GAUNG JADIKAN PALANGKARAYA IBUKOTA NEGARA KIAN BERGEMA

Oleh Hasan Zainuddin

 

Palangka Raya di waktu malam

Palangkaraya,10/8 (ANTARA)- Macet, banjir, gempa, dan penuh sesak oleh urbanisasi seakan tak mampu lagi dipikul Kota Jakarta sebagai ibukota negara, hingga memunculkan wacana pemindahan ibukota negara ke lokasi lain di tanah air.
Beberapa kota muncul berbagai pilihan pengganti Jakarta, antaranya Jonggol (Bogor), Makassar, Lampung, Balikpapan, dan Palangkaraya.
Dari berbagai kota yang menjadi pilihan itu, ada kelebihan dan kekurangan, tapi suara yang condong pada kota Palangkaraya gaungnya kian kuat.
Apalagi keinginan menjadikan Kota Palangkaraya sebagai ibukota negara sudah dicetuskan Presiden pertama RI, Soekarno, saat meresmikan Palangkaraya sebagai ibu kota Provinsi Kalteng 1957, bahkan kala itu Soekarno sudah merancang wilayah itu menjadi ibu kota negara.
Kota yang berada di tepian Sungai Kahayan itu memiliki luas 2.678,51 km persegi, dengan lima kecamatan dengan jumlah penduduk sekitar 190 ribu jiwa.
Muncul pertanyaan, mengapa Palangkaraya begitu luas, tak sanggup kota manapun di tanah air yang bisa menyamai keluasan kota ini.
Jakarta ibukota negara saja 660 Km2, Banjarmasin kota tetangga yang merupakan ibukota Kalsel, hanya 72 Km2.
Lalu ada yang mengaitkan keluasan kota ini, dengan peran Presiden Soekarno yang pernah merancang kota ini menjadi ibukota negara Indonesia.
Konon Soekarno yang seorang insinyur itu mendambakan sebuah ibukota negara yang dirancangnya sendiri, sementara Jakarta, sudah memiliki desain sendiri peninggalan Belanda yang relatif sulit diubahnya.
Ditambah Palangkaraya yang tadinya hanya sebuah hutan belantara ini berada di lokasi cukup strategis di tengah Indonesia, serta aman dari gempa.
Kota ini benar-benar dibangun dari nol setelah kemerdekaan, ditandai pemancangan tiang pertama pembangunan kota oleh Soekarno 17 Juli 1957.
Dua tahun sejak itu Soekarno terus merancangnya, mulai dari bundaran besar, taman kota, tiang pancang, istana, bundaran kecil, dan kawasan lainnya.
Melihat sejarahnya yang demikian tidak heran saat  mantan Presiden Megawati Soekarnoputri datang ke kota ini sempat berpesan untuk menjaga keaslian Kota Palangkaraya.
“Mohon maaf pak wali kota, jadi jangan nanti ganti orang, ganti desain, lalu ganti tata kota,” kata Megawati Soekarnoputri kepada Wali Kota Palangkaraya Riban Satia ketika kedatangannya meresmikan pemakaian gedung PDI Perjuangan Kalteng,beberapa waktu lalu.
Mega berharap, sampai kapanpun masyarakat harus tetap mampu memelihara kota peninggalan Bapak Proklamator RI itu agar tetap terjaga keindahan dan keteraturannya.
Dilihat dari sisi arsitektur, kata Mega, Kota Palangkaraya didesain dengan sangat baik, planologinya teratur, dengan letak gang dan jalan yang mudah diingat.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat berada di Rakernas Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI) Palangkaraya belum lama ini mempersilahkan semua pihak mengkaji kemungkinan pemindahan ibukota negara ke Palangkaraya.
Kondisi Jakarta yang macet dan potensi gempa menjadi pertimbangan pemindahan, katanya.
Presiden menganggap diperlukan pemikiran yang matang dan komprehensif dalam mengkaji perpindahan ibukota.
Gubernur Kalteng Teras Narang, menyambut baik wacana itu seraya menyatakan wilayahnya siap menggantikan Jakarta.
“Di Palangkaraya ada bundaran besar yang mengarah ke delapan penjuru, mengarah ke delapan pulau besar di Indonesia. Itu menandakan, kota ini berada di tengah Indonesia,”katanya.
Menurut Teras Narang, Palangkaraya kota terluas di Indonesia, 2.678,51 Km persegi. “Untuk lahan calon ibukota, kami tidak ada masalah, perkantoran tak masalah, ada semua lahannya. Bahkan kalau masih butuh diperluas, bisa juga.”katanya.
Sarana perhubungan, Palangkaraya terletak di tengah Kalimantan. Di sini terdapat Trans-Kalimantan yang menghubungkan Kalimantan Barat dengan Kalimantan Selatan dan Timur.
“Apalagi lapangan udaranya tersedia dengan cuma satu jam penerbangan ke Jakarta,” kata Teras Narang.
Gaung pemindahan ibukota negara ke Palangkaraya terus bergema, paling kuat terdengar di ruang gedung DPR-RI, Jakarta.
Anggota DPR-RI asal Kalteng Hamdhani, menyambut gembira wacana itu, menurutnya masyarakat Kalteng berbangga hati meminta wacana itu diwujudkan.
Respon wacana pemindahan ibukota ke Palangkaraya itu terus saja sambut menyambut, Wali Kota Palangkaraya, HM Riban Satia selalupun merancang program pembangunan kota mengarah ke sebuah kota besar, seperti pembangunan jalan dan fasilitas lainnya.
HM Riban Satia menyatakan akan menjadikan pula Kota Palangkaraya sebagai kota pendidikan, pusat pelayanan jasa, serta kota pemerintahan.
Wali Kota menyatakan, pihaknya saat ini telah membentuk tim pengkajian pemindahan ibu kota negara dari Jakarta ke kota itu sebagai persiapan dari wacana yang terus ramai dibicarakan masyarakat banyak.
“Kami harus mempersiapkan diri dalam rangka menyikapi apabila wacana tersebut jadi dilaksanakan, misalnya kini membentuk tim-tim khusus pengkajian dan persiapan menghadapi realisasi rencana tersebut,” kata Riban Satia.
Ia mengatakan, Pemkot harus memiliki tim pengkajian dan persiapan dari wacana tersebut, dan jangan sampai sebagai daerah yang terus dibicarakan tidak siap dalam pelaksanaannya ketika rencana itu akan segera diterapkan.
Menurutnya, apalagi wacana pemindahan ibu kota negara dari Jakarta ke Palangkaraya itu sudah dipikirkan sejak lama oleh para pendiri bangsa, sehingga bukan suatu hal yang mustahil apabila program tersebut akan dilaksanakan.

