BUMI KALTENG KINI TERBUKA KE SEGALA PENJURU

Oleh Hasan Zainuddin
Palangkaraya, 5/7 (ANTARA)- Pengalaman pahit itu masih membekas dalam diri Saiful, saat beberapa tahun lalu menempuh perjalanan Banjarmasin (Kalsel) ke Palangkaraya (Kalteng) sepanjang 190 kilometer (km).
Perjalanan dua kota begitu melelahkan, menerobos gumpalan rawa, jalan berlubang, beceknya tanah merah, tajamnya tumpukan krikil, hingga harus menyeberangi sungai besar melalui fery.
“Pokoknya sulit diceritakan, perjalanan dua kota itu berhari-hari, bahkan bila lambat naik fery harus bermalam, esok hari perjalanan baru dilanjutkan,” kata Saiful, supir angkutan penumpang, kenang masa lalu.
Ia pun menceritakan, mobil kijang yang dikemudikannya pernah tercebur ke sungai saat berjuang melawan pekatnya rawa di kawasan Tumbang Nusa.
Bagi warga Banjarmasin yang ingin ke Palangkaraya, kalau tak ingin naik mobil darat bisa lewat sungai dengan bis air dua hari dua malam atau spead boat 6-8 jam.
Itu dulu, kini Saiful bersama puluhan bahkan ratusan supir angkutan sudah bisa “tersenyum.” Ruas jalan jurusan dua kota itu begitu mulus, waktu tempuh hanya 3,5 jam- 4 jam saja lagi.
Perubahan drastis jalan darat bukan saja arah Selatan, Palangkaraya-Banjarmasin, tapi juga arah ke Barat, Palangkaraya-Sampit, Kotawaringin Timur (kotim), 220km.
“Dulu Palangkaraya-Sampit, kalau tak naik kapal pesisir beberapa malam, juga jalan darat, tapi medannya parah lagi ketimbang ke Banjarmasin, dua tahun belakangan sudah beraspal mulus,” kata Saiful.
Sementara arah ke Utara Palangkaraya-Buntok Kabupaten Barito Selatan (Barsel), 183 km pembangunan jalannya sedang menggeliat.
Walau ruas Palangkaraya-Buntok tak semulus Palangkara-Banjarmasin atau Palangkaraya-Sampit, tapi setelah pembangunannya terus digiatkan setahun terakhir kini bisa dilewati mobil dan sepeda motor.
“Saya ke Palangkaraya dari Buntok bersepeda motor cuma empat jam,” kata Yulius warga Buntok saat berurusan ke ibukota Provinsi Kalteng ini.
Padahal dulu, kata Yulius, dari Buntok ke Palangkaraya memutar ke Banjarmasin dulu, baru ke Palangkaraya.
Yulius mengakui, tidak semua jalan beraspal di Palangkaraya-Buntok, selebihnya masih pengerasan, selain itu di dua sungai belum ada jembatan terpaksa naik fery penyeberangan.
Gubernur Kalteng, Agustin Teras Narang mengatakan, pembangunan jalan darat prioritas, mengingat keberadaannya memicu pembangunan sektor lain.
Keberadaan jalan darat itu dimodifikasi sinergis dengan moda trasportasi lain seperti angkutan sungai, laut, dan udara mengingat Kalteng terdapat 11 sungai besar, pesisir dengan beberapa pelabuhan dan sudah tersedianya Bandara.
“Kita benar-benar ingin menciptakan Kalteng menjadi wilayah yang terbuka,”kata Teras Narang kepada sejumlah wartawan baru-baru ini.
Dalam upaya mewujudkan jaringan jalan darat itu, Pemprop Kalteng melalui Dinas Pekerjaan umum (PU) setempat kini terus menyelesaikan jaringan jalan ke berbagai penjuru.
Kepala Dinas PU Kalteng, Ben Brahim SB, didampingi Kabid Jasa Marga, Ridwan Manurung, mengatakan perbaikan jalan darat terus digenjot, bukan saja jalan provinsi 1708 Km terlebih jalan negara.
Ruas Palangkaraya-Buntok harus selesai, sebab memudahkan hubungan Palangkaraya ke empat kabupaten Kalteng lainnya.
Empat kabupaten itu Barsel, Barito Timur (Bartim), Barito Utara (Barut), serta Kabupaten Murung Raya (Mura).
“Kalau ruas itu selesai empat kabupaten ke Palangkaraya hanya sekitar lima jam, kalau memutar lewat Kalsel memakan waktu belasan jam,” katanya.
Melancarkan ruas itu, ada empat jembatan, Jembatan  Mengkutu dan Jembatan Meruai sudah selesai, jembatan Timpah dan Kalahiyan dalam tahap perampungan.
“Kita berharap paket pekerjaan jalan Palangkaraya-Buntok selesai akhir 2009,”katanya.
Pekerjaan lain trans Kalimantan Poros Selatan dari Anjir Serapat perbatasan Kalsel-Kuala Kapuas-Pulang Pisau-Palangkaraya – Kasongan – Sampit – Pangkalan Bun – Nanga Bulik – Kudangan sekitar 800 Km.
Trans Kalimantan itu sudah tersambung tinggal pelebaran lagi, dari panjang 800 Km, 450 Km sudah lebar 6 m, tinggal 350 Km yang lebarnya masih 4,5 m, dan kini dikerjakan agar 6 m.
Ruas Poros Selatan itu bukan hanya dilebarkan, tapi juga ditingkatkan kapasitasnya minimal 8 ton beban berat yang bisa melalui jalan tu. Pekerjaannya bertahap, sistem kontrak multi years, artinya bila tak selesai tahun ini dikerjakan tahun berikutnya, tahun 2010 selesai.
Tekad lain Pemprop Kalteng dengan dukungan pemerintah pusat mewujudkan trans Kalimantan poros Tengah, Kalteng-Kaltim-Kalbar, 700 Km, dikerjakan setelah proyek Poros Selatan terselesaikan.
Melihat begitu pesatnya pembangunan jalan darat, maka bumi Kalteng yang dulu dinilai terisolir kini jadi wilayah terbuka yang mampu memicu kemajuan berbagai sektor wilayah seluas 15,7 juta hektar dengan penduduk 1.045.186 jiwa itu.

layang

Jembatan layang Tumbang Nusa, jembatan menyeberangi rawa terpanjang 7 kilometer lebih, subuah bangunan monumental membuka wilayah Kalteng.

