KALTENG BERMIMPI KEHADIRAN PELABUHAN SKAKAL BESAR

Oleh Hasan Zainuddin
Palangka Raya, 13/6 (ANTARA)- Warga Kalimantan Tengah (Kalteng) wajar iri ke proivinsi lain, yang memiliki pelabuhan skala besar, guna memasarkan berbagai  komoditi.
Kalteng memiliki wilayah terluas ketiga setelah Papua dan Kalimantan Timur (Kaltim)  mengandung sumber daya alam (SDA) melimpah ruah.
Tapi lantaran tak ada pelabuhan besar, komodti Kalteng diekspor melalui pelabuhan lain.
Potensi Kalteng melimpah dilihat dari luas hutan 10.2 juta ha mengandung hasil hutan kayu dan hasil hutan ikutan, semuanya bisa jadi mata dagangan ekspor.
Perairan apalagi, perairan umum  terdapat 11 sungai besar panjang  100- 900 Km, 690 danau besar dan kecil serta kawasan rawa.
Tak dikelola saja perairan itu sudah gudang produksi ikan, apalagi kalau dijadikan lahan budidaya berikan kontribusi bagi peningkatan mata dagangan sektor perikanan.
Perairan laut miliki garis pantai menghadap Laut Jawa begitu panjang, terdapat kawasan air payau bisa dijadikan budidaya ikan pula.
Potensi peternakan juga besar, padang rumput yang luas janjikan sektor ini, walau masih digarap tradisional, peternakan Kalteng berupa sapi, kerbau, domba, unggas sudah menghasilkan.
SDA tak kalah memikat di “Bumi Tambun Bungai” (wilayah sejuta sungai) Kalteng adalah perkebunan kelapa sawit, terus meningkat luasannya, kini berproduksi jutaan ton tandan buah segar (TDS), diolah menjadi crude palm oil (CPO).
Secara geologis, Kalteng terdiri atas satuan batuan beku 25 persen, bantuan sedimen 65 persen, dan batuan metamorf 10 persen.
Ketiga satuan batuan ini membawa potensi bahan galian tambang yang beragam. Pada satuan beku ini, terdapat di bagian utara Kalteng dan dikenal sebagai ”Borneo Gold Belt”, tersimpan potensi emas dan perak serta beberapa jenis logam dasar.
Satuan sedimen terdiri atas tiga cekungan besar masing-masing cekungan Balito, cekungan Melawi dan cekungan Kutai.
Ketiga cekungan ini mangandung cebakan minyak dan gas bumi, batubara, logam mulia dan logam dasar sekunder. Kalteng kini tersedia potensi 3,5 miliar ton batubarar.
“Kalau melihat potensi Kalteng, berarti wilayah ini kaya sekali,” kata seorang anggota DPRD Kalteng, Arief Budiatmo.
Mempercepat pemanfaatan potensi tersebut, tak ada pilihan lain, kecuali Kalteng memiliki sebuah pelabuhan skala besar, dalam upaya mengapalkan berbagai macam produk ekspor dan barang lainnya.
Contoh, lantaran tak punya pelabuhan besar akhirnya pengangkutan produk dan barang jadi ekonomi biaya tinggi, kata anggota DPRD dari komisi C ini.
Bagaimana Kalteng bisa meningkatkan kesejahteraan warganya bila sarana memasarkan berbagai komoditi melimpah itu terhambat.
“Baik warga, pemerintah,  harus mewujudkan pelabuhan skala besar, bagi kemajuan Kalteng,” kata politisi dari PAN Kalteng itu.
Berdasarkan catatan, Kalteng sudah memiliki dua pelabuhan, Pelabuhan Sampit dan Pelabuhan Kumai, tapi pelabuhan itu tak memungkin untuk kapal berbobot besar, akhirnya hanya dilayari kapal berbobot kecil, dampaknya bongkar muat di pelabuhan jadi sangat mahal.
“Biaya pengapalan barang Pelabuhan Sampit ke Pelabuhan Surabaya Jawa Timur lebih tinggi ketimbang barang itu dibawa ke Banjarmasin lalu mulai sana dikapalkan ke Surabaya,” kata Arief Budiatmo.
Biaya tinggi pelabuhan Sampit itu lantaran sewa kontainer mahal, jumlah kontainer terbatas.
Keterbatasan kontainer itu lantaran bila dibawa dari Surabaya 50 buah yang terisi dan balik ke Surabaya paling banter hanya 10 kontaiener saja.
Dampak ketiadaan pelabuhan itu pula wilayah ini tak memiliki pabrik pengolahan kelapa sawit menjadi CPO, akhirnya sawit diantar pulaukan, baru di olah di Pulau Jawa atau Sumatera, baru ekspor.
Begitu juga karet, sebagian besar produksi pabrikan karet di Kota Banjarmasin, padahal hasil pembelian karet dari Kalteng, lalu diekspor menikmati pajak ekspornya wilayah lain.
Hutan Kalteng melimpah kayunya, tapi kayu dibawa ke Banjarmasin disana 18 buah pabrik kayu lapis mengolah kayu Kalteng, hingga Kalteng kurang menikmati hasil hutan itu.
Kabid Perdagangan Luar Negeri, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kalteng, Toni Jhonsiano, menyatakan pula keprihatinan atas ketiadaan pelabuhan, akhirnya dagangan Kalteng dikirim kepelabuhan lain.
Menurutnya potensi perdagangan luar negeri Kalteng sangat besar, tapi lantaran tak ada sarana laut memadai ya akhirnya, Kalteng hanya bisa gigit jari lihat pajak ekspor dinikmati pihak lain.
Bukan hanya peralatan bongkar muat minim di pelabuhan Kalteng tapi pelabuhannya tidak bisa dilayani kapal besar, pelabuhan Kalteng dangkal, seperti di Kumai, Sampit, atau Pelabuhan Pulang Pisau.
Karena itu, wajar bila kedepan Kalteng harus memikirkan memiliki pelabuhan besar sendiri, untuk memudahkan ekspor non migas itu.
Kalteng miliki pantai menghadap Laut Jawa dengan tingkat kedalaman memadai bagi sebuah pelabuhan skala besar.
Umpamanya saja pantai di Kabupaten  Katingan, di Pagatan, atau di Bahaur Pulang Pisau, tinggal bagaimana kemauan politik pemerintah setempat mewujudkan sarana tersebut.
Seandainya tersedia pelabuhan yang refresentatif maka akan menjadi “magnet” bagi investasi pendirian pabrik pengolahan hasil perkebunan dan sumber daya alamnya yang akan memberikan dampak bagi kemajuan Kalteng.***2***

MENGANGKAT CITRA ANGKUTAN SUNGAI “BUMI TAMBUN BUNGAI” KALTENG

Oleh Hasan Zainuddin
Palangka Raya,7/6 (ANTARA)- Kian berkembangnya fasilitas jalan darat melalui trans Kalimantan, bukan berarti Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) meninggalkan jenis angkutan tradisionalnya, yaitu angkutan sungai.
Bahkan belakangan ini jenis angkutan sungai kian dikembangkan, alasannya transportasi ini tak memerlukan investasi besar, sebaliknya mampu mengangkut barang dengan jumlah besar dengan biaya sangat murah.
Atas keunggulan jenis angkutan sungai itulah, maka angkutan ini dipertahankan bahkan ditingkatkan, kata Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), Rigumi.
Apalagi Kalteng yang berjuluk “Bumi Tambun Bungai” atau “Daerah Sejuta Sungai” memiliki jaringan sungai hampir menyentuh seluruh wilayah, hingga memudahkan orang bepergian kemanapun hanya menggunakan angkutan tersebut.