Iklan

EKOSISTEM AIR “COCACOLA” SEBANGAU HABITAT FLORA FAUNA

Aku saat menyusuri sungai di TN Sebangau

air warna cocacola

Oleh Hasan Zainuddin
Palangkaraya, 4/8 (ANTARA)- Dua buah ‘spead boat’ meluncur begitu kencang menyusuri sungai yang berliku-liku di Taman Nasional (TN) Sebangau, Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng).
Puluhan wartawan nasional dan lokal yang berada di sarana air yang cepat itu, ramai-ramai membidikkan kameranya, baik kamera video maupun kamera foto. Fokus bidikan kamera tertutama keberadaan sungai yang di sisi kiri dan kanannya dipenuhi dengan tanaman rasau (sejenis pandan) dan tampak menghijau.
Sesekali kamera diarakan ke burung elang yang beterbangan di wilayah itu, kemudian juga ke binatang lutong yang melompat dari satu pohon ke pohon lain.
Permukiman penduduk yang juga terdapat di beberapa lokasi sungai kawasan rawa gambut itu menjadi objek menarik foto-foto wartawan media cetak dan elektronika ini.
Tetapi ketertarikan para wartawan ini lebih terhadap kondisi air yang dilewati dalam perjalanan dalam kurun waktu sekitar satu jam ke arah pusat rehabilitasi TN Sabangau dari Kereng Bangkirai Palangkaraya.
“Wah, ini perjalanan yang mengasyikkan, dan belum pernah aku mengalami perjalanan seperti ini,” kata Depri, wartawan Kompas Biro Kalsel, seraya membidikkan kamera fotonya.
Dalam perjalanan wisata dalam kaitan kegiatan semiloka perubahan iklim yang membahas manfaat hutan gambut TN Sebangau sebagai penekan pemanasan global yang diselenggarakan WWF-Indonesia itu, sejumlah wartawan nasional dan lokal sempat pula menanamkan pohon penghijauan.
Para partawan begitu antusias mendengar berbagai penjelasan dari WWF-Indonesia mengenai ekosistem rawa gambut Sebangau. Mereka juga menyaksikan tanaman anggrek, tanaman galam, tanaman balangeran dan aneka tanaman dan binatang di wilayah itu.
Dalam wisata itu ada wartawan yang kemudian mengeluarkan alat pancing lalu memancing setelah melihat  banyaknya ikan berkeliaran di kawasan tersebut.
Hanya saja dari pertama turun ke spead boat hingga sampai ke pusat rehabilitasi TN Sebangau, kalangan wartawan ini agak terheran melihat warna air di wilayah itu bagaikan ‘cocacola’.
Walau airnya bewarna bagaikan ‘cocacola’ atau air teh, tetapi air itu merupakan habitat puluhan spesies ikan.
Koordinator Konservasi TN Sebangau, Adventus Panda, ketika bersama sejumlah wartawan menyusuri sungai tersebut mengakui air yang demikian menjadi tempat hidup dan berkembangnya banyak ikan.
Tetapi ikan yang hidup dan berkembang di perairan demikian kebanyakan jenis ikan tertentu seperti ikan tauman, kihung, mihau, karandang, bakut, yang kesemuanya famili ikan gabus.
“Ikan-ikan mirip gabus (Channa striata) ini banyak sekali di sungai ini, sehingga menjadi mata pencarian penduduk sekitar TN Sebangau,” kata Adventus Panda.
Ikan lainnya, adalah lais, tapah, patung, sepat, kapar, pepuyu, dan sejumlah ikan rawa gambut lainnya.
Ia mengakui TN Sebangau memiliki keanekaragaman hayati, baik flora maupun fauna, tetapi yang unik adalah ekosistem air bagaikan ‘cocacola’ itu.
“Ekosistem yang unik itulah yang menyebabkan TN Sebangau Kalteng berpotensi dijadikan kawasan ekowisata,” katanya.
Air TN Sebangau bewarna demikian, akibat dari proses pelapukan bahan organik lahan hutan bergambut.
Berdasarkan catatan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Idonesia (LIPI) pada 2006 meneliti TN Sebangau, dan menyatakan di lokasi ini terdapat 808 jenis tumbuhan yang mengandung khasiat obat.
TN Sebangau juga merupakan habitat sejumlah satwa, seperti burung enggang, beruang madu (Helarctos malayanus), rusa (Cervus unicolor), kijang (Muntiacus atheroides), kancil (tragulus Javanicus), macan dahan (neofelis nebulosa), tupai (tupaia spp), loris (Nycticebus coucang), serta satwa lainnya dengan spicies induk orangutan (Pongo pygmaeus).
Hasil survei dan penelitian tahun 2006 itu menemukan 6000-9000 ekor orangutan menghuni kawasan ini.
Mengutip hasil penelitian atau studi hutan rawa gambut Universitas Palangkaraya (Unpar), terdapat sedikitnya 106 jenis tumbuh-tumbuhan yang ada di wilayah itu, di antaranya adalah tumbuhan asli Kalimantan.
Tumbuhan asli Kalimantan itu, antara lain ramin (Gonystilus bancanus), jelutung (Dyera costulata), balangeran (Shorea belangeran) bintangur (Colophyllum sclerophyllum),  meranti (Shorea spp), nyatoh (Palaquium spp), keruing (Dipterocarpus spp), agathis (Agathis spp), menjalin (Xanthophyllum spp).
Selain itu terdapat 116 spicies burung, di antaranya burung khas Kalimantan, burung enggang.
Juga terdapat 35 jenis mamalia yang ada di kawasan itu selain orangutan juga ada bekantan (nasalis larvatus) merupakan satwa kera hidung besar yang hanya ada di Pulau terbesar di nusantara itu.
Masih ada pula kera lain yaitu lutung, owa-owa (Hylobates agilis), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), kera abu-abu, dan beberapa jenis lainnya.
Jenis anggrek terdapat anggrek hitam (Coelogyne pandurata), serta tanaman liar kantung semar (Nepenthes ampullaria) di  samping anggrek lainnya.
Kekhasan lain TN Sabangau terdapat laboratorium alam hutan rawa gambut yang dikelola Pusat kerjasama Internasioal Pengelolaan Gambut Tropika (Cimtrop) Univeritas Palangkaraya (Unpar) sebagai lembaga riset yang memfokuskan penelitian di bidang pengelolaan hutan rawa gambut.
Potensi wisata lain di taman nasional ini ialah keberadaan alamnya, terdapat jeram, lembah, serta danau-danau.
TN Sebangau memiliki luas sekitar 568.700 hektare terletak di antara Sungai Sebangau dan Sungai Katingan. Secara administrasi wilayah ini merupakan bagian dari Kabupaten Katingan, Kabupaten Pulang Pisau, dan Kota Palangkaraya.
Terhitung 19 Oktober 2004, kawasan Sebangau, ditunjuk pemerintah sebagai Taman Nasional (TN) melalui SK Menhut No. 423/Menhut-II/2004.
Kawasan itu merupakan hutan rawa gambut yang masih tersisa di Kalteng setelah gagalnya Proyek  Lahan Gambut (PLG) sejuta hektare pada 1995.
Kegiatan wisata yang bisa dinikmati di kawasan itu, antara lain menjelajah hutan rawa gambut dengan cara mengitari alur sungai, mengamati flora dan fauna yang unik dan khas, mendaki bukit, berenang di sungai, atau melihat adat istiadat dan budaya Suku Dayak, seperti acara “tiwah.”
Konsep WWF
Melihat keanekaragaman hayati di wilayah TN Sebangau maka wilayah itu berpotensi besar menjadi objek ekowisata dunia, oleh karena itu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) WWF Indonesia telah pula menawarkan konsep pengembangan ekowisata di TN Sebangau.
Konsep Ekowisata yang ditawarkan WWF Indonesia tersebut berbasis masyarakat, kata Pimpinan Projek Konservasi Sebangau WWF-Indonesia Rosenda Ch Kasih.
Konsep tersebut penggabungan antara konsep “community based tourism” dan “ecotourism”. Dibuat untuk mengangkat pengembangan ekonomi tanpa melupakan konsep pembangunan berkelanjutan, dengan berakar pada potensi lokal, katanya.
Dalam pengelolaannya harus dilaksanakan secara bertanggung jawab di tempat-tempat alami, secara ekonomi harus berkelanjutan dan memberikan manfaat langsung kepada masyarakat setiap generasi.
Dalam pemahaman tersebut, ketika ekowisata dikembangkan maka potensi Sumber Daya Alam (SDA) maupun budaya  harus dipandang sebagai aset dan minimal harus ada empat pilar yang harus diusung.
Empat pilar tersebut, kata Rosenda Ch Kasih, yaitu konservasi, ekonomi, pendidikan, dan partisipasi masyarakat itu sendiri.
WWF Indonesia melihat kawasan Sebangau merupakan kawasan konservasi sebagai pelestarian alam, di kawasan itu tumbuh beribu jenis flora dan menjadi habitat hidup berbagai satwa dengan spesies kunci orangutan.
Di sekeliling TN Sebangau diinteraksi oleh keragaman budaya khas masyarakat Suku Dayak Kalteng dengan kehidupan tradisionalnya dalam memanfaatkan SDA tersebut.
Dalam upaya melakukan kegiatan ekowisata di Sebangau, WWF Indonesia mengembangkannya dengan berbasis masyarakat, karena masyarakatlah yang harus menjadi salah satu pelaku kegiatan ini.
“Mereka harus memiliki nilai dan porsi tawar yang setara dengan pihak lain, ketika ekowisata ini dibangun dan dikembangkan, masyarakat tak boleh hanya menjadi objek dari pengembangan, tetapi harus menjadi pemilik dari kegiatan ekowisata,” demikian Rosenda Ch Kasih.