PALANGKARAYA SURGA BAGI PENIKMAT IKAN SUNGAI ALAM

pipih Iwak pipih (Balida) ukuran besar di pasar Kota Palangkaraya

Oleh Hasan Zainuddin
Nurdin (40 th) warga Kota Banjarmasin Kalimantan selatan (Kalsel) ketika datang ke Palangkaraya, saat makan siang di warung depan balai kota Jalan Tjilik Riwut betapa kagetnya ketika menu yang disajikan sayur asam kepala ikan baung ukuran besar.
Beberapa kali, Nurdin mengamati kepala ikan baung seukuran hampir buah kelapa muda itu seraya bertanya kepada pemilik warung khas Banjar, asal Kelua Kalsel,:” kok masih ada ya ikan baung sebesar ini?”.
Menurut Pak haji yang sudah hampir 10 tahun membuka usaha warung makan di Kota Palangkaraya, ibukota Kalimantan Tengah (Kalteng) itu, ikan sebesar itu masih mudah diperoleh di Palangkaraya.
Bukan hanya ikan baung (Nemurus) yang mudah diperoleh di sungai wilayah Palangkaraya, tetapi juga jenis ikan sungai alam lainnya, dan itu menjadi menu utama warung yang ia miliki.
Pengalaman serupa juga dialami oleh Haji Kaspul Anwar ketika menyantap makanan khas banjar, ketupat Kandangan di bilangan Jalan Dr  Murjani, ketika memesan lauk kepala ikan gabus (haruan) ternyata disajikan besaran kepala ikan gabus itu melebihi lebaran piring wadah lauk itu.
“Wah-wah ini namanya aku makan besar, sudah puluhan tahun, aku tak menyantap kepala ikan haruan sebesar ini,” kata Haji Kaspul yang berprofesi sopir antar provinsi Kalteng-Kalsel tersebut.
Menurut Haji Kaspul kalau di Banjarmasin atau kota lain di Kalsel sulit memperoleh ikan gabus besar, paling banter hanya seperti batu baterei atau sebesar pergelangan tangan anak-anak, sehingga kala menu dari kepala ikan untuk lauk ketupat kandangan kecil-kecil sekali.
Perlu diketahui masakan khas Banjar, memang sering menyajikan menu khusus mengolah kepala-kepala ikan, seperti sayur asam, kalau tidak kepala baung, juga kepala gabus, atau kepala tauman.
Sementara kalau menu lauk ketupat kandangan itu yang diolah khusus kepala ikan gabus, selain daging tengah, ekor, maupun perut (jeruan) ikan gabus itu sendiri.
Menu-menu ikan besar yang disajikan oleh warung yang menjamur di bilangan kota Cantik Palangkaraya itu, bukan hanya terdapat di dua lokasi itu tetapi hampir terlihat di mana-mana, khususnya warung khas Banjar yang mendominasi warung akan di wilayah ini dan terbiasa menyajikan menawarkan menu ikan-ikan sungai alam.
Ikan sungai alam yang mudah diperoleh dan murah di wilayah Palangkaraya ini, antara lain jelawat (Leotobarbus hoeveni), ikan pipih (belida), tapah, lais, lawang, sanggang, adungan, tilan, puyau, kelabau, sanggiringan, saluang, patin, serta beberapa jenis ikan lainnya yang namanya kurang populer di masyarakat.
Ikan sungai alam Kalteng itu populasinya masih banyak dan masih banyak pula berukuran besar, mencapai belasan kilogram per ekor.
Selain ikan sungai, Palangkaraya juga gudangnya produksi ikan sungai dan rawa-rawa, seperti gabus, tauman, mihau, kerandang, sepat siam, patung, biawan, pepuyu, sepat, sisili, kapar, serta beberapa ikan yang kurang populer di masyarakat.
Ikan itu setelah di warung selain, di goreng, di panggang, di pepes (pais) di sayur asam (gangan asam), dimasak habang, dimasak kecap, digangan balamak, dan diolah menu lainnya.
Palangkaraya juga memiliki ikan non alam, yakni ikan hasil budidaya, seperti ikan nila, ikan mas, ikan patin, ikan lele, yang juga mudah diperoleh dan murah.
Khusus di Palangkaraya, kawasan yang menawarkan menu ikan hasil budidaya ini kebanyakan adalah warung khas Jawa, seperti warung pecel lele, menyajikan lele, ikan mas, ikan nila, goreng lengkap dengan sambal terasi dan lalapan, timun, tomat, dan daun kemangi.
Kawasan warung khas Jawa, terdapat di sentra kuliner Palangkaraya Jalan Yos Sudarso atau dekat bundaran besar, jantung kota Palangkara sebuah kota yang pernah digagas oleh Presiden RI pertama, Soekarno untuk dijadikan ibukota negara RI tersebut.
Sedangkan menu warung yang menyajikan makanan khas Dayak juga menyebar dan tak kalah enaknya dengan menawarkan berbagai masakan terbuat dari ikan alam sungai dan rawa beserta menu khasnya, umbut rotan, serta daun singkong bersantan.
Bukan hanya menawarkan masakan ikan sungai alam, Kota palangkaraya juga menawarkan beraneka ikan asin, ikan kering, hasil pengawetan ikan-ikan sungai alam itu.
Maka penjuaan ikan kering itupun menjamur di berbagai tempat dan telah menjadi barang cenderamata bagi pendatang ke kota yang berpenduduk sekitar 200 ribu jiwa ini.
Timbul berbagai pertanyaan mengapa wilayah Palangkaraya atau Kalteng secara umum menumpuk produksi ikan-ikan demikian, jawabannya adalah karena wilayah Kalteng dikenal dengan potensi perairan yang sangat luas.
Seperti dikemukan Kepala Bidang Sumberdaya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum Kalteng, Jarot Wityoko yang didampingi Kepala Seksi (Kasi) Perencanaan Tehnis, Free Vynou menyebutkan,  potensi perairan Kalteng sangat besar.
Potensi Sumber Daya Air  (SDA) di wilayah tersebut sangat besar mencapai 183,2 miliar meterkubik (M3) per tahun.
Melihat potensi SDA yang begitu besar sebenarnya kalau dikelola dengan baik maka akan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat Kalteng.
SDA Kalteng itu bisa dimanfaatkan bukan saja sebagai sarana transportasi, tetapi juga sebagai sarana bahan baku air minum, irigasi persawahan, pembangkit listrik, serta sebagai kawasan penangkapan ikan dan pembudidayaa sektor perikanan.
Terdapat 11 sungai besar yang ada di Kalteng dengan panjang kurang lebih 4.625 Km dan tujuh buah anjir atau kanal sepanjang kurang lebih 122 Km.
Sebelas sungai yersebut adalah sungai besar dan terdapat puluhan bahan ratusan anak sungai yang sambung menyambung satu sama lain yang bisa dimanfaatkan sebagai lokasi penangkapan ikan oleh masyarakat.
Sungai tersebut seperti Sungai Barito dengan panjang 900 kilometer (Km) dalam 8 m dan lebar 650 m, Sungai Kapuas panjang 600 Km dalam 6 m dan lebar 500 m.
Sungai Kahayan panjang 600 Km dalam 7 m ,lebar 500 m, Sungai Katingan panjang 650 Km dalam 6 m lebar 300 m, Sungai Mentaya 400 Km,  dalam 6 m lebar 400 m.
Sungai Sebangau panjang 200 Km dalam 5 m, lebar 100 m, Sungai Seruyan panjang 350 Km, dalam 5 m, lebar 300 m, Sungai Arut 250 Km dalam 4 m, lebar 100 m.
Sungai lainnya, Sungai Kumai panjang 175 Km, dalam 6 m lebar 300 m, Sungai Lamandau panjang 300 Km dalam 6 m, lebar 200 m, terakhir Sungai Jelai panjang 200 Km dalam 5 m dan lebar 100 m.
Bukan hanya jumlah sungai yang begitu banyak luasan rawa-rawa yang mengandung kehidupan ikan rawa juga begitu besar, tercatat 1,8 juta hektare yang menyebar di Kalteng ini.
Dengan potensi perairan demikian melahirkan populasi dan perkembangan ikan sungai alam yang melimpah pula, dari hasil penangkapan ikan di sungai-sungai besar itulah yang kemudian dibawa oleh pedagang hingga ke Palangkaraya ibukota provinsi ini.

