkelanjutan, dengan berakar pada potensi lokal, tambahnya.

        Dalam pengelolaannya harus dilaksanakan secara bertanggungjawab di tempat-tempat alami, secara ekonomi harus berkelanjutan dan memberikan manfaat langsung kepada masyarakat setiap generasi.

        Dalam pemahaman tersebut, ketika ekowisata dikembangkan maka potensi Sumber Daya Alam (SDA) maupun budaya  harus dipandang sebagai aset dan minimal harus ada empat pilar yang harus diusung.

        Empat pilar tersebut, kata Rosenda Ch Kasih, yaitu konservasi, ekonomi, pendidikan, dan partisipasi masyarakat itu sendiri.

        WWF Indonesia melihat kawasan Sebangau merupakan kawasan konservasi sebagai pelestarian alam, di kawasan itu tumbuh beribu jenis flora dan menjadi habitat hidup berbagai satwa dengan spesies kunci orangutan.

        Di sekeliling TN Sebangau diinteraksi oleh keragaman budaya khas masyarakat Suku Dayak Kalteng dengan kehidupan tradisionalnya dalam memanfaatkan SDA tersebut.

        Dalam upaya melakukan kegiatan ekowisata di Sebangau, WWF Indonesia mengembangkannya dengan berbasis masyarakat, karena masyarakatlah yang harus menjadi salah satu pelaku kegiatan ini.

        “Mereka harus memiliki nilai dan porsi tawar yang setara dengan pihak lain, ketika ekowisata ini dibangun dan dikembangkan, masyarakat tak boleh hanya menjadi objek dari pengembangan, tetapi harus menjadi pemilik dari kegiatan ekowisata,” demikian Rosenda Ch Kasih.

 

 

 

Feature: CENTRAL KALIMANTAN OFFERING UNIQUE ECOTOURISM By Hasan Zainuddin
         Jakarta, Sept 8 (ANTARA) – The Sebangau National Park in Central Kalimantan, Indonesia, has a unique fauna and flora biodiversity  including a black water ecosystem.      
   “The unique ecosystem makes the park a potential ecotourism region,” head of the Tourism Destination Development Section at the East Kalimantan Culture and Tourism Office, Aida Meyarti, said here recently.
        Tourists consider  the black water ecosystem a unique thing. The ecosystem came into being by the decay of organic substances on  peatland. 
   The uniqueness of the ecosystem is among the things being promoted in the Sebangau National Park as a tourist site which is visited by many domestic and foreign tourists.
        The Indonesian Institute of Sciences (LIPI) in 2006 conducted a research in the Sebangau National Park and found 808 herbal plant species.  
   The Sebangau National Park which is home to a number of animals including different species of bird, bear (helarctos malayanus), deer (cervus unicolor), small antelope (muntiacus atheroides), mouse deer (tragulus javanicus), tiger (neofelis nebulosa), squirrel (tupaia spp) and orangutan (pongo pygmaeus).
        The research in 2006 found 6,000 – 9,000 orangutans living in the Sebangau National Park. 
   Meanwhile, research conducted by Palangkaraya University in East Kalimantan resulted in the discovery of at least 106 floral species including native plants in the Sebangau National Park. 
   Kalimantan’s native plants include ramin (gonystilus bancanus), jelutung (dyera constulata), balangeran (shorea belangeran), bintangur (colophyllum sclerophyllum), meranti (shorea spp), nyatoh (palaquium spp), keruing (dipterocarpus), agathis (agathis spp) and menjalin (xanthophyllum spp).
         The national park also has 116 bird species including Kalimantan’s native bird called Enggang, besides 35 species of mammals like orangutans and bekantan (nasalis larvatus, a monkey with a big nose which is found only in Kalimantan, the largest  island in Indonesia.  
    The national park also has black or gray long-tailed monkey or lutung, owa-owa (hylobates agilis), long-tailed monkey (macaca fascicularis) and gray monkey among other mammals.
         Several species of swamp fish were also found in the national park like gabus (channa striata), lele (clarias sp), papuyu (anabas testudineus), kapar (belontia hesselti), sambaling (betta sp), gurami (helostoma temminckii), karandang (channa pleuropthalmus and tapah (wallago leeri). 
   The national park is also rich in unique flower species like black orchid (coelogyne pandurata) and such wild plants as kantung semar (nepenthes ampullaria).     
   The Sebangau National Park has a nature laboratory managed by the Center for International Cooperation on  Tropical Peat Land Management of Palangkaraya Univesity as a research institute focusing on peat land management.  
    As a tourist site, the Sebangau National Park also has water falls, beautiful valleys and lakes. The national park covers an area of 569,700 hectares where the Sebangau and Katingan rivers flow, and occupies  parts of Katingan district, Pulang Pisau district and Palangkaraya city.
        In the national park, tourists can traverse  peat land forests, trek along rivers and observe unique flora and fauna, climb  hills, swim in the rivers or watch Dayak traditions.   
  WWF concept 
  Ecotourism is a form of sustainable tourism development in support of efforts to preserve the environment, including  nature and cultures. The local government involves local people in developing  ecotourism in the Sebangau National Park. 
   The World Wildlife Fund for Nature (WWF) Indonesia has offered its concept of community based ecotourism development in the Sebangau National Park, said Rosenda Ch Kasih, project leader of  WWF-Indonesia Sebangau Conservation    
  According to Rosenda, the WWF’s concept combines  the community-based tourism concept and the ecotourism concept in an effort to develop local economic potentials under the sustainable development concept which generates direct advantages to the local people of every generation.      
    Ecotourism deals with natural resources and cultures which must be developed on four pillars — conservation, economy, education and people’s participation, Rosenda said.
        WWF Indonesia sees the Sebangau area as a nature conservation area home to thousands of fauna, flora and animal species including orangutans.  
   With the development of ecotourism  in the national park, local people  must have equal values and bargaining position with other people, and they should not become objects but subjects of the ecotourism development projects, Rosenda said.