Air TN Sebangau warna cocacola

“SUSUR SUNGAI” BENTUK WISATA UNIK KALTENG

Oleh Hasan Zainuddin
Berada di sebuah kapal yang berlayar menyusuri sungai yang jernih, membelah suasana hutan bergambut, sesekali melintas di kawasan perkampungan masyarakat Dayak, sebuah bentuk wisata baru di Kalimantan Tengah (Kalteng).
Wisata susur sungai belakangan ini semakin diminati oleh warga setempat, karena unik dan khas.
Dalam perjalanan menyusuri sungai itu, wisatawan antara lain dapat menjumpai tanaman khas daerah ini, seperti rasau (jenis pandan) yang menghijau, dan berbagai satwa pulau terbesar di tanah air itu.
Satwa yang sering dijumpai melalui perjalanan di atas air ini seperti orangutan (Pongo pygmaeus), bekantan (Nasalis larvatus), uwa-uawa (Hylobates sp), lutong, kera abu-abu, dan biawak.
Dari beberapa lokasi wisata susur sungai paling diandalkan bagi kepariwisataan Kalteng adalah susur Sungai Rungan-Kahayan Kota Palangkaraya, kata Kepala Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Provinsi Kalteng, Sadar Ardi, di Palangkaraya, Jumat.
Hampir tiap hari, ada saja rombongan pengunjung yang datang untuk menikmati wisata susur sungai.
Mereka dibawa menyusuri Sungai Rungan dan Kahayan menggunakan kapal wisata yang telah disediakan.
Kapal yang dioperasikan berbahan kayu Ulin (kayu besi) bertingkat dua memiliki kamar tidur dengan pendingin ruangan, bar, disertai ‘live’ musik serta tempat bersantai di lantai atas.
Paket wisata tersebut menawarkan objek-objek wisata alam, bukan saja melihat hutan rawa gambut, tumbuhan kayu ulin, kayu balngeran, juga ke lokasi pemancingan, atraksi burung elang, habitat orangutan di Pulau Kaja, dan situs sejarah Dayak yaitu sandung Temanggung Lawak Surapati.
Paket wisata yang ditawarkan cukup terjangkau yaitu mulai Rp750 ribu untuk 10 orang, sudah termasuk suguhan makanan ringan. Biaya tergantung rute yang dipilih serta jumlah anggota rombongan, kata Sadar Ardi.
Wisata yang mulai digagas sejak 2008 itu makin diminati masyarakat. Banyak instansi yang menyuguhkan wisata ini bagi tamu mereka dari luar Kalteng.
Pengunjung lokal Kalteng juga makin banyak yang menggunakan kapal wisata susur sungai, kata Sadar Ardi.
Berdasarkan sebuah catatan, Kalteng memiliki sedikitnya sebelas sungai besar dengan panjang rata-rata ratusan kilometer, ditambah geografis dan karateristik yang kaya akan hutan tropis dan budaya.
Dengan mencermati pangsa pasar wisatawan dan mancanegara dan wisatawan nusantara yang kini mulai kecendrungan menyukai wisata petualangan maka tampaknya jenis susur sungai merupakan pilihan tepat bagi wilayah ini.
Kepala Bidang Parwisata, Disbudpar Kota Palangkaraya, Anna Menur menyatakan objek wisata susur sungai jadi ikon wisata setempat, makanya terus dipromosikan.
Promosi wisata susur sungai bukan saja melalui media massa, cetak maupun elektronik, tetapi juga melalui biro perjalanan, bahkan ke agen-agen penerbangan.
Pihak Pemko Palangkaraya melalui Disbudpar kini mencetak ratusan bahkan ribuan eksemplar buku saku kepawisataan Palangaraya yang di antaranya mempromosikan wisata susur sungai tersebut.
Selain itu, Pemko juga menerbitkan brosur, pamflet mengenai wisata susur sungai.
Susur sungai dirancang bagi wisatawan yang mencintai alam linkungai serta kehidupan sungai di wilayah Kalteng, khususnya di Palangkaraya.
“Bila anda ke kota kami, kota cantik Palangkaraya tidak akan terasa lengkap tanpa adanya sensasi petualangan susur sungai, di mana anda dapat menyaksikan alam pulau Kalimantan yang sungguh eksotis,” kata Anna Menur.
Aida Meyarti,SH dari Dinas Pariwisata Kalteng mengatakan, selain susur sungai Rungan-Kahayan juga kini dipromosikan susur sungai Sekonyer di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar).
Sungai Sekonyer jalur sungai ke areal Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), yang di dalamnya terdapat lokasi rehabilitasi satwa langka orangutan.
Kelebihan Sungai Sekonyer lantaran miliki pemandangan alam lingkungan yang indah juga di sana terdapat spesies binatang yang unik dan menarik.
Seperti di Sungai Kumai bagian dari jalur Sungai Sekonyer terdapat jenis pesut, selain itu juga terdapat satwa yang disebut masyarakat setempat sebagai satwa dugong-dugong.
Dugong-dugong juga dikenal sebagai sapi laut, karena habitatnya adalah diareal rumput laut di muara sungai.
Selain itu perjalanan jalur Sungai sekonyer dengan kelotok (perahu motor tempel) wisata, perjalanan akan melalui kawasan mangrove didominasi pohon bakau (Rhizophora spp), pohon pidada (Sonneratia spp) yang menumbuhkan akar napas (pneumatophore).
Pohon lain dijalur wisata itu kendeka (Bruguiera spp), serta pohon nirih (Xylocarpus spp).
Mengutip sebuah catatan, Sungai Buaya adalah nama asli Sungai Sekonyer, nama Sikonyer diambil dari nama sebuah kapal yaitu kapal Sikuner. Nama asli kapal tersebut diubah berdasarkan bahasa Melayu menjadi Sekonyer.
Ceritanya, pada masa kolonial Belanda di muara Sungai Buaya berlabuhlah sebuah kapal perompak atau bajak laut.
Kapal itu tenggelam tepat di muara Sungai Buaya ditembak oleh seorang bernama Bujang dengan sebuah meriam kecil bernama “palembang” milik seorang tokoh agama Islam, “Kyai Gede.”
Meriam hanya dapat ditembakkan oleh keturunan Kyai Gede atau salah seorang suku keturunan Dayak Gambu, oleh penduduk sekitar kemudian nama Sekonyer ini sering dipakai untuk menyebut nama asli dari Sungai Buaya itu.
Perjalanan jalur sungai ini kemudian menemui kawasan tanaman nipah (Nypa fruticans Wurmb) lalu kawasan pohon rasau, kemudian terus ke Tanjung Harapan Desa Sekonyer, Pesalat tempat pendidikan konservasi, wisata Pondok Tanggui, Pondok Ambung, Muara Ali, Danau Panjang hingga camp Leakey lokasi rehabilitasi orangutan.
Guna menanamkan lagi kecintaan masyarakat Kalteng dan Kalimantan Selatan (Kalsel) terhadap angkutan air itu, maka sebuah harian yang terbit di Banjarmasin, yakni Banjarmasin Post menggelar kegiatan susur sungai Barito-Kahayan.
Kegiatan ini menurut tulisan di harian tersebut untuk melestarikan budaya sungai yang mulai ditinggalkan masyarakat Kalsel dan Kalteng karena perkembangan transportasi darat dan udara.
Selain itu, Banjarmasin Post ingin mengajak warga di dua provinsi bertetangga ini mengingat kembali sejarah transportasi di dua sungai utama tersebut.
Barito dan Kahayan merupakan urat nadi masyarakat Kalsel dan Kalteng sejak masa penjajahan. Apalagi, sejak kedua sungai dihubungkan oleh sejumlah anjir (kanal) seperti Anjir Serapat.
Kedua sungai ini memang memiliki sejarah sebagai jalur perdagangan kedua provinsi, kata Aida..
Pada era era 50-an, banyak saudagar Banjarmasin membawa barang ke daerah hulu Sungai Barito dan Kahayan. Selanjutnya dari hulu sungai, mereka membawa bahan-bahan alam seperti rotan ke Banjarmasin. Rute ini ini mereka lalui selama berhari-hari.
Ini tidak hanya dilakukan pedagang dari Banjarmasin, tetapi juga dari hulu Sungai Kahayan dan Barito. Biasanya mereka berlabuh di tepian Sungai Martapura Banjarmasin.
Selain tinggal di kapal, mereka biasanya menginap di Hotel Sinar Amandit dan Mess Candi Agung yang ada di tepi Sungai Martapura.
Sekarang banyak generasi muda yang tidak mengetahui sejarah tersebut. Mereka tahunya dari Banjarmasin (Kalsel) ke Palangkaraya (Kalteng) menggunakan jalur darat hanya beberapa jam saja.
Agar mereka tidak melupakan sejarah, maka harian itu bekerjasama pihak pemerintah kabupaten Kapuas, Pulang Pisau, dan Kota Palangkaraya Kalteng menggelar Susur Sungai Barito-Kahayan diikuti 54 peserta dari akademisi, sejarawan, pencinta lingkungan, dan sejumlah wartawan, beberapa hari lalu.
Dan kini, wisata susur sungai bukan hanya sekedar menyajikan keunikan kepariwisataan Kalteng saja, melainkan juga untuk mengenang kebiasaan warga setempat tempo dulu, yang selalu bepergian menggunakan angkutan air.

