IPA PULAU BROMO SENYUMAN 400 KK WARGA TRISOLIR

Oleh Hasan Zainuddin

bromo

Tak pernah sedikitpun terbayangkan dibenak Raudah (40) ibu dua anak warga Ujung Benteng Pulau Bromo Kelurahan Mantuil Kecamatan Banjarmasin Selatan Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, ini bakal bisa minum dan memanfaatkan air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bandarmasih kota setempat.

Pasalnya lokasi tempat tinggal mereka jauh di pesisir Sungai Barito walau berdekatan dengan Kabupaten Barito Kuala (Batola) namun secara geografis masih masuk wilayah Kota Banjarmasin, untuk kemana-mana apalagi ke pusat harus menggunakan angkutan sungai seperti jukung (sampan) atau klotok (perahu bermesin).

“Kami turun temurun hanya memanfaatkan air Sungai Barito yang keruh dan asin ini untuk keperluan air minum dan keperluan lainnya, syukur sekarang kami sudah bisa menikmati air bersih PDAM Bandarmasih,” kata Raudah saat menggendung seorang anak bungsunya.

Hanya saja,katanya untuk diminum air sungai tersebut dieendapkan dulu dalam wadah besar lalu diberi obat pembersih seperti tawas, rasanya tidak enak agak payau, tetapi karena tak ada pilihan maka tetap saja air itu digunakan.

Namun disaat kemarau air sungai begitu asin maka air sungai tak bisa diolah menjadi air minum karena kadar garamnya terlalu tinggi,sehingga warga setempat harus mencarinya ke sana kemari atau menunggu pedagang air bersih keliling pakai perahu dengan harga Rp1500 per jeregen.

“Kebiasaan tersebut sudah turun temurun hingga kehidupan yang dilalui hanya menggunakan air sungai itu, dan makanya sungguh tak disangka sekarang kok berdiri Instalasi Pengolahan Air (IPA) di kampung kami. Alhamdulilah,” kata Raudah sambil tersenyum.

Senyuman ibu Raudah tersebut agaknya satu dari senyuman 400 jiwa warga Pulau Bromo yang sejak dulu mendambakan air bersih PDAM, dan sekarang sudah kesampaian.
air
Direktur PDAM Bandarmasih Kota Banjarmasin Ir Muslih ketika bersama Wali Kota Banjarmasin Haji Muhidin mengunjungi IPA Pulau Bromo tersebut kepada penulis mengatakan pihaknya mencoba membangun IPA mengolah air asin menjadi air bersih yang tawar.

Keinginan tersebut sudah lama, pertimbangannya untuk mencoba mengolah air asin menjadi air tawar sebagai alternatif jika sumber air baku yang tawar berasal sungai terus berkurang dikemudian hari.

Masalahnya air baku PDAM Bandarmasih sekarang dengan produksi sekitar 2000 liter per detik semuanya dari air Sungai Martapura di kawasan Sungai Tabuk, namun debit air di kawasan tersebut sekarang berkurang seiring kerusakan hutan resapan air di Pegunungan Meratus.

Sementara air tanah di wilayah Banjarmasin yang berawa-rawa tidak bisa digunakan sebagai air baku, lantaran kadar keasaman yang tinggi disamnping terdapat kandungan besi yang juga tinggi.

Pilihan kedepan tentu mengolah air asin di Sungai Barito menjadi air tawar, ujicobanya yang berada di IPA Pulau Bromo ini, katanya seraya menyebutkan pembangunan IPA tersebut merupakan bantuan dari pemerintah pusat dan organisasi Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (Perpamsi).

Pertimbangan kedua perusahaannya bertekad bisa melayani air bersih 100 persen penduduk wilayah perkotaan walau mereka berada di lokasi terpencil dan terisolir sekalipun.

“Kita sudah banyak melakukan perbaikan sistem perpipaan, baik pipa besar dan pipa kecil ke daerah-daerah pelosok atau pinggiran Banjarmasin, maksudnya agar tidak ada lagi warga yang menjarit kesulitan air bersih”` kata Muslih.

Sementara di Pulau Bromo yang berada di kepulauan tengah Sungai Barito ini agak sulit dibangun perpipaan makanya dipertimbangan membangun IPA kecil dengan memanfaatkan air asin menjadi air bersih.

“Kita sudah membangun IPA skala kecil dengan kapasitas 0,5 liter per detik untuk pengolahan air laut menjadi air bersih di Pulau Bromo, dan cara tersebut merupakan yang kedua di Indonesia setelah sebelumnya dibangun skala kecil di Pulau Madura, Jawa Timur,”katanya.

Peresmian pemakaian IPA yang berlokasi di pemukiman tepian Sungai Barito tersebut dilakukan Wali Kota Banjarmasin Haji Muhidin seusai perayaan puncak HUT ke-41, Senin (18/2).

Dengan kapasitas itu diharapkan bisa melayani penduduk setempat yang terisolir itu disamping diharapkan mampu melayani kebutuhan air bersih kapal yang hilir mudik di kawasan perairan tersebut.