 

 

 

 

Pelanduk (kancil) satu satwa, salah satu penghuni TN Sebangau (foto sdnkarangwaru1)

 

dua satwa diantara banyaknya penghuni TN Sebangau Kalteng

NIKMATNYA BUAH RIMBA KALIMANTAN

 

lahung Buah Lahung yang ada di Desa Inan

Oleh Hasan Zainuddin
     Sekelompok anak muda bergegas berlarian ke belakang rumah pemukiman Desa Inan, Kecamatan Paringin Selatan, Kabupaten Balangan Kalimantan Selatan (Kalsel).
     Mereka berlarian untuk lebih cepat mencapai tujuan setelah terdengar bunyi “dbuk” di rimbunan pepohonan buah-buahan lahung (sejenis durian) yang ada di kawasan tersebut.
     “Horeee…!” kata seorang anak muda setelah kembali seraya membawa sebiji buah lahung yang sudah matang dipohon dan jatuh ke tanah setelah terkena tiupan angin.
     Serta merta buah tersebut dikupas, tetapi caranya bukan seperti mengupas buah durian, namun harus menggunakan parang tajam caranya harus dipenggal, setelah terbuka kelihatan isi buah yang kekuningan dengan semerbak bau khas buah tersebut.
     Buah lahung, satu dari sekitar belasan spicies jenis durian yang hidup di daratan Kalimantan, baik di Kalsel, Kaltim, dan terbanyak di Kalimantan Tengah (Kalteng).
     “Beda buah ini dibandinkan buah durian lainnya karena durinya yang lancip dan tajam serta panjang-panjang, dengan warna kulit termasuk warna duri merah kehitaman, rasanya agak berbeda dengan durian tetapi tetap enak,” kata Nurdin penduduk setempat.
     Buah ini kini sudah mulai langka, pohon buah ini yang tersisa hanya beberapa saja lagi, dan usianya ratusan tahun ban menjulang tinggi keudara dengan batang yang besar diameter bisa mencapai dua meter.
     Akibat batang yang besar ini maka banyak pohon lahung ditebang lalu dibuat kayu gergajian oleh penduduk setempat, kemudian kayu tersebut dijual kepErusahaan kayu lapis dan industri lainnya akhirnya jumlahnya yang sudah sedikit maka kini terus menyusut dan mendekati kepunahan.
     Lahung satu dari beberapa jenis buah durian khas rimba raya Kalimantan yang kini mendekati kepunahan, yang lainnya adalah karatongan, mahrawin, mantaula, dan pampakin.
     Pampakin buah rimba Kalimantan yang juga tak ditemui di belahan banua manapun, durian ini bedanya warna kulit kuning keemasan, warna isi juga kuning keemasan, bahkan ada jenis tertentu warna isi justru kuning kemerahan.
     Rasa pampakin atau yang disebut oleh penduduk Kaltim sebagai buah lai, beda pula dibandingkan rasa durian kebanyakan, tetapI rasanya tetap enak.
     Sementara buah  durian mantaula justru kulitnya sama seperti durian kebanyakan, tapi warna isi jingga, rasanya juga beda namun aromanya menyengat.
     Isi buah durian mantaula, biasanya untuk campuran bahan pembuat penganan (kue) hingga kue beraroma dan enak.
     Itu beru bercerita buah jenis durian (famili durio sp), sementara di rimba Kalimantan juga terdapat belasan mungkin puluhan buah rimba jenis asam-asaman (mangefira sp).
     Satu buah rimba yang menjadi maskot flora Kalsel, yakni jenis mangga kecil yang disebut Kastury (Mangefira Delmiyana).
     Asam mangga ini terbilang unik, selain bentuknya kecil sebesar genggam anak-anak juga warna kulit yang merah kehitaman, rasanya manis dan warna isi kuning kemerahan.
     Buah ini menjadi barang cenderamata di Banjarmasin (Kalsel) dan Palangkaraya (Kalteng).
     Belum lagi buah asam rimba Kalimantan disebut “hambawang pulasan” (asam putar), caranya tak boleh dikupas begitu saja, tetapi harus diiris bagian tengah buah,  baru diputar atau dipulas hingga biji keluar sendirinya, setelah itu baru kulit tipis bagian luar dikupas kemudian disantap.
     “Kalau bercerita tentang buah rimba hutan Kalimantan memang tak ada habis-habisnya, makin diceritakan makin banyak lagi yang harus diceritakan lantaran begitu banyaknya,” kata Kepala Pusat Penelitian Sumberdaya lahan dan  perairan (P2SLP) Lembaga Penelitian Universitas Palangkaraya (Unpar), Dr.Ir.Akhmad Sajarwan.
      Keunggulan buah rimba tersebut disamping memiliki rasanya yang khas dan enak, juga memiliki tampilan yang menarik.
     “Hampir semua jenis buah-buahan rimba Kalimantan tersebut juga mengandung nilai gizi yang cukup tinggi, dan ada beberapa buah-buahan rimba ini dikonsumsi sebagai obat tradisional,”katanya.
     Melihat kekhasan plasma nutfah rimba Kalimantan itulah maka pihaknya bekerjasama dengan  Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kota Palangkaraya, Kalteng mengembangkan buah rimba Kalimantan.
     Pengembangan buah rimba Kalimantan tersebut sebagai upaya pelestarian buah khas hutan tersebut melalui program taman dan hutan kota Palangkaraya, katanya.
     Tujuan lain untuk mengenalkan buah-buahan pedalaman Kalimantan tersebut kepada masyarakat luas terutama pada generasi mendatang sekaligus sebagai objek wisata dan lokasi penelitian dan pendidikan.
     Pihak Pemko Palangkaraya sudah menyediakan sekian lahan untuk pengembangan buah-buahan tersebut, sementara pihak P2SLP sebagai tenaga tehnisnya sudah mngumpulkan sedikitnya 50 jenis tanaman khas rimba Kalimantan tersebut untuk segera ditanam sebagai pelestarian.
     Latar belakang pengembangan buah tersebut setelah buah-buahan tersebut setiap tahun terus menyusut produksinya, bahkan ada beberapa diantaranya yang sudah jarang terlihat apalagi bisa dinikmati, padahal buah tersebut memiliki keunggulan.
     Untuk menghindari kepunahan keberadaan buah rimba tersebut, maka sangat perlu diusahakan dan diupayakan tindakan budidaya dalam pelestariannya melalui program taman dan hutan kota Palangkaraya.     
     Beberapa jenis buah Rimba Kalteng yang saat ini sudah mulai sulit ditemukan seperti buah lewang, kenyem, rokam (Flacourtia sp), embak atau kapul, langsat (Aglaia spp), duku, tanggu, ruku, asam hutan (Mangifera sp), asam putar, asam gayung, kuini, kasturi, dan manggis (Gracinia sp).
     Buah lainnya yan sudah mulai jarang terlihat, rambai (Baccaurea motleyana) tangkunis (Averhoa Bilimbi), tanggaring (Nephellium sp), katiau atau untit (Nephelium sp), durian (Durio sp), paken, tongkoi, tungkun, ramania (Bouea macrophyla), suli, lemba (Curculligo latipalio) tangkunins, gandis, tabulus, bangkinang, sange, palasit, karamu, paying, mariuh, tetei edan, sangalang dan lainnya.
     Kalteng sendiri yang 70 persen wilayahnya berupa hutan terdapat sekitar 200-250 jenis tanaman buah yang sangat potensial untuk dikembangkan.