Klotok, salah satu angkutan wisata susur sungai

Lokasi wisata susur sungai

KENAIKAN TDL DISUASANA JERITAN PEMADAMAN LISTRIK WARGA KALTENG

Oleh Hasan Zainuddin
Palangkaraya, 11/7 (ANTARA) – Nyaris tiap hari pemadaman listrik terjadi di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.
Hampir tiap hari pula keluhan dilontarkan warga melalui media massa mapun langsung ke Perusahaan Listrik Negara (PLN) setempat.
Walau kritikan bertubi-tubi ke PLN, tak merubah keadaan, “byar peat” terus terjadi, malah keluar kebijakan Kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL).
Tak urung masyarakat yang sudah meradang tambah meradang setelah kenaikan TDL, akhirnya diwakili mahasiswa turun kejalan untuk berunnjuk rasa.
Mereka Gerakan Mahasiswa (Gema) berunjuk rasa, Kamis (8/7), mendatangi kantor Gubernur Kalteng, Kota Palangkaraya,  disambut Wakil Gubernur Kalteng, Achmad Diran dan pejabat lainnya, mereka menuntut pembatalan kenaikan TDL.
Mereka adalah gabungan BEM Universitas Palangkaraya (Unpar), BEM Universitas Muhammadiyah, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), KAMMI Cabang Palangkaraya, Himpunan Mahasiswa Pulang Pisau dan Slankers Club Palangkaraya.
Pengunjukrasa minta pemerintah memanfaatkan Sumber Daya Alam (SDA) mengurangi krisis listrik dengan membangun pembangkit sendiri, serta berupaya perbaiki pembangkit yang ada kurangi krisis listrik.
Aksi juga meminta mereformasi birokrasi PT PLN Cabang Palangkaraya, dan meminta pemerintah bertanggungjawab krisis listrik di provinsi ini.
Selain menyampaikan tuntutannya, pengunjukrasa menyodorkan solusi berupa kontrak politik serta pernyataan sikap kepada manajemen PLN cabang Palangkaraya.
Mereka juga mendesak pimpinan PT PLN setempat menangani krisis listrik melanda Kalteng, khususnya Palangakaraya, sebab mereka menilai kinerja PLN belum maksimal mengatasi krisis listrik.
Diantara tuntutan lainnya yang diajukan pengunjuk rasa berbunyi stop pemadaman listrik, tingkatkan kualitas pelayanan listrik masyarakat, transparansi biaya pemasangan listrik baru, PT PLN harus bertanggung jawab atas kerusakan barang elektronik masyarakat akibat pemadaman listrik.
Tuntutan lainnya efisiensi penghematan energi listrik di kantor pemerintahan, mendesak pimpinan PT PLN Palangkaraya untuk mengundurkan diri dari jabatannya jika target pada bulan Agustus 2010 mendatang listrik tak mencukupi.
Pengunjukrasa menyatakan jika tuntutan mereka tidak di penuhi akan melakukan aksi lanjutan yang lebih besar lagi.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Gubernur Kalteng, Achmad Diran menyatakan pemerintah daerah berusaha dengan meminta PLN menyelesaikan krisis listrik baik secara langsung maupun melalui surat.
Akan tetapi Diran juga mengatakan bahwa tuntutan poin satu tentang pembatalan kenaikan TDL adalah kebijakan pusat, bukan wewenang pemerintah daerah. Meski begitu ia berjanji menyampaikan usulan pengunjuk rasa  ke pemerintah pusat.
Menejer Cabang PLN Palangkaraya, Taufik Eko, menyatakan  seringnya pemadaman listrik di wilayah ini dikarenakan kemampuan daya wilayah setempat pas-pasan, sementara konsumsi masyarakat terus meningkat, sehingga terjadi defisit listrik 14,6 megawatt (MW).
Kebutuhan listrik Palangkaraya mencapai 29,6 MW sedangkan yang terpenuhi 15 MW, melalui pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Kahayan 5,4 MW dan sewa genset 9,6 MW.
Guna menenuhi kekurangan tersebut PLN Kalteng menambah daya dengan meminta kepada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Asam-asam Kalimantan Selatan (Kalsel), melalui sistem jaringan interkoneksi Kalselteng.
“Upaya mengatasi listrik PLN menambah pembangkik beberapa unit hingga Agustus 2010 akan ada daya 25 MW yang berarti tinggal defisit sekitar 4 MW, diharapkan mengurangi pemadaman listrik di masyarakat,” Taufik Eko.
Gubernur Kalteng, Agustis Teras Narang, menyatakan  wilayahnya sangat membutuhkan tambahan pembangkit listrik dalam upaya memenuhi kebutuhan listrik seiring kian berkembangnya wilayah ni.
“Cukup ironis, Pulau Kalimantan termasuk Kalteng  merupakan penghasil batubara sebagai bahan bakar pembangkit listrik justru kekurangan tenaga listrik,” katanya.
Sebesar 94 persen kebutuhan batubara untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Pulau Jawa dan Pulau Bali, didatangkan dari Pulau Kalimantan.
Padahal sebagai wilayah yang relatif tertinggal di bandingkan Pulau Jawa dan Bali.
Sudah sewajarnya Kalteng diberikan berbagai faslitas dalam upaya mengejar ketertinggalan, bukan sebaliknya kekayaannya dikeruk tetapi wlayah ini dibiarkan terus tertinggal.
Gubernur Kalteng ini juga mengeluhkan molornya pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Pulang Pisau yang berada di provinsi itu.
Rencana membangun PLTU Pulang Pisau bagian dari rencana pembangunan pembangkit 10 ribu MW secara nasional, Kalteng kebagian 2 kali 65 MW melalui PLTU Pulang pisau itu, tetapi rencana itu sampai sekarang tak ada tanda-tanda terealisasi, padahal sudah diketahui masyarakat luas.
Melihat keinginan begitu kuat warga Kalteng memiliki pembangkit sendiri, maka rencana pembangunan PLTU harus direalisasikan.
Kenyataan kian defisitnya daya listrik memunculkan berbagai prakarsa untuk menciptakan daya listrik baru di wilayah Kalteng ini seperti yang diinginkan Dinas Pertambangan dan Energi setempat.

