BANJARMASIN KIAN DIRISAUKAN PENULARAN AIDS

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin, 6/3 (ANTARA)- Warga Kota Banjarmasin ibukota Provinsi Kalimantan Selatan kini mulai dirisaukan dengan terungkapnya penularan penyakit yang mematikan Human Immunodeficiency Virus (HIV) and Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS).
Dengan terungkapnya penularan penyakit tersebut tentu banyak menimbulkan tanda tanya besar di kalangan masyarakat setempat, mengingat wilayah ini termasuk wilayah agamis.
Karena wilayah dinilai agamis, maka oleh pemerintah dan masyarakat setempat tidak dibolehkan adanya lokasi pristitusi, umpamanya lokalisasi seperti di kota-kota besar.
Namun mengapa penyakit yang biasanya berjangkit di lokasi pristitusi seperti itu kini merebak di wilayah yang sebenarnya “mengharamkan” lokalisasi.
“Ini berarti ada yang tak benar di wilayah yang berpenduduk sekitar 700 ribu jiwa ini, dan ini harus dicari penyebabnya,” kata beberapa penduduk Kota Banjarmasin.
Kasus Aids ini telah menimbulkan dugaan banyak pihak adanya praktek pristitusi terselubung di tempat-tempat terselubung pula, yang menerpa kota yang berjuluk Kota Dengan Seribu Sungai ini.
Terungkapnya penuluaran penyakit Aids di Banjarmasin seperti yang diutarakan Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin, Drg Diah R Praswasti kepada wartawan.
Berdasarkan penuturan Diah R Praswasti di Kota Banjarmasin, penularan penyakit Aids yang terpantau Dinas Kesehatan setempat terjadi peningkatan dan sekarang sudah 33 kasus.
“Serangan Aids di kota Banjarmasin terus meningkat dan itu sungguh merisaukan hingga memerlukan kewaspadaan kita semua untuk menanggulanginya,” katanya.
Yang cukup merisaukan pula penyakit yang menakutkan tersebut sudah menjalar ke kalangan usia remaja yaitu pelajar, tambahnya lagi tanpa merinci pelajar mana yang terkena penyakit tersebut.
Berdasarkan data yang ia himpun dari petugas dilapangan warga Banjarmasin yang terkena Aids 33 orang dan terinveksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) tercatat 52 orang.
Mereka yang terbanyak terjangkit penyakit yang pernah menghebohkan dunia tersebut, adalah kelompok yang memang beresiko tinggi yaitu Pekerja Seks Komersial (PSK).
Selain itu mereka yang berprilaku seks menyimpang seperti homoseks, lesbian, serta prilaku bebas lainnya disamping jarum suntik, obat-obatan terlarang, dan akibat lainnya.
Pihak Dinkes Banjarmasin sendiri selalu melakukan penyuluhan agar penyakit tersebut tidak meluas, terutama penyuluhan di kalangan pelajar,mahasiswa, dan masyarakat umum, khususnya mereka yang beresiko tinggi terjangkit virus yang belum ada obatnya tersebut.
Bahkan di Banjarmasin terdapat satu lembaga khusus menanggulangi penyakit ini yaitu Komisi Penanggulangan Aids (KPA) , serta lembaga lainnya.
Pencegahan
Dengan kian merebaknya penyakit Aids telah menimbulkan keinginan banyak pihak untuk mencegah penularan penyakit itu, antaranya dari Komisi Penanggulangan AIDS (KPA), baik KPA Kota Banjarmasin maupun KPA Kalsel.
Koordinator Sekretaris KPA Kalsel, Mursalin meminta masyarakat juga harus berperan serta dalam penanggulangan pencegahan penyebaran penyakit HIV/AIDS.
KPA Kalsel dalam penanggulangan ini melakukan sosialisasi terhadap masyarakat luas hingga ke daerah pinggiran, ke tempat hiburan malam, lembaga pemasyarakatan,serta pengambilan simpel darah.
Untuk mencegah penularan penyakit ini di Banjarmasin, yakni membentuk aturan melalui Perda.
“Melihat sudah banyaknya warga Banjarmasin terjangkit aids,maka dipandang perlu adanya aturan menangkal penyakit itu,” kata Ketua panitia khusus (Pansus) Raperda Aids DPRD Banjarmasin, M Dafik As’ad.
Disebutkannya pansus DPRD setempat sudah bekerja menggodok Raperda agar menjadi Perda, dengan melakukan studi banding ke Kota Bekasi, serta meminta pengetahuan ilmu mengenai aids ke Kementerian Kesehatan RI di Jakarta.
Dengan adanya Perda tersebut nantinya ada larangan aktivitas masyarakat yang bisa berpeluang berjangkitnya aids.
Sementara data lain menunjukan hingga akhir 2011 terdapat 257 penderita HIV/AIDS di Provinsi Kalsel. Perinciannya 191 orang penderita HIV dan sisanya 66 kasus merupakan penyandang AIDS, secara nasional kasus AIDS yang dilaporkan 24.482 kasus.
Melihat kian merebaknya Aids berbagai kalangan mengharapkan pemerintah lebih serius menanggulangi penyakit ini, melalui sebuah gerakan khusus melebihi dari gerakan pencegahan penyakit lain karena penyakit memang sangat membahayakan, dan kian mengkhawatirkan saja.***3***

Iklan

KAIN TENUN SARIGADING ITU DIBUAT UNTUK OBAT

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin, 6/3 (ANTARA) – Berbagai cara dilakukan untuk pengobatan bagi masyarakat pedesaan, khususnya di berbagai wilayah pedalaman Kalimantan Selatan, antaranya memanfaatkan sebuah kain tenun.
Kain tenun yang khusus untuk obat itu dipakai maka dipercayai menyembuhkan suatu penyakit yang sulit disembuhkan melalui medis, itulah sebuah kepercayaan masyarakat khususnya di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU).
Kain tenun yang disebut Sarigading, bagi sebagian orang yang dipercayai begitu ampuhnya mengobati penyakit yang dianggap sulit disembuhkan.
“Penyakit yang dianggap tak bisa disembuhkan secara medis tersebut adalah penyakit yang dianggap karena keturunan, makanya pengobatannya harus menggunakan kain tenun Sarigading,” kata Noor Saidah seorang pembuat kain tenun Sarigading.
Saidah mengaku sering kedatangan tamu yang minta dibuatkan kain sarigading sebagai syarat untuk penyembuhan penyakit, meski dia sendiri tidak tahu ikhwal mengapa kain tenun ini bisa menjadi syarat berobat.
“Mereka mengaku sembuh setelah memakai kain tenun saya” ujar Noor Saidah.
Namun yang pasti hanya orang tertentu saja yang menggunakan kain tenun Sarigading ini sebagai media berobat oleh sebab leluhur mereka dulu juga menggunakan kain ini,tambahnya.
Ia mengakui kegiatan menenun Kain Sarigading sudah diwarisi keluarganya sejak enam generasi berawal pada Penjajahan Jepang.