 pampakin 

 kasturi

JINALUN2 Warga Desa Inan memperlihatkan buah Jinalun salah satu jenis buah Rimba Kalimantan

 lengkeng hutan atau buah mata kucing

kalau ingin melihat gambar2 buah rimba klik di sinihttps://hasanzainuddin.wordpress.com/buah-khas-kalse

KABUT ASAP DAN BAHAYANYA BAGI KESEHATAN MANUSIA

asap

Oleh Hasan Zainuddin

Bau angit (bau benda terbakar) kelalatu (benda bekas terbakar) serta asap kini warnai udara Palangkaraya dan wilayah lain Kalimantan Tengah (Kalteng)i.
Kebakaran lahan gambut terus berlangsung di daerah luas 1,5 kali Pulau Jawa berpenduduk sekitar dua juta jiwa ini.
“Udara benar-benar kotor, kemana harus tutup mulut dengan masker” kata Muslin penduduk Palangkaraya.
Keluhan asap direspon pemerintah yang melarang membakar lahan, tapi kebakaran terus berlanjut, akhirnya pemerintah memadamkan kebakaran dengan berbagai upaya.
Upayanya mengerahkan regu pemadam manggala agni dan regu lainnya, namun tak mampu sepenuhnya atasi kebakaran di areal yang luas ini.
Hujan buatan diprogramkan dengan dana miliaran rupiah, tapi kembali kobaran api tetap berlangsung di kondisi uadara yang panas lantaran kemarau.
Pematauan, Sabtu pagi (29/8) sepanjang jalan Trans Kalimantan Poros Selatan jurusan Palangkara-Banjarmasin wilayah batas wilayah Palangkaraya dan Kabupaten Pulang Pisau jalan nyaris tak terlihat akibat asap.
Kendaraan di situ nyalakan lampu, bunyi klakson bersahutan,  jalan kendaraan beringsut hindari tabrakan, itulah antara lain derita warga akibat asap.
Belum lagi dilaporkan ribuan warga terkena Inspeksi Saluran Pernafasan (Ispa), penderita asma meningkat, penyakit mata pun terus melanda warga di wilayah ini.
Kegelisanan warga terdengar Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat, yang mengingatkan seluruh warga setempat agar tidak memproduksi asap melalui pembakaran lahan, karena asap bisa menyebabkan penyakit.
Kepala Bidang Bina Pengendalian Masalah Kesehatan Dinkes Kalteng, dr. Mulin Simangunsong, M.Kes mengatakan sebaran asap apalagi yang pekat membayakan.
Asap dihasilkan dari proses pembakaran tersebut terdiri dari polutan berupa partikel dan gas. Partikel itu adalah silika, oksida besi, dan alumina, gas yang dihasilkannya adalah CO,CO2,SO2,NO2, aldehid, hidrocarbon, dan fluorida.
Polutan ini, berpotensi sebagai iritan dapat menimbulkan fibrosis (kekakuan jaringan paru), pneumokoniosis, sesak napas, elergi sampai menyebabkan penyakit kanker.
Berdasarkan pedoman Depkes tentang pengendalian pencemaran udara akibat kebakaran hutan terhadap kesehatan ditetapkan katagori bahaya kebakaran hutan dan tindakan pengamanan berdasarkan ISPU.
ISPU <50 dikatagorikan baik tak ada dampak kesehatan, ISPU 51-100 dinilai sedang, juga tak ada dampak kesehatan, ISPU 101-199 sudah dikatagorikan tidak sehat.
Dalam katagori ini dapat menimbulkan iritasi pada saluran pernapasan, bagi penderita penyakit jantung gejalanya akan kian berat, pencegahannya gunakan masker aktivitas diluar rumah.
ISPU 200-299 sangat tidak sehat pada penderita ISPA, Pneumonia dan penyakit jantung akan kian berat, aktivitas rumah hendaknya dibatasi perlu persiapan ruang khusus.
ISPU 300-399 dikatagorikan berbahaya bagi penderita suatu penyakit gejalanya akan semakin serius, orang yang sehat saja akan merasa mudah lelah.
Pada katagori ini penderita penyakit ditempatkan pada ruang bebas pencemaran udara, aktivitas kantor dan sekolah harus menggunakan AC atau air purifier, tambahnya.
Sementara katagori terakhir sangat berbahaya ISPU 400>, saat ini berbahaya bagi semua orang, terutama balita, ibu hamil, orang tua, dan penderita gangguan pernapasan.
Saat seperti ini semua harus tinggal dirumah dan tutup pintu serta jendela, segera lakukan evakuasi selektif bagi orang beresiko seperti balita, ibu amil, orang tua, dan penderita gangguan pernapasan ke tempat bebas pencemaran.
Melihat dampak yang berbahaya demikian, maka wajar bila masyarakat harus menghindari pembakaran lahan khususnya dimusim kemarau seperti sekarang ini.
Diskes Kalteng berusaha mencegah dampak sebaran asap dengan memberikan penyuluhan kepada penduduk setempat agar mereka memahami bahaya asap terhadap kesehatan.
Menurut dokter ini, dampak asap begitu luas, jangka pendek asap yang berupa bahan iritan (partikel) akibat pembakaran lahan berdampak negatif terhadap kesehatan.
Pengaruhnya dalam jangka pendek itu adalah niengiritasi saluran pernafasan dan dapat diikuti dengan infeksi saluran pernafasan sehingga timbul gejala berupa rasa tidak enak di saluran pernafasan.
Gejalanya seperti batuk, sesak nafas (pneumonia) yang dapat berakhir dengan kematian, tambahnya.
Selain itu asap juga mengiritasi mata dan kulit, mengganggu pernafasan penderita penyakit paru kronik seperti asma dan bronchitis alergika.
Sedang gan CO pada asap dapat juga menimbulkan sesak nafas, sakit kepala, lesu, dan tidak bergairah serta ada perasaan mual.
Dampak jangka panjang bahan-bahan mengiritasi saluran pernafasan dapat menimbulkan bronchitis kronis, emfisema, asma, kanker paru, serta pneumokoniosis.
Melihat kenyataan tersebut, menurutnya perlu dilakukan pengendalian dampak asap pembakaran lahan dan hutan di wilayah ini.