 

pasar ikan salah satu pasar ikan, pasar pagi Palangkaraya

 

kahayan Inilah salah satu sungai lokasi penangkapan ikan sungai alam, yaitu Kahayan yang membelah Kota Palangkaraya

PEMBANGUNAN KALTENG MELAMBAT AKIBAT KEKURANGAN LISTRIK

Oleh Hasan Zainuddin
Palangkaraya,29/6 (ANTARA)- Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) satu diantara beberapa wilayah yang  kini “berlari kencang” mengejar ketertinggalan dari wilayah lain yang lebih maju di Indoensia.
Gubernur Kalteng, A Teras Narang melalui kebijakannya mencoba menggali berbagai potensi yang ada di wilayah seluas 15,7 juta hektare untuk membangun wilayahnya.
Upayanya itu antara lain membangun jaringan jalan darat, meningkatkan sarana angkutan udara, menyediakan sarana telekomunikasi, fasilitas transportasi air, serta penyediaan air bersih yang memadai.
Hanya saja Kalteng yang sudah berhasil merangkak, dan bahkan mulai berlari kencang itu, kini terhambat akibat keterbatasan tenaga listrik.
“Listrik adalah sarana dasar untuk memicu pembangunan, tanpa listrik sulit Kalteng berkembang,” kata Gubernur Teras Narang.
Melihat kenyataan itu, Pemprop Kalteng kini terus menuntut penambahan daya listrik di wilayah punya 14 kabupaten dan kota itu.
Tadinya warga Kalteng agak “tersenyum” mendengar janji PLN akan membangunkan PLTU  2×60 MW.
Tapi apa daya, janji PLN tak pernah terealisasi, bahkan kabar terakhir proyek yang sudah ada pekerjaan awal itu dibatalkan.
Gubernur Teras Narang mengaku sangat kecewa kegagalan proyek PLTU 2×60 MW di Kabupaten Pulang Pisau (Pulpis) itu.
“Rencana awal dijanjikan selesai akhir 2009, lalu Direktur Utama PLN kembali menjanjikan selesai awal 2010, tapi kini tak ada buktinya,” katanya di Palangkaraya.
Teras menilai, proyek PLTU Pulpis senilai 73 juta dollar AS itu sifatnya sudah gagal sehingga pemerintah daerah sulit memberi “angin segar” lain bagi rakyat di wilayah itu.
Kegagalan proyek itu, lanjutnya, sangat merugikan daerah karena rakyat tidak bisa menikmati listrik, seperti yang sudah dijanjikan PLN selesai awal 2010 mendatang.
Kontrak PLTU Pulpis itu sebelumnya ditandatangani pada 14 Januari 2008, dengan kontraktor China National Heavy Machinery Corporation, Shandong Electric Power Construction dan PT Mega Power Mandiri.
Sehingga dari tiga proyek yang menjadi bagian Proyek Listrik 10 ribu MW di Kalteng hanya satu yang masih jalan yakni PLTU Pangkalan Bun 2 x 7 MW, karena PLTU Sampit 2 x 7 MW sebelumnya juga telah gagal.
Teras menilai kegagalan proyek listrik tersebut sangat ironis mengingat wilayahnya memiliki banyak potensi batu bara sebagai bahan bakar utama PLTU, namun tidak bisa memiliki pembangkit lisrik yang berkecukupan.
“Cukup eronis, Kalteng merupakan penghasil batubara sebagai bahan bakar pembangkit listrik justru kekurangan tenaga listrik,” katanya.
Sebesar 94 persen kebutuhan batubara untuk PLTU Pulau Jawa dan Bali, didatangkan dari Kalimantan. Sementara itu, Kalimantan teteap menjadi daerah tertinggal di bandingkan Pulau Jawa dan Bali.
“Sewajarnya Kalimantan, khususnya Kalteng diberikan berbagai faslitas dalam upaya mengejar ketertinggalan, bukan sebaliknya kekayaannya dikeruk tetapi wlayah ini dibiarkan terus tertinggal,” ujarnya.
Bukan hanya batubara yang dimiliki Kalteng, tetapi juga sumberdaya lainnya yang melimpah termasuk emas hijau “kayu” yang diambil besar-besaran dalam kurun waktu beberapa waktu lalu, tetapi rakyat tetap gigit jari.
Selaku kepala daerah, Teras mengaku berupaya mencari alternatif membangun PLTU baru upaya sendiri, menggandeng kalangan swasta yang berminat menanamkan investasi kelistrikan, sebab bagaimanapun wilayah ini harus menyediakan listrik yang mencukupi.