Kala itu cerita Saidah Jepang melarang masyarakat HSU menggunakan kain tekstil sehingga mendorong masyarakat menenun kain sendiri secara sembunyi sembunyi.
“Bila tidak membuat kain tenun sendiri warga kala itu terpaksa menggunakan bahan seadanya untuk menutupi tubuh mereka” tutur Saidah.      Untungnya, lanjut dia, kegiatan tenun menenun kain ini sudah diwarisi Masyarakat HSU sejak zaman Kerajaan Negara Dipa abad 16 Masehi, meski sempat mundur kala Kolonial Belanda memperkenalkan produk kain tekstil.
Kain Sarigading, kata dia menggunakan Benang Mandar yang dicelup menggunakan pewarna alami, misal dari jenar (kunyit) dan lainnya.
“Semakin bermotif, kain Sarigading semakin mahal” kata Saidah yang ahli membuat Kain Sari Gading aneka motif dan lima warna, dimana harga Kain bermotif ia jual Rp100 ribu per potong, jika tanpa motif Rp70 ribu per potong.
Kain Sarigading yang hanya satu warna kuning menurutnya kini sudah seberapa laku, yang eksis dicari orang adalah Kain Sarigading lima warna yang bermotif.
Saidah mengaku, kain tenunnya dan peralatan tenunnya pernah diminta pihak Museum Propinsi Kalsel Kota Banjar Baru untuk dijadikan koleksi budaya.
Karena Pemprop Kalsel juga mulai menyadari mulai langkanya hasil tenun kain jenis ini yang harus tetap dilestarikan.
Hanya saja katanya,  kain tenun Sarigading khas Kabupaten Hulu Sungai Utara HSU Kalimantan Selatan belakangan ini terancam punah, karena itu diperlukan perhatian pemerintah untuk menyelamatklan kerajinan tersebut.
Kain tenun Sarigading HSU mulai dilupakan setelah kian derasnya masuk produk kain tekstil luar, kata  Noor Saidah Penenun kain Sarigading di Desa Sungai Tabukan.
Para pelaku keraijnan kain tenun inipun kini tersia hanya di dua desa, yaitu Desa Pandulangan Kecamatan Sungai Pandan-Alabio dan Desa Sungai Tabukan di Kecamatan Sungai Tabukan.
Kain tenun Sarigading menjadi langka karena fungsi kain tenun ini kebanyakan hanya dikembangkan untuk peralatan prosesi pengobatan tradisonal yang diwarisi turun-temurun dan bukan untuk tujuan komersil.
Berdasarkan catatan, bagi masyarakat Kalimantan Selatan selain memanfaatkan kain tenun Sarigading untuk pengobatan juga yang lebih terkenal adalah kain khas Sasirangan.
Menurut Muhamad seorang tokoh masyarakat Banjarmasin kain sasirangan lebih banyak digunakan untuk pengobatan karena dulu sering dipakai dalam pengobatan pihak kerajaan Banjar.
Tetapi nasib kain Sasirangan lebih beruntung ketimbang kain tenun Sarigading, setelah dimodifikasi sedemikian rupa maka kain Sasirangan menjadi batik khas Kalsel dan sekarang menjadi ikon cenderamata wisatawan ke wilayah ini.
Setelah kian dimintai maka kain Sasirangan terus berkembang bahkan industri kain inipun kian maju pula dengan lokasi -lokasi penjualan yang terus menjamur di wilayah Banjarmasin dan kota lainnya.
Melihat kenyataan tersebut hendaknya pemerintah terus mempertahankan budaya kain tenun itu, setidaknya untuk kain tenun Sarigading kalau bisa juga dimodifikasi yang lebih khas, hingga tidak semata untuk pengobatan tetapi menjadi kain yang terus diminati untuk busana.

