MENCARI SOLUSI ATASI KERUWETAN PENYELANGGARAAN HAJI INDONESIA

naik-bisbeginilah jemaah Indonesia selalul rebutan naik bis

OLEH HASAN ZAINUDDIN
Banjarmasin,8/10  Tiap tahun jumlah jemaah haji Inodonesia ke tanah suci Mekkah Arab Saudi  selalu saja bertambah seiring kian meningkatnya jumlah penduduk dan kesejahteraan masyarakat, sehingga menimbulkan keruwetan dalam penyelanggaraan ibadah haji tersebut.
Berbagai upaya telah pula ditempuh pemerintah agar penyelanggaraan haji tersebut lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya, tetapi tetap saja menimbulkan banyak problematika dalam kegiatan tersebut sehingga diperlukan semacam format yang ideal dalam upaya meminimalisir persoalan.
Menteri Agama (Menag) Maftuh Basyuni dalam suatu kesempatan mengakui begitu banyak persoalan dalam penyelanggaraan haji oleh karenanya dirinya akan bekerja secara maksimal untuk suksesnya pelaksanaan ibadah haji.
?Tugas penyelanggaraan haji ini menjadi barometer dan citra departemen  saya makanya harus benar-benar dikelola secara baik dan benar,? kata Maftuh Basyuni beberapa waktu lalu.
Maftuh menambahkan, kalau Depag ingin sukses melaksanakan penyelenggaraan ibadah haji, maka harus memiliki keberanian menegakkan aturan. Sekali aturan dilanggar, maka seterusnya akan menemui hambatan.
Menurutnya pula ada pihak yang ingin ikut memperbaiki pelaksanaan ibadah haji, tapi yang terjadi justru memperkeruh. Hingga kini, hal itu masih dirasakan.
Sementara seorang seorang pejabat Depag RI, lainnya menyatakan bahwa penyelanggaraan ibadah haji Indonesia selalu menimbulkan keruwetan lantaran jumlah jemaah haji itu yang sangat besar dibandingkan dengan jumlah jemaah haji di negara lain.
“Bagaimanapun baiknya sistem penyelanggaraan haji di Indonesia  dengan jumlah jemaah yang begitu besar dipastikan selalu saja ada persoalan,” kata Direktur Pembinaan Haji, Direktorat Penyelanggaraan Haji dan Umrah, Departemen Agama RI, Prof Dr Iskandar, Idy saat berada di Banjarmasin, Rabu.
Hal itu, diketengahkan Iskandar Idy ketika memberikan pengarahan kepada peserta orientasi pemantapan kinerja Panitia Penyelanggaraan Ibadah Haji (PPIH) embarkasi tahun 2008 yang diikuti berbagai peserta dari berbagai instansi yang terkait dalam PPIH tersebut.
Ia menambahkan dengan jumlah jemaah yang besar itu ternyata berlatar belakang jemaah yang sangat berbeda-beda pula, ada pegawai, ada pedagang, ada petani, buruh, dan sebagainya.      Begitu juga tingkat pengetahuan, penddidikan yang berbeda-beda pula, sehingga melahirkan tingkat variatif yang sangat tajam.
Dibandingkan bila harus membawa sebuah tim olahraga yang memiliki latar belakang yang sama maka membawa jemaah haji relatikf sangat sulit.
“Kalau disebuah tim sepak bola ada yang nakal, maka yang bersangkutan bisa diberhentikan atau ditinggal dalam satu tim, tetapi kalau ada jemaah yang nakal, apanya yang diberhentikan,” katanya sambil tersenyum.
Oleh karena itu diperlukan pendekatan kepribadian atau pendekatan lainnya terhadap para jemaah yang begitu banyak tersebut.
Jumlah jemaah haji Indonesia berdasarkan kouta tercatat 210 ribu orang. Jumlah itu begitu besar bila dibandingkan jemaah lain,  negara Malaysia hanya 26 ribu jemaah saja, apalagi Brunei Darussalam 7000 orang, Singapura hanya 4700 orang.
Melihat begitu besarnya jumlah jemaah haji Indonesia itu maka janganlah bermimpi bila penyelanggaraan haji bisa berjalan tanpa ada persoalan.
Tindakan yang bisa dilakukan adalah bagaimana menekan sekecil mungkin berbagai persoalan itu, dengan cara melakukan penyelanggaraan secara profesional oleh tenaga atau sumberdaya manusia (SDM) yang profesional pula.
Selain itu harus dicarikan berbagai format penyelanggaraan haji yang ideal untuk mengurus jemaah yang begitu besar, salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan sistem penyelanggaraan ibadah haji secara terpadu yang melibatkan banyak pihak yang terkait.
Selain itu persoalan yang selalu muncul dalam penyelanggara haji Indonesia, karena dengan jumlah jemaah yang besar maka di situ terdapat banyak uang, sehingga semua orang ingin melibatkan diri dalam urusan haji.
“Bayangkan saja, kalau saat ini jumlah jemaah haji Indonesia 210 ribu orang dikalikan Rp35 juta per orang maka sudah terdapat sedikitnya Rp7 triliun, suatu jumlah yang sungguh menggiurkan banyak orang untuk bisa melibatkan diri, termasuk para pedagang sandal, pedaganga baju, pedagang payung, pedagang jaket, yang ingin melibatkan diri itu,” katanya.
Oleh karena itu,  Menteri Agama telah mengharamkan pegawai depag melakukan kegiatan yang bisa mencari untung dalam penyelanggaraan ibadah haji ini.
Melihat dalam penyelanggaraan haji yang begitu banyak uang,  maka sudah saatnya petugas penyelanggaraan haji ini yang direkrut Depag tidak hanya seorang yang ahli tafsir, ahli hadist, atau ahli fikih, tetapi juga diperlukan tenaga yang benar-benar ahli bidang lainnya,  seperti para sarjana manajemen, sarjana ekonomi, atau sarjana bidang lain yang benar-benar profesional.
Tenaga-tenaga ahli tersebut bisa memperbaiki sistem penyelanggaraan haji kedepan, dengan sistem manajemen yang baik dan dilakukan dengan niat yang iklas tanpa ada motivasi lain,
Selain itu, tambahnya, perbedaan budaya antara masyarakat Indonesia dengan masyarakat Arab Saudi harus pula dipelajari dalam upaya mencari solusi pemecahan keruwetan penyelanggaraan haji tersebut, karena persoalan katering makanan dalam penyelanggaraan haji tahun 1428 lalu dilatar belakangi pula persoalan perbedaan budaya teresebut,
Solusi lainnya adalah dengan cara meningkatkan koordinasi antara berbagai pihak yang terlibat dalam penyelanggaraan haji ini, oleh karena itu harus pula dicari format yang baik dalam hal koordinasi tersebut.
Terpadu
Melihat berbagai persoalan yang  terus menjadi pekerjaan rumah pemerintah itulah maka  kantor Kanwil Depag Kalsel mencoba mencari format yang baik dalam upaya penyelanggaaran haji setidaknya di embarkasi haji Bandara Syamsudin Noor.
Upaya Kalsel mengurangi persoalan itu mengingat jemaah haji Kalsel juga terus meningkat dan hingga kini daftar tunggu calon jemaah haji Kalsel sudah tercatat sekitar 25 ribu orang, sementara kouta haji Kalsel per tahun dihitung dari kalkulasi penduduk hanya sekitar 3496 orang.
Berarti kalau seseorang mendaftarkan diri sebagai calon haji sekarang dengan menabung di bank, berarti lima tahun kedepan baru dapat giliran menunaikan ibadah haji.
Kepala Kanwil Depag Kalsel, Prof Dr Fahmi Arief  sendiri mengakui kian banyaknya jemaah haji ingin berangkat ke tanah suci maka harus ada sistem penyelanggaraan yang baik di wilayah ini, karena itu perlu ada penangannan secara seksama agar pelayanan bisa maksimal.
Melihat kenyataan itulah maka digelar orientasi pemantapan kinerja Panitia Penyelenggaraan Ibadah Haji (PPIH) yang diikuti 25 peserta yang merupakan petugas berbagai instansi yang terkait dalam PPIH tersebut.
“Tujuan penyelenggaraan orientasi itu dalam upaya meningkatkan kemampuan dan profesionalisme petugas PPIH,” kata Kepala Bidang Penyelanggaraan Haji dan Umrah Kanwil Depag Kalsel, Drs Anwar Hadimi di sela-sela latihan dan orientasi tersebut.
Tujuan lain adalah terwujudnya pembinaan, pelayanan, dan perlindungan yang sebaik-baiknya bagi jemaah haji sehingga jemaah haji dapat menunaikan ibadahnya sesuai dengan ketentuan ajaran agama Islam dengan aman, lancar, dan selamat.
Materi yang disampaikan dalam kegiatan yang dibuka Kepala Kanwil Depag Kalsel Prof Dr Fahmni Arief antara lain kebijakan teknis penyelanggaraan haji, tugas dan fungsi PPIH embarkasi, koordinasi dan sinkronisasi PPIH embarkasi, dan penyehatan lingkungan asrama haji.
Selain juga ada materi mengenai penanganan kesehatan haji, teknis keimigrasian, keselamatan penerbangan haji, teknis pengamanan pemberangkatan dan pemulangan jemaah haji, serta permasalahan yang timbul di embarkasi dan debarkasi.
“Materi disampaikan delapan narasumber, diantaranya Direktur Pembinaan Haji, Direktorat Penyelanggaraan Haji dan Umrah, Departemen Agama RI, Prof Dr Iskandar, Idy.
Latihan dan orientasi selama tiga hari itu diikuti peserta dari unsur perusahaan penerbangan PT Garuda, Imigrasi, Bea dan Cukai, PT Angkasa Pura I, Dinas Kesehatan, Kanwil Depag, dan beberapa instansi lainnya lagi.
“Penyelanggaraan kegiatan itu dimaksudkan untuk memberikan pembinaan, pelayanan, dan perlindungan yang sebaik-baiknya bagi jemaah haji sehingga jemaah haji dapat menunaikan ibadahnya sesuai dengan ketentuan ajaran agama Islam,” katanya.
Melalui berbagai latihan dan orientasi demikian diharapkan terdapat sebuah format yang ideal melibatkan semua pihak secara terpadu hingga bisa menjadi solusi mengatasi kekisruhan dalam penyelanggaraan haji setidaknya di embarkasi Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin.

tidur-dan-lelahlelah dan tidur

MERIAM BAMBU JARANG TERDENGAR LAGI DI PERKOTAAN KALSEL

Oleh Hasan Zainuddin
Dentuman meriam bambu dengan bunyi menggelar kini hampir tak terdengar lagi di kawasan perkotaan Kalimantan Selatan (Kalsel) saat bulan Ramadhan seperti sekarang.
Kebiasaan perang-perangan dentuman meriam bambu oleh kawula muda yang dulu mewarnai Ramadhan di perkotaan Kalsel, mulai ditinggalkan.
Namun suara bising tidaklah hilang sama sekali karena dentuman meriam bambu kini berganti dengan dentuman bunyi mercon yang bersahut-sahutan yang dibarengi kerlap-kerlib kembang api di udara, khususnya di kota-kota besar seperti Banjarmasin, Ibukota Provinsi Kalsel.
Udin (10 tahun) warga Banjarmasin, mengakui lebih senang bermain mercon ketimbang harus bermain meriam bambu, seperti anak-anak tempo dulu.
Masalahnya, tambahnya, bermain mercon tinggal minta uang kepada orang tua lalu membeli mercon yang banyak dijual secara menjamur di pinggir jalan, tinggal sulut, maka berbunyilah dar—dir.. door– dan byaaaar suara kembang api.
Sementara kalau main meriam bambu, harus mennyiapkan sendiri  peralatannya seperti bambu, selain itu proses pembuatannya agak susah dan kalau tidak pandai merakitnya maka meriam bambu itu pun tidak akan berbunyi.
Apalagi bahan bambu di wilayah Kota Banjarmasin nyaris tak pernah ada lagi, kecuali harus membeli di penjual bambu, maka pembuatannya cukup merepotkan, kata Udin.
Ketimbang bersusah payah maka lebih baik, beli mercon atau kembang api tinggal kumpulkan teman-teman sulut bersama-sama baik di halaman rumah atau pinggir jalan maka kegembiraan sudah bisa dirasakan, kata Udin.
Kebiasaan memainkan meriam bambu sudah menghilang sejak beberapa dasawarsa ini, bukan saja di kota besar seperti Banjarmasin, tetapi juga di kota-kota kecil lainnya.
Meskipun demikian sesekali masih ada terdengar dentuman meriam bambu di beberapa desa di kawasan Banua Enam (enam kabupaten Utara Kalsel).
Memainkan meriam bambu saat bulan Ramadhan pernah dikenal pada masa lalu, tetapi belakangan mulai ditinggalkan oleh masyarakat  setelah ada larangan dari aparat pemerintah terhadap permainan yang dinilai bisa membahayakan tersebut.
Tetapi kemungkinan pula hilangnya permainan meriam bambu terjadi karena bahan bambu semakin sulit diperoleh di hutan, setelah banyak hutan kini terus digunduli untuk ditebang kayunya yang menurunkan populasi bambu.
Permainan meriam bambu semakin sulit karena untuk memainkannya juga memakai minyak tanah sebagai bahan dasar menyulut api dan minyak tanah juga kian langka atau mahal harganya.
“Ketimbang main meriam bambu uang untuk beli minyak tanah lebih baik dibelikan beras saja,” demikian ungkapan seorang pemuda di Banjarmasin.
Hilangnya permainan meriam bambu itu menimbulkan kerinduan pada generasi yang pernah memainkannya, karena dentumannya yang terdengar hanya pada saat Ramadhan dinilai sebagai penyemarak datangnya bulan suci tersebut.
“Dulu kalau dengar bunyi dar…dir… door meriam bambu bersahut-sahutan, hati ini rasanya senang sekali, dan merasakan   bahwa saat-saat datangnya bulan Ramadhan,” kata seorang penduduk di Bilangan Kabupaten Balangan, Kalsel.
Karena merasa senang, maka hampir semua anak yang tumbuh dapa tahun 1960-an hingga tahun 1980-an itu memiliki meriam bambu sendiri, sehingga suasana kampung benar-benar riuh rendah oleh bunyi dentuman secara bersahut-sahutan, katanya.
Kebiasaan menyulut meriam bambu ini dilakukan saat usai buka puasa dan jeda sebentar saat jemaah banyak shalat tarawih, kemudian dilanjutkan seusai tarawih hingga tengah malam, lalu jeda lagi kemudian dibunyikan lagi saat membangunkan warga makan sahur.
Berdasarkan ketarangan warga di Desa Maradap, Kecamatan Paringin Selatan, Kabupaten Balangan membunyikan meriam bambu tersebut kian menjadi-jadi saat saat menjelang lebaran, bahkan saat-saat seperti itu biasanya dilakukan lomba atau perang-perangan meriam bambu.
Bahkan untuk memenangi suatu kelompok perang-perangan, meriam bambu dirasa tidak cukup maka ditambah lagi dengan meriam karbit.
Dalam lomba perang-perangan antar kelompok yang satu berasal dari kampung yang satu dengan kelompok dari kampung yang lain.
Biasanya lokasi perang-perang ini dibatasi oleh sungai atau jembatan, maka setiap moncong meriam bambu atau meriam karbit   diarahkan ke kampung seberang.
Saat lomba perang-perangan ini banyak warga kampung yang bersedia menjadi donatur pembelian minyak tanah atau bahan karbit, karena keinginan agar kampung mereka bisa dinyatakan lebih unggul ketimbang kampung yang lain.
Hanya saja dalam arena perang-perang meriam buatan rakyat ini tak pernah memunculkan perselisihan atau konflik fisik antar kampung, kecuali hanya memunculkan sorak sorai kegirangan dibarengi gelak tawa karena tak sedikit pemain yang menyulut meriam bambu itu yang alis, bulu hidung, bahkan rambut bagian atas hangus terbakar terkena sambaran api saat membunyikan meriam bambu tersebut.
Meriam bambu
Meriam bambu dibuat dari buluh bambu yang besar dan tebal, yang dilubangi penyekat ruasnya seperti biasa dipakai buat saluran air yaitu dengan diameter kira-kira 10 cm, tebalnya sekitar 1 cm.
Membuat meriam bambu cukup gampang, yaitu pertama menghilangkan ruas-ruas bambu dengan cara menyodoknya memakai kayu atau besi, sehingga tabung bambu menyerupai pipa besar.
Tapi, satu sekat di salah satu ujung bambu dibiarkan utuh, dan di dekatnya dibuat lubang dengan diameter sekitar 2 cm.
Ada tiga fungsi lubang tadi, yaitu sebagai lubang tiup untuk memasukkan  minyak tanah, mencelupkan api yang membakar kain di ujung sebuah tongkat kecil, dan tempat untuk meniup api yang membakar minyak tanah di dalam tabung bambu.
Gas hasil pembakaran yang tersekap di dalam tabung bambu otomatis akan mencari jalan keluar.  Pemain akan memberikan tekanan udara dengan meniup udara yang terus-menerus dan gas hasil pembakaran itu akan bergerak ke arah ujung bambu yang bolong. Maka meletuslah suara “tum tam dor” yang terdengar menggelegar.
Setiap dentuman biasanya disambut sorak sorai para pemainnya.
Untuk memainkan meriam bambu harus memiliki keahlian, sehingga para pemain mampu menciptakan suara dentuman yang menggelegar, dan terhindar dari “kebakaran lokal” yang mungkin terjadi.
“Jika kurang terampil, salah-salah alis mata hangus atau rambut bagian depan gosong.” kata seorang pria yang dulu gemar memainkan meriam bambu.
Kecelakaan sering terjadi karena pemain kurang ahli sehingga gas hasil pembakaran yang sudah ditiup ke arah lubang di ujung keluar, malah berbalik ke arah lubang tiup, dan menyemburkan api serta gas yang sangat panas ke arah muka pemain.
Sementara meriam karbit, bukanlah meriam yang terbuat dari besi atau yang seperti dilihat untuk peperangan, tapi hanya meriam yang terbuat dari bambu besar, atau yang disebut bambu batung, atau batang pepaya yang dikat.
Untuk menghasilkan suara yang lebih menggelar bisa dibuat dari batang kayu besar yang berdiameter sekitar 50 cm – 100 cm dan panjang antara 4 – 7 meter, yang dilubangi ditengahnya.
Batang tersebut diisi dengan air dan dimasukkanlah bahan karbit sebagai mesiunya.
Karbit yang bereaksi dengan air akan menghasilkan gas yang jika disulut dengan api akan mengakibatkan ledakan. Untuk satu kali permainan paling tidak dibutuhkan sekitar 3-5 ons karbit.
Suara ledakkannya dapat menggoyangkan bangunan sekitar, bahkan memecahkan kaca-kaca rumah jika jarak antara meriam dengan rumah terlalu dekat. Itu sebabnya permainan ini dianggap membahayakan dan sekarang dilarang, katanya

(perang meriam bambu di desa Garut :foto:abuafatah

PERANG MERIAM BAMBU MASIH HIDUP PE DEDALAMAN KALSEL
Banjarmasin,3/10 ()- Kendati permainan perang-perangan meriam bambu dan meriam karbit mulai menghilang di kalangan masyarakat perkotaan Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) di saat menyambut bulan Ramadhan dan hari Idul Fitri ternyata permainan tahunan itu masih hidup di beberapa wilayah pedalaman Kalsel.

Tiga anak bermain di atas meriam karbit terbuat dari batang enau di Desa Limpasu, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) Kalsel.

Seperti pemantauan penulis yang melakukan mudik lebaran 1429 hijriah ke kawasan Kabupaten Balangan, Jumat bunyi meriam bambu satu dua kali masih terdengar dimainkan anak-anak setempat, walau sudah memasuki hari ketiga Idul Fitri.
Seperti terlihat di kawasan Pandan Kecamatan Awayan, 230 KM Utara Banjarmasin masih banyak terlihat anak-anak memainkan meriam bambu, begitu juga ke arah Desa Polantan, Sikuntan, Tariwin, Hingga ke Desa Limpasu dan Karatongan Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) bunyi meriam bambu masih terdengar.
Sementara di pinggir-pinggir jalan antara Desa Pudak Kecamatan Awayan Kabupaten Balangan hingga ke Birayang Kabupaten HST, di beberapa lokasi tertentu tampak berserakan bekas meriam bambu yang pecah akibat perang-perangan.
Berdasarkan beberapa pemuda di kawasan Desa Kimpasu, perang-perangan meriam bambu dan meriam karbit terus berlangsung setiap malam pada Ramadhan, namun puncaknya malam Idul Fitri.
Para pemuda setempat selain menyiapkan puluhan  meriam bambu juga puluhan pula meriam karbit yang terbuat dari pohon rumbia serta pohon enau.
Pohon-pohon itu oleh pemuda setempat setelah ditebang lalu diproses menjadi meriam karbit, kemudian diikat sekuatnya dengan rotan walatung agar tidak pecah saat diledakan.
Meriam tersebut setelah diberi air secukupnya lalu dimasukan karbit hingga melahirkan gas yang bila disulut dengan api menimbulkan ledakan yang menggelagar, sehingga terdengar beberapa kilometer dari lokasi ledakan.
Menurut beberapa pemuda, sengaja meletakan  meriam karbit tersebut berada di persawahan agak jauh dari lokasi rumah penduduk, karena bila dekat rumah bisa jadi kaca jendera rumah akan pecah berantakan terkena getaran meriam buatan tersebut.
Hanya saja saat wartawan berada di lokasi puluhan meriam karbit tersebut tidak lagi dibunyikan karena sudah memasuki hari ketiga Idul Fitri, kecuali beberapa meriam bambu yang masih dimainkan anak-anak.
Walau tidak dimainkan lagi meriam karbit tersebut namun lokasi dimana meriam karbit berada menjadi tontonan banyak pemuda dan anak-anak sehingga di lokasi itu terlihat ramai.
Lokasi perang-perangan meriam bambu dan meriam karbit tersebut menurut masyarakat setempat   sudah membudaya secara turun temurun, khususnya pada malam Idul Fitri,  walau sekarang sudah banyak mercon dan kembang api di pasaran setempat,namun tidak mengikis kebudayaan tersebut.

 Tiga anak bermain meriam bambu di dekat Pasar Awayan Kabupaten Balangan
Bunyi meriam bambu dan meriam karbit identik dengan datangnya Ramadhan sementara bunyi merecon atau kembang api biasa juga terdengar pada saat malam tahun baru atau perayaan-peraan lainnya sehingga setiap Ramadhan tak bisa dihilangkan kebudaaan menyulut meriam bambu tersebut.

MENGANGKAT KEMBALI BUDAYA BADADAMARAN SELAMA RAMADHAN

          Oleh Hasan Zainuddin
          Banjarmasin, 17/9 (ANTARA)- Sekelompok anak muda menyalakan obor terbuat dari minyak tanah sambil bercanda ria di tengah suasana kampung yang terang benderang sambil menggelolarkan budaya Badadamaran di malam bulan Ramadhan.
         Sesekali mereka bersuara agak kencang dengan kata-kata “kalah kampung di hulu, kalah kampung di hilir, manang kampung tengah,” seakan menandakan bahwa kelompok anak muda yang berada di kampung (desa) tengah tersebut memenangi gerakan menyalakan lampu malam Ramadhan tersebut.

          Kebiasaan menyalakan lampu obor, atau penerangan apa saja di saat malam-malam Ramadhan yang disebut budaya Badadaran merupakan budaya yang sudah turun temurun di dalam masyarakat Suku Banjar yang mendiami kawasan Kalimantan Selatan (Kalsel) khususnya lagi di kawasan Banua Enam (enam kabupaten Utara Kalsel).
          Tak ada yang tahu persis mengapa budaya tersebut sudah ada sejak turun temurun di dalam masyarakat yang tinggal di pulau terbesar Indonesia tersebut, namun perkiraan hal itu muncul setelah para ulama tempo dulu menganjurkan umat Islam supaya menyemarakkan datangnya ramadhan dengan memberikan penerangan di muka rumah masing-masing.
         Tujuannya agar umat Islam yang ingin bepergian ke masjid, ke surau untuk melaksanakan shalat tarawih berjemaah akan mudah, atau melakukan ibadah lainnya.
         Menurut berbagai cerita tetuha masyarakat di bilangan Kecamatan Paringin Selatan, Kabupaten Baangan, atau sekitar 210 Km Utara Banjarmasin berbagai cara dilakukan masyarakat untuk menyemarakan budaya memberikan penerangan di pekarangan rumah di malam-malam Ramadhan tersebut.
         “Waktu dulu karena tak ada alat yang mudah untuk menyalakan lampu penerangan di depan rumah, maka penduduk di wilayah Banua Enam (dulu masih Banua Lima) karena masih belum ada pemekaran kabupaten di  Kalsel ini, memanfaatkan gatah kayu damar untuk disulut menjadi obor, sebagai alat penerangan,” kata Wahyudin penduduk Desa Panggung.
         Akibat kebiasaan menyulut getah kayu damar yang dinamakan damar tersebut maka budaya penerangan tersebut disebut Badadamaran, tambahnya.
         Seiring perkembangan zaman di saat getah kayu damar sulit diperoleh maka selanjutnya warga setempat menggantikan damar dengan karet lembaran kering yang setelah disulut dengan api lalu menyala menjadi obor.
         Agar memudahkan menyalakan karet tersebut  maka dibuatkan wadah yang terbuat dari batang pisang, pelepah daun rumbia, atau menggunakan bambu.
         Tempat membakar karet tersebut pun di bentuk-bentuk ada yang menyerupai kapal terbang, menyerupai binatang, menyerupai rumah-rumahan dan sebagainya, sehingga ketika deretan karet yang dinyatakan di tempat itu maka terlihat indah.
         “Biasanya antar kelompok pemuda di kampung berbeda seakan berlomba membuat lokasi Badadaran seindah mungkin, agar dikatakan berjaya dalam arena Badadamaran tersebut,” kata Wahyudin.
         Pada perkembangan berikutnya, bukan saja karet yang dibakar tetapi sudah lebih modern dengan menempatkan batang-batang lilin di tempat-tempat yang dibuat untuk budaya Badadamaran tersebut, bahkan deretan ampu templok menggunakan minyak tanah.
         Lalu setelah zaman terus berkembang pada tahap berikutnya, budaya Badadamaran khususnya di kampung-kampung tertentu sudah pula memanfaatkan lampu lampion atau lampu berhias yang disebut tanglong.
         Bahkan perkembangan terakhir setelah listrik masuk desa ke seluruh wilayah Kalsel memasang lampu penerangan di depan rumah dengan bahan seadanya yang semakin berkurang, bahkan di ganti bola-bola listrik kecil warna warni menghiasi depan rumah dan pinggir jalan desa-desa tersebut.
         Akhirnya memasuki era tahun 90-an dan tahun 2000-an ini, budaya Badadamaran nyaris menghilang karena banyak warga menggantikannya dengan lampu listrik kecil kerlap-kerlib.
         Ketika penulis melakukan perjalan dari Banjarmasin ke wilayah Banua Enam  beberapa hari lalu tak melihat tradisi khas saat Ramadhan seperti “badadamaran” menyulut lampu minyak tanah atau obor karet di tepi jalan atau di muka rumah.
         Beberapa penduduk Banua Enam menuturkan budaya Badadamaran tersebut, mulai menghilang sejak berhasilnya program pemerintah menggalakkan listrik masuk desa yang hampir mencapai seluruh
wilayah Kalsel.
         “Perkiraan budaya Badadamaran ini sudah mulai hilang sekitar satu dasawarsa lalu. Tadinya walau listrik sudah menyala di desa namun ada saja warga yang melakukan budaya tersebut, tetapi belakangan ini benar-benar sudah hilang,” kata seorang penduduk.
         Selagi budaya tersebut masih marak, kedatangan bulan Ramadhan begitu terasa, sebab sepanjang desa yang tadinya gelap gulita tak ada penerangan menjadi suasana terang benderang. Setiap buah rumah menyalakan lampu-lampu di tepi jalan atau depan rumah dengan jumlah beberapa buah.
         Melihat kenyataan menghilangnya budaya tersebut maka melahirkan keinginan Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin pada bulan Ramadhan tahun 1429 hijriah atau tahun 2008 ini kembali membudayakan kebisayaan masyarakat suku Banjar, menggelar atraksi budaya “badadamaran.”
    “Badadamaran atau menyalakan lampu penerangan sebanyak mungkin di pekarangan rumah selama bulan Ramadhan, khususnya masuk malam ke 21 Ramadhan atau malam selikur,” kata Walikota Banjarmasin. Haji Yudhi Wahyuni.
         Untuk mensukseskan tersebut pihak Pemko Banjarmasin melalui Dinas Tata Kota (Distako) dan Dinas Informasi dan Komunikasi (Infokum) akan membuat surat edaran yang ditujukan kepada seluruh pemilik rumah, pemilik toko, pemilik bangunan yang ada di Banjarmasin untuk membuat lampu penerangan berhias atau tanglong di depan rumah atau toko masing-masing.
         Pihak pemko Banjarmasin sendiri akan membangun lampu berhias atau tanglong di median jalan-jalan protokol, seperti jalan Sudirman, jalan Lambung Mangkurat, serta Jalan Hasanudin HM, agar jalan-jalan protokol tersebut semarak oleh lampu berhias khususnya memasuki malam ke-21 hingga malam lebaran.
         Selain itu Pemko Banjarmasin meminta kepada seluruh camat dan lurah untuk berbuat serupa beramai-ramai membuat tanglong atau lampu penerangan di lokasi kecamatan atau kelurahan hingga ke kampung-kampung agar Ramadhan tahun ini semarak dengan lampu penerangan.
         “Kepada kelurahan yang ternyata berdasarkan penilaian menciptakan suasana bulan Ramadhan dengan budaya badadamaran yang semarak akan memperoleh hadiah dari pemko Banjarmasin, juara yang diberikan hadiah dari kelurahan juara I hingga kelurahan juara III,” kata Walikota Banjarmasin.
         Berdasarkan berbagai keterangan budaya badadamaran ini beberapa tahun belakangan ini kian jarang dilakukan masyarakat, terutama setelah masuknya energi listrik ke berbagai pelosok kampung bukan sana di Kota Banjarmasin tetapi hingga ke pelosok desa Kalsel.
         Beberapa anggota masyarakat Banjarmasin menyambut baik prakarsa Pemko Banjarmasin menyemarakan kembali budaya yang sudah hilang tersebut, bahkan beberapa anggota masyarakat sudah menyiapkan beberapa lampu lentera yang bakal dihias  menjadi lampu tanglong yang akan ditempatkan di tepi-tepi jalan dan pekarangan rumah.
         “Kita berharap pembudayaan kembali Badadamaran tersebut, akan membangkitkan semangat menyambut Ramadhan dan bisa bernostalgia di kala masih anak-anak dulu,” Kata Kaspul warga Banjarmasin yang berasal dari Banua Enam tersebut.

BAHASA BANJAR BANYAK DIPENGARUHI BAHASA MELAYU DAN DAYAK

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin, 2/3 (ANTARA)- Kalau orang berbicara masyarakat Kalimantan maka orang pasti mengenal bahasa Banjar, karena jenis bahasa ini cukup banyak dipergunakan disebagian masyarakat pulau tersebut juga di beberapa tempat di tanah air.
Bahasa Banjar ini berdasarkan keterangan banyak sekali berinduk dari bahasa Melayu, sementara bahasa Indonesia juga banyak dari bahasa melayu, sehingga bagi masyarakat tanah air tidak sulituntuk mempelajari bahasa Banjar ini, karena baik kosa kata bahasa Indonesa, bahasa Melayu, serta kosa kata bahasa Banjar banyak yang memiliki kesamaan.
Seorang pemerhati bahasa Banjar, Drs. Mukhlis Maman mengungkapkan bahwa bahasa Banjar yang dipakai hampir 99 persen penduduk propinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) banyak diakuinya dipengaruhi oleh bahasa Melayu. Tetapi juga dipengaruhi pula oleh bahasa Dayak.
Dengan pengaruh dua bahasa tersebut maka kalau ditinjau dari segi fonologi maupun morfologi, maka bahasa Banjar digolongkan pada dua karakter lingua, yaitu Banjar hulu dan banjar kuala, kata Mukhlis Maman yang juga dikenal sebagai komedian Kalsel itu di Banjarmasin, Rabu.
Menurutnya ketika menyampaikan makalah berjudul bahasa Banjar dalam Media Tradisional pada acara penyuluhan bahasa Banjar untuk kalangan pelajar fonologi bahasa Banjar hulu hanya mengenal tiga huruf vokal yaitu, a,i,u.
Sedangkan Banjar kuala terdapat enam huruf vokal yaitu a,i,u,e,o,dan e’, kanyanya dalam acara penyuluhan yang digelar Dinas Pariwisata dan Budaya Kalsel bekerjasama dengan Taman Budaya Banjarmasin tersebut.
Morfologi bahasa banjar hulu banyak sekali menggunakan kosa kata arkais yang sering digunakan oleh masyarakat adat etnik bukit, sedangkan Banjar kuala banyak menggunakan kata etnik melayu.
Ciri lain pengguna bahasa Banjar hulu adalah masyarakat yang menghuni dataran sedang dan perbukitan dan daerah perladangan, dengan dialektis agak kaku, pendek-pendek, keras dan cepat.
Sedangkan bahasa Banjar kuala adalah masyarakat yang menghuni tepian sungai, laut, muara rantauan dan pendukuhan dengan dialektis mengalun, meliuk-meliuk, tidak keras dan tidak cepat.
Oleh karena itu perbedaannya tidak terlalu menyolok, hanya mungkin pada pengunaan beberapa kosa kata saja, maka antara kedua wilayah karakter bahasa ini tidak ada kesulitan dalam berkomunikasi maupun dalam percakapan.
Ditambahkannya dalam perjalanan kehidupan Bangsa Banjar tempo dulu maka peranan bahasa merupakan unsur paling utama dalam hubungan berkehidupan dengan etnis dan bangsa lainnya.
Bahasa yang digunakan dinamakan bahasa Banjar yang terdiri dari campuran bahasa Dayak dan Melayu, sehingga bahasa Banjar menjadi bahasa pergaulan (lingua franca) bagi penutur puluhan bahasa daerah di wilayah Kalsel, Kalteng, Kaltim, bahkan beberapa daerah di Brunei Darusalam dan negara bagian Malaysia di Utaran Pulau Kalimantan.
Para linguis (ahli bahasa) dalam diakronis (kesejarahan bahasa) menyatakan bahwa bahasa Banjar termasuk kedalam anggota kerabat rumpun bahasa Austronesia Barat di wilayah gugusan kepulauan di selatan lautan Fasifik) yang dihipotesiskan berbeda dengan bahasa yang lainnya yang terdapat di wilayah tersebut.
Dalam kedudukannya bahasa Banjar diketahui sangat terpengaruh besar di daratan Borneo, oleh karena itu bahasa Banjar memiliki beberapa fungsi, antara lain lambang kebangsaan daerah, lambang identitas masyarakat Banjar, media penghubung perkacapan dalam keluarga, media berkomunikasi dengan berbagai masyarakat yang ada di Kalsel, Kalteng,dan Kaltim.
Di Kalsel, pengguna bahasa banjar hampir 99 persen, dengan berbagai sub dialek dan kosa kata arkais dari daerah tertentu dipropinsi ini, disamping itu ada pula beberapa masyarakat pendatang yang tinggal dan menetap di daerah ini dengan cepat tertular tuturannya kedalam bahasa banjar.
Walaupun para penutur bahasa banjar sebagai ekabahasawan dengan keanekaragaman kosa kata, pada umumnya mampu juga dengan mudah menuturkan bahasa Indonesia karena kebetulan struktur dan kota kata yang digunakan memiliki banyak persamaan.
Menyinggung penggunaan bahasa Banjar dalam media tradisional, seniman yang tergabung dalam group Warung Bubuhan ini menyebutkan memang ada beberapa bentuk media tradisional yang pengungkapannya melalui bahasa Banjar lisan yang dilakukan secara bertutur.
Tetapi ada pula bahasa Banjar lisan yang dilakukan secara totalitas pertunjukan seperti media tradisional Dundam, kata dundam sendiri diperkirakan penyimpanan kata dari gurindam yaitu syair-syair mengandung nasehat, sedangkan dundam adalah cerita dalam ungkapan kesusastraan yang didalamnya juga terselip syair-syair bermakna nasehat.
Media tradisional lain menggunakan bahasa Banjar adalah lamut, andi-andi, pantun, pandung, syair, madihin, tablik, mamanda, wayang gong, wayang urang, wayang topeng, damarulan, japin cerita, japin anak delapan, tantayungan, serta sandiwara tonil.
Kian Meluas
Sementara Seorang dosen di Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin, dra.Hj Sunarti dalam kesempatan yang sama menyatakan bahwa pemakaian bahasa Banjar belakangan ini kian meluas bukan saja meliputi seluruh wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel) tetapi juga sudah digunakan ke wilayah lain.
Wilayah lain yang menggunakan bahasa Banjar tersebut adalah sebagian wilayah kalimantan Timur (Kaltim) Kalimantan tengah (Kalteng) Bahkan ke daerah Tembilahan Indragiri Hilir (Inhil), sebagian Sumatera Utara hingga ke Semanjung Malaysia katanya saat memberikan pressentasi mengenai bahasa Banjar di Banjarmasin,
Penyebaran bahasa banjar tersebut erat kaitannya dengan kian menyebarnya komunitas suku Banjar, atau etnis Banjar yang berasal dari Kalsel kemudian merantau ke berbagai wilayah tanah air hingga Malaysia.
Menurut Hj Sunarti dosen Fakultan Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unlam tersebut, seorang peneliti bahasa Banjar (BB) yaitu Cense (1958) mengelompokkan BB menjadi BB di Banjarmasin dan sekitarnya dan BB daerah Hulu Sungai.
Sementara seorang guru besar bahasa Hapip (1975) mempertegas dan pembeda bahasa Banjar hulu (BBH) dengan bahasa Banjar kuala (BBK) yaitu perbedaan kosa kata tertentu dan sistem bunyi vokal kedua dialek tersebut.
Seperti halnya bahasa Indonesia dan bahasa lainnya, BB memiliki struktur bahasa yang diikuti dengan kaidah-kaidah atau norma bahasa yang terdiri atas kaidah atau aturan yang menyangkut tata bunyi, tata kata dan tata kalimat.
Kalimat BB terdiri atas kata-kata atau sekelompok kata yang memiliki fungsi tertentu di dalam kalimat baik sebagai subjek (S), predikat (P), objek (O) ataupun keterangan (Ket) serta pelengkap (pel).
Kalimat BB terdiri atas kata-kata atau kalimat BB dapat terjadi dari gabungan kata benda (KB), kata kerja (KK) kata sifat (KS), kata keterangan (K.ket), kata bilangan (K bil).
Sebagai contoh untuk KB, inya guru (dia guru), KB+KK julak tulak (paman pergi), KB+KS diyang bungas (gadis cantik), KB+K bil duit banyak (uang banyak).
Selain itu dijelaskan pula BB terdiri atas frase/kelompok kata benda (FB) kelompok kata kerja (FK) kelompok kata sifat (FS), kelompok kata bilangan (F bil) dan kelompok kata depan (FD).
FB+FK kaka kawalku sudah tulak (kakak temanku sudah pergi), FB+FB bubuhan kami guru sabarataan (keluarga kami guru semua), FB+FS nasi kuning itu kuning banar (nasi kuning itu kuning sekali), FB+F bil lulungkang rumahnya banyak banar (jendela rumahnya banyak sekali).
Dikatakan pola, pola kalimat BB berdasarkan konteks yaitu keadaaan suasana pemakaian kalimat tertentu seperti kalimat sapa contoh, Napang nang diitihi (apa yang dilihat), kalimat panggil, Ka lakas kasia (kakak lekas kemari), kalimat seru, Umai-umai kapurunan (aduh teganya), kalimat tanya, Lawan siapa ikam mambarasihi padu ( dengan siapa kamu membersihkan dapur), kalimat perintah, Barasiai Barataan (bersihkan semua), kalimat pemberitaan, Umahnya kamandahan (rumahnya kebakaran).
Dalam BB juga dikenal dengan kalimat tunggal dan kalimat majemuk, Kalimat tunggal hanya terdiri atas satu subjek dan satu predikat dan satu objek, kalimat majemuk terdiri atas dua kalimat atau lebih yang dipadukan menjadi satu.
Ia juga mencontohkan BB sesuai dengan pola kalimat S+P+O sebagai berikut, Urang Amuntai katuju makan kalangkala (orang Amuntai suka makan kalangkala), kalimat majemuk BB merupakan panduan dari beberapa kalimat tunggal sebagai contoh, Guru asik maajar tapi muridnya asik jua bapandiran (guru asik mengajar tapi muridnya asik pula ngobrol), demikian Sunarti.