MENYELAMATKAN BORNEO MELALUI PROGRAM HOB

Oleh Hasan Zainuddin
           Palangkaraya,25/7 (ANTARA)- Berdasarkan sebuah penelitian pada periode tahun 2000-2002 setidaknya 1,2 juta hektar hutan Kalimantan (Borneo) hilang setiap tahun, lantaran pencurian kayu, alih fungsi hutan, serta  kebakaran hutan.
         Akibat dari semua itu hutan Kalimantan terus berkurang baik segi luasan maupun kualitas hutan itu sendiri.
         Saat ini hutan Kalimantan yang tersisa tidak lebih dari 50 persen dan terus berkurang pada tingkat yang makin mengkhawatirkan. Potensi alam pun menurun dan bencana lingkungan makin meluas.
         Namun, hutan yang cenderung berada dalam kondisi baik berada di daerah dataran tinggi yang kebetulan tersebar luas di sepanjang perbatasan Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam.
         Hutan di sini memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, setidaknya terdapat 40 persen hingga 50 persen jenis  flora dan fauna yang hanya dapat ditemui di Kalimantan, dan dalam 10 tahun terakhir terdapat 361 species baru ditemukan.
         Salah satu fungsi penting Jantung Kalimantan adalah sebagai menara air bagi seluruh pulau, dari kawasan ini mengalir sumber air bagi 14 dari 20 sungai utama di Pulau Kalimantan, antara lain Sungai Barito, Mahakam, dan Sungai Kapuas.
         Melihat kenyataan tersebut, menimbulkan keprihatinan banyak pihak  maka memunculkan kesepakatan tiga negara, Indonesia, Malaysia, dan negara Brunei Darussalam untuk menyelamatkan Kalimantan (Boerneo) melalui program Jantung Kalimantan atau Heart of Borneo (HOB).
         HOB dipakai oleh internasional karena Borneo merupakan sebutan internasional bagi Kalimantan. Kata Borneo bersifat lebih netral dan lebih mudah dipahami secara internasional.
         Pada 12 Pebruari 2007, tiga negara sepakat membuat deklarasi untuk mengelola secara berkelanjutan dan melindungi dataran tinggi di sepanjang perbatasan Indonesia dan Malaysia serta Brunei Darussalam.
         Deklarasi tidak akan secara optimis mengubah status legal kawasan hutan Kalimantan, atau mengurangi hak-hak masyarakat yang berada di dalamnya.
         Program HOB bukan saja melibatkan pemerintah di tiga negara tetapi juga melibatkan banyak pihak yang peduli terhadap keselamatan lingkungan Kalimantan, termasuk di dalamnya yayasan World Wide Fund For Nature (WWF).
         Penyelamatan hutan Kalimantan merupakan bagian dari program yang dilakukan WWF, demikian penuturan Pimpinan Proyek WWF Indonesia Kalteng, Rosenda CH.Kasih di Palangkaraya.
         Koordinator HOB Kalteng, Hendrik Segah ketika ditemui ANTARA di Palangkaraya, Jumat menjelaskan HOB adalah program pemanfaatan berkelanjutan dan konservasi.
         HOB bertujuan mempertahankan berkelanjutan manfaat salah satu hutan terbaik yang masih tersisa di Kalimantan bagi kesejahteraan generasi sekarang dan generasi mendatang.
         Ia menuturkan, jantung Kalimantan sebagai rumah bagi setidaknya 50 suku Dayak, dengan bahasa dan budaya yang beragam pula.
         Air, hutan, dan tanah memainkan peran penting dalam kehidupan masyarakat Kalimantan.
         Pada tahun 2003-2004, peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerja sama dengan meneliti dari Osaka City University, Kyoto University, University of Tokyo, Human dan Nature Musium ‘Hyogo, Natural History Museum’ Osaka, Jepang melakukan penelitian di Kawasan Pegunungan Muller, Kalimantan.
         Hasil temuan mereka di Hulu sungai Joloi, salah satu anak sungai Barito, di wilayah Desa Tumbang Tohan dan Tumbang Naan terdapat kurang lebih 50 jenis tanaman budidaya dan 350 jenis tumbuhan liar.
         Hanya satu jenis yang digunakan sebagai makanan pokok dan 45 jenis yang digunakan sebagai makanan tambahan.
         Sementara itu hanya 100 jenis yang digunakan sebagai tanaman obat. Suku DayaK yang tinggal di kawasan ini mayoritas yaitu Dayak Ot Danum.
         Luas cakupan wilayah kerja jantung Kalimantan di tiga negara meliputi area seluas kira-kira 22 juta hektar yang saling terhubung.
        Dari keseluruhan wilayah kerja itu, 57 persen berada di Indonesia, 42 persen di Malaysia, dan 1 persen di Brunei Darussalam.
         Terdiri dari kawasan lindung (taman nasional, cagar alam, suaka marga satwa, hutan lindung), serta kawasan budidaya non kehutanan (perkebunan, pertambangan, dan lain-lain). Kawasan lindung hanya meliputi area seluas 31 persen.
         Hasil lokakarya yang dilakukan di Provinsi dan Pusat diusulkan sebanyak 10 kabupaten di 3 propinsi Indonesia yaitu Kabupaten Sintang, Melawi dan Kapuas Hulu  Kalimantan Barat (Kalbar), Kabupaten Katingan, Gunung Mas, Barito Utara dan Murung Raya di Kalimantan Tengah (Kalteng).
         Serta Kabupaten Malinau, Nunukan dan Kutai Barat di Kalimantan Timur (Kaltim) yang menjadi wilayah program HOB (jantung Kalimantan).
         Jantung Kalimantan menghargai ijin atau konsesi yang telah diberikan oleh pemerintah dan berusaha selaras dengan rencana tata ruang wilayah dan rencana pengembangan wilayah.
         Pelaksanaan Jantung Kalimantan akan mendorong perusahaan yang beroperasi di Kalimantan untuk menerapkan pengelolaan hutan yang memberi mamfaat bagi kelangsungan usaha dan  meminimalkan dampak sosial dan lingkungan.
         Pertambangan dapat dilakukan di Jantung Kalimantan sepanjang tidak dilakukan pada  kawasan lindung dan sesuai dengan renca tata ruang serta tanpa melakukan perubahan bentang alam secara berarti.
         Jantung Kalimantan dan kabupaten konservasi merupakan inisiatif yang sama-sama mendukung upaya  pemanfaatan berkelanjutan dan konservasi, di tingkat kabupaten sementara Jantung Kalimantan bekerja dalam skala wilayah yang lebih luas.
         Diharapkan kedepan seluruh kabupaten dalam Jantung Kalimantan dapat menjadi kabupaten konservasi.
         Dalam pengamanan perbatasan, kerja sama yang dapat dilakukan Jantung Kalimantan adalah melalui patroli bersama dan upaya menegakan hukum bersama dengan tetap menghargai kedaulatan masing-masing Negara.
        Program Jantung Kalimantan Dapat digunakan sebagai salah satu alat untuk memperkuat posisi negosiasi Indonesia dalam menyelesaikan masalah perbatasan bersama dengan inisiatif lainnya.

heart-of-borneo-hob-wwf

Ratusan Spesies Baru di Jantung Borneo

Peneliti WWF menemukan sekitar 120 spesies baru di Borneo. Temuan tersebut disampaikan WWF dalam laporan tentang kawasan hutan hujan tropis yang masuk ke wilayah Malaysia, Indonesia, dan Brunei. Pada 2007, pemerintah tiga negara mencanangkan area seluas 220 ribu km persegi itu sebagai Heart of Borneo.

