“MENARA AIR” SUMBER HIDUP 15 JUTA PENDUDUK KALIMANTAN

  Oleh Hasan Zainuddin
        Banjir dan kekeringan bencana silih berganti di wilayah bila kawasan resapan air yang ada di wilayah itu rusak.
        Di Kalimantan (Borneo) terdapat resapan air berhutan lebat berada di wilayah Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam yang disebut “menara air.” karena 20 sungai mengaliri keseluruhan, 14 di antaranya behulu di kawasan ini, seperti Sungai Barito, Mahakam, Kapuas, dan sungai besar lainnya.
         Menara air berada di deretan pegunungan membelah bagian tengah Kalimantan melintasi wilayah tiga negara, seluas 20 juta hektare sumber kehidupan 50 suku Dayak atau 15 juta jiwa, terutama untuk penyediaan pangan, obat, ikan, daging, bahan bangunan, dan keperluan lainnya.
         Padahal penelitian tahun 2000-2002, 1,2 juta hektare hutan Kalimantan hilang setiap tahun, dicuri, alih fungsi, serta kebakaran hutan. Akibat dari itu hutan terus berkurang, baik segi luasan maupun kualitasnya.
         Berdasarkan tulisan media World Wide Fund For Nature (WWF) Indonesia, hutan Kalimantan  tersisa tinggal 50 persen, dan terus berkurang pada tingkat makin mengkhawatirkan, bencana pun kian  meluas. Hutan masih baik tinggal di kawasan menara air itu.
         Hutan menara air miliki keanekaragaman hayati, terdapat 40 persen hingga 50 persen jenis  flora dan fauna ada di sini, dan dalam 10 tahun terakhir terdapat 361 species baru ditemukan.
         Pentingnya menara air melahirkan kesepakatan tiga negara, Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam, pada 12 Pebruari 2007 di Pontinakak Kalbar, untuk melakukan kerjasama multipihak melalui yang disebut Program Heart of Borneo (HoB).
         HoB atau Jantung Kalimantan program konservasi dan pembangunan yang berkelanjutan di sepakati tiga negara guna mengkonservasi dan mengelola hutan tropis menara air itu.
         HoB program multipihak melibat semua sektor, pemeriuntah, swasta, masyarakat, akademis dan berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).
         Tiga negara menyepakati lima program kolaborasi yakni pengelolaan lintas batas, pengelolaan kawasan yang dilindungi, pengelolaan Sumber daya alam (SDA) berkelanjutan, pengembangan ekowisata, dan peningkatan kapasitas.
         Koordinator HoB Kalimantan Tengah (Kalteng) Henderik Segah, menyebutkan pembahasan penyelamatan menara air ters dilakukan terakhir pertemuan tingkat negara yang ketiga HoB di Kota Kinabalu, negara bagian Sabah, Malaysia dari tanggal 5-6 Oktober 2009 lalu.
         Masing-masing negara memberikan perkembangan terbaru program HoB dan membicarakan beberapa isu penting seperti Institutional Arrangement and Modalities, mekanisme pendanaan berkelanjutan untuk program HoB (termasuk opsi program REDD, sebagai salah satu alternatif pendanaan), sistem informasi geografis program HoB serta logo HoB.
         Pertemuan itu dihadiri delegasi negara dari Brunei Darussalam yang dipimpin oleh Mr. Hj Saidin bin Salleh, Director of Forestry, Forestry Department, Ministry of Industry and Primary Resources, Brunei Darussalam, kata Hendrik Segah.
        Sementara Indonesia, katanya  dipimpin oleh Dr. Samedi, Deputy Director for Protected Areas and Game Parks, Directorate of Area Conservation, Ministry of Forestry, Indonesia dan Malaysia oleh Dr. Penguang Manggil, Permanent Secretary, Ministry of Environment and Public Health Sarawak, Malaysia.
         Pertemuan ini dibuka secara resmi oleh Yang Berhormat Tan Sri Datuk Seri Panglima Joseph Kurup, Deputi Menteri Sumberdaya dan Lingkungan, Malaysia.
         Upaya konservasi lintas batas yang telah ada ini merupakan komponen penting yang perlu terus dipertahankan dalam rangka memastikan perlindungan dan konservasi hutan dataran tinggi Borneo, demikian dinyatakan oleh Josep Kuruph.
        Ketiga negara menyampaikan perkembangan program HoB di negara masing-masing pada hari pertama pertemuan tersebut. Brunei telah membentuk Dewan Nasional HoB (Brunei Darussalam HoB National Council) dan HoB Center.
         Indonesia telah memiliki draft final rencana aksi strategis nasional sebagai landasan implementasi Program HoB di Indonesia dan bahwa kawasan HoB oleh pemerintah telah diadopsi sebagai kawasan strategis nasional (KSN).
         Sementara dari sisi Malaysia, perkembangan yang telah terjadi adalah bahwa Program HoB di kawasan Sabah dan Sarawak, merupakan salah satu program penting yang termasuk dalam Ninth Malaysia Plan.
         Bagian esensial dari pertemuan ini adalah pembahasan mengenai Institutional Arrangements dan Modalities yang merupakan pilar penting dalam implementasi program HoB setelah ketiga negara menyepakati lima program utama pada pertemuan trilateral sebelumnya di Pontianak tahun 2008, tambah Hendrik Segah.
         Draft dokumen yang menjadi bahan diskusi bersama ketiga negara khusus untuk isu ini dipersiapkan oleh Malaysia.
         Dalam pertemuan kemudian disepakati perlunya pendalaman lebih lanjut terhadap Institutional Arrangements dan Modalities, sehingga setelah pertemuan trilateral di Kota Kinabalu ini, akan segera dibentuk Kelompok Kecil yang dimandatkan untuk membahas dan menyelesaikan isu-isu tersebut, kata Hendrik Segah.
         Brunei Darussalam bersedia memfasilitasi pertemuan Kelompok Kecil ini dan sekaligus menjadi tuan rumah untuk pelaksanaan pertemuan ketiga negara keempat yang secara tentatif akan diadakan pada bulan April 2010 tahun depan.
         Indonesia mengusulkan pembahasan isu pendanaan berkelanjutan untuk Program HoB, di dalamnya termasuk pula pertimbangan pentingnya mempromosikan HoB sebagai kawasan prioritas REDD (Reduction Emission from Deforestation and Forest Degradation Mengurangi Emisi Karbon akibat Deforestasi dan Degradasi Hutan).
         Ketiga negara menyepakati hal ini dibicarakan lebih lanjut dalam pertemuan trilateral mendatang dengan mempertimbangkan kepentingan masing-masing negara dan dinamika yang berlangsung terkait dengan isu kehutanan dan iklim ini.