kahayan Sungai Kahayan salah satu sungai sarana transpotasi Kalteng
Belum lagi wilayah Kalteng, bukan hanya sungai tetapi juga terdapat danau, dan anjir (kanal) yang sudah lama berfungsi sebagai sarana angkutan air bagi provinsi di Pulau terbesar di tanah air ini.
Melihat kenyataan itu, jenis angkutan sungai merupakan primadona moda transportasi Kalteng sejak lama dan penggerak perekonomian setempat.
Kepala Bidang angkutan Sungai Danau dan Penyebarangan (SDP), Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi setempat, Sino secara terpisah mengakui angkutan sungai moda transportasi andalan Kalteng, mengingat ribuan kilometer (Km) jalur sungai mampu dilayari.
Jalur sungai  itu berada sambung-menyambung diantara sebelas buah sungai yang ada di wilayah ini lengkap dengan anak-anak sungainya yang menembus seluruh wilayah yang memiliki luas 1,5 kali Pulau Jawa ini.
Kesebelas sungai di Kalteng tersebut, seperti Sungai Jelai Kabupaten Sukamara  panjang 200 Km lebar 50 meter dalam 8 meter (m), dapat dilayari 150 Km, Sungai Arut Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) panjang 250 Km lebar 100 m, dalam 4 m bisa dilayari 190 Km, Sungai Lamandau Kabupaten Kobar dan Kabupaten Lamandau panjang 300 Km dalam 6 m, lebar 150 m, bisa dilayari 250 Km.
Sungai Kumai Kabupaten Kobar panjang 175 Km, dalam 6-9 m, lebar 250 m,  bisa dilayari 100 Km, Sungai Seruyan Kabupaten Seruyan panjang 400 Km, lebar 250 m, dalam 5 m bisa dilayari 300 Km.
Sungai Mentaya Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) panjang 400 Km lebar 350 m, dalam 6 m, bisa dilayari 270 Km, Sungai Katingan Kabupaten Katingan panjang 650 Km, lebar 250 m, dalam 3-6 m, bisa dilayari 520 Km.
Sungai Sebangau Kota Palangka Raya dan Kabupaten Pulang Pisau panjang 600 Km lebar 450 m, dalam 7 m, bisa dilayari 500 Km, Sungai Kapuas  Kabupaten Kapuas, panjang 600 Km, lebar 450 m, dalam 6 m bisa dilayari 420 Km.
Sungai Kahayan Kabupaten Gunung Mas (Gumas), Kabupaten Pulang Pisau dan Kota Palangka Raya, panjang 600 Km lebar 450 m, dalam 7 m, dan bisa dilalui armada sungai sepanjang 500 Km.
Terakhir adalah Sungai terbesar Indonesia yakni Sungai Barito panjang 900 Km lebar 350-500 m, dalam 6-14 m dilalui pelayanan sungai 700 Km, kata Sino.
Melihat potensi sungai yang begitu besar ditambah dengan anak sungainya,  maka wajar bila Pemprov Kalteng tetap mengandalkan angkutan sungai sebagai moda transportasi andalan sampai kapanpun, tambahnya.
Bukan hanya angkutan penumpang dilayani angkutan sungai ini, tetapi diutamakan angkutan bermuatan berat, seperti pasir, tanah merah, krikil, batu gunung, semen, besi, batubara, serta hasil bumi lainnya.
“Bumi Kalteng, sebagian besar lahan basah dengan tingkat kestabilan lahan yang rendah, maka jalan darat yang dibuat pemerintah cepat rusak bila harus dilewati truk atau armada lainnya bermuatan berat,” kata Rigumi.
Apalagi jaringan jalan di Kalteng, khususnya trans Kalimantan baru saja dibuat dari pengerasan tanah merah, mudah rusak dan hancur.
Guna menjaga ke awetan jalan darat itu, maka Pemprov Kalteng berharap armada yang lewat tak boleh berat dari 8 ton, dengan batasan demikian mana mungkin armada harus mengangkut pasir, tanah, krikil, batu, besi, semen dan lainnya.
Alternatifnya, harus melalui jalur sungai. Menggunakan armada tongkang jumlah barang yang berat ini bisa diangkut dengan jumlah besar.
Keinginan kuat mengembangkan angkutan sungai itu bukan hanya Pemprop Kalteng tetapi juga pemerintah di 14 kabupaten/kota se Kalteng.
Sebagai contoh saja Kabupaten Barito Selatan (Barsel) yang banyak dilintasi sungai paling dominan angkutan penumpang dan barang melalui sarana air ini.
Tahun 2008 lalu saja, jumlah pergerakan kapal melayani angkutan sungai di semua Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi Barsel mencapai angka 7.131 kali, baik truk air, bus air, spead boat,  lung bot, klotok, dan sampan.
Sementara data di Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi Kalteng,  se provinsi ini jumlah armada meramaikan moda transportasi sungai terdiri dari motor boat 834 buah, 2159 buah motor getek,482 buah spead boat, 85 buah long boat, 297 buah truk air, 78 buah tongkang, dan 33 buah bus air.
Armada sungai tersebut melayari berbagai wilayah dan menyinggapi 92 dermaga yang menyebar di berbagai kabupaten dan kota wilayah ini.
Melihat keinginan kuat Pemprop Kalteng melestarikan angkutan sungai tersebut telah pula direspon positif pemerintah pusat.
Melalui Direktorat Angkutan Darat, Departemen Perhubungan telah memberikan bantuan penambahan armada bis air yang dirancang untuk angkutan 60 orang sudah beroperasi di Kabupaten Katingan dan Seruyan dan akan datang lagi untuk Kabupaten Kapuas.
“Kita bersyukur dapat bantuan bis air tersebut, karena kalau harus beli sendiri, harganya cukup mahal sekitar lima hingga 10 miliar,” kata Rigumi.
Menurut Rigumi, pihak Pemprov Kalteng tetap berharap bantuan serupa datang dari dari pemerintah pusat agar semua kabupaten kota di Kalteng  memiliki armada angkutan sungai demikian.
Upaya melengkapi armada air tersebut, pihak Pemprov Kaltengpun akan berusaha menyediakannya, dalam artian bila bantuan pemerintah pusat sudah tak ada lagi maka Pemprov Kalteng yang akan membuatkannya, tetapi tentu sesuai dengan kemampuan yang ada.
Bukan hanya armada air yang selalu ditambah upaya meningkatkan angkutan air tersebut, tetapi juga melakukan normalisasi anjir (kanal) Serapat dan anjir Tamban.
Normalisasi anjir meningkatkan kedalaman cara pengerukan lumpur di dasar anjir tersebut melalui dana APBN direncanakan pada tahun 2010.
Melalui peningkatan citra angkutan sungai yang berbarengan peningkatan moda transportasi darat dan udara, maka merumuskan visi pembangunan dengan seuntai kalimat “Menembus Isolasi Menuju Kalimantan Tengah yang Sejahtera dan Bermartabat.” ***2***

MENGKONSUMSI KULAT (JAMUR) SEBUAH KEBIASAAN WARGA BALANGAN

kulat

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,10/3 (ANTARA)- Warga yang berada di kawasan kaki Pegunungan Meratus, Kabupaten Balangan seperti di Kecamatan Paringin, Halong, Awayan, dan Kecamatan Tebing Tinggi, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) sudah terbiasa mengkonsumsi makanan yang terbuat dari kulat (jamur).
“Kami tidak susah mencari lauk pauk makan, tinggal mencarinya di belakang rumah, atau ke semak belukar maka lauk pauk terbuat dari kulat sudah kami peroleh,” kata Ibu Sanah seorang penduduk Desa Inan Kecamatan, Paringin selatan Balangan.
Mencari kulat ke hutan, atau ke semak belukar itu harus dulu tahu kulat yang mana yang bisa dimakan, dan kulat yang mana pula yang harus dihindari karena beracun.
Bagi penduduk setempat, kebiasaan memilih dan memilah kulat yang baik untuk dimakan dan kulat beracun itu mudah saja, karena dengan hanya melihat kondisi kulat itu, bila kulat ada ulat, atau terdapat bekas dimakan ulat, dan  binatang kecil  berarti kulat tersebut sehat dan bergizi.
Kemudian bila kulat tersebut di hurung (dikerumuni) binatang kecil yang disebut oleh masyarakat setempat binatang bari-bari maka kulat itu sehat.
Sebaliknya bila kulat tersebut terlihat utuh saja walau sudah berumur tua, dan tidak ada bekas dimakan ulat atau binatang kecil, bahkan dihinggapi binatang kecil saja tidak maka jangan coba-coba memakan kulat tersebut, itu pasti beracun.
Pada saat musim hujan seperti sekarang ini, aneka jenis kulat mudah diperoleh, baik yang hidup di jerami, hidup di pelepah pohon, kayu, batang pisang, batang enau yang lapuk, batang kepala, bahkan kulat yang hidup di tanah.
Untuk membuat makanan terbuat dari kulat tersebut, harus tahu dulu resepnya, dan resep itu mudah ditanyakan kepada tetuha masyarakat setempat yang sudah terbiasa mengkonsumsi makanan terbuat dari kulat secara turun temurun.
Kulat bisa diolah sebagai campuran sayuran, campuran ikan, atau hanya digulai, atau sayur bening, bahkan di tumis.
“Kalau kulat jenis tertentu, umpamanya yang disebut kulat patiti, dicampur dengan jagung muda lalu di tumis, menurut kami di desa ini rasanya enak sekali,” kata Ibu Sanah.
Mengkonsumsi kulat, bagi warga setempat selain meningkat gizi masyarakat sekaligus juga sebagai obat.
“Banyak warga Desa Inan yang sakit setelah mnengkonsumsi kulat tertentu sembuh dari sakitnya,”kata Haji Mahlan seorang tetuha masyarakat setempat.
Sebagai contoh saja, kulat kulimir atau kulat telinga tupai (jemus kuping) itu banyak manfaatnya makanya banyak dicari untuk dikonsumsi.
Apalagi di kawasan Kabupaten Balangan, merupakan wilayah pegunungan yang berhutan dan perkebunan karet, maka merupakan wilayah tumbuh suburnya aneka jenis kulat.
“Biasanya  warga setempat membuka lahan dengan menebang kayu-kayu hutan, kemudian hutan terbuka itu di tanami padi gogo disebut menugal atau ladang, nah di lokasi itulah terdapat banyak kayu dari pohon hasil tebangan, di kayu itu merupakan tempat subur bagi aneka jamur,” kata Haji Mahlan.
Oleh karena itu sudah kebiasaan bagi warga setempat, mencari kulat tersebut ke lokasi ladang berpindah semacam itu.
Jenis kulat yang banyak tumbuh dikayu bekas tebangan itu adalah yang disebut penduduk kulat karikit, kulat deluang, kulat telinga tupai, kulat, lamak baung, kulat patiti, kulat minyak, kulat gulimir, kulat merang, kulat-kulat lain yang belum ada namanya.
Sementara di lahan tanah terbuka seperti itu masih bermunculan pula kulat yang hidup di atas tanah, sebut saja kulat bantilung, kulat dadamak, kulat batang pisang, kulat kelambu kuyang, dan aneka kulat lainnya yang tidak teridentifikasi namanya.
Kulat-kulat tersebut, juga banyak terdapat di dalam hutan dan semak belukar, apalagi di lokasi hutan dengan tingkat kelembaban tinggi maka merupakan habitat kulat yang baik.
Bahkan ada kulat yang kalau malam hari mengeluarkan cahaya yang disebut oleh penduduk setempat sebagai kulat malam, namun jenis kulat ini tidak ada yang berani memakannya karena beracun.
Namun dari sekian kulat yang tumbuh di kawasan kaki, lereng Pegunungan Meratus tersebut, yang paling banyak dicari adalah kulat bantilung, yang bentuknya seperti payung dan banyak hidup di gundukan tanah (balambika), dan didalam gundukan tanah tersebut biasanya banyak sarang anai-anai.
Kulat bantilung ini muncul secara musiman, biasanya pada musim tanjang (musim tanam padi), pada musim ini warga setempat sudah siap-siap mencari gundukan tanah tempat banyak hidup kulat bantilung ini, kata Haji Mahlan.
Kulat bantilung banyak dicari karena rasanya, paling enak, cukuphanya disayur bening maka rasanya sudah seperti supa ayam, tambahnya lagi.
Oleh karena itu pula, dari sekian banyak luat yang dijual belikan di pasaran, paling laku jenis kulat bantilung ini, dan harganya mahal hanya beberapa tangkai (butir)  harganya bisa belasan ribu rupiah.
Dari sekian jamur (kulat) yang banyak berada di kawasan Pedalaman kalsel itu,  terdapat beberapa jenis yang mudah dikeringkan, kemudian bisa dimasak kapan perlu.
Seperti kulat karikit, atau kulat gelimir (jamur kuping) itu bisa di keringkan dan awet berbulan-bulan, kapan perlu di masak dengan apa saja, makanya rasa enaknya tak berubah.
Makanya, banyak jemaah haji asal Kabupaten Balangan atau para tenaga kerja wanita (TKW) ke Arab Saudi  membawa banyak kulat yang dikeringkan tersebut kemudian di masak saat berada di sana untuk mengobat kerinduan kampung halaman.
Manfaat jamur (kulat)
Kebiasaan makan kulat di masyarakat Indonesia sebenarnya bukan hanya di Kabupaten Balangan Kalsel ini, saja tetapi juga di banyak masyarakat lain di Indonesia.
Melihat kenyataan tersebut maka muncul pembudidayaan kulat yang dilakukan sejak tahun 70-an.
Berdasarkan sebuah catatan, di Indonesia budidaya kulat termasuk relatif baru. Komoditi kulat khususnya jenis kulat (jamur) merang baru dikenal pada 1960-an. Namun pengembangannya dan mulai dikenal masyrakat pada 1970-an.