KONVERSI MITAN KE GAS TAMBAH DERITA RAKYAT

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,18/2 (ANTARA)- “Hampir dua bulan ini kami sulit cari elpiji, minyak tanah (mitan) sulit didapat, walaupun ada harganya sudah Rp10 ribu per liter, kayu bakar sudah habis di hutan,lalu kami masak pakai apa, kemana kami harus mengadu,” kata beberapa ibu di bilangan Sungai Andai Banjarmasin, Kalimantan selatan.
Keluhan serupa bukan saja terdengar di kalangan  ibu-ibu Banjarmasin tetapi hampir terdengar juga di beberapa wilayah Kalsel yang berpenduduk sekitar 3,6 juta jiwa dengan jumlah 13 kabupaten dan kota tersebut.
Derita ibu-ibu di Banjarmasin tersebut agaknya masuk akal, hampir selama dua bulan elpiji langka, dan walau ada harganya sampai rp25 ribu per tabung tiga kilogram.
Banyak alasan yang dikeluarkan pihak PT Pertamina menyikapi keluhan rakyat tersebut, antaranya dikatakan jalan darat antara Balikpapan ke Banjarmasin menjadi kendala angkutan elpiji.
Aalasan Pertamina tersebut menurut beberapa warga terkesan mengada-ada,pasalanya transportasi darat kedua wilayah tersebut, tampaknya normal-normal saja, terbukti puluhan bus antar provinsi dan angkutan lainnya tak pernah mengalami hambatan.
Terakhir disebutkan persediaan elpiji mengalami kekurangan sehingga kebutuhan elpiji harus didatangkan dari Provinsi Riau.
Bagaimanapun alasan yang dikeluarkan Pertamina, telah membuktikan kebijakan konversi mitan ke elpiji benar-benar tidak siap segalanya,yang berujung kepada penderitaan rakyat.
Untuk mengatasi kelangkaan elpiji tersebut pihak Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin meminta Pertamina melakukan Operasi Pasar (OP).
Ketua Satgas konversi mitan ke gas elpiji Kota Banjarmasin, Bambang Budiyanto kepada pers di Balaikota Banjarmasin membenarkan sekarang sedang dilakukan OP elpiji untuk mengurangi keresahan warga setelah akhir-akhir ini alami kelangkaan gas elpiji.
Akibat kelangkaan elpiji menyebabkan harga melambung capai Rp25 ribu per tabung 3 kg, padahal Harga Eceran Tertinggi (HET) ditetapkan pemerintah cuma Rp15.500,- per tabung.
Walau harganya mahal tetapi tetap saja elpiji sulit diperoleh masyarakat, sementara harga mitan sudah melambung pula mencapai Rp10 ribu hingga belasan ribu rupiah per liter,padahal HET mitan di Banjarmasin adalah Rp 3.050 per liter.
OP pasar tersebut dilakukan sembilan agen elpiji yang dipercayai Pertamina untuk mensuplai  bahan bakar itu kepangkalan-pangkalan elpiji di 52 kelurahan.
“Kita terus pantau OP elpiji tersebut, dan bila ada yang menjual di atas harga HET Rp15.500,- maka Pemkot akan memberikan sanksi bagi pangkalan yang menjual melebihi ketentuan tersebut,” kata Bambang Budiyanto yang juga Asisten II Bidang Ekonomi Pemkot Banjarmasin tersebut.
Sementara elpiji di tabung 12 kg HET Rp95 ribu per tabung, tapi yang di OP kan hanya tabung 3 kg,katanya.
Ketika ditanya bentuk sanksi terhadap pangkalan yang menjual gas melebihi HET, ia menyebutkan bila terbukti  menjual elpiji melehi HET maka sanksinya Pencabutan Hubungan Usaha (PHU), dan pangkalan tak boleh lagi menjual elpiji.
Dengan adanya OP tersebut diharapkan pasaran elpiji kembali normal dan masyarakat mudah memperoleh gas dengan harga normal sesuai HET Rp15.500, per tabung, tambahnya.
Kendati menurut Bambang sudah dilakukan OP elpiji dan ancaman sanksi bagi yang menjual gas di atas harga HET, tetapi ternyata sekarang kondisi di pasaran tetap saja langka, dan harganya walau tak sampai Rp25 ribu lagi per tabung, tetapi tetap saja mahal dibandingkan HET.
Melihat kondisi demikian telah merisaukan banyak pihak termnasuk
Gubernur Kalimantan Selatan H Rudy Ariffin, yang kemudian meminta pemerintah menunda pencabutan subsidi mitan terutama di provinsinya.
Menurut Gubernur Kalsel kepada pers di gedung DPRD Kalsel, sebagian besar masyarakat masih belum siap dengan konversi mitan ke gas elpiji.
Selain itu, persiapan dari operator pemerintah, untuk konversi mitan ke elpij juga terkesan belum siap betul, seperti harga jual gas elpiji, terutama pada tabung isi tiga kilogram yang masih tak stabil dan terkadang kosong.
“Dengan pertimbangan atas beberapa hal tersebut, pemerintah hendaknya tetap menyalurkan mitan bersubsidi agar tidak menimbulkan keresahan masyarakat,” pintanya.
“Kita menyambut positif terhadap program konversi mitan ke elpiji, tapi hendaknya dilakukan sosialsasi yang berkelanjutan dan lebih mantap lagi, serta persiapan-persiapan secara matang terlebih dahulu,” kata Rudy Ariffin.
Rudy Ariffin juga mengaku sepakat dengan usulan Ketua Himpunan Swasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswanamigas) Addy Choiruddin yang meminta Pertamina agar mitan bersubsidi yang ditarik di beberapa daerah untuk dikembalikan lagi agar mitan murah tetap tersedia
Pihaknya sudah meminta kepada Pertamina untuk serius menangani permasalahan gas elpiji di Kalsel. Ia khawatir, melambungnya harga gas elpiji di pasaran akan mempengaruhi kestabilan ekonomi daerah.
“Beberapa waktu lalu kita sudah minta perhatian kepada Pertamina. Kita monitor harga elpiji 12 kilogram di atas Rp150 ribu bahkan ada yang Rp195ribu. Minyak tanah di atas Rp9 ribu, saya sudah meminta kepada Pertamina untuk segera melakukan pemulihan harga,” tegasnya.
Permasalahan kelangkaan gas dan melambungnya harga, menurut Rudy, tak lepas dari kegagalan program konversi gas di Kalsel.
Melihat kkenyataan tersebut, berbagai kalangan meminta pemerintah mempertimbangkan kembali konversi mitan ke elpiji, dan kalau konversi  itu tetap harus dilakukan dengan berbagai pertimbangan kepentingan negara seharusnya rakyat jangan sampai menderita seperti sekarang ini.

Rplika

BANJARMASIN BERUPAYA MENGHINDAR DARI JULUKAN “KOTA BANJIR”