Energi alternatif
Cangkang kelapa sawit yang dikenal bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan energi listrik mulai dilirik oleh Distamben Kalteng.
Saat ini banyak perusahaan perkebunan kelapa sawit menghasilkan limbah berupa cangkang kelapa sawit.
Menurut Kepala Distamben, Yulian Taruna pihaknya  mulai menjajaki  sejumlah perusahaan perkebunan kelapa sawit untuk tujuan itu.
Mereka berharap ada kerjasama untuk memanfaatkan listrik biomassa sehingga bisa membantu mengatasi masalah kelistrikan setempat.
“Kami sedang berkoordinasi dengan sejumlah perkebunan kelapa sawit terkait kemungkinan pemanfaatan cangkang sawit untuk menghasilkan listrik biomassa. Perkebunan kelapa sawit di daerah kita kan cukup banyak, kalau itu berhasil, maka listrik yang dihasilkan membantu mengatasi masalah kelistrikan kita,” katanya.
Menurutnya, banyak sumber energi lain yang bisa dimanfaatkan menjadi listrik, seperti tanaman jarak.
Namun hasil pemantauan pihaknya di sejumlah daerah, pemanfaatan tanaman jarak untuk menghasilkan listrik juga masih menemui banyak kendala.
Potensi pemanfaatan listrik biomassa dari cangkang kelapa sawit di Kalteng dinilai sangat besar.
Karena itu, potensi itu harus dimanfaatkan dengan baik. Pemerintah daerah akan terbantu jika ada perkebunan yang memproduksi listrik biomassa dan ikut memasok ke masyarakat.
Meski demikian, Yulian mengakui, pembangunan  PLTU saat ini cukup mudah dibangun di Kalteng. Apalagi, sumber batu bara yang digunakan untuk bahan bakar PLTU, cukup banyak di Kalteng.
“Memang untuk sementara ini, pembangunan PLTU yang sangat memungkinkan. Makanya, kita mengusulkan kepada pemerintah pusat, maupun diusahakan oleh daerah sendiri. Tapi kalau biomassa itu bisa kita usahakan, tentu sangat bagus,” kata Yulian Taruna.
Seperti diketahui, listrik biomassa sudah banyak dimanfaatkan perusahaan perkebunan kelapa sawit di sejumlah daerah di Indonesia. Selain dimanfaatkan untuk energi listrik, limbah sawit juga bisa diolah lagi menjadi pupuk kompos dan gas metan.
Sebagai gambaran sederhana, proses mengolah limbah sawit menjadi energi listrik 6 megawatt, dibutuhkan tabung besar berkapasitas 38 ton yang kuat untuk menerima panas hasil pembakaran pada suhu 380 derajat celsius. Selain itu, juga dibutuhkan sebuah turbin uap berkapasitas 6.000 kilowatt.
Listrik biomassa mulai diterapkan perusahaan perkebunan Sumatera Selatan. Listrik yang dihasilkan digunakan untuk kebutuhan di perkantoran, perumahan dan penerangan jalan perusahaan.
Kelebihan listrik yang dihasilkan juga bisa dipasok ke masyarakat. Pemanfaatan listrik biomassa itu juga akan mengurangi ancaman pencemaran lingkungan, karena limbah perusahaan justru dimanfaatkan untuk hal positif.
Potensi kelistrikan lain adalah tenaga matahari, seperti warga tinggal di empat Kabupaten  mengharapkan bantuan pemerintah  menyediakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
PLTS tersebut diharapkan sebagai alternatif fasilitas penerangan warga sebagai pengganti kekurangan tenaga listrik di kawasan tersebut.
Warga yang mengharapkan bantuan PLTS tersebut menyebar di desa-desa empat kabupaten  Kabupaten Barito Utara (Barut), Kabupaten Barito Selatan (Barsel), Kabupaten Barito Timur (Bartim), serta warga di Kabupaten Murung raya (Mura).
Temuan mengenai keluhan tenaga listrik tersebut, setelah pihak anggota DPRD Daerah Pemilihan (Davil) IV melakukan kunjungan masa reses ke wilayah empat kabupaten tersebut.
Persoalan listrik hampir semua dirasakan di desa di Kecamatan-Kecamatan yang ada di empat Kabupaten itu.
Warga mengeluhkan masalah ini dan banyak usul dari warga di desa-desa menginginkan bantuan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Menurut laporan DPRD Kalteng sebenarnya masih banyak sumber daya alam yang potensial untuk membangun pembangkit listrik seperti Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) kecil-kecilan cukup untuk menerangi beberapa desa yang berdekatan,
Oleh karena itu pihak DPRD Kalteng menyerahkan persoalan itu kepada dinas terkait untuk mengadakan pendataan dan survei apakah air terjun yang ada bisa digunakan untuk pembangunan PLTA sederhana tersebut.
Diharapkan sumber daya alam seperti air terjun yang ada di kawasan tersebut bisa dijadikan PLTA, bila berbagai potensi kelistrikan Kalteng bisa dimanfaatkan maka diharapkan persoalan listrik di wilayah ini bisa teratasi, demikian seorang Anggota DPRD Kalteng menyatakan.