Dampak yang dirasakan akibat kekurangan listrik di wilayah berpenduduk1.874.900 jiwa  itu adalah seringnya “byar pet byar pet” yang membuat seluruh sendi perekonomian Kalteng sedikit lumpuh.
Akibat seringnya pemadaman listrik membuat industri Kalteng berkurang berkembang,  peralatan elektronik rumah tangga cepat rusak, seringnya musibah kebakaran, dan aktivitas masyarakat lainnya terganggu.
Gara-gara minimnya pasokan listrik, banyak yang mengalami kerugian, seperti pemilik las listrik di Jalan RTA Milono Palangkaraya, gerah kondisi listrik sering padam.
“Pemadaman listrik yang bergilir maupun pemadaman mendadak, membuat langganan kami sering mengeluh karena pesanan selalu selesai tak tepat waktu.” kata Goyono pemilik bengkel las tersebut.
Bukan hanya kalangan pekerja dan industri kecil yang menderita akibat terbatas listrik tetapi juga kalangan bisnis lain seperti usaha properti juga terpukul tak bisa mengejar target pembangunan perumahan bagi masyarakat.
Bahkan kalangan investor ditengarai banyak yang membatalkan investasi di Kalteng lantaran terbatasnya aliran listrik itu.
Berdasarkan catatan  Kalteng saat ini disuplai melalui interkoneksi pembangkit PLN Kalselteng berasal dari dua unit PLTU Asam-asam berkapasitas 126 mega watt (MW), tiga unit turbin PLTA Riam Kanan berkapasitas 28,50 MW, serta 29 unit Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) berkapasitas 86,45 MW.
PLN Kalselteng juga mendapat pasokan dari listrik swasta sebesar 10,50 MW dan membeli kelebihan listrik perusahaan sebesar 9,5 MW.
Jumlah daya listrik Kalselteng dalam sistem Barito secara terkoneksi tercatat sekitar sekitar antara 250 hingga 255 MW, sedangkan kebutuhan listrik di Kalsel/teng sekitar 235 hingga 240 MW,
Dalam kondisi pembangkit normal memang tidak ada masalah tetapi bila ada pembangkit yang mengalami gangguan maka terjadi persoalan, hingga harus terjadi pemadaman yang bergiliran, kata Menejer PLN Kalselteng, Wahidin Sitompul.
Melihat keterbatasan listrik itu berbagai upaya akan dilakukan pihak Pemprop Kalteng dan masyarakat setempat, mengingat berbagai potensi pembangkit listrik di wilayah ini cukup tersedia.
Salah satu program jangka pendek mengatasi krisis listrik itu, Pemprov Kalteng bersama tiga pemkab/kota berencana menyewa 2 unit genset dengan total kapasitas 36 mega watt guna menjamin tidak akan terjadi pemadaman listrik setidaknya pada bulan puasa mendatang.
Menurut Teras Narang, ketiga kab/kota tersebut adalah Tulangpisau, Kapuas dan Kota Palangkaraya.
Teras Narang menambahkan bahwa genset tersebut nantinya akan ditempatkan di Palangkaraya dengan kapasitas 35 MW dan genset dengan kapasitas 11 MW akan ditempatkan di kabupaten Kapuas.
Ia menjelaskan pula bahwa genset tersebut bernilai miliaran rupiah, oleh karenanya pihaknya akan segera berkoordinasi dengan DPRD untuk membicarakan masalah anggaran tersebut.
Pemecahan selanjutnya, mencarikan alternatif pembangunan  PLTU pengganti PLTU Pulang pisau, serta membangun PLTA mengingat beberapa sungai di Kalteng berpotensi untuk didirikan PLTA itu.
Berdasarkan keterangan Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kalteng, Jarot Wutyoko ada beberapa sungai bisa dibangunkan PLTA mengatasi krisis listrik Kalteng.
Lokasi dimaksud, Sungai Muara Juloi sudah studi kelayakan kapasitas 284 MW, Sungai Tuhup hasil master pland wilayah sungai kapasitas 10,3 MW, di Lehei Sungai Nganarayan  32,3 MW, Teweh di Sungai Benangin 34 MW serta Riam Jewari Sungai Katingan 2 kali 36 MW.
Bila pembangunan pembangkit Kalteng itu benar-benar terwujug maka keluhan akan kritis listrik setempat tak akan terdengar lagi.