“Kami sudah menemukan rata-rata tiga spesies baru per bulan dan sekitar 123 dalam tiga tahun terakhir, dan setidaknya 600 spesies baru dalam 15 tahun terakhir,” kata kepala program Heart of Borneo WWF Adam Tomasek.

“Temuan ini menunjukkan kekayaan hayati di Borneo dan bahwa ada kemungkinan temuan masa depan yang dapat membantu penyembuhan penyakit seperti kanker, AIDS, dan berkontribusi pada kehidupan keseharian kita,” tambahnya.

Heart of Borneo adalah rumah bagi 10 spesies primata, lebih dari 350 burung, 150 reptil dan amfibi, serta sekitar 10 ribu jenis tumbuhan yang tidak ditemukan di lokasi lain di dunia, menurut laporan tersebut.

Beberapa temuan tersebut adalah katak berkepala rata sepanjang 7 cm, dinamai “Barbourula kalimantanensis”. Spesies ini ditemukan pada 2008. Ia bernafas sepenuhnya lewat kulit karena tidak memiliki paru-paru.

Pada tahun yang sama peneliti juga menemukan “Phobaeticus chani”, serangga terpanjang di dunia, dengan total 36 cm. Hanya tiga ekor spesies ini yang pernah tercatat.

Temuan menarik lainnya adalah siput berbuntut panjang yang menggunakan ‘panah cinta’ terbuat dari kalsium karbonat untuk menyuntikkan hormon pada pasangannya demi meningkatkan peluang reproduksi.

WWF meminta pemerintah tiga negara untuk lebih sensitif mengembangkan potensi ekonomi di area tersebut. “Kami tahu, tidak mungkin untuk tidak mengembangkan pertambangan, perkebunan kelapa sawit, dan penebangan di area tersebut,” kata Tomasek. “Yang kami inginkan adalah keseimbangan,” tambahnya.(AFP/Yahoo! News)

MAKANAN DARI DAGING KALONG DISUKAI SUKU DAYAK

    Oleh Hasan Zainuddin
      Tinggal diberi irisan bawang merah, kasih garam secukupnya, ditambah rerempah sop alakadarnya ke dalam air mendidih di kuali, lalu masukan daging kelalawar besar (kalong) tinggal menimati saja lagi.
     “Wah rasanya enak sekali beda dengan sop daging-daging binatang lainnya,” kata Ny Menur saat menjelaskan cara gampang memasak daging kalong.
      Penjelasan Ny Menur tersebut menjawab pertanyaan seorang dari sekian orang yang mengerumuni pedagang kalong di bilangan persimpangan Jalan Willem AS, Kota Palangkaraya.
      Pengunjung itu bertanya bagaimana cara memasak daging kalong, karena ia sendiri belum pernah mencicipi masakan terbuat dari daging kalong tersebut.
      Menjawab pertanyaan itu NY Menur, nyeletuk bahwa ia sudah sering membeli daging kalong di pedagang di Kota Palangkaraya, ibukota Provinsi Kalimantan tengah (Kalteng) ini.
      Tetapi dari sekian menu yang menyajikan daging kalong di dalam masyarakat suku Dayak Kalteng, ia lebih menyukai sop daging Kalong.
      Masalahnya, katanya, selain membuat sop itu gampang sekali, juga terasa sekali rasa enaknya daging kalong tersebut.