bantilung kulat bantilung
Sebelumnya kulat hanya dikenal sebagai sayuran eksotik. Masih sangat jauh pengetahuan masyarakat tentang manfaat dan teknologi industri pengolahan kulat serta produk olahan & industrinya.
Dimana kulat merupakan sumber pangan atau makanan yang mengandung gizi dan protein tinggi, vitamin, karbohidrat, serat, mineral, asam amino assensial, lemak, dan asam lemak tak jenuh.
Baru beberapa tahun terakhir produk industri kulat mulai mendapat perhatian yakni sebagai bahan baku pangan baik untuk sayuran, nugget, bakso, kripik, bahkan difermentasi sebagai kulat segar dalam botol.
Produknyapun mulai dipasarkan di supermarket. Permintaan pasar pun kini makin meningkat, seiring pengetahuan masyarakat akan manfaat kulat yang mengandung banyak khasiat sebagai  antibakteri, antivirus, antioksidan, antitumor, menormalkan tekanan darah, menurunka  kolesterol, meningkatkan kekebalan tubuh, menguatkan syaraf, dan dapat untuk mengurangi stress.
Peluang pasar produk kulat saat ini cukup tinggi, kebutuhan pasar lokal sekitar 35 persen dan pasar luar negeri 65 persen. Sedang jenis kulat yang diminati yakni jamur merang (Staraw mushrooms) dan jenis kulat kancing (Champignon atau agaricus Bisporus).
Sejak tahun 2000 permintaan produk kulat khususnya untuk jenis kulat merang makin besar mencapai 12.500 MT, terdiri pasar Eropa 2.500 MT (20 persen), Asia dan Australia 3000 MT (24 persen), USA 6000 MT (48 persen), Eropa 2,500 MT (20 persen), Jepang dan Arab 1.000 MT (8 persen), dan Indonesia sendiri sebesar 3.000 MT (24 persen).
Sedang pasar jenis jamur kancing mencapai 1.13 juta MT, terdiri USA 0.48 juta MT (42 persen), Eropa sebesar 0.40 juta MT (35 persen), Indonesia sendiri sebesar 0.029 juta MT (2,5 persen), dan negara lainnya 0.25 juta MT (23 persen).
Saat ini di Indonesia terdapat enam perusahaan penyuplai jamur yakni PT Indo Ever Green, PT Dieng Djaya, PT Suryajaya Abadiperkasa, Khusus PT Zeta Agro, dimana saat ini dari enam perusahaan tersebut mampu mensuplai 50-60 FCL atau 30 ton jamur segar perhari.
Melihat potensi gizi dari bahan makanan kulat yang begitu tinggi maka kebiasaan makan kulat di Kabupaten Balangan dan Masyarakat lain di tanah air tersebut perlu lebih digalakan lagi, dalam upaya mengatasi kekurangan gizi masyarakat.
Selain itu, potensi alam dan lingkungan Indonesia yang sangat baik bagi tumbuhnya kulat itu berbagai pihak menghendaki agar kulat itu jangan dibiarkan hanya hidup berkembangnya secara alamiah saja melainkan harus diusahakan sebagai sarana untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat mnelalui budidaya.

kulat4

kulat yang tumbuh di daratan balangan
SERBA SERBI MENGENAI JAMUR/KULAT

Kita mungkin pernah mencicipi hidangan khas cina, dimana hidangan tersebut banyak teridiri dari sejenis jamur yang enak dimakan, bahkan kadang kita tidak pernah mengira kalau makanan yang kita makan itu terasa seperti daging ayam goreng. Dari penampilan, keduanya tak tampak beda. Dari tekstur dan rasanya pun, mirip. Warna jamur tiram yang putih kekuningan dan tekstur yang lembut kenyal, tak ubahnya seperti potongan daging dada ayam. Jamur adalah kelompok besar jasad hidup yang termasuk ke dalam dunia tumbuh-tumbuhan yang tidak mempunyai pigmen hijau daun (khlorofil). Tetapi jamur berinti, berspora, berupa sel, atau benang, bercabang-cabang, dengan dinding sel dari selulosa atau khitin atau kedua-duanya. Pada umumnya jamur berkembang biak secara seksual dan aseksual.
Dari sisi kehidupannya, jasad ini dikelompokkan ke dalam 2 kelompok. Kelompok pertama dikenal sebagai jasad yang saprofitis yaitu jasad yang hidup dari jasad lain yang sudah mati ataupun dari sisa zat buangan seperti misalnya pada timbunan sampah, tanaman atau hewan yang telah mati, bahan makanan yang disimpan. Kelompok kedua, dikenal sebagai jasad yang parasitis yaitu yang hidup menumpang pada jasad lain yang masih hidup. Kelompok yang terakhir ini sering menimbulkan kerugian seperti halnya penyebab berbagai penyakit kulit.

Melihat dari berbagai bentuk kehidupannya, maka tidak mengherankan bila jamur dapat hidup kapan saja dan di mana saja, selama tersedia substrat yang dibutuhkan dan lingkungan yang menunjang. Kehadirannya di dalam kehidupan kita juga sangat beragam, entah mendatangkan kerugian atau keuntungan baik secara langsung maupun tak langsung. Salah satu keberadaan jamur di lingkungan kita yang terasa sangat menguntungkan adalah keberadaan dalam dunia pangan. Telah kita singgung di atas jamur dapat menjadi makanan lezat. Jamur juga dapat membantu kita dalam pengolahan pangan seperti dalam pembuatan wine, taoco, tempe, tape, kecap, keju, dan banyak lagi.

Kegunaan lain, jamur dapat menjadi bahan obat seperti pada pembuatan antibiotik. Jenis penisilin, misalnya. Dan orang indian telah menggunakan jamur sebagai alat pertahanannya yaitu dengan memanfaatkan racunnya.

Secara tak langsung keberadaan jamur juga menguntungkan karena membantu kita dalam pelapukkan bahan-bahan di alam yang tidak kita gunakan lagi sehingga dapat terjadi recycle di alam ini. Di sisi lain, jamur dapat menyebabkan penyakit kerusakan pangan atau keracunan. Karena itu dengan mengenalnya lebih baik, kita dapat memperoleh manfaat yang lebih besar dan memperkecil kerugian yang mungkin ditimbulkan.
Jenis Jamur Pangan
Mengingat begitu banyaknya jenis jamur yang ada, kita batasi pengenalan kita pada jenis jamur yang dikonsumsi sebagai bahan pangan . Jamur pangan umumnya merupakan jamur lapang atau jamur saprofit yang tumbuh spontan di lapang atau alam terbuka pada bahan-bahan yang mengalami pelapukan.

Jamur pangan ini dahulu diperoleh dengan cara mengumpulkan jamur yang tumbuh liar spontan yang tumbuh liar pada musim-musim tertentu (lembap-musim hujan). Saat ini telah banyak di antaranya dibudidayakan untuk kepentingan komersial.

Jamur merang (volvariella), jamur agaricus (champignon), jamur kuping (auricularia), jamur bulan (gymnopus), shitake (lentinus), jamur tiram atau mutiara (pleuterotus), merupakan jamur-jamur pangan yang banyak dikenal. Mereka sering juga dikenal dengan beberapa nama lain seperti nama daerahnya. Sebagai contoh jamur merang atau paddy strow mushroom dikenal juga sebagai supa pare atau jajaban di Jabar. Jamur dami atau jamur kantung di Jateng atau kulat im bere atau im sere di Minahasa, kulat sagu atau kulat era di Maluku, dan banyak lagi. Demikian juga jamur tiram yang sering juga disebut sebagai jamur mutiara, jamur kayu, jamur shimeji, atau hiratake.(sumb:miteri phenomena)

kulat-anehkullat-ikulat3kulat2images maaf  lima kulat ini fotonya diambil dari sutus-situs internet