FESTIVAL ISEN MULANG SARANA PELESTARIAN BUDAYA DAYAK

Oleh Hasan Zainuddin
Puluhan gadis berkulit putih berbusana khas Dayak menari di hamparan rumput Lapangan Senaman Mantikei, Kota Palangkaraya, Ibukota Provinsi Kalimantan Tengah.
Para gadis itu merupakan peserta tarian massal yang diikuti ratusan penari dalam pembukaan Festival Isen Mulang, kegiatan wisata tahunan  wisata yang sekaligus untuk melestarikan budaya masyarakat Dayak di provinsi itu.
Wisatawan nusantara dan  wisatawan mancanegara berbaur di tengah panasnya matahari di kawasan lahan bergambut Kalimantan itu untuk menyaksikan kegiatan yang menjadi agenda kepariwisataan Kalteng tersebut.
Sorak sorai pengunjung diselingi tepuk tangan selalu terdengar tatkala ada penari yang beratraksi menarik seperti atrobatik atau  tarian yang menonjolkan keahlian seperti menaiki rotan berduri.
Belum lagi permainan beberapa alat seni Dayak yang unik  selalu menjadi perhatian ribuan penonton termasuk kalangan pejabat Pemprov Kalteng, DPRD, serta unsur Muspida setempat.
Peralatan tersebut, misalnya, alat musik kurung-kurung, yaitu alat musik memainkannya dengan menghempaskan ke tanah.
Wakil Gubernur Kalteng Ahmad Diran saat membuka kegiatan yang melibatkan warga di 14 kabupaten dan kota se-Kalteng itu menyatakan merasa gembira terselanggaranya kegiatan itu.
Menurut dia, Festival Isen Mulang selain mampu menghibur masyarakat juga sekaligus bermanfaat sebagai sarana pelestarian budaya yang belakangan mulai terlupakan.
Pembukaan festival tahunan ini bukan saja diwarnai atraksi tarian dan seni  massal, tapi dilanjutkan dengan pawai mobil hias mengelilingi kota Palangka Raya.
Mobil-mobil hias yang dibentuk sedemikian rupa melambangkan moto dan potensi daerah masing-masing kabupaten dan kota. Di mobil itu pula kalangan seniman dan budayawan menampilkan kesenian masing-masing daerah.
Deretan mobil hias tersebut juga menampilkan berbagai gambar dan patung yang menjelaskan potensi masing-masing daerah seperti pertambangan, pertanian, perkebunan, perikanan, kelautan, kehutanan, perhubungan, pariwisata, serta potensi industri dan perdagangan.
Dari beraneka atraksi unik di mobil yang meyusuri jalan protokol Kota Palangka Raya tersebut memancing penonton mengabadikannya melalui kamera foto, kamera telepfon seluler, maupun menggunakan kamera video.
Sejumlah wisatawan asing tampak antusias mengabadikan setiap atraksi budaya yang ditampilkan peserta pawai tersebut.
Para wisatawan asing tampak lebih tertarik terhadap busana yang dikenakan para gadis Dayak yang putih-putih itu, seperti pakaian terbuat dari kulit kayu, karung guni, dedaunan, serta perhiatan manik-manik, tato, dan bulu-bulu binatang yang terletak di atas kepala para gadis itu.
Begitu juga terhadap pelaku atraksi budaya pria yang selalu melambangkan kejantanan, yang selalu memegang senjata tradisional berupa mandau, telabang (alat pengaman), sumpit, panah, dan aneka asesoris yang terbuat dari tulang belulang binatang.
Kegiatan festival yang selalu dikaitkan dengan penyelanggaraan peringatan hari jadi provinsi Kalteng itu berlangsung enam hari sejak Kamis (20/5) dimeriahkan dengan 18 materi kegiatan, kata Kepala Dinas Pariwisata, Seni, dan Budaya Provinsi Kalteng Sadar Ardi.
Kegiatan itu selain pawai budaya juga kesenian, permainan rakyat, atraksi masakan, olahraga tradisional, serta pemilihan duta wisata yang bertajuk putera-puteri pariwisata Kalteng.
Selain itu juga diwarnai sejumlah atraksi budaya suku Dayak lain semacam manetek kayu, bagasing, tari-tarian, mangenta, malamang, mangaruhi, dan besei kambe.
“Kami harap kegiatan ini akan menyedot wisatawan sebanyak-banyaknya, karena pengalaman tahun lalu tingkat hunian di hampir semua hotel dan penginapan se-Palangkaraya penuh,” katanya lagi.
Rangkaian acara lain yang akan mewarnai HUT Kalteng yakni Kalimantan Tengah Expo berisi pameran produk-produk unggulan daerah di Gedung Tambun Bungai untuk memberikan gambaran potensi sumberdaya alam dan keberhasilan pembangunan yang ada di wilayah Kalteng.
Tahun ini ada tambahan kegiatan, kata Sadar Ardi, yaitu lomba mengayam rotan, sebagai sarana pelestarian kerajinan anyaman rotan untuk barang cenderamata Kalteng.

Aneka lomba
Buku panduan yang dibagikan kepada undangan saat pembukaan festival itu menjelaskan 18 kegiatan tersebut antara lain lomba musik tradisional karungut guna memberikan rasa bangga kepada para pewaris lagu tradisional Kalteng itu, dan nantinya musik ini diharapkan sebagai sarana penyampaian pesan pembangunan di tengah masyarakat pedesaan.
Kemudian lomba mengent yang merupakan kegiatan nenek moyang suku Dayak Kalteng sebagai ungkapan rasa terimakasih petani setempat yang berhasil panen padi dengan baik, dimana dalam lomba ini ada peserta yang menumbuk, memasak, dan menghidangkannya.
Alat yang digunakan lomba mengent ini adalah padi ketan, lesung, alu, penampih, suruk, serta tungku sekaligus kayu bakarnya.
Sementara lomba pakasak lamang yang merupakan gambaran kegiatan nenek moyang, juga sebagai ungkapan syukur atas panen padi, yaitu memasang nasi ketan dalam bambu yang disebut lamang.
Lomba lainnya adalah pakasak panganan tradisional, lomba mangaruhi dan malutu, lomba meneweng, mene tek, dan menyila kayu, lomba sepak sawut.
Lomba sepak sawut ini menampilkan keahlian seperti sepak bola, tetapi bola yang digunakan adalah kelapa bersabut yang dibubuhi minyak tanah lalu dibakar hingga menjadi bola api yang ditendang-tendang layaknya bola kaki.
Lomba jukung hias, lomba besel kambe, lomba jukung tradisional, lomba balugu, lomba habayang lomba penyipet serta lomba vokal solo lagu daerah.
Banyak kalangan berharap, aneka kegiatan tahunan tersebut  melestarikkan kebudayaan unik suku dayak Kalteng yang eksotis tersebut.