kalong
      “Kalau kita buat menu lain selain sop, itu yang dominan bukan rasa daging asli kalongnya, tetapi rasa rempah dan bumbu-bumbunya saja, makanya saya lebih suka sop, ketimbang menu lain,” katanya  kepada puluhan orang yang berkerumun di lokasi pedagang kalong tersebut.
      Sementara ibu penjual kalong sambil membersihkan satwa itu menceritakan berbagai macam makanan yang terbuat dari Kalong biasa di olah oleh warga Dayak Kalteng.
      “Bukan hanya sop, bisa dibuat bestek, dibuat kare, rica-rica, sambal goreng, yah terserah mau diapakan sajalah, seperti daging binatang lainnya,” kata ibu berusia sekitar 55 tahun yang enggan menyebutkan namanya itu.
      Tangan ibu yang tampak masih berlumuran darah itu begitu terampil memainkan pisau dapurnya membersihkan seekor kalong, memisahkan antara kulit dengan daging, daging dengan isi perutnya, serta memisahkan jeriji kaki, sayap, dan ekor kalong tersebut.
      Sesekali ia berucap bahwa mengkelupas kulit satwa ini dengan daging kalau tidak terbiasa memang susah, karena kalau salah maka daging kalong akan hancur, sehingga kurang enak dilihat.
      Daging kalong yang sudah dibersihkan itu kemudian dipotong-potong kecil sesuai permintaan pembelinya, dan tampak terlihat bagaikan daging burung, agak kemerah-merahan.
      Ibu pedagang kalong biasanya menggelar dagangannya agak mencolok dengan menggelar dagangan kalong yang sudah dibersihkan di tepi jalan yang ramai lalu-lintasnya tersebut.
      Selain menggelar daging kalong yang dibersihkan, dia juga menggelar kalung yang masih hidup di dalam sangkar yang tampak bergelantungan, atau kalong yang sudah mati juga bergelantungan diikat pada tempat khusus.
      Sehingga bagi siapa saja yang lewat di jalan Willem AS kota cantik Pakangkaraya pasti menyaksikan keberadaan pedagang ini, apalagi biasanya pedagang ini dikerumini banyak pembeli.
      Banyak pengguna jalan yang berhenti sejanak ketika melihat kerumunan orang, karena penasaran ingin tahu apa yang dikerumuni itu, tapi tak sedikit pengguna jalan akhirnya juga ikut membeli satwa tersebut. 
     Berdasarkan keterangan, ratusan ekor kelalawar besar atau yang disebut masyarakat dengan kaluang (kalong) diperjualbelikan untuk konsumsi oleh sebagian warga Kota Palangka Raya ini.
      Penjualan hewan terbang malam hari tersebut biasanya dilakukan beberapa pedagang, salah seorang diantara bernama Misdan, Pemuda Suku Dayak yang mengaku profesi menjual hewan tersebut sudah cukup lama.
      Menurut Misdan, ia menjual ratusan ekor kalong perhari tersebut setelah diperolehnya kalong itu dari hutan kawasan Bukit Tangkiling yang relatif tak terlalu jauh jaraknya dari Kota Palangkaraya.
       Selain itu, tak sedikit pula kalong yang dibawa ke Palangkaraya hasil penangkapan di hutan Timpah, arah ke Buntok Kabupaten Barito Selatan.
       Berdasarkan cerita, banyak penduduk yang menggantungkan hidupnya menangkap kalong di dalam hutan saat malam hari.
       Penangkap kalong ini kemudian membawa hasil buruannya ke kota-kota besar seperti ke Palangkaraya, dan menjualnya dengan harga partai.
       Kemudian kalong tersebut dibeli pedagang pengecer kemudian baru djual di beberapa tempat, bukan hanya di pinggir jalan tetapi juga di beberapa lokasi pasar yang ramai pengunjungnya.
      “Hari ini saja saya sudah jual 115 ekor, belum lagi pedagang yang lain, membuktikan daging hewan ini cukup diminati,” kata Misdan seraya memperlihatkan seekor kalong ukuran besar.
      Menurut Misdan, daging kalong bagi penduduk Kalteng merupakan makanan yang sedap, lebih sedap ketimbang daging burung atau bebek.
      Daging kalong berwarna merah itu, boleh dibuat menu apa saja, boleh dibuat makanan kare, dibuat gorengan, atau dibakar begitu saja, sama saja sedapnya.
      Diminatinya daging kalong karena bukan hanya enak tetapi oleh mereka yang menyukai daging ini ternyata berkhasiat obat, seperti obat asma, obat pedarahan, atau sangat baik bagi ibu yang baru melahirkan.
      Kalau ibu baru melahirkan terkena penyakit yang dalam bahasa Dayak disebut “Maruyan” (badan panas dingin) cukup mengkonsumi daging kalong, maka penyakit itu akan sembuh, kata Misdan seraya diiyakan oleh pedagang kalong yang lain.
      Misdan menjual satu ekor kalong dengan harga Rp30 ribu per ekor, bila ia berhasil menjual ratusan ekor maka akan mengantongi uang jutaan rupiah.
      Pembeli ada yang membawanya begitu saja kalong yang dibeli dari Misdan, ada pula pembeli yang minta kalong itu bersihkan, yaitu dengan membuang perut, membuang kulit dan paruhnya sampai bersih dan gading hewan dipotong-potong hingga siap dimasak.
      Menurutnya penangkapan kalong di malam hari menggunakan jaring besar dan dilakukan beberapa orang.
     Penangkapan hewan ini oleh penduduk setempat tidak masalah lantaran populasi hewan itu masih banyak di hutan, malah dianggap hewan penggangu tanaman buah-buahan.
     “Banyak warga bersyukur penangkapan hewan ini, karena bila gerombolan hewan ini terjun ke pohon buah rambutan, langsat, atau buah apa saja maka dengan sekedap buah di pohon akan habis,” katanya.

BERJUTA MISTERI MENYELIMUTI KEBERADAAN TAMAN NASIONAL SEBANGAU

 Oleh Hasan Zainuddin
     Terhitung 19 Oktober 2004 lalu, kawasan Sebangau, Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) seluas 568.700 hektare telh ditunjuk pemerintah sebagai Taman Nasional (TN) melalui SK Menhut No. 423/Menhut-II/2004.