kapal sapu2

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin,2/11 (ANTARA)- Kota Banjarmasin, ibukota Provinsi Kalimantan Selatan, bisa berjuluk sebuah kota banjir, bila kondisi sungai yang kian rusak terus dibiarkan tanpa adanya perbaikan.
Pengamat perkotaan Bachtiar Noor Graddip, kepada wartawan di Balaikota Banjarmasin, Rabu  mengatakan jika keadaan sungai wilayah ini tak ditangani secara cepat dan cermat, tidak menutup kemungkinan debit air sungai yang terus naik lambat laun akan tumpah kedaratan.
Permukaan air laut belakangan ini kian naik menyusul terjadinya perubahan iklim yang ektrim, sehingga air laut pun akan masuk ke sungai, bila sungai tidak tertangani dengan baik maka permukaan air sungai pun akan meningkat tajam.
Padahal kian banyak sungai di wilayah yang berjuluk “kota seribu sungai” ini  yang mengalami pendangkalan akibat sidementasi dan akibat tercemar limbah rumah tangga dan industri.
Belum lagi gulma air terus menyerang sungai di Banjarmasin hingga sungai kurang berfungsi semestinya, sementara kawasan resapan air yang dulu masih luas setelah kian majunya pembangunan maka wilayah resapan air kian berkurang.
Bila kondisi demikian terus dibiarkan tak tertutup kemungkinan air sungai akan masuk ke daratan lalu kota ini menjadi sebuah “kota banjir.” tuturnya.
Apalagi daratan Banjarmasin yang sekarang ini kurang tertangani seperti sistem drainasenya, hingga bila hujan sedikit saja sudah kebanjiran maka kian memperparah kondisi kota ini.
Ancaman banjir itu kini kian terlihat dimana di beberapa wilayah Banjarmasin yang tahun-tahun sebelumnya tidak pernah terendam sekarang sudah sering terendam.
Oleh sebab itu, bila kondisi tersebut tak ada perbaikan maka sepuluh tahun kedepan maka Banjarmasin kian sering mengalami kebanjiran.
Bachtiar mengungkapkan, dari penelitian ITB mengenai sungai Banjarmasin, air pasang yang masuk kesungai setiap saatnya mengalami peningkatan bahkan menjadi jutaan kubik.
“Bayangkan saja, kalau tidak diimbangi dengan kedalaman sungai-sungai yang ada, tentunya menjadi ancaman besar hal ini,” ujarnya.
Apalagi hasil sebuah penelitian yang menyatakan daratan Kota kota ini kian di bawah permukaan air laut, terutama di saat air pasang dalam hingga sebagian besar wilayah daratan kini terendam.
Dari dulu daratan kota Banjarmasin saat air pasang terdalam sudah berada 16 cintemeter di bawah permukaan air laut, apalagi sekarang perumukaan air laut terus meningkat menyusul perubahan iklim, maka kondisi daratan kota ini kian di bvawah lagi, kata Kepala Dinas Sungai dan Drainase kota setempat, Muryanta.
Menurutnya kalau tidak tertangani jangankan rentang waktu sepuluh tahun mungkin beberapa tahun kedepan saja kota ini akan “calap” (terendam).
Agar kota yang hampir seluruh wilayah rawa-rawa ini tidak kebanjiran diperlukan upaya perbaikan keberadaan sungai dan drainase.
“Kalau ketinggian permukaan laut yang terus meningkat belakangan ini tak bisa ditangkal oleh siapapun, hal itu memang sudah kondisi alam yang rusak, yang penting bagaimana kota ini tidak terlalu lama terendam akibat dari dampak perubahan alam itu,” tuturnya.
Sekarang   ini, tambahnya, bila air pasang dalam maka sebagian besar wilayah daratan kota terendam air, tetapi setelah air laut surut wilayah ini masih terendam lantaran air tidak cepat turun ke kelaut karena sungai-sungai yang ada sudah rusak.
Ada 105 sungai di Banjarmasin, yang masih agak baik tinggal 74 buah, sisanya sudah mati atau rusak akibat sidementasi, sampah, dan limbah rumah tangga, limbah industri, dan limbah alam.
Bila kondisi ini tetap dibiarkan sementara permukaan air laut terus menaik maka akhirnya kota ini akan terendam.
Oleh Karena itu melalui instansinya dilakukan perbaikan sungai melalui pengerukan, penambahan dan perbaikan saluran drainase.
Dari upaya pengerukan selama ini baru sekitar tiga persen yang berhasil diperbaiki masih banyak lokasi sungai yang harus dikeruk dan diperdalam agar sirkulasi air laut yang masuk ke dataran perkotaan bisa lancar.
Untuk memperbaiki sungai yang ada di wilayah ini diperlukan dana cukup besar, umpamanya untuk pembelian kapal-kapal keruk, kapala-kapal pembersih sungai, dan penambahan sistem drainase. “Kalau perhitungan kita dana yang dibutuh Rp3,8 tiliun,” tutur Muryanta.
Dana itu Rp3,3 triliun untuk perbaikan sungai dan Rp524 miliar untuk pembangunan dan perbaikan sistem drainasinya.
Walau dana masih terbatas, tapi Pemkot Banjarmasin tidak akan menyerah untuk menormalisasi sungai, apapun dilakukan termasuk menyewa sebuah kapal modifikasi untuk mengeruk sungai-sungai tersebut.
Ia bersyukur, ada seorang pengusaha di Kota ini yang  berhasil mengubah sebuah kapal biasa menjadi sebuah kapal pengeruk lumpur, hingga bermanfaat untuk merevitalisasi sungai-sungai kota setempat.
Selain memodifikasi kapal menjadi kapal keruk pengusaha tersebut juga berhasil memodifikasi kapal biasa menjadi sebuah kapal pembersih gulma dan sampah sungai dan kapal modifikasi itupun juga disewa Pemkot Banjarmasin, tutur Muryanta.
Kedua kapal itu sudah diberi nama masing-masing untuk kapal keruk disebut “kapal biuku,” sedangkan kapal pembersih gulma dan sampah disebut “kapal sapu-sapu,” tambahnya lagi.
Menurut Muryanta, kapal hasil modifikasi tersebut sangat bermanfaat dalam upaya  kota Banjarmasin mengembalikan fungsi-fungsi sungai mengingat sudah banyak sungai yang mati lantaran sidementasi dan sampah.
Melalui alat-alat modifikasi itu sungai-sungai kian dilebarkan didalami, sehingga begitu juga terhadap sungai yang mati akan dikeruk hingga kembali menjadi sungai yang hidup.
Menurut Muryanta kapal hasil modifikasi itu telah menyita banyak perhatian pemerintah kota lain di Indonesia, terutama untuk pembersihan sungai, bahkan pemerintah Kota Medan ingin membeli kapal modifikasi tersebut.
Sebab tambahnya, untuk mencari kapal keruk kecil yang mampu masuk ke sungai-sungai kecil seperti di Banjarmasin tidak ada yang jual, baik kita cari kenegara manapun, yang dikenal selama ini kapal keruk besar untuk pengerulan sungai-sungai besar atau permukaan sungai di laut.
Kapal hasil modifikasi itu adalah kapal tungkang yang digabung dengan sebuah alat berat semacam eksavator.
Pengerukan dengan kapal itu sudah dilakukan di Sungai Pekapuran, Sungai Kelayan, Sungai Teluk Dalam, Sungai Pekauman, Sungai Miai, Sungai Miai, dan banyak lagi sungai yang terus dilebarkan dan diperdalam.
Selain melebarkan dan memperdalam sungai, Pemkot juga telah banyak membebaskan lahan pemukiman di bantaran sungai untuk memfungsikan sungai tersebut.
Pembebasan pemukiman bantaran sungai itu seperti di Jalan Veteran, Jalan Jafri zam-zam, Jalan Kuripan, Jalan Pire Tendean, Jalan Pasar Lama, Jalan teluk Dalam dan banyak lagi lokasi lainnya.
Melihat begitu gigihnya Pemkot Banjarmasin menormalisasi sungai dan drainase, banyak warga optimistis kota ini tak bakal tenggelam seperti banyak ramalan sebelumnya.