KALTENG WASPADAI KIAN MELUASNYA PENYAKIT AIDS

Oleh Hasan Zainuddin
Palangkaraya,21/6 (ANTARA)- Kian mencuatnya kasus penyakit HIV/AIDS  di wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng) meirisaukan banyak orang, tak kecuali kalangan tokoh adat, tokoh masyarakat, serta para pemimpin pemerintahan wilayah ini.
Bentuk kerisauan itu melahirkan tindakan yang mewaspadai kian berjangkitnya peyakit yang merusak tingkat kekebalan tubuh itu. Salah satu tindakan adalah melakukan penyuluhan kepada masyarakat arti bahaya penyakit itu.
Satu lagi bentuk kewaspadaan lahirnya Komisi Penanggulangan Aids (KPA) seperti yang berada di Kota Palangkaraya, ibukota Kalteng.
Wakil Gubernur Kalteng, Achmad Diran mengatakan kewaspadaan terhadap penyakit ini harus dilakukan, walau penyakit ini tak terlihat banyak, kalau tak waspada bisa bisa jadi malapetaka di kemudian hari.
Ketika memberikan sambutan pada acara penyuluhan kesehatan seksual, infeksi menular sekseual, dan HIV/AIDS bagi pemuda, pelajar, dan mahasiswa di Palangkaraya, pekan lalu Diran mengajak warga khususnya kawula muda untuk menghindari kegiatan yang bisa tertular HIV/AIDS.
Membendung penularan HIV/AIDS tak bisa pemerintah saja, tanpa kesadaran masyarakat sendiri, mulai berprilaku baik di wilayah terkecil, keluarga, lingkungan tempat tinggal, dan baru lingkungan yang lebih luas.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng Dr.Don F.B.Leiden juga berulangkali  mengingatkan warga berhat-hati terhadap penularan HIV/AIDS.
“Kalteng sudah menjadi daerah tertular HIV/AIDS, kasus  penyakit walau relatif sedikit tapi sudah merisaukan,” kata Kadinses Kalteng saat ditemui di ruang kerjanya.
Berdasarkan catatan 138 warga Kalteng terjangkit HIV (Human Immunodeficiency Virus) dari hasil sero survei yang dilakukan sepanjang tahun 1997 hingga 2008 lalu.
Dibandingkan jumlah penduduk sekitar dua juta orang, penderita HIV itu memang agak minim atau hanya 0,0069 persen atau hanya sekitar 12 orang yang terjangkit setiap tahun.
Sementara jumlah penderita AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) jauh lebih sedikit lagi, hanya 23 orang sepanjang 2005 hingga 2008 atau sekitar tujuh orang setiap tahunnya.
Kadinkes mengingatkan ada tiga hal yang berkaitan dengan proses penularan penykit HIV/AIDS, yaitu seksualitas, penyalahgunaan narkoba, serta HIV/AIDS itu sendiri.
Menurutnya, terdapat pandangan masyarakat Kalteng membicarakan masalah seks suatu yang tabu, lantaran terdapatnya nilai adat dan budaya setempat.
Hal itu menjadi tidak tabu, manakala dibicarakan dalam lingkup pengetahuan masyarakat mengenai penanggulangan HIV/Aids, oleh karena itu Dinskes bertekad meningkatkan pemahaman mengenai bahasa penyakit tersebut agar warga bisa menghindarinya.
Sebelumnya Sekretaris Komisi Penanggulangan Aids (KPA),Lembung A Datuk menjelaskan penularan virus HIV/AIDS di Kota Palangka Raya, ibukota Kalteng belakangan cukup menyedihkan.
Upaya pencegahan penyakit HIV/AIDS itu sampai-sampai Palangka membentuk sebuah Komisi  Penanggulangan Aids (KPA), yang diketuai oleh Wali Kota Palangka Raya sendiri.
Kasus penularan virus HIV/Aids di kota cantik Palangka Raya diketahui sejak tahun 2003 lalu, setelah dinyatakan seorang warga kota positif tertular penyakit yang mematikan tersebut.
Kasus HIV/Aids diketahui setelah dilakukan seru survei oleh pihak Dinas Kesehatan Kota palangka Raya tahun 2003 dengan 115 sampel, lalu diketahui seorang positif tertular.
Pada tahun 2004 kembali dilakukan survei terhadap 229 sampel ternyata 13 orang dinyatakan positif, tahun 2005 survei terhadap 165 sampel positif satu orang, tahun 2006 492 sampel positif empat orang, tahun 2007 117 sampel posotif tujuh orang.
“Tahun 2008 tercatat empat orang yang positip” kata Lembung A Datuk tanpa ingat jumlah sampel yang diperiksa tahun terakhir tersebut.
Sampel darah tersebut sebagian besar diambil dari mereka penghuni lokalisasi dan lembaga pemasyaratan (LP), tambahnya lagi.
Sementara di wilayah Kalteng sendiri, dijelaskannya sudah diketahui berjangkit penyakit HIV/AIDS tersebut tahun 1997 di Kota Pangkalan Bun, kotawaringin Barat (Kobar).
Kemudian tahun 2002 ditemukan lagi di Kota Sampit, Kotawaringin Timur (Kotim), tahun 2003 di Kota Kasongan Ibukota Kabupaten Katingan serta Kota Palangka Raya.
Menurutnya, dalam upaya penanggulangan penyakit tersebut pihak KPA bersama petugas kesehatan setempat terus melakukan penyuluhan ke lokasi rawan berjangkit penyakit itu, seperti lokalisasi atau LP dan lokasi lainnya.
Dengan adanya upaya penyuluhan diharapkan mereka yang rawan tertular penyakit itu bisa menanggulanginya sendiri, dengan tidak melakukan kegiatan yang bisa menularkan penyakit itu.
Banyak hal yang menyebabkan tertularnya penyakit ini di Kalteng, lantaran bergerakan masyarakat yang begitu leluasa, khususnya di kawasan terdapat Pelabuhan, seperti Kotawaringin Barat dan Kotawaringin Timur.
Apalagi masih terdapatnya lokalisasi sebagai transaksi seks komersial dan pemakaian narkoba, memberikan peluang besar berjangkitnya penyakit tersebut.
Berdasarkan hasil sebuah survey menunjukkan masyarakat belum sadar betul arti pentingnya penggunaan kondom untuk beraktifitas seks aktif.           Selain itu para pekerja seks komersial (PSK) juga tidak menganjurkan pasangannya menggunakan kondom. Para PSK beralasan demi kenyamanan pelanggan.
Dari data Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Kalteng hampir 80 persen masyarakat Kalteng belum mengenal kondom. Hanya 1 persen yang menggunakan alat kontrasepsi tersebut.
Rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai alat kontrasepsi ini dikarenakan kurang sosialisasi dari pihak pemerintah maupun pemerhati masalah ini.
Selain itu juga mitos di kalangan masyarakat yang tabu membicarakan masalah ini, menjadi salah satu penyebab kondom tidak dikenal.
20 tahun lalu, ketika berita HIV/AODS merebak di luar negeri, masyarakat Indonesia hanya mendengar ceritanya saja.
Namun kini penyakit HIV/AIDS sudah bukan cerita tetapi  penderita sudah ada dimana-mana wilayah ini, bila tidak ditangani dengan baik, tidak mustahil 10 tahun mendatang masyarakat akan terbiasa hidup dengan penderita HIV/AIDS di lingkungannya bahkan di dalam rumahnya.
Oleh karena itu berbagai kalangan berharap upaya kewaspadaan yang sudah ditunjukkan pihak pemerintah setempat, harus didukung sepenuhnya dengan meminimalkan aktivitas masyarakat yang bisa memunculkan penderita baru.