SUMBER DAYA AIR KALTENG KEBAIKAN ALAM DILESTARIKAN

 Oleh Hasan Zainuddin
      Palangka Raya,8/5 (ANTARA)- Berbanggalah bagi mereka yang tinggal di wilayah Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) karena tidak susah mencari sumber air yang bisa dimanfaatkan  bagi berbagai kehidupan, terutama konsumsi air minum bagi kesehatan.
     “Kalteng memiliki kekayaan yang tak terhingga, karena memiliki kawasan perairan yang paling luas dibandingkan wilayah lain di Indonesia,” kata Gubernur Kalteng, Teras Narang kepada pers.
     Menurut Teras Narang sumber air Kalteng 183,2 miliar M3, bila dikelola akan memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat, baik transportasi, irigasi, sawah, pembangkit listrik, terpenting untuk air minum.
     Kalteng miliki 11 sungai besar panjang 4.625 Km, tujuh kanal 122 Km, ditambah ratusan anak sungai.
     Sungai Kalteng adalah Sungai Barito 900 Km, Sungai Kapuas 600 Km, Kahayan 600 Km, Katingan 650 Km, Sungai Mentaya 400 Km, Sebangau 200 Km, Seruyan 350 Km, Arut 250 Km, Kumai  175 Km, Lamandau 300 Km, serta Sungai Jelai panjang 200 Km.  Bukan hanya sungai Kalteng juga miliki rawa 1,8 juta.
     Di Kalteng juga terdapat wilayah resapan air berhutan lebat berada di wilayah Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam yang disebut ‘menara air’, karena 20 sungai mengaliri keseluruhan, 14 di antaranya behulu di kawasan ini, seperti Sungai Barito, Mahakam, Kapuas, dan sungai besar lainnya.
     Menara air berada di deretan pegunungan membelah bagian tengah Kalimantan melintasi wilayah tiga negara, seluas 20 juta hektare sumber kehidupan 50 suku Dayak atau 15 juta jiwa penduduk di Pulau terbesar Indonesia ini.
     Berdasarkan tulisan media World Wide Fund For Nature (WWF) Indonesia, hutan Kalimantan  tersisa tinggal 50 persen, dan terus berkurang pada tingkat makin mengkhawatirkan, bencana pun kian  meluas. Hutan masih baik tinggal di kawasan menara air itu.
     Hutan menara air miliki keanekaragaman hayati, terdapat 40 persen hingga 50 persen jenis flora dan fauna ada di sini, dan dalam 10 tahun terakhir terdapat 361 species baru ditemukan.
     Pentingnya menara air melahirkan kesepakatan tiga negara, Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam, pada 12 Pebruari 2007 di Pontinakak Kalbar, untuk melakukan kerjasama multipihak melalui yang disebut Program Heart of Borneo (HoB).
     Masyarakat Kalteng sendiri, berupaya melestarikan sumber daya air itu sebaiknya, karena air merupakan anugerah yang bisa menjadi barang paling berharga di kemudian hari.
     Menurut beberapa ahli air terutama air tawar bisa menjadi rebutan, dan harganya bisa melebihi minyak bumi, jika sumber daya air tidak dipelihara dan air menjadi barang langka. Bisa jadi konflik masyarakat bahkan konflik antar negara hanya memperebutkan air ini.
     Konon air tawar di dunia ini hanya terdapat tiga persen saja, dari jumlah itu hanya tiga persen pula yang bisa dimanfaatkan untuk konsumsi, terutama air permukaan, karena itu air permukaan seperti air sungai, danau, rawa, serta air pegunungan harus dilestarikan.
     Apalagi ada anggapan sesungguhnya air bagaikan ibu yang merawat dan memberi makan kepada isi alam sesmeta raya ini.
     Jika alam semesta termasuk air tidak diberlakukan dengan baik, maka air akan berubah menjadi racun dan sumber bencana.
     Di dalam air terdapat makanan, mengandung obat, dan sumber kesehatan lainnya. Air yang dimanfaatkan selama ini kebanyakan berasal dari mata air secara genetis sebenarnya berasal dari air hujan, dimana kemudian terinfilterasi ke dalam sistem lapisan lapisan batuan vulkanik dan turun hingga ke lereng pegunungan, akibat gaya grativitasi bumi.
     Dalam perjalanannya melalui lapisan batuan vulkanik tersebut, air telah tersaring melalui proses ilmiah. Sebagai bagian dari proses penyaringan alami tersebut, air menyerap mineral-mineral, seperti kalsium, soium, magnesium, dan potassium, yang penting untuk kesehatan. Dari proses itu, maka akan menghasilkan air dengan kandungan mineral yang seimbang.
     Sumber air berkualitas ciptaan alam yang sangat berharga dan harus dilindungi serta dilestarikan bersama, sehingga masyarakat bisa memanfaatkan dari generasi ke generasi.
     Setiap orang tahu, semua orang harus minum sedikitnya delapan gelas air setiap hari. Bahkan Departemen Kesehatan menegaskannya dalam pedoman Umum gizi seimbang. Tapi sebagian besar orang tidak menyadari bahwa untuk tetap sehat, kualitas air sama pentingnya dengan jumlah air yang minum.
      Untuk memperoleh  kualitas air tersebut berbagai upaya telah dilakukan masyarakat, termasuk apa yang dilakukan kalangan usahawan yang memproduksi air kemasan, berbagai merk pun bermunculan, tak terkecuali merk Aqua yang merupakan pioner dalam produk air kemasan ini.

   Seribu manfaat

   Berdasarkan sebuah tulisan, menyebutkan seribu manfaat air bagi kesehatan, dengan mandi  dua kali sehari dan cuci rambut paling telat tiga hari sekali sangat dianjurkan pakar kesehatan dan kebugaran.
    Alasannya, sentuhan air bersih dengan tubuh membuat badan terasa segar dan bugar kembali. Untuk menjaga kecantikan pun, kebersihan tubuh harus benar-benar diperhatikan ditambah lagi minum air putih 8 – 10 gelas sehari.
    Bahkan air juga banyak dimanfaatkan oleh para pemeluk agama dan aliran kepercayaan, misalnya untuk air wudhu, air baptis, sarana mengusir roh jahat serta dan kegunaan lainnya.
    Konon sejak ratusan tahun sebelum Masehi bangsa Rowawi sudah mengenal khasiat mandi, entah mandi susu atau berendam di kolam air bersih yang dilengkapi pancuran dan wewangian. Tujuannya agar tubuh bersih, sehat, dan wangi.
    Menurut peneliti sebuah lembaga riset trombosis di London, Inggris, jika orang selalu mandi dengan air dingin, peredaran darahnya akan membaik sehingga tubuh terasa lebih bugar. Ditambahkan lagi bahwa mandi dengan air dingin akan meningkatkan produksi sel darah putih dalam tubuh serta meningkatkan kemampuan seseorang terhadap serangan virus.
    Bahkan, mandi dengan air dingin di waktu pagi dapat meningkatkan produksi hormon testosteron pada pria serta hormon estrogen pada wanita. Dengan demikian kesuburan serta kegairahan seksual pun akan meningkat. Selain itu jaringan kulit membaik, kuku lebih sehat dan kuat, tak mudah retak.
    Air juga diyakini dapat menyembuhkan penyakit jantung, rematik, kerusakan kulit, penyakit saluran napas, usus, penyakit kewanitaan, dan aneka penyakit lainnya.
     Kini malah pelbagai macam pengobatan alternatif ditawarkan dengan air, berendam dalam air mengandung magnet, kadar garam tinggi, belerang atau zat kimia lain yang bisa meningkatkan kesehatan.
     Para pakar pengobatan alternatif bahkan menyatakan, bersentuhan dengan air mancur, berjalan-jalan di sekitar air terjun, atau sungai dan taman dengan banyak pancuran, akan memperoleh khasiat ion-ion negatif.
     Ion-ion negatif yang timbul karena butiran-butiran air yang berbenturan itu bisa meredakan rasa sakit, menetralkan racun, memerangi penyakit, serta membantu menyerap dan memanfaatkan oksigen.
     Ion negatif dalam aliran darah akan mempercepat pengiriman paket oksigen ke dalam sel dan jaringan. Mandi menggunakan shower di rumah pun mempunyai efek menghasilkan ion negatif.
     Khasiat air tak berhenti pada soal mandi atau berendam saja. Tidak kalah penting khasiat air putih bila diminum. Selain makanan, air sangat diperlukan oleh tubuh. Seseorang yang kekurangan makan masih dapat bertahan sampai beberapa hari, tapi kekurangan air bisa berakibat fatal, karena air merupakan bagian terbesar dari komposisi tubuh manusia.
     Menurut ahli dalam tubuh pria dengan berat rata-rata 70 kg, kandungan air di dalam tubuhnya kira-kira 45 liter. Dari total kandungan air 45 l di atas, sekitar 30 l terdapat dalam sel tubuh kita (intraseluler) sedangkan 15 l berada di luar sel (ektraseluler).
     Yang termasuk air di luar sel adalah air dalam cairan otak, cairan mata, dan hidung, termasuk juga cairan pada saluran pencernaan.
      Menurut sumber lain, kandungan air dalam otak 83 persen, ginjal 82 persen, jantung 79 persen, paru-paru 80 persen, tulang 22 persen, dan darah 90 persen.
     Bila kandungan air dalam masing-masing organ tersebut tetap dipertahankan sesuai kebutuhan, maka organ tersebut akan tetap sehat. Sebaliknya bila menurun, fungsinya juga akan menurun dan lebih mudah terganggu oleh bakteri, virus, dan sebagainya. Maka bisa dibayangkan betapa besar peran air dalam tubuh manusia.