KALTENG INGIN WUJUDKAN JALUR REL KERETA API

Oleh Hasan Zainuddin
     Akibat sebagian besar wilayahnya masih terisolir, Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) belum bisa menggarap sebagian besar sumberdaya alamnya.
     Dengan wilayah 1,5 kali Pulau Jawa, banyak daerah di Kalteng belum terhubung dengan transportasi darart satu sama. Sarana perhubungan yang tersedia hanyalah jalur sungai.
    Melihat kenyataan itu Gubernur Kalteng Teras Narang mencoba mengembangkan jenis transportasi massal yang murah, khususnya untuk mengelola sumber daya alam yang melimpah.
    Teras Narang mengatakan, sumber daya alam Kalteng yang melimpah tersebut salah satunya  batubara. Berdasarkan data, cadangan batubara di sana sebanyak 4,8 miliar ton, dan 50 persen di antaranya merupakan batubara kalori tinggi.
    Sumber daya alam itu  belum dimanfaatkan karena angkutan dari lokasi tambang ke pelabuhan belum tersedia.
    Ada tiga alternatif angkutan batubara Kalteng, sungai, jalan raya darat, dan kereta api. Menurut Teras, dari hasil kajian, kereta api merupakan pilihan ideal. 
   Angkutan kereta api itu diyakini bisa meningkatkan produksi saat ini yang 1,5 juta ton per tahun menjadi 20 juta ton per tahun atau bahkan lebih.
    Pemprov Kalteng akan membangun rel kereta api angkutan bukan hanya batubara, tapi juga biji besi, zirkon dan semua hasil hutan dan perkebunan, seperti sawit, karet, dan rotan.
    Teras Narang menjamin, proyek rel kereta api itu tak membabat hutan. Menurut dia, rel yang mulai dibangun pada 2010 itu berada di pinggir jalan raya dan sungai yang tak ada lagi berhutan.
   “Kita sudah pikirkan dalam mewujudkan rel KA tidak merusak hutan. Sebab, kalau merusak lingkungan dan hutan maka proyek itu tidak jadi dilaksanakan,” tuturnya menanggapi kekhawatiran sejumlah pihak.
    Pembangunan rel kereta api itu semata sebagai alternatif angkutan tambang dan jenis angkutan massal lainnya, lantaran alternatif lain sudah tidak ada.
    Angkutan bahan tambang dan komoditi lainnya dengan jumlah besar tidak mungkin melalui jalan darat, karena kapasitas jalan maksimal delapan ton, sementara angkutan tambang khususnya batubara minimal 20 ton.
    “Kalau jalan darat dipaksakan, jelas akan mempercepat kerusakan jalan” tutur Teras Nerang.
    Pilihan kedua, jalan sungai memang relatif mudah dan murah dan mampu mengangkut jumlah tonase yang lebih besar, umpamanya melalui tongkang. Tapi, sungai tidak selalu bisa digunakan.
    “Sungai Kalteng seperti Sungai Barito adalah pasang surut dan hanya empat jam dalam sehari semalam debit air yang bisa dilalui tongkang batubara,” katanya.
    Selain itu sungai-sungai Kalteng juga sering mendangkal, terutama pada musim kemarau.
     Akhirnya sungai tidak bisa menjadi pilihan angkutan tambang dan angkutan komoditi lainnya dengan jumlah besar.
     Pilihan jatuh pada kereta api, yang lebih murah dan cepat waktu angkutannya. Jalur itu diandalkan untuk mengangkut batu bara dari sentra pertambangan ke pelabuhan laut untuk memudahkan ekspor berbagai komoditi pertambangan dan komoditi hasil alam lainnya.
      Pembangunan jalur kereta api itu memperoleh sambutan positip dari berbagai pihak, terutama kalangan investor. Hal itu terlihat dari banyaknya investor negara lain yang berminat menanamkan modal di proyek rel kereta api Kalteng.
     Teras Narang menyebutkan, investor yang berminat itu dari negara China, Jepang, India, Rusia,  dan Inggris.
    “Mereka melihat investasi ini sangat menuntungkan di kemudian hari, sebab setiap perusahaan yang memanfaatkan rel KA tersebut harus membayar fee, sesuai kesepakatan yang menguntungkan,” katanya.
     Menurut Teras, pembangunan rel itu memang membutuhkan biaya tinggi. Kalteng mengusulkan proyek itu dikerjakan melalui  kerjasama antara pemerintah dan swasta (KPS), sebagaimana  diatur dalam Peraturan Presiden RI Nomor 67 Tahun 2009 tentang Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur.
    Proyek-proyek terkait perkeretaapian yang diusulkan pendanaannya melalui mekanisme KPS  itu adalah, ruas  Palaci-Puruk Cahu-Bangkuang (tahap 1) sekitar 185 km, kemudian  Bangkuang-Lupak Dalam sekitar 175 km, lalu  Kudangan-Kumai sekitar 195 km.
    Ruas Kuala-Kurun-Pembuang sekitar 466 km, serta ruas Tumbang Samba-Naga Bulik  sekitar 418 km, di samping ruas Puruk Cahu-Kuala Kurun-Palangka Raya-Pulang Pisau- Kuala Kapuas sekitar 390 km.
     Memperhatikan kondisi pengangkutan batubara sekarang dan distribusi potensi batubara yang ada, maka prioritas tahap pertama yaitu ruas rel kerepa api Palaci-Puruk Cahu-Bangkuang sepanjang 185 km , lalu dilanjutkan jaringan lain hingga tahap keempat.
    Ruas itu melewati tiga  kabupaten; Murung Raya, Barito Utara, dan Kabupaten Barito Selatan. Jalur itu meliputi delapan kecamatan; Muara Laung,lahei, Teweh Tengah, Montalaat, Dusun Utara, Dusun Selatan, Karau, dan Kecamatan Dusun-Hilir.
    Untuk ruas Puruk Cahu-Bangkuang telah dilaksanakan konsultasi publik  pada 23 Mei 2009 dan “market sounding”  pada minggu pertama bulan Agustus  2009 yang dilaksanakan di Palangkaraya.
    Sedangkan proses pelelangan, kata Teras Narang, dilaksanakan Februari-Maret  2010.
    Persetujuan  juga sudah diberikan  Menteri Perhubungan RI, sesuai Surat Direktorat Jenderal Perkeretaapian Departemen Pembangunan tanggal 29 April 2009 perihal persetujuan prinsip penetapan trase jalur kereta api angkutan batubara dari Puruk Cahu Bangkuang Kalteng, kata Teras Narang
   Pada 23 Juli, dilakukan Pertemuan antara Pemprov Kalteng dan Tim Pemurus Kebijakan Dukungan Pemerintah (Departemen Keuangan RI) untuk penyediaan infrastruktur melalui mekanisme KPS proyek pembangunan rel KA Puruk Cahu-Bangkuang.
        Pertemuan itu merupakan tindak lanjut dari implementasi pasal 6 Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Komite Kebijakan Percepatan Penyediaan Infrastruktur tentang Tata Cara Evaluasi Proyek Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastuktur yang membutuhkan dukungan pemerintah.