MENGGALI OBAT-OBATAN LAHAN GAMBUT TROPIKA KALTENG

 

 

 Oleh Hasan Zainuddin
         “Membangun Indonesia Melalui Bumi Tambun Bungai Kalimantan Tengah,” demikian sebuah buku Gubernur Kalteng Teras Narang yang menggambarkan betapa kayanya daerah yang luasnya 1,5 kali Pulau Jawa tersebut.

        Disebutkan, kawasan pemukiman Suku Dayak berpenduduk sekitar dua juta jiwa itu bisa jadi muncul penemuan-penemuan baru yang akan mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional. 
   Agustin Teras Narang dalam setiap kesempatan menyatakan, Kalteng begitu kaya, karena hampir semua ada di wilayah itu.

        Tetapi yang lebih khas, yaitu terdapatnya hamparan luas lahan gambut tropika yang unik yang masih memerlukan keterampilan kalangan ilmuan untuk mengungkap potensinya.

        Bahkan Gubernur Teras Narang mengajak kalangan investor baik dalam maupun luar negeri untuk “menengok” kekayaan Kalteng itu.

        “Siapa tahu di lahan yang selama ini dianggap marginal itu tersimpan ‘berlian’ lain berupa senyawa-senyawa organik yang bermanfaat baik untuk industri maupun obat-obatan,” katanya.

        Kalteng sedikitnya memiliki 3,6 juta hektare lahan gambut tropika atau sekitar 300 ribu kilometer persegi.

        Potensi terpendam di wilayah sejuta sungai itu telah memancing keingintahuan kalangan peneliti untuk menelusuri kekayaan yang ada di hutan gambut Kalteng tersebut.

      Menurut penuturan peneliti senior Universitas Palangkaraya (Unpar) Prof DR H Ciptadi, lahan gambut tropika Kalteng memang memiliki keunikan dan kelebihan.

        Kekayaan hayati lahan gambut tropika Kalteng dibuktikan dengan keanekaragaman hayati yang sangat besar, kata doktor kimia biomolekul lulusan Universitas Montpellier II-Perancis, pada 2003, itu.

        Ketua Lembaga Penelitian Unpar itu mengatakan, di Taman Nasional Tanjung Puting, Kabupaten Kotawaringin Barat, dan Sungai Sebangau terdapat sedikitnya 310 spesies tanaman.

        Di sana juga terdapat fitoplankton yang hanya hidup dan berada di kawasan ekosistem air hitam.

        “Sumber Daya Alam Kalteng melimpah ruah, kekayaan ini harus kita jaga dan hendaknya dikelola dengan baik,” katanya.

        Menurut dia, jenis-jenis tumbuhan dari berbagai ekotipe hutan tropis Kalteng hendaknya didata secara lengkap, seperti penyebaran, penggunaan tradisional, kandungan kimia dan aktivitas biologisnya.

        Di samping itu, kata guru besar bidang biokimia/kimia organik Unpar itu, dirasa perlu kaderisasi peneliti untuk bisa melanjutkan estafet penggalian dan pengembangan biota Kalteng, khususnya yang terkait dengan aktivitas biologis yang dimiliki tumbuhan tersebut.

        Ia menjelaskan, kekayaan hayati ini sebagian besar belum digali dan dikaji hingga tak bisa dimanfaatkan maksimal.

        Dalam rangka pencarian dan pemanfaatan senyawa kimia yang terkandung dalam sumberdaya hayati tersebut diperlukan penelitian yang terencana dan berkelanjutan.

        Para ilmuan  dari berbagai lembaga riset dan perusahaan obat besar dunia berusaha  menemukan senyawa baru dari hutan tropis termasuk hutan gambut tropika Kalteng, terutama untuk mengobati penderita kanker dan HIV, karena hutan tropika ini menyimpan senyawa organik terbesar di dunia, katanya.

        Dari hasil peneluran dan penelitian tersebut beberapa hal sudah menunjukan adanya senyawa-senyawa di dalam tanaman Kalteng yang mengandung obat-obatan.

        Berdasarkan  sebuah buku pengukuhan guru besar dalam bidang biokimia/kimia organik Prof DR H Ciptadi, tercatat beberapa nama tanaman yang sudah mengandung senyawa positif.

        Seperti tanaman saluang belum (Lavanga sarmentosa (Blume) kurz), untuk obat kejantanan laki-laki, sayuran kalakai untuk menambah air susu ibu, tumbuhan sepang (Claoxylon polot men) obat diabetes, tumbuhan kamunah (Croton tiglium) untuk obat kontrasepsi, tanaman kalopahit atau sambung maut (famili Simarubaceae) untuk obat malaria.