SUNGAI MEMBELAH KOTA ASET PEMBANGUNAN BANJARMASIN

sungaiwarung

Oleh Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,8/3 ()- “Sangat elok” demikian, komentar seorang wisatawan dari Negara Malaysia, ketika berkunjung ke wilayah berjuluk “kota seribu sungai dan seribu jembatan” Banjarmasin, Ibukota Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel).
Komentar tersebut terlontar setelah menyaksikan alam lingkungan kota ibukota provinsi bagian Selatan Pulau terbesar tanah air Kalimantan (Borneo) tersebut dimana  sedikitnya 107 sungai dan 250 buah jembatan yang membelah-belah wilayah yang hanya seluas 72 km tersebut,
Kondisi alam Banjarmasin sebenarnya adalah sebuah wilayah yang memiliki karasteristik unik di bandingkan kota manapun di dunia ini, melihat karateristik yang unik dan menarik itu sebenarnya kota ini memiliki sebuah kelebihan, jika dikelola dengan baik dan benar akan melahirkan sesuatu yang menakjubkan, kata Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr Ir Herry Suhardiyanto, MSc saat berada Banjarmasin.
Kehadiran Rektor ITB bersama empat peneliti IPB lainnya ke Banjarmasin dalam kaitan kerjasama antara IPB dengan Pemko Banjarmasin dalam upaya pemanfaatan sungai sebagai aset yang harus dikembangkan mendukung kemajuan kota tersebut.
Menurut Herry kalau sungai dinilai sebuah kelebihan mengapa keberadaan sungai kemudian dikeluhkan sebagai suatu yang menjadi penghambat, akhirnya sungai dirusak bahkan sungai dimatikan.
Sebagai contoh saja karena dinilai sungai sebuah masalah lalu setiap pembangunan fisik perkotaan di Banjarmnasin selalu saja dilakukan pengurukan tanah merah di atas sungai atau rawa, padahal kalau sungai dinilai sebagai aset bagaimanapun dalam pembangunan fisik perkotaan itu seharusnya tidak menghilangkan ciri khas sungai tersebut.
Oleh karena itu ia berharap pemerintah dan masyarakat Banjarmasin menyadari sistem pembangunan selama ini adalah sistem yang bisa menghilangkan kelebihan dan keunikan kota itu.
Kedepan seharusnya dicarikan format yang tepat untuk mengeksploitasi kelebihan tersebut dengan mengutamakan keberadaan sungai dalam setiap kali adanya pembangunan perkotaan.
Salah satu upaya hendaknya dilakukan, merubah sistem tata ruang yang ada dimana sungai-sungai yang membelah kota ini menjadi sesuai ruang yang dilestarikan, sebaliknya hanya kawasan non sungai saja yang diperuntukan bagian dari wilayah pembangunan fisik perkotaan tersebut.
Bila sungai dieksploitasi baik,  sebenarnya akan melahirkan manfaat besar, salah satu yang bisa dirasakan pasti adalah menjadi objek wisata yang menarik.
Bila kota ini mampu menciptakan wisata sungai, kedepannya tanpa dibiayai dengan mahalpun kota ini berkembang sendirinya menjadi sebuah kota yang maju, rakyat yang serjahtera, karena wisata memancing devisa besar bagi peningkatan ekonomi rakyat.
Melalui kerjasama tersebut pihak ITB akan membuat konsep pembangunan kota mengedepankan sungai sebagai daya tarik kota ini.
Wali Kota Banjarmasin, haji Yudhi Wahyuni saat menghadiri HUT Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Banjarmasin mengakui sungai di kotanya begitu banyak, potensi sungai itu tak salahnya dimanfaatkan bagi pembangunan, sungai sebagai daya tarik wisata, daya tarik ekonomi, dan daya tarik transportasi air.
Bukti Pemerintah setempat kian memperhatikan sungai adalah dibentuknya lembaga baru mengurusi sungai, yaitu Dinas Pengelolaan Sungai dan drainase, dan pada tahun 2009 ini mengalokasikan dana miliaran rupiah dalam mengelola sungai tersebut.
Pelaksana Tugas Harian (Plt) Kepala Dinas Sungai dan Drainase, Ir Muryanta ketika dikonfirmasikan menyatakan pihaknya bertekad keras menghidupkan keberadaan sungai, baik sebagai drainase, daerah resapan air, sumber air masyarakat, sumber transportasi air, serta aneka kehidupan sosial ekonomi lainnya.
Instansi yang baru dibentuk tersebut kini berusaha menghidupkan kembali sungai yang mati, karena berdasarkan catatan terakhir terdapat 30 sungai yang sudah kehilangan fungsinya, lantaran mendangkal, dan ditumbuhi gulma dan limpahan limbah perkotaan.
Pihak instansi ini akan memaksimalkan fungsi sungai  yaitu dengan pengerukan dasar sungai dan pelebaran sungai, seperti terlihat di Sungai Veteran, Sungai Jalan A Yani, Sungai Teluk Dalam, Sungai Miai, Sungai Kayu Tangi, dan beberapa sungai lainnya.
Bahkan ratusan rumah yang berada di bantaran sungai sekarang ini dibongkar dan dipindahkan ketempat lain, sementara lahan bekas perumahan bantaran sungai akan dibuatkan siring sungai hingga menjadi kawasan pertamanan kota dan jalur hijau.
Ia menyakan tindakan tersebut karena kedepan Pembangunan Kota Banjarmasin mengarah kepada berbasis sungai yaitu dengan memanfaatkan keberadaan sungai sebagai pilar pembangunannya harapannya perkembangan kota kian maju.
Melihat potensi sungai di Banjarmasin sebagai pilar pembangunan maka Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Banjarmasin kedepan akan dirivisi, semua pembangunan yang ada di kota ini harus memperhatikan potensi sungai tersebut.
Bahkan waktu segera akan dikeluarkan Peraturan Daerah (Perda) tentang sungai, apalabila melanggar ketentuan tersebut maka akan diberikan sanksi berat, agar warga tidak coba-coba lagi menganggu keberadaan sungai tersebut.
Sebagai contoh saja setiap pembangunan jembatan yang menyeberangi sungai, bentuk jembatan  harus dibuatkan melengkung ke atas, agar angkutan  sungai dibawahnya tidak terganggu oleh keberadaan jembatan tersebut.
Bangunan rumah, bangunan pertokoan, kantor, dan bangunan fisik lainnya di pinggir sungai diharapkan tidak lagi belakangnya menjorok ke sungai, melainkan seharusnya muka bangunan menghadap ke sungai kemudian diberi halaman luas dengan taman-taman serta lampu-lampu hias sehingga sungai kian hidup.
Begitu juga dalam setiap pemberian ijin Mendirikan Bangunan (IMB) bakal tidak diberikan kepada mereka yang berusaha membangun bangunan fisik menganggu keberadaan sungai seperti di bantaran sungai.
Sementara bangunan yang sudah terlanjur berdiri di bantaran sungai sedikit demi sedikit akan dibebaskan agar seluruh sungai di kota ini akhirnya bebas dari bangunan fisik, kecuali pertamanan dan penghijauan.
Beberapa lokasi tepin sungai Banjarmasin yang sudah menjadi pertamanan lengkap dengan lampu hias, seperti di siring jalan Sudirman, Siring Metro City, halaman Hotel Boreno, halaman Balaikota Banjarmasin, depan Kantor Gubernur Kalsel, Jalan Pos, dan beberapa kawasan lainnya.
Melihat potensi sungai demikian begitu besar tidak salahnya kalau sungai dimanfaatkan bagi pembangunan kota, khususnya sungai sebagai daya tarik kepariwisataan, daya tarik perekonomian, dan daya tarik transportasi air.
Bahkan melihat sungai demikian telah banyak melahirkan penilaian bahwa Kota Banjarmasin merupakan sebuah kota paling unik, menarik di tanah air yang memiliki nilai jual tinggi ke belahan dunia lain sebagai kota wisata.
Sementara pemerhati lingkungan, Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin, Dr Ir H Rusdi gembira keinginan Banjarmasin menyelamatkan sungai, sebab kalau melihat perilaku warga selama ini bisa jadi 50 tahun kota ini terancam tenggelam.
“Kebiasaan warga dengan  pola hidup selama ini membahayakan kota ini, dimana warga seenaknya membuang sampah ke sungai, melakukan pembangunan fisik dengan tidak memperhatikan kondisi lingkungan, yaitu sistim  pengurukan tanah hingga menghilangkan sungai, dan kawasan resapan air,”katanya.
Perkiraan tenggelamnya daratan kota ini bisa dilihat dengan kenaikan permukaan air di daratan Banjarmasin belakangan ini. Bila permukaan daratan semula hanya 15 Cm di bawah permukaan air laut, sekarang tinggi permukaan air laut bertambah 16 cm sehingga bila air pasang sedikit saja maka kota ini sudah terendam.
“Kondisi permukaan air di daratan Banjarmasin ini harus dicegah pertambahan, yang tentunya dengan kembali menata dan membatasi sistim kegiatan pengurukan tanah di kota yang sudah tua ini,” kata Dekan Fakultas Teknik Unlam di saat dialog mengatasi banjir Kota Banjarmasin, di balaikota.
Rusdi juga mengatakan seringnya banjir melanda kota ini saat diguyur hujan menandakan bahwa kota ini sudah sangat rawan bencana banjir.
“Bila kondisi ini tak segera diantisipasi.kedepan bila sedikit saja hujan maka banjir sudah bisa dirasakan kota ini, apalagi belakangan fenomena alam kian tak bersahabat, maka Banjarmasin bisa menjadi sasaran banjir,”katanya lagi.
Ancaman banjir kota ini selain kota ini tidak ditata juga terjadinya illegal loging, illegal mining di hulu sungai yang muara sungai mengarah ke Banjarmasin seperti Sungai Barito dan Sungai Martapura.
Apalagi tambahnya, dengan pengaruh global warning dengan mencairnya gunung es maka terjadi perubahan permukaan air laut yang terus meninggi yang pengaruhnya juga sampai ke Banjarmasin.
Atas banyak kekhawatiran semacam itulah, pembenahan Kota Banjarmasin yang selama ini banyak berorienrtasi ke daratan mencoba berpaling dengan berusaha membenahi sungai-sungai tersebut menjadi sebuah aset pembangunan untuk kemajuan ekonomi, kemajuan sosial budaya, dan kemajuan kota lainnya yang diharapkan melalui kekayaan sungai akan bisa mensejahterakan masyarakatnya.