     Kawasan  berlokasi antara Sungai Sebangau dan Sungai Katingan, Kabupaten Pulang Pisau, Kota Palangka Raya, dan Kabupaten Katingan dijadikan TN upaya pelestarian agar berbagai kekayaan didalamnya khususnya flora dan fauna khususnya yang dilindungi bisa berkembang populasinya.
     Berdasarkan sebuah catatan, proses penunjukkan Sebangau sebagai Taman Nasional di wilayah Kalteng didasarkan atas usulan Pemerintah daerah dan didukung oleh masyarakat lokal yang bermukim di sekitar TN Sebangau.
     Penetapan Sebangau sebagai TN dilakukan melalui penetapan batas kawasan, dan proses ini dilaksanakan oleh Badan Planologi Hephut dengan melibatkan masyarakat sekitar kawasan TNS sebangau.
     Ditunjuknya kawasan di tengah Pulau Borneo ini sebagai taman nasional dinilai oleh berbagai kalangan sesuatu yang positifr mengingat kawasan ini memiliki kekhasan dan spisifikasi lahan yang unik dan menarik.
    Di TN Sebangau, memiliki keaneka ragaman hayati baik flora maupun fauna, tetapi yang unik lagi terdapat ekosistem air hitam.
     “Ekosistem yang unik yang khas itulah yang menyebabkan TN Sebangau Kalteng dijadikan kawasan ekowisata,” kata Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kalteng, Aida Meyarti, Sabtu.
     Konsep ekowisata kawasan TN Sebangau tersebut sudah pula diusung oleh World Wide For Nature (WWF)Indonesia, yaitu bentuk pengembangan pariwisata berkelanjutan bertujuan untuk pelestarian lingkungan termasuk didalamnya alam dan budaya.
     Ketika dihubungi mantan Kabid Promosi Wisata Disbudpar Kalteng itu menyebutkan ekosistem air hitam yang terjadi akibat proses pelapukan bahan organik di lahan hutan bergambut kawasan itu dinilai unik dan menarik di pandangan wisatawan.
     Keunikan itulah yang ditonjolkan untuk memprosikan kawasan TN Sebangau sebagai kawasan objek wisata, dan ternyata memang direspon kalangan wisatawan khususnya dari mancanegara.
     Ekosistem ini memberikan manfaat kehidupan, baik tumbuhan maupun binatang.
     Tumbuhan ada yang bernilai ekonomis tinggi seperti pohon jelutung, damar, rotan, gemor, serta pohon bernilai industri seperti kayu ramin, blangeran, meranti.
     Bahkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Idonesia (LIPI) tahun 2006 lalu telah melaukan penelitian di kawasan TN Sebangau, ternyata terdapat 808 jenis tumbuhan yang mengandung khasiat obat.
     Selain itu, TN Sebangau juga merupakan habitat sejumlah satwa seperti burung enggang, beruang madu, rusa, serta satwa lainnya dengan spicies induk orangutan.
     Hasil survei dan penelitian tahun 2006 itu terdapat 6000-9000 ekor populasi orangutan menghuni kawasan ini.
     Mengutip hasil penelitian atau studi hutan raya gambut, Universitas Palangkaraya (Unpar) terdapat sedikitnya 106 jenis tumbuh-tumbuhan yang ada di wilayah itu, diantaranya adalah tumbuhan khas Kalimantan.
     Selain itu terdapat 116 spicies burung diantaranya adalah burung khas Kalimantan, burung Enggang.
     Sementara 35 jenis mamalia, yang ada di kawasan itu selain orang utan juga ada Bekantan (nasalis larvatus) merupakan satwa kera hidung besar yang hanya ada di Pulau terbesar nusantara ini.
     Masih ada pula kera lain yaitu lutung, kera abu-abu dan beberapa jenis lainnya.
     Potensi wisata lain di taman nasional ini, keberadaan alamnya, terdapat jeram, lembah, serta danau-danau.
     Berdasarkan sebuah tulisan yang dirilis media yang diterbitkan WWF Indonesa Kalteng edisi Juni-Desember 2008 menyebutkan sebagai kawasan pelestarian alam maka TN sebangau merupakan salah satu kawasan rawa gambut yang mengandung berjuta misteri.
     Di TN Sebangau tumbuh beribu jenis flora dan habitat berbagai jenis satwa, dikelilingi dan diinteraksi oleh keragamanan budaya khas masyarakat Dayak dengan kehidupan tradisionalnya dalam memanfaatkan SDA di kawasan itu.
     Menurut tulisan itu, petunjukan Sebangau sebagan TN harus memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat sekitarnya, karenanya dengan segala kekayaan dan potensi yang dimiliki harus dikelola untuk kegiatan yang berkelanjutan oleh semua pihak dan ekowisata merupakan salah satu yang dapat dikembangkan.
     Melihat keunikan itulah, maka taman nasional Sebangau sering dikunjungi pihak turis asing termasuk delegasi asing seperti baru-baru ini kedatangan delegasi Perlemen Australia.
      Taman nasional Sebangau juga memperoleh perhatian khusus dari WWF sebuah organisasi konservasi mandiri dan terbesar di dunia.
      Baru-baru ini pula WWF Jepang Yumiko meninjau taman nasional Sebangau untuk melihat kegiatan konservasi yang dilakukan WWF World Wide For Nature (WWF).Indonesia.
     Kunjungan pejabat, tercatat Mantan Menteri Pariwisata I Gede Ardika dilanjutkan kunjungan perwakilan kedutaan besar Norwegia ke lokasi ini.
     Kunjungan lainnya dilakukan Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam Ditjen PHKA Dephut, Direktur Kehutanan dan Sumber Daya Air Bappenas.
     Peserta “Indonesian In Peat and Lowland Management” dari berbagai negara dan provinsi melakukan field trip ke TN Sebangau November 2008 lalu, kunjungan ke lapangan ini mengawali symposium yang diselanggarakan Cetral Kalimantan Petland Project, di Unpar.