KALSEL BERTEKAD TERUS PEMASOK BERAS NASIONAL

Oleh Hasan Zainuddin Banjarmasin, 19/10 (ANTARA) – Sudah kebiasaan di saat daerah lain kesulitan beras lantaran kekeringan musim kemarau, justru Kalimantan Selatan tetap punya banyak persediaan bahan pokok tersebut. Pasalnya, di saat musim kering sekitar 150 ribu hektare lahan lebak yang tadinya tergenang air cukup dalam menjadi kering. Dari luas 150.000 hektare lahan lebak itu saat musim kering bisa ditanami padi sekitar 90 ribu hektare dan lahannya relatif cukup subur pula. Gubernur Kalimantan Selatan (Kalsel) Rudy Ariffin mengakui wilayahnya memperoleh berkah memiliki lahan semacam itu. Akibat lahan itu pula wilayahnya tak pernah mengalami defisit beras. “Kita merasa bangga memiliki lahan lebak yang bisa dimanfaatkan untuk tanaman padi dan plawija, berkat lahan itu pula produksi padi Kalsel bisa terus ditingkatkan hingga 1,9 juta ton per tahun,” tuturnya. Seluruh kabupaten di Kalimantan Selatan siap meningkatkan produksi padi untuk memenuhi target nasional surplus beras 10 juta ton pada 2014. Rencana peningkatan produksi padi tersebut disepakati dalam penandatanganan kerja sama antara Gubernur Kalimantan Selatan Rudy Ariffin dengan bupati pada 13 kabupaten dan kota di Banjarmasain. Menurut gubernur, Kalsel sebagai salah satu daerah penyangga pangan nasional diminta partisipasinya untuk menyumbang beras sebanyak 7 persen dari target stok beras nasional sebanyak 10 juta ton hingga 2014 tersebut. Dengan demikian, kata gubernur, Kalsel mendapatkan jatah untuk menyumbang stok beras nasional sebanyak 700 ribu ton hingga 2014. “Saya harap beban ini bisa ditanggung bersama-sama oleh kabupaten dan kota di Kalsel, sehingga koordinasi masing-masing kabupaten harus ditingkatkan,” katanya. Koordinasi tersebut antara lain dengan melakukan pertemuan dan penandatanganan kerja sama untuk bersama-sama mengupayakan peningkatan produksi padi sesuai dengan kemampuan masing-masing daerah. Menurut dia, beras nasional telah mengalami surplus sekitar 4 juta ton, namun jumlah tersebut masih belum bisa memenuhi kebutuhan pangan nasional karena tidak seimbang dengan pertumbuhan jumlah penduduk. Berdasarkan hal tersebut, agar Indonesia tidak lagi mengimpor bahan pangan dari negara lain, mau tidak mau seluruh provinsi harus meningkatkan produksi padi. Beberapa kabupaten di Kalsel kini melaksanakan panen padi jenis unggul dengan kualitas produksi jauh lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Sementara itu Kepala Dinas Pertanian Kalsel, Sriyono mengatakan, pada 2011 diprediksi produksi padi Kalsel jauh lebih tinggi dibanding 2009 yang mencapai 1,98 juta ton dimana saat itu merupakan puncak panen tertinggi di Kalsel. Optimisme bahwa produksi padi 2011 lebih tinggi dibanding 2009 karena daerah-daerah yang menghadapi musim panen saat ini merupakan daerah lumbung padi di Kalsel. Seperti di HSU, diperkirakan sekitar 26 ribu hektare padi yang siap dipanen dengan padi bibit unggul. Selain itu, HSU merupakan daerah yang produksi per hektarenya lebih tinggi atau di atas rata-rata produksi padi di daerah lain. Diperkirakan, pada 2011 ini produksi padi Kalsel bisa mencapai lebih dari 2 juta ton, sehingga mampu menjadi daerah penyumbang ketahanan pangan nasional. Lahan lebak Untuk meningkatkan produksi beras Kalsel itu, daerah ini bukan saja mengandalkan lahan tadah hujan, lahan kering, dan lahan beririgasi tetapi juga mengandalkan lahan lebak. lahan lebak memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh daerah lain. Di saat daerah lain paceklik justru lahan lebak panen, produksinya justru lebih tinggi, seperti terlihat pada panen di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) yang mencapai tujuh ton per hektare, kata Gubernur Kalsel. “Aliran sungai menyebabkan unsur dan zat-zat yang ikut dalam air mengendap sehingga membuat tanah lahan lebak menjadi subur,” katanya. Kendalanya di lahan seperti itu, air yang mengendap memerlukan waktu cukup lama untuk bisa kering, sehingga diperlukan teknologi untuk mengolahnya, salah satu cara dengan pompa air primer, sekunder, dan tersier dari polder yang kini sedang dalam proses pembangunan. Untuk meningkatkan kemampuan lahan lebak itu, maka Kalsel merevitalisasi polder Alabiodi Kabupaten Hulu Sungai Utara sebagai sarana mengatur tata air di lahan seperti itu. Pembangunan revitalisasi polder Alabio yang merupakan proyek tahun jamak atau multi year dijadwalkan akan selesai 2013 meski di tahun 2012 sistim irigasi pertanian melalui polder itu sudah bisa dimanfaatkan mengairi sawah petani. Melalui sistem pengaturan air maka diharapkan terjadi peningkatan produksi padi, sekaligus peningkatan intensitas tanam, karena selama ini petani di daerah ini hanya bisa sekali tanam dalam satu tahun. Menurut Kepala Dinas PU setempat, Ediyannor rehabilitasi proyek polder Alabio dimulai pada tahun 2009 hingga 2011 dengan paket pengerjaan berupa rehabilitasi saluran primer dan sekunder yang baru selesai 59,02 persen. Selain dibangun atas bantuan luar negeri melalui JBIC ( Japan for International Cooperation), proyek multi year yang memerlukan dana ratusan milyar ini juga bersumber dari dana APBN. Pembangunan yang berasal dari APBN tersebut meliputi, perbaikan saluran, penggantian pompa 10 unit berupa 5 unit saluran pemberi dan 5 unit saluran pembuang. Polder Alabio akan mampu mengairi empat kecamatan yaitu Kecamatan Sungai Pandan, Sungai Tabukan, Babirik, dan Danau Panggang. Polder tersebut mengairi daerah irigasi seluas 6.000 hektare dengan pola tanam padi dan palawija, karena begitu luasnya lahan yang diairi oleh irigasi ini, maka polder Alabio merupakan salah satu sistem irigasi yang terbesar secara nasional, tuturnya. Gubernur meminta kepala daerah di 13 kabupaten dan kota lebih cerdas menyiasati peningkatan produksi berasnya, walau dimusim yang ekstrim sekalipun seperti belakangan ini. Salah satu siasat itu adalah mencari terobosan baru untuk menghindari terjadinya gagal panen dan lainnya, terutama memaksimalkan penanaman pada lawan sawah Kalsel yang seluas sekitar 500 ribu hektare lebih. “Bagi daerah yang tanahnya rawa dan tidak bisa ditanam sebaiknya mencari dan membuka lahan yang masih memungkinkan untuk menanam padi,” katanya. Selain itu, kata dia, perlu juga mencari varietas padi baru yang mungkin bagus ditanam di lahan rawa, dan mampu bertahan di lahan ber air dalam . “Wilayah kita ini terdapat padi yang mampu bertahan hidup di air dalam seperti lahan lebak yang disebut “padi surung.” Varietas padi ini kelebihannya mampu mengikuti ketinggian air,” katanya. Padi itu disebut padi “surung” karena kenaikan batang padi mengikuti tingkat ketinggian air, bila permukaan air tinggi maka batang padi inipun ikut naik sehingga tidak mati, katanya. “Dengan berbagai siasat tersebut maka kita akan mempertahankan posisi Kalsel sebagai salah satu daerah       penyangga pangan nasional,” tuturnya . Wilayah yang banyak mengembangkan varietas padi surung itu memang di kawasan lahan lebak HSU. Padi yang juga disebut “rintak” diproduksi di wilayah tersebut sekitar 170 ribu ton per tahun. Padi varietas unik ini bukan hanya di Kabupaten HSU di kembangkan tetapi juga di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Hulu Sungai Tengah (HST) serta di wilayah Barito Kuala (Batola). Bila melihat kesungguhan Kalsel memperbaiki sitem pertaniannya dengan memanfaatkan semaksimal potensi yang ada termasuk lahan lebak maka bukan mimpi Kalsel mempu mendukung ketahanan pangan nasional.