REVITALILASI SUNGAI DI BANJARMASIN
Banjarmasin,3/4 (ANTARA)- Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin melalui kantor Dinas Pengelolaan Sungai dan Drainase akan merevitalisasi sungai di wilayah ini.
“Pemko Banjarmasin menyediakan dana setidaknya Rp17,8 miliar pada tahun 2009 dalam upaya merevitalisasi sungai dan drainase,” kata Kepala dinas Pengelolaan Sungai dan Drainase, Muryanta, kepada pers di Banjarmasin, Jumat.
Selama tahun ini, katanya, kegiatan proyek sungai akan dilakukan, baik bidang sungai besar maupun bidang sungai kecil.
Untuk bidang sungai besar, proyek yang dikerjakan adalah normalisasi sungai dengan pembangunan siring tiang pancang, yaitu pembangunan siring di Jalan Piere Tendean dengan nilai Rp9,8 miliar.
Selain itu, revitalisasi dan penataan bantaran sungai kawasan Ujung Murung melanjutkan pekerjaan sebelumnya dengan nilai Rp2,3 miliar.
Sementara proyek di bidang sungai kecil adalah normalisasi sungai Komplek Banjar Indah Permai dengan nilai Rp193,9 juta, normalisasi sungai Kompleks Beruntung Jaya Rp221,2 miliar, serta proyek normalisasi sungai di Jalan Jafri Zam-zam -Saka Permai Rp199,1 miliar.
Proyek di bidang sungai kecil juga meliputi normalisasi sungai antara Jalan Jafri Zam-zam ke arah Cendrawasih, normalisasi sungai Jalan A Yani kilometer enam yang merupakan anak sungai Pemurus.
Kemudian normalisasi sungai Jalan Belitung, sungai Jalan Surgi Mufti, dan normalisasi sungai di Jalan Pengembangan, tambahnya. Dia menyebutkan pekerjaan normalisasi sungai tersebut sudah berlangsung sejak tahun 2008 lalu dalam upaya mengembalikan fungsi sungai.
Dalam kegiatan normalisasi sungai tersebut sudah banyak rumah penduduk di Bantaran Sungai yang dirobohkan, kemudian lahan bekas rumah diubah menjadi taman dan lampu-lampu hias dalam upaya mempercantik kota.
Sebagai contoh saja saat pembebasan perumahan di jalan veteran dan jalan Jafri Zam-zam.
Fungsi sungai di Banjarmasin selain untuk kepetluan sehari-hari manci dan cuci juga untuk transportasi, objek wisata, dan drainase.
Berdasarkan catatan, ada 107 sungai di Banjarmasin, tetapi 30 persen di antaranya sudah dinyatakan tidak berfungsi sebagaimana mestinya karena pendangkalan, tercemar limbah, dan akibat pembangunan fisik perkotaan seperti perumahan dan pertokoan.

50 TAHUN KEDEPAN BANJARMASIN BAKAL TENGGELAM
Banjarmasin,23/2 (ANTARA)- Seorang pemerhati lingkungan, Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Dr Ir H Rusdi HA menilai Kota  Banjarmasin yang merupakan ibukota propinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), 50 tahun, terancam tenggelam jika perilaku masyarakat terhadap kota ini tak segera merubah.
“Kebiasaan warga dengan  pola hidup seperti sekarang jelas membahayakan terhadap kondisi kota ini, dimana warga seenaknya membuang sampah ke sungai, serta melakukan pembangunan fisik dengan tidak memperhatikan kondisi lingkungan, yakni dengan sistim  pengurukan tanah hingga menghilangkan kawasan resapan air,”kata guru besar Unlam itu kepada wartawan di balaikota Banjarmasin, Senin.
Perkiraan bakal tenggelamnya daratan Kota Banjarmasin bisa dilihat dari dengan kenaikan permukaan air di daratan Kota Banjarmasin belakangan ini.
Bila permukaan daratan Banjarmasin yang semula hanya 15 Cm di bawah permukaan air laut,  sekarang tinggi permukaan air laut bertambah 16 cm sehingga bila air pasang sedikit saja maka Banjarmasin sudah terendam.
“Kondisi permukaan daratan Banjarmasin ini harus dicegah pertambahan, yang tentunya dengan kembali menata dan membatasi sistim kegiatan pengurukan kota yang sudah tua ini,” kata Dekan Fakultas Teknik Unlam Banjarmasin ini  di sela-sela dialog mencari solusi mengatasi banjir Kota Banjarmasin, di aula Kayuh Baimbai balaikota Banjarmasin.
Dalam seminar seminar kerjasama Pemko Banjarmasin dengan Unlam tersebut, Rusdi juga mengatakan seringnya banjir melanda Banjarmasin pada saat diguyur hujan menandakan bahwa kota ini sudah sangat rawan bencana banjir.
“Bila kondisi ini tak segera diantisipai mulai sekarang, maka kedepan bila sedikit saja hujan maka banjir sudah bisa dirasakan kota ini, apalagi belakangan fenomena alam kian tak bersahabat, maka Banjarmasin bisa menjadi sasaran banjir,”katanya lagi.
Ancaman banjir di Banjarmasin ini selain kondisi kota yang tidak ditata sedemikian rupa hingga lingkungan terganggu, juga terjadinya illegal loging, illegal mining di hulu sungai yang muara sungai mengarah ke Banjarmasin seperti Sungai Barito dan Sungai Martapura.
Apalagi tambahnya, dengan pengaruh global warning dengan mencairnya gunung es maka terjadi perubahan permukaan air laut yang terus meninggi yang pengaruhnya juga sampai ke Banjarmasin.
Sementara Prof Dr Hadin Muhjad menilai dengan kondisi Banjarmasin yang kerap Banjir atau terendam ini belum terlambat jika mulai sekarang akan dilakukan antisipasi atau pencegahan dengan memberikan payung atau aturan hukum pada saat membangun kota ini diantaranya mengurangi pengurukan tanah saat pembangunan fisik.
Pejabat Sementara Kepala Dinas Drainase dan Sungai Kota Banjarmasin Ir Muryanta ST mengatakan dengan banyaknya persolan yang mengancam kota Banjarmasin, sudah saatnya Pemko mempunyai gagasan untuk mengembalikan pembangunan kota Banjarmasin berbasis Sungai, serta mengelurkan Perda tentang sungai.
“Saat ini ada 77 sungai yang masih hidup dan 30 sungai yang sudah mati, kedepan 30 sungai itu  akan dihidupkan lagi supaya kota Banjarmasin benar-benar bisa mengembalikan kota yang mempunyai julukan kota seribu sungai,” tambahnya.

rumah2 lanting

“PERAHU PINTAR” SALAH SATU UPAYA KALSEL TUNTASKAN BUTA AKSARA

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,7/3 ()- Ketika sebuah “klotok” (perahu bermesin) merapat di tepian sungai Martapura anak Sungai Barito dimana terdapat sebuah Sekolah Dasar (SD) Banua Anyar, Kota Banjarmasin Ibukota Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), serta merta puluhan anak murid sekolah tersebut yang yang lengkap dengan seragam sekolah berlompatan naik ke perahu tersebut.

pinter1
Sebagian anak langsung bergerombol kesebuah komputer yang lengkap menampilkan tayangan internet, anak yang lain asyik mencoba sebuah telpon selular yang tersedia di atas perahu itu, sedangkan tak kalah ramainya anak-anak berada di depan televisi menonton berbagai tayangan media visual tersebut.
Sementara seorang guru dengan anak-anak murid yang lain menuju ke ruang baca yang menyajikan ribuan buku bacaan yang di lokasi perpustakaan perahu tersebut, itulah kegiatan sebuah perahu pintar yang diluncurkan dalam upaya menuntaskan buta akrasa di wilayah Kalsel.
Perahu pintar terbuat dari kontruksi kayu tersebut  setiap hari hilir mudik di Sungai Martapura untuk melayani pembaca di tepian sungai dan pantai di kawasan Banjarmasin serta sekitarnya.
Operasi perahu pinter tersebut setiap hari secara bergantian menyinggahi sekolah dasar di tepian sungai, serta pemukiman komunitas masyarakat bantaran sungai dan pantai.
Perahu pintar  tersebut dilengkapi kumputer yang bisa meakses internet, telpon, televisi yang mampu menangkap sekian banyak chanel siaran telivisi, ditambah ruang perpustakaan, dengan fasilitas lengkap tersebut diharapkan menarik minat masyarakat untuk memanfaatkan fasilitas tersebut.