MEMOLES KOTA “PENINGGALAN SOEKARNO” PALANGKARAYA

Oleh Hasan Zainuddin

Palangkaraya,20/6 (ANTARA)- Pengakuan mereka yang baru bermukim di Kota Palangkaraya, Ibukota Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) kota ini sangat nyaman, lancar, dan lengang,  hingga kemana-mana mudah.
Kondisi jalan yang hampir semuanya lebar, memungkinan warga Kota Palangkaraya, terhindar dari situasi penyakit “macet” seperti yang dirasakan hampir semua kota di tanah air.
Jumlah penduduk yang tak terlalu  padat hanya sekitar 200 ribu jiwa jelas tidak bakal membuat kota menjadi hiruk-pikuk.
Tak heran bila sebuah rumah penduduk memiliki halaman yang lebar, lantaran masih tersedia lahan di kota seluas 2,6 ribu Km2.
Muncul pertanyaan, mengapa Palangkaraya begitu luas, tak sanggup kota manapun di tanah air yang bisa menyamai keluasan kota ini.
Jakarta ibukota negara saja 660 Km2, Banjarmasin kota tetangga yang merupakan ibukota Kalsel, hanya 72 Km2.
Lalu ada yang mengaitkan keluasan kota ini tak lepas dari peran Presiden Soekarno yang pernah merancang kota ini menjadi ibukota negara Indonesia.
Konon Soekarno yang seorang insinyur itu mendambakan sebuah ibukota negara yang dirancangnya sendiri, sementara Jakarta, sudah memiliki desain sendiri peninggalan Belanda yang relatif sulit dirubahnya.
Ditambah Palangkaraya yang tadinya hanya sebuah hutan belantara ini berada dilokasi cukup strategis di tengah Indonesia, serta aman dari gempa.
Kota ini benar-benar dibangun dari nol setelah kemerdekaan, ditandai pemancangan tiang pertama pembangunan kota oleh Presiden RI pertama, Soekarno 17 Juli 1957.
Dua tahun sejak pembangunan kota ini, terus dirancang melalui rancangan pikiran Ir. Sukarno, mulai dari bundaran besar, taman kota, tiang pancang, istana, bundaran kecil, dan kawasan lainnya.
Melihat sejarahnya yang demikian tidak heran saat  calon Presiden Megawati Soekarnoputri datang ke kota ini sempat berpesan untuk menjaga keaslian Kota Palangkaraya.
“Mohon maaf pak wali kota, jadi jangan nanti ganti orang, ganti desain, lalu ganti tata kota,” kata Megawati Soekarnoputri kepada Wali Kota Palangkaraya Riban Satia ketika kedatangannya meresmikan pemakaian gedung PDI Perjuangan Kalteng, pekan lalu.
Mega berharap, sampai kapanpun masyarakat harus tetap mampu memelihara kota peninggalan Bapak Proklamator RI itu agar tetap terjaga keindahan dan keteraturannya.
Dilihat dari sisi arsitektur, kata Mega, Kota Palangkaraya didesain dengan sangat baik, planologinya teratur, dengan letak gang dan jalan yang mudah diingat.
Wali Kota Palangkaraya, HM Riban Satia ketika acara puncak peringatan hari jadi Kota Palangkaraya berjanji melestarikan kenyamanan kota Palangkaraya baik masa kini dan masa akan datang.
Upaya itu dengan cara pemanfaatan ruang yang diserasikan dengan penggunaaannya baik pemukiman, kegiatan sosial, kegiatan ekonomi, serta upaya konservasi dengan cara pemanfaatan alam lingkungan yang berkesinambungan.
Menjaga lingkungan hidup, memelihara keanekaragaman hayati merupakan modal dasar pembangunan, sekaligus mendukung kualitas kehidupan yang memberikan keindahan dan kenyamanan Kota Palangkaraya, tuturnya.
Ditengah tekadnya menjaga kelestarian lingkungan Palangkaraya, HM Riban Setia mengaku tak bisa mengelak dengan upaya pembangunan yang lain, yang jelas akan mempengaruhi keberadaan kota ini.
HM Riban Satia menyatakan akan menjadikan pula Kota Palangkaraya sebagai kota pendidikan, pusat pelayanan jasa, kota pemerintahan sebagai komnsekuinsi ibukota provinsi Kalteng.
Setelah kian berkembangnya pembangunan, kawasan yang dulunya hanya sebuah desa Pahandut mulai berubah kesebuah kota metropolis, ditandai berdirinya sebuah pusat perbelanjaan “Falma” berada persis didekat bundaran besar.
Pertokoan pun mulai bermunculan di sepanjang jalan-jalan protokol, penginapan dan hotel mulai menjamur, bahkan belakangan berdiri sebuah gotel bertaraf internasional “Aquarius Hotel” yang menjanjikan kenyamanan dan flus tempat hiburan diskotik, pusat karaoke, dan kafe.
“Kita bersyukur, akhirnya Palangkaraya memiliki juga sebuah hotel bertaraf internasional,” kata Gubernur Kalteng, Agustin Teras Narang saat meresmikan hotel yang dibangun pengusaha asal Banjarmasin tersebut.
Hadirnya hotel megah berlantai delapan itu jelas memberikan dampak bagi kota ini, terutama para tamu tidak kesulitan memperoleh fasilitas akomodasi yang memadai, kata Teras Narang.
“Seharusnya, kehadiran hotel mewah ini sejak 30 tahun lalu, di saat lagi boom produksi kayu, tetapi walau terlambat, tetap patut pula disyukuri,” kata Gubernur yang mantan anggota DPR-RI ini.
Kian berkembangnya kota ini, jelas dampak lainnya kian bertambahnya objek wisata, bertambahnya pusat keramaian, hadirnya sebuah pasar malam baluran, sentra jajanan Jl Yos Sudarso dan fasilitas perkotaan lainnya.
Tadinya tak ada yang menyangka kawasan hutan belantara ini bakal merubah menjadi sebuah kota yang pertumbuhannya begitu cepat.
Cepatnya pertumbuhan kota Palangkaraya tak jelas kian mudahnya akses menuju kota ini, bila tadinya dari Banjarmasin-Palangkara 190 Km harus rela naik angkutan sungai Spead Boat enam hingga 8 jam, kini melalui trans Kalimantan Poros Selatan yang beraspal hanya antara tiga dan empat jam saja dengan angkutan mobil.
Jalan Palangkaraya-Sampit (ibukota Kabupaten Kotawaringin Timur)  sekitar 200 KM tersambung dengan jalan aspal mulus hingga perjalanan hanya empat jam, disamping tersambungnya jalan Palangkaraya-Buntok (ibukoya Kabupaten Barito Selatan) sepanjang 200 Km juga hanya empat jam.
Padahal dulunya kedua wilayah ini harus ditempuh belasan jam karena Palangkaraya ke Banjarmasin dulu  baru ke Buntok.
Berdasarkan keterangan kota Palangkaraya termasuk kota yang lahirnya terlambat dibandingkan kota lain di Kalteng, seperti Kota Sampit atau Kuala Kapuas.
Bahkan kota disebut belakangan tadinya bakal dipilih sebagai ibukota Provinsi Kalteng, tetapi Kota Sampit dinilai letaknya terlalu jauh dari wilayah lain di Kalteng, dan Kota Kuala Kapuas dinilai terlalu dekat dengan Kota Banjarmasin ibukiota Kalsel.
Dari dua pilihan yang sulit itulah muncul pilihan alternatif, yaitu Kota Palangkaraya.
Berdasarkan cerita tetuha masyarakat, lahirnya sebuah Kota Palangkaraya berasal hanya dari sebuah desa yang disebut Pahandut, yaitu sebuah kampung yang kemudian menjadi sebuah kecamatan.
Pahandut berasal dari kata Bapa handut (bahasa dayak ngaju), yang artinya ayah Handut.
Bapa Handut adalah salah satu penduduk yang membuka hutan belantara untuk dijadikan tempat tinggal sementara, karena disitu hanya ada bapa Handut maka orang menyebutnya sebagai kampung Pahandut.
Berdasarkan ceritanya oleh Bapa Handut, daerah tersebut ditandai dengan pohon asam yang ditanamkannya dan kini letaknya di sekitar dermaga Rambang.

plk Jl Tjilik Riwut menghadap bundaran besar Palangkaraya

plk1 Rimbunnya pepohonan menyejukan kota cantik peninggalan Soekarno Palangkaraya