“Dengan keberhasilan pengelolaan IPA mengolah air laut jadi air bersih ini maka merupakan angin segar bagi perusahaan air minum kedepan yang selama ini kesulitan memperoleh air baku, dan kapasitas di lokasi Pulau Bromo itupun akan dinaikan hingga minimal lima liter per detik,” katanya seraya menjelaskan sistem IPA tersebut dengan “Reverse Osmosis Treatment.”

Hanya saja untuk sementara biaya pengolahan air laut menjadi air tawar ini relatif cukup mahal atau sekitar Rp7.500,- per meter kubik, padahal harga jual air bersih PDAM Bandarmasih Kota Banjarmasin, hanya Rp3.000,- per meterkubik.

Oleh karena itu, pengoperasian IPA di Pulau Bromo tersebut maka akan disubsidi oleh kantor pusat PDAM setempat, katanya.

air tabung

Sambungan MBR

Wali Kota Banjarmasin Haji Muhidin yang datang bersama para pejabat di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin merasa bangga PDAM yang merupakan perusahaan milik Pemkot setempat berhasil mewujudkan keinginan warganya non jauh dari pusat kota bisa menikmati air bersih.

“Bapak dan ibu apakah senang dengan adanya IPA air bersih ini,” kata Haji Muhidin di hadapan ratusan warga terpencil yang sebagian besar petani dan nelayan tersebut. “Tentu senang pak,” kata warga serentak seraya bertepuk tangan kepada wali kota.

Hanya saja, kata warga mereka tak mampu membayar biaya sambungan baru PDAM yang senilai Rp800 ribu itu. “Kami hanya berpenghasilan kecil mana mungkin kami bisa membayar sambungan baru senilai Rp800 ribu,” kata seorang bapak-bapak tua.

Mendengar keluhan tersebut, wali kota yang sempat berbisik dengan Direktur PDAM Bandarmasih Ir Muslih lalu berkata, “jangan khawatir kami akan memberikan kerirangan bagi warga di sini jika ingin memasang sambungan baru PDAM,” kata wali kota lagi.

Lalu wali kota menjelaskan bahwa Pemkot Banjarmasin melalui PDAM setempat telah memperoleh bantuan dari Pemerintah Australia untuk penyediaan air bersih dengan cara memberikan subsidi biaya sambungan baru Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).

“Melalui sambungan baru MBR warga hanya dikenakan Rp150 ribu, tidak dengan tarif normal Rp800 ribu,” kata wali kota menggunakan pengeras suara, seraya disambut tepuk tangan lagi oleh masyarakat setempat.

Sementara biaya pemakaian air bersih diberlakukan sama dengan tarif PDAM Bandarmasih lainnya yakni Rp3000 per meter kubik air.

Berdasarkan pemantauan penulis kondisi masyarakat Pulau Bromo memang cukup memprihatinkan selain kondisi rumah mereka yang begitu sederhanya hanya berbahan dasar kayu dan atap seng atau atap daun rumbia, juga rumah mereka tidak mempunyai jalan darat.

Semua jalan antara rumah ke rumah atau jalan utama merupakan titian atau jembatan kecil yang sambung menyambung dengan kondisi kontruksi juga memprihatinkan, lantaran titian atau jembatan terbuat dari kayu ulin (kayu besi) tersebut banyak yang miring, berlubang, ada bagian-bagian kayu yang terlepas.

Jalan utama masyarakat berupa titian atau jembatan panjang itu 1500 meter, hanya 20 meter yang baik itupun dibantu pembangunannya oleh PDAM Bandarmasih karena berdekatan dengan IPA Bromo tersebut.

Pada kesempatan pertemuan tersebut warga sekaligus meminta bantuan wali kota memperbaiki jalan yang rusak tersebut, mendengar keluhan tersebut wali kota menyatakan akan memperbaikinya secara bertahap.

“Sekarang ada dana Rp500 juta, saya harap masyarakat merundingkannya dengan pihak kecamatan bagaimana memanfaatkan dana tersebut untuk membangun sebagian dulu jalan utama yang merupakan titian atau jembatan yang rusak tersebut,” kata wali kota.

Mendengar jawaban tersebut sekali lagi masyarakat bertepuk tangan seraya menyatakan terimakasih kepada walikota karena beberapa periode walikota terdahulu tak pernah memperhatikan keluhan masyarakat tersebut.

masyarakat

anak bromo

BANJARMASIN “DIHANTUI” KESULITAN AIR BERSIH

Oleh Hasan Zainuddin

air bersih
Banjarmasin,2/10 (ANTARA)- Banjarmasin sebagai ibukota seribu sungai tidak identik dengan mudahnya warga mendapatkan air bersih, bahkan perkiraan lima tahun kedepan wilayah yang berada di delta Tatas ini memasuki tahapan krisis air bersamaan dengan memburuknya resapan disekitar sungai Martapura.

Direktur Utama Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bandarmasih Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Ir Muslih, di Banjarmasin, Selasa mengakui masalah ketersediaan air bersih jadi pemikiran perusahaannya.

muslih

 

Ir Muslih

 

Ketersediaan air bersih perusahaannya belakangan ini tergantung dengan Sungai Martapura yang berhulu ke Sungai Riam Kanan dan Sungai Riam Kiwa.