        Tanaman lain yang diteliti terbukti mengandung obat; mali-mali (famili Araliaceae) obat sesak napas, limau-limauan (famili Flacourtiaceae) obat ginjal, cawat hanoman atau akar rahwana (famili Papilonaceae) obat kuat dan sakit pinggang, ampelas bajang juga untuk sesak napas.

        Beberapa tanaman di atas setelah dilakukan uji laboratorium terbukti positif mengandung steroid dan terpenoid, flavonoid, alkaloid, saponin, dan tanin.

        Selain beberapa tanaman yang sudah dinyatakan mengandung obat-obatan itu, di Kalteng juga masih terdapat ratusan jenis lagi yang  berpotensi sebagai obat yang masih memerlukan penelitian untuk memastikannya.

        Tanaman yang berpotensi obat tersebut di antaranya yang disebut warga setempat dengan tanaman manggis hutan, sangeh, lali, tuntung uhat atau sambung urat, tambuhusan, katatupak atau katatiroi, kayu busi atau sisik saluang, paku bukit, suli, kayu kamal atau pupuk sutera.

        Tanaman yang lain, raja mandak, lagundi, senggani, daun adewa, langise, muhur, kenyem, upak gemur, uru sambelum, bajakah kalalawit, kangkawang panas, kalapimping, bajakan kalayan, tatupak, dadap, teken perei, kalapap, karamunting, kayu mahamen, papar buwu, sagagentu, bawi hatue, kalabuau, kayu tungkun.

        Tanaman kanarihau, uru handalai, kumis kucing, ginseng, uru pinding usu, uru karewan usu, uru lewu, terung kambing, mangkudu, kayu kajajah, kalalayar, kayu mata pusa bawi hatue, panamar gantung, mosai, songkai kayu, dan tanaman sapapitak.

        Tanaman sarai, henda babilem, henda puti, singkur, henda, lai, sintuk, kayu amal, kalanis, bajakan kahabau, bajakan bahenda, sangkuang, tabalien, balawan puti, bahandang, sasenduk, jawau u”uut, kayu buri, tategar bawi hatue, utin, tupai bawi hatue, kayu bikit, tisik peang bawi, tisik peang hatuwe, uwe namei, daun dewa, uru handarai, uru mahamen, lengkuas, pasak bumi, tabat barito dan sebagainya.

        Tanaman tersebut diduga berpotensi sebagai obat karena sering digunakan penduduk Suku Dayak Kalteng untuk pengobatan tradisional.

        Sebagian penduduk Kalteng memang hidup terpencil, jauh dari jangkauan pengobatan modern, dalam usaha menjaga dan mempertahankan kesehatan mereka menggunakan obat tradisional yang diramu dari bahan alam dari tanaman tersebut.

        Obat-obatan tradisional tersebut oleh penduduk setempat sering digunakan sebagai penyembuh penyakit kelamin, keluarga berencana, kekuatan jasmani, dan obat penyakit lainnya.

        Untuk mengumpulkan  tanaman obat di hutan gambut tropika Kalteng itu sekarang sedang diusulkan pembangunan sebuah kebun raya tanaman obat-obatan  di Kota Palangkaraya, sebagai lokasi penelitian, lokasi pendidikan, dan lokasi ekowisata.