 

 

air hitam Contoh air, yang berada di areal ekosistem air hitam Taman Nasional Sebangau

MENIKMATI KEHIDUPAN SOSIAL ORANGUTAN DI TANJUNG PUTING

Oleh Hasan Zainuddin
Beberapa sungai meliuk-liuk di kawasan hutan bergambut di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), yang sebagian kecilnya berada di kabupaten lain di Provinsi Kalimantan Tengah.
Kalangan wisatawan, khususnya yang datang dari mancanegara, biasanya menyusuri sungai-sungai itu seraya mencermati keanekaragaman hayati yang hidup dan berkembang di kawasan itu.
Begitu banyak spesies flora dan fauna yang bisa dinikmati wisatawan di kawasan Tanjung Puting. Sebut saja sejumlah satwa yang berkeliaran di sana, seperti orangutan, bekantan, uwa-uwa, burung enggang.
Kekayaan flora dan fauna itulah yang menjadikan kawasan seluas sekitar 400 ribu hektare itu memiliki daya tarik bagi wisatawan.
Pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalteng menyatakan, keberadaan TNTP jadi tujuan utama wisatawan dari berbagai negara ke provinsi itu.
Kawasan Tanjung Puting juga identik dengan “Camp Leakey”, lokasi rehabilitasi kehidupan ratusan ekor satwa orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus), kata Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalteng Aida Meyarti.
Keberadaan objek wisata itu, kata dia, sudah begitu dikenal luas di kalangan wisatawan asing, khususnya mereka yang suka berpetualang dan mencintai kehidupan satwa unik yang dilindungi yang bebas berkeliaran di TNTP.
Selain orangutan, taman nasional itu juga ada monyet lainnya, seperti bekantan (Nasalis larvatus) yang kehidupannya juga memiliki nilai jual yang tinggi bagi wisman.
Oleh karena itu pemerintah Kalteng menjadikan TNTP sebagai lokasi andalan, yang selalu dipromosikan guna menarik lebih besar lagi kunjungan wisman.
Berdasarkan penuturan sejumlah wisman yang pernah ke TNTP, kata Aida, mereka secara khusus menikmati perilaku sosial orangutan.
Perilaku sosial satwa itu jadi atraksi menarik, katanya, seperti bagaimana mereka saling mengintimidasi, cara makan, pola penjelajahan, kehamilan, hingga cara bersarang orangutan.
Sisi lain yang tidak kalah menarik yaitu cerita tentang perebutan wilayah kekuasaan orangutan. Silsilah  orangutan di “Camp Leakey” selalu menjadi perhatian Wisman, kata Aida Meyarti.
Silsilah kekuasaan ini memunculkan beberapa nama orangutan yang cukup terkenal, seperti Kosasih, Tom, dan Siswi.
Camp Leakey” didirikan tahun  1971, ketika itu Prof DR Birutte Galdikas bersama suaminya Rod Brindamour melakukan penelitian mengenai orangutan di “Camp WSilkey”, begitu kawasan itu disebut ketika itu.
Nama Leakey, yang dikenal sekarang, diambil dari nama belakang seorang paleoantropogist dari Kenya, Louis Leakey, yang tak lain  guru dari  Birutte Galdikas.
Sebagai penghargaan kepada sang guru besarnya, Galdikas menamakan tempat penelitiannya itu dengan nama “Camp Leakey”.
Bertahun-tahun Birutte Galdikas melakukan penelitian perilaku orangutan di lokasi itu, sampai akhirnya “Camp Leakey” dijadikan tempat pengelepasan orangutan. Sekitar 200 ekor orangutan telah dilepaskan di TNTP dari tempat itu.
Pada  1995 pemerintah Indonesia melarang penglepasliaran orangutan di wilayah hutan yang telah memiliki populasi orangutan liar seperti TNTP, sehingga saat ini aktivitas yang dilakukan “Camp Laekey” hanya terbatas pada penelitian dan pemberian makanan pada orangutan yang pernah menjalani rehabilitasi.
Bukan hanya kehidupan satwa yang jadi perhatian wisman ke lokasi itu, tetapi juga  beberapa jenis hutan sekaligus berbagai kehidupan flora dan fauna menghiasi TNTP.
Menurut Kepala Balai TNTP Ir Gunung Wallestein Sinaga, melalui sebuah buku karangannya, TNTP memiliki delapan tipe hutan yang berpotensi jadi objek wisata petualangan dan penelitian.
Jenis hutan tersebut antaranya hutan dipterocarpus tanah kering  mencakup 40,50 persen luas TNTP, jenis pohon yang mendominasi di hutan demikian adalah shorea, myristica, castanopsis, lithocarpus, xylopia, dan scorodocarpus.
Kemudian hutan rawa campuran perifer sekitar 20 persen TNTP, hutan rawa gambut ramin  yang terdapat hampir di seluruh pinggir kawasan TNTP. Rawa gambut ramin itu sebagian besar sudah rusak setelah pohon raminnya banyak ditebang.
Hutan rawa transisi merupakan salah satu tipe hutan rawa yang penting yang dicirikan oleh tumbuhnya castanopsis, casuarina sumatrana, schiima, tetramerista, durio acutifolis, eugenia dan sejenis meranti yang disebut damar batu.
Hutan lainnya adalah hutan shorea balangeran yang didominasi pohon shorea balangeran (blangeran) yang banyak dijumpai di pinggiran rawa gambut dan disepajang batas banjir TNTP.
Hutan kerangas, yaitu tipe hutan yang tumbuh di atas tanah berpasir putih. Jenis pohon yang banyak dijumpai di hutan seperti ini antara lain dacrydium, eugenia, castanopsis, hopea, dan shima.
Hutan pesisir pantai dan bakau  serta hutan sekunder yang menghiasi kawasan TNTP seluas 270.040 hektare.
Kawasan TNTP merupakan objek wisata alam yang  paling banyak diminati wisatawan yang suka menyaksikan kehidupan satwa.
Keistemewaan lain,  kawasan suaka margasatwa TNTP sudah ditetapkansebagai “cagar Biosfer.”
Cagar biosfer adalah situs yang ditunjuk oleh berbagai negara melalui kerjasama dengan program “Man and Biosphere-Unesco, yaitu kegitan yang memprosikan keanekaragaman hayati dan pembangunan berkelanjutan berdasarkan pada upaya masyarakat lokal dan ilmu pengetahun.
Karakteristik utama cagar  itu adalah pengelolaan dengan sistem zonasi, fokus pada arah pendekatan berbagai pemangku kepentingan, mengintegrasikan keanekaragaman budaya dengan keanekaragaman hayati, terutama peran pengetahuan tradisional dalam pengelolaan ekosistem, serta berpartisipasi dalam jaringan dunia.
Dengan demikian TNTP masuk dalam jaringan cagar biosphere dunia yang telah mencapai lebih dari 400 situs di 94 negara.