perahu


Gubernur Kalsel, Drs.Rudy Ariffin ketika melepas peluncuran sebuah perahu pintar bernama “lambung mangkurat I” di Sungai Martapura Banjarmasin, Jumat menyatakan gembira peluncuran perahu pintar yang diprakarsai Komandan Korem (Danrem)101/Antasari Kol Inf Heros Paduppai tersebut.
Menurut Gubernur Kalsel peluncuran perahu pintar ini akan membantu meningkatkan minat baca masyarakat Kalsel, selain itu diharapkan akan membantu penuntasan buta aksara di wilayah ini yang ditargetkan tuntas tahun 2010 mendatang.
Gubernur Kalsel mengakui, berdasarkan perhartiannya, masyarakat Kalsel yang terbanyak menderita buta aksara justru berada di komunitas pinggiran sungai dan tepi laut.
Masalahnya, kebiasanyaan masyarakat di pinggiran sungai dan pantai ini adalah mencari ikan dilaut berhari-hari, hingga tak sempat bersekolah, selain itu ada anggapan mereka tanpa sekolahpun mereka bisa hidup dengan mencari ikan di laut.
Akibat kondisi demikian maka masih banyak warga Kalsel di komunitas semacam itu yang buta aksara, dan hendaknya hal itu menjadi perhatian agar mereka bisa membaca  dan menulis. Kata Gubernur Kalsel, tanpa merinci jumlah penduduk Kalsel yang buta aksara tersebut.
Menurut Gubernur Kalsel, Pemprop Kalsel terus berupaya meningkatkan dunia pendidikan dengan apapun caranya termasuk menyediakan fasilitas perpustaan tersebut, sebelumnya Kalsel juga telah menyediaan perpustaan mobil keliling serta motor pintar (kendaraan roda dua perpustaan) yang masuk keluar kampung-kampung di wilayah ini.
Upaya lain mencerdaskan masyarakat adalah mencanangkan wajib belajar sembilan tahun hingga akhir 2010 ini, serta mencanangkan tahun wajib belajar 12 tahun mulai tahun 2009 hingga tahun 2014 mendatang.
“Kita akan berikan kemudahan bagi warga yang menunaikan wajib belajar 9 tahun dan 12 tahun itu, karena itu bila ada orang tua yang tidak  menyekolahkan anaknya yang masih usia sekolah maka orang tua bisa dikenakan sanksi,” kata Gubernur Kalsel yang didampingi beberapa pejabat Pemprop Kalsel.
Sementara itu, Danrem 101/Antasari Kol Inf Heros Paduppai menyebutkan ide membuatkan perahu pintar tersebut tak terlepas keinginan meningkatkan kecerdasan masyarakat, sekaligus melastarikan kebudayaan sungai yang ada di Banjarmasin.
Ia mengakui peluncuran perahu pintar pertama ini sebagai upaya memancing pihak lain membuatkan perahu pintar- perahu pintar yang lain, dan agaknya keinginan tersebut telah direspon karena nantinya akan ada perahu pintar kedua yang dibiayai pihak perbankan, perahu pintar ketiga dibiayai Pemprop Kalsel dan diharapkan perahu pintar keempat oleh Pemko Banjarmasin.
Menurutnya, keberadaan perahu pintar ini dijadualkan akan mengunjungi satu persatu sekolah dasar (SD) yang ada di bantaran sungai Banjarmasin, sehingga anak-anak bantaran sungai dan tepian sungai lainnya bisa memanfaatkan fasilitas perpustakaan tersebut.
Perahu pintar yang pembuatan dan pembiayaan lainnya menelan dana Rp70 juta tersebut dilengkapi berbagai fasilitas telekomunikasi dan sarana bacaan.
Menurut, Danrem 101/Antasari perahu pinter pertama ini dinamakan perahu Lambung mangkurat I, tetapi diharapkan akan ada lagi Perahu Lambung mangkurat II, Lambung Mangkurat II, Lambung Mangkurat III dan perahu Lambung mangkurat seterusnya.
“Saya sudah berbicara dengan pihak lembaga perbankan ternyata pihak lembaga keuangan tersebut bersedia membangunkan lagi sebuah perahu Lambung mangkurat II,” kata Danrem 101/Antasari.
Mendengar pernyataan tersebut, serta merta Gubernur Kalsel yang hadir bersama Wakil Gubernur Kalsel, Rosehan NB dan pejabat di lingkungan Pemprov Kalsel menyatakan bersedia membangunkan sebuah perahu Lambung Mangkurat III.
“Untuk perahu  Lambung mangkurat IV, yang merupakan perahu pinter keempat kita mintakan dibangun Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin,” kata Gubernur Kalsel yang datang mengenakan kain khas Kalsel Sasiringan tersebut.
Seorang tokoh masyarakat Kalsel, Gusti Rusdy Effendi  AR yang juga pemimpin umum Harian Banjarmasin Post menyambut baik kehadiran perahju pinter tersebut, karena menurutnya hal itu merupakan lanjutan pengoperasian perhu pinter yang pernah dibuat oleh harian terbesar Kalsel itu era tahun 80-an.
Era tahun 80-an Banjarmasin Post pernah mengoperasikan perahu pinter dengan berbagai bahan bacaan, sekaligus digunakan untuk menjajakan surat kabar Banjarmasin Post ke berbagai pelosok pemukiman bantaran sungai dan  pantai.
Akibat pengoperasian perahu tersebut maka pihak Banjarmasin Post pernah diundang ke Negara India untuk mempresentasikan cara pemasaran surat kabar ke berbagai pelosok melalui sungai tersebut, kata Gusti Rusdi Effendi AR tersebut.
Menurutnya upaya penuntasan buta aksara di Kalsel harus didukung sepenuhnya oleh segenap masyarakat, termasuk membangunkan perahu pinter tersebut.

Dampak yang diharapkan pengoperasian perahu pintar di Sungai Banjarmasin selain membantu mencerdaskan bangsa juga akan menambah kesemarakan sungai Banjarmasin yang sudah dikenal sebagai objek wisata di Indonesia ini.
“Saya berharap bukan hanya perahu pinter yang hilir mudik di Sungai Banjarmasin ini, tetapi juga perahu-perahu lembaga lainnya, termasuk perahu perbankan untuk melayani nasabah bank di pemukiman bantaran sungai dan pantai” katanya.
Gusti Rusdi Effendi AR yakin bila kian banyak perahu berkeliaran di Sungai yang yang membelah Kota Banjarmasin maka akan meningkatkan kekhasan sungai ini dan kian banyak pula wisatawan datang menikmati wisata sungai.
Banjarmasin dikenal sebagai kota seribu sungai dengan jumlah sungai membelah kota ini sebanyak 107 buah, objek wisata yang paling dikenal adalah pasar terapung Desa Kuin Banjarmasi.
Sebelumnya secara terpisah Gubernur Kalsel pernah mengungkapkan sebanyak 44.242 warga Kalsel yang tersebar di 13 kabupaten dan kota masih menderita buta aksara, atau tidak bisa membaca dan menulis, terutama di daerah terpencil maupun pelosok desa.
Besarnya jumlah warga yang belum melek baca tersebut karena tidak adanya kesempatan untuk melanjutkan pendidikan, akibat keadaan ekonomi maupun terbatasnya sarana pendidikan di Kalsel terutama untuk daerah terpencil.
Guna mengurangi banyaknya warga yang masih belum bisa membaca tersebut, Pemprov Kalsel telah membuat program pengentasan buta aksara sejak tahun 2006.
Menurut gubernur, pada 2006 jumlah warga yang masuk dalam program penuntasan buta aksara mencapai 11.114 warga, 2007 kembali diprogramkan sebanyak 19.730 orang, sedangkan sisanya yaitu, 13.733.
Program penuntasan buta aksara, diantaranya dengan program kejar paket A hingga paket B tambahnya, menjadi salah satu prioritas untuk dilaksanakan secara berkesinambungan karena berkaitan langsung dengan peningkatan sumber daya manusia (SDM).
Pengoperasian perahu pinter, mobil-mobil pinter dan sepeda motor pinter yang menyebar di berbagai pelosok daratan dan sungai diharapkan kian menuntaskan buta aksara di wilayah paling selatan Pulau terbesar Indonesia Kalimantan ini.

Gub Kalsel di dalam perahu pintar

CBM PILIHAN KEBUTUHAN ENERGI INDONESIA KEDEPAN

Oleh Hasan Zainuddin

Banjarmasin,27/2 (ANTARA)- Ketika berbicara dalam sebuah seminar, Gubernur Kalimantan Selatan (Kalsel), Drs.Rudy Ariffin  mengatakan  potensi Coalbed Methane (CBM) di Indonesia,  begitu besar CBM merupakan energi pilihan guna memenuhi kebutuhan energi masa depan Indonesia.
Masalahnya, cadangan CBM begitu melimpah yang belum dimanfaatkan, tinggal bagaimana mengelola bahan tersebut menjadi energi masa depan, katanya dalam seminar yang diikuti sekitar 150 orang dari Kalsel, Kalteng, dan Kaltim, di Banjarmasin, Jumat.
Menurut Gubernur Kalsel, peningkatan kebutuhan energi di masa mendatang seperti minyak bumi, gas, dan batubara akan terus terjadi seiring dengan pertumbuhan ekonomi baik di tingkat regional, nasional, dan dunia.
Indonesia tidak bisa lagi mengandalkan minyak bumi sebagai sumber energi utama dalam memenuhi kebutuhan energi  nasionalnya karena dua hal.
Pertama, beban impor minyak bumi akan terus memberatkan apbn karena indonesia telah menjadi negara net-importer minyak bumi. Kedua, rasio cadangan dan produksi minyak bumi saat ini menunjukkan cadangannya hanya cukup untuk 18 (delapan belas) tahun .
Menyadari kenyataan tersebut, kebijakan pembangunan energi nasional diarahkan untuk diversifikasi energi dengan beralih dari minyak bumi ke gas bumi dan batubara yang memiliki rasio cadangan dan produksi masing-masing hingga 60 (enam puluh) dan 240 (dua ratus empat puluh) tahun .
Jika menilik besarnya sumberdaya batubara indonesia yang begitu besar, sesungguhnya sangat logis jika batubara dijadikan sebagai sumber energi utama nasional di masa mendatang.
Namun demikian, dengan  semakin ketatnya regulasi yang berkaitan dengan perlindungan lingkungan, utamanya terkait dengan isu pemanasan global, maka batubara di masa mendatang menjadi kurang kompetitif dari aspek lingkungan  dibanding energi lain yang termasuk kategori ”clean energy” seperti gas bumi.
Dengan demikian, karena cadangan gas bumi tidak bisa digunakan untuk jangka panjang, maka perlu mencari alternatif energi lain yang termasuk kategori ”clean energy” namun potensinya cukup melimpah.
Jawabannya adalah coalbed methane (cbm) atau sumberdaya cbm di indonesia sebesar 435 trilyun cubic feet . sumberdaya cbm ini, 92 persennya termasuk kategori dengan prospeksi tinggi atau ”highly prospective” yang utamanya ditemukan di Sumatera Selatan (183 trilyun cubic feet), Kalsel (101,6 trilyun cubic feet), Kalimantan Timur (Kaltim) (80,4 trilyun cubic feet), dan Provinsi Riau (52,5 trilyun cubic feet) .
Ketersediaan sumber energi sangat diperlukan untuk menjamin pasokan listrik yang cukup dan berkelanjutan demi mendorong pertumbuhan ekonomi dan menunjang aktifitas sosial-ekonomi masyarakat.     Penyediaan listrik yang berkelanjutan dapat dilakukan dengan cara diversifikasi energi. Provinsi Kalsel sebagai salah satu lumbung energi nasional memiliki peran penting dalam usaha diversifikasi energi.
Diversifikasi energi menitik-beratkan pada usaha mencari alternatif sumber-daya energi selain minyak dan gas.
Saat ini, pasokan listrik di wilayah Kalsel dan tengah berasal dari batubara (dengan 2 unit pltu), tenaga air (3 unit PLTA), dan minyak bumi dan gas (29 unit PLTD/gas).
Dari berbagai unit pembangkit ini, masih terjadi defisit listrik terutama saat beban puncak antara 20 (dua puluh) hingga 70 (tujuh puluh) mega watt .
Untuk mengatasi hal ini, pemerintah mengambil kebijakan untuk membangun Pembangkit Listrik tenaga uap (PLTU) mulut tambang dengan pertimbangan ketersediaan sumberdaya batubara yang cukup melimpah di wilayah Kalimantan.
Namun demikian, karena batubara bukanlah termasuk dalam kategori ”clean energy” maka pengembangan CBM di masa mendatang menjadi sangat strategis dalam penyediaan energi karena CBM termasuk ”clean energy” dan potensinya yang cukup besar.
Penggunaan CBM untuk pembangkit listrik atau coalbed methane-fueled power plant akan menghasilkan ”clean electricity” atau ”green electricity.”
Pemanfaatan CBM memang terutama sebagai pembangkit listrik yang ramah lingkungan, namun gara-negara tertentu seperti China, telah melangkah lebih jauh dalam memanfaatkan CBM misalnya sebagai pengganti bahan bakar minyak bagi kendaraan bermotor.
Di Jincheng, China, penggunaan CBM untuk kendaraan bermotor menunjukkan CBM lebih irit 50 persen dibanding bensin dan lebih ramah lingkungan karena menghasilkan sedikit emisi karbondioksida, tidak menghasilkan timbal, tidak mengandung oksida sulfur, dan 40 persen lebih rendah kandungan oksida nitrogen .
Pemanfaatan CBM yang luas ini tentunya merupakan berita gembira karena CBM yang potensinya cukup besar di Kalimantan ternyata menyimpan potensi ekonomi yang besar dan strategis untuk dikembangkan saat ini dan masa-masa mendatang.
Pada acara  seminar dan dialog ini turut hadir dr. paul massarotto, pakar CBM dari the university of queensland, australia.