SALUANG BELUM KALTENG DAN MITOS KEPERKASAAN LAKI-LAKI

obat Tanaman obat-obatan khas Kalteng

Oleh Hasan Zainuddin
      “Ingin disayang isteri, ingin disayang isteri, coba minum air rendaman akar ini” kata seorang penjual obat-obatan tradisional khas Suku Dayak Kalimantan Tengah (Kalteng).
       Dengan suara lantang, seorang pemuda berkuncir ini selalu mempromosikan kepada siapa saja yang berada di depan masuk kantor Pos Besar Kota Palangkara, karena pemuda ini setiap hari menggelar dagangannya di lokasi tersebut.
       Dibantu oleh seorang ibu, pedagang obat-obatan tradisional ini menggelar dagangan dengan cara mencolok persis di sisi masuk kantor Pos Besar itu.
      “Bapak ingin sembuh dari penyakit liver minum air seduhan akar kuning ini, bapak ingin sembuh penyakit kanker minum air rebusan sarang semut. Tetapi kalau bapak ingin disayang isteri ambilah akar seluang belum,” kata si pemuda seraya mengambil sepotong akar kayu sambil mengangkatnya ke atas kepala.
       Beberapa pengunjung kantor Pos Besar tertarik dengan promosi penjual obat-obatan tradisional tersebut, salah seorang bapak menanyakan harga akar saluang belum tersebut dijawab oleh pedagang Rp50 ribu per potong.
      “Ini terlalu mahal, biasanya saya beli hanya 20 ribu,” kata Bapak tersebut. Setelah tawar menawar akhirnya satu potong akar kayu saluang belum itu dijual juga Rp20.000,.
       Bapak tersebut ternyata bernama Darung, menceritakan mengenai khasiat akar tersebut yang menurutnya memang berkhasiat.
       Darung warga asli Suku Dayak yang kini tinggal di Kota Palangkaraya, sebelumnya ia warga pedalaman yang sudah terbiasa mengonsumsi air rendaman akar saluang belum.
      “Saya memang sudah sering minum air rebusan ini, selain meningkatkan gairah seks, air ini juga menguatkan pinggang, melancarkan air kencing, sekaligus badan rasanya enak setelah meminumnya,” kata Darung.
       Berdasarkan catatan, saluang belum (Lavanga sarmentosa (Blume kurz) memang satu jenis tanaman yang terdapat di hutan Kalteng yang sudah lama memunculkan mitos sebagai obat kuat lelaki, lantaran terbukti mengandung bahan yang mampu meningkatkan keperkasaan kaum lelaki tersebut.
      Adanya senyawa di dalam tumbuhan saluang belum mampu meningkatkan vitalitas kaum lelaki setelah dilakukan penelitian seksama, kata Ketua Lembaga Penelitian Universitas Palangka Raya (Unpar), Kalteng, Prof. DR H.Ciptadi, Kamis (20/8).
      Ia menjelaskan, tumbuhan ini memang sejak lama dimanfaatkan warga Kalteng sebagai obat tradisional, yaitu untuk menyembuhkan sakit pinggang, sakit ginjal, dan sebagai menambah vitalitas.
      Caranya hanya mengkonsumsi air rebusan dari akar tumbuhan saluang belum tersebut, tutur Doktor (S3) Kimia Biomolekul di ENSCM Universitas Montpellier II-Perancis, lulus tahun 2003 ini.
       Melihat kenyataan itu, maka pihak Lembaga Penelitian Unpar mencoba melakukan penelitian terhadap tanaman yang cukup dikenal di wilayah Kalteng tersebut.
       Tahap awal penelitian dilakukan isolasi, identifikasi dari akar tumbuhan saluang belum dengan ekstraksi menggunakan pelarut kloroform dan etanol yang dapat memisahkan komponen-komponen senyawa metabolit sekunder.
      Selanjutnya dilakukan kromatografi lapis tipis untuk mengetahui jumlah komponen senyawa yang ada pada kedua ekstrak tersebut, kemudian dilakukan pemurnian dengan kromatografi kolom.
       Tahap berikutnya dilakukan uji bioktivitas dengan brine shrimp, dan untuk senyawa yang aktif akan dilakukan penelitian tahap berikutnya yaitu uji pra klinik dengan spektroskopi IR, UV,MS, 13 C-NMR dan 1 H-NMR, tuturnya.
       Berdasarkan uji fitokimia kandungan metabolit sekunder untuk kedua ekstrak tersebut adalah positif untuk steroid dan flavonoid, dan dari analisis brine shrimp dari kedua ekstrak tersebut menunjukkan senyawa aktif dengan Lc 50 < 100 g/ml.
       Penelitian ini masih terus dilanjutkan untuk membuat formula yang tepat dan kemungkinan ditambahkannya tumbuhan yang lain, yang dapat mendukung khasiatnya.
       Menurut dosen Senior Unpar yang juga lulus Magister (S2) Biokimia di Institut Teknologi Bandung tahun 1991 ini, pemanfaatan tradisional terhadap kandungan senyawa tersebut cukup dengan merebut akar salung belum setiap hari cukup segelas air rebusan.
       Tidak boleh meminumnya secara berlebihan, sebab kalau berlebihan bisa membahayakan kesehatan pula, tutur dosen kelahiran Sukoharjo (Solo), 13 Janujari 1960 itu.
       Hasil-hasil penelitian yang dilakukannya itu berusaha dipatenkan, agar tidak diakui pihak lain.
       Pusat Penelitian Unpar segera mendaftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) atau paten, beberapa jenis obat hasil penelitian, agar dapat dilindungi oleh undang-undang.
        Menurutnya beberapa obat tradisional yang berasal dari tumbuhan Kalteng di antaranya salung belum telah menjalani proses penelitian, sehingga dapat dipastikan kegunaannya, dan dapat dilaporkan.