 bagian sudut kota Palangkaraya

KALTENG BERMIMPI KEHADIRAN PELABUHAN SKAKAL BESAR

Oleh Hasan Zainuddin
Palangka Raya, 13/6 (ANTARA)- Warga Kalimantan Tengah (Kalteng) wajar iri ke proivinsi lain, yang memiliki pelabuhan skala besar, guna memasarkan berbagai  komoditi.
Kalteng memiliki wilayah terluas ketiga setelah Papua dan Kalimantan Timur (Kaltim)  mengandung sumber daya alam (SDA) melimpah ruah.
Tapi lantaran tak ada pelabuhan besar, komodti Kalteng diekspor melalui pelabuhan lain.
Potensi Kalteng melimpah dilihat dari luas hutan 10.2 juta ha mengandung hasil hutan kayu dan hasil hutan ikutan, semuanya bisa jadi mata dagangan ekspor.
Perairan apalagi, perairan umum  terdapat 11 sungai besar panjang  100- 900 Km, 690 danau besar dan kecil serta kawasan rawa.
Tak dikelola saja perairan itu sudah gudang produksi ikan, apalagi kalau dijadikan lahan budidaya berikan kontribusi bagi peningkatan mata dagangan sektor perikanan.
Perairan laut miliki garis pantai menghadap Laut Jawa begitu panjang, terdapat kawasan air payau bisa dijadikan budidaya ikan pula.
Potensi peternakan juga besar, padang rumput yang luas janjikan sektor ini, walau masih digarap tradisional, peternakan Kalteng berupa sapi, kerbau, domba, unggas sudah menghasilkan.
SDA tak kalah memikat di “Bumi Tambun Bungai” (wilayah sejuta sungai) Kalteng adalah perkebunan kelapa sawit, terus meningkat luasannya, kini berproduksi jutaan ton tandan buah segar (TDS), diolah menjadi crude palm oil (CPO).
Secara geologis, Kalteng terdiri atas satuan batuan beku 25 persen, bantuan sedimen 65 persen, dan batuan metamorf 10 persen.
Ketiga satuan batuan ini membawa potensi bahan galian tambang yang beragam. Pada satuan beku ini, terdapat di bagian utara Kalteng dan dikenal sebagai ”Borneo Gold Belt”, tersimpan potensi emas dan perak serta beberapa jenis logam dasar.
Satuan sedimen terdiri atas tiga cekungan besar masing-masing cekungan Balito, cekungan Melawi dan cekungan Kutai.
Ketiga cekungan ini mangandung cebakan minyak dan gas bumi, batubara, logam mulia dan logam dasar sekunder. Kalteng kini tersedia potensi 3,5 miliar ton batubarar.
“Kalau melihat potensi Kalteng, berarti wilayah ini kaya sekali,” kata seorang anggota DPRD Kalteng, Arief Budiatmo.
Mempercepat pemanfaatan potensi tersebut, tak ada pilihan lain, kecuali Kalteng memiliki sebuah pelabuhan skala besar, dalam upaya mengapalkan berbagai macam produk ekspor dan barang lainnya.
Contoh, lantaran tak punya pelabuhan besar akhirnya pengangkutan produk dan barang jadi ekonomi biaya tinggi, kata anggota DPRD dari komisi C ini.
Bagaimana Kalteng bisa meningkatkan kesejahteraan warganya bila sarana memasarkan berbagai komoditi melimpah itu terhambat.
“Baik warga, pemerintah,  harus mewujudkan pelabuhan skala besar, bagi kemajuan Kalteng,” kata politisi dari PAN Kalteng itu.
Berdasarkan catatan, Kalteng sudah memiliki dua pelabuhan, Pelabuhan Sampit dan Pelabuhan Kumai, tapi pelabuhan itu tak memungkin untuk kapal berbobot besar, akhirnya hanya dilayari kapal berbobot kecil, dampaknya bongkar muat di pelabuhan jadi sangat mahal.
“Biaya pengapalan barang Pelabuhan Sampit ke Pelabuhan Surabaya Jawa Timur lebih tinggi ketimbang barang itu dibawa ke Banjarmasin lalu mulai sana dikapalkan ke Surabaya,” kata Arief Budiatmo.
Biaya tinggi pelabuhan Sampit itu lantaran sewa kontainer mahal, jumlah kontainer terbatas.
Keterbatasan kontainer itu lantaran bila dibawa dari Surabaya 50 buah yang terisi dan balik ke Surabaya paling banter hanya 10 kontaiener saja.
Dampak ketiadaan pelabuhan itu pula wilayah ini tak memiliki pabrik pengolahan kelapa sawit menjadi CPO, akhirnya sawit diantar pulaukan, baru di olah di Pulau Jawa atau Sumatera, baru ekspor.
Begitu juga karet, sebagian besar produksi pabrikan karet di Kota Banjarmasin, padahal hasil pembelian karet dari Kalteng, lalu diekspor menikmati pajak ekspornya wilayah lain.
Hutan Kalteng melimpah kayunya, tapi kayu dibawa ke Banjarmasin disana 18 buah pabrik kayu lapis mengolah kayu Kalteng, hingga Kalteng kurang menikmati hasil hutan itu.
Kabid Perdagangan Luar Negeri, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kalteng, Toni Jhonsiano, menyatakan pula keprihatinan atas ketiadaan pelabuhan, akhirnya dagangan Kalteng dikirim kepelabuhan lain.
Menurutnya potensi perdagangan luar negeri Kalteng sangat besar, tapi lantaran tak ada sarana laut memadai ya akhirnya, Kalteng hanya bisa gigit jari lihat pajak ekspor dinikmati pihak lain.
Bukan hanya peralatan bongkar muat minim di pelabuhan Kalteng tapi pelabuhannya tidak bisa dilayani kapal besar, pelabuhan Kalteng dangkal, seperti di Kumai, Sampit, atau Pelabuhan Pulang Pisau.
Karena itu, wajar bila kedepan Kalteng harus memikirkan memiliki pelabuhan besar sendiri, untuk memudahkan ekspor non migas itu.
Kalteng miliki pantai menghadap Laut Jawa dengan tingkat kedalaman memadai bagi sebuah pelabuhan skala besar.
Umpamanya saja pantai di Kabupaten  Katingan, di Pagatan, atau di Bahaur Pulang Pisau, tinggal bagaimana kemauan politik pemerintah setempat mewujudkan sarana tersebut.
Seandainya tersedia pelabuhan yang refresentatif maka akan menjadi “magnet” bagi investasi pendirian pabrik pengolahan hasil perkebunan dan sumber daya alamnya yang akan memberikan dampak bagi kemajuan Kalteng.***2***

MENGANGKAT CITRA ANGKUTAN SUNGAI “BUMI TAMBUN BUNGAI” KALTENG

Oleh Hasan Zainuddin
Palangka Raya,7/6 (ANTARA)- Kian berkembangnya fasilitas jalan darat melalui trans Kalimantan, bukan berarti Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) meninggalkan jenis angkutan tradisionalnya, yaitu angkutan sungai.
Bahkan belakangan ini jenis angkutan sungai kian dikembangkan, alasannya transportasi ini tak memerlukan investasi besar, sebaliknya mampu mengangkut barang dengan jumlah besar dengan biaya sangat murah.
Atas keunggulan jenis angkutan sungai itulah, maka angkutan ini dipertahankan bahkan ditingkatkan, kata Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), Rigumi.
Apalagi Kalteng yang berjuluk “Bumi Tambun Bungai” atau “Daerah Sejuta Sungai” memiliki jaringan sungai hampir menyentuh seluruh wilayah, hingga memudahkan orang bepergian kemanapun hanya menggunakan angkutan tersebut.