Padahal kedua sungai itu sudah mengalami pendangkalan akibat erosi setelah kawasan resapan air rusak lantaran banyaknya aktivitas di wilayah tersebut.

Bukti alam sudah rusak bisa dilihat kondisi bendungan Riam Kanan, dimana saat hujan sedikit saja maka sudah mengalami kebanjiran, dan bila kemarau debit air cepat sekali menyusut.

“Kalau alam di sekitar itu masih baik maka turun naik debit air di bendungan itu tidak terlalu besar, musim kemarau atau musim penghujan biasanya debit air tidak terlalu berpengaruh,” tuturnya.

riamkanan_800_600

 

Bendungan Riam Kanan menyusut

 

Tetapi sekarang ini turun naik debit air di bendungan Riam Kanan begitu drastis seakan tak ada lagi wilayah resapan air yang mampu menahan jumlah debit air tersebut.

Kalau kondisi tersebut terus berlanjut maka lima tahun kedepan air bersih akan sulit diperoleh,karena bila debit air di hulu sungai Martapura terus menyusut maka air laut akan masuk kedaratan dan terjadi kontaminasi kadar garam yang tinggi akhirnya air Sungai Martapura tersebut tak bisa diolah air minum.

Bila mengandalkan air tanah untuk wilayah ini tidak bisa diolah air minum karena kandungan besi dan asam terlalu tinggi, tuturnya.

Oleh karena itu, Muslih berharap semua pihak yang merasa prihatin kondisi tersebut, harus ikut memikirkan bagaimana agar resapan air di hulu sungai terpelihara, syukur-syukur kalau direhabilitasi.

Untuk mengatasi persoalan jangka pendek, PDAM Banjarmasin merencanakan membangun embung (penampungan air) skala besar dalam upaya persediaan air di musim kemarau.

Menurutnya rencana sudah cukup lama tetapi kini bertekad untuk direalisasikan, dan PDAM sudah miliki desain mengenai pembangunan embung tersebut dan kini berusaha mencari peluang dana ke pemerintah pusat dalam mewujudkan keinginan tersebut.

Selain berharap bantuan pemerintah PDAM juga mencoba melobi pemerintah provinsi Kalsel disamping mencari dana sendiri untuk kepentingan tersebut.

Bila dana sudah tersedia diharapkan tahun 2014 sudah mulai mengerjakan proyek tersebut dan pada tahun-tahun berikutnya embung yang berlokasi di Sungai Tabuk itu berfungsi sebagaimana mestinya yaitu penyangga kebutuhan air baku.

Kerusakan lingkungan

gue

Aku (penulis) di Tahura Sultan Adam
untuk ketersediaan air Sungai Martapura tergantung dari ketersediaan air di areal Pegunungan Meratus yakni di Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam seluas 112 ribu hektare.

Tahura ini diakui sudah mengalami kerusakan lantaran kebakaran hutan, dan ditengarai juga akibat adanya penebangan kayu secara liar dan usaha pertambangan ilegal, dan kegiatan pemukiman.

Menurut Muslih kerusakan lingkungan di hulu bisa dilihat dari juga tingkat kekeruhan air Sungai Martapura yang begitu tinggi lantaran partikel lumpur dalam air yang pekat.

Tingkat kekeruhan air sungai yang ideal untuk diolah menjadi air bersih hanya 50 hingga 100 mto per liter, tetapi hasil laboratorium ternyata air Sungai Martapura pernah mencapai 500 hingga 1000 mto, malah kasus tertinggi capai 5000 mto per liter,kata Muslih.

Akibat kerusakan hutan di hulu sungai, menyebabkan terjadi erosi dan bila terjadi hujan sedikit saja maka partikel tanah merah, pasir, dan debu dan lainnya ikut larut dan masuk ke dalam sungai terus mengalir kemuara hingga ke Banjarmasin.

Keluhan serupa bukan saja dirasakan PDAM Banjarmasin, tetapi juga PDAM di Kota Martapura Kabupaten Banjar, serta PDAM Kota Banjarbaru.

Bahkan menurut perkiraan, bila tidak ada upaya perbaikan kawasan Tahura yang dianggap sebagai wilayah “menara air” Kalsel itu, maka lima atau sepuluh tahun ke depan wilayah ini akan kesulitan memperoleh air bersih untuk air minum.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Tahura Sultan Adam, Akhmad Ridhani di lokasi Tahura Sabtu belum lama ini mengakui lahan wilayahnya terjadi kerusakan.

Sekitar 30 persen lahan Tahura kini kritis, atau sekitar 40 ribu hektare dari luas keseluruhan 112 ribu hektare.

“Kondisi tersebut sungguh merisaukan karena itu diperlukan upaya rehabilitasi,mengingat kawasan tersebut merupakan kawasan resapan air,” katanya saat mendampingi Bupati Banjar, Sultan Khairul Saleh melakukan penanaman massal bibit penghijauan di lokasi tersebut.

Selain akibat kebakaran hutan dan lahan, munculnya lahan kritis juga diduga pembukaan kawasan menjadi ladang dan kebun bagi sebagian masyarakat setempat untuk ditanami pohon-pohon produktif.