ou satu dari ratusan ekor orangutan TNTP Kalteng

BUMI KALTENG KINI TERBUKA KE SEGALA PENJURU

Oleh Hasan Zainuddin
Palangkaraya, 5/7 (ANTARA)- Pengalaman pahit itu masih membekas dalam diri Saiful, saat beberapa tahun lalu menempuh perjalanan Banjarmasin (Kalsel) ke Palangkaraya (Kalteng) sepanjang 190 kilometer (km).
Perjalanan dua kota begitu melelahkan, menerobos gumpalan rawa, jalan berlubang, beceknya tanah merah, tajamnya tumpukan krikil, hingga harus menyeberangi sungai besar melalui fery.
“Pokoknya sulit diceritakan, perjalanan dua kota itu berhari-hari, bahkan bila lambat naik fery harus bermalam, esok hari perjalanan baru dilanjutkan,” kata Saiful, supir angkutan penumpang, kenang masa lalu.
Ia pun menceritakan, mobil kijang yang dikemudikannya pernah tercebur ke sungai saat berjuang melawan pekatnya rawa di kawasan Tumbang Nusa.
Bagi warga Banjarmasin yang ingin ke Palangkaraya, kalau tak ingin naik mobil darat bisa lewat sungai dengan bis air dua hari dua malam atau spead boat 6-8 jam.
Itu dulu, kini Saiful bersama puluhan bahkan ratusan supir angkutan sudah bisa “tersenyum.” Ruas jalan jurusan dua kota itu begitu mulus, waktu tempuh hanya 3,5 jam- 4 jam saja lagi.
Perubahan drastis jalan darat bukan saja arah Selatan, Palangkaraya-Banjarmasin, tapi juga arah ke Barat, Palangkaraya-Sampit, Kotawaringin Timur (kotim), 220km.
“Dulu Palangkaraya-Sampit, kalau tak naik kapal pesisir beberapa malam, juga jalan darat, tapi medannya parah lagi ketimbang ke Banjarmasin, dua tahun belakangan sudah beraspal mulus,” kata Saiful.
Sementara arah ke Utara Palangkaraya-Buntok Kabupaten Barito Selatan (Barsel), 183 km pembangunan jalannya sedang menggeliat.
Walau ruas Palangkaraya-Buntok tak semulus Palangkara-Banjarmasin atau Palangkaraya-Sampit, tapi setelah pembangunannya terus digiatkan setahun terakhir kini bisa dilewati mobil dan sepeda motor.
“Saya ke Palangkaraya dari Buntok bersepeda motor cuma empat jam,” kata Yulius warga Buntok saat berurusan ke ibukota Provinsi Kalteng ini.
Padahal dulu, kata Yulius, dari Buntok ke Palangkaraya memutar ke Banjarmasin dulu, baru ke Palangkaraya.
Yulius mengakui, tidak semua jalan beraspal di Palangkaraya-Buntok, selebihnya masih pengerasan, selain itu di dua sungai belum ada jembatan terpaksa naik fery penyeberangan.
Gubernur Kalteng, Agustin Teras Narang mengatakan, pembangunan jalan darat prioritas, mengingat keberadaannya memicu pembangunan sektor lain.
Keberadaan jalan darat itu dimodifikasi sinergis dengan moda trasportasi lain seperti angkutan sungai, laut, dan udara mengingat Kalteng terdapat 11 sungai besar, pesisir dengan beberapa pelabuhan dan sudah tersedianya Bandara.
“Kita benar-benar ingin menciptakan Kalteng menjadi wilayah yang terbuka,”kata Teras Narang kepada sejumlah wartawan baru-baru ini.
Dalam upaya mewujudkan jaringan jalan darat itu, Pemprop Kalteng melalui Dinas Pekerjaan umum (PU) setempat kini terus menyelesaikan jaringan jalan ke berbagai penjuru.
Kepala Dinas PU Kalteng, Ben Brahim SB, didampingi Kabid Jasa Marga, Ridwan Manurung, mengatakan perbaikan jalan darat terus digenjot, bukan saja jalan provinsi 1708 Km terlebih jalan negara.
Ruas Palangkaraya-Buntok harus selesai, sebab memudahkan hubungan Palangkaraya ke empat kabupaten Kalteng lainnya.
Empat kabupaten itu Barsel, Barito Timur (Bartim), Barito Utara (Barut), serta Kabupaten Murung Raya (Mura).
“Kalau ruas itu selesai empat kabupaten ke Palangkaraya hanya sekitar lima jam, kalau memutar lewat Kalsel memakan waktu belasan jam,” katanya.
Melancarkan ruas itu, ada empat jembatan, Jembatan  Mengkutu dan Jembatan Meruai sudah selesai, jembatan Timpah dan Kalahiyan dalam tahap perampungan.
“Kita berharap paket pekerjaan jalan Palangkaraya-Buntok selesai akhir 2009,”katanya.
Pekerjaan lain trans Kalimantan Poros Selatan dari Anjir Serapat perbatasan Kalsel-Kuala Kapuas-Pulang Pisau-Palangkaraya – Kasongan – Sampit – Pangkalan Bun – Nanga Bulik – Kudangan sekitar 800 Km.
Trans Kalimantan itu sudah tersambung tinggal pelebaran lagi, dari panjang 800 Km, 450 Km sudah lebar 6 m, tinggal 350 Km yang lebarnya masih 4,5 m, dan kini dikerjakan agar 6 m.
Ruas Poros Selatan itu bukan hanya dilebarkan, tapi juga ditingkatkan kapasitasnya minimal 8 ton beban berat yang bisa melalui jalan tu. Pekerjaannya bertahap, sistem kontrak multi years, artinya bila tak selesai tahun ini dikerjakan tahun berikutnya, tahun 2010 selesai.
Tekad lain Pemprop Kalteng dengan dukungan pemerintah pusat mewujudkan trans Kalimantan poros Tengah, Kalteng-Kaltim-Kalbar, 700 Km, dikerjakan setelah proyek Poros Selatan terselesaikan.
Melihat begitu pesatnya pembangunan jalan darat, maka bumi Kalteng yang dulu dinilai terisolir kini jadi wilayah terbuka yang mampu memicu kemajuan berbagai sektor wilayah seluas 15,7 juta hektar dengan penduduk 1.045.186 jiwa itu.