KALTENG “BERGUMUL” PERJUANGKAN TIGA PERSOALAN BESAR

     Oleh Hasan Zainuddin
     Palangkaraya,6/8 ()- Kalimantan Tengah (Kalteng) boleh jadi iri dengan wilayah lain yang maju, hingga berjuang membangun wilayah agar sejajar dengan daerah maju.
     Banyak persoalan dihadapi memajukan wilayah 153.564 Km2 berpenduduk sekitar dua juta jiwa ini.
     Dari sekian persoalan, tiga persoalan dirasa “mengganjal” perasaan rakyat Kalteng.
     “Saya merasa galau, kalau tiga persoalan ini belum selesai,”kata Gubernur Kalteng, Teras Narang di perayaan 4 tahun kepemimpinannya di Palangkaraya, Selasa malam (4/8) lalu.
      Tiga persoalan itu proyek nasional diharapkan mensejahterakan rakyat, yaitu persediaan listrik dijanjikan pemerintah melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).
65 kali dua mega watt (MW) di Kabupaten Pulang Pisau.
      Proyek lainnya Pembukaan Lahan Gambut (PLG) sejuta hektare untuk pertanian, wilayah Kabupaten  Kapuas, Pulang Pisau, dan Kabupaten Barito Selatan, serta Kota Palangkraya.
      Tetapi yang paling ditunggu penyelasaian Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP), katanya.
      Gub Kalteng secara terpisah kepada pers pernah mengancam akan mengambil alih proyek PLTU ini.
     “PLTU selesai 2010 melalui janji Dirut PLN, atasi krisis listrik wi wilayah ini, masuk program pembangunan pembangkit 10 ribu MW, tapi tak pernah terealisasi, padahal diketahui warga, seakan janji gubernur, tambahnya.
     Teras Narang melihat vitalnya PLTU, maka itu harus direalaisasikan, karenanya PLN ingkar akan diambil alih, sebab ada investor berminat.
     Ketersediaan listrik Kalteng harus dipenuhi upaya mencukupi kebutuhan energi itu seiring kian bertambahnya penduduk dan kebutuhan industri, serta menarik investasi.
     Mengenai PLG, Teras Narang akui menjadi lahan sejuta masalah.
      Dalam bukunya “membuka isolasi untuk Kesejahteraan rakyat,” disebutkan kawasan PLG alami kerusakan parah, kebakaran musim kemarau, kebanjiran musim hujan.
     Kondisi itu membuat warga di kawasan itu menjadi miskin, sebagian warga transmigran kabur kembali ke kampung halaman, tak tahan hidup kondisi parah itu, yang bertahan 8.487 KK di 43 Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT).
     Awal 1996/1997 penempatan transmigrasi di areal tersebut 14.935 KK atau 60.819 jiwa, asal Jabar, Jateng, Jatim, DKI Jakarta, Bali, NTB, NTT, Lampung serta penduduk lokal.
     Masalah lain rusaknya lingkungan kawasan itu, sistem tata air yang dikembangkan menyebabkan terjadinya kondisi “over drain” dan menimbulkan kerusakan ekosistem yang sulit diperbaiki.
     PLG menyebabkan 400 ribu ha hutan tropis basah (torpical rain forest) menjadi terbuka, pembangunan saluran primer induk 187 KM memotong kubah gambut dinilai kurang tepat, karena jaringan sistem tata air akan meluruhkan kubah gambut lantaran turunnya permukaan air tanah.
     Dengan demikian gambut menjadi kering dan tak balik (Irreversible drying) yang mempermudah terjadinya kebakaran.
     Lahan gambut ekosistem unik dan mudah rusak, lapisan gambut tersusun dari timbunan bahan organik mati yang berisi oksigen dan unsur hara yang rendah, seperti daun, batang, dan akar-akaran yang diperkirakan terakumulasi selama 5-10 ribu tahun.
     Pada bagian atas lapisan gambut hidup berbagai tumbuhan dan satwa liar.
     Jika bahan organik pada lapisan bawah ini musnah, sangat sulit bagi ekosistem ini untuk pulih kembali.
     Karena itu, proyek PLG terbengkalai jadi sumber malapetaka, kebakaran, kebanjiran dan penyumbang terbesar bencana kabut.
     Menurut Teras Narang, pihaknya berjuang keras merehabilitasi PLG ini melalui berbagai cara, termasuk melalui Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2007 tentang Percepatan Rehabilitasi dan Revitalisasi Kawasan PLG.
     Kemudian persoalan RTRWP, dikatakannya sesuatu yang paling ditunggu penyelasaiannya, tanpa RTRWP Kalteng sulit membangun wlayah.
     Semua wilayah Kalteng statusnya hutan, saat ingin alih fungsi untuk kebutuhan lain terhambat aturan dengan Departemen Kehutanan.
     “Terus terang saja, hampir seratus persen wilayah Kalteng bersatus wilayah hutan, termasuk kantor Gubernur Kalteng ini,” tuturnya saat menerima audensi pengurus PWI Kalteng.
     Kalau semua wilayah bersatus hutan, dan belum dialihfungsikan sesuai tata ruang, lalu bagaimana Kalteng ingin membangun.
     Masalah RTRWP cukup lama menggantung, sejak tahun 1982, guna mengatasi dibuatlah Perda No 8 tahun 2003, agar Kalteng bisa memanfaatkan lahan, tapi Perda dinilai kalah dengan aturan yang lebih tinggi tentang kehutanan.
     “Seharusnya Dephut dan DPR RI segera bahas RTRWP Kalteng, kemudian mensahkannya agar rakyat bisa lega,” kata Teras Narang.
     Menggantungnya persoalan RTRWP ini memang cukup ‘meradang’ perasaan rakyat Kalteng yang lagi bersemangat mengejar ketertinggalan,termasuk kalangan  tokoh adat, tokoh masyarakat, dan anggota DPRD setempat.
    Bahkan kalangan DPRD Kalteng mengancam rame-rame terbang ke Jakarta unjukrasa ke pemerintah pusat menuntut pengesahan RTRWP.
     “Sudah bertahun-tahun proses RTRWP Kalteng ini mengendap di Jakarta, sampai sekarang belum disahkan juga,” kata HM Asera anggota DPRD komisi B yang juga Ketua DPW PKB Kalteng kepada pers di Palangkaraya.
     Tanpa RTRWP sulit investor datang ke Kalteng, padahal banyak minat mereka ke Kalteng, seperti dari Yaman investasi Rp4,5 triliun kebun sawit,dari Jepang, ustralia sektor tambang serta dari Thailand dan China sektor lainnya.
     Padahal nvestor dinanti kelola lahan Kalteng nan luas guna sediakan pekerjaan warga setempat, serta meningkatkan perekonomiannya.