BERBURU MADU KELULUT, JENIS MADU YANG BUKAN DARI LEBAH

Banjarmasin, 14/4 (ANTARA)- Dengan membawa kampak, parang, serta peralatan lainnya dua pemuda Desa Inan, Kecamatan Paringin Selatan, kabupaten Balangan, provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) bergegas masuk hutan dalam upaya pencarian sesuatu yang termasuk barang atau minuman langka.

Aliansyah dan Nahli dua pmuda tersebut seakan sudah hapal lokasi yang mereka tuju di belantara hutan Pegunungan Meratus kawasan tersebut, tak lain yang mereka lakukan adalah berburu (mencari) sejenis madu yang bukan dari lebah tetapi justru dari binatang Kelulut.

Kedua pemuda tersebut sudah terbiasa mencari madu ini lantaran kebiasaan untuk mengkonsumsi madu itu karena terbukti berkhasiat bagi kesehatan.

Apalagi di wilayah ini termasuk kawasan yang berhawa dingin, terutama di pagi hari, dengan meminum madu kalulut maka badan jadi angat dan sehat. Akibat kebiasaan mengkonsumsi madu tertebut walau harus mencarinya ke dalam hutan sekalipun.

Berdasarkan keterangan binatang yang mengolah madu tersebut bentuk kecil lebih kecil dari lalat disebut masyarakat setempat sebagai binatang kalulut, sehingga madu yang dihasilkannya itu disebut madu kelulut.

Madu kalulut kini mulai digandrungi masyarakat bukan sekedar untuk kesehatan tubuh sebagaimana madu lebah, juga sebagai teman makan kue, atau makanan pisang rebus dan ubi rebus.

Menurut, Aliansyah yang dikenal sebagai pencari madu kalulut di Desa Inan, Kecamatan Paringin, madu tersebut dianggap lebih berkhasiat dibandingkan madu lebah.

Masalahnya binatang kelulut lebih kecil dibandingkan lebah sehingga binatang ini pasti lebih teliti dalam mengekstrak madu untuk makanan anak-anaknya. Hanya saja, bagi sebagian orang di wilayah ini kurang suka terhadap jenis madu ini, lantaran rasanya sedikit asam dibandingkan madu lebah, tetapi bentuk warna atau kekentalan sama saja dibandingkan madu lebah.

Untuk mencari madu kalulut ini memang relatif lebih sulit dibandingkan madu lebah, karena setiap satu sarang kalulut hanya sedikit sekali menghasilkan madu. “Makanya untuk mendapatkan satu liter madu kalulut, itu harus mampu mengambil madu untuk beberapa sarang kalulut, sementara kalau mengambil madu lebah hanya satu sarang bisa mencapai puluhan liter” kata Aliansyah.

Apalagi sarang kalulut itu bukan berada bergelantungan di dahan pohon seperti layaknya sarang lebah, tetapi sarang kalulut itu berada dalam rongga batang pohon besar. Biasanya sarang kalulut itu berada dalam rongga batang pohon besar, Untuk mengenali batang pohon itu ada atau tidak sarang kalulut, ditandai dengan sekelompok binatang kalulut yang beterbangan di sekitar itu. Untuk mendapatkan madu kalulut tersebut pencari madu ini harus menebang dulu pohon itu, kemudian baru membelahnya pakai kampak, setelah itu baru kelihatannya sarang kalulut lengkap dengan wadah-wadah madunya.

Wadah madu ini persis seperti balon-balon kecil menggelembong, balon itu terbuat dari bahan yang diproduksi binatang ini menyerupai lilin hitam. Bila gelembong itu pecah sedikit saja maka madu akan ngocor dari gelembong tersebut.

Makanya cara mengambil madu tersebut terlebih dahulu mengumpulkan balon-balon kecil itu ke dalam wadah, setelah terkumpul baru balon itu dipecah atau diperas hingga madunya terkumpul. Enaknya mengambil madu itu karena gigitan binatang ini tidak sakit dibandingkan gigitan lebah, paling banter sakitnya seperti gigitan nyamuk, tetapi kalau binatang ini marah biasanya secara berkelompok menyerang bagian rambut orang hingga seringakali binatang ini banyak nyangkut dirambut orang.

Binatang ini selain banyak bersarang di dalam pohon besar, juga ada yang bersarang dalam gondokan tanah merah semacam gunung kecil atau yang disebut penduduk setempat tanah balambika. Bila madu kalulut yang bersarang dalam tanah merah ini diambil maka warna madu kalulut agak merah keputih-putihan, sedangkan madu dalam pohon agak merah ke hitam-hitaman.

Lantaran sulit diperoleh maka kalau ada yang menjual madu inipun harganya lebih mahal ketimbang harga madu lebah, bila harga madu lebah asli rp50 ribu per botol di pedalaman Kalsel, maka harga madu lebah ini bisa Rp60 ribu per botol. Konon agar madu ini lebih berkhasiat kalau didiamkan lebih lama dulu, sehingga dikenal ada madu kalulut usianya tahunan di tangan masyarakat.

Konon pula madu banyak sekali khasiatnya, selain bisa untuk kejantanan laki-laki atau awet muda, atau untuk obat maag, demam, atau obat luka, serta obat lainnya.

Berdasarkan perkiraan, madu ini lebih berkhasiat ketimbang madu lebah, lantaran hasil pengektrakkan dari binatang yang kecil kelulut yang mampu mengambil sari pati bunga-bungaan yang kecil pula, dengan demikian madu yang dihasilkan lebih berkualitas.