KALSEL PERSEMBAHKAN LEBAK DUKUNG PANGAN NASIONAL

Oleh Hasan Zainuddin


Banjarmasin, 14/10 (ANTARA) – Sudah kebiasaan disaat daerah lain “meringis” kesulitan beras lantaran kekeringan musim kemarau, justru Kalimantan Selatan (Kalsel) tetap bisa “tersenyum.”
Pasalnya, di saat musim kering sekitar 150 ribu hektare lahan lebak yang tadinya tergenang air cukup dalam  menjadi kering.
Dari luas 150 hektare lahan lebak itu saat musim kering bisa ditanami padi sekitar 90 ribu hektare dan lahannya relatif cukup subur pula.
Gubernur Kalsel,Rudy Ariffin mengakui wilayahnya memperoleh berkah memiliki lahan semacam itu. Akibat lahan itu pula wilayahnya tak pernah mengalami defisit beras.
“Kita merasa bangga memiliki lahan lebak yang bisa dimanfaatkan untuk tanaman padi dan plawija, berkat lahan itu pula produksi padi Kalsel bisa terus ditingkatkan hingga 1,9 juta ton per tahun,” tuturnya.
Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurti saat panen raya padi lahan lebak Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) Kalsel bersama Wakil Menteri Pekerjaan Umum, Ahmad Hermanto Dardak, Kamis (13/10) berharap Kalsel bisa memberikan kontribusi yang besar agar tahun 2014 Indonesia mampu memproduksi beras 10 juta ton.
Dalam kunjungan di desa Nelayan Kecamatan Sungai Tabukan HSU tersebut Bayu mengatakan, Kalsel bersyukur mempunyai lahan lebak memiliki tingkat kesuburan yang tinggi hingga terus bisa memacu produksi berasnya untuk mendukung surplus beras nasional.
Menurut dia,  lahan lebak memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh daerah lain. Disaat daerah lain paceklik justru lahan lebak panen, produksinya justru lebih tinggi, seperti terlihat pada panen kali ini yang mencapai tujuh ton per hektare.
“Aliran sungai menyebabkan unsur dan zat-zat yang ikut dalam air mengendap sehingga membuat tanah lahan lebak menjadi subur,” katanya.
Kendalanya di lahan seperti itu,  air yang mengendap memerlukan waktu cukup lama untuk bisa kering, sehingga diperlukan teknologi untuk mengolahnya, salah satu cara dengan pompa air primer, sekunder, dan tersier dari polder yang kini sedang dalam proses pembangunan.
Kunjungan Wakil Mentan bersama Wakil Men-PU itu sekaligus melihat pembangunan revitalisasi polder Alabio di Desa Teluk Betung Kecamatan Sungai Pandan yang menjadi alat tehnologi pengaturan air di lahan lebak kawasan tersebut.
Pembangunan revitalisasi polder Alabio yang merupakan proyek multi year dijadwalkan akan selesai  2013 meski di tahun 2012 sistim irigasi pertanian melalui polder itu sudah bisa dimanfaatkan mengairi sawah petani.
Melalui sistem pengaturan air maka diharapkan terjadi peningkatan produksi padi, sekaligus peningkatan intensitas tanam, karena selama ini petani di daerah ini hanya bisa sekali tanam dalam satu tahun.
Menurut  Kepala Dinas PU setempat, Ediyannor rehabilitasi proyek polder Alabio dimulai pada tahun 2009 hingga 2011 dengan paket pengerjaan berupa rehabilitasi saluran primer dan sekunder yang baru selesai 59,02 persen.
Selain dibangun atas bantuan luar negeri melalui JBIC ( Japan for International Cooperation), proyek multi year yang memerlukan dana ratusan milyar ini  juga bersumber  dari dana APBN.
Pembangunan yang berasal dari APBN tersebut meliputi, perbaikan saluran, penggantian pompa 10 unit berupa 5 unit saluran pemberi dan 5 unit saluran pembuang.
Polder Alabio akan mampu mengairi empat kecamatan yaitu Kecamatan Sungai Pandan, Sungai Tabukan, Babirik, dan Danau Panggang.
Polder tersebut mengairi daerah irigasi seluas 6.000 hektare dengan pola tanam padi dan palawija, karena begitu luasnya lahan yang diairi oleh irigasi ini, maka polder Alabio   merupakan salah satu sistem irigasi yang terbesar secara nasional, tuturnya.
Padi surung