layang

Jembatan layang Tumbang Nusa, jembatan menyeberangi rawa terpanjang 7 kilometer lebih, subuah bangunan monumental membuka wilayah Kalteng.

PALANGKARAYA SURGA BAGI PENIKMAT IKAN SUNGAI ALAM

pipih Iwak pipih (Balida) ukuran besar di pasar Kota Palangkaraya

Oleh Hasan Zainuddin
Nurdin (40 th) warga Kota Banjarmasin Kalimantan selatan (Kalsel) ketika datang ke Palangkaraya, saat makan siang di warung depan balai kota Jalan Tjilik Riwut betapa kagetnya ketika menu yang disajikan sayur asam kepala ikan baung ukuran besar.
Beberapa kali, Nurdin mengamati kepala ikan baung seukuran hampir buah kelapa muda itu seraya bertanya kepada pemilik warung khas Banjar, asal Kelua Kalsel,:” kok masih ada ya ikan baung sebesar ini?”.
Menurut Pak haji yang sudah hampir 10 tahun membuka usaha warung makan di Kota Palangkaraya, ibukota Kalimantan Tengah (Kalteng) itu, ikan sebesar itu masih mudah diperoleh di Palangkaraya.
Bukan hanya ikan baung (Nemurus) yang mudah diperoleh di sungai wilayah Palangkaraya, tetapi juga jenis ikan sungai alam lainnya, dan itu menjadi menu utama warung yang ia miliki.
Pengalaman serupa juga dialami oleh Haji Kaspul Anwar ketika menyantap makanan khas banjar, ketupat Kandangan di bilangan Jalan Dr  Murjani, ketika memesan lauk kepala ikan gabus (haruan) ternyata disajikan besaran kepala ikan gabus itu melebihi lebaran piring wadah lauk itu.
“Wah-wah ini namanya aku makan besar, sudah puluhan tahun, aku tak menyantap kepala ikan haruan sebesar ini,” kata Haji Kaspul yang berprofesi sopir antar provinsi Kalteng-Kalsel tersebut.
Menurut Haji Kaspul kalau di Banjarmasin atau kota lain di Kalsel sulit memperoleh ikan gabus besar, paling banter hanya seperti batu baterei atau sebesar pergelangan tangan anak-anak, sehingga kala menu dari kepala ikan untuk lauk ketupat kandangan kecil-kecil sekali.
Perlu diketahui masakan khas Banjar, memang sering menyajikan menu khusus mengolah kepala-kepala ikan, seperti sayur asam, kalau tidak kepala baung, juga kepala gabus, atau kepala tauman.
Sementara kalau menu lauk ketupat kandangan itu yang diolah khusus kepala ikan gabus, selain daging tengah, ekor, maupun perut (jeruan) ikan gabus itu sendiri.
Menu-menu ikan besar yang disajikan oleh warung yang menjamur di bilangan kota Cantik Palangkaraya itu, bukan hanya terdapat di dua lokasi itu tetapi hampir terlihat di mana-mana, khususnya warung khas Banjar yang mendominasi warung akan di wilayah ini dan terbiasa menyajikan menawarkan menu ikan-ikan sungai alam.
Ikan sungai alam yang mudah diperoleh dan murah di wilayah Palangkaraya ini, antara lain jelawat (Leotobarbus hoeveni), ikan pipih (belida), tapah, lais, lawang, sanggang, adungan, tilan, puyau, kelabau, sanggiringan, saluang, patin, serta beberapa jenis ikan lainnya yang namanya kurang populer di masyarakat.
Ikan sungai alam Kalteng itu populasinya masih banyak dan masih banyak pula berukuran besar, mencapai belasan kilogram per ekor.
Selain ikan sungai, Palangkaraya juga gudangnya produksi ikan sungai dan rawa-rawa, seperti gabus, tauman, mihau, kerandang, sepat siam, patung, biawan, pepuyu, sepat, sisili, kapar, serta beberapa ikan yang kurang populer di masyarakat.
Ikan itu setelah di warung selain, di goreng, di panggang, di pepes (pais) di sayur asam (gangan asam), dimasak habang, dimasak kecap, digangan balamak, dan diolah menu lainnya.
Palangkaraya juga memiliki ikan non alam, yakni ikan hasil budidaya, seperti ikan nila, ikan mas, ikan patin, ikan lele, yang juga mudah diperoleh dan murah.
Khusus di Palangkaraya, kawasan yang menawarkan menu ikan hasil budidaya ini kebanyakan adalah warung khas Jawa, seperti warung pecel lele, menyajikan lele, ikan mas, ikan nila, goreng lengkap dengan sambal terasi dan lalapan, timun, tomat, dan daun kemangi.
Kawasan warung khas Jawa, terdapat di sentra kuliner Palangkaraya Jalan Yos Sudarso atau dekat bundaran besar, jantung kota Palangkara sebuah kota yang pernah digagas oleh Presiden RI pertama, Soekarno untuk dijadikan ibukota negara RI tersebut.
Sedangkan menu warung yang menyajikan makanan khas Dayak juga menyebar dan tak kalah enaknya dengan menawarkan berbagai masakan terbuat dari ikan alam sungai dan rawa beserta menu khasnya, umbut rotan, serta daun singkong bersantan.
Bukan hanya menawarkan masakan ikan sungai alam, Kota palangkaraya juga menawarkan beraneka ikan asin, ikan kering, hasil pengawetan ikan-ikan sungai alam itu.
Maka penjuaan ikan kering itupun menjamur di berbagai tempat dan telah menjadi barang cenderamata bagi pendatang ke kota yang berpenduduk sekitar 200 ribu jiwa ini.
Timbul berbagai pertanyaan mengapa wilayah Palangkaraya atau Kalteng secara umum menumpuk produksi ikan-ikan demikian, jawabannya adalah karena wilayah Kalteng dikenal dengan potensi perairan yang sangat luas.
Seperti dikemukan Kepala Bidang Sumberdaya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum Kalteng, Jarot Wityoko yang didampingi Kepala Seksi (Kasi) Perencanaan Tehnis, Free Vynou menyebutkan,  potensi perairan Kalteng sangat besar.
Potensi Sumber Daya Air  (SDA) di wilayah tersebut sangat besar mencapai 183,2 miliar meterkubik (M3) per tahun.
Melihat potensi SDA yang begitu besar sebenarnya kalau dikelola dengan baik maka akan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat Kalteng.
SDA Kalteng itu bisa dimanfaatkan bukan saja sebagai sarana transportasi, tetapi juga sebagai sarana bahan baku air minum, irigasi persawahan, pembangkit listrik, serta sebagai kawasan penangkapan ikan dan pembudidayaa sektor perikanan.
Terdapat 11 sungai besar yang ada di Kalteng dengan panjang kurang lebih 4.625 Km dan tujuh buah anjir atau kanal sepanjang kurang lebih 122 Km.
Sebelas sungai yersebut adalah sungai besar dan terdapat puluhan bahan ratusan anak sungai yang sambung menyambung satu sama lain yang bisa dimanfaatkan sebagai lokasi penangkapan ikan oleh masyarakat.
Sungai tersebut seperti Sungai Barito dengan panjang 900 kilometer (Km) dalam 8 m dan lebar 650 m, Sungai Kapuas panjang 600 Km dalam 6 m dan lebar 500 m.
Sungai Kahayan panjang 600 Km dalam 7 m ,lebar 500 m, Sungai Katingan panjang 650 Km dalam 6 m lebar 300 m, Sungai Mentaya 400 Km,  dalam 6 m lebar 400 m.
Sungai Sebangau panjang 200 Km dalam 5 m, lebar 100 m, Sungai Seruyan panjang 350 Km, dalam 5 m, lebar 300 m, Sungai Arut 250 Km dalam 4 m, lebar 100 m.
Sungai lainnya, Sungai Kumai panjang 175 Km, dalam 6 m lebar 300 m, Sungai Lamandau panjang 300 Km dalam 6 m, lebar 200 m, terakhir Sungai Jelai panjang 200 Km dalam 5 m dan lebar 100 m.
Bukan hanya jumlah sungai yang begitu banyak luasan rawa-rawa yang mengandung kehidupan ikan rawa juga begitu besar, tercatat 1,8 juta hektare yang menyebar di Kalteng ini.
Dengan potensi perairan demikian melahirkan populasi dan perkembangan ikan sungai alam yang melimpah pula, dari hasil penangkapan ikan di sungai-sungai besar itulah yang kemudian dibawa oleh pedagang hingga ke Palangkaraya ibukota provinsi ini.

 

pasar ikan salah satu pasar ikan, pasar pagi Palangkaraya

 

kahayan Inilah salah satu sungai lokasi penangkapan ikan sungai alam, yaitu Kahayan yang membelah Kota Palangkaraya