ARBORETUM NYARU MENTENG “HUTAN WISATA” PALANGKARAYA

Oleh Hasan Zainuddin
Pemerintah Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah (Kalteng)  melalui kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat terus membenahi Arboretum Nyaru Menteng.
Arboretum Nyaru Menteng adalah sebuah kawasan hutan yang di dalamnya terdapat banyak spicies flora dan fauna, yang diyakini dapat menjadi objek wisata menarik di kota tersebut.
Seperti diutarakan Kepala Bidang Kepariwisataan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat, Anna Mennur, Sabtu, keberadaan hutan tersebut kini gencar dipromosikan sebagai objek wisata alam kota ini.
“Kita berharap melalui hutan dengan berbagai jenis tanaman dan satwa spesifik tersebut menjadi daya pikat wisatawan datang  ke kota ini,” katanya.
Ia menjelaskan, Arboretum Nyaru Menteng adalah sebuah objek wisata alam yang juga sebagai wilayah konservasi dan penelitian tanaman langka, yang berlokasi di Jalan Tjilik Riwut Kelurahan Tumbang Tahay Kecamatan Bukit Batu.
Di lokasi ini banyak terdapat koleksi kehutanan dengan berbagai jenis seperti tanaman geronggang, meranti, cemara, dan tampan.
“Lokasi ini menjadi lebih menarik lagi karena di sana terdapat proyek reintroduksi sekitar 200 ekor orangutan di bawah pengawasan kalangan peneliti satwa tersebut,” kata Anna Menur.
Bukan hanya andalan Kota Palangkraya, Arboretum Nyaru Menteng juga menjadi andalan kepariwisataan Provinsi Kalteng, yang keberadaannya menghiasi buku-buku kepariwisataan wilayah setempat.
“Kita selalu promosikan Arboretum Nyaru Menteng sebagai sebuah objek wisata hutan dengan segala kehidupan flora dan faunanya,” kata Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalteng, Aida Meyarti.
Arboretum Nyaru Menteng dibangun pada tahun 1988 dan merupakan areal bekas Hak Pengusahaan Hutan (HPH) yang telah dieksploitasi sejak tahun 1974.
Arboretum Nyaru Menteng dengan luas 65,2 hektare yang merupakan bagian dari bumi perkemahan pramuka adalah kawasan pelestarian plasma nutfah ekosistem hutan rawa di Propinsi Kalteng.
Sejak 1994 pengelolaan Arboretum ini dilaksanakan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalteng, setelah mendapat pelimpahan kewenangan dari Kanwil Kehutanan Propinsi Kalimantan Tengah melalui suratnya No. 3274/Kwl-5/I/1994 tanggal 9 Pebruari 1994, kata Kepala BKSDA  Kalteng, Ir Mega Hariyanto.
Menurut dia, Arboretum Nyaru merupakan bagian dari usulan pencadangan tanah untuk Taman Hutan Raya (Tahura) seluas 1.137 hektare berdasarkan SK. Gubernur KDH Tingkat I Kalimantan Tengah No. 1099/SK/460/IX/1997 tanggal 6 Sepetember 1997.
Namun sampai sekarang belum ada realisasi penunjukannya, padahal pencadangannya hanya berlaku 1 tahun.
Di dalam areal arboretum terdapat klinik reintroduksi orangutan yang di bangun oleh Yayasan BOS Nyaru Menteng.
Letak lokasi ini di sebelah Timur jalan raya Tjilik Riwut Km 28 dari Palangkaraya menuju Kabupaten Katingan.
Secara administratif lokasi ini termasuk wilayah Kelurahan Tumbang Tahai Kecamatan Bukit Batu Kotamadya Palangka Raya. Berdasarkan letak garis lintang dan garis bujur, kawasan ini berada di antara  113′-46′  –  113′ 48′ Bujur Timur  dan  2-0′  –  2-02′ Lintang Selatan.
Topografi dengan ketinggian wilayah ini adalah 25 m dari permukaan laut (dpl), kawasan Arboretum Nyaru Menteng secara keseluruhan datar dengan kelerengan 0  persen – 2 persen.
Formasi geologi kawasan ini tersusun dari lapisan kuarter miosen atas intrusif dan flutonik. Jenis tanah terdiri dari jenis organosol, humus alluvial dan regosol dari batuan induk alluvial dengan fisiografi daratan serta  kondisi drainase tergenang sehingga masuk dalam kategori tanah berawa dan bergambut dengan ketebalan gambut 1-2 m.
Flora dan Fauna hidup kawasan ini adalah jenis-jenis yang tumbuh dalam ekosistem hutan rawa.
Berdasarkan hasil identifikasi, jenis pohon yang tumbuh di Arboretum Nyaru Menteng dapat digolongkan ke dalam 43 famili dengan jumlah species sebanyak 139 jenis.
Jenis-jenis yang telah teridentifikasi antara lain Ramin (Gonistylus bancanus), Meranti rawa (Shorea spp), Mahang (Macaranga maingayi), Geronggang (Cratoxylon arborescens), Makakang (Melastoma sp), Kapur Naga (Dryobalanop sp), Kempas (Koompasia malaccensis), Rengas (Gluta Rengas), Palawan (Tristania maingayi), Belangiran (Shorea balangeran), Punak (Tretramerista glabra).
Pohon yang tergolong langka di Arboretum Nyaru Menteng adalah Terentang (Camnospermum sp), Mentibu (Dactylocladus stenostachys), Bintangur (Callophyllum sp), Jelutung (Dyera costulata), Agathis (Agathis sp), Bangkirai (Hopea sp), Gelam Tikus (Melaleuca leucadendron), Jambu-jambu (Eugenia sp) dan Tumih (Combretocarpus rotundotus).
Selain itu terdapat 4 (empat) jenis Kantong Semar yang teridentifikasi di kawasan ini yaitu Nepenthes raffesiana, N. maxima, N. ampullaria dan N. Gracilis.
Jenis-jenis liana antara lain Aglaonema sp, Dianella sp, Cyrtosperma sp, Nephrolepsis sp. Dijumpai juga jenis-jenis Beringin (Ficus sp) mulai dari yang berbentuk semak sampai pohon.
Jenis-jenis eksotik yang berasal dari luar kawasan yang ditanam di kawasan ini antara lain Alau (Dacridium sp), Galam (Eucalyptus sp), Nangka (Arthocarpus heterophylus), Sinonim (Arthocarpus integra), Jambu Mente (Anacardium occidentale), Rambutan (Nephelium lappaceum), Saga (Adenathera microsperma), Akasia (Acacia auliculiformis), Sungkai (Peronema canescens), Cempedak (Arthocarpus cempedak), Durian (Durio zibethinus) dan Cemara (Casuarina sp).
Beberapa jenis satwa liar antara lain beberapa jenis burung seperti Beo (Gracula religiosa) dan Cucak Rowo (Pyocnonotus zeylanicus). Jenis lain seperti Biawak (Varanus sp), Ular, Monyet dan sesekali masih dijumpai orangutan liar (Pongo pygmaeus), Owa-owa (Hylobates muelleri) dan Tupai/Bajing.
Mengenai sarana dan prasarana di kawasan ini terdapat jembatan kayu panjang lima Km (saat ini kondisinya banyak yang rusak),  wisma cinta alam, bumi perkemahan, aula pertemuan, Information Center, shelter, pondok kerja, tempat parker, pos jaga dan MCK (tempat mandi, cuci dan kakus), dan jaringan listrik.
Kawasan arboretum ini dimanfaatkan  sebagai  tempat pembinaan cinta alam bagi pelajar, mahasiswa, pramuka dan generasi muda, tempat pendidikan, penelitian dan latihan, tempat acara keagamaan dan wisata alam.
Untuk menuju ke Arboretum Nyaru Menteng sangat mudah dijangkau, karena telah dibangun fasilitas jalan aspal yang memungkinkan dilalui baik kendaran roda dua maupun roda empat.
Dari Palangkaraya ke Lokasi dapat ditempuh dengan kendaraan darat  sekitar 30 menit yaitu melalui jalan Tjilik Riwut menuju ke arah Tangkiling dan pada Km 28 belok ke kanan menuju arah Taman Wisata Danau Tahai.
Pemerintah setempat memang telah menunjukkan perhatian serius agar Arboretum Nyabu Menteng benar-benar menjadi objek wisata andalan di daerah ini kelak. Namun, upaya itu perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak terkait, termasuk warga sekitarnya

images ft Anas

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 53 pengikut lainnya