Gubernur Kalsel menyatakan tekadnya bisa memperbaiki terus produksi padinya, selain memaksimalkan lahan beririgasi, lahan tadah hujan, dan lahan kering juga terus memacu produksi lahan lebak yang dulunya dianggap lahan marginal.
Gubernur meminta kepala daerah di 13 kabupaten dan kota lebih cerdas menyiasati peningkatan produksi berasnya, walau dimusim yang ekstrim sekalipun seperti belakangan ini.
Salah satu siasat itu adalah mencari terobosan baru untuk menghindari terjadinya gagal panen dan lainnya.
“Bagi daerah yang tanahnya rawa dan tidak bisa ditanam sebaiknya mencari dan membuka lahan yang masih memungkinkan untuk menanam padi,” katanya.
Selain itu, kata dia, perlu juga mencari varietas padi baru yang mungkin bagus ditanam di lahan rawa, dan mampu bertahan di lahan ber air dalam .
“Wilayah kita ini terdapat padi yang mampu bertahan hidup di air dalam seperti lahan lebak yang disebut “padi surung.” Varietas padi ini kelebihannya mampu mengikuti ketinggian air,” katanya.
Padi itu disebut padi “surung” karena kenaikan batang padi mengikuti tingkat ketinggian air, bila permukaan air tinggi maka batang padi inipun ikut naik sehingga tidak mati, katanya.
“Dengan berbagai siasat tersebut maka kita akan mempertahankan posisi Kalsel sebagai salah satu daerah penyangga pangan nasional,” tuturnya lagi seraya menyebutkan untuk mempertahankan itu maka harus lebih dimaksimalkan 500 ribu hektare lahan pertanian yang ada.
Wilayah yang banyak mengembangkan varietas padi surung itu memang di kawasan lahan lebak HSU. Padi yang juga disebut “rintak” diproduksi di wilayah tersebut sekitar 170 ribu ton per tahun.
Padi varietas unik ini bukan hanya di Kabupaten HSU di kembangkan tetapi juga di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Hulu Sungai Tengah (HST) serta di wilayah Barito Kuala (Batola).
Bila melihat kesungguhan Kalsel memperbaiki sitem pertaniannya dengan memanfaatkan semaksimal potensi yang ada termasuk lahan lebak maka bukan mimpi Kalsel mempu mendukung ketahanan pangan nasional.

WISATA AIR “KOTA SERIBU SUNGAI” KIAN MENGGELIAT

Oleh Hasan Zainuddin

sungai Kota Banjarmasin
Banjarmasin, 11/10 (ANTARA) – Bersantai di pinggiran Sungai Martapura, Jalan Pierre Tendean sambil menikmati jagung rebus atau jagung bakar menjadi pilihan sebagian warga untuk berekreasi di kota yang berjuluk “kota seribu sungai” Banjarmasin.
Sementara warga lainnya, memilih menikmati masakan atau kuliner khas Suku Banjar yakni soto Banjar sambil menikmati musik panting jenis musik tradisional setempat.
Tetapi tak sedikit pula warga justru memilih berziarah di makam Habib Basirih atau mengunjungi masjid tertua Sultan Suriansyah sebagai objek wisata keagamaannya, yang juga merupakan bagian dari wisata sungai di ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan tersebut.
Sedangkan para pendatang bahkan dari mancanegara lebih banyak memilih bercengkrama di Pasar Terapung Sungai Barito atau ke Pasar terapung Lokbaintan, sebuah objek wisata yang sudah dikenal luas di kalangan wisatawan baik di Tanah Air maupun di luar negeri.
Bagi wisatawan yang suka dengan binatang kota ini juga menyediaan objek wisata air, yaitu ke Pulau Kembang dimana terdapat ratusan bahkan mungkin ribuan ekor kera abu-abu berekor panjang yang terbilang jinak dan bersahabat dengan wisatawan.
Atau wisatawan bisa menyaksikan Bekantan (Nasalis larvatus) atau hidung panjang yang ada di Pulau Kaget tidak jauh dari kota yang telah bertekad menjadikan keberadaan air sebagai modal utama membangun kepariwisataan itu.
Susur sungai menggunakan “klotok” (perahu bermesin) atau spead boat juga seringkali menjadi pilihan wisatawan mengelilingi kota berpenduduk sekitar 800 ribu jiwa itu. Wisatawan bisa melihat aktivitas warga dimana terlihat banyak warga mandi, cuci, bersikat gigi di atas lanting.
Atau melihat industri perkayuan dan industri rumah tangga yang banyak ditemui si pesisir sungai seperti di Desa Berangas, Alalak, Kuin, dan di Desa Mantuil.

rame2 menuju pasar terapung

Jukung bisa menjadi angkutan wisata

Melihat kelebihan-kelebihan objek wisata itu membuat Pemerintah Kota (Pemkot) setempat memanfaatkannya sungai sebagai daya pikat bagi para pendatang, khususnya wisatawan dan juga investasi.
Kepala Dinas Sungai dan Drainase Kota Banjarmasin Muryanta di Banjarmasin, Selasa, mengakui pemerintah kota (pemkot) setempat telah menjadikan sungai sebagai modal untuk membangun kemajuan kota.
“Kami akan menjadikan sungai sebagai magnet ekonomi kota karena itu kami akan terus benahi sungai,” katanya.
Menurut Muryanta, wilayah kota Banjarmasin seluas 72 kilometer persegi minim sumber daya alam karena hampir tidak ditemukan potensi tambang maupun hutan dan hanya sedikit lahan pertanian.
74 sungai kecil

Sementara wilayahnya hampir semua dialiri oleh sungai besar dan kecil, Sungai Besar tercatat seperti Sungai Barito dan Sungai Martapura.
Jumlah sungai kecil yang membelah Kota Banjarmasin tercatat 74 buah sehingga kota ini berjuluk “kota seribu sungai.”
Kalau membangun kota mengandalkan potensi lain yang minim jelas tidak mungkin karena itu, potensi yang ada saja digunakan untuk meraih kemajuan tersebut.
“Kami akan menjadikan sungai sebagai penggerak ekonomi kota, oleh karena itu tak ada pilihan lain bagaimana sungai-sungai tersebut menjadi daya tarik bagi kepariwisataan ke depan,” katanya.
Ia mencontohkan dua kota yang terbilang maju menjadikan sungai sebagai daya pikat ekonomi seperti Denpasar atau Yogyakarta.
Begitu juga kota lain di luar negeri seperti Bangkok, Hongkong, atau Venesia Italia, bahkan sekarang Malaysia mulai ikut-ikut membenahi sungai sebagai daya pihak ekonomi tersebut.
Melihat kenyataan itu maka wajar bila Pemkot Banjarmasin bertekad menjadikan sungai sebagai daya pikat kepariwisataan dan keinginan tersebut agaknya memperoleh tanggapan positif dari Pemerintah Provinsi Kalsel maupun pemerintah pusat.
Pemprov Kalsel berjanji akan mengucurkan dana untuk pembenahan objek wisata sungai di bilangan Jalan Jafri Zam-Zam, dan pemerintah pusat melalui Dirjen Sumber Daya Air akan membantu pembenahan sungai di Jalan Pire Tendean.
Tahap awal untuk menjadikan sungai sebagai objek pembangunan tersebut, Pemerintah Kota Banjarmasin melalui Dinas Sungai dan Drainase terus mengupayakan normalisasi sungai.
Upaya normalisasi tersebut dilakukan pembersihan sungai dari bangunan-bangunan yang ada di atasnya, sebagai contoh dan sudah dibebaskan bangunan sepanjang sungai di Jalan Sudirman, Jalan Pire Tendean, Jalan Pembangunan, Jalan Veteran, Jalan Teluk Dalam, dan beberapa bangunan lainnya di pinggir sungai.
Bahkan puluhan miliar rupiah sudah dikeluarkan untuk pembangunan siring dan dermaga untuk fasilitas wisata di jalan Sudirman dan Pire Tendean, yang telah terbukti memberikan keindahan kota dimana di kedua siring tersebut ditanaman aneka tanaman hias, lampu-lampu hias serta lokasi (tempat) bagi wisatawan  untuk bercengkrama sambil menikmati jagung bakar dan makanan khas lainnya.
Untuk mewujudkan komitmen menjadikan sungai sebagai objek wisata sudah pula dilontarkan Wali Kota setempat, Haji Muhidin yang di berbagai kesempatan selalu memuji-muji wisata airnya yang kini kian digandrungi para wisatawan.
Untuk menambah kesemarakan wisata air tersebut, Pemkot menambah lagi satu lokasi wisata baru, kata Kepala Bagian Humas Pemkot Banjarmasin, Kurnadiansyah menambahkan.
Lokasi wisata baru tersebut berada di Kawasan Jalan Jafri zam-zam, karena lokasinya yang cukup strategis, di tepian Sungai dan berdekatan dengan stadion 17 Mei Banjarmasin,  fasilitas olahraga termegah di Kalsel.
Keinginan Pemkot menjadikan kawasan tersebut sebagai objek wisata terungkap dari kunjungan Wali Kota Banjarmasin, H Muhidin beberapa hari lalu ke kawasan tersebut.
Wali kota menilai, kata Kurnadiansyah wilayah itu sangat potensial untuk dijadikan objek wisata, mengingat adanya sungai Karokan yang cukup indah, selain itu juga ada stadion yang bisa digunakan untuk berbagai kegiatan olahraga bagi masyarakat, baik pagi atau sore hari.
Di lokasi tersebut juga ada sebuah bangunan yang tadinya untuk rumah dinas wali kota, tetapi karena terbentur tata ruang, fasilitas itu menjadi terlantar, dan kini dibenahi sebagai fasilitas wisata keluarga.
Kepala Dinas Bina Marga Banjarmasin, Ir Fajar Desira menyebutkan bahwa arah pembangunan jalan dan jembatan yang dikelolanya mengarah kepada pembangunan kota sebagai kota wisata air.
“Kita akan buat jembatan yang ada di kota ini dengan bentuk melengkung, yang artinya jembatan dibangun tidak bakal mematikan keberadaan sungai, dengan bentuk yang demikian maka sungai akan tetap bisa dilalui perahu khususnya perahu wisata,” kata Fajar.
Bahkan untuk mendukung kemajuan wisata sungai pihaknya kini sedang menyelasaikan pembangunan jalan darat ke arah objek wisata air seperti di Kuin Kecil atau ke Sungai Gampa.
Berbagai kalangan menyambut baik keinginan Pemkot Banjarmasin  menjadikan sungai sebagai daya pikat ekonomi tersebut, dan diharapkan hal itu bisa terwujud dan gilirannya bisa menyejahterakan warga kota ini.***6***

Siring sungai yang dibangun dengan danapuluhan miliar rupiah