PEMBANGUNAN KALTENG MELAMBAT AKIBAT KEKURANGAN LISTRIK

Oleh Hasan Zainuddin
Palangkaraya,29/6 (ANTARA)- Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) satu diantara beberapa wilayah yang  kini “berlari kencang” mengejar ketertinggalan dari wilayah lain yang lebih maju di Indoensia.
Gubernur Kalteng, A Teras Narang melalui kebijakannya mencoba menggali berbagai potensi yang ada di wilayah seluas 15,7 juta hektare untuk membangun wilayahnya.
Upayanya itu antara lain membangun jaringan jalan darat, meningkatkan sarana angkutan udara, menyediakan sarana telekomunikasi, fasilitas transportasi air, serta penyediaan air bersih yang memadai.
Hanya saja Kalteng yang sudah berhasil merangkak, dan bahkan mulai berlari kencang itu, kini terhambat akibat keterbatasan tenaga listrik.
“Listrik adalah sarana dasar untuk memicu pembangunan, tanpa listrik sulit Kalteng berkembang,” kata Gubernur Teras Narang.
Melihat kenyataan itu, Pemprop Kalteng kini terus menuntut penambahan daya listrik di wilayah punya 14 kabupaten dan kota itu.
Tadinya warga Kalteng agak “tersenyum” mendengar janji PLN akan membangunkan PLTU  2×60 MW.
Tapi apa daya, janji PLN tak pernah terealisasi, bahkan kabar terakhir proyek yang sudah ada pekerjaan awal itu dibatalkan.
Gubernur Teras Narang mengaku sangat kecewa kegagalan proyek PLTU 2×60 MW di Kabupaten Pulang Pisau (Pulpis) itu.
“Rencana awal dijanjikan selesai akhir 2009, lalu Direktur Utama PLN kembali menjanjikan selesai awal 2010, tapi kini tak ada buktinya,” katanya di Palangkaraya.
Teras menilai, proyek PLTU Pulpis senilai 73 juta dollar AS itu sifatnya sudah gagal sehingga pemerintah daerah sulit memberi “angin segar” lain bagi rakyat di wilayah itu.
Kegagalan proyek itu, lanjutnya, sangat merugikan daerah karena rakyat tidak bisa menikmati listrik, seperti yang sudah dijanjikan PLN selesai awal 2010 mendatang.
Kontrak PLTU Pulpis itu sebelumnya ditandatangani pada 14 Januari 2008, dengan kontraktor China National Heavy Machinery Corporation, Shandong Electric Power Construction dan PT Mega Power Mandiri.
Sehingga dari tiga proyek yang menjadi bagian Proyek Listrik 10 ribu MW di Kalteng hanya satu yang masih jalan yakni PLTU Pangkalan Bun 2 x 7 MW, karena PLTU Sampit 2 x 7 MW sebelumnya juga telah gagal.
Teras menilai kegagalan proyek listrik tersebut sangat ironis mengingat wilayahnya memiliki banyak potensi batu bara sebagai bahan bakar utama PLTU, namun tidak bisa memiliki pembangkit lisrik yang berkecukupan.
“Cukup eronis, Kalteng merupakan penghasil batubara sebagai bahan bakar pembangkit listrik justru kekurangan tenaga listrik,” katanya.
Sebesar 94 persen kebutuhan batubara untuk PLTU Pulau Jawa dan Bali, didatangkan dari Kalimantan. Sementara itu, Kalimantan teteap menjadi daerah tertinggal di bandingkan Pulau Jawa dan Bali.
“Sewajarnya Kalimantan, khususnya Kalteng diberikan berbagai faslitas dalam upaya mengejar ketertinggalan, bukan sebaliknya kekayaannya dikeruk tetapi wlayah ini dibiarkan terus tertinggal,” ujarnya.
Bukan hanya batubara yang dimiliki Kalteng, tetapi juga sumberdaya lainnya yang melimpah termasuk emas hijau “kayu” yang diambil besar-besaran dalam kurun waktu beberapa waktu lalu, tetapi rakyat tetap gigit jari.
Selaku kepala daerah, Teras mengaku berupaya mencari alternatif membangun PLTU baru upaya sendiri, menggandeng kalangan swasta yang berminat menanamkan investasi kelistrikan, sebab bagaimanapun wilayah ini harus menyediakan listrik yang mencukupi.
Dampak yang dirasakan akibat kekurangan listrik di wilayah berpenduduk1.874.900 jiwa  itu adalah seringnya “byar pet byar pet” yang membuat seluruh sendi perekonomian Kalteng sedikit lumpuh.
Akibat seringnya pemadaman listrik membuat industri Kalteng berkurang berkembang,  peralatan elektronik rumah tangga cepat rusak, seringnya musibah kebakaran, dan aktivitas masyarakat lainnya terganggu.
Gara-gara minimnya pasokan listrik, banyak yang mengalami kerugian, seperti pemilik las listrik di Jalan RTA Milono Palangkaraya, gerah kondisi listrik sering padam.
“Pemadaman listrik yang bergilir maupun pemadaman mendadak, membuat langganan kami sering mengeluh karena pesanan selalu selesai tak tepat waktu.” kata Goyono pemilik bengkel las tersebut.
Bukan hanya kalangan pekerja dan industri kecil yang menderita akibat terbatas listrik tetapi juga kalangan bisnis lain seperti usaha properti juga terpukul tak bisa mengejar target pembangunan perumahan bagi masyarakat.
Bahkan kalangan investor ditengarai banyak yang membatalkan investasi di Kalteng lantaran terbatasnya aliran listrik itu.
Berdasarkan catatan  Kalteng saat ini disuplai melalui interkoneksi pembangkit PLN Kalselteng berasal dari dua unit PLTU Asam-asam berkapasitas 126 mega watt (MW), tiga unit turbin PLTA Riam Kanan berkapasitas 28,50 MW, serta 29 unit Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) berkapasitas 86,45 MW.
PLN Kalselteng juga mendapat pasokan dari listrik swasta sebesar 10,50 MW dan membeli kelebihan listrik perusahaan sebesar 9,5 MW.
Jumlah daya listrik Kalselteng dalam sistem Barito secara terkoneksi tercatat sekitar sekitar antara 250 hingga 255 MW, sedangkan kebutuhan listrik di Kalsel/teng sekitar 235 hingga 240 MW,
Dalam kondisi pembangkit normal memang tidak ada masalah tetapi bila ada pembangkit yang mengalami gangguan maka terjadi persoalan, hingga harus terjadi pemadaman yang bergiliran, kata Menejer PLN Kalselteng, Wahidin Sitompul.
Melihat keterbatasan listrik itu berbagai upaya akan dilakukan pihak Pemprop Kalteng dan masyarakat setempat, mengingat berbagai potensi pembangkit listrik di wilayah ini cukup tersedia.
Salah satu program jangka pendek mengatasi krisis listrik itu, Pemprov Kalteng bersama tiga pemkab/kota berencana menyewa 2 unit genset dengan total kapasitas 36 mega watt guna menjamin tidak akan terjadi pemadaman listrik setidaknya pada bulan puasa mendatang.
Menurut Teras Narang, ketiga kab/kota tersebut adalah Tulangpisau, Kapuas dan Kota Palangkaraya.
Teras Narang menambahkan bahwa genset tersebut nantinya akan ditempatkan di Palangkaraya dengan kapasitas 35 MW dan genset dengan kapasitas 11 MW akan ditempatkan di kabupaten Kapuas.
Ia menjelaskan pula bahwa genset tersebut bernilai miliaran rupiah, oleh karenanya pihaknya akan segera berkoordinasi dengan DPRD untuk membicarakan masalah anggaran tersebut.
Pemecahan selanjutnya, mencarikan alternatif pembangunan  PLTU pengganti PLTU Pulang pisau, serta membangun PLTA mengingat beberapa sungai di Kalteng berpotensi untuk didirikan PLTA itu.
Berdasarkan keterangan Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kalteng, Jarot Wutyoko ada beberapa sungai bisa dibangunkan PLTA mengatasi krisis listrik Kalteng.
Lokasi dimaksud, Sungai Muara Juloi sudah studi kelayakan kapasitas 284 MW, Sungai Tuhup hasil master pland wilayah sungai kapasitas 10,3 MW, di Lehei Sungai Nganarayan  32,3 MW, Teweh di Sungai Benangin 34 MW serta Riam Jewari Sungai Katingan 2 kali 36 MW.
Bila pembangunan pembangkit Kalteng itu benar-benar terwujug maka keluhan akan kritis listrik setempat tak akan terdengar lagi.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 54 pengikut lainnya