kahayan Sungai Kahayan salah satu sungai sarana transpotasi Kalteng
Belum lagi wilayah Kalteng, bukan hanya sungai tetapi juga terdapat danau, dan anjir (kanal) yang sudah lama berfungsi sebagai sarana angkutan air bagi provinsi di Pulau terbesar di tanah air ini.
Melihat kenyataan itu, jenis angkutan sungai merupakan primadona moda transportasi Kalteng sejak lama dan penggerak perekonomian setempat.
Kepala Bidang angkutan Sungai Danau dan Penyebarangan (SDP), Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi setempat, Sino secara terpisah mengakui angkutan sungai moda transportasi andalan Kalteng, mengingat ribuan kilometer (Km) jalur sungai mampu dilayari.
Jalur sungai  itu berada sambung-menyambung diantara sebelas buah sungai yang ada di wilayah ini lengkap dengan anak-anak sungainya yang menembus seluruh wilayah yang memiliki luas 1,5 kali Pulau Jawa ini.
Kesebelas sungai di Kalteng tersebut, seperti Sungai Jelai Kabupaten Sukamara  panjang 200 Km lebar 50 meter dalam 8 meter (m), dapat dilayari 150 Km, Sungai Arut Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) panjang 250 Km lebar 100 m, dalam 4 m bisa dilayari 190 Km, Sungai Lamandau Kabupaten Kobar dan Kabupaten Lamandau panjang 300 Km dalam 6 m, lebar 150 m, bisa dilayari 250 Km.
Sungai Kumai Kabupaten Kobar panjang 175 Km, dalam 6-9 m, lebar 250 m,  bisa dilayari 100 Km, Sungai Seruyan Kabupaten Seruyan panjang 400 Km, lebar 250 m, dalam 5 m bisa dilayari 300 Km.
Sungai Mentaya Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) panjang 400 Km lebar 350 m, dalam 6 m, bisa dilayari 270 Km, Sungai Katingan Kabupaten Katingan panjang 650 Km, lebar 250 m, dalam 3-6 m, bisa dilayari 520 Km.
Sungai Sebangau Kota Palangka Raya dan Kabupaten Pulang Pisau panjang 600 Km lebar 450 m, dalam 7 m, bisa dilayari 500 Km, Sungai Kapuas  Kabupaten Kapuas, panjang 600 Km, lebar 450 m, dalam 6 m bisa dilayari 420 Km.
Sungai Kahayan Kabupaten Gunung Mas (Gumas), Kabupaten Pulang Pisau dan Kota Palangka Raya, panjang 600 Km lebar 450 m, dalam 7 m, dan bisa dilalui armada sungai sepanjang 500 Km.
Terakhir adalah Sungai terbesar Indonesia yakni Sungai Barito panjang 900 Km lebar 350-500 m, dalam 6-14 m dilalui pelayanan sungai 700 Km, kata Sino.
Melihat potensi sungai yang begitu besar ditambah dengan anak sungainya,  maka wajar bila Pemprov Kalteng tetap mengandalkan angkutan sungai sebagai moda transportasi andalan sampai kapanpun, tambahnya.
Bukan hanya angkutan penumpang dilayani angkutan sungai ini, tetapi diutamakan angkutan bermuatan berat, seperti pasir, tanah merah, krikil, batu gunung, semen, besi, batubara, serta hasil bumi lainnya.
“Bumi Kalteng, sebagian besar lahan basah dengan tingkat kestabilan lahan yang rendah, maka jalan darat yang dibuat pemerintah cepat rusak bila harus dilewati truk atau armada lainnya bermuatan berat,” kata Rigumi.
Apalagi jaringan jalan di Kalteng, khususnya trans Kalimantan baru saja dibuat dari pengerasan tanah merah, mudah rusak dan hancur.
Guna menjaga ke awetan jalan darat itu, maka Pemprov Kalteng berharap armada yang lewat tak boleh berat dari 8 ton, dengan batasan demikian mana mungkin armada harus mengangkut pasir, tanah, krikil, batu, besi, semen dan lainnya.
Alternatifnya, harus melalui jalur sungai. Menggunakan armada tongkang jumlah barang yang berat ini bisa diangkut dengan jumlah besar.
Keinginan kuat mengembangkan angkutan sungai itu bukan hanya Pemprop Kalteng tetapi juga pemerintah di 14 kabupaten/kota se Kalteng.
Sebagai contoh saja Kabupaten Barito Selatan (Barsel) yang banyak dilintasi sungai paling dominan angkutan penumpang dan barang melalui sarana air ini.
Tahun 2008 lalu saja, jumlah pergerakan kapal melayani angkutan sungai di semua Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi Barsel mencapai angka 7.131 kali, baik truk air, bus air, spead boat,  lung bot, klotok, dan sampan.
Sementara data di Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi Kalteng,  se provinsi ini jumlah armada meramaikan moda transportasi sungai terdiri dari motor boat 834 buah, 2159 buah motor getek,482 buah spead boat, 85 buah long boat, 297 buah truk air, 78 buah tongkang, dan 33 buah bus air.
Armada sungai tersebut melayari berbagai wilayah dan menyinggapi 92 dermaga yang menyebar di berbagai kabupaten dan kota wilayah ini.
Melihat keinginan kuat Pemprop Kalteng melestarikan angkutan sungai tersebut telah pula direspon positif pemerintah pusat.
Melalui Direktorat Angkutan Darat, Departemen Perhubungan telah memberikan bantuan penambahan armada bis air yang dirancang untuk angkutan 60 orang sudah beroperasi di Kabupaten Katingan dan Seruyan dan akan datang lagi untuk Kabupaten Kapuas.
“Kita bersyukur dapat bantuan bis air tersebut, karena kalau harus beli sendiri, harganya cukup mahal sekitar lima hingga 10 miliar,” kata Rigumi.
Menurut Rigumi, pihak Pemprov Kalteng tetap berharap bantuan serupa datang dari dari pemerintah pusat agar semua kabupaten kota di Kalteng  memiliki armada angkutan sungai demikian.
Upaya melengkapi armada air tersebut, pihak Pemprov Kaltengpun akan berusaha menyediakannya, dalam artian bila bantuan pemerintah pusat sudah tak ada lagi maka Pemprov Kalteng yang akan membuatkannya, tetapi tentu sesuai dengan kemampuan yang ada.
Bukan hanya armada air yang selalu ditambah upaya meningkatkan angkutan air tersebut, tetapi juga melakukan normalisasi anjir (kanal) Serapat dan anjir Tamban.
Normalisasi anjir meningkatkan kedalaman cara pengerukan lumpur di dasar anjir tersebut melalui dana APBN direncanakan pada tahun 2010.
Melalui peningkatan citra angkutan sungai yang berbarengan peningkatan moda transportasi darat dan udara, maka merumuskan visi pembangunan dengan seuntai kalimat “Menembus Isolasi Menuju Kalimantan Tengah yang Sejahtera dan Bermartabat.” ***2***

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 50 pengikut lainnya.