AHLI AUSTRALIA PEMBICARA DI SEMINAR COLBED METHANE BANJARMASIN
Banjarmasin,27/2 (ANTARA)- Seorang ahli dari Queensland University Australia, Mr. Prof.DR.Paul Massaroto bertindak selaku pembicara dalam seminar dan dialog mengenai Coalbed Methane (CBM) yang berlangsung di Kota Banjarmasin.
Seminar tersebut dibuka Gubernur Kalimantan Selatan, Drs.Rudy Ariffin di aula Hotel Rattan Inn Banjarmasin, Jumat dengan tujuan memberikan informasi secara umum kepada masyarakat Kalimantan tentang apa dan bagaimana peran CBM di masa depan, sehingga tercipta kesamaan persepsi,
Gubernur Kalsel saat membuka seminar tersebut mengatakan sangat senang kehadiran Dr. Paul Massarotto, pakar CBM dari the university of queensland, australia.
kehadiran ahli ini tentu akan memberi nilai strategis dalam upaya pengembangan CBM untuk mendukung pembangunan ekonomi di Kalsel dan regional Kalimantan karena selain merupakan akademisi, beliau memiliki pengalaman mendalam dalam pengembangan dan komersialisasi CBM di berbagai negara.
Kehadiran ahli ini, juga bernilai penting bagi universitas-universitas  di Kalsel, karena juga melakukan penjajakan kerjasama ”research and development collaboration on cbm development” antar institusi perguruan tinggi di Kalsel dengan the university of queensland, australia.
Hal yang lebih membahagiakan lagi, beliau juga menawarkan riset untuk program doktor kepada dosen-dosen universitas-universitas di Kalimantan mengenai CBM dan bidang-bidang terkait serta membantu pencarian beasiswanya.
Bersama Dr. Paul Massarotto turut hadir juga perwakilan dari kalangan industri migas seperti Shell International,  Murphy Oil South Barito Limited, dan Arrow Energy.
Tentunya, kehadiran perusahaan-perusahaan internasional ini diharapkan bisa menjadi angin segar dalam upaya menarik investor di bidang energi ke Kalsel khususnya dan regional Kalimantan umumnya.
Lebih jauh, kata Gubernur Kalsel agar investor mendapatkan kepastian hukum dalam berinvestasi di bidang energi khususnya CBM, maka dalam kesempatan ini Dirjen Migas akan memberikan paparan mengenai regulasi pemerintah pusat berkaitan dengan pengembangan dan komersialisasi CBM.
Pembicara dalam seminar yang diikuti 150 peserta dari Kalsel, Kalteng, dan Kaltim tersebut dari .    Direktorat Jenderal Migas, dari Jakarta yang diwakili Kasubdin Pemanfaatan gas Direktur Hulu, Dirjen Migas Departemen ESDM.
Juga berbicara pihak perusahaan pemenang kontrak wilayah kerja CBM, dari Jakarta yang akan mengelola kandungan CBM yang ada di Kabupaten Barito Kuala (Batola), serta dri pemerintah Kabupaten Batola itu sendiri.
Peserta seminar, menurut Kepala Dinas Pertambangan Kalsel, Alie Mujanie adalah  dari instansi Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, Tengah dan Timur, anggota DPRD Provinsi Kalsel,  unsur pemerintah Kabupaten/Kota se- Kalsel,  unsur pengusaha, industri pertambangan batubara, kalangan akademisi, media cetak dan lainnya.

Potensi CBM Kalsel Terbesar Kedua di Indonesia

Potensi Coalbed Methane (CBM) di Desa Barambai Kabupaten Barito Kuala mencapai 101,6 triliun M3,  merupakan potensi terbesar setelah Sumatera Selatan. Gas metana ini sebagai sumber energi ramah lingkungan, sekitar 435 trilun M3 sebagai cadangan CBM di Indonesia.

“Potensi yang besar ini, semoga bisa dikelola dengan sebaik-baiknya, ramah lingkungan, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat” kata Gubernur Kalsel H Rudy Ariffin ketika membuka Seminar dan Dialog Forum Kerjasama Revitalisasi dan Percepatan Pembangunan Regional Kalimantan (FKRP2RK), Jum’at (27/02), di Banjarmasin.

Seminar dengan tema “Pengembangan CBM sebagai sumber energi bersih di Kalimantan yang penting bagi perekonomian pakar CBM dari The University of Queensland Australia, DR. Paul Massorotto, Direktur Pemanfaatan Gas, Dirjen Migas, Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) RI, Darwis Sirait.

Seminar dan dialog yang juga dihadiri dari kalangan industri Migas seperti Shell International, Murphy Oil South Barito Limited dan Arrow Energy, diharapkan lebih memperjelas regulasi Pemerintah Pusat untuk pengelolaan potensi daerah khususnya tentang gas, sehingga regulasi tersebut bisa menunjang regulasi daerah. Kemudian dari sini, bisa sinergis antara Pemerintah Pusat dan Daerah pengelolaan potensi daerah,” harap Rudy.

Direktur Pemanfaatan Gas, Dirjen Migas, Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) RI, Darwis Sirait mengatakan Eksplorasi CBM merupakan hal baru di Indonesia, sehingga saat ini belum ada satupun perusahaan yang diberikan izin eksplorasi, termasuk potensi CBM yang ada di Desa Barambai, Kabupaten Barito Kuala.

Untuk bagi hasil eksplorasi ditentukan tim dari Departemen ESDM yang mengacu pada potensi CBM yang akan dieksplorasi, dengan pembagian 55 persen untuk Pemerintah dan 45 persen untuk pemilik izin.

“Sudah ada 2 perusahaan yang mengantongi ijin eksplorasi dari Departemen ESDM untuk mengelola sumur gas metana di Desa Barambai, yakni Barito Basin Gas dan Indonesia Barambai Gas Methan,” ujarnya.

Dalam hal pemberian izin, kita mengacu pada Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 36 Tahun 2008, makanya pemberian izin eksplorasi CBM dilakukan melalui tender, kecuali untuk lima perusahaan yang siap melakukan kontrak eksplorasi selama 30 tahun.

Turut hadir dalam seminar Bupati Barito Kuala H Hasanuddin Murad,SH dan Wakil Bupati Barito Kuala Drs. H Sukardhi.

PENGALAMAN BERADA DI KEDISIPLINAN WARGA SERAWAK MALAYSIA
Oleh Hasan Zainuddin
Perjalanan darat yang melelahkan Pontinak (Kalbar) ke Kuching (Serawak Malaysia Timur) seakan  tak terasa  bila perjalanan tersebut dimanfaatkan untuk mencermati perbedaan yang mencolok dalam hal kedisiplinan antara masyarakat kota Indonesia, khususnya warga kota saya Banjarmasin dengan warga Kuching.
Walau kedua warga tersebut sama-sama berada di daratan pulau terbesar, Kalimantan (Borneo) tetapi karena perbedaan budaya, akhirnya melahirkan perbedaan kedisiplinan yang pada gilirannya membentuk karaktek baik dalam kehidupan sosial budaya maupun ekonomi.
Kuching yang hijau

Sebagai contoh kecil saja, saat bus besar yang menghantarkan penulis dalam perjalanan Pontianak-Kuching, saat berada di wilayah Indonesia begitu mudah terlihat hutan yang terbakar, tumpukan kayu hasil gergajian di pinggir jalan, gunung gundul, hutan terbuka, gubuk-gubuk kecil bertumbuhan di pinggir jalan, serta terlihat kotor di wilayah jalan yang dilalui.
Tetapi setelah berada di perbatasan, Entikong kemudian masuk wilayah Malaysia, hutan yang gundul nyaris tak terlihat, yang ada hanyalah hutan lebat kendati terbuka itupun hamparan perkebunan lada yang menghijau.
Tak pernah lagi terlihat hutan terbakar, tumpukan kayu hasil tebangan di pinggir jalan, serta jalan begitu bersih dan licin.
Memasuki kota KUching, susana teratur begitu terasa, dimana kawasan pemukiman terlihat begitu rapi terletak pada satu kawasan sendiri, sementara kawasan perkantoran juga berada di kawasan lain, begitu pula kawasan pertokoan, sehingga tampak begitu teraturnya.
Jalan-jalan begitu lebar, sehingga walau kendaraan terlihat jumlah banyak tetapi begitu mudah meluncur tanpa adanya kemacetan, median jalan selalu dihiasi dengan pertamanan dengan aneka bunga bewarna-warni.
Yang menarik sepanjang perjalanan di dalam wilayah kota Kuching walau arus lalu-lintas begitu padat tetapi tak tampak ada polisi yang mengatur lalu-lintas, para sopir begitu disiplin di saat apa mereka harus berhenti, dan dilokasi mana mereka harus parkir kendaraan roda empat atau roda dua.
Yang menarik pula, walau kendaraan begitu padat tetapi nyaris tak pernah terdengar bunyi kelakson mobil atau motor. Sementara untuk kendaraan roda dua walau siang hari tetapi tetap menyalakan lampu depannya.
Setibanya terminal bus di Kuching, tak tampak ada kesemrawutan , bus parkir begitu rapinya, tidak ada sama sekali tukang parkir, apalagi calo-calo penumpang seperti yang ada di Indonesia, sama sekali tak pernah kelihatan.
Pedagang asongan yang biasanya berkeliaran di terminal di Indonesia sama sekali pula tak pernah kelihatandi kota ini, apalagi pengemis.
Bahkan pedagang kaki lima saja susah didapati dikota yang terletak dibagian Utara Pulau Kalimantan ini.
Kedisiplinan Kota Kuching telah melahirkan keteraturan kehidupan kota yang berlambang binatang Kuching tersebut, bukan saja di hotel, restauran, serta dimanapun budaya antri begitu terasa, sehingga kita merasa malu bila harus melanggar disiplin di kota ini.
Kota Kuching, di negara bagian Serawak, Malaysia, negara ini luasnya sekitar 124.000 kilometer dengan penduduk sekitar 2,3 juta itu. Memang penataan kota Kuching adalah salah satu yang terbaik di Malaysia… status nya juga sebagai kota ke 4 terbesar di Malaysia setelah Kuala Llumpur, Johor Bahru, dan Penang.
Kuching terbagi dua wilayah, Kuching Utara yang didominasi Melayu, dan Kuching Selatan dengan komunitas terbanyak orang China.
Kehidupan dua wilayah begitu kontras, di Utara terlihat tenang dan sejuk penuh dengan nuansa keIslamannya, sementara di Selatan terlihat hiruk pikuk dengan kehidupan modern yang metropolis.
Kendati Kuching Selatan telah berubah menjadi sebuah wilayah metropolis ditandai bermunculannya gedung pencakar langit, perhotelan, mall, dan lokasi-lokasi kosentrasi warga lainnya tidak berarti kota ini semrawut, tetapi dengan kedisiplinan warga tetap saja kota ini teratur, penuh dengan tanaman hijau, serta pertamanan yang berwarna-warni.
Porsi lahan terbuka hijau agaknya menjadi prioritas penataan kota ini, sehingga dimana-mana selalu terlihat ruang terbuka hijau yang terkenal adalah ditepian Sungai Serawak, water front city yang terkenal tersebut.
Satu hal yang perlu diacungi jempol dalam kehidupan di kota Kuching dimana-mana selalu terlihat aman dan tentram, tidak terdengar adanya pencopetan apalagi penjampretan di tengah keraiaman kota.
Toleransi kehidupan begitu tinggi, sebagai contoh di tepian sungai yang penuh dengan lokasi objek wisata warga bebas menikmati wisata tersebut tanpa harus terganggu oleh warga lainnya.
Bagi umat Islam yang berpakaian muslimnya begitu asyik membaca buku-buku agama, sementara di sisinya orang bule berpasangan dengan pakaian minim begitu mudah bercengkarama, sementara warga lain dengan aneka aktivitas bebas melakukan aktivitas dengan saling menghormati satu sama lain.
Berdasarkan keterangan kehidupan dunia wisata kota Kuching dalam dasawarsa belakangan ini begitu tumbuh dengan pesat, kiatnya hanya menjajakan potensi alam Serawak yang tidak lain sama saja dengan alam yang ada di wilayah Kalimantan, termasuk di kampung halamanku Banjarmasin atau Kalimantan Selatan.
Pihak orang bule yang ada di belahan dunia ini mengenal nama borneo atau kalimantan, maka orang seakan hanya ingat Serawak atau Kuching, karena negara ini begitu gencar menjual Kalimantan ke belahan dunia lain.
Padahal kita tahu, wilayah Serawak hanya sebagian kecil dari daratan Kalimantan yang luas ini dan sebagian besarnya justru berada di Indonesia, tetapi kurang promosi justru wisatawan mancanegara tidak tahu kalau Kalimantan itu berada di Indonesia, mereka
mengira kalau Borneo tersebut hanya berada di Malaysia.
Potensi alam Serawak itu diekploitasi sebegitu rupa sebagai objek wisata alam hanya menjual uniknya pepohonan dan tumbuhan kalimantan, kemudian menjual keberadaan hewannya, seperti keberadaan Bekantan (nasalis larvatus) begitu gencar dipromosikan sehingga wisatawan begitu deras kee wilayah ini.

gueaku dimenara Kuching

Padahal kita tahu, Bekantan itu justru terbanyak berada di wilayah Kalimantan Selatan, bahkan menjadi maskot wilayah ini, tetapi kurang promosi hingga wisatawan mengenal bekantan justru dari Serawak.
Melihat museum ikan di Kota Kuching hanya menjajakan ikan-ikan lokal, sepertri saluang, ikan baung, pepuyu, sepat, patin, lais , ikan puyau yang sama dengan ikan lokal di wilayah saya Kalimantan Selatan.
Tetapi karena ikan-ikan ini diletakan begitu rupa dalam sebuah museum ternyata sangat diminati wisatawan, buktinya banyak wisatawan mancanegara yang berlama-lama mencermati ikan-ikan lokal itu, bahkan membidik-bidikan kameranya hanya untuk mengambil gambar ikan-ikan lokal tersebut.
Peophonan lokal seperti pohon enau (aren) , pohon rumbia yang juga sengaja dibiarkan tumbuh ditengah perkotaan Kuching ternyata menjadi perhatian wisatawam, dengan hal-hal sederhana seperti itu tetapi dikelola sedemikian rupa ternyata dunia wisata Serawak berkembang luar biasa.
Mengapa negara kita yang memiliki kekayaan yang luar biasa seperti itu tidak dikelola sedemikian rupa pula.

Sejarah Serawak
Berdasarkan sejarahnya, pada awal abad ke-19, Sarawak termasuk wilayah Kesultanan Brunei. Dalam periode pemerintahan Sultan Brunei Omar Ali Saifudin II (1827–1852), terjadi berbagai kerusuhan dan pemberontakan yang tidak bisa diatasi pihak kesultanan. Akhirnya Pangeran Muda Hashim, Gubernur Sarawak pada masa itu, meminta bantuan James Brook, seorang utusan Kerajaan Inggris, untuk memadamkan kerusuhan dan mengendalikan keadaan.
Sebagai imbalannya, dihadiahi wilayah Kuching (sekarang ibu kota Sarawak) dan sekitarnya. Dalam perkembangannya Kesultanan Brunei kemudian mengangkat James Brook sebagai gubernur Sarawak.
James Brook akhirnya mengukuhkan diri sebagai penguasa penuh Sarawak pada 1842 dan dikenal sebagai pendiri Dinasti Rajah Putih. Dinasti Brook terus memperluas wilayahnya hingga Kesultanan Brunei akhirnya hanya menguasai daerah sungai dan pesisir, yaitu lokasi Kesultanan Brunei Darussalam kini.
Dinasti Rajah Putih ini berlangsung hingga tiga generasi. Salah satu aspek pemerintahan Dinasti Brook yang dianggap positif masyarakat Sarawak adalah komitmennya melindungi eksploitasi terhadap penduduk asli, khususnya suku-suku Dayak, yang pada era itu relatif lebih terbelakang dibanding dengan etnis Melayu atau China.
Dinasti Brook juga mengundang orang-orang China datang ke Serawak, tetapi melarang kaum pedagang ini tinggal di luar wilayah kota agar tidak merusak tradisi suku Dayak Iban dan Bidayuh.
Antara tahun 1962 dan 1966, Sarawak merupakan medan utama dari konfrontasi Indonesia-Malaysia, yang genderang perangnya ditabuh Bung Karno, Presiden Pertama RI.
Sejarah akhirnya berpihak kepada Malaysia yang berhasil menggandeng Sarawak dan Sabah ke dalam negara federasi Malaysia. Brunei memilih berdiri sendiri hingga kini.
Dalam proses tarik-menarik Sarawak itulah terjadi tawar-menawar politik yang hasilnya menguntungkan rakyat Sarawak hingga kini. Salah satu kesepakatan yang diperoleh dalam proses itu adalah kewenangan cukup besar dalam masalah kependudukan. Meskipun menjadi salah satu negara bagian Malaysia, setiap warga Malaysia non-Sarawak harus menggunakan paspor dan wajib lapor secara rutin jika mereka tinggal atau bekerja di Sarawak.
Dengan demikian, rakyat Sarawak mempunyai wewenang dan otonomi yang baik terhadap wilayahnya. Tidak mengherankan jika kini wilayah kurang lebih 37,5% dari luas daratan Malaysia itu lebih makmur daripada wilayah Kalimantan pada umumnya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 45 pengikut lainnya.