LAHAN GAMBUT SEJUTA HEKTARE KALTENG MENUAI SEJUTA MASALAH

asap Jalan Trans Kalimantan

 

  Oleh Hasan Zainuddin
           Sebaran kabut asap musim kemarau ini seringkali menerpa ruas jalan Trans Kalimantan jurusan Banjarmasin (Kalsel) – Palangkaraya (Kalteng) persisnya di kawasan Kabupaten Kapuas, hingga menganggu pengguna jalan di ruas padat arus arus lalu-lintas itu.
          Penduduk menyebutkan asap tebal itu berasal dari kebakaran lahan gambut di areal proyek Pembukaan Lahan Gambut (PLG) sejuta hektare untuk pertanian di Kabupaten tersebut.
          “Belakangan ini, kami sering menderita terpaan kabut asap ini, karena lahan gambut mudah terbakar terutama di proyek sejuta hektare,” kata Mahlan penduduk Kuala Kapuas.
          Menurut Mahlan, tadinya warga Kapuas berharap proyek lahan gambut sejuta hektare akan menjadikan daerah itu dijadikan lumbung padi nasional. Pembukaan lahan gambut juga sangat diharapkan meningkatkan perekonomian setempat.
          Melihat optimsitis pemerintah orde baru kala itu yang ingin menjadikan lahan gambut sebagai lahan pengganti pertanian yang hilang di Pulau jawa akibat pembangunan, maka masyarakat setempat ikut mendukungnya, bahkan ada warga setempat menjadi transmigran lokal penggarap lahan gambut tersebut.
          Bayangan warga kala itu di PLG menjadi kawasan makmur, dengan hamparan buah padi yang menguning, sayuran dan hortikultura menghijau, bahkan menjadi sebuah lokasi sentra produksi buah-buahan dan jenis tanaman pertanian lainnya.
         Belum lagi bayangan kemakmuran dimana terdapat ribuan ternak dan tambak-tambak ikan di areal pembukaan lahan gambut tersebut.
         Perkiraan sejak pembukaan PLG era tahun 96-an hingga tahun 2009 ini terjadi perubahan kemakmuran dalam masyarakat.
         Bayangan itu telah sirna justru berbuah malapetaka, areal tadinya kawasan hutan gambut yang damai, menjadi kawasan yang melahirkan persoalan lingkungan serius, kebanjiran saat musim hujan dan mudah terbakar saat kemarau.
         Pakar lahan, DR.Ir.Akhmat Sajarwan,MP mengakui kabut asap yang melanda Kalteng akibat lahan gambut termasuk di areal PLG Kabupaten Kapuas mengalami kerusakan.
         Menurut Kepala Pusat Penelitian Sumberdaya Lahan dan Perairan (P2SLP) Lemlit, Universitas Palangkaraya (Unpar) tersebut gambut rusak cepat kering, tapi datangnya air hujan lahan tersebut juga lambat basah.
         Kerusakan gambut Kalteng lantaran dibuat kanal atau parit, serta hutan gambut dibabat. pembuatan parit masa lalu mengubah sifat gambut hingga gambut kehilangan kemampuannya untuk menampung air pada musim hujan.
         “Inilah yang membuat tanah gambut mengering dan membuatnya peka terhadap api pada musim kemarau,” katanya.
         Pembuatan kanal mempercepat kekeringan saat kemarau, kandungan air yang biasa mengendap di areal lahan bergambut cepat turun ke kanal kemudian terus ke sungai.
         “Lihat saja, sedikit saja kemarau, lahan gambut sudah kering dan terbakar, padahal seandainya air di dalam areal gambut itu masih tersimpan maka lahan tersebut susah sekali terbakarnya,” katanya.
         Gubernur Kalteng Teras Narang mengakui PLG wilayahnya menjadi lahan sejuta masalah. Dalam bukunya “Membuka Isolasi untuk Kesejahteraan Rakyat” disebutkan PLG mengalami kerusakan parah.
         Kondisi itu membuat warga kawasan itu jadi miskin, sebagian warga transmigran kabur tak tahan hidup kondisi parah itu, yang bertahan 8.487 KK di 43 Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT).
         Awal 1996/1997 penempatan transmigrasi di areal tersebut 14.935 KK atau 60.819 jiwa, asal Jabar, Jateng, Jatim, DKI Jakarta, Bali, NTB, NTT, Lampung serta penduduk lokal.
         Rusaknya lingkungan itu, sistem tata air yang dikembangkan menyebabkan terjadinya kondisi “over drain” dan menimbulkan kerusakan ekosistem yang sulit diperbaiki.
         PLG menyebabkan 400 ribu ha “tropical rain forest” (hutan tropis basah) menjadi terbuka, pembangunan saluran primer induk 187 KM memotong kubah gambut dinilai kurang tepat, karena jaringan sistem tata air akan meluruhkan kubah gambut lantaran turunnya permukaan air tanah.
         Dengan demikian gambut jadi kering dan tak balik (Irreversible drying) yang mempermudah terjadinya kebakaran.
         Lahan gambut ekosistem unik dan mudah rusak, lapisan gambut tersusun dari timbunan bahan organik mati yang berisi oksigen dan unsur hara yang rendah, seperti daun, batang, dan akar-akaran yang diperkirakan terakumulasi selama 5-10 ribu tahun. Pada bagian atas lapisan gambut hidup berbagai tumbuhan dan satwa liar.
         Jika bahan organik pada lapisan bawah ini musnah, sangat sulit bagi ekosistem ini untuk pulih kembali.
         Karena itu, proyek PLG terbengkalai jadi sumber malapetaka, kebakaran, kebanjiran dan penyumbang terbesar bencana kabut.
         Menurut Teras Narang, pihaknya berjuang keras merehabilitasi PLG ini melalui berbagai cara, termasuk melalui Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2007 tentang Percepatan Rehabilitasi dan Revitalisasi Kawasan PLG.
    
                         Tiga persoalan
    Menurut Teras Narang, masalah PLG ini menjadi salah satu  ganjalan untuk berjuang membangun wilayah seluas 153.564 Km2 berpenduduk sekitar dua juta jiwa ini.
         “Saya merasa galau, kalau PLG ini belum selesai,” kata Gubernur Kalteng, Teras Narang di perayaan 4 tahun kepemimpinannya di Palangkaraya, beberapa waktu lalu.
         Selain PLG masaalah lain dihadapi Kalteng tertundanya pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Pulang Pisau yang diharapkan mendongkrak pembangunan Kalteng, tapi paling ditunggu penyelasaian Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP).
         Tanpa RTRWP Kalteng sulit membangun, semua wilayah Kalteng statusnya hutan, saat ingin alih fungsi untuk kebutuhan lain terhambat aturan dengan Departemen Kehutanan.
         “Terus terang saja, hampir seratus persen wilayah Kalteng bersatus wilayah hutan, termasuk kantor Gubernur Kalteng ini,” tuturnya.
         Kalau semua wilayah bersatus hutan, dan belum dialihfungsikan sesuai tata ruang, lalu bagaimana Kalteng ingin membangun.
         Masalah RTRWP cukup lama menggantung, sejak tahun 1982, guna mengatasi dibuatlah Perda No 8 tahun 2003, agar Kalteng bisa memanfaatkan lahan, tapi Perda dinilai kalah dengan aturan yang lebih tinggi tentang kehutanan.
         “Seharusnya Dephut dan DPR RI segera bahas RTRWP Kalteng, kemudian mensahkannya agar rakyat bisa lega,” kata Teras Narang.
         Menggantungnya persoalan RTRWP ini memang cukup membuat perasaan rakyat Kalteng yang lagi bersemangat mengejar ketertinggalan meradang.

KALTENG TAWARKAN EKOWISATA UNIK SEBANGAU

 Oleh Hasan Zainuddin
         Taman Nasional (TN) Sebangau Kalimantan Tengah (Kalteng) memiliki keanekaragaman hayati, baik flora maupun fauna, tetapi yang unik  adanya ekosistem air hitam.
        “Ekosistem yang unik itulah yang menyebabkan TN Sebangau Kalteng berpotensi dijadikan kawasan ekowisata,” kata Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kalteng, Aida Meyarti.
        Ekosistem air hitam merupakan akibat dari proses pelapukan bahan organik lahan hutan bergambut. Kawasan itu dinilai unik untuk menarik wisatawan.
        Keunikan itulah yang ditonjolkan untuk memprosikan kawasan TN Sebangau sebagai kawasan objek wisata, dan ternyata memang direspons wisatawan mancanegara.
        Ekosistem itu memberikan manfaat kehidupan, baik tumbuhan maupun binatang.
        Lembaga Ilmu Pengetahuan Idonesia (LIPI) pada 2006 meneliti TN Sebangau, dan menapati bahwa di sana terdapat 808 jenis tumbuhan yang mengandung khasiat obat.
        TN Sebangau juga merupakan habitat sejumlah satwa, seperti burung enggang, beruang madu (Helarctos malayanus), rusa (Cervus unicolor), kijang (Muntiacus atheroides), kancil (tragulus Javanicus), macan dahan (neofelis nebulosa), tupai (tupaia spp), loris (Nycticebus coucang), serta satwa lainnya dengan spicies induk orangutan (Pongo pygmaeus).
        Hasil survei dan penelitian tahun 2006 itu menemukan 6000-9000 ekor orangutan menghuni kawasan ini.
        Mengutip hasil penelitian atau studi hutan rawa gambut Universitas Palangkaraya (Unpar), terdapat sedikitnya 106 jenis tumbuh-tumbuhan yang ada di wilayah itu, di antaranya adalah tumbuhan asli Kalimantan.
        Tumbuhan asli Kalimantan itu, antara lain ramin (Gonystilus bancanus), jelutung (Dyera costulata), balangeran (Shorea belangeran) bintangur (Colophyllum sclerophyllum),  meranti (Shorea spp), nyatoh (Palaquium spp), keruing (Dipterocarpus spp), agathis (Agathis spp), menjalin (Xanthophyllum spp).
        Selain itu terdapat 116 spicies burung, di antaranya burung khas Kalimantan, burung enggang.
        Sementara 35 jenis mamalia yang ada di kawasan itu selain orangutan juga ada bekantan (nasalis larvatus) merupakan satwa kera hidung besar yang hanya ada di Pulau terbesar di nusantara itu.
        Masih ada pula kera lain yaitu lutung, owa-owa (Hylobates agilis), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), kera abu-abu, dan beberapa jenis lainnya.
        Sementara jenis ikan rawa yang banyak terdapat di areal ini antara lain gabus (Channa striata), lele (Clarias sp), papuyu (Anabas testudineus), kapar (Belontia hesselti), sambaling (Betta sp), gurami (Helostoma temminckii), karandang (Channa pleuropthalmus), tapah (Wallago leeri), dan banyak lagi spesies lainnya.
        Anggrek hitam (Coelogyne pandurata), serta tanaman liar kantung semar (Nepenthes ampullaria) serta anggrek lainnya juga terdapat di sana.
        Kekhasan lain TN Sabangau terdapat laboratorium alam hutan rawa gambut yang dikelola Pusat kerjasama Internasioal Pengelolaan Gambut Tropika (Cimtrop) Univeritas Palangkaraya (Unpar) sebagai lembaga riset yang memfokuskan penelitian di bidang pengelolaan hutan rawa gambut.
        Potensi wisata lain di taman nasional ini ialah keberadaan alamnya, terdapat jeram, lembah, serta danau-danau.
        TN Sebangau memiliki luas sekitar 568.700 hektare terletak di antara Sungai Sebangau dan Sungai Katingan.
        Secara administrasi merupakan bagian dari Kabupaten Katingan, Kabupaten Pulang Pisau, dan Kota Palangkaraya.
        Kawasan itu merupakan hutan rawa gambut yang masih tersisa di Kalteng setelah gagalnya Proyek  Lahan Gambut (PLG) sejuta hektare pada 1995.
        Kegiatan wisata yang bisa dinikmati di kawasan itu, antara lain menjelajah hutan rawa gambut dengan cara mengitari alur sungai, mengamati flora dan fauna yang unik dan khas, mendaki bukit, berenang di sungai, atau melihat adat istiadat dan budaya Suku Dayak, seperti acara “tiwah”.
   
             Konsep WWF
   Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) WWF Indonesia telah pula menawarkan konsep pengembangan ekowisata di TN Sebangau.

        Konsep Ekowisata yang ditawarkan WWF Indonesia tersebut berbasis masyarakat, kata Pimpinan Projek Konservasi Sebangau WWF-Indonesia Rosenda Ch Kasih.

        Konsep tersebut penggabungan antara konsep “community based tourism” dan “ecotourism”. Dibuat untuk mengangkat pengembangan ekonomi tanpa melupakan konsep pembangunan berkelanjutan, dengan berakar pada potensi lokal, tambahnya.

        Dalam pengelolaannya harus dilaksanakan secara bertanggungjawab di tempat-tempat alami, secara ekonomi harus berkelanjutan dan memberikan manfaat langsung kepada masyarakat setiap generasi.

        Dalam pemahaman tersebut, ketika ekowisata dikembangkan maka potensi Sumber Daya Alam (SDA) maupun budaya  harus dipandang sebagai aset dan minimal harus ada empat pilar yang harus diusung.

        Empat pilar tersebut, kata Rosenda Ch Kasih, yaitu konservasi, ekonomi, pendidikan, dan partisipasi masyarakat itu sendiri.

        WWF Indonesia melihat kawasan Sebangau merupakan kawasan konservasi sebagai pelestarian alam, di kawasan itu tumbuh beribu jenis flora dan menjadi habitat hidup berbagai satwa dengan spesies kunci orangutan.

        Di sekeliling TN Sebangau diinteraksi oleh keragaman budaya khas masyarakat Suku Dayak Kalteng dengan kehidupan tradisionalnya dalam memanfaatkan SDA tersebut.

        Dalam upaya melakukan kegiatan ekowisata di Sebangau, WWF Indonesia mengembangkannya dengan berbasis masyarakat, karena masyarakatlah yang harus menjadi salah satu pelaku kegiatan ini.

        “Mereka harus memiliki nilai dan porsi tawar yang setara dengan pihak lain, ketika ekowisata ini dibangun dan dikembangkan, masyarakat tak boleh hanya menjadi objek dari pengembangan, tetapi harus menjadi pemilik dari kegiatan ekowisata,” demikian Rosenda Ch Kasih.

 

 

 

Feature: CENTRAL KALIMANTAN OFFERING UNIQUE ECOTOURISM By Hasan Zainuddin
         Jakarta, Sept 8 (ANTARA) – The Sebangau National Park in Central Kalimantan, Indonesia, has a unique fauna and flora biodiversity  including a black water ecosystem.      
   “The unique ecosystem makes the park a potential ecotourism region,” head of the Tourism Destination Development Section at the East Kalimantan Culture and Tourism Office, Aida Meyarti, said here recently.
        Tourists consider  the black water ecosystem a unique thing. The ecosystem came into being by the decay of organic substances on  peatland. 
   The uniqueness of the ecosystem is among the things being promoted in the Sebangau National Park as a tourist site which is visited by many domestic and foreign tourists.
        The Indonesian Institute of Sciences (LIPI) in 2006 conducted a research in the Sebangau National Park and found 808 herbal plant species.  
   The Sebangau National Park which is home to a number of animals including different species of bird, bear (helarctos malayanus), deer (cervus unicolor), small antelope (muntiacus atheroides), mouse deer (tragulus javanicus), tiger (neofelis nebulosa), squirrel (tupaia spp) and orangutan (pongo pygmaeus).
        The research in 2006 found 6,000 – 9,000 orangutans living in the Sebangau National Park. 
   Meanwhile, research conducted by Palangkaraya University in East Kalimantan resulted in the discovery of at least 106 floral species including native plants in the Sebangau National Park. 
   Kalimantan’s native plants include ramin (gonystilus bancanus), jelutung (dyera constulata), balangeran (shorea belangeran), bintangur (colophyllum sclerophyllum), meranti (shorea spp), nyatoh (palaquium spp), keruing (dipterocarpus), agathis (agathis spp) and menjalin (xanthophyllum spp).
         The national park also has 116 bird species including Kalimantan’s native bird called Enggang, besides 35 species of mammals like orangutans and bekantan (nasalis larvatus, a monkey with a big nose which is found only in Kalimantan, the largest  island in Indonesia.  
    The national park also has black or gray long-tailed monkey or lutung, owa-owa (hylobates agilis), long-tailed monkey (macaca fascicularis) and gray monkey among other mammals.
         Several species of swamp fish were also found in the national park like gabus (channa striata), lele (clarias sp), papuyu (anabas testudineus), kapar (belontia hesselti), sambaling (betta sp), gurami (helostoma temminckii), karandang (channa pleuropthalmus and tapah (wallago leeri). 
   The national park is also rich in unique flower species like black orchid (coelogyne pandurata) and such wild plants as kantung semar (nepenthes ampullaria).     
   The Sebangau National Park has a nature laboratory managed by the Center for International Cooperation on  Tropical Peat Land Management of Palangkaraya Univesity as a research institute focusing on peat land management.  
    As a tourist site, the Sebangau National Park also has water falls, beautiful valleys and lakes. The national park covers an area of 569,700 hectares where the Sebangau and Katingan rivers flow, and occupies  parts of Katingan district, Pulang Pisau district and Palangkaraya city.
        In the national park, tourists can traverse  peat land forests, trek along rivers and observe unique flora and fauna, climb  hills, swim in the rivers or watch Dayak traditions.   
  WWF concept 
  Ecotourism is a form of sustainable tourism development in support of efforts to preserve the environment, including  nature and cultures. The local government involves local people in developing  ecotourism in the Sebangau National Park. 
   The World Wildlife Fund for Nature (WWF) Indonesia has offered its concept of community based ecotourism development in the Sebangau National Park, said Rosenda Ch Kasih, project leader of  WWF-Indonesia Sebangau Conservation    
  According to Rosenda, the WWF’s concept combines  the community-based tourism concept and the ecotourism concept in an effort to develop local economic potentials under the sustainable development concept which generates direct advantages to the local people of every generation.      
    Ecotourism deals with natural resources and cultures which must be developed on four pillars — conservation, economy, education and people’s participation, Rosenda said.
        WWF Indonesia sees the Sebangau area as a nature conservation area home to thousands of fauna, flora and animal species including orangutans.  
   With the development of ecotourism  in the national park, local people  must have equal values and bargaining position with other people, and they should not become objects but subjects of the ecotourism development projects, Rosenda said.

 

 

 

 

Pelanduk (kancil) satu satwa, salah satu penghuni TN Sebangau (foto sdnkarangwaru1)

 

dua satwa diantara banyaknya penghuni TN Sebangau Kalteng

NIKMATNYA BUAH RIMBA KALIMANTAN

 

lahung Buah Lahung yang ada di Desa Inan

Oleh Hasan Zainuddin
     Sekelompok anak muda bergegas berlarian ke belakang rumah pemukiman Desa Inan, Kecamatan Paringin Selatan, Kabupaten Balangan Kalimantan Selatan (Kalsel).
     Mereka berlarian untuk lebih cepat mencapai tujuan setelah terdengar bunyi “dbuk” di rimbunan pepohonan buah-buahan lahung (sejenis durian) yang ada di kawasan tersebut.
     “Horeee…!” kata seorang anak muda setelah kembali seraya membawa sebiji buah lahung yang sudah matang dipohon dan jatuh ke tanah setelah terkena tiupan angin.
     Serta merta buah tersebut dikupas, tetapi caranya bukan seperti mengupas buah durian, namun harus menggunakan parang tajam caranya harus dipenggal, setelah terbuka kelihatan isi buah yang kekuningan dengan semerbak bau khas buah tersebut.
     Buah lahung, satu dari sekitar belasan spicies jenis durian yang hidup di daratan Kalimantan, baik di Kalsel, Kaltim, dan terbanyak di Kalimantan Tengah (Kalteng).
     “Beda buah ini dibandinkan buah durian lainnya karena durinya yang lancip dan tajam serta panjang-panjang, dengan warna kulit termasuk warna duri merah kehitaman, rasanya agak berbeda dengan durian tetapi tetap enak,” kata Nurdin penduduk setempat.
     Buah ini kini sudah mulai langka, pohon buah ini yang tersisa hanya beberapa saja lagi, dan usianya ratusan tahun ban menjulang tinggi keudara dengan batang yang besar diameter bisa mencapai dua meter.
     Akibat batang yang besar ini maka banyak pohon lahung ditebang lalu dibuat kayu gergajian oleh penduduk setempat, kemudian kayu tersebut dijual kepErusahaan kayu lapis dan industri lainnya akhirnya jumlahnya yang sudah sedikit maka kini terus menyusut dan mendekati kepunahan.
     Lahung satu dari beberapa jenis buah durian khas rimba raya Kalimantan yang kini mendekati kepunahan, yang lainnya adalah karatongan, mahrawin, mantaula, dan pampakin.
     Pampakin buah rimba Kalimantan yang juga tak ditemui di belahan banua manapun, durian ini bedanya warna kulit kuning keemasan, warna isi juga kuning keemasan, bahkan ada jenis tertentu warna isi justru kuning kemerahan.
     Rasa pampakin atau yang disebut oleh penduduk Kaltim sebagai buah lai, beda pula dibandingkan rasa durian kebanyakan, tetapI rasanya tetap enak.
     Sementara buah  durian mantaula justru kulitnya sama seperti durian kebanyakan, tapi warna isi jingga, rasanya juga beda namun aromanya menyengat.
     Isi buah durian mantaula, biasanya untuk campuran bahan pembuat penganan (kue) hingga kue beraroma dan enak.
     Itu beru bercerita buah jenis durian (famili durio sp), sementara di rimba Kalimantan juga terdapat belasan mungkin puluhan buah rimba jenis asam-asaman (mangefira sp).
     Satu buah rimba yang menjadi maskot flora Kalsel, yakni jenis mangga kecil yang disebut Kastury (Mangefira Delmiyana).
     Asam mangga ini terbilang unik, selain bentuknya kecil sebesar genggam anak-anak juga warna kulit yang merah kehitaman, rasanya manis dan warna isi kuning kemerahan.
     Buah ini menjadi barang cenderamata di Banjarmasin (Kalsel) dan Palangkaraya (Kalteng).
     Belum lagi buah asam rimba Kalimantan disebut “hambawang pulasan” (asam putar), caranya tak boleh dikupas begitu saja, tetapi harus diiris bagian tengah buah,  baru diputar atau dipulas hingga biji keluar sendirinya, setelah itu baru kulit tipis bagian luar dikupas kemudian disantap.
     “Kalau bercerita tentang buah rimba hutan Kalimantan memang tak ada habis-habisnya, makin diceritakan makin banyak lagi yang harus diceritakan lantaran begitu banyaknya,” kata Kepala Pusat Penelitian Sumberdaya lahan dan  perairan (P2SLP) Lembaga Penelitian Universitas Palangkaraya (Unpar), Dr.Ir.Akhmad Sajarwan.
      Keunggulan buah rimba tersebut disamping memiliki rasanya yang khas dan enak, juga memiliki tampilan yang menarik.
     “Hampir semua jenis buah-buahan rimba Kalimantan tersebut juga mengandung nilai gizi yang cukup tinggi, dan ada beberapa buah-buahan rimba ini dikonsumsi sebagai obat tradisional,”katanya.
     Melihat kekhasan plasma nutfah rimba Kalimantan itulah maka pihaknya bekerjasama dengan  Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kota Palangkaraya, Kalteng mengembangkan buah rimba Kalimantan.
     Pengembangan buah rimba Kalimantan tersebut sebagai upaya pelestarian buah khas hutan tersebut melalui program taman dan hutan kota Palangkaraya, katanya.
     Tujuan lain untuk mengenalkan buah-buahan pedalaman Kalimantan tersebut kepada masyarakat luas terutama pada generasi mendatang sekaligus sebagai objek wisata dan lokasi penelitian dan pendidikan.
     Pihak Pemko Palangkaraya sudah menyediakan sekian lahan untuk pengembangan buah-buahan tersebut, sementara pihak P2SLP sebagai tenaga tehnisnya sudah mngumpulkan sedikitnya 50 jenis tanaman khas rimba Kalimantan tersebut untuk segera ditanam sebagai pelestarian.
     Latar belakang pengembangan buah tersebut setelah buah-buahan tersebut setiap tahun terus menyusut produksinya, bahkan ada beberapa diantaranya yang sudah jarang terlihat apalagi bisa dinikmati, padahal buah tersebut memiliki keunggulan.
     Untuk menghindari kepunahan keberadaan buah rimba tersebut, maka sangat perlu diusahakan dan diupayakan tindakan budidaya dalam pelestariannya melalui program taman dan hutan kota Palangkaraya.     
     Beberapa jenis buah Rimba Kalteng yang saat ini sudah mulai sulit ditemukan seperti buah lewang, kenyem, rokam (Flacourtia sp), embak atau kapul, langsat (Aglaia spp), duku, tanggu, ruku, asam hutan (Mangifera sp), asam putar, asam gayung, kuini, kasturi, dan manggis (Gracinia sp).
     Buah lainnya yan sudah mulai jarang terlihat, rambai (Baccaurea motleyana) tangkunis (Averhoa Bilimbi), tanggaring (Nephellium sp), katiau atau untit (Nephelium sp), durian (Durio sp), paken, tongkoi, tungkun, ramania (Bouea macrophyla), suli, lemba (Curculligo latipalio) tangkunins, gandis, tabulus, bangkinang, sange, palasit, karamu, paying, mariuh, tetei edan, sangalang dan lainnya.
     Kalteng sendiri yang 70 persen wilayahnya berupa hutan terdapat sekitar 200-250 jenis tanaman buah yang sangat potensial untuk dikembangkan.

 pampakin 

 kasturi

JINALUN2 Warga Desa Inan memperlihatkan buah Jinalun salah satu jenis buah Rimba Kalimantan

 lengkeng hutan atau buah mata kucing

kalau ingin melihat gambar2 buah rimba klik di sinihttps://hasanzainuddin.wordpress.com/buah-khas-kalse

KABUT ASAP DAN BAHAYANYA BAGI KESEHATAN MANUSIA

asap

Oleh Hasan Zainuddin

Bau angit (bau benda terbakar) kelalatu (benda bekas terbakar) serta asap kini warnai udara Palangkaraya dan wilayah lain Kalimantan Tengah (Kalteng)i.
Kebakaran lahan gambut terus berlangsung di daerah luas 1,5 kali Pulau Jawa berpenduduk sekitar dua juta jiwa ini.
“Udara benar-benar kotor, kemana harus tutup mulut dengan masker” kata Muslin penduduk Palangkaraya.
Keluhan asap direspon pemerintah yang melarang membakar lahan, tapi kebakaran terus berlanjut, akhirnya pemerintah memadamkan kebakaran dengan berbagai upaya.
Upayanya mengerahkan regu pemadam manggala agni dan regu lainnya, namun tak mampu sepenuhnya atasi kebakaran di areal yang luas ini.
Hujan buatan diprogramkan dengan dana miliaran rupiah, tapi kembali kobaran api tetap berlangsung di kondisi uadara yang panas lantaran kemarau.
Pematauan, Sabtu pagi (29/8) sepanjang jalan Trans Kalimantan Poros Selatan jurusan Palangkara-Banjarmasin wilayah batas wilayah Palangkaraya dan Kabupaten Pulang Pisau jalan nyaris tak terlihat akibat asap.
Kendaraan di situ nyalakan lampu, bunyi klakson bersahutan,  jalan kendaraan beringsut hindari tabrakan, itulah antara lain derita warga akibat asap.
Belum lagi dilaporkan ribuan warga terkena Inspeksi Saluran Pernafasan (Ispa), penderita asma meningkat, penyakit mata pun terus melanda warga di wilayah ini.
Kegelisanan warga terdengar Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat, yang mengingatkan seluruh warga setempat agar tidak memproduksi asap melalui pembakaran lahan, karena asap bisa menyebabkan penyakit.
Kepala Bidang Bina Pengendalian Masalah Kesehatan Dinkes Kalteng, dr. Mulin Simangunsong, M.Kes mengatakan sebaran asap apalagi yang pekat membayakan.
Asap dihasilkan dari proses pembakaran tersebut terdiri dari polutan berupa partikel dan gas. Partikel itu adalah silika, oksida besi, dan alumina, gas yang dihasilkannya adalah CO,CO2,SO2,NO2, aldehid, hidrocarbon, dan fluorida.
Polutan ini, berpotensi sebagai iritan dapat menimbulkan fibrosis (kekakuan jaringan paru), pneumokoniosis, sesak napas, elergi sampai menyebabkan penyakit kanker.
Berdasarkan pedoman Depkes tentang pengendalian pencemaran udara akibat kebakaran hutan terhadap kesehatan ditetapkan katagori bahaya kebakaran hutan dan tindakan pengamanan berdasarkan ISPU.
ISPU <50 dikatagorikan baik tak ada dampak kesehatan, ISPU 51-100 dinilai sedang, juga tak ada dampak kesehatan, ISPU 101-199 sudah dikatagorikan tidak sehat.
Dalam katagori ini dapat menimbulkan iritasi pada saluran pernapasan, bagi penderita penyakit jantung gejalanya akan kian berat, pencegahannya gunakan masker aktivitas diluar rumah.
ISPU 200-299 sangat tidak sehat pada penderita ISPA, Pneumonia dan penyakit jantung akan kian berat, aktivitas rumah hendaknya dibatasi perlu persiapan ruang khusus.
ISPU 300-399 dikatagorikan berbahaya bagi penderita suatu penyakit gejalanya akan semakin serius, orang yang sehat saja akan merasa mudah lelah.
Pada katagori ini penderita penyakit ditempatkan pada ruang bebas pencemaran udara, aktivitas kantor dan sekolah harus menggunakan AC atau air purifier, tambahnya.
Sementara katagori terakhir sangat berbahaya ISPU 400>, saat ini berbahaya bagi semua orang, terutama balita, ibu hamil, orang tua, dan penderita gangguan pernapasan.
Saat seperti ini semua harus tinggal dirumah dan tutup pintu serta jendela, segera lakukan evakuasi selektif bagi orang beresiko seperti balita, ibu amil, orang tua, dan penderita gangguan pernapasan ke tempat bebas pencemaran.
Melihat dampak yang berbahaya demikian, maka wajar bila masyarakat harus menghindari pembakaran lahan khususnya dimusim kemarau seperti sekarang ini.
Diskes Kalteng berusaha mencegah dampak sebaran asap dengan memberikan penyuluhan kepada penduduk setempat agar mereka memahami bahaya asap terhadap kesehatan.
Menurut dokter ini, dampak asap begitu luas, jangka pendek asap yang berupa bahan iritan (partikel) akibat pembakaran lahan berdampak negatif terhadap kesehatan.
Pengaruhnya dalam jangka pendek itu adalah niengiritasi saluran pernafasan dan dapat diikuti dengan infeksi saluran pernafasan sehingga timbul gejala berupa rasa tidak enak di saluran pernafasan.
Gejalanya seperti batuk, sesak nafas (pneumonia) yang dapat berakhir dengan kematian, tambahnya.
Selain itu asap juga mengiritasi mata dan kulit, mengganggu pernafasan penderita penyakit paru kronik seperti asma dan bronchitis alergika.
Sedang gan CO pada asap dapat juga menimbulkan sesak nafas, sakit kepala, lesu, dan tidak bergairah serta ada perasaan mual.
Dampak jangka panjang bahan-bahan mengiritasi saluran pernafasan dapat menimbulkan bronchitis kronis, emfisema, asma, kanker paru, serta pneumokoniosis.
Melihat kenyataan tersebut, menurutnya perlu dilakukan pengendalian dampak asap pembakaran lahan dan hutan di wilayah ini.

MENGGALI OBAT-OBATAN LAHAN GAMBUT TROPIKA KALTENG

 

 

 Oleh Hasan Zainuddin
         “Membangun Indonesia Melalui Bumi Tambun Bungai Kalimantan Tengah,” demikian sebuah buku Gubernur Kalteng Teras Narang yang menggambarkan betapa kayanya daerah yang luasnya 1,5 kali Pulau Jawa tersebut.

        Disebutkan, kawasan pemukiman Suku Dayak berpenduduk sekitar dua juta jiwa itu bisa jadi muncul penemuan-penemuan baru yang akan mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional. 
   Agustin Teras Narang dalam setiap kesempatan menyatakan, Kalteng begitu kaya, karena hampir semua ada di wilayah itu.

        Tetapi yang lebih khas, yaitu terdapatnya hamparan luas lahan gambut tropika yang unik yang masih memerlukan keterampilan kalangan ilmuan untuk mengungkap potensinya.

        Bahkan Gubernur Teras Narang mengajak kalangan investor baik dalam maupun luar negeri untuk “menengok” kekayaan Kalteng itu.

        “Siapa tahu di lahan yang selama ini dianggap marginal itu tersimpan ‘berlian’ lain berupa senyawa-senyawa organik yang bermanfaat baik untuk industri maupun obat-obatan,” katanya.

        Kalteng sedikitnya memiliki 3,6 juta hektare lahan gambut tropika atau sekitar 300 ribu kilometer persegi.

        Potensi terpendam di wilayah sejuta sungai itu telah memancing keingintahuan kalangan peneliti untuk menelusuri kekayaan yang ada di hutan gambut Kalteng tersebut.

      Menurut penuturan peneliti senior Universitas Palangkaraya (Unpar) Prof DR H Ciptadi, lahan gambut tropika Kalteng memang memiliki keunikan dan kelebihan.

        Kekayaan hayati lahan gambut tropika Kalteng dibuktikan dengan keanekaragaman hayati yang sangat besar, kata doktor kimia biomolekul lulusan Universitas Montpellier II-Perancis, pada 2003, itu.

        Ketua Lembaga Penelitian Unpar itu mengatakan, di Taman Nasional Tanjung Puting, Kabupaten Kotawaringin Barat, dan Sungai Sebangau terdapat sedikitnya 310 spesies tanaman.

        Di sana juga terdapat fitoplankton yang hanya hidup dan berada di kawasan ekosistem air hitam.

        “Sumber Daya Alam Kalteng melimpah ruah, kekayaan ini harus kita jaga dan hendaknya dikelola dengan baik,” katanya.

        Menurut dia, jenis-jenis tumbuhan dari berbagai ekotipe hutan tropis Kalteng hendaknya didata secara lengkap, seperti penyebaran, penggunaan tradisional, kandungan kimia dan aktivitas biologisnya.

        Di samping itu, kata guru besar bidang biokimia/kimia organik Unpar itu, dirasa perlu kaderisasi peneliti untuk bisa melanjutkan estafet penggalian dan pengembangan biota Kalteng, khususnya yang terkait dengan aktivitas biologis yang dimiliki tumbuhan tersebut.

        Ia menjelaskan, kekayaan hayati ini sebagian besar belum digali dan dikaji hingga tak bisa dimanfaatkan maksimal.

        Dalam rangka pencarian dan pemanfaatan senyawa kimia yang terkandung dalam sumberdaya hayati tersebut diperlukan penelitian yang terencana dan berkelanjutan.

        Para ilmuan  dari berbagai lembaga riset dan perusahaan obat besar dunia berusaha  menemukan senyawa baru dari hutan tropis termasuk hutan gambut tropika Kalteng, terutama untuk mengobati penderita kanker dan HIV, karena hutan tropika ini menyimpan senyawa organik terbesar di dunia, katanya.

        Dari hasil peneluran dan penelitian tersebut beberapa hal sudah menunjukan adanya senyawa-senyawa di dalam tanaman Kalteng yang mengandung obat-obatan.

        Berdasarkan  sebuah buku pengukuhan guru besar dalam bidang biokimia/kimia organik Prof DR H Ciptadi, tercatat beberapa nama tanaman yang sudah mengandung senyawa positif.

        Seperti tanaman saluang belum (Lavanga sarmentosa (Blume) kurz), untuk obat kejantanan laki-laki, sayuran kalakai untuk menambah air susu ibu, tumbuhan sepang (Claoxylon polot men) obat diabetes, tumbuhan kamunah (Croton tiglium) untuk obat kontrasepsi, tanaman kalopahit atau sambung maut (famili Simarubaceae) untuk obat malaria.

        Tanaman lain yang diteliti terbukti mengandung obat; mali-mali (famili Araliaceae) obat sesak napas, limau-limauan (famili Flacourtiaceae) obat ginjal, cawat hanoman atau akar rahwana (famili Papilonaceae) obat kuat dan sakit pinggang, ampelas bajang juga untuk sesak napas.

        Beberapa tanaman di atas setelah dilakukan uji laboratorium terbukti positif mengandung steroid dan terpenoid, flavonoid, alkaloid, saponin, dan tanin.

        Selain beberapa tanaman yang sudah dinyatakan mengandung obat-obatan itu, di Kalteng juga masih terdapat ratusan jenis lagi yang  berpotensi sebagai obat yang masih memerlukan penelitian untuk memastikannya.

        Tanaman yang berpotensi obat tersebut di antaranya yang disebut warga setempat dengan tanaman manggis hutan, sangeh, lali, tuntung uhat atau sambung urat, tambuhusan, katatupak atau katatiroi, kayu busi atau sisik saluang, paku bukit, suli, kayu kamal atau pupuk sutera.

        Tanaman yang lain, raja mandak, lagundi, senggani, daun adewa, langise, muhur, kenyem, upak gemur, uru sambelum, bajakah kalalawit, kangkawang panas, kalapimping, bajakan kalayan, tatupak, dadap, teken perei, kalapap, karamunting, kayu mahamen, papar buwu, sagagentu, bawi hatue, kalabuau, kayu tungkun.

        Tanaman kanarihau, uru handalai, kumis kucing, ginseng, uru pinding usu, uru karewan usu, uru lewu, terung kambing, mangkudu, kayu kajajah, kalalayar, kayu mata pusa bawi hatue, panamar gantung, mosai, songkai kayu, dan tanaman sapapitak.

        Tanaman sarai, henda babilem, henda puti, singkur, henda, lai, sintuk, kayu amal, kalanis, bajakan kahabau, bajakan bahenda, sangkuang, tabalien, balawan puti, bahandang, sasenduk, jawau u”uut, kayu buri, tategar bawi hatue, utin, tupai bawi hatue, kayu bikit, tisik peang bawi, tisik peang hatuwe, uwe namei, daun dewa, uru handarai, uru mahamen, lengkuas, pasak bumi, tabat barito dan sebagainya.

        Tanaman tersebut diduga berpotensi sebagai obat karena sering digunakan penduduk Suku Dayak Kalteng untuk pengobatan tradisional.

        Sebagian penduduk Kalteng memang hidup terpencil, jauh dari jangkauan pengobatan modern, dalam usaha menjaga dan mempertahankan kesehatan mereka menggunakan obat tradisional yang diramu dari bahan alam dari tanaman tersebut.

        Obat-obatan tradisional tersebut oleh penduduk setempat sering digunakan sebagai penyembuh penyakit kelamin, keluarga berencana, kekuatan jasmani, dan obat penyakit lainnya.

        Untuk mengumpulkan  tanaman obat di hutan gambut tropika Kalteng itu sekarang sedang diusulkan pembangunan sebuah kebun raya tanaman obat-obatan  di Kota Palangkaraya, sebagai lokasi penelitian, lokasi pendidikan, dan lokasi ekowisata.