Ketika ditanya adanya pemukiman di tengah hutan lindung Tahura tersebut, disebutkan terdapat 7000 jiwa di 12 desa penduduk. Penduduk sulit direlokasi ke luar kawasan masalahnya sudah turun temurun sebelum ditetapkannnya kawasan Tahura sebagai hutan lindung.

Walau perkampungan tersebut sulit dipindahkan tetapi keberadaan penduduk dinilai tidak merusak lingkungan, bahkan dinilai masih melestarikan lingkungan dengan tidak merusak hutan.

“Agar penduduk tidak merusak lingkungan,mereka dirangkul untuk memperbaiki lingkungan, seperti mereka dibiarkan berkebun tetapi kebun yang baik untuk kawasan resapan air, seperti perkebunan buah-buahan, kebun karet, serta reboisasi hutan”, katanya.

Menurut Muslih untuk mengatasi persoalan air bersih ke depan selain harus dilakukan rehabilitasi kawasan air juga perlu penanganan terhadap Bendungan Riam Kanan yang selama ini menjadi kunci ketersediaan air tawar untuk diproduksi air bersih.

Oleh karena itu ia menyarankan Bendungan Riam Kanan tersebut dikelola badan khusus agar lebih terpelihara dengan baik.

“Jika bendungan Riam Kanan dibiarkan seperti sekarang, debit air di lokasi itu akan terus menyusut, sehingga daerah ini pasti akan kesulitan air,” katanya lagi.

Bendungan Riam Kanan sebaiknya dikelola semacam lembaga atau badan khusus yang fokus menjaga kelestarian lingkungan, misalnya menangani program penghijauan, aliran air, pembangkit listrik dan aspek lain terkait dengan bendungan tersebut.

“Lembaga tersebut bisa saja semacam badan usaha milik daerah (BUMD) atau dikelola badan usaha milik negara (BUMN),” katanya.

Ia mencontohkan di Korea Selatan ada bendungan yang dikelola khusus oleh lembaga semacam BUMN yakni ¿Q-Water¿ dan ternyata bendungan itu bermanfaat dalam penyediaan air di wilayah tersebut.

“Pemerintah provinsi dan kabupaten diharapkan lebih serius memikirkan bendungan Riam Kanan, karena masalah air bersih vital bagi kehidupan masyarakat,” katanya.

kantor Kantor PDAM Bandarmasih

SPAM REGIONAL “BANJARBAKULA” SOLUSI AIR MINUM KALSEL

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin, 25/9 (ANTARA) – Persoalan air minum kini menghantui warga Provinsi Kalimantan Selatan, lantaran persediaan tidak sebanding dengan kebutuhan masyarakat wilayah tersebut.

Menteri Pekerjaan Umum Joko Kirmanto saat kunjungan ke Banjarmasin, Senin (24/9) menyatakan pihaknya telah mencermati kondisi pelayanan air minum di wilayah paling selatan Pulau Kalimantan ini.

Menurut dia, capaian pelayanan air minum di Kalsel sampai dengan penghujung tahun 2011, tingkat akses aman air minum masyarakat wilayah ini baru mencapai 51,79 persen, sedikit di bawah rata-rata nasional sebesar 53,26 persen.

Dengan jumlah penduduk sekitar 3,6 juta jiwa, berarti penduduk yang belum memiliki akses aman air minum di Provinsi Kalsel sebanyak 1,7 juta jiwa.

Di sisi lain, sasaran MDGs tahun 2015 untuk Provinsi Kalimantan Selatan adalah tingkat akses aman air minum sebesar 70 persen.

Dengan demikian, dalam kurun waktu 2,5 (dua setengah) tahun ke depan pemerintah provinsi dan kabupaten-kota di Kalsel perlu menyediakan tambahan akses aman air minum bagi 600 ribu jiwa.

Melihat kenyataan tersebut maka diperlukan kerja keras antara pemerintah daerah di Kalsel untuk melakukan tambahan pelayanan air minum tersebut.

“Sistem penyediaan air minum untuk Kota Banjarmasin dan lima Instalasi air Ibukota Kecamatan (IKK) di Kalsel yang akan kita resmikan pemanfaatannya hari ini akan menambah kapasitas produksi air minum sebesar 600 liter per detik,” katanya saat meresmikian proyek air bersih Kalsel di Banjarmasin tersebut.

Proyek air diresmikan SPAM Banjarmasin 500 liter per detik (l/D) menjadi 1000 l/d, IKK Paringin Selatan, Kabupaten Balangan 20 l/d, IKK Tabukan Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) 20 l/d, IKK Babirik HSU 20 l/d, IKK Hatungun Kabupaten Tapin 20 l/d dan IKK Hantakan Kabupaten HST 20 l/d.

Kedatangan Menteri PU didampingi Dirjen Cipta Karya selain meresmikan proyek air bersih sekaligus menghadiri peringatan puncak hari jadi Kota Banjarmasin ke-486 di halaman balaikota setempat.

Menurut Menteri PU, adanya penambahan fasilitas air minum 600 liter per detik tersebut berarti akan menyumbang peningkatan pelayanan air minum sampai dengan 48.000 sambungan rumah atau tambahan pelayanan bagi 240.000 jiwa.

Dengan target MDGs Provinsi Kalsel sebesar 600 ribu jiwa, tambahan pelayanan tersebut masih jauh dari sasaran. Oleh karenanya diperlukan upaya yang lebih serius guna percepatan peningkatan pelayanan air minum ke depan.

“Kami yakin apabila ada komitmen yang kuat dari Pemerintah Daerah hal tersebut bisa terwujud.” katanya didampingi Wakil Gubernur Kalsel, Rudy Resnawan.

Sebagai contoh nyata adalah Kota Banjarmasin yang saat ini pelayanan air minumnya sudah mencapai 98,7 persen, keberhasilan itu tak terlepas dari tingginya komitmen pemerintah setempat dalam meningkatkan pelayanan air minum yang tercermin dari komitmen pendanaan dari daerah baik melalui alokasi pendanaan APBD maupun memanfaatkan pinjaman perbankan.

Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan melalui Peraturan Presiden Nomor 29 tahun 2009 tentang Pemberian Jaminan dan Subsidi Bunga Oleh Pemerintah Pusat Dalam Rangka Percepatan Penyediaan Air Minum.

Saat ini telah ada komitmen dari Perbankan Nasional sebesar Rp4,36 triliun, katanya lagi.

“Saya mengapresiasi komitmen PDAM Bandarmasih yang didukung Pemerintah Kota dan DPRD Kota Banjarmasin untuk memanfaatkan fasilitas tersebut dan hasil pembangunannya akan kita resmikan hari ini,” tuturnya.

Ini adalah contoh yang baik bagi 13 pemerintah kabupaten dan kota lain di Kalsel sebagai pembelajaran dalam pelayanan air minum di masing-masing wilayah.

Ia juga berharap Pemerintah Kota Banjarmasin dan PDAM Bandarmasih dapat berbagi pengalaman kepada pemerintah daerah dan PDAM lain khususnya di Provinsi Kalsel.

PDAM Bandarmasih diharapkan dapat berperan aktif sebagai “Center Of Excellence” di Kalsel untuk dapat memacu kinerja pelayanan air minum oleh PDAM di provinsi ini.


SPAM Regional
Kehadiran Menteri PU bersama rombongan tersebut sekaligus juga menyaksikan penandatangan MoU lima pimpinan daerah di Kalsel untuk mengerjakan Sistem Pengolahan Air Minum (SPAM) Regonal “Banjarbakula.”
Banjarbakula singkatan dari Banjarmasin, Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Kabupaten Barito Kuala, dan Kabupaten Tanah Laut.

Menteri PU Joko Kirmanto sendiri mendukung inisiatif mengembangkan SPAM regional Banjarbakula.

Menurut Joko Kirmanto, untuk pemenuhan kebutuhan air minum diperlukan jaminan ketersediaan air baku dengan kuantitas dan kualitas yang memadai.

Pemerintah pusat, provinsi, maupun pemerintah kota dan kabupaten sesuai dengan kewenangannya berkewajiban melakukan hal tersebut melalui langkah operasional yang meliputi perlindungan daerah tangkapan air, manajemen terpadu daerah aliran sungai, serta mengendalikan pencemaran air.

Penertiban izin penggunaan air serta upaya antisipasi penyediaan sumber air baku untuk masa yang akan datang, katanya.

Dengan keterbatasan air baku yang tersedia di masing-masing Kabupaten dan kota maka pemerintah pusat sangat mendukung adanya inisiatif untuk mengembangkan SPAM regional Banjarbakula.

Semua itu untuk menjawab pemenuhan kebutuhan air minum yang lebih merata dengan pemanfaatan bersama sumber air baku di wilayah ini.

Ia berharap agar Pemerintah provinsi berperan aktif dalam mengkoordinasikan dan memberikan kontribusi APBD untuk mewujudkan SPAM regional dimaksud.

Wakil Gubernur Kalsel, Rudy Resnawan sendiri mmenyebutkan kerjasama regional melalui SPAM memperoleh dukungan penuh Pemprov Kalsel, karena itu segera akan direalisasikan.

Hanya saja ia belum bisa menyebutkan di mana tempat SPAM tersebut dibangun, yang jelas bukan di Banjarmasin dan kemungkinan di Kabupaten Banjar lantaran di sana ada Bendungan dan Irigasi Riam Kanan sebagai penyedia air baku.

Menurut dia, SPAM tersebut akan dikelola Pemprov Kalsel, tetapi dalam pendistribusian air minum curah akan dilakukan oleh PDAM di lima daerah masing-masing.

Dengan adanya SPAM diharapkan penyediaan air minum di lima daerah Kalsel tersebut lebih merata, tidak lagi seperti sekarang hanya didominasi Banjarmasin.

Menurut Rudy Resnawan, tanpa SPAM, Banjarmasin yang sekarang pelayanan air minum pun dalam lima dan 10 tahun ke depan akan kesulitan mencari air baku, karena persoalan utama adalah bagaimana air baku yang terus tersedia.

Berbagai kalangan menilai walau SPAM terbentuk tetapi kalau tidak adanya pemeliharaan wilayah resapan air maka SPAM pun tak akan berhasil.

Salah satu cara terpelihara resapan air di kawasan Bendungan Riam Kanan adalah bagaimana menyelamatkan hutan kawasan bendungan yang masuk Hutan Pegunungan Meratus yang belakangan ini kian rusak saja akibat adanya pemukiman penduduk, penebangan hutan, dan pertambangan batubara.

Oleh karena itu ada saran agar Bendungan Riam Kanan dikelola secara profesional, oleh semacam lembaga khusus atau badan, tanpa pemeliharaan bendungan maka semua keinginan itu akan sia-sia belaka.

KELANGKAAN AIR BERSIH SEBUAH ANCAMAN WARGA KALSEL

Oleh Hasan Zainuddin


Banjarmasin, 22/7 (ANTARA) – Pertengahan Juli 2012 tiba-tiba air Sungai Martapura membelah Kota Banjarmasin Kalimantan Selatan berubah warna menjadi keruh pekat dan kuning kemerahan.

Setelah diteliti ternyata air sungai berhulu di Pegunungan Meratus tersebut sudah terkontaminasi kandungan partikel atau kandungan lumpur yang jumlahnya melimpah ruah.

“Kekeruhan tinggi karena partikel mencapai 5000 MTO, padahal idealnya hanya 100 MTO,” kata Direktur Perusahaan Daerah Air Minum(PDAM) Bandarmasih, Kota Banjarmasin, Muslih.

Akibat kekeruhan demikian mengganggu sistem pengolahan air bersih perusahaan air minum, antaranya limbah dihasilkan menjadi luar biasa.

Kekeruhan tinggi semacam itu sudah sering muncul bila terjadi hujan lebat di kawasan hulu, yaitu di kawasan hutan Riam Kanan, Kiam Kiwa atau Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam yang termasuk kawasan Pegunungan Meratus.

Dengan adanya kandungan partikel dalam air Sungai Martapura tersebut sudah menandakan kawasan resapan air di hulu mengalami kerusakan parah.

Kerusakan resapan air diduga penggundulan hutan, penebangan kayu, pertambangan emas, pertambangan biji besi, atau bahkan belakangan kian marak adalah pertambangan batu bara.

Hutan gundul penyebab erosi, bila hujan sedikit saja maka partikel tanah merah, pasir, dan debu dan limbah lainnya ikut larut dan masuk ke dalam sungai, terus mengalir hingga ke Kota Banjarmasin.

Menurut Muslih, kondisi kerusakan resapan air puncak Meratus merupakan sebuah ancaman kelangkaan air bersih, bukan saja warga Banjarmasin, tetapi juga warga Banjarbaru, Martapura Kabupaten Banjar, mengingat kawasan itu mengandalkan air sungai tersebut.

Bukan hanya itu, kata pengamat lingkungan yang juga Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Banjarmasin, Fajar Desira menambahkan, kerusakan puncak Pegunungan Meratus akan menyebabkan sungai-sungai di Kalsel, baik yang mengalir ke kawasan Tanah Bumbu, Tanah Laut, dan Banua Enam (enam kabupaten Utara) Kalsel akan terganggu.

Masalahnya semua sungai di Kalsel berhulu ke kawasan tersebut, dan bila kawasan puncak terganggu akhirnya seluruh wilayah Kalsel akan terganggu suplai air bersih tersebut.

Padahal sumber air bersih di Kalsel tak ada alternatif selain dari sungai.

Sebagai contoh Banjarmasin, kata Fajar Desira yang juga mantan Direktur Teknik PDAM Bandarmasih Kota Banjarmasin ini, air tanah di wilayah ini kurang baik untuk diolah air baku PDAM dengan kandungan besi dan kandungan keasaman yang sangat tinggi.

Sementara air sungai bagian hilir begitu mudah terintrusi air laut,sehingga mengandung kadar garam yang berlebihan dan tak bisa diolah air minum.

Mengandalkan air hujan, wilayah ini tak memiliki sebuah pun lokasi embung atau penampungan air hujan, dan kalau pun itu bisa dilakukan dipastikan pula tetap tidak akan mencukupi kebutuhan.

Pengambilan air Sungai Martapura selama ini dilakukan PDAM Bandarmasih dengan kapasitas 1700 liter per detik, dan mampu memproduksi air bersih terbesar di Kalsel yang melayani bukan saja warga Banjarmasin tetapi juga warga Kabupaten Barito Kuala dan Kabupaten Banjar.

Padahal suplai air Sungai Martapura seratus persen lagi mengandalkan air di kawasan resapan di Pegunungan Meratus tersebut, oleh karena itu bisa dibayangkan bila kondisi resapan air rusak lalu kemana lagi PDAM Bandarmasih harus mencari air baku, kata Fajar Desira.

Tak ada pilihan lain, bagaimana agar kawasan resapan air Pegunungan Meratus tersebut harus terpelihara dengan baik, untuk dijadikan sebagai penyangga air bersih di kawasan ini, tambahnya.

Bukti rusaknya kawasan tersebut terlihat dari kondisi bendungan Riam Kanan yang belakangan debit airnya tidak stabil lagi, bila hujan maka bendungan kebanjiran bila kemarau mudah kekeringan.

“Jika bendungan Riam Kanan dibiarkan seperti sekarang, maka debit air di lokasi itu akan terus menyusut, sehingga daerah ini akan kesulitan air,” kata Dirut PDAM Bandarmasih Kota Banjarmasin, Muslih.

Karena itu, Muslih menyarankan bendungan Riam Kanan sebaiknya dikelola semacam lembaga atau badan khusus yang fokus menjaga kelestarian lingkungan.

Lembaga tersebut misalnya menangani program penghijauan, aliran air, pembangkit listrik, dan aspek lain terkait dengan bendungan tersebut.

“Lembaga tersebut bisa saja semacam Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) atau dikelola Badan Usaha Milik Negara (BUMN),” katanya yang baru saja datang dari Korea Selatan mempelajari masalah air bersih.

Muslih mencontohkan Korea Selatan terdapat sebuah bendungan yang dikelola khusus oleh lembaga semacam BUMN yakni ‘Q-Water’ dan ternyata bendungan itu bermanfaat dalam penyediaan air di wilayah tersebut.

Penanaman Pohon
Guna mengembalikan kelestarian kawasan resapan air tersebut pihak PDAM Bandarmasih mencoba melakukan kegiatan menanam seribu pohon terdiri dari 800 pohon mahoni, 100 angsana, 100 pohon matoa.

Penanaman di kawasan resapan air di Tahura Sultan Adam, diharapkan memancing pihak lain juga melakukan hal serupa agar lingkungan wilayah ini terpelihara.

Tetapi bukan hanya rehabilitasi yang dilakukan, ia pun menghendaki adanya tindakan penyelamatan kawasan tersebut.

Kepala Dinas Kehutanan Kalsel, Rahmadi Kurdi ketika ditanya membenarkan kerusakan kawasan hutan lindung daerah tersebut setelah pencurian kayu dan pertambangan secara liar terus berlangsung di lokasi itu.

Pihaknya melakukan razia minimal satu bulan sekali untuk mengurangi kegiatan merusak hutan wilayah itu.

Disebutkannya 40 persen dari 112 ribu hektare (ha) kawasan Tahura kritis akibat pembalakan hutan, pembakaran, dan pertambangan, dan itu yang menyebabkan kawasan tersebut menjadi rusak.

Hanya saja untuk menjaga kawasan tersebut pihaknya menemui kendala kurangnya polisi hutan. Jumlah polisi hutan untuk menjaga wilayah se Kalsel 3,7 juta hektare hanya 70 orang, sehingga seorang polisi menjaga lahan sekitar 50 ribu hektare, idealnya polisi hutan di Kalsel paling sedikit 200 orang.

Melihat kenyataan tersebut berbagai pihak menyarankan ke seluruh instansi yang berkompeten untuk sama-sama berkomitmen menjaga kawasan resapan air untuk ketersediaan air berkelanjutan.

Gubernur Kalsel diharapkan bertindak tegas terhadap kegiatan penebangan dan pertambangan di lokasi tersebut.

Komitmen lain dari Gubernur Kalsel, adalah penyelamatan kawasan lindung dari aktivitas pembangunan, dan segala aktivitas lainnya seraya melakukan perbaikan sebagai penyematan sumber air.

PDAM BANDARMASIH UBAH KAMPUNG KOLERA JADI METROPOLIS

Oleh Hasan Zainuddin


Di era sebelum tahun 90-an masih banyak terlihat berkeliaran pedagang air menggunakan gerobak menjajakan air bersih berjerigan masuk kampung Kota Banjarmasin Kalimantan Selatan.

Pemandangan itu kini sudah tak pernah terlihat lagi, lantaran air bersih mudah diperoleh warga berpenduduk sekitar 700 ribu jiwa tersebut.

Sebelumnya wilayah ini sering dilanda penyakit muntah berak (muntaber) atau diare, lantaran warga mengkonsumsi air sungai yang tercemar bakteri, terutama di saat musim kemarau.

Bahkan kota ini sempat dijuluki kampung kolera setelah sekian banyak warga yang terkena penyakit itu, dan ledakan jumlah penderita terus terjadi setiap musim kemarau pernah rumah sakit tak mampu menampung pasien lantaran terkena kolera.

Persoalan itu dipicu kelangkaan ketersediaan air bersih di kawasan sebenarnya kaya sumber daya air karena dialiri 104 sungai.

Hanya saja air daerah ini tak aman konsumsi setelah mudahnya intrusi air laut lalu airnya asin, kadar keasaman yang tinggi serta tercemar limbah yang begitu tinggi, bahkan hasil penelitian mengandung bakteri coliform atas ambang batas.

Melihat persoalan itulah, melalui perusahaan milik pemerintah kota setempat yakni Perusahaan daerah Air Minum (PDAM) Bandarmasih, berbagai upaya menyediakan air bersih bagi masyarakat.

Bertahap membangun fasilitas, mulai pembangunan mini treatment, sumur bor, reservoir, Instalasi Pengolahan Air (IPA), intake, serta jaringan perpipaan , baik pipa besar tranmisi untuk air baku , maupun pipa-pipa kecil hingga ke pelanggan.

Berkat upaya gigih dibantu semua pihak termasuk pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah kota itu sendiri melalui penyertaan modal akhirnya prestasi PDAM Bandarmasih gemilang yang mengatasi kelangkaan air bersih di wilayah seribu sungai itu.

Instalasi Pengolahan Air

Seperti diakui Direktur Pengembangan Air Minum, Ditjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum, Danni Sutjiono pelayanan air bersih Banjarmasin terbaik di Indonesia.

“Kita patut berterima kasih kepada Direksi dan seluruh karyawan PDAM Bandarmasih berhasil meningkatkan pelayanan air bersih hingga terbaik di tanah air,”kata Danni Sutjiono kepada wartawan di Banjarmasin.

Danni Sutjiono berada di Banjarmasin dalam kaitan menghadiri pertemuan pembahasan untuk menjadikan PDAM Bandarmasih, Kota Banjarmasin sebagai pilot proyek dalam pelayanan air minum.

Disebutkannya tingkat pelayanan air bersih Kota ini 98 persen lebih, prestasi gemilang melebihi prestasi PDAM lainnya di tanah air.

Sementara pelayanan perpipaan PDAM rata-rata nasional di perkotaan hanya sekitar 70 persen.

Sedangkan rata-rata pelayanan air bersih secara nasional sekarang ini hanya sekitar 50 persen, tambahnya seraya meminta prestasi PDAM Bandarmasih ditingkatkan sesuai rencana 100 persen penduduk setempat.

Direktur PDAM Bandarmasih, Ir Muslih gembira pihaknya mampu mengatasi persoalan air bersih hingga teriakan warga kesulitan air dan jeritan berjangkitnya kolera tak terdengar lagi.

Disebutkannya perusahaannya kini berhasil meningkatkan kapasitas produksi hingga mencapai 2050 liter per detik, dengan kapasitas itu mampu melayani sedikitnya 200 ribu pelanggan, bila pelanggan sekarang 130 ribu pelanggan, berarti masih tersedia sambungan baru 70 ribu pelanggan.

“Bila sekarang terlayani 98 persen warga kota, dengan kemampuan itu maka bisa 100 persen, bahkan mampu melayani sebagian warga Kabupaten Banjar, dan warga Kabupaten Barito Kuala yang berdekatan dengan Kota Banjarmasin,”katanya.

Dengan kemampuan PDAM mengatasi persoalan air bersih tersebut seringkali perusahaannya memperoleh penghargaan dari pemerintah pusat dan menjadi objek studi banding kota-kota lain di tanah air.

Meningkatkan kemampuan tersebut menyebabkan keuntungannya juga meningkat yang berdasarkan hasil audit Rp5,5 miliar 2011 tahun sebelumnya Rp4,5 miliar.

Sedangkan pendapatan juga membaik, berasal dari pendapatan air dan non air, untuk pendapatan air tahun 2011 tercatat Rp137,3 miliar lebih besar dibandingkan tahun 2010 hanya Rp119,8 miliar,katanya.

Sementara pendapatan non air Rp26,9 miliar lebih besar dari tahun sebelumnya yang tercatat Rp20,3 miliar, kemudian pendapatan lain-lain Rp2,004 miliar lebih besar dari tahun sebelumnya Rp1,9 miliar.

Dengan demikian jumlah pendapatan pada tahun 2011 sebanyak Rp166,2 miliar yang lebih besar dari tahun 2010 yang senilai Rp142,1miliar,katanya lagi.

Bukti kinerja perusahaan juga membaik bila dilihat cakupan pelayanan 98,36 persen, kehilangan air 26,27 persen, rasio karyawan per seribu pelanggan 2,44persen, serta jumlah sambungan pelanggan yang sudah mencapai 136.576 sambungan.

Aspek keuangan juga dinilai meningkat menjadi 29,25 persen sebelumnya 28,50 persen, aspek operasional 25,53persen sebelumnya 24,68 persen,aspek administarsi 14,58 persen sebelumnya 12.08 persen.

Dengan demikian hasil audit menyimpulkan jumlah kinerja 69,37 persen atau berklasifikasi kinerja baik, sebelumnya walau juga dinilai baik tetapi nilai kinerja 65,26 persen,katanya didampingi Humas PDAM Siti Nursiah.

Berbagai kalangan di Banjarmasin merasa gembira kian membaiknya kinerja PDAM yang berhasil menyediakan air bersih secara cukup yang kini berdampak terhadap pembangunan dimana air merupakan sarana vital.

Air bersih yang cukup membuat hidup warga menjadi sehat, memancing usaha industri dan perdagangan, bahkan belakangan berbagai investasi skala besar juga mulai menuju ke kota Banjarmasin yang dikatakan bagaikan gadis seksi yang menjadi perhatian banyak orang.

Direksi PDAM Bandarmasih,Kota